Mantan terindah : Kebetulan, saya menikah dengan suami yang juga teman kuliah saat masih di bangku universitas. Kampus sama, fakultas sama. We both had a little story with someone else back then *uhukUhuk*.
Itulah mungkin salah satu enaknya menikah dengan sahabat sendiri. Karena di masa lalu punya lingkup pergaulan yang sama, kita suka bergosip tentang yang dulu-dulu.
“Eh, dulu si anu kan naksir si itu?”
“Masa, sih?”
“Iya, serius.”
“Oh, kalau soal X dulu putus asa Y tahu enggak karena apa?”
“Karena apa emang?”
“Jadi gini…”
Dan seterusnya, dan seterusnya … Tak cuma suka mengobrol soal politik, sejarah, soal anak-anak, soal duit , pasangan Gober juga hobi bener bergosip hahahahhaha.

Gosip paling sensitif ya pasti tentang si ‘dia’ di masa lalu. Faktanya, sang mantan-mantan dengan pasangan masing-masing sekarang juga berada di daratan Eropa semua. What a coincidence 😛.
Sering, deh, ledek-ledekan dengan suami.
“Pengin jalan-jalan ke kota ABC, deh.”
“Cieeehhh, pengin ketemu itu kaleee…”
“Enak aje! Situ kali yang pengin ke negara XYZ.”
Tentang siapa mereka bukan inti tulisan ini, kok. Hahaha.
Saya barusan blogwalking ke tempat-tempat ‘langganan’ . Ketemu satu postingan lama seorang teman dengan tajuk “The One That Got Away.” Memang, judulnya diambil dari salah satu lagu popular milik Katy Perry. Isi tulisannya sangat menarik.
***
Baiklah. Saya mengakui, selama ini saya selalu menganggap pasangan saya sekarang adalah sosok yang mendekati sempurna. Enggak cuma ganteng luar biasa *eaaahhh*. Selain juga seru diajak mengobrol soal apa saja, sudah gitu kalau mengobrol bisa bikin ngakak-ngakak, dese juga tajir booooo hahahahahaha *ngikikMatre*.
Akankah uang belanja mendapat kenaikan dengan adanya paragraf sarat pujian ini? Hahahhaha *colek orang ganteng* .
Tapiii…enggak bohong juga, kadang-kadang kalau lagi iseng pernah terbersit pikiran soal si dia dari masa lalu. Semacam rasa penasaran, “What if I have never let him go…”
Ternyata saya tidak sendiri. Teman itu juga sama. Seperti saya, dia sering juga penasaran, akan seperti apa ya kehidupan seandainya kita berjodoh dengan orang lain, si dia yang sebenarnya ‘hadir’ lebih dahulu.
Kisah kami lagi-lagi sama. Kalau teman saya tidak direstui oleh keluarga mantannya, saya diputusin sama si doi huhuhu. Setelah itu ada, sih, proses rekonsiliasi, tapi intinya tetap bubar. Aduh, sedihnya waktu itu.
Bertahun-tahun memendam rasa sakit hati. Saya kepoin habis-habisan. Waktu baru kenal google, entah berapa kali namanya saya ketikkan di kolom pencarian hahahaha. Sampai jomblo pula eike dalam tempo yang tidak sebentar.
Bukan apa-apa, si doi yang itu adalah pacar pertama yang sangat diharapkan menjadi yang terakhir. Macam pepatah terkenal dari roman-roman tempo dulu, “Engkau yang pertama sekaligus yang terakhir” *tsaaaahhh*.
Hingga akhirnya, saya menghadiri pesta resepsi pernikahannya. Dan sangat kaget ketika dia memperkenalkan saya kepada istrinya, “Ini lho yang namanya Jihan.” Buset, deh. Langsung tengsin. Kira-kira dia bilang apa ya tentang saya hihihihi.
Walau sekarang kehidupan kami masing-masing terbilang bahagia dengan pasangan masing-masing, suka tidak suka, what if-what if tadi sesekali datang menghampiri. Tak jarang, ketawa-ketawa sendiri membayangkan seperti apa kehidupan seandainya waktu bisa diputar mundur dan takdir berlaku sebaliknya.
Akankah lebih bahagia? Apakah lebih seru?
Tapi kenyataannya, siapa pun dari masa lalu, mau dia lebih baik atau tidak, pasti akan selalu menjadi “The One That Got Away” dan menyisakan rasa penasaran. Tak bisa dimungkiri bila sekali waktu sebagian dari kita berharap waktu bisa berputar kembali dan menengok seperti apa kehidupan kita seandainya saja, “He/She’s Not Going Away.”
Makanya, yang masih muda-muda, dengerin deh nasihat Ustaz Felix. Mending enggak usah pacaran. Agar selamanya, what if-what if ini tidak perlu datang menghampiri hehe.
***
Tapi jangan dikira dengan adanya ‘what if’ ini bahwa kita masih menyimpan rasa lho, ya . For me, it’s totally different. Kalau ada yang bilang “First love never ends”, maka untuk hubungan antara perempuan dan laki-laki, saya menentang keras kalimat ini.
Orang sering salah mengartikan, nostalgia dengan istilah CLBK (cinta lama bersemi kembali). Walau beberapa waktu lalu, saya pernah ‘terjebak’ dalam kesalahpahaman seperti ini . Harga yang harus dibayar tidak sedikit, tapi pelajaran yang bisa dipetik juga banyak . Kapok deh ane.
Bahwa, siapa pun dari masa lalu akan selamanya menjadi bagian dari hidup kita memang tak terbantahkan. Kita tidak bisa meminta kepada Tuhan agar bagian kehidupan yang itu dihapuskan begitu saja. Tapi, tidak berarti posisi mereka akan selalu sama. Karena trust me ladies, “First love did end!”
Bahwa apa yang terjadi di masa sekarang bukanlah pengingkaran dari masa lalu. Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. People do change, don’t they?
Bolehlah dulu si doi berjaya dan menghadirkan rasa kehilangan yang sangat besar ketika akhirnya dia memutuskan ‘pergi’. Tapi sekarang, walau kadang masih hadir dalam bentuk ‘what if’ tadi, “We’re so over them. Aren’t we?” 😉.
Dari dulu saya hobi banget ber-diari ria sampai terus merembet ke blog yang tak pernah disangka akan menjadi konsumsi publik. Untunglah, sebelum blog se’ramai’ sekarang, saya sudah membenamkan semua catatan-catatan hati tempo dulu.
Tidak pakai ganti status postingan ke ‘private’, langsung saya hapus begitu saja. Karena, kalau sampai terbaca oleh orang yang tidak tepat, maknanya bisa diselewengkan hehehe.
I truly believe what I have now is beyond my imagination 🙂. Dalam arti positif tentu saja. Walau ‘what if’ katanya tak terhindari, tapi masa lalu cukuplah menjadi masa lalu saja. Disimpan rapat-rapat dalam hati. Jangan terpancing dengan kasih tak sampai di masa lalu. La terus kenapa situ tulis di wall/blog segala? Hahahaha.
Agar menjadi pelajaran buat kita semua dong, ya. ‘What if’ tetap akan menjadi ‘what if’, tapi yakinlah, “Old love(s) do end!” 🙂. Maybe we can not completely forget them, but we remember them in a very different way now.
[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=_vId_4r925o]
***









