Tahu film Ben and Holly Little Kingdom, gak? Di salah satu episode, mereka berdua plus Nanny Plum playdate ke rumah Mrs.Witch. Duh, playdate kok ke tempat nenek sihir hihihi.
Nah, si Witch ini orangnya amburadul gitu lah. Barang-barang di rumahnya aneh-aneh, serem-serem dan menurut Ben-Holly-Nanny Plum… jorok! . Baunya kurang sedap.
Mrs Witch
The Witch bertanya kepada mereka, “Apakah rumahku bagus?”
Ya Nanny Plum langsung nyolot, “Apaan nih! Rumah kotor dan bau begini.”
The Witch mulai sensi. Tapi dia terus bertanya tentang rak lemarinya, masakannya, dan lain-lain. Terakhir dese nanya, “Am I pretty?”
The Witch emosinya sudah klimaks. Dia menyihir Nanny Plum menjadi batu. Entah terinspirasi dari kisah lokal Malin Kundang atau gimana hihihihi.
Ben dan Holly panik dan memanggil King Tistle (bokapnya Holly nih). King Tistle datang untuk menyelamatkan si Nanny Plum.
The Witch pun curhat ke King Tistle. Terakhir The Witch pun nanya-nanya, “Apakah rumah saya jelek, apakah wajah saya buruk?”
King Tistle menjawab sambil tersenyum, “Of course your house is great. And you are beautiful. Very kind too. Maafkan Nanny Plum, ya. Boleh gak dia dibebaskan sekarang?”
King Tistle
Akhirnya Nanny Plum dikembalikan ke rupa semula. Mereka berempat pulang ke istana.
Soal demo kemarin. Soal jumlah peserta nih, ya. Apakah 200 ribu, 1 juta, 2 juga, 3 juta, atau 7.7 juta?
Sebenarnya pendekatan perhitungan mah gampang. Kan tinggal lihat luas lahan dan dikira-kira jumlah tampung. Tidak susah sebenarnya hehehe. Nah bener kan, ternyata memang sudah ada teori hitung-hitungan beginian.
Walau mungkin tetap tidak bisa pas dengan hitungan nyata. Kurang lebih lah ya dan teori ini sudah sering digunakan dan dibuktikan paling mendekati angka sebenarnya.
Masalahnya begini, tidak semua hal bisa digempur pakai logika matematika hehehe. Ecieee yang alumni IT .
Kita kan tahu ya mengapa angka ini perlu dideklarasikan. Mengapa mereka “sensitif” jika jumlahnya diutak utik bahkan dianggap dikecilkan. It’s how they show how “big and excellent” they are.
Saya setuju lho, they are wonderful . Saya kagum dengan aksi demo kemarin. Jumlah besar dan tetap tertib (y).
Itu sebenarnya yang mereka inginkan kan. Pengakuan .
Gambar : pixabay.com
Balik ke episode Ben and Holly tadi.
Di perjalanan Ben and Holly nanya ke King Tistle, “Why did you say that she is pretty? And her house is disgusting. You know that she’s ugly and smelly. You’re telling lie.”
King Tistle tersenyum, “There are times to say that someone is ugly and smelly. There are times to be just…nice. Saying nice things about people always goes a long way.”
Nah itu!
Ada saatnya kita harus menunjukkan fakta tapi ada saatnya juga kita … mengalah . Simply being nice ^_^.
Iya-in aja napa sih? Hihihihi. Enggak peduli seberapa gatal logika kalian tergaruk dengan jumlah 7 juta itu :p, Remember … knowledge knows what to say but WISDOM knows WHEN to say it .
Sudahlah, hari sabtu kita piknik aja, yuk .
Foto : Dani Rosyadi
Sayangnya, Westmeath-Ireland dilanda hari berkabut 2 hari penuh, nih. Dari pagi sampai malam. Suami pas pula ribet di kantor. Eike yang ketiban nganter jemput anak-anak. Enggak bisa nyetir terpaksa jalan kaki menembus kabut. Ceile udah kayak ngapain aja hahahaha .
Yang bikin deg-degan adalah mengawasi 2 anak tengil ini nih. Kalau adek bayi kan anteng dalam stroller. Anak 2 ini lari-larian di tengah kabut kan ngeri, Cuy. Kabutnya tebal. Takut ada mobil. Soalnya rute kami melewati perumahan kecil yang trotoarnya sempit dan lebar jalanan pas-pasan .
Kok Mbak Jihan tetap kurus anak 3? Ya situ kenalan dulu sama anak-anak gue! Hahahaha.
Sepertinya suhu sangat drop di musim dingin tahun ini. Biasanya Ireland mah paling banter 2-3 derajat. Tapi 2 hari terakhir suhu -3 derajat. Itu dingin banget buat ukuran Ireland.
Udara membeku jadi banyak remah-remah es di pagar-pagar, di atas rumput, di mobil-mobil yang terparkir. Tinggal dilelehin sirup merah tuh jadi es serut hihihi.
Sepertinya weekend ini bakal stay di rumah saja sambil packing-packing for our next “big plan”. Jangan kepo dulu . Nanti kalau JADI pasti gue ceritain deh asal kalian tahan saja baca tulisan gue yang ular naga panjangnya bukan kepalang itu hahahaha. Tumben sih yang ini kok pendek aja ya :p.
Anak-anak kalian suka Ben and Holly Little Kingdom juga gak, sih?
Rasanya belum lama saya dibuat geleng-geleng kepala dengan ide kampanye salah satu cagub DKI untuk Pilkada 2017 nanti. Melompat dari panggung boooo, hahahaha. Untuk apa, pikir saya.
Untul lebih jelasnya kita berikan nama-nama julukan ya buat para cagub hehehe :
Cagub urut 1 : si Ganteng
Cagub urut 2 : si Berprestasi/petahana
Cagub urut 3 : si Pintar
Saat awal pencalonan, si Calon Ganteng menjadi bahan “bully-an” dan hanya dianggap penggembira. Baru 2 bulan berlalu, hasil survey elektabilitas membalikkan semua fakta : si Ganteng merajai di hampir semua survey.
Pendukung Ahok tidak usah denial hahahaha. Memang iya begitu kok hasilnya .
Gambar : pixabay.com
Karena logika sederhana saya begini, si Berprestasi memang berkutat di isu yang sangat berat. Isu agama *ngelapKeringat*.
Tapi jika memang si Berprestasi kepopulerannya menurun, harusnya yang berjaya adalah si Pintar. Tet toooot… si Pintar melorot ke paling buncit. Sedangkan si Berprestasi selisih sedikit dengan si Ganteng.
Apa sih yang terjadi?
Then I have a super long discussion with my husband hahahaha. Maaf ya Bang. Sebenarnya suami saya bukan Ahoker cuma mungkin karena saya Ahoker banget jadinya dia kebawa-bawa hihihi.
Makanya saya senang berdiskusi soal Pilkada ke suami. Biar saya tidak terlalu gila sendiri hahaha. Ada penyeimbang.
Suami saya memberikan sudut pandang lain yang selama ini tidak terlalu saya pikirkan. Saya terlalu geer bahwa mayoritas pemegang KTP DKI ini terlalu rasional untuk diguncang dengan kampanye unyu-unyu hahaha.
Kalau isu agama ya bisa lah kita pahami ya . Tapi yang bikin bingung kenapa malah si Pintar tidak otomatis menyodok?
Ini dari sisi si Pintar dulu :
1. Si Pintar sepertinya menyasar kalangan pemilih yang mirip-mirip dengan si Berprestasi. Tet tot banget. Karena yang model-model “rasional” yang berpegangan pada prestasi kerja ya sudah pasti mayoritas akan lari ke si Berprestasi. Easy to see.
2. Bikin program-programnya mirip-mirip dengan si Berprestasi. Nothing really new. Kalau mengandalkan hal-hal seperti ini, sudah jelas si Berprestasi sudah “megang” banget. Prestasinya terang benderang. Terbukti dengan tingkat kepuasan masyarakat yang sangat tinggi.
Menjadi satu dilema baru, kepuasan masyarakat tinggi tapi elektabilitas melorot. Sungguh ujian rasionalitas yang luar biasa, ya, hehehe .
Gambar : pixabay.com
“Influencer” utamanya juga dari kalangan yang “sama”. Saya ingat postingan PP soal si Pintar yang justru komentarnya kebanyakan datang dari lingkaran pertemanannya yang pro si Berprestasi! Hahahaha :p.
Orang-orang yang berkomentar dengan “santun” dan bahasanya enak dengan tingkat pendidikan mumpuni, mirip dengan karakter PP juga. Komentar saya sampai ngegantung sampai sekarang karena PP memutuskan menutup kolom komentar di postingan yang itu hihihi.
Satunya lagi juga ada di FB. Bang FR. Saya pernah lihat beliau sewot karena jumlah like yang didapatkan oleh komentar pro si Berprestasi lebih banyak padahal dia lagi promo si Pintar hahaha.
PP dan FR sama-sama BUKAN “anti Ahok” dan itu makin membuat mereka sulit mencari celah 🙂. Bahkan FR malah ngefans juga dulu sama Ahok hehehe.
3. Tidak sinkron dengan wakilnya. Ini lumayan terlihat. Ya ini kan jawabannya gampang hehehe. Sebenarnya yang ngotot jadi cagub kan memang si wakil :p. Tapi karena elektabilitas mandek, dicarilah nama baru biar enggak mangkrak-mangkrak amat hahaha.
Mungkin juga dalam hatinya tidak rela-rela banget tapi ya gimana demi “kemenangan” ya mengalah dikit dululah. Sayangnya, mungkin dalam implementasi si wakil seringnya tidak kuasa menyembunyikan “siapa sebenarnya yang punya kuasa” 😉.
4. Ini juga banyak desas desus soal dana kampanye. Pendukung si Pintar dananya tidak secetar dua calon lainnya. CMIIW.
5. Somehow, si Pintar juga PERNAH menjadi bagian dari pemenang Pilpres 2014.
Jangan lupa ya, mereka yang mati-matian berkonfrontasi dengan si Berprestasi ada juga yang memang sudah dendam kesumat sejak lama hehehe. Walau tidak ada kasus Pulau Seribu, bisa dipastikan mereka juga bakal bersikap sama seperti sekarang 🙂.
6. Teman-teman yang mendukung si Pintar juga sepertinya mulai “lelah” dan lebih banyak menunjukkan sikap “asal bukan Ahok” dan lebih gencar berkampanye menentang petahana. Membuat si Pintar jarang disebut-sebut bahkan oleh pendukungnya sendiri.
Gambar : play.google.com
***
Yang patut diacungi jempol adalah timses si Ganteng yang sungguh lihai mencari peluang (y).
1. Dana kampanye lebih besar daripada si Pintar hahaha . Jelas ini sih .
2. Berani tampil beda. As silly as it looks, harus diakui ya kampanye mereka sukses menarik perhatian . Timses dengan sadar diri menjauh dari jargon HASIL KERJA-KINERJA-REKAM JEJAK.
Sia-sia “melawan” dari sisi itu. Tingkat kepuasan masyarakat Jakarta stabil, hampir 70% puas dengan hasil kerja petahana.
Maka dipilihlah kampanye unik-unik macam tahu-tahu loncat dari panggung, tetiba berenang ke Pulau Anu sebelum mulai kampanye dst. Mungkin next time bisa menyanyi sambil bawa ular di panggung? Eh, menyanyinya udah deng hahaha.
Mungkin saya itu terlalu over-estimated dengan penduduk Indonesia termasuk DKI hahaha. Lupa kalau penampilan fisik dan tampilan gagah berani bak militer memang masih sanggup menarik perhatian masyarakat .
Samar-samar masih teringat kritikan beberapa teman di “kubu seberang” saat kampanye Pilpres 2014 silam, “Memangnya mau punya presiden yang badannya kurus, mukanya ngenes? Malu dong! Pemimpin tuh minimal gagah, syukur-syukur good looking.”
Gambar : pixabay.com
Hebatnya, 2 calon lain sama sekali tidak bisa menyaingi si Ganteng dalam hal ini. Selain usia muda dan wajah menarik, si Ganteng memang alumni AKABRI hehehe.
3. Menyasar “komunitas alay”. Jangan lupa, pemilih muda di DKI juga ada. Mereka yang mungkin 4-5 tahun lalu masih berusia 12-13 tahun kini juga punya hak pilih.
Saya intip-intip instagram si Ganteng + bininya. Komentar yang lumayan cetar –> “Orang tua hebat membesarkan anak-anak yang hebat. Salam hormat buat Pepo dan Memo.”
Ganteng + cantik = anak-anak yang hebat .
Jangan ketawa. Lihat ulasan di poin nomor 1. Kalian mungkin sama seperti saya, mengira rakyat DKI sudah lepas dari hal-hal “kosmetik” semacam ini .
Mereka, yang belum terlalu ngeh politik tapi sukses disuguhkan dengan pasangan ala-ala sinetron yang mungkin tontonan sehari-hari mereka sejak kecil hihihihi. Ganteng-cantik, sama-sama berasal dari keluarga tajir. Punya banyak kelebihan dan terkenal santun dan tidak pernah macam-macam .
Walau rekam jejaknya bisa dibilang NOL, justru keuntungan khusus buat si Ganteng. Susah dicari salahnya hahaha.
4. Keuntungan fisik juga membuat publik tertarik membicarakan mereka. Jangan dikira yang ibu-ibu aja yang terlena hahahaha. Ibu-ibu sih wajar .
Persetan lah sama politik apalagi pening mikirin hasil kerja bla bla bla. Toh semua bisa sirna manakala duduk manis depan tivi nonton orang ganteng dan orang cantik di sinetron-sinetron korea .
Istri si Ganteng yang notabene mantan model masih kece sampai sekarang .
Siapalah yang peduli bapaknya dulu adalah terpidana korupsi .
***
Tapi memang faktor terbesar masih dipegang oleh isu “Asal Bukan Ahok” hehehe.
Musim kampanye yang cukup unik. Karena sering melihat pendukung si Pintar membela si Ganteng yang dibully oleh pendukung si Berprestasi. Sebaliknya pun, pendukung si Ganteng membela si Pintar di situasi yang sama :p.
Jelas kan, buat mereka, mana-mana ajalah, yang penting jangan si ITU hehehe 😉.
Yang lebih banyak wara-wiri justru pendukung si Berprestasi vs pembenci si Berprestasi. Dari sini anomali yang sudah saya sebut tadi muncul, “Rakyat sangat puas dengan kinerja tapi ogah buat memilih.” Rasionalitas entah ke mana .
Memprihatinkan. Karena dua calon lainnya tidak punya rekam jejakk yang cukup untuk dipersandingkan dengan petahana. Jangankan setengahnya, seperempatnya saja tidak ada mungkin .
Banyak argumen, “Berikan kesempatan.” Kalau mau kesempatan ya coba dulu dong dari wilayah-wilayah yang lebih kecil. Masa ujug-ujug mau jadi pemimpin daerah di jantung negeri di ibukota -_-.
Ibarat fresh grad yang apply jadi direktur tertinggi. Jika sungguh ingin mengabdi, ya coba dulu dari daerah . Buktikan di sana lalu silakan datang kembali menguji diri di ibukota .
Basuki Tjahya Purnama (Ahok), gambar : id.wikipedia.org
Makanya, timses si Berprestasi mungkin saatnya mengubah metode kampanye. Saya pun dulu berpikir begitu. Sederhana. Sodorkan prestasi kerja yang memang nyata memberikan hasil.
Tingkat kepuasan tidak menurun. Tapi elektabilitas terus tergerus jatuh .
Mungkin memang perubahan itu belum setajam yang kita perkirakan. Kita sering mengira, heloooo ini DKI lho yang masyarakatnya mungkin sudah didominasi oleh orang-orang rasional yang percaya kepada hasil kerja dan semacamnya. Ternyata mungkin belum .
Mungkin juga ini jawaban mengapa politik dinasti masih sangat sulit diberantas di Indonesia . Saya baru ngeh kalau di Tangsel, ibu walikota cantik yang suaminya terjerat kasus korupsi yang juga merupakan bagian terdekat dari dinasti korup di provinsi Banten masih terpilih di Pilkada terakhir.
Kata teman di sana, ya pilihannya memang ribet. Calon penantang juga enggak jelas. Kita selalu mengira kalau di daerah ya wajar, masyarakatnya masih gampang “dikatrol”. Jakarta beda, dong.
Ternyata … hasil survey terakhir tidak menunjukkan bahwa rakyat DKI Jakarta sudah naik kelas dibanding daerah lain .
Di Sulawesi Selatan, daerah asal saya juga seru. Keluarga-keluarga dekat orang nomor satu di sana juga tidak sedikit yang menjadi kepala-kepala daerah walau usia sangat muda dan tidak pernah kedengeran hasil kerjanya .
Kecewa dengan hasil survey? Jangan dong. Jadikan bahan introspeksi .
Terima kenyataan bahwa mungkin memang masyarakat ya memang masih begitu hehehe. Gencar melawan tayangan sinetron lokal tapi diam-diam terhibur dengan drama jenis sama versi impor dari negara lain hahaha.
Kondisi sehari-hari dalam sosial-ekonomi-budaya tentu punya pengaruh besar dalam sikap mereka dalam berpolitik . Itu faktanya.
Kelamaan tinggal di luar negeri, saya mungkin tidak sadar memasang standar terlalu tinggi bagi rasionalitas penduduk DKI. Jangan-jangan timses si petahana juga begitu. Nah, itu yang bahaya . Semoga cepat-cepat diubah metode kampanyenya ya .
Tidak berarti saya menuduh masyarakat masyarakat DKI “rendah” atau semacamnya. No, no. Sungkem dulu hehehe.
Cuma mungkin di mata mayoritas masyarakat Indonesia, kemajuan pembangunan belum sepenuhnya terfokus kepada disiplin dan kecakapan penguasa.
Masih dibayang-bayangi faktor lain yang memang sering menjadi khas negara berkembang : agama, penampilan, kondisi fisik, kesantunan (yang sudah sering berbanding terbalik dengan hasil kerja hehehe), etnis, isu mayoritas minoritas dan sebagainya.
Hasil survey jangan malah dijadikan pelemah semangat atau khawatir berlebihan. I always say, “Mengkhawatirkan masa depan sama sia-sianya dengan menyesali masa lalu.”
Jadikan bahan berkaca buat kita. Mencari cara untuk terus menjadi bagian dari perubahan dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Bukannya takluk dan malah menyalahkan lingkungan. Salah banget itu . Jangan malah menghina mereka yang berbeda dengan kita apalagi jika mereka mayoritas.
Bahkan kalau justru mereka yang menghina kita, you don’t do the same!!!!
Saya sudah puas deh nerima curhat dikata-katain “munafik” karena dukung si Berprestasi hahaha. Sabaaaaaaarrrrr . Ingat ya teman-teman, darkness cannot drive out darkness. Only LIGHT can do that . Pertemanan tetap nomor satu, gubernurnya nomor 2 ajah #eh hahaha.
Soal berhasil atau tidak ya itu urusan nanti dong, ya.
Seperti pesan Bunda Theresa, “God never requires us to succeed, He only requires that WE TRY.”
Try, try, try. Try first. Garis finish masih jauh, cemen amat sudah mau gantungn sepatu hahahaha.
Exactly. Buat teman-teman pendukung si Berprestasi, itu yang harus kalian lakukan. Keep Swimming . Tapi sadari, mungkin kini kita harus mencoba gaya berenang yang lain dengan mempelajari taktik lawan-lawan hehehe .
If a picture paints a thousand words
Then why can’t I paint you?
The words will never show
The you I’ve come to know
Sebait lirik pembuka dari lagu berjudul “IF”.
Lagu “If’ sebenarnya gombalan-gombalan klasik gitu-gitulah . Coba saja cari lirik lengkapnya via Google.
Tapi bagian “A picture paints a thousand words” adalah bagian penting untuk memahami mengapa setiap berita kudu banget atuhlah pakai foto-foto endebre-endebre walau HOAX sekali pun!
Gambar : forum.kompas.com
Yoih teman-teman, mau bahas hoaks lagi nih. Jangan capek yaaaaa. Harus rajin karena produsen hoax ini, makin ke sini makin giat aja kerjanya -___-.
Foto memang berefek cetaaaar. Seringnya, sebuah foto yang punya “pesan kuat” tanpa caption satu huruf pun sudah bisa menyulut respons bertubi-tubi. Respons yang kini bisa menjelma menjadi jumlah komentar + like + share.
Sialnya, yang begini-begini, di era digital yang makin berlari, bisa berkembang menjadi duit. Sementara ada yang memang dengan khusyuk mengetik amin plus share dengan niat “membela agama” apalah-apalah, si pembuat hoax cengar-cengir menikmati komentar + like + share yang mengalir deras.
Yang selalu ramai, misalnya kasus Rohingya. Ini bukan pertama kalinya Rohingya ramai. Sudah kesekian kalinya. Dan seberapa gencar pun kita melawan hoax, saya takjub foto-fotonya masih yang itu-itu juga yang dipakai.
Lebih takjub lagi, masih banyak (bahkan mungkin lebih banyak lagi) yang tersulut. Jangan disalahartikan bahwa saya dan teman-teman yang kayaknya reweeeeel banget urusan beginian hendak menafikan masalah Rohingya.
Tapi gencar dan viralnya foto-foto tipu muslihat nan “busuk” itu yang justru memancing amarah yang salah arah!
Coba yaaaaa, sekumpulan biksu yang lagi bantuin korban bencana alam di mana, masa ujug-ujug dibilang “membantai” kaum muslim. Waduh, terbayang enggak tuh beratnya fitnah yang kalian share, teman-teman .
Versi lokal tidak kalah serunya. Beberapa bulan lalu ada foto nenek-nenek yang sudah sangat berumur dan badannya kurus banget lagi duduk di samping jualan sayurnya. Penampakan nenek sangat memprihatinkan.
Diunggahlah foto itu, mungkin oleh orang yang kebetulan lewat dan melihat si Nenek kok ya nelangsa banget duduknya sambil jualan pula. Foto pun viral dengan caption yang tidak kalah ngeheknya, “Ke mana pemerintah kita?”
Ada kenalan si keluarga Nenek yang mengenali foto itu dan melaporkan ke keluarganya. Ternyata si Nenek sama sekali bukan orang yang tidak mampu. Beliau punya anak dan menantu tapi memilih tinggal di rumah sendiri. Rumahnya juga bukan rumah biasa-biasa. Lumayan banget kondisinya secara ekonomi.
Itu anak dan menantunya sampai sebal banget dan meminta foto tersebut tidak disebarkan lagi. Para kerabat dekat yang mengenal baik keluarga ini juga ikut memberikan klarifikasi.
Keluarga baik-baik kalian ganggu ketenangannya walau pakai alasan, “Kan tidak tahu. Kirain anu.” Ya makanya jangan asal shareeeeeee *gemes*.
Hoax urusan politik lokal ya apalagi zzzzz -_-. Dah kehabisan kata-kata, deh.
Balik lagi ke hoax isu internesyenel tapi citarasa lokal.
Familiar tidak dengan foto demo di Big Ben-London. Sebuah foto yang memotret Big Ben dari ketinggian di mana jalanan yang berada di sisi kanan Big Ben penuh oleh lautan manusia.
Foto tersebut adalah foto protes massa di tahun 2003 atas serangan terhadap Irak. Jumlah orang yang berdemo di sekitaran Big Ben saat itu diperkirakan lebih dari 10 juta orang!
Foto demo Big Ben yang epik ini sekaligus mementahkan hoax si Abang Horas yang menuduh dunia tidak pernah peduli dengan kejadian/perang/penderitaan yang terjadi di negara mayoritas muslim. Sudah pernah saya tulis ya di sini –> “Katanya, Dunia Tidak Peduli?”
Foto tersebut lagi-lagi dipakai sebagai hoax juga dengan tuduhan yang berkebalikan. Katanya, “Terjadi demo besar-besaran protes penyerangan Perancis terhadap Suriah tapi media bungkam!”
Yoih, menuduhnya suka-suka mereka saja. Kadang media-media mainstream yang dituduh bungkam. Kadang masyarakatnya yang dituduh tidak punya empati. Suka enggak sinkron emang *ngelapKeringat*.
Yang bikin saya takjub. Foto hoax demo Big Ben ini malah muncul di timeline teman-teman saya dari golongan “anak sekolahan”. Yang tingkat pendidikannya satu atau dua level di atas saya. Terkenal cerdas pula secara akademis.
Itulah yang bikin saya makin keliyengan. Betapa memang hoax ini tidak kenal SARAP (suku agama ras dan IPK hahahaha). Emosi kita yang dipermainkannya .
Kita kan suka bertanya-tanya ya, “Ya udah sih, kalau tidak ketemu foto beneran atau sudah tahu fotonya hoax, mbok ya share info atau berita apa adanya saja. Gak usah pakai foto-fotoan.”
Gambar : pixabay.com
Ilustrasinya mungkin begini.
Kita pasang berita, “Ada penganiayaan terhadap etnis minoritas Rohingya di Myanmar.” Rohingnya siapa sih? Minimal dari sini orang akan googling dulu lah. Yang tidak punya banyak waktu dan tidak terpancing ya lewat saja.
Kurang efeknya. Diubah dikit, “Ada penganiayaan terhadap umat muslim oleh umat Budha di Myanmar.” Ini sudah mulai bergejolak. “Wah, umat muslim ditindas!!!!” Mulai dah kalap .
Tapi tentunya sekadar barisan kata-kata masih memancing tanya untuk beberapa yang kadar emosinya masih lebih “stabil”, “Dianiaya macam apa sih? Korbannya berapa dan bagaimana kondisinya?”
Kalau mereka memang kepo ya mulailah mereka mencari-cari beritanya. Yang “pemalas” mah ya langsung lewat saja ogah mencari tahu .
Makanyaaaaaa, beritanya harus mampu membakar amarah dalam hitungan detik. Tanpa perlu googling, tanpa perlu banyak tanya-tanya. Apalagi ini era serba instan. Orang mah maunya serba cepat saji. Termasuk berita.
Gimana caranya memengaruhi orang dengan caption seadanya tapi yang melihat bisa langsung murka sambil memaki di kolom komentar plus pencet tombol share sambil memengaruhi orang lain di timelinenya untuk juga marah-marah?
YA PAKAI FOTOOOOOOOOOO!
Foto mah, digoogling sebentar juga dapat. Resize kalau perlu biar gampang diupload. Kasih kata-kata seadanya. Satu kalimat juga cukup. Malah ada yang cuma ditambahi satu kata, “Lawan!”
Paham kan sekarang makna, “A picture paints a thousand words” .
Kabar baiknya, foto gampang didapatkan maka sebaliknya gampang pula ditelusuri jejaknya. Salah satu cara tercepat adalah dengan melakukan “drag and drop” terhadap foto tersebut ke dalam kolom pencarian di situs “Google Images”.
Mesin pencari Google makin ke sini sudah makin canggih. Kalau pun tidak ketemu foto yang persis, akan keluar foto-foto sejenis yang bisa dikenali dari latar dan kesamaan “suasana” dll.
Hasil pencarian juga akan memberikan kita informasi di mana foto aslinya dimuat dan terkait peristiwa apa. Hati-hati kadang situs hoaxnya keluar duluan hahahaha. Pokoknya susuri dengan teliti.
Efek dari sharing hoax ini tidak kecil. Iya sih, kalian bisa saja berpikir kalau salah kan tinggal hapus. Masalahnya, kita tidak pernah tahu ke mana berita tersebut akan bermuara. Sekali dishare di media sosial yang berbasis internet, viralnya akan susah dikontrol .
Ada fakta nyata bahwa bad news akan menyebar jauuuuuh lebih cepat daripada good news. Tidak heran, klarifikasi biasaya kalah tenar dibanding hoaxnya .
Sanggup kalian lacak satu-satu orang yang sudah terpengaruh oleh kebencian yang kalian share? Memang bisa berlindung di balik alasan macam-macam. Alasan agama lah yang paling klasik .
Tapi apa mungkin kita memimpikan kebaikan atas dasar kebencian? Bisakah kita mendirikan bangunan yang kuat dari batu bata murahan, semen yang sudah dimanipulasi bahannya dengan air, bahkan cor-corannya sudah diganti dengan gelas aqua plastik?
“Untuk pelamar beasiswa program magister/dokter spesialis, usia maksimum pada 31 Desember di tahun pendaftaran adalah 35 (tiga puluh lima) tahun.”
Game over, begitu pikir saya saat melihat sebaris kalimat tersebut 2 tahun lalu saat saya mencari-cari peluang beasiswa untuk melanjutkan studi magister saya.
Maksimal 35 tahun. Langsung lemas. Beranak melulu sih, hahaha. Jadi ‘lupa’ mikirin sekolah lagi :p.
Padahal dari kecil saya ini gila sekolah banget. Selalu menganggap saya memang cocoknya menjadi akademisi. Dulu malah punya cita-cita tunggal : menjadi dokter! Saya percaya diri banget deh dengan nilai-nilai akademis saya.
Suami saya selalu bete saking seringnya saya memamerkan buku raport SMA saya di mana tidak satu cawu pun, angka 1 tidak tertera di kolom peringkat kelas. Sapu bersih, Cyin! #benerinPoni.
Selain menjadi akademisi, karena kondisi, akhirnya berbelok menjadi wanita karier. Belum juga ijazah diterima, saya sudah diterima bekerja sekitar 2 minggu setelah melewati ujian terakhir di kampus.
Waktu gadis pula, kepengin banget merasakan sekolah di luar negeri. Pakai sepatu boot, mantel lucu-lucu, nenteng buku dan tas, bergaya dan berfoto di depan kampus bersama teman-teman bule. Ini mau sekolah apa mau ngapain yaaaaaa hahaha.
Sebenarnya, sering juga merasa gagal kalau melihat teman-teman sebaya yang tetap berjuang melanjutkan sekolah sampai ke mana-mana. Tidak sedikit teman sekolah dulu yang kini menjadi dokter spesialis dan menjadi dosen di kampus mereka.
Setiap melihat foto teman memakai toga merayakan kelulusan S3 mereka, selalu membatin dalam hati, “Duh, S2 saja belum keburu, euy” huhuhu :(.
Challenge What Your Future Hold!
Kini, usia saya 37 tahun, punya 3 anak 😀
Saya masih ingat, hampir 8 tahun yang lalu, di suatu akhir pekan, saya ke kantor untuk mengambil barang-barang yang masih tersisa di meja. Kemarinnya adalah hari terakhir saya setelah duduk di depan bos menyerahkan surat resign sebulan sebelumnya.
Padahal hari terakhir di kantor ketemu teman-teman saya masih biasa-biasa saja. Justru saat memunguti satu persatu barang dari laci meja, memasukkan sepatu olahraga yang sering saya pakai nge-gym di kantor ke dalam plastik, mencabuti notes-notes kecil di dinding meja kerja, membuat saya menangis sesenggukan.
Tidak percaya bahwa saya akhirnya memutuskan berhenti bekerja setelah meniti karier 7 tahun tanpa henti.
Siapa sih yang mengira setelah memutuskan berhenti berkarier, banyak pengalaman baru menanti :). Walau usia tak lagi muda.
Setelah resign, rezeki ke luar negeri ternyata mengalir lewat perjalanan karier suami. Sudah sempat jalan-jalan ke banyak tempat. Walau meleset sedikit. Dulu diimpi-impikan selfie-selfie sendiri karena ceritanya kan lagi kuliah di luar negeri hihihi. Sekarang, di foto mana pun pastinya anak-anak kudu nyempil hahaha.
Seiring dengan petualangan di berbagai negara, saya hidupkan kembali hobi masa kecil saya … menulis :). Kalau dulu hanya terbiasa menulis catatan ringan dalam buku diari untuk koleksi pribadi, sekarang bisa menulis di blog dan berbagi kisah kepada banyak orang via media sosial.
Dari blog, kegiatan menulis saya terus merambah ke media-media cetak. Beberapa kali tulisan-tulisan saya, baik berupa opini-traveling-fiksi, menghiasi media-media cetak nasional. Dengan makin meredupnya era media cetak, kini saya sering juga menjadi content contributor buat beberapa media online.
Dari media cetak, saya pun menerbitkan buku-buku. Sudah 3 buku yang pernah terbit : Bunda of Arabia, Memoar of Jeddah, dan The Davincka Code.
Kira-kira setahun yang lalu, saya menjadi getol masak-masak dan bikin kue di dapur. Sesuatu yang sebelumnya saya kerjakan sebatas kewajiban saja. Duh, enggak pernah kebayang bakal bisa masak macam-macam.
Dulu, saya ingin sekali menjadi orang yang berpengaruh. Saya pikir saat saya tidak banyak lagi berinteraksi di luar rumah, lagi-lagi game over. Ternyata zaman terus berubah. Bahkan dari rumah pun, kita tetap bisa menyebarluaskan ide/gagasan/semangat.
Apakah ibu di rumah tidak bisa membekali diri dengan pengetahuan politik misalnya? Salah banget ;).
Hingga kini, saya tetap rajin menulis. Walau seringnya di akun media sosial saya, Facebook. Minat utama saya selain traveling dan fiksi adalah isu-isu seputar perempuan, sejarah, dan politik.
Saya sampai punya belasan ribu follower di Facebook :D. Beberapa tulisan saya dishare sampai ribuan kali dengan banyak sekali komentar apalagi jika menyangkut politik, pokoknya seru deh hahaha. Sesuatu yang tidak pernah terbayang sebelumnya.
Dinding-dinding rumah tidak akan menghalangi siapa pun untuk menjadi “influencer” di era digital ini :).
Melangkahkan kaki pulang di hari sabtu itu bersama beberapa kardus berisi barang-barang di kantor yang siap dibawa kembali ke rumah, saya mengira hidup saya akan biasa-biasa saja setelah itu. I thought, “The door has been closed.”
Untuk kemudian saya sadari beberapa tahun setelahnya, “When one door closes, another opens” ;).
Tetap Optimal Merawat Diri
Saya tetap ngotot menjadi penampilan walau tiap hari disibukkan dengan urusan anak, dapur, menemani suami, intinya lebih banyak berkutat dalam rumah. Mungkin karena alasan lebih banyak di rumah, tidak sedikit ibu-ibu rumah tangga yang tidak menjadikan hal ini sebagai prioritas. Apalagi dengan umur yang makin bertambah.
Menjaga kondisi tubuh, termasuk penampilan, didasari oleh keinginan pribadi. Bukan karena intimidasi dari siapa pun :).
Saya melahirkan anak ke-3 saya, saat usia sudah menjelang 36 tahun. Setelah si bayi berusia 6 bulan, saya rutin berolahraga dan lebih ketat terhadap pola makan untuk mengembalikan berat badan ke angka ideal.
Waktu masih bekerja saya memang rajin menyambangi tempat kebugaran. Tapi kecanggihan era digital sekarang sangat memungkinkan kita tetap bisa melakukan olah tubuh dari rumah sekali pun.
Tidak perlu aktivitas yang berat-berat. Intinya adalah konsistensi (y). Sepuluh menit pun asalkan rutin dilakukan setiap hari mungkin jauh lebih berpengaruh ketimbang berolah raga sejam tapi hanya sekali sebulan hehehe.
Yang berat adalah menyemangati diri sendiri sepertinya.
Kita cenderung berlindung di balik alasan, “Ah, sudah tua ini. Wajarlah kalau begini-begini-begini.” Atau menggunakan anak sebagai alasan, “Repot ah di rumah. Digangguin anak melulu.”
Padahal semua tergantung niat dan kesungguhan pribadi saja sih ya. Rutinitas harian bahkan anak-anak harusnya bukan penghalang ;).
Skin Care vs Make Up?
Saya tidak begitu suka berdandan. Ini nih yang suka ketelisut. Banyak yang menganggap tidak doyan dandan berarti tidak perlu merawat wajah.
Memakai pelembab wajah dan bedak. Hal ini rutin saya lakukan setiap akan ke luar rumah. Sinar matahari dan polusi punya efek tidak sedikit terhadap kesehatan kulit.
Membersihkan wajah tiap hari sebelum tidur juga jangan disepelekan walau rasanya kita jarang beraktivitas di luar rumah. Saya termasuk rewel dalam urusan perawatan wajah walau jarang bersentuhan dengan lipstik, riasan mata, pensil alis, pemerah pipi, dsb hehehe.
Saya tidak hanya mengandalkan skincare berupa produk-produk kecantikan yang banyak dijual bebas. Sekali atau dua kali seminggu saya mengoleskan bahan-bahan alami seperti madu + jeruk nipis + tomat ke permukaan wajah. Agak repot memang. Tapi hasilnya lumayan banget lho ;).
Asupan makanan juga punya pengaruh besar. Misalnya rajin mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan. Tidak sukar buat saya karena beberapa tahun belakangan ini saya mempraktikkan pola makan Food Combining yang mayoritasnya memang buah-buahan dan sayuran segar.
Sama seperti perawatan tubuh, lakukan perawatan wajah untuk diri sendiri. Bukan karena pengin dibilang cantik bla bla bla :p.
Keduanya adalah bagian dari kesehatan. Menjaganya termasuk ibadah asalkan tidak berlebihan dan diniatkan sebagai salah satu cara mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta <3.
Change Can be Beautiful 😉
Saat ini, di hampir seluruh belahan utara dunia, musim gugur sudah mencapai puncaknya. Beberapa bahkan sudah memasuki musim dingin.
Di musim gugur, daun-daun yang tadinya hijau segar beserta bunga-bunga aneka warna yang mungkin terselip diantaranya mulai berganti rupa. Dedaunan mulai mengering, bunga-bunganya rontok dan layu.
Sepertinya, masa kejayaan sudah akan berlalu :(.
Kita pun, saat memasuki #usiaCantik, 35 tahun ke atas, berpikir seperti itu. Kondisi tidak lagi semuda dan sesegar dahulu.
Saat musim gugur, dedaunan berubah warna menjadi oranye, coklat muda, kuning, ada yang keunguan dan merah marun. Daunnya tidak lagi hijau segar. Tapi lihatlah … perubahan tidak selalu berarti lebih buruk.
So we’re getting older. Usia mungkin sudah melampaui 35. Banyak hal yang kita harap-harapkan ternyata tidak kejadian. Tapi seperti yang saya bilang tadi, sebenarnya ada jauh lebih banyak pengalaman-keterampilan-pencapaian atau lain-lainnya yang tidak pernah terlambat untuk kita pelajari atau kita raih :).
Musim gugur mengajarkan pada kita, bahwa perubahan bisa menunjukkan hal-hal yang lebih indah. Autumn, the season that teaches us that change can be beautiful :).
Perubahan di #usiaCantik mungkin malah mengantarkan kita kepada hal-hal lain yang tidak terbayang sebelumnya, kepada hal-hal yang ternyata … jauh lebih “cantik” <3.
Saat Irlandia dilanda bencana kelaparan yang mengerikan di pertengahan abad ke-19, tidak sedikit orang tergopoh-gopoh menuju tepian laut. Berhimpitan dalam kapal membawa barang seadanya dan segenap keluarga yang masih hidup.
Hendak melabuhkan harapan baru saat situasi tidak lagi mungkin bisa dihadapi di negeri asal. Beramai-ramai menuju Amerika Serikat.
Makanya tuh, di belahan Utara Amerika Serikat banyak pendatang asal Irlandia . Film Far and Away yang jadi tempat cinloknya Tom Cruise dan Nicole Kidman, salah satu yang menggambarkan perjuangan para pendatang asal Irlandia di US.
Dublin, Irlandia
Di Boston, perayaan St Patrick’s Day yang merupakan perayaan utama Bangsa Irlandia juga dirayakan besar-besaran .
Mundur ke belakang pun, saat isu anti Yahudi terus menggeliat, banyak kaum Yahudi yang terusir ke sana. Mereka dibujuk agar mau meninggalkan Eropa dan memulai hidup di benua baru.
Saat perpecahan Protestan dan Katolik pun, sebagian terusir dan meninggalkan daratan Eropa menuju Amerika.
Terus berlanjut hingga abad ke-20. Dari biografi Pamela Mountbatten, sepupu dari Ratu Elizabeth II, saat perang Dunia ke-2 memanas dan kembali sentimen anti Yahudi dihembuskan, dia bersama kakak perempuannya diungsikan ke Amerika Serikat.
Pamela ditengarai masih punya darah Yahudi dan ditakutkan akan menjadi sasaran isu SARA imbas Perang Dunia II.
Jadi Amerika Serikat memang sering menjadi “tempat buangan” hahaha . Orang-orang terbuang inilah yang bekerja keras menaklukkan tanah baru dan terbilang sukses. Suksesnya menular ke mana-mana dan menginspirasi “The American Dream”.
Eropa, terutama wilayah barat, memang berbeda dengan Amerika Serikat. Eropa dalam beberapa hal lebih ‘kaku’. Sementara di Amerika Serikat, apa pun bisa saja terjadi. Konon, siapa pun yang bekerja keras, akan punya kesempatan yang sama menaklukkan kerasnya hidup.
Sementara di Eropa, keinginan begini mustahil terwujud. Eropa sangat ketat urusan beginian. Amerika Serikat lebih “cair.”
Tidak heran, pendatang asal Asia Selatan banyak yang menjadikan Irlandia sebagai batu loncatan saja. Begitu mereka sukses memilliki paspor Irlandia, mereka akan segera berlayar kembali, menuju sasaran utama mereka, Amerika Serikat.
Kata salah satu teman saya, “Hidup di India sangat berat. Tapi itu tanah asal kita. Saya bahagia di India meskipun repot. Tapi terus ingat anak dan masa depannya. Jadi, kami pindah ke sini. Selesai dapat paspor kami ingin pindah ke US. Di sana nanti, kami akan membawa orang tua kami untuk tinggal bersama kami.”
Mendapatkan paspor Irlandia memang tergolong mudah untuk ukuran Eropa. Enggak pakai tes segala macam. Mungkin karena bahasanya bahasa Inggris ya jadi cincay lah semua pasti bisa hehehe.
Merantau itu seperti 2 sisi mata uang. Kita bahagia bertemu orang baru punya teman-teman yang berbeda bertukar pikiran dan sekadar ocip-ocip ringan hehehe. Tapi hati pun galau meninggalkan keluarga di tanah kelahiran. Makanya banyak yang terpikir memboyong orang tua dan segenap handai taulan. Di US, hal itu sangat mungkin .
Rata-rata ya, pendatang ini hadir dengan semangat full tank. Tentu meninggalkan tanah kelahiran bukan hal yang mudah, lho. Walau sudah dicita-citakan tetap saja berat pas menjalani.
Apalagi memang merantaunya karena sebab yang lebih krusial. Misalnya mereka yang berasal dari negara-negara yang kurang beruntung secara ekonomi, politik dan sosial. Mereka mati-matian akan bertahan. APalagi yang lagi perang. Terbayang kan traumanya.
Di situlah konflik mulai muncul. Para pendatang yang mungkin sebagian sudah bertekad, “Sukses atau mati di negeri orang!” akan melakukan apa saja untuk berjuang di negeri impian.
Perang dan bencana penderitaan besar (gambar : pixabay.com)
Bekerja jauh lebih keras dengan gaji minimal misalnya. Kok mau, ya? Mereka mengejar harapan dan kesetaraan hal yang mungkin tergolong mustahil di negeri asal. Di negara-negara “maju”, fasilitas umum dan publik sangat bagus dan cukup merata. Apalagi di Eropa Barat, Kanada, Australia yang memang menganut sistem “welfare state/kesejahteraan bersama”.
Mereka yang “terhina” di negara asal ya pasti betah di negara maju. Eropa Barat misalnya, kalian pasti susah menilai mana yang miskin mana yang kaya hehehe. Pemerataan di banyak hal hampir sempurna . Tukang ngepel di mal saja bisa punya mobil sendiri, booooooo .
Warga lokal yang sudah terbiasa santai dan dari kecil mungkin kurang diperkenalkan dengan “situasi yang kompetitif” lambat laun akan kaget dan merasa terdesak.
Sementara perusahaan dan pemilik modal ya sesuai prinsip ekonomi sederhana, “Pengorbanan sekecil mungkin untuk hasil semaksimal mungkin.”
Ngapain bayar pegawai lokal mahal-mahal kalau bisa mendapatkan pegawai pendatang yang etos kerja lebih mumpuni malah kadang … kemampuannya juga lebih bagus.
Kata siapa orang Asia lebih bodoh? . Kurang disiplin mungkin iya hihihi.
Dari kecil, kita orang Asia sudah ditempa dengan pendidikan keras nan kompetitif. Kita terbiasa memberikan effort maksmal dalam berbagai hal. Kita merasa wajar bekerja lebih keras untuk hasil yang lebih baik.
Hidup di Asia … penuh dengan kerja keras 🙂 (gambar : pixabay.com)
Di sinilah masalah makin membesar. Orang lokal (Eropa dan mungkin US) dari kecil sekolahnya santai, kelak mereka bekerja apa pun juga ya tidak merasa terpengaruh.
SEmentara pendatang, dari kecil hidup mungkin sudah keras. Rata-rata mereka punya mimpi di atas rata-rata. Kalau pun orang tuanya hanya sanggup bekerja “informal” misalnya, nah nanti anak-anaknya digembleng biar lebih sukses.
Kombinasi dari sistem pendidikan mumpuni ala “western countries” dan didikan khas “Tiger Moms” dari emak-emak di rumah masing-masing hahaha.
Mereka mengadopsi perilaku santun orang lokal tapi tetap memiliki kemampuan akademis yang tinggi . Ini yang sebenarnya menakutkan buat orang lokal. Pendatang yang mungkin awalnya dicibir tidak punya manner ternyata bisa beradaptasi dengan budaya disiplin masyarakat lokal.
Ini beneran, lho. Di sekolah sini biasanya terbagi 3 kelompok di tiap jenjang kelas : Advanced, intermediate, basic. Hampir semua anak Asia berada di kelas Advanced hahahaha. Sementara orang lokal tidak terbiasa dan tidak terlalu peduli .
Pendatang generasi “home grown” tidak hanya berjaya di bidang informal. Mereka akan terus merangsek ke wilayah profesional.
Dari sini pembatasan terhadap kaum pendatang mulai dilakukan. Dianggap sebagai ketidakadilan. Karena memang sih, misalnya status refugee, itu hanya dianggap solusi sementara. Diharapkan kalau negara asal membaik mereka akan pulang.
Tapi manaaaaaaaa… Pakistan sudah puluhan tahun didera pertikaian internal. Not mention kasus korupsi yang merajalela di banyak negara berkembang . Alih-alih melawan, korupsi termasuk kejahatan yang makin ke sini tidak lagi dianggap tabu.
Sudah mati rasa, Cuy. Kita saja di Indonesia saban ada kasus korupsi, ya udah. Udah ditangkap. Sudahlah. Sabar saja, bla bla bla. Besok juga sudah pada lupa . Nanti terpilih lagi malah. Kalau enggak, anaknya, suaminya, istrinya, iparnya, atau keponakannya atau adiknya atau siapanya yang menggantikan.
Lobbying – Corruption, gambar : pixabay.com
Masyarakat di negara berkembang, dengan tingkat pendidikan kurang merata bahkan sangat minim, sangat labil secara emosional. Jangankan negara berkembang, negara maju pun yang kini menjadi bagian dari masalah ekonomi global juga sudah mulai panik, kan? .
Apalagi kalau kebutuhan dasarnya belum terpenuhi. Kemiskinan dan kesengsaraan sebagai akibat panjang dari ulah koruptor menjadi penguat ketidakstabilan di banyak negara berkembang. Lingkaran setan tak berujung.
Dodolnya, banyak negara maju malah mengail di air keruh. Untuk mencari uang banyak dalam waktu singkat, mereka itu ya, alih-alih mendamaikan malah jualan senjata cobak! .
Pemerintah resmi berdalih perdagangan senjata terjadi “di bawah tangan” alias ilegal. Omong kosong! .
Akibatnya ya lingkaran setan tadi. Perbuatan jahat ya akan berbalik ke diri sendiri. Lihatlah kini, limpahan imigran yang rata-rata datang dengan maksud permanen mulai mendatangkan sentimen sosial dalam masyarakat setempat .
Pemboman di Brussel tempo hari membahas masalah ini. Brexit adalah salah satu puncaknya. Dan makin disempurnakan dengan fenomena … Trump!
Saya percaya, pada dasarnya mayoritas manusia di muka bumi ini, mau suku, agama, warna kulit, asal, dan ras mana pun, menginginkan kedamaian dan kesejahteraan sosial.
Masalahnya, kita ini manusia yang secara default memang pakemnya sudah begitu. Tidak sempurna. Tiap saat kita harus bertempur dengan diri sendiri melawan hal-hal yang sering diistilahkan dengan 7 sins :
1. Kebanggaan
2. Ketamakan
3. Iri hati
4. Kemarahan
5. Hawa nafsu
6. Kerakusan
7. Kemalasan
Makanya, musuh paling berat untuk SEMUA manusia itu justru diri kita sendiri.
Tapi sekali kita percaya bahwa ada sesuatu di luar sana yang tidak terkalahkan yang akan menghancurkan kita semua tanpa mampu kita cegah, entahlah semacam monster atau apalah hehehe, kita tidak akan pernah ke mana-mana .
Penggemar teori konspirasi mana suaranyaaaaaaa hahaha. Propaganda model begini yang akhirnya menghalangi kita berpikir ke arah kemajuan karena udah lemes duluan, “Udahlah. Gak mungkin. Kita pasti kalah. Pasti! Pasti! Ada kekuatan besar tak terlihat nganu-nganu…”
Pada kenyataannya, banyak negara maju sudah hopeless karena seberapa besar pun uang yang digelontorkan untuk bantuan kepada negara bermasalah, ternyata terbukti 80% nya masuk ke kantong para koruptor. Ini kasus di Afghanistan .
Di Pakistan, para pejabat korup ini kabur membawa lari uang negara dan hidup nyaman di negara lain . Di Afrika lebih ngeri lagi. Karena isu perbedaan suku pun masih bisa diramu untuk kepentingan para penguasa nan tamak. Sudah nonton Hotel Rwanda? Itu kisah nyata ya btw.
Selama negara-negara maju menutup mata dan malah ambil kesempatan dalam kesempitan dan gejolak dalam negeri di wilayah negara lain, ya selama itu pula lingkaran setannya enggak akan kelar-kelar.
Coba saja. Kalian halangi negara lain untuk maju karena ketamakan dan kebanggaan ingin menjadi “penguasa dunia”, kelak akan berbalik ke diri sendiri. Betul begitu, wahai US dan Eropa? .
Penduduk di negara yang kalian “kerjain” suatu hari akan berbondong-bondong pergi meninggalkan negara mereka dan malah nyasar ke negara kalian hehehe.
Sebaliknya buat negara-negara berkembang dengan segabruk konflik internal, selama tidak pernah mampu mengurai persoalan utama dan terus menerus meributkan hal-hal kecil yang terus dipercikkan untuk membelokkan perhatian kita dari fokus masalah, ya kita akan begini-begini saja.
Terus terjebak dalam ketidakmampuan, kegagalan membangun, perasaan dizalimi sebagai korban, dan seterusnya.
Entahlah yang mana memengaruhi yang mana. Mumet, Cuy hehehe.
Ini belum masuk isu agama yang lebih sulit lagi. Karena dalam urusan agama, kadang rasionalitas sulit sekali dikedepankan. Asas “pokoknya” jauh lebih mudah akibat doktrin turun temurun dan propaganda “perasaan kalah” tadi.
Makanya, dalam kasus Trump, wait and see dulu sajalah. Kok belum apa-apa sudah ngeri duluan hehehe. Amerika Serikat bukan negara abal-abal. Mereka sudah berkali-kali membuktikan diri sanggup keluar dari kemelut besar di sama lalu .
Bukan cuma US kok ya. Jangan sedih. Semua negara punya kesempatan sama untuk maju dan berkembang. Asalkan…fokus .
Tetap tenang ya, teman-teman hehehe. Jangan biarkan ketakutan menguasai kita. Karena rasa takut itulah yang menjadi sumber dari berbagai malapetaka di dunia.
Does fear always work? Nope. It depends on you .
Back to the basic rule, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Termasuk KEMALASAN mencerna berita dan situasi apa pun. Sifat tergesa-gesa karena dikuasai HAWA NAFSU dan KEMARAHAN. Chill out, Bro and Sis . Tetap waspada dengan segala bentuk provokasi .
“An Idea is nothing but Information, It won’t do us any harm until we accept it as perception of truth in our mind, which in time will potentially evolve and construct major events in history.”
― Djayawarman Alamprabu, Feared Intellectualism