Author: davincka@gmail.com
Roda Pedati, Kadang di Atas Kadang di Bawah
by : Jihan Davincka
***
Sudah sebulan hengkang, masih saja suka kepo-kepo tentang Saudi. Dua hari lalu mendengar kasak kusuk soal ‘Saudinisasi’ yang kembali gencar berhembus di Negeri Petro Dolar ini. Ada razia iqama (semacam KTP untuk para pemukim Saudi).
Konon, kali ini razianya konon juga melanda para pekerja profesional. Saya tak enak hati mau bertanya langsung pada teman-teman yang masih di sana. Takutnya disangka mau nyolot :P.
Padahal sebenarnya beneran khawatir. Untunglah hasil kepo-kepo terselubung sudah berhasil mendapat info yang akurat. Ternyata…it’s not that bad. Alhamdulillah :).
***
‘Saudinisasi’ bukan isu baru. Entah kapan mulainya, yang jelas beberapa tahun terakhir ini pemerintah Saudi memang dipusingkan dengan membanjirnya pekerja pendatang di Negeri Penjaga Wilayah Haram ini. Sensus tahun 2010 menunjukkan, sekitar 30% penduduk Saudi adalah pendatang. CMIIW, ya.
Sebelum ke Jeddah, saya juga suka keheranan mengapa Saudi masih bertengger di salah satu posisi puncak tujuan kerja para TKI, ya? Terutama untuk pekerja non-formal. Setelah tinggal di Jeddah baru deh ngerasain ‘asoy’nya tinggal di Negeri Gurun yang satu ini hehehehe.
Sekitar setahun lalu, saya sering membahas hal ini dengan suami. “Saudinisasi apaan, sih? Kenapa tiba-tiba Saudi mau mengusir pendatang?”
“Mereka butuh lapangan kerja untuk angkatan kerja usia mudanya.”
“Kok baru ribut-ribut belakangan ini?”
Baru deh suami mulai mendongeng panjang lebar :D. Konon, di tahun 70 hingga 80-an, malah Saudi yang mengundang orang-orang dari luar untuk datang dan ikut ‘mebangun’ Saudi. Potensi sumber daya alam minyak sedang booming.
Sementara saat itu Saudi belum ‘siap’. Malah katanya, waktu itu status warga negara ‘dijual murah’.
Mungkin Kerajaan Saudi ‘terlena’ terlalu lama. Tanpa sadar, puluhan tahun telah berlalu. Penduduk Saudi sudah makin banyak. Bayi-bayi mereka tumbuh makin dewasa. Mungkin 10 tahun terakhir ini, pemuda pemudinya sudah mencapai usia siap kerja. Masalahnya, mau kerja apa?
Perusahaan tentu tidak akan sembarangan memilih pegawai. Para pemuda Saudi ini kurang ditempa dan malah (mungkin) mendapat perlakuan manja dari orangtua dan pemerintah. Sekolah gratis, kesehatan gratis untuk penduduk Saudi asli.
Kalau tidak salah (CMIIW), kurikulum sekolah negeri Saudi juga agak berbeda. Meskipun menggunakan pendidikan umum tapi ada penekanan khusus untuk bahasa Arab dan agama Islam.
Jadi, pelajaran umumnya sedikit tergeser dan mungkin tidak mendalam. Padahal dalam Islam prinsipnya, “seimbang dunia akhirat” kan, ya? ;).
Dijejali dengan kekayaan berlimpah, ditambah pemasukan umrah dan haji, walaupun belum bergelar “negara maju”, Saudi termasuk negara ‘tajir’.
Kalau negara-negara lain ‘mengemis-ngemis’ (pasang iklan sana sini) agar wisatawan datang mengunjungi negerinya (untuk menambah devisa), Saudi malah dengan ketat membatasi jumlah pengunjung ke negaranya.
Selain sentimen ekonomi, Saudi punya magnet lain. Pesona spiritual dari dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Tiap tahun, jutaan jemaah dari seluruh penjuru dunia akan berbondong-bondong mendatangi Saudi tanpa bujukan iklan apa pun.
Wajar saja jika pemerintah sangat memanjakan penduduk asli Saudi yang didominasi oleh orang Arab.
Jadi, salah satu jalan terbaik yang harus diambil pemerintah adalah “mengusir para pendatang.” Untuk memuluskan para pemuda Saudi mendapatkan kesempatan kerja.
Karena kalau harus bersaing dengan pekerja asing, para perantau yang semangat kerja dan skill-nya tidak main-main, pasti mereka akan kalah telak hehehe.
Upaya inilah yang disebut sebagai Saudinisasi. Beberapa tahun belakangan ini, berbagai cara telah ditempuh. Antaralain dengan memasang quota pegawai asal Saudi di tiap perusahaan.
Memaksa perusahaan untuk mempekerjakan orang Saudi asli sejumlah angka quota tersebut. Perusahaan yang ‘bandel’ akan masuk dalam zona merah. Harus berhati-hati.
Masih butuh waktu bagi Saudi untuk menyukseskan program Saudinisasi mereka. Membangun etos kerja dan perilaku karyawan bukan pekerjaan mudah dan cepat. Mereka tentu tidak akan gegabah main usir begitu saja kepada para pendatang.
Perusahaan kan tidak mau rugi. Kalau pada ‘ngambek’ dan ikut kabur, pening juga kan pemerintah Saudi? hehehehe.
Alasan lainnya adalah maraknya pekerja ilegal. Saking ‘malas’nya warga Saudi, pemerintah dulunya ‘tutup mata’ dan tak sadar membiarkan para pendatang menjejali tanah mereka. Ya, namanya butuh.
Keluarga Saudi itu punya asisten rumah tangga bisa banyak. Ada asisten untuk memasak dan membersihkan rumah. Belum lagi pengasuh anak. Supir juga wajib. Saudi tak membolehkan kaum wanita menyetir kendaraan sendiri.
Para pendatang ini pun kebanyakan malah kesenengan tinggal di Saudi. Betah secara psikologis sih mungkin tidak. Tapi berikut beberapa petikan hasil kepo-kepo saya dengan beberapa supir taksi asal Indonesia di Jeddah.
Umumnya saya membuka percakapan dengan, “Pak Abc, sudah lama di Saudi? Betah nih, Pak?”
Jawabannya beragam.
“15 tahun, Bu. Dari bujangan. Betah sih tidak. Tapi pernah pulang duitnya masih enakan sini, Bu.”
“Sudah hampir 20 tahun, Bu. Dulu keluarga ikut. Tapi saya pulangin. Anak-anak dah gede-gede. Kuliah semua. Istri jaga kontrakan. Alhamdulillah, ada beberapa rumah kecil-kecil di kampung. Saya mau pulang juga. Tapi Bu, di kampung enggak ada duit.”
(Catat, anaknya 3, kuliah semua! Punya beberapa rumah kontrakan. Supir taksi, cing! :P)
Satu lagi, “Sekitar 8 tahun, Bu. Istri di kampung. Saya punya usaha kerajinan besi. Istri punya kantin kecil-kecilan.” (Nah!)
Pantas pada ogah pulang hehehe. Jadi, jangan buru-buru menyangka TKI di sini penuh darah dan airmata hehehe. Hati-hati, supir taksi bisa jadi juragan kontrakan :D.
Saudi berbeda dengan negara Timur Tengah lainnya. Biaya hidupnya jauh lebih rendah daripada tetangga-tetangganya. Iya sih, kota Dubai dan Abu Dhabi keren luar biasa. Konon, Qatar adalah negara terkaya ke-2. Tapi teman saya di Abu Dhabi merintih atas mahalnya barang-barang di sana.
Mari kita lihat harga barang pokok di Jeddah. Jangan sakit hati, harga daging sapi dan beras lebih murah daripada di Jakarta ;). Karena berlimpah pendatang, hidup di Jeddah tidak terasa seperti di luar negeri.
Ketika Indonesia terkena musibah langkanya tempe, kami di Jeddah tetap bisa mendapatkan makanan khas tanah air ini dengan harga 3 riyal saja. Memang, lebih mahal. Tapi, di luar negeri lain, ada yang jual tempe seharga 7500 rupiah dengan pasokan yang sama banyaknya dengan tanah air? ;).
Harga bensin? Sudahlah ya, garuk-garuk tanah nanti. Ahahahaha.
Saudi tak memungut pajak dari siapa pun. Jadi, semua fasilitas umum bisa dinikmati oleh baik penduduk lokal maupun pendatang. Enak kan, numpang hidup di tempat orang tapi enggak bayar apa-apa :P. Malah ikut menikmati murahnya biaya hidup, bensin dengan harga sale :P, jalanan yang mulus-mulus, dsb.
Ini mungkin yang membuat pemerintah Saudi lama-lama empet juga ahahahahaha, “Gue yang capek-capek, lu orang bisa nikmatin semua dengan gratis.” Pernah ada isu, pemerintah mau menarik pajak dari para pendatang. Tapi konon ditentang oleh para ulama sana. Pajak itu haram katanya. Entah, ya. CMIIW lagi nih hehehe.
Bayangkan, kalau Anda datang sebagai pekerja profesional, diberi gaji dollar layaknya pekerja ekspat tanpa pajak dan Anda sanggup menahan diri untuk tidak ‘foya-foya’ di negeri orang, berapa itu DEVISA terkirim ke tanah air? Hehehehe. Berterima kasihlah pada pemerintah Saudi :P.
Jangan buru-buru menghakimi pemerintah Saudi. Now you can see WHY :).
***
Tapi kita bisa belajar sesuatu nih dari pemerintah Saudi. Kadang, memiliki kelebihan materi tidak menjamin kesejahteraan hidup :).
Lihat saja bangsa petarung seperti orang-orang Jepang. Punya apa sih Negeri Sakura ini? Tanah subur pas-pasan, kekayaan alam nyaris tidak ada, malah sering terkena bencana alam. But look at them! How strong they are until now :).
Saya teringat waktu kuliah sedang konsultasi dengan Pembimbing Akademik, salah satu senior datang. Dia sedang konsultasi tugas akhir juga. Saya terkesan dengan ucapan PA saya sesaat setelah senior tersebut mengeluhkan tentang isi makalahnya.
PA saya bilang, “Banyak keterbatasan, ya. Tapi kamu kerjakan saja terus. Jangan ganti topik dulu. Keterbatasan kadang membuat kita jadi kreatif, lho.”
Keterbatasan membuat kita jadi kreatif. Nah! Itu mungkin yang membuat orang-orang Jepang terkenal dengan inovasinya. Mereka tahu diri dengan ‘kemiskinan’ sumber daya alam mereka. Mereka pun mencari cara lain. Akhirnya tampil sebagai negara industri dan menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia.
Hal yang sama untuk negara-negara Eropa. Sebagian mereka minim kekayaan alam. Biaya hidupnya jadi cenderung tinggi. Tapi jadinya orang-orang Eropa sangat disiplin dalam menggunakan uang dan mandiri dalam banyak hal.
Sekaligus membuktikan satu pepatah lagi, “What doesn’t kill you, make you stronger.”
Tapi jadi ‘tajir’ itu bukan dosa. Pun bukan kelebihan. Lebih tepatnya, kekayaan itu cobaan. Lihat kan Negara Saudi? Mentang-mentang tajir, lupa diri ‘mendidik’ warganya hehehe. Dimanjakan terus, deh.
Hidup seperti roda pedati. Tidak selalu di atas. Sebagai orang tua, kita juga jadi belajar waspada. Sedari kecil mengajarkan kesederhanaan dan kerja keras pada anak-anak. Terlalu berat kalau mikirin negara, keluarga saja dulu :D.
Faktanya, lebih berat mengajarkan kesederhanaan pada mereka kala kita diberi kelonggaran rezeki. Kalau rezekinya sempit mah, mau tak mau kudu hemat hehehehe. Tapi coba kalau kita memiliki materi berlimpah? Gatal kan beliin ini itu buat anak-anak atas nama cinta dan, “La memang cari uang untuk mereka, kok.”
Nasib mereka tak pernah bisa kita ramalkan. Tugas kita hanya membangun pondasi yang kuat yang bisa mereka pakai untuk menempuh hidup. Siapa yang tahu, kehidupan mereka secara ekonomi di masa depan? Apa akan sejaya orang tuanya kini?
Makanya, ajarkan kesederhanaan dan kerja keras. Agar seperti apa pun mereka di masa depan, mereka tidak melumrahkan kehidupan dengan misalnya : baju-baju bermerek yang harganya tidak murah, makan di tempat mahal-mahal, liburan mesti ke hotel ;).
Kalau takdir menjadikan mereka sejaya kita sih tak masalah. Tapi apabila hidup menempa mereka lebih keras, siap tidak pakai baju murah makan di warteg? 😛
Bukan hal mudah memang. Ini catatan buat saya juga. Mampukan kami semua ya, Allah :).
***
A Little Snow Before Sunshine
by : Jihan Davincka
***
Sudah 30 hari. Asiiiikkk, ada alasan menulis status :P.
Bersama musim dingin yang sepertinya masih enggan bertukar tahta dengan musim semi hingga penghujung Maret ini, liburan paskah tengah berlangsung di Eropa. Libur resmi sejak hari jumat. Senin besok pun masih libur. 4 days in a row! ^_^
Ada suami di rumah, hari sabtu kemarin saya keluar berbelanja sendiri. Pertama kalinya nih, bersolo karier di jalanan kota Athlone tanpa iring-iringan duo balita :D.
Untuk membeli daging, harus ke toko khusus. Satu-satunya toko berlabel halal berjarak 2-3 km dari apartemen. Sebenarnya ada bis yang bisa mengantar ke sana. Atas nama kesehatan, mari kita berjalan kaki :D.
Cukup aneh buat si pendatang baru di Eropa, berjalan kaki di bawah teriknya matahari tapi suhu mentok di 3 derajat. Kulit muka terasa ditusuk-tusuk terkena tamparan angin dingin. Sempat menyesal tidak memilih naik bis saja.
Semakin menjauh dari pusat kota, jalanan mulai melebar. Pemandangan sisi kiri kanan jalan yang tadinya dipenuhi gedung-gedung toko, restoran atau apartemen, mulai berganti.
Rumah-rumah kecil bercerobong asap. Dengan rumput hijau di seluruh areal pekarangan yang luas. Bangunan bercat warna-warna pastel. Pohon-pohon berjajar rapi. Si banci Eropa mendadak kegirangan sendiri. She was so thankful that she finally had a chance to see all of these, right thru her eyes…directly. Persis seperti yang pernah dibayangkan waktu kecil. Yang dulu diangan-angankan kalau melihat latar belakang gambar buku-buku cerita bule terjemahan.
O ya, ada kebiasaan baru di sini yang mengundang sewot suami. Kalau istilahnya Abil, “permainan mulut naga.” Tahu kan, jika kita menghembuskan nafas lewat mulut di udara sedingin itu, ada asap yang ikut keluar dari mulut.
Kalau sedang bersama suami, kadang saya dan Abil berulang-ulang melakukan itu. Suami langsung ribut, “Ya ampun, udah dong. Norak tauuuu. Entar orang-orang ngeliatin.” Ahahahhhahaha.
Mumpung tidak ada suami, saya berkali-kali menarik nafas panjang, membuangnya lewat mulut. Senyum-senyum sendiri melihat asapnya berhamburan dari mulut. Lalu menghilang terbawa angin. Sampai puas dan akhirnya kelelahan sendiri. Bahagia itu sederhana :). Or let’s simply call it … norak! 😛
Tapi rasa senangnya langsung menguap tak berbekas. Sudah capek-capek berjalan kaki menantang udara dingin sejauh itu, tiba depan pintu toko, tokonya belum buka! Oh, crap! huhuhuhu. Bukanya masih satu jam lagi. Langsung lemas. Setelah menunggu 10 menit, si emak-emak nan malang ini pun pulang naik bis dengan tangan hampa.
***
Kalau soal teman, let’s just say it’s pretty ‘quiet’ here. Tapi karena pada dasarnya memang orang rumahan alias kuper dari sononya, tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Walaupun seringnya kangen juga dengan madam-madamku nun jauh di gurun sana :D. Belahan jiwa, apa kabarmu? Kuharap selalu tetap kau jaga, tumbuhan cinta yang di ladang kitaaaa … #sodorinMic :D.
Soal memasak? Well, a bit tricky yet challenging. Tapi sejak di Jeddah pun, memasak hampir tiap hari. Tidak suka jajan soalnya. Begitu tahu kalau daun jeruk dan sereh ternyata tak susah ditemukan, suddenly … all is well :D. Maklumlah, si lidah kampung bisanya masak masakan ‘kampung’ ;).
Yang tak terduga, seringnya terpaksa memencet tombol ‘hide’ untuk akun-akun yang hobinya memposting foto-foto Ka’bah atau anywhere @Madinah :P. Dua tempat yang konon katanya memang paling menyita rasa rindu untuk para alumni Jeddah :).
Pemandangan di belakang apartemen saya cantik sekali. Dari jendela kaca raksasa yang menguasai dinding belakang apartemen, kita bisa sepuasnya melihat sungai cantik yang membelah kota Athlone menjadi 2 sisi. Ada kapal-kapal kecil berwarna putih, yang masih sering terlihat diam di sisi-sisi dermaga kayu yang terhampar di sepanjang pinggiran sungai. Mungkin sama seperti saya. Sudah gelisah menunggu datangnya musim semi agar bisa melepas jangkar, membawa penumpang dan kembali meneruskan fitrahnya untuk…berlayar :).
Karena sinar matahari cukup langka di negeri berlangit muram dan murah hujan ini, begitu terik sedikit, saya tak membuang kesempatan untuk duduk-duduk di atas sofa. Tepat di hadapan jendela kaca tadi. Di seberang sungai, sebuah gereja tua berarsitektur khas Eropa kuno berdiri tegak. Ada jam dinding besar di sisi gereja yang menghadap ke sungai yang bisa kami intip kapan saja. Jadi hemat deh, enggak perlu beli jam dinding segala. Ahahahahahha.
Bahkan, yang seindah itu pun tak cukup sanggup memuluskan masa-masa beradaptasi, ya hehehehe. Mengapa pula di musim pertama tinggal di sini mesti dipertemukan dengan musim dingin selama ini. April sudah menjelang, tapi menurut sebagian besar penghuni benua ini, “Suasananya masih seputih bulan desember.”
Pernah suatu hari di Jeddah, dengan memakai baju kaos berlapis sweater plus celana panjang dan kaos kaki, saya memencet bel tetangga depan. Kala itu, baik saya dan dia belum berstatus ‘alumni’ :D.
“Bundaaaaa, dinginnyaaaaa…” Saya langsung menghambur masuk begitu empunya rumah membuka pintu.
“Iya. Katanya sekarang suhunya 19 derajat. Di bawah 20, nih.”
“Duh, pantesan dingin banget.”
Ironis, ya. Di sini, 19 derajat mungkin sudah puncaknya musim panas. Hehehehehe.
Itu baru soal suhu. Soal harga juga butuh penyesuaian khusus :P. Saya pernah menegur suami yang suka protes dengan harga-harga di sini, “Stop converting anything to riyal. It never works.” Apalagi kalau sudah menyerempet pajak. Stop remembering Saudi! Ahahahaha. Surga dunia urusan uang ;).
Maybe when in Europe, we can start learning about the value, rather than the price :).
Iya tho? Lain lubuk lain ikannya. Beda ladang, beda ilalang :). Mana pernah jalan-jalan di Saudi, berpapasan dengan orang yang baru ketemu pertama kali dan mereka menyapa dengan wajah penuh senyum, “Hai, how are you?”
Pernah suatu kali saat berjalan kaki menuju supermarket, sebuah bis diberhentikan oleh seorang bapak-bapak. Dia melambaikan tangan dari seberang jalan. Supir berhenti. Ternyata, dia bersama seorang perempuan sebayanya, yang mungkin istrinya. Juga seorang anak laki-laki dan setumpuk barang bawaan yang tidak mungkin terangkut dengan sekali jalan. Supir bis menunggu dengan sabar sembari si Bapak menuntun istrinya, balik lagi menjemput si anak, kemudian kembali membawa barang-barangnya.
Hebatnya, antrian mobil di belakang bis tadi tidak sedikit, lho. Tidak ada suara klakson sama sekali hingga akhirnya bis kembali berjalan. Kalau di Jeddah, sedang mengantri di lampu merah pun, suara klakson saling menyahut tidak sabaran :P.
Menurut teman di sini, orang-orang Irlandia ada juga yang suka menyerobot dan tidak sabaran. But I told her, “Trust me, once you live in Jeddah, you’ll change your mind in one second.” Berinteraksi dengan sesama pengemudi di jalanan Saudi punya seni tersendiri. Hehehehe.
Tapi kemudian, terbayang lagi yang murah-murah tadi semasa masih tinggal di Jeddah. Tak perlu repot mencari bahan makanan apa pun. Everything is halal in shaa Allah :).
Hampir pingsan melihat harga bensin di sini. Kami saja yang tidak terlalu sering jalan-jalan, meteran pengukur jarak di mobil (Jeddah) menunjukkan angka 35 ribu km untuk masa pakai 2 tahun. Ke warung jarak 100 m saja naik mobil kitaaaa ahahahaha. Hm, pantas saja susah sekali berbadan langsing di Saudi. Manalagi mendapat ‘perlindungan penuh’ dari abaya hitam yang wajib dikenakan kemana-mana :P.
***
Mana ada tempat yang isinya senang-senang semua? :).
Pasti ada masa-masa matahari bersinar dengan sangat teriknya. Sampai-sampai kita mesti memicingkan mata dan tak sadar mengutuk, “Gile, panas amat, sih. Bisa gosong nih gue.” Tapi kalau sinarnya menghilang, bete deh cucian enggak kering-kering.
Selalu ada saat-saat hujan menguasai masa. Susahnya mau kemana-mana. But wise man said, “Everybody wants happiness. Noone wants pain. But you can’t have a rainbow without a little rain.”
Seperti pula di musim dingin berkepanjangan yang kadang membuat orang terlihat sedikit lebay (me, me, me! :P). Nyaris tak ada salju di Irlandia. Nyaris. Sudah beberapa kali pemandangan dari jendela memperlihatkan sekumpulan kapas kecil-kecil beterbangan di udara. Finally, I see snow. Thank God, just a little ones :). Dan saya setuju dengan suami yang pernah berkata, “Perhatiin gak, kalau habis salju kecil biasanya langit bakal terang.”
Indeed. And if we can make a little change …”You can’t have a sunshine without a little snow.” There it goes our motivational quote ^_^.
Can’t wait to see spring and summer. Satu-satunya hal paling tepat yang bisa dilakukan, seperti yang tertera di bak-bak belakang truk yang biasanya melintasi jalanan antar kota, “SABAR MENANTI.” 🙂

Jeddah, Our Second Home
by : Jihan Davincka
***
30 bulan di Jeddah menyisakan banyak kenangan-kenangan seru. Seratus paragraf pun belum tentu bisa menceritakan satu per satu *tsaaahhh* :P. But, time to move on :).
They said, “A picture can paint a thousand words.” Maka best moments di Jeddah disajikan dalam bentuk video.
Jeddah, has become a second home for us. And for that…we always wanna go home :).
Enjoy the video ^_^.
https://www.4shared.com/video/aQ3ysg1W/Jeddah__Best_Moments_Video__ve.html
Selamat Datang di Negeri Leprechaun! :)
It’s been a week!
Sabtu lalu, jam 7 pagi, kami berempat mendarat di Dublin International Airport. Keluar dari pesawat sih masih pecicilan. Kostum masih ala-ala orang tropis. Setelah berganti kostum di ruang tunggu, baru deh menuju halte. Menunggu bis menuju Athlone.
Si duo N masih segar bugar. Sibuk mengunyah. They’re extremely great during the trip. Terbang 9 jam dari Jakarta ke Abu Dhabi, Boy2 tidur terusssss :D. Boy1 sibuk sendiri dengan tontonan dan gamesnya, makannya juga lancar dan banyak. Trio Emirates-Etihad-Saudi Airlines memang makin top ^_^. Viva Middle East :D.
Transit di Abu Dhabi, bocah-bocah ribut minta makan lagi. Penerbangan ke-2 selama 7-8 jam menuju Dublin, dua-duanya juga kompak tidur setelah sebelumnya ikut makan dengan lahap ;).
What a super-duper-pleasant trip :).
***
Begitu keluar dari gedung bandara, langsung keder. Di pesawat sebelum landing sudah diberi tahu suhu di luar sekitar 0-1 derajat. Pede amat hanya memakai mantel yang agak tipis. Peristiwa saltum yang harus dibayar dengan bibir-lutut-tangan gemetaran setiap berada di luar ruangan.
Saya dan suami sama-sama mendorong troli yang sesak dengan barang plus 2 bocah laki-laki yang cuma bisa mingkem kalau lagi tidur :P. Sedapnya, dorong-dorong troli menembus suhu super dingin.
Butuh 2 jam perjalanan dengan bis untuk mencapai kota tujuan, Athlone. Dalam bis lumayan hangat. Si duet maut duduknya dipisah. Yang kecil dengan saya. Tidur pulas sepanjang perjalanan. Sementara mamanya menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dengan noraknya. Ahahahahaha. We’re in Europe, Maaannnn! :P.
***
Menurut suami saya sih, Irlandia termasuk negara Eropa yang biasa-biasa saja. Jerman-Swiss-Perancis masih jauh lebih bagus. Iya deeeeehhh, yang sudah sering keluyuran kemana-mana :P.
“Ireland is just a beginning. You can take me to the mainland later. Bring me to anywhere I want.” Suami langsung stres. Ahahahahaha.
Irlandia juga tidak terlalu populer di tanah air. Buktinya banyak teman-teman saya sibuk bertanya “Irlandia itu dimana, sih?” Kalau pun ada yang familiar, pastilah karena Boyzone :P.
Irlandia, terletak di salah satu wilayah paling barat di Eropa. Tetangganya Inggris. Nanti kalau sepupu saya (si Kate) lahiran, insha Allah mau nengokin. Ahahahahahaha.
Irlandia terletak di pulau terpisah. Ibukotanya Dublin. Athlone hanya sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 124 km dari ibukota. Penduduknya cuma sekitar 20 ribu orang. This city is always sleeping :D.
Kontras sekali dengan kota metropolitan seperti Jakarta dan Jeddah. It’s definitely a brand new life :).
***
Saya suka Eropa terutama karena ‘sosialis’nya :). I love Jakarta and Jeddah for sure. Tapi tidak terlalu nyaman dengan kelas-kelas dalam masyarakat yang terbentuk dengan sendirinya. Apa serunya naik mobil kemana-mana kalau kita bisa melihat pengemis ada dimana-mana? :(.
Di Athlone, gap-gap seperti ini nyaris tak terlihat. Seperti pada umumnya di berbagai kota di negara-negara maju lainnya. Kalangan menengah mendominasi.
Tentu ada harga yang harus dibayar. Selamat tinggal kehidupan ala Madam di Saudi :P.
Di Jeddah, kemana-mana naik mobil. Mau ke warung dekat rumah saja, kalau suami di rumah, pasti dia memilih mengantar naik mobil. Di Athlone, kemana-mana enak juga berjalan kaki. Kotanya kecil, kok ;). Kami belum memutuskan untuk segera membeli mobil.
Di Jeddah mau keluar tinggal menyambar abaya. Kalau buru-buru, anak-anak bisa ganti baju di mobil. Kemana-mana pakai sandal saja. Di Athlone, sebelum keluar rumah, ritualnya cukup banyak. Memakaikan baju berlapis plus jaket tebal plus kaos kaki plus sepatu pada para bocah. Untuk mamanya juga begitu. Maklum ya, masih penyesuaian. Bodi masih suasana gurun mendadak pindah ke ‘kulkas’ hihihihihi :P.
Apartemen sementara kami di lantai 3. Catat ya, ternyata tidak banyak apartemen di sini yang memiliki fasilitas lift. Kalau suami di kantor, saya harus menenteng stroller naik turun tangga sambil menggendong si kecil dan mengawasi penuh kakaknya yang pecicilannya minta ampun. Kalau plus barang-barang belanjaan lebih maknyus lagi.
Kalau dulu membayangkan akan menyusuri jalanan dengan santai sambil menenteng kamera, memakai sepatu boot + mantel yang keren, tas nya juga mesti yang dandy punya. Keep it in your dream, Mommie! Hehehehe.
Kemana-mana mendorong stroller, sepatu keds ternyata pilihan yang lebih nyaman. Kamera? mau ditaruh di mana? Ransel (model tas yang sudah lama tak pernah dilirik) pun ditenteng kemana-mana. Sembari nyinyir di sepanjang jalan, “Abiiiiil, jangan lari. Abiiil, jangan loncat-loncat, jalan biasa aja. Abiiiilll, tungguin mama, dong.” Ahahahahahaha. Welcome in Europe, Mama Jihan ^_*.
Berbelanja di supermarket pun tantangan tersendiri. Lupakan troli. Mana sanggup mendorong troli dan stroller sekaligus? Lagian untuk menggunakan troli mesti pakai koin. Entah nanti koinnya dibalikin apa gimana. Dan tentu saja…no plastic bags available for free! Memangnya di Saudi. Belanja beberapa item saja, plastiknya bisa segambreng.
Tujuannya bagus :). Ramah lingkungan. Itu pula gunanya membawa ransel. Sebagian belanjaan bisa disisipkan di punggung, sisanya taruh di stroller. Belum memungkinkan membeli tas belanja khusus. Soalnya kemana-mana saya bawa buntut sambil berjalan kaki.
Uniknya adalah masalah berhemat. Semua orang pasti akan berusaha hidup hemat lah di negara-negara Eropa. Penghasilan dihantam dengan pajak yang tidak sedikit dan biaya hidup yang tidak murah. Masih ingat kan, di Saudi pajaknya 0 rupiah :D. Kami seharusnya tidak masalah, dong, ya. Semasa tinggal di Saudi sudah terkenal sebagai “keluarga Gober” hehehehe. Tapi suami saya sempat berujar, “Beda ya rasanya, berhemat karena pengin sama berhemat karena terpaksa.” Ahahahahahaha.
***
Other than that, I love Athlone. Dari kecil saya sudah jatuh cinta pada Eropa. Terima kasih tak terhingga buat Clara dan keluarga yang sangat helpful pada kami. Juga untuk sahabat jiran baru kami, Kak Lina dan keluarga :).
Mungkin memang saya termasuk orang yang gampangan. Gampang senang :P. Karena saya juga menikmati masa-masa tinggal di Jeddah. Teman-teman saya kadang mengeluh betapa panasnya cuaca di Jeddah. Menurut saya, limpahan matahari itu berkah tersendiri. Maklum, menghabiskan 18 tahun kehidupan di kota pantai. Asli Makassar, nih ;).
Udara dingin kadang bikin keki. Tapi senang karena kemana-mana berjalan kaki tidak cepat terasa lelah.
Ah, ini kan baru seminggu. Jangan sombong dulu kauuuuu :D. Well, as long as we believe that “happiness is not given but it is made,” mari kita selalu bergembira, “Disini senang, di sana senang, dimana-mana hatiku senang.”
Wish us nothing but the best. Selamat datang di Negeri Leprechaun! :).









