Sekularisme, Kasus Citizenship di Jerman, dan Tragedi Pemenggalan di Perancis

Ada 2 kasus yang sedang saya ikuti di daratan Eropa.

Peristiwa gagalnya seorang imigran muslim mendapatkan kewarganegaraan Jerman gara-gara menolak berjabat tangan dengan ibu-ibu petugas imigrasi.

Ybs sudah lulus ujian dan tinggal belasan tahun di Jerman serta berprofesi sebagai seorang dokter. Hanya gara-gara menolak bersentuhan dengan ibu tadi, sertifikatnya ditahan. Sampai ke level pengadilan pun, si imigran ini ‘kalah’.

Alasannya, si imigran dianggap gagal berintegrasi dalam kehidupan sosial di Jerman. Lah, memangnya berjabat tangan adalah salah satu syarat wajib untuk mendapatkan status warga negara?

kacang tanah untuk diet

Padahal si pemohon selama ini oke-oke saja performancenya sebagai dokter. Belasan tahun loh.

Kalau si ibu tadi sebagai individu merasa baper ya oke, kita bisa apa. Masa perasaan orang diatur-atur.

Tapi, kalau sampai selevel institusi PENGADILAN NEGARA pun ikutan baper? Piyeeee πŸ˜…πŸ™.

Kasus satunya lagi di Perancis mengorbankan nyawa seorang guru. Seorang guru dipancung oleh oknum murid karena dianggap mengolok-olok Nabi Muhammad. Yup, oknum murid seorang muslim.

For info, si Pak Guru menayangkan gambar olok-olok tersebut untuk mengajarkan soal kebebasan berpendapat. Hal ini cukup umum di Perancis ternyata.

Mayoritas mengecam keras insiden pembunuhan tersebut.

Jerman, Perancis, dan mayoritas Eropa rata-rata negara penganut sekularisme.

Kutip dari Wikipedia, “Dalam istilah politik, sekularisme adalah pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa hal seperti mengurangi keterikatan antara pemerintahan dan agama negara, menggantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil dengan dasar agama.”

Tujuannya sih tidak salah. Untuk menjamin hak semua orang tanpa memandang agama. Namun, dalam praktiknya … complicated.

Penerapan sekularisme Eropa vs US juga beda. Misalnya, di Perancis nih, atribut keagamaan apa pun cenderung TERLARANG di ruang publik. Sebaliknya, di US, bebaaaaaassssss.

Misalnya di Texas, anak laki-laki kalau izin shalat Jumat HARUS diperbolehkan di jam pelajaran. Kalau dilarang berarti melanggar hak asasi. Pakai jilbab, cadar, kalung salib, sorban khas Syikh (India) juga monggoooooo.

Republik Irlandia agak di tengah. Dalam keseharian sih, bebas-bebas aja hehehehe. Malah pemerintah mendanai beberapa sekolah berbasis Islam loh. Jumlahnya masih sedikit. Untuk mengimbangi public school yang hampir 100% menggunakan “kurikulum Katolik”.

Tapi mohon pahami, “kurikulum Katolik” (tanda kutip yak, kutidak paham apa istilah benerannya hahahaha) berbeda dengan doktrin agama Katoliknya. Memang ada pelajaran agama tapi kalau gak mau ikut ya gak papa hehehe.

Tapi di US, semua sekolah publik atau apa pun yang bersentuhan dengan SUBSIDI PEMERINTAH harus bebas dari pengaruh/simbol agama apa pun. Di hari Natal, kagak boleh itu pasang-pasang pohon Natal di sekolah publik atau instansi pemerintah.

Simbol agama apa pun di tempat umum (termasuk agama mayoritas Nasrani) boleh dihancurkan kalau publik tidak berkenan.

Pemerintah mendanai kegiatan, fasilitas umum, atas nama agama tertentu? Tet toooottt, tidak boleeeeeehhhh :D.

Tapiiiiiii, kalok pasang pohon Natal di mal ya boleh. Pasang gambar ketupat pas lebaran di mal ya monggo aja :D. Dan kalau kalian lihat di berbagai jalanan utama di kota-kota besar di US, rumah ibadah boleh didirikan oleh komunitas agama apa pun.

Selama semuanya adalah campur tangan swasta (non pemerintah), penyembah iblis pun boleh mendirikan rumah ibadah :p.

Makanya di Texas tuh ya, segala masjid dari semua mazhab adaaaaaa hehehe. Itungin tuh, ada masjid Syiah yang ternyata juga punya beberapa aliran beda-beda. Ada masjid Sunni yang juga terbagi-bagi. Ada Sinagog, ada aneka rupa gereja yang mana Nasrani ini “kelompok”nya juga amat sangat bervariasi hehehe.

Jadi jangan sampai salah masuk masjid hahaha :p.

US menjamin kebebasan beragama selama pemerintah tidak ikut terlibat. Sebaliknya di Eropa ada beberapa negara yang malah MENGEKANG atribut keyakinan apa pun di ruang publik!

Tapi inget loh, di Perancis tetap boleh pakai jilbab di luar sekolah atau instansi yang mengeluarkan aturan pelarangan.

Tidak semua Eropa begini. Kalau kalian lihat di UK, pemerintahnya lebih “ramah” terhadap kaum muslim. Republik Irlandia juga mirip.

Bebas pakai jilbab di Ireland πŸ˜‰

Malah nih di Ireland, cenderung ingin memfasilitasi semua agama. Di kota tempat tinggal saya dulu, kelompok muslim sempat dianjurkan untuk mengajukan proposal dana kepada pemerintahan setempat loh :).

Kayak di Indonesia ya hehehehe. Cuma kalau begini, secara otomatis, agama mayoritas diuntungkan. Pasti kucuran dana dan perhatian lebih besar untuk agama mayoritas, simply karena penganutnya lebih banyaaaaak :D.

Terus soal Islam sendiri memang agak unik dibanding agama lain. Kenapa? Karena di Eropa walaupun mayoritas sudah sekuler dalam kehidupan sehari-hari (agama KTP doang gitulah hihihihi), mereka kan basisnya Nasrani :D.

Jadi lihat kalung salib lebih santai daripada lihat perempuan bercadar misalnya. Proses membaur juga agak sulit. Karena misalnya pernikahan, muslim kan sulit menikah dengan agama lain. Belum lagi soal aturan makanan. Padahal Yahudi juga sama ketatnya bahkan lebih ketat.

Fyi, jumlah Yahudi tidak sebanyak muslim karena Yahudi terikat erat garis keturunan kalau gak salah.

Isu-isu global seperti pengungsi dari Timur Tengah dan Afrika (yang banyak muslimnya) juga menggerus perekonomian di Eropa Barat dan bikin masyarakat sana yang ekonomi negaranya ngandelin pajak perorangan jadi sewot.

Persoalan beginian ditarik ke ranah agama ujung-ujungnya. Pening yes?

Makin bias dengan kebebasan berpendapat yang diagung-agungkan oleh banyak negara maju. Makin kompleks dengan banyaknya pendatang muslim yang justru nyamannya kabur ke negara-negara Eropa.

Seperti respons dedek Ustaz Dinar Zul Akbar terhadap komentar saya di wallnya, imigran muslim ingin menikmati segala kenyamanan ala negara maju tapi sekaligus takut kehilangan identitas muslimnya di tengah arus liberalisasi?

Dilengkapi fakta bahwa kelompok-kelompok ekstrim lebih lihai dalam berdakwah secara digital. Video-video mereka lebih mudah viral.

Mungkin karena bandul-bandul spiritual yang diyakini akan bergeser ke kiri selama tinggal di negara maju mayoritas non muslim maka kaum imigran muslim melakukan “perlawanan keras” dengan ikut komunitas Islam “garis keras”?

Cobaklah bandulnya digeser ke tengah. Tapi kemudian kita akan berhadapan dengan jargon andalan, “Yang Haq adalah yang haq, yang batil adalah yang batil.” Tidak ada yang namanya keyakinan tengah-tengah. Padahal konon umat Islam diharapkan menjadi umat pertengahan. Ini gimana sih bertolak belakang gini :D.

Ketambahan lagi dengan pandemi berkepanjangan ini. Kejatuhan ekonomi secara global tentu saja punya pengaruh besar terhadap tingkat kebaperan tiap orang terhadap hal apa pun.

Apalagi soal agama, yang konon perintah Tuhan langsung, “Ini bukan kata gue, ini perintah Tuhan tauk!” Lah, gimana cara minta konfirmasinya? Siapakah yang seharusnya menjawab jika kita bertanya, “Tuhan, benarkah ini adalah sabdamu?” πŸ™.

β€œThe mind is its own place, and in itself can make a heaven of hell, a hell of heaven..”― John Milton, Paradise Lost

Think about it ya :).

Netflix : Emily in Paris (Bukan Review!)

Lom bisa review. Belom mood untuk nonton full hihihi.

Emily in Paris semacam Sex and The City versi yurop. Kalau SATC settingnya di New York, Emily bercerita seputar Kota Paris.

Emily in Paris Netflix

Dan percayalah, kedua film ini secara brutal mengambil sisi kota yang bagus-bagus doang hahahaha. Yang begini ini yang bikin kita wakwaw setelah mengunjungi langsung kota yang digambarkan ‘berat sebelah’ ini.

Pernah ke Paris? Dari kecil terbayang-bayang mau foto-foto seheboh mungkin di bawah menara yang selalu muncul dalam mimpi-mimpi obsesi eike tentang tinggal di liar negeri.

Nyatanya, nyampe sana sibuk nahan biar gak muntah saking pesingnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Saya sensitif banget sama bau-bau an. Joroookkk 😭😭😭.

Saya ngefans banget sama serial SATC. Versi filmnya pun kutergila-gila. Seneng sama persahabatan Carrie-Samantha-Miranda-Charlotte 😍😍😍.
Tapi tentu akal sehat dan logika tidak tertipu dengan gaya hidup Carrie yang begitu terekdungcesss padahal diceritakan hidup sebagai penulis lepas (doang) 😝😝😝.

Eh, daku tidak bermaksud meremehkan pekerjaan menulis. Tapi coba nonton SATC dulu deh β˜ΊοΈπŸ™.

Banyak loh yang tergila-gila pengin tinggal di New York karena nonton SATC doang πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ™. Duh, dikate nyewa apartemen di Manhattan berape, belum mikirin asuransi kesehatan di US. Tingkat kejahatan yang tinggi dst dst.

Waktu ke Las Vegas juga sama. Gue kira satu kota suasananya blink-blink ajep-ajep laknatullah gimana gitu, eeee ternyata yang gemerlap cuma satu ruas jalan D-Street doang πŸ˜πŸ˜….

Sisanya ya kota biasa ajah. Kotanya kering dan gersang. Begitu ke luar dari kawasan hura-hura, areanya ya cupu begitu πŸ˜…. Banyak gerai makanan halal loohhh di Vegas πŸ˜‰.

Apalagi Arab Saudi. Gemerlapnya Mekkah dan Madinah hanya sekian ratus meter dari Masjidil Haram dan Nabawi kok πŸ™ˆ.

Sisanya ya begitulah. Kotanya puanaaassss, tidak bersih, bangunannya kusam-kusam. Banyak TKI laki-laki dengan gegap gempita membawa anak istri ke sana. Berharap tinggal sampai mati di 2 kota suci.

Gak nyampe setahun, istri nangis-nangis minta pulang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ – – > hasil kepo-kepo ke supir asal Indonesia pas masih tinggal di Jeddah.

Intinya, film itu anggap hiburan saja. Fokus ke hubungan antar karakter. Walau memang ada film-film semodel SATC dan EIP ini. Lebih banyak menjual mimpi dan gaya hidup. Secara sengaja menampilkan glamornya sisi-sisi kota tertentu.

SATC tapi lumayan dari segi isu-isu perempuan dengan skenario kasual tapi nendang.

Emily in Paris, anggap hiburan ringan soal setting dan gaya hidupnya. Simak bagian perbedaan budaya sosial di US vs Eropa aja πŸ˜πŸ‘.

Walau sama-sama mayoritas ras kaukasian, sumpah bedaaaaa banget pembawaan bule Eropa vs Bule Amrik. Nah, film ini patut dijadikan sumber informasi terkait hal-hal tersebut.

Emily in Paris Netflix

Percaya deh, soal paling enak tinggal di mana… Rumput tetangga tidak selalu lebih hijau, the grass is greener where you water it 😘😘😘😘.

Siapa bilang mengejar akhirat harus bernaung selama mungkin di bawah lindungan Ka’bah? Sebaik-baik manusia bukan yang shalatnya setiap hari di Masjidil Haram tapi mereka yang membawa banyak manfaat bagi sesama manusia di mana pun kita ngontrak eh tinggal πŸ˜…πŸ™.

Serial ringan ini tetap sangat recommended buat tontonan ringan πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹. Gak usah sampai kebawa mimpi πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Selamat menonton ^_^

[Netflix] Review film The Social Dilemma

Yang lagi happening nih film dokumenter di Netflix. Film The Social Dilemma.

It’s a bit weird, discussing about how dangerous the social-media-business-model melalui salah satu platform media sosial itu sendiri hihihihi.

Iya kannnn? Check this out … yang bikin filmnya Netflix, dipublikasikan lewat Youtube dan dibahas rame di IG, Twitter, dan FB. Piye? Semuanya produk medsos yang lagi dikritisi

😝

Asyiknya menggunakan medsos itu salah satunya karena gratisnya kan? Makanya salah satu pesan penting dari film ini, “If you’re not paying for a product, you’re the product”.

Logikanya, mereka dapat duit dari mana sih? Jualan apa sih? Yang dijual ya preferensi kita-kita ini sebagai pengguna hehehe. Jumlah click kita merupakan salah satu ladang duit bagi FB-IG-Youtube-Google dst dst dst.

HOW?

Business model media sosial yang utama adalah SEBISA MUNGKIN MEMBUAT PENGGUNA BERLAMA-LAMA menggunakan platform mereka.

Caranya? Menyuguhkan, memberikan, menyarankan, INFO yang dianggap menarik bagi pengguna.

Kok bisa terbaca ya preferensi penggunanya? Bukan sulap bukan sihir, kok. Apalagi semua data kalau sudah terDIGITALisasi (is this even a word? cmiiw hihihihi).

Ini tuh bukan kayak kita dihipnotis atau semacam scam untuk memberikan info rumah di mana, nomor rekening berapa, bla bla bla. Mereka berusaha “membaca” … kira-kira ni user senengnya baca/lihat tentang apa ya?

Nah, dari scrolling an kita, berapa lama kita tertahan pada postingan tertentu, ke mana jempol kita sering mampir untuk nge-LIKE, di mana kita menghabiskan waktu berkomentar berlama-lama, foto mana yang membuat kita terhenti sejenak. Bahkan jumlah detiknya bisa dicatat dengan sangat-sangat tepat.

Selamat datang di dunia digital yang tidak punya wilayah abu-abu. Binary/biner, kalau enggak 0 pasti 1.

Data-data ini mungkin kelihatannya remeh saja. Tapi bayangkan dari sekian jam yang kita habiskan di media sosial setiap hari TEREKAM terus. Tanpa sadar kita membuka diri secara gratis, sukarela pula.

πŸ˜ƒ
Image by Tumisu from Pixabay

Data segabruk inilah yang diolah menjadi INFORMASI. Mereka bisa membaca pola atau kebiasaan kita. Dengan mudah, mereka bisa mengatur postingan/foto/tulisan/video mana yang ingin kita lihat.Kalian tahu kan, setiap akun di media sosial itu bisa beda-beda isi news feednya.

πŸ˜‰

Ini tuh bukan RANDOM semata. Tapi misalnya Facebook, begitu kita login, FB akan langsung memperhitungkan semua history kegiatan kita yang lalu-lalu untuk kemudian memprioritaskan postingan-postingan yang sesuai dengan minat kita.

Begitu algoritma udah diset, dengan kecepatan akses data yang makin ke sini makin dahsyat, dalam tempo sepersekian detik juga beres hehehe.

Kita terus scrolling, kita klik, kita like, scrolling lagi, terus ada postingan yang bikin emosi, kita komen, kita berantem (hahhaha), terus scrolling lagi, dst dst dst.

Kalau sudah begini, berjam-jam pun tanpa terasa kita habiskan di FB. Makin ketagihan, makin besar nama FB yang mengundang para pengiklan untuk ‘jualan’ di sini. Yang ngiklan nanti itu ya kita-kita juga sebagai pengguna hahahaha.

Dengan modal data segitu besar, informasi yang lumayan akurat, FB dengan mudah memetakan, iklan mana untuk siapa.

Everybody’s happy …. NOT!

Image by Robin Higgins from Pixabay

Jangan lupa … media sosial tidak peduli kalau postingan itu hoaks atau bukan, apakah postingannya bisa meningkatkan kualitas hidup apa enggak, pokoknya gimana caranya si Jihan Davincka ini bisa menghabiskan waktu selama mungkin di FB. Others … they don’t care!

Jadi segala sponsored post, recommended video, endebre endebre itu tidak muncul begitu saja. Tidak random. Ada algoritmanya.

Mungkin kita akan menangkis, “Ah, itu mah orang tolol doang yang bisa kena hoaks, yang akan tergiring hate speech, gue mah pinter cuy. Gue pergaulannya luas. Gue mah suka melihat dari berbagai sisi.”

Unfortunately, you’re not, Dear. Sooner or later, business model seperti ini akan menjebak kita semua. Karena punya pemetaan data yang luar biasa luasnya, semua pengguna media sosial bisa kena imbas.

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Contohnya, metode pencarian di Google.Kalian pernah ngecek gak, kata kunci yang kalian ketikkan di Google itu bisa beda-beda hasilnya di tiap wilayah/negara/domain?

Try it yourself, ketik “Justin Bieber” di domain Google yang berbeda. Perhatikan kata kunci yang keluar, daftarnya pasti beda-beda. Kalau anak SEO pasti taulah hehehe.Jadi Google akan menyarankan kata kunci yang BANYAK dicari, sekali lagi, bodo amat isinya relevan atau enggak.

Soal relevansi ISI postingan sama standar Google itu beda lagi, yes? Google tetap terus mengupdate algoritma untuk membuang link-link ngawur. But remember, ngawur vs hoaks itu 2 hal berbeda. Siapa bilang tulisan hoaks pasti ngawur?

Banyak loh artikel ‘bullshit’ yang memutarbalikkan fakta yang ditulis dengan gaya gemilang nan meyakinkan.

Image by mohamed Hassan from Pixabay

Oooo karena itu ya susah menangkal hoaks di Indonesia apalagi di masa pandemi begini? Kate siapaaaa di Indonesia doang hahahaha. Familiar dengan Qanon Conspiracy? Selevel Australia yang budaya literasinya kuat pun banyak kalangan terpelajar yang kepincut sama si Qanon.

Emang kalian kira penganut teori bumi datar dan kalangan antivaks (berbasis hoaks) itu cuma ada di Indonesia? Tet tooot! Lu kira di negara maju kayak Irlandia mereka gak percaya hoaks? Hahahaha.

Ada loh yang komen, “Kita kena Covid karena Irlandia sudah melegalkan pernikahan sejenis dan aborsi. Ini karma buat Irlandia!” Yang nge like dan memberikan sub komentar setuju juga banyak. Mereka merajalela di berbagai belahan dunia.

Image by Alexas_Fotos from Pixabay

Fakta lain yang harusnya tidak mengejutkan adalah betapa HOAKS itu memang lebih mudah mengalir sampai jauh ketimbang fakta. Lebih eksotis, lebih mudah menarik perhatian, lebih memancing emosi, lebih waaauuuuwww, lebih jeng-jeeeennnggggg… dst dst.

Misalnya : “Sejak sekolah dibuka di Malaysia, ada satu kelas yang dikarantina karena positif covid semua!”

Padahal berita aslinya, “Sejak sekolah dibuka di Malaysia, ditemukan ada satu anak yang positif sehingga semua teman sekelasnya dikarantina untuk dicek lebih lanjut.”

Bangke sekali bukan?

Image by lagrafika from Pixabay

Dan saya menemukan berita ini dishare oleh salah satu teman yang pendidikan akademisnya bukan kaleng-kaleng. Enggak usah sebut profesi, ya. Sensitif nanti hehehe.

Hanya butuh beberapa detik bagi saya untuk menemukan link aslinya dan membaca berita sebenarnya. Tapi menurut teman yang share, “Ah yang penting kan intinya ada yang kena covid dan sekolah tetap harus tutup.”

Ya beda doooonggg, ada satu yang positif covid vs murid satu kelas covid semua. Hadeeehhhh, tentu saja berita hoaksnya lebih mudah memancing emosi. Kok bisa-bisanya dese ketemu link berita kacrut begitu sih?

Mudah saja kalau ngikut algoritma standar medsos di atas. Terbukti ybs tiap hari posting Covid melulu dengan narasi kontra tingkat tinggi. Kebiasaan ini mungkin diolah dengan baik oleh mesin FB untuk mengantarnya bertemu berita-berita yang seolah membenarkan ketakutannya.

Nah sekarang siapa yang bangke?

πŸ˜‘
Image by Gerd Altmann from Pixabay

Business model media sosial boro-boro bikin orang makin luwes dalam mencari informasi. Dibikinnya kita terjebak dalam pikiran kita yang bias dari awal. It’s not rite.

Dengan penjelasan yang sama inilah, urusan politik pun merambah dengan mulus di media sosial. Mereka memanfaatkan preferensi politik pengguna dengan terus menghajar berita-berita sejenis. Tidak jarang malah melanggengkan hate speech.

Ingat kasus Cambridge Analytica? Sangat berhubungan erat.

Kok ya jadi SOCIAL DILEMMA? Karena memang ini problem sosial. Seberapa pun tingginya integritas individual yang mungkin kita miliki, lambat laun akan tergeser dengan arus sosial yang lebih besar.

Again, lu kira yang doyan share hoaks hanya orang-orang yang kurang piknik dengan pendidikan rendah?

Sialnya, di masa pandemi ini di mana PSBB dan lockdown akan makin sering mewarnai hidup kita, gimana lagi cara membunuh kebosanan kalau gak main medsos? Nonton Netflix, cek youtube, scrolling FB, intip story di IG?

Saya pun tipe kalau ingin lari dari Medsos, ya saya jalan ke luar rumah. Ngapain kek, hiking kek, muter-muter di mal kek. Lah kalok pandemi begini? Tapi kini sekolah online sudah merenggut hari-hariku dari medsos hahahahha. Hidup Nadiem! Hahaha.

Media sosial memang sudah menjadi gaya hidup hampir semua orang. Manusiawi sekali itu. But there should be a workaround gimana caranya biar kita tidak terjebak. Dan workaround ini seharusnya bukan hanya menjadi tanggung jawab pengguna.

Pemangku kebijakan sudah seharusnya memikirkan batasan-batasan soal business model yang tetap memperhatikan etika dll. However complicated, that we can work with.

Think about ya teman-teman :).

πŸ™

The Old Mill Little Rock AR : Wandering Arkansas (Day 3), Musim Semi 2017

Jalan-jalan ke The Old Mill Little Rock AR ini adalah lanjutan dari tulisan tentang road trip di US …. tiga tahun lalu! Hahahaha.

Ya iyakan, makanya perlu dikasih keterangan tambahan “musim semi” tahun 2017 :p.

Tulisan tentang “Wandering Arkansas Day 1” nya ada di sini. Waktu itu fokus utama hiking seharian di Lake Catherine dan ini dia vlognya hehehehe :

Wandering Arkansas Day 2 boleh klik yang ini :D. Yang ini lom bikin vlognya. Kalau sudah ada tentunya langsung update link ke sini jugak ;).

Okay, jadi hari ketiga ini ummm….bentar tanya ke suami dulu, sumpah euy udah lupa-lupa ingat :p.

Baiklah, setelah diskusi dan saling mengingat ngapain aja pas muter Arkansas di hari ketiga, inilah dia kira-kira kegiatan kami waktu itu :

1- Sarapan di hotel lah pastinya. Pas sarapan ini nih, ada kejadian istimewa. Baru masuk ruang makan, udah disambut dengan senyum maniiisss banget dari karyawan sana. Dih, jadi geer hihihi.

Enggak sampai situ aja. Terus disamperin ama embak-embak waiter dan koki ditanya-tanyain aslinya dari mana dan memuji-muji warna rambut anak-anak. Berharap mereka juga bisa punya warna rambut hitam kemilau gitu katanya.

Lah gimana, di Indonesia malah banyak yang ngecat rambut coklat atau kekuningan hehehe. Memanglah (warna) rambut tetangga selalu terlihat lebih wooowww :p.

2- After having almost an hour chitty-chitty chat dengan pegawai hotel di ruang makan pagi itu, kami check out dan menuju The Old Mill di North Little Rock.

The Old Mill menjadi pilihan setelah semalaman nyari-nyari daftar tempat wisata yang wajib dikunjungi saat berada di Arkansas. Nah, si Old Mill ini lokasinya enggak jauh-jauh amat dari Van Buren. Tempatnya pun kece.

Kece beneran? Mariiiii, langsung simak vlognya :

https://www.youtube.com/watch?v=kgF7yUJSomo

The Old Mill ini tempatnya memang hijau dan ada jembatan lucu dan bangunan mungil serta old mill yang melegenda. Konon bangunan Old Mill ini replika dari bangunan yang mirip yang muncul di Film legendaris “Gone with The Wind”.

Karena itu tempat ini tenar. Tapi lihat kan di vlognya. Tempatnya emang seru, sih. PEmandangan hijau di mana-mana, taman yang ditata rapi. Jembatan-jembatan unik.

Kami muter-muter area The Old Mill sampai jam makan siang. Terus nongkrong di situ, di salah satu meja dan kursi di pinggiran taman buat makan siang sekeluarga.

Setelah makan siang, muter sekali lagi sambil foto-foto. Sebelumnya kan sibuk ngerekam aja hehehe. Pas udah kenyang, senyumnya kan bisa lebih ikhlas gitu ya pas di foto :p.

3- Dari The Old Mill, kami menuju Texas kembali. Tapi pilih jalur yang melewati pegunungan-pegunungan cantik di Arkansas. Duh, gak inget lagi apa gitu nama daerahnya hehehe *tutupMuka*.

Setelah meliuk-liuk di jalan pegunungan, ya udah, cuuussss meluncur ke Texas ^_^. ANd that’s the end of Arkansas-Trip kita saat itu <3.

PSBB di Ibukota, Yay or Nay?


Belgia, dalam kondisi jumlah korban Covid yang menunjukkan tren kenaikan, tetap memutuskan bahwa supporter pertandingan liga sepakbola DIIZINKAN mengisi kursi penonton sebanyak 30% dari kapasitas yang ada.

Di Jerman, belum lama ini ada demo yang menolak rencana pemerintah untuk kembali menerapkan kebijakan ala-ala PSBB (pembatasan sosial berkala besar) gitu-gitu. Udah pada emoh dikurung? Hihihi.

Gambar oleh soumen82hazra dari Pixabay

Italia juga mirip. Tetap ngotot melanjutkan liga sepakbola no matter what. Berita terkini barusan lihat tadi pagi, presiden klub Napoli positif Covid 19. Beliau baru saja menghadiri pertemuan para petinggi klub-klub sepakbola papan atas. Terpaksa semua peserta pertemuan harus dites dan mungkin menjalani karantina.

Tapi liganya ya jalan teroooosssss :D.

Belahan Eropa kini menyambut datangnya GELOMBANG KEDUA, as predicted kok ya. Sudah sejak Mei sewaktu saya masih di Ireland, sudah digaungkan kewaspadaan gelombang kedua Covid ini.

Hanya saja momentum untuk “mengurung orang” mungkin sudah berlalu. Sepertinya mayoritas pemerintahan pusat di Uni Eropa lagi berjuang keras mempertahankan perputaran roda ekonomi.

Kerjaan eike ney, every single day, sambil yoga pagi-pagi update berita dari Kompas TV hehehe.

Then, why did Pak Anies Baswedan decide to do another PSBB? Kalau saya sih setuju dengan keputusan beliau ini (y). Tenaaang, warga Banten juga bakal kena PSBB kok dari pemda sini. Bareng kita Gaeeesss, PSBB lageeee :D.

Gambar oleh iqbal nuril anwar dari Pixabay

Banyak yang mengeluh kok sepertinya kebijakan pempus, pemda, dan dinas-dinas terkait kok suka enggak nyambung ya?

Sebenarnya bukan enggak nyambung tapi memang fokusnya beda-beda. Misalnya nih, kalau teman-teman nakes pasti mayoritas ngomel menuntut lockdown atau PSBB karena concernnya pasti soal kinerja rumah sakit dan para nakes yang makin sempoyongan kalau makin banyak korban.

Gambar oleh soumen82hazra dari Pixabay

Bisa dipahami.

Makanya kalau baca omelan teman-teman nakes, although at some point lama-lama annoying (sorry to say) ya empati saja :). Jangan nyolot. Masih banyak pilihan lain. Unfollow kek, apa kek.

Cuma kelian itu kalau unfollow atau blokir atau apa pun mbok ya gak usah diumuman gitu napa? Mau cari ribut apa gimana hehehe. Diem-diem ajalah. Nanti kalau mereka ternyata nyadar dan tersinggung ya udah mau gimana lagi, tetep diam udah.

era digital

Kalau pemerintah concernnya lebih LUAS. Tentunya kesejahteraan dan kenyamanan tenaga medis tetap menjadi salah satu fokus pemerintah. Tapi buanyaaaaakkk yang lain-lain yang harus dipikirin.

Selain layanan kesehatan harus tetap prima, kesejahteraan ekonomi secara umum harus jalan terus. Sektor usaha gimana caranya jangan sampai kolaps, pengusaha jangan sampai harus merumahkan karyawan, penerimaan pajak harus tetap mengalir, bidang pendidikan enggak boleh mandek, pembangunan infrastruktur tetap berjalan walau mungkin melambat (tapi gak mungkin berhenti total), pariwisata yang paling sekarat pun jangan sampai dibiarkan mati sama sekali.

Dst, dst, dst, the list should be on and on…

Jadi memang WIN-WIN SOLUTION itu ILUSI saja. Saya rasa pemerintahan mana pun di seluruh negara akan ‘terjebak’ dalam upaya menyeimbangkan resiko yang harus dijalani untuk APA PUN keputusan yang DIAMBIL.

Cuma kondisi di DKI Jakarta sekarang di mana pelayanan kesehatan sudah terlalu tertatih, makanya keputusan PSBB mungkin yang paling tepat. Bagaimana pun nyawa manusia itu harganya tidak terkira. PSBB di Jakarta? Yes! (y).

Gambar oleh Ri Butov dari Pixabay

Tadi tuh di Kompas ada diskusi soal PSBB, kok ya narasumbernya rata-rata dari semacam “perwakilan Dinas Kesehatan” semua hehehe. Berat sebelah jadinya.

Kalau pengusaha otomatis pasti senewen sama lockdown atau PSBB dan sebagainya. Tapi kan, kalok banyak yang sakit toh bisnis bakal kolaps juga?????

Ya coba lu jadi pengusaha. Bisnis ‘mati suri’, kalian dituntut ENGGAK BOLEH mecatin karyawan, harus terus membayar gaji dong pastinya walau pemasukan macet. Paling berat mungkin pengusaha level menengah ke bawah. Kalau yang level atas kan biasanya punya ‘buffer’ yang lebih kuat.

Pekerja-pekerja informal juga posisinya sangat sulit. Andai semua persoalan bisa selesai dengan jualan online :p. Kan ada tuh yang nyinyir, “Ya udah sih pada jualan aja di internet daripada dagang keliling.”

Situ yang mau modalin? Jangan lupa loh, demand juga merosot tajam sekarang karena mayoritas pasti berusaha menekan pengeluaran di tengah ketidakpastian ekonomi seperti sekarang ini.

Jadi jelas kan, concernnya beda-beda.

Sebenarnya kita tidak akan pernah benar-benar akan kembali normal seperti sediakala sampai vaksin berhasil menghalau virus. Memang harus menerapkan new normal dengan protokol kesehatan yang ketat. Cuma masalah kedisiplinan ini yang sulit sekali, ya.

Even di negara-negara maju juga rumit kok. Selevel Eropa dan US ada saja orang-orang yang menolak pakai masker dan menyerukan penolakan ini ke publik dan masih merasa ini upaya konspirasi bla bli blu.

Belum lagi kalangan ekstrimis dari berbagai penjuru. Ada yang memang nyata-nyata menjelma jadi paranoid garis keras, semacam fearmonger yang maunya tuh semua orang pokoknya udah di rumah aja jangan ngapa-ngapain. That’s the only way. Paling doyan menghina orang dengan ucapan ‘covidiot’.

Dari sisi seberangnya, ada yang sok-sok santai logis pakai data ini itu dan berusaha meyakinkan masyarakat kalau virus ini ‘biasa’ saja kok. Harusnya kita hidup normal saja seperti biasa. Menuntut sekolah dibuka saja. Dan tentunya, ngomel paling kenceng pasca keputusan PSBB diumumkan. Menuduh data enggak valid dan pemerintah penakut gak jelas.

Sebaiknya kita berdiri di sisi semampu yang kita bisa saja. Yang bisa WFH gaji lancar kayak biasa ya sekuatnya bertahan di rumah. Keluar seperlunya.

Yang masih harus berjuang di luar rumah ya jangan bosan menerapkan protokol kesehatan. Pakai masker, social distancing as much as you can, rajin cuci tangan dst. Tapi ini memang melelahkan sumpah.

Memang harus sekuat tenaga mengerahkan STOK EMPATI ketimbang ngamuk-ngamuk ngatain orang covidiot atau menuduh orang lain gak paham data dan takut berlebihan.

Kalau pun ada yang harus dikritisi, porsi terbesar memang harus diberikan kepada PEMERINTAH sebagai pemangku kebijakan tertinggi. Tapi ya itu tadi, jangan asal nyinyir, sadarilah kalau pemerintah tanggung jawabnya paling besar ya karena FOKUSNYA paling luas. Mencakup segala aspek kehidupan masyarakat.

Bangkenya lagi, di tengah situasi pandemi, mencuat pula kasus-kasus KORUPSI kelas kakap yang melibatkan uang sogokan 500 ribu USD yang konon cuma uang muka doang. Gilak.

Empati enggak harus bikin kita ‘loyo’ kok. Banyak cara untuk mengkritik tanpa harus menuduh orang lain idiot, yes?
Jaga kesehatan, stay ‘sharp’ ;).