Understood Backwards, Live Forwards

“Aneh ya kalau dipikir orang dulu bikin bentengnya kok di bukit yang tinggi?”

“Ha? Kenapa emang?” Saya enggak ngeh maksudnya suami.

“Ya soalnya sekarang kan ada pesawat. Kalau bikin benteng di tempat tinggi ya sekali dibom, habis sudah!”

“Oooooo…ya dulu pan kagak ada pesawat!”

Hahahaha :p.

Ini oleh-oleh jalan-jalan ke Rock of Dunamase 2 minggu kemarin. Yah, tinggal di Irlandia mah, hiburan gratisnya ya enggak jauh-jauh dari reruntuhan kastil ini itu hahahaha :p

Dunamase Irlandia

Dua minggu terakhir ini cuaca di Irlandia berangsur-angsur membaik. Setelah diterpa hujan hampir berhari-hari selama 6 bulan lebih.

Musim panas hujan, musim gugur hujan, musim dingin apalagi. Sungai di belakang gedung apartemen saya, Sungai Shannon, sampai sempat meluap. Di beberapa tepiannya, banjir tak terbendung. Gubernurnya siapa siiiiiiihhhhh ‪#‎eaaaaa‬.

Nah, sekarang hujannya sudah mulai berkurang *tepukTangan* :D.

Kalau weekend, cuaca bagusan dikit, pasti suami langsung merengek minta jalan-jalan. Yoih, saya mah anak rumahan banget. Kalau weekend, bawaannya pengin fesbukan melulu hahahaha ‪#‎eh‬ :p.

Rock of Dunamase, reruntuhan bangunan batu yang konon sudah ada sejak abad ke-10 di era Joko eh…eranya bangsa Viking.

Orang-orang Viking ini asalnya dari wilayah Jerman. Mereka menyebar ke daerah-daerah Skandinavia. Lalu menaklukkan Britania dan Irlandia.

Oleh Bangsa Viking, dibangunlah sebuah benteng pertahanan di atas bukit Dunamase ini. Tapi tak ada sisa peninggalan yang berjejak untuk kisah Dunamase di abad 10 tadi.

Benteng Dunamase kembali dibangun, untuk tujuan yang sama dengan pembangunan sebelumnya, di abad ke-12 oleh orang-orang Norman/Normandia.

Foto : Dani Rosyadi

Foto : Dani Rosyadi

Normandia ini adalah nama sebuah wilayah di Perancis Utara. Orang Norman juga keturunan bangsa Viking. Cuma mereka umumnya adalah penganut Kristiani. Kalau Viking kayaknya masih era animisme dinamisme apa ya hehehe, CMIIW ya.

Setelah pendudukan Viking, giliran Normandia yang menguasai Britania dan Irlandia.

Pemilik Benteng di Dunamase berganti-ganti hingga akhirnya jatuh ke tangan bangsawan Inggris. For info, wilayah Irlandia (termasuk Republik Irlandia di belahan selatan) dijajah oleh Kerajaan Inggris Raya selama 8 abad lamanya *ngelapKeringat*.

Dalam salah satu perang lokal, pertengahan abad ke-17, benteng di bukit Dunamase ini diledakkan agar tidak direbut oleh musuh. Hingga akhirnya dibangun ulang menjadi semacam tempat perjamuan oleh Sir John Parnell di di penghujung abad ke-18. Arsitektur Aula Pertemuan ini menggunakan gaya abad pertengahan.

Sisa-sisa reruntuhannya itulah yang hingga kini masih bisa dilihat di kawasan wisata Dunamase ini.

Kalau pakai logika sekarang ya cupu banget bikin benteng pertahanan kok di atas perbukitan yang tinggi. Dengan kecanggihan teknologi perang era sekarang, ya benar kan kata suami saya tadi. Sekali dibom, langsung gubrak hehehe.

Belum lagi lokasinya yang eye-catching di atas bukit yang gampang banget deteksinya karena tinggi sendiri di tengah-tengah lembah di sekitarnya 😀

Enggak perlu capek-capek sewa detektif atau mengaktifkan radar untuk mendeteksi tempat persembunyian musuh hihihi.

Ya tapi kan pakai pola pikir zaman dulu dong ;). Dulu sih, boro-boro ada pesawat tempur bermesin jet, mobil paling sederhana saja belum ada hahaha :p.

Mengapa benteng dibangun tinggi sendiri di atas perbukitan? Ya biar gampang memantau musuh. Dulu ngecek musuh ya ngandelin keterbatasan jangkauan mata manusia saja.

Foto : Dani Rosyadi

Foto : Dani Rosyadi

Begitu juga dengan hal-hal lain di masa lalu di luar konteks benteng tadi ;).

Maaf nih, agak SARA dikit. Soal tudingan bahwa Islam mendukung perbudakan dengan banyaknya ayat-ayat yang mengatur soal budak dalam ayat suci. Ya iyalah, di abad ke-14 saat alquran diwahyukan, perbudakan memang hal yang lumrah di berbagai belahan dunia :(.

Justru Islam datang untuk menyerukan persamaan derajat diantara seluruh umat manusia. Makanya, di awal-awal yang banyak tertarik dengan ajaran ini ya para budak dan golongan miskin / fakir. Dan yang stres ya para penguasa yang sudah dimaklumi sering hidup mewah dari hasil menindas rakyatnya dan kebanyakan kaum berpunya yang sudah terbiasa menikmati kemudahan hidup dengan bantuan para budak.

Makanya, jangan juga yang muslim berkeras kalau ayat-ayat perbudakan itu masih relevan sampai kapan pun. Haduuuuh, di era modern ini dimana kita semua sudah memiliki kesadaran penuh soal hak asasi manusia kok ya masih mau bahas tetek bengek hamba sahaya -_-.

Demikian juga misalnya tuduhan kepada kaum feminis yang dituduh sok-sok kuat dan mengajak perempuan ke arah yang enggak bener :p. Lah, situ kira perjuangan awal kaum feminis memang apaan? Di awal abad ke-20 saja penggunaan alat kontrasepsi itu TABU banget lho.

Jangan pakai latar belakang kehidupan modern perempuan zaman sekarang untuk menertawakan ide feminisme di masa lalu ;). Instead, berterima kasihlah kepada mereka yang sudah memperjuangkan biar situ-situ enggak tek dung melulu saban tahun sehabis menikah hahaha :p.

Jadi, pahamilah masa lalu untuk pelajaran buat kita. Jangan dicari-cari alasan untuk menegakkan kebenaran ala-ala keyakinan kalian sendiri ;). Malah belakangan, banyak yang mau balik ke masa lalu. Duh! Ciyus? :p.

Masa lalu jangan dikais-kais. Hiduplah untuk ke depan. Persembahkan kebermanfaatan yang kita punyai/miliki untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Untuk kemanusiaan, lingkungan dan sekitarnya (y).

Let’s work together for a better world. Shall we? <3

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”
― Søren Kierkegaard

Ah ya … enjoy the pics ;).

Foto : Dani Rosyadi

Foto : Dani Rosyadi

5 thoughts on “Understood Backwards, Live Forwards

Comments are closed.