What If : Mengenang Mantan Terindah ???

Mantan terindah : Kebetulan, saya menikah dengan suami yang juga teman kuliah saat masih di bangku universitas. Kampus sama, fakultas sama. We both had a little story with someone else back then *uhukUhuk*.

Itulah mungkin salah satu enaknya menikah dengan sahabat sendiri. Karena di masa lalu punya lingkup pergaulan yang sama, kita suka bergosip tentang yang dulu-dulu.

“Eh, dulu si anu kan naksir si itu?”
“Masa, sih?”
“Iya, serius.”
“Oh, kalau soal X dulu putus asa Y tahu enggak karena apa?”
“Karena apa emang?”
“Jadi gini…”

Dan seterusnya, dan seterusnya … Tak cuma suka mengobrol soal politik, sejarah, soal anak-anak, soal duit , pasangan Gober juga hobi bener bergosip hahahahhaha.

The Gober(s) :D -2007 mantan terindah :D
The Gober(s) 😀 -2007

Gosip paling sensitif ya pasti tentang si ‘dia’ di masa lalu. Faktanya, sang mantan-mantan dengan pasangan masing-masing sekarang juga berada di daratan Eropa semua. What a coincidence 😛.

Sering, deh, ledek-ledekan dengan suami.

“Pengin jalan-jalan ke kota ABC, deh.”
“Cieeehhh, pengin ketemu itu kaleee…”
“Enak aje! Situ kali yang pengin ke negara XYZ.”

Tentang siapa mereka bukan inti tulisan ini, kok. Hahaha.

Saya barusan blogwalking ke tempat-tempat ‘langganan’ . Ketemu satu postingan lama seorang teman dengan tajuk “The One That Got Away.” Memang, judulnya diambil dari salah satu lagu popular milik Katy Perry. Isi tulisannya sangat menarik.

***

Baiklah. Saya mengakui, selama ini saya selalu menganggap pasangan saya sekarang adalah sosok yang mendekati sempurna. Enggak cuma ganteng luar biasa *eaaahhh*. Selain juga seru diajak mengobrol soal apa saja, sudah gitu kalau mengobrol bisa bikin ngakak-ngakak, dese juga tajir booooo hahahahahaha *ngikikMatre*.

Akankah uang belanja mendapat kenaikan dengan adanya paragraf sarat pujian ini? Hahahhaha *colek orang ganteng* .

Tapiii…enggak bohong juga, kadang-kadang kalau lagi iseng pernah terbersit pikiran soal si dia dari masa lalu. Semacam rasa penasaran, “What if I have never let him go…”

Ternyata saya tidak sendiri. Teman itu juga sama. Seperti saya, dia sering juga penasaran, akan seperti apa ya kehidupan seandainya kita berjodoh dengan orang lain, si dia yang sebenarnya ‘hadir’ lebih dahulu.

Kisah kami lagi-lagi sama. Kalau teman saya tidak direstui oleh keluarga mantannya, saya diputusin sama si doi huhuhu. Setelah itu ada, sih, proses rekonsiliasi, tapi intinya tetap bubar. Aduh, sedihnya waktu itu.

Bertahun-tahun memendam rasa sakit hati. Saya kepoin habis-habisan. Waktu baru kenal google, entah berapa kali namanya saya ketikkan di kolom pencarian hahahaha. Sampai jomblo pula eike dalam tempo yang tidak sebentar.

Bukan apa-apa, si doi yang itu adalah pacar pertama yang sangat diharapkan menjadi yang terakhir. Macam pepatah terkenal dari roman-roman tempo dulu, “Engkau yang pertama sekaligus yang terakhir” *tsaaaahhh*.

Hingga akhirnya, saya menghadiri pesta resepsi pernikahannya. Dan sangat kaget ketika dia memperkenalkan saya kepada istrinya, “Ini lho yang namanya Jihan.” Buset, deh. Langsung tengsin. Kira-kira dia bilang apa ya tentang saya hihihihi.

Walau sekarang kehidupan kami masing-masing terbilang bahagia dengan pasangan masing-masing, suka tidak suka, what if-what if tadi sesekali datang menghampiri. Tak jarang, ketawa-ketawa sendiri membayangkan seperti apa kehidupan seandainya waktu bisa diputar mundur dan takdir berlaku sebaliknya.

Akankah lebih bahagia? Apakah lebih seru?

Tapi kenyataannya, siapa pun dari masa lalu, mau dia lebih baik atau tidak, pasti akan selalu menjadi “The One That Got Away” dan menyisakan rasa penasaran. Tak bisa dimungkiri bila sekali waktu sebagian dari kita berharap waktu bisa berputar kembali dan menengok seperti apa kehidupan kita seandainya saja, “He/She’s Not Going Away.”

Makanya, yang masih muda-muda, dengerin deh nasihat Ustaz Felix. Mending enggak usah pacaran. Agar selamanya, what if-what if ini tidak perlu datang menghampiri hehe.

***

Tapi jangan dikira dengan adanya ‘what if’ ini bahwa kita masih menyimpan rasa lho, ya . For me, it’s totally different. Kalau ada yang bilang “First love never ends”, maka untuk hubungan antara perempuan dan laki-laki, saya menentang keras kalimat ini.

Orang sering salah mengartikan, nostalgia dengan istilah CLBK (cinta lama bersemi kembali). Walau beberapa waktu lalu, saya pernah ‘terjebak’ dalam kesalahpahaman seperti ini . Harga yang harus dibayar tidak sedikit, tapi pelajaran yang bisa dipetik juga banyak . Kapok deh ane.

Bahwa, siapa pun dari masa lalu akan selamanya menjadi bagian dari hidup kita memang tak terbantahkan. Kita tidak bisa meminta kepada Tuhan agar bagian kehidupan yang itu dihapuskan begitu saja. Tapi, tidak berarti posisi mereka akan selalu sama. Karena trust me ladies, “First love did end!”

Bahwa apa yang terjadi di masa sekarang bukanlah pengingkaran dari masa lalu. Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. People do change, don’t they?

Bolehlah dulu si doi berjaya dan menghadirkan rasa kehilangan yang sangat besar ketika akhirnya dia memutuskan ‘pergi’. Tapi sekarang, walau kadang masih hadir dalam bentuk ‘what if’ tadi, “We’re so over them. Aren’t we?” 😉.

Dari dulu saya hobi banget ber-diari ria sampai terus merembet ke blog yang tak pernah disangka akan menjadi konsumsi publik. Untunglah, sebelum blog se’ramai’ sekarang, saya sudah membenamkan semua catatan-catatan hati tempo dulu.

Tidak pakai ganti status postingan ke ‘private’, langsung saya hapus begitu saja. Karena, kalau sampai terbaca oleh orang yang tidak tepat, maknanya bisa diselewengkan hehehe.

I truly believe what I have now is beyond my imagination 🙂. Dalam arti positif tentu saja. Walau ‘what if’ katanya tak terhindari, tapi masa lalu cukuplah menjadi masa lalu saja. Disimpan rapat-rapat dalam hati. Jangan terpancing dengan kasih tak sampai di masa lalu. La terus kenapa situ tulis di wall/blog segala? Hahahaha.

Agar menjadi pelajaran buat kita semua dong, ya. ‘What if’ tetap akan menjadi ‘what if’, tapi yakinlah, “Old love(s) do end!” 🙂. Maybe we can not completely forget them, but we remember them in a very different way now. 

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=_vId_4r925o]

***

Menuju Komunitas ASEAN 2015, Let’s Take The Hits!

Pertengahan tahun 2009 kala tengah bermukim di kota Tehran, Iran, saya terkesima melihat sebuah Iklan pariwisata yang wara wiri di layar kaca. Bukan di stasiun televisi sembarangan, tapi muncul berulang kali di channel sekelas BBC dan CNN.

Dengan pengambilan gambar yang cantik dan latar suara musik tradisional yang merdu, semua keterangan ditulis dalam bahasa Inggris. Iklan ini dibuat dengan sangat profesional.

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=QZ4KRuwJ3QU]

(“Malaysia Truly Asia” Commercial – 2009)

Melihat sepenggal tayangan dimana seorang perempuan cantik tengah menikmati buah durian, langsung ingat jajanan tanah air.

Potongan-potongan gambar berbagai penari dengan pakaian adat mirip suku Dayak, sekelompok orang bermain gamelan, tiga orang yang tengah membakar sate, jajaran shopping centres, sekelebat bayangan candi-candi, anak-anak kecil mengendarai kerbau di pinggiran sungai, pesisir pantai cantik seperti yang mudah ditemukan di Bali maupun Lombok, ragam flora dan fauna khas nusantara, saya yang memang tengah kangen pada tanah air langsung terharu dan kegirangan, “Astaga, kerennya Indonesiaku.”

Rasa sesak di dada luntur seketika saat di akhir tayangan, muncul sebaris kalimat “Malaysia Truly Asia.”

***

Hingga kini, urusan pariwisata (sosial-budaya) masih sempat mewarnai perselisihan antara Indonesia dan negara-negara tetangga. Khususnya dengan Malaysia, yang memang di beberapa wilayah berbagi daratan yang sama dengan Indonesia.

Sebagian masyarakat Indonesia sibuk menyalahkan pihak asing sebagai ‘pencuri budaya’. Lupa menyadari kelemahan kita sendiri yang kurang telaten merawat rupa-rupa warisan budaya Nusantara.

‘Perselisihan’ yang mungkin dirasa kecil namun bisa berdampak besar, tentunya bukan sinyal yang baik bagi percepatan pembentukan Komunitas ASEAN 2015, yang awalnya digagas untuk tahun 2020. Komunitas ini dibangun berdasarkan keinginan negara-negara di belahan tenggara benua Asia untuk bersinergi secara optimal di bidang Keamanan, Ekonomi dan Sosial Budaya.

Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu
Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu

Namun, jangan lupa. Sinergi ini akan memungkinkan terbukanya berbagai akses untuk memudahkan lintas bisnis diantara sesama negara-negara ASEAN. Dampak ekonomi yang paling mendapat sorotan tajam. Disertai pertanyaan besar, siapkah Indonesia? Siapkah kita?

Rumitnya Posisi Indonesia dalam Segi Keamanan dan Ekonomi 

Membahas masalah keamanan tentu bukan bidang saya, seorang blogger biasa yang hanya punya latar belakang IT :). Tapi jelas, dengan melihat geografis nusantara yang dibentuk oleh gugusan pulau besar dan kecil dan dipisahkan dengan perairan yang luas, tantangan besar  diemban oleh pemerintah kita. Daripada sok tahu, mari kita bantu dengan doa saja :).

Segi ekonomi pun terbilang rumit. Diantara negara-negara ASEAN yang lain, Indonesia memiliki  jumlah penduduk terbesar. Jauh lebih besar daripada negara yang berada di urutan ke-2, Filipina, yang diperkirakan berpenduduk sekitar 100 juta jiwa. Sementara Indonesia sudah menembus 250 juta jiwa.

Tentu saja, mengurusi penduduk dengan angka fantastis bukan perkara gampang buat pemerintahan mana pun. Walau ditopang dengan sumber daya alam yang juga melimpah, tetap saja segi pengelolaan adalah tantangan terbesar untuk pemerintah.

Seperti negara-negara berkembang di negeri tetangga yang berpenduduk sangat banyak, Filipina dan Thailand, Indonesia sudah selayaknya melirik lapangan kerja di luar negeri. Agak riskan jika lebih dari 250 juta jiwa ini hanya menggantungkan hidup dari dalam negeri saja. Jangan lupa, devisa adalah salah satu sumber keuangan yang penting bagi tiap negara. Devisa nomor 2 disumbangkan oleh para pekerja asing yang menyumbangkan penghasilannya ke tanah air.

Selain memberi kontribusi nyata berupa ‘kiriman uang’ secara berkala ke negeri tercinta, para perantau asal tanah air juga bisa ‘mempromosikan’ Indonesia di mana pun mereka berada. Setiap warga di negeri perantauan adalah duta bagi bangsanya. Sebagai salah seorang perantau, hal simpel yang sering dilakukan suami saya adalah mengenakan batik ke  kantor atau memakai kopiah hitam saat melaksanakan ibadah di masjid.

Di Iran, Malaysia sangat terkenal sebagai salah satu tujuan wisata bagi penduduk setempat. Di Eropa secara umum, Thailand sering disebut-sebut karena keindahan alamnya. Sementara Filipina mengirimkan warga negaranya ke berbagai belahan dunia. Bayangkan, dari Saudi hingga Irlandia, saya menyaksikan sendiri tenaga kerja medis asingnya dikuasai oleh orang-orang Filipina.

Para negeri tetangga ini sungguh matang dalam berbaur dengan bangsa lain. Wah, bikin jiper juga. Akan seperti apa kita kala harus berbaur secara ekonomi dengan mereka di Komunitas ASEAN 2015 nanti?

Sosial Budaya, Waktunya Indonesia Unjuk Gigi!

Sekilas kita merasa jumlah penduduk yang melimpah menjadi kelemahan utama Indonesia untuk bersaing secara kompetitif dari segi ekonomi. Tapi, kita selalu bisa mencari celah, mengubah kelemahan menjadi kekuatan ;).

Era digital membawa media sosial menjadi salah satu sumber informasi dunia. Media sosial memperkenalkan kita kepada komunitas blogger. Orang-orang dari berbagai kalangan yang berbagi kata/rasa/makna/gambar sesuai dengan karakter masing-masing di berbagai fasilitas blog di dunia maya. Termasuk diantaranya, Komunitas Blogger ASEAN.  Indonesia jelas punya potensi besar dalam menyongsong Komunitas ASEAN 2015 dengan Integrasi Konstruktif Berbasis Kerakyatan (people centered).

Gambar : aseanblogger.com
Gambar : aseanblogger.com

Hanya dengan memainkan jemari di atas keyboard atau layar ponsel, begitu banyak hal yang bisa kita sebar ke seluruh penjuru dunia. Indonesia punya banyak stok jari-jari yang bisa disumbangkan oleh lebih dari 250 juta pemiliknya :D. Tak cuma menciptakan pasar ekonomi yang besar, keuntungan 250 juta jiwa sangat penting dalam penyebaran informasi.

Berbagai bentang alam dan macam-macam bentuk geografis yang terpisah-pisah memang menyulitkan sistem kontrol dan kelola oleh pemerintah. Tapi, kita mendapat anugerah berupa macam-macam potensi alam untuk tujuan wisata, ragam budaya/suku/bahasa, hingga jejak kuliner yang sambung menyambung dari Sabang hingga Merauke.

Gambar : pesonaIndonesia.com
Gambar : pesonaIndonesia.com

Begitu banyak hal yang bisa Komunitas Blogger Asean ceritakan melalui rangkaian kata di media online. Sembari giat menyebarkan sosialisasi akan Komunitas ASEAN 2015, para blogger bisa terus mengulas sosial budaya negeri asal masing-masing.

Faktor wisata cenderung menarik karena siapa, sih, yang tidak senang disuguhi informasi yang indah-indah? ;). Kebanyakan orang juga gemar jalan-jalan. Dan siapa yang tidak tertarik akan dunia kuliner? Makan-makan gitu, lho. Kebutuhan utama setiap insan :D.

Sinergi Optimal dari Komunitas Positif dan Seimbang

Sangat penting mensejajarkan kualitas bangsa sendiri dalam merintis sinergi positif bersama negara-negara ASEAN lainnya. Keseimbangan dalam berbagai hal adalah kunci dari hubungan yang sehat dalam bidang apa pun.

Sebagai bangsa besar, ini bukan tantangan mudah. Bersama blogger dari negeri-negeri tetangga kita harus wujudkan hubungan yang memberi keuntungan timbal balik. Dengan tidak merasa yang satu lebih tinggi atau rendah daripada yang lain. Itulah sebaik-baiknya rekan/teman/partner :). Bukan di depan, bukan di belakang, tapi berjalan berdampingan.

“Don’t walk behind me, I may not lead. Don’t walk in front of me, I may not follow. Just walk beside me and be my PARTNER.” -Albert Calmus

Gambar : talkvietnam.com
Gambar : talkvietnam.com

Energi positif mustahil dimunculkan dari hujatan-hujatan, kan? Tak perlu sibuk mencela orang lain yang dianggap mencuri budaya kita? Sudah seharusnya itu menjadi pertanyaan besar untuk kita semua. KOK BISA budaya kita sampai dipatenkan secara resmi oleh pihak lain? 

Seperti saya tatkala melihat iklan “Malaysia Truly Asia” tadi. Ha? Sejak kapan buah durian hanya dikenal milik Malaysia saja? Bahkan, bunga “Rafflesia Arnoldi” yang sudah disematkan sebagai salah satu bunga nasional Indonesia (informasi dari link berikut) juga muncul dalam tayangan iklan tersebut.

Bukan salah Malaysia! Kita yang harus melihat kepada diri masing-masing, APA YANG SALAH?

“That’s how winning is done! Now if you know what you’re worth then go out and get what you’re worth. But ya gotta be willing to TAKE THE HITS, and not pointing fingers saying you ain’t where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain’t you! You’re better than that!” -Rocky Balboa-

Tentu saja, kita, bangsa Indonesia, bukan bangsa pengecut. Yang mudah menyalahkan bangsa lain atas permasalahan yang ada. Jadi, jawab tantangan ini!

Bersama Kumpulan ASEAN Blogger, kita sosialisikan  Komunitas ASEAN 2015! Bukan dengan menyudutkan yang lain, tidak dengan menghujat siapa-siapa. Tapi dengan menyebarkan sisi positif bangsa sendiri :).

Bergandengan tangan bersama warga ASEAN lainnya, kita bisa memajukan kawasan ASEAN di mata dunia. Menjadikan ASEAN jaya di tangan anda, di tangan saya, di tangan kita semua. Not only “ASEAN in your hand. Even more… “ASEAN in OUR hands :).

Stop pointing our fingers and start taking the hits! 

Gambar : shutterstock.com
Gambar : shutterstock.com

***

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck : Novel Klasik Karya HAMKA

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sebuah roman karangan HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang dipublikasikan pertama kali di tahun 1938. Saya membaca novelnya di usia SD, entah persisnya umur berapa. Iseng bongkar-bongkar sebuah kardus yang sengaja diturunkan oleh ibu saya dari atas lemari karena sedang mencari-cari sesuatu.

Tenggelamnya kapal van der wijck
Gambar : openbooks.com

“Buku cerita bagus itu. Bacami.” Kata ibu saya waktu saya membolak-balik buku tua yang lembarannya masih utuh, hanya sampulnya yang sudah koyak.

Sebagai penggemar fiksi (fiksi apa saja, termasuk komik-komik Donald yang bisa eike baca berulang-ulang tapi tetep ngikik-ngikik hehehe), langsung leyeh-leyeh di atas kasur mulai membuka halaman pertamanya. Awalnya pening, ya, bahasanya ribet begitu hehehehe. Tapi karena ibu bolak balik mempromosikan kalau ceritanya sedih tapi bagus jadinya bikin kepo berat .

Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini berisi kisah cinta ala-ala Romeo dan Juliet yang lebih kompleks dengan latar belakang budaya Minang yang membuat saya waktu itu sudah terpikir, “Ajegile ini orang Minang. Repot amat adatnya. Jangan sampai deh berjodoh ama model begini.”

Ahahahahhaha. Who knows bertahun-tahun habis itu, takdir membawa saya menjadi menantu keluarga Minang-Bukittinggi . Diawali dengan sahabat dekat yang masih langgeng hingga kini dari masa awal kuliah yang juga berdarah 100% Minang.

Benarlah kata pepatah yang dibawakan oleh pembawa acara sebagai pembuka di acara resepsi pernikahan saya 6 tahun silam, “Asam di gunung, garam di laut, bertemu di dalam periuk.” Gadis Bugis dari sulawesi, bujang Minang dari sumatera, bertemu di UI – Depok, hihihihihi .

***

Balik ke novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Kakaaaaa 😀.

Zainuddin, pemuda setengah Minang yang mengawali hidupnya hingga remaja di tanah Sulawesi. Ayah Zainuddin, Pendekar Sutan, adalah pemuda asli Minang. Yang terusir dari kampung setelah terlibat perselisihan yang mengakibatkan kematian Mamaknya. Mamak = Paman. Bukan sembarang paman, tapi paman yang paling ‘dituakan’ dari pihak Ibu. Beda lho dengan pengertian Pakde-nya orang Jawa.

Dari pengasingan di Cilacap, Pendekar Sutan memilih menetap di Sulawesi. Menikah dengan Daeng Habibah (asli sulawesi) dan berbuah seorang bujang, Zainuddin.

Kedua orang tua Zainuddin telah berpulang semasa dirinya masih kecil. Saat remaja, Zainuddin meminta izin pada pengasuhnya untuk kembali ke Tanah Minang. Bertolaklah Zainuddin ke negeri asal ayahanda tercinta.

Ternyata, sambutan tak sehangat yang dibayangkan. Jika di Sulawesi, Zainuddin tak begitu diterima oleh keluarga sulawesinya karena adat Sulawesi yang secara umum mengaitkan asal usul seseorang berdasarkan darah Ayah, maka di Minang ia pun tertolak. Adat Minang kala itu masih memegang teguh prinsip Matrilineal. Yang menggariskan keturunan seorang anak berdasarkan darah ibunya.

Sibuk mengais perhatian dari keluarga minangnya, masalah bertambah dengan tertambatnya hati Zainuddin pada Hayati. Hayati bukanlah upik sembarangan. Melainkan seorang anak perempuan dari keluarga terpandang, semacam bangsawan Minang gitu, deh .

Di zaman itu, perempuan Minang dari keluarga terkemuka tentu saja diharapkan untuk berjodoh dengan sesama urang awak (sebutan khas untuk orang Minang). Lah, Zainuddin kan Minang juga. Eit, karena ibunya orang sulawesi, Zainuddin tidak dianggap orang Minang tulen. Istilahnya anak pisang apa, ya? Tolong yang dari Minang diceki-ceki, suami eike bete nih gue tanya-tanyain dari tadi hahahahahaha.

Sebenarnya, Hayati pun menyimpan bara cinta yang sama untuk Zainuddin. Ihiiiiy. Tapi ya, kehendak Ninik Mamak mana sanggup dibantahnya. Hayati memasrahkan dirinya yang telah dijodohkan oleh pemuda Aziz, yang juga berasal dari keluarga ‘Minang tulen’.

Padahal, waktu itu, Zainuddin sempat diberkahi harta warisan berlimpah selepas meninggalnya sang pengasuh di Sulawesi. Zainuddin tetap maju mempertahankan cintanya. Namun, garis keturunan tetap memenangkan cinta Aziz.

Membawa sakit hati tak terperi, pergilah Zainuddin ke Surabaya. Berbekal harta yang banyak, berusahalah ia melupakan kasih tak sampainya dengan menjadi penulis. Beuh, kenapa sih sastra tempo dulu, asal patah hati pasti ujung-ujungnya jadi penulis? . Untung di era internet, enggak perlu patah hati untuk menjadi seorang penulis, yak. Hehehehe .

Singkat cerita, Zainuddin tentu jadi tenar. Akhirnya Hayati pun ikut merantau bersama Aziz ke Surabaya. Kontras dengan kepopuleran sang bujang pujaan, Hayati malah kurang beruntung. Saking susahnya kehidupan rumah tangganya, Aziz dan Hayati sampai nekat menumpang tinggal di rumah Zainuddin.

Hingga akhirnya, Aziz malah meninggalkan Hayati begitu saja. Ditalak lewat surat dan menitipkan Hayati pada Zainuddin.

Tapi, cinta dan benci sudah terlanjur menyatu, apinya tak kunjung padam di hati Zainuddin. Masih terbakar oleh rasa sakit hati, Zainuddin malah menyuruh Hayati ke kampung halamannya. Padahal Hayati sebenarnya sangat berharap menyatukan kembali cinta yang sesungguhnya tak pernah redup untuk Zainuddin.

Apa daya kemampuan seorang perempuan. Hayati pun pasrah menuruti permintaan Zainuddin. Dengan menumpang Kapal Van Der Wijck, Hayati bertolak pergi. Sebelum pergi, dititipkan ungkapan hatinya kepada sang kekasih melalui sepucuk surat.

Tak lama setelah Hayati pergi, hati Zainuddin bergejolak. Apalagi setelah membaca untaian kasih dari Hayati di atas berlembar-lembar kertas. Tanpa pikir panjang, Zainuddin berusaha menyusul Hayati.

Di tengah perjalanan, tersiar kabar bahwa kapal yang ditumpangi Hayati mengalami kecelakaan. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Hayati menghembuskan nafas terakhirnya dalam dekapan Zainuddin. Setelah kedunya sempat saling mengungkapkan perasaan dan penyesalan masing-masing.

Mudah ditebak, sebentar saja setelah ditinggal belahan jiwa, Zainuddin pun jatuh sakit dan ikut menyusul Hayati.

***

Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini sebenarnya menyuarakan kritikan sang penulis kepada adat Minang yang ‘keras’ di masa itu. Apa pula itu menghalang-halangi dua hati yang sudah tersangkut habis-habisan hanya karena perbedaan suku. “It’s so last year” la yaow, kalau isitlah zaman sekarang hehehe. Berapa banyak hati yang luka, dendam dan pengorbanan yang tidak perlu hanya karena ‘perbedaan’ macam ini.

Walau nyatanya, dari hasil kepo-kepo dengan beberapa teman perempuan yang asli Minang, harapan seperti itu dari para orang tua tetap ada. Ada yang masih ketat, ada pula yang sekedar imbauan semata.

Ada juga lho, di abad Facebook, teman perempuan saya yang berdarah Minang yang akhirnya dijodohkan oleh orang tuanya dengan urang awak. Padahal teman ini sudah memiliki tambatan hati lain (kebeneran bukan urang awak :P). Alhamdulillah, mereka mah baik-baik saja sampai sekarang .

Tentu saja, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, novel lama yang terhitung salah satu karya sastra terbaik di tanah air ini masih patut kita jadikan pelajaran. Bahwa yang namanya suku, warna kulit, marga, sesuatu yang tak bisa kita ubah. Sudah dari sananya, kan? . Memangnya kita bisa meminta, “Ya Allah, lahirkan aku sebagai orang bule. Kulit putih mulus, rambut tebal bergelombang, mata biru, rambut blonde, badan langsing selamanya.” Hahahahahha.

Kalau keyakinan seperti agama itu lain lagi. Bisa dipelajari dan bisa kita sebarkan.

La kalau suku piye? Mau bolak balik merantau ke Depok, Jakarta, Tehran, Jeddah hingga ke Athlone, orang bugis ya tetap orang bugis hehehe. Lahir sebagai bugis, sampai mati pun akan tetap berdarah bugis . Begitu pula dengan minang, jawa, batak, tionghoa, sampai ras arab.

Tapi, apa penting ya yang begini-beginian menjadi pemecah persatuan? Apalagi untuk bangsa sebesar Indonesia yang ragamnya macam-macam. Bayangkan, di satu propinsi saja, sukunya bisa belasan jumlahnya. Bahasanya juga macam-macam. Kalau pun kata-kata bermakna sama, sering dialeknya yang berbeda-beda .

Itulah cyin kerennya orang Indonesia . Diantara banyak budaya yang membentang dari Sabang sampai Merauke, kita punya “bahasa Indonesia” untuk saling berkomunikasi. Punya lagu “Indonesia Raya” yang bisa dinyanyikan sama-sama di tanggal 17 Agustus ini .

Karena saya seorang muslim, tak mengapa, ya, bila saya kutipkan sebuah ungkapan indah dari kitab suci kepercayaan saya :

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13].

Jadi, tetap lho ya, bagi kepercayaan kaum muslim, mau situ Jawa-bugis-Minang-Batak-Maluku-Papua-Flores-Bali dll, ukuran kemuliaan di mata Allah akan kekal sepanjang masa : KETAKWAAN 🙂. Nah, ada pun ketakwaan ini bisa lain panjang lagi ya ceritanya.

Tapi kita cukupkan sampai di sini saja, pan temanya hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia bukan ngajak berdebat siapa yang masuk neraka siapa yang masuk surga? Hehehehhe.

17 Agustus tahun ini, kembali semangat kebangsaan agak dikorek-korek dikit. Untuk memperingati 68 tahun lepasnya Nusantara dari tangan penjajah. Satu-satunya kata yang patut menutup tulisan ini  adalah … Merdeka! ^_^. Moga-moga belum basi hihihihi. 

***

Perdana di Harian Pikiran Rakyat :D

Banyak teman yang juga gemar menulis tulisan jalan-jalan yang tulisannya dimuat di rubrik “Backpacker” harian “Pikiran Rakyat.” Tentunya langsung latah ikut-ikutan ngirim ke sana hehehe.

Saya sempat mengira jangan-jangan tulisan saya tentang situs Clonmacnoise kurang cocok dimuat di koran yang bersangkutan. Soalnya mengirimnya sudah sebulanan yang lalu. Dasar kurang sabar , saya email lagi ke redakturnya. Maksud saya, kalau kurang cocok dengan ‘misi’ Pikiran Rakyat, saya punya banyak stok tulisan/foto-foto Saudi yang sudah dipermak sama Pak Fotografer saya yang sedang mendalami teknik editing hehehehe.

Eh, ternyata kata redakturnya mau dimuat minggu ini . Sip, barusan dapat fotonya dari teman via Twitter;).

Clonmacnoise, salah satu situs monastik yang berbau Katolik yang memang banyak ditemukan di Irlandia. Terletak di salah satu pesisir Sungai Shannon, tempatnya cukup dekat dari kediaman saya dan keluarga. Pemandangan alamnya baguuusss banget . Hijau di mana-mana. Sisa-sisa reruntuhan kastil dan biara di masa keemasan kompleks Clonmacnoise beberapa ratus tahun yang lalu masih ada.

Lebih lengkapnya, simak di koran Pikiran-Rakyat, edisi hari minggu 18 agustus kemarin. Cek di epaper-nya belum diupdate yang bulan agustus 🙁. Masih pada libur lebaran kali. Tapi dapat email dari redakturnya beserta file pdf semacam bukti terbit kali, ya.

Apa situs online Tabloid Prioritas juga masih libur, ya? Pengin melacak tulisan tentang Pantai Thuwal di sana. Repotnya tabloid Prioritas ini, hanya bisa didapatkan bila berlangganan. Tidak dijual bebas, booo huhuhu :(.

Ah ya, berminat mengirim tulisan jalan-jalan ke rubrik “BackPacker” yang tayang tiap hari minggu di Harian Pikiran Rakyat? Kirim saja email ke yudiawan@gmail.com. Jumlah karakternya enggak banyak, kok. Sekitar 5500 karakter saja (karakter bukan kata, karakter = huruf, ya). Sertakan sejumlah foto sekitar 5 buah, resolusi medium/high. Ukurannya ya minimal 500 KB. Ingat, kalau mengirim tulisan jalan-jalan, foto dipisah ya dari file naskah :).

Honor katanya sekitar 400-500 ribu. Not too bad lah ;). Tulisannya pan pendek ini hehehe. Ayooo, pada latah, pada latah :D.

Rubrik "Backpacker" Harian Pikiran Rakyat, Minggu 18 Agustus 2013
Rubrik “Backpacker” Harian Pikiran Rakyat, Minggu 18 Agustus 2013

 

Islam di Inggris dan Irlandia : Here, There and Everywhere

Islam di Inggris dan Irlandia : Kalau ramadan tiba, pendatang asal Saudi di berbagai penjuru Irlandia biasanya ‘menghilang’. Hampir semuanya kembali ke kampung halaman jelang ramadan hingga hari raya.

Pendatang asal Saudi di kota Athlone terbilang lumayan, lho. Sebagian besar tinggal di apartemen di City Center, yang bersebelahan langsung dengan Athlone Town Center, mal paling besar di Athlone.

Sebagai alumni Saudi, saya langsung memaklumi hehehe. Madam Saudi gitu lho, mana bisa jauh-jauh dari mal, ahahahahaha . Demikian pula soal ramadan, saya enggak heran jika seorang teman asal Saudi di sini pernah berkata, “It’s insane to spend ramadan in here. I always go back to Saudi for ramadan.”

Alasan mereka bukan cuma karena bulan puasa di musim panas mengharuskan umat muslim berpuasa rata-rata 17-21 jam di Eropa. Tapi suasana ramadan di Saudi memang cukup mencengangkan. Saya sungguh tak mengira kalau ramadan di Saudi berarti … waktunya dugem! Hihihihi.

Tahun pertama melewati di Saudi, tahun 2010 silam, di suatu akhir pekan saya mengajak suami jalan-jalan. Suami keheranan, “Ngapain jalan-jalan siang-siang?”

“Ya, biar enggak bosen aja. Ke mal, yuk. Lihat-lihat.”

Suami langsung terbahak, “Kalau bulan puasa, pagi sampai sore mana ada toko yang buka?”

Gantian saya yang heran, “Lha? Masa, sih? Mereka libur juga sebulan kayak anak sekolah?”

“Bukanya entar malam. Kalau mau jalan-jalan abis Isya aja, sampai subuh juga ramai.”

Saya jelas kaget. Selama di Saudi, saya sih tidak pernah ikut-ikutan pola hidup mereka yang memiliki jam malam lebih panjang. Saya dan anak-anak tetap tidur rata-rata pukul 10 malam. Weekend pun tak ada ampun buat saya . Tidur tetap jam segitu, bangunnya tetap subuh *sokDisiplin* hehehe. Saya tipe orang yang gampang bad mood kalau bangunnya siang .

Saat ramadan, kami pernah berbelanja ke supermarket selepas Isya. Jika suasana di pagi hingga sore bagaikan kota mati, sebagian besar madam bobok-bobok cantik dalam rumah  (menurut bibik yang membantu beres-beres di rumah teman yang juga part timer di rumah-rumah madam arab), malamnya sungguh luar biasa. Jalanan macet gilaaaaaa!

Mal penuh, supermarket ramai, kasir pun ngantrinya ampun-ampunan. Jam 1 malam baru kelar kami berbelanja. Saya sudah mulai cranky. Ngantuk, Cyin! Hehehehe. Begitu keluar dan beranjak pulang, suasana di jalan tidak berkurang kepadatannya.

Suami saya cengar-cengir, “Pesta baru berakhir entar, pas jelang subuh.”

Kalau di tanah air, ngabuburitnya dari ashar hingga magrib, di Saudi beda lagi. Ngabuburitnya selepas Isya hingga subuh .

To be honest, saya mah ogah banget dengan suasana ramadan seperti itu. Tapi demi menemani suami, ditahan-tahanin, deh.

Islam di Inggris
Bukber 2012

Tapi serunya juga ada . Urusan makanan, tinggal di Jeddah hampir tak ada keluhan hehehe. Di bulan puasa pun, penjual snack untuk berbuka banyak banget. Tiap sore, main saja ke Singaparna. Mau apa? Cendol, onde-onde, aneka gorengan, putu-putuan, lontong-lontongan, sagala aya! . Harganya juga sangat masuk akal. Kalau enggak doyan masak seperti saya, enggak akan berpikir 2x untuk memasukkan segala macam ke dalam kantong plastik hehehe.

Teman juga banyak. Tak semua teman ‘menyerah’ dan mudik ke Indonesia saat bulan puasa. Banyak juga yang bertahan hingga hari raya di Jeddah. Acara buka puasa bersama tetap ramai alhamdulillah. Biasanya kami membagi tugas siapa bawa apa. Saya tak pernah risau. Pesan saja. Kebagian tugas membawa nasi putih, saking malasnya repot, saya pasti pesan hahahaha.

Waktu berpuasa di Jeddah, saat musim panas pun, rata-rata cuma berkisar sekitar 14-15 jam saja. Enggak jauh beda dengan di Jakarta. See? Kalau dicari, yang enak-enaknya tetap lebih banyak :D.

Islam di Inggris dan Irlandia
Buka puasa tahun 2011

***

Islam di Inggris dan Irlandia : Tahun ini, giliran Eropa yang kudu ditaklukkan di bulan ramadan. Awal-awalnya, waktu berpuasa mencapai 19 jam. Onde mande *keringatDingin*. Saya dan suami sampai memutuskan untuk ‘gladi bersih’ sebelum ramadan benar-benar datang. Hihihihi. Voila, ternyata enggak sehoror yang dibayangkan.

Hm, tentu saja. Suhu di Eropa pada umumnya tidak seganas daerah gurun dan tidak selembab di Jakarta (yang bawaannya keringetan melulu jadi gampang haus). Alhamdulillah, sekali mencoba, kami langsung percaya diri. Percayalah, Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umat .

Lagian jangan mengasihani orang Islam di Inggris dan Irlandia atau Eropa lainnya saat harus berpuasa di musim panas. Karena begitu musim dingin tiba, subuh bisa berlangsung di jam 7 pagi, dan pukul setengah 5 sore magrib akan menjelang. Puasanya bisa 9.5 jam saja di musim dingin. Asyik, kan? .

Segala sesuatu sudah diciptakan berpasangan. Sementara di Indonesia, mau musim hujan kek, musim kemarau kek, musim mangga kek, musim duren ataupun musim kawin, puasanya tetap stabil dengan durasi rata-rata 13-14 jam .

Sekitar belasan hari pertama puasa tahun ini, musim panas mencapai puncak. Suhu siang hari bisa di atas 35 derajat. Aduh, cobaan banget kalau harus jalan kaki berbelanja ke supermarket yang jaraknya sekitar 1 kilo sambil nenteng 2 bocah huhuhu. Suami yang baik hati pun mengambil alih tugas ini hehehe *kecupSuamiTerhebatDiDunia* .

Belakangan, hujan deras mendominasi, suhu drop ke angka 20 an derajat. Memang, suhu labil adalah ciri khas negara Irlandia .

Waktu tidur adalah tantangan terberat. Karena saya tak bisa berleha-leha di pagi dan siang hari. Masih ada 2 bocah yang kudu diurusin makannya. Saya tak mengganti jadwal makan anak-anak saya di bulan puasa. Mereka sarapan tetap di jam 8 pagi dan seterusnya. Waktu tidur mereka pun sama.

Resikonya, waktu tidur mama pun terpaksa dipangkas . It’s ok. Manfaatkan banyak waktu untuk nulis-nulis hehehe.

Sebagai satu-satunya keluarga muslim asal Indonesia di Athlone, kesepian, gak? Enggak . Karena banyak keluarga muslim asal negara lain . Malah, di sini kami rutin bukber tiap jumat malam. Bedanya? Kalau di Jeddah tinggal pencet ponsel pesen ini itu buat dibawa ke acara.

Di sini kudu nyiapin sendiri. Dasar bukan pencinta dapur, kebagian bawa salad buah saja mesti browsing internet hampir seharian, ahahahahaha. Alhamdulillah, salad buah eike laku keras 😀 <– amatiran abis, bikin salad buah saja udah berasa masterchef hahaha.

Pernah juga kebagian bawa snack asin. Wah, mereka cukup doyan martabak telur . Enggak sia-sia jumpalitan di dapur.

Di Athlone, dapur mama ngebul terus. Hampir sebulan penuh ini, kami tak pernah jajan di luar. Mau jajan apa lagian? Rasa kurang enak, harga apalagi hahahaha. Berkahnya, sekarang sudah terbiasa masak ini itu . Walau saya cenderung ber-FC ria pas ramadan tahun ini, kan masih ada suami dan anak-anak yang nampaknya belum bisa 100% mengikuti pola makan saya.

Cuma ya gitu, saya sering merasa ‘alone in a crowd’ di acara buka puasa bersama mingguan itu. Biasalah, orang arab kalau ketemu orang arab otomatis akan berbahasa arab. Orang pakistan sibuk cekikikan pakai bahasa mereka. Orang Turki juga sama. Mereka semua sangat fasih berbahasa inggris, tapi ya begitu ketemu sesamanya, refleks kembali ke bahasa ibu masing-masing . Kalau sudah begini, kangennya luar biasa sama madam-madamku di Jeddah.

Untung ada teman dari Malaysia yang baik banget sesekali mengajak saya mengobrol. Ini bukan cobaan ringan bagi orang yang enggak bisa diam seperti saya hahahaha. Kepooooo aja bawaannya. Apa daya enggak ngerti mereka ngomong apaan .

***

Lebaran di Jakarta, Jeddah maupun di Athlone, ada enak ada enggak enaknya. Tapi kalau disuruh memilih, saya sih, home sweet home, dong . Paling nyaman melewatkan ramadan di tanah air .

Namun konon, pengalaman adalah salah satu hal yang tak akan terbeli oleh uang, seberapa pun banyaknya . Tinggal di Saudi dan menyaksikan cara mereka melewatkan ramadan tidak berarti kita boleh seenaknya menilai nilai ibadah mereka. Ingat, urusan aqidah sudah ada dewan jurinya tersendiri . Istimewanya orang Saudi itu, sangat royal dalam urusan membagi makanan berbuka pada siapa pun .

Tinggal di Athlone pun, yang dalam kehidupan sehari-hari nyaris tak terasa suasana ramadannya, tidak boleh membuat kita ciut.

Semasa di tanah air, puasa cukup identik dengan kumpul-kumpul, makan-makan enak, hiruk pikuk mengejar waktu berbuka kala terjebak macet di jalan. Setelah menjalani ramadan di tempat lain jadi menyadari makna puasa itu intinya ibadah. Seharusnya kita bisa merasakan kehadiranNya di mana saja, apa pun suasananya.

Nikmat berpuasa ada dalam diri sendiri. Bukan karena suasana atau lingkungan dan orang-orang sekitar 🙂.

Demikian seputar kehidupan Islam di Inggris dan Irlandia ;).

***