Motivasi Indonesia : “Indonesia, In The Name of Asia.”

Motivasi Indonesia : Pernah melihat penampakan orang-orang Aborigin, suku asli yang mendiami daratan Australia sebelum diramaikan dan dikuasai oleh para pendatang? Berkulit gelap, berambut keriting, dengan cara berpakaian adatnya yang khas yang langsung mengingatkan kita pada … suku-suku asli yang mendiami Papua, wilayah paling timur nusantara.

Motivasi Indonesia
viuzza.net

Tak cuma itu, familiar tidak dengan kata “walabi“? Walabi itu mirip sekali dengan hewan khas Australia, kangguru. Nah, walabi ini bisa ditemukan di beberapa wilayah Papua, lho. Bergerak dengan cara melompat-lompat, walabi juga memiliki kantung di bagian perutnya. Hanya saja, walabi berukuran lebih kecil daripada kangguru.

Perpaduan Asia dan Australia, ‘Hati’ Indonesia Milik Asia Sepenuhnya 

Secara geografis dan sisa-sisa budaya yang masih menghiasi beberapa wilayah Indonesia, wilayah nusantara memang tidak sepenuhnya melekat pada Asia. Sebagian wilayah timur lebih condong kepada Australia.

Tapi jangan lupa satu fakta penting. Kini, suku aborigin dan berbagai macam budaya yang pernah mereka emban sudah nyaris menjadi masa lalu. Mayoritas warga “Negeri Kangguru” tersebut adalah warga kulit putih dengan perawakan yang sangat mirip dengan orang-orang Eropa.

Dari segi ekonomi pun, Australia telah jauh melambung tinggi meninggalkan sebagian besar negara Asia yang masih berkategori “negara berkembang.” Dengan pendapatan perkapita yang konon hampir mencapai 50 ribu USD di tahun 2009, Australia sangat layak bergelar “negara maju.” Aduh, pendapatan perkapita Indonesia sendiri sepersepuluhnya saja belum ada.

Benua Asia sendiri merupakan benua terpadat. Menurut link wikipedia di sini, Asia sudah menampung 60% dari keseluruhan penduduk dunia. Wow! Ditambah dengan bukti bahwa diantara 10 negara berpenduduk terbanyak di dunia, 6 diantaranya adalah negara-negara Asia (berturut-turut, Cina-India-Indonesia-Pakistan-Bangladesh-Jepang). Rengking 1 dan 2 nya diserobot oleh Cina dan India sekaligus :D. 

motivasi Indonesia
Rupa-rupa wajah Asia (gambar : 123rf.com)

Asia pun dikenal dengan keragaman budayanya. Wilayah Asia Timur Jauh yang didominasi Jepang, Korea, Cina dll, menawarkan serba serbi budaya oriental. Di Timur Tengah, budaya Arab mendominasi. Sementara di selatan ada India yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban tertua di dunia. Di tenggara sendiri ya ada…ASEAN :).

Sejalan dengan ragam budaya, wisata kuliner dan bentang alam di Asia pun tidak kalah rupa-rupanya. Yang pedas-pedas, yang asin-asin, yang asem-asem, yang manis-manis, semuanya ada. Salah satu makanan andalah yang khas adalah NASI. Mulai dari Jepang, Arab, India sampai Malaysia, siapa yang tidak menjadikan nasi sebagai menu utama? Indonesia banget ini mah :P. Hihihi.

Motivasi Indonesia : Rupa-rupa makanan Asia (gambar : rf123.com)
Rupa-rupa makanan Asia (gambar : rf123.com)

Makanya, Indonesia lebih ‘nyaman’ berada dalam kehangatan Asia :). Inilah keunikan Indonesia yang harusnya kita garisbawahi. Bahwa sekalipun, tidak menyangkal rumpun kita yang sama-sama dari ras Asia, perpaduan antara kentalnya Asia di wilayah barat dan wajah Australia di Timur membuat kekayaan khasanah budaya Indonesia jauh melampaui negeri-negeri tetangga yang lain. Sudah saya jelaskan panjang lebar mengenai hal ini di tulisan #day2 kemarin, ya ;).

“In The Name of Asia”

Kalau mencari arti kata Asia sendiri, macam-macam jawabannya. Istimewanya, arti yang melekat pada kata Asia, selalu bisa dipadankan dengan kondisi Indonesia :).

Dari bahasa Yunani, katanya Asia bisa berarti “sunrise“. Lho? “Negeri Matahari Terbit” itu kan jatahnya Jepang, kan?

Hm…sebenarnya dalam urusan sinar matahari, Indonesia termasuk negara yang kaya limpahan sinar matahari. Di hampir sepanjang tahun, sinar matahari selalu setia menaungi Indonesia pada durasi yang nyaris tak berubah. Mau musim hujan,  musim kemarau, musim durian, musim diskon,  musim kawin :P, matahari selalu bersinar rata-rata dari pukul 6 pagi hingga 6 sore. Enaknya, tidak pusing mengganti-ganti kostum di setiap perubahan musim yang harus dialami oleh sebagian negara lain.

Terletak di jantung khatulistiwa, Indonesia termasuk negara yang beruntung dari segi cuaca. Kalau ingin merasakan pentingnya kehangatan matahari, tinggallah di kawasan Eropa, apalagi bagian utara. Dimana sinar matahari adalah hal yang cukup langka di hampir sepanjang tahun. Makanya, kurangilah keluhan, “Ah, Indonesia panas.”

Cuaca tropis memungkinkan banyak flora maupun fauna yang menghiasi berbagai wilayah di nusantara. Mau hewan khas Asia atau pun Australia, hidup rukun dan damai di atas tanah nusantara :).

Asia, masih berkaitan dengan Yunani, konon dalam mitologi Negeri Dewa Dewi disebutkan bahwa Asia adalah salah satu nama dari para Nereids. Nereids sendiri artinya roh perempuan yang ada di perairan laut. Laut? Iya, dong, perairan laut sangat identik dengan Indonesia.

MOtivasi Indonesia

Ketiga negara kepulauan yang cukup besar di dunia ada di Asia. Selain Indonesia, ada Jepang dan Filipina yang memilki kondisi geografis kepulauan yang mirip. Tapi, Indonesia yang paling besar dengan gugusan pulau yang jauh lebih banyak sekaligus memiliki garis pantai terpanjang. Luas perairan Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Tak salah bila Indonesia sering menyebut-nyebut dirinya sebagai Negara Maritim.

Dari sub judul pertama mengenai “hati” Indonesia yang lebih dominan pada Asia terlihat jelas bukan bahwa Indonesia adalah cerminan Asia dalam ruang lingkup lebih kecil. Semboyan “Bhinneka Tunggal  Ika” berbeda-beda tapi satu sejalan dengan keragaman dari benua Asia itu sendiri. “Hati” nusantara yang condong ke Asia karena  ragam budaya Asia yang saya sebutkan di sub judul pertama terpampang jelas di Indonesia.

MOtivasi Indonesia
Rupa-rupa wajah Indonesia (gambar : 123rf.com)

Malaysia menyebutkan dirinya sebagai “Truly Asia” karena di sana memang ada perpaduan 3 budaya utama khas Asia, Oriental (cina) – Hindi (India) – Melayu (ASEAN). Tapi, Indonesia lebih luas lagi. We are more than Asia itself 😉. Kita punya khasanah khas bagian Timur yang sekilas terpisah dari akar Asianya. Namun, sekaligus membuktikan akar yang ini mampu melebur menjadi satu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keragaman ala benua Asia, perairan luas berdasar definisi Asia dalam mitologi Yunani, iklim yang berlimpah cahaya matahari berdasar definisi bahasa Yunani, membuat Indonesia lebih dari layak menyandang slogan, “In The Name of Asia.”

Brand atau slogan yang baik juga seharusnya mudah diingat dan memiliki kemiripan dengan nama produknya. Seperti kata-kata dalam pantun, ada rima-nya. Seperti Malay-sia yang sukses dengan “Truly-Asia” nya, Indonesia cukup tepat disandingkan dengan, “In the Name of Asia.”

“In-do-ne-sia … In-the-name-of Asia” ;).

Dengan Rupa-rupa Kekayaan Nusantara, Tak Ada Kata Terlambat

Sekitar dua tahun lagi, Komunitas ASEAN 2015 akan resmi terbentuk. Malaysia dengan “Malaysia Truly Asia”nya sudah menancapkan pesona wisatanya dengan sangat serius di berbagai belahan dunia.

“Malaysia is a very great country.” Sapa seorang warga asli Iran dengan sangat ramah saat kami menaiki lift yang sama, kala itu kala saya dan keluarga bermukim di kota Tehran.

“No, I’m not malaysian. I’m Indonesian,” jawab saya dengan senyuman.

Dia mengerutkan keningnya sebentar lalu segera berujar, “Aha, Indonezi. Tsunami?”

Ya ampun, yang dia ingat tentang Indonesia adalah peristiwa Tsunami yang memang sempat membuat nusantara memenuhi layar-layar kaca di seluruh dunia di penghujung tahun 2004. Sedih sekali, bukan?

Di Timur Tengah, nama Malaysia memang bergema lebih nyaring. Walau semasa tinggal di Saudi, banyak juga orang Arab yang memuji-muji cantiknya Indonesia. Ingat, tak pernah ada kata terlambat bagi siapa pun yang ingin berubah ke arah lebih baik :).

Bayangkan, bila diolah dengan optimal, seberapa kayanya negeri kita tercinta ini? Di darat kaya rempah-rempah dan padi-padian, di hutan ada karet dan aneka raga flora dan fauna, perairan nan luas pun mempersembahkan aneka rupa hasil laut. Tak cuma itu, terumbu-terumbu karang nan cantik bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata utama.

terumbu karang motivasi indonesia

Sudahlah, daripada ngambek, mari kita ikuti langkah-langkah nyata pemerintah di negeri-negeri tetangga kita (termasuk Malaysia dan Thailand) yang sukses melejitkan wisata negaranya di mata dunia. Itu kan salah satu sisi positif bergabungnya negara-negara ASEAN dalam Komunitas ASEAN 2015? :). Agar kita bisa saling berbagi hal yang indah-indah. Tidak malah saling membully, adu keren-kerenan dsb. Masih ingat dengan semangat “Take The Hits” dong ;).

Mau Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan lain-lainnya, intinya … ASEAN itu keren. Dengan membawa nama Indonesia terbang tinggi di khalayak internasional, dengan sendirinya kita membawa panji ASEAN di bahu masing-masing.

Memposisikan diri sebagai bagian dari komunitas ASEAN, dengan tidak melupakan identitas sebagai bagian dari wilayah Asia, mari sama-sama kita persembahkan … “Indonesia, In The Name of Asia.” Indonesia, untuk ASEAN, sebuah kebanggaan atas nama Asia.

Motivasi Indonesia

***

#10daysForASEAN  #day3

Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga?

Rendang, Sate, Ketan, Durian, Baju Kurung, Candi-candi … Punya Siapa?

Bergaul dengan orang-orang Malaysia dan beberapa orang Filipina semasa bermukim di Jeddah dan Athlone (Irlandia) membuat saya tak sedikit pun meragukan bahwa dalam beberapa hal, BENAR bahwa kita adalah bangsa yang serumpun. Apalagi kalau menilik soal makanan *elusElusPerut*.

Saat memenuhi ‘jemputan’ (dalam bahasa Malaysia, jemputan =  undangan) dari rekan Malaysia, saya dan suami selalu bersemangat. Karena kami tahu, makanan Malaysia mirip sekali dengan makanan Indonesia. Berbeda saat menerima undangan makan dari rekan Pakistan, Mesir atau India. Selalu terbersit keraguan, “Duh, enak gak nih, makanannya?” Hehehe.

Kenalan Malaysia kami semasa di Jeddah bukan kenalan biasa. Saya memanggilnya Kak Del. Kak Del ini punya usaha katering di Jeddah. Jangan ditanyalah bagaimana bengkaknya ini perut saban memenuhi ‘jemputan’ dari beliau :P.

Uniknya, jenis makanan yang disuguhkan tidak satu pun yang pernah membuat kami surprais. Mulai dari rendang, sate, macam-macam balado, hingga ketan dkk. Malah, ketika Kak Del sibuk menerangkan tentang Mie Laksa kepada tamu-tamu Indonesianya, dari baunya saja saya sudah bisa menebak, “Ah, ini sih pasti rasanya mirip dengan Mie Laksa Aceh.”

Beberapa waktu lalu, di Athlone ini, saat ada acara morning coffee di rumah seorang kawan yang sama-sama berasal dari Indonesia, teman kami yang dari Cina dan Saudi meributkan soal durian.

I have no idea, how can you put that smelly thing inside your mouth. They call itu King of Fruits maybe because it smells so bad. It’s from Thailand,  isn’t  it?

Hahahahaha…” Saya dan teman Malaysia saya langsung terbahak-bahak.

Lalu, sibuklah kami berdua menerangkan istimewanya buah durian tidak hanya ada di Thailand. Tapi bangsa Malaysia dan Indonesia pun mendewa-dewakan buah istimewa satu ini ;).

Jadi, kalau dikatakan Candi Angkot War di Kamboja memiliki kemiripan dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah (Indonesia), saya tidak akan mengingkari  sedikit pun:). Memangnya kenapa? Anda cek saja dari unsur sejarah mana pun, wilayah Sumatera-Jawa-Kalimantan-Bali dan sekitarnya memang pernah menjadi satu dengan daratan benua Asia :).

Untuk apa meributkan sejarah yang tidak mungkin kita ubah? Ribut-ribut tidak penting begini harus kita hindari dalam menyongsong kesuksesan Komunitas Asean 2015. Cita-cita kita kan sama-sama ingin memajukan kawasan ASEAN di mata internasional. Agar wilayah padat penduduk ini jangan hanya dipandang sebagai pasar potensial. Namun, berharap naik tingkat menjadi rekan bisnis di mata negara-negara maju di belahan dunia lain :).

Mari kita fokus pada kesamaan tujuan. Ingat, ASEAN adalah tanggung jawab semua negara anggota-anggotanya.

Sementara itu, apa benar kita benar-benar sepenuhnya satu rumpun dengan Malaysia, Thailand, Kamboja dan negara ASEAN lain yang terletak di atau dekat ke daratan benua Asia ini? Ah, sebagai perempuan asli bugis, yang datang dari belahan Indonesia Timur, saya akan sangat kecewa jika anda menjawab, “Iya.”

Tidak! Indonesia bukan hanya tentang rendang, baju kurung, dayak, reog, wayang, candi-candi, sate, yogyakarta, pantai-pantai di Bali saja. Jangan lupa, wilayah nusantara tidak berhenti di seputaran Kalimantan dan Bali saja. Kita masih punya Sulawesi, Maluku, Papua dan kepulauan lain di wilayah timur tanah air.

Kekayaan  Budaya Nusantara, Kekuatan Maritim dan Agraris, Semuanya Harta Berharga Kita!

Kalau mendengar kata-kata dibawah ini, tanpa meminta bantuan “Mbah Google” apa yang anda ketahui?

Londa, Burasa’, Nasu Likku, Tedong Bonga, Natsepa, Kasuari, Anoa, Dani, Danau Ayamaru?

Pening? Ya sudah, sekarang boleh nyontek ke “Mbah Google” :P.

Londa adalah bukit batu di wilayah Tana Toraja. Bukit batu yang unik karena digunakan untuk menyimpan jenazah-jenazah orang-orang dari suku Toraja yang telah mangkat. Londa adalah satu obyek wisata utama dari kabupaten Tana Toraja, wilayah paling utara di propinsi Sulawesi Selatan ini. Tedong Bonga adalah Kerbau Belang. Kerbau yang dianggap ‘ningrat’ oleh suku Toraja.

Gambar : mytropicaltourism.com

Pasti sebagian besar orang tahunya cuma Candi Borobodur dan Karapan Sapi :(.

Burasa’ dan Nasu Likku adalah kedua masakan khas dari suku Makassar-Bugis, dua suku terbesar di Sulawesi Selatan. Burasa‘, sekilas mirip kue nagasari  karena dikukus dalam waktu yang lama dalam dekapan daun pisang. Tapi sejatinya, burasa‘ ini lebih mirip lontong dengan rasa yang gurih, jadi bisa disantap dengan nikmat tanpa lauk apa pun.

Kedua masakan yang disebut oleh kami, warga asli Sulawesi Selatan, “Nyamanna Karaeng” (enak banget) belum sepopular rendang atau sate. Tapi rasanya, boleh diadu ;). Tuh, kuliner sulsel tidak cuma coto dan konro saja, lhooooooo :D.

Natsepa adalah pantai cantik di salah satu pesisir kota Ambon yang berbatasan langsung dengan Laut Banda. Sudah pada ke sana, belum? Kalau Pantai Kuta pasti sudah khatam, ya :P. Kalau dari pulau Sumatera ada Danau Toba, Sorong punya Danau Ayamaru yang tidak kalah ciamiknya.

Kasuari memang terdengar familiar. Tapi tahu tidak asalnya dari mana? Kasuari adalah burung khas dari Papua dan sekitarnya. Sementara anoa adalah hewan khas Pulau Sulawesi yang konon tak ada di Asia maupun Australia. Aslinya punya Indonesia ;). Entah kalau Anoa dikembangbiakkan di kebun binatang di tempat lain.

Kalau Dani siapa? Ini, sih, nama suami saya. Hahaha. Selain itu, Dani adalah nama salah satu suku yang cukup hits dari pulau besar di ujung timur nusantara, Papua. Hayooo, ramai-ramai mengupgrade pengetahuan nusantara karena pastinya yang tenar hanya Batak, Jawa, Madura dll.

See? Betapa luas dan kayanya nusantara. Enggak usah rebutan batik sama orang Malaysia, ya ^_^. Apalagi sampai memusingkan relif Candi Borobudur vs Candi Angkor Wat di Kamboja. Di belahan timur Indonesia, ada Lipa’ Donggala yang asli buatan tangan, dengan warna warni cerah dibuat dari bahan berkualitas prima. Kita jauh lebih kaya dari yang kita duga.

Belum lagi hasil bumi kita. Rempah-rempah adalah kekuatan utama Indonesia bagian timur. Sementara di wilayah barat, padi-padian masih mendominasi.

Memiliki garis pantai terpanjang di dunia (kita adalah wilayah kepulauan terbesar di dunia, lho, dah pada tahu belum? :P), menggerakkan kekuatan Maritim di bidang ekonomi dan sosial budaya bukan hal yang mustahil. Walau ngos-ngosan di bidang keamanan karena begitu panjangnya wilayah pantai yang harus pemerintah lindungi. Ingat, ingat fokus pada kekuatan! Tak ada gading yang tak retak, kan?

Bukan Lautan Hanya Kolam Susu

Kekayaan alam yang melimpah, potensi wisata yang membentang tanpa henti dari bagian barat hingga timur, dari Pulau We hingga Merauke, ditambah lagi sokongan sumber daya manusia sebanyak 250 juta, Indonesia seharusnya bisa mencuat sama hebatnya dengan negeri-negeri tetangga :). Enggak pakai sirik-sirikan, ah. Wong kita tajir begini ;).

Dengan modal sebegini besar, seharusnya kita tidak perlu grogi menyongsong terbentuknya Komunitas ASEAN 2015. Kita hanya perlu menggali dan memikirkan taktik jitu untuk mengoptimalkan segala limpahan anugerah yang berserakan di seantero nusantara. Tugas siapa? Ya kita semualah. Jangan bisanya cuma nyinyirin pemerintah. Hehehe.

Ngomong-ngomong soal kekayaan nusantara, terngiang-ngiang bait lagu dari mendiang Koes Ploes,

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman

Jadi, sebelum mengajak anak-anak anda menyambangi Disneyland atau Legoland atau apalah di luar sana, pastikan mereka tahu tentang Raja Ampat ;). Bawa mereka menjelajahi wilayah nusantara yang lain. Yang di Barat, ajak anak-anak ke Pantai Losari di Makassar, jangan cuma mentok sampai Bali saja. Yang di Timur, ajak si kecil mengunjungi Danau Toba dll.

Kalau ada pernyataan, “Orang bilang tanah kita tanah surga?” Masih ragu menjawabnya? 😉

Gambar : pesonaIndonesia.com

#10daysForASEAN  #day2

Bisnis Salon, Little Things for Big Differences

gambar : gograph.com
gambar : gograph.com

“Rumahnya dekat rumah makan padang yang baru buka itu, Bu?”

“Bukan, bukan.”

“Wah, enak lho itu. Murah lagi.”

“Oh ya?”

“Iya. Saya juga tahunya dari pelanggan sini. Tapi kalau sukanya makan  bakso, rumah makan yang di pojokan itu rasanya beda, lho, Bu. Enak banget.”

Tujuan utamanya ingin merapikan rambut, malah mendapat informasi mengenai rumah makan padang yang baru buka yang katanya enak dan murah. Sekaligus jadi tahu kalau rumah makan di pojok jalan ternyata menjual bakso yang enak banget. Ternyata, menurut info dari kapster yang sama, tempatnya sepi karena orang-orang lebih suka membungkus untuk dibawa pulang. Wah, padahal sudah sejak dulu ingin mencoba menu di sana. Tapi ragu karena tempatnya tergolong kurang pengunjung.

Semasa bermukim di tanah air, walau jarang, sesekali saya menyambangi salon untuk memotong rambut dan perawatan lainnya. Kini, setelah tinggal di luar negeri pun, tiap mudik saya pasti mengunjungi salon lokal yang letaknya dekat dari kediaman saya. Bisa ditempuh dengan membayar ojek 3000 ribu rupiah atau bila panas tak begitu terik, jalan kaki saja.

***

Gaya hidup masa kini memperkenalkan banyak kalangan kepada fasilitas salon. Peminat salon utamanya datang dari kaum perempuan, yang secara alami memang menaruh perhatian lebih akan penampilan.

Gambar : 123rf.com
Gambar : 123rf.com

Akhir-akhir ini, kebutuhan untuk sesekali bersantai ke salon tidak lagi dianggap sebagai foya-foya. Bahkan, ada yang rutin melakukannya untuk sekadar melepaskan penat setelah berhari-hari melakoni berbagai macam kegiatan yang menguras otak dan tenaga.

Bisnis Salon, Salah Satu Potensi Wisata di Thailand

Maraknya peminat membuka peluang bisnis salon di banyak kalangan. Termasuk salon-salon lokal yang biasanya bertempat di tengah-tengah padatnya pemukiman warga.

Ternyata, peluang bisnis persalonan lebih meroket di Negeri Gajah Putih. Diawali dengan menjamurnya tempat-tempat pijat yang sukses menjadi salah satu daya tarik wisata di sana, bisnis salon mulai dilirik.

Gambar : phuketdir.com
Gambar : phuketdir.com

Saya terkesan dengan ZenRed Hair Salon, yang situs-situsnya segera menempati tempat teratas ketika kita mengetikkan “Salon in Thailand.” Wow, promosinya begitu rupa dan gencar. Kalangan pebisnis di Thailand tidak main-main urusan pariwisata. Imej salon ini ditekankan sebagai “Salon utama pilihan para turis.”

Menjelang terbentuknya Komunitas ASEAN 2015 yang intinya ingin memperkuat kerja sama di bidang Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya antar sesama anggota ASEAN, urusan bisnis tidak bisa disepelekan. Kerja sama ini akan membuka peluang antar negara untuk menjajal pasar ekonomi di negara-negara tetangga.

Bagaimana bila di sekitar pemukiman di wilayah Indonesia berdiri salon-salon asal Thailand yang profesional dan mempunyai sertifikat tingkat internasional? Apa yang terjadi dengan salon-salon lokal kita? 

Keunggulan teknis saya rasa tidak usah kita khawatirkan. Indonesia tidak kekurangan kapster-kapster andal, kok ;). Menimba ilmu dan terus meningkatkan skill para karyawan bukan urusan yang sulit bagi pebisnis salon di tanah air. Apalagi masalah kemewahan bangunan salon. Di Indonesia, tidak sedikit salon-salon yang menawarkan fasilitas yang tak kalah menterengnya.

salon 2 lokasi

Tapi, bermodal  kematangan bisnis dan manajemen yang solid, tak sulit bagi mereka untuk merangsek masuk merebut simpati para pelanggan. Apa pula susahnya mereka mendidik sumber daya asal nusantara untuk dijadikan karyawan. Tak perlu repot-repot mereka menghabiskan waktu banyak mempelajari bahasa dan budaya masyarakat setempat.

Pebisnis salon di tanah air harus kreatif dan tidak tinggal diam. Jangan tunggu sampai mereka datang untuk mulai berbenah diri! Sebenarnya tidak sedikit, lho, langkah-langkah sederhana yang bisa dimulai dari sekarang juga.

Networking Sederhana, Berdayakan Masyarakat Sekitar

Salah satu teman saya pernah bercerita, “Enak banget ke salon ABC. Bisa makan empek-empek yang enak. Sate padang juga ada.”

“Oh, kantin salonnya bagus, ya,” ujar saya.

“Enggak. Kantin salonnya sih cuma jualan teh botol doang. Makanannya ambil dari rumah makan sebelahnya.”

Ide bagus. Bisnis salon sekaligus menghidupkan usaha-usaha di lingkungan sekitar. Pelanggan salon sekaligus bisa menjadi pelanggan rumah makan di sebelahnya, yang mungkin pemiliknya sama sekali tidak ada hubungannya dengan bisnis salon. Tidak usah serakah sampai membuka kantin besar segala dengan niat “one stop business.” Lebih bagus bila konsentrasi saja dalam jasa pelayanan yang umum disediakan oleh salon.

Bukan cuma itu. Ada juga, lho, salon yang tidak menyediakan lahan parkir. Sebuah lahan kosong di dekat bangunan salon dimanfaatkan sebagai tempat parkir. Pemilik lahan diajak bekerja sama. Tentu saja disediakan penjaga yang diambil dari lingkungan  masyarakat sekitar.

Kisah saya dan kapster di awal cerita juga boleh dijadikan contoh bagus. Hubungan saling menguntungkan antara salon, yang memang sering menjadi ajang mencari gosip hihihi, dengan usah-usaha lain di wilayah tinggal yang sama. Gosipnya kan positif, lho ;).

Satu pengalaman berkesan saya makanya senang menyambangi salon lokal yang satu ini. Bukan hanya karena tempatnya yang dekat, karyawan salon juga punya hubungan baik dengan para tukang ojek di sana. Setelah selesai urusan perawatan dan ingin pulang, daripada pelanggan capek-capek berjalan kaki mencari tukang ojek di ujung jalan, kami mendapat jasa pemanggilan ojek. Lumayan, kan?

Dengan kode khusus dari karyawan yang hanya berdiri di depan pintu, datang deh tukang ojek yang dinanti-nanti. Masa kita yang harus teriak-teriak di depan pintu, mending kalau tukang ojeknya paham. Hehehe.

Hal-hal seperti ini akan menumbuhkan rasa memiliki dari masyarakat sekitar. Jadi, tak mudah bagi pesaing baru untuk begitu saja merebut tahta usaha. Apalagi pesaing yang datang dari Negeri Asing yang masih meraba-raba lingkungan barunya.

Sesuai kata pepatah, “Banyak memberi, banyak menerima” ;).

salon activities
Gambar : 123rf.com

Tak Kenal Maka Tak Sayang, Promosi via Pelanggan dan Media Sosial

Bagaimana pun, promosi paling efektif adalah promosi dari mulut ke mulut. Jangan hanya puas dengan tip dan pujian dari pelanggan yang langsung menggunakan jasa di salon yang bersangkutan. Beri mereka sugesti agar berkenan mempromosikan layanan di salon tersebut.

Di era sekarang, siapa sih, yang tidak punya akun di media sosial seperti Facebook dan Twitter. Apalagi dengan makin meningkatnya jumlah blogger. Mari dimanfaatkan jasa kami untuk membantu promosi usaha anda :D. Tentu saja, “There’s no such thing called free lunch.” Tawarkan insentif kecil-kecilan. Seperti cuci rambut gratis bagi yang ingin memotong rambut. Jangan malu-malu juga menerapkan taktik member get member :).

Karena beberapa kali menulis di media cetak nasional, saya jadi tahu kalau hampir semua majalah sekarang punya akun twitter dan fanpage di Facebook. Walau tergolong usaha kecil, salon lokal di perumahan-perumahan jangan tanggung-tanggung memanfaatkan wadah promosi. Hajar! Bikin akun twitter, bikin fanpage. Kalau website mungkin agak sedikit sulit pemeliharaannya. Lagipula, media sosial yang lebih banyak dibanjiri massa.

Manfaatkan resepsionis salon sebagai admin media sosial. Sembari dia menunggu pelanggan, dia bisa terus mengupdate status. Isinya yang ringan-ringan saja. Tips-tips kecantikan yang sederhana juga pasti mampu menarik perhatian calon pelanggan. Untuk eksis di media sosial, harus kontinyu wara wiri di dunia maya. Jangan angin-anginan.

Kelihatannya kecil, tapi kekuatan promosi via media sosial inilah yang menerbitkan sebuah profesi baru bagi beberapa pemegang akun tertentu, buzzer. Konon, pemilik usaha rela merogoh kocek jutaan untuk membayar para buzzer untuk mempromosikan jasa mereka.

Simple but tricky. Tunggu apalagi? Sudah pada punya akun belum?

Life is a Challenge, Meet It!

Kapan saat terbaik langkah-langkah  kecil ini mulai diperhatikan? Sekarang juga! Ingat, pelanggan mungkin tertarik mencoba hal-hal baru, tapi bila kita sudah terlanjur menancapkan kesan begitu mendalam, percayalah, mereka akan selalu kembali :).

Happy customers! ^_^ (123rf.com)
Happy customers! ^_^ (123rf.com)

Tentu saja membenahi kemampuan diri sangat penting, namun, networking dan promosi adalah pendukung utamanya. Kalau tak pandai ‘menjual’, siapa yang akan tertarik pada bisnis kita? Kalau tak punya networking yang kuat, siapa yang akan menolong kita mempertaruhkan bisnis di saat-saat yang sulit? Jaringan terbaik dan terkuat selalu dimulai dari pihak terdekat atau lingkungan sekitar kita :).

Tak berarti bila kemampuan nan mumpuni beserta networking yang andal dan taktik promosi jitu sudah di tangan, maka tantangan takkan pernah menghampiri. Bisnis mana, sih, yang tak pernah diterjang badai persaingan?

Ingat, jangan lupa untuk selalu menyandingkan komitmen dan kemampuan internal bisnis dengan networking yang kuat dan promosi tanpa henti. Camkan, “Badai pasti berlalu.” Tugas kita adalah bertahan di tengah badai persaingan. Saat badai usai, bukannya kita ikut tersapu tapi bisnis tetap berdiri tegak ketika badai telah benar-benar berlalu :).

#10daysForAsean  #day1

***

One Moment in Time :)

Sejak hamil di awal kedatangan ke Jeddah tahun 2011, telah terpikir ide untuk mamasejagat. Idenya sempat terkubur sebentar karena aprilnya eike melahirkan.

Hanya 2 minggu setelah melahirkan, langsung saya wujudkan ide mamasejagat dengan mengajak beberapa nama yang sudah saya niatkan sejak awal. Teman-teman dari Sydney (Australia), Bergen (Norway), Bangalore (India), Maastricht (Belanda) dan Doha (Qatar), Saitama(Jepang) beserta saya sendiri di Jeddah (Arab Saudi) adalah mamapelopor di blog MamaSejagat.

pilcrow 1
Minggu ketiga Mei 2011, MamaSejagat pun resmi mengudara dengan mama Jeddah sebagai komandan regunya. Orang suka bilang, blog komunitas gampang karena kontributornya banyak. Itu teorinya. Mau tahu rahasia dapurnya? .

Teman-teman saya tadi tidak semuanya gemar menulis. Akhirnya dibujuk kiri-kanan, atas bawah, pakai wawancara segala. Di tahun itu, saya juga modalnya cuma senang nge-blog doang. Jangan harap mengerti EYD. Nulisnya saja masih ber-gue-gue dengan tanda baca yang bikin sakit mata 😀.

pi

AKhirnya teman dari India yang paling pertama mengirimkan tulisannya. 2 paragraf saja dan tanpa foto sama sekali. Saya tidak patah arang. Saya kilik-kilik via google, dapat deh info tambahan dan saya rangkai 2 paragraf itu menjadi … 3 postingan berbeda! Ahahahhahha. Jihan gitu lhooo, status saja bisa 10 paragraf . Foto-fotonya saya ambil dari searching sana sini tentu dengan mencantumkan website asal foto masing-masing .

Uniknya Mama Bangalore akhirnya jadi jago menulis, lho . Hanya 3-4 postingan pertama yang butuh banyak sentuhan dari saya.

pilcrow 3 new

Yang dari Bergen sibuk, saya maklumlah. Ibu dengan satu anak di luar negeri dan bekerja pula. Salut ya, Dear. Untuk mengakalinya, saya yang menentukan tema, saya kirimkan daftar pertanyaan sesuai tema tersebut. Nanti dia tinggal jawab saja via inbox. Jawaban-jawabannya yang saya olah menjadi postingan. Enaknya yang dari Bergen ini, orangnya kece dan foto-fotonya banyak hihihihihi.

Yang dari Sydney, tulisannya bagus-bagus. Tapi ya ini kan cuma blog sukarela. Beliau pun sibuk dengan S3nya, di luar negeri repotnya minta ampun tanpa asisten dengan tetap sekolah beserta mengurus anak dan suami. Alhamdulillah, beliau tetap mengirimkan tulisan-tulisannya .

Yang dari Maastricht akhirnya cuma mengirim satu postingan. Thanks ya Dear . It still means a lot for me . Yang ini saya kenalnya via online sih, enggak enak mau dikejar-kejar terus. Malu lah meneror orang terus via inbox hihihihi. Dibayar kagak .

hdr 1 rere

Yang dari Doha paling lama ngebujukinnya *ngelapKeringat*. Akhirnya pakai metode yang sama dengan mama Bergen . Yang ini juga sayang dilepas karena si doi kece abis dengan foto-foto yang keren-keren hehehe.

Mama Saitama yang paling berkesan. Padahal saya betul-betul baru kenal via FB. Dia sudah punya blog. Saya minta izin copas beberapa tulisannya yang saya anggap cocok dengan tema MamaSejagat. Ni anak orangnya friendly abis. Begitu kenal rasanya sudah sangat akrab padahal sampai sekarang kita belum pernah kopdar .

hdr 6 fifi

Alhamdulillah, MamaSejagat bisa mempersembahkan kisah-kisah ibu perantau di luar negeri . Kesannya yang nulis banyak, padahal di balik layar yang di Jeddah itu saban hari puter otak gimana caranya bisa ada postingan baru selain daripada cerita tentang Jeddah hehehe.

Akhirnya saya mulai hunting kontributor-kontributor baru. Ajak kenalan via FB, sampai kenalan via situs The Urban Mama, blogwalking ke mana-mana, dijabanin semua.

Yang menolak atau tidak merespons sama sekali? Banyaaaaakkkk 😛.

Ada yang langsung mengirim tulisan bejibun begitu diminta, thanks yah Mama London . Ada pula yang senang hati mengizinkan saya mengambil postingan-postingannya yang dirasa cocok dan saya kreasikan sendiri foto-fotonya di MamaSejagat. Terima kasih Mama Bremen 🙂.

pilcrow 6

Ada juga Mama Hongkong yang tulisannya termasuk yang paling hits di MamaSejagat. Saya agak jiper waktu mengajaknya berkenalan. Alhamdulillah dia baik banget. Daftar pertanyaan segera saya kirim dia pun menjawab dengan senang hati. Sip deh. Tinggal diolah dan diedit, jadi deh satu postingan tentang “Street Market di Hongkong” .

Mama Perth, teman kantor dulu, juga baik. Begitu saya email langsung mengirimkan tulisan. Tapiiiiii…hanya beberapa kalimat. Eit, sang editor tidak hilang akal, dong. Dengan bantuan wikipedia, beberapa kalimat tersebut bisa disulap menjadi postingan utuh 🙂.

Berturut-turut juga muncullah Mama Texas, Mama California, Mama Tehran, Mama Delft, Mama Melbourne, sampai Mama Kurdistan-Irak yang saya minta menjadi admin tambahan hingga sekarang .

Walau kini MamaSejagat sudah jarang saya update, pengunjungnya lumayan banyak dan stabil . Linknya di mamasejagat.wordpress.com, ya.

Dampak lain gara-gara sangat gencar ngeblog (ada satu lagi lho, blog “Cerita Jeddah” :P) muncul pula drama di luar dugaan. Ada desas desus eike tidak mengurus anak dan suami gara-gara sibuk ngeblog. Untunglah punya suami baik hati dan tahan banting mendengar keluh kesah 😛.

Blog Jeddah, ceritajeddah.wordpress.com
Blog Jeddah, ceritajeddah.wordpress.com

“Apa perlu nih kita foto-foto hasil masakanmu terus diupload di Facebook biar pada enggak nyinyir?” Goda suami saya waktu itu.

“Idih, apaan sih…”

“Atau pas lagi beres-beres rumah kufoto, ya. Terus pas lagi gosok kamar mandi kufoto juga.” Suami terus dong booooo .

“Apa sih, Bang? Serius iniiiii…”

“Kasih judul, Inem sang Penulis.” Ahahahahhahahaha.

Saran sahabat saya juga tokcer, “Yaela segitunya, mereka ngomong gitu gara-gara lu kagak doyan pamer-pamer masakan pas ngumpul-ngumpul? Ngapain sih dipikirin? Istri itu wajib masaknya buat suami dan anak-anaknya, bukan buat teman-temannya! Jangan ngerebut lahan katering!” Hahahahahaha.

***

Nah, tahun ini saya memang ingin mencoba menjajal dunia kepenulisan profesional *tsaaahhh*. Sebenarnya sejak Juni 2012 sudah sering banget mengirim tulisan ke media cetak nasional. Kan, ada jutaan orang yang bertanya tuh (padahal kenyataannya cuma 2-3 orang aja hihihihi), “Bagaimana caranya agar lancar menulis?”

Menulis apaan? Menulis status di FB? *benerinPoni* .

Jangan pusing sama teori. Dalam hal apa pun, praktiknya selalu sama, “selalu ada harga yang harus dibayar” . Waktu mati-matian memperjuangkan agar blog MamaSejagat terupdate terus dengan postingan dari berbagai macam negara, lumayan kan ‘pengorbanan’nya. Korban waktu, belajar menyusun foto biar blognya ciamik hehehe, menulis tulisan dengan mencantumkan nama orang lain sebagai kontributornya, korban perasaan digosipin macam-macam . They never stop me, *benerinPoni* lagi.

Saya beri kutip kata ‘pengorbanan’ karena itu menurut orang lain. Saya mah demeeennn hehehehe. It’s fun for me .

hdr 4 jhn

Nah, itu pelajaran keduanya. Kerjakan sesuatu yang sesuai kecintaan masing-masing . Saya memang banci menulis, kok. Lomba menulis yang disuruhnya 2-3 paragraf bikinnya sampai 4-5 halaman coba hahahaha *dijitakJuri*.

Mau jago memasak. Ya percuma kalau buku resep dikumpulin begitu saja sampai menggunung tapi kompor sama oven enggak pernah dinyalain. Takut enggak enak? Bikin kue coklat ajaaaaa. Pasti enyaaakkk hihihihihi *anjuranNgaco*.

Mau jago menggambar, masa bolak balik beli crayon doang, sementara buku gambarnya masih bersih. Mau tenar sebagai penyanyi, jangan cuma menghabiskan waktu nonton youtube, dong. Bikin video dan sebarin. Enggak ada yang mau menonton? Ya, upload terus! Ganti gaya kek, ganti genre kek atau ganti metode promosinya?

Mana ada usaha yang sia-sia? Untuk yang muslim, kewajibannya nambah dikit : ikhtiar (usaha) + DOA 🙂.

Apalagi kalau sudah urusan passion. Uang mah urusan kesekian. Perhatian dari orang lain apalagiiiii. Masa ngambek ngeblog gara-gara enggak ada yang komentar. Do that to express not to impress . Kalau mengharapkan pujian dari orang lain semata, percaya deh, kita akan terpenjara oleh rasa kecewa. Dapat capeknya doang 😀.

Kalau memang apa yang selama ini sudah mati-matian kita usahakan belum juga membuahkan hasil, mungkin karena memang momennya belum muncul. Jangan dipikirin. Waktu banting tulang bikin postingan buat MamaSejagat, sama sekali tidak pernah terpikir bahwa suatu hari saya akan banyak menuliskan cerita jalan-jalan ke berbagai media cetak nasional 🙂.

challenge blog

Sama kooook, saya juga masih dalam tahap berjuang. Masih banyak hal-hal yang diimpi-impikan yang masih jauh dari kenyataan terkini. Sama-sama ya teman-teman, let’s just hang on there … it’s simply because the best is yet to come .

I want one moment in time
When I’m more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me 
(One Moment in Time – Whitney Houston)

Kita kejar sama-sama … our one moment in time , suatu hari di ujung sana. Dan mustahil untuk sampai ke sana, kalau kita tidak melangkah maju, kan? Lebih mustahil lagi kalau kita berhenti melangkah sama sekali 🙂.

COver FB***

Cinta Segitiga Pangeran Charles – Mendiang Putri Diana- Camilla

10 Februari 2005, pewaris tahta nomor satu di salah satu kerajaan di dunia yang masih bersisa itu mengumumkan pertunangannnya. Usia sang pangeran telah hampir mencapai 60 tahun, namun konon, dia berlutut ketika melamar kekasihnya. Kekasihnya sendiri bukan seorang gadis, usianya pun tak lagi muda. Usia mereka hanya selisih satu tahun.

Benar, sang pangeran akan menikah untuk kedua kalinya. Pernikahan kedua tapi bersama dengan perempuan yang sesungguhnya adalah cinta pertamanya. Yup, gosipin siapa kita kali ini? Siapa lagi kalau bukan Pangeran Charles dan Camilla.

Putri Diana Pangeran Charles Camilla
Charles and Camilla (Polo Match 1971), photos by Rex Feature

***

Perceraian Diana dengan Charles menghadirkan satu nama baru, Camilla. Saya tak bisa membayangkan seperti apa kehidupan Camilla di masa awal kematian Diana. Pasti keselek mulu gara-gara disumpahin sama banyak wanita di dunia 😛.

Kurang apa, sih, Diana? Cantik iya, langsing iya, tinggi iya, baik hati iya, sayang anak iya, rasa pedulinya tinggi pula kepada sesama. Why Charles? Why? Why? *alaRatuDrama*.

Apalagi waktu melihat penampakan Camilla di depan televisi. My oh my. Kagak ada cakep-cakepnya dibanding Diana. Selera berbusana Camilla pun sangat sembrono. Sementara Diana terkenal sebagai salah satu icon fashion dunia. Keanggunannya apalagi. Kalah jauh, deh.

Konon (konon melulu hihihihi, referensinya sudah lupa semua booo :P), ada dua versi mengenai pertemuan pertama Camilla dan Charles. Intinya mereka bertemu di sekitar tahun 70-71. Satu dekade sebelum Charles menikahi Diana.

***

Camilla ini gadis yang tomboy, pandai berkuda, suka berbicara (bawel :P), aktif dan kagak ada jaim-jaimnya, hehehe. Sangat berbeda dengan kelakuan cewek-cewek yang dibesarkan dalam lingkungan aristokrat. Tapi sebenarnya Camilla berasal dari keluarga yang sangat berada, lho. Dibesarkan dalam lingkungan kerajaan yang kaku dan dingin, entah mengapa Charles langsung tertarik pada Camilla remaja.

Putri Diana Pangeran Charles Camilla
Charles and Camilla as a couple, 1971 (washingtonpost.com)

Tidak cuma saling tertarik, tapi pacaran *dijewerSamaUstFelixSiauw* . Hubungan berhenti begitu saja ketika di tahun 1973, sang pangeran mengikuti wajib militer. Mengapa mereka putus? Ini banyak lagi rumornya. Tapi rumor paling kuat ya karena keluarga besar Charles emoh dan merasa bahwa karakter Camilla kurang cocok jadi istri raja.

Camilla tak menunggu lama dan akhirnya menikah dengan orang lain. Charles sempat terluka dan mengirimkan surat kecaman kepada paman Camilla, Lord something gitu lah, “”I suppose the feeling of emptiness will pass eventually.”

Kekasih sudah menjadi milik orang lain, Charles pun move on. Pacaranlah beliau dengan beberapa orang sebelum akhirnya dijodohkan dengan Diana. Dunia pun bersorak ketika di tahun 1981, pernikahan Charles dan Diana dirayakan besar-besaran dan disaksikan jutaan mata melalui layar televisi.

Putri Diana
Washingtonpost.com

***

Dalam salah satu wawancara kontroversialnya di salah satu stasiun TV, Diana mengeluh terang-terangan, “There were three people in this marriage from the start. And it’s just too crowded.”

Diana pun mengakui, sebelum melangkah di depan altar, dia sudah tahu bahwa hati sang pangeran bukan miliknya. Bahkan konon, Camilla yang menyarankan Charles untuk menuruti keinginan ibunda ratu untuk meminang Diana. Di tahun 1979, Charles memang kembali berhubungan dengan Camilla. Dibiarkan oleh suami Camilla karena sang suami ini pun ternyata punya selingkuhan juga *ondeMande*.

Akhirnya, setelah sang putri tewas dalam kecelakaan maut di penghujung Agustus 1997, pelan-pelan Charles kembali menjalin hubungan dengan Camilla.

Entah pakai susuk apa ini Camilla sampai-sampai puluhan tahun berlalu, hati sang pangeran tetap tertambat. Charles pernah mengakui bahwa Camilla adalah sahabatnya. Tempatnya mencurahkan isi hati dan dia merasa cocok karena Camilla enak diajak berdiskusi soal apa saja termasuk politik, kerajaan, masalah sosial dan curhat-curhat lainnya .

Sementara menurut Charles, Diana adalah perempuan yang pendiam dan sering enggak nyambung kalau diajak ngobrol. Wallahu’alam ya. Ini fansnya Lady Di jangan unfriend eike, ya. Ini kata Charles sendiri, lho. Eike gak ngarang-ngarang hehehe.

Charles - Diana, mengumumkan perpisahan mereka (washingtonpost.com)
Charles – Diana, mengumumkan perpisahan mereka (washingtonpost.com)

Masuk akal, sih. Kalau membaca biografi Camilla yang penuh warna. Teman-teman dan guru-guru sekolahnya menggambarkan Camilla sebagai perempuan gaul, cerdas dan penuh energi. Pernah sekolah sampai ke Swiss dan Perancis segala. Kalau tidak salah pernah pula berkecimpung dalam dunia jurnalis. Ya beda ‘karakter’ lah dengan Putri Diana yang dibesarkan ala bangsawan nan anggun yang berprofesi sebagai guru TK sebelum dipinang oleh sang pangeran. Diana kecil memang dikenal sangat pemalu.

Sewaktu mengetahui ternyata sang pangeran hanya berpura-pura, Diana tidak langsung menyerah. Dikuatkannya hati dan tetap melangkah di atas altar. Dengan harapan, kelak kesetiaannya akan terbayar dengan cinta sang pangeran. Sadly, it never happened 🙁.

Inilah hal yang sangat menyakitkan buat Diana, terungkap dalam salah satu ucapannya, “He never gave our marriage a chance.”

Sikap ogah-ogahan Charles sebenarnya sudah ‘tertangkap’ saat wawancara pertunangannya dengan Diana.

Anthony Carthew (ITN): And, I suppose, in love?
Lady Diana Spencer: Of course!
Charles, Prince of Wales: Whatever ‘in love’ means.

Kurang ajar banget, kan? Diana langsung mengiyakan. Sementara Charles malah mengungkapkan kalimat menggantung, “Whatever ‘in love’ means.”

Putri Diana Pangeran Charles Camilla
After decades … Finally-legally together :). Gambar : washingtonpost.com liveindia.com

***

Kita kan cuma bisa menerka-nerka dan sibuk baca-baca google ya boooo hihihihi. Yang namanya cinta kepada sesama manusia memang susah didefinisikan, susah ditebak, apalagi dikira-kira.

Bukan tugas kita menghakimi siapa pun di sini. Kisah-kisah semacam ini cukup dibaca dan dijadikan pelajaran, enggak perlu sampai jadi pikiran segala ih hehehe.

Bahwa, menghalangi dua insan yang lagi dimabuk asmara hanya karena alasan-alasan ‘duniawi’ macam enggak selevel lah, kurang ningrat lah, kurang anggun lah, tidak akan begitu saja menyelesaikan persoalan. Malah, bikin masalah baru –> rasa sakit hati lah, dendam lah, dan korban perasaan lainnya.

Wong naksirnya sama si A, dipaksa kawinnya ama si B.

Bahwa, mahligai pernikahan bukan ajang coba-coba. Kalau sang pangeran bersikap ksatria, pertahankan dong cinta anda kepada Camilla. Bukannya ‘menyerah’ dan ikut dalam sandiwara yang disutradarai oleh kerajaan.

Ingatlah akan kisah salah satu kakek anda, Edward VIII. Yang rela meletakkan tahta agar bisa mempersunting Wallis Simpson, seorang janda non ningrat asal Amerika Serikat.

Tapi, cinta Charles untuk Camilla menunjukkan satu hal, “There is something beyond physical attraction” . Konon, rasa kasih yang tidak hanya berdasar fisik semata biasanya memang lebih langgeng 🙂.

Yah, namanya juga konon. Boleh setuju boleh tidak hehe.

***