Sate Padang

Cara Membuat Sate Padang Daging Sapi

Konon, bumbu sate padang tuh banyaaaaak dan ribet. Buat saya sih, enggak masalah bumbunya banyak asalkan ADA hihihi. Maklum yes, tinggal di rantau, enggak pengaruh sedikit banyaknya bumbu. Concernnya bukan ituuuuu.

Cara Membuat Sate Padang

Misalnya nih untuk membuat Ayam Woku kan bumbunya juga tidak aneh-aneh dan enggak banyak-banyak amat. Tapiiiiiiii mau beli daun kemangi di manaaaaaaaa hahaha. Akhirnya beberapa kali bikin Ayam Woku ya enggak pakai kemangi :D. Belakangan baru tahu kalau daun kemangi bisa diganti dengan daun basil ;).

Back to cara membuat sate padang.

Saya menggunakan daging sapi. Belum pernah nemu penjual lidah sapi di Ireland. Tapi di TExas ada lhoooo. Tapi harganya gak nahan hahaha. Biarin ah, pakai daging sapi ajah :D. Enak juga.

Pas nyari-nyari resepnya, saya perhatikan cara pembuatannya ternyata enggak seheboh yang dibayangkan. Cuma cemplung-cemplung saja. Jadi semangat pengin nyoba.

Tapi resep klasik seperti Sate Padang ini memang butuh waktu lebih untuk bertapa nyari resep yang benar hehehe. Sekarang banyak situs-situs resep boongan euy :(. Pemilik situs-situs model begini suka kreatif gak jelas. Emang niatnya copas doang. Biar beda mereka suka iseng ngilangin 1-2 bumbu. Piye tooooohhh -_-.

Untung deh ketemu banyak situs-situs resep orisinil macam punya Mbak Hesti, Mbak Ita, Mbak Nina, dll. Ini tiga-tiganya alumni NCC deh :D. Salim dulu buat semua masterchef yang disebutin hehehe.

Akhirnya coba-coba campur bumbu dan ketemu deh racikan yang pas. Setidaknya sudah oke menurut lidah suami yang memang asli urang awak :D.

Ternyata Sate Padang tidak seragam juga bumbunya dari tanah asalnya. Kata suami saya, ada yang kuahnya kuning pucat ada yang rada oranye. Iya sih, kalau beli di Ajo Ramon kuahnya lebih pekat. Padahal kalau jajan di pinggir jalan, ada juga yang kuahnya lebih bening.

Katanya sih kalau yang dari Bukittinggi kuahnya yang kuning pucat itu. Kalau dari Pariaman kuahnya oranye pekat. Ooo pantes, sih. Sebutan Ajo itu memang umum dikenal di daerah Pariaman. Ajo = Abang = Uda :D. CMIIW, ya.

Saya agak ragu nih dengan info suami hahaha. Maklum dese walau darah Bukittinggi 100% dari kedua orang tua, tapi lahir dan besar di Pulau Jawa. Takut enggak akurat infonya :p.

Anyway, belom sempat bikinin video live ala Dapur Davincka :D. Padahal udah pernah bikin beberapa kali. Biar deh, resepnya dulu aja yaaaaaa ^_^

Cara Membuat Sate Padang

Bahan  :
  • 1 kg daging sapi, cuci bersih, potong-potong sesuai ukuran yang diinginkan.
  • Air untuk merebus
  • 8 lembar daun jeruk
  • 3 batang sereh, keprek
  • 2-3 lembar daun kunyit (saya beberapa kali skip nih, enggak ada soalnya di sini, mungkin ada tapi belum nemu hehe)
  • 3 cm lengkuas, digeprek
  • 2 potong asam kandis (saya ganti dengan 1 sdt asam jawa)
  • Minyak goreng untuk menumis
  • Taburan bawang goreng
Untuk mengentalkan kuah :
  • 2 sdm tepung beras
  • 2 sdm tepung sagu/tapioka

Bumbu Halus :

  • 5 buah cabe merah besar (atau pakai cabe merah keriting juga bisa, banyaknya disesuaikan saja ya)
  • 8 butir kemiri sangrai
  • 20 buah bawang merah
  • 12 siung bawang putih
  • 4 ruas jari jahe
  • 1 sdt kunyit bubuk
  • 1.5 sdt ketumbar bubuk
  • 2 sdm bumbu kari instan
  • Garam + gula secukupnya

Cara Membuat :

  • Tumis bumbu halus sampai wangi.
  • Masukkan kunyit (atau daun kunyit), daun jeruk, sereh dan lengkuas. Aduk rata.
  • Panaskan air dalam panci (kira-kira satu liter atau lebih) beserta daging sapi yang sudah dipotong-potong.
  • Tidak perlu tunggu mendidih, masukkan tumisan bumbu + rempah tadi ke dalam panci berisi daging sapi. Masukkan pula asam kandis (atau asam jawa) dan bumbu kari instan ke dalam panci.
  • Rebus hingga daging matang dan bumbu meresap. Jangan sampai kuahnya habis. Karena kuah daging ini yang nanti bakal jadi kuah satenya.
  • Kalau daging sudah matang, angkat dan sisihkan. Tusukkan ke tusuk sate.
  • Kuah sisa rebusan daging dididihkan lagi.
  • Tepung beras dan tepung tapioka dicampur dalam mangkok kecil dan diencerkan degan sedikit air putih. Aduk sampai benar-benar larut.
  • Masukkan campuran tepung ke dalam panci kuah sisa rebusan daging tadi.
  • Aduk sampai rata dan mengental.
  • Masukkan bawang goreng. Aduk lagi. Kalau terlalu kental tambahkan air panas. Jangan lupa koreksi rasa. Setelah dirasa cukup, kuah siap dihidangkan ^_^.
  • Daging sapinya dioles-oles dengan minyak sayur lalu panggang dalam oven atau pemanggang sate (kalau ada). Panggang secukupnya saja ya. Toh daging sebenarnya sudah matang.
  • Sajikan sate padang dengan siraman kuah saosnya plus dinikmati dengan lontong dan tentunya taburan bawang goreng.

 

Jangan gentar dengan banyaknya bumbu yang digunakan. Cara membuatnya enggak susah kaaaaan ^_^. Yang jelas ini favorit suami dan anak-anak banget. Suami saya itu tidak segan-segan mengkritik masakan saya kalau kurang enak kok hahahaha. Tapi yang sate padang ini, dia lumayan suka hasilnya.

Saya sendiri bukan penggemar sate padang awalnya. Waktu masih tinggal di Makassar terus liburan ke Jakarta ke tempat sepupu. Ditawarin sate padang, saya kaget. Soalnya definisi sate yang saya tahu ya sate ayam khas Madura yang pakai kuah kacang manis kental gitu hihihi.

Hampir muntah pas makan sate padang cobak waktu itu hahaha. Keterusan enggak sukanya. Anti banget sama sate padang.

Sampai akhirnya hamil anak pertama dan ngidamnya apa cobaaaaaa …. ya Sate Padang! Hahaha. Suami saya seneng banget. Dia fans garis keras sate padang. Jadi deh, kalau weekend kita kencannya di Sate Padang pinggir jalan :p.

Nah ini anak sulung saya memang suka banget masakan-masakan tradsional Indonesia. Makin pedas makin doyan dia. Makin banyak bumbu dia makin semangat makannya. Titisan bapaknya hehehe. Uniknya anak ke-2 saya enggak suka yang pedas-pedas tapi kalau sate padang, dia mau lho! ;).

Son(Shine)

“The moment the child is born, the mother is also born.”

Untuk anak pertama memang rasanya super banget, ya. Pantas saja dulu saya lihat-lihat di foto album jadul, foto kakak sulung saya banyak bangeeeeeeetttt .

 

Yang tengkurap lah, yang lagi nangis lah, yang lagi berdiri dengan berbagai pose, naik odong-odong, sedang dipangku, nyender sana nyender sini. Enggak ada yang sebanyak dia fotonya.

Berhubung saya anak perempuan pertama, secara kuantitas foto-foto saya bolehlah mendapat peringkat ke-2 hihihi. Lima kali sebelumnya Mama melahirkan, keluarnya daeng-daeng semua. Eeeeh, lanjut ke saya jadinya .

Tiga anak saya, buyuang kabeh!

Entah sadar entah tidak di anak pertama memang para mamah ALL OUT bangeeeeet . Contoh terkini ya emaknya si Baby Kawa. Sejak Baby Kawa lahir, semua milestone Baby Kawa yang diposting oleh si mamah sering bikin uring-uringan jagad Instagram!

Padahal sih kasus-kasusnya ya muter-muter di situ saja. Betapa bangganya si Mama ngasih ASI ekslusif. Terus tetap yoga jadi langsung langsing dan show ke mana-mana lagi. Makin bikin mamak-mamak lain murka dah hahaha.

Cara gendongnya yang menurut orang lebay. Terus caption-captionnya yang dianggap sok-sok an. Terus lanjut ke pertarungan antara Baby Led Weaning vs cara makan pake disuapin dan dijatahin. Dan seterusnya dan seterusnya.

Selain euforia anak pertama, sebagai salah satu selebgram, si mamah kan cuma nyari duit aja. Terbukti gencarnya postingan ala-ala endorsement di produk-produk bayi ini itu .

Jadi yaaaaa, take it easy ya, Moms .

Anak pertama, pengalaman pertama . Serba heboh. Baru lahir saja fotonya sudah bikin memori hape FULL hahaha. Buka mata dikit, foto lagiiiiii. Ganti diaper pertama, direkam kalau perlu! .

Lalu menginjak sebulan pertama. Dua bulan, tiga bulan, makan pertama, merangkak pertama, pokoknya serba yang pertama. Bukan hanya buat si anak. Tapi juga buat mamahnya .

Enggak heran, kalau kita lebih grogi. Belum ada bayangan juga. Jadi gampang galau. Dikomenin dikit baper. Naluri berkompetisi juga lagi tinggi-tingginya jadi yah semacam, “Pokoknya anak gue paling keren. APA LO SEMUA!” ???

Mungkin kita semua memang harus melewati fase-fase yang membuat kita terlihat sangat menjengkelkan ini . Wajar ya .

Terus datang anak kedua. Pelan-pelan ketegangan kita mengendor. Karena sering terpikir, “Ah dulu kakaknya juga gitu. Sudahlah, nanti dia juga bisa sendiri.”

Apalagi anak ketiga, yes? Tahu-tahu sudah nyengir sendiri, tiba-tiba sudah jalan dan berlari (padahal kapan ngajarinnya ya? hahaha).

Mungkin di anak ketiga inilah, kebanyakan dari kita sudah mulai menyadari, “There’s no way to be a perfect mother, but a million ways to be a good one” .

Tuuuuh, yang anaknya baru 2, jangan mau kalah sama Princess Kate dan Princess Jihan #eh ???

Walau kelihatannya sudah tidak se”beringas” yang sebelum-sebelumnya, tapi sayangnya mah tetap mengalir penuh 100% buat semua anak-anak dong ya . Sama derasnya sama banyaknya .

ucapan ulang tahun anak
#boy3

 

Anak pertama, anak kedua, maupun anak ketiga, kalau lagi bobok iiiiiihhh minta diciyum banget deh mukanya .

Dear #boy3, mungkin Mama sudah tidak semangat bikin foto-foto kehamilan seruwet abang-abangmu dulu #eaaaa. Foto-fotonya juga minim. Folder hape Mama sekarang isinya video resep semua hahahaha.

Tuuuh, ngucapin ultah “resmi”nya aja bisa telat seminggu hahahaha.

But just like the other two, you’ll always be the one who stole my heart since the day I screamed and bursted into tears at the same time, seeing those 2 lines on the testpack . Cengeng kalilah mamakmu ini, Nak .

And saving more tears for the day you graduate, the moment you leave the house or the by the time you’re sitting in front of me and saying, “You know Mom. I met this girl. And I thought that I…” Oh nooo, bayanginnya saja sudah mewek .

Alhamdulillah ya, next time kita dikasih kesempatan naik pesawat lagi, kamu sudah punya tempat duduk sendiri #asyikBisaNgorokDenganTenang .

Happy belated birthday, Sayang . Doa-doa terbaik untukmu selalu *ciyum*.

ucapan ulang tahun anak

Cara mengecilkan lengan di rumah

Cara Mengecilkan Lengan Tanpa Barbel, Cukup dengan Gerakan Simpel Sehari-hari di Rumah

Cara mengecilkan lengan termasuk topik favorit mamak-mamak sejagad raya selain ribet mikirin gimana ngecilin paha, yes? Hahaha.

Dulu waktu masih gadis -ecieeeee masih gadis :p-, saya sempat mengalami kenaikan berat badan signifikan pas baru mulai kerja. Standarlah, dari yang setengah mati berusaha nyocok-nyocokin secuil uang bulanan vs pengeluaran, tetiba bergaji juta-juta :D.

Pelarian pertama ya ke … MAKANAN! Hahaha.

Nah, dulu ngotot tuh pengin ngecilin lengan biar bisa pakai kardigan ke kantor. Di mana kardigan yang hits pasti lengannya yang pas-pasan gitu, kan? Kalau lengannya gede, udah kayak tukang pukul dah, zzzz -_-.

Pikiran pertama saya ya pakai barbel. Beli yang ringan-ringan saja. Dulu punya yang 2 kg. Beli yang pink biar imut hihihi. Saya pakai tiap hari. Tiap pagi, sebelum ke kantor, dan pas abis mandi sepulang kantor. Benar-benar disiplin tiap hari. Hasilnya memang wokeeehh.

 

Jangan lupa juga subscribe ke youtube channel saya di sini, yak ^_^.

Lanjut ke topik tulisan ….

Terus pas pindah-pindah ke luar negeri juga jadi rajin beli barbel. Lama-lama kok ribet yaaaa. Apalagi pas punya anak kecil. Saya serampangan naro barbel gitu-gitu doang. Abis kalau ditaruh terlalu rapi nanti jadi alasan malas olahraga karena barbelnya entah taro di mana hahahaha.

Dari situ mulai serius ngikutin youtuber-youtuber “nge gym”. Istilah apa pula ini hahaha.

Maksudnya nonton video di youtube terus kita ikutin jadi berasa sambil nge-gym gitu lho ^_^. Channel “Blogilates” sendiri sih sudah kenal sejak di Jeddah :D. Dulu Blogilates (Cassey Ho) masih fokus banget sama pilates. Belakangan dia mulai bikin-bikin video singkat sekitar 5 menit an gitu.

Cara mengecilkan lengan
Cassey Ho (gambar : plungedindebt.com)

Dari video-video singkat ini dia memperkenalkan latihan-latihan rutin nan ringan yang fokus ke bagian tubuh tertentu. Mungkin sudah dari dulu ya. Cuma saya baru ngeh ya 2-3 tahun terakhir ini :D.

Macam-macam videonya. Termasuk cara mengecilkan lengan yang juga ada beberapa video. Gerakan-gerakannya sih ada yang mirip overall tiap video gerakannya bisa beda-beda juga.

Ini yang pertama saya praktikkan pasca melahirkan si anak bontot 2 tahun silam.

Kelihatannya sih ringan, ya. Saya ragu kok gini-gini doang. Begitu ngikutin, yassalam, pegel abissssss hahahaha.

Waktu itu saking desperatenya sama badan yang makin menggumpal pasca lahiran (hiks), saya lakukan 3x sehari. Eike rese emang anaknya soal berat badan :p.

Gerakan buat ngecilin lengan bisa dihafalin saja. Jadi enggak terus-terusan harus sambil nonton. Kan repot juga kudu nyalain laptop terus. Pakai hape juga bisa sih. Tapi biasanya saya lakukan di kamar mandi sebelum mandi. Atau pas sebelum tidur. Kan rempong kalau harus hape-an toh ya ;).

Gerakannya simpel-simpel aja kok. Kalian tonton sendiri videonya terus ingat-ingat gerakannya. Lakukan rutin tiap hari ;). Mungkin kita enggak bisa benar-benar 5 menit. 3 menit pun oke lah, tapi kayak saya tadi, awalnya bisa 3x sehari. Enggak kerasa.

Tapi hasilnya oke banget :D. Mungkin kelihatan hasilnya minimal rutin dilakukan selama SEBULAN. Intinya memang kontinuitas BUKAN durasi hariannya. Percuma juga olahraga satu jam non stop kalau dilakukannya cuma sebulan sekali.

Video untuk cara mengecilkan lainnya ala si Blogilates ini :

Video yang ini gerakannya lebih advanced dikit. Karena dilakukan sambil melantai. Enggak bisa kalau di kamar mandi ini mah hihihihi.

Kalau awal-awal enggak bisa ngikutin full, santai ajaaaaaaa ^_^. Yang penting lakukan semampunya. Besoknya coba lagi, besoknya coba terus. Lama-lama jadi terbiasa ngikutin “gila”nya si Cassey Ho ini :p.

Jangan lupa squatnya juga dong ya *pijetinPaha* :D.

Yang paling penting juga, jaga POLA MAKAN. Which is ini masalah terberat saya sekarang ini huhuhuhu. Agak-agak loose nih pola makan sekarang :(. Berat badan juga agak melonjak. Tapi jangan sampai benar-benar putus asa. Walau masih keteteran mengembalikan pola makan ke “jalan yang benar”, olahraga rutin tetap saya lakukan tiap hari.

Termasuk gerakan-gerakan simpel cara mengecilkan lengan ini ;). Gerakannya beneran simpel kan? Hafalinnya kacang banget lah. Praktiknya yang butuh kedisiplinan.

Do it for yourself ya, Girls! ;). Bukan karena tidak bersyukur dengan bentuk tubuh. Bukan biar kelihatan keren gimana-gimana. Bukan untuk selfie-selfie dengan bentuk bodi yang baru nanti. But simply do it for YOU. Because you want it. Because you want to be healthy ^_^.

Selamat mencobaaaaaa ;).

Ini versi gambarnya untuk gerakan-gerakan simpel sehari-hari cara mengecilkan lengan tadi. Bisa dilakukan sendiri di rumah tanpa alat apa pun :

Cara mengecilkan lengan di rumah
Gambar : blogilates.com

Kalau yang gambar selanjutnya di bawah ini, gerakannya lebih “advanced” kudu nungging-nungging segala ya boooo hihihihi. Boleh dijajal juga buat variasi. Pasti bosan kalau gerakannya itu-itu terus setiap hari. Tuh, rutinitas ini HARUS DILAKUAN TIAP HARI untuk hasil yang paling optimal ;).

Cara mengecilkan lengan
Gambar : blogilates.com

Keep Calm and Continue Writing :)

Buku pertama saya dulu terbit secara indie. Sumpah mampus enggak lagi-lagi dah terbit indie hahaha.

Saat saya bersorak terharu ketika akhirnya bukunya terbit juga (jangan ditanya dramanya hahaha), sesungguhnya perjuangan sebenarnya telah menanti … MENJUAL BUKUNYA!

 

Menawarkan bukunya sendiri lumayan menyita waktu. Semua grup dan semua forum, waktu itu juga masih era milis-milis, digempur semua. Besoknya dicek lagi satu-satu. Mana tahu ada yang nyangkut.

Sampai pegel leher menulis dan mengedit data di Excel. Anak kedua saya umurnya baru setahun lebih. Lah terus kapan nulisnya? *nangis*.

Tantangan terberat itu sebenarnya di masalah ongkir, ya. Pernah ada teman di Kalimantan pengiiiiin banget baca bukunya. Saya jujur saja, ongkirnya terlalu mahal. Tapi dia pengin banget. Yo wis, saya gratiskan ongkirnya.

Ya abis kasihan, ya. Toh dia udah baik banget mau beli bukunya.

Royalti saat terbit indie memang sangat menggoda. Bisa lebih dari 50%. Tapi mencret mikirin ongkir dan siang malam berjuang nyari pembeli *pasangKoyo*.

Bentang alam negara kita memang sangat menantang untuk urusan distribusi barang . Ituuuu yang nyinyir soal infrastruktur transportasi, mana suaranyaaaaaa .

Bodohnya saya tidak terpikir hal ini dari awal. Dasar sanguinis parah hahaha. Padahal saya pernah bekerja sebagai Business Analyst di salah satu consumer goods nan hits di tanah air. Saya pegang area Supply Chain-Distribusi.

Sudah pengalaman dengan curhat-curhatan divisi Transportasi, rekan-rekan di warehouse dan betapa serunya eyel-eyelan tim sales vs tim distribusi kalau sudah berantem soal pengiriman barang ke luar Pulau Jawa .

Masih ingat dulu saya kesal kalau beli majalah, kok ya sampai ada label harga P. Jawa dan harga non P.Jawa. Rasis amat yak hihihihi .

Maklum Sis, dulu beli majalah juga nabungnya bisa lamaaaaa. Dulu-dulu kan kita pernah muda juga, dimana mimpi-mimpi kita tidak jauh-jauh dari poto model atau bintang pilem, yes? Hahaha. Makanya kudu bener tuh beli-beli majalah sambil mengkhayal punya duit banyak dari hasil pemotretan.

Eh sekarang punya suami doyan motret pun, yang dipotret malah anak-anak mulu. Ya nasib ya nasib #bantingPensilAlis.

Buku kedua saya akhirnya terbit via Penerbit Mayor. Main kirim saja. Alhamdulillah berjodoh. Enggak pakai lama langsung approve.

Mungkin karena sudah merasakan “nikmat”nya terbit Indie, saya sama sekali enggak mikirin royalti lagi. Naskah diterima saja rasanya sudah terbang.

Seharusnya, sebagai penulis, fungsi marketing tetap harus dilakukan, yaaaaa. Saya akui, saya sangat lalai dalam hal ini hihihi *ciyumTanganEditor*.

Barusan membaca artikel Tirto tentang kecenderungan penerbit yang sekarang bekerja sama dengan penulis-penulis yang punya penggemar/follower di media-media sosial. Ya gimana ya, wajar-wajar saja rasanya.

Logikanya, kalau dese banyak fans, harapannya nanti banyak yang beli bukunya. Buku, sebagus apa pun isinya, kalau tidak ada yang beli ya matilah kita semua hahaha.

Penerbit itu kan juga perusahaan yang tujuan utamanya adalah laba/keuntungan. Penerbit kan juga terdiri dari banyak divisi dan karyawan.

Lah terus kalau penulis berkualitas gak suka medsos-an, piyeeee?

Waduh iya ya, saya juga bingung jawabnya hahahaha.

Gambar : techgirl.co.za (kukunya cantik banget, so pasti bukan kuku gue! Hahaha)

 

Karena jujur saja, sebelum ada medsos pun kecenderungan orang untuk BELI BUKU ya tidak dahsyat-dahsyat amat. Nih ya, saya punya pengalaman juga jualan tas brand tertentu dari luar negeri pas lagi mudik.

Ampun ya Bu Sri *ciyumTanganLagi*. Ini dulu lho Buuuuuuu, mohon jangan ditagih pajaknya , sekarang saya sudah kapok.

Saya sudah siapin mental nih, kalau harus angkat bambu runcing lagi mengingat pengalaman jualan buku hahaha. Tapi berhubung kalau jualan tas keuntungannya menggiurkan, ya kenapa tidak dicoba?

Aih gilak, belum juga seminggu bergerilya iseng nawarin ke orang-orang terdekat saja sudah harus setop PO saking banyaknya yang tertarik . Sampai harus cancel beberapa PO lebih karena kopernya tidak muat lagi hahahaha.

Jangan nyinyir yaaaaa. Terimalah kenyataan itu apa adanya . Orang-orang emang lebih suka beli barang-barang lain selain buku. Buku belum menjadi kebutuhan utama.

Apalagi sekaraaaaaang. Sudah banyak wadah lain untuk membaca apalagi e-book gratisan kualitas oke sudah bisa didownload SECARA LEGAL di banyak tempat .

As for me, menulis memang bukan penghasilan utama. Hasilnya tidak seberapa sementara waktu lumayan terkuras. Anak udah 3 nih sekarang *benerinOtot*. Merantau di luar tanpa tangan ketiga.

Gambar : va-mom.com

Suami cari-cari cara biar kegiatan menulis ini tetap ada hasilnya secara materi meskipun cuma receh. Karena biar berkelanjutan harus ada timbal baliknya kan, ya. Jaminan sustainability terbaik ya kayaknya mah duit yak hahahaha.

Dulu rajin kirim-kirim ke majalah. Kalau dihitung lumayan itu karena saya fokus ke tulisan traveling.

Tulisan traveling honornya bisa sampai jutaan kalau di majalah-majalah bagus asalkan foto-fotonya keren. Saya menulis, suami motret. Ealah, sekarang media cetak sedang mengalami kemunduran .

Total tulisan yang pernah dimuat di media cetak itu ada puluhan tulisan. Sesekali bikin fiksi. Tapi sekarang bikin fiksi saya sukar berkonsentrasi. Karena dari pagi sampai malam diburu-buru sama wajan, diaper, cucian kering, lantai kotor, peer anak-anak, dan seterusnya dan seterusnya.

Saya sudah tidak terpikir menerbitkan buku lagi. Karena rasanya tidak sebanding dengan waktu yang dikorbankan .

Terus kita juga coba adsense di blog. Saya terus-terusan belajar SEO. Cobain vlog juga akhir-akhir ini. Karena suami saya senang banget traveling. Dia ngumpulin video segitu banyak tapi gak punya waktu buat mengedit. Sayang kan?

Tapi saya tetap rutin menulis di blog .

Memang zamannya sudah berubah banget, ya. Jangan putus asa buat teman-teman penulis. Sekarang situs-situs banyak yang butuh content writer dengan honor yang tidak kecil.

Beberapa situs besar juga menerima tulisan dari penulis lepas dengan upah yang lumayan banget. Malah ada situs yang menerima naskah novel, lho. Cobak itu digoogling .

Jadi ghost writer juga bisa. Penulis cerita hantu gitu? Hahaha. Googling sana! .

Menulis-menulis di akun medsos masing-masing juga oke sajalah, why not? . Cuma memang agak challenging kalau mau dikonversi ke rupiah, ya, hehehe.

Yah intinya saya juga tidak tahu sih harus menghibur apaan hahahaha. Basi juga kalau mau bilang yang penting amalnya, yang penting pesannya nyampe bla bla bla. Karena namanya manusia biasa ya, masa iya bisa terus-terusan berpikir bak malaikat model begitu? .

Apalagi kalau yang menjadikan profesi ini sebagai sumber penghasilan utama. Memang pintar-pintarnya kita menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Apa pun kegelisahan itu, jadi ingat quote kakak sulung saya di buku skripsinya, “Janganlah kamu berputus asa. Kalau pun berputus asa, berusahalah dalam keputusasaan itu.”

.

Ayam Panggang Bumbu Rujak

Cara Membuat Ayam Panggang Bumbu Rujak

Membuat Ayam Panggang Bumbu Rujak ini harusnya sih enggak susah. Cuma ayam diungkep bumbu sampai matang terus dibakar. Selain Ayam Panggang Bumbu Rujak ada satu lagi tuh si Ayam Bumbu Bali. Kok ya bumbunya hampir mirip ya? Saya gak paham deh hahaha :p.

 

Setelah diungkep dengan bumbu sebenarnya bisa langsung dimakan. Enak juga. Soalnya bumbunya sudah meresap cuma agak basah saja.

Yang mau langsung lihat video cara membuat Ayam Panggang Bumbu Rujak ini bisa langsung cusssss. Bikin videonya udah kapan tauk, postingannya baru muncul sekarang :p.

 

Ketahuan ih rajin masaknya karena ngejar bikin video :D. Gak papa lah. Efeknya tetap positif kan? Kalau jadi rajin nyolong nah itu baru enggak bener hahahaha :p.

Lihat resepnya pertama kali dari Dapurnya Mbak Herty. Btw Mbak Herty sekarang ke mana ya. Ini beda lagi dengan Mbak Hesti :D. Kalau intip-intip blog dapurnya Mbak Hesti saya juga sering sih ^_^. Dua-duanya jagoan deh pokoknya ;).

Bikin pertama kali menu ini sejak masih di Jeddah dulu. Sebenarnya waktu di Jeddah sudah beberapa kali serius masak-masak juga. Tapi ya enggak se-intensif pas lagi di Ireland. Tahu sendiri dong ya, tinggal di Jeddah, urusan makanan yahuuuyy banget dah.

Cara Membuat Ayam Panggang Bumbu Rujak

  • 1 ekor ayam, potong 8-12 bagian. Cuci bersih.
  • 1 buah bawang bombay cincang (atau 8 siung bawang merah cincang)
  • 4 siung bawang putih cincang
  • 1 batang sereh, potong dan geprek
  • 2 lembar daun salam
  • 4 lembar daun jeruk
  • 1 ruas lengkuas/laos iris halus atau digeprek juga bisa
  • 1 sdt asam jawa, encerkan dengan 3-4 sdm air matang
  • 300 ml santan kental
  • 1 sdt garam atau kurang lebihnya sesuai selera.
  • Bumbu dihaluskan :
  • 5-6 cabe merah besar
  • 5 butir kemiri
  • 2 cm jahe
  • 2 cm kunyit
  • 1/2 sdt terasi
  • 1 sdm gula merah

 

Cara Membuat :

  • Lumuri ayam dengan jeruk nipis. Sisihkan.
  • Tumis bawang bombay sampai wangi.
  • Masukkan bawang putih, aduk sebentar.
  • Masukkan bumbu halus + sereh, daun salam, laos, daun jeruk. Aduk sampai rata.
  • Tambahkan garam, aduk sebentar.
  • Cuci ayam dari lumuran jeruk nipis. Lalu masukkan potongan ayam ke dalam tumisan bumbu. Aduk sampai bumbu merata, didihkan sampai ayam berubah warna.
  • Masukkan santan kental.
  • Didihkan ayam + bumbu sampai air menyusut dan bumbu meresap ke dalam daging ayam.
  • Panggang/bakar ayam di atas skillet/panggangan/panci teflon sampai kecoklatan sambil oles-oles sisa bumbu.
  • HIdangkan ayam dengan sisa bumbunya. Boleh dipisah atau boleh dicampur.

 

Semenjak aktif bikin video masak, jadi jarang foto-foto lagi. Ini comot dari videonya aja yak hehe :

Ayam Panggang Bumbu Rujak
Screen capture dari video youtubenya ajah 😀

 

Nah, kalau di resepnya Mbak Herty, sementara ayam didihkan dengan bumbu, boleh tuh masukkan beberapa telur rebus (dikupas kulitnya) ke dalam bumbu. Bumbunya agak dibanyakin biar kebagian juga untuk telur-telurnya.  Sekali masak bisa dapat ayam panggang bumbu rujak sekalian sama telur bumbu rujak :D.

Masakan beginian mudah-mudahan jarang ada gagalnya ya. Bumbu-bumbunya juga standar bumbu masak khas  nusantara banget. Kalau di Indonesia sangat mudah ditemukan. Tapi di luar negeri, di beberapa negara, rempah-rempah khas Indonesia juga enggak susah nyarinya ;).

Udah ah. Bingung mau ngerumpi apaan kalau di postingan sharing resep hehehe. Gak ada tips and trik macem-macem untuk resep ini. Pokoknya cobain bikin deh di dapur masing-masing. Tingkat kegagalannya sangat rendah ^_^.