Yang Gugur … Akan Selalu Kembali Bersemi

Di hampir semua daratan Eropa, musim gugur tengah merekah. Daun-daun mulai terhempas ke tanah, angin kencang melanda hampir tiap hari, udara dingin mulai menyapa. Bbrrrr….

Tak Peduli Musim Apa, Kehidupan seorang emak ya gitu-gitu aja hihihi

Memangnya kenapa kalau musim gugur? Enggak ngaruh!

Iya, kan? Mau musim hujan, musim kemarau, musim gugur, musim kawin sampai musim duren, seorang ibu tetaplah seorang ibu :D. Yang tiap hari harus sibuk mengurusi ranah domestik kasur-sumur-dapur plus kehidupan sosial di luar rumah.

Saya ingat cerita seorang teman, sesama emak-emak yang juga gemar mencari peruntungan dari hobi menulis. Dalam blognya dia bercerita ingin  menghadiri suatu event yang kebetulan juga mengadakan lomba live tweet.

Beneran, lho. Si emak ini nekat menggotong notebooknya ke acara. Dia kurang nyaman kalau harus mengetik dengan frekuensi tinggi dan cepat jika hanya menggunakan ponsel. Sama seperti saya, dia juga tak bisa jauh-jauh dari notebook dalam urusan menulis. Sekadar update status di media sosial pun, ponsel tetap dibebastugaskan.

Sudah terbayang repotnya itu menenteng tas gede ke mana-mana. Kalau saya, mungkin sudah ogah duluan. Enggak apa-apa, deh, kalau disangka lebay soal penampilan. Ya, namanya juga perempuan.

Saya punya satu tas favorit. Ukurannya lumayan besar. Sayangnya, tak bisa digunakan untuk  benda-benda berat seperti notebook yang saya pakai sekarang. Walau tak modis-modis amat, soal tas selalu menjadi perhatian tersendiri :).

Penampilan tak bisa dipandang enteng. Mood saya juga kadang tergantung outfit, euy :P. Bagi perempuan, tak ada kata mati gaya ;). Saya pribadi menganggapnya lumrah. Asal dalam batas kewajaran. Ingat, modis tak selalu berarti mahal.

Di Rumah? Tak Kalah  Hebohnya

Jangan salah, seharian di rumah juga ada saja yang harus dilakukan. Selain aktivitas rutin di ranah domestik, anak-anak kadang ingin terus ditemani. Harus pintar-pintar mengakali agar mereka tidak rusuh saat saya tengah dikejar deadline dalam urusan tulis menulis.

Seringnya, kedua anak saya ditemani bermain sebentar dulu. Tak lama, dilepas bermain berdua juga tidak masalah.

Tapiiiii…sering juga, begitu melihat saya duduk depan mengetik depan notebook, langsung cari perhatian. Kalau dibiarkan duduk bareng depan meja, bisa keenakan mereka pakai notebook.

Jadi, saya ajak notebook-an di atas sofa.

Pegel -_-. Notebook tebal dan berat
Pegel -_-. Notebook tebal dan berat

Kalau di atas sofa, nanti pelan-pelan diarahkan untuk bermain yang lain dan mandiri. Kadang lumayan lama, kruntelan sama-sama di atas sofa. Kalau saya sukses mengalihkan perhatiannya ke hal lain, saya bisa curi-curi kesempatan menyelesaikan tulisan.

Notebook saya taruh di atas paha. Hadeuh, beraaat -_-. Pegal kalau lama-lama. Kalau sudah pegal, kembali notebook ditaruh di lantai. Nah, sama seperti kalau ditaruh di atas meja, kalau di lantai, anak-anak suka keenakan. Bisa gagal ini acara mengejar deadline. Deadlinenya sih tidak berarti urusan per-duit-an semata.

Kadang, menulis ringan saja bisa jadi deadline buat saya hahahaha :p. Si Lebay satu nih *toyorKepalaSendiri*.

bertiga final

They Don’t Always Happen When You Ask 🙂

Sudah kurang aktif apa kita sepanjang hari. Kesempatan pun telah kita terabas. Peralatan tempur sudah paling kece. Luar rumah, dalam rumah, hajar bleh!

Namun, kadang…hari sudah hampir usai. Usaha kita seolah tak terbayar.

Entah tulisan gagal diselesaikan. Yaeyalah, facebook-an melulu, kali. Hahaha. Entah anak-anak lagi susah disuapi, jadi makin susah mau menyelesaikan tulisan yang kepepet untuk lomba blog yang deadlinenya sudah mepet.

Iya, dengan semua usaha keras yang telah dikerahkan, rencana tak selalu terpenuhi. Tapi apa iya, semua keinginan harus terkabul?

Sekalian saja minta sepanjang tahun adalah musim semi kalau begitu :D. Tapi, ingat. Cantiknya musim semi tak akan terasa tanpa meranggasnya daun-daun di musim gugur. Hangatnya mentari musim panas tak akan ditunggu-tunggu bila tak ada salju yang membuat kita menggigil di sepanjang musim dingin.

Bila hari telah di ujung malam, taruh rapi-rapinotebook di atas meja kembali. Tutup notebooknya. Saatnya istirahat. Bukan berarti kita menyerah dan keberanian sudah menguap.

Courage doesn’t always roar. Sometimes courage is the quiet voice at the end of the day, saying, “I will try again tomorrow.” -MA Radmacher-

Kita sudah melakukan yang terbaik hari ini.

Istirahatlah. Masih ada hari esok ;).

Seperti hujan yang pasti akan berhenti, badai yang akan berlalu, daun-daun yang gugur pun akan kembali tumbuh di musim semi nanti :). Begitulah kehidupan sehari-hari akan terus berputar. Jangan terlampau terpengaruh saat cobaan yang menghampiri. Katanya sih, “Every cloud has a silver lining.” Setelah kesedihan akan ada kebahagiaan.

Lagipula, apa serunya jika semua yang kita mau langsung terwujud?

Bersyukurlah karena kita tidak memiliki semua yang kita inginkan, karena jika iya, apalagi yang hendak kita cari? -dailynomous-

***

Pay It Forward!

Melewati bangku SMA dengan nilai asoy, begitu kuliah saya syok masuk Fasilkom-UI.

Alamak, mau mati waktu di lab saya ketahuan tidak tahu cara menyalakan komputer di lab saat masa orientasi. Senior yang jadi tutor juga enggak tanggung-tanggung, langsung berteriak kencang-kencang, “Wooiii, ada yang enggak tahu cara nyalain PC. Dari daerah kamu, yaaaaa…”

Saya pernah, kok, pakai PC sebelum kuliah. Diajarin adik saya yang tinggal di rumah Om di Jakarta . Tapi, dasar katro. Saya pikir semua tombol power ya pasti bulat dan pokoknya kelihatanlah. Di lab, tombolnya berbeda. Enggak timbul. Hanya diberi garis membentuk kotak. Mana gue tahuuuuuuu huhuhu *pukPukDiriSendiri*. Masih saya ingat sampai sekarang senior yang membuat eike ingin ditelan bumi siang itu. Hahaha. Awas lu, yak 😛.

Waktu disuruh mengisi semacam kuisioner ada pertanyaan, “Bahasa pemrograman apa yang pernah dipelajari?” Saya tulis, “Word.” Hahaha. Lebih malu pas tahu sebelah saya, teman dari Cilacap yang sangat fasih bercerita mengenai bahasa pemrograman yang dia pelajari saat SMA. Basic sama Pascal kalau tidak salah yang dia sebut-sebut. Oh God, apaan, tuh? Hahaha.

Saya berani mencontreng Fasilkom hanya demi iming-iming, “Jurusan komputer itu masih jarang. Kalau lulus cepet dapat kerja.”

Nekat kuadrat. Enggak tahu sama sekali bakal belajar apa di sana. Wong, teman-teman SMA saya juga bingung, “Kenapa masuk komputer? Kursus saja kan bisa?”

Disangka bakal belajar mengetik kali di Fasilkom. Hahaha. Tahun 90an, di universitas negeri kota saya mana ada jurusan Informatika. Di sekolah-sekolah negeri, padahal sekolah saya lumayan hits di salah satu kota paling besar di Indonesia Timur itu, sama sekali tidak ada pelajaran menggunakan komputer. Adik saya, yang SMPnya hengkang ke Jakarta, malah lebih jagoan menggunakan PC daripada saya waktu itu.

Selalu juara kelas waktu SMA, menghadapi perkuliahan yang asing, benar-benar sempat membuat putus asa. Untung, ada teman dari Medan yang semangat belajarnya tinggi banget. Miriplah kita. Pengetahuan tentang programmingnya juga nyaris belum ada. Tapi belajarnya super gigih hihihi. Dia, nih, pahlawan saya dan beberapa teman lain melewati semester 1. Saya tentu kecewa dengan IP semester 1 yang di bawah 3. Langsung bersumpah dalam hati, “Hanya satu semester ini. Semester berikut akan di atas 3 terus!”

And…it really happened . Sempat gigit jari saat melihat teman-teman dekat di kampus yang di semester 1 semuanya memiliki IP di atas 3. Tapi garis finishnya kan belom 😀. Saya lulus lebih cepat dari (kebanyakan) teman-teman dekat dengan nilai rata-rata akhir yang tidak kalah caemnya 😉.

pay it forward
Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)

Di semester 3, saya sempat keder mau mengambil full 24 sks. Tapi kalau dihitung-hitung saya harus mengambil sebanyak itu untuk mencapai ambisi lulus 7 semester.

Nah, disitulah berkenalan dengan buku-buku semacam “Berpikir dan Berjiwa Besar” (David J Schwartz), “7 Habits of Highly Effective Teenagers” (Sean Covey) dan “Personality Plus.” Sangat cetar membahana efeknya. Ngebut dari semester 3 sampai 7. Walau akhirnya 3 sks harus terpental ke semester 8 (dammit!), sebagian rasa terima kasih saya, saya persembahkan kepada para penulis buku-buku tersebut.

Nah, mungkin karena itu yang membuat sekarang-sekarang menjadi senang menulis dengan gaya-gaya sok inspiratif. Gayanya doang sih. Hahaha. Terbawa sampai ke lomba-lomba blog hihi. Temanya apa, nulisnya pasti selalu dibumbui kata mutiara . Termasuk saat mengikuti ajang #10daysForASEAN kemarin.

Misalnya saat bercerita tentang Vietnam, mengingatkan pada Jepang. Sebelum krismon 1998, Vietnam itu siapa, sih? Hanya dipandang sebelah mata. Sekarang? Beuh!

Mirip seperti Jepang. Siapa mengira, Jepang sebagai salah satu pihak yang mengibarkan bendera putih setelah dua kotanya dihantam bom atom saat Perang Dunia II, menjelma menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia. What doesn’t kill it makes it stronger . What doesn’t turn you off, makes you brighter.

Kita juga begitu, ya, seharusnya. Harus selalu mampu bangkit dari macam-macam kondisi terpuruk. Selain untuk membuktikan bahwa tantangan akan membuat kita makin kuat juga agar nanti bisa mengisahkan kembali kepada orang-orang lain. Menurut saya, begitu salah satu cara kita berterima kasih kepada orang-orang/kejadian-kejadian yang dikirimkan Tuhan untuk membuat kita bersemangat kembali. Kembali berlari di lintasan yang tadinya sudah ingin ditinggalkan saja.

Untuk setiap kebaikan yang diterima, sekuntum keberuntungan yang kita petik, kalau tak bisa dikembalikan kepada yang memberi… teruskan benihnya kepada orang lain. Pay it forward , pay it forward .

Menulis, salah satu cara untuk menebarkan semangat kepada banyak orang tanpa perlu kita datangi satu persatu. Thanks to internet, thanks to social media . Hey, FB dan twitter tidak hanya untuk pasang-pasang foto narsis saja, lho  –> sapa tuh yang semalam ganti profile pic? hahaha.

Satu menjadi seratus. Seratus menjadi sejuta. Sejuta menjadi trilyunan. Pay it forward , pay it forward , pay it forward  🙂.

pay it forward
Gambar : successinhr.com

***

Lalu, Seperti Apa Masa Tua Kita Kelak?

Saya sedang menikmati sepiring buah segar di pagi hari. Sebuah aplikasi di notebook yang sedang saya gunakan  mendadak berkedip-kedip. Saya cek. Wah, anak sulung saya menelepon. Wajahnya muncul di layar.

“Ngapain, Ma? Ngobrol bentar, Ma, sama cucu.”

“Jangan sekarang. Ada deadline.

“Ih, Oma sok sibuk,” goda anak saya.

“Iya, dong. Naskah buku ke-100. Siangan telepon lagi.”

Hubungan terputus.

Usia saya saat itu mungkin sekitar 55 tahun. Anak sulung tengah berada di New York. Si bungsu masih melanjutkan sekolah di London. Saya sendiri tinggal berdua suami di Jakarta.

Saya, yang tentu sudah bergelar nenek-nenek, tetap produktif dengan kegiatan saya. Memiliki fisik yang masih prima dan punya kehidupan sendiri. Tidak merasa perlu merecoki kehidupan anak-anak yang kini sudah tinggal jauh dari saya :).

Mengkhayal tentang  masa depan, kebiasaan sejak kecil.

Misalnya usia 10 tahun, saya terseok-seok berusaha berjalan ke kaca besar yang tertempel di sisi dinding lain. Ekstra hati-hati agar high heels ibu yang kegedean di kaki tidak membuat saya terjungkal.

Susah payah berjalan, akhirnya saya bisa melihat sendiri bayangan saya. Cengar-cengir melihat lipstik yang ketebalan. Seperti badut, euy 😀. Saya tengah membayangkan diri saya sekitar belasan tahun ke depan. Kemana-mana bersepatu hak tinggi, berdandan komplit dan berbusana anggun.

Kenyataannya? Hampir 24 tahun berlalu sejak mematut diri di depan kaca tadi … jauh panggang dari api! Hahaha.

Tanpa make-up, no high-heels, kostum santai terussss 😀

 

Technology … Beyond Our Imagination

Saya tipe konservatif for something called smartphone. Sampai sekarang, tak terbiasa dengan layar sentuh. Apalagi jika harus mengetik panjang lebar seperti hobi saya yang belakangan diniatkan menjadi profesi jangka panjang :D.

Kebanyakan ponsel yang sekarang berembel-embel smartphone tetap saya manfaatkan sebatas sms-an dan telepon-teleponan saja. Sekalian cek-cek email.

Kegiatan online lainnya tetap dilakukan melalui notebook dengan ukuran minimal 12 inchi. Kalau kecil-kecil kurang puas.Twitteran, facebook-an, semuanya via notebook.

Saya juga terbiasa mengetik dengan 10 jari. Kecepatannya bolehlah dibanggakan ;). Selain kemampuan merangkai kalimat, kecepatan dalam mengetik juga modal penting untuk profesi pilihan saya ini. Makanya, layar sentuh is out of my league :P.

Empat tahun terakhir ini kami sekeluarga bermukim di luar negeri. Berpindah-pindah dari Teheran, Jeddah hingga Athlone (Irlandia). Notebook, ya, harus ditenteng ke mana-mana.

Inginnya, kalau bepergian lama/jauh, notebook ada di tas jinjingan saya. Tapi, melihat perkakas para balita yang mendominasi isi tas, plus ukuran notebook yang ‘montok’ dan tidak ringan, notebook pun mengalah masuk koper.

Padahal, kalau transit biasanya lama. Anak-anak tidur pula. Saya enggak suka mainan gadget macam tablet dkk. Enakan mengkhayal :D. Di tempat seramai bandara, banyak ide tiba-tiba bertebaran di kepala.

Saya tipe  observer (aka kepo, hihihi). Melihat sepasang laki-laki dan perempuan mengobrol saja, sudah macam-macam yang ada di pikiran. Pacarnya apa saudaranya, jangan-jangan mereka mau kawin lari. Padahal mungkin mereka hanya berdiskusi soal jam berapa pesawat mereka lepas landas. Hahaha.

Bila bosan, saya mengomel ke suami, “Coba ada notebook. Bisa  jadi ini satu cerpen.” Ujung-ujungnya main game di ponsel. Tidak produktif banget -_-.

Padahal, profesi menulis itu, seperti keterampilan lain pada umumnya, “Makin dilatih makin terlatih.”

Kapan bisa punya notebook tipis, ya? Yang tipis mungkin sudah banyak. Harganya yang bikin galau :P.

Sementara saya masih berkhayal, beberapa produk notebook sudah meluncurkan salah satu inovasi terbarunya di tanah air, notebook tipis! :D.

Price vs Value, Komplit Tak Selalu Berarti Mahal

Harga minimalis dengan manfaat optimal selalu menjadi pilihan utama saya.  Termasuk kalau milih gadget.

Pertimbangan pertama tentu kebutuhan. Saya jelas bukan gamer. Sampai sekarang kemampuan saya mentok di tetris dkk saja :D. Penggunaan notebook hanya sebatas office basic, browsing dan multimedia. Tidak perlu kapasitas yang canggih-canggih amat.

Dari dini juga saya membiasakan diri untuk tidak hidup rempong hehe. Sebisa mungkin belajar mengerjakan semua sendiri. Di masa tua nanti, siapa yang tahu ya kita akan tinggal dengan siapa. Bukannya nakut-nakutin hehe. Rajin menabung agar di masa tua tidak ‘mengemis’ ke anak-anak dan keluarganya. Saya tak ingin anak-anak merasa wajib memberi nafkah kepada orang tuanya setelah mereka dewasa dan orang tua sudah tidak bekerja. Itu bukan tanggung jawab utama mereka :). Tapi mereka mau dan ikhlas, ya tidak masalah.

Hidup apa adanya juga penting. Kalau sudah biasa punya banyak pernak pernik, baju mesti ini itu, tas mesti lengkap, aksesoris rupa-rupa, punya perabotan mahal, makan di tempat-tempat mewah, biasanya akan terbawa hingga tua. Padahal, sekali lagi, masa depan kita siapa yang menjamin :).

Makanya, yang biasa-biasa saja dalam setiap tahapan kehidupan. Banyak uang, sedikit uang, hati tak pernah resah ^_^. Sudah terbiasa hidup sederhana di masa jaya, tentu tak susah berdamai saat (mungkin) kejayaan materi tak lagi berpihak pada kita.  Itu juga fungsinya tabungan, kan? Sebagai cadangan di masa-masa ‘paceklik’. Jika kita mujur, hingga menutup usia cadangan tak terpakai, bisa kita wakafkan kepada orang yang membutuhkan :). Selamat dunia akhirat in shaa Allah. Aamiin *khusyuk*.

 

Aktif Kini, Produktif Hingga Nanti

By failing to prepare, you are preparing to fail -Benjamin Franklin-

Masa tua dikondisikan dari sekarang. Walau umur sepenuhnya kebijaksaan Tuhan, tidak ada salahnya berharap dan bersiap.

Dengan kondisi 2 balita sekarang, sebagian besar waktu tercurah untuk mereka. Saya setuju bila menjadi orang tua adalah profesi seumur hidup. Tapi, waktu akan berjalan, situasi berubah. Perannya tetap sama, menjalaninya yang akan berbeda.

Anak-anak akan dewasa. Sedari kini, mulai saya persiapkan amunisi jika kelak Tuhan mengizinkan saya hidup lebih lama dan anak-anak telah berlabuh mejauh. Kesehatan mulai dijaga serius. Dari sekarang memperbanyak buah-buahan dan sayuran dalam konsumsi harian. Tak ingin menjadi penghalang anak-anak jika mereka ingin melangkah lebih lapang.

Dipilihlah profesi yang bisa dicicil-cicil dari sekarang dengan waktu dan sikon yang ada, yang kira-kira bisa bertahan hingga usia tak muda lagi, di suatu hari nanti :). Kebetulan ketemu hobi yang dirasa pas, menulis :).

Menulis, keterampilan yang harus terus dilatih. Practice makes perfect. Sebagai salah satu penunjang, kemajuan teknologi yang makin gila-gilaan tidak boleh disia-siakan.

Makin aktif menulis, terus produktif hingga akhir.

Gambar : geeksugar.com

 

Sementara, tetaplah berkhayal. Siapa yang tahu, ada kejutan/inovasi apalagi dari teknologi nanti? ;).

You can never be too rich or TOO THIN -Wallis Simpson-

 

***

Jalan-jalan Irlandia di Clonmacnoise

Sekarang … cerita jalan-jalan Irlandia, duyuuuuu :P. Versi blognya, nih. Sejak suka mengirim tulisan jalan-jalan ke media, suka malas update blog Mama Sejagat. Padahal, cerita jalan-jalan Saudi lumayan komplit. Mau rajin lagi, nih, ceritanya *senyumImutImut*. Update dimari dulu jalan-jalan Irlandia, kalau sempat,  copy ke Mama Sejagat :D.

Clonmacnoise ini, salah satu tempat wisata pertama yang saya jajal saat baru tiba di Athlone. Tahu tempatnya ya dari Mbah Google :P. Clonmacnoise letaknya cukup dekat dari Athlone. Enggak sampai sejam jarak tempuh dengan mobil.

Jaraknya sih cuma 21 km, tapi medannya…beuh! Sempit bener jalan-jalannya. Agak kagok Pak Supir yang terbiasa nyetir di jalanan Saudi yang bak lapangan bola (saking lebarnya  maksudnya). Ajaibnya lagi, di lebar jalan minimalis begitu, kecepatan maksimum dipatok 100 km/jam *ngelapKeringat*.

Tapi deg-degan semasa di perjalanan, terbayar lunas dengan pemandangan cantiknya.

Jalan-Jalan Irlandia
Sang Negeri Zamrud, Irlandia

Waktu baru datang, kita enggak tahu pintu depannya yang mana. Jadi, asal masuk saja. Sempat bingung, kok kuburannya modern amat. Ternyata, situs monastik Clonmacnoise ini, memang sebelahan dengan kompleks makam benerannya orang-orang Irlandia di masa kini.

Untung ada jalan tembusnya. Dulunya, di sini ada kompleks biara katolik yang dibangun sekitar abad ke-10. Yang tersisa sekarang hanya tinggal puing-puingnya saja. Ada reruntuhan katedral yang berukuran paling besar diantara sisa-sisa bangunan kuil lainnya.

Di Clonmacnoise ini juga ada areal pemakaman dari masa lampau. Semacam makam orang-orang penting dari masa itu. Dan tentunya… penganut agama katolik semua. Nisannya tidak berbentuk tiang tapi melekat pada tanah. Agak repot menjaga anak-anak agar tidak seenaknya berlari di atas nisan. Padahal di mayoritas kastil di jalan-jalan Irlandia biasanya selalu saja ada makam dan  semacamnya.

Jalan-Jalan Irlandia

Setelah sok-sok menjelajah padahal mencari spot yang bagus untuk foto-foto , kami akhirnya memaksa anak-anak foto bareng di atas pelataran padang rumput yang agak lowong menemani anak-anak bermain di padang rumput.

Ah ya, di tempat ini jangan heran jika menemukan banyak batu-batu salib berukuran besar dan tinggi. Istilahnya, High Crosses.

Jalan-Jalan Irlandia

Terus, pas nyari-nyari toilet, baru nyadar. Ternyata, kami tidak masuk dari pintu depan. Di pintu depan, ada bangunan “Visitor’s Center” Nah, di bangunan ini tidak cuma ada kamar kecil. Juga ada kafetaria yang menjual roti-rotian, muffin, coklat-coklat, kopi dan teh hangat.

Lebih senang lagi pas tahu ternyata ada museumnya, Kakaaaa… Harusnya kita ke museumnya dulu dan melihat-lihat mengenai sejarah tempat ini sebelum bengong-bengong di reruntuhan kuil dan bertanya-tanya, “Ini dulunya tempat apa, sih?” Hahaha.

Museumnya enggak garing, lho. Enggak cuma ada tulisan-tulisan dan prasasti-prasasti antik. Ada miniatur-miniatur bangunan dan kegiatan-kegiatan yang pernah ada di tempat ini saat kompleks Clonmacnoise masih berjaya sebagai pusat penyebaran agama Katolik di kala itu. Anak-anak sepertinya lebih tertarik kalau bentuknya lebih “hidup” begini, ya. Kalau tulisan-tulisan saja ya pasti cepat bosan.

Jalan-Jalan Irlandia

Btw, Clonmacnoise ini tenar banget sebagai salah satu situs wajib di daerah midland untuk para turis asing. Letak padang rumput Clonmacnoise adalah di salah satu pesisir Sungai Shannon yang juga membelah Kota Athlone. Waktu ke sana, ada satu bus besar yang membawa rombongan turis dari luar negeri.

Tenaaaaaaang, masih banyak cerita jalan-jalan Irlandia lain dari Sang Negeri Zamrud ini ;). Wilayah midland hanya satu dari 5 region yang ada di Republik Irlandia. Mudah-mudahan enggak malas lagi, yak, hehehe.

***

Tentang Jodoh : Until Both Your Head and Your Heart Say “Yes”

***

“Ganteng ya, Je?”
“Iyeeee…”
“Orangnya juga baik…”
“Sip.”
“Tapi… gak sreg. Anak D3.”

Salah satu sahabat saya, penuh warna kisah cintanya.

 

Mantan kekasih rasanya sudah oke (hampir) secara keseluruhan. Pendidikan, materi bahkan konon, orangnya juga penyayang dan lucu banget. Sayang…posesif tingkat tinggi. Teman saya benar-benar tidak nyaman. Hubungan bubar.

Yang kedua, kurang asyik diajak mengobrol. Cuma sebentar, putus lagi.

Nah, ada satu yang sebenarnya sudah cocok. Secara fisik dan karakter juara lah. Kalau istilah dia, sudah ‘click’. The problem is … yang ini hanya lulusan D3, sudah bekerja, sih. Tapi penghasilannya di bawah penghasilan teman saya. Teman saya ini perempuan.

Karena dia bertanya kepada saya, ya saya jawab jujur, “Kalau gue, enggak akan gue lanjutin.”

“Siapa tau nanti dia pindah kerja dan menjadi konsultan kayak gue.”
“Apa kira-kira ada tanda-tanda ke arah itu?”
“Mmm…”

Saya dan teman saya sama-sama orang IT. Tahulah seluk beluk bekerja dan penghasilan kalangan profesional IT. Kami tahu pasti, tanpa keajaiban, pasangannya yang bikin gundah itu, kariernya tidak akan ke mana-mana. Secara orangnya juga enggak tertarik mengembangkan karier lebih jauh. Tidak ada plan untuk berganti pekerjaan. Tipe santai kayak di pantai.

Padahal teman saya, walau tak terlalu ambisius, punya karier yang bagus dengan penghasilan mumpuni.

Teman saya sering menuduh saya matre. Saya sih selalu tertawa kalau dia bilang begitu dan menjawab sok bijak, “Gue realistis.”

Untuk saya, kesetaraan dalam memilih calon pendamping sangat penting. Laki-laki egonya lebih tinggi. Sudahlah, jangan dilawan apa yang sudah menjadi ketetapan Sang Pencipta .

Pernikahan itu bukan pertemuan sekali seminggu. Bukan janjian makan di resto mahal dengan masing-masing selalu berpenampilan ciamik. Hal-hal yang kita abaikan di masa kini suatu hari bisa menjadi hal besar.

Mungkin, orang lain punya prinsip yang berbeda. Monggo saja. Ini rule-nya masing-masing la yah . Sederhana. Untuk saya, cinta tak pernah buta 🙂. Yoih, ini tulisan tentang jodoh gitu-gitulah.

***

Posisi kami berdua, saya dan teman saya tadi, agak mirip. Selepas kuliah, rasanya sudah cepat-cepat mau kawin saja. Kalau dia, tak tahan dengan desakan keluarga. Kalau saya, bercita-cita punya anak umur 17 tahun di usia 40. Hahaha.

Kalau urusan taksir-taksiran, tak ada kriteria tertentu. Yang mana yang nyaman dilihat, pasti masuk list hehehe. Tapi, untuk berinteraksi lebih jauh, biasanya patuh pada rule “suit for both logic and feeling.”

Ukuran logika kan luas, ya. Pendidikan hanya salah satu. Karakter juga penting. Walau sedih saat harus memutuskan hubungan dengan pacar pertama dulu di bangku kuliah (padahal sudah diplot, pertama dan terakhir, lulus langsung merit), belakangan saya sadar sendiri. Sifatnya yang terlalu introvert tapi bossy terlalu jauh bertentangan dengan saya yang ekstra extrovert dan sayangnya … juga pantang mengalah .

Saya sih malas membuang waktu. Secara fisik cetarrrr, dan hati pun rasanya ‘click’ kalau logika saya melawan, tak akan saya lanjutkan. Begitu pula sebaliknya. Bertemu yang mantap tapi tak ada getaran dalam hati *tsaaahhh*, biasanya enggak lanjut.

Tak menjamin juga bila rasanya sudah cocok lahir batin, atas bawah, kiri kanan, masa-masa pernikahan bisa lancar jaya. Mitos banget itu mah 😛.

Untuk pernikahan saya sendiri, walau terbangun dari rasa saling meyakini yang nyaris 100%, tak lepas dari macam-macam prahara *astagaBahasanya* . Berantem dari model “Males ah ngomong sama elo” sampai taraf “Pulangkan saja aku pada ibuku” … semua sudah pernah. Hahaha.

***

Katanya, jodoh di tangan Tuhan. Benar. Tapi, tak sedikit yang teman-teman yang jomblo (apalagi kalau perempuan) yang gelisah justru karena lingkungan.

Saya sempat kaget, ketika salah satu teman akhirnya menikah. Feelingnya sudah gimana gitu. Benar kan, tak lama, dia bercerai. Sudah punya anak pula . Belakangan saya mendapat kabar (ocip-ocip dikit :P), dia menikah karena tidak tahan atas desakan orang tua.

“Don’t let marriage be your social alibi. Do it out of love.”

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=GMJjQpqIHbE]

Aku menikah denganmu karena cinta pada Allah itu juga tidak salah. Tapi ya, kita ini manusia yang diciptakan dengan perangkat hati yang lengkap. Cinta pada Allah juga berarti menghargai diri sendiri dan masa depan kita sebagai salah satu satu ciptaan Allah dong, ya .

Untuk saya, agama yang saya anut itu menyenangkan, kok . Rasanya tidak ada aturan yang bilang, “Kalau kau perempuan dan usiamu sudah di atas 30 tahun, siapa pun yang melamarmu, sikat saja” .

Pernikahan tidak hanya akan menyangkut anda dan pasangan anda. Suatu hari akan lahir buah-buah cinta. Kalau akarnya dari awal sudah goyah, bagaimana mau melahirkan dan merawat tunas-tunas yang terbaik .

Pertimbangkan matang-matang. Secara agama dengan tidak membuang jauh-jauh pertimbangan pribadi .

***

Konon, sehabis lebaran haji disebut-sebut sebagai musim kawin. Hihihihi. Kalau masih sendiri dan akan mengakhiri kesendirian di musim kawin ini saya ucapkan selamat menempuh hidup baru .

Namun, bila musim kawin tahun ini belum berhasil menjadi milik kalian, santaii saja. Bila diberi umur panjang, masih ada musim-musim kawin di tahun mendatang ;).

Hang on there, Dears . Enggak usah serabutan, dengan syarat tunggal, “Yang penting laki-laki.” Hehehe. Kalau ada yang nyinyir, niatkan sebagai sarana ibadah. Kesabaran memang berat tapi pahalanya tidak main-main.

Kalau pun seseorang telah hadir. Setidaknya … tunggulah. Wait until both your head and your heart say “Yes” 🙂.

tentang jodoh

***