Tanggal 11 Dzulhijjah memang yang terberat buat kami. Tapi alhamdulillah semua rukun haji selesai di tanggal itu. Selepas Sa’i, secara rukun, kami resmi menyandang gelar haji. Insya Allah mabrur. Amin :).
Pas tidur malamnya terasa deh betis dan kaki mulai pegel. Tapi doa saya malam itu, “Ya Allah, beri kekuatan untuk melakukan tawaf
wada besok sore.” Menurut beberapa teman, boleh saja pemukim Jeddah tidak melakukan wada saat itu juga. Pulang dulu saja ke Jeddah, nanti balik lagi untuk melakukan tawaf wada.read more
Sekadar info awal, biaya naik haji untuk perjalanan dari Jeddah tahun 2012 itu sekitar 4500 riyal per orang. Kami berangkat dari Jeddah karena memang saat itu sedang bermukim di sana.
Jam setengah tujuh meninggalkan tenda Arafah. Tiba di tenda Mina sekitar jam 10 malam. Langsung memandikan si kecil, mengganti bajunya, dan membiarkannya tidur nyaman di atas kasur. Pahlawan kecilnya Mama :).
Teman sebelah menawarkan untuk menjaga si kecil dan mempersilakan saya mandi. Senangnya. Untung juga pas kamar mandi sedang sepi. Mungkin banyak orang masih ‘berjuang’ di jalan dalam perjalanan pulang dari Arafah.read more
Tenda di Arafah bentuknya juga compound. Hamla kami khusus menyewa kumpulan tenda secara terpisah. Kamar mandinya juga khusus. Gak kalah nyamannya dengan tenda Mina *laaaaffff*.
Tendanya tapi cuma beralas karpet tebal. Mungkin karena enggak bakal menginap. Tapi tiap jemaah dibagi-bagikan kantong tidur. Lumayan, dapat gratisan lagi hehehe.
Untuk perempuan, ada 5 tenda besar. Satu tenda isinya sekitar 70 – 80 orang. Tendanya lapang dengan atap yang tinggi. Pendingin ruangan disediakan di setiap penjuru tenda. Plus satu kipas angin besar.read more
Salah satu kegelisahan saya menjelang naik haji ada cerita beberapa teman yang juga berhaji dengan menggunakan hamla Arab. Beberapa bercerita, mentang-mentang orang Indonesia, suka disuruh-suruh ini itu oleh jemaah Arab lainnya. Walah, saya kan orangnya gampang tersulut, ya :P. Gimana nih?
Tapi niatnya mau naik haji kok ya mikirin macam-macam. Jadinya saya pasrah saja, deh. Sudah siap-siap mental kalau di’bully’ ama perempuan-perempuan Arab di tenda hihihi.
Dalam tenda saya, dari 16 orang perempuan dewasa, 15 orang lainnya adalah perempuan Arab asal Mesir. Dibully beneran gak, nih? Ternyata … engga dooooooong :P. Tidak sama sekali ;).
‘Strategi’ saya adalah, jangan diam saja! Gak susah lah, secara orangnya memang kepo dan doyan ngoceh hahaha. Tak bisa berbahasa Arab tapi kan bisa bahasa Inggris ;).
Dari pertama masuk tenda, sudah memasang tampang penuh percaya diri, tangan kanan menggendong si kecil, tangan kiri nenteng tas, bersuara lantang, “Where can I sleep and put my stuff?”
Seorang dari mereka, yang paling fasih berbahasa Inggris, menyambut dengan senyum sangat ramah. “Welcome, welcome. You can pick any place. But some are already booked.”
Jalan Menuju Arafah dari Mina
Semua tempat tidur bawah sudah terisi. Jadi, saya kebagian tempat tidur tingkat atas. Which is anugerah juga. Tempatnya lebih luas dan tidak terlalu pengap.
Mereka semuanya baik banget :). Tidak ada diskriminasi sedikit pun. Apalagi nyuruh-nyuruh gak jelas. Di siang hari malah saya leluasa ke kamar mandi atau keluar tenda sebentar jika ada keperluan dan menitipkan anak saya ke salah satu dari mereka.
Tadinya ada 2 ibu-ibu yang nampak agak ‘segan’. Saya pikir, ya sudahlah, you just can’t have it all. Setidaknya ada 13 orang lainnya yang gak lelah ngajakin ngobrol dan kompak membuat saya merasa senyaman mungkin :).
Sebagian terbata-bata berbahasa Inggris tapi tak pernah bosan menyambut ajakan saya untuk mengobrol.
Di hari terakhir, barulah saya tahu kenapa 2 orang ini nampak ‘menjaga jarak’. Dengan malu-malu mereka berujar, ketika di hari terakhir sarapan, “Sorry, Jihan. Mafi English.” Oh, ternyata mereka tak fasih berbahasa Inggris. Saya menjawab santun sambil senyum-senyum, “Mafi musykillah, mafi musykillah.”
Di hamla saya, ternyata ada juga beberapa orang Indonesia. Saya bertemu di tenda Arafah. Ada sekitar 5 orang, yang kesemuanya berprofesi sebagai pekerja rumah tangga.
Sebagian takut keluar tenda dan menitip ke saya untuk membeli Indomie gelas hehehe. Maklum ya, selama berhari-hari di Mina dan Arafah, sebagian perut pribumi berontak terhadap suguhan makanan Arab hihihi. Saya sih doyan banget nasi biryani dan segala rupa makanan Arab :p.
***
Sepanjang hari di tanggal 8 dilewati dengan acara kenal-kenalan. Malam harinya semua tidur lebih awal. Mempersiapkan diri untuk wukuf di Arafah di keesokan paginya.
Azan subuh masih berkumandang, tapi compound kami sudah hiruk pikuk sejak sejam sebelumnya. Setelah sarapan ala roti Arab yang dicocol krim keju, berbagai macam selai, dan halawa’ (ini favorit saya, nih), tepat jam 7 pagi, kami semua berbaris di depan tenda. Ikut mengantri menuju stasiun kereta yang akan membawa kami ke Padang Arafah.
Stasiunnya dekat sekali. Stasiun Mina 1, hanya berjarak sekitar 200 meter dari compound hamla kami. Tapi puluhan ribu jemaah lainnya akan menuju stasiun dan menaiki kereta yang sama. Sekitar 1.5 jam kami mengantri dari depan tenda hingga menapakkan kaki ke atas kereta.
Suasananya cukup tertib. Masih pagi dan masih segar mungkin, ya. Talbiyah terus berkumandang tak putus-putusnya. Terus membakar semangat biarpun kaki cukup pegal berdiri dan berdesakan cukup lama. Petugas-petugas di stasiun jumlahnya ratusan dan sangat kompak.
Puluhan laki-laki berseragam biru tua itu tak ada capeknya mengarahkan puluhan ribu jemaah dari mulai antri di jalanan, memasuki stasiun, hingga berdiri dengan patuh menanti di pintu kereta.
Anak saya anteng banget. Masya Allah. Bocah 18 bulan inilah salah satu penyemangat saya dalam perjalanan naik haji kali ini. Malu kali, Cyyyiiinnn, sama anak 1.5 tahun hehehehe.
Naik keretanya cuma 20 menit saja. Dari stasiun Mina 1 dan turun di stasiun Arafat 3. Berjalan kaki sekitar 15 menit menuju tenda hamla kami. Di sepanjang jalan, terutama di bawah jembatan, sudah dijejali para ‘haji koboi’ hehehe. Membawa tenda sendiri, bahkan ada yang cuma bermodal sebuah tikar tipis.
Berpose di stasiun sebelum berangkat melontar jumrah :D.
Tanggal 9 Dzulhijjah pagi itu, Arafah penuh jutaan umat. Datang bersama-sama dari segala penjuru dunia. Untuk menundukkan diri di hadapan Allah, memuji keagunganNya di momen Wukuf, salah satu rukun wajib sahnya ibadah naik haji.
Mahabenar Allah dengan firmanNya, yang sudah diturunkan lebih dari 1400 tahun yang lalu, bahwa :
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka …” (Al Hajj: 27-28).
Tanggal 7 Dzulhijjah sudah menjelang. Dari pagi sudah sibuk melengkapi barang-barang bawaan. Seharusnya tidak ribet. Tapi kami membawa si kecil #boy2. Jadilah cukup rempong mengatur bawaan yang didominasi oleh diaper, susu kotak, snack balita, dll.
Tas buat #boy1 juga ikut diberesin. Si sulung tidak dibawa serta (dan ini betul-betul keputusan yang tepat! hehehe). Padahal awalnya saya ngotot ke suami kalau si sulung juga mesti ikut.
Untunglah ada Bunda Cantik (*uhuk uhuk*) yang menawarkan diri menjaga si sulung. You’re our hero, Dear ;).
Siangnya, anak sulung diantar ke Aziziyah. Kami balik ke rumah. Maksudnya mau istirahat sebentar menunggu magrib. Tapi, malah sibuk wara wiri, beres-beres rumah, dsb.
Begitu azan magrib, kami langsung mandi. Suami mengenakan pakaian ihram, lalu kami salat bersama. Dengan menumpang taksi, kami bertiga berangkat menuju hamla (biro haji) Al Mahabbah, tempat kami mendaftar hajian.
Hamla kami cukup spesial. Karena membolehkan para jemaahnya untuk membawa anak-anak. Makanya sedih juga, nih. Kami seharusnya berhaji dengan teman-teman Indonesia lainnya. Tapi terpaksa kami ‘membelot’ ke hamla ini terkait ketatnya aturan hamla lain TIDAK BOLEH MEMBAWA ANAK :(.
Lokasi hamla dekat banget dengan gedung apartemen kami, tepatnya di Palestine Street. Cukup menempuh beberapa menit perjalanan. Begitu tiba, langsung disambut pemandangan belasan bis-bis besar yang siap mengangkut para jemaah memasuki kota Mekkah.
Parkiran Kudai di Mekkah, gambar : arabnews.com
Pukul 8 malam, bis mulai jalan. Jarak kota Mekkah cuma sekitar 70 km dari Jeddah. Biasanya ditempuh dengan waktu 45 menit saja. Tapi karena musim hajian, dimana tanggal 7 malam biasanya serentak rombongan dari Jeddah memasuki Mekkah, perjalanan tersendat-sendat begitu mendekati checkpoint Mekkah.
Sekitar jam 10.30 malam akhirnya kami tiba di Kudai, parkiran raksasa yang dibuat khusus untuk pengunjung masjidil Haram. Kudai cuma ramai di saat ramadan dan musim haji, kok.
Tadinya saya agak ragu mau ikut tawaf Qudum. Tapi begitu bis kami parkir di pelataran Kudai, semangat langsung berdentum-dentum hehehe.
Kami langsung menuju Masjidil Haram. Tidak dibimbing oleh pembina. Sendiri-sendiri saja. Di Kudai disediakan bis khusus untuk bolak balik Kudai-Haram. Duh, ramainya saat harus berebutan naik bis Saptco.
Kami sudah terbiasa dengan sifat orang-orang Arab yang pada umumnya memang ‘angot’an :D, jadinya sabar saja menanti giliran ;).
Jam 11 malam tiba di Haram. Kami tawaf di lantai 1. Sudah sesak. Tapi semilir angin malam di awal musim dingin cukup membantu kami melewati 1.5 jam mengitari Ka’bah selama 7 putaran di tengah himpitan jemaah lainnya. Si kecil gimana? Bocah luar biasa ini tidur teruuuuuss. Hehehehe.
Tadinya ingin lanjut Sa’i. Tapi kami takut tertinggal bis. Buru-buru ke kamar mandi dulu. Saking ramainya kamar mandi laki-laki, suami saya ‘menyerah’. Lalu kami bergegas ke arah bus station dan melesat kembali ke Kudai.
Tiba di Kudai, masih sepi banget. Baru jam 2.30 dini hari. Langsung menyesal gak lanjut Sa’i. Padahal masih segar bugar :(. Kami bertiga akhirnya duduk-duduk di atas rumput di samping parkiran bis.
Menikmati segelas teh hangat yang dibeli suami di baqala (toko kelontong) di seberang jalan. Sambil menemani si kecil, yang sudah terjaga dari tidurnya, bermain-main.
Akhirnya baru pukul 4.30 subuh bis kembali bergerak menuju Mina. Ini sih macetnya luar biasa. Butuh sekitar sejam untuk mencapai tenda di Mina, padahal jaraknya cuma seucrit.
Kompleks jemaah haji di Mina
Tiba di Mina, ada insiden kecil. Tas suami mendadak raib! Tapi saya sudah yakin pasti ada yang salah ngambil, nih. Alhamdulillah, drama kehilangan tas cuma berlangsung sekitar 15 menit. Tas pun ditemukan, ada yang menaruhnya begitu saja di luar tenda.
Tenda di Mina untuk hamla lokal Saudi itu gimana, sih?
Ternyata setiap hamla menyewa satu kompleks tenda tertentu. Istilahnya compound. Di depan tiap compound sudah terpasang nama hamla penyewanya.
Dalam compound tersebut, tenda perempuan disekat khusus. Tempatnya bersih banget. Alhamdulillah. Ada belasan, bahkan mungkin puluhan asisten, yang hampir tiap waktu membersihkan kamar mandi, lorong-lorong antar tenda, bahkan dalam tendanya pun juga dibersihin, lho.
Masya Allah. Nyaman banget. Anak-anak jadinya bebas berlarian di luar tenda.
Nah, tenda-tenda di dalam terbagi-bagi lagi. Satu tenda bisa ditempati oleh 10-20 orang. Tenda saya sendiri ada 16 orang dewasa. Ada 8 tempat tidur tingkat lengkap dengan kasur + selimut untuk tiap orang. Lantainya dialasi karpet-karpet yang cukup tebal.
Tanggal 8 pagi, suasana dalam compound sunyi senyap. Mungkin kelelahan dan sebagian besar jemaah tertidur lelap. Saya memanfaatkan kesempatan ini untuk mandi, mumpung kamar mandi belum ramai-ramai amat. Si kecil sih sudah pulas dari tadi :D.