Melahirkan di Irlandia

Sudah terbiasa, melahirkan bak madam alias “Nyonya Besar” di Jakarta dan di Jeddah (hahaha), melahirkan di Irlandia tentu menjadi pengalaman tersendiri .

Hamil pertama di Jakarta, saya masih bekerja. Dobel Garda #ciyumSlipGaji. Suami punya asuransi, saya juga ditanggung oleh kantor tempat saya bekerja. Saat perawatan hamil pakai asuransi dari kantor suami. Saat melahirkan, pakai asuransi tempat saya bekerja.

Hamil 4 bulan anak ke-3. Lagi assignment ke Bern-Swiss 😀

Nikmaaaaat . Melahirkan di kamar Super VIP. Ihiiiiyyy . Saya pertama melahirkan di RS JMC di Buncit itu lho. Dulu masih cupu. Lahiran di situ karena paling dekat dari rumah. Kamar paling super itu pun harganya muraaaaaaah banget. Jauh di bawah batas maksimum yang ditanggung oleh kantor .

Fasilitasnya tidak usahlah dibahas. Nanti jadi pengin melahirkan lagi gimana tuh? Hahaha .

Butuh apa-apa tinggal pencet bel, datanglah ibu perawat tergopoh-gopoh membuka pintu dengan senyum semanis mungkin, “Ada yang bisa dibantu Ibu?”

“Anu Sus, ini bantalnya ada yang lain gak? Yang ini kurang tinggi…”#terhempasManjaaaaahhh .

Di Jeddah walau fasilitasnya lebih jadul dan kurang keren karena sengaja ngambil asuransi pas-pasan hahaha. Tetap saja kamarnya pilih yang sendiri dong, dong, dong! . Segala baju dan printilan sudah disiapkan. Senangnya, pulang ke rumah tidak perlu bawa baju kotor segala macam.

Di Irlandia? Duile, jadwal USG saja kudu nunggu disuratin. Kecuali emergency, apa pun jadwal kontrol harus menunggu panggilan. Saya pernah ada emergency sekali pas perut mules-mules di trimester pertama. Kalau UGDnya sih canggih, ya . Jangan khawatir, gratisan belum tentu murahan punya .

Kontrol Regular dan USG

Kontrol normalnya juga sebulan sekali. Tapi kontrol bulanan ini cukup ke GP (dokter umum) saja yang praktik di klinik terdekat di tempat kita tinggal. Dekat gedung apartemen saya kebetulan ada klinik yang bisa dijangkau dengan jalan kaki sajah.

Setiap datang, kita menjalani tes urine, dicek tekanan darah dan denyut bayi diperiksa pakai stetoskop gitu. Jangan harap bakal dapat USG hihihi. Boleh sih curhat-curhat. Kalau ada yang dirasa serius baru deh kita dapat rujukan ke dokter ahli kandungan.

Ketemu dokter kandungan normalnya saat usia kehamilan mencapai 3 bulan. Finally! :D. Ini juga belum tentu USG lho hahaha. Kalau dirasa belum perlu ya tidak akan di USG #pukPukBumilYangPenasaran.

Setelah itu lanjut kontrol bulanan ke GP (dokter umum). Usia 6 bulan ketemu dokter ahli kandungan lagi. Dokternya bisa saja beda-beda. Tidak harus sama.

Tapi jangan khawatir. Karena data-data kita tuh sudah terintegrasi di semua tempat. Jadi baik di klinik maupun di rumah sakit besar atau Primary Care, semuanya sudah terkoneksi ^_^.

Hamil 5 bulan anak ke-3, mejeng di Danau Zurich

Nah usia 6 bulan sudah bisa di-USG. Tapi di  Ireland itu enggak standar ya nanya-nanya jenis kelamin. Pas di USG kemarin saya kepo banget nanyain jenis kelaminnya. Ngotot-ngotot an sama Pak Dokter. Akhirnya beneran di USG intensif. Ealah ternyata belom kelihatan huhuhu.

USG 3 dimensi gimana? Ada dooooong. Tapi itu untuk kasus-kasus khusus bukan fasilitas umum. Boleh juga ngotot kalau mau, ada banyak klinik swasta yang menawarkan fasilitas USG 3 dimensi. Tapi ENGGAK GRATIS, kudu rogoh kocek dewe. Kemarin sempat lihat iklan di brosur, biayanya 150 euro per visit! Auooooo :p.

Sejak usia 7 bulan, kontrolnya menjadi per 2 minggu. Ketemu dokter kandungan tunggu surat panggilan, kali ini durasi ketemu dokter kandungan jadi sebulan sekali. Jelang usia kandungan 8 bulan, ketemu dokter kandungan menjadi 2  minggu sekali.

Cek Lab dan Seminar-seminar Persiapan Melahirkan dan Sekilas Parenting

Cek-cek lab tambahan juga gratis, lho. Misalnya karena di anak ketiga ini saya hamil di usia 35 tahun ke atas, jadi harus tes pemeriksaan diabetes kehamilan. Karena ceknya harus ke rumah sakit besar, which is letaknya di luar kota, saya naik bus sendiri pagi-pagi ke sana. Dianterin suami sampai ke halte bus doang.

Hamil 7 bulan, kali ini mejengnya di Slieve Bloom – Ireland 😀

Soalnya suami harus nganterin anak-anak ke sekolah plus nungguin di rumah. In case pemeriksaannya lama, ya. Maklum ala-ala “BPJS” nih, pasti ngantrinya ajib *ngelapKeringat*.

Karena di kota tinggal saya tidak ada rumah sakit. Jadi melahirkannya ke kota sebelah. Enggak jauh sih. Paling nyetir sekitar 35 menit. Sudah anak ke-3 ya, jadi sudah lumayan pengalaman. Coba kalau anak pertama, pasti heboh dah hahaha.

Mama saya juga diimpor dari Jakarta buat jagain si #boy1 dan #boy2 di rumah kalau saya dan suami di rumah sakit pas lahiran.

Sebelum melahirkan ada beberapa seminar dan pelatihan dari rumah sakit yang juga … GRATIS! #nyengirKikir.

Lumayan buat yang baru melahirkan pertama kali. Kalau buat saya ya semacam pengulangan ya karena sebenarnya gini-ginian dulu sudah sering dapat. Tapi dulunya baca-baca sendiri saja baik dari buku-buku dan googling. Persiapan melahirkan secara fisik dan mental, pentingnya menyusui dan ASI, serta beberapa petuah-petuah parenting dasar.

Hal yang baru adalah … persiapan menghadapi pasca-kelahiran, misalnya baby blues dan post partum depression. Wah, serius banget ya penanganannya. Ada perawat dan pertolongan khusus untuk hal-hal seperti ini yang menjadi bagian “resmi” dari fasilitas ibu hamil dan melahirkan.

Tahu sendiri di Indonesia, baby blues macam-macam masih disangka kutukan setan lah, kurang iman lah, ibunya mentalnya manja bla bla bla hehehe.

Proses Melahirkan di Rumah Sakit

Saya merasakan kontraksi hari sabtu malam sebelum shalat Isya. Tiba di rumah sakit hampir setengah 10 malam. Ruang bersalinnya ternyata bagus banget. Satu kamar satu orang. Kirain bakal rame-rame soalnya fasilitas gratisan :p.

Saya melahirkan dini hari jam 00.45, sudah masuk hari minggu. Cerita melahirkannya ada tuh di salah satu link di atas. Gak usah ceritain ulang yak.

Setelah itu baru masuk kamar perawatan/ruang inap. Ternyata sudah ada 4 orang yang berada dalam kamar yang akan saya tempati. Total ada 6 tempat tidur yang masing-masing disekat pakai gorden. Maaaakk, sempat kagok gitu pertama masuk, ini mau arisan apa mau lahiran? Rame amat hahaha.

Glendalough Upper Lake pic by Dani Rosyadi
Glendalough, full team! Pregnancy week 26 :D.

Waktu itu sudah pukul 3 dini hari sih. Laper banget. Kirain udah gak bakal dapat makan. Eh ternyata ditawarin roti isi tapi saya minta vegetarian food, rotinya cuma diisi selai jadinya plus teh susu. Suami sudah harus pulang karena enggak boleh nemenin. Lagian mau tidur di maneeee :p.

Ruangannya kecil. Hanya muat satu tempat tidur pas buat 1 orang, 1 tempat tidur bayi, dan satu lemari kecil serta 2 tempat duduk yang letaknya juga nempel sama tempat tidur.

Baru mau bobok cantik eh tahu-tahu adik bayinya datang! Gagal deh leyeh-leyeh imut karena sampai pagi gonta ganti adek bayi nangis sahut-sahutan. Begitulah kalau sekamar berasa mau kemping, satu bayi nangis, yang lain ikutan kompak. Onde mandeeeeee *gigitBantal*.

Makanan di rumah sakit lumayan sih. Tapi porsinya kurang puooolll buat ibu menyusui hihihi (ini sudah gratis bawel pulak). Mungkin karena saya pesan yang vegetarian jadi kadang suka laper ngeliat sebelah ngunyah roti isi daging, eike dapat roti isi telor dadar tawar.

Di Jakarta sih makanannya asoy berat. Dapat snack 3x sehari, menu utama 3x sehari. Di Jeddah lebih luar biasa lagi. Dapatnya nasi biryani sepiring gede. Makan berdua suami juga kenyang :D.

Kamar mandi letaknya di luar. Berasa masuk asrama, yes? Hihihihi. Dipakai ramai-ramai dengan emak-emak dari bangsal lainnya. Ada yang cuma berfungsi sebagai toilet saja sih (tempat buang air kecil dan buang air besar). Kamar mandinya jumlahnya lumayan soalnya enggak ngantri-ngantri amat.

Walau begitu bersihnya jangan ditanya ^_^. Kalau saya sih yang penting bersih dan rapi. Ukuran kamar mandi juga gede. Sempat norak gak tahu cara nyalain keran. Padahal sudah buka baju. Jadi panik jerit-jerit manggil perawat dari dalam hahahahaha.

Orang lalu lalang, saling menyapa dan ngobrol, dan suasananya memang lebih “santai” gitu, ya. Enggak kayak di rumah sakit. Ngurusin anak bayi ya sendiri-sendiri. Bisa sih minta bantuan perawat. Tapi seperlunya aja.

Ada kelas-kelas buat ngajarin mandiin anak juga. Jadi ngumpul di satu ruangan khusus dan diajarin sama perawat.  Terus ruang sebelahnya untuk belajar menyusui. Sebelahnya lagi untuk nimbang-nimbang bayi dan urusan terkait lainnya. Ruameeeeee :D. Udah kayak arisan beneran hahahaha.

Penampakan hamil anak ke-3 :D. Hamil 5 bulan di Bern-Swiss.

Suasananya lebih kayak suasana training ketimbang suasana ribet abis lahiran :D.

Saya cuma 2 hari di rumah sakit. Tidak ada batasan tinggal lho. Ada yang sampai 4 hari. Soalnya fasilitasnya juga enggak standar saja, ya. Ada juga saya yang minta-minta keluar dari RS sejak sehari sebelumnya tapi harus nunggu dokter anak datang kontrol pertama. Waktu itu kan minggu. Praktiknya dimulai dari senin.

Pusing di rumah sakit kalau malam enggak bisa tidur tenang. Adek-adek bayi konser ganti-gantian sampai pagi :p.

Padahal waktu di Jakarta dan di Jeddah, inginnya tinggal  SEBULAN kalau perlu di RS hahaha.

Pelayanan Pasca Melahirkan

Fasilitas kontrol-melahirkan-dan perawatan pasca melahirkan di atas termasuk PELAYANAN PUBLIK  MELAHIRKAN GRATIS. Ditujukan bagi SEMUA pemukim di Republik Irlandia. Baik pendatang atau orang lokal, ras mana pun, tua maupun muda, kaya atau miskin, kece-gak kece, cebong atau hater #eh hahahaha.

Enggak perlu daftar asuransi ;). Kalau pakai asuransi publik dan jalur normal, SEMUA LAHIRAN DI BANGSAL. Ada kok kamar khusus sendiri kalau memang ada perawatan khusus tapi fasilitasnya sama. Cuma ranjangnya saja yang sendiri satu kamar. Melahirkan spontan atau SC, keputusan di tangan dokter.

Boleh kok melahirkan via SC di Ireland. Kan ada yang bilang kalau negara maju gak boleh SC. Dih, kate siapeeeee :p.

Hamil 5 bulan di Bern-Swiss

Pasca melahirkan tidak ada pendamping di rumah atau masih galau anak pertama? No worry! Fasilitas melahirkan tidak putus begitu saja saat kita meninggalkan rumah sakit. Ada bidan khusus yang akan datang secara regular tergantung permintaan.

Bisa minta tolong mandiin anak juga ^_^. Di negeri suhu 4 musim, anak bayinya emang mandinya lebih seret. Kadang cuma 2 hari sekali, bahkan seminggu sekali kalau kulitnya sensitif :). Beda sama Jakarta-Jeddah yang harus nangkring 2x sehari di bak mandi buat mandiin si adek bayi.

Ingat lho, bidannya yang DATANG KE RUMAH :D. Gratis kok enggak usah buru-buru ngeluarin kalkulator dulu hahaha :p. Kita tinggal duduk cantik nungguin di rumah, sambil nyusuin. Yang masak siapa? Ya pan sudah impor emak dari Jekardaaaaaaah hahahaha #gantungCelemek.

***

Overall, sistem kesehatan di Republik Irlandia belum se”digdaya” di Jerman dan Belanda, sih. Tapi yang khusus melahirkan ini lumayan banget.

Fasilitas imunisasi juga gratis di Irlandia. Enggak pakai asuransi-asuransi an hehehe.

Tetap saja ya, ada plus ada minusnya. Apalagi kalau anak pertama. Saya bersyukur banget anak pertama lahirnya di Jakarta dan dikelilingi tim support segabruk-gabruk hahaha. Eike kan panikan gitu, Cyin.

[Updated : Tahun 2019 ni, barusan bikin vlog soal cerita proses normal melahirkan anak pertama, kedua, dan ketiga, mudah-mudahan videonya bermanfaat, ya. Monggo disimak ^_^]

Tapi yang sangat penting dipelajari dari negara-negara welfare-state seperti Eropa Barat-Aussie-Kanada ini ya beginian-beginiannya, ya. Gak rugi dah bayar pajak gede-gede hehehe. Ah, kalau sudah nyangkut pajak, ketertiban, peran pemerintah bisa panjang urusan, yes?

Makanya, walau masih tak putus dirundung masalah dan “berdarah-darah” di sana sini, ada baiknya kita memberikan dukungan positif bagi itikad baik pemerintah bagi PELAYANAN BPJS :).

Agar fasilitas yang adil dan merata bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Jangan lagi ada yang sampai kudu lahiran tanpa pendampingan di rumah atau lari ke “dukun beranak” dan segala macam karena kekurangan biaya dan kesulitan akses apa pun :(.

Biarlah kita ramai-ramai lahiran di bangsal semua yang  penting bersih dan nyaman kaaaaaaan ^_^.

Soal BPJS,  kita diskusikan di topik postingan yang lain, yak. Kalau  saya tidak lupa hahaha :p.

Mari kita tutup dengan hamdalah dan quote-quote hasil googling seperti biasa :

Karena proses melahirkan itu bukan puncak  …. “A grand adventure is about to begin.” – Winnie the Pooh

So, stay strong, Moms! Masih panjang perjalanan euy ;). Makanya perbanyak foto-foto biar enggak tegang-tegang amat #ehGimana hahahahahaha :p.

“Dying Lion” @Luzern, Switzerland (Hamil 4 bulan anak ke-3 niiiiihhhh)