Kebebasan Pers, Hitam atau Putih?

Gambar : fallout.wikia.com
Gambar : fallout.wikia.com

Peganglah sebilah pisau. Raba ujungnya yang tajam. Bayangkan bila darah mengucur dari jari bila teriris oleh permukaan tajamnya. Berarti, pisau itu benda yang berbahaya?

Tapi … bayangkan bila tidak ada pisau. Bagaimana caranya ibu-ibu rumah tangga seperti saya ini menyelesaikan urusan masak memasak? Memotong-motong sayur dan buah pakai apa, dong? Masa daging segar sekilo yang bentuknya masih utuh harus saya gigitin menjadi potongan keci-kecil? Hehehe.

Gambar : knives.cooking.com
Gambar : knives.cooking.com

Pisau, bisa berbahaya, bisa berguna. Demikian pula dengan kebebasan pers dalam setiap negara. Meroketnya internet sebagai buah dari kemajuan era digital memicu kemunculan media-media sosial online, misalnya blog. Lengkap dengan penulisnya yang berhak menyandang predikat blogger.

Kehadiran para blogger, berita dalam bentuk status di  facebook, kultwit-kultwit via twitter, menghadirkan istilah “jurnalis warga.” Kadang ya, sebelum muncul di media nasional (yang online sekali pun), beritanya sudah lebih dahulu bergemuruh di berbagai akun pribadi dari rupa-rupa media sosial tadi. Ditambah lagi dukungan penuh dari kecanggihan smartphone yang dilengkapi fasilitas kamera/perekam video yang makin cihuy, berita makin seru dengan adanya foto-foto/video penunjang.

Penyebaran informasi atau berita sudah bukan dominasi media cetak saja. Malah, soal kecepatan dalam penyebaran gosip eh … berita, kayaknya sekarang ini twitter, ya, juaranya ;).

Filipina, Negeri  no,3 Paling ‘Mengerikan’ Buat Para Wartawan?

Menjelang terbentuknya Komunitas ASEAN 2015, masalah penyebaran informasi tentu berperan penting. Sudah selayaknya porsi kebebasan untuk para jurnalis baik yang formal maupun yang menghuni ranah pribadi seperti para blogger dsb, mulai terus ditingkatkan. Ingat, salah satu kekuatan para pengendali dunia adalah penguasaan sekaligus penyebaran informasi.

Namun, hasil dari daftar peringkat “Indeks Kebebasan Pers Dunia” 2013 yang dikeluarkan oleh badan internasional RSF (Reporters Without Borders) menunjukkan gejala yang kurang menggembirakan. Walau Indonesia sendiri memperbaiki peringkatnya, naik ke 139 dari 146, sebagian negara ASEAN merosot ke peringkat bawah.

press

Misalnya saja Filipina, bertengger di posisi 140 di tahun sebelumnya, kini berperingkat 147. Tidak cuma itu, Filipina kembali berada dalam peringkat 3 besar dalam indeks impunitas yang diterbitkan oleh organisasi Amerika Serikat Commitee to Protect Journalists. Gelar yang sudah disandang selama 4 tahun berturut-turut.

Yang berarti, Filipina termasuk dalam 3 negara paling ‘menyeramkan’ bagi para wartawan. Serikat wartawan nasional Filipina menyiratkan fakta ini sebagai cerminan kegagalan pemerintah dalam menghadapi kekerasan terhadap pekerja media dan menghukum sang pelaku.

Sebagai informasi pembanding, berikut ada pendapat dari salah satu pakar media di Indonesia, Agus Sudibyo. Menurutnya, peringkat yang dikeluarkan RSF dianggap tidak merefleksikan kenyataan sesungguhnya. Kebebasan Pers Indonesia dianggap jauh lebih baik dari yang digambarkan RSF. 

Agus mengkritik RSF yang hanya mendasarkan tingkat kebebasan pers menurut jumlah kekerasan yang dihadapi para jurnalis di negara masing-masing tanpa mempertimbangkan kondisi geografis dan demografis. Saya cenderung setuju dengan pendapat Bapak Agus. Salam kenal, Pak Agus 😀 *sungkemDulu*.

Secara geografis dan demografis (kependudukan), Filipina relatif mirip dengan Indonesia. Sama-sama berbentuk kepulauan dan memiliki penduduk yang tidak sedikit dengan sebaran kependudukan yang tidak merata di seluruh wilayah.

Makanya, agak sulit juga menilai relativitas dari indeks peringkat tersebut dengan kenyataan di negara bersangkutan. Apakah mungkin stabilitas dalam negeri yang mengalami beberapa guncangan adalah salah satu sebab tingginya kriminalitas terhadap para jurnalis di Filipina?

Tautan berikut menerangkan mengenai masalah besar berupa ancaman oleh gerakan separatis Bangsamoro di sebelah selatan Filipina, MindanaoDitambah lagi  pemberontak-pemberontak dari Tentara Rakyat Baru (New People’s Army) yang berpaham komunis di pedesaan. Belum lagi maraknya kerusakan lingkungan seperti penebangan hutan dan polusi laut.

Saya sih bukan ahli politik atau hukum. Tapi logikanya, dalam situasi seperti tadi, apakah bijaksana membiarkan lalu lintas pemberitaan lalu lalang sesukanya? Buah simalakama untuk pemerintahan mana pun yang tengah menghadapi gejolak stabilitas dalam  negeri. Di satu sisi ingin melindungi pihak-pihak yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Di sisi lain harus melukai kebebasan berpendapat warganya sendiri.

Gambar : digitaljournal.com
Gambar : digitaljournal.com

Fakta-fakta Positif Filipina

Walau tingkat kebebasan persnya tengah mendapat sorotan tajam, hampir 100% warga Filipina dinyatakan bebas dari buta aksara. Termasuk salah satu yang tertinggi di Asia. Wow! Sumber yang sama juga mengungkapkan fakta bahwa sebagian besar rakyat Filipina mampu bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dan gaya hidup negara satu ini paling kebarat-baratan di Asia.

Juga dari sumber ini disebutkan mengenai pertumbuhan ekonomi moderat Filipina yang mendapat banyak suntikan devisa dari pekerja-pekernya yang melanglang buana ke hampir seluruh penjuru dunia. Belum lagi kemajuan teknologi informasinya.

Gambar : filipinobiography.com
Gambar : filipinobiography.com

Soal bahasa Inggris dan banyaknya pekerja Filipina di berbagai belahan bumi, saya sanggup bersaksi secara langsung :D. Di Jeddah, pekerja pendatang yang lumayan banyak ya pekerja Filipina. Apalagi di rumah-rumah sakit. Mulai dari perawat, petugas administrasi, petugas farmasi, petugas lab, didominasi oleh para Pinoy.

Satu lagi nih, “bahwa wikipedia berbahasa Waray-Waray atau Winaray yang merupakan salah satu bahasa daerah di Filipina saat ini memiliki 429 lebih artikel.”

Kalau memang ada pengekangan terhadap kebebasan pers, termasuk para “jurnalis warga”, kok kayaknya tidak berdampak seperti negara-negara yang terbelakang soal urusan informasi, ya? Rakyatnya malah kebarat-baratan, dapat informasinya dari mana coba? Akses ke wikipedia pun bebas-bebas saja. Malah menunjukkan keaktifan cukup hebat dengan adanya ratusan artikel berbahasa daerah selain bahasa nasional mereka, Tagalog.

Apa kebebasan pers dalam urusan politik saja kah yang dimaksud? Wallahualam. Jangan-jangan blogger di Filipina asyik-asyik saja :D.

Hitam atau Putih?

Walau peringkat Indonesia dan Filipina masing-masing terlempar jauh dari peringkat 100 besar, pertimbangan dari Pak Agus yang saya uraikan di atas bolehlah kita simak lebih jeli. Bahwa kebebasan pers di Indonesia sendiri dianggap mengalami surplus kebebasan.

Untuk saya pribadi, rasanya sulit untuk mengelak dari ucapan Pak Agus tersebut. Saya termasuk yang mengkhawatirkan betapa mudahnya opini publik dibentuk atas dasar penyebaran berita yang sensasional tanpa didasari sumber yang akurat. Sering pula menyentuh wilayah sensitif semisal menyerang kepercayaan beragama orang lain :(.

Jangan-jangan ini pula yang terjadi di Filipina? Secara peringkat mengejutkan tapi pada kenyataannya ya bebas-bebas wae. Hehehe. Mungkinkah?

Tautan yang ini, mungkin bisa memberi pencerahan, yang bersumber dari Kompas Edisi Cetak 8 Juni 2013. Membahas mengenai etika jurnalistik. Bahwa kebebasan pers bukannya tak berbatas. Pers pun harus terbuka pada kritik yang ditujukan kepadanya. Berani berbuat,  berani bertanggung jawab ;).

Kecanggihan teknologi masa kini yang memungkinkan banyak pihak beropini dalam berbagai media sosial pribadi seperti layaknya sebilah mata pisau. Marabahaya yang diundangnya jika kita membiarkan tajamnya belati berada di tangan seorang balita. Tapi di tangan seorang juru masak yang sibuk meracik menu di dapur, benda tajam ini mendatangkan manfaat yang tidak sedikit.

Mana ada ,sih, hal-hal di dunia ini yang mengandung manfaat saja? Air putih yang sudah sangat nyata khasiatnya buat kesehatan, bila dikonsumsi sekaligus dalam jumlah banyak, apa tidak membuat perut kembung?

Kebebasan apa pun memiliki banyak warna. Dalam banyak hal, warna hitam digambarkan sebagai hal negatif dan warna putih dianggap kebalikannya. Adalah tugas kita untuk menyematkan warna yang mana yang kita inginkan untuk setiap hal yang kita temui dalam hidup ini. Hitam atau putih?

Demi suksesnya Komunitas ASEAN 2015,  tentu saja kita semua yang berada dalam naungan Komunitas ASEAN Blogger, tergabung dalam “Blogger Sayap Putih.” Sepakat? 😉

Gambar : jadiberita.com
Gambar : jadiberita.com

***

Mengaitkan ‘Jari Kelingking’ Malaysia dan Singapura

Salah satu laga di putaran Piala Dunia 1986 akan selalu menjadi kenangan terindah bagi Maradona. Saat melawan tim Inggris di perempat final perhelatan akbar yang mempertemukan tim-tim besar sepakbola dunia, salah satu gol Maradona tercipta secara kontroversial.

Gambar : commons.wikipedia.org
Gambar : commons.wikipedia.org

Konon, semua orang bisa melihat bahwa gol tersebut tercipta berkat sentuhan tangan Maradona, hal yang terlarang dalam olah raga sepak ini. Semua orang kecuali…sang wasit asal Tunisia, Ali bin Nasser. Bahkan, Maradona pun tak percaya ketika wasit tidak menganulir gol tersebut.

Gol legendaris yang katanya sih paling hits di abad ke-20, yang dijuluki “Gol Tangan Tuhan” tersebut, tidak hanya membawa Argentina lolos ke laga semifinal. Tapi juga melambungkan nama Maradona bersama timnya yang sukses merebut gelar Juara Piala Dunia 1986. Sementara sang wasit ikut-ikutan terkenal karena ‘keputusan’nya yang dianggap konyol tadi. Mang enak jadi wasit? :P.

Wasit adalah pihak penengah. Kehadirannya seharusnya menjadi solusi bukan malah mempertajam kekisruhan. Begitu pula selayaknya negara-negara ASEAN lain harus memposisikan dirinya dalam menghadapi perebutan 3 pulau antara Singapura dan Malaysia : Pulau Batu Puteh (Pedra Branca), Batuan Tengah (Middle Rocks) dan Karang Selatan (South Ledge).

VS

Posisi Menentukan Prestasi

Pemerintah Malaysia menegaskan bahwa, “Pulau Batu Puteh milik Malaysia.” Sementara pihak Singapura tetap berkeras, “Pedra Branca belongs to Singapore.”

Ya sudah, Pulau Batu Puteh milik Malaysia dan Pedra Branca milik Singapura. Beres, kan? Hehehe.

Pulau Batu Puteh ya Pedra Branca juga. Penamaannya saja yang berbeda. Masing-masing merujuk kepada fisik pulau yang sama, Walau terletak di perairan perbatasan antara kedua negara yang tengah berseteru tersebut, namun kedaulatan awal pulau ini adalah milik Malaysia.

Kalau menilik dari sumber yang ini, tadinya pulau ini dikuasai oleh Kesultanan Johor di abad ke-16. Dan terus menjadi bagian dari Kesultanan Johor sampai abad ke-19. HIngga sekitar tahun 1850 an, pemerintahan Inggris membangun sebuah mercusuar (Horsburgh) di pulau tersebut sebagai penanda perbatasan untuk  memasuki wilayah Singapura dari arah timur (Selat Singapura).

Pedra Branca / Pulau Batu Puteh (mrbrownshow.com)
Pedra Branca / Pulau Batu Puteh (mrbrownshow.com)

Entah lupa atau disengaja, yang jelas ketegangan baru dimulai di sekitar tahun 1979. Ketika Malaysia mengeluarkan peta yang berisi daerah kekuasaannya yang menegaskan bahwa pulau Batu Puteh/Pedra Branca adalah bagian dari wilayah Kerajaan Malaysia. Singapura, yang telah menguasai sekaligus mengurusi pulau yang dimaksud selama lebih dari satu abad tentu langsung kebakaran jenggot.

Perselisihan menjadi makin runyam karena posisi pulau ini memang terletak di perbatasan perairan Singapura dan Malaysia. Drama pun tak dapat dihindari. Bersama pulau ini, kedua wilayah di sekitarnya yaitu : Batuan Tengah dan Karang Selatan, ikut disengketakan.

Wasit Internasional Datang, Persilangan Sejarah Tak Menyurutkan Pertikaian

Peradilan internasional akhirnya ikut dilibatkan. Setelah 29 tahun saling bersitegang, di tahun 2008, ICJ (International Court of Justice) atau Mahkamah Peradilan Internasional menetapkan bahwa Singapura sepenuhnya berdaulat atas Pedra Branca/Pulau Batu Puteh. Sementara Batuan Tengah (Middle Rocks) diserahkan pada Malaysia. Ada pun Karang Selatan (South Ledge) diserahkan kepada negara pemilik perairan di mana karang tersebut berada.Lebih lengkapnya dicek di tautan yang saya ambil langsung dari website ICJ ini

Lebih lanjut di sumber dari ICJ itu dijelaskan panjang lebar mengenai riwayat si pulau dari abad ke abad. ICJ tidak menampik bahwa Kesultanan Johor adalah pemilik sah dari Pulau Batu Puteh dan tidak pernah melepaskan kepemilikannya secara sah. Tapi demi menghormati Singapura yang telah ‘mengurusi’ pulau ini selama seabad lebih, kedaulatan pulau yang bersangkutan ada di tangan Singapura.

123rf.com
Petronas Twin Tower – Malaysia (123rf.com)

Kalau mempelajari sejarah Negeri Singa dan Negeri JIran ini bisa lebih ribet lagi. Karena keduanya pernah berada di bawah penjajahan Koloni Inggris. Bahkan, setelah merdeka, Singapura pernah menjadi bagian dari Malaysia. Barulah tahun 1965, Singapura benar-benar berdiri sendiri dengan pemerintahan yang sepenuhnya terpisah dari Inggris maupun Malaysia.

Walaupun begitu, ketetapan dari ICJ sendiri tidak menyurutkan keinginan Malaysia untuk kembali  berdaulat atas Pulau Batu Puteh. Sementara, bila kita simak lagi keputusan ICJ tadi, keputusannya juga masih menggantung dengan adanya perbedaan pendapat dari pengambil keputusan di sana.

Singapura pun ngotot menginginkan hak atas Batuan Tengah dan Karang Selatan yang mereka anggap sebagai bagian dari Pedra Branca tadi. Sama-sama kepala batu :D.

Esplanade - Singapura (123rf.com)
Esplanade – Singapura (123rf.com)

Siapa yang Salah, Siapa yang Berhak?

Dari segi sejarah dan kekuasaan di masa lalu, di mana Kesultanan Johor adalah bagian mutlak dari Kerajaan Malaysia kini, alibi Malaysia sangat kuat. Tapi, dari segi administratif dan efektifitas, peran Singapura atas Pulau Batu Puteh/Pedra Branca juga sangat patut diperhitungkan.

Lagipula, saya kurang paham, nih, masalah pengambilan keputusan oleh mahkamah internasional :D. Jadi, serahkan urusan itu pada ahlinya saja ;).

Yang jelas, perdebatan ini tidak akan membawa dampak positif bagi cita-cita Komunitas ASEAN 2015. Menuju terbentuknya komunitas yang diharapkan bisa memadu padankan semua negara ASEAN dari segi Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya, pertentangan antar negara anggota hanya akan menjadi “duri dalam daging.”

Bila dua pihak tengah bertikai, hal terbaik yang bisa dilakukan oleh pihak ke-3 adalah … mendamaikan :). Terlebih lagi, posisi Malaysia dan Singapura bisa dibilang sama kuatnya. Kita tak ingin memperuncing suasana dengan menunjukkan keberpihakan, kan? Nanti kayak pertandingan sepak bola. Jangan sampai malah lebih ribut ‘penonton’nya daripada ‘pemain’nya :(.

1. Pastikan dahulu kepada Malaysia dan Singapura untuk menerima apa pun keputusan pihak berwenang. Setelah itu, desak terus pihak yang berwenang untuk mengambil keputusan yang TEGAS secepatnya.

2. Jangan  menunjukkan keberpihakan pada siapa pun. Terus genjot semangat perdamaian dan perundingan. Jangan pula sok tahu :D. Kalau ingin berpendapat, sebaiknya netral saja. Karena keduanya punya alasan yang sah dan logis.

3. Jangan pula membiarkan ketegangan terus berlarut-larut. Diam tidak selalu berarti emas. Kalau didiamkan salah-salah malah menjelma menjadi “api dalam sekam.”

4. Mengalihkan perhatian  mereka. Sayang sekali kan, energi kedua negeri ‘berpengaruh’  ini sama-sama dihabiskan untuk tarik urat di urusan ini saja. Mengingat keduanya punya potensi ekonomi yang tinggi. Pendapatan perkapita Singapura nomor 1 di ASEAN, sementara Malaysia ada di no.3.

Pendapatan per kepala tiap negara-negara ASEAN
Pendapatan per kepala tiap negara-negara ASEAN (sumber : (en.wikipedia.org/wiki/List_of_ASEAN_countries_by_GDP_(nominal))

Jangan sampai yang tetek bengek begini malah menghabiskan energi dan melupakan kesamaan tujuan yang lebih besar. Makanya, yang sekitar sebaiknya jangan ikut-ikutan terlalu jauh. Saya ulangi lagi, sebatas mendamaikan, mendesak institusi internasional terkait dan mendorong perundingan saja.

Tantangan masih sangat besar. Komunitas ASEAN 2015 sudah di depan mata. Sejarah telah bercerita, sudah terlalu banyak perselisihan kecil yang memuai menjadi pertempuran raksasa.

Jangan sampai ada yang pihak ketiga yang memanfaatkan kekisruhan yang tidak seharusnya membesar ini.  Apa yang terjadi di Timur Tengah di beberapa puluh tahun belakangan ini cukup hadir di layar televisi dan media cetak nasional saja. Jangan sampai terhidang di hadapan mata secara langsung :(.

Seperti pesan negarawan ternama dunia yang satu ini :

“When there is no enemy within, the enemies outside cannot hurt you.”
― Winston Churchill

Seperti  kebiasaan kecil saya dulu jika pertengkaran dengan seorang teman mulai usai, sambil senyum malu-malu, kami akan saling mengaitkan jari kelingking Pertanda … perdamaian :).

Kalau orang sulsel bilang, “Janganmi baku bombe’-bombe’!” Hehehe.

Singapura dan Malaysia, saling mengaitkan jari kelingking, yuk ;).

gambar :  unikbaca.com
gambar : unikbaca.com

***

You Never Shine If You Don’t Glow, Laos!

Namanya juga ibu-ibu. Begitu mendengar Laos, selain sudah tahu bahwa Laos adalah salah satu negara ASEAN, pikiran langsung bercampur dengan urusan dapur :P. Laos adalah nama lain dari lengkuas, salah satu bumbu khas di tanah air.

Untuk sebagian besar masakan utama nusantara, laos hanya dikenal sebagai bumbu tambahan. Tapi ketidakhadirannya memiliki pengaruh yang tidak kecil. Walau tak terlihat, cita rasa lengkuas mempengaruhi rasa keseluruhan masakan.

Hal yang sama bisa kita analogikan untuk kehadiran negara Laos di tengah-tengah negara ASEAN lainnya. Bersama Vietnam, Kamboja dan Myanmar, Laos termasuk pendatang baru dalam Komunitas ASEAN. Kehadiran keempat anggota tambahan ini membuat ASEAN makin semarak sekaligus menimbulkan ketimpangan. Terutama dalam urusan pendapatan negara alias … urusan duit. Hehehe. 

gambar : travel.nationalgeographic.com
LAOS (gambar : travel.nationalgeographic.com)

Bukannya mata duitan :D. Soalnya kerjasama dalam bidang Ekonomi adalah salah satu dari 3 pilar utama yang ingin dikejar dalam kesuksesan kerjasama Komunitas ASEAN 2015 nanti, selain bidang Keamanan dan Sosial Budaya.

Seperti yang pernah saya tekankan dalam penutup tulisan saya yang lalu,

Menuju terbentuknya Komunitas ASEAN 2015, Sangat penting mensejajarkan kualitas antar bangsa dalam merintis sinergi positif bersama negara-negara ASEAN lainnya. Keseimbangan dalam berbagai hal adalah kunci dari hubungan yang sehat dalam bidang apa pun.

Misalnya saja kisruh ekonomi yang pernah dan masih menimpa negara Yunani yang tergabung dalam Komunitas Uni Eropa. Yunani yang meradang, seluruh Uni Eropa ikut pusing tujuh keliling.

Laos, Pacar Ketinggalan Kereta

Posisi perekonomian Laos memang jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya. Sebenarnya sih malas, ya, bawa-bawa grafik. Tapi saya bikin grafiknya sesederhana mungkin untuk melihat posisi perekonomian “Negeri Seribu Gajah” ini dibanding sembilan anggota lainnya.

Datanya saya ambil dari situs wikipedia di sini. Enggak usah kita bahas angka-angka. Saya terjemahkan langsung ke dalam bentuk pie chart warna warni biar kelihatan unyu dan mudah-mudahan tidak bikin pening :P.

Jumlah Penduduk Negara-Negara ASEAN
Jumlah Penduduk Negara-Negara ASEAN

Kita mulai dari jumlah penduduk terlebih dahulu. Memang, jumlah penduduk Laos tergolong 3 yang terkecil. Penduduk Laos hanya lebih banyak daripada Singapura dan Brunei saja. Potongan kue paling gede siapa lagi kalau bukan…Indonesia! :D. Brunei tidak muncul karena jumlah penduduknya sangat sedikit berdasarkan tautan yang saya jadikan sumber data tadi.

Tapi jangan kaget kalau melihat pendapatan per kapita (per kepala) / tahun negara-negara di ASEAN. Kebalikan dengan jumlah penduduk, justru Singapura dan Brunei yang miskin jumlah warga mencuat dalam segi kesejahteraan tiap penduduknya. Jauh melampaui negara-negara ASEAN lain. Laos masuk 3 terbawah.

Total Pendapatan Negara diantara negara-negara ASEAN
Total Pendapatan Negara diantara negara-negara ASEAN

Kategori kekuatan ekonomi suatu negara juga dinilai dari Pendapatan Nasional secara keseluruhan. Didukung oleh jumlah penduduk yang dahsyat serta sumber daya alam yang cukup mumpuni, Indonesia tetap bertengger di urutan paling atas ^_^. Laos, lagi-lagi menempati peringkat paling bawah.

Sudah terbayang tidak kedudukan Laos? Laos bukan negara dengan penduduk paling sedikit. Bukan negara dengan luas wilayah paling kecil. Laos masih jauh lebih luas dibandingkan Singapura, Brunei dan Kamboja. Tapi pendapatan nasionalnya sangat kecil.

Kesempatan dalam Kesempitan, Posisikan Laos Sebagai ‘Jembatan Penghubung’

Kalau Indonesia terlihat rumit dengan wilayahnya yang terpencar-pencar dalam bentuk kepulauan dan selat-selat, letak negara Laos yang terjepit di tengah-tengah juga kurang menguntungkan. Laos sama sekali tidak berbatasan dengan laut. Laos berbatasan darat secara langsung dengan RRC, Myanmar, Thailand, Vietnam dan Kamboja.

Posisi ‘terkunci’ ini juga menyebabkan Laos sering kena getah bila negeri tetangga bergejolak. Terutama dari Vietnam dan Myanmar yang pernah berkubang dalam konflik internal berkepanjangan. Logikanya, bila negara sedang bermasalah, sebagian warga pasti mencari perlindungan ke negara-negara tetangga yang mudah dijangkau. Hingga stabilitas dalam negeri negara tujuan ikut-ikutan terganggu.

Jembatan Penghubung (123rf.com)
Jembatan Penghubung (123rf.com)

Tapi, Laos bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Laos punya potensi sebagai negara penghubung. Apalagi Laos punya hubungan baik dengan Cina (karena sama-sama menganut paham komunis), sementara kita tahu Cina tengah habis-habisan menggenjot produksinya. Barang-barang Cina dipakai di mana-mana.

Laos bisa jeli melihat peluang ini. Segera maksimalkan potensi sebagai ‘jembatan penghubung’ antara Cina dan negara-negara ASEAN lainnya via darat. Tak cuma dengan Cina, Laos juga bisa menyediakan infrastruktur transportasi yang memadai untuk membantu perdagangan via darat antara wilayah utara Bangkok dan wilayah Hanoi misalnya. Jalan terpendek untuk arus pengiriman kedua kota besar ini adalah melalui daratan Laos.

Cuma, infrastruktur Laos memang masih kurang digali. Berdasarkan tautan berikut, infrastruktur Laos masih sangat minim di berbagai wilayah. Fokus pada pembangunan infrastruktur juga membawa dampak internal yang baik bagi warga Laos. Transportasi sungai mungkin bisa dikembangkan dengan membangun jembatan secara fisik. Irlandia yang wilayahnya bertabur sungai juga rajin membangun jembatan :).

Dari tautan yang sama juga, Laos ternyata kekurangan sumber daya manusia berpotensi karena sebagian besar mereka ‘kabur’ ke luar negeri mencari kesempatan yang lebih baik. Kalau dalam negeri sudah dibenahi, dijamin pada betah, kan, enggak kabur-kabur lagi ;).

Sulit juga. Mau membangun, sumber daya terbatas. Nah, soal sumber daya manusia di era-era pembangunan awal, yang negaranya sarat penduduk ahli bisa menawarkan bantuan. Para insyinyur di Indonesia, mana suaranya? Hehehe. Daripada ilmu tak terpakai karena semua sibuk melamar kerja di bank, hayoooo :P, mending sebagian hijrah ke Laos :D. Tentu saja peran dan perlindungan dari segi diplomatik dan sebagainya, baik pemerintah Laos maupun Indonesia sangat dinanti ;).

Bila infrastruktur transportasi Laos membaik, selain Cina, yang kena manisnya adalah negara-negara ASEAN di sekitarnya juga, kan? Ada Thailand-Myanmar-Kamboja-Vietnam. Mengingat potensi keuntungan yang cukup tinggi secara ekonomis, keempat negara ASEAN tadi bisa aktif berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur dalam negeri Laos. Didukung dengan investasi sumber daya manusia dari Indonesia, tambah tokcer, deh.

Laos, Potensi Kekayaan Alam yang Tak Ada Matinya

Kalau berbicara sumber daya alam, sebagian besar negara-negara ASEAN ternyata kaya. Termasuk Laos. Sebut saja, potensi wisata? Banyak.

Enggak usah banyak ditulis. Disimak langsung saja foto-fotonya ^_^.

Laos

Belum lagi dari info di sini, bahwa pada 1993 lalu, pemerintah mencanangkan 21% dari wilayah negara sebagai Area Konservasi Keanekaragaman Hayati Nasional (National Biodiversity Conservation Area/NBCA), yang akan dikembangkan menjadi taman nasional. Bila jadi, diperkirakan akan menjadi taman nasional terbaik dan terluas di Asia Tenggara. Yes!

Soal wisata, Laos bisa aktif bekerjasama dengan Thailand. “Negeri Gajah Putih” ini termasuk salah satu wilayah wisata yang popular di ASEAN. Letaknya bersebelahan langsung dengan Laos. Bisa saling berinvestasi di bidang penawaran paket wisata. Misalnya bikin program “Bulan Madu Seminggu di Thailand dan Laos” (“One Week of Happiness in Thailand and Laos”).

Letaknya yang berdekatan, biayanya bisa ditekan, kan? Jadi, pengunjung bisa menikmati Thailand dan Laos dengan harga yang terjangkau.

Potensi lainnya bagaimana? Saya ambil dari sumber yang ini,  Laos juga punya  koleksi hasil hutan. Ada kayu  jati dan cendana yang bisa diolah dengan harga jual yang tidak main-main. Tanaman pertanian bervariasi dari padi, jagung, ubi-ubian, kopi, tembakau, kacang tanah dan kapas.

pertanian
123rf.com

Ini masalahnya mirip-mirip semua antar beberapa negara ASEAN. Potensi segambreng, pengolahan dan promosinya yang masih ngos-ngosan 🙁.

You Never Shine if You Dont’ Glow, Laos!

Soal wisata di Laos, adanya pembebasan visa dari tiap kunjungan antar sesama anggota ASEAN (kecuali Myanmar) minimal sudah bisa mengangkat jumlah turis secara signifikan. Jangan meremehkan potensi jumlah penduduk ASEAN. Seluruh penduduk ASEAN ini kalau digabung jumlahnya lebih  besar daripada seluruh penduduk Uni Eropa, lho ;).

Kuncinya? Promosi, promosi, promosi. Selain promosi, transportasi dan akomodasi lagi-lagi kunci kelemahan sebagian besar wilayah ASEAN.

Contohnya saja, banyak teman-teman saya di Jakarta mengeluh, biaya ke Raja Ampat-Papua masih lebih mahal daripada  biaya liburan ke Legoland Malaysia?  Padahal yang satu dalam negeri yang satunya ke luar negeri. Tanya kenapa?

Pada akhirnya, kita cuma bisa memberi ide ini itu. Pelaksanaan ada di tangan pemerintahan Laos. Sebagai sedikit dari negara berpaham komunis yang tersisa, Laos sudah menunjukkan kemajuan dengan memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat sejak tahun 2004. 

Komunitas ASEAN 2015 bisa menjadi cambuk bagi masing-masing anggotanya yang tertinggal untuk mengejar yang lain. Sekaligus menjadi kesempatan untuk berbagi bagi negara-negara yang sudah lebih dahulu melesat. Banyak memberi banyak menerima. Win-win solution.

Sedangkan untuk Laos sendiri, “For us to regard others as worthy, we have to begin by regarding ourselves as worthy.” (Stephen Richards)

Agar orang lain bisa menghargai keberadaan kita, penghargaan terhadap eksistensi diri dimulai dari diri sendiri :). Remember … you never shine if you don’t glow. Bersinarlah, Laos. Bersama-sama kita pendarkan cahaya ASEAN jauh menembus pelosok dunia :).

123rf.com
123rf.com

***

Vietnam, What Doesn’t Kill It Makes It Stronger!

Di bulan Agustus tahun 1945, dua buah bom atom mengukir sejarah besar dengan meluluhlantakkan Nagasaki dan Hiroshima. Hantaman bagi kedua kota di Jepang ini menjadi musibah sekaligus anugerah.

Musibahnya jangan ditanya. Lebih dari 200 ribu nyawa melayang, dan sangat banyak korban hidup yang menderita luka dan cacat akibat pengaruh radiasi. Seumur hidupnya, Truman, presiden Amerika Serikat selalu pelaku pengeboman tersebut kala itu, mungkin tak akan pernah hidup tenang.

Tapi, dunia pun mencatat peristiwa mengenaskan tersebut sekaligus mengakhiri Perang Dunia ke-2. Segera setelah peristiwa tersebut, Jepang menyerah. Salah satu negara yang terkena imbas positif adalah Indonesia. Yang meraih kemerdekaannya di bulan dan tahun yang sama setelah kedua ledakan bom tersebut mengguncang dunia. Kedua hal ini akan terus menjadi perdebatan moral yang tak akan ada habisnya.

Siapa menyangka, derita perang tersebut nyaris tak berbekas lagi di Negeri Sakura ini. Jepang malah bangkit dan merebut tahta sebagai salah satu raksasa perekonomian dunia. Siapa menduga, dalam waktu singkat mereka sukses menanggalkan pakaian penderitaan dan menggantinya dengan jubah kemenangan. Luar biasa.

Kalau Dunia memuja Jepang, ASEAN punya Vietnam ;).

vietnam

Vietnam … Terus Berlari, Makin Bersinar

Berdasarkan sontekan dari ‘Paman Wikipedia’ :P, selama 8 tahun Vietnam menjadi korban perseteruan kubu komunis vs liberal. Vietnam Selatan yang didukung penuh oleh Amerika Serikat dan konco-konconya bertarung melawan saudara mereka sendiri di belahan Vietnam Utara yang digawangi oleh Uni Sovyet dan anggota gengnya.

Bertahun-tahun tersandera dalam perang, perekonomian menghadapi tantangan luar biasa ketika akhirnya gencatan senjata di tahun 1973 menyudahi perang berdarah tersebut. Mulailah Vietnam menata kembali masa depannya, mengumpulkan serpihan-serpihan harapan yang pecah berserakan kala perang melanda.

Istimewanya, lagi-lagi dapat bocoran dari Wikipedia :D, Vietnam mengadopsi pembangunan terencana ala Orde Baru, Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Waduh, malah lebih sukses yang meniru daripada yang ditiru. Hehehe.

Pendapatan Vietnam secara nasional terus melejit. Bahkan menjadikannya sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat ke-2 di dunia! Tingkat kemiskinan di negara yang dijuluki “Vietnam Rose” ini menurun secara drastis dan kini lebih sedikit daripada Cina, India dan Filipina. Lebih lanjut silakan dicek di link bocoran dari wikipedia tadi, ya ;).

Tidak hanya sukses menjadi eksportir beras nomor 2 setelah Thailand, Vietnam pun menduduki nomor 2 dalam urusan jual menjual kopi. Apa kabar Indonesia? :(.

Padahal beras dan kopi ini merupakan salah satu produk andalan Indonesia. Karena tema #day5 dari #10daysForASEAN adalah komoditi kopi, maka kita tinggalkan beras sejenak :D.

Vietnamese Coffee (gambar : hungryhuy.com)
Vietnamese Coffee (gambar : hungryhuy.com)

Kopi, Si Hitam Manis dari Alam Tropis

Saya enggak usah berceramah soal jenis-jenis kopi di sini, ya. Tapi jenis-jenis kopi tersebut bisa diintip di tautan berikut ini :). Kopi termasuk tanaman khas yang tumbuh subur di negeri-negeri tropis. Tidak heran jika ketiga negara penghasil kopi terbesar di dunia adalah : Brazil, Vietnam dan Indonesia. Semuanya dikenal sebagai negara dengan curah matahari yang tinggi di hampir sepanjang tahun.

Agak unik juga fakta bahwa Vietnam sanggup menghasilkan kopi yang lebih banyak daripada Indonesia. Luas wilayah Vietnam sendiri hanya sekitar 331 ribu km persegi. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki luas daratan sekitar 1.9 juta km persegi.

Kopi Indonesia
Kopi Indonesia

Kuantitas memang tidak berpengaruh banyak jika tak ditunjang oleh kualitas dan perhatian secara berkesinambungan. Sebelum buru-buru ‘nyinyir’in pemerintah , kita harus memahami dulu betapa kompleksnya negeri kita dibanding Vietnam ini.

Vietnam sendiri memang sangat fokus kepada sumber daya alam kopinya. Sementara Indonesia, selain kopi, juga punya banyak sumber daya alam lain yang sangat potensial. Rempah-rempah misalnya. Walau jenis kopi di Indonesia itu sangat beragam dan tumbuh subur di hampir seluruh wilayah nusantara, perhatian pemerintah masih terpecah-pecah.

Coba lihat kasus dalam tautan berikut ini.

“SEBANYAK 130 kontainer ekspor kopi Lampung baru-baru ini ditolak dengan alasan kandungan residu pestisidanya melampaui ambang yang ditoleransi negara tujuan!” ujar Umar. “Terkait pengalaman itu, Wakil Gubernur Lampung Joko Umar Said menyatakan Pemprov akan berusaha meningkatkan mutu kopi Lampung melalui sertifikasi kopi untuk ekspor. Dengan sertifikasi yang diatur Pergub itu, pelaku usaha memiliki posisi tawar lebih baik dalam negosiasi!”


Kejadiannya bukan beberapa tahun lalu. Tapi kalau melihat tanggal di beritanya, ini peristiwa di bulan Mei tahun ini. Pantas saja dianggap sebagai sesuatu yang ‘memalukan’. Masa iya, komoditas sebesar dan setenar kopi untuk Indonesia belum dibuatkan “Pergub Sertifikasi Kopi”-nya? :(. Mudah-mudahan sekarang sudah ada, ya.

Kontras dengan Vietnam yang sangat fokus dalam hal pertaniannya. Selain reformasi kepemilikan tanah, kerjasama optimal dengan pihak swasta, infrastruktur transportasi juga digenjot habis-habisan. 

Selain luasnya wilayah dan geografis yang terdiri dari wilayah kepulauan, masalah infrastruktur transportasi juga ikut menyumbang rumitnya masalah peningkatan kualitas dan kuantitas hasil pangan nusantara secara umum.

Saya punya pengalaman soal dampak infrastruktur transportasi ini. Dulu, saya bekerja sebagai IT-Business Analyst di salah satu consumer goods di tanah air. Pekerjaan saya berada di area Supply Chain – Distribusi.

Dalam beberapa rapat, saya melihat betapa rumitnya perdebatan antara manajer sales dan manajer distribusi-supply chain dalam usaha menekan biaya pengiriman barang dari Jawa ke luar Jawa. Apalagi ke wilayah Indonesia Timur. Selain masalah biaya, masalah keamanan dan durasi waktu juga cukup merepotkan. Terlebih lagi untuk produk-produk makanan yang memiliki waktu habis masa konsumsi (expired date) yang singkat.

Jadi jelas, ini pekerjaan besar buat pemerintah kita, ya. Kopi dan komoditas unggulan lainnya juga  bergantung pada faktor-faktor lain seperti misalnya transportasi. Pemerataan pembangunan di semua wilayah Republik Indonesia menjadi salah satu harga mati demi meraih kesuksesan untuk ikut berperan utuh dalam  Komunitas ASEAN 2015

Bersatu Kita Oke, Bercerai Kita Keo(k)

Vietnam vs Indonesia? Aduh, jangan sampai, ya!

Mempertentangkan potensi kopi masing-masing akan berbanding terbalik dengan tujuan utama dibentuknya Komunitas ASEAN 2015. Justru, kita ingin seluruh negara-negara yang bernaung di bawah bendera ASEAN melejit bersama dalam kerja sama di bidang Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya.

Dengan resesi yang tengah melanda negara-negara maju / negara barat, nilai jual kopi terus mengalami gonjang-ganjing. Daripada saling rebutan pasar ekspor yang tengah meredup, bagaimana kalau Vietnam dan Indonesia duduk bersama mencari celah untuk memasarkan kopi masing-masing? Bikin terobosan baru kek, misalnya mengolah kopi menjadi makanan ringan lain selain hanya diseduh menjadi minuman ;).

Vietnam dan Indonesia bisa menyatukan para ahli perkopian di negara masing-masing untuk membuat laboratorium bersama. Saling menyatukan ide untuk menciptakan varian-varian baru dari pemanfaatan kopi ini. Biaya lebih  murah juga kan kalau ditanggung bersama? Katanya lagi, beberapa kepala lebih baik daripada satu kepala ;).

Brainstorming (123rf.com)
Brainstorming (123rf.com)

Justru Vietnam dan Indonesia harus bersatu mengalahkan Brasil. Sudah cukuplah negara latin satu ini berjaya di sepak bola dunia :P. Urusan kopi, yuk kita robohkan hegemoni Brasil bersama-sama ^_^. 

Dengan menyatukan misi, yaitu menjadikan ASEAN sebagai negara-negara penghasil kopi terbesar di dunia, kita juga bisa menggandeng dukungan dari negara ASEAN selain Indonesia dan Vietnam. Misalnya dengan ‘memaksa’ sesama anggota ASEAN agar tidak mengimpor kopi dari negara mana pun kecuali sesama ASEAN sendiri. 

What Doesn’t Kill Us Makes Us Stronger 🙂

Selain berusaha mencuri urusan produksi kopi, kita pun bisa belajar dari kebangkitan Vietnam dalam urusan perekonomian. Akhir-akhir ini, masalah demi masalah terus melanda negeri kita tercinta.

Didera masalah korupsi, rupa-rupa kegalauan di urusan politik, jangan sampai menyurutkan semangat untuk maju. Berhenti dong menyebarkan hal-hal negatif tentang negara sendiri :(.

Ingat, siapa yang bisa menebak nasib Vietnam di awal tahun 70 an silam? Vietnam, yang terkenal di berbagai film perang buatan Hollywood ini, kini terus melupakan masa lalunya dan bangkit secara mengejutkan.

Sesuai kata pepatah, “Everybody wants happiness. Noone wants pain. But you can’t have a rainbow without a little rain.” Untuk menikmati cantiknya pelangi, kita harus berpayah-payah dulu bertahan dalam hempasan air hujan.

Semoga masalah-masalah yang sepertinya telah siap menelan bulat-bulat negara kita yang pernah digelari “Macan Asia” ini adalah sebuah cobaan kecil saja untuk meraih kesejahteraan yang jauh lebih baik.

What doesn’t kill us can only make us stronger. We’re not dying, we’re just fighting to be the best. Aren’t we? ;). 

Tagline

***

Dampak Konflik di Myanmar Terhadap Visa ASEAN

123rf.com
123rf.com

Saya pernah punya tamu yang perangainya kurang menyenangkan. Bikin bete lah pokoknya. Saat dia berkunjung, bau semerbak dari pewangi kain pel yang baru saja selesai saya gunakan untuk mengepel seluruh lantai rumah masih tercium. Dia juga ikut  berbasa-basi, “Wah, baru dipel, ya?”

Saya senyum-senyum simpul. Tapi langsung bengong ketika dia tetap masuk ke dalam rumah. Bukannya saya mengharapkan dia untuk mengobrol di depan pintu saja, tapiiiiii…dia masuk tanpa melepaskan alas kakinya! Yang  jelas-jelas telah dipakainya berjalan di atas tanah. Dia itu tetangga saya dan letak rumahnya hanya beberapa puluh meter. Saya pastikan dia berjalan kaki dari rumahnya ke tempat saya.

Ah, ah, ah :(. Kesalnya minta ampun. Manalagi hari itu embak saya enggak masuk. Jadi, saya sendiri yang membenahi seluruh isi rumah. Meski berusaha tetap sopan saya sudah berjanji dalam hati, “Lain kali situ datang lagi, saya cari-cari alasan ah biar tidak usah membuka pintu!”

Anda Sopan, Kami Segan

123rf.com
123rf.com

Nah, itu baru ritual mengunjungi rumah tetangga. Akan lebih kompleks lagi kalau yang kita kunjungi adalah…negeri orang lain. Meskipun masih termasuk negara tetangga.

Salah satu persyaratan untuk memasuki negara lain bagi warga pendatang adalah ketersediaan visa. Yang harus diurus secara resmi di lembaga berwenang misalnya di kantor kedutaan negara yang dimaksud atau di konsulatnya.

Lho, kita kan mau liburan ke tempat mereka. Berarti kedatangan kita harusnya disambut dengan meriah. Manalagi kita datang pastinya akan membelanjakan uang kita di sana, bayar hotel lah, beli oleh-oleh lah, makan-makan lah dsb. Devisa buat negara tersebut otomatis bertambah. Sudah selayaknya kita minta dihormati habis-habisan.

Tentu saja kalau tamu harus dihormati itu benar banget. Tapi, tamu macam mana dulu, nih? Saya sih tidak keberatan didatangi siapa saja. Asalkan memenuhi semua persyaratan layaknya seorang tamu. Kalau tamu pribadi, urusan attitude yang menjadi perhatian utama. Sementara kunjungan ke negara lain, kelengkapan dokumen jangan dianggap remeh.

Visa bisa dikatakan semacam izin. Misalnya, kita lebih senang bila kedatangan tamu yang menelepon terlebih dahulu. Kan bisa siap-siap, masakin yang enak, suguhin kue-kue yang sedap dll. Fungsi visa ya seperti itu. Agar negara yang bersangkutan tahu dan memiliki data lengkap sang pengunjung.

Visa, jangan hanya dipandang sebagai ‘tetek bengek yang merepotkan’ (padahal emang repot sih hihihihi :P), tapi dokumen ini adalah pelindung keberadaan kita di negeri asing :). Coba bayangkan kalau ada apa-apa. Anda kecelakaan misalnya. Atau anda punya masalah saat bekerja atau anda kena tipu dalam jumlah besar dan sangat merugikan. Mau lapor ke mana?

Nah, kalau tidak punya visa, bukannya ditolong malah anda akan tertimpa tangga pula setelah tadi terjatuh.

Visa juga bentuk perlindungan tersendiri bagi negara yang kita kunjungi. Urusan dokumen seperti ini yang bisa menimbulkan kekisruhan yang tidak sedikit seperti pengalaman saya semasa tinggal di Jeddah, Saudi. Banyaknya pendatang yang masuk dengan menggunakan visa turis malah kebablasan dan keterusan menjadi pekerja ilegal di Saudi.

123rf.com
123rf.com

Pastilah pemerintah Saudi menjadi pening. Kalau datang sebagai turis ya senang karena banyak pemasukan dari pendatang. Tapi kalau sampai tinggal dan menetap tentu akan menjadi beban pemerintah. Apalagi di negara-negara Timur Tengah yang tidak membebankan pajak penghasilan. Ibaratnya, kita menumpang hidup di sana. Bayar pajak enggak tapi ikut berjejalan menikmati fasilitas di negara tersebut. Apalagi di Saudi, biaya hidup sangat murah karena tingginya subsidi dari pemerintah untuk seluruh pemukim.

Makanya, visa itu terdiri dari beberapa jenis. Visa turis, visa bisnis, visa kerja dll. Tiap jenis memiliki durasi masing-masing. Visa turis tentu paling singkat. Bisa diperpanjang kok kalau mau dan negara yang dikunjungi memberi restu ;). Kita juga malas kan kalau tamu tinggal terlalu lama. Lama-lama yang tadinya senang jadi curiga, “Ngapain ya dia berlama-lama di sini? Ada niat apa, ya?”

Pokoknya, kalau diminta bikin visa, enggak usah ragu. Bikin saja walau  kadang urusan seperti ini bikin mumet. “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Have a nice holiday, Kakaaaaaa ^_^.

Ada Apa dengan Myanmar?

Komunitas ASEAN 2015 sudah di depan mata. Selayaknya beberapa sahabat yang sudah berjanji untuk saling bekerja sama dalam beberapa hal, kekompakan adalah hal mutlak untuk kesuksesan hubungan. Dalam hal ini, negara-negara ASEAN ingin bersinergi satu sama lain dalam bidang keamanan-ekonomi-sosial budaya.

Niatnya tentu ingin saling mendorong kemajuan di negeri masing-masing. Termasuk urusan pariwisata. Warga Indonesia yang ingin berkunjung ke sebagian besar negara-negara ASEAN dibebaskan dari urusan visa. Yayyyy, senang, doooonggg ;). Paling malas, deh, kalau mengurusi visa-visaan hehehe.

Tapi tidak dengan Myanmar. Negeri yang pemerintahannya baru saja lepas dari Junta Militer ini masih mewajibkan pengunjung di negaranya untuk memiliki visa dalam paspor masing-masing. Penonton kecewa :(. Mengapa oh Myanmar, mengapa? *drama*.

Cantiknya Myanmar (gambar : 123rf.com)
Cantiknya Myanmar (gambar : 123rf.com)

Jangan langsung berpikiran buruk dulu. Ingatlah, we don’t judge other for often we don’t know the whole story ;). Kita lihat dulu latar belakang negara tersebut sebelum berkomentar lebih jauh.

Berdasarkan referensi dari sini, Myanmar memang didera oleh perselisihan internal selama berpuluh-puluh tahun belakangan ini. Padahal mereka meraih kemerdekaannya sejak tahun 1948. Multi etnis dan agama menjadi sumber permusuhan di sana. Hingga akhirnya Junta Militer tampil dan memimpin negeri.

Kekerasan dan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat luas akan kepemimpinan militer membuat orang-orang demo beramai-ramai. Stabilitas dalam negeri terus menerus bergoncang walaupun demo katanya berlangsung damai. Militer pun tidak tanggung-tanggung dalam membubarkan demo.

Awal 2011, barulah pemerintahan sipil mengambil alih kekuasaan negara. Baru dua tahun lebih ‘Negeri Ladang Seri Ranjau’ mencicipi aroma demokrasi. Julukannya saja ngeri begitu mengingat kisruhnya ‘perang saudara’ yang terus-terusan menghantam keamanan dalam negeri.

Setelah diterjang badai stabilitas puluhan tahun, tentu bukan hal mudah untuk langsung membuka diri pada dunia luar. Biarkan mereka memulihkan trauma mereka dulu. Sementara, untuk menyatukan seluruh aspirasi rakyat saja mereka belum sepenuhnya berhasil.

Toh, Myanmar tidak melarang sama sekali untuk dikunjungi, kan? Mengurus visa pun katanya sangat gampang. Ini referensi tentang pengurusan visa ke sana.

Sementara kita beri waktu dan dukungan bagi negara yang termasuk paling bontot dalam usia keanggotaan di ASEAN ini :). Itukan gunanya punya ‘teman’. Berbagi dalam suka dan duka. Saling  mendoakan saat mengalami kesulitan. Hidup ASEAN ^_^.

Saktinya “Bhinneka Tunggal Ika”

Melihat asal muasal kejadian yang menyebabkan Myanmar terpenjara dalam konflik internal puluhan tahun lamanya, sebagai bangsa Indonesia kita wajib bersyukur. Myanmar konon memiliki 8 etnis utama yang berbeda budaya dan agama. Hal inilah yang cukup sering memicu konflik dan kekerasan :(. Yang paling hangat adalah kisruh antara segolongan umat Budha dan etnis yang didominasi umat muslim, Rohingya.

Padahal Indonesia lebih luar biasa lagi keragamannya. Etnis? Saya saja tidak hapal. Di propinsi asal saya saja, Sulsel, ada 4 suku besar (Makassar-Bugis-Mandar-Toraja). Belum lagi suku-suku kecilnya, misalnya Enrekang. Ini bahasanya beda-beda semua, lho. Mayoritas suku Toraja juga beragama Protestan, kontras dengan Bugis yang sebagian besarnya adalah muslim.

Itu baru satu propinsi. Bagaimana dengan puluhan propinsi lainnya? *ngelapKeringat*. Tapi alhamdulillah, “Bhinneka Tunggal Ika” berhasil merekatkan segala perbedaan dan meredam segala kebencian. Semoga kedamaian selalu menaungi seluruh bumi Nusantara tercinta :).

Tagline

Walau begitu, jangan gentar melangkahkan kaki menuju Myanmar. Dengar-dengar, obyek wisata di sana tak kalah menariknya, lho ;).

Traveling ke mana pun pasti akan mengajarkan hal baru yang membawa pencerahan bagi kita. Memang sih tidak ada uangnya. Tapi ingat, pengalaman adalah permata berharga yang tak akan terbeli oleh harta, seberapa pun banyaknya ;).

Jadi…kapan kita ke Myanmar? ^_^.

***