Kumpulan Emak Blogger

3 Tahun Kumpulan Emak Blogger #K3BSauyunan

Enggak nyangka juga, ya, setelah berhenti bekerja dan lebih banyak di rumah, tetap bakal banyak aja gitu urusan hahahahhaha.

Dikira bakal bosan ngangon anak dan ngurusin kerjaan rumah tangga saja, ealah, malah rasanya makin banyak saja yang BISA di-kepo-in :v :v :v *toyorKepalaSendiri*.

Dulu juga sempat merasa, “Duileh, cara bergaul bakal macam mana ni ya kalau sudah tidak bekerja lagi. Tiap hari beredar di kantor saja rasanya kenalan segitu-gitu aje.” :v :v :v

Thanks to internet ;). Hits dunia digital juga membawa perubahan bagi gaya hidup banyak orang. Jangan-jangan, tinggal di rumah kalau rajin ber-socmed bisa lebih sibuk ketimbang kerja kantoran :v :v :v .

Era digital juga sedikit demi sedikit memengaruhi cara kita mengakses informasi. Googling menjadi salah satu metode utama untuk mencari informasi dalam hal apa pun! Termasuk urusan tetek bengek anak-anak :D. Mengaku saja, saya ini ratu googling abis! :p.

Blogging adalah salah satu fasilitas socmed yang usianya paling “dahulu kala” :D. Menulis blog, hal yang dianggap menyenangkan yang dipilih oleh banyak orang. Termasuk ibu-ibu seperti saya.

Kumpulan Emak Blogger
Gambar : bloggingmatters.com

Akhirnya, banyak forum atau perkumpulan yang mempertemukan emak-emak yang doyan ngeblog ini. Di Kumpulan Emak Blogger misalnya.

Enggak terasa sudah 2 tahun join di grup emak-emak satu ini. Jadi ingat tahun 2013 lumayan sering ikut-ikut lomba, dapat macam-macam hadiah mulai dari mesin cuci, gadget, sampai duit :D. Ya rata-rata infonya dapat dari KEB ini nih :D.

Blogging itu cakupannya luas lho. TIdak bisa pakai alasan enggak bisa atau enggak suka menulis. Apalagi .., Ibu-ibu mah enggak ada matinya ;).

Ada yang membagi resep dan tips memasak (surga untukmulah para kitchen blogger! :D), ada yang mencatatkan perkembangan buah hati dan pengalaman membesarkan anak, ada yang menuangkan hobi fotografi, ada yang suka menulis fiksi, sharing tips-tips menjahit atau prakarya lainnya, tulisan jalan-jalan, wisata kuliner, tips-tips belanja :p, tips memilih sekolah, tips MPASI, atau sekadar kisah-kisah ringan keseharian mereka :).

Bahkan tak sedikit yang meraih keuntungan materi dari hobi ngeblog ini. Sudah kenal sama Mak Haya Aliya Zaki atau Mak Arin Murtiyarini? Tobat deh kalau melihat koleksi gadget atau uang yang mereka peroleh dari hasil menulis di blog :D. Bukan cuma mereka berdua, ada banyak yang lainnya lagi ^_^.

Kalau tak salah penantang baru makin ramai. Seperti misalnya Mak Pungky Prayitno yang juga merupakan pemenang Srikandi Blogger 2014 :D. Seru yaaaaa, ngerjain hobi sambil mengail rezeki ^_^.

There are lots and lots of positive things we can share … di dunia yang katanya maya ini ;).

Jangan takut untuk menuliskan hal-hal yang kelihatannya sepele. Memaksakan diri untuk menulis opini-opini mengenai topik ‘berat’ tidak selalu menjadi pilihan bijaksana. Jadilah diri sendiri. Berikan sentuhan unik pada cerita-cerita kita. Kumpulan kisah yang berbeda-beda dari berbagai emak blogger akan menjadi warna warni tersendiri dalam dunia blogger.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bahkan sehelai daun kering yang tersia-siakan oleh angin bisa dipungut dan dijadikan kerajinan tangan berupa pembatas buku yang cantik :).

“One person can make a difference, and everyone should try.” ― John F. Kennedy

Sekalian share tulisan lama yang dibuat saat mengikuti lomba menulis pasca acara Srikandi Blogger 2013 silam.

Selamat ulang tahun, Kumpulan Emak Blogger #K3BSauyunan ^_^. Keep together, stay inspiring ;).

 

Atheisme dan Agama, Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada? (2)

Tan Malaka, tokoh komunis garis keras, lahir dan besar di Ranah Minang. Seperti layaknya pemuda-pemuda Minang, Tan Malaka juga tumbuh dalam dekapan agama Islam yang kental. Boleh dijabanin, Kakaaaaa, biografi beliau yang sudah mulai banyak menghiasi rak-rak toko buku setelah sekian lama rezim Orde Baru berusaha “menghilangkan” kiprah pentingnya dalam sejarah perjuangan bangsa di era sebelum kemerdekaan.

Tidak hanya Tan Malaka, tanah Minangkabau juga banyak melahirkan politikus/sosialis/budayawan yang pemikirannya berpaham kiri atau cenderung sosialis. Dimana sosialisme adalah akar utama dari pemikiran komunisme.

Atheisme dan agama
Gambar : merdeka.com

“Panduan komunisme” yang konon sebagian besar berasal buah pemikiran Karl Marx dalam “Das Capital”.

Karl Marx pula yang mempopulerkan istilah, “Religion is the opiate of the people.” Bagaimana menghubungkan atheisme dan agama ini sebenarnya?

Menurut Marx, agama yang paling sering menjadi penyebab utama pembantaian, peperangan besar dan juga candu yang bisa membungkam kaum miskin untuk melakukan perlawanan.

Mari coba menengok sedikit masa kecil Stalin, salah satu orang besar yang pernah membawa kejayaan komunisme abad 20 di tanah Eropa.

Stalin lahir dan besar di Kota Georgia. Kemiskinan menjerat keluarganya ditambah lagi ayahnya seorang pemabuk dan suka memukuli anggota keluarganya. Ibunya berkeras agar Stalin masuk ke sekolah agama dan berharap Stalin akan menjadi pendeta.

Stalin pernah bertanya kepada ibunya mengapa banyak orang miskin melarat sementara ada juga yang hidupnya sangat mewah. Ibunya tidak memberi jawaban memuaskan dan menyuruh Stalin berhenti memikirkan hal-hal yang tidak penting dan fokus belajar agama saja.

Namun, Stalin sering melihat orang tuanya bertengkar hebat gara-gara tidak punya cukup uang. How ironic.

Mari kita hubungkan juga situasi Eropa saat itu dengan biografi lain yang pernah saya baca. Biografi dari Florence Nighthingale. Berbeda dengan Stalin, Florence terlahir dari keluarga sangat berada. Hidupnya sangat menyenangkan. Tinggal di rumah bak istana dan memiliki banyak sekali pelayan-pelayan yang siapa bekerja untuk keluarganya siang dan malam.

 

Florence tergugah setelah mendapati dunia lain di luar kemewahan yang dijalaninya sejak lahir. Bahwa ternyata ada keluarga-keluarga miskin yang merelakan anak-anak mereka menjadi pelayan dengan gaji sangat kecil untuk bekerja hampir sepanjang hari.

Hatinya sangat sedih. Dalam buku hariannya, Florence sempat mengeluhkan peranan Gereja. Saat itu, dia merasa gereja tidak berdaya dan malah menenangkan kalangan miskin dengan iming-iming surga di kehidupan mendatang jika tabah menjalani hidup penuh penderitaan tersebut. Bahwa kemiskinan adalah takdir yang tidak bisa dibantah.

Napoleon Bonaparte pernah menjabarkannya sebagai, “Religion is what keeps the poor from murdering the rich.”

Inilah sebenarnya hal yang sangat ditentang oleh Karl Marx. Marx tidak suka kepada kalangan penguasa. Yang dianggapnya memanfaatkan agama untuk melakukan penekanan dengan membujuk-bujuk kaum tertindas dengan rayuan palsu khas agama. Pasrah, pasrah, pasrah untuk surga, surga, surga.

Sebaliknya, Marx juga menyindir bahwa agama bisa digunakan untuk pembunuhan massal. Layaknya candu, “Good people can do good and bad people can do evil. But for good people to do evil — that takes religion”. Istilah ini diperkuat oleh pernyataan Steven Weinberg.

Atheisme dan Agama

Tidak perlu banyak alasan dan buang jauh-jauh semua rasionalitas dan logika berpikir yang sehat, “Nothing can be more contrary to religion and the clergy than reason and common sense.” Francois Marie Arouet (Voltaire)

Terus terang, saya berdesir juga membacanya. Karena saya ingat salah satu misteri kelam pasca Gestapu 1965 silam. Sebagian sejarawan mengklaim kesuksesan Orde Baru membabat habis jutaan jiwa kader dan simpatisan PKI waktu itu adalah dengan menebarkan ketakutan via propaganda agama.

Saya rasa, di era Jokowi pun, belum akan ada yang berani mengungkap kenyataan yang perih ini. Sementara, gema propagandanya berbunyi jauh lebih kuat sampai sekarang :'(.

Saya mencoba mengobrol ringan dengan ibu mertua dan ibu saya. Mereka berdua dari 2 wilayah berbeda dan keduanya di luar Jawa. Satu di Sumatera satunya lagi di Sulawesi.

Jawaban mereka mirip. Suasana justru jauh lebih mencekam pasca peristiwa Gestapu-nya. Orang-orang banyak yang hilang mendadak. Kata ibu saya, saking takutnya, orang menutup lubang-lubang WC dan buang air di atas nampan karena ada kepercayaan, orang-orang itu ditarik dari bawah saking misteriusnya mereka yang hilang dan tidak pernah kembali lagi :(.

Mungkin karena PKI memang hanya besar di Jawa saja. Tapi pembasmiannya menyebar jauh hingga ke ujung terluar Nusantara. Propagandanya secara kontinyu didengung-dengungkan ke seluruh wilayah tanah air.

Lantas, salahkah jika kalangan atheis makin tumbuh subur :(. If we’re speaking about atheism, please stop thinking that they hate moslem (only). Atheisme pada dasarnya tidak percaya pada Tuhan dalam agama mana pun.

Salah satu tokoh atheis modern terkini yang sudah beberapa kali saya tonton videonya adalah Sam Harris. Harris berpendapat, “Tidak akan ada kedamaian secara universal jika agama masih dibiarkan ada.”

 

“Religion is fundamentally opposed to everything I hold in veneration – courage, clear thinking, honesty, fairness, and, above all, love of the truth.”
Henry Mencken

Untuk poin fairness, Harris punya banyak bukti-bukti konkrit. Ampun dah, tokoh-tokoh atheis ini memang pola pikirnya setajam silet.

Ada satu pertanyaannya yang cukup menohok, “Kita ambil contoh agama Islam. Religion of peace they said. What peace? Di mana? Timur Tengah? Di mana mereka yang sebenarnya punya kekuatan ekonomi yang baik tapi masih mempekerjakan orang dengan upah sangat kecil. Religion of peace. Of course, it’s a peace for people with lots of money!”

Dia melanjutkan, “Saya terkejut jika kalangan Islam selalu mengklaim diri mereka menentang perbudakan. Bahwa ajaran tertinggi mereka adalah manusia semua sama. We, western, are so over it. Lincoln fight for slavery since long-long before. They’re still practising it now. Perhaps … using another form.”

“Mereka mengaku sangat menjunjung tinggi perempuan. But look at them. Mereka melarang perempuanya bersekolah. Mereka melarang perempuannya keluar rumah. Mereka bahkan bisa mengancam mereka untuk bersedia dipoligami dengan ayat-ayat Tuhan. God can make woman stop being cranky if their husband want to marry another woman. Another woman who is much-much younger and perhaps prettier than them. Even if they cried and hurt that much, religion will give them a simple solution. Heaven. That simple.”

“Untuk kasus perkosaan, mereka akan menyalahkan perempuan yang tidak menutup sekujur tubuh dan wajahnya dengan kain yang sangat besar. Anyone who refuse to do that … go to hell fire!”

“Mereka berbicara tentang keadlian. Tapi tentu saja keadilan untuk agama mereka masing-masing. Mereka hanya ribut jika kekerasan menimpa agama yang mereka anut. Other than that, they will blame something else!”

Ini catatan penting juga buat kita kaum beragama. Tempo hari saat ramai kasus Rohingnya, ada karikatur yang menghina Dalai Lama, apakah kita bisa sebegini ributnya? :'(. Maklumlah, umat Budha kan minoritas di Indonesia.

Soal Charlie Hebdo saya malah baru tahu gara-gara ada peristiwa penembakan di kantornya. Sementara karikatur Dalai Lama itu muncul di wall saya, di depan mata saya.

Kalangan atheis menuduh kalangan agama hanya membuat nilai-nilai kemanusiaan secara universal menjadi angan-angan saja. Mereka berpikir Tuhan dari setiap agama secara egois menakut-nakuti jemaahnya dengan neraka dan mengiming-imingi surga bahkan bagi kejahatan sekejam apa pun asalkan itu dilakukan demi menegakkan agama. Candu yang sungguh berbahaya bagi kelangsungan umat manusia.

“You don’t need heaven or hell just to give some money to the poor. You don’t need heaven or hell just to help others. You don’t ask about someone’s religion if somebody called for your mercy. Simply because we are human!”

Setahu saya, dalam alquran, banyak sekali perintah untuk berpikir dan berilmu. Alquran juga tidak pernah menganggap murah nyawa manusia. Tidak ada yang bilang, kalau dia bukan muslim, ya udah bunuh sajalah. Tidak pernah! :).

Yang harus dilawan adalah kejahatan dan kekejaman yang dilakukan oleh SIAPA PUN. Tuduhan bahwa Islam menyuruh umatnya membenci etnis tertentu juga sama sekali tidak berdasar!

Monggo bantu dicek, dalam hampir semua ayat-ayat tentang perintah untuk beriman selalu disertai dengan “mengerjakan kebajikan” atau “berbuat kebaikan” atau “berbuat baik”. Iman tanpa kebaikan itu … tidak ada :).

Setahu saya tidak pernah agama memerintahkan kita untuk mengesampingkan kemanusiaan atas nama agama. Terbalik banget kelessss hehehehe. Justru setahu saya, Allah selalu menegaskan kepada semua nabi, termasuk kepada Rasulullah SAW. Kira-kira isi ayat-ayat tersebut begini, “Kamu hanya sebagai pemberi peringatan. Sisanya serahkan pada Kami/Ku.”

Jadi, tidak pernah rasanya ada perintah, “Kalau gak mau nurut, bunuh saja! Kalau enggak mau khilafah, bom saja!”

Tidak ada itu :).

Tuntunan muamalah (hubungan sesama manusia) dalam alquran itu justru sangat banyak dan cukup detail.

Poligami pun bisa salah kaprah di mata umat lain karena sejatinya poligami BUKAN bawaan Islam. Lagi-lagi terbalik. Islam justru mencoba membatasi karena kondisi umat saat itu, menikahnya ampun-ampunan, Jek. Bisa sampai belasan kali!

Itu pun syaratnya berat. Harus adil. Praktiknya yang memang sering ‘aneh-aneh’ dan justru mencemari teori aslinya yang sangat indah dan bentuk penghormatan kepada kaum perempuan :).

Poligami sebaiknya diambil karena kondisi darurat saja. Kalau pun ditempuh berdasarkan nafsu, ya tetap sah. Tapi tolong, jangan berlindung dibalik sunnah atau amal saleh atau membawa-bawa surga :). Masalah ini juga erat dengan budaya. Di mana budaya kita misalnya di Indonesia kan memang monogami :).

Bedakan dengan Arab Saudi yang kondisi masyarakatnya sudah biasa menghadapi kasus poligami. Jangan memaksa Indonesia untuk mengadopsi hal-hal seperti itu atas nama amal saleh bla bla bla ;).

Ini juga sih karena kita kebanyakan berkaca pada kondisi umat di Timur Tengah :). Ke mana semangat rahmatan lil aalaminnya? Jika hendak membuat seluruh wajah Islam menjadi satu budaya yang kaku dan berpatokan pada satu ras tertentu? :).

Makanya tak heran, jika kalangan atheis modern macam Sam Harris tuh dikit-dikit Timur Tengah dikit-dikit Timur Tengah. Coba dong tengok Malaysia dan Indonesia ^_^. Yang juga mayoritas muslim tapi punya kehidupan sosial yang sangat jauh berbeda dan lebih heterogen dalam keberagaman.

Sori-sori saja, hidup berdampingan dengan umat lain tidak perlu membuat kami jatuh dalam perang saudara berkepanjangan. Semoga selamanya bisa begitu, ya, Allah :).

Tapi hey, mungkin kita juga bisa berkaca, jangan-jangan kita pun begitu :p. Dikit-dikit konspirasi, dikit-dikit konspirasi dikit-dikit Israel dikit-dikit Yahudi hehehehhe :p.

Kita menolak jika satu tindak kekerasan yang mengatasnamakan Islam dituduhkan kepada seluruh umat muslim di dunia. Tapi sebaliknya jangan-jangan kita pun gagal mengidentifikasi banyak problema sosial di sekitar sesuai akar masalahnya masing-masing. Paling enak memang nunjuk ke luar :p.

Urusan Rohingya tiba-tiba menjadi dosa umat Budha di seluruh dunia. Tiba-tiba menjadi konspirasi penghancuran Islam. Padahal ada fakta bahwa Bangladesh pun, yang sebenarnya secara fisik mirip dengan orang-orang Rohingya ini dan sesama muslim juga, menolak mengakui keberadaan mereka dalam teritori Bangladesh secara legal :). Banyak sekali masalah melatarbelakangi kasus ini selain masalah perbedaan agama semata.

Mungkin, mungkin lho ya, kita sebagai umat beragama memandang keTuhanan adalah hal yang jauh lebih tinggi daripada kemanusiaan. Padahal bukankah seharusnya percaya kepada Sang Khalik adalah penggerak utama kita dalam berbuat lebih banyak bagi kemanusiaan? Kita menghindari saling menyakiti karena kita tahu betapa Tuhan yang Mahatinggi itu adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dua sifat Tuhan yang dipilih sebagai pembuka dalam setiap surah dalam alquran :).

Agama tidak seharusnya membawa kita melupakan kemanusiaan. KeTuhanan seharusnya menjadi hal yang individual, hubungannya vertikal. Siapa yang berhak mengukurnya? Dengan mengetahui betapa luasnya kasih sayang Allah, apalah artinya kita yang hanya manusia seorang ini :). Bersikaplah rendah hati senantiasa. Itu harusnya jadi ciri khas orang yang percaya agama.

Sementara kemanusiaan adalah hal-hal yang bisa kita rasakan langsung akibatnya. Tempat dimana seharusnya prinsip-prinsip bisa berlaku secara universal tanpa perlu banyak cekcok dan adu mulut. Horisontal. Jauh lebih terukur dalam kapasitas ke-manusia-an kita.

Ganjaran luar biasa indah berkali-kali disebutkan dalam alquran untuk perintah semacam ,mengasihani kaum papa dan anak yatim. Islam pun menolak kemewahan karena efek sosialnya yang bisa sedemikian menyakitkan dan memicu masalah sosial lebih lanjut. Termasuk akhirnya membuat manusia mendewa-dewakan harta untuk kemudian dipamer-pamerkan karena keyakinan kita akan lebih dihargai kalau orang tahu kita adalah kalangan berada.

Kalau komunisme mencoba melawan hedonisme dengan paksaan, maka seharusnya agama adalah solusi yang lebih bijak dan menyejukkan :). Agama mengkritisi hedonisme atas dasar belas kasihan kepada sesama manusia yang kita tahu tak diciptakan seragam tajir semua :D. Tidak boleh dipaksa orang untuk tidak hidup mewah. Jangan!

Biarkan naluri manusia berbicara dan menghalangi mereka untuk terjebak dalam kemewahan secara ikhlas bukan karena diancam-ancam. Keikhlasan termasuk poin penting dalam mengamalkan perintah agama ;). Tuhan tidak menganjurkan yang instan-instan macam pemaksaan ala kaum komunis.

Kaum komunis menuduh agama menjadi sumber percekcokan. Lah, mereka sendiri hobi menebar teror dan membantai kubu yang tidak sejalan :p.

Biarkan manusia menyadari dan belajar sendiri dari pengalaman-pengalamannya bahwa kesederhanaan memang jauh lebih paten dan menguntungkan dalam menjalani kehidupan di dunia :).

Ini juga untuk menjawab mengapa alquran tidak sejak awal mengharamkan perbudakan. Allah Mahabijak Maha Penuh Perhitungan. Instead of memaksa dan mengancam umat manusia yang kala itu memang sudah terbiasa punya budak/hamba sahaya, Allah menjanjikan pahala yang sangat besar kepada mereka yang sanggup membebaskan seorang budak/hamba sahaya. Satu orang saja yang dibebaskan imbalannya luar biasa :).

Perhatikan tidak, metode “tobat” dari kesalahan tertentu, perintah pertamanya itu biasanya membebaskan hamba sahaya. Satu orang sudah cukup. Nomor 2-nya memberi makan 60 orang miskin. Nomor tiganya, kalau tidak sanggup, baru berpuasa 2 bulan berturut-turut. Atheisme dan agama, mengapa bisa bertolak belakang?

Siapa bilang agama tidak peduli pada kemanusiaan dan memuja-muja ritual individu semata? Tidak benar. Lebih diutamakan membebaskan hamba sahaya dan memberi makan puluhan orang miskin ketimbang puasa sendiri sampai 2 bulan berturut-turut sekali pun :).

Kaum atheis mengklaim orang beragama karena dasar ketakutan. Saking takutnya, disuruh apa saja pada manut lupakan logika lupakan akal sehat lupakan semuanya.

Sementara menurut mereka, berbuat baik itu sejatinya adalah buah cinta dan kasih sayang yang bisa dilakukan lintas agama asalkan masih sama-sama manusia. Jangankan kepada sesama manusia, perintah untuk menyayangi itu juga berlaku untuk hewan dan seluruh jagad raya sekitar kita :).

Bukankah salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan membuat orang lain bahagia? Cara tercepat untuk berdamai dengan diri sendiri adalah dengan tidak menyakiti orang

Sanggup membuktikan tuduhan mereka keliru? Yuk :).

Bisakah kita semua
Benar-benar sujud sepenuh hati
Karena sungguh memang Dia
Memang pantas disembah
Memang pantas dipuja

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkan kau bersujud kepada-Nya
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut nama-Nya?

(Chrisye, “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada”)

Salam rahmatan lil aalamin dari belahan barat Eropa ^_^.

-Jihan Davincka, a very-very-very proud moslem who also admires Mother Theresa/Mahatma Gandhi/Dalai Lama-

When You Gotta Be

Sebelum ngikut suami yang sudah hampir 6 tahun terakhir ini bekerja di luar negeri, saya pun sudah merasakan “merantau” dalam arti pergi jauh dari keluarga dan tinggal sendiri.

For me, living abroad is not my first “going away” :D.

Mungkin, klimaksnya sudah lewat. Itu sudah terjadi, saat pertama kali saya melambaikan tangan dari geladak KM Umsini yang mulai bergerak menjauh di pelabuhan laut Soekarno-Hatta di Makassar kepada adik bungsu saya yang menangis karena ibu saya ikut pergi mengantar saya.

Gambar : pelni.co.id :D
Gambar : pelni.co.id 😀

Namanya sama-sama Soekarno-Hatta, cuma yang satu melayang di udara, yang ini dilepas di laut hihihihi. Waktu itu ya mana sanggup beli tiket pesawat. Ini saja terpaksa meninggalkan adik bungsu dititip di rumah tante biar lebih hemat hahaha.

Sudah terasa oleh saya, mudik kembali ke kampung halaman tercinta akan menjadi kemewahan tersendiri. Gimana enggak mikir gitu, sejak koran pengumuman UMPTN mengumumkan nama saya di salah satu PTN di Jawa, ibu sudah sering kelihatan “bengong”. Mungkin sudah mulai kriyep-kriyep, sanggup gak ya ngongkosin sampai lulus? Hahaha.

Istimewanya, setiap saya bertanya, jawabannya selalu sama, “Jammoko pikir macam-macam. Belajar yang benar. Cepat lulus. Itu saja.”

Kekhawatiran ibu saya sangat beralasan, begitu semester ke-3 sudah tersendat-sendat kiriman hahahahahaha. Tapi yah, rezeki sudah ada yang mengatur ^_^. Saat akhirnya ibu sudah “menyerah” soal biaya kuliah dan segala macam, salah satu kakak saya merantau ke Negeri Matahari Terbit.

Jangan dikira menjadi pegawai berdasi. Menjadi pekerja pabrik saja di sana :D. Tapi, penghasilan di sana kan memang gede, ya. Apalagi untuk ukuran biaya kuliah saya yang memang murah banget dibanding sekarang-sekarang.

Sebuah suratnya beberapa bulan kemudian tiba di tempat kos saya. Masih surat-suratan beneran hhihihi, email belum begitu popular.

Gambar : baltyra.com
Gambar : baltyra.com

Dia berjanji dan memberi komitmen akan mengirimi saya uang tiap bulan. Walau jumlahnya ngepas. Ya tahu dirilah. Pokoknya asal cukup buat bayar kuliah bayar uang kos sama makan. Sisanya? Mungkin itu gunanya pas kuliah harusnya punya pacar, Neng! Hahaha.

Bahagianya tiada terkira. Makanya, setiap bulan Ramadan akan segera berakhir dan rata-rata teman kuliah sesama perantau ribut mau mudik, saya harus banyak-banyak bersabar. Mengingat harga tiket, baik laut maupun udara, yang akan melambung setinggi langit menjelang hari raya.

Buat apa saya membebani kakak hanya demi pulang kampung pas lebaran doang. Lebih kasihan dia jauh-jauh ke Jepang. Menjadi buruh di negeri orang. Uangnya pun sebagian besar untuk ibu dan adik-adiknya.

Insya Allah, amalnya akan berbalas ya, Daeng Bro :). Insya Allah pasti sudah dipersiapkan balasan terbaik ;). Kakak-kakak yang lain juga tidak sedikit jasanya. Yang sini duitnya habis, tinggal minta sama yang satu lagi hahahahahaha :p. Tenang Daeng Broh, tidak akan terlupakan sepanjang hayat :).

Dari situ sudah terpikir, kalau mungkin saya sudah mulai harus berpikir soal kemandirian. Terbiasa lebaran di tengah-tengah keluarga besar, harus lebih tangguh kalau ternyata mulai dari saat itu, harus pasrah akan menghabiskan lebaran di mana, tanpa siapa-siapa.

Membiasakan diri dengan pikiran “Apa-apa harus bisa sendiri. Jangan cengeng! Jangan manja!” Kandatto kalo jabe deh :p.

Cengeng tidak berarti enggak boleh menangis. Nangis mah teteuppp hihihi. Tapi kalau pun harus mewek, harus cepat-cepat dihapus air matanya dan berusaha mencari solusi sendiri :).

Gambar : feminspire.com
Gambar : feminspire.com

Makanya, dulu pertama kali pindah kosan. Hanya berduaan sama supir angkot yang saya berhentikan di jalan sendiri. Takut juga sih hahaha. Itu pokoknya kalau supirnya masih muda saya enggak mau.

Agak lama mencoba menimbang-nimbang di jalan, angkot mana yang kira-kira aman diajak kerja sama. Keterbatasan memang sering membuat kita menjadi mendadak berani, tiba-tiba nekat :D.

Walau sudah bekerja pun, saya sayang duitnya. Karena jalan masih panjang ya. Mana tahu kena pecat atau gimana-gimana. Teman yang lain kalau kena pecat tinggal pulang menumpang ke rumah orang tuanya. Lah eike disuruh pulang ke mana? Hahaha :p.

Tetap berbesar hati untuk tidak mudik saban lebaran. Lagian pulang juga mau ke mana coba? Paling numpang juga di rumah tante. Harus mikirin akomodasi di sana juga. Tahu dirilah, yang di sana bukan keluarga yang benar-benar dekat.

Malu dong dulu waktu kuliah sudah menjadi beban Kakak. Sekarang harus pandai-pandai menjaga diri sendiri termasuk soal keuangan :). Jadi, harus kudu nabung-nabung-nabung buat serentetan hal-hal yang di depan sana. Buat ongkos kawin juga misalnya hehehehe :p.

Walau kadang banyak juga bisikan syeitannya, “Udaaaaahhhh, upgrade penampilan sana, udah punya gaji lumayan. Pindah ke kosan yang lebih mahal, naik taksi gih biar enggak kayak orang susah” dan bla bla bla lainnya :D.

Begitulah. Hidup seperti roda pedati. Kadang susah, kadang agak susah, kadang susah banget. Hahahaha.

Waktu pertama kali mengikuti suami ke Tehran, ada juga dia yang lebih sering kangen sama keluarganya. Bukan karena dia lebih cengeng lah. Tentu karena jalan hidup orang beda-beda. Yang terbiasa tinggal sendiri jangan belagu lah yaow ;). Mari menghibur dan menguatkan suami.

Di Jeddah juga begitu. Saya mah santai-santai saja menghadapi suasana Ramadan dan lebaran di sana :D. Teman-teman banyak yang mengeluh. Rindu kampung halaman dan segala macam. Ya saya paham juga.

Karena begitulah mungkin dulu perasaan saya waktu kuliah dulu ;). Cuma mereka belakangan ngerasainnya hehehe.

Far from home Gambar : theworldeffect.com
Far from home Gambar : theworldeffect.com

 

Sudah sejak lama saya berpikir, “Fokus sama ibadah puasanya saja. Sisanya hanya gimmick. Bukan yang utama” :). Di mana suami berada, di situlah saya menemani, selama tidak ada kasus darurat yang membuat saya dan anak-anak harus terpisah dari suami ;).

Menurut saya, dalam beberapa hal, kita memang tidak bisa leluasa memilih. Inginnya saya sih, waktu usaha yang ditinggalkan bapak, maunya rumah tidak dijual. Tapi ternyata dijual untuk menutupi utang.

Maunya saya, saya tidak perlu tinggal pisah-pisah dengan segambreng saudara dan ibu saya pasca rumah dijual. Tapi kira-kira dong lo, kerabat mana yang mau ketiban kami berdelapan? Hahaha.

Suka tidak suka, tinggalnya harus dibagi-bagi. Si anu sama tante ini, si onoh sama tante itu.

Waktu kuliah maunya bisa mudik tiap tahun, sekadar melepas penat habis belajar ria selama setahunlah minimal. Entah mudik libur panjang entah mudik lebaran. Enggak ada yang kejadian :).

Inginnya tinggal di luar negeri ya macam tinggal di Indonesia saja. Fasilitas umum bak negara maju, tapi maunya tetap punya simbok tetap dekat dengan semua keluarga besar, tetap punya banyak teman-teman, tetap mau makan enak-enak dan murah-murah hihihihi,

Jadi yah, sometimes you have to be on your own :).

Barusan membaca artikel “How an Indonesian diaspora feels like when going home for holiday”. Tertarik dengan kalimat ini :

“Just like how it begins, you end up in a plane, going somewhere, taking off into the sun. It’s just that each time you complete this circle, this ritual, the whole set of motions, you are less and less sure where home truly is.”

Wherever we are, let’s always try to create our home. Perempuan yang sudah menikah, bersama suami adalah rumah kita . Di mana pun itu. Mereka yang kita tinggalkan apa benar-benar terhapus dari ingatan kita?

Enggak dong ah ;). Memangnya sudah berapa tahun saya tidak tinggal seatap dengan ibu saya? Hampir 20 tahun. Saya pulang pun, belum tentu ibu menginap di rumah. Terakhir mudik, enggak pernah malah :(.

Bukan karena somse apa gimana. Ya enggak ketemu waktu yang pas saja. Tapi untuk saya, simpel saja, jauh di mata selalu dekat di hati :).

Namanya orang hidup, ya masalah pasti datang ganti-gantian. Kalau enggak sekarang, besok pasti ada saja. Entah besar entah kecil.

Are we strong enough to get through? Kalau kata orang bijak, “Don’t ask for an easier life. Ask to be a stronger person” :).

You gotta be
You gotta be bad, you gotta be bold, you gotta be wiser
You gotta be hard, you gotta be tough, you gotta be stronger
You gotta be cool, you gotta be calm, you gotta stay together
-Des’ree, You’ve Gotta Be

Gambar : dailyyogaseed.com
Gambar : dailyyogaseed.com

***

 

Semangat Tahun Baru, That Man in The Mirror!

Pak Anies Baswedan bisa dikategorikan sebagai salah satu pahlawan perubahan saya di tahun 2014 kemarin ^_^.

Terpesona dengan usaha keras beliau menebarkan semangat untuk berubah, salah satunya dengan program “Indonesia Mengajar”, membuat saya tidak ragu-ragu ikut dalam barisan relawan, “Ayo Turun Tangan!”

Salah satu jargon beliau memang, “Ayo turun tangan, jangan hanya bisa urun angan.”

Aren’t we all like that? :D.

Angan-angan setinggi langit. Bermimpi jadi negara maju lah, mau punya perekonomian yang bisa mempengaruhi dunia lah, pengin disegani oleh asing lah, hendak ini lah menuntut itu lah, tapi hanya sebatas mimpi-mau-pengin-hendak-menuntut saja.

Kita sering sulit menempatkan diri sebagai bagian dari solusi. Parahnya lagi, enggan menjadi mata rantai solusi tapi paling getol nunjuk sana sini. Pokoknya yang salah dia, dia, dia dan mereka!

Kalau terus-terusan menganggap masalahnya di luar sana, lantas kita bisa apa coba? Memang menyenangkan sih, menyalahkan orang lain atau sesuatu di luar sana, di luar diri kita, membuat kita terlepas dari tanggung jawab apa pun. Ya iya dong, namanya juga cuma korban. Apalah daya dan upaya kita.

Sebagai umat muslim pun saya merasa tidak sedikit pihak muslim yang terlalu sering mengarahkan telunjuk ke luar. Selalu merasa menjadi korban. Untuk menyelesaikan masalah, yang “sana” yang harus berubah. Segala konspirasi ini lah, itu lah, media yang jahat lah, atau apa lah.

Selalu menghina media yang menyesatkan, padahal tidak pernah berkaca. Kalau urusan berita hoax yang dirasa menguntungkan pihak yang dibela, beuuuhhhh … ringan sekali jari jemarinya beraksi -_-.

Bila pelaku dari kalangannya, dibilangnya oknum. Kalau pelaku dari luar kelompoknya dianggap mewakili kelompok tersebut secara keseluruhan. Seolah keadilan hanya berlaku sepihak -_-.

Melihat ke dalam memang resikonya besar. Manakala kita berusaha memandang “diri sendiri”, dengan sendirinya kita mengambil alih pertanggungjawaban.

Bertanggung jawab pastilah berat dan menyulitkan. Tapi itu berarti kita mengambil alih kontrol ;). Bahwa ada sesuatu yang bisa kita lakukan. Bahwa sebenarnya kita bisa memercikkan api harapan tanpa perlu memusingkan hal-hal yang di luar kendali kita.

Respons orang lain, rencana orang lain, hasil di masa depan, memangnya bisa kita kontrol? :D.

Ini berlaku untuk masalah apa saja, kok. Dalam setiap hal-hal yang tidak terwujud, hal pertama yang harus kita lakukan adalah … ngaca! Berdiri di depan pantulan cermin dan nyanyi aja, “I’m starting with the man in the mirror…”

Sering-sering ngaca kadang bisa bikin kita narsis tapi ya hihihihi. Hasil berkacanya ya digunakan untuk mengukur diri bukan untuk dipamer-pamerkan ke orang lain ;).

“That’s how winning is done! Now if you know what you’re worth then go out and get what you’re worth. But ya gotta be willing to take the hits, and not pointing fingers saying you ain’t where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain’t you! You’re better than that!” -Rocky Balboa-

Cowards do that and that ain’t us! ;).

“SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUBAH NASIB SUATU KAUM KECUALI KAUM ITU SENDIRI YANG MENGUBAH APA APA YANG PADA DIRI MEREKA ” QS 13:11

Mari ikut mengambil bagian dari perubahan dan turun tangan menjadi mata rantai sebuah solusi dalam hal apa pun menuju perbaikan yang lebih positif. Jadikan sebagai semangat tahun baru kita semua.

Make that change … YOU!

Selamat tahun baru 2015 :).

Semangat tahun baru
Gambar : funmozar.com

***

I Say a Little Prayer

“Kalo tida’ pi skola, nanti jadi tedong.” (Kalau tidak pergi ke sekolah, nanti jadi kerbau).

“Biarma’ jadi tedong …” (Biar saja menjadi seperti kerbau).

Hahahahha. Kalau ingat yang ini masih ngakak-ngakak sampai sekarang. One of the most memorial conversation back then. Waktu Mama saya membujuk salah satu kakak saya agar mau ke sekolah. Itu katanya si calon tedong kecil itu ngomongnya sambil sesengukan lho. Saking enggak maunya disuruh ke sekolah. Hahahhaha.

“Patteriang la’de’. Terri-terri okko salo’e” (Cengeng sekali. Menangis keras-keras saat di sungai).

This one isn’t less hilarious hihihihi. Kakak saya yang ini memang gampang menangis kata Mama. Suatu kali dibawa naik perahu menyeberang sungai. Lupa saya Mama mau ke mana. Hadeuh, sepanjang jalan menangis berteriak-teriak. Ribetnya bawa anak umur 2 tahun menyeberang sungai yang mengamuk pengin turun dari perahu *LOL*.

Kalau dibawa ke acara-acara juga begitu. Manja sekali. Maunya digendong terus. Kalau enggak digendong ya dia mewek hihihi.

Selamat Hari Ibu Jihan Davincka
Gambar : patheos.com

Terus kakak satu lagi, juaranya! Pernah kedapatan bolos sekolah 2 minggu penuh! Sekali ini, Mama benar-benar murka. Saking marahnya, mama sampai menangis.

Kakak ini akhirnya memilih berhenti sekolah. Tobat kali Bapak dan Mama. Dipindahin sekolah ke sana sini, enggak ada perubahan :p. Pas Bapak meninggal, dia yang ditugaskan menjaga kios. Duh, lagak lagunya. Hanya mau ke pasar kalau sudah makan nasi kuning komplit, susu coklat, atau apalah yang dia mau.

Tidak ada pilihan lain. Siapa lagi yang mau diandalkan ke pasar? Dituruti terus apa maunya. Saya mah ogah ya disuruh-suruh meladeni dia hahaha. Adik saya yang sering ketiban tugas beli-beli makanan yang si Tuan Besar ini mau :p.

Nah, adik perempuan saya, yang paling hobi mappasiterru-terru hihihi. Ini maksudnya, pulang sekolah, dia enggak pulang ke rumah dulu. Entah dia ke rumah temannya, entah dia langsung jalan-jalan sama gengnya. Pokoknya, beda sekali dengan saya yang anak rumahan banget dari kecil hehehe.

Mama kan suka panik. Sudah pulang dari kios, dia belum juga pulang dari sekolah -_-. Eh tahu-tahu diantar pulang temannya naik mobil. Adik saya selalu nge-geng sama teman-teman cewek yang ekonominya jauh di atas kami. Pinter cari temen emang si Buntel nih :p.

Adik saya juga susah benar disuruh belajar kalau mau ujian :p. Maunya mejeng aje sama teman-temannya :D.

Apakah anak rumahan seperti saya berarti enggak punya masalah?

Ini kata Mama waktu suami saya nanya-nanya, “Si Jihan kecilnya gimana, sih, Ma?”

“Takut kita, Nak, mau bawa-bawa dia pergi. Kalau mengamuk, tidak lihat tempat. Tidak takut sama siapa-siapa. Kalau sudah kumat, sepatunya dilempar, bajunya ditarik-tarik, teriak-teriak sambil mukul-mukul.”

Suami saya melirik saya seolah mau bilang, “Kalau hobi ngamuknya sih kayaknya masih lanjut sampai sekarang.” Hahahahaha.

Iya lho, bahkan sampai sudah agak gedean. Saya suka tahu-tahu mengamuk kalau baru bangun tidur. Moody-an banget. Kalau sudah kumat (seperti istilah Mama hihihi), isi lemari baju dikeluarin semua, dilemparin sesuka hati. Enggak ada yang berani menenangkan hahaha *tutupMuka*.

Waktu kecil saya sama sekali tidak mau makan sayur. Pernah sakit sembelit sampai parah banget :p. The real picky eater. Sering pingsan kalau lagi upacara di sekolah. Sampai Mama pernah bete sama guru di sekolah. Karena guru-nya sotoy juga, sih. Masa langsung melontarkan tuduhan bahwa saya kurang dirawat sama Mama jadi pas mau ke sekolah lupa dikasih sarapan hehehe.

Cerewet iya, cengeng iya, gampang mengamuk iya, badan kurus kering iya. Panggilan kecil saya itu “Jihan Tulang.” Duh, kok pas sudah gede begini, susah bener ya mau kurus lagi hahhhahahaha.

Who is this? Hahahahhahaha
Who is this? Hahahahhahaha

 

Years gone by :). Si anak kecil yang sampai nekat mau jadi tedong itu saking takutnya disuruh ke sekolah … gedenya jadi sarjana Teknik Elektro lulusan PTN, lho ;). Yang cengeng selalu minta digendong sekarang sudah jadi fashion stylist dan mulai merintis lini busananya sendiri ;).

Yang suka bolos, putus sekolah, dan ngeselinnya minta ampun tempo dulu, now is a father of 2 children. Kakak saya yang ini yang dulu egoisnya minta ampun, sekarang yang paling ringan tangan dalam urusan apa-apa ^_^. Such an amazing father too, for his little girl and my cutie little nephew :).

Yang hobi mejeng dan suka ngeceng, pas gedean suka dugem juga nih anak :p, lulus cum laude dari kampusnya. Now, she’s a working Mom with 3 super children (kalah eike bok! hahahaha).

Kalau yang suka mengamuk dan makannya dulu benar-benar bermasalah, langganan juara kelas waktu sekolah ;), kuliah sampai ke UI, bekerja kantoran hingga akhirnya sekarang … menjadi pengangguran! Hahahhahahaha :p. Anti klimaks bener *pukPukDiriSendiri*.

Dulu musuhan sama sayur? Sekarang jadi praktisi FC yang lumayan taat :D.

cara menurunkan berat badan dengan cepat

Waktu anak sulung saya kecil, makannya juga susah minta ampun. Kadang bisa sampai menangis saya biar dia mau makan. Hahahahaha. Drama, drama, drama :p.

Sempat bikin saya kecil hati, karena dulu di Jeddah ya, ada yang kasak kusuk kalau saya tidak pintar mengurus anak makanya anak saya kurus begitu. Duh, sakit hatinya. Kalau ingat, dia dulu minum susu saja, sampai telaten saya cekokin sesendok demi sesendok. Tiga kali sehari! Dulu belum paham FC sih ya :p.

Saya sampai ditegur Mama saya. Karena kadang saking sebalnya, anak saya yang saya marahin :(. Terus saya ingat saya juga dulu makannya susah, Mama bilang ke saya, “Didoakan je’, Nak. Aja tisi mu maceri kesi’.” (Didoakan, Nak. Jangan selalu dimarahi).

Iya, Mama sering bilang begitu. Dalam mengurus anak, menjadi Ibu, tidak selalu semuanya bisa kita kontrol. Makanya, selalu disertai dengan doa, doa, doa. Anak-anak kan tidak akan selalu tumbuh tanpa masalah sama sekali. Waktu kecil rasanya sudah setengah mati orang tua berusaha menjaga dan merawat, ada saja error yang kejadian hehehe.

Siapa sangka, kan, kecilnya bagai “monster”, gedenya bisa finally “normal” jugak! Hahaha.

Kekuatan doa ibu
The Magnificient 7! 😀

 

Dulu, sebelum teknologi internet berkembang pesat, kurang informasi bikin kita sulit mengembangkan banyak keinginan. Cenderung “kuper”. Tak semudah seperti sekarang.

Menjadi Ibu di era digital dan saat globalisasi mengantarkan begitu banyak informasi bisa beda lagi tantangannya. Saya tidak bilang, menjadi Ibu sekarang lebih sulit daripada ibu-ibu kita dulu. Saya sudah sering mengatakan, tiap masa tiap zaman punya pertaruhannya masing-masing ;).

Sekarang, kelihatannya banyak saja yang jahat-jahat dan aneh-aneh, ya iyalah, dulu belum ada Facebook dkk dan cuma ada TVRI! Hihihihi. Dulu, masalah anak seperti di SD Padang tempo hari belum tentu bisa go viral sampai ke Sulawesi. Mau disebarin lewat apa? Koran juga masih terbatas. Memang sudah ada detik.com? :p.

Sekarang, semua orang bebas mengoceh di media sosial yang bisa diakses hampir tanpa batas. Jangankan kejahatan beneran, berita hoax saja gampang betul go viralnya ;).

Sungguh semua terasa jadi sulit. Banyak kekhawatiran. Sering galau memikirkan akan seperti apa anak-anak kita nanti tumbuh besar di luar sana. Dunia seperti apa yang akan mereka hadapi? Sad yet true … we’ll never know :(.

Masa depan mereka… di luar jangkauan kita. Kita hanya sanggup mempersiapkan sebaik yang kita bisa, memilihkan yang sekarang bisa kita tentukan, hingga akhirnya mereka akan tumbuh besar dan mengejar dunianya sendiri.

Untuk semua hal-hal di depan sana yang sungguh jauh di luar kuasa, selalu sertakan perlindungan Tuhan di dalamnya. Seperti kita melengkapi segala ikhtiar dan jerih payah dengan … doa seorang Ibu . Let’s always say a little prayer for them. As ‘scared’ as we are, always turn our worries over to God :)..

Siapa tahu, sebagian “keajaiban” dalam perjalanan hidup anak-anak hingga dewasa adalah perlindungan dari doa Ibu yang selalu menyertai :). Bahkan sampai saat kita sudah dewasa dan menikah dan sudah pergi menjauh. Saya yakin, Mama selalu tetap mendoakan kami bertujuh plus para menantu dan segambreng cucu-cucunya :). Let’s do the same.

“Hanya padaMu, Tuhan
Tempatku berteduh
Dari semua kepalsuan dunia”

Don’t worry be a Mommy, Tuhan selalu menyertai doa-doa terbaik kita. Be brave, stay strong … selamat hari Ibu :).

Kekuatan doa ibu
Gambar : glitter.si

***