Masjid besar di Dublin Eropa

Islam di Eropa : Kawasan Islamic Center di Dublin, Republik Irlandia

Islam di Eropa : Tahun 1992, Hamdan Bin Rashid Al Maktoum, seorang menteri keuangan dari Dubai-Uni Emirat Arab mendanai sebuah bangunan yang kelak akan menjadi bagian dari “Islamic Cultural Central of Ireland”.

Bangunan ini berdiri dengan megah di sebuah kawasan yang cukup elit di Dublin, ibukota Republik Irlandia. Tepatnya di wilayah Clonskeagh.

Masjid besar di Dublin Eropa

Masjidnya keren punya, Cyin! ^_^. Di sebelahnya berdiri pula beberapa bangunan yang menjadi sekolah dan aula yang  bisa digunakan untuk berbagai macam kegiatan.

Di bagian bawah, ada sebuah kantin yang dilengkapi meja dan kursi makan yang bisa memuat lebih dari 60 orang untuk makan langsung di sana. Di depan kantin, ada sebuah toko kelontong yang menjual aneka pangan yang tentunya berlabel… halal ;).

Sayang, sih, menu-menu di kantin rasanya kurang enak. Menurut saya lho yaaaaa, sungkem dulu sama Pak Koki hehehe.

Menu yang dihidangkan umumnya khas India-Arab seperti Nasi Biryani dkk. Harganya juga tidak begitu murah. Tiap menu utama  umumnya dihargai sekitar 7-9 euro per porsi.

Biasanya saban kami sekeluarga ke Dublin, selalu menyempatkan diri mampir ke Masjid di Clonskeagh ini. Kadang numpang salat atau buat makan siang dan sebagainya.

Kantinnya bersih jadi nyaman buat makan di sini bareng anak-anak apalagi si anak bayi nih hehehe.

Islam di Eropa Kantin Halal Masjid di Dublin Eropa

Tempat parkirannya hampir selalu penuh. Apa karena gratis gitu, ya? Jadi pada numpang parkir hehehe.

Maklum sih, dimari mau parkir saja ongkosnya lumayan, tuh. Secara infrastruktur transportasi, Dublin dan Republik Irlandia secara umum belum sebagus di Eropa daratan :(. Masih perlu banget punya mobil pribadi di sini :(.

Terus, apa kabar kakaknya yang enggak bisa nyetir? Hahaha. Kabar baik kok yaaaaaa :p.

Kawasan Islamic Center yang di Clonskeagh-Dublin ini juga menempati areal yang cukup luas. Dari luar saja sudah kelihatan bangunan masjid yang berdiri megah dengan pekarangan yang lapang.

Tepat di depan kawasan ini terdapat sebuah perumahan elit. Kami pernah tidak sengaja mampir sampai ke pintu gerbangnya buat numpang muter balik hihihi. Keasyikan mengobrol, pintu masuk ke Islamic Centernya kelewatan :p.

Btw, namanya kawasan elit, umumnya letaknya agak jauh dari City Center. Termasuk kawasan Islamic Center yang di Clonskeagh ini.

Tapi tenang aja, di kawasan City Center Dublin juga ada masjid, lho ;). Tempatnya juga lumayan luas, cuma lokasinya agak nyempil dan model bertingkat.

Letak masjidnya di Earl Street North. Di O’Connell Street kan ada monumen Spire yang terkenal itu. Dari arah Sungai Liffey, Earl Street North terletak di sebelah kiri Menara Spire  :).

Islam di Eropa Rumah makan halal turki di Dublin
Rumah Makan Halal (Turkish Food)

Di ruas jalan yang sama juga ada beberapa kedai/rumah makan yang menyajikan menu-menu halal. Misalnya Kebab Iskandarsyah yang menjual menu-menu khas Turki. Nah, kalau yang ini endeeessss :D.

Dulu, sebelum punya mobil sendiri, kalau ke Dublin kami naik bus sekeluarga. Nanti kan tinggal jalan dikit dari stasiun Bus Busaras ke City Center. Sering deh mampir makan ke kedai Turki yang itu.

Nah, masjidnya terletak beberapa bangunan sebelum rumah makan Turki itu. Pintunya kecil saja, enggak kelihatan kalau dalamnya masjid.

Nanti begitu masuk pintu kita naik tangga agak tinggi ke atas. Di situ deh ada area buat laki-laki sekalian tempat wudhunya. Naik satu tangga lagi, ada tempat buat perempuan plus tempat mengambil wudhu yang juga terpisah.

Tempatnya luas cuma ya itu, bertangga-tangga aja. Hati-hati kalau bawa bocah. Pening dah hahahaha :p.

Ah ya, tahu tidak sih di Dublin juga ada museum alquran yang lumayan lengkap, lho. Lokasinya juga di sekitaran City Center.

Tepatnya di area Dublin Castle. Sayang sekali, saya tidak tahu soal keberadaan manuskrip alquran di Cheaster Beatty Library ini :(. Waktu ke Dublin Castle, kita malah muter-muter enggak jelas.

Jarang nih ada kesempatan ke Dublin. Karena lumayan jauh kan nyetirnya, hampir 2 jam kalau dari arah kota tinggal saya. Terus kalau ke City Center yang susah itu … cari parkirannya -_-.

Pernah sih ngajak suami naik bus bareng-bareng lagi kayak dulu, cuma ya dese enggak betah jalan-jalan kayak gitu bawa 3 bocah hahaahha. Ruweeet. Belum lagi kalau hujan dll.

Nanti kalau sudah pada gede, Mama bisa “melarikan diri sendiri” kali ya ke Dublin backpacker-an. Terus diledekin suami, “Terus kalau nyasar tinggal nangis ya minta dijemput!” Hahahaha :p.

Resep MPASI Puree Buah Pear

Resep MPASI Puree Buah Pear dapat diberikan sejak adek bayi berusia 4-6 bulan. Di Irlandia sini, rekomendasi pemberian makanan padat dimulai di usia 6 bulan. Saya juga menggunakan standar yang sama sejak anak pertama.

Resep MPASI Puree Buah Pear



Ya enggak benar-benar 6 bulan sih. Seringnya 6 bulan kurang dikiiiiiit. Kurang seminggu lah ya rata-ratanya. 


Tapi tidak sedikit juga referensi yang membolehkan pemberian makanan padat pertama sejak usia 4 bulan. Silakan dikonsultasikan dengan dokter anak masing-masing ya :).


Hasil Puree Buah Pear -nya agak kecoklatan karena dihaluskan dengan kulitnya sekalian hehehe. Mayoritas buah-buahan memang sebaiknya dikonsumsi dengan kulitnya. Tapi memang tidak semuanya. Ya kali mau makan duren sama kulitnya hahaha :p.


Itu yang dalam mangkok agak lebih coklat tua karena pengaruh cahaya, ya. Warna aslinya sih lebih mirip dengan warna yang ada dalam wadah-wadah plasti yang ada tutupnya itu. Yang wadah plastik buat ditaruh dalam freezer buat nyetok :D.


Di awal pemberian, sebaiknya buah-buahan dikenalkan satu persatu dulu jangan langsung dicampur. Untuk mengetes alergi dsb. Ingat kan rule 3-hari untuk jenis makanan yang sama. Berlaku juga untuk MPASI tipe lain selain buah, yaitu sayur misalnya.


Baca juga : Resep MPASI Puree Zuchini 


Misalnya nih, kenalin dulu pear 3 hari terus apel 3 hari. Baru deh setelah dua-duanya cucok, hari-hari selanjutnya bisa digabung penyajiannya. 


Baca : Resep MPASI Puree Wortel dan Parsnip


Tapi apel dan pear seharusnya buah yang tergolong resiko alergi paling kecil. Makanya direkomendasikan untuk dikenalkan di awal pemberian makanan padat pada bayi.


Nah, ada sedikit kesalahan teknis pas pertama kali bikin Puree Buah Pear ini. Salah beli jenis pear hihihi. Belinya yang pear yang bentuknya agak bulat. Saya lupa nama tipenya. Tapi memang pear model begini rasanya agak asem.


Jadi deh adik bayi makannya sampai bergidik gitu hahaha. Acem ya Deeeeeek :p.


Selanjutnya ya selalu beli Pear yang namanya Conference Pear. Pear jenis ini dijamin maniiiiiissss … kayak mamanya adek bayi #eaaaa hahaha.


Ini lho penampakan si Conference Pear yang dimaksud :

Resep MPASI Puree Buah Pear

Di sini memang ada beberapa jenis pear. Bisa dbilang buah pear juga ada di sepanjang tahun. Mau musim apa juga buah pear selalu gampang ditemukan di swalayan dan toko buah ^_^. Termasuk si Conference Pear ini ;). 

Jangan terpengaruh dengan warna kulitnya yang kurang caem, ya. Cuci bersih saja, JANGAN dikupas. 

Okelah, ini dia Resep MPASI Puree Buah Pear

Resep MPASI Puree Buah Pear

Bahan :

  • 2-3 buah pear, tergantung mau bikin untuk berapa porsi. Porsinya pun disesuaikan dengan umur adek bayinya, ya :). Cuci bersih dan sekali lagi, kulitnya tidak perlu dikupas.
  • ASI/sufor/air putih matang untuk mengencerkan saat diblender
  • Sebaiknya pakai yang jenis Conference Pear yang rasanya benar-benar manis :).

Cara Membuat :

  • Potong-potong buah pear agar cepat matang saat dikukus. Ukuran dan bentuk terserah saja. Toh nanti juga  bakal diblender hehehe.
  • Tekstur pear kan sebenarnya sudah cukup lembut jadi tidak perlu lama-lama mengukusnya. Maksimal 3-4 menit saja.
  • Blender/haluskan pear yang sudah dikukus bersama ASI/sufor/air putih matang sampai lembut. Apalagi  buat yang baru belajar makan ya, takut keselek kalau masih ada yang gerindil-gerindil.
  • Jadi deh Puree Buah Pear -nya ;).
  • Hasilnya cukup untuk lebih dari sekali makan. Untuk konsumsi selanjutnya, taruh dalam wadah kecil-kecil (satu wadah untuk satu kali makan) dan simpan dalam freezer.

Jika ditaruh dalam freezer bisa tahan lebih dari sebulan. Sebaiknya sih kalau tidak darurat banget, bikinnya enggak usah buat setok sebulan lah ya hihihi. Kalau saya paling buat 2-3 x makan saja.

Buah termasuk yang dianjurkan untuk diperkenalkan pertama kali. Khususnya alpukat, apel dan pear karena resiko alerginya relatif rendah. Buah juga ramah terhadap pencernaan ampuh untuk mencegah sembelit untuk bayi yang baru berkenalan dengan makanan padat.

Untuk Resep MPASI Puree Buah Apel ya caranya sama juga kok dengan resep ini. Ganti saja pear nya dengan apel. 

Selain buah-buahan, oatmeal juga pilihan yang paling baik untuk kategori serealia untuk mencegah sembelit di awal.

Gampang banget kok ya bikin MPASI buat adek bayi hehe. Embak di rumah juga bisa diajarin kalau seandainya Mamah enggak sempat ;). 

Sila dicoba sendiri Resep MPASI Puree Buah Pear ini untuk bayi masing-masing. Ya masa bayi tetangga, yak? Hahahaha :p. 

Islam, Identitas atau Karakter?

Kurang ya gemanya berita ini dalam negeri. Ketutupan sama berita politik Pilkada. Berita tentang “Indonesia Just Made a Huge Move to Protect The Climate”.

Btw, menjaga lingkungan adalah salah satu tugas terberat manusia yang sudah ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi ini. Malaikat saja sempat keberatan kepada Tuhan, “Why?”

Iblis malah terang-terangan menolak pengukuhan ini.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Membela lingkungan pun bagian dari membela agama lho . Efeknya bukan hanya ke diri sendiri, ke ego kita sendiri, tapi kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini . Islam, rahmatan lil aalamiin .

Praktiknya membawa manfaat, ketenangan, kedamaian, keteraturan, ketertiban dan tentu saja … kesejahteraan BAGI SIAPA PUN.

 

Perhatian tentang lingkungan sudah menjadi jargon-jargon utama secara internal di negara-negara maju. Tentunya setelah kebutuhan dasar masyarakatnya sudah terpenuhi seperti pendidikan dan kesehatan serta fasilitas umum yang mumpuni dan mencapai seluruh kalangan. Pemerataan pembangunan secara umum sudah cukup berhasil.

Itulah mengapa penelitian “How Islamic are Islamic Countries?” memberikan hasil yang bertolak belakang dengan agama mayoritas penduduknya. Karena sejatinya, petunjuk hanya akan membawa hasil JIKA dan HANYA JIKA DIPRAKTIKKAN. Bukan jadi jargon semata .

akidah akhlak dalam islam identitas atau karakter
Gambar : pixabay.com

 

Masih mau menyama-nyamakan kepemimpinan negara-negara maju dengan Fir’aun dan siapa-siapalah itu yang lagi rame memenya tempo hari?

Mayoritas negara-negara maju memang punya peraturan disiplin tentang lingkungan, fokus pada penghematan energi, menyantuni anak yatim dan kaum perempuan (catatan : misalnya tunjangan child benefit yang hanya berhak diberikan kepada ibunya untuk SETIAP ANAK sejak anak lahir hingga usia 18 tahun di Irlandia).

Mereka juga sangat keras menghalau kemiskinan, membangun fasilitas kesehatan yang menjangkau seluruh masyarakat, fasilitas umum yang bisa dinikmati kaya-miskin-tua-muda-Islam-Kristen-atheis-agama lainnya-perempuan-lelaki.

Bahkan, penyandang cacat dan kaum berkebutuhan khusus diberi fasilitas spesial di banyak negara maju. Mereka bebas beraktivitas di luar rumah tanpa kendala berarti . Di sini biasa saja tuh melihat anak-anak down syndrome berangkat sekolah sendiri . Orang-orang berkursi roda jalan ke supermarket belanja sendiri .

Pemerintah punya program gratis buat para orang tua dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Pemerintah menjamin pengobatan dan perawatan untuk anak-anak ini.

Yang kayak begini kalian sebut sebagai kepemimpinan ala Fir’aun? .

Lantas, bagaimana dengan Afghanistan, Sudan, Somalia, Bangladesh, Libya, Irak, yang nyata-nyata mayoritas muslim tapi kondisi negara mereka seperti itu?

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Fir’aun memperbudak BANI ISRAIL. Saat Musa datang untuk memberinya peringatan dan meminta Fir’aun menyerahkan Bani Israil, dia membangkang dan merasa dirinya lebih berkuasa daripada Tuhan. ITU penyebab dia diazab. Bukan karena dia membangun bangunan-bangunan tinggi, menguasai teknologi bla bla bla .

Cobalah sekali-sekali menggunakan argumen yang lebih komplit dan terarah ketimbang menggunakan meme-meme sederhana dengan pesan dangkal. Sudahlah dangkal, digunakan pula untuk menyerang orang lain yang tidak sepaham.

 

Kalian toh lebih beriman, lebih saleh, tentunya lebih sering membaca alquran dibanding kami-kami yang konon munafik ini . Tentu kalian lebih fasih menguraikan betapa banyaknya amalan-amalan muamalah yang diurai dalam alquran yang bertujuan menaungi keselamatan dan kesejahteraan manusia di dunia .

Sebagai penuntun dan petunjuk bagi SELURUH umat manusia.

But look at you, sangat-sangat-sangat sensitif dengan fakta bahwa betapa kemiskinan menjadi wajah khas dari tidak sedikit negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Pertikaian internal dan korupsi menjadi salah satu penyebab utama di banyak negara-negara tersebut.

Kalian malah fokus ke wilayah “keimanan” yang sungguh saya tidak pernah paham bagaimana cara mengukurnya? Dari merek minumannya? Merek rotinya? Tontonan televisinya? Pilihannya pas Pilpres/Pilkada? Picik sekali.

equil-sari-roti

Keimanan itu bukan ranah manusia. Memangnya tahu dari mana seseorang itu salatnya khusyuk atau tidak. Orangnya rajin puasa atau tidak? Mau dipasangin CCTV di seluruh penjuru rumahnya? Memangnya CCTV bisa membaca hati manusia? .

Ujung-ujungnya lebih banyak berdebat akan hal-hal yang sifatnya batiniah . Hal-hal yang tidak bisa diukur dalam kapasitas kemanusiaan kita .

Kisah-kisah kaum Ad, Tsamud, Madyan, Fir’aun, Bani Israil, SELALU disikapi dengan retorika bahwa “Mereka dilaknat karena mereka menentang Tuhan. Menentang Tuhan = bukan Islam.” Definisi Islamnya ya berpegangan kepada hal-hal ritual saja .

Coba lihat perilaku mereka lebih mendalam. Kaum Madyan diperingatkan untuk tidak melebihkan timbangan, Kaum Tsamud sudah diperingatkan untuk tidak mengganggu seekor Unta betina yang dititipkan dan bersedia berbagi sumber air dengannya. Ealah, untanya disembelih.

Itu semua kan metafora yang bisa dipikirkan dengan kapasitas akal kita sebagai manusia. Melebihkan timbangan saja dalam berdagang yang mungkin sifatnya person to person sudah diperingatkan secara KERAS. YA GIMANA KALAU KORUPSI TRILYUNAN YANG MENYENGSARAKAN RAKYAT SEGINI BANYAAAAAAAKKKKK .

Berbagi sumber air dengan seekor Unta betina mungkin tertitip pesan bahwa BUKAN hanya manusia yang punya hak atas kehidupan di dunia ini. Coba lihat sekitar kita. Lingkungan dan makhluk hidup lainnya tetap harus dijaga haknya sesuai fitrah yang diturunkan Tuhan bagi setiap makhluk hidup di dunia.

Bani Israil yang serba ogah-ogahan dan culas setelah berhasil diselamatkan oleh Nabi Musa. Bukan karena IDENTITASnya sebagai BANI ISRAIL. Tapi karena SIFAT dan PERILAKU MEREKA SAAT ITU.

Karena masalah identitas inilah, tidak sedikit kaum muslim menentang kemaslahatan atas nama kemanusiaan jjika itu DATANG dari golongan di luar Islam. Logical fallacy terhadap Fir’aun yang dicocok-cocokkan dengan kehidupan di banyak negara maju yang faktanya memang mayoritas non muslim.

Kenapa begitu? Karena kalian menganggap ISLAM itu sebatas “bungkusan” saja. Isinya tidak penting. Bungkusnya dulu dah.

Pokoknya mau punya PEMIMPIN MUSLIM. Titik. Terserah deh gimana-gimananya, pokoknya MUSLIM DULU. Sisanya menyusul. Mau korupsi kek, mau nganu kek, mau nginu kek, bodo amat! Pokoknya kudu muslim, lim, lim.

Dimana definisi muslimnya ya itu aja kali … cek kolom agama di KTPnya. Sifat dan karakter kepemimpinan malah tidak pernah dijadikan patokan. Seolah kalau muslim sudah pasti selamat. Faktanya ternyata tidak. Sibuk lagi mencari alasan gimana biar identitas muslimnya tidak terganggu.

Jadikan ISLAM sebagai KARAKTER kita, teman-teman. Kita, termasuk saya dong, ya .

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Sesuatu yang akan memancar dari dalam. Jadi tidak perlu kalian berkoar-koar, akhir-akhir ini doyan bener ngajak ngumpul-ngumpul untuk memamerkan kepada orang lain betapa banyaknya kalian??? Terus kalau banyak kenapa? Biar orang takut gitu?

Gimana caranya mau jadi rahmat buat orang lain, begitu muncul saja orang sudah terkencing-kencing pengin sembunyi. Begitu mau ngumpul, orang heboh siapin pengamanan bla bla bla. Berat di ongkos, euy *ngelapKeringat*.

Orang malah tidak suka dekat-dekat karena perangainya yang terkenal “beringas”.

Jilbab di kepalamu itu, wahai kaum muslimah, jangan kalian gunakan untuk bikin meme menakut-nakuti perempuan lain yang tidak pakai jilbab. Jilbab itu sebagai salah satu sarana bagi kita kaum perempuan untuk menundukkan diri dari kelemahan kita sebagai makhluk yang memang ribet penampilan dan senang pamer-pamer hehehe.

Jilbab itu lebih untuk menyederhanakan penampilan. Makanya tanya pada diri kalian sendiri, jangan-jangan sejak memutuskan untuk berhijab syar’i atau sebangsanya kok ya ongkosnya lebih gede? .

Enggak apa-apa katanya. Seperti kata salah satu penjual gamis syar’i online, “Memang surga harganya mahal.” Cucoooookkkk . Kalian pernah mendengar istilah, “Jangan menjual ayat dengan harga yang murah”? .

Demi identitas boleh doooong keluar duit lebih. Padahal kesederhanaan adalah karakter seorang muslim yang melekat kuat pada diri Rasulullah. Kalian justu menggunakannya sebagai IDENTITAS semata BUKAN sebagai KARAKTER .

Kesederhanaan menjadi pemicu rendah hati. Nah, jangan-jangan kalian sudahlah makin menor makin tinggi hati pula merasa diri lebih baik karena selembar pakaian di badan .

Sudah saatnya umat muslim menjadi bagian dari perbaikan kehidupan di dunia ini. Di banyak wilayah Afrika masih banyak sekali anak-anak yang hidup kelaparan. Afrika bukan wilayah miskin kalau kita berbicara soal sumber daya alam.

Tapi kerakusan para pemimpin dan mungkin ketidakpedulian kita yang membuat mereka terus menerus berkubang dalam duka .

Tahun lalu saya membuat tulisan tentang seorang anak muda di Amerika Serikat yang menemukan teknologi untuk membuat tangan buatan (robotik) yang bisa membantu meringankan hidup kaum tunadaksa. Selama ini, perlu biaya sekitar 80 ribu dollar untuk mengupayakan hal seperti ini.

Temuannya membuat ongkos pembuatannya bisa ditekan hingga hanya 250 dollar saja .

Hebatnya, anak muda itu melepaskan hak cipta atas temuannya menjadi “open source”. Bisa digunakan dan dikembangkan lebih lanjut oleh siapa pun tanpa perlu membayar hak cipta.

Di Inggris, juga tahun lalu, sebuah penelitian di bidang kesehatan tentang Baby 3 Parents untuk membantu pencegahan penyakit genetik yang sudah melahirkan banyak anak-anak cacat yang sungguh sulit untuk hidup normal sejak lahir hingga dewasa. Walau konsep ini masih sangat debatable.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Di blog juga sudah saya bahas hehehe.

Di banyak negara maju sudah muncul aturan untuk MEWAJIBKAN tiap perusahaan membolehkan orang-orang berkebutuhan khusus seperti down syndrome untuk menjadi karyawan tetap dan digaji SAMA dengan karyawan lainnya.

Sebulan lalu saya membawa anak saya kontrol perkembangan motorik rutin di sebuah klinik dekat rumah. Di halaman klinik ternyata ada pelatihan bagi orang-orang yang duduk di kursi roda untuk … menyetir mobil sendiri! Gratis oleh pemerintah.

Sudah sejauh itu mereka melangkah, teman-teman. Kita? Jangankan kesempatan menyetir untuk mereka di kursi roda, mau sekolah saja kadang gedungnya yang tidak ada .

Umat muslim HARUS menjadi bagian dari hal-hal BESAR seperti ini. Jangan hanya terus menerus meratap-ratap betapa orang lain ingin menghancurkan kita bla bla bla.

Sampai kapan mau menghadirkan musuh yang jangan-jangan hanya ada dalam imajinasi kalian sendiri? Penyakit hati kita sendiri jangan-jangan yang menjadi penghalang kemajuan kita?

Kesombongan kita terhadap identitas kita yang membuat kita lalai memperjuangkan karakter .

Iya gak sih, teman-teman?

Mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang mengenakkan.

Think about it, ya  .

Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org

Ayam Kremez

Jules terisak-isak sambil curhat, “I don’t want to be buried alone. Paige’ll be with her husband, and Matt’ll be with his new family, and I will be buried with strangers. I’ll be buried in the strangers singles section of the cemetery. Not that that is a reason to stay together. But it’s just, you know, a scary sidebar.”

Ben menyodorkan selembar tisu, “Let’s take that one off your plate right now. You can be buried with me and Molly. I happen to have space, okay?”

Sudah nonton film The Intern? Hehehe.

Saya baru tahu filmnya tadi pagi, suami yang cerita hehehe. Jadi, waktu baru bangun tadi, saya memperlihatkan video kantor tempat saya dulu bekerja pada suami saya.

the-intern

Then we were joking around, “Nih kantor barunya. Keren, ya. Duh kalau aku gak resign, sekarang aku udah jadi manajer kali Bang. Gak perlu pusing abang nyari kerja! You just stay at home with the boys. Nanti aku aja yang kerja di kantor.”

Saya suka becandain, “Coba gue masih kerja.  I can bring big bunch of money. Abang bobok-bobok aja di rumah.”

Suami sih nyenyir saja terus tahu-tahu dese cerita tentang film ini hahaha. Ampun, Bang! #tiarap :p.

Filmnya sendiri bercerita soal seorang intern, a senior intern, a super senior one hehehe, Ben (Robert De Niro). Menjadi intern di sebuah start up company yang CEOnya perempuan muda yang super sibuk extremely smart and super lincah, Jules (Anne Hathaway).

Jujur saya enggak nonton filmnya utuh. Karena saya sudah lama mempersiapkan tulisan Ayam Kremez ini cuma lagi nyari-nyari “punchline” yang pas #eaaaa hihihi. Saya rasa Jules dan Matt (suaminya) bolehlah kita jadikan salah satu contoh :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Jules seorang perempuan bekerja, very bright, super sibuk di kantor. Jadilah anaknya, Paige, dirawat sehari-hari oleh Matt, suami Jules. Matt tidak bekerja biar bisa konsen mengurus rumah dan Paige. Ya iyalah, di luar negeri enggak ada simbok dkk hehehe.

Tadi Jules curhat ke Ben soal Matt yang ternyata berselingkuh. Jules tidak ingin memberitahu Matt jika dia tahu soal perselingkuhan ini. Jules punya kecemasan yang lain.

Ayam Kremez istilah yang muncul untuk mengimbangi Macan Ternak, Mama Cantik Anter Anak ke Sekolah vs Ayah Muda Keren Bikin Gemez hahaha. Ada-ada saja.

Tapi di kota tinggal saya sekarang ini, dan saya rasa di banyak wilayah di negara-negara “mapan”/western countries, fenomena Ayam Kremez berkeliaran bareng anak-anak tanpa kehadiran istrinya adalah fenomena biasa. Kalau di Indonesia, waduh, ada papah-papah muda wara wiri ngurus anak tanpa bini pasti langsung digodain, “Poligami itu boleh lho, Mas!” Hahahaha.

Di sekolah anak saya, rutin banget ketemu beberapa Ayam Kremez –> kremez beneran boooo hahaha, untung suami kagak kalah kremeznya, harus langsung klarifikasi biar kartu ATM enggak disita hahaha. Ketemu di sekolahan pas nganter anak, eh papasan di supermarket pas lagi belanja, pulangnya ketemu lagi pas jemput anak hihihi.

Ada juga yang saban pagi dorong stroller keluar dari gedung apartemen. Paling saling menyapa sebentar dia pun ngacir pergi berdua saja dengan adek bayi dalam stroller. Rutin tiap hari. Siang-siang ngeliat dese masuk gedung dengan segabruk belanjaan. Dari kantong belanjaan nyembul sayur-sayuran semacamnya gitu hehe.

Belum tentu mereka tidak bekerja sama sekali, sih. Ada yang memang part timer. Jadi bisa bekerja fleksibel. Ada yang memang menjual jasa tergantung kebutuhan/order. Istri mereka biasanya bekerja full time menjadi pegawai toko, office girl di mal, dsb. Catet ya, pekerjaan seperti ini gajinya tetap oke banget untuk ukuran sini.

Karena di negara-negara maju, apalagi model Eropa-Australia-Kanada, gap gaji tidak terlalu jomplang hehehe. Bosan banget ya saya ceritain soal ini hehehe.

Hadeeeeh kalau di Jakarta sudah habis tuh bininya dinyinyirin habis-habisan. Syukur-syukur si Ayam Kremez bersangkutan kagak difoto-foto terus disebarin di medsos, “Manaaaaaa istrinya, manaaaaaaa… Perempuan macam apaaaaahhhh…” :p.

Etapi sebenarnya sudah ada juga lho pasangan model begini di Jakarta. Saya pernah kenal juga keluarga dengan “sistem seperti ini”. Walau sang suami tidak benar-benar full time di rumah, ada pekerjaan juga. Atau punya usaha yang bisa disambi dari rumah.

Satu  hal yang jelas, pengurusan rumah tangga dominan dipegang oleh suami yang umumnya menjadi tanggung jawab istri (well, setidaknya dalam kacamata “ketimuran” kayak kita-kita ini). Di luar negeri sih tidak ada simbok/nanny, jadi memang kelihatan banget peran suaminya.

Kalau di Jakarta masih bisa dibantu simbok/embak/nenek/eyang/tante dan lain-lain kali ya hehehe.

Saya kurang tahu sudah seberapa besar penerimaan masyarakat terhadap “pertukaran peran” macam ini di Indonesia. Ada yang punya datanya? Hihihihi.

Isunya membentang dari “seberapa jauh efek emansipasi perempuan bla bla bla”, “apa laki-laki benar-benar rela anu-anu-anu”, “menantang kodrat kah” dan seterusnya.

Tapi di film Intern masih kelihatan ya, di “dunia barat” pun hal-hal seperti ini masih menjadi tantangan tersendiri. Belum 100% terlepas menjadi hal umum. Masih bersisa tabu-tabunya dikit.

Jules malah takut kalau dia memilih konfrontasi secara terbuka, Matt malah akan ‘pergi’.

Menurut Jules, Matt pasti mudah menemukan pasangan kembali. Jules meradang sendiri,”I’m not easy.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Jadi begini, Matt pun sebenarnya dulu juga bekerja malah kariernya lumayan. Tapi dia mengalah untuk Jules. Jules pun pede menjalani hari-harinya karena dia percaya kepada Matt.

Again ya, jadi perempuan emang repot hihihi.

Dalam kasus ini saja, malah Jules yang disisipin perasaan bersalah dan merasa “deserved”. Makanya dia sempat memilih mau meloloskan penggantinya saja dan ingin ‘step down’ dari perusahaan. Demi menyelamatkan rumah tangganya.

Berat ya menjadi perempuan seperti Jules. Kita ingin mempunyai keluarga -suami dan anak- tapi kita pun ingin “terbang tinggi” dan merasa keduanya sama pentingnya.

Tapi lihatlah, pasti kesenggol melulu kalau menjadi yang model begini. Jangankan adat ketimuran, di film ini saja yang jelas-jelas settingnya di negara yang konon paling liberal, masalah begini ternyata masih kejadian hehe.

Ish, enaknya jadi laki-laki :p. Cari uang buat keluarga dipandang hebat. Mau mengalah demi istri pun tetap dipuji-puji besar hati dan sebagainya.

Kita perempuan? Di rumah dinyinyirin, kerja juga dipelototin hahaha.

Saya pribadi kagum dengan model “Ayam Kremez” begini hehehe. Tentu tidak mudah kan mengorbankan ego alami laki-laki demi perempuan yang kita sayangi <3.

Hal lainnya lagi, kalau pun misalnya suami dan istri sudah sama-sama sepakat lantas bagaimana dengan tekanan lingkungan atau keluarga? Apalagi kalau di  Indonesia ya. Beuh, dua-duanya bisa dihajar habis-habisan tuh hahahaha.

“Istrinya egois amat!!”

“Dasar laki-laki lemah!!”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Kalau dalam keluarga saya pribadi, maksud saya antara saya dan suami ya mungkin so far terasa “nyaman” saja. Kita kurang tahu ya ke depannya hehehe. Semoga nyaman terus ya Bang ;).

Ini karena ya dia tipe “I’m a man and let me be the one.” Sementara saya memang yang enjoy aja bangun pagi wara wiri di dapur, ngurus anak di rumah, tentu sambil sambil bertempur di Facebook dong ya hahaha. Kayaknya saban Pilkada sama Pilpres, ribut melulu wall gue hahaha.

Soal keuangan suami cenderung hemat tidak macam-macam jadi kita punya investasi yang alhamdulillah “cukup” lah so far. Dan saya juga bukan tipe yang harus punya baju 2 lemari atau punya tas bermerek atau apalah-apalah.

Jadi tidak ada ‘beban’ tambahan hehehe.

Saya pernah kok berdebat dengan ibu saya soal kemandirian secara finansial. Ibu saya tidak suka “perempuan di rumah” hehehe.

Tapi bagaimana ya, probably because I trust him. Bukan percaya membabi buta gitu-gitu ya bahwa dia akan setia sampai mati bla bla bla. Tapi ya begitu deh, kami berdua merasa nyaman aja gitu :D.

Jangan dikira dia ngupil-ngupil aja pulang kantor hahaha. Ini luar negeri, Men! Kagak ada embak. Pulang kantor ya dia bantuin saya di rumah :p. Weekend dia yang nganterin anak-anakk berenang segala macam sementara saya ngupil di rumah hahaha.

Dia membantu anak-anak mengerjakan peer, do some laundry sometimes, bahkan tidak segan mengganti popok adek bayi.

Ya pada intinya balik lagi. Every family has its own rule, yes? :D.

Selama keduanya sepakat, let’s go on! Yang lain-lainnya bisa ‘menyusul’, yes? ;).

 

Politisasi ‘Pasal Karet’ Undang Undang Penistaan Agama, Ahok, dan The Majority Privilege

Undang undang penistaan agama :  Hampir penghujung Oktober 1998, Tabanan bergolak. Paruman (rapat) akbar digelar oleh pemuka adat, melibatkan ratusan umat Hindu setempat, menuntut Presiden Habibie memecat dan  mengadili salah satu pejabat pusat. Pejabat yang dituduh melakukan penistaan agama.

Salah satu perwakilan mereka, I Gusti Gde Putra Wirasana, mengingatkan pemerintah agar secepatnya mengambil langkah. Jika tak ada tindak lanjut, Wirasana mengancam akan terjadi demo yang lebih besar lagi, juga untuk tetap menjaga citra Bali sebagai kota wisata internasional.

Bali memanas, travel warning ke Bali sempat dikeluarkan bagi turis-turis asing karena maraknya aksi protes yang sambung menyambung.

bali-marah-saefuddin-exit

Sebelum Tabanan, Denpasar sudah lebih dahulu pecah. Disusul Bangli, Gianyar, Jembrana dan berbagai wilayah di Bali. Beberapa demo skala kecil juga terjadi di ibukota. Termasuk memberikan laporan pengaduan resmi atas penodaan agama ke Kapolri saat itu.

AM Saefuddin, Menteri Pangan dan Hortikultura era reformasi, yang saat itu juga digadang-gadang untuk maju sebagai salah satu capres dari PPP jelang Pilpres 1999 membuat pernyataan kontroversial, “Mega pernah sembahyang ke Pura. Saya salat di Masjid. Dia kan agamanya Hindu. Saya Islam. Relakah rakyat Indonesia presidennya beragama Hindu.”

Ucapan AM Saefuddin  membakar amarah umat Hindu di tanah air.

Kalau Ahok perlu Buni Yani untuk memotong video penyuluhannya di Pulau Seribu yang aslinya berdurasi lebih dari satu jam menjadi 3 menit saja, maka pernyataan AM Saefuddin dilontarkannya dalam sebuah wawancara langsung yang dimuat di beberapa media cetak nasional : Republika – Suara Indonesia – Merdeka, pada tanggal 15 Oktober 1998.

Dari ancaman menutup bandara sampai ada gerakan menyarankan untuk melakukan Puputan. Puputan, semacam ritual bunuh diri ketimbang harus menyerah kepada musuh. Terus membesar menjadi ancaman disintegrasi, melepaskan Bali dari kekuasaan Republik Indonesia.

AM Saefuddin telah meminta maaf. Malah, permintaan maaf pun diulangi sampai dua kali.  Tetap tak menurunkan ketegangan umat Hindu di berbagai wilayah, utamanya di Bali.

Banyak pihak menyayangkan peristiwa ini dan menuding ucapan AM Saefuddin telah dipolitisasi oleh “lawan politik”nya demi menjegal kesempatan AM Saefuddin menjadi capres pada Pilpres yang sudah di depan  mata.

AM Saefuddin tergolong pejabat “bersih” termasuk dari virus korupsi.  Beliau adalah tokoh akademis yang mengabdikan lebih dari 30 tahun hidupnya di kampus IPB.  Tahun 1983 – 1986, beliau menjadi rektor Universitas Ibnu Khaldun. Satu lagi tempatnya mengabdikan ilmu, Universitas Djuanda (Bogor).

Tetap saja, sebagai pejabat publik, AM Saefuddin dinilai tidak pantas merendahkan agama lain dalam kapasitasnya sebagai pelayan rakyat.

Bagaimana akhirnya?

Presiden Habibie bergeming. Tak ada pengadilan sama sekali. Tak ada reaksi dari kepolisian. Kasusnya tidak pernah ditingkatkan ke penyelidikan. Selesai begitu saja. Demo berangsur-angsur mereda dengan sendirinya.

AM Saefuddin tidak dicopot dari jabatannya. Masalah pun berlalu dengan sendirinya. Meski partai tempatnya bernaung urung menampilkan namanya sebagai salah satu kandidat capres.

Tanggal 20 Oktober 2009, Undang Undang Penistaan Agama diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) guna diuji konstitusionalitasnya. Salah satu argumen dari pihak yang ingin menghapus/menolak UU Penodaan Agama adalah ketentuannya yang dinilai sangat tidak jelas dan ambigu.

Tidak  jelas/ambigu yang  bisa diistilahkan dengan “Pasal Karet”.

Gambar : farrukhsaif.com
Gambar : farrukhsaif.com

Indonesia, Punya Siapa?

Pernyataan bahwa Undang Undang Penistaan agama bisa melindungi tiap umat untuk menjalankan ibadah masing-masing mungkin cukup tepat. Tapi bagaimana jika dalam “menjalankan ibadah” ini ternyata berbenturan dengan UUD negara kita?

Soal pemilihan pemimpin misalnya. Kembali ke kasus AM Saefuddin, ada pemuka agama Islam yang  mengatakan bahwa ajaran Islam melarang pemimpin non muslim. Mengundang pertanyaan lanjutan, “Tidak bisakah umat selain Islam menjadi pemimpin di Indonesia?”

Secara khusus di kasus 1998, “Tidak bolehkah umat Hindu dipilih sebagai pemimpin?”

Pernyataan Ahok di Pulau Seribu,

” … ini pemilihan kan dimajuin, jadi kalo saya tidak terpilih pun bapak ibu, saya berhentinya oktober 2017. jadi kalo program ini kita jalankan dengan baik pun, bapak ibu masih sempat panen sama saya. sekalipun saya tidak terpilih jadi gubernur. jadi saya ingin ceritanya bapak ibu semangat. jadi gak usah pikiran, ah, nanti kalo gak kepilih, pasti, Ahok programnya bubar. gak, saya sampai oktober 2017.

jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho. itu hak bapak ibu. ya. jadi kalo bapak ibu, perasaan, gak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak papa. karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu. program ini jalan saja. ya jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak, dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok. gak suka ama Ahok. tapi programnya, gue kalo terima, gue gak enak dong ama dia, gue utang budi. jangan.”

Terlepas dari apakah Ahok telah salah atau tidak dengan membuat pernyataan di atas (yang berwarna merah), kita tidak boleh melepaskan satu hal. Bahwa pernyataan ini adalah reaksinya dari “serangan larangan memimpin muslim” yang beredar luas di masyarakat.

Misalnya, suami saya menerima pesan berantai yang isi beritanya menjelaskan tentang adanya keinginan kaum Kristen tanah air untuk menghancurkan Islam dsb dsb (yang tentu saja hoax) dengan diakhiri anjuran jangan memilih pemimpin yang beragama Kristen disertai Al Maidah ayat 51.

Reaksi Ahok menurut saya jelas. Yang ditujunya adalah “orang tertentu” (lihat warna biru) yang menggunakan ayat ini dalam pesan-pesan yang berisi kebohongan untuk kepentingan politik jelang Pilkada 2017. Tapi tetap saja, ucapannya dalam kapasitasnya sebagai pejabat publik jelas tidak sesuai etiket.

Ada alibi bahwa pernyataan “non muslim tidak boleh menjadi pemimpin” vs “umat muslim tidak boleh memilih pemimpin non muslim” adalah 2  hal yang berbeda. Faktanya, kaum muslim adalah kalangan mayoritas di tanah air. Menyimpulkan bahwa kedua hal ini tidak berhubungan sepertinya janggal.

Bisakah pemerintah menjembatani hal ini?

Berbeda dengan AM Saefuddin yang masih dalam “tahap penjajakan” menuju Pilpres 1999, Ahok sebagai petahana memiliki elektabilitas cukup tinggi menuju Pilkada 2017. Apakah  mungkin kita menutup mata menganggap demo-demo masif atas nama penodaan agama ini sama sekali bebas dari kepentingan politik?

undang undang penistaan agama
Gambar : temanahok.com

Perbandingan dengan Kasus Lain

Banyak yang menjadikan contoh kasus lain sebagai perbandingan. Misalnya seorang Ibu di Bali yang kasusnya sudah sampai ke status terpidana.

Kasus bermula saat Rusgiani lewat di depan rumah Ni Ketut Surati di Gang Tresna Asih, Jalan Puri Gadung II, Jimbaran, Badung, pada 25 Agustus 2012. Saat melintas, dia menyatakan canang di depan rumah Ni Ketut najis. Canang adalah tempat sesaji untuk upacara agama Hindu.

“Tuhan tidak bisa datang ke rumah ini karena canang itu jijik dan kotor,” kata Rusgiani seperti tertulis dalam putusan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), 31 Oktober 2013.

Menurut Rusgiani, dia menyampaikan hal itu karena menurut keyakinannya yaitu agama Kristen, Tuhan tidak butuh persembahan. Rusgiani mengaku mengeluarkan pernyataan itu spontan dan disampaikan di hadapan tiga orang temannya.

Perhatikan pernyataannya. Sama sekali tidak bersayap. Menyebutkan dengan jelas obyek agama yang dituju/dihina sehingga bisa dijerat dengan Undang Undang Penistaan Agama.

Majority Privilege?

Membandingkan kasus AM Saefuddin di tahun 1998 jelang Pilpres 1999 VS kasus Ahok di tahun 2016 jelang Pilkada DKI 2017, bagaimana keduanya berlangsung dan berakhir?

Kalau dari segi pelaporan, desakan, demo yang melibatkan massa, keduanya sekilas tidak berbeda. Tapi respons pemerintah sangat berbeda. Perbedaan antara desakan yang terjadi dari umat Hindu 1998 vs umat Islam 2016 terlihat jelas dari SEGI KUANTITAS.

Jumlah pendemo Ahok jauh lebih besar dan terpusat di ibukota. Apakah hal ini yang membuat jajaran pemerintah, dalam hal ini Kapolri, melabrak Aturan Telegram Rahasia dalam Kasus Ahok?

Atau, apakah pemerintah sekarang tidak setegas pemerintahan Habibie dalam hal ini? Serta memilih untuk mengakomodir keinginan para penuntut dengan mengorbankan hukum? Ataukah karena penuntut berasal dari kalangan mayoritas sekaligus yang dituntut kebetulan adalah bagian dari masyarakat minoritas?

Semoga pemerintah tidak mengambil “jalan tengah” demi kestabilan politik semata. Karena sekali kita mengorbankan legitimasi hukum atas nama “persatuan bangsa dan negara”, siapa yang menjamin “mereka” atau kelompok lain tidak akan memanfaatkannya untuk tujuan yang lebih besar. Misalnya, menjatuhkan pemerintahan yang sah di tanah air?

Sedikit renungan menjelang sidang perdana Ahok minggu depan.

***