Salahuddin Al Ayyubi

Salahuddin Al Ayyubi (Saladin), Dicinta Kawan Dipuja Lawan

Salahuddin Al Ayyubi (Saladin), salah satu tokoh besar yang dipersembahkan oleh peradaban Islam di abad 6 – 7 Hijriah. Lahir tahun 1138 M di daerah Tikrit, Irak. Seorang keturunan Kurdi yang di usia belasan ikut hijrah bersama keluarganya ke Damaskus, Suriah. Namun menaiki panggung kebesarannya melalui daratan Mesir.

Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin. Dijuluki sebagai Salahuddin. Dunia barat memanggilnya sebagai Saladin. Al Ayyubi merupakan nama keluarganya. Salahuddin Al Ayyubi.

Salah satu keistimewaannya adalah namanya tidak cuma bergema di kalangan muslim saja. Tapi disebut-sebut di berbagai literatur barat.

Salahuddin Al Ayyubi
Salahuddin Al Ayyubi

***

Secara sekilas sudah sering sekali mendengar kebesaran seorang Salahuddin Al Ayyubi. Tapi baru benar-benar ‘tersentak’ ketika membaca sepak terjangnya secara khusus dalam perjalanan panjang kisah Perang Salib. Ditulis dalam buku “Perang Suci, dari Perang Salib Hingga Perang Teluk.”

Karena peristiwa di Gaza beberapa waktu lalu, saya terpancing untuk kembali membolak-balik 800 halaman dari buku yang ditulis oleh seorang Karen Armstrong yang mengaku dirinya sebagai ‘freelance monotheist’ ini. Tapi rasanya pengetahuan saya masih terlalu minim untuk membahas soal Gaza dan zionisme.

[adCOntent]

Saat kembali mengurai halamannya satu persatu, kisah Salahuddin Al Ayyubi (Saladin) -lah yang lagi-lagi mencuri perhatian.

Membaca pertama kali buku ini hampir 3 tahun yang lalu, saya sampai-sampai begitu ngotot kalau punya anak laki-laki lagi, namanya mesti Saladin. Ketika 20 bulan lalu putra kedua saya lahir, usul ini tidak mendapat approval dari bapaknya hehehehe.

***

Yusuf remaja sebenarnya adalah pemuda yang sangat sensitif. Malah cenderung penakut. Yusuf trauma dengan peperangan melelahkan yang pernah dijalani bersama pamannya, Syirkuh. Terkesan ogah-ogahan saat harus kembali berangkat menuju Mesir bersama Syirkuh. Namun akhirnya, bersama Yusuf, Syirkuh berhasil memukul mundur para Crusaders (ksatria Perang Salib) dari perbatasan Mesir.

Atas jasanya, Syirkuh diangkat menjadi wazir Mesir. Ketika Syirkuh wafat, secara tak terduga, Yusuf-lah yang ditunjuk untuk menggantikannya.

Saat inilah perubahan besar mulai terjadi pada pemuda berhati lembut ini. Yusuf meyakini takdirlah yang telah mengutusnya untuk berjihad di jalan Islam. Membawa kembali kejayaan Muslim yang seakan terbenam dengan direbutnya Baitul Maqdis di periode Perang Salib pertama.

Mendalami agama dan mengobarkan semangat jihad, Yusuf menjelma menjadi seorang pemberani yang diimbangi oleh tingkat kesalehan yang tinggi.

Yusuf tampil dan dikenal dengan gaya kepemimpinan yang revolusioner. Pemimpin besar pendahulunya, Sultan Nuruddin, dikenal sebagai pemimpin saleh dan dermawan. Tapi seperti kebanyakan model kepemimpinan di Timur Tengah, Nuruddin nyaris tak terjangkau oleh rakyatnya. Tinggal di istana besar dalam kemewahan, Nuruddin tak luput dari gaya despotiknya yang kental.

Yusuf justru membuka aksesibilitas dirinya terhadap rakyat seluas-luasnya. Gayanya yang informal mengejutkan banyak pihak. Termasuk ketika beliau pasrah kepada pelayannya yang menceramahinya untuk banyak beristirahat. Hanya tertawa-tawa ketika kuda salah satu pengawalnya mencipratinya dengan lumpur.

Yusuf kembali mengingatkan dunia Islam akan sejarah masa lampau Kepemimpinan Islam yang diterapkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Ingatlah Nabi Muhammad, kenanglah Abu Bakar, lihatlah Umar, Usman, dan Ali. Adakah mereka memberi jarak terhadap umat yang seharusnya dibela kepentingan dan kehormatannya?

Satu kejadian lucu saat saya membawakan materi ini di pengajian rutin kami minggu lalu, di bagian ini, seorang teman saya langsung menyeletuk, “Ih, kayak Jokowi dong, ya.” Hehehehe. Bukan tanpa dasar, saya sempat mengelu-elukan beliau secara khusus di wall ini ;).

Ya, beda kelas lah :D. Terlalu dini untuk menyanjung seorang Jokowi setinggi pahlawan besar seperti Salahuddin. Namun kita berharap Jokowi adalah sebuah tipping point bagi negeri yang tengah terpuruk ini :(. Membawa angn segar, setidaknya memacu perubahan tipe kepemimpinan yang makin memihak kepada rakyat. Hidup blusukan :P.

Dengan semangat tinggi, Yusuf menyatukan kerajaan-kerajaan Islam kecil menjadi satu kekuatan besar. Mengobarkan semangat jihad yang pada akhirnya merebut kembali Baitul Maqdis di Perang Salib periode ke-2.

Sekalipun Yusuf adalah petarung ulung dalam perang, jangan lupakan pribadinya yang mudah tersentuh. Yusuf tak pernah menyiksa tawanan perang. Yusuf tak segan mengabulkan permintaan gencatan senjata bila lawan sedang kepayahan. Dalam Islam, tak masalah dilakukan gencatan selama tidak merugikan kaum muslim.

Kejujurannya pun sangat teruji. Yusuf tak pernah melanggar gencatan senjata mana pun. Sekali beliau murka ketika para Crusader menyerang rombongan kaum muslim yang akan berangkat berhaji di masa gencatan senjata tengah berlangsung. Tanpa ragu, Yusuf turun langsung mengobarkan perlawanan kepada musuh yang dianggap berkhianat. Pengasih namun pantang direndahkan :).

Salah satu kisah teladannya menghadapi musuh adalah saat berhadapan dengan Raja Richard. Richard yang dijuluki The Lion Heart, Hati Singa, saking pemberaninya.

Ketegasan nyaris tak pernah mempengaruhi jiwa kemanusiaannya. Di suatu pertempuran, kala pasukan Richard terdesak, dimana akhirnya sang Raja ikut berjalan bersama pasukannya tanpa menunggang kuda, Yusuf luluh.

Yusuf meminta salah seorang serdadu mengirimkan kuda buat Richard. Sabdanya, “Aku tak tega melihat pejuang besar sepertinya mempermalukan diri seperti itu.”

Saat Richard tengah sakit keras, Yusuf mengirimkan tabib terbaik kerajaan untuk turut merawatnya.

Allah bersabda, “Hai orang-orang yg beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yg selalu menegakkan keadilan karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat pada ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Mahabenar Allah dengan segala firmanNya :).

Di akhir hayatnya, pemimpin besar ini hanya meninggalkan harta 47 dirham saja. Konon, pengawal pribadinya selalu menyisihkan sebagian harta kerajaan secara diam-diam untuk mencukupi kehidupan seorang Salahuddin. Masya Allah :'(.

***

Ada satu hal penting lain tersirat dari buku sejarah (saya lebih suka menyebutnya sebagai “buku sejarah” instead of “buku agama”) karya Armstrong ini.

Di masa-masa awal perang Salib, Eropa barat selaku kaum yang menginvasi umat Muslim di Timur Tengah, tengah berada dalam periode abad kegelapan. Peradaban mereka diwakili oleh kaum Frank, yang digambarkan Armstrong sebagai kaum barbar.

Perang Salib sedikit demi sedikit memacu mereka memasuki babak baru. Abad kebangkitan. Darimana mereka ‘mengembangkan’ peradaban mereka?

Invasi mereka ke kaum muslim sekaligus memperkenalkan budaya keislaman di Timur Tengah. Bangsa Eropa barat ini belajar mandi dan membersihkan diri dan kaum muslim. Mereka belajar kebersihan, memakai wangi-wangian, dan tertarik pada kain tenun khas Timur Tengah. Peradaan Muslim yang kala itu banyak melahirkan ilmuwan dan sastrawan besar tak luput dari perhatian mereka.

Mereka berusaha ‘memindahkan’ peradaban ini dan memajukan kawasan mereka. Dan sejarah meninggalkan jejaknya hingga kini. Seperti apa kehidupan umat muslim sehari-hari di kawasan Timur Tengah. Pernah tinggal di Saudi? Doyan mandi gak orang Saudi? :P. Isu kebersihannya bagaimana? Di Indonesia bagaimana? :(.

Apakah yang khas dari negara-negara maju di Eropa? Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan tahun lalu, “How Islamic are Islamic countries?” menasbihkan negara New Zealand dan negara-negara barat lainnya di jajaran 10 besar. Kemana umat muslim? Di urutan keberapa negara-negara yang dijejali penduduk yang berstatus Islam? Arab Saudi di urutan ke-131! Indonesia? Urutan 140!

Coba bayangkan, mereka belajar kebersihan dari dunia muslim? How come? 🙁

***

Nama Salahuddin Al Ayyubi terpatri kuat di hati rakyatnya. Semangat jihadnya menyebar benih-benih kekuatan bagi dunia Islam saat itu. Namun, kebesarannya pun tak luput dari perhatian dan puja puji dari kaum lawan.

Selayaknya, tak ada keraguan, jika dipatuhi secara benar dan displin, sesungguhnya Islam adalah rahmatan lil ‘aalamin. Dan tokoh Saladin merupakan salah satu peletak dasar atas (pernah) berjayanya Syariah Islam di hampir 2/3 belahan dunia kala itu. Sejarah pernah mencatat bahwa ketiga agama ini pernah hidup tentram damai selama 450 tahun dalam naungan Syariah Islam. 450 tahun, hampir setengah milenium!

Jangan hanya lantang berbicara aqidah. Muliakan akhlak dan buat dunia sekali lagi mengakui kebesaran Islam :). Rahmat bagi seluruh umat manusia :).

***

Don’t We All?

athlone, ireland

***

“There is nothing permanent except CHANGE.”

Sepanjang hidup kita tak pernah bisa lepas dari perubahan. Dari TK ke SD saja, padahal sekolahnya sama dan hampir 100% teman-temannya itu-itu juga, tapi gara-gara ganti baju seragam, saya sempat keder.

Agak canggung juga rasanya membawa tas yang lebih besar dengan buku-buku lebih banyak. Di TK kan sebagian besar waktu dihabiskan untuk menyanyi dan main-main saja, hehehehe. Kasihan ya anak-anak TK (di Indonesia) zaman sekarang :P.
Padahal waktu masih berseragam rompi, selalu mencuri-curi waktu untuk mengintip anak-anak SD di gedung depan. Berharap agar waktu berlari dan akhirnya bisa melepas rompi, berganti kemeja dan rok payung :D.Tapi saat waktunya tiba, tetap saja ada rasa tidak nyaman. Malah ingin waktu berputar mundur, belum rela meninggalkan akses khusus kapan saja untuk menyerbu playground sekolah di belakang kelas.

Dari SD ke SMP lebih dinanti-nanti. Buat saya alasannya sepele banget. Model roknya beda, Cyiiinnnn. HIhihihihi. Anak SMP kan roknya model apa itu ya namanya, pokoknya rasanya lebih dewasa gitu, deh.

Tapi tetap saja begitu gongnya sudah berbunyi, mendadak muncul rasa ragu dan was-was. Akankah semua berjalan seperti yang diharapkan?

Malam pertama menjelang dimulainya hari-hari baru sebagai anak SMP, tidurnya enggak khusyuk. Teganglah pokoknya :P. Di tahun 90-an, status ABG resmi digenggam saat memasuki gerbang SMP :D. Artinya sudah halal tuh naksir-naksiran ahahahahaha.

Dari SMP ke SMA terus terang tidak seheboh perubahan dari SD ke SMP. Kerusuhan malam pertama sebelum sekolah enggak banget, deh. Saya pundung karena rok sekolah dijahitnya di bawah lutut. Besoknya di sekolah, saya ngikutin saran teman untuk melipat rok di bagian pinggang agar terlihat lebih pendek. Hihihihihi. Situ seksi??? :P.

SMA ke kuliah? Ini nih puncak perubahannya. Perubahan lokasi (lintas pulau segala), 100% teman-teman baru, dan juaranya…pengenalan bahasa!

Di masa orientasi saat kelelahan karena padatnya acara, saya duduk-duduk sendiri dekat danau UI. Perut lapar jadilah beli gorengan.

“Bang, minta ubi, ya.”

Penjualnya menyerahkan sekantong kertas.

Baru satu gigitan, saya sudah protes, “Duh Bang, saya mintanya ubi, lho. Bukan ini.” Saya menunjuk ke arah jenis gorengan lain. Entah karena lapar dan panas, dan secara default memang kalau ngomong nadanya pasti tinggi, suara saya terdengar marah-marah.

Penjualnya nampak bingung, “Lah, ini singkong. Yang di tangan Mbak itu beneran ubi.”

Singkong? Ummm… iya sih, saya tahu singkong itu ubi. Tapi di Sulawesi, tepatnya di kota kelahiran saya di kota Makassar, yang kami sebut sehari-hari sebagai ubi adalah ubi kayu. Yang ternyata di Jawa disebut sebagai singkong. Adapun ubi di Jawa adalah sebutan umum untuk ubi manis. Kami di sulawesi menyebut si ubi manis sebagai ubi jalar. Pusing? Samaaaaa. Hehehehe.

Belum lagi istilah martabak dan martabak telur. Martabak di Depok adalah sebutan default untuk martabak manis. Sementara kami di Sulawesi kebalik, dong. Martabak telur kami singkat saja menjadi martabak. Martabak manis dikenal sebagai “terang bulan” :P.

Apes deh, lagi ngebet-ngebetnya pengin martabak telur, manalagi dana pas-pasan, malah dibuatin martabak manis. Zzzzzz

Perjalanannya tidak terbatas saat sekolah saja. Memasuki dunia kerja perubahan-perubahan terus mengikuti. Misalnya saja harus berpindah kantor. Padahal kan yang pengin resign kita-kita juga, tapi begitu harus membuat farewell note buat teman-teman, pasti terselip rasa khawatir dan enggan plus… mewek gak jelas! =)).

***

Sudah desember lagi. Separuh bulan di penghujung tahun masehi ini sudah dijelang. Salah satu resolusi besar saya dan suami di tahun 2012 ini, alhamdulillah, sudah mulai memasuki fase final. Kabar gembira yang dinanti-nanti sudah datang, lebih cepat daripada perkiraan.

Resolusi yang tentu membawa perubahan yang tidak sedikit buat kami sekeluarga. Senang? Jangan ditanya :). Tapi sekaligus memunculkan rasa cemas yang lama kelamaan menjelma menjadi, “is this the right choice?”

Padahal selama masa penantian, tak putus-putusnya doa dipanjatkan. Tak henti-hentinya harapan dilantunkan. Begitu hasilnya kelihatan, malah rasa ragu yang terus mengikuti.

Tapi bukankah semua perubahan, apa pun itu, pasti akan memunculkan dua hal. Layaknya sekeping koin, selalu ada 2 sisi mata uang. Kata siapa menghadapi perubahan itu mudah? :).

Siapa yang menjamin semuanya akan berjalan sesuai yang diharapkan? Bahwa kalau sudah SMP sudah boleh naksir-naksiran. Boro-boro, pelajarannya malah lebih susah -_-. Kalau sudah SMA, boleh kongkow-kongkow seenaknya. Padahal dari kelas 1 sudah rusuh ngincer universitas idaman dan mati-matian les ini itu. Kalau kuliah sudah bebas kemana-mana, apa daya uang saku pas-pasan yaaaa, hihihihihi. Kalau pindah kerja, pasti lebih seru, etapi teman-teman suka ngajakin makan siang ke tempat yang mahal-mahal. Ahahahahahha. Curhat kauuuuuu :P.

Selalu akan terselip ketidakpastian. Tapi ilmuwan besar seperti Einsten pun sudah pernah menyebutkan bahwa, “Uncertainty is part of reality.”

Tidak ada yang sanggup menghindari perubahan-perubahan yang akan terjadi. Baik yang direncanakan maupun yang datang tanpa diminta. Setiap perubahan sewajarnya diselipi rasa cemas dan takut. Perubahan apa pun, untuk siapa pun.

Seperti pesan Dumbledore dalam buku ke-4 serial Harry Potter, “Apa pun yang terjadi, kita hanya harus menghadapinya.” Cara terbaik untuk menghadapi perubahan adalah … menghadapinya. Of course… if it’s possible, be prepared ;).

Don’t we all? :).

***

Mengirim Artikel Jalan-jalan ke Kartini

“Musim Semi di Gurun Saudi” adalah judul artikel jalan-jalan ke Kartini yang sudah tayang. Horeeee :D. Artikel lengkapnya bisa dicek di sini ya 😉.

Tapi… lagi-lagi artikel jalan-jalan :p. Hobinya kan sebenarnya menulis fiksi padahal. Artikel jalan-jalan ini muncul di edisi ke-2 di bulan November (15-29 november 2012).

Cara ngirim artikel jalan-jalan ke Kartini gampang, kok :

  1. Tulisan terdiri dari 1500 kata. Kira-kiranya begitu. Lebih/kurang 100 an kata mungkin tidak mengapa. Cek di word pakai fasilitas “word count”, ya ;).
  2. Siapkan foto-foto pelengkap. Minimal 8 buah. Resolusinya harus tinggi kalau untuk cetak di Majalah. Minimal 800 dpi dan pixelnya kudu gede juga (high resolution).
  3. Tulisan dibagi menjadi beberapa sub-bab/bagian. Lihat saja contohnya ya di link paling pertama yang saya kasih di atas tuh ^_^.
  4. Isinya yang penting ada what, where, when, who, with dan how to get therenya lah. Sertakan kuliner kalau ada. Info akomodasi juga dituliskan.
  5. Tulisan ditulis dalam dokumen word dan diattach ke dalam email. Demikian juga foto-fotonya di-attach ke email.
  6. Subyek email sih enggak harus seragam. Tapi sebaiknya to the point saja misalnya, “[Artikel Jalan-jalan] Wisata ke Kota Thaif”
  7. Badan email jangan dikosongkan lah ya hihihi. Tulis apa kek basa basi. Ucapkan salam, perkenalan dan sampaikan tulisan apa yang dikirim. Topik garis besarnya saja. Ucapkan terima kasih jangan lupa ;).
  8. Kirim email ke redaksi_kartini at yahoo dot com. Lho? Email yahoo? Emberrrr, ehhehehe. Saya juga sempat ragu. Tapi pas cek di media cetaknya memang kirimnya ke situ kok ;).

Saya kirim artikel jalan-jalan ke Kartini yang ini sekitar bulan Oktober gitu. Dua minggu kemudian dapat kabar akan dimuat dan diminta untuk mengirimkan kelengkapan foto-foto. Saya awalnya mengirim foto dikit saja dulu buat contoh. Tapi sebaiknya memang langsung dilengkapi saja. Minggu depannya sudah langsung dimuat setelah foto dilengkapi.

ps : boooo, leletnya internet di ibukota tercintah ini :((. Nanti aja ya diupload fotonya :D. Yang penting…pamer duyuuuuuuu, hahaha :p.

Semoga info tentang artikel jalan-jalan ke Kartini nya membantu ya ^_^.

updated : dah mendarat di Jeddah lagi 2 hari kemarin. Ini foto bukti tayangnya di Kartini.

Thaif di Kartini edisi terbaru )

 

Challenge What The Future Holds!

by : Jihan Davincka

***

Saya termasuk beruntung. Dalam hitungan hari setelah sidang terakhir penentuan kelulusan, saya diterima bekerja. Bulan April 2002, saya sudah mendapat kepastian diterima bekerja. Jadi, ketika menghadiri wisuda di bulan September di tahun yang sama, saya sudah berstatus sebagai pegawai.

Tempat kerja pertama ini yang meninggalkan kesan paling dalam. As they said, “First love never ends.”

Kantornya di Cikini, tepat di depan stasiun kereta. Hanya membayar abonemen 45 ribu sebulan (bisa naik kereta sepuasnya), saya tinggal menyeberang jalan dari stasiun menuju lobi kantor.

Pertama kali ditempatkan dalam ruangan di lantai 8. Nama ruangannya 8C. Diisi 8 orang. Perempuannya cuma satu :P. Sebagai pekerja IT di awal tahun 2000-an, kondisi seperti ini sudah biasa. Sekarang sih, alhamdulillah, sudah banyak pekerja IT perempuan :).

Kalau makan siang, serasa tuan puteri dikelilingi pengawal :D. Bila hari jumat tiba, sebagian salat jumat di masjid. Sebagian lagi, yang non muslim, biasanya makan di tempat yang agak jauh. Mesti pakai acara nyetir gitu lah. Saya biasanya tetap memilih makan di sekitar kantor.

Nah, saat berjalan sendiri itu sering dibecandain teman-teman dari divisi lain, “bodyguardnya mana?” :D.

***

Di penghujung tahun 2005, saya pindah ke perusahaan lain. Kantornya di gedung BEJ. Tapi di sana tak lama. Cuma sekitar 6 bulan.

Baru sebulan masuk, saya sudah mendapat telepon dari sebuah perusahaan besar yang saya impi-impikan. Tiba-tiba tak ada kabar lagi. Saya pikir saya gagal. Tapi 3 bulan kemudian, ada telepon lagi. Kali ini tes kesehatan dan interview terakhir.

Bulan juni 2006, saya resmi menjadi karyawan di salah satu perusahaan consumer goods terbesar di Indonesia. Sebuah perusahaan yang bikin penasaran karena beberapa kali memenangkan award sebagai “The Most Admired Company” di Indonesia.

Masih ingat betul memasuki lobi kantor yang sangat megah saat interview terakhir, tak sadar dalam hati berbisik, “Kalau diterima, gak mau pindah-pindah lagi.” Intinya, “I wanna grow old here!” Segitunya, ahahahaha.

Memang benar, selama kerja di sana, saya nyaris tak pernah melamar lagi di perusahaan lain.

Semasa masih gadis, saya berangkat kantor sebelum jam 6 pagi. Menghabiskan waktu sejam terlebih dahulu di gym kantor, yang disediakan gratis buat seluruh karyawan di lantai paling atas. Setelah itu, baru deh mandi di kamar mandinya yang super komplit. Benar-benar tinggal bawa baju ganti. Mulai dari handuk, sabun, sampai hair dryer, tinggal comot saja. Ada fasilitas sauna segala, lho ;).

Usai cuti melahirkan anak pertama, kembali masuk kerja dengan rutinitas tambahan : memeras ASI. Kalau ibu-ibu lain mungkin mengeluh harus penuh perjuangan memeras ASI di toilet kantor, kantor saya menyediakan nursery room yang sangat nyaman, luas dan fasilitas lengkap. Di salah satu pojok ruangan diletakkan sebuah kulkas untuk menitipkan ASI sebelum dibawa pulang.

Tapi sejak punya anak memang mendadak galau. Padahal ASI ekslusif biarpun susah awalnya, namun akhirnya menuai kesuksesan. Di hari-hari terakhir sebelum mengambil keputusan penting, pekerjaan di kantor sedang padat-padatnya. Hari libur pun masuk.

Setelah berpikir selama berbulan-bulan, saya akhirnya yakin untuk duduk di hadapan bos sambil menyerahkan surat resign saya. Untuk saya pribadi, keputusan resign adalah yang terbaik kala itu.

***

Hari terakhir resign biasa saja. Saya sengaja memilih tanggal resign dimana saat itu rekan-rekan satu divisi sedang Annual Conference di Bali. Saya ikut juga, sih hihihihihi. Hari terakhir ngantor dilewati dengan hepi-hepi di Nusa Dua :P.

Saya pulang lebih awal dari Bali. Eskoknya, di hari jumat, saat lantai tempat saya nyaris kosong, saya duduk sendirian menyusun farewell letter buat teman-teman.

Hari sabtunya, kantor libur. Saya minta suami menemani ke kantor untuk mengangkut sisa-sisa barang yang masih tersisa di meja.

Waktu memasuki lobi masih ketawa-ketawa. Sambil menerangkan ini itu kepada suami yang memang cukup terpesona dengan kemegahan kantor saya :P.

Tiba di lantai 7, waktu lift baru membuka pun masih sempat-sempatnya bersongong-songong ria, “Lihat nih Bang, ruanganku. Keren, ya. Tiap lantai beda-beda interiornya. Lantaiku mungkin temanya apa ya… outer space mungkin…”

Sementara suami sibuk lihat-lihat, saya berjalan menuju meja saya. Baru duduk sebentar, eeehhh…tahu-tahu mewek. Ahahahahaha. I really didn’t see this coming.

Suami sadar terus mendekat, “Take your time. Aku tunggu di bawah aja, ya.”

Begitu suami sudah menghilang di balik lift, baru deh meweknya lebih khusyuk lagi :P. Satu persatu barang-barang dari atas meja saya taruh dalam kardus. Melongok ke bawah meja, mewek lagi, lihat Reebok abu-abu yang setia menemani jam-jam fitnes di gym kantor. Drama abissss.

Hari itu resmi meletakkan karir yang dibangun tanpa jeda selama 7 tahun penuh.

***

Saya dari dulu suka iri pada salah seorang kakak saya. Yang nomor 4, pas di atas saya. Waktu tinggal di kontrakan yang sama, dia sering tidur larut.

Pernah saya intip, dia sedang sibuk sendirian dalam kamar. Dia asyik gonta ganji baju-celana-rompi-topi-sepatu-tas. Enggak heran, pekerjaannya memang di dunia wardrobe.

Biarpun didera jam kerja yang cukup panjang dan tidak teratur, dia kelihatan enjoy banget. Pulang larut, kadang tak langsung merebahkan diri di atas kasur. Malah sibuk wara wiri di kamar, membuka tumpukan majalahnya (katanya cari ide), atau sibuk berdandan sendiri depan kaca.

Pekerjaannya adalah wara wiri ke mal-mal besar, berburu busana-tas-sepatu sampai ke pasar loak, bertemu desainer, hingga mengurusi penampilan orang lain. Awalnya saya pesimis ada duitnya gak tuh, tapi dia tetap tekun. Terus meniti karier tanpa beban.

Bahkan, penghasilannya makin lama makin besar. Proud of you ;). Tapi kakak saya mau-mau saja mengerjakan proyek-proyek “thank you” dari teman-temannya. “Gue gak dibayar. Tapi ya, seneng-seneng aja, booo…”

Dia didorong passion yang luar biasa. Hidupnya memang paling bikin iri.

Duh, passion saya sendiri apa, nih? Sesuatu yang membuat kita terus ‘bertahan’ bahkan bila harus dikerjakan tanpa imbalan uang sekali pun.

***

Awal resign, saya rajin bikin kue. Iseng saja. Mana tahu ada bakat hehehe. Hobinya makan coklat. Jadi, ogah mempraktekkan resep lain selain kue coklat dan brownies coklat.

Lalu, rajin mengolah lauk dengan mengandalkan resep-resep online. Eh, lama-lama asisten rumah tangga saya yang tadinya tidak begitu mahir memasak, mendadak jadi jagoan di dapur. Karena sering menemani saya praktek, dia yang lebih getol. Sementara saya sudah makin mengendur semangatnya. Saya bisa memasak, kok. Tapi sebatas kewajiban saja.

Mencoba MLM juga sudah pernah. Tapi ya, mengerjakannya separuh hati. Jadi, saya putuskan berhenti.

***

Saat melangkahkan kaki pulang di hari sabtu itu bersama beberapa kardus berisi barang-barang di kantor yang siap dibawa kembali ke rumah, saya mengira hidup saya akan biasa-biasa saja setelah itu.

I thought, “The door has been closed.” Meksipun butuh 3 tahun kemudian untuk membuktikan pepatah lama, “When one door closes, another opens.”

Siapa sih yang mengira setelah memutuskan berhenti berkarier, banyak pengalaman baru menanti.

Tak lama setelah resign, tak lagi menunggu-nunggu tanggal 21, dimana saldo tabungan akan melonjak secara reguler, rezeki dialirkanNya melalui jalan lain. Obsesi suami selama berbulan-bulan untuk mencari peruntungan ke luar negeri, dikabulkan setelah saya mengajukan surat resign. Hanya 3 minggu setelah saya melewatkan hari terakhir di kantor, suami berangkat ke luar negeri untuk pertama kalinya.

Dan nasib baik terus bergulir hingga akhirnya kami sekeluarga bermukim di kota Jeddah. Di kota yang saya pikir akan menjadikan saya sebagai ‘tahanan rumah’, malah saya menemukan passion sejati saya. Eyke demen menulis ternyata ^_^.

Ini adalah hobi waktu masih kecil. Sudah belasan tahun tak tersentuh. Malah saya sudah lupa pernah punya kebiasaan menulis saat masih kecil dulu.

***

Hidup terlalu singkat untuk digunakan menyesali masa yang sudah lewat. Setahun pertama setelah resign dulu, kadang ada terselip rasa menyesal, “Why am I doing this again?”

Sesekali menyesali, tapi untungnya, harapan terus terpelihara. Selalu meyakini pasti ada sesuatu yang (mungkin) lebih istimewa menanti di depan sana. Tidak tahu apa, tapi insya Allah ada.

Menulis membangkitkan gairah baru. Energi yang jauh lebih besar yang tidak pernah terpikir bisa dicapai. Meskipun penghasilannya belum ada apa-apanya dibanding saat berstatus pegawai swasta, tapi mengerjakannya selalu senang dan semangat, tak ada bosannya. Di blog, di notes, di wall, dimana saja.

Sampai-sampai seorang teman pernah berujar, “Buset deh lu, sekarng kalau bikin status panjang-panjang amat. Pusing tauk bacanya.” Hehehehehe.

Padahal sebenarnya, tiap kali ingin update status saya cuma ingin menyapa dengan satu kalimat. Tapi tangannya nih yang gatel :P.

Seperti kali ini, saya awalnya hanya ingin mengucapkan “Selamat Tahun Baru Hijriah 1434” :).

Dirayakan dalam hati masing-masing saja, ya. Bersyukur diberikan waktu untuk menikmati pergantian tahun lagi. Waspada karena sisa umur akan makin terkikis. Make decisions, take some stands, and set some goals.

“Listen as your day unfolds, challenge what the future holds. Try to keep your head up to the sky.” (Desree, You Gotta Be)

Sekali lagi, “Selamat Tahun Baru Hijriah 1434.” Challenge what your future holds!

challenge blog

***

Cerita Tentang Jeddah-nya Mana, sih?

Ada kooookkkk ^_^.

Khusus untuk Jeddah, saya kumpulkan semua di blog Mamasejagat. Saat ini sudah ada sekitar 40 postingan tentang kota Jeddah, lho. Mulai dari tempat jalan-jalan yang seru, kuliner, gaya hidup, pengalaman melahirkan di Jeddah, sampai tempat membeli abaya, semuanya bisa dicek di Mamasejagat kategori Arab Saudi – Jeddah.

Mamasejagat memang blog komunitas. Kontributornya banyak. Ada belasan orang. Kebetulan yang paling cerewet ‘pegang kunci’ adalah saya, jadinya postingannya paling banyak :D.

Silakan dicek langsung ke TKP untuk tulisan-tulisan saya yang khusus berkisah tentang kota Jeddah dan sekitarnya ;).

Blog mamasejagat di mamasejagat.wordpress.com