Waktu mudik liburan tahun 2012, anak-anak diajak ke Taman Safari ^_^. Nabil yang heboh sendiri. Narda belum terlalu tertarik. Malah bosan, kali. Soalnya lihatnya dari dalam mobil saja.
Giliran diajak ke Pet Farm pas liburan musim panas tahun ini, Narda yang lebih pecicilan :D. Nabil ini agak mirip mamanya, ya. Penakut boooo hahaha. Saya sempat takut-takut mau dekat-dekat dengan sekumpulan Llama yang lagi bermalas-malasan di atas rumput :P.
Ke mana kita di jalan-jalan Irlandia kali ini?
Namanya Glendeer Pet Farm. Cuma menyetir 15 menit dari apartemen. Tempo hari, kita nyewa mobil gitu pas akhir pekan. Libur panjang 3 hari. Salah satu harinya kita manfaatin ke Pet Farm ini, buat nyenengin para bocah :P.
Sayang nih tempatnya enggak gratis *bibiGoberModeOn* :P. Tiket masuknya sama, 8 euro baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Under 18 months are free ;).
Pintu masuk langsung menuju ke kafetaria. Beli karcis masuknya ya sekalian di kasirnya. Setelah membayar, anak-anak diberi dua kantong kertas berisi makanan (semacam biji-bijian) yang bisa diberikan langsung kepada hewan-hewan nanti.
Dari kafetaria, masuk pintu satu lagi menuju areal peternakan. Langsung ketemu kandang-kandang burung. Termasuk si Burung Unta yang langsung bikin anak-anak keder. Emaknya apalagi hahahaha *ngakakGrogi* :P.
Akhirnya suami saya yang memberi makan ke si Burung Unta yang kayaknya sejak kita masuk sudah harap-harap cemas di pinggiran pagar pembatas.
Anak-anak lebih tertarik melihat anak-anak kambing dan domba di kandang seberangnya. Soalnya ukurannya mungil-mungil kali, ya hehe.
Seekor anak kambing menyelinap keluar kandang. Mungkin enggak sabar pengin ngemil. Soalnya dalam kandang banyak anak kambing/domba yang ukurannya lebih gede, jadi si doi kagak kebagian melulu hihihi.
Awalnya Narda hepi-hepi aja. Eh, si anak kambingnya ngintilin melulu. Narda jadi bete sendiri lama-lama :D.
Setelah melewati jajaran kandang-kandang tadi, ketemu padang rumput yang enggak terlalu luas. Nah, di sini para Llama yang duduk bergerombol. Seperti yang saya bilang tadi, saya mah takut, yak, jadi berdiri aja di pinggir-pinggir :P.
Narda yang langsung menghambur ke sana. Nabil, setelah memastikan Narda baik-baik saja, baru ikutan ke sana hahaha. Aduh, ini yang kakak yang mana sih? -_-
Terus, kita menuju kandang yang bentuknya indoor. Dalam ruangan tapi gede juga, lho. Ruangan pertama ada sekat-sekat yang isinya macam-macam hewan. Rata-rata bayi. Dari little piggies, anak ayam, sampai puppies ^_^.
Tapi anak-anak lebih senang ke ruangan satu lagi. Ada indoor playground. Setelah puas main perosotan gede, mereka main di kotak pasir. Kotak pasirnya seru juga. Lengkap pula mainannya.
Agak lama nih ngebujukin mereka mau keluar dari sana.
Keluar dari ruangan tadi, ketemu padang rumput yang lebih luas lagi. Di sisi kiri jalan setapak yang kami lewati, ada kandang bebek dan angsa. Ribut lagi, deh, Nabil-Narda ngasih makan ke mereka.
Berasa dikerubutin fans saban ngelewatin kandang-kandang hewan, ya hehe. Bebek-bebeknya berisik banget minta perhatian. Apalagi waktu dilemparin makanan.
Pas mengitari padang rumput yang ada sapi-sapi besar, kerbau dan kuda-nya ini, anak-anak sudah keburu melihat outdoor playground di ujung jalan. Mereka sudah tidak peduli melihat hewan-hewan yang kami lewati. Sudah enggak sabar pengin ke taman bermain.
Sempat, sih, di kandang ayam, mereka heboh lagi. Soalnya ayam-ayamnya dilepas dan langsung mengerumuni kami begitu kami mendekat. “Feed us, feed us, feed us!” gitu kali ya maksud celotehannya hehehe.
Petualangan jalan-jalan Irlandia edisi ini pun berakhir di taman bermain terbuka yang lengkap dengan macam-macam permainan. Sudah capek juga. Sementara anak-anak malah berasa keisi lagi baterainya. Lari-larian ke sana kemari.
Agak grogi juga saya. Soalnya kawanan Llama juga berkeliaran ke dalam taman bermain *ngelapKeringat*. Penakutnya enggak nanggung-nanggung, euy hahaha.
Terus, ada semacam flying fox kecil-kecilan di salah satu sisi taman. Eh, namanya apa, sih? Bener gak, flying fox? 😛
Yang berani dan minta naik berulang kali malah Narda. Nabil, cukup nyobain sekali, kayaknya kapok hihihi. Mau naik lagi tapi minta dipegangin :P.
Beda sama bocah yang satu ini ^_^. Liatin, tuh, berani banget terjun sendiri. Dia malah ogah kalau dipegangin ;). Nyengirnya maksimal banget :D.
Pas sudah kelihatan lapar dan bosan, kami kembali menggiring anak-anak ke kafetaria. Makan siang di sana. Tempatnya ada yang di luar. Karena bawa bekal sendiri :P, tengsin kalau makan di dalam. Kita pun memilih duduk di luar.
Kafetaria hanya menyediakan semacam sandwich dan aneka muffin. Mana kenyang la yaoww hehehe. Dengan pertimbangan yang ini juga, si mama rela, deh, sibuk bikin bekal saban kita jalan-jalan ke luar :). Kecuali ke Dublin yang jelas-jelas banyak rumah makan yang bisa kami jadikan pilihan untuk makan siang ;).
Sekian liputan jalan-jalan Irlandia kita kali ini. Jangan bosan dulu. Koleksi tempat lain yang sudah kami datangi lengkap dengan foto-fotonya masih buanyaaaakkkk *ngakakButoIjo* 😀 😀 :D. See you from Glendeer Pet Farm Irlandia ^_^
Food Combining? Apaan, tuh? Teori dasar tentang Food Combining cek di sini dulu :). Pengantarnya mungkin sedikit gengges di sana tapi ya sudahlah yaaaa hihihihi :D. Nama pun Ratu Drama disindang :P. Sekarang kita bahas cara membuat semur tahu kacang merahnya, deh.
Nah, kalau sudah dari link di atas pasti familiar dengan istilah “Kombinasi Makanan Serasi.” Inilah salah satu ciri khas pola makan ala “Food Combining” . Dengan memperhatikan sistem pencernaan dan enzim-enzim yang membantu prosesnya, FC meyakini bahwa sebaiknya karbohidrat dan protein hewani tidak disantap di waktu yang bersamaan.
Kalau pun belum sanggup seideal itu, minimal jumlahnya JANGAN sama atau hampir sama banyaknya. Misalnya, mulailah dengan sepiring nasi dan sayuran melimpah plus SETENGAH POTONG ayam goreng. Ingat, setengah saja, jangan malah ditambah menjadi 3 potong! hihihihi *ngikikRakus*. Sambelnya saja yang ditambah :P.
Kondisi ideal Food Ccombining, menu karbo ya menu karbo dan menu protein hewani dipisah dari karbohidrat. Dan kedua jenis menu tentu tetap harus berpasangan dengan sayur-sayuran yang sebisa mungkin segar. Kalau pun masih makan yang tumis-tumis dan rebus-rebus ya masih terbilang dimaafkan ;). Kayak judul lagu, “Pelan-pelan sajaaaa…”
Protein nabati bagaimana? Kalau yang ini boleh dijodohkan dengan karbo maupun protein hewani. Jadi, kalau orang Indonesia mah enggak usah heboh, ya. Tinggal ganti ayam goreng dkk dengan menu-menu dari tahu atau pun tempe ;). Alternatif protein nabati lainnya adalah…jamur :). Tetap sedap dong, ya ;). Resep food combining kali ini akan membahas tahu-tempe :D.
Tahu-tempe enggak ada matinya. Mau digoreng enak, dikukus nyam-nyam, ditumis boleh, dibalado hayuk, apalagi disemur ^_^. Ini dia cara membuat semur tahu yang ternyata enggak susah sama sekali ;). Resepnya saya lihat dari sini, dari situs Kecap Bango :D.
Karena bahan-bahan di Athlone ini cukup terbatas, jadi cara membuat semur tahu ini saya sesuaikan saja. Rasanya tetap enak walau tanpa daun salam dan bunga kecombrang (ini apaan sih ngomong-ngomong? Hihihi).
Nah, ini si Semur Tahu Kacang Merah versi Mama Jihan yang kemampuan memasaknya memang sangat tergantung pada Google hahahaha … *Google Masterchef :P* :
Semur Tahu Kacang Merah
Terus ya, biar si kecil mau makan, cabe hijaunya saya pisahkan. Tidak saya tumis bareng. Soalnya anak saya yang nomor 2 ini enggak tahan dengan yang pedas-pedas. Kalau abangnya mah sudah jagoan dia hahaha :D.
Kalau menu dengan rasa cukup ‘tajam’ seperti ini usahakan untuk disantap dengan sayuran segar :). Saya biasanya dengan potongan tomat dan timun segar :D.
Ingat, ayam – telur – bebek – daging sapi / kambing – dan aneka protein hewani lainnya sebisa mungkin diumpetin dulu hihihi. Enak koook si semur ini tanpa kehadiran mereka.
Cukup disantap bersama sepiring nasi plus sambal dan potongan sayur segar tadi. Tempo hari karena ada seledri, saya tambahin deh potongan seledri segar. Nyam-nyam-nyam :D.
Eh tapi, si semur yang ini juga cocok dijadikan menu protein hewani. Nasinya digeser diganti dengan telur rebus juga boleh. Kan enak juga, tuh :D.
Untuk menghindari mulut yang enggak bisa setop saat ngunyah yang anget-anget pedas manis plus sambel ini hihihi *tunjukDiriSendiri*, mengunyahnya harus pelan-pelan dan lama ;). Yap, dengan mengunyah seperti ini selain akan cepat terasa kenyang, juga akan memudahkan tugas si sistem cerna kita :). Mari dicoba ya resep food combining yang ini :D.
Teman saya ini berasal dari keluarga cukup berada. Dari lahir, ke mana-mana sudah naik mobil :D. Tak cuma mobil, lengkap dengan supirnya :).
Keluarganya berasal dari Tanah Minang. Sang Ayah sukses meniti karier hingga akhirnya menjadi kepala cabang sebuah Bank Negara yang dulunya cukup popular. Ayah dan ibunya menghabiskan tahun-tahun penempatan pertama di Pulau Sulawesi. Dari Gorontalo, Manado hingga Bitung.
Teman saya sendiri lahir di Yogyakarta. 4 tahun masa awal kehidupannya dihabiskan di Muntilan. Lalu berpindah ke Pamekasan dan akhirnya ke Nganjuk sebelum pindah ke Jakarta di tahun 1994.
Selain fasih berbahasa Minang, dia juga cukup piawai berbahasa Jawa. Malah waktu kecil sampai bisa berbahasa Madura segala hehehe.
Di Pamekasan, dia cerita kalau dari arah jalan raya, rumahnya tidak kelihatan. Iya, tidak kelihatan, saking luasnya pekarangannya hehehe. Rumah dinas kepala cabang tempo dulu memang lumayan ‘wah’. Saking gedenya itu rumah, garasi mobil terletak di bangunan yang berbeda dari bangunan utama.
Di Nganjuk juga tinggal di rumah dinas yang serupa. Rata-rata bangunan lama yang memiliki atap tinggi dengan ukuran yang luas dan dibangun di atas tanah yang tak kalah gedenya (untuk ukuran rata-rata rumah sekarang).
Sebagai petinggi bank, pergaulan orang tuanya kala itu selevel dengan orang-orang Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah). Mulai dari bupati, kepala PLN dan pemimpin-pemimpin berbagai instansi di wilayah terkait. Semacam anak pejabat kecil-kecilan gitu kali, ya hihihihi.
Rumah selalu dijaga satpam bak orang kaya di sinetron-sinetron :P. Bantuan tak pernah kurang lah. Mulai dari supir pribadi sampai asisten rumah tangga.
Anak itu anak yang sama yang sekarang menjadi teman saya yang paling akrab. Yang suka ngeyel kalau saya bilang, “O ya ampun, warna baju udah pudar begitu. Beli baru napa? Terus ya, itu jam tangan yang talinya udah rusak apa enggak diganti yang baru aja? Duh, sepatumu itu, lho. Udah mau copot lem sampingnya, beli baru wooooiiiii…”
Dia selalu nyengir, “Ngapain pakai baju bagus-bagus? Sudah ganteng begini. Kalau pakai baju bagus nanti ada yang naksir gimana? Apa siap punya saingan? Siap dimadu?” Hahaha. Cubitin dulu sampai merah :P.
Terus, “Jam tangan ngapain? Lihat aja jam di hp. Sepatu tanggunglah, tunggu rusak sekalian.”
Seorang teman yang akhirnya menjadi sahabat dan terus melaju menjadi suami hihihi. Sang suami memang berbeda dengan eike. Kalau saya lahir dan besar dari keluarga biasa-biasa (gengsi bilang menengah ke bawah hahaha), beliau sudah tajir dari kecil :P.
Tapi, waktu kenal pertama di bangku kuliah, enggak kelihatan. Pernah, sih, dia sesekali ke kampus bawa mobil. Lebih sering enggaknya. Jadi maaf ya, waktu kuliah dikau tidak masuk dalam list! Hahahaha.
The Gober(s) 😀 -2007
Saat masih bermukim di Jeddah, kita pernah ikut konvoi ke Al Hijr, mau jalan-jalan ke Madain Saleh. Waktu mengisi bensin, saya sudah peringatkan suami, “Sudahlah Bang, ngisi bensin 95 aja, yuk. Gue yakin semua pasti ngantri di sana. Jangan di 91. Diketawain lu ntar. Suwer.”
Bensin di Saudi itu level Pertamax semua, kalau enggak 91 ya 95. Harganya jelas 95 yang lebih mahal. Menurut suami, la di Jakarta saja kuat pakai oktan 88 (Premium), pakai oktan 91 enggak masalah pastinya. Lebih murah pula hihihihi.
Beneran, deh. Waktu itu hampir semua bapak-bapak ngakak kencang-kencang melihat suami yang tetap nekat mengantre di jalur 91 hahaha. Sementara semua mobil berbaris manis di jalur 95 :). Penjaga pompa bensinnya sampai ikut nyengir-nyengir. Kami pun tak protes kalau dilayani paling terakhir.
Suami saya sama sekali tidak merasa tengsin, Ikut ketawa-ketawa malah di belakang kemudi. Kalau orang biasanya kan irit ke orang lain tapi ke diri sendiri jor-joran. Nah, beliau ini ya memang dasarnya sederhana. Ke diri sendiri pun selalu berhemat sampai hal-hal kecil sekali pun.
Waktu tahu dia beli Toyota Yaris semasa di Jeddah juga saya sempat protes. “Kok malah beli Yaris? Semua pakai Civic. Beli Civic juga napa, sih?”
Suami menjawab tenang, “Ngapain beli yang mahal-mahal? Yaris juga harga jualnya bagus dan cepat laku. Kalau kita mau pindah nanti, enggak bakal ribet jual mobil.”
Benar banget, lho. Yaris biru muda yang sudah pernah menemani kami berpetualang sejauh 33 ribu km selama dua tahun terjual hanya dalam tempo 2 hari! Itu pun banyak banget yang menelepon ^_^. Malah, ada teman yang sempat mencibir suami yang disangka menjual dengan harga terlalu mahal. Voila, pembeli pertama membeli di harga penawaran pertama, kagak pakai nawar-nawar. Hidup Yaris! Hahahaha.
Hidup apa adanya memang lebih banyak manfaatnya. Ajaran agama mana pernah salah, sih? :D.
Saya tak suka makan di tempat-tempat mahal lebih karena bawaan lidah saya yang sepertinya sudah dipatok jadi lidah kampung. Sudah sampai Eropa, masih stres kalau enggak makan tahu-tempe hahaha.
Suami saya suka banget makan steak dan semacamnya. Tapi ya itu, dia tidak pernah menjadikannya gaya hidup :). Secukupnya saja. Dia pernah bilang, “Hidup ya masa dikendalikan sama perut?” ;).
Saya juga pernah tinggal bersama mertua. Wah, jadi tahu saya dari mana suami saya mendapatkan pendidikan seperti ini. Contoh langsung dari bapak dan ibu mertua :).
Bapak dan ibu mertua, bahkan hingga kini di masa pensiunnya, malah tinggal di rumah yang terbilang mewah. Lingkungannya juga cukup mentereng. Tetangga kiri kanan komplit. Mulai dari anggota DPR, petinggi Polri, petinggi BPK hingga promotor acara yang pernah sukses membawa Disney On Ice ke Jakarta ;). Rumahnya elit tapi sehari-harinya wah…jauh banget dari kata elit.
Perkakas rumah tangga seadanya. Lauk-lauk seadanya. Mertua juga tidak suka jajan. Makan di luar pun sangat pilih-pilih :). Penampilan juga tidak macam-macam.
Bapak mertua kadang suka memanfaatkan angkutan busway untuk kontrol ke rumah sakit. Kalau dipikir-pikir, apa susahnya beliau naik taksi? ;).
Papi (bapak mertua) pernah bilang, cita-citanya dari muda, tidak ingin menyusahkan anak-anak di masa tua nanti. Alhamdulillah, doa dan kerja keras beliau dijawab Allah :). Secara materi, mereka sangat berkecukupan. Ditambah pula dengan anak-anak yang mandiri dan juga diberkahi materi yang tidak sedikit. Alhamdulillah. Semoga menular ke kami nanti. Aamiin :D.
Rahasianya? Dari kecil suami saya selalu bilang tidak pernah dimanjakan. Dia cerita waktu kuliah boleh pinjam mobil (mobil tidak cuma satu lho di rumah :P) tapi bensinnya beli sendiri. Jangan harap dapat uang bensin khusus.
Dari kecil sudah diajarkan menabung. Sejak pertama kerja, fokusnya sudah menabung. Stabil banget pengeluarannya. Biasanya kan makin gede gaji makin gatal mau beli-beli untuk punya-punya.
Suami saya tidak pernah keranjingan gadget. Tapi kalau lihat properti, baru jelalatan matanya hahahaha. Senang fotografi, tapi tak pernah tergiur lensa-lensa mahal. Ada juga saya yang gemas maksa-maksa dia beli-beli lensa demi foto-foto ciamik. Toh, fotonya dipakai bininya untuk jualan gitu, lho :D.
Ya begitu deh si Paman Gober kita ini. Hahaha. Enggak di Tehran, di Jeddah, di Athlone, kesederhanaan selalu menjadi pilihan utamanya :). Sesuatu yang telah diajarkan dengan sungguh-sungguh oleh kedua orang tuanya sejak kecil. Ketika roda kehidupan memungkinkan mereka bergaya hidup kelas atas secara materi.
Tentu saja, tiap manusia punya kekurangannya masing-masing. Suami, bapak mertua dan ibu mertua juga manusia biasa yang punya sisi positif dan negatif masing-masing :).
Saya jadi malu kalau mau ikut-ikutan sok-sok beli ini itu. Malu sama suami terutama. Dia saja yang dari kecilnya secara materi berlimpah sanggup kok hidup sederhana kenapa gue yang ribut mau beli ini itu coba? hahaha *getokKepalaSendiri*.
Walau tentu saja hubungan dengan ibu mertua tak selalu mulus, saya selalu mempersembahkan rasa kagum terbesar saya atas ‘kesuksesan’ beliau mendidik para ananda tercinta dari segi yang ini. Ah, kita ini para menantu hanya memetik enaknya saja, ya, kalau dipikir-pikir hehehe. Seribu jempol untuk Mami tercinta, deh, untuk urusan ini. Doakan menantu-menantumu bisa mengikuti jejak yang sama ya, Mi. Amin :).
Bukan berarti tidak boleh kaya. Umat muslim justru harus tajir. Selain untuk melindungi diri sendiri dan keluarga agar bisa membantu sesama juga kan? ;). Tapi, ya diinvestasikan saja ke hal-hal yang tidak perlu orang tahu kalau tidak kita beritahu.
Kalau mobil mewah dan baju-baju mahal pasti akan terus mengikuti ke mana kita pergi, kan? Makin mewah makin pening. Keserempet di jalan mau mati gak tuh rasanya? Hahahahha. Baju-baju dan aksesoris mana ada habisnya? Makin banyak baju bukannya hidup tambah senang. Makin puyeng pilih-pilih kalau mau bepergian.
Dari segi materi sebenarnya pas-pasan, tapi ya mau bagaimana lagi bertahan di lingkungan, dicicillah itu sebuah mobil dan sebuah rumah sekaligus. Mobil caem, rumah keren, masa sekolah anak jelek? Lanjuuuuut.
Belum kalau akhir pekan pengin nge-mall. Masa iya tas mahal, baju bermerek, maennya ke mal ecek-ecek. Ke mal mentereng dong awwww hihihihi. Begitulah, tak akan ada habisnya :). Tak pernah datang usainya.
Saat itulah, setan mulai beraksi. Memangnya orang korupsi untuk apa? Untuk ditabung doang? Mana mungkiiiinnnnn. Untuk dipakai sedekah? :P. Ya untuk dipakai berfoya-foya :(. Beli rumah sana sini. Koleksi mobil-mobil mewah. Jalan-jalan ke luar negeri sekeluarga (eh, ini bisa gratis sih pakai uang negara hahahahaha). Kalau perlu…ya kawin lagi. Bini galak, gunakan plan B : nikah siri diam-diam atau selingkuh sekalian hehehe.
Sebagai muslim, punya banyak uang? Kudu. Gaya hidup mewah? Bukan tuntunan agama :). Lagian penting banget ya dibilang tajir? Enggak enak tauuuu. Disuruh nraktir melulu entar hahahahaha. “Baju lu mahal begitu. Masa bayarin makan di sono aja enggak ada duit, sih?” Nah lo nah lo, gimana tuh nolaknya? Hahahhahaha.
Memang, sih, tidak seharusnya ya rasa senang atau bangga disandarkan kepada materi. Karena balik lagi, enggak bakal ada habisnya. Puas habis beli tas LV model terbaru, begitu di tangan rasa puas akan terbang dengan sendirinya. Karena … Hermes juga ngeluarin produk terbaru. Lemas lagi. Pengin lagi. Hehehe.
The best feeling in the world is realizing that you’re perfectly happy without the thing you thought you needed
Sebagai alumni Jeddah, walaupun jauh dari kata fashionable, boleh dong membedah soal abaya Madinah di sindang hehehe. Di mana membeli abaya?
Abaya Arab itu apa? Langsung dikasih foto :D. Ini foto para madam di Jeddah sono hihihi. Karena abaya arab saya kurang kece jadilah saya kesampingkan hasrat narsis dengan memasang foto-foto teman-teman sajahhhh :D.
Membeli Abaya ?
Kalau yang dicari yang murah. Saat ke Madinah, langsung saja borong abaya. Salah satu tempat yang cukup terjangkau secara lokasi adalah Taiba Market.
Terus terang, saban ke Madinah, saya enggak pernah belanja-belanja. Tapi eike sukses mengulik-ngulik info dari Madam Jeddah yang doyan bolak balik Madinah. Maklum suami punya keluarga di sana ya, Neng. Kenalin Madamku yang cantik ini, Neng Niera Purnama. Punten Neng, kutulis di blog ya hihihihi.
Geulis pisan, yaaaaa hehehe. Si Eneng juga terkenal dengan abaya-abayanya yang modis-modis ;). Tak salah dong eike memilih informan eh…inforwoman harusnya ya :P.
Taiba hotel & market
Lokasinya ada di dekat Hotel Hilton dan Dar Al Aiman Intercontinental. Nama gedungnya, “Taiba Tower.” Kalau sudah masuk, langsung saja ke lantai bawah dengan menggunakan eskalator.
Begitu sampai, langsung disambut jajaran pedagang. Jualannya macam-macam, dari sajadah, baju thobe (baju laki-laki khas Arab yang bentuknya gamis dan biasanya berwarna putih itu), aneka sorban, mainan anak-anak, macam-macam penganan termasuk permen coklat, aneka kurma kemasan dan tentu saja…abaya :).
Abaya di Taiba Tower ini terkenal dengan istilah “Abaya Arba’in”. Belajar bahasa arab sedikit, yuk. Arba’a artitnya 4. Jika ditambah akhiran ‘in’ maksudnya 40. Tapi kalau satu = wahid, bukan berarti 10 = wahidin yaaaa, hahahaha. Angka sepuluh dalam bahasa arab itu = Asara :).
Balik lagi ke si “Abaya Arba’in”. Maksudnya 40? 40 riyal? Iya, Kakaaaa ^_^ *tepukTanganRameRame*. Abaya-abaya di sana kebanyakan dijual dengan harga 40 riyal saja. Kalau tak salah, di kurs terkini, 1 riyal = 3 ribu rupiah, ya.
Tidak cuma yang harga 40 riyal, sih. Konon, harga maksimal bisa mencapai 200 riyal. Nah, ini juga tergolong murah sebenarnya. Kalau di Jeddah, di jajaran Tahliya Street yang borju, membeli abaya Sehelai saja bisa mencapai ribuan riyal *sesakNapas*.
Tapi, jangan lupa. Ada harga ada rupa :P. Yang harga-harga 40-60 riyal ini kualitasnya tak begitu bagus. Ada teman yang sampai bilang, “Sekali pakai buang.” Hahaha. Enggak segitunya, kok. Mungkin karena kami di Jeddah sehari-harinya ya harus pakai abaya, makanya beli yang kualitasnya agak bagus lah ;).
Kalau hanya untuk oleh-oleh, bolehlah diborong ini si “Abaya Arba’in” hehehe. Corak dan motif juga kece-kece, kok.
Kata si Eneng, suasana belanja di Taiba Market lantai bawah itu cukup nyaman. Full AC yang jelas, sih. Kalau lapar dan haus, bisa ngumpulin tenaga dengan menikmati banyak makanan dan minuman yang dijajakan oleh pedagang-pedagang di situ. Eit, jangan belanjanya saja yang kuat, ibadahnya juga harus “pancen oye” dong, ya ;).
Pokoknya sekarang sudah tahu di mana membeli abaya :D.
Pakai (Bukan) Hitam … Siapa Takut?
Yap, abaya tak mesti hitam polos. Malah ada juga abaya yang motifnya lumayan ramai. Lihat saja madam-madam di bawah ini. Motif polkadot sampai abstrak, komplit, plit, plit :D.
Queen’s Building – Balad
Biasanya, kami, para pemukim Saudi, belinya lebih suka yang rata-rata harganya di atas 70 riyal lah. Biasanya kalau harga segini kualitasnya sudah cukup mumpuni.
Tempat favorit saya dan teman-teman ada di Queen Building’s di daerah Balad. Jadi, kalau dari Corniche Commercial Center, pusat pertokoan yang paling sering disambangi oleh jemaah umrah/haji asal tanah air, lokasi gedungnya di belakang.
Dekat lah pokoknya dari sana. Bingung eike nerangin arah, nih hihihi. Pokoknya tanya-tanya sajalah sama orang-orang sana hihi,”Fen Queen’s Building?” (Di mana Queen Building?). Sumpah booo, dekat banget dari lokasi belanja-belanja Balad yang sudah tenar di tanah air itu.
Penjual abaya ada di lantai dasar dan lantai atasnya. Kalau saya senangnya ke lantai atas itu. Modelnya buanyak banget. Sampai pusing, deh, kalau ke sana. Harganya rata-rata 120-150 riyal. Yang di luar range juga banyak, sih. Tapi, kalau saya pasti mentoknya di harga segituan ajah hihihi.
Nah, salah satu abaya arab yang pernah saya beli di QB adalah yang satu ini :D.
Bareng Tante Nel di Masjid Apung, Corniche Road
Sebenarnya di seputaran Balad, juga banyak sekali tempat-tempat menjual abaya yang tak kalah caemnya dengan harga sangat bersaing :D. Tinggal kuat-kuatnya betis saja diajak jalan-jalan tawaf di Balad :P.aja.
Eh sebelum itu, saya doakan semoga mendapat rezeki dan kesempatan untuk mengunjungi Tanah Haram :). Setelah ibadahnya dijalani, tentu saja … semoga mabrur dan selamat berburu abaya hehehehe :P.
Ini beberapa vlog saya terkait Arab Saudi, sayang dulu jarang bikin video pas masih tinggal di Saudi. Belum musim sih ya hehehe. Jadi vlognya kebanyakan berupa photo slides saja :).
Sarah Whitehead menghabiskan 25 tahun hidupnya untuk mempertanyakan perihal saudara laki-lakinya. Saudara Sarah bekerja di Bank of England dan dituduh mencuri hingga dieksekusi. Sarah syok. Tak mampu menerima kenyataan, Sarah terus mendatangi bank tersebut, menanyakan tentang saudaranya.
Karena kasihan, saat Sarah meninggal, pihak bank membayar pemakamannya yang bertempat di salah satu lokasi taman di halaman gedung. Konon, hingga kini, arwah Sarah masih sering gentayangan di gedung yang hingga kini masih berdiri dengan nama yang sama, “Bank of England.”
Kadang … enggak gampang, ya, berdamai dengan kenyataan :).
Tapi, apa pun kenyataan yang terjadi saat kenyataan yang ditunggu tak menjadi kenyataan, semoga kita enggak bakal ‘menghantui’ siapa pun untuk menuntut balas hahaha.
***
Juni 2008, saya cuti untuk melahirkan. Pertama kalinya saya memutuskan untuk membeli notebook sendiri. Ogah menggotong notebook dari kantor ke rumah selama cuti, entar direcokin kerjaan terus hahaha.
Harus cuti 3 bulan dari dunia kerja, bakal garing banget kalau harus cuti dari dunia maya pula. Mulai cari-cari.
Dalam membeli apa pun, saya menganut prinsip ekonomi yang standar. Mendapatkan keuntungan sebesar mungkin dengan pengorbanan sekecil mungkin. Standar ibu-ibu la yaaaa hihihihi 😛
Tak heran jika pilihan langsung jatuh kepada yang murah dengan fasilitas optimal.
Kalau soal spesifikasi yang lebih detail, pengguna ‘konservatif’ seperti saya memang hanya membutuhkan fasilitas standar seperti office basic, browsing dan multimedia. Tidak suka main game :D. Anak-anak juga tidak saya biasakan. Nanti saja mereka main game sepuasnya kalau sudah punya sendiri hihihi.
***
Tujuh bulan setelah anak pertama lahir, saya memutuskan untuk meletakkan karier yang sudah dibangun tanpa jeda selama tujuh tahun penuh. Untuk saya pribadi, saat itu prioritas telah berganti.
Berhenti bekerja kantoran, saya kembali menekuni hobi menulis. Frekuensi saya menggunakan notebook dalam sehari tergolong tinggi.
Kalau di rumah … saya sudah terlatih untuk membagi konsentrasi dunia nyata vs dunia maya sembari menunggu masakan matang, menemani anak makan (dengan catatan mereka tidak minta perhatian) dsb.
Kalau bosan, saat anak sulung di sekolah, saya melipir ke perpustakaan. Perpustakaan di sini nyaman banget. Juga ada satu kebiasaan orang di sini yang juga kerap saya ikuti dalam menghabiskan separuh pagi, semacam ritual morning tea.
Ada teman atau sendiri, saya tak masalah. Anak saya yang bungsu biasanya ketiduran kalau pagi-pagi didorong dalam stroller saat mengantar abangnya ke sekolah. Kesempatan, kan, untuk ‘me time‘ bersama hobi.
Saya, walau tak bisa dibilang fashionable, termasuk picky dalam penampilan. Paling malas menenteng-nenteng ransel kalau tidak untuk belanja ke supermarket.
Sebagai pendatang, saya rasa kita perlu menjaga penampilan seoptimal mungkin. Ingat, jika berada di luar negeri, kita otomatis menjadi duta dari bangsa sendiri. Kalau tampil kece bisa membuat orang lain tidak memandang sebelah mata pada bangsa kita, kan? Definisi ‘kece’ ala saya tidak selalu berarti mahal ;).
Kalau memantau orang-orang lalu lalang di luar kafe dalam mal, sering terbersit ide-ide untuk membuat tulisan.
Saya menulis nyaris apa saja. Dalam seminggu bisa menulis 3-4 artikel yang tergolong ‘serius’ dalam blog pribadi.
Setelah mulai menjajal media cetak setahun terakhir ini, hampir 20 tulisan sudah mejeng di berbagai media cetak nasional. Mulai dari cerpen, resensi buku, cerita-cerita khas ala ibu-ibu, hingga tulisan jalan-jalan…hajar, bleh! :D.
“Pesona Bumi Arab Saudi” -Majalah Colours, Garuda-
Naskah buku tidak saya hindari. Saya juga tidak mengharamkan lomba-lomba blog dari aktivitas menulis. Toh, sama-sama menulis.
Dalam sejam, tanpa gangguan, saya bisa menulis sampai 10 halaman A4. Kebanyakan memang masih non fiksi. Kalau enggak diganggu facebook, berapa halaman yang bisa saya taklukkan dalam jam-jam ‘me time‘ pagi hari itu, ya? Hahaha :p.
Kecewa Tak Masalah, Teruslah Melangkah
Bila suatu urusan telah selesai dikerjakan, apa pun hasilnya, tetaplah berjalan terus. Amit-amit kalau sampai harus menjadi Sarah Whitehead yang juga dijuluki “The Black Nun” itu *ketokKetokMeja*.
Seperti kompetisi. Pada akhirnya, kalau ternyata tidak menang, kekecewaan pasti akan berlalu. Even echoes fade away :).
Kalau perihnya sudah lewat … pen in hand … jari-jari para emak blogger kembali bersiaga di atas notebook masing-masing. Mari kembali berkarya di blog, di naskah buku, di artikel-artikel media cetak dan tentu saja … enggak kapok ikut lomba blog lagi hihihi.
Kalau pun tak di dunia jerih payah jemari kita menuai hasil, masih ada akhirat, kan? Therefore, menulislah selalu untuk kebaikan :).
Arising honestly.
The miles behind are littered with the weight of nostalgia, but too many miles lay ahead us to carry the weight. In the end, even echoes fade away.
Pen in hand…
Arising to write the next chapter.
-Shannon L. Aider-
Penting untuk tetap menyematkan idealisme dalam mimpi. Agar selamanya, angan-angan tidak kehilangan makna. Menang atau kalah, dalam hal apapun, tak hilang arah kita berjalan … menghadapinya :).