Cerpen Femina

[Cerpen Femina] TIGA RAHASIA

Cerpen Femina

(Cerpen Femina dimuat di Femina no.50/2012, oleh redaktur tokoh perokok diedit menjadi klubber. Femina mempunyai kebijakan “against smoking habits”, versi di bawah adalah versi aslinya)

by : Jihan Davincka

***

Mengenakan rok pendek merah menyala, kemeja krem muda, seorang perempuan berambut pendek turun dari sedan mewahnya. Dengan tubuh langsing dan wajah menarik, ia melangkah penuh percaya diri meninggalkan tempat parkir. Beberapa pasang mata ikut mengiringi langkahnya memasuki pintu kafe.

Seorang perempuan berkaus hitam melempar sepuntung rokok yang masih menyisakan bara ke tanah dan menginjaknya kuat-kuat. Dia menepuk-nepuk pahanya, mengibas tangannya ke udara berharap tak ada sisa asap yang menempel di sekujur tubuhnya. Dengan santai, ia membuka pintu kafe dan langsung menebarkan pandangan mencari-cari.

Perempuan dengan terusan warna hijau tua terlihat berlari-lari kecil menuju pintu kafe. Rambut ikal panjangnya yang tergerai ikut melambai-lambai. Sambil berlari, sesekali ia mengangkat lengan kiri, melirik jam tangan yang melingkar di sana.

Di suatu sore yang cerah, ketiga perempuan itu duduk bersantai di suatu kafe di sudut jantung ibukota.

***

“Apa kau masih merokok?” si Rambut Ikal menoleh ke arah perempuan berkaus hitam.

“Sudah lama berhenti,” Kaus Hitam menjawab cepat tanpa ragu.

“Hebat kau. Sejak berhenti bekerja, hidupmu malah lebih teratur. Aku dari dulu tak suka melihatmu merokok.”

Kaus Hitam memalingkan wajah ke Rok Merah, “Siapa yang bisa melebihi kehebatan Bu Dokter cantik sepertimu. Eh, apa masih ada pasien yang suka menggodamu?”

Rok Merah tertawa berderai. “Sekarang aku praktik di tempat yang sama dengan suamiku. Mana ada yang berani macam-macam.”

Rambut Ikal bersuara dengan serius, “Wah,wah, kalian berdua sama sibuknya dong sekarang. Aku rasa kau dan suamimu kelelahan melayani pasien. Apa kalian tak ingin segera punya anak?”

“Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi kenapa mesti ngotot?”

“Dan kalian baik-baik saja dengan hal itu? Wow, kau beruntung sekali. Suamiku dari dulu selalu ingin punya anak. Banyak anak kalau bisa. Hahahaha.” Kali ini giliran Rambut Ikal yang tertawa lepas.

“Kau sendiri bagaimana? Dari tadi sibuk bicara tentang orang lain.” Kaus Hitam mengarahkan perhatian ke Rambut Ikal.

“Jadwalku padat sekali akhir-akhir ini. Ah, kalian tak tahu rasanya punya anak 3 dengan kesibukan macam-macam. Sudah tiga bulan ini, tiap akhir pekan aku nyambi menjadi penyiar radio, lho.”

Jawaban Rambut Ikal membuat kedua temannya memekik perlahan, “wow…”

Kaus Hitam terdengar merajuk, “kenapa baru cerita, sih?”

“Aku tiap hari berkicau di twitterku. Kalian ini yang ketinggalan berita. Kenapa sih tidak aktif di media sosial?”

“Tak ada waktu.” Jawab Rok Merah cepat.

Kaus Hitam menyambung, “anakku masih kecil-kecil. Kalau di rumah rasanya seharian tak cukup menemani mereka. Energimu benar-benar luar biasa.”

Lalu, Rambut Ikal bercerita panjang lebar tentang profesi tambahan barunya. Betapa senangnya mendapat teman-teman baru. Honor tambahan yang jumlahnya tidak sedikit. Terbawa pergaulan dengan beberapa selebritis ibukota. Biarpun mereka hitungannya mungkin masih artis papan bawah, belum terlalu tenar.

“Mungkin kapan-kapan, hari sabtu atau minggu siang, abis siaran, kita janjian, yuk. Nanti kukenalkan pada teman-teman baruku.”

Rok Merah langsung menolak, “Wah, tiap akhir pekan, aku pasti ada acara berdua suami.”

Kaus Hitam tak mau kalah, “Akhir pekan ya acara keluarga, dong.”

Rambut Ikal angkat bahu, “Terserah kalian saja.”

Sesekali obrolan mereka terlempar ke masa lalu. Masa-masa belasan tahun yang lalu dimana mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah yang sama. Derai tawa sesekali mengundang pandangan mata dari pengunjung kafe yang lain.

“Kau ingat tidak anak laki-laki kelas sebelah yang mati-matian mengejarmu? Dengar-dengar dia sedang melanjutkan S3 di Eropa. Dia dokter juga, kan? Apa kalian dulu satu kampus?”

Rok Merah tersipu malu sebelum berujar, “Tidak, tidak. Itu cuma gosip, ah. Kampusnya juga beda, kok.”

“Ah, suamimu sekarang kan tak kalah hebatnya. Ngomong-ngomong, apa tak ingin mencoba bayi tabung saja? Mertuamu pasti punya banyak kenalan dokter hebat.”

“Aku kan sudah bilang. Kami baik-baik saja. Tak terlalu memikirkan hal itu. Karier pun sekarang sedang bagus-bagusnya. Tak perlu memusingkan hal yang belum ada, kan?” Rok Merah menjawab diplomatis dengan senyuman bijak.

“Aku iri sekali pada pasangan seperti kalian.”

“Eh, bagaimana denganmu? Apa betah seharian di rumah saja? Mau gak aku kenalkan pada teman-temanku di radio? Kau ini dulu jurnalis, kan?”

“Wah, seharian di rumah bersama anak selalu membuatku berpikir waktuku tak pernah cukup.”

“Ini cuma paruh waktu saja. Mana tahu kau tertarik, coba dulu saja.”

Kaus Hitam menjawab enggan, “Tidak, ah. Aku masih mau menikmati masa-masa santai bersama anak-anak dulu.”

“Aku malah salut padamu. Apa tidak kerepotan dengan kesibukan sepanjang hari? Bagaimana kau bisa punya waktu mengurus ketiga anakmu?”

Rambut Ikal menjawab dengan percaya diri, “itu masalah pengaturan waktu saja. Anak-anak semua tak ada masalah, kok. Semuanya berjalan normal.”

“Kalau akhir pekan kau pun bekerja, kapan kau berlibur dengan anak-anak?”

“Berlibur tidak mesti keluar rumah, kan? Dan tidak mesti akhir pekan. Setiap hari aku selalu punya waktu untuk mereka.”

Kaus Hitam memandang temannya dengan kagum, “Benar-benar supermom.”

Beberapa cangkir kopi sudah hampir kosong. Piring-piring kecil berisi roti dan kue sudah tergeletak tak beraturan. Tapi suara mereka masih terdengar penuh semangat.

Beberapa kali Rambut Ikal nampak memperlihatkan foto anak-anaknya melalui layar ponselnya. Rok Merah tertegun cukup lama sebelum bergumam, “Cantik dan ganteng-ganteng, ya.”

Rambut Ikal tersenyum bangga, “Aku beruntung sekali. Mereka anak-anak yang hebat.”

Kaus Hitam menceritakan dengan detail tingkah pola anak-anaknya di rumah. Dan betapa senangnya menjadi orang yang pertama menyaksikan semua hal-hal kecil namun luar biasa itu. “Kenikmatannya tak bisa diukur dengan uang,” ujarnya penuh semangat.

Rok Merah juga ikut berbagi pengalaman menghadapi berbagai macam pasien. Dan sedikit bergosip mengenai roman picisan antara dokter dan suster yang tidak jarang ditemuinya di rumah sakit.

Kedua temannya nampak tertarik, menyimak dengan serius ucapannya. “Perawat-perawat yang baru masuk, banyak yang mencari-cari kesempatan untuk menggoda dokter-dokter muda.”

Kaus Hitam menggodanya, “Kau yakin kau tak pernah terlibat cinta lokasi seperti itu? Tak pernah naksir dengan teman doktermu yang laki-laki?”

“Eh, aku rasa malah teman dokternya yang tergila-gila padanya.”

Rok Merah mendelik sambil tertawa kecil, “Sembarangan saja kalian. Jangan lupa, aku praktik di rumah sakit yang sama dengan suamiku.”

Lalu, beberapa gelas kaca berisi minuman dingin diantarkan ke meja mereka. Pelayan kafe mengangkat gelas-gelas dan piring-piring kosong dari hadapan mereka. Tapi mereka tetap larut dalam berbagai macam obrolan.

Sekali waktu nampak mereka mengomentari pengunjung lain yang duduk di sekitar mereka. Berbisik-bisik mengenai seorang wanita muda yang nampak duduk gelisah seperti menanti seseorang. Menebak-nebak hubungan antara seorang perempuan yang sudah cukup berumur yang duduk berhadapan dengan seorang pria tampan yang usianya jauh lebih muda.

“Tidak mungkin itu anaknya.” Kaus Hitam berbicara dengan suara rendah.

“Mungkin keponakannya.” Rok Merah mengedipkan matanya.

Rambut Ikal memicingkan mata, “Aneh betul bertemu dengan keponakan sore-sore di kafe seperti ini.”

Lalu mereka saling melempar pandangan. Berusaha menyembunyikan tawa.

Gelap sudah memenuhi langit ketika mereka melangkah keluar dari kafe. Berpelukan di pintu kafe dan berjanji untuk pertemuan berikutnya yang mungkin bisa berlangsung beberapa bulan lagi.

***

Denisa menutup pintu mobil perlahan setelah menghempaskan tubuh ke dalam sedan mewahnya. Perasaannya tak menentu mengingat kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya tadi. “”Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi kenapa mesti ngotot?”

Profesinya sebagai dokter mungkin sedang meroket. Setelah setahun lalu menggenggam gelar spesialis, resmi menjadi seorang internis, dia mulai ikut praktik di sebuah rumah sakit. Bapak mertuanya, salah seorang dokter ternama di sana, ikut memuluskan jalannya.

Siapa bilang enam tahun mengarungi kehidupan rumah tangga tanpa kehadiran anak membuat dia dan suaminya biasa-biasa saja? Hubungan mereka makin lama malah makin dingin.

Masing-masing tenggelam dalam kesibukan menangani pasien dan terus berburu ilmu yang seolah tiada habisnya untuk profesi yang cukup melelahkan ini. Akhir pekan pun diisi oleh seminar-seminar atau tenggelam dalam tumpukan diktat.

Denisa iri membayangkan kedua temannya yang sudah punya buah hati. Ada yang punya 3 malah. Kapankah Tuhan memberikan kepercayaan itu? Mungkin kehadiran seorang bayi mungil akan sanggup mengembalikan kehangatan cinta mereka kembali. Airmatanya menitik sambil mengelus-elus perutnya, “Tuhan, beri aku satu saja.”

***

Arumi menghela nafas panjang. Tidak sekali tapi berkali-kali sebelum akhirnya memacu mobilnya meninggalkan halaman kafe.

Memiliki 3 anak, berada di puncak karir sebagai salah satu senior marketing manager, siapa yang tak iri padanya? Bahkan sebagai penyiar saat akhir pekan di salah satu radio wanita ibukota, namanya mulai dilirik.

Tapi siapa yang tahu, semua hanya pelarian terhadap kekecewaannya atas kondisi dua anak terakhirnya. Mereka mungkin tidak cacat tapi mendapat vonis sebagai anak berkebutuhan khusus.

Ditutupnya rapat-rapat cerita ini kepada siapa pun. Dia takut segala puji yang sudah terlanjur disematkan untuknya mungkin akan berbalik. Mereka akan mengarahkan telunjuk menghakimi kepadanya. Seolah ini adalah hukuman atas pilihannya sebagai Ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.

Arumi bahkan tak sanggup menghadapinya langsung. Empat tahun terakhir ini, dia memboyong keluarganya kembali tinggal bersama ibunya. Menitipkan pengawasan anak-anak kepada Ibu dan beberapa pengasuh anak.

Kalau boleh memilih, ingin rasanya melepaskan diri dari pencitraan palsu ini. Yang gencar dihembuskannya melalui media sosial. Ingin rasanya melepaskan diri dari puja puji, melewati waktu yang lebih panjang bersama anak-anak di rumah. Kalau saja Tuhan memutar waktu dan menganugerahkan anak-anak yang normal.

***

Rinjani menutup mata sambil menikmati hisapan rokoknya dalam-dalam. Dibiarkannya kaca jendela terbuka agar asap rokok tak terperangkap dalam mobil.

Dia memang pernah berhasil menjauhi puntung-puntung kenikmatan yang membius ini. Tapi itu dulu. Sejak dua tahun terakhir ini, begitu dia menyudahi masa-masa berkarir, dia gagal menghalau keinginannya untuk kembali merokok.

Berpura-pura menikmati masa-masa berhenti bekerja adalah hal konyol yang sering dilakukannya di hadapan orang lain. Padahal hingga kini, hatinya masih sulit berdamai dengan keputusan besar itu.

Menghabiskan waktu lebih banyak di rumah malah membuatnya merasa terperangkap tak berdaya. Pernah dicobanya untuk menjadi penulis lepas. Sekedar melampiaskan hasratnya yang pernah lama berkarir di bidang jurnalistik. Tapi hasilnya seringkali hanya ampas rokok memenuhi asbak, buku-buku bertebaran di dekat ranjang, dan dokumen di laptop yang tak berhasil diisi oleh satu kata pun.

Kembali ke dunia kerja juga bukan pilihan tepat untuk anak-anak. Suaminya lebih banyak dinas ke luar kota. Kedua balitanya berada di bawah pengawasan asisten rumah tangga dan pengasuh anak. Rinjani lebih suka menghabiskan waktu dalam kamar, atau berjalan-jalan sendiri ke mal, dan sesekali menyambangi salon.

Rinjani membayangkan kehidupan kedua temannya yang mandiri. Dia terbakar iri kepada si dokter cantik. Biarpun tanpa anak, tapi didampingi suami yang sangat pengertian. Ah, seperti apa akhir pekan mereka. Mungkin tiap minggu akan terasa bagai bulan madu.

***

Ketiga perempuan itu menembus padatnya jalanan ibukota, larut dalam keterpurukannya masing-masing. Tanpa menyadari bahwa tiap jalan cerita dalam kehidupan punya rahasianya masing-masing. Bahwa seringkali rumput tetangga tak sehijau yang tampak di hadapan mata.

(TAMAT)

Cerpen Femina yang lainnya bisa dilihat di sini –> Cerpen “Namanya Aryana” oleh Jihan Davincka.

Untuk cerpen “Namanya Aryana” ini sudah ada versi vlognya. Buat yang mau baca cerpennya dengan background musik + gambar, ini dia vlognya :

***

My 2012

2012, again…life is at its best.

I had to admit that 2011 was one of the best years of my life. Apparently, 2012 is not less interesting.

As a mother, faced with two little man who are incredibly growing faster and faster, actually becomes an exceptional experience. Can’t thank God enough for this.

In personal life, a giant step has been taken. Let’s highlight the beginning of 2012 for “Bunda of Arabia.” The process has taught me about faith. The faith that took me farther. I wrote for some national media starting on June. 7 articles have been published during these last 7 months. Thanks, Femina – Republika – Kartini.

As a wife, a great moment has been reached when the husband finally said, “can’t believe you can cook now.” Mom is right as she always says, “It’s just about a matter of habit.” Proudly pronounce that cooking is no longer a specter for me.

As a friend, 2012 has brought me lots of new friends. Some turn into close friends. The coming soon drama was all about leaving them soon :'(. I’m not good in maintaining such this thing. But a promise has been made. Distance won’t beat us, ladies. Friendship lasts forever. I hope you all share the same feeling with me.

As a moslem, 2012 is truly unbelievable. I performed my first umrah at Ramadhan in August. Completed the ritual-hajj with my husband at the end of October. Fabiayyi’ ala irabbikuma tukadzibaan.

As a family, we are facing a big change. Super excited yet very sad. It’s hard to tell but yes, both my husband and I really love Jeddah. It took us a very long discussion to finally accept the offer. It’s surely not an easy one. But decision has been made. Wish us nothing but the best :).

Seems like my every wish and every dream somehow became reality in this year. Thank You, Allah.

Happy new year, everyone! Bring it on, 2013!

my angels jeddah

-Jeddah, 1st January 2013-

Setetes Embun di Majalah Kartini

Kabar gembira nih dari rubrik Setetes Embun di Majalah Kartini ^_^.

Di Facebook, seorang teman men-tag saya di postingannya dengan cover Majalah Kartini. Intinya mengabari kalau tulisan saya ada yang dimuat di sana. Kaget juga. Redaktur sama sekali tidak memberi kabar. Dimuatnya tepat satu edisi setelah edisi yang memuat tulisan jalan-jalan kemarin. Padahal waktu liburan ke Jakarta harusnya sempat beli, tuh. Tapi karena gak tahu ya gak beli hehehe :P.

Belinya yang memuat tulisan jalan-jalan ke Thaif itu saja. Tahu gitu kan bisa beli satu edisi setelahnya lagi :(. Ya sudahlah, tahunya juga belakangan hehehe.

Untungnya di baqala Indonesia (Singaparna) ternyata menjual Kartini edisi ini. Horeeeee… Dimuat di rubrik setetes embun di Majalah Kartini. Akhirnya non fiksi selain tulisan jalan-jalan mulai menemukan jodohnya *tsaaahhh*.

Saya pikir kabar bahagia tentang jejak pena di media cetak sudah berakhir di tahun ini. Ternyata ada lagi. Alhamdulillah.

Terima kasih, Majalah Kartini ;).

Berikut tulisannya ya, naskah asli yang saya kirim ke Majalah Kartini sebagai  berikut (saya modifikasi dari tulisan “Every Mom Has Her Own Battle”, ganti-ganti katanya dikit biar lebih formal ^-^)  :

Ini dia

Contoh Tulisan Setetes Embun di Majalah Kartini

***

Salah satu ‘perang dingin’ yang tak kunjung usai antara sesama ibu-ibu adalah masalah SAHM vs WM. (Stay at Home Mom vs Working Mom).

Ibu Pekerja akan jumawa memamerkan dirinya sebagai potret emansipasi. Punya uang sendiri, berdiri di atas kaki sendiri. Merasa menampilkan wajah modern perempuan terkini.

Sedangkan Ibu Rumah Tangga akan membanggakan baktinya sebagai potret sejati seorang Ibu. Tinggal di rumah, merawat anak langsung dengan tangan sendiri adalah pekerjaan mulia tiada terkira. Dengan keyakinan penuh bahwa surgalah balasannya kelak.

Dan akhir-akhir ini, kancah pertarungan diramaikan oleh pendatang baru. Ibu yang tinggal di rumah namun tetap berbisnis dan menghasilkan uang.

Yang satu mengatasnamakan kemandirian. Ada yang merasa berhak atas surga. Dan ada yang merasa sebagai pemenang sejati, menggenggam kemandirian sekaligus berperan aktif dalam rumah sepanjang hari.

Parenting style itu unik tiap keluarga. Saya tidak pernah meragukan itu. Saya tidak percaya jika lebih banyak SAHM yang berhasil mengantar anak-anaknya ke gerbang kesuksesan. Sekaligus tidak meyakini sepenuhnya bahwa para WM harus mengorbankan keluarganya demi karier.

Ibu saya tidak di rumah sepanjang waktu. Mama panggilannya. Saya ingat betul saat pulang sekolah dulu, bukan Mama yang menyiapkan makanan di meja. Bukan wajahnya yang pertama kali muncul saat saya membuka mata setelah waktu tidur siang usai. Yang meladeni saya berganti-ganti.

Tapi saya tidak pernah lupa yang mana Mama saya. Apalagi berniat memanggil yang berganti-ganti itu dengan sebutan ‘Mama’. Tidak pernah. Kalau waktu bisa berjalan mundur pun, saya tidak akan meminta agar Mama sepanjang hari di rumah bersama kami.

Salah satu kerabat yang saya kenal juga berprofesi sebagai Ibu Kantoran. Dari awal perkawinan hingga detik ini. Ketiga anak-anaknya tumbuh diatas rata-rata. Yang bungsu kini tengah menempuh pendidikan kedokteran di universitas negeri ternama di tanah air. Kakak-kakaknya tidak kalah hebatnya secara akademis maupun non akademis.

Dan ada beberapa kerabat yang memilih jalur ’Ibu Rumah Tangga’. Tapi kenyataan membuktikan anak-anaknya malah belum mampu berdiri secara tegak bahkan ketika mereka telah memasuki gerbang pernikahan.

Tapi ketika saya memutuskan mengakhiri status sebagai Ibu Kantoran 3 tahun yang lalu bukan karena figur mana pun. Itu pilihan saya pribadi. Buat saya, itu adalah pilihan terbaik yang paling cocok untuk saya. Belum tentu buat orang lain.Tentu banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Tidak 100%  kerelaan langsung berlabuh dalam hati.

***

Tak perlu mencibir Ibu Kantoran yang menghabiskan banyak waktu di kantor. Sementara anak mungkin dititipkan kepada pengasuh atau kerabat.

Jangan lupa, sepanjang hari di kantor, statusnya sebagai Ibu tidak dilepas begitu saja. Subuh-subuh sudah harus bangun mempersiapkan makanan si kecil. Pagi – siang – sore menelepon ke rumah mengecek si kecil di sela-sela kesibukan kantor.

Jangan menghakiminya. Belajar saja akan ketangguhannya membagi waktu. Kekuatan hati yang tanpa batas untuk senantiasa membagi pikiran antara pekerjaan di kantor vs pekerjaan di rumah.

Jangan meremehkan para Ibu yang memilih untuk tak berbagi dengan siapa pun dalam pengasuhan anak dan urusan rumah tangga. Sekali pun mungkin mereka pernah mengenyam pendidikan yang cukup tinggi.

Sepanjang hari di rumah bersama anak tidak hanya menggunakan kekuatan fisik saja, batin juga mesti kuat ya. Jangan anggap sepele, ambil saja hikmah kesabaran seluas samudera yang dimiliki mereka, yang memilih jalan ini.

Jadi, intinya bukan di seberapa banyak waktu yang diluangkan untuk keluarga. Apa artinya bila pilihan itu tak bermakna dan malah menjadi bumerang?

Relakah meletakkan karier demi anak tapi sepanjang hari meratapi pilihan itu?

Apa sanggup setiap hari menghabiskan waktu di belakang meja, tapi tak kunjung rela bila membayangkan anak harus berada di tangan orang lain? Sebesar apa pun keinginan untuk membahagiakan anak dan keluarga, jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.

Apa yang coba ditawarkan kepada mereka, jika kita sendiri telah merasa kebahagiaan kita telah tercabut dari akarnya? Ingat petunjuk keselamatan dalam pesawat untuk pertolongan pertama saat sirine tanda bahaya berbunyi, “Selamatkan diri Anda terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain.”

***

“Surga dibawah telapak kaki Ibu.” Bukan di bawah telapak kaki Ibu Rumah Tangga, Ibu Pekerja Kantoran, atau Ibu Pengusaham bahkan Ibu Pelajar. Tapi di telapak kaki (semua) Ibu.

Semua pasti ada pengorbanannya. Setiap Ibu punya pertaruhan masing-masing. Menangkan pertempuran yang Anda pilih tanpa perlu nyinyir terhadap mereka yang memilih jalan ’lain’.

***

Tertarik mengirim ke rubrik Setetes embun di Majalah Kartini? Kirim saja ke email redaksi_kartini@yahoo.com ;).

 

Artikel Tentang Ibu : The Strengths You Did Not Know That You Had

Salah satu artikel tentang ibu saya : Mundur sejenak ke 14 tahun lalu. Tahun 1998. Bulan Juli yang cerah, saya sedang berada di atas kapal laut bersama Mama. Hendak memulai takdir baru menjadi anak sekolahan di rantau :D.

Suatu siang di kamar kami :

“Wah, mau ke Jakarta juga? Ini anak sulungnya ya, Bu?” seorang Ibu yang juga menghuni kamar yang sama menyapa Mama saya.

“Oh, bukan, bukan. Ini anak gadis pertama. Tapi kakaknya ada 4. Laki-laki semua.”

Ibu yang bertanya nampak bengong sebentar. “Ke-5? Ya ampun, beda usianya setahun-setahun ya, Bu? Rapet jaraknya?”

Mama nyengir santai. “Tidaklah. Selisihnya rata-rata 3 tahun. Ada yang hampir 4 tahun. 2 tahunan juga ada. Ini masih ada adiknya lho 2 orang.”

Saya rasa setelah itu si Ibu yang bertanya sibuk menerka-nerka, Ibu di hadapannya, yang sedang sibuk mengukir alis sepanjang percakapan (hihihihihi), menikah umur berapa, ya? =)).

Indeed :). Ibu saya menikah di usia 15 tahun. Tak sempat menggenggam ijazah SMP, Nenek sudah keburu menerima lamaran seorang pemuda untuknya.

Sejak menikah, langsung dibawa ke kota Makassar (dulu Ujung Pandang) oleh Bapak yang tengah merintis usaha di sana. Jauh dari orang tua, Mama melahirkan anak pertamanya di usia 16.

Dan bertahun-tahun setelahnya lahirlah kakak saya yang ke-2, yang ternyata kembar namun tak bertahan hidup. Kakak ke-3, 4, dan 5. Jadi, sebelum saya Mama sudah melahirkan 5 kali. Dan setelah saya, melahirkan 2 kali lagi. Terakhir di usia 39 tahun. Semuanya normal spontan. Semuanya lahir di kota, tidak pernah pulang ke kampung ke tempat Nenek. Mari ngelap keringat bersama-sama hehehehe.

Istimewanya, kerabat perempuan yang seusia Mama tidak banyak yang menikah muda. Mama saya punya saudara kembar. Mereka pernah hamil hampir berbarengan. Tante hamil anak pertama, Mama hamil anak ke-6! Jadi, Mama sudah mulai mantu, tante-tante lain masih sibuk dengan ABG-ABGnya. Yyyiiiuuukkkk.

artikel tentang ibu
Foto keluarga tahun 2005. Sayangnya, minus si sulung :(.

Itu belum ada apa-apanya. Semasa masih gadis, lupa kapan, saya pernah membaca berita tentang seorang penjual pecel di stasiun. Anaknya 13. Yang membuat saya melongo adalah isi beritanya. Disebutkan sehabis melahirkan anaknya yang ke-13 di malam hari sekitar pukul 10 malam, subuh harinya, 7 jam kemudian, si Ibu sudah absen kemabli di stasiun. Siap dengan pecel buatannya :'(.

Isu kedua cerita di atas merembet dari isu menikah muda, hingga memberi jarak kelahiran, isu-isu sosial, sampai isu how does she raise her children? Tapi pertanyaan besarnya : HOW DO THEY GET THE STRENGTH TO GO THROUGH IT?

***

Saya tidak suka anak-anak. Misalnya saja ketika adik bungsu saya lahir. Usianya berjarak 11 tahun dengan saya. Adik saya yang perempuan (disingkat jadi Buntel aja, ya) yang sayang banget. Saat Mama melahirkan, Buntel ikut jagain dan menginap di rumah sakit hingga Mama pulang ke rumah.

Kakak yang lain pun senang menggodanya. Saya? Huh, tak usah, ya. Dengerin dia nangis malam-malam, saya ikut gelisah. Menggerutu karena jam tidur malam terganggu. Suatu kali Mama harus keluar, tak ada orang lain di rumah, si bungsu nampak shock ditinggal berdua dengan saya. Nah lo, nah lo, ahahahahahaha.

Makanya sampai sekarang, saya tak pernah menjadi ‘magnet’ buat anak kecil mana pun. Yang paling friendly sekalipun. Tapi untuk anak sendiri? Ho ho ho.

Saya menyimpan kegelisahan ini sebelum hamil anak pertama. But everything is as easy as it says. Jangankan pas lahir, dari awal tahu ada dua garis di atas test pack, rasa cinta itu tumbuh subur tak terbendung.

Proses kelahiran anak ke-2 yang sempat menggalau. Belum genap dua bulan di Jeddah, saya positif hamil. Memang niat, kok ;). Maboknya jangan ditanya. Sejak hamil muda rasanya sudah ingin pulang ke tanah air, bermanja-manja pada Mama :P.

Apalagi ketika usia kandungan 6 bulan, dapat kabar positif baik Mama dan Mami, tak ada yang bisa didatangkan untuk menemani saya. Tidaaaakkkkk.

Sebagai istri, bukan cuma anak dan diri sendiri yang harus dipikirkan. Sebagai muslim, ketika berani menerima pinangan seorang pria, prdikat istri mengikat janji untuk setia pada suami. Saya pun dulu sulit menerima nasihat, “Kesetiaan istri nomor satu pada suami.” Seiring berjalannya waktu, saya mulai paham betapa indahnya Islam :).

Saya teringat perjuangan suami memboyong saya dan si sulung ke Jeddah. 11 bulan kami ‘dipermainkan’ oleh agen, diberi janji-janji surga akan diberikan iqama (resident permit).

Saya hepi-hepi di Jakarta, banyak saudara, bisa ngider kemana-mana, duit kurang? tinggal ngadu lewat sms (hihihihi). Sementara suami menanggung rindu pada kami :'(.

Masa iya, baru dua bulan bersama, saya hamil, saya harus memutuskan hengkang ke tanah air lagi? Harus berani, pikir saya. Ucapan suami membakar semangat, “Aku siap bantu apa pun.”

Begitu tekad sudah dipupuk, voilaaaa… kekuatan itu datang sendiri :). Tentu mentalnya naik turun, ya. Seperti hormon yang gak stabil. Tapi kenyataannya, sukses melahirkan anak ke-2 tanpa sanak keluarga sama sekali. Hanya meminta tambahan tenaga dari asisten rumah tangga 3x seminggu, 4 jam sehari.

Betapa malunya segitu saja sudah merasa hebat. Bagaimana dengan penjual pecel beranak 13 dan Ibunda sendiri yang melahirkan hingga 8 kali? *plakkk*. Masih harus banyak belajar :'(.

 

***

Tanpa kita sadari, banyak diantara kita yang bertransformasi setelah menjadi Ibu. Yoi dong, “We are the real TRANSFORMERS” :p.

Ibu saya di masa gadisnya, boro-boro deh bisa masak. Konon beliau yang dikawinkan karena malas membantu Nenek menumbuk padi di lumbung. Suka licik. Maunya main sepeda terus. Disuruh memasak, malah kabur berenang ke sungai. Ahahhahaha. Keberanian yang tidak diwariskan pada saya yang sampai sekarang tak bisa berenang dan belum fasih bersepeda roda 2 :P.

Siapa sangka ABG tomboy itu dianugerahi 7 orang anak and she’s just fine ;). Love you, Mama.

Lulus SMP saja tidak, ngotot kalau anak-anaknya harus sarjana juga tidak pernah, tuh. Kepergian Bapak secara mendadak lebih dari 20 tahun yang lalu menciptakan badai ekonomi yang hebat. Tapi rezeki datangnya dari Allah, orang tua cuma perantara :).

5 dari kami menggenggam ijazah dari perguruan tinggi negeri. 1 orang memutuskan sendiri untuk berhenti di bangku SMA. Dan si bungsu sudah di tahun terakhirnya di bangku kuliah.

Selamat hari Ibu untuk Mamaku yang keren ;). Untuk Ibu Mertua, biarpun hubungan tak semulus jalan tol, rasa iri tak pernah luntur. Terima kasih ya Mami, sudah membesarkan anak-anak yang hebat untuk para menantumu ini hehehe. Semoga waktu kelak menghapus segala kesalahpahaman yang pernah, sedang, dan akan datang.

Untuk para sahabat yang masih berjuang meretas jalan merebut status Ibu. Allah Mahabesar. Iringi selalu perjuangan dengan munajat padaNya, ya :).

Untuk teman-teman yang jauh dari tanah air, yang kerap bermimpi membawa segala kerempongan kita balik ke pangkuan Ibunda tercinta, we know we can do it, rite? Tossss. Sharing lah di Mamasejagat *eaaaahhhh*.

As long as we believe, we can make it through…everything! Insya Allah.

“Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had, and dealing with fears you didn’t know existed.” ~Linda Wooten

Yes, it surely is :). Selamat hari Ibu.

***

Cerpen Femina

Cerpen (Lagi) di Femina

Akhirnya, ada (lagi) cerpen yang dimuat hehehe. Kali ini “Tiga Rahasia”, dimuat di Femina terbaru minggu ini. Edisi no.50/2012, 22-28 desember 2012, edar hari rabu 20 desember.

Menambah semangat untuk terus nulis-nulis fiksi. Biarpun nampaknya hokinya gak sebagus tulisan jalan-jalan, yang begitu dikirim, biasanya langsung dapet respons :D. Tapi kalau mau jujur, eyke lebih doyan emang bikin fiksi. Mungkin karena senang mengkhayal, ratu drama pula. Cucoklah ya hihihihi.

Naskahnya diedit sedikit oleh redaktur. Ada tiga tokoh dalam tulisan ini. Tokoh yang saya gambarkan gemar merokok diganti menjadi klubber. Ternyata redaktur cerpen di Femina memiliki aturan “against smoking habits” :). Sip deh, gak masalah, alur ceritanya tetap sama.

Kayak apa cerpennya? Diposting minggu depan yaaaaaaa. Ada baiknya sih beli aja majalah Feminanya minggu ini *maeninBuluMata*.

Alhamdulillah cerpen ini adalah tulisan ke-7 yang dimuat di media cetak nasional.  Not bad ya, targetnya sih 10 ahahahahahaha *tidakTahuDiri :P*.  Mulai nekad sok-sok kirim ke media cetak dimulai dari Juni tahun ini, sekitar 6 bulan yang lalu. Terima kasih untuk Femina (memuat tulisan saya 3x dalam kurun waktu 6 bulan ini, Republika (memuat 2 dalam setengah tahun ini), juga Kartini dan Pikiran Rakyat (eh, ini media cetak khusus Jabar, deng :P).

2013? Bikin buku (lagiiiiiiii)!!! Yyyiiiuuuuuukkkk ;;).

cerpen-tiga-rahasia-femina-no-50.jpg

Btw, cerpen di Femina “Tiga Rahasia” ini … adakah salah satu tokoh yang merupakan cerminan diri sendiri? Ummm … enggak sih, ya. Mungkin tokoh yang berhenti bekerja dan ingin menjadi penulis itu disangka mirip. Padahal enggak banget. Secara yang bersangkutan memang jurnalis. Sementara di sindang kan penulis-penulis gitu-gitu doang :D.

Dua tokoh lainnya itu terinspirasi dari teman atau kerabat di sekitar. Tapi itu juga enggak mirip-mirip banget. Dikasih bumbu-bumbu sana sini.

Itulah menyenangkannya menulis fiksi ^_^. Bisa punya tokoh khayalan sesuka hati, hahahha. Bisa juga berusaha menciptakan tokoh yang diinginkan yang tidak kesampaian di diri sendiri mungkin? :p.

Kalau disuruh memilih, fiksii atau non fiksi? Alamak, yang mana-mana yang banyak duitnya lah ya hahahahahaha. Tapi cerpen di Femina termasuk yang dokunya lumayan emang ;).

Oh ya, untuk Cerpen Majalah Femina yang judulnya “Namanya Aryana”, sudah ada versi vlognya, yah. Yuks, buat yang mau baca cerpen dengan background gambar + musik selowwwww hehehehe :