Inside Out : How a Child Deals With The Emotion(s)

Ini anak bungsu saya, he turned 3 this year.

review film inside out

Itu kenapa ngambek? Karena kami memintanya untuk berfoto tanpa nyengir untuk keperluan pasfoto.

He was my-selfie-buddy since he was born . Kalau difoto, oleh emaknya dia sudah terbiasa diajarin ekspresif dengan cengiran super gantengnya itu lhoooooo hihihihi.

Makanya dia sangat kesal mengapa dia tidak boleh tersenyum sedikit saja.

Sebagai balasannya, dia pasang tampang manyun begitu hahaha.

Ya tapi anak-anak sih gitu, dipeluk sedikit, dibecandai sebentar, dia sudah lupa dan langsung ceria lagi.

Sudah terpikir mau menulis soal ini waktu seorang teman posting soal buku cerita anak-anak yang menurutnya enggak apa-apa ada cerita sedihnya. Anak-anak juga perlu merasa sedih.

Yang langsung saya ingat adalah film INSIDE OUT, salah satu film animasi terbaik menurut saya.

Film Inside Out tidak asal bikin. Film ini berdasarkan teori dan pengamatan oleh pakar psikologi yang menjadi bagian dari tim produksi.

[Spoiler alert !!!]

review film inside out
Gambar : imdb.com

 

Sebenarnya, ada 6 emosi yang dikenali secara universal pada tiap manusia : Happiness, Sadness, Anger, Fear, Disgust, dan Surprise. Tapi Suprise tidak muncul di film INSIDE OUT.

Film ini bercerita tentang Riley, anak perempuan usia 11 tahun yang “struggle” saat harus berpindah tempat tinggal. Meninggalkan teman-teman dan segala macam di tempat yang lama, buat yang gede-gede kayak kita saja bisa baper yes? Apalagi anak-anak.

Yang suaminya suka gatel pindah kerja sana sini mana suaranyaaaaaaa .

Tapi fokus film justru bukan pada Riley. Fokusnya ke Joy (Happiness), Sadness, Anger, Fear, dan Disgust. Kelima tokoh emosi yang ada pada diri Riley.

Joy yang menjadi narator di sepanjang film. Hanya ada Joy yang menemani di hari kelahiran Riley. Sebagai penggambaran bahwa Happiness (Joy), emosi pertama yang dimiliki manusia dan satu-satunya emosi yang ada hingga usia tertentu.

Lalu mulailah Joy memperkenalkan kita kepada Anger, Fear, Disgust, dan tugas mereka masing-masing. Joy cukup lincah menjelaskan peranan ketiga emosi ini, tapi gagal mengenali peran Sadness.

Mereka berlima selalu berkumpul dalam semacam ruang kontrol untuk mengawasi Riley. Sebuah meja yang berisi banyak tombol ada di tengah ruangan yang DIKENDALIKAN SEPENUHNYA oleh Joy.

Secara khusus terlihat Joy ekstra hati-hati terhadap Sadness. Sadness nyenggol bola-bola memori sedikiiiiittt saja, Joy langsung panik.

Kita bisa lihat SADNESS ini memang spesial. Hanya Sadness yang bisa mengubah warna dari bola-bola memori tadi.

Yang unik, bola-bola memori Riley selama ini memiliki satu warna saja yang mewakili satu emosi yang dirasakannya.

Di usia-usia peralihan seperti Riley, digambarkan bagaimana Joy mati-matian berusaha mengendalikan Sadness yang makin hari makin kelihatan pengin tampil.

Anak-anak memang lebih banyak dikuasai kebahagiaan. Itulah mungkin mengapa ada jargon, “Ingin rasanya kembali ke masa kecil.”

Seolah hanya ada kebahagiaan demi kebahagiaan di masa kanak-kanak dulu no matter where we are . Padahal secara emosi ya memang begitulah adanya hehehe.

Makanya, saya termasuk tim yang menolak cerita sedih-sedih buat anak-anak di bawah 10 tahun. Bukan waktunya .

Kenyataan bahwa ada banyak kesedihan yang terjadi di sekitar mereka itu MEMANG BENAR. But emotionally, mereka belum bisa benar-benar terhubung secara “baik dan benar” dengan si SADNESS ini.

Santai saja. Pada masanya nanti, pertarungan emosi PASTI akan terjadi. Di kasus Riley mungkin karena pindah tempat tinggal. Tapi secara umum, masa-masa pra abege ini adalah periode perkembangan emosi yang lumayan pesat yang akan terjadi pada tiap anak.

Klimaks filmnya ya di sini. Hebohnya emosi-emosi dalam diri Riley saat banyak guncangan terjadi pada kenangan masa kecil yang digambarkan dengan core memory bola-bola emas yang terhubung ke pulau-pulau memori utama.

Bagaimana Joy memimpin perjuangan jatuh bangun mempertahankannya.

Akhirnya, satu persatu pulau-pulau kenangan itu MEMANG HARUS RUNTUH. Berganti dengan core memory lain yang lebih berwarna.

Sejak Joy akhirnya bisa melihat dan menerima bahwa SADNESS punya peranan penting agar Riley bisa melewati saat-saat terberatnya, Riley mulai memproduksi bola-bola memori yang multiwarna .

Joy, dalam situasi bagaimana pun, pada waktunya, harus berbagi tombol kendali dengan emosi-emosi yang lainnya.

Kelihatan kan bedanya ruang kontrol emosi antara orang dewasa dan anak-anak via INSIDE OUT. Tombol papan di Riley dikuasai oleh JOY. Sementara di orang dewasa, TIAP EMOSI PUNYA PAPAN PANEL MASING-MASING.

Kalian harus nonton deh film ini .

Katanya sih ada sekuelnya di tahun 2019 nanti. Can’t wait, can’t wait .

Tapi Dear Aimar, kalau bikin pasfoto memang mukanya sebisa mungkin lempeng enggak boleh ada happy-happynya sama sekali ya, Sayaaaaanggggg hihihihi.

Naaaahhh ini baru beneeeerrrrr :D.

negara maju dan negara berkembang

Negara Maju dan Negara Berkembang (1) : Perbedaan Kesenjangan

Kemarin lihat video ini seliweran di timeline Facebook.

Yang lebih menarik membaca komentar-komentarnya. Video ini tentang seorang Ayah yang sudah terpisah selama 3 TAHUN dengan anak-anaknya dan ingin memberi surprais … pertemuan tiba-tiba.

Tidak sedikit komentar yang justru mempertanyakan, “Lho kok bisa pergi ampe 3 tahun? Mana tanggung jawabnya sebagai Ayah?”

Bahkan sindiran yang lebih kasar, “Wah, si Ayah pasti sibuk foya-foya tuh di luar negeri lupa anak lupa istri. Benar-benar tidak menghargai pentingnya keluarga.”

Juga, “Pergi selama itu kok anaknya gak dibawa? Ck ck ck. Orang tua macam apaaaaahhh…”

Laki-laki tersebut adalah tenaga kerja asal Filipina yang bekerja di luar negeri. Diaspora Filipina ini amat sangat terkenal di Timur Tengah. Istilahnya, Overseas Filipino Workers (OFW).

Setelah melahirkan anak ke-2 di Jeddah (Arab Saudi) dan sudah harus pulang ke rumah, saya didorong pakai kursi roda oleh seorang perawat Filipina. Fyi, mungkin 90% tenaga medis non-dokter di rumah sakit di Jeddah dikuasai orang Filipina.

Bisa curcol yang lumayan lama kan itu dari lantai 3 ke lobi rumkit .

Mending si Bapak tadi perginya (cuma) 3 tahun. Si embak suster cerita dia pernah 5 tahun tidak ketemu anak-anaknya sama sekali. Dese janda.

Tapi kini, anak-anaknya sudah besar-besar. Salah satunya bekerja sebagai IT-engineer di Dubai, katanya dengan bangga. Embak suster memilih bertahan di Jeddah karena sudah punya banyak teman dekat di Arab Saudi. Anak-anaknya sudah tidak di Filipina semua, untuk apa kembali?

negara maju dan negara berkembang
Overseas Filipino Workers – The Women (gambar : untvweb.com)

 

Kalau screening sekilas dari para komentator sejenis di atas itu, kemungkinan mereka lahir dan besar di negara-negara maju. Bukan asal negara kek kita-kita ini yang diberi gelar “The Third World Countries” –> semacam negara-negara berkembang.

Tapi banyak juga komentar yang berusaha menerangkan dengan baik tanpa perlu tarik urat hehehe. Bahwa kondisi bekerja di luar negeri buat tenaga kerja level menengah ke bawah macam si bapak ya memang tidak memungkinkan buat bawa keluarga.

Dan para pekerja ini secara sadar mengirimkan uang kepada keluarga di Filipina.

Tapi terus disindir lagi, “Halah, apalah artinya uang bagi kebahagiaan anak.”

Ya memang enggak akan pernah nyambung ngobrolin hal begini-begini dengan mereka-mereka yang terbiasa tinggal di negeri aman-nyaman-sejahtera di mana dari lahir sudah dapat CHILD BENEFIT segala macam dan sepaket dengan sekolah gratis dan tunjangan kesehatan mumpuni sampai dewasa nanti.

Bandingkan dengan negara-negara berkembang yang umumnya penduduknya membludak. Boro-boro CHILD BENEFIT, mau sekolah saja kadang SEKOLAHNYA yang belum ada *hiks*.

Untuk mencapai pendidikan berkualitas harus merogoh kocek dalam-dalam. Justru untuk masa depan yang lebih baik lah untuk keluarga yang ditinggalkan maka para tenaga kerja ini mengejar peruntungan sampai nun jauh di sana dan bersedia berlelah-lelah dalam kesepian. Berat lho itu .

Di Saudi sih banyak banget tenaga kerja asing yang membujang. Termasuk yang dari Indonesia dan Filipina.

Overseas Filipino Workers – The Men (gambar : philstar.com)

 

Curhat salah seorang supir asal Indonesia, “Anak istri belum tentu betah di sini, Buk. Biarlah. Saya aja yang di sini. Kirim uang saban bulan. Alhamdulillah Buk, bangun rumah, bisa bikin warung kecil-kecilan, anak-anak sekolah semua. Jangan sampe bodoh kayak bapaknya ini.” Ngomongnya sambil cengengesan, tapi saya yang denger sibuk biar gak nangis hahahaha #cengengKauuuuu .

Standar kebahagiaan dan kelayakan hidup memang JAUUUHHH berbeda. Ya mau gimana lagi.

Mereka yang menjalani toh fine-fine saja hehehe. Walau untuk kasus tenaga kerja Indonesia non-formal banyaaaaaakkk harus dibenahi, tuh. Pakde, abis menang 2019, siap dinyinyirin yak hahahaha. Sekarang mah jangan duluuuuuu  #cebbieOnDutyUntilApril hahahaha.

Filipina sih kereeeeeen. Perlindungan terhadap tenaga kerja mereka sudah jauh lebih layak daripada Indonesia .

Segitu saja masih dinyinyirin habis-habisan sama “wong-wong bule” hahahaha. Gimana kalau lihat TKW kita di Arab Saudi *pijetKeningPakMenaker*.

Kerja Luar negeri TKW arab
TKW Indonesia di Arab Saudi (gambar : berita.plasa.msn.com)

 

Akhir-akhir ini juga saya sering nonton vlog para youtuber Indonesia di mancanegara. Mau serius jadi youtuber nih  #eaaaaaa.

Video-video yang laris justru tema-tema yang pengin bikin saya mengamuk, duh gue mah kapan sih enggak ngamuk hahahaha.

Seriiiiiiiinnggg sekali berupa perbandingan antara orang Indonesia (baik itu kebiasaan-sifat-pola pikir dsb dsb dsb) vs orang-orang di negara tinggal mereka sekarang.

Yang mana intinya jadi menjelek-jelekkan kebiasaan-sifat-pola pikir dsb di orang-orang Indonesia.

Yo mosok kek gitu tho ah. Justru kalau sudah tinggal di luar negeri mbok ya pengalamannya digunakan untuk melihat lebih jernih.

Macam teman saya yang memuja-muja orang bule yang uang-uang lebihnya katanya dipakai buat liburan enggak perlu nabung buat uang sekolah atau cicilan rumah segala macam. Katanya mindset orang bule itu keren gak ribet kek orang Indonesia.

Lho ya kita semua juga maunya liburan. Jangankan punya uang lebih, enggak ada uang saja selalu gatel pengin liburan kok hahahaha.

negara maju dan negara berkembang

Mereka mah enak, anak sakit tinggal ke rumkit, mau sekolah tinggal daftar. Tinggal di country-side yang rumahnya cuma 1-2 pun tetap disediakan sekolah.

Akses jalanan dan transportasi mantap jaya sampai ke pedalaman jadi mereka tidak perlu takut kalau susah ke mana-mana. Enggak perlu sampai menyeberangi jembatan yang udah mau runtuh di atas sungai lah intinya demi buat jalan-jalan ke kota sebelah misalnya .

Lah kiteeeeeeee ??????.

Dengan kesenjangan hidup yang lebih rapat, wong bule secara umum tidak terlalu terpaku pada penampilan dan barang bermerek. Lah semua juga bisa beliiiiiiii hahahaha.

Lah kiteeeeee, gustiiii, nemenin anak maen di mal pakai jeans sama kaos biasa dan tas jahit sendiri hadiah dari teman ditegur dengan manja, “Ibunya anak-anak ke mana, Mbak?” Emot mewek apa ketawa neh enaknye ???.

Tapi ya sudahlah. Itulah nikmatnya hidup dalam perbedaan, ya. To see things from different “eyes”.

The world is a book, and those who do not travel read only a page.
– Saint Augustine

Let’s read more pages, shall we? ?

Suhay Salim Profesi Dunia Digital

Suhay Salim dan Geliat Profesi Terkini di Dunia Digital

Lagi ramai bahas Suhay Salim. Seorang beauty blogger/vlogger yang punya gaya tersendiri dan banyak fans di tanah air.

Saya tidak suka make up. Benar-benar tidak suka! Hehehe. Tapi saya ini skincare junkies abis hahahaha.

Sesekali pengin belajar make up demi sosialiasi saja dan sekadar lucu-lucuan . Kemarin di Texas ada tuh kumpul-kumpul belajar make up dan saya jadi modelnya. Nanti kapan-kapan kuposting foto wajah lenongku hahaha.

Dulu-dulu kalau ada kondangan masih memaksakan ke salon bla bla bla. Tapi pas mudik kemarin ada saudara menikah, saya benar-benar cuma pakai bedak dan lipstik hahaha. Doamat . Gue cakep ini, yes? #maeninBuluMata #eaaaaaaa.

Embak sebelah kiri gak kalah cakep kaaaaannn sama penganten di tengah hihihihi 😀

 

Tapi setahun terakhir saya suka memperhatikan boomingnya beberapa beauty blogger yang merambah ke beauty vlogger. Umumnya mereka fokus ke make up tutorial atau review produk-produk make up.

Jangan sinis dulu. Walau kelihatannya tidak berfaedah dan glamorous enggak jelas dan sering dicap “Ah, gitu-gitu doang” tidak mudah lho menembus persaingan di Youtube.

Apalagi beauty vlogger itu rata-rata BUKAN ARTIS / SELEBRITIS. Banyak yang memulai benar-benar dari bawah, dari bukan siapa-siapa hingga memiliki nyaris 1 juta subscriber di Youtube dan jutaan follower di IG.

Kenalin salah satunya, SUHAY SALIM.

Suhay Salim Profesi Dunia Digital
Gambar : femaledaily.com

Kalian kebayang mereka berjuang posting dan review 1 produk per hari secara terus menerus. Itu butuh konsistensi dan semangat juang yang enggak gampang di-maintain biar bisa berkobar di level yang sama setiap harinya.

Dunia perlenongan ini sendiri diantara kalangan perempuan masih suka saling nyinyir-nyinyiran. Heran akutu. Padahal kalau pun tidak suka make up ya kenapa harus merendahkan perempuan lain yang senang merias wajah?

Menurut saya, make up itu susah gilak. Saya menganggapnya sebagai skill khusus, bagian dari seni.

Mungkin juga pada terbawa stereotip zaman baheula, “Cewek menor biasanya dongok” ??? Walah, Suhay Salim ini lulusan Manajemen FE UI, Dear .

Jangan nyinyir. Kan kasihan kaliaaaaaaan, udahlah gak cakep julid pulak #eh .

Aslinya introvert, lho. Kelihatan, kok. Dia bukan tipe-tipe banci tampil malah awalnya Suhay hobi fotografi dan hanya pede memotret orang lain. Tapi kemudian dia tertarik dengan dunia make up dan coba-coba bikin review sendiri.

Suhay terlihat beda karena cara ngomongnya yang “suka-suka” dan tidak jaim hehehe. Malah awalnya saya pikir agak galak-galak gimana. Ternyata memang anaknya cuek hehehe.

Suhay berwajah unik karena blasteran Jawa-Arab kalau enggak salah. Enggak dandan juga udah kece dari sananya sih .

Profesi utamanya pun ternyata bukan beauty blogger/vlogger melainkan TRANSLATOR. Yoih, kalau sering nonton videonya tahu kan kalau Suhay bahasa Inggrisnya cas cis cus abis .

Suhay Salim in skincare review (gambar : suhaysalim.blogspot.com)

 

Review dari orang-orang “biasa” kayak Suhay ini lebih menarik minat kita ketimbang yang seleb beneran. Abis kalau artis banyakan endorsement nya ya, Cyin hihihihi.

Apalagi Suhay ini relatif “jujur” dan ceplas ceplos kalau ngasih review.

Baru-baru ini Suhay Salim bikin heboh karena berita pernikahannya yang cuma pakai baju kasual / celana jeans di KUA. Udah gitu doang .

Apa kabar gue yang kudu pesta 2 hari (akad nikah + resepsi) dengan 2 adat berbeda : Bugis dan Minang! *nangis*.

Kalau mau kayak Suhay, kudu langkahi mayat keluarga besar dulu kali hahahahaha.

Daripada nyinyir menyangka dia ini cuma selebgram enggak penting yang tiba-tiba tenar enggak jelas, mending teladani konsistensi adik-adik kita seperti Suhay Salim dkk ini hehehe.

Merit pakai celana jeans di KUA ala Suhay Salim :).

 

Buat orang tua seperti kita yang didera kekhawatiran semacam, “Gustiiiii, akan jadi apa anak-anak kita kelak?”

Era perubahan digital apalagi ancaman Artificial Intelligence / Kecerdasan Buatan yang terus menerus bikin deg-degan.

Para orang tua gundah, pergeseran gaya hidup termasuk pilihan profesi di era mendatang bikin kita bingung kira-kira skill apa ya yang perlu kita genjot ke anak-anak biar siap menghadapi masa depan???

Ya makanya kaaaaaannn, buka mata lebar-lebar. Kenalilah dunia baru sekitar kita ini . Tidak perlu memaksakan diri untuk masuk dan menjadi bagian dari mereka tapi minimal jadilah pengamat dan jangan takut belajar dan menerima perubahan .

Bukan buat kita semata. Buat anak-anak kita oiiiiiiiiii hehehe.

Gambar : hongkiat.com

 

Daripada meremehkan, “Siapa sih Suhay Salim ini”, mending kita pelajari kiat-kiat suksesnya dan teladani kerja mereka serta cermati profesi-profesi terkini di zaman yang makin berlari ini .

Contoh lain, mungkin boleh kita cemas dan mengeluh, banyak toko-toko offline kelihatan bangkrut dan tutup gerai dan menghempaskan banyak karyawan mereka.

Kalau fokus meratap doang, apalagi meratap sambil julid (hahahaha) plus nyalahin presiden (awwwww tetap #cebbieOnDuty hahaaha), mending pelan-pelan ubah persepsi kita.

Ratusan toko tradisional tutup? Tapi mungkin ada ribuan emak-emak dasteran di rumah yang membuka usaha jastip dan berbisnis jual beli online kan? .

Belum lagi endorser-endorser di Instagram yang makin merata, tidak cuma nyangkut di seleb-seleb doang. Orang biasa pun kalau tekun dan pandai membaca peluang bisa “cari makan” dari profesi endorser ini .

Tak kenal maka tak sayang, yes? Makanya daripada nyinyir-nyinyir gak penting dapat duit juga kagak, mbok ya kenalan dulu .

The Seven Good Years

“Kakak Perempuanku yang Hilang”, salah satu tulisan berkesan dari buku memoar ini.

Penasaran, yes?

Setelah membaca 2-3 kalimat di awal tulisan jadi paham “hilang”nya bagaimana. Kakak perempuan penulis bergabung dengan sekte ultra-ortodoks Yahudi dan tiba-tiba berganti penampilan dan kebiasaan hidup terutama setelah menikah.

Kaum perempuan biasanya menggunakan baju panjang yang menutup kepala hingga mata kaki, yang laki-laki tiba-tiba berjenggot dan “menghilang” dari pergaulan menghabiskan banyak waktu untuk berdoa dan berkumpul dengan “sesama mereka” dst dst.

Langsung merasa relate dengan kisah ini. Teringat fenomena “hijrah” di tanah air yang juga membuat saya juga merasa “kehilangan beberapa teman terdekat” .

the seven good years review buku Indonesia
Perempuan dari kelompok ultra-orthodoks Yahudi sedang membaca ( Gambar : dailymail.co.uk)

 

Mirip banget yah deskripsi “kembali ke agama” ala Yahudi-Ortodoks dengan tradisi “hijrah” edisi muslim terkini, setidaknya di tanah air kita.

The Seven Good Years, kumpulan tulisan seorang penulis Yahudi yang tinggal dan bermukim di Israel.

Bukan kisah-kisah parenting. Melainkan pengalaman-pengalaman ringan yang dihadapinya dalam rentang waktu 7 tahtun pertama kehidupannya setelah memiliki anak laki-laki, Lev.

Dari tulisan Keret, terbayang betapa sebenarnya semua pihak sama menderita dan tersiksanya akibat warisan kebencian yang turun temurun selama ratusan tahun ini .

Sebagai seorang Yahudi, seringkali Keret merasa tertekan dan penuh curiga saat berada di Eropa.

Di sebuah pub, Keret pernah terlibat perkelahian dengan seorang Jerman yang sedang mabuk hanya karena salah dengar. Prasangka buruk Keret mengira laki-laki tersebut sedang menghina orang Yahudi tapi ternyata TIDAK sama sekali.

Sekali lagi, cuma salah dengar.

Keret juga sering bertukar cerita dengan teman sesama Yahudi-nya tentang ketakutan-ketakutan mereka jika kelak dunia akan kembali dipenuhi semangat anti-Semit. Bagaimana mereka akan menabung sebanyak mungkin agar bisa lari ke tempat yang aman dan nyaman.

Bagaimana ritual mereka untuk tetap membuat sang anak nyaman saat bunyi sirine tanda bahaya berbunyi saat mereka lagi mengendara di jalan. Di Israel hal seperti ini sangat umum.

Sirine tanda bahaya bisa tiba-tiba berbunyi dan semua orang harus tiarap dan bom pun jatuh berdentum, entah di mana. Bisa dekat, bisa jauh.

Keret juga merasa sangat tidak nyaman saat berada di taman bermain dan mendapati ibu-ibu saling bertanya, “Apakah anakmu kelak akan jadi tentara?”

Ternyata, pembicaraan semacam ini sangat biasa di Israel.

Israel, satu diantara sedikit sekali negara di dunia yang memiliki aturan WAJIB MILITER bagi seluruh warga negara baik laki-laki dan perempuan.

Beberapa tulisan juga membahas mengenai asal usul orang tua Keret yang berasal dari Polandia. Bagaimana kedua orang tuanya terusir dari sana pasca melewati hari-hari yang berat di masa Jerman-Nazi menyerbu ke negara-negara tetangganya termasuk Polandia.

Dari tulisan-tulisan ringan ini juga kita mendapatkan informasi mengenai hari-hari suci umat Yahudi seperti Yom Kippur dan Sabat.

Ada juga catatan ringan mengenai perdebatan Keret, istrinya, anak mereka dan ibu Keret tentang game Angry Birds hehehe.

Keret menyesalkan sikap ayahnya yang dianggapnya terpenjara dengan cerita turun temurun mengenai kebencian. Keret ingin kita semua lebih proaktif menciptakan masa depan yang lebih cerah, alih-alih mengenang masa lalu yang sudah usang.

Keret salah satu penulis Israel yang giat mengkritisi pendudukan Israel di tanah Palestina. Karena keberpihakannya pada perdamaian di tanah konflik Timur Tengah, Keret lumayan bisa diterima di negeri-negeri mayoritas muslim. Pernah diundang ke Bali segala, lho .

We need to read something like this. Melihat dari sisi lain. Banyak miripnya ajaran Yahudi dengan Islam secara agama.

Etgar Keret (gambar : huffingtonpost.com)

 

Misalnya ada kosher, daging/makanan halal versi Yahudi. Kosher ini oleh sebagian ulama Eropa dianggap HALAL pula buat kaum muslim .

Kembali ke tulisan “Kakak Perempuanku yang Hilang”, Keret menunjukkan satu pesan penting. Meski didera ketakutan mengenai perubahan ekstrim yang terjadi bagi orang-orang yang dianggap “hilang”, Keret punya sudut pandang sendiri.

Menurut Keret, “Aku tidak punya Tuhan, tetapi kakakku punya, dan aku mencintainya, jadi aku mencoba untuk menunjukkan hormat.”

Di masa-masa frustrasi saat ditinggal pergi oleh gadis pujaan hatinya, Keret mendatangi kakaknya di pemukiman Ortodoks. Keret memohon kakaknya untuk mendoakan agar gadis tersebut kembali kepada Keret.

Kakaknya bilang tidak bisa, itu bukan doa yang benar. Tapi kakaknya berjanji akan berdoa setiap hari agar kelak Keret bertemu perempuan lain yang akan membuatnya bahagia.

Sepuluh tahun kemudian, itu benar terjadi. Keret percaya, doa kakaknya telah dikabulkan Tuhan.

We can still love and respect each other terutama dengan orang-orang terdekat kita pasca “perubahan”.

Terlepas dari prasangka dan ketakutan (yang mungkin sebagian besar tidak perlu atau karena tidak paham saja), kita masih bisa berkasih sayang dalam perbedaan .

Semoga lebih banyak orang-orang seperti Keret atau siapa pun yang berupaya untuk berbicara lebih kencang mengenai perdamaian dalam permusuhan panjang di konflik Israel-Palestina.

Saling berbagi apa yang dirasakan, apa yang dilewati, dari sudut pandang masing-masing. Surprisingly, banyak persamaan yang bisa didapatkan.

Siapa pun bisa bersuara yang sejalan, seperti saintis Albert Einstein sekali pun yang pernah berujar, “Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.”

Saling memahami adalah koentji ???.

Jalan-jalan ke Sligo – Irlandia

Sligo, kalau pun ada yang tahu, kemungkinan mereka fans fanatiknya WESTLIFE hihihihi. Yup, grup musik asal Irlandia yang menggebrak penghujung abad 20 walau bertahun-tahun kemudian tidak pernah sukses menaklukkan pasar musik Amerika Serikat.

Tapi di Indonesia kebayang tenarnya band satu ini dulu di zaman kuliah + kerja .

3 dari 5 anggota Westlife berasal dari Sligo. Di Sligo, pertama kali band ini terbentuk.

Buat yang  mau langsung cuss ke vlognya, ini linknya :

Pesan sponsor sikit :p, jangan lupa subscribe ke channel youtube saya di sini ya ;).

Tadinya sempat bernama Westside (yang kemudian diganti menjadi Westlife) untuk mengenang kota asal mereka, SLIGO, yang terletak di pesisir barat Pulau Irlandia.

SLIGO, bukan kota turis utama. Jadi ditaruh di list agak belakangan. Ternyata … tempatnya cantik banget . Underrated deh ini tempatnya.

Berbatasan langsung dengan wilayah Northern Ireland – UK. Jadi sudah ada rencana mau mendobrak perbatasan hihihihi.

Berangkat pukul 9 pagi dari Athlone, tiba di spot pertama Ben Bulben Mountain sebelum pukul 11 siang. Hampir 2 jam menuju Sligo dari Kota Athlone.

Kecepatan nyampenya, angin lagi mengamuk jadi dingiiiiiiiin banget. Padahal cuaca sebenarnya 11 derajat celcius, dominasi angin membuat real feelnya menjadi 2 dercel.

Salah pakai jaket hehehehe. Jadi nampang bentaran doang di kaki pegunungan Ben Bulben terus langsung cabut.

Di Ben Bulben banyak tempat hiking yang seru. Tapi siapa jugak mau hiking di musim dingin begitu #dudukManjaDalamMobil .

Dari Ben Bulben menuju Strandhill Beach. Urusan pantai di pesisir Barat Irlandia, pamor Sligo kalah dari Galway dan Donnegal.

Walau lahir dan besar di kota pantai Makassar, paling males kalau ke pesisir barat Irlandia. Duingiiiiiiiiinnnnn .

Berbatasan langsung dengan Laut Atlantik, pantai-pantai ini entah kapan angetnya hahahaha. Mau summer kek, spring atau autumn, apalagi winter, mustahil mejeng di pantai-pantai Atlantik tanpa pakai jaket.

Mereka ini kalau dibawa ke Bali atau pantai-pantai di Indonesia, udah enggak mau pulang kali .

Nama SLIGO sendiri berasal dari bahasa Celtic, SLIGEACH (jangan tanya cara bacanya hahahaha), yang artinya “shelly place”. No wonder, memang daerah pantai, kan?

Industri seputar kerang masih bisa dijumpai di tempat ini, katanya. Kuliner seafoodnya juga patut dicoba. Tapi makanan orang sini mah cemplang, ya. Salt-pepper-salt-pepper doang. Coba sekali-sekali pakek lengkuas, ketumbar, cengkeh, kunyit, pala, jinten, dst dst.

Dari Strandhill, pemandangan Ben Bulben terlihat jelas. Makanya banyak orang yang nenteng kamera gede lalu lalang di sana.

Terus kami ke pusat kota. Karena belum lapar, mampir ke Sligo Abbey dulu. Masuk ke dalam. Reruntuhan kastil dari ratusan tahun sebelumnya. Tempat wisata standar di kota-kota Irlandia dan Eropa pada umumnya . Lihat di vlog aja tempatnya kayak apa.

Parkir tetap di depan Abbey, kami jalan kaki ke pusat kota. Makan siang terus muter-muter sebentar.

Balik mobil lagi terus menuju Glencar Waterfall. Saya enggak sempat naik ke atas, jagain yang bontot ketiduran di stroller. Dan suami lupa ngerekam pas di atas zzzzz . Foto-foto aja.

Karena anak-anak ngotot mau main di playground, saya dan suami (plus yang lagi bobok) duduk-duduk dalam kafe. Mesen coklat panas sambil ocip-ocip berdua hehehe.

Pemberhentian terakhir, Cuilcugh Legnabrocky Trail yang sudah masuk wilayah UK. Sebenarnya masih terhitung perbatasan antara County Cavan (Republik Irlandia) dan County Fermanagh (Irlandia Utara – UK),

Ini yang pernah saya share videonya tempo hari. Tempat hiking sejauh 7.4 km yang butuh waktu tempuh 6 jam (mendaki dan berundak-undak).

Tiba di sana sudah jam 5 sore. Cuaca makin dingin. Di musim gugur begini, jam segitu sudah masuk waktu senja, mulai gelap. Tapi suami ngotot pengin masuk.

Jadi udah mulai gelap masuk sana. Di video saya edit biar jadi terang dikit. Hanya suami dan anak nomor 2 (our sporty baby ) yang turun.

Yang sulung ama yang bontot leyeh-leyeh di mobil sama mamanya hihihihi.

Saya salut ama sepasang kakek nenek yang nampak berjalan pulang ke arah parkiran. Tetap ceria dan asyik mengobrol berdua. Gaya hidup di sini memang memungkinkan tubuh fit sampai usia tua, ya .

Kata suami, “Elu segini aja udah males, entar udah tua, ditandu lu kalau hiking!” Hahahahahaha *ngakakManja*.

I like exercising. Tapi kalau dingin, mending pilates via youtube ama Neng Blogilates di rumah, yes? #kibasMatras