Artikel Jalan-jalan Pertama Tentang Athlone

Iyap, artikel jalan-jalan pertama tentang Irlandia yang dimuat di media cetak. Semoga bukan yang terakhir hehehe. Pertama tentang Athlone tapi muncul untuk kedua kalinya di Tabloid Prioritas :D.

Palang Merah

Tulisan ini aslinya berjudul, “Saint Patrick’s Day, Perayaan Khas Bangsa Irlandia.” Perayaan ini berlangsung setiap tahunnya di tanggal 17 maret. Waktu itu, lagi dingin-dinginnya. Demi segenggam rupiah, dibela-belain ke luar rumah untuk bikin liputan hehehehe  :P.

Ada versi onlinenya, lho. Silakan disimak langsung.

https://www.prioritasnews.com/2013/05/07/gempita-saint-patricks-day/

Who are We to be Blind?

“…Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat …”

Masih ada yang ingat? :).

Paragraf di atas adalah alinea ke-4 dari pembukaan UUD 1945. Bertahun-tahun lalu, saat masih duduk di bangku SD hingga SMP, tiap hari senin para pelajar berjajar rapi di halaman sekolah masing-masing untuk melaksanakan upacara bendera. Mendengarkan naskah pembukaan undang-undang secara utuh adalah bagian dari ritual mingguan tersebut.

***

 

Baru-baru ini, melalui news feed di FB, beredar cerita mengenai seseorang yang bernama Hadi Susanto. Seorang anak dari keluarga yang tidak mampu yang semasa SMA harus mengayuh sepeda ontelnya sejauh 30 km menuju sekolah. Saking jauhnya dan saking miskinnya, tiap hari Hadi selalu membawa 2 buah tas. Satu tas lagi berisi bekal makanan yang dibawa dari rumah.

 

Hadi tergolong cerdas. Karut marut ekonomi keluarga tak membuat Hadi patah semangat untuk tetap mencoba peruntungannya melalui jalur UMPTN. Menempuh S1 di ITB, beasiswa pun menghembuskan nasib baiknya ke Belanda untuk menuntaskan pendidikan S2 sekaligus S3. Sempat bekerja di Massachusetts (US), kini Hadi menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Inggris. Tepatnya di University of Nottingham, kotanya Robin Hood.

Mantra apa yang ‘membebaskan’ Hadi yang memiliki nama kecil Combat (panggilan dari teman-temannya karena perawakannya yang seperti tentara) dari ketidakmampuan secara ekonomi? Sihir apa yang tidak hanya menerbangkannya jauh-jauh dari Lumajang hingga ke Inggris, tapi turut melambungkan harapan yang mungkin tak pernah dipikirkannya saat masih bersekolah di Bandung dulu?

Sederhana sekali jawabannya…pendidikan. Salah satu cara ‘mudah’ memutuskan mata rantai keterpurukan ekonomi adalah pendidikan.

Kontras dengan kisah Hadi, sekitar seminggu yang lalu seorang teman di Jeddah menghubungi saya via email. Mengisahkan perihal ‘darurat pendidikan’ bagi murid-murid di sekolah Indonesia di kota Jeddah. Barusan pula, Ibu Elly menelepon saya dan bercerita panjang lebar mengenai ‘cita-cita’nya yang mungkin akan segera terkubur bersama makin ketatnya negara Saudi dengan undang-undang kependidikannya.

Sekolah Indonesia di Jeddah

Siapa Ibu Elly?

Nama lengkapnya Elly Warti Maliki. Lulusan Al Azhar – Mesir yang memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan tanah air. Ibu Elly bersama keluarga besarnya sudah hidup merantau belasan tahun di Arab Saudi. Tepatnya di kota Jeddah. Kepedulian Ibu Elly terhadap dunia pendidikan tidak hanya sebatas opini dan pantauan semata.

Ibu Elly merupakan pendiri “Sekolah Islam Terpadu – Darul Ulum” (SIT-DU). SIT-DU  menggunakan kurikulum nasional yang dikombinasikan dengan kurikulum hasil temuan Ibu Elly dan tim, “Lantisa” (kemampuan untuk berbicara lancar dalam tiga bahasa, Indonesia – Arab – Inggris).

Awalnya Darul Ulum berdiri sebagai Taman Pendidikan Alquran (TPA) di tahun 1992. Sejak tahun 2007, berdirilah SIT-DU. Sekolah tersebut kini sanggup menampung siswa sekitar 300 orang, dari TK hingga SD.

Ibu Elly menolak menjadikan sekolah ini sekolah swasta. Sesuai SKB dari Depdiknas (1981), pihak swasta (selain pemerintah) tidak boleh mendirikan sekolah Indonesia di luar negeri. Pilihan bagi swasta adalah sekolah internasional. Akhirnya, SIT-DU berafiliasi dengan “Sekolah Indonesia Jeddah” (SIJ) yang merupakan sekolah pemerintah Indonesia di Jeddah. Itu pun sebenarnya statusnya ‘samar-samar’ atau ‘ilegal’.

Ibu Elly tetap percaya diri untuk terus menjalankan sekolah ini dengan status tersebut. Tujuan beliau memang mulia. Sekolah ini didirikan untuk menampung anak-anak dari kalangan tidak mampu. Tak sedikit jumlah perantau asal Indonesia yang bekerja di sektor informal yang akhirnya tinggal bersama keluarga mereka di Jeddah. Termasuk anak-anak mereka. Ada yang juga berstatus ‘ilegal’, tidak punya iqama (KTP Saudi).

Sebagian orang tua dari kalangan ‘formal’ memilih memasukkan anak-anak mereka ke sekolah internasional. Meskipun belakangan, banyak juga orang tua dari kalangan ‘pekerja formal’ yang memasukkan anaknya ke SIT-DU. Namun, hingga kini mayoritas anak-anak yang bersekolah di sana berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Inilah alasan utama mengapa Ibu Elly menolak keras usulan agar menjadikan SIT-DU sebagai sekolah swasta internasional. Sekolah internasional akan terbebani dengan biaya operasional yang besar yang akan berimbas pada tingginya biaya sekolah yang tak akan mungkin sanggup ditanggung oleh sebagian orang tua murid. Sebagai catatan, sekolah internasional mematok harga hingga puluhan ribu riyal per tahun.

Alasan keduanya adalah masalah kurikulum. Ibu Elly berharap dengan mempertahankan kurikulum nasional tak akan mencabut ‘akar-akar kecil’ ini dari tanah kelahirannya. Beliau pun sangat percaya diri dengan program “Lantisa” yang telah diujicobakan dan mendapat hasil yang cukup positif.
Ketika di Jeddah, anak saya pun bersekolah di SIT-DU. Saya pernah menjadi saksi betapa tingginya harapan para ibu-ibu dari kalangan menengah ke bawah ini kepada para ananda tercinta. Tidak main-main mereka dalam menyekolahkan anak. Saat mengantar, berbagai ucapan disampaikan secara serius kepada anak, “Lihat dong muka Ibu. Belajar yang benar, ya. Mana bukunya? Perhatikan pensilnya jangan sampai hilang lagi.” Sebagian mereka, setelah mengantar anak-anak ke sekolah, harus pulang untuk bekerja.

Huru-hara kasus-kasus yang dialami para TKW yang pernah ramai diberitakan di media nasional tidak meruntuhkan semangat luar biasa mereka untuk meninggalkan kampung tercinta, datang mengadu nasib jauh-jauh ke Saudi. Mereka mungkin lebih takut kalau suatu hari nanti mereka masih diberi umur panjang dan mereka harus menyaksikan anak cucu mereka akan menjalani takdir yang sama. Dengan penghasilan seadanya, kemana mereka harus mengirimkan anak-anak mereka untuk bersekolah. Tanpa pendidikan memadai, perbaikan masa depan apa yang bisa ditawarkan pada anak-anak mereka?

Belum lama saya share berita tentang perlakuan yang tidak menyenangkan yang kerap mereka alami di bandara Soetta. Kini, pemerintah pun tak kunjung ‘bersuara’ mengenai anak-anak mereka nun jauh di kota Jeddah sana.

Jangan lupa, sebagian mereka juga seorang Ibu seperti kita. Seorang ibu yang mungkin dalam doa-doanya di malam hari mengangkat tangan dan berbisik dalam doanya kepada Tuhan, “Ya Allah, semoga anak saya kelak menjadi presiden. Aamiin.”

Ancaman Tsunami Pendidikan di Jeddah

Tahun ini, pemerintah Saudi memperketat aturan kependidkan terutama tata kelola sekolah-sekolah asing. Ada dua masalah yang tengah dihadapi Ibu Elly selaku kepala pengelola SIT-DU. Izin operasional kembali dipertanyakan.

Sebenarnya sejak tahun 2010, Ibu Elly sudah berusaha berkoordinasi dengan pihak KJRI mengenai kemungkinan untuk peninjauan ulang SKB mengenai pendirian sekolah Indonesia di luar negeri tadi. Tapi hingga kini tak ada kejelasan status.

Masalah lainnya adalah masalah kelayakan gedung. SIT-DU memang berlokasi di sebuah pemukiman biasa. Sebuah rumah yang disulap menjadi gedung sekolah. Disekat-sekat seadanya. Sudah 3 bulan ini, Ibu Elly berusaha berjuang mencari perlindungan kemana-mana. Sementara salah satu usulan pihak KJRI untuk bergabung ke SIJ cukup mustahil.

SIJ sendiri pun ditempa masalah kelayakan gedung. Jumlah murid di SIJ kini sekitar 1000 siswa. Sementara kapasitas gedung hanya untuk 600 orang. Sudah berkali-kali ada wacana untuk memindahkan gedungnya ke tempat lebih layak. Bahkan konon, beberapa waktu lalu, Bapak Presiden bertandang ke Jeddah dan dijadwalkan untuk meninjau gedung sekolah. Tapi ternyata kunjungannya batal. Wacana pemindahan gedung kembali tersamar, mungkin selamanya akan menjadi sebatas wacana.  Bayangkan, bagaimana bila sekitar 300 murid dari SIT-DU  harus ikut berjejalan di sana? Sementara pihak SIJ pun sudah menunjukkan penolakan.

Persoalan ketiga adalah masalah status beberapa siswa di SIT-DU merupakan anak-anak ilegal (tidak memiliki nomor iqama). Hal itu melanggar peraturan resmi. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Elly, “Saya dianggap seperti penjahat karena melanggar peraturan menampung anak-anak ilegal di sekolah saya. Mereka sepertinya tidak berhak berkumpul dengan anak-anak yang legal. Mereka sepertinya tidak berhak mendapatkan pendidikan.”

Untunglah persoalan terakhir ini telah mendapat titik terang. Pemerintah Saudi telah memberikan amnesti kepada warga asing ‘bermasalah’ yang ingin tetap bekerja di Saudi.

Peninjau sekolah dari Pemerintah Saudi telah memberi ultimatum. Waktu yang tersisa tinggal 47 hari lagi. Ibu Elly kembali bertutur, “Sampai hari ini belum nampak secercah cahaya pun yang dapat menyelamatkan sekolah kami dari ancaman penutupan.”

Melalui telepon, Ibu Elly berkata, “Tsunami di Aceh jelas bencana besar. Kita bisa melihat jelas korbannya secara fisik. Tapi orang-orang tidak sadar, tsunami yang sama tengah terjadi di Jeddah. Korbannya mungkin tak terluka secara fisik. Tapi secara batiniah. Mereka tak sadar hak mereka dirampas. Bencana besar bagi masa depan anak-anak ini.”

Who am I to be Blind?

Sewaktu salah satu anggota Persatuan Orang Tua Murid (POMDA), Bapak Wibowo Pujokongko Adi / Pujo (teman kantor suami di Jeddah), menghubungi saya beberapa waktu untuk meminta saya menuliskan tentang ini, saya sempat ciut. Aduh, pikir saya. Memangnya saya ini siapa, ya? Lagian, di tengah maraknya kekisruhan di tanah air, banyaknya  berita-berita kurang sedap, siapa yang akan peduli? Pemerintah tengah didera berbagai masalah korupsi, baru-baru ini pun masalah Ujian Nasional bergema dengan nyaring.

Dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, berapa persen sih 300 orang ini? 1 persen saja tidak ada. Sementara di tanah air, masalah negatif pendidikan dari berbagai segi tidak kurang gaungnya.

Apa dengan ditiadakannya pembacaan pembukaan UUD 1945 di upacara bendera hari senin, akan membuat ‘mereka yang di atas sana’ ikut meniadakan salah satu kewajiban mereka untuk MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA?

Tapi saya lantas teringat salah satu petuah Bung Karno, “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi. Satu orang pemuda dapat mengubah dunia.” Cuma butuh satu orang pemuda untuk melakukan banyak hal besar. Satu pemuda ini mungkin ada diantara yang kurang dari 1 persen tadi.

Siapa yang tahu, kalau kegalauan meruntuhkan keberanian saya untuk menuliskan ini, sang pengubah dunia itu gagal memenuhi takdirnya. Siapa yang tahu diantara anak-anak ini ada calon “Hadi Susanto-Hadi Susanto” yang seharusnya mampu untuk merapalkan mantra dan sihir untuk terbang jauh mengukir cita-cita setinggi langit di sana. Siapa yang tahu, kelak mereka akan membuat orang tuanya berbangga, melupakan semua kepahitan masa lalu dan tersenyum, “Tidak ada yang sia-sia.”

Maka dari itu…  “who am I, to be blind? Pretending not to see their needs.” (Man in the mirror, M. Jackson)

Saya juga tidak tahu harus ditujukan kepada siapa tulisan ini. Tak ada waktu lagi untuk ‘mengemis’ perhatian di media cetak resmi. Kurang dari 2 bulan lagi, vonis akan dijatuhkan kepada sekolah ini. Maka, saya pun sama sepakat dengan Pak Pujo, “Mungkin kita bisa berbagi melalui media sosial.”

Siapa yang tahu ke mana tulisan ini akan bermuara? Mana tahu ada pihak-pihak yang bisa menggugah pihak berwenang di pemerintahan. Bantulah mengalirkan tulisan ini sejauh yang mungkin bisa.

Bantuan terkecil yang kita bisa tentu berdoa :). Who are we to be blind? Pretending not to see their needs.

Kalau pun tak sanggup pemerintah membuka lapangan pekerjaan bagi mereka di Indonesia sehingga tak perlu payah-payah mereka merantau jauh ke Negeri Gurun…

Kalau pun tak sanggup pemerintah membela hak-hak mereka, memperjuangkan hak-hak mereka di Negeri Rantau…

Kalau pun tak sanggup pemerintah memberikan (setidaknya) perlakuan yang layak bagi mereka saat mereka kembali ke kampung halaman setelah lelah ‘bertarung’ di Negeri Orang… walaupun konon, predikat “Pahlawan Devisa” disematkan pada mereka…

Maka…jangan rebut HARAPAN mereka bagi anak-anak mereka. Anak-anak adalah masa depan orang tua. Cukuplah perlakuan tidak adil bagi mereka.

(Mungkin) satu-satunya yang membuat mereka bertahan adalah HARAPAN, untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Tanpa pendidikan, HARAPAN apa yang bisa dibangun? :(.

“Never deprive someone of hope; it might be all they have.” H. Jackson Brown, Jr.

Let’s not kill THEIR HOPE, it might be all they have to continue all these suffering they’re bearing now. Don’t kill that only reason.

***

Note :

Bapak Pujo, walaupun berkepentingan sebagai salah satu orang tua murid di skana, sebenarnya bisa saja tidak peduli. Beliau, dengan jabatan sebagai manajer di salah satu vendor telekomunikasi internasional, tak akan kesulitan sama sekali memasukkan putra putrinya ke sekolah internasional. Tapi beliau ini memilih ikut ‘berjuang’ :). Sekaligus menjadi salah satu narasumber utama dari tulisan ini, selain Ibu Elly Warti sendiri.

***

Murid-murid SIT-Darul Ulum
Murid-murid SIT-Darul Ulum

Bersahabat dengan Kekasih Sejati di Dunia

buku-mb-nurul

Saat membaca judul buku ini, yang terbayang di benak saya adalah kata-kata yang saya di dengar di sebuah pengajian beberapa waktu lalu, “Sungguh merugi orang-orang yang diberi kesempatan hidup dengan kedua orang tuanya dan mereka gagal mendapatkan surga.”

Maknanya sungguh dalam.

***

Mungkin ketika kita telah menikah dan memiliki anak, perlahan kita mulai mengayuh biduk kecil kita makin menjauh dari mereka. Mungkin yang terpikir, “Ah, mereka kan masih sehat.” Atau terlintas, “Cukuplah dikunjungi cucu-cucu dan anak menantu tiap akhir pekan.” Bahkan ada yang menganggap, “Diberi uang bulanan juga sudah cukup.”

Sudah mulai terkikis ingatan akan mereka yang mungkin disampaikan kerabat lain, “Kamu dulu, tuh, makannya susahnya minta ampun. Sabar sekali Mamamu menyuapi kamu. Belum lagi kalau ngambek. Terus tidak mau minum pakai botol susu. Waktu masih menyusui, mesti dibawa ke mana-mana.”

Atau kenangan tentang Bapak. “Dulu membesarkan 7 anak kayak apa itu kerja kerasnya siang dan malam.” Iya, saya ini 7 bersaudara.

Saya mungkin tak seberuntung beberapa orang lain. Bisa berlama-lama bersama Bapak. Almarhum Bapak sudah meninggal lama. Sudah 20 tahun berlalu sejak beliau meninggalkan rumah dengan motor Vespa hijaunya. Hendak bermain bulutangkis bersama rekan-rekan di hari Jumat malam seperti biasa.

Dua jam kemudian telepon berdering, Bapak mendadak tumbang di lapangan. Dilarikan ke UGD. Setengah jam kemudian telepon kembali memanggil. Hanya 5 menit di UGD, serangan jantung membawa beliau pergi untuk selamanya.

Dua belas tahun diberi kesempatan untuk bersama beliau. Tentu inginnya lebih lama.

Saat mereka sudah tidak ada di sisi kita, tiba-tiba ada banyak hal yang kita sesali. Berharap waktu melempar kita kembali dan membalaskan kasih tak berujung mereka. Yang berlimpah ruah sejak kita lahir hingga dititipi cucu agar kita bisa sejenak bersantai bersama pasangan saat akhir pekan tiba.

Makanya selagi masih ada waktu, jadilah sahabat mereka. Membahagiakan mereka bukan karena janji surga semata. Tapi tentu untuk kebahagiaan kita sendiri. Seperti janji Tuhan, siapa yang berbuat baik maka dia telah berbuat baik untuk dirinya sendiri.

Mungkin banyak dari kita berharap kelak dapat merawat orang tua saat usia mereka mungkin sudah memasuki senja. Tapi kadang berbakti kepada mereka bukanlah perkara mudah. Tidak sederhana.

Sekali waktu, bahkan mungkin sering, kita mengeluh saat merawat mereka. Ada kesal, bingung, bahkan serba salah. Kadang mereka tiba-tiba seperti anak kecil. Tidak bisa ditebak apa maunya. Karena itulah kita perlu menyiapkan ‘BEKAL’.

 

Pengetahuan minim kita akan kondisi fisik mereka dan apa saja kendala psikologi yang mereka hadapi membuat kita kebingungan. Mengapa mereka menjadi begini atau mengapa mereka tiba-tiba begitu. Kita perlu tahu apa yang mereka rasakan? Perubahan apa yang mereka alami?

Buku ini memiliki pemaparan yang lengkap misalnya penyakit-penyakit orang tua di usia senja dan bagaimana perawatan yang tepat.  Disisipkan pula kisah-kisah dari masa-masa kehidupan Nabi hingga zaman sekarang mengenai berbakti kepada orang tua. Nilai lebih lain dari buku ini juga ada pengalaman nyata tentang merawat orang tua dari berbagai keluarga.

Bukan hanya pelajaran di sekolah yang mesti kita kuasai teorinya. Menemani kedua orang terkasih ini pun perlu dijejali dengan pengetahuan dasar yang mumpuni. Lakukan sebaik yang kita bisa untuk mereka. Seperti mereka yang selalu sanggup melakukan apa pun hanya untuk sekedar menghapus beberapa butir airmata di masa kita kecil dahulu.

Jika ternyata salah satu atau kedua orang tua kita pun sudah tidak ada, buku ini tetap menarik untuk dibaca. Agar bisa kita semaikan benih-benih pengetahuannya untuk generasi kita selanjutnya.

Jemputlah surga kita, bahagiakan kedua orang tua, kekasih sejati kita di dunia. Selamat membaca.

 

Every MakGer Has Her Own Story

MakGer tidak ada hubungannya dengan Mick Jagger :D. MakGer, emak blogger yang tergabung dalam Kumpulan Emak-emak Blogger, baru saja menuntaskan perhelatan akbar, Pemilihan Srikandi Blogger 2013. Maaf untuk para blogger pria, ini khusus untuk penulis blog perempuan saja. Peranan apa yang mereka mainkan sehingga memunculkan kompetisi untuk meraih mahkota ‘Srikandi Blogger’ ini? Apa istimewanya para MakGer ini?

Gambar : emak2blogger.web.id
Gambar : emak2blogger.web.id

Kekuatan Sharing via Blog

Era digital menggiring kita ke era kebebasan informasi. Saya ini termasuk yang sering banget  mengandalkan bantuan si kamus serba ada alias “Mbah Google” dalam soal apa pun. Termasuk saat saya sudah menyandang status Ibu dimana urusan anak otomatis menjadi prioritas penting dalam kegiatan sehari-hari.

Menjadi Ibu di zaman sekarang ini referensinya banyak dan mudah didapatkan secara gratis dari berbagai situs. Misalnya saat anak demam, muntah-muntah, dan diare. Kadang-kadang, bukannya ke dokter, saya malah googling dulu. Hehehe.

Masalah anak bukan cuma kesehatan saja, kan? Soal yang lain juga komplit dan mudah diakses hanya dengan memainkan jemari di atas keyboard saja.

Salah satu referensi andalan saya adalah blog. Terutama blog yang ditulis oleh beragam ibu-ibu di seantero nusantara. Melalui blog, saya leluasa meraup informasi berdasarkan pengalaman langsung dari sesama emak-emak. Saya bersyukur berkat membaca beberapa pengalaman mereka via blog tentang alergi pencernaan yang dialami anak-anak mereka membuat saya akhirnya menemukan jawaban atas alergi yang juga dialami oleh anak sulung saya.

Informasi makanan anak juga lengkap. Mulai dari panduan memilih bahan makanan sejak usia 6 bulan, variasi resep makanan si kecil, hingga tips-tips ketika si kecil memasuki fase GTM. Seiring dengan seru dan ramainya topik yang didiskusikan seputar perkembangan anak ini, memunculkan banyak istilah-istilah lain selain GTM, seperti : Clodi, MPASI, MPASU, Sufor, RUM, dsb. GTM sendiri artinya Gerakan Tutup Mulut. Segala sontekan ini sudah bisa diintip jauh sebelum sang anak hadir di dunia.

Blogger perempuan tak pernah mati gaya dalam berkisah. Sebelum melepas masa lajang, saya sering mengintip kisah-kisah persiapan pernikahan. Tak sedikit blogger perempuan yang mengabadikan perjalanan momen pernikahannya dalam blog. Mulai dari memilih venue, seserahan, model baju pengantin, dsb. Bercerita lengkap dari prosesi lamaran hingga resepsi digelar. Secara terperinci menjelaskan secara detail di mana berburu barang-barang seserahan. Konsep foto pre-wedding pun tidak ketinggalan. Lengkap dengan pilihan tempat untuk menjahit kebaya pernikahan, dsb.

Female Blogger(s) are 'in action'
Female Blogger(s) are ‘in action’ (gambar dari berbagai sumber / tercantum dalam gambar)

Perempuan dan Peer Pressure

Konon, perempuan tak mudah lepas dari peer pressure. Kita mengira segala drama persaingan ini akan berakhir ketika bangku sekolah sudah ditinggalkan.

Memasuki dunia emak-emak, ‘kompetisi’ berlanjut ke masalah anak. Tren ini pun dialami oleh para emak-emak blogger. Tadinya di masa lajang sering menulis tentang diri dan sekitar saja. Ketika hamil mulai rajin mencatatkan minggu demi minggu kehamilannya. Apalagi di kehamilan pertama.

Setelah berstatus resmi sebagai ‘Ibu’, isi blog mulai didominasi oleh perkembangan anak.  Selain untuk merekam kenangan, bisa menjadi referensi buat perempuan lain yang akan atau tengah menghadapi pengalaman serupa.

Terkadang tujuan utama sekadar ingin berbagi cerita. Lama kelamaan menjelma menjadi ajang persaingan. Mulai was-was sendiri melihat berat badan anak dibandingkan dengan berat badan anak si anu. Mengapa anak sendiri usia satu tahun berdiri pun belum tegak, tapi membaca kisah ibu lain di blog yang anaknya sudah berlari di usia 13 bulan.

Awalnya ingin berbagi serunya menyaksikan sendiri perkembangan anak karena memilih menjadi ibu rumah tangga. Namun, kebanggaan berlebihan membuahkan hujatan pada mereka yang berbagi masalah perawatan anak dengan para pengasuh.

Maksud hati ingin menyemangati ibu-ibu lain agar memberi ASI pada anaknya sekaligus berkampanye. Malah sering tak sadar menghakimi mereka yang tak mampu mengemban tugas menyusui anak dan beralih ke susu botol.

Sebuah buku mengenai parenting style, “Battle Hymn of the Tiger Mother” yang ditulis oleh Amy Chua, sempat menjadi menghebohkan kalangan ibu-ibu. Tak sedikit blogger perempuan yang mereview buku tersebut dan menghadirkan kompetisi baru antara ‘western parenting’ vs ‘eastern parenting’. Ada yang masih ingat? :).

Uniknya, perselisihan ‘klasik’ ini tak kalah serunya di dunia maya. Bermunculannya emak-emak blogger dari segala penjuru memungkinkan kita untuk memantau langsung kehidupan mereka sekaligus anak-anaknya. Jangankan anak tetangga, anak orang lain yang tinggal berjarak ratusan mil di sana terasa dekat dengan bantuan sebuah layar komputer saja.

 

mommies war all
(Gambar : dari berbagai sumber / tercantum dalam gambar)

Mengapa bersusah payah meributkan perbedaan yang sampai kapan pun pasti akan selalu ada? Kita sering melupakan satu persamaan besar kita. Kita semua sama-sama PEREMPUAN :). Fokus saja pada itu.

Bersatu di Bawah Naungan “Kumpulan Emak-emak Blogger”

Saya masih termasuk anak bawang dalam “Kumpulan Emak-emak Blogger.” Begitu bergabung, langsung berada dalam keramaian suasana  menjelang tahap akhir seleksi “Pemilihan Srikandi Blogger 2013.”

Saya sendiri tak ikut mendaftar. Saya sempat ciut. Saya pikir, “Ah, ini pasti yang dipilih nanti ibu-ibu yang banyak menulis tentang opini yang susah-susah.” Pasti bukan emak-emak blogger yang lebih sering menulis tentang anak-anak dan hal ringan lainnya seperti saya.

Ternyata…saya terkecoh. Dalam Kumpulan Emak-emak Blogger kita tidak melulu diminta untuk menulis hal yang ‘keren-keren’, misalnya opini tentang politik, kesetaraan gender dan topik-topik ‘tak ringan’ lainnya. Terbukti dari pemilihan para finalis Srikandi Blogger 2013 yang tidak didominasi oleh kalangan tertentu.

Finalis SB2013 (Gambar : dari Grup Facebook "Kumpulan Emak2 Blogger")
Finalis SB2013 (Gambar : dari Grup Facebook “Kumpulan Emak2 Blogger”)

Sebagian adalah ibu rumah tangga yang tak lelah berbagi pada dunia di tengah pertarungan sehari-hari mengurus anak, suami dan rumah. Salah satunya adalah Mak Eka Putri, yang aktif berkampanye “Stop Kekerasan pada Anak.” Ada juga Mak Myra Anastasia yang aktif menulis untuk mengikat kenangan tentang banyak hal termasuk kedua buah hatinya, Keke dan Naima :).

Apa hanya ibu-ibu rumah tangga saja yang berhak mendapat apresiasi lebih? Tidak, tuh :). Di jejeran finalis, ada Mak Diadjeng Laraswati, seorang karyawati yang juga hobi travelling dan fotografi. Tak ketinggalan seorang aktivis kemanusiaan dari Aceh yang kini aktif di UNDP, Mak Alaika Abdullah. Satu lagi nih, ada Mak Nchie Hanie. Selain hobi memasak dan nge-blog, emak satu ini juga berkecimpung di bisnis lain yang masih berhubungan dengan dunia online.

Ibu-ibu lain yang aktif berkiprah di ‘luar rumah’ tapi tidak berkantor ada beberapa. Ada seorang penerjemah paruh waktu, yaitu Mak Dina Begum. Mak Winda Krisnadefa malah menggagas sebuah komunitas yang bernama “Kampung Fiksi.” Cita-citanya ingin membagi semangat menulis fiksi untuk anak-anak usia sekolah. Jangan lupa masih ada Mak Shinta Ries, yang memiliki keahlian untuk mendesain web dan blog.

Finalis yang sangat mencuri perhatian saya adalah Mak Anazkia. Di sela-sela aktivitas pekerjaannya di Negeri Jiran, emak satu ini mempunyai program yang sangat layak diacungi jempol. Dia bercita-cita untuk menyalurkan buku ke seluruh wilayah nusantara.

Idola lain saya adalah Mak Oktaviani Nur Hasanah dari Kepulauan Selayar – Sulawesi Selatan. Bukan karena saya berasal dari propinsi yang sama, lho. Tapi terkesan dengan prinsipnya yang menekankan pentingnya berbagi mengenai hal-hal positif saja. Emak satu ini katanya sering menjuarai lomba blog mengenai kuliner atau kecantikan yang pernah membawanya ke Thailand segala.

Kesepuluh ‘Srikandi’ ini menjadi bintang di malam final yang berlangsung pada tanggal 28 April 2013 lalu. Saya, nun jauh di sini, hanya bisa menyaksikan kemegahannya melalui foto-foto yang tersebar di blog Kumpulan Emak-emak Blogger dan di Facebook.

Gambar : facebook.com/groups/KumpulanEmak2Blogger/
Gambar : facebook.com/groups/KumpulanEmak2Blogger/

Didukung oleh sponsor-sponsor besar, ini bukan acara ecek-ecek. Salah satu sponsornya adalah ACER. Sebagai mantan pekerja IT, saya tahu pasti bahwa ACER adalah brand komputer yang berskala internasional. Sponsor lain yang tak kalah gemerlapnya adalah Rinso. Saya pernah menjadi bagian dari keluarga besar perusahaan yang memproduksi dan memasarkan Rinso. Home care brand satu ini termasuk produk andalan yang cukup laris di tanah air.

Yang akhirnya berhak memperoleh mahkota sebagai “Srikandi Blogger 2013” adalah Mak Alaika Abdullah. Mak Alaika akan menjadi perwakilan KEB di Asean Blogger yang berlangsung di Solo.  Berdasarkan vote, “Srikandi Favorit 2013” diraih oleh Mak Anazkia. Sedangkan vote yang lain memenangkan Mak Myra Anastasia sebagai “Srikandi Persahabatan 2013.”

Ketiga pemenang ini tentu saja banjir hadiah dari Acer, Rinso, maupun sponsor lain yaitu produk kosmetik Wardah. Ada touchscreen notebook, laptop, paket Rinso, kosmetik dll. Ketujuh finalis lainnya pun tidak pulang dengan tangan kosong. Ketujuh finalis masing-masing memboyong sebuah televisi dan hadiah dari Rinso maupun Wardah.

Ada 2 pemenang lain diluar kesepuluh finalis tadi. Mak Haya Aliya Zaki mendapat predikat “Blogger Inspiratif”. Gelar “Blogger dengan Lifetime Achievement” disematkan pada Mak Yati Rachmat. Masing-masing berhak atas sebuah televisi + paket Rinso dan Wardah.

Pemenang SB203 (Gambar : emak2blogger.web.id)
Pemenang SB203 (Gambar : emak2blogger.web.id)

Every MakGer Has Her Own Story

Every MakGer has her own story. Mainkan jemari di keyboard laptop/netbook/tablet atau apa pun ‘senjata’ yang para MakGer miliki. Menangkan hati pembaca tanpa perlu mengarahkan telunjuk kepada pihak mana pun. Jadilah srikandi-srikandi penebar inspirasi positif tanpa membuahkan energi negatif.

Jangan takut untuk menuliskan hal-hal yang kelihatannya sepele. Memaksakan diri untuk menulis opini-opini mengenai topik ‘berat’ tidak selalu menjadi pilihan bijaksana. Jadilah diri sendiri. Berikan sentuhan unik pada cerita-cerita kita. Kumpulan kisah yang berbeda-beda dari berbagai MakGer akan menjadi warna warni tersendiri dalam dunia blogger.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bahkan sehelai daun kering yang tersia-siakan oleh angin bisa dipungut dan dijadikan kerajinan tangan berupa pembatas buku yang cantik :).

One person can make a difference, and everyone should try.” ― John F. Kennedy

Mari bergabung dengan barisan MakGer. Siapkan diri menjadi penantang di kompetisi besar “Srikandi Blogger” di tahun-tahun mendatang ;).

***

Cerpen di Majalah Kartini

Waktu masih di hotel, awal tiba di Athlone, saya mengalami jetlag berhari-hari. Tidur jam 9 malam, pasti jam 2 kebangun. Enggak bisa tidur lagi hingga pagi. Jadi deh, suka laptop an nunggu subuh hehehe.

Ngebut menulis Cerpen di majalah kartini 🙂

Pernah menulis cerpen. Saking konsennya, karena semua majikan lagi tidur :P, cerpennya jadi dalam beberapa jam saja. Tapi rasanya kepanjangan. Besok dini harinya diedit. Kirim ke Kartini. Luar biasa, responsnya kurang dari 24 jam hehehehe. Tapi bunyinya begini, “Ide ceritanya ok. Tapi kurang panjang, dipanjangin lagi ya Mbak. Ditunggu redaksi.”

Ahahahahahahahaha. Padahal setengah mati diedit agar lebih ringkas. Aslinya tak saya simpan. Ya sudah, ditulis ulang akhirnya. Dimuat akhirnya cerpen di Majalah Kartini (kayaknya di terbaru, no.2447) :D.

Dari gambarnya ketebak ya, ini cerpen tentang seorang anak tunggal (perempuan) yang dibesarkan seorang diri oleh ayahnya. Hahahaha. Jauh panggang dari api :D. Tulisan fiksi ini 100% mengandalkan imajinasi semata dari penulisnya yang merupakan anak ke-5 dari 7 bersaudara dimana ayahnya sudah meninggal sejak usianya 12 tahun :D.

Anyway…terima kasih, Majalah Kartini :D. Beli, ya. Biar majalah Kartininya laku dan kami-kami, emak-emak yang mengais rezeki dari media cetak, tetap panjang jalan rezekinya hihihihi.

Oiya, Majalah Kartini akhirnya bikin account twitter juga. Sila difollow di @MajalahKartini. Ada fanpagenya juga di Facebook. Terus ada account facebook juga, terpisah dari fanpage. Di sana ada note tentang syarat-syarat penulisan cerpen ke majalah Kartini :D. Dicek sendiri langsung ke TKP, ya ;).

Dengan demikian, setelah 2x cerpen saya menembus majalah Femina, berarti ini adalah cerpen ke-3 yang muncul di media cetak. Sekaligus merupakan tulisan ke-10 yang muncul di media cetak. Gak kerasa sudah 10 bulan rajin ngirim-ngirim tulisan. Masih jauh dari target. Penginnya nanti pas setahun ada 20 tulisan yang dimuat. Ahahahahahaha :P.

Akhir-akhir ini kok lebih senang ikut lomba blog, ya Biarpun kadang cuma menang hadiah hiburan hehehe. Lagi seneng blogging emang sekarang-sekarang ini. Tapi pengin coba aktif lagi ah ke media cetak.  Jadi semangat lagi bikin cerpen di Majalah Kartini  ^_^.

cerpen di majalah kartini
Kartini edisi no.2447