My First Love, Tehran :)

by : Jihan Davincka

***

Sebelum benar-benar ke sana, bayangan saya tentang Timur Tengah memang kurang menyenangkan. Ada, sih, beberapa negara yang ingin saya datangi. Seperti misalnya Emirat yang terkenal dengan kota-kota berkonsep modern-internasionalnya (eg : Dubai dan Abu Dhabi).

Gambar : www.islamicinvitationturkey.com
Gambar : www.islamicinvitationturkey.com

Tapi saat kesempatan untuk tinggal di luar negeri benar-benar datang, sungguh tak menduga kota pertama yang harus saya datangi adalah…Tehran! Maaakkk, kota apaan, tuh?

Selain Tehran adalah ibukota negara Iran, satu-satunya hal yang saya tahu tentang Negeri Persia ini adalah nama presidennya yang sempat menebar wangi semerbak di tanah air di periode awal kepemimpinannya, Ahmadinejad.

Lucu ya, sekarang banyak hujatan kepada Persia si Negara Syiah. Sementara dulu, Ahmadinejad dipuja puji bak pahlawan. Hehehehe. It’s funny that how easy we are manipulated by news :D.

***

Kota Tehran bukan tujuan wisata yang umum bagi orang-orang Indonesia. Tak banyak pula warga Indonesia yang bermukim di sana. Uniknya, dengan bantuan Google, saya malah banyak menemukan curahan hati perempuan-perempuan asli Iran yang sudah hengkang ke negara Amerika.

Mereka menuduh pemerintahan Iran yang dianggap terlalu mengekang kaum perempuannya. Cara berpakaiannya pun diatur-atur. Duile, malah membuat semakin takut. Di tahun 2009 itu pula, Iran sedang seru-serunya berseteru dengan duet maut (Israel-USA) di media massa. Beberapa blog tentang kota Tehran kena blokir. Jadi makin takut.

Pernah ada kejadian, lupa deh, entah serangan bom atau apa di wilayah Israel oleh Palestina. Sewaktu suami sudah ke sana dan saatnya saya dan Abil harus ikut, sempat terjadi percakapan konyol,

“Bang, kena bom entar gimana?”

Suami saya heran, “Bom apa, sih?”

“Itu, Bang. Ada bom di Palestina apa Israel gitu.”

Suami langsung ngakak. “Bisa lihat peta, kan? Iran itu di mana? Dekat apa?”

Saya tetap bersikeras, “Ya kan sama-sama Middle East.”

“Makassar dari Jakarta jauh, enggak? Aceh dari Jakarta jauh, enggak? Pluit dari Pejaten aja jauh.” Suami saya menjawab sambil meledek.

Hehehehe. Saking takutnya, hilang sudah pikiran-pikiran rasional. Mengingat ini kesempatan untuk melancong ke luar negeri untuk pertama kalinya, saya berusaha menumbuhkan rasa semangat  dalam hati. Biarpun sesekali mengeluh, “Ya Tuhan, kenapa Tehran, sih?”

***

Hanya butuh waktu beberapa detik untuk jatuh cinta seketika pada kota cantik yang ternyata memiliki 4 musim dan bersalju ini! Maklum cing, waktu itu masih norak-noraknya sama salju. Sekarang sih, ampun dijeeeeeeeee :P.

Begitu keluar dari bandara, saat taksi sudah melesat memasuki jalan, saya sudah takjub. Tidak pernah membayangkan kalau Timur Tengah bisa sehijau itu. Tahunya kan Timur Tengah = Gurun Pasir :P.

Mendekati pusat kota makin hijau. Pohon-pohonnya tertata rapi dan berwarna warni. Betul-betul dibentuk aneka rupa. Satu lagi yang langsung menarik perhatian, kota Tehran ini KEBERSIHANnya juara banget!

Bahkan bila dibandingkan dengan kota kecil Athlone di salah satu  negara maju Eropa ini, Tehran masih lebih bersih :).

Tehran memiliki sistem pengairan yang sama dengan Indonesia. Saluran-saluran airnya tidak terletak di bawah tanah. Tapi di pinggir-pinggir jalan (got maksudnya hehehehe). Tapi selokan-selokannya lebih lebar. Saking bersihnya, pandangan kita  bisa menembus airnya yang  jernih hingga ke dasar saluran.

Sewaktu di Tehran kami mendapat apartemen yang mewah banget :D. Saya datang di bulan Juni, ketika puncak-puncak pegunungan yang mengelilingi kota Tehran masih berselimutkan salju nan tipis. Musim semi tengah berada di puncaknya. Tehran yang memiliki banyak sekali taman-taman bunga yang mahaluas dan mahaindah berada di puncak keindahan alamnya.

Ada dua taman favorit saya, Mellat Park dan Sai Park. Keduanya terletak di Vanak Street, jantung kota yang tak jauh dari posisi gedung apartemen.

Mellat Park
Mellat Park

Transportasi publik di Tehran dibangun dengan rapi dan teratur. Mulai dari bis, taksi hingga subway. Subwaynya mereka sebut Metro. Keren dan tentu saja…bersih ;). Sebagai Negeri berbasis agama (Islam-Syiah), tempat-tempat publik selalu memisahkan antara perempuan dan laki-laki. Termasuk dalam bis atau metro.

Tak terlalu perlu memiliki mobil karena cukup nyaman kemana-mana berjalan kaki atau naik taksi. Ada taksi murah, lho. Namanya “mustaqim”. Taksinya melewati jalur-jalur tertentu saja dan bisa dinaiki oleh siapa saja asalkan belum penuh. Murah sekali. Cuma 1000-3000 rupiah per rute.

tehrn clothersAturan berpakaian juga ada di Tehran. Tapi tidak seketat Saudi. Di Iran, perempuan boleh bercelana jeans atau celana apa pun. Asalkan bajunya lengan panjang dan memanjang hingga menutup minimal setengah bagian paha.

Rambut mesti ditutup kerudung, tak mengapa bila rambut terlihat. Ini aturan umum yang berlaku buat SEMUA PEREMPUAN, baik muslim maupun non muslim.

Perempuan bebas bekerja di Iran. Bebas menyetir sendiri. Preman-preman lho para pengemudi perempuan di sana hehehehe. Obat-obatan yang dijual di apotik sangat murah. Waktu itu Abil sempat sakit mata. Masa harga obatnya cuma 14 ribu rupiah, sudah termasuk obat tetes + salep + obat minum (terserang bakteri jadi ada semacam antibiotik minum juga).

Satu hal yang cukup menyiksa adalah urusan perut. Waktu itu belum semahir sekarang dalam urusan dapur :D. Tapi di Tehran tidak ada gerai-gerai internasional asing yang umum terdapat di tanah air dan kota-kota besar dunia lainnya. Tidak McD, tidak ada KFC, tidak ada Pizza Hut. Intinya, embargo ekonomi US tidak mengizinkan gerai-gerai Amerika berdiri di seluruh penjuru Iran.

Makanan khas mereka nyaris tidak ada rasa. Ada sih gerai internasional dari Eropa, tapi kan tidak populer di tanah air.

Di salah satu sudut kota kami sempat melewati sebuah lahan luas yang masih dihuni sebuah bangunan yang sudah rusak separuh.

“Ini tempat apa, Bang?” Tanya saya ke suami.

“Nah, ini dulu kedutaan Amerika Serikat. Habis revolusi Iran, mereka cabut. Gedungnya dibiarin  begitu saja.”

Tapi harga-harga pokok di Tehran relatif mahal-mahal. Susu dan coklat saja yang harganya murah. Satu lagi hal yang  mengagumkan dari Negeri Para Mullah ini, TAK ADA PENGEMIS SAMA SEKALI! Tapi soal keramahan orang-orangnya, sebelas dua belas deh sama orang-orang Arab hehehe. Sama songongnya :P.

Kotanya berhasil mencuri hati seketika kaki melangkah keluar dari bandara, tapi sayangnya, rezeki pekerjaan tidak mulus. Suami memutuskan untuk mencari peruntungan di tempat lain. Saat itu harapan kembali merekah. Sewaktu kami sekeluarga masih di Tehran, kabar baik malah  datang dari Jeddah. Lagi-lagi Timur Tengah. Ya sudahlah.

***

Meskipun banyak episode-episode terbaik dalam hidup saya malah bertempat di Jeddah, tapi Tehran ini ‘cinta pertama’ hehehehe. Hanya ingin berbagi soal salah satu kota tercantik di dunia ini. Pesonanya yang nyaris tenggelam dengan maraknya pertentangan yang menyoroti paham Syiahnya.

Padahal kalau mau jujur, dalam hati kurang suka dengan suasana Jeddah yang sangat kental kapitalisnya. Kelebihannya yang hanya bisa dinikmati secara maksimal oleh mereka yang memiliki materi lebih.

Makanya, selalu ada dua sisi tentang Negeri Saudi yang mampir ke telinga kita.

Jangan bingung, begitulah gemerlapnya Saudi, yang sering dianggap perwakilan mayoritas Sunni. Di satu sisi membuat banyak hal terlihat indah. Di saat yang sama, menggoreskan sakit hati yang tidak sedikit bagi beberapa pendatang yang kurang beruntung :(.

It doesn’t feel right. Terutama bagi saya, yang pernah dimanjakan oleh indahnya kehidupan di ibukota Persia, penganut paham Syiah paling populer di dunia. Pernah menjadi bagian dari ‘beberapa hal tidak menyenangkan’ yang menjadi fakta-fakta dari kota Jeddah. Jeddah, kota terbesar ke-2 di Saudi, yang sering dijadikan kiblat kaum Sunni.

Kalau saya pribadi, lebih suka menyoroti ketidaksukaan saya pada kaum ‘kapitalis’. Tidak sreg dengan ‘kapitalisme’. Sebuah paham yang mengajarkan bahwa uang adalah segala-galanya. Bahwa harga diri kita adalah apa yang kita pakai. Yang menjurus pada tampil mentereng adalah kewajiban untuk mendapatkan penghormatan dari orang lain. Dalam  memilih alat penunjang hidup, kita mulai menafikan fungsi dan kenyamanan. Merek dan gengsi lebih dipertimbangkan.

Kedengarannya sepele. Padahal semua penghargaan yang terlampau tinggi pada MATERI ini adalah dasar dari begitu banyak bencana yang telah (dan mungkin akan) menimpa kita semua.

Jangan lupa sambangi tulisan-tulisan saya tentang Kota Jeddah  juga ya hehehe ;).

***

Watch Your Step, Ladies!

Model Sepatu, dari Impian Kanak-kanak Hingga Dewasa

Di usia belasan, saya sering membayangkan diri saya sepuluh tahun ke depan. Dengan lipstik merah di bibir, memakai blazer ke kantor dan tentu saja memakai sepatu high heels kemana-mana. Menurut saya kala itu, high heels merupakan salah satu aksesoris penting untuk memasuki gerbang kedewasaan.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Saya pernah  bergaya di depan kaca dengan koleksi sepatu berhak tinggi punya Ibu. Berusaha menyeimbangkan langkah ketika berjalan. Tapi seringkali percobaan demi percobaan berakhir dengan kaki terasa pegal. Saya bingung mengapa banyak perempuan dewasa yang bisa bertahan begitu lama dengan beralaskan sepatu model ini, ya? “Ah, nanti kalau sudah besar pasti akan otomatis terbiasa,” pikir saya.

Memasuki gerbang universitas, salah satu kakak saya yang penggila fashion  membelikan sepasang sepatu baru. Sol sepatunya tinggi tapi tebal merata dan tidak runcing seperti biasanya. Ketika dipakai jauh lebih nyaman. Belakangan saya tahu, namanya wedges.

 

Saya langsung merasa cocok dengan wedges. Tapi pada akhirnya di kampus saya lebih sering memakai sepatu kets. Dari tempat kos, saya mesti berjalan cukup jauh untuk mengambil bis menuju ke kampus. Begitu pula saat pulang. Kadang-kadang jalanan yang saya lewati tergenang sisa-sisa air hujan, sering pula jalannya becek. Sepatu kets pilihan yang paling tepat.

Mengawali kehidupan baru sebagai karyawati di perusahaan swasta, mulai ingat lagi dengan bayangan masa kecil. Saatnya mengenakan high heels? Lagi-lagi situasi dan kondisi yang tidak kunjung tepat. Dahsyatnya kemacetan ibukota memaksa saya mengandalkan transportasi kereta. Ditambah lagi posisi kantor dan tempat kos yang sangat dekat dari stasiun.

Tentu saja pesona kereta yang ‘anti macet’ tak cuma memikat saya, tapi juga menjadi pilihan utama ratusan ribu penumpang lainnya. Saat jam pergi dan pulang kantor, luar biasa jumlah penumpangnya. Harus gesit saat merebut jalan untuk masuk ke dalam, harus sigap menyelinap keluar saat tiba di stasiun tujuan. Saat itu saya merasa nyaman dengan flat shoes.

Flat shoes pun punya banyak ragam model dan warna. Penampilan bisa tetap terlihat chic.

 

Banyak rekan perempuan di kantor punya cara unik tentang penampilan. Ada rekan yang sesama pengguna kereta. Di kereta, dia hanya berkaos biasa dan memakai sandal. Begitu tiba di kantor, dia tak langsung menuju ke ruang kerja. Tapi berputar ke arah kamar mandi dan mengganti baju di sana. Alas kakinya pun segera ditukar begitu tiba di meja kerja. Ternyata, beragam high heels dan wedges aneka rupa dan warna telah ditata rapi di salah satu rak mejanya. Tinggal dipilih. Hanya sesekali dibawa pulang. Cerdik juga.

Saya tak menerapkan itu. Bukannya tak peduli penampilan. Tapi pekerjaan saya sebagai IT programmer kala itu lebih sering membuat saya bercengkrama dengan layar monitor. Sesekali bertemu user yang juga lebih banyak menghabiskan waktu di belakang meja. Membicarakan banyak hal teknis. Penampilan tak terlalu penting. Peer pressure-nya pun tak banyak. Mengingat di divisi kerja saya yang saat itu terdiri dari sekitar 60 orang, pegawai perempuannya hanya sekitar 5 orang saja.

Walau begitu, saya tidak nyinyir dengan urusan penampilan rekan perempuan lain. Apalagi soal sepatu. Beberapa pria suka meremehkan kebiasaan pasangan atau rekan perempuannya yang mendewakan  urusan sepatu. Jangan memandang rendah kalau menurut mereka sepatu bukan urusan main-main. Tidak percaya?

“A pair of shoes can obviously change your life. Just ask Cinderella.” -Anonymous

Gambar : www.dangerdame.com
Gambar : www.dangerdame.com

Fashionable Daily Shoes, Where to Get?

Bagi sebagian perempuan, sepatu tak dianggap sekadar pelengkap. Walaupun hanya alas kaki, pengaruhnya terhadap keseluruhan penampilan tidak bisa dianggap enteng.

Funny that a pair of really nice shoes makes us feel good in our heads — at the extreme opposite end of our bodies.” -Levende Waters

Funny yet true. Jangan heran kalau tidak sedikit perempuan yang gemar mengoleksi sepatu. Sepatu menjadi salah satu penunjang penampilan harian. Kebutuhan akan fashionable daily shoes cukup umum di kalangan perempuan.

Saya bukan penggila sepatu. Apalagi jika harganya mahal. Saya merasa lebih baik memiliki beberapa pasang sepatu yang cukup nyaman dengan harga yang terjangkau. Selain harga, model pun patut dipertimbangkan.

Sepatu beralas rata dan rendah menjadi pilihan sehari-hari. Dengan menenteng 2 balita laki-laki kemana-mana, saya merasa nyaman dengan flat shoes. Selain flat shoes, sandal juga pilihan yang jitu. Tapi ada juga, lho, rekan saya yang biarpun ber-high heels setiap waktu, tetap lincah dan tidak terganggu ;).

 

Filosofi Sepatu

Ada yang sudah terbiasa ber-high heels kemana-mana. Tidak sedikit pula yang seleranya sama dengan saya, pencinta flat shoes. Tak jarang yang koleksi sepatunya didominasi oleh wedges. Bahkan, yang percaya diri dengan sandal kemana-mana juga banyak.

Untuk saya, tampil ‘cantik’ di hadapan umum itu perlu. Tapi jangan sampai mengorbankan kenyamanan. Memaksakan diri memakai high heels agar terlihat anggun sementara kaki memberontak bukan pilihan bijaksana.

Siapa bilang dengan flat shoes atau sandal tak menjamin untuk tampil menawan? Penampilan juga dipengaruhi dengan cara kita memandang diri sendiri yang datang dari dalam hati. Kita bebas memilih jenis sepatu mana pun. Tak ada kata mati gaya. Just be yourself <3. 

Namun, jangan pula menutup diri dengan mencoba sesuatu yang baru hanya karena takut atau merasa rendah diri. Penggemar flat shoes seperti saya, sesekali pernah juga mencoba wedges di beberapa kesempatan. It still feels good on me. Bertahan sekitar sejam di acara undangan pernikahan dengan high heels pun pernah saya coba hehe. Sejam saja tapi yaaaaa, lebih dari itu pingsan deh, hahaha :p.

Lebih penting lagi, selalu berhati-hati dengan langkah-langkah yang Anda ambil. Sepatu apa pun yang melekat di kaki, “Always remember to Watch your step, Ladies. You don’t know where it might lead you to.”

untuk mengambil langkah ke depan untuk masa depan yang lebih baik ;).

***

“Because one day Mommy, I won’t be this small”

Anak saya yang ke-2 baru saja berulang tahun yang ke-2. I have reached the moment when all I hear is, “No!” Ucapan “No” di hampir setiap tawaran-ajakan-pertanyaan-himbaun padanya disertai dengan kedua tangan dilipat ke arah dada. Syukur-syukur dia tidak pakai buang muka.

Dalam dunia parenting, istilah “the trouble 2” ini cukup populer. Narda, si jagoan kecil ini, punya perangai yang berbeda dengan kakaknya, walaupun sama-sama laki-laki. Termasuk perkembangan motoriknya.

Nabil, kakaknya, biarpun terlihat sangat lincah dan supel, tapi lumayan penakut. Narda, meskipun sekilas kelihatan kalem, pemberaninya jangan ditanya.

Usia 10 bulan dia sudah lancar berjalan. Usia 13, dia sudah berlari. Cenderung telat berbicara dibanding kakaknya yang sangat verbal. Kakaknya agak takut ketemu air. Narda sekali dibawa ke kolam renang, mengamuk luar biasa saat diangkat dari kolam untuk ganti baju. Dia berani meloncat dari atas sofa ke lantai di usianya yang masih 15 bulan. Kalau kakaknya iseng mengajaknya memanjat-manjat, Narda tak pernah gentar. Kakaknya sudah turun karena takut lebih tinggi lagi, dia terus merangkak naik.

Nabil lebih mudah diarahkan. Diberitahu apa saja kemungkinan besar akan menurut. Dia takut gelap dan takut bila ditinggal.

Narda berbeda sekali. Dia suka ngambek tidak mau naik ke stroller saat akan dibawa untuk menjemput kakaknya di sekolah. Saya sebal. Saya tinggal saja dia di depan pintu apartemen, saya pura-pura akan meninggalkannya sendiri dengan harapan dia akan terbirit-birit mengikuti saya. Kenyataannya, dia malah berlari menjauh ke arah sebaliknya. Olala, waktu sudah makin sempit, direpotkan pula dengan mengejar bocah ini di sepanjang lorong lobi gedung apartemen. Jadilah saya mesti setengah berlari sambil mendorong stroller agar tak terlambat tiba di sekolah.

Kalau sedang berdinas di dapur saya inginnya dia dekat-dekat saya. Tapi dia kadang ingin bermain di dalam kamar. Saya pura-pura tutup pintunya dengan nada mengancam. Berharap dia akan berteriak-teriak menangis dan minta ikut. Lama saya tunggu. Pas pintu dibuka lagi, dia berdiri menantang dengan wajah keras. Boro-boro menangis ketakutan.

Terdengar menggemaskan, ya? Tapi percayalah, mengurusi kedua balita super aktif ini, saat nun jauh di negeri rantau, tak punya asisten sama sekali, kadang menjadi ‘cobaan’ tersendiri buat Mama-nya yang memang terkenal dengan stok kesabaran yang pas-pasan. Sebagai manusia biasa, tak jarang saya merasa putus asa dan meradang.

Narda dan abang :D (Athlone Regional Sport Center)
Narda dan abang 😀 (Athlone Regional Sport Center)

***

Ibu saya pernah bilang, “Dada waktu kecil dibawa naik perahu menyeberang laut. Nangis terus sepanjang perjalanan.”

Ibu bercerita tentang kakak saya yang nomor 4. Katanya lagi, saking kesalnya mau dibuang ke laut saja rasanya. Kakak saya yang ini cengeng sekali kata Ibu. Apa-apa mesti minta gendong.

Lain lagi dengan kakak saya nomor 2. Waktu memasuki usia sekolah, susah payah Ibu membujuknya untuk ke sekolah.

“Kalau tidak mau sekolah, nanti jadi tedong,” ancam Ibu (tedong = kerbau, bahasa bugis). “Biarmi jadi tedong,” jawab kakak saya sambil menangis. (Biarmi = biar saja, logat sulawesi).

Saya pun bukannya tak pernah berulah. Perkenalkan, si kecil Jihan yang pundungan luar biasa. I’m a picky eater as well. Saking pemilihnya, waktu kecil sakit-sakitan. Kalau sakit, rewel luar biasa. Kalau mood lagi jelek waktu bangun tidur di sore hari, habislah isi lemari baju saya lemparkan semua ke lantai! My oh my *nyengirImut*.

Saat kami semua telah dewasa, saya perhatikan Ibu selalu menceritakan semua kerusuhan yang kami buat saat kecil sambil tertawa-tawa. Tak ada rasa menyesal sama sekali.

Mama and her grown-up babies :D (January, 2013)
Mama and her grown-up babies 😀 (January, 2013)

***

Saya pernah membaca sebuah kisah populer via internet mengenai dialog seorang anak dengan Tuhan sebelum dilahirkan ke dunia. Sang anak mengungkapkan kegundahannya atas semua hal-hal yang akan dihadapi di dunia barunya nanti. Tuhan menjawab dengan sabar semua pertanyaan si anak dengan, “Tenang saja. Sudah kusiapkan seorang malaikat di dunia untukmu. Seseorang yang akan kau panggil…Ibu.”

Menurut cerita itu, Ibu adalah malaikat untuk anak-anaknya. Betulkah?

Di sebuah seminar parenting yang pernah saya hadiri (pesertanya sebagian besar ibu-ibu), fasilitator bertanya kepada kami, “Ibu-ibuuuu, anak itu banyak meminta atau banyak memberi.”

Tanpa dikomando, jawaban kompak kami bergema di seluruh ruangan, “Memintaaaa…”

Tiga kali fasilitator bertanya dan kami tetap keukeuh pada jawaban kami, anak-anak lebih banyak meminta. Kami diminta mengeluarkan handphone, masuk ke folder foto, memilih foto anak kami, dan memandanginya lama-lama. Sejenak, seisi ruangan hening. Fasilitator mulai bersuara lagi, “Bayangkan kalau wajah yang Anda pandangi di foto itu sedang sakit. Sakitnya parah. Sampai Anda harus melarikannya ke rumah sakit. Ternyata, takdir tak berpihak pada kita. Anak anda dinyatakan…”

Belum selesai ucapannya, suasana hening buyar dengan tangisan Ibu-ibu peserta tadi.

Ah, kita semua terkecoh. Bukan kita malaikatnya. Merekalah malaikat-malaikat kecil yang dihadirkan di dunia untuk membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Jangankan membayangkan bila Tuhan mengambil kembali titipan terindahnya ini, melihat mereka sakit saja, nyawa rasanya sudah hilang separuh.

Kalaupun ternyata kita yang harus pergi lebih dahulu, mereka bisa dirawat oleh siapa saja. Perlahan, apalagi jika usianya masih sangat kecil, mereka mungkin sanggup menghapus bayangan ibunya. Tapi bila dibalik, Ibu mana yang sanggup membayangkan ketiadaan anak-anaknya? Sejak dua buah garis muncul di selembar testpack saja, kebahagiaan seorang (calon) Ibu sudah sedemikian membuncah-buncah.

Lagi-lagi kita terkecoh. Anak-anak tak pernah meminta dilahirkan. Justru kehadirannya yang memberikan banyak sekali hal yang sebagian besarnya berlabel “kebahagiaan.”

Waktu kecil mungkin mereka akan terlihat bagai monster mini. Apa-apa minta ditemenin. Apa-apa harus diajarin. Makannya pun mesti dijaga. Seperti saya, berjalan kaki kemana-mana makin terasa repot karena ada mereka dalam stroller.

Tapi saya ingat lagi cerita Ibu. Waktu bapak sudah tidak ada, Ibu kerepotan mencari teman untuk dibawa ke kondangan karena waktunya sebagian besar di malam hari. Waktu masih kecil-kecil, semuanya heboh minta ikut. Begitu sudah abege, sudah punya kesibukan sendiri.

Waktu masuk TK sudah ada yang tidak mau tangannya digandeng. Malu pada guru dan teman-temannya. Yang tadinya tak bisa tidur kalau tidak dipeluk sama mama. Ke sekolah pun sudah minta jalan sendiri. Tak senang lagi bila kepalanya diusap-usap, apalagi dipeluk dan dicium.

Ibu-ibu yang kerempongan dengan balita, bersabarlah.

Sebuah puisi kecil ini (copas dari sebuah gambar via internet) mungkin bisa menjadi bahan renungan :

I won’t always cry ‘mommy’ when you leave the room,
and my supermarket tantrums will end too soon.
I won’t always wake, daddy, for cuddles through the night,
and one day you’ll miss having a chocolate face to wipe.
You won’t always wake to find my foot kicking you out of bed,
Or find me sideways on your pillow where you want to lay your head.
You won’t always have to carry me in asleep from the car,
Or piggy back me down the road when my legs can’t walk that far.
so cherish every cuddle, remember them all.
Because one day, mommy, I won’t be this small.

***

I don’t know who the author is, but I do love this poem.

We need to remember to love this stage of life, saat mereka masih kecil dan segala yang mereka lakukan seringnya terasa sebagai beban semata. As challenging as it may be, dont worry because one day Mommy, they won’t be this small.

Takkan lama waktunya saat kita yang terduduk memandangi foto-foto kecil mereka, berharap mereka akan berlari ke pelukan kita setiap saat. Meminta waktu menerbangkan kita ke masa lalu. Kembali ke masa kecil mereka. 

Seize the day, Mommies :). You don’t know what you miss when it’s gone.

happy birthday Narda

Selamat ulang tahun, Ananda tercinta…Narda Atif Rosyadi :).

***

Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada?

by : Jihan Davincka

***

Sebuah tulisan di blog teman pernah menceritakan tentang pengalamannya saat berkunjung ke salah satu negara di Eropa Timur. Eropa Timur kental dengan sosialisnya. Tak heran jika banyak orang di sana tak percaya lagi dengan doktrin ketuhanan mana pun. Istilah tenarnya, Atheis yang berpedoman Jika Surga dan Neraka tak pernah Ada .

jika surga dan neraka tak pernah ada
Homeless Charity (Gambar : www.topnews.ae)

Di sana, teman ini berjalan-jalan dengan kenalan Atheisnya. Ketika melewati seorang pengemis, temannya ini refleks mengeluarkan selembar uang kertas dan memberi ke si pengemis tadi. Teman saya jadi kepo.

“Why do you give your money?”

Teman Atheisnya tertawa geli, “What d’you mean? Is that rude to give some money to them?”

Teman saya malu sendiri. Teman Atheisnya melanjutkan dengan ngeledek, “By the way, it’s called sharing. It’s something good anyway.”

Di blognya, teman saya merasa tertampar, “Gile, dia yang enggak punya agama aja mengerti soal gini-ginian. Kalau dia enggak percaya Tuhan, untuk tujuan apa dia ngasih duit ke pengemis, ya? Kita aja yang jelas-jelas dapat pahala suka males.”

Nah!

***

Sudah nonton film “Hotel Transylvania”? Sebagai ratu drama, film ini tentu masuk dalam daftar film favorit dramanya Mama Jihan. Maklum ya, demennya memang drama-drama komedi cetek seperti ini hehehe. Kartun pula. Kurang cetek apa coba selera gue :P.

Sekilas cuma skenario biasa soal keluarga drakula yang sakit hati dan akhirnya memilih untuk mengisolasi anak perempuan tunggalnya. Terus…wah, panjang, cuy. Nonton sendiri aje, ye.

Salah satu pesan moral yang cukup berbekas adalah ketika penonton disuguhi sebentuk satir, “Jadi, siapa yang sebenarnya jahat, manusia atau para monster?” Di sepertiga terakhir bagian film penonton, sebenarnya penonton sudah digiring pada opini, “No matter who you are, how you look, what you wear, what you BELIEVE, as long as you’re being nice to others, YOU’RE RIGHT/GOOD. That which matters most.”

Maksudnya? Nonton dong, nontooooonnnn :P. Yang belum nonton, biar makin penasaran, here’s my favorite quote :

Jonathan: Are these monster gonna kill me?
Dracula: Not as long as they think you’re a monster.
Jonathan: That’s kinda of racist.

jika surga dan neraka tak pernah ada
Hotel Transylvania (gambar : www. wired.com)

***

Pesan 2 cerita di atas sama.

Ada satu nih sebuah slogan baru yang bukan cuma diusung oleh kaum non muslim saja, tapi juga sudah ramai dibahas di kalangan umat muslim sendiri, “Semua agama sama. Semua agama benar.” ‘Sinisme’ terhadap agama juga muncul dalam berbagai kalimat. Misalnya, ini dari profil twitter salah satu blogger favorit saya : “Tuhan itu fakta. Agama menjadikan-Nya mitos.”

Termasuk pesan yang ditunjukkan oleh 2 cerita sebelumnya. Buat apa agama? Si Atheis tanpa agama tak menjadikan dia lebih tak bermoril kok daripada kita-kita yang (mengaku) beragama. Buat apa agama? Mau manusia kek, mau drakula kek, mau kafir, mau sembahyang, kalau jahat ya jahat saja.

Muncullah orang-orang yang menganggap bahwa sebenarnya pengkotak-kotakan agama inilah yang justru membuat kejahatan merajalela. Siapa yang tidak pernah dengar Perang Salib? Sebuah sejarah panjang pertikaian yang melibatkan banyak sekali dimensi sosial-geografis-budaya, yang ternyata memang berawal dari sebuah ceramah agama. Jangan cuma bisa bilang, “ooohh perang kristen lawan Islam, ya.” Jangan malas mencari tahu. Gampang diboongin nanti lho :P.

jika surga dan neraka tak pernah ada
The 7th Crusade (gambar : www.wikipaintings.org)

Dan…isu pluralisme semakin kencang berhembus. Maknanya banyak. Di Indonesia, beberapa petinggi para Nahdiyyin dianggap sudah melewati batas dengan paham pluralismenya. Termasuk mendiang Gus Dur. Yang mungkin tak banyak orang mau tahu, di balik ucapan-ucapan nyelenehnya, beliau tak bisa semena-mena kita keluarkan dari daftar “cendekiawan muslim terbaik yang pernah dimiliki bangsa Indonesia.”

Bertentangan tidak, sih, pluralisme ini dengan ajaran Islam? Katanya, “Itu bisa merusak aqidah.” Nah, ini nih menurut saya pribadi yang membuat Islam bagaikan buah simalakama. Agama pedang, katanya. Apa-apa harus berkorban darah. Apalagi kalau soal aqidah. Beuuhhh, harga mati!

Untuk saya, ajaran Islam yang saya yakini itu sempurna. Dimensinya berlangsung 2 arah, vertikalnya diwakili oleh aqidah, secara horisontal amalan muamalah tidak kalah banyaknya. Pastinya langsung diprotes, “Tidak bisa begitu! Aqidah nomor satu! Nanti muamalah tinggal ngikut.” Kalau muamalah tinggal mengikuti itu saya setuju 100%. Tapi kalau ada yang bilang aqidah nomor satu, apa otomatis berarti muamalah boleh dinomorduakan? “Kalau kepepet boleh, Jee.” Apa pula ini dalam agama bawa-bawa kepepet hehehe.

Jebakan batman-nya ada di pertanyaan SUPER ini, “Perempuan dengan akhlak luar biasa seperti Bunda Teresa, dengan seorang yang memiliki track record kejahatan dunia nomor wahid tapi dia percaya Allah dan muslim hingga akhir hayatnya. Siapa yang masuk surga?”

Jawaban familiarnya sudah jelas, “Bunda Theresa pasti masuk neraka. Wong dia kafir. Si Penjahat muslim pasti nanti ke surga juga. Tapi dicuci dulu dosanya di neraka.” Awww, pakai apa? Rinso anti noda? :P.

***

Berbicara soal aqidah bukan perkara gampang. Saya punya pengalaman pribadi soal ini. Saya punya seorang kerabat. Seorang tante. Idola saya waktu saya kecil. Cantik, cerdas, banyak duit pula hehehehe. Alimnya jangan ditanya. Ibu sering bercerita biarpun termasuk orang berada, ibadahnya tak pernah luput. Puasa senin kamis rajin banget. Serentetan pengajian diadakan langsung di rumahnya.

Di suatu hari, entah ada urusan apa, malam-malam saya berkunjung ke rumahnya. Bersama Ibu saya. Kamis malam waktu itu. Kok ingat? Sebenarnya tidak ingat, tapi kejadian yang saya alami saat itu yang membuat saya selalu ingat kalau saat itu adalah malam jumat.

Rumahnya besar di sisi jalanan besar. Halamannya luas. Kami masuk dari pintu garasi. Baru beberapa langkah saya sudah mencium wewangian aneh.

“Bau apa ini?”

Ibu saya malah menghardik, “Huss, ndak usah tanya-tanya. Awas ya, nanti di dalam jangan tanya-tanya.”

Si mama enggak nyadar kalau anak perempuannya yang satu ini super duper keponya dari dulu. Diam-diam saya ke arah dapur sendiri, bertanya langsung pada asisten rumah tangga di sana. Sebelum bertanya saya sudah melihat sendiri asal wewangiannya. Semacam dupa yang ditaruh di tempat khusus. Jumlahnya ada beberapa. Asisten rumah tangga sibuk meletakkannya di beberapa tempat. Setelah tugasnya selesai, baru saya colek.

jika surga dan neraka tak pernah ada
Gambar : www.waroengdjadoel.com

“Eh, ini untuk apa?”

“Oh, ini biasa. Tiap malam jumat memang dinyalain. Buat ngusir yang jahat-jahat.”

“Siapa yang jahat?” Kejar saya.

“Enggak tahu. Pokoknya disuruhnya begini tiap malam jumat. Biar rumah ada yang jaga. Biar aman gitu.”

Besar sebagai orang bugis, dalam lingkungan agama yang cukup ‘ketat’, pemasangan dupa beraroma aneh di malam jumat untuk mengusir hal-hal jahat tentu hal baru buat saya, yang kala itu masih duduk di bangku SD. Waktu itu sih, cuek saja. Ketika asisten RT nya pergi, baru deh saya perhatikan lebih dekat si dupa itu. Baunya menyengat jadi saya memilih untuk menjauh saja. Sederhana saja pikiran saya waktu itu, “Mungkin memang ada perampok yang takut wangi-wangian aneh seperti itu.” Nothing important.

Ketika umur agak besar, pelajaran agama bertambah, baru mengerti tentang hal-hal seperti ini. Sekaligus mengerti mengapa almarhum Bapak kadang bersitegang dengan Ibu mengenai kerabat-kerabat seperti ini. Kebiasaan lain tante saya dan kerabatnya yang lain adalah : percaya pada ‘orang pintar’.

Almarhum Bapak saya sangat ‘keras’ terhadap hal-hal seperti ini. Ibu lebih luwes. Kalau tidak salah Ibu secara santun pernah berkata kepada Bapak, “Biar saja. Kita tidak ikut-ikutan. Jangan sembarangan ceramahi orang. Belum tentu dia mengerti. Dia itu saudara. Tidak sedikit bantuannya kepada kita.”

Dan perjalanan takdir memenangkan pilihan Ibu. Beberapa tahun kemudian, Bapak meninggal tiba-tiba. Tak ada tanda-tanda sama sekali. Meninggalkan 7 orang anak yang belum ‘menetas’ satu pun. Disusul dengan badai ekonomi yang pernah membuat saya ketakutan dan tidak bisa tidur beberapa malam, sibuk berdoa, “Ya Allah, kalau pun tak ada rezeki untuk melanjutkan pendidikan, setidaknya beri kesempatan untuk bekerja.” Hihihihihi. Saya benar-benar takut kalau Ibu mengambil jalan pintas dan menikahkan saya :P. Sia-sia kan ke-kece-an ku jika berakhir di pelaminan begitu saja sebelum merebut cita-cita berfoto pakai toga. Ahahahahahahaha *colekPakaiPisau* :P.

Singkat cerita, pengalaman ini pun sekaligus mengajarkan hal lain. Rezeki tiap manusia hak Allah semata-mata. Bukan hak tunggal orang tua :). Suka tidak suka, “banyak anak banyak rezeki” bukan kalimat yang salah :).

Adalah tante saya dan saudara-saudaranya yang sudah mengamalkan penggalan ayat-ayat dalam surah Al-Maun kepada anak-anak yatim yang ditinggalkan oleh almarhum Bapak :). Memberikan tempat tinggal gratis dan dorongan moril yang tidak sedikit kepada Ibu. Memampukan kami bertujuh meretas jalan ke arah yang lebih baik :).

Tante yang sama. Yang menyalakan dupa di segenap penjuru rumahnya di tiap kamis malam. Yang kadang-kadang mempercayakan ramalan masa depannya kepada ‘orang pintar.’

“Kalau lu sayang, harusnya lu berdakwah, dong, ke mereka.” Andaikan interaksi dengan sesama manusia bisa sesederhana itu, ya :). Mungkinkah semua hal di dunia akan beres dengan, “Aqidah nomor satu!”

***

Tentu saja, aqidah tidak kasat mata. Siapa yang tahu, si kerudung panjang yang menjuntai hingga lantai, menyimpan kalung ‘ajaib’ di lehernya yang diyakini sebagai ‘penjaga tambahan’nya?

Aqidah masalah hati. Mau dibolak balik kayak apa, satu-satunya pihak yang berhak menilai adalah Sang Penciptanya itu sendiri :). Manusia, selain tempat salah dan lupa, punya kemampuan untuk bersandiwara. Kita masing-masing adalah aktor utama dalam sinetron kehidupan yang dijalani sehari-hari. Kenapa repot-repot mau mengurusi skenario aktor lain. Sutradaranya cuma satu. Bukan saya, bukan anda, bukan ustaz anu, bukan syeikh ini, bukan raja itu, bukan ulama sana sini, setiap kita bertanggung jawab untuk peranan yang kita mainkan. Secara individu.

Tentu boleh menimba ilmu dari para orang-orang besar ini. Tapi ya jangan memuliakan mereka lebih daripada keyakinan kita terhadap Yang Maha Mulia, dong ;). Saya setuju untuk urusan aqidah, sifatnya sangat individualis. Ketatlah menjaga aqidah untuk diri sendiri. Alquran memang cuma satu, Rasulullah SAW sudah dianggap ‘final’. Tapi penerjemahannya yang tidak satu dan seragam. Pekerjaan sia-sia berusaha menyatukan hal-hal yang sudah dan akan terus berbeda ini.

Amalan yang sifatnya vertikal seyogyanya dilaporkan kepada Allah saja. Tidak usah ditambah-tambahi dengan pasang status publik di media sosial, “Hm…bingung, deh. Buka puasa nanti masak apa, yaaaa?” Sayang kan, amalannya kena diskon gara-gara bercampur riya’, yang mungkin bukan itu tujuan awalnya.

Adakah jaminan melaksanakan amalan salat dan puasa tak terputus-putus akan membuat kita melangkah mulus memasuki surga-Nya? Allah yang Maha Tahu. Apa sudah pasti kalau kafir pasti dilempar ke neraka, no doubt! Banyak ayatnya, menyekutukan Tuhan adalah dosa tak terampuni. Padahal Allah pun menjanjikan pengampunan yang Maha Luas. Bingung? Jangan! Simpel, itu urusan Allah saja. Back off! :). Berusahalah menjadi umat yang terpilih tanpa perlu dipusingkan dengan “anu masuk surga atau neraka”, ya? Mending pikirin NUDI di X-Factor nanti bakal masuk 3 besar gak, ya? Ahahahahahahaha :P.

Mengurusi aqidah orang lain akan membuat kita terjebak sendiri. Kaum pluralis akan makin merasa jumawa bila ada pernyataan perintah untuk menumpahkan darah gara-gara, “Kafir! Salatnya cuma 3 waktu. Yang benar 5 waktu!”

Sadarkah kita, kalau di pihak sana pun menyerukan hal yang sama, “Kafir! Kelebihan tuh salatnya.”

Kalau begitu kapan berdakwahnya? Kita masih punya muamalah :). Sekarang malah terbalik, ya. Orang merasa ngotot soal aqidah, tapi kalau soal muamalah malah santai-santai saja. Karena dianggap menyenangkan Tuhan jauh lebih perlu daripada menyenangkan sesama manusia. Katanya, condong ke akhirat akan membuat kita lebih selamat. Yang saya tahu, Islam itu SEIMBANG DUNIA AKHIRAT. Condong ke mana pun hanya akan membuat keseimbangannya goyah :).

jika surga dan neraka tak pernah ada
Gambar : www.whitehorseriders.org

Keseimbangan yang bergeser inilah yang sering dijadikan senjata oleh beberapa penganut paham pluralisme mulai ‘menyerang’ kaum ‘agamis’. Padahal kan tidak begitu :(. Beberapa kaum pluralis menuduh agama menyuruh penganutnya menghancurkan penganut agama lain untuk menyenangkan Tuhan. Jihad, dalam agama samawi mana pun, disempitkan maknanya. Entah mengapa, keimanan kita terasa makin membuncah seiring dengan besarnya rasa benci kepada penganut agama lain.

Pernah dengar kalimat ini, “Tuhan tidak perlu disembah.” Sejujurnya, saya setuju. Keagungan Tuhan tidak akan berkurang sedikit pun walau seluruh umat manusia menolak mengakui-Nya. Untuk siapa kita berTuhan? Untuk diri sendiri. Mengapa perlu berbuat baik kepada sesama manusia? Agar Tuhan senang? Ah, Anda meremehkan Tuhan kalau begitu.

jika surga dan neraka tak pernah ada
Gambar : www.facebookstatusbase.com

“Jika ingin bahagia, bahagiakan orang lain.” Buktikan sendiri. Segala amalan muamalah ya untuk para pelakunya sendiri. Apa yang lebih penting di dunia ini selain kebahagiaan? :). Apa pun definisi kebahagiaan yang Anda pegang.

Amalan muamalah ini berlaku sama untuk umat manusia mana pun. Jangan karena aqidah kita menjadi terpeleset. Beberapa waktu lalu, di news feed ada yang pasang status bingung karena tetangganya yang merayakan paskah mengirimkannya sekotak nasi kuning hasil perayaan paskah. Dia bingung dimakan atau tidak? Haram tidak, ya?

Sebenarnya yang haram itu apa, sih? Daging babinya yang Anda takuti atau yang makan babinya? :P. Bijaksanalah. Kalau ragu, tak perlu kan memajang keraguan sensitif Anda di media sosial. Kecuali Anda yakin 100% bahwa yang baca semuanya sepaham dengan Anda ;).

Jadi, masih pening Bunda Theresa masuk surga apa enggak, nih? Hehehehe. Jangan merisaukan yang bukan urusan kita. Banyak hal baik yang bisa kita pelajari dari perempuan yang bernama asli Agnes Bojaxhiu ini. Dari namanya saja jelas bukan orang India. Tapi mengabdikan sebagian besar hidupnya di pedalaman India. Tokoh islam wanita juga banyak, kok ;).

Jangan sampai aqidah membuat kita menjauh dari muamalah. Aqidah yang benar akan menuntun kita selaras dengan aturan kemanusiaan. Sekepepet apa pun, kedua hal ini tak akan pernah bertentangan. In Shaa Allah :).

Jangan bersedih hati atas bullying dari kaum non agamis yang mengatasnamakan pluralisme. Sebagai muslim, kita tidak menentang pluralisme, kan? :).

Pertahankan keseimbangan dunia dan akhirat. Terlalu condong ke mana pun suatu hari akan menyesatkan kita. Lihatlah sejarah. Presiden Anwar Sadat adalah salah satu tokoh Islam terkemuka asal Mesir. Mati di tangan seorang pemuda Islam yang sakit hati karena beliau menyetujui perjanjian Camp David. Siapa yang tidak tahu Gandhi, seorang yang hingga di akhir hayatnya mengaku sebagai pemeluk Hindu sejati. Siapa yang membunuh Gandhi? Seorang ekstrimis hindu yang mengaku kesal karena Gandhi dianggap terlalu baik kepada pemeluk Islam di India :(.

Apa benar mereka yang tak percaya agama lagi akan lebih baik daripada kita yang tetap beristiqamah di jalanNya?

Dengarkan baik-baik lirik lagu ini, yng dinyanyikan oleh mendiang Chrisye dan Ahmad Dhani, ” Jika surga dan neraka tak pernah ada, Apakah kita semua, benar-benar tulus menyambah padaNya? Atau mungkin kita hanya, takut pada neraka, dan inginkan surga.”

Apa jawaban kalian, Saudaraku? :).

***

jika surga dan neraka tak pernah ada

Rendang Padang Kemasan Untuk yang Jauh di Mata Dekat di Lidah

Majalah Tempo pernah menerbitkan sebuah rangkaian biografi pelaku sejarah yang diberi judul “4 Bapak Bangsa.” Tidak tanggung-tanggung, 3 dari 4 “Bapak Bangsa” versi para wartawan senior dari media cetak tersohor ini berasal dari Tanah Minang. Ada Muhammad Hatta, Syahrir dan Tan Malaka.

Ranah Minang juga banyak melahirkan ulama-ulama besar  seperti : Agus Salim, Muhammad Natsir, Buya Hamka dll. Tak cuma itu, salah satu suku dari pulau Sumatera ini mempersembahkan tidak sedikit budayawan nasional. Sebut saja salah satu penulis fiksi favorit saya, Motinggo Busye.

Urang Awak, sebutan khas untuk orang Minang, tak hanya meninggalkan banyak jejak dalam sejarah bangsa. Yang mungkin lebih terkenal justru makanan tradisionalnya. Sajian khas Minangkabau cukup beragam.

Selain sate padang, soto padang, dendeng balado, berbagai macam gulai, juaranya tentu saja…rendang padang.

randang padang

Rendang padang pernah ditasbihkan sebagai salah satu makanan paling enak di dunia. Saya tidak terlalu peduli dengan keabsahan predikatnya. Untuk saya pribadi, rendang padang sedari dulu telah masuk daftar ‘the best food ever.’ Saya pun meyakini ketenarannya yang sudah bergema ke (hampir) seluruh pelosok nusantara.

***

rendang padang kemasanTak jarang saya disangka orang Minang. Padahal saya asli Bugis, Sulawesi Selatan. Takdir yang membawa saya ke tanah Jawa. Seperti pepatah, “Asam di gurun, garam di laut, bertemu di belanga.”

Saya merantau dari Makassar ke ibukota, bertemu suami yang asli Minang di kampus Depok. Di resepsi pernikahan kami, pertama kali saya bersentuhan langsung dengan  budaya Minang.

Selama pesta, hampir 2 jam saya bertahan di atas pelaminan dengan hiasan kepala setinggi 30 cm dengan berat kira-kira 3 kg. Namanya suntiang.

Menjadi menantu urang awak memperkenalkan saya lebih jauh dengan si rendang padang. Dulu terbiasa melihatnya sudah terhidang di atas piring, siap disantap dengan nasi putih. Sekarang melihat langsung ibu mertua meracik rendang di dapur.

Bahan baku rendang padang tidaklah serumit yang saya bayangkan. Maklum saja, rasa khas dari daging berbumbu satu ini sukar dicari tandingannya. Wajar jika saya sempat mengira ada bahan khusus yang (mungkin) tidak pernah digunakan oleh bahan makanan lain. Semacam ‘bumbu rahasia’.

Sebut saja bahan-bahannya secara umum : jahe, daun kunyit, asam jawa, santan, bawang merah, bawang putih, kemiri, daun salam, daun jeruk dan lengkuas. Tidak ada yang ‘aneh-aneh’ bukan?

Ternyata rahasia kelezatannya tidak cuma sekadar memadukan bumbu rempah, daging dan santan. Proses pengolahannya tidak sembarangan. Untuk mendapatkan hasil akhir rendang padang yang hitam, kering dan bumbu yang meresap sempurna hingga ke serat daging yang paling dalam, butuh proses pematangan yang lama.

Menyadari sang menantu yang ‘awam’ urusan dapur, Ibu Mertua setengah becanda bilang ke saya, “Ya ampun, tidak usah terlalu serius mau  bikin rendang padang. Beli saja. Lebih praktis dan enak.”

Saya setuju. Rendang Padang tidak termasuk tipe makanan yang ‘mudah’. Selain perlu  pengalaman, waktu yang dihabiskan juga tidak sedikit. Sayang juga menghabiskan waktu selama itu untuk membuat rendang yang dikonsumsi oleh rumah tangga sendiri saja. Untuk saya pribadi, membeli rendang padang yang sudah jadi adalah pilihan yang lebih bijaksana.

***

Ternyata, bukan cuma perpindahan pulau yang menghampiri nasib saya. Sejak 4 tahun lalu, suami mendapat kesempatan bekerja ke luar negeri. Saya dan anak-anak ikut diboyong.

Setiap waktu mudik usai dan saatnya kembali ke luar negeri, si rendang ini selalu menjadi penghuni tetap koper kami. Karena proses memasaknya yang cermat, rendang padang menjadi tahan lama, tidak mudah basi. Rendang padang juga sering menjadi oleh-oleh yang populer. Khususnya untuk sesama orang Indonesia di tempat kami bermukim.

Siapa sih yang tidak suka rendang? ;). Namun, proses packingnya tidak mudah.

Berdasarkan pengalaman, beberapa imigrasi di negara-negara tertentu sedikit ‘rewel’ urusan isi bagasi para pendatang. Pada umumnya kalau makanan sudah dibungkus rapi dengan merek dagang resmi, petugas imigrasi tidak akan mempermasalahkan. Tapi jika dipaketin secara manual, ada kemungkinan akan diinterogasi macam-macam.

Belum lagi, agar aman, paket makanan biasanya disebar dalam koper dan akan bercampur dengan pakaian dan lain-lain. Harus berhati-hati dalam membungkus makanan agar minyak dan bumbunya tidak berceceran.

Makanya, perlu trik dan waktu khusus lagi untuk si rendang padang ini. Perlu membeli box plastik khusus, perlu plester sana sini berkali-kali, box-nya dipermak lagi agar rapi dan tidak mengundang kecurigaan si petugas imigrasi. Belum lagi kalau memborong rendang sebagai oleh-oleh untuk teman-teman. Membungkusnya tentu harus dipisah-pisah. Makin kewalahan saat packingnya.

Mau serepot apa pun, ya tetap dibela-belain ya boooo :p.

rendang padang kemasan

***

Inovasi yang dilakukan oleh  beberapa rumah makan padang, mungkin akan terlihat sederhana saja. Tapi benar-benar merupakan angin segar buat para perantau seperti kami. Maklumlah, kemana pun kaki melangkah, urusan perut tak bisa diremehkan.

Walaupun dulu merepotkan, kami selalu ngotot memboyong rendang padang kemasan manual dalam koper. Makannya dihemat-hemat agar bisa lama menikmatinya.

Meninggalkan sanak saudara dan kerabat nun jauh di tanah air tidak selalu mudah. Setidaknya menyantap nasi putih yang berhiaskan beberapa potong rendang padang di sisi piring, selalu mengingatkan saya pada satu hal.

Tinggal di Jeddah memang menyenangkan, dekat dari dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Bisa umrah sepuasnya dan naik haji dengan sangat mudah.

Bermukim di Eropa juga seru. Bertemu hal-hal baru seperti pemandangan yang cantik dan mengenal pola hidup serba disiplin dan mandiri.

Namun, tanah kelahiran tak pernah hilang dalam ingatan. Selalu menjadi tempat impian untuk berlindung di hari tua. Sampai akhir menutup mata :).

***