Jalan-jalan Dublin, O’Connell Street

Kalau jalan-jalan Dublin, mesti  banget absen di City Center  :D. Ke Dublin  memang biasanya naik bus. Lebih nyaman karena biaya parkir di sana mahal booo hihihi. Kalau kebetulan nyewa mobil di akhir pekan, kami pasti memilih melipir ke kota-kota lain.

Turun di terminal bus Busaras, tinggal jalan dikit banget menuju ke O’Connell Street. Jalanan yang paling hits ini bisa dibilang jantungnya City Center, Dublin.

O’Connell Street letaknya di salah satu tepian Sungai Liffey yang membelah Kota Dublin.

Sungai Liffey
Sungai Liffey

Dari terminal bus Busaras tadi, tidak perlu menyeberang sungai, ya. Karena letaknya memang di sisi yang sama dengan O’Connell Street.

Trotoar di kedua sisi O’Connell Street lebih besar daripada jalanan yang dipakai untuk kendaraan bermotor atau sepeda. Artinya…selamat berjalan kaki, Kakaaaaa :D. Hehehe. Iya, sih, banyak jalanan kecil-kecil yang terletak di sepanjang O’Connell yang memang tidak boleh dilewati oleh mobil atau bus.

Enggak kuat jalan kaki? Naik sepeda ajah ^_^. Di beberapa sudut di wilayah City Center terdapat tempat penyewaan sepeda. Praktis. Tinggal masukin koin dan ambil sepedanya. Enggak pakai penjaga, serba otomatis :D.

tempat penyewaan sepeda

O’Connell itu dari pagi sampai malam jarang sepi. Pasti banyak orang lalu lalang. Tidak cuma turis-turis asing. Para pemukim di Kota Dublin juga demen ngider-ngider di sini. Soalnya memang banyak pertokoan dan rumah makan.

Sepanjang jalan juga banyak sekali monumen-monumennya. Termasuk patung-patung tokoh nasional Irlandia. Misalnya si Daniel O’Connell yang menjadi inspirasi bagi nama jalan ini. Belum sempet suami eike mengedit foto si patung Mr.O’Connell ini. Sementara, cek di google aja ya hehehe. Bangunan yang paling menyolok adalah GPO Building.

Semacam bangunan dengan arsitektur khas Eropa zaman dulu yang banyak tiang-tiangnya itu, lho. Apa ya itu namanya? Hihihi :P.

General Post Office Building
General Post Office Building

Terus, ada juga The Spike. Monumen sederhana yang cuma terdiri dari sebatang tiang menjulang tinggi ke atas. Panjangnya lebih dari 200 m. Lihat gambar di atas, tiang panjang di sebelah kanan itu yang dimaksud dengan The Spike.

Penampakan The O’Connell Street sendiri sila disimak di gambar yang ini.

Oconnell Street

Yang paling sering kita kepoin kalau jalan-jalan ke O’Connell tentu saja adalah rumah makan halalnya. Hahaha. Maklum inih, tinggalnya di dusun sekelas Athlone. Susah banget mau liburin dapur :P. Ada, sih, resto halal di Athlone, cuma … *bisikBisik* … mahal. Hahaha.

Dari The Spike, tinggal berbelok ke Earl Street North. Di sana ada beberapa rumah makan halal yang dua-duanya berlabel “Istanbul” alias masakan Turki. Enggak masalah, kami sekeluarga penggemar kebab dkk. Alumni Timur Tengah soalnya yak :P.

Di Earl Street juga suka ada atraksi-atraksi seni jalanan. Misalnya om-om yang keren ini. Dia bikin replika binatang dari pasir.

City center detail

Sisi The Spike yang lain ada Henry Street. Walaupun isinya agak-agak bertentangan dengan prinsip hidup Keluarga Gober :P, kita tetap doyan mampir ke sini. Lumayan soalnya buat foto-foto :D.

Di Henry Street, berjajar toko-toko dari brand-brand level dunia. Segala Zara, Mango, Coach dkk, lengkap di sini. Di sepanjang jalan ini, lebih banyak turis yang mendominasi. Kok tahu? Ya pokoknya berasa aja aura-aura turisnya :P.

City center all

Oiya, di gambar kanan bawah itu salah captionnya. Mau benerin repot, udah enggak nyimpen masternya hihihihi. Itu bukan GPO Building tapi bangunan dari Bank of Ireland. Maaf ya *sungkemSamaPembacaBudiman* :D.

Kalau mau beli oleh-oleh? Gampaaaangggg… Di Dublin ada toko suvenir “The Carroll’s Irish Gift” yang punya banyak cabang  di hampir tiap sudut City Center, Dublin. Terutama di O’Connell dan sekitarnya. Buanyaaakkkkk. Mari diborong ^_^.

Sekian dulu liputan dari O’Connell Street, di jalan-jalan Dublin kali ini. Sebenarnya masih banyak banget tempat-tempat seru di City centernya Dublin. Cuma kita cicil-cicil ya, biar banyak postingannya :P.

Ditunggu di Dublin ;).

DSC_0003

Makanan Halal di Eropa, Between Truth and Repose

“Liburan ke sono? Makanan halal denger-denger repot di sono. Makan apaan ntar?”

“Ya makan apa ajalah. Yang penting bukan babi. Baca bismillah saja.”

Sebagian muslim yang saat liburan bahkan bermukim di negara-negara mayoritas non muslim memilih jalan ini. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah … darurat. Darurat sih seharusnya berarti tak ada yang lagi ALTERNATIF LAIN yang tidak bisa kita makan.

Negara Irlandia sendiri, walau tinggal di kota imut-imut seperti Athlone, masih menyediakan toko daging halal. Tempatnya memang tidak di ktengah-tengah kota. Jaraknya sekitar 2-3 km dari gedung apartemen saya. Soalnya saya malas ke sana naik bis sambil nenteng stroller 😛. Jadi seharusnya, no issue soal makanan halal di Eropa untuk wilayah Irlandia secara umum.

Kalau suami ada biasanya tugas beli daging adalah jatah beliau. Pulang pergi kantor, bisnya pasti lewat depan sana. Kalau suami lagi dinas ke luar negeri, misalnya tempo hari ke Istanbul selama sebulan penuh, mau enggak mau, si mama yang bolak balik beli daging ke sana hehe. Pijat-pijat paha 😀.

Dengan keadaan seperti ini pun, suami punya cerita unik. Suatu hari di masjid mendatangkan seorang Syekh dari Dublin. Lumayan punya nama dan termasuk jajaran ulama yang mengurusi sertifikasi halal untuk masyarakat muslim di Irlandia.

Beberapa jamaah mengaku lebih memilih membeli daging sapi/ayam/domba di supermarket daripada ke toko halal. Setelah ditanya, alasannya fantastis, “Harga di toko daging halal lebih mahal.” Hahaha.

Keluarga Gober saja sampai tepok jidat . Saya tahu, kok, harga daging di supermarket umum memang jauh lebih murah. Psstt…lebih murah daripada di tanah air .

Sebagian juga menganggap ini kondisi darurat. Which is sangat tidak tepat. Karena masih ada daging halal yang tergolong mudah ditemukan. Emak-emak mungil macam eike saja sanggup bolak balik ke toko sana, masa bapak-bapak kalah? Pada punya mobil semua pula *gubrak*. Stok daging halal juga selalu terjaga. Tergolong sangat cukup.

Kondisi darurat juga dipatahkan dengan fakta bahwa banyak alternatif makanan lain seperti ikan-ikanan dan aneka seafood lainnya. Alternatif lain adalah “any meal that’s suitable for vegetarian” is HALAL. Secara undang-undang, yang setahu saya berlaku umum di negara-negara maju, rumah makan/produsen makanan yang menyediakan makanan berlabel ‘vegetarian’ HARUS memisahkan proses penyajiannya. Kalau ada yang melanggar, mereka bisa dituntut secara HUKUM dan LEGAL.

Menurut si Syekh, “If you enter a restaurant that served some vegetarian meals. Close your eyes and eat them.”

See? Daruratnya sebelah mana hayooooo? 😛.

Gambar : 21food.com
Gambar : 21food.com

Di Athlone rumah makan yang menyediakan makanan halal (yang non veg) memang sangat minim. Lagian, harga makanan jadi di sini sangat menjulang. Padahal, harga barang-barang pokoknya enggak mahal-mahal banget, lho. Penggemar supermarket Aldi mana suaranya? *angkatTanganPalingTinggi* hahaha.

Asal jeli, bisa mendapatkan sayur mayur dan buah-buahan segar dengan harga sen-senan. Tiap 2 minggu, jenisnya berganti-ganti. Ada rak-rak khusus yang memajang jenis makanan yang lagi kena diskon. Diskonnya enggak becanda, Cyin. Dari harga 1.79 euro per bungkus bisa drop sampai 59 sen saja *nyengirSeratusCenti*. Ukuran kemasan dan tingkat kesegaran tidak berbeda .

Walau banyak swalayan lain yang jaraknya jauh lebih dekat, Bibi Gober tetap istiqomah bolak balik Aldi yang jaraknya sekitar 1.5 km dari apartemen. Hahaha. Apa pun demi devisa untuk negara tercinta  *tsaaaahhh*.

Si Syekh juga punya pesan bagus. Bahwa…hidup itu pilihan 🙂. Meninggalkan tanah air untuk datang merantau ke negeri lain adalah pilihan. Setiap pilihan yang diambil ya harus dipertimbangkan konsekuensinya. Kita bebas memilih tapi kita tidak leluasa mengatur konsekuensi yang setia mengikuti setiap pilihan yang kita ambil. Jika sebuah ujung tongkat kita angkat, ujung lainnya juga pasti ikut terangkat kan 😉. Termasuk pertimbangan soal makanan halal di Eropa ini.

Walau hati kecil rasanya berat, saya enggak bisa bohong. Tinggal di Athlone jauh lebih nyaman secara batin untuk saya pribadi. Dibandingkan Jeddah atau pun Jakarta, yang didominasi oleh orang-orang yang beriman kepada ajaran yang sama.

Jangan buru-buru menuduh saya ingin mendiskreditkan kaum muslim secara luas. Demi Allah, tidak ada sedikit pun rasa seperti itu.

Justru…pertanyaan besar untuk kita KAUM MUSLIM? Sederhana saja. Satu kalimat islami yang ini, “Kebersihan adalah sebagian daripada iman.” Tidak di Jeddah, tidak di Jakarta, saya selalu menderita kalau liburan ke tempat-tempat terpencil . Harus menahan pipis karena benar-benar tidak tahan kalau harus menggunakan toilet umum yang kondisinya … *pasang icon manyun seratus biji*.

Kebersihan dan kedisiplinan yang seharusnya menjadi AURA kehidupan muamalah kaum muslim terus tergerus dan justru menjadi ciri hidup kaum sekuler yang mungkin seumur hidupnya kenal alquran saja tidak . Selalu sedih kalau harus menulis tentang ini 🙁. Tidak semua umat muslim, sih.

Sudah pernah ke Teheran? Masya Allah bersihnya kota ini. Mereka juga punya selokan-selokan lho. Yang saking jernihnya itu selokan, pandangan mata bisa menembus ke dasar got eh…selokan 😛. Urusan kebersihan, saya angkat jempol satu juta untuk pemerintah kota Tehran . Oh ya, saya juga sering melihat orang-orang antri dengan tertib menunggu bis dan taksi atau dalam mal. Which is akan pemandangan langka kalau tinggal di Saudi hehehe.

Eh tapi, eh tapi … kalau balik lagi ke urusan makanan. Saudi adalah surga untuk kaum muslim . Jaminan halal datang dari pemerintah langsung untuk semua jenis makanan yang dijual di arena publik. Walau ada juga beberapa teman yang meragukan jaminan halal ini. Sekali lagi, hidup itu pilihan 😀.

Kalau di Jeddah, restoran papan atas berlabel internasional yang asalnya dari negara-negara mana pun terhitung HALAL. Cap cip cup kembang kuncup deh, mana saja boleh dimasuki. Gaya lu! HIhihihi.

Maksudnya kalau mau. Ya kebetulan saya dan suami semasa di Jeddah, walau berlimpah godaan kuliner, tetap setia dengan Warteg Mang Oedin dan Warteg Rindu Alam. Hahaha. Sesekali ‘hidup mewah’ dengan menyambangi Pattaya atau Mr.Sate *ngakakPalingPoooolll*.

Dengar-dengar, di masa amnesti, banyak warteg-warteg yang konon memang dijalankan oleh pekerja-pekerja ilegal asal tanah air yang terpaksa tutup .

Sebagai muslim di kota kecil yang berada di negeri yang memang bukan favorit pendatang muslim ini memang tidak selalu gampang. Susahnya jadi manusia. Suhu terbaik ada di tanah air. Sepanjang tahun bermandikan cahaya matahari. Namun…Jakarta macet, belum lagi pening saban baca berita isinya tentang korupsi semua. Masih ada pula pihak yang mati-matian membela para geng koruptor ini *pingsan*.

Mau hidup di kota kecil, suami apa bisa menjadi petani, ya? Hihihihi. Umur sudah ketuaan mau apply PNS. Dan yang lebih penting, belum sanggup meninggalkan pundi-pundi emas di negeri rantau siih hahahahahahaha.

Tinggal di Eropa ya sami mawon. Kangen keluarga, situasi pertemanan yang memang ‘berbeda’, belum kalau musim dingin melanda. Tetap ingat, bersama pilihan, selalu ada konsekuensi.

Bagaimana dengan Jeddah? Aduh sudah kepanjangan. Kalau mau, beli buku “Memoar of Jeddah, How Can I not Love Jeddah?” yang sudah beredar sejak september kemarin. Penulisnya sama dengan yang menulis note geje ini . Ujung-ujungnya ya boooooo hahahaha.

Baiklah, kita sudahi sampai di sini. Mengutip dan memodifikasi sedikit ucapan Cu Pat Kay (penggemar Kera Sakti mana suaranyaaaaa :D) … “Beginilah hidup, deritanya tiada akhir.” (Ada yang ingat kalimat aslinya bagaimana? Ada satu kata yang saya ubah :D).

Dimanakah semua kehidupan dunia ini akan bermuara? Kapan derita akan terhapus selamanya? Dimana tempat yang hanya menjanjikan kesenangan abadi …

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa…” (Ali Imraan : 133)

Dan terkait dengan pilihan-pilihan dalam hidup :

Every mind must make its choice between truth and repose. It cannot have both. -Ralph W Emerson-

It cannot have BOTH 🙂. Demikian tausiyah soal seluk beluk makanan halal di Eropa :p.  Jangan lupa pesan sponsornya, yak. Hahahaha.

Selamat berakhir pekan ^_^.

Tumbuhan Cinta Yang di Ladang Kita

Sejak kecil, sudah kepengin go internesyenel macam Kakak AgnesMo gitu deh, hihihi :p. 

Waktu kecil, saya suka membaca buku-buku dongeng terjemahan. Ceritanya, sih, biasa-biasa saja. Tapi saya menikmati gambar-gambar yang menjadi latar dalam buku cerita tersebut. Rumah-rumah kecil bercerobong asap bercat warna-warni pastel. Halamannya luas berumput hijau dengan bunga-bunga aneka warga. Ikut membayangkan rasanya hidup di sana. 

Tak salah bila buku disebut-sebut sebagai “jendela dunia.” Dari serial anak-anak yang kebanyakan ditulis oleh Enid Blyton, saya ikut-ikutan menghafalkan mata-mata uang yang disebut-sebut dalam bukunya … penny, pounds, shilling, pence dsb. 

Salah satu serial favorit di bangku SD itu adalah masa-masa kecil dari Darrell Rivers saat mulai bersekolah. Keenam seri bukunya selalu membuat khayalan saya terbang nun jauh ke Malory Towers, tempat Darrell menghabiskan 6 tahun sekolah dasarnya.

Internet, Jendela Dunia Modern

Walau sekarang saya tetap menggenjot semangat anak-anak untuk membaca buku, tapi era digital memperkenalkan jendela dunia terkini … internet :).

Di rumah, kegiatan bersama anak-anak tidak hanya diisi dengan bermain lego atau membaca macam-macam literatur tentang Dinosaurus (kedua jagoan kecil saya ngefans banget sama binatang purba ini hehehe). Saya suka menemani anak-anak berselancar di dunia maya.

Bertiga, kami duduk, selonjoran atau nongkrong di depan notebook. Kadang, sambil menonton harus sibuk menjelaskan ini itu pada mereka. Saya senang menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan suku Minang dan Bugis. Anak-anak besar di Jakarta, mana mengerti daerah asal ayah dan ibunya kalau bukan kami yang getol mengajarkan kepada mereka ;).

Tak cuma ‘menjelajahi’ nusantara, sesekali mengintip dunia anak-anak dari negara-negara lain via video-video yang bisa diakses di beberapa situs.

Terima kasih kepada internet. Media pembelajaran lebih bervariasi, tidak hanya mengandalkan buku. Anak-anak pun tidak cepat bosan.

Kami menikmati internet via notebook dan bisa di mana saja. Kalau di atas meja agak saya hindari, suka keenakan dan jadinya susah mengalihkan perhatian mereka dari internet.

Punya 2 anak laki-laki, siap-siap saja dengan drama berantem hampir tiap hari. Kalau tak  mempan dilerai dengan bujukan biasa, internet kembali beraksi hehe. Dialihkan perhatiannya.

Biasanya kalau situasi begini, anak-anak mengambil kesempatan karena tahu mamanya lagi berusaha membujuk. Mereka kompak minta acara notebook-an di atas sofa. Hadeuh…anak-anak -_-.  Baru saja meributkan sebuah boneka dinasaurus, mendadak kompak ngerjain mamanya. Hahaha.

Kalau di atas sofa, seperti saya ceritakan di tulisan yang lalu, kaki pegal menahan notebook di atas paha. Belum lagi kalau mereka merengek minta pindah ke kamar. Di atas tempat tidur, jika notebook digeletakkan begitu saja, alamat bakal berantem lagi. Masing-masing berusaha menguasai keyboard.

Pertaruhan Setiap Ibu 

Saya beruntung bisa terus bersama anak-anak di hampir sepanjang hari. Bagaimana kalau seorang ibu yang harus jauh dari keluarga, ya?

Seperti beberapa teman saya yang melanjutkan sekolah ke luar negeri yang tidak bisa memboyong suami dan anak-anak. Juga teman-teman lain yang harus ke luar kota atau ke luar negeri untuk urusan kantor dan pekerjaan.

Seperti yang selalu saya yakini dan saya tuliskan di banyak kesempatan...every Mom has her own battle :). Hidup ini tidak hitam putih. Begitu banyak mimpi dan harapan serta cara tiap ibu untuk bahagia.

Bukan egois. Simpel saja. Bagaimana mau menumbuhkan cinta di ladang kita untuk suami dan anak-anak kalau tanah tempatnya tumbuh malah gersang?

Mustahil membahagiakan orang lain jika kebahagiaan diri sendiri tak dijaga. Warna-warni cara yang dipilih untuk terus merawat tanah tempat dimana cinta akan bertumbuh. Tanah yang subur akan membuat benih-benih tumbuh sempurna.

Makanya, kurang tepat jika ada istilah untuk sebagian ibu yang dinamakan “Full Time Mother.” Memangnya ada part time mother? Hehehe. Jika kita masih terusik dengan pilihan sendiri dan berusaha untuk memperoleh pengakuan dari orang lain, itu sama saja dengan mempertontonkan ketidakpercayaan diri kita atas pilihan yang telah diambil. Don’t! Berhenti saling merasa yang paling benar :).

Ketika seorang anak telah lahir ke dunia, seorang ibu pun resmi dilahirkan. Siap tidak siap, separuh hati ibu telah tersisih untuk mereka. Mau ibu bekerja di kantor, mau ibu yang memilih berbakti di rumah, mau ibu pelajar, semua keputusan yang lahir akan bermuara dengan pertimbangan si separuh hati tadi. Semuanya, tanpa kecuali.

When you are a mother, you are never really alone in your thoughts. A mother always has to think twice, once for herself and once for her child.
-Sophia Loren –

***

To The Grand Finale!

Jadi, begini toh yang namanya musim gugur. Hehehe. Angin kencang di hampir sepanjang hari selama dua minggu terakhir ini. Dalam satu hari, cuaca bisa sangat moody.

Sejam diguyur hujan lebat, sejam kemudian sangat terik (cerah doang, hawanya mah tetap di bawah 15 derajat), lalu sejam lagi kembali angin kencang plus hujan rintik, lalu berubah menjadi hujan yang jauh lebih ganas. Eh, enggak lama, mendadak terik dan hujan berhenti sama sekali. Serasa langit di atas kota Athlone terkena sindrom PMS. Hahaha.

Kalau angin kencang datang, daun-daun berhamburan jatuh dari atas pohon-pohon yang berjajar di seberang sungai. Nyaris sudah tidak yang warnanya hijau terang. Kalau enggak hijau butek, kekuningan, orange, bahkan ada yang berubah menjadi warna merah.

Sumpah, keren banget. Saban hari merengek ke suami minta difoto di bawah pohon-pohon yang daunnya sudah berserakan di atas tanah. Suami selalu menjawab, “Gila lu, dingin-dingin begini, sering hujan pula, minta foto di luar. Masak sana!” Hahaha.

Musim gugur memang sangat dinanti-nanti…oleh saya maksudnya hihihi. Puluhan tahun hidup di daerah tropis yang hanya kenal kalau enggak kemarau ya musim hujan , pasti kepo dong sama yang namanya musim gugur. Kalau sama salju sudah musuhan hahaha. Badan pantaiku ini sungguh tak sanggup berdamai dengan musim dingin .

Thanks to Food Combining yang membuat stamina tubuh meningkat pesat . Sedingin apa pun, yang namanya masuk angin belum pernah sukses merontokkan daya tahan tubuh . Padahal dulu, suhu panas saja bisa mendadak mual dan kembung coba. Hadeuuhhh .

Melihat situasi di musim gugur dan musim dingin, wajar sekali kalau orang-orang di sini noraknya minta ampun kalau musim panas hehe. Jalan-jalanan penuh saat matahari bersinar sangat terik. Kapal-kapal yang parkir di belakang apartemen, bisa menjadi godaan tersendiri buat suami saya hihihi. Cewe-cewe abegeh berbikini biasanya kumpul-kumpul di atas kapal sambil berjemur saat musim panas menjelang. Pas bulan puasa pula puncak musim panas tahun ini hahaha.

Musim semi juga begitu. Aduh, waktu baru datang, saban lihat pekarangan orang yang banyak bunga-bunganya, saya selalu ribut minta difoto sama suami. Suami suka marah-marah, “Lu ini bukan turis! Lu bakal tinggal di sini. Jangan norak nape?”

Tapi saya, sih, sampai sekarang, kalau menyusuri tepian Sungai Shannon, melihat bebek dan angsa berbaris, burung-burung camar sesekali berkelebat ramai-ramai di udara, rasa noraknya tidak berkurang sedikit pun. Hehehe. Terima kasih Tuhan, diberi kesempatan melihat yang begini-begini yang sedari kecil didamba-damba kala masih tinggal nun jauh di tepian Pantai Losari .

Musim gugur memang identik dengan kemurungan. Muram sekali rasanya, ya. Makin drama dengan suhu yang mulai dingin, daun-daun jatuh berguguran, warna-warna alam berganti menjadi coklat-orens-kuning.

Seperti musim yang terus berputar, begitu juga kehidupan kita selama menginjak bumi *tsaaahhh*. Dikit lagi jadi puisi ini hahaha.

Saya ingat, pertama kali datang ke Jeddah dan ingin membunuh rasa kecewa yang sudah bercampur dengan sepi dan bete dengan membuat kegiatan yang menyenangkan. Waktu itu, daripada stres melihat kaca jendela yang dibuat buram, lagian apa juga yang mau dilihat di luar , saya manfaatkan koneksi internet yang super ciamik dibanding koneksi di tanah air. Yang kalau lama-lama bisa bikin orang yang kesabarannya tipis kayak saya tidak tahan untuk menghajar laptop berkali-kali hahaha. Daripada rusak, ya enggak usah online sekalian .

Begitulah awal mulanya terpikir soal blog Mama Sejagat. Hanya Tuhan yang tahu susahnya mencari kontributor waktu itu hehehe. Saya kaget waktu ada orang yang menuduh saya hendak mencuri tulisan-tulisan di blognya. Santai, Mama. Saya selalu menuliskan nama kontributornya, kok. Walaupun tulisannya biasanya saya edit mati-matian. Begitu pun dengan foto-fotonya (kadang-kadang).

Blog komunitas tapi single fighter. Saya enggak berani menuntut lebih kepada kontributor yang lain. Lagian tak ada honor yang berani saya berikan. Cuma iseng-iseng saja hehehe. Suami suka ngeledek, “Subuh-subuh sudah bangun. Sibuk sendiri depan laptop. Mending kalau ada duitnya.” Hehehe.

Tapi ya gimana, saya senang, euy. Hehehe. Padahal saya sudah lama punya blog sendiri. Tapi memang di blog pribadi dulu enggak niat untuk publikasi. Murni curhat lokal hahaha. Melalui Mama Sejagat, saya belajar banyak tentang cara agar blog kita hitsnya bertambah, cara mendaftarkan blog di search engine. Macam-macamlah. Serius sekali mbak kita ini, padahal sorangan wae, duit pun tak ada. Hahaha.

Kadang suka kesal, sudah berhari-hari, kontributor enggak ada yang mengirim tulisan. Memaksa saya untuk bergerilya lagi, SKSD sana sini cari-cari orang yang kira-kira mau berkontribusi untuk Mama Sejagat. Anak bungsu masih kecil sekali waktu itu, jadi ya, waktu ngeblog hanya tengah malam atau subuh-subuh, saat semuanya masih pada teler di tempat tidur hehehe.

Eike sudah berlatih hidup tanpa embak dan tak pernah terpikir lempar-lempar cucian ke binatu. Padahal kondisi di Jeddah dan pundi-pundi suami sangat-sangat memungkinkan hal ini terjadi. Dalam hati, sudah siap-siap mana tahu suatu hari harus mangkal di negara-negara maju yang tidak kenal bibik dan laundry mahal. Hahahahha. Untung beneran tinggal di Eropa, kalau tidak, sia-sia itu ‘latihan’ di Jeddah hahahha.

Setahun pertama menyumbangkan kemampuan menulis untuk blog gratisan semacam Mama Sejagat bagai ‘musim gugur’ saking itu blog kok kayaknya enggak tenar-tenar juga, ya. Hahahaha. Untungnya selalu hepi dalam menjalani, jadi ya, tenar enggak tenar, yang penting batin puas .

Belakangan, ada Isti dari Kurdistan yang sangat tertarik menulis di sana. Dan semoga sanggup melanjutkan tongkat estafetnya, ya. Hehehe. Terus terang, saya sudah punya banyak keinginan lain dimana Mama Sejagat tidak masuk dalam prioritas utama lagi. Jadi Mak Isti, kupercayakan padamu, ya . Saya sih tetap ingin menjadi kontributor tapi ingin melepaskan diri dari embel-embel ‘pimpinan’ .

Siapa tahu anak-anak sudah besar-besar dan mandiri, Mama Sejagat masih ada, pasti akan saya perjuangkan kembali seperti dulu saat pertama memulai pondasinya, 2 tahun yang lalu.

Tak saya sangka, setahun terakhir updatenya pas-pasan, blog ini diliput oleh sebuah koran lokal. Mendadak dapat banyak DM di twitter hehehe. Terharu juga, ya. Jerih payah yang dulu disumbangkan untuk membesarkan Mama Sejagat mulai ada sedikit penghargaan. Walau di luar cuaca musim gugur masih kental, dalam hati berasa musim semi melihat timeline hari minggu kemarin hehehe. Norak, norak, norak 😛.

Pikiran Rakyat, Minggu 3 November 2013
Pikiran Rakyat, Minggu 3 November 2013

Jadi, jerih payah memang pasti akan berbayar. Mau setahun, dua tahun, eventually…pasti akan ada hasilnya . Sekarang, aduh, sampai meluber komentar di blog yang bersedia jadi kontributor. Hajar, Mak Isti hehehehe.

Musim semi tengah menghampiri Mama Sejagat. Mungkin nanti bakal ada-ada lagi episode musim gugurnya. Tapi abis itu masa senang-senangnya juga akan datang silih berganti.

“Fall has always been my favorite season. The time when everything bursts with its last beauty, as if nature had been saving up all year for the grand finale.” -Lauren DeStefano, Wither-

Seperti musim, tahun pun terus berganti. Hari ini, seluruh umat muslim akan kembali memasuki pergantian tahun . Selamat Tahun Baru Hijriyah. Apa resolusi tahun baru teman-teman? .

Kalau tahun yang akan segera kita sudahi ini lebih banyak empet-empetnya daripada senang-senangnya, jangan gentar! Siapa tahu, episode musim gugur yang dituliskan untuk perjalanan tahun yang akan berlalu akan dibayar dengan cantiknya pencapaian di tahun baru nanti. Iya, kan? Jangan-jangan musim semi tengah menanti di 1435 H nanti.

Pokoknya tetap semangatlah. Jangan terlalu letop menghadapi lingkungan. Jangan berani-berani menyalahkan perputaran dunia.

“Life asks no question, it goes on without you. Leaving you behind if you can’t stand the pace.” (Desree – You Gotta Be)

Ikhtiar jalan terus, doa tak akan terputus. Begitulah konon kombinasi dari usaha terbaik seorang muslim dalam menaklukkan dunia .

Selamat tahun Baru 1435 H ^_^. Stand the pace, Buddies ;).

***

Peperangan dalam Islam : Mengenang Perang Badar di Padang Badar

Mengenang salah satu peperangan dalam Islam, perang pertama umat muslim setelah hijrah ke Madinah : Perang Badar. Tulisan ini hasil jalan-jalan ke Padang Badar di Kota Badar, Arab Saudi :).

***

Sebenarnya saya ini orangnya banci Eropa abis, alias sangat bercita-cita dari dulu mendapat kesempatan tinggal di Eropa. Apa daya, takdir malah mengembuskan saya dan suami untuk bermukim di kota Jeddah. Pupus sudah harapan untuk berfoto-foto di kebun Bunga Keukenhof atau sekedar bersantai di Interlaken, dan tentu saja menikmati kerennya Menara Eiffel.

Tapi ternyata tinggal di kota ini juga banyak senangnya juga. Termasuk saat liburan lebaran kemarin, di jalan-jalan Arab Saudi edisi ini,  kami sekeluarga berwisata ke padang pasir! Jangan kira di negara yang mayoritas penduduknya Muslim ini, hari lebaran dirayakan ‘habis-habisan’ seperti di Indonesia.

Di sini saat hari rayanya malah sunyi senyap dan tidak ada aktivitas yang berarti. Saat ada long weekend seperti saat lebaran ini, paling enak keluar kota. Selain karena harga bensin yang murah (1000 perak per liter!) , banyak loh kota-kota di Saudi yang menarik untuk dikunjungi.

Gurun pasir yang kami kunjungi adalah Padang Badr, tentu saja letaknya di kota Badr. Tujuan awal liburan kami adalah mengunjungi kota Yanbu yang terkenal dengan pantainya. Tapi ternyata jarak kota Badr dari Yanbu hanya sekitar 90 km, jadilah pagi harinya kami langsung menuju Badr. Infrastruktur jalan di Saudi ini terkenal bagus (jalannnya lurus-lurus, lebar-lebar, dan mulus-mulus). Jadi hanya makan waktu sekitar 40 menit dari Yanbu ke Badr.

Jalan-Jalan Arab Saudi

Kota Badr juga merupakan salah satu tempat penting dalam sejarah Islam. Perang Badr yang merupakan peperangan dalam Islam yang besar pertama sejak Nabi dan para pengikutnya hijrah ke Madinah, berlangsung di kota Badr ini. Kejadiannya sendiri di tahun 2 H, saat bulan Ramadhan.

Pasukan muslim yang berjumlah lebih sedikit berhasil memenangkan pertempuran melawan pasukan musuh. Tapi ada sekitar 14 sahabat mati syahid di salah satu kejadian peperangan dalam Islam ini. Sayang sekali, kami tidak sempat mengunjungi makam para syuhada yang letaknya juga di kota Badr ini.

Kontur kota Badr ini memang berbukit-bukit dengan mayoritas padang pasir dimana-mana. Pemukiman penduduknya sangat jarang. Kami menepi di gurun yang pasirnya halus sekali. Dan di gurun tersebut hanya ada hamparan pasir maha luas tanpa sedikit pun ada kerikil, rumput, pokoknya pasir halus tok!

Panas gak sih di gurun pasir itu? Well, kami sendiri tiba sekitar jam 10 pagi. Suhu diperkirakan mencapai 37 derajat celcius. Tapi tempatnya sendiri cukup berangin. Malah kalau sore anginnya cukup kencang. Untung saja kami kesananya pagi hari, soalnya bawa bayi, kan repot kalo angin kencang pasirnya kemana-mana. Angin sepoi-sepoi ditambah udara saudi yang kering (jadinya gak bikin gerah dan gak keringetan) menjadikan suasana piknik jadi enak. Bayi saya pun gak rewel sama sekali.

Anak saya yang sulung (Abil, 3 tahun) tadinya juga rewel banget dalam mobil. Tapi begitu diajak turun dan mulai mendaki bukit pasir, langsung melesat bak anak panah. Seneng banget deh. Menikmati sekali memainkan pasir dengan tangannya. Saat dia sudah capek berlarian ke sana kemari, dia duduk-duduk di saja sambil mengaduk-aduk pasir dengan tangan.

Selama ini Abil seringnya memang hanya diajak ke pantai dan gunung (dulu di Jakarta sering diajak main ke puncak). Jadi kemarin cukup ribut bertanya sana-sini seputar padang pasir ini. Kalo liat pasir sih dia udah sering, tapi mungkin agak heran dengan jumlahnya yang segini banyak dan luas. Dia juga sering sih liat padang pasir dari dalam mobil. Setiap perjalanan keluar kota pasti papasan dengan padang pasir.

Jalan-Jalan Saudi

Sayangnya, di sana tidak ada unta. Kan pengennya bisa sekalian jalan-jalan naik unta. Unta sendiri memang bukan hewan bebas di Saudi. Adanya cuma di peternakan unta dan sekitarnya. Kota Badr termasuk kota yang seret air, makanya tidak banyak (bahkan mungkin tidak ada) peternakan unta ditemukan. Abil juga sudah ribut mencari unta, dia sudah mulai mengerti padang pasir identik dengan unta. Lumayan deh, Abil jadi nambah perbendaharaan ‘alam’ yang pernah dikunjungi.

Jadinya jalan-jalan Arab Saudi kemarin sebagian besar diisi dengan berfoto-foto saja sambil sesekali saya menemani Abil main pasir.

Saat kami ke sana, tidak ada satu orang pun di gurun tersebut. Mungkin lebih seru kalau ke sana rame-rame, biar anak-anak juga puas bisa bermain dengan teman-temannya. Ternyata jalan-jalan ke gurun enak juga, tidak sepanas yang dibayangkan, masih sangat tolerable lah. Apalagi untuk orang-orang tropis seperti kita yang asli Indonesia ini.

Pasirnya juga adem, kalau kita injak bergerak sedikit saja tidak beterbangan kemana-mana, tidak perlu pake cadar atau penutup muka deh pokoknya. Dijamin tetep kece saat acara pikniknya udah selesai, cuma mungkin kacamata item sih wajib banget tuh.

Peperangan dalam Islam Padang Badar

Wisata lain dari Arab Saudi bisa dilihat di postingan yang ini :

Baca : 5 Wisata Lain di Arab Saudi SELAIN 2 Kota Suci Makkah dan Madinah

***