Mohon maaf kalau saat kembali ke jakarta tempo hari, acara kopdar dengan teman-teman lama maunpun teman-teman baru (padahal sudah heboh janjian via inbox sejak kapan tauk hahahaha) banyak yang tidak terwujud 🙁 *sambilSungkem*.
Acara mudik memang selalu diprioritaskan untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga tercinta ^_^. Apalagi suami yang memang dekat banget dengan keluarga kecilnya. Ya pokoknya Barney banget lah, i love you, you love me, we are happy family hihihihi. Tapi kan, his family is my family too ^_^.
Idul Fitri 2014 M 🙂
Kalau saya asalnya dari keluarga besar. Sudah biasa tinggalnya mencar-mencar :p. Kemarin saja, sama kakak sulung dan no.3 tak sempat bersua huhuhu. Adik macam apaaahhh? Ya gitu deh kalau sodaranya segambreng dan terpencar di berbagai penjuru DKI hahaha. Ada yang nyangkut sampai Bekasi pula :p. Dan ada yang kembali bermukim di Makassar.
Bareng no.4 dan no.6 😀
Tapi sempat ya jalan bareng ke Bandung bareng si no.2 sama no.6. Sama keluarga masing-masing. Cuma semalam. Jalan-jalan ke De Ranch. Bagus nih di sini. Gak mahal dan lumayan komplit buat anak-anak .
Rame-rame di De Ranch:D
Sisanya ya di Jakarta aja.
Tempat nan hits yang paling pengin didatengin itu … Waduk Pluit! Gak nyangka beneran bagussss<3. Tempatnya ternyata luas. Walau ternyata belum semua rumah-rumah di bantaran kali bisa dipindahkan :(. Step by step mungkin, ya.
Ke Waduk Pluit di siang bolong boooo hihihi. Hari minggu waktu itu. Sudah mulai ramai. Anak-anak hepi banget di sana. Papa-mamanya juga hepi karena wisata murah meriah hihihi *ngikikNgirit*. Ada tempat penyewaan becak-becak kecil yang bisa dikayuh sendiri, sepeda juga ada.. Motor-motoran listrik juga ada. Sama skuter-skuter yang diinjak-injak belakangnya itu lho. Murmer deh pokoknya *tepokTepokDompet*.
Sorean dikit langsung ramai. Ada yang datang gelar tikar doang, duduk-duduk bareng keluarganya. Tempatnya bersih, kok ^_^.
Banyakin dong Koh Ahok tempat-tempat kayak giniiiii. Anak-anak biar bisa punya outdoor playground dan para ortu gak mentok saban weekend ke mal lagi ke mal lagi.
Sempat bilang ke suami, lucu juga kalau foto-foto pre wedding di Waduk Pluit itu. Idih, anak sudah 2 kok ya masih mikirin foto pre-wedding :p.
Kawasan kota tua Fatahillah juga masuk list. Pokoknya sejalan dengan tema liburan murah meriah yaaa :p. Untuk mengimbangi mahalnya harga tiket mudik ini sepertinya hahhahhahaha.
Tapi serius, wilayah Kota Tua bagus juga. Justru di tempat-tempat kayak gini banyak bule-bulenya. Cuma sayang, depan museum Fatahillah, pedagang kaki lima-nya riweuh benerrrrrr -_-. Dulu katanya pernah ditertibkan tapi ya pada balik lagi :(. Padahal sudah disiapkan areal khusus. Jangan menyerah dong, Koh Ahok. Ayo perjuangkan terus!
Yang mungkin juga kurang adalah masalah packagingnya, ya. Duh, sayang banget melihat Museum Wayang yang harusnya bisa atraktif malah jadinya gitu-gitu doang.
Misalnya di wayang Gatotkaca yang segede itu, keterangannya hanya nama dan silsilah keluarga kalau gak salah. Enggak menarik! Mana tulisannya kecil dan sedikit banget.
Tampilkan dong sisi-sisi kehidupan yang jauh lebih menarik. Detik-detik kematian Gatotkaca misalnya di Perang Bharatayudha. Itu dramanya jauuuhhh lebih seru :p. Dan banyak orang yang mungkin belum tahu kan? Kalau cuma nama dan tanggal-tanggal penting mah di-google juga bisa :p.
Terus pamerin gamelan tapi ada tulisan enggak boleh dimainkan! Terus diapain? Zzzzz -_-. Kalau takut rusak, ya itu penjaga daripada ngumpul di tempat resepsionis (alasannya jaga kios yang pembelinya jarang banget :p) ditempatkan untuk menjaga areal gamelan tadi. Satu orang saja lah itu jaga kios :D.
Anak-anak kan penasaran lihat gitu-gituan dan pasti pengin nyoba.
Terus seru juga sebenarnya melihat-lihat wayang yang terbuat dari lidi. Nah, lidi kan banyak tuh di mana-mana. Kenapa tidak ditunjukkan cara bikinnya? Kalau perlu ada penjaga yang mendemonstrasikan kepada para pengunjung. Enggak cuma anak-anak, saya juga penasaran euy cara bikin wayang dari lidi :D.
Tempatnya, sih, bagus. Dingin, full AC. Tapi ya keterangan-keterangannya standar banget seperti yang saya bilang tadi. Daripada merangkum tiap tokoh wayang berupa nama, tanggal lahir dan lain-lain, mending ceritakan 2-3 paragraf salah satu jalan cerita mereka yang menarik. Macam Gatotkaca tadi.
Kadang juga, wayangnya dipajang doang pakai nama thok. Udah. Gak ada keterangan apa-apa lagi.
Tulisannya juga jangan imut-imut begitu sampai mesti melotot bacanya hahahaha. Orang-orang bule itu suka membaca kok. Mereka juga pasti curious kan, what’s so special about this wayang or that mayang? Kalau cuma ngasih namanya doang serunya apa?
Ini masalah niat saja sih, ya. Sayang juga itu museum idenya sudah bagus, infrastrukturnya sudah lumayan, printilannya saja yang perlu dipermak. Bagus ini museumnya. Gak nyesel jalan-jalan ke sana ^_^.
Tidak ada salahnya juga punya tour guide. Untuk menghidupkan suasana. Tour guide itu enggak mesti orang pinter atau asli sejarah. Cari yang pinter ngomong dan atraktif. Tukang obat aja tuh direkrut hahahahaha. Timbang mereka kibul-kibulin pelanggan di jalan mending kasih kerjaan jadi tour guide. Kasih skrip nanti biar mereka kembangin sendiri. Yang malas baca panjang lebar biasanya suka kalau diceritain langsung ;).
Kisah pewayangan ini sebenarnya sangat seru, sarat makna dan pesan moral. Dan tentu saja… penuh drama! Hahahaha.
Udah ah, dijitak sama pengurusnya nanti. Cerewet bener. Lo aja sana yang pulang jadi tour guide! Hahahahahhaha.
Tempat terakhir adalah… TMII! Taman Mini enggak ada matinya, yak. Tetep seneng pas ke sana. Wahana yang kami datangi itu Istana Anak-anak, Taman Reptil dan naik Sky Lift. Dari kecil nih cita-cita naik kereta gantung baru kesampaian kemaren.
Di taman reptil ketemu komodo gede yang namanya Bimo. Sampai sekarang anak-anak masih ingat sama si Bimo! :D. Terus foto-foto ama ular. Si adik nih berani banget urusan gini-ginian. Kalau kakaknya mundur-mundur lihat ular berani colak colek dari jauh, si adik malah melotot pas depan kepala ular. Emaknya yang heboh ketakutan! Hahahaha.
Juga lihat buaya gede-gede, rupa-rupa kura-kura, sama aneka ular, dari yang jinak yang sampai yang berbisa.
Di Istana Anak-anak ya standar saja. Naik boom-boom-car dll. Don’t worry, tiketnya paling seputaran 5 ribu/10 ribu/15 ribu saja :D. Belum lagi banyak arena playground gratisan di pojok-pojok yang rindang. Ortunya bisa bergosip sambil nemenin anak-anak main.
Naik sky liftnya yang agak mahal. 30 ribu rupiah per orang. Tapi rutenya panjang juga walau tidak menjangkau seluruh areal Taman Mini. Lurus-lurus doang bolak balik.
***
Terus berbenah, Jakarta tercinta. So far, perubahannya sudah mulai terasa. Semoga bisa konsisten terus.
Titip Jakarta, ya, Koh Ahok ^_^.
Di sana rumahku dalam kabut biru
Hatiku sedih di hari minggu
Di sana kasihku berdiri menunggu
Di batas waktu yang telah tertentu
Ke jakarta aku kan kembali
Walaupun apa yang kan terjadi … 🙂
Letak Kota Thaif Arab Saudi ini di arah tenggara Kota Mekkah. Tapi, biar cepet, untuk ke kota Thaif sudah ada jalan tol-nya langsung tidak perlu mengitar kota Mekkah lebih dulu.
Yang membuat Kota Thaif istimewa itu karena cuacanya yang agak berbeda dengan kondisi alam khas sebagian besar wilayah Saudi. Thaif dingin dan hijau di hampir sepanjang tahun ^_^. Berasa musim semi terus, deh, kalau jalan-jalan ke kota Thaif.
Tulisan ini saya modifikasi sedikit dari artikel yang pernah saya kirimkan ke salah satu media cetak. Dimuat di Kartini kalau gak salah di salah satu edisi November 2013 :D.
Perjalanan Mendaki Bukit Batu menuju Kota Thaif
Dari Jeddah, kota ini bisa dicapai dalam 90 menit menyetir dengan mobil. Padahal jaraknya sekitar 150 km apa ya dari Jeddah. Helooo, Saudi gitu, lho ;). Infrastruktur jalan antar kota memang sangat bagus.
Sebelum mencapai Kota Thaif , kita sudah akan terpukau dengan jalanan yang melewati lereng-lereng pegunungan batu yang terjal. Jalanan ini merupakan akses utama menuju Kota Thaif. Jalanan yang panjang, curam, dan meliuk-liuk tersebut dibangun dengan megah di atas gunung-gunung batu.
Saya tak bisa membayangkan berapa lama pemerintah Saudi membangun jalanan tersebut. Mengingat bangunannya yang terdiri dari tiang-tiang penyangga jalan yang kokoh dan panjang. Biarpun medannya terlihat menakutkan tapi sangat aman dan nyaman untuk dilalui.
Keselamatan sangat diperhatikan. Di tiap tikungan yang sangat curam dan belokan tajam dipasang banyak speed breaker. Dua jalur yang tidak searah disekat dengan beton panjang. Kita tak akan berpapasan langsung dengan mobil dari arah yang berlawanan. Di pinggiran jalan yang mengarah ke lembah juga dibangun beton-beton tinggi dan kokoh. Tiap jalur berukuran cukup lebar.
Selain jalanannya yang lebar dan mulus, juga disediakan tempat-tempat khusus bagi yang ingin menepi. Biasanya orang-orang menepi untuk bersantai sejenak sambil menikmati hamparan perbukitan batu dari atas. Banyak juga yang merekam indahnya jejak alam ini melalui kamera.
Yang cukup berkesan dan unik adalah monyet-monyet yang terlihat di sisi jalanan sepanjang lereng. Di salah satu tempat menepi, mereka bebas berkeliaran dan nampak mendekat jika ada mobil yang berhenti. Mungkin menanti makanan. Dan benar saja, orang-orang sibuk melemparkan makanan ke arah mereka.
Kami tak sempat mendekat karena anak-anak saya terlihat takut dan risih. Padahal monyet ini termasuk hewan favorit mereka dalam berbagai acara televisi dan buku-buku cerita bergambar. Mungkin berbeda rasanya melihat mereka di dunia nyata. Hihihihihi :p.
Naik Kereta Gantung di Al Hada
Kota pertama yang akan kita lewati selepas menyusuri jalanan mendaki tadi adalah Al Hada. Begitu memasuki Al Hada, warna hijau sudah mulai mendominasi kiri kanan jalan. Hawanya mulai sejuk.
Belum puas menikmati pemandangan dari atas bukit batu? Mampirlah ke Hotel Ramada. Lokasi hotel berada di puncak salah satu lereng di perbukitan batu yang terlewati tadi. Persis di samping Hotel Ramada ini, kita bisa menikmati hiburan berupa naik kereta gantung (cable car) yang akan melintasi sepanjang areal perbukitan batu dari atas ke bawah dan sebaliknya.
Kereta gantung di Al Hada
Kereta gantung akan menempuh rute menurun, menuju sebuah waterpark di salah satu lembah di dasar perbukitan batu. Butuh sekitar setengah jam untuk tiba di kawasan waterpark.
Duh, deg-degan juga ketika berada di tengah-tengah. Karena pemandangan di luar didominasi oleh batu-batu terjal yang berukuran raksasa. Berjajar rapi membentuk perbukitan batu yang luas dan terjal. Gak bakal berani memandang ke bawah lama-lama. Hahaha.
Tarifnya sekitar 90 SR (saudi riyal) per orang. Ini sudah termasuk berpiknik dan berenang di kawasan waterpark dan perjalanan bolak balik dari atas (Hotel Ramada) ke waterpark dan sebaliknya. Itu dulu, ya, info dari teman sekitar tahun 2012. Entah berapa kira-kira sekarang.
Di kawasan waterparknya ada playground yang wahananya seru-seru. Sempat lihat foto-foto madam-madam Jeddah liburan ke sana tahun lalu.
Waterpark Al Hada (Male only! :D) gambar : Raiz Fouqil
Konon katanya lebih seru jika memilih malam hari. Kita bisa melihat lampu-lampu yang menghiasi kota-kota besar di sekitar Thaif dari atas.
Bersantai di Playground KotaThaif
Kota Thaif adalah kota kecil, jauh lebih sepi daripada kota Jeddah. Kami hampir tak bisa menemukan petunjuk jalan atau toko dalam tulisan latin. Hampir semuanya dalam tulisan Arab. Dari jauh saya dan suami sempat main tebak-tebakan. Apakah tempat yang akan kami lewati di depan adalah toko baju atau rumah makan. Kami memang belum fasih membaca tulisan arab.
Taman-taman kota yang hijau dan cukup rimbun banyak terlihat dimana-mana. Bangunan-bangunan apartemen dan toko di jalan-jalan berukuran kecil dan tampak kusam. Nyaris tak ada bangunan baru.
Ternyata tak perlu waktu lama untuk menyusuri sudut-sudut kota. Mungkin setengah jam saja sudah cukup. Lalu, kami bergabung dengan teman-teman lain. Ikut gelar tikar dan duduk bersantai di salah satu taman kota yang hijau. Tamannya cukup hijau, dilengkapi dengan playground yang cukup lengkap agar anak-anak bisa bebas bermain-main.
Para orang tua duduk bersantai di bawah pohon. Anak-anak kami biarkan berlari-lari di areal taman bermain. Selain berlarian dan berkejaran, mereka juga memanfaatkan fasilitas bermain lain seperti : ayunan, jungkat jungkit, perosotan, dll. Semuanya bebas dinikmati tanpa keluar biaya.
Mampir ke Ash-Shafa
Nah, sempat pula di suatu sesi jalan-jalan ke kota Thaif Arab Saudi, rombongan mampir ke Shafa. Shafa letaknya tidak jauh dari Thaif. Hanya sekitar 40 menit menyetir santai.
Jalanan menuju Shafa juga tergolong mulus. Pemandangan sepanjang kiri kanan jalan adalah perbukitan hijau dengan lembah-lembahnya yang landai. Sangat kontras dengan suasana Negeri Gurun yang umumnya didominasi padang pasir bersemu warna coklat.
Kalau menurut saya, pemandangannya mirip sekali dengan suasana sebuah padang rumput maha luas di trilogi film “Lord of The Ring.” Makanya saya memberi julukan sendiri buat Shafa, middle earth-nya Saudi. Duh, kangen, euy. Hiks :'(.
Kami berhenti di salah satu taman di pinggir jalan. Tamannya tidak terlalu terawat. Tanaman tumbuh tidak rapi dan tempatnya agak dekat dengan lembah. Biarpun tidak curam, para Ibu nampak sibuk menjaga balitanya agar tidak berlarian menuju bibir lembar.
Sayang sekali, kami tiba di Shafa saat senja sudah mulai menghampiri. Sudah hampir gelap. Perbukitan hijau yang berbaris memanjang tak sempat tertangkap kamera dalam perjalanan tadi.
Ash-Shafa
Berburu Oleh-oleh Buah-buahan Segar
Langit sudah mulai gelap saat kami beranjak meninggalkan Shafa. Lampu-lampu mulai dinyalakan di sepanjang jalan. Perjalanan pulang yang tadinya dikhawatirkan akan gelap gulita, malah menjadi terang benderang.
Dari Shafa, kita bisa langsung menuju Al Hada. Sebelum meninggalkan kawasan Thaif dan Al Hada ini, jangan lupa berbelanja buah-buahan segar. Mampirlah ke sebuah lapak penjual buah-buahan yang cukup besar dan ramai. Tempatnya pasti terlewati dalam rute perjalanan pulang.
Iklim yang sejuk memungkinkan perkebunan buah-buahan tumbuh subur di kawasan ini. Thaif merupakan pusatnya anggur dan apel.
Harganya memang relatif murah daripada harga buah yang sama di kota Jeddah. Terutama buah anggur. Dengan hanya membayar 10 SR, kita bisa mendapatkan sekitar 1-2 kilo buah anggur hijau yang dikemas dalam sebuah kotak kardus. Rasanya pun lebih manis. Buah-buahan lain yang tersedia antaralain : jeruk, apel, kiwi, peach, pisang, mangga, dsb.
Menginap dan Makan Dimana?
Sepertinya tidak ada rumah makan khas Indonesia di sepanjang Al Hada – Thaif – Shafa. Maklumlah kota kecil. Nyaris tak ada pendatang asal Indonesia yang bermukim di daerah ini. Mungkin ada tapi pasti jumlahnya tak sebanyak di kota-kota besar seperti : Riyadh, Jeddah, Mekkah, dan Madinah.
Tapi jangan khawatir. Makanan khas Timur Tengah seperti kebab dan nasinya yang beraroma khas lumayan cocok, kok, untuk lidah Asia kita. Kebab daging sapi dan ayam rasanya mirip-mirip dengan sate. Di sepanjang jalan, rumah makan yang menyajikan kebab dan nasi khas Arab tak sulit ditemukan.
Harga makanan di wilayah ini sedikit lebih mahal dibandingkan harga makanan yang sama di kota-kota besar Saudi. Untuk satu porsi mungkin perlu sekitar 20 – 25 riyal per orang. Tapi satu porsi nasinya memang sangat banyak. Porsi standar orang Arab memang lebih banyak daripada porsi makanan untuk satu orang di tanah air.
Bagaimana dengan penginapan? Banyak hotel-hotel berbintang yang tersebar di kawasan Al Hada – Thaif. Seperti Hotel Ramada dan Hotel Intercontinental Thaif. Tapi kalau masih kuat menyetir sekitar 40 menit, lebih baik menginap di kota Mekkah saja.
Kota Mekkah menawarkan lebih banyak jenis penginapan dengan harga bervariasi. Lokasinya pun mudah ditemukan saking banyaknya hotel dan penginapan lainnya di kota Mekkah.
Infrastruktur jalan di Saudi ini memang sangat memanjakan para pengemudinya. Menurut suami saya, menyetir di Saudi tidak terasa melelahkan seberapa pun jauhnya.
HIghway-Thaif
Jalan tol penghubung Mekkah dan Jeddah misalnya, lurus-lurus saja. Manalagi kondisi jalan yang mulus dan lebar, dua jalur berlawanan arah selalu disekat rapi, sehingga makin nyaman urusan menyetir ini. Manalagi macet hampir tak pernah ditemui.
Pompa bensin pun tak sudah ditemukan di sepanjang jalan tol. Tiap pompa bensin dilengkapi dengan toko-toko kelontong. Ada juga kedai-kedai kecil yang menjual kebab mini dan semacamnya. Jadi bisa mampir kapan saja dan melepaskan sedikit penat jika lelah mulai menghampiri.
***
Tadinya mau menulis tentang Fore Abbey atau Rock of Cashel yang kemarin foto-fotonya baru saja disubmit sama fotografernya hahahaha.
Pas blusukan di segambreng folder foto eh nyangkut di foto-foto lama. Dibukain satu-satu jadi gatel mau posting ujung-ujungnya. Jadilah barusan yang dibuat adalah postingan tentang Thaif, salah satu kota yang cukup sering jadi sasaran berlibur kami saat masih tinggal di Jeddah dulu.
Begini ini ribetnya suka koleksi foto jalan-jalan. Kalau dilihat-lihat lagi malah jadi kangen :(.
“People say that bad memories cause most pain. But actually, it’s the good ones that drive you insane.” -unknown-
Beberapa waktu lalu, penelitiannya ternyata di-update. Kini, juara 1 nya coba tebak dari negara mana? Irlandia, Kakaaaaaa. Hihihi.
Dublin – Irlandia
Salah satu teman saya di sini, ibu-ibu asal India, kaget sewaktu saya ceritakan hasil penelitian ini. Islam dari mananya?
Nah, sebelum banyak orang mengamuk-ngamuk tentang definisi “islamic” yang digunakan oleh sang peneliti, mending kalian googling dulu paper aslinya dan lihat baik-baik indeks yang digunakan sang peneliti untuk menjabarkan hasilnya :).
Saya juga bingung sih kalau ditanya mengapa salat-puasanya tidak dinilai?
Umm…cara menilainya bagaimana, ya? Hehehe.
Perlukah kita pasang CCTV di tiap rumah untuk mengontrol salat masing-masing warga muslimnya? Atau mereka dibagi-bagikan buku absen satu persatu? Jaminan kalau mereka jujur? Perlu kita pasang dalam hati tiap warga “alat pengecek keikhlasan dan ketulusan”?
Itu baru salat. Kalau puasa? Lebih rempong lagi kan? Hehehe. Kita akan sulit mengetahui seseorang itu puasa atau tidak secara tampilan fisik dan kegiatan sehari-hari saja. Seringnya, kita hanya tahu orang lain berpuasa itu kalau orangnya yang mengaku.
Sepengetahuan saya pula, puasa juga masalah melawan hawa nafsu. Okelah dia bersikap manis sepanjang hari, tapi kalau dalam hatinya sibuk mengumpat, siapa yang bisa mengira? Wah, lagi-lagi kita perlu alat pengukur hati manusia, dong, ya ^_^.
Jadi …dengan cara apa kita menilai salat dan puasa seseorang sudah benar dan diterima Tuhan atau tidak? ;). Jangan-jangan ada Tuhan diantara kita, kah? hehehe :p.
Jadi pengin nyanyik … “What if God was one of us? Just a slob like one of us? Just a stranger on the bus. Trying to make His way home?”
***
Balik ke hasil penelitian. Mayoritas 10 besar diduduki oleh negara-negara Eropa. What’s so special sih dengan negara-negara Eropa ini?
Sebelum mulai membayangkan gambar-gambar cantik mengenai Eropa, let’s reveal some inconvenient truth about living in Europe hehehe. Mudah-mudahan enggak sotoy :D.
Irlandia mahal? Well, secara umum iya dibandingkan negara-negara di Asia. Bensin 1 liter saja mencapai 27 – 30 ribu rupiah per liter (di Irlandia/Inggris Raya). Kami, pendatang yang sebelumnya tinggal di Kota Jeddah di mana bensin seliter dibandrol seribu perak sajah, tentu cukup syok! :p.
Pajaknya juga tinggi. Walau dibanding negara-negara Eropa umumnya, Irlandia termasuk negara yang ramah pajak :D. Secara umum, pajak di Eropa/Australia lebih tinggi daripada di Amerika Serikat. Sepertinya, Uni Eropa dan Australia ini condong ke sistem “sosialis” ketimbang Paman Sam yang sangat kental “kapitalis” nya hehehe.
Di US, banyak uang gampang hidup senang. Di Eropa, penghasilan besar harus diganjar dengan pajak yang makin luar biasa ;).
Apakah ini berarti warga Eropa pada ikhlas semua bayar pajak segitu? Belum cencuuuuuu.
Tahu M* S*, pembalap terkenal asal Jerman? Denger-denger, si doi bela-belain ganti kewarganegaraan untuk menghindari jeratan pajak di negeri asalnya. CMIIW.
Yup, Jerman dan Belanda terkenal sebagai pemalak pajak paling sangar hahahaha. Tapi kedua negara ini sekaligus terkenal sebagai negara dengan fasilitas paling maju dan keren.
Sistem kesehatan di Jerman is one the best (katanya). Transportasi umum jangan ditanya. Disiplin, nyaman dan menyeluruh :). Menjangkau hampir semua pelosok negeri dan bisa dinikmati oleh siapa pun enggak peduli kaya-miskin-kece enggaknya hihihhi. Ini kata suami sih, saya belum pernah ke mainland hihihihi. Sementara si pacarku tercinta inih sudah 3x bolak balik Jerman. Enaknyoooo yang sering traveling gratis ;).
Transportasi publik di Jerman (gambar : internations.org)
Saya juga pernah berdiskusi kecil-kecilan di grup orang-orang Indonesia yang tinggal di Irlandia. Ada saja orang-orang yang merasa kena ‘rampok’ gara-gara beban pajak yang dianggap terlalu besar dan tidak adil. Di mata mereka, masa kita yang capek-capek kerja, kita juga yang membayar paling banyak.
Nah, mari kita tengok kembali seperti apa pemahaman kita tentang Islam dalam hal ini. Ini sih saya cocok-cocokkan versi saya saja.. Saya ini ustazah bukan, lulusan pesantren bukan. Emak-emak sotoy mungkin tepatnya hihihi. So, feel free for further discussion ;).
Sependek yang saya tahu, kehidupan di dunia ini untuk persinggahan saja. Sebagai bekal untuk menabung di kehidupan kekal pasca hari akhir nanti. Kalau sudah tahu tidak kekal terus ngapain mau habis-habisan mengejar yang sifatnya duniawi? ;).
Sebagian kita sering menganggap harta yang banyak sebagai hasil kerja keras semata. Ini dengan anggapan semuanya diperoleh dengan halal ya. Kalau enggak halal ya itu lain cerita :p.
Wajar dong jika kita merasa berhak atas harta tersebut. Kan gue yang kerja, gue juga dong yang harusnya menikmati. Suka-suka mau beli apaan, yang penting sudah sedekah, salat, zakat, puasa. Begitu ya kira-kira sifat alamiah kita sebagai manusia.
Katanya, harta adalah anugerah. Betulkah?
Saya pernah sekilas mendapati hadis soal rasulullah yang mengharap kepada Allah agar terus didekatkan dengan orang miskin. Malah meminta jadi orang miskin saja. Mohon dicek sahih apa tidak ya hadisnya?
Aneh, deh. Enakan jadi orang kaya bukan? hehehe.
Padahal jelas-jelas memang dalam alquran disebutkan harta itu adalah cobaan. Sebagian kita sudah terlanjur mencap yang kudu sabar dalam menghadapi hidup ya orang miskin saja. Yang kaya cukup banyak-banyak sedekah :p.
Justru kesabaran yang harus kita jalani saat memiliki harta lebih itu jauuuuuhhh lebih sulit. Ingat dong ya, bergaya hidup mewah itu bukan anjuran agama. Kalau miskin ya gampil. Mau gimana? Wong duitnya enggak ada. Anak-anak minta ini itu, ya tinggal bilang, enggak ada duit.. Terus bisa apa? Tidak perlu payah-payah mencari alasan hehehehe –> pengalaman waktu kecil! Hahahaha.
Begitu banyak duit, ketebak kan apa yang terjadi. Padahal dulunya biasa-biasa saja, begitu ada duit jadi rewel dan mau beli ini itu hehehe. Hati kecil ikut membenarkan, “Kan hartanya halal, hasil kerja keras gue ini. Boleh dong dipakai bermewah-mewah.”
Kalau ada yang iri karena tidak mampu? Lah, emang urusan gue. Harta-harta gue, siapa suruh lu miskin? :p.
Seolah sabar hanya wajib bagi mereka yang tidak mampu :D.
Satu lagi, pemberi rezeki itu Allah semata. Tidak selalu mereka yang bekerja keras pasti akan diberkahi harta yang banyak. Sebaliknya, tidak selalu pula, mereka yang ongkang-ongkang kaki akan selalu menjadi golongan tidak mampu. Manusia wajib berikhtiar tapi ingat, hasil akhir 100% Allah yang punya kuasa ;).
Nah, terlihat tidak ‘cerdas’nya pemerintah Eropa? ;). Heran, padahal mereka mungkin enggak pernah belajar ekonomi Islam dan aturan-aturan muamalah dalam alquran. Iya gitu, pemerintah Eropa membagi-bagikan brosur kepada warganya, “Wahai wargaku yang tajir, bayar pajak banyak-banyak, yuk. Ingat, harta itu cobaan lho according to surah X ayat Y.” Hihihihihi.
Pemerintah di semua negara seharusnya sudah tahu kemampuan seluruh warga negeri pasti tidak akan sama. Dari segi ekonomi dan lain-lain. Tapi tetap saja, tugas pemerintah adalah memastikan SEMUA warganya hidup layak. Jangan pernah coba-coba marah-marah sama Tuhan. Seluruh lingkungan pendukung sudah diciptakan dari sananya tanpa perlu campur tangan manusia mana pun. Tinggal pengelolaan saja yang diserahkan kepada manusia.
Ketidakmampuan menjaga kesenjangan ekonomi sosial agar tidak menganga terlalu lebar itu akan dibayar mahal kelak. Tak sedikit masalah-masalah dalam bermasyarakat yang lahir akibat kelalaian dalam hal ini :(.
Lucunya, negeri-negeri sarat sumber daya alam yang malah agak kesulitan mencapai kehidupan ekonomi ideal bagi seluruh jajaran masyarakat. Tengok negara-negara Timur Tengah :). Indonesia, walau sudah keluar dari OPEC dari kapan tauk, tetap kaya sumber daya alam non migas.
Justru, yang tinggal di Eropa harus terima kasih pada aturan pajak ini. Kita kan tahu pasti, pajak yang kita bayarkan adalah untuk membayar semua kenyamanan yang bisa dinikmati oleh segenap anak negeri. Kaya miskin, semua punya kesempatan untuk mencicipi hidup layak.
Layak tak selalu berarti harus mewah toh, ya? ;). Tapi … tinggal di kolong jembatan dan membayar sekolah saja megap-megap, jelas… itu tidak layak!!!!!! Pentungnya banyak bener hahahahahaha.
Makin banyak penghasilan makin besar sumbangsih kita untuk menyejahterahkan orang banyak di negeri tempat kita tinggal. Bayangkan, pemerintah Eropa sudah membantu kita untuk menyicil tabungan akhirat. Kebermanfaatan bagi orang banyak itu adalah amal yang tidak kecil, lho ;).
Punya banyak uang enggak perlu capek-capek nan mumet mau ke panti asuhan mana, mau memprioritaskan untuk bantu siapa. Dengan sendirinya, kita telah menyumbang untuk kemaslahatan orang banyak tanpa perlu banyak mikir ;).
Senang kan, pajak yang kita bayar dipakai untuk membangun sekolah-sekolah yang nantinya akan dinikmati tidak hanya oleh anak-anak kita saja tapi oleh anak-anak dari mereka yang kurang mampu? Apa tidak geer jika makin besar pajak yang kita bayar makin banyak sumbangsih kita untuk orang banyak?
The key to the real happiness is to make others happy.
Jangan marah-marah ke pemerintah kalau disuruh bayar pajak gede-gede? hehehe. Keuntungannya berlipat ganda ^_^. Mencegah kita dari hawa nafsu pribadi (makin banyak uang biasanya makin banyak aja tuh keinginan hihihi) dan ‘memaksa’ kita ‘rajin’ menabung sebagai bekal di kehidupan akhirat yang jelas-jelas lebih kekal daripada dunia yang fana ini.
Tentu jauh lebih berat melawan keinginan untuk membeli tas mahal saat uangnya ada ketimbang saat dananya cekak hahahahha. Dana cekak ya bisa apa. Paling ngelap iler dan berlalu dari toko secepat mungkin. Kalau uangnya ada? Seringnya sih, hawa nafsu yang akan menang ;). Sementara rumusnya sudah begitu, tak akan habis harta dunia dikejar. Makin dibeli, makin dikoleksi, makin tidak ada puasnya. Itu hukum alam, bukan karangan yang nulis hehehehe.
No hard feeling, ya. Saya pun sering mengalami hal yang seperti itu kok hihihi. Makanya, belajar dari pengalaman pribadi itulah, ada baiknya kita saling mengingatkan dan menguatkan.
The Bling-Bling 😀 (gambar : lapsplash.com)
Hukum juga lebih fair di negara-negara maju pada umumnya. Mungkin karena di negara-negara berkembang ya balik lagi ke sikonnya. Banyak orang berduit luar biasa yang gampang nyogok sana sini. Banyak orang bisa disogok karena kesenjangan ekonomi yang tinggi.
Belum lagi sirik-sirikan karena pamer-pamer kekayaan. Banyak yang tidak kuat godaan akhirnya…nyicil!! hihihih. Kredit ini itu walau sudah tidak cocok dengan kemampuan kantong hanya demi biar bisa menikmati kelayakan hidup yang dianggap umum. Merasa tenang hidup yang penting kartu kredit masih bisa digesek :p. Bayarnya pikir bulan depan.
See? Gaya hidup mewah tidak hanya akan ‘membunuh’ si pelakunya tapi pelan-pelan juga akan ‘menyakiti’ sekitarnya :). Kecuali kita yakin semua orang yang kita kenal dan akan kita temui bisa mengadopsi gaya hidup yang sama ;). Nah, mungkin gak tuh ada kejadian kayak gitu? Mungkin saja. Tapi bukan di dunia ini tempatnya. Menurut gosip yang berkembang, dengar-dengar sih … di surga enggak ada orang susah hehehe ;).
Coba kayak di Eropa pada umumnya. Tukang sampah saja bisa leyeh-leyeh di kedai kopi yang sama yang juga didatangi oleh para engineer/mahasiswa/eksekutif muda/pegawai toko/dll. Hampir semua orang hidup dalam tingkat kesejahteraan yang tidak terlalu mencolok bedanya.
Penghasilan besar mengimbangi penghasilan pas-pasan. Orang dengan gaji cekak dibebaskan dari pajak. Tapi tetap bisa menikmati semua fasilitas umum dari pemerintah, misalnya sekolah dan rumah sakit ^_^.
Ada kalanya kejahatan sosial hadir karena paksaan keadaan. Terpaksa nyolong biar anak bisa makan. Terpaksa merampok biar anak bisa sekolah. Terpaksa kerja-kerja serabutan yang sebenarnya sudah tidak cocok dengan kondisi fisik dengan gaji pas-pasan karena tidak punya hak meminta gaji lebih. Karena capek dan tidak kuat, akhirnya memilih menjadi pengemis :(.
Banyak juga sih orang-orang Eropa yang stres dengan pajak tinggi begitu :D. Tapi kalau pegangannya ‘benar’, insya Allah, hati tak akan segitu terguncangnya.
***
Saya kutipkan sedikit penggalan kalimat dari papernya (versi 2010) …
“But we must be careful how we assessed Islam? By the behavior of those that are labeled as Muslim or by Muslim teachings?
To what extent do self-declared Islamic countries actually behave as Islamic countries i.e. following Islamic teachings from the Quran and the life and sayings of the Prophet? In other words, are these countries truly Islamic or are they Islamic in name only?
We believe that only once this question is addressed can one begin to measure and/or claim empirically that Islam either deters or enhances human development, human solidarity and economic performance.”
Dan ini penggalan yang menunjukkan berdasarkan apa indeks penelitian ini dibuat :
“Moreover, our examination of Islamic teachings shows that Islam’s guidelines for economic, social, legal, and political practices are in line with today’s best practices and recommended institutional structures.”
Moslem Countries (gambar : muslim-academy.com)
Kalau ditelaah dengan hati terbuka, penelitian ini justru mengangkat betapa idealnya ajaran Islam dari sisi ekonomi/sosial/hukum/politik jika diterapkan dalam kehidupan bermuamalah setiap manusia. Setiap manusia, bukan muslim doang ;). Ring a bell, yes? Rahmatan lil aalamiin ;).
Siapa pun yang melaksanakan aturan bermuamalah ini insya Allah hidupnya akan sejahtera. Soal bermuamalah kan enggak mandang akidah. Enggak ada cerita kalau dia kafir terus dia menjalankan ekonomi kerakyatan ala Islam maka negaranya tetap akan celaka :p.
Ada pun jika ternyata aturan-aturan ini justru tidak kejadian di negara-negara yang mayoritas muslim (according to the result from this research) itu adalah peer umat muslim bukan? :).
Oh well, saya tak hendak memaksakan siapa pun untuk bisa merenungi hasil penelitian ini. Sebagian memang memilih untuk menganggap penelitian ini sebagai penghinaan kepada umat muslim. Hasil penelitiannya untuk saya malah positif dan menjadi pemacu untuk terus berIslam dengan baik dan benar. Insya Allah.
If you feel offended then be it :). Saya minta maaf karena jelas-jelas itu bukan maksud saya mengangkat hasil penelitian ini dan membagikannya kepada teman-teman semua ^_^.
Ya pokoknya untuk bahan renungan sajalah ya kalau lagi bengong hehehe.
Saya tutup tulisan ini dengan penggalan kalimat yang di-copas dari tulisan bagian 1-nya. Sebuah kritikan dari Buya Syafii Maarif dalam salah satu tulisannya :
” …Bagi saya penggunaan perkataan ringkih terasa lebih puitis dan tajam, dibandingkan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia.
Itulah sebabnya dalam tulisan ini perkataan ringkih digunakan. Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…”
***
Kebenaran mutlak milik Allah, kalau ada pernyataan-pernyataan yang kurang tepat/sotoy/gak penting/gak jelas/galau/enggak enak dibaca/dll itu pasti 100% tanggung jawab yang nulis ;).
Setiap tanggal 5 November, ada perayaan khusus untuk masyarakat Inggris. Mereka merayakan saat lolosnya sang Raja dari percobaan pembunuhan oleh sekelompok pemberontak.
Tahun 1605, rencana besar untuk meledakkan gedung tempat raja sedang berada gagal total. Salah satu tokoh pemberontak yang terkenal karena peristiwa tersebut adalah Guy Fawkes.
Namanya kembali samar-samar teringat saat mengunjungi Tower of London dalam rangka jalan-jalan London tempo hari.
“The Bloody Tower” adalah salah satu spot yang paling menarik perhatian saat mengunjungi Tower of London. Tempatnya kecil saja tapi isinya horor abis hihihihi *ngikikTegang*. Di ruangan ini dipamerkan berbagai alat-alat penyiksaan zaman dulu kepada para tawanan dalam penjara.
Tower of London memang pernah berfungsi sebagai penjara bagi para penjahat di masa lampau. Makanya langsung ingat pada sosok Guy Fawkes.
Dengar-dengar si Guy Fawkes ini termasuk salah satu tawanan yang pernah mencicipi ruang penyiksaan tadi. CMIIW sih hihihi. Secara menara yang paling menarik perhatian turis ini memang punya sejarah yang super panjang dan multi fungsi dari abad ke abad.
Guy Fawkes lahir sebagai seorang Katolik. Tumbuh besar di Kerajaan Inggris saat kerajaan di bawah kekuasaan Ratu Elizabeth I yang berpaham Protestan. Zaman itu, perseteruan antara Katolik dan Protestan lagi sengit-sengitnya.
Jika yang berkuasa adalah rezim Protestan maka kaum Katolik akan dilarang beribadah. Kalau melawan akan dibunuh. Begitu pula sebaliknya. Walau Kerajaan Inggris lebih kental Protestan-nya, namun pernah juga berada di bawah kekuasaan Katolik.
Guy Fawkes adalah penganut Katolik yang taat. Kesedihannya akan tertindasnya kaum Katolik di bawah kepemimpinan Sang Ratu membawanya terlibat dalam beberapa aksi kekerasan. Hingga akhirnya saat diburu, Guy Fawkes lari ke Spanyol.
Saat itu, Spanyol justru sebaliknya. Spanyol tengah berada dalam kekuasaan Katolik dan tengah menghadapi pemberontakan-pemberontakan dari daerah Holland dan Belgia yang hendak melepaskan diri.
Untuk mengobarkan semangat perjuangan, isu agama mulai dimainkan. Kebetulan pula, para pemberontak mayoritas Protestan. Pihak Kerajaan Spanyol mulai menyewa tentara bayaran untuk menumpas para pemberontak. Guy Fawkes tentu langsung setuju.
Bagi pihak Kerajaan Spanyol, pertempuran murni untuk mempertahankan wilayah mereka. Sementara di mata Guy Fawkes, ini adalah semacam jihad untuk membela ajaran Katolik yang dijunjungnya.
Pertempuran yang sebenarnya hanya masalah perebutan kekuasaan dan keinginan untuk merdeka dari penjajahan disulap menjadi perang agama. How ironic . Ironis tapi manjur untuk mengobarkan semangat juang masing-masing pihak. Hm, sounds familiar, no? 😉.
Setelah cukup matang menimba pengalaman di Spanyol, Fawkes kembali ke Kerajaan Inggris. Di sinilah Fawkes mencoba mencari-cari kesempatan untuk membebaskan belenggu “penjajahan” dari rezim Protestan kepada para penganut Katolik. Bayangkan, mereka dilarang beribadah dan dipaksa menyembunyikan status “Katolik”nya di muka umum. Kalau ketahuan ya nyawa taruhannya.
Akhirnya Guy Fawkes dan kawan-kawannya terpikir untuk menyelundupkan bubuk mesiu ke ruang bawah tanah di Gedung Parlemen tempat raja dan tim penasihatnya berkumpul. Sayang sekali, rencana tersebut gagal total. Guy Fawkes ditangkap, dipenjara dan disiksa sampai mati.
Tapi…itu sejarah dulu . Pertumpahan darah luar biasa memang pernah mewarnai hampir seluruh penjuru Eropa kala ajaran Protestan yang dibawa oleh Marthin Luther di Jerman, mulai bersemi Sekarang sih, di Eropa sudah nyaris tak terdengar lagi indikasi pertikaian antar agama hehehe.
Buktinya adalah Kerajaan Inggris yang mayoritas Protestan dan Republik Irlandia yang mayoritas Katolik adem-adem saja. Malah hubungannya sudah seperti kakak adik . Saya sempat terpikir, maraknya Atheisme di Eropa jangan-jangan adalah buah trauma mereka dari sejarah di masa lampau. Di mana perbedaan agama bisa mengorbankan sebegitu banyak nyawa. Well, bisa jadi sotoy aja saya-nya, sih. Hahahaha.
Bukan hanya itu, lho, agama dulu selalu dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern. Gereja berhak menghukum mati orang-orang yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan gereja. Kalau tidak salah, Copernicus si pencetus bahwa bumi itu bulat adalah salah satu korbannya. Karena dulu Gereja ngotot kalau bumi itu bentuknya kotak .
Penemuan-penemuan modern di Eropa kala itu malah menjadi momok bagi sang ilmuwan. Kalau ketahuan sama Gereja, tamatlah riwayat mereka. Tidak heran kalau sebagian masyarakat masih terbawa trauma kali ya dengan suasana ini maka memilih jadi atheis saja hihihihi.
Karena sudah sering melihat gereja-gereja di Irlandia, begitu ke London langsung terlihat jelas bedanya hehehe. Maaf kalau lagi-lagi sotoy nih. Sungkem dulu sama teman-teman Nasrani .
Gereja Katolik itu lebih ‘wah’, ya, sepertinya. Lebih banyak pernak pernik. Tapi kalau soal megah atau tidak kayaknya bangunan gereja zaman dulu memang keren-keren . Salah satu pembeda utama, di Gereja Katolik biasanya ada patung Bunda Maria yang menyolok. Sementara di gereja Protestan, patung Bunda Maria tidak begitu istimewa. Seringnya malah tidak ada hehehe.
Saat jalan-jalan London di akhir Mei kemarin, cuaca sangat tidak bersahabat huhuhu. Kami basah kuyup saat berjalan dari Buckingham ke Westminster Abbey via tepian St. James Park. Sampai berteduh dalam Gereja St.Margareth. Ragu mau masuk soalnya pakai kerudung gini hehehe. Tapi begitu melihat orang-orang India juga ramai berkerumun di dalam jadi ikutan masuk, deh, sambil lihat-lihat.
Di Tower of London juga diguyur hujan. Apes banget. Anak saya lagi tidur dalam stroller saat hujan turun deras. Ini nih yang bikin kesal dari tempat-tempat wisata di London. Tangga melulu! Enggak bebas berkeliaran nenteng stroller . Tidak semua tempat kami kunjungi. Itu pun jadinya bagi tugas. Anak sulung saya semangat kan melihat baju-baju besi dan miniatur pasukan berkuda. Jadilah saya berteduh di bawah pohon menemani yang kecil tidur, suami yang berkelana bareng yang sulung. Huhuhuhu.
Gagal total syahwat banci eksis-nya hahahahaha :D. Apa harus diulang lagi kah jalan-jalan London ini? :p :p :p
***
Kata orang, kita memang tak bisa mengubah masa lalu. Disesali pun tak ada gunanya. Sudah kejadian. Tapi, kita selalu bisa belajar dari masa lalu dong, ya .
Melihat kondisi umat muslim secara menyeluruh di situasi terkini memang kadang membuat bingung. Saya ingat pernah komen-komenan sama teman dan dia bilang begini, “Sori Je, lo ngomongin agama melulu. Padahal ini gue lagi ngomong masalah kemanusiaan.”
Lah? Kemanusiaan itu adalah bagian terpenting dari ajaran Islam keleussss hehehehe. Nama rasulullah bergema tidak hanya di kalangan muslim tapi diakui sebagai orang berpengaruh nomor 1 karena kehebatannya mengubah wajah kaum Arab di masa itu. Dalam tempo sekitar 23 tahun bisa menegakkan ajaran Islam di muka bumi dan terus ada hingga kini.
Salah satu keutamaan dari beliau adalah…akhlaknya. Akidah yang baik terpancar dari akhlak yang keren 😉.
Saat abad kegelapan menguasai Eropa yang mempertentangkan ilmu modern vs ajaran agama, Islam sudah memunculkan banyak cendekiawan-cendekiawan modern sebelum abad ke-10.
Makanya suka heran sama yang nyinyir-nyinyir dengan kedokteran modern. Katanya enggak sesuai sunnah nabi. Gubrak dot com, deh. Coba cari tahu tentang salah satu Bapak Kedokteran Modern yang namanya masih disebut-sebut dalam literatur terkini, Avicenna. Avicenna itu ya Ibnu Sina . Muslim lho, Kakaaaaa ^_^.
Alquran malah jelas-jelas memberi poin plus bagi orang yang berilmu. Yang entah kenapa juga, ilmu tersebut disempitkan oleh sebagian orang menjadi ilmu ‘agama’ saja. Padahal jauh sebelum Eropa memasuki masa keemasannya dalam dunia sains, selain Ibnu Sina, dunia Islam sudah punya Al Farabi, Ibnu Khaldun, Ibnu Musa Al Khuwarizmi, dll.
Umat muslim kudu pinter-pinter . Mempelajari alquran itu kewajiban utama yang memang tidak bisa diganggu gugat. Namun tidak berarti menafikan ilmu-ilmu lainnya. Justru alquran mendorong kita untuk berilmu agar bermanfaat bagi orang banyak bukan hanya untuk bilang, “Kafir lo! Masuk neraka lo!” Hehehehe.
Akhlak, moral dan sebangsanya juga mengapa selalu dinomorduakan kan, ya? Hiks. Padahal biografi-biografi tentang Rasulullah yang ditulis oleh kalangan non muslim selalu memuji-muji moralitas Rasulullah. Kini, yang mencuri perhatian dunia soal akhlak malah Negeri Sakura! Memangnya ada berapa orang sono yang membaca alquran? *pijetPijetKening*.
Penindasan dan kesewenang-wenangan bukan ajaran Islam . Cukuplah perjalanan panjang masyarakat Eropa di masa lalu menjadi pelajaran berharga untuk kita semua .
“Hate the sin, love the Sinner” -Gandhi-
Dengan catatan di kalangan muslim syarat dan ketentuan berlaku, ya. Berani berbuat berani bertanggungjawab. Hukumnya ada aturan sendiri .
Pening abis ngomong copras capres, baca ginian juga enggak kalah peningnya hahahahahha. Biar enggak pening, nih dikasih foto-foto deh 😀.
Semoga menjadi bahan renungan kita bersama (termasuk saya) untuk penyemangat diri sendiri menjadi agen-agen perubahan positif dalam dunia Islam . Rahmatan lil aalamiin lho harusnya 🙂.
London memang keren tapi mahalnya itu gak nahan euy. Me, no likey! Hahahahahaha.
Saya dari dulu selalu bertanya-tanya, kenapa ya, diantara saya dan enam saudara kandung saya yang dibesarkan oleh orang tua yang sama dengan metode yang rasanya tidak berbeda bisa tumbuh menjadi pribadi yang berbeda-beda?
Kalau secara tampang, lumayan banyak yang mirip. Tapi tentu saja, gue dong yang paling kece! Hahahahaha *benerinLipa’Sabbe* 😀.
Secara akademis pun kami bisa dibilang banyak yang mirip, lho. Saya yakin sekali, salah satu kakak saya yang menolak melanjutkan pendidikan saat masih di bangku SMA itu punya daya nalar yang tidak jauh berbeda dengan yang lain. Bukti lain, adik saya yang suka dituduh “lemot” waktu kecil hihihi. Prestasi akademisnya dahsyat tuh waktu kuliah.
Tapi, cara kami memandang dan menyikapi beberapa hal itu benar-benar variatif. Yang ujung-ujungnya membawa kami menempuh jalan hidup yang berbeda-beda. Oh well, tentu ada unsur takdirnya. Tapi mengapa, sekali lagi mengapa … didikan orang tua yang sama tidak membuat kami tumbuh seragam?
Ini bukan masalah beda profesi atau semacamnya. Tapi benar-benar perbedaan dalam solving problem dan hal-hal mendasar lainnya. Kepercayaan secara spiritual dari sisi religius misalnya. Seriously, bisa beda-beda gitu euy hehehe. Bukan maksudnya banyak agama tapi gimana ya … ya balik lagi ke cara pandang tadi itu hehehe.
Padahal ya, hampir semua teori parenting yang saya tahu sepakat bahwa, “Keluarga ada cikal bakal yang paling penting dalam masa depan anak.”
Buku Tipping Point punya jawaban yang sangat memuaskan dari rasa tidak puas saya terhadap ‘tuntutan’ besar dari kebanyakan teori parenting terhadap para orang tua hehehehe . Sungkem dulu sama Ayah Edi dkk .
Bukannya saya menolak bahwa keluarga adalah unsur penting dalam pendidikan sang anak. Penting, dong. Pasti penting. Tapi ternyata adalah benar, beberapa penelitian yang dilakukan untuk menyelidiki hal ini membuktikan bahwa : peranan LINGKUNGAN ternyata jauuuuh lebih besar. Baca lebih lengkap dalam bukunya langsung ya.
Kesimpulannya, “Anak-anak dari keluarga broken home yang tumbuh di lingkungan baik-baik jauh lebih selamat daripada anak-anak dari keluarga baik-baik yang tumbuh di lingkungan buruk.”
Jadi … masih mau bersikap tidak peduli dan sok-sok buang muka pada lingkungan sosial dengan dalih, “Yang penting gue ngedidik anaknya bener. Bodo amat sama lo-lo pada.” Big NO-NO ya, Dear Parents .
Sesungguhnya, saat menjadi orang tua, adalah tugas kita bersama untuk saling melindungi. Termasuk memperhatikan lingkungan tempat si kecil tumbuh nanti. Jangan malah sibuk membangun dinding dalam rumah sendiri dan berjampi-jampi sendiri, “Asal gue bener, anak gue pasti bener. Udah, gitu aja udah cukup!” .
I’m not saying I’m a good Mom lho ya, Isssh, masih jauh dah pokoknya hahahaha. Mengingat keluhan-keluhan kerabat dan teman terhadap tingkah laku si duo N pas mudik tempo hari hihihihi *tutupMuka*. Mari terus belajar bareng-bareng .
Tanggung jawab kita semua untuk mempersembahkan lingkungan yang berkualitas untuk tumbuh kembang generasi penerus.
***
Buku ini memang membuka wawasan banget . Menerangkan banyak fenomena sosial yang terlihat luar biasa dari sudut pandang yang tak terpikirkan. Asal membacanya dengan pikiran rileks dan terbuka 😉.
Salah satu bahasan yang paling menarik soal merokok. Sekian lama kampanye selalu mengarah kepada sugesti betapa berbahayanya merokok itu. Ajaibnya, justru nyaris tidak memberi pengaruh yang berarti, tuh! *pijetPijetKening* .
Tapi ternyata, banyak sekali hal-hal luar biasa yang terjadi yang oleh banyak orang sudah dianggap “mentok” ternyata bisa berbalik arah.
Contoh kasus yang diangkat antaralain menurunnya tingkat kejahatan di New York dalam tempo waktu sangat singkat.
Nah, titik balik inilah yang disebut sebagai tipping point, “The tipping point is that magic moment when an idea, trend, or social behavior crosses a threshold, tips, and spreads like wildfire.”
Kekuatan konsep, pembawa pesan dan isi pesannya sendiri adalah hal-hal yang sama pentingnya. Uniknya, justru pemecahan dari masalah-masalah tersebut berangkat dari hal-hal yang kelihatannya sepele, “That is the paradox of the epidemic: that in order to create one contagious movement, you often have to create many small movements first.”
Tingkat kejahatan di New York yang sudah sangat brutal (pembunuhan, perampokan, perkosaan, penjambretan sudah menjadi makanan sehari-hari kala itu) mendadak menurun tajam di tahun 1992 – 1994. Penurunannya benar-benar drastis yang membuat banyak pengamat bingung sendiri.
Hingga akhirnya penyelidikan mulai dilakukan. Dan terkuaklah sebuah hasil yang di luar dugaan. Bahwa pemberantasan kejahatan ternyata TIDAK dengan memperketat jam malam, menangkapi para penjahat secara besar-besaran (karena cara ini sudah dilakukan sejak belasan tahun sebelumnya), menambah hukuman dan bla-bla-bla standar lainnya.
Simpel sekali. Diawali dengan pergantian 2 posisi penting di pemerintahan New York. Para pejabat baru memutuskan untuk fokus pada kejahatan-kejahatan ‘remeh’.
Dengan rutin, terstruktur, masif dan sistematis #Eaaaaaaa, aparat menangkap siapa saja yang tertangkap hendak naik kereta tanpa tiket. Mereka bahkan menyiapkan bus khusus untuk memproses para pelanggar kejahatan dengan birokrasi yang cepat dan tidak bertele-tele.
Kepala Stasiun yang baru malah memerintahkan anak buahnya untuk rajin menghapus apa pun grafiti iseng yang sudah sering dilakukan para preman di badan-badan kereta. Tiap hari, badan kereta dibersihkan. Dicoret lagi, dibersihkan lagi, dicoret lagi dibersihkan lagi.
Unik kan? Sementara kota sedang terjerat dalam kejahatan-kejahatan massal tingkat tinggi macam perampokan-pembunuhan-perkosaan dll, mereka kok malah ngurusin coretan iseng di badan kereta dan orang yang ogah beli tiket!!!
Nah, inilah yang dinamakan “kekuatan konsep”. Para pejabat baru mencoba menerapkan apa yang disebut “Teori Jendela Pecah.” Ada titik-titik dasar yang menjadi pemicu akan terjadinya kejahatan yang lebih besar dan beruntun.
Sementara kita suka kebalik kan mikirnya . Misalnya kasus korupsi. Banyak bener tuh yang nyinyirin KPK karena beraninya sama yang cimik-cimik doang hihihi. Maunya ditangkap dulu yang kelas kakapnya. Tanpa mungkin kita sadari, si kakap-kakap ini tumbuhnya dari teri-teri kecil yang terus bermetamorfosis menjadi kakap karena dukungan lingkungan yang ‘asoy’ .
Kita sering menghabiskan energi untuk mengurus hal-hal besar yang kita tahu butuh effort yang tidak sedikit dengan harapan hasilnya lebih dahsyat.
Tapi ternyata … usaha keras macam itu ternyata sering tidak menghasilkan perubahan yang signifikan . Quote dari bukunya, “That is the paradox of the epidemic: that in order to create one contagious movement, you often have to create many small movements first.”
Ini masalah perubahan pola pikir saja sih, ya.
Misalnya dalam Pilpres tempo hari sering saya mendengar kampanye teman-teman yang mengajak kita untuk benci sama Amerika Serikat misalnya. Apa coba? hihihihi.
Kita sudah terlanjur terjebak bahwa untuk melepaskan diri dari sesuatu kita harus MEMBENCInya terlebih dahulu. Gampangnya kan gitu . Habis mau ngapain? Ayo kita lawan dengan permusuhan. Musuhin Amerika Serikat? Terus apa gitu yang dicari?
Kalau masih mentok di pola pikir seperti ini, kalau buku Tipping Point masih dirasa terlampau berat, tontonlah film “How to Train Your Dragon” baik yang edisi 1 maupun 2 . Film ringan dengan sarat pesan moral keren.
Adalah seorang Hiccup yang berhasil menawarkan solusi ‘lain’ kepada warga desa Berk terhadap keberadaan Naga yang sudah sekian lama dianggap menyengsarakan. Naga adalah musuh. Titik. Tidak ada cara lain selain melawan.
Seperti juga ketika Hiccup mencoba nekat membujuk Drago dengan jalan damai untuk berhenti menangkapi para naga. Instead of menuruti saran ayahnya untuk tetap bertahan di Berk, menunggu Drago datang untuk selanjutnya melawan habis-habisan. Mainstream sekali kan? .
Tapi tentu saja, hidup tidak sesederhana itu, ya. Seperti Hiccup pun yang harus menyaksikan kematian ayahnya sebagai harga yang harus dibayar untuk ‘solusi lain’ yang diyakininya. But it’s always worth a try .
Kepedulian adalah kunci utamanya. Peduli untuk membuat perubahan dan peduli untuk tidak membuat keadaan lebih buruk.
Termasuk…peduli sama calon pemimpin bangsa kita dong ya 😉.
Mungkin, sudah saatnya kita mencari pendekatan yang lain. Apa sih untungnya menantang sang Negeri Jantung Dunia dengan bersikap songong? .
Dunia tidak berputar seperti itu. Globalisasi adalah hal yang tak terhindarkan. Kita ini makhluk sosial. Termasuk dalam bernegara dan bersosialisasi di kancah internasional. Jangan berusaha membangun simbiosis yang bersifat parasit atau dengan cara balas dendam. Masih ada pilihan simbiosis mutualisme kan?
Mengapa harus terus membenci pihak lain? Kita miskin karena kita kecurian melulu? Hidup kita begini-begini saja ini pasti ulah si anu-anu-anu? Kita ini sebenarnya punya sumber daya alam luar biasa bla bla bla. C’mon, pesan Anies Baswedan, “Kekuatan terbesar sebuah bangsa adalah sumber daya manusianya, bukan sumber daya alamnya!” Yes? 😉.
Cara kita memandang seorang pemimpin juga perlu direvolusi, nih . Postur tegap, wajah berwibawa, bibit-bobot-bebet dari kalangan ‘atas’, tegas jadi dianggap bisa nakut-nakutin (entah siapa yang mau ditakut-takutin hihihihi) … situ mau cari majikan atau pemimpin sih? Hahahahahahhaha .
Pemimpin adalah mereka yang bisa membawa perubahan. Mereka yang sanggup menjadi ‘trend setter’ akan hal-hal yang selama ini sudah sedemikian langkanya dilakukan hingga sedikit-sedikit kita mencibir dengan menuduh “Pencitraan lo!”
Sudah sekian lama kita dijerat oleh keadaan bahwa pemimpin itu ya memang harus ‘arogan’, harus fokus sama hal-hal besar aja enggak boleh kepo sama yang remeh-remeh, visi misi harus pokok-pokoknya aja ngapain ngurusin detail-detail, harus berpenampilan dan bersikap ‘wah’ jangan terlalu suka berbaur sama rakyat nanti hilang wibawa endebre, endebre, endebre … nah balik lagi, nyari majikan atau nyari orang yang bisa membawa kita ke perubahan yang lebih baik nih?
Buktinya seseorang telah hadir dengan cara tak terduga 😀. Jokowi datang dengan model kepemimpinan yang eksentrik.
Disangka lembut dan lemah tapi di Solo dulu hobinya mecat-mecatin camat yang ogah-ogahan dengan peraturan yang ditetapkannya. Disangka boneka partai tapi semasa jadi walikota pernah melawan Pak Gubernur yang merupakan senior di partai yang sama tapi tetap mencium tangan beliau tatkala bertemu kembali di mana Jokowi sudah resmi menjabat posisi DKI-1 . Little things that count .
Kehadirannya membuat media ramai-ramai mulai menyoroti pemimpin-pemimpin daerah lain yang tak kalah eksentriknya. Dimulai dari Jokowi, datanglah Risma-Ridwan Kamil dll yang juga menjadi media darling, mengimbangi peningnya kepala dengan kasus-kasus korupsi yang bikin emosi jiwa gak abis-abis hahahahahahha :p.
Biarlah lebay, but who knows … beliau adalah Tipping Point bagi perubahan yang sudah kita tunggu-tunggu. Tidak ada memang jaminannya. Manusia bisa berubah, Jokowi pun bukan tak mungkin akan berbalik arah dari yang selama ini kita idam-idamkan. Memangnya kita bisa apa? Kita doakan saja , sambil kita kawal terus pastinya .
Dikawalnya mbok ya yang sabaaaarr. Jangan dikit-dikit protes, dikit-dikit kritik, dikit-dikit ngamuk hihihihi.
Dari halaman terakhir buku “Tipping Point” saya kutipkan sekali lagi, “Coba perhatikan dunia sekitar anda. Kelihatan seperti mustahil untuk diubah, mustahil digoyah. Sesungguhnya tidak demikian. Dengan dorongan seringan-ringannya – asal di tempat yang tepat – apa pun dapat kita ungkit.”
gambar : apex-leadership.co.uk
Pelihara terus harapan kita sama-sama. Untuk Indonesia yang lebih baik. Untuk lingkungan yang lebih berkualitas. Kalaupun tidak untuk kita (soalnya udah telat yak hihihi) setidaknya untuk tumbuh kembang anak cucu kita nantinya .
Selamat bertugas Pakde Jokowi dan Bapak Jusuf Kalla untuk periode 2014-2019. Sudah sah? Sah!!!
Salam 3 jari! (akhirnya publish juga hahahahahaha).