Kasus LGBT, Tragedi Reynhard, dan Latar Belakang Pelegalan Pernikahan Sejenis di Negara Maju

Kasus LGBT mencuat lagi dengan kasus Reynhard. Dari awal mencuatnya, sudah bisa ditebak opini massa di tanah air pasti ruwet membedakan ORIENTASI SEKSUAL vs KELAINAN SEKSUAL.

So that you know, pelaku pemerkosaan yang heteroseksual ya juga banyak. Bahwa misalnya pedofilia pun, juga bukan kejahatan khas untuk kasus LGBT doang.

Jika kalian anti LGBT ya itu urusannya lain lagi ;). Your life, your value, your choice πŸ‘Œ.

Yang gini-gini seringkali membawa ruang diskusi meluas sampai pembahasan tentang isu yang sama di negara-negara maju.

Termasuk yang sempat ramai dulu jadi sorotan lagi : PELEGALAN PERNIKAHAN SEJENIS yang dianggap dukungan bagi meningkatnya jumlah kaum LGBT.

Belanda, Belgia, Perancis, Republik Irlandia, Amerika Serikat (tidak semua negara bagian), Argentina, Finlandia, merupakan contoh-contoh negara maju yang melegalkan pernikahan sejenis.

Sayangnya, pada sotoy tentang latar belakang atas pelegalan pernikahan sejenis tersebut. Hingga akhirnya, muncullah tudingan-tudingan semacam, “Mau menghancurkan ajaran agama!” lah dst dst dst.

kasus LGBT
Gambar : statista.com

Pelegalan pernikahan sejenis di negara-negara maju sebenarnya tidak berkaitan sedikit pun dengan agama. Mengingat sebagian besar negara tersebut pada dasarnya memang sekuler.

Pelegalan ini tujuannya bukan terkait hak asasi manusia doang. Tapi untuk mengakomodasi hak seluruh warga negara terkait hak ekonomi, hukum, dan sosial. Contohnya :

Pengurangan pajak bagi pasangan yang sudah menikah secara resmi. Jumlahnya cukup signifikan untuk pembayaran pajak di negara-negara maju yang relatif cukup besar secara umum.

Di Indonesia, lu disuruh bayar pajak aja ngamuk :p.

Kepemilikan properti. Pernikahan yang legal memungkinkan pencantuman nama pasangan sah dalam kepemilikan properti.

Tanggungan asuransi. Asuransi terhadap pasangan hanya bisa diberikan bagi mereka yang tercatat menikah secara legal.

Berkas resmi untuk proses adopsi anak. Salah satu berkas yang diperlukan adalah dokumen pernikahan yang sah. Soal anak juga berkaitan dengan pajak.

Di banyak negara maju, makin banyak anak, PTKP (Pendapatan Tidak Kena Pajak) akan makin besar. Di Indonesia, selisihnya tipis banget :(. Gak terlalu ngaruh status pernikahan dan jumlah anak.

Hak waris. Pasangan yang sah dari pernikahan yang legal berhak atas hak waris atas harta pasangannya.

Di Indonesia, istri sah saja bisa dicerai dan dibuang begitu saja tanpa ada perlindungan hukum walau dinikahi secara sah :(. Beda cuuuyyyyy ama negara yang proses hukumnya jauh lebih disiplin.

Hal-hal di atas mungkin agak sulit dipahami oleh banyak orang di Indonesia. Boro-boro soal kepemilikan properti, Indonesia masih banyak berurusan dengan pemukiman liar yang membuat pemerintah pening tujuh keliling.

Masalah pajak di negara kita juga belum sedisipliln di negara-negara maju. Masih banyak celah untuk mangkir dari kewajiban membayar pajak yang belum tersentuh hukum secara legal.

Belum lagi masalah-masalah korupsi yang merajalela di biroraksi dari atas sampai bawah.

Belum terbayang memikirkan soal adopsi. Anak-anak jalanan masih leluasa berkeliaran tanpa sanggup dipelihara dan dilindungi oleh negara.

Sementara di negara-negara maju tadi, mereka sudah selesai dengan permasalahan-permasalahan mendasar terkait kesejahteraan warganya secara umum.

Perlindungan terhadap seluruh warga negara sudah dilakukan sampai ke level-level yang mungkin masih belum terjamah di negara-negara berkembang.

Tingkat korupsi di negara model begini biasanya sudah sangat rendah. Negara-negara maju yang memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi ini tidak lepas dari kedisiplinan sistem yang menjamin pengelolaan pajak dari warga negaranya.

Maka dari itu, seluruh pembayar pajak berhak mendapat HAK YANG SAMA secara ekonomi, hukum, dan sosial. Termasuk kaum minoritas, misalnya kaum LGBT tadi.

Karena itulah, mengapa negara perlu melegalkan pernikahan sejenis untuk menjamin semua hak tersebut. Tidak ada hubungannya dengan agama apalagi mengurusi urusan ranjang warga negaranya.

Hal ini perlu diketahui oleh baik pihak yang pro LGBT maupun yang kontra di Indonesia. Memahami kondisi budaya dan sosial di negara lain agar diskusinya tidak hilang arah.

Bisa dimengerti jika pihak yang kontra LGBT sebagian besar mengacu kepada alasan agama atau kesehatan. Namun, jangan sekonyong-konyong menuduh pemerintahan negara maju ingin menghancurkan agama atau tidak peduli urusan kesehatan dsb.

Dapat dipahami bila pihak yang pro LGBT menginginkan perbaikan dan keadilan atas nama hak asasi manusia dan seterusnya.

Tapi jangan tiba-tiba menyodorkan ide-ide serupa yang sudah berjalan dengan baik di negara-negara maju dan mendiskreditkan pemerintahan dan masyarakat di Indonesia yang dianggap gagal melindungi kaum minoritas di tanah air.

Soalnya di Indonesia, hak-hak yang mayoritas pun banyak yang masih awut-awutan. Jadi bersabarlah sedikit wahai kakak-kakak SJW hehehehe.

Gambar : lovin.ie

Edukasi soal hak minoritas (apalagi isu LGBT) memang masih panjaaaaaaaaaang ceritanya. Ditambah lagi dengan kasus Reynhard di UK pijetKening. Kasak kusuknya jadi makin liar banget :(.

We really shouldn’t judge others for often we don’t know the whole story.

I Google You (2) : Bisnis “Kepo-kepo” ala “Intelijen Digital” ;)

Waktu pertama kali tahu ada fasilitas “diari” (blog) via internet, saya seneng bangeeeeet. Masih kuliah waktu itu. Yoih, angkatan 98 akutu, apa lo apa lo apa lo πŸ˜πŸ˜πŸ€ͺ.

Pikir saya waktu itu, “Ih, enaknya. Praktis banget, gak perlu beli-beli buku diari lagi. Gak rempong dan deg-degan kalau ada yang baca. Gak ribet dibawa ke mana-mana.”

Yaaaayyyyy ^_^

Sebagai anak diari-diari sejak SD, menulis keseharian memang gaya hidup sejak kecil, Cuy hihihi. Makanya jangan heran kalau eike bawel di medsos 🀣🀣🀣.

Pikiran saya waktu itu, dalam beberapa hal benar. Adanya BLOG bener-bener praktis. Bisa diakses dari mana saja asalkan ada koneksi internet. Waktu itu memang koneksi internet masih barang “langka”. Tapi tetep aja praktis.

Bagian yang ((DEG-DEGAN KALAU ADA YANG BACA)) …. SALAH TOTAL!!!! πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ.

Bahkan jika kita “menitipkan data/info” kepada internet dengan setting paling PRIVACY sekali pun, tetap bisa ditembus.

Waktu di kampus dulu punya temen yang memang passionnya … hacking! Hahahaha. Kite masih ribet mikirin algoritma tugas-tugas di kampus, dese udah sibuk ngerjain satu lab dengan mengirim pesan aneh-aneh ke semua PC di lab. Heboh banget waktu itu hehehe.

Dari dia inilah saya jadi tahu dikit soal jaringan komputer sebelum mata kuliahnya dipelajari beneran. Saya kutip salah satu ucapan teman saya itu, “Apa pun kalau sudah masuk server, pasti bisa diintip. Selama yang bikin masih manusia, pasti bisa nemu celahnya.”

Iya sih.

INTERNET benar-benar menjelma jadi pedang bermata … banyak! Sereeeeeem.

Artikel Haaretz ini membahas soal industri Cyber-Spy yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan lokal Israel. Haaretz merupakan media yang cukup terpercaya. Monggo di-googling sendiri kalau gak percaya.

Hal pertama yang saya lakukan sebelum membaca link saat dikirimkan oleh teman, ya cek dulu apa sih Haaretz ini. Haaretz semacam TEMPO-nya Israel. Banyak mengkritik pemerintahan lokal sana.

Makanya, Haaretz ini dibenci oleh kebanyakan orang Israel tapi dipuja-puja oleh orang dari luar Israel.

Luar biasanya, produk-produk Cyber-Spy ini bahkan dijual ke negara-negara yang tidak punya hubungan diplomatik dengan ISrael.

Sebenarnya produk ini banyak sisi positifnya. Termasuk untuk mendeteksi gerakan-gerakan teroris dan radikal. Sayangnya, dalam praktiknya … ngeriiiiiiii :(.

Banyak bukti bahwa beberapa intelijen negara menggunakan produk ini untuk “menjebak” lawan politik atau oposisi atau aktivis-aktivis yang dianggap terlalu “cerigis”.

Bahkan dipakai untuk membantai (literally!) kelompok-kelompok minoritas seperti LGBT dan segala macam.

Saya kutip yang tentang INDONESIA :

——
Indonesia is no haven for the LGBT community, either. Reports by human rights organizations have noted the tough policy against the community, as well as against religious minorities, under legislation that bans β€œblasphemy.” Three sources who spoke to Haaretz talked about wrongful use of Verint products in Indonesia.

In one case, the systems were used to create a database of LGBT rights activists who had been targeted for surveillance. In another, the victims of the spyware were religious minorities. β€œAs soon as I arrived in the country, the client told me that my help was needed with an investigation that was bogged down,” Netanel, who worked with the Indonesians to activate the systems, relates. β€œVery quickly the investigation turned out to be a case against a non-Muslim public figure who was accused of blasphemy,” an offense that carries up to five years in prison.

——-

Sisanya, kalian baca sendiri aja artikel lengkapnya.

Industri ini memang meningkat luar biasa. Bukan hanya di Israel. Negara-negara lain juga ada yang mengembangkan produk-produk sejenis. Cuma Haaretz menyoroti Israel secara khusus dalam artikel ini.

Betapa berharganya nilai DATA dan INFORMASI sekarang ini. Beberapa orang yang terlibat dalam industri ini mengakui SULIT untuk mengontrol penggunaan produk secara moral/etika. Apalagi di negara-negara berkembang yang DEMOKRASI-nya masih kembang kempis :(.

Beberapa negara Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika disebut juga dalam artikel ini.

Hal menarik lainnya adalah TAWARAN GAJI yang gila-gilaan buat para pekerja di industri Cyber-Spy. Tidak ada industri lain di dunia yang bisa se-sadis ini urusan renumerasi.

Industri beginian juga pinter. Mereka membidik semua sisi. Ibaratnya produsen virus, sengaja bikin virus ya biar anti virusnya juga laku.

Nah, jadi paham yaaaaa, mengapa kalian harus ekstra hati-hati dengan data dan informasi apa pun yang kalian bagikan secara digital. Karena jangan salah Bro dan Sis, jaringan pribadi dalam bentuk apa pun bisa ditembus. Termasuk chatting whatsapp one on one. Apalagi kalok cuma akun medsos :p.

Makanya tempo hari sempat berdebat dengan teman dan kakak sendiri hahahaha, soal aplikasi-aplikasi yang menurut mereka “aman” dan tidak mungkin bocor terkait musik dan buku.

Yaela, dulu pun YOUTUBE pun terkenal videonya gak bisa di-download. Sekarang, daripada dipreteli sama aplikasi “ilegal”, Youtube pun akhirnya menyediakan fasilitas DOWNLOAD secara terbuka hahahahaha :p.

Apapun yang dibagikan ke dalam dunia tak terbatas di ruang maya, TIDAK ADA YANG TIDAK BISA DITEMBUS ;).

Kok gitu ya? Nah balik ke pendapat teman saya tadi, “Selama yang bikin adalah manusia, pasti bisa nemu celahnya.”

Jadi inget PEPATAH KLASIK

“Dalamnya lautan bisa diterka, dalamnya hati SIAPA YANG TAHU.”

Tempat menyimpan rahasia yang paling aman ya “TELL NO ONE!” πŸ˜.

Sekarang lebih ngeri, apa pun bisa VIRAL dalam hitungan detik bahkan. Kalok dulu kan paling gosip-gosip dari mulut ke mulut. Perlu resource yang besar untuk menyebar luas.

Lah sekarang? Pencet SATU TOMBOL SHARE PAKEK SETTINGAN PUBLIC, SELURUH DUNIA BISA TAHU (LITERALLY) πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ.

Walau begitu, jangan mendadak jadi anti internet gitu lah ya. Sebenarnya, buanyaaaaakkk sekali manfaat positifnya.

Segala kemudahan ini memang dibarengi dengan tanggung jawab yang luar biasa besarnya. Makin praktis makin besar resiko yang harus ditanggung. Memang seharusnya begitu kan? πŸ™‚

Jangan khawatir, MANUSIA itu bukan makhluk sembarangan ;).

Many times we can see, semua masalah yang dibuat oleh manusia suatu hari akan dituntaskan oleh manusia lainnya untuk kemudian dibuatkan kesalahan yang lain, lalu dibereskan oleh yang lain, dst dst dst…sampai dunia kiamat hehehe.

Tetap semangat, yes? Jangan galau hehehe.

Artikelnya lumayan buat nambah-nambah ilmu dan informasi ;). Very-very long one but it’s worth every second.

Eiffel, I’m (not) in Love!

Ini cerita liburan Paskah yang baru ditulis sedikit-sedikit. Kalau banyakan ngomel, mending dipending hihihi. Gak tega aja gitu.

Paris ini kota impian standar anak kampung kek kita-kita eh…saya maksudnya. Bayangan saya soal luar negeri dulu ya didominasi sama menara segitiga di salah satu jantung Kota Mode dunia ini.

jalan jalan ke paris

Sore itu kami berangkat dari Brussel naik kereta. Anak-anak ketiduran dalam kereta, suami sibuk baca-baca apaan tauk di ponselnya. Anak orang kaya dese mahΒ :p. Dah keliling Eropa sejak kuliah.

Sementara si akuh yang walau bukan dari keluarga tajir tapi cantik jelita ini (dah lama gak #benerinPoni) tidak bisa tidur saking tegangnya mau lihat Menara Eiffel πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Tiba di Paris, langsung menuju hotel. Dah kesorean mau jalan-jalan. Ribet bawa anak 3. Ngomeeeeelll mulu hihihihi.

Punya anak 3 juga repot banget milih penginapan (hotel) yang satu kamar. Karena kamarnya mungil-mungil. Kecuali mau ambil yang family room. Tapi ogah buang-buang duit.

Akhirnya nemu hotel yang bisa sekamar berlima di Gare du Nord. Kebetulan pula deket stasiun biar besoknya gampang mau langsung ke pusat kota.

Katanya ini daerah preman. Saya pun sempat ngambek dan berantem sama suami gara-gara booking hotel daerah sini :p. KONON, suasananya “mencekam”. Apalagi bawa anak-anak Horor ye kaaaaan. Siapa yang gak ngamuk πŸ˜πŸ˜πŸ˜. ”

Dihibur sama 4 cowo-cowo ganteng gak mempan! πŸ˜Ž

Semalaman saya ngambek. Ngambek tapi kepo hahahaha.

Pagi-pagi saya terbangun, hiruk pikuk banget dari arah luar. Wajar lah, sebelahan ama stasiun.

Saya mengintip ke bawah (walau hotelnya murah meriah tapi bersih dan kaca jendelanya gedeeeee), di luar udah ruameeeeee. Langsung teringat masa kecil di rumah di Makassar dulu.

Waktu kecil saya tinggal di Jalan Pajennekang, salah satu daerah caur di MakassarΒ :p. Pagi-pagi sudah ribut tetangga yang punya toko bangunin anak laki-lakinya sambil teriak-teriak satu RW denger semua hahahaha.

Foto keluarga tahun 2005. Sayangnya, minus si sulung :(.

Orang-orang saling menyapa sambil lalu lalang makanya ngomong sambil jerit-jerit. Kadang saking akrabnya sampai pukul-pukulan kalok ketemu.

Nah, begitulah kira-kira suasana di sekitar hotel di Gare du Nord pagi itu yang pagi itu sekilas terlihat didominasi oleh orang-orang dari Timur Tengah dan Afrika. Berisik tapi guyub.

Kusenyum-senyum dari atas. Seorang laki-laki paruh baya berrnyanyi keras-keras sambil membuka pintu tokonya dan mengatur buah-buahan di rak luar toko. Seorang laki-laki lebih muda melintas dan tahu-tahu menari dan ikut bernyanyi.

Eh, tiba-tiba seseorang melemparkan sesuatu dengan keras ke arah mereka.

Mereka pun berteriak sahut-sahutan. Eike kira berantem, ealah terus mereka ngakak bertiga. Ternyata si pria yang melempar entah apa itu pemilik toko yang kiosnya tak jauh dari situ. Sudah saling kenal rupanya.

jalan jalan ke Paris
Notredame-Paris, April 2019

Beberapa pria berkulit gelap berkumpul tak jauh dari situ sambil mengobrol gak kalah ributnya. Sebuah kelompok lebih besar duduk di kursi-kursi, ada juga yang berdiri, dengan segelas minuman hangat di tangan masing-masing juga sibuk cekakak cekikik di pinggir jalan.

Ya pantaslah orang bulenya STRES πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. MUngkin yang gini-gini sama mereka dianggap inappropriate yang memicu tuduhan “kriminil”? Bisa jadi hihihihi.

Saya pernah tinggal di Arab Saudi jadi udah biasa dengar mereka ngobrol sahut-sahutan begitu.

Lagian di Makassar juga biasa heboh begitu hidup bertetangga. Ada yang mau pinjem handuk teriak dari lantai 3 ke arah rumah di seberangnya, “Pinjang dulue handuk kasiang. Lemparkan ma’.” Itu sampai 4-5 rumah sebelahnya bisa dengar.

Mana pernah lihat orang bule di Eropa kek gitu hahahaha.

jalan jalan ke Paris
Anak-anak udah bete banget disuruh foto mulu hahahahaha

Nah, benar juga. Sepulang dari Paris, iseng browsing ke grup-grup traveling dan benturan-benturan budaya inilah yang ternyata menciptakan banyak kesalahpahaman :D.

Kebiasaan-kebiasaan standar di kaum tertentu dianggap brutal oleh kelompok lain :p.

Insya Allah aman saja kok secara umum. Soal jambret, di tempat-tempat wisata ramai level dunia di berbagai kota besar Eropa emang harus hati-hati kok.

Jangan takut ke Gare du Nord. Murah-murah loh akomodasinya ^_^. Gak sereeeeemmm. Cuma ya gitu. Berisiiiikkkk :D.

Setelah mandi baru nenteng ransel dan cabut ke pusat wisata Kota Paris. Sepanjang jalan ke arah stasiun memang banyak yang ngumpul dan ngobrolnya keras-keras. Orang Sulawesi harusnya gak kaget. Dulu di kosan pun, saya suka disangka marah-marah oleh teman-teman karena intonasi suara yang “ngeri” πŸ™ˆπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Bawel pula akutu. Cerewet tiada tara. Kebayang stresnya temen-temen kosan ngedepin anak Bugis ini πŸ€£πŸ€£πŸ€£.

Stasiun-stasiun di Paris ini gustiiiiii … pesingnyaaaaaaaa πŸ˜πŸ˜πŸ˜. Kota Madrid yang saya sangka amburadul, malah stasiunnya rapi dan bersih, jarang bau pesing.

Mana pening kali pun jarang ada bahasa Inggris di stasiun Paris. Stasiun segede-gede gaban dengan berbagai fasilitas angkutan publik yang menyatu bener-bener bikin gagap.

Itu kami sampai pakai Google Maps + aplikasi khusus dalam stasiun buat nyari jalur kereta yang kami tuju πŸ€£πŸ€£πŸ€£. Beberapa kali muter-muter di tempat yang sama. Nanya ke orang-orang juga hopeless.

Sudah rahasia umum, orang-orang Perancis ogah berbahasa Inggris (walau mereka bisa). Sampai panik sendiri tapi akhirnya ketemu juga … fffiiiuuuhhh #pijetBetis.

Singkat cerita, tiba di kawasan wisata utama.

Pas udah deket Menara Eiffel, malah bengong, terus bisik-bisik ke suami, “Lah segini doang menaranya? Apa hebatnya?”

Suami langsung ngakak, “Lu yang minta-minta ke sini yeeeee.”

jalan jalan ke Paris

Anti klimaks banget hahahaha. Mungkin karena capek juga nyasar di stasiun sejam lebih πŸ˜…. Plus uring-uringan sama bau pesing yang menusuk. Area sekitar Eiffel juga agak kotor, euy :(.

Suami udah ngeluarin kamera karena sejak semalam sudah saya wanti-wanti saya pengin foto ampe muntah-muntah depan Eiffle. Saya-nya malah pengin cepat-cepat pergi aja dari situ πŸ™„πŸ˜΄πŸ€£.

Untungnya dekat situ ada restoran kebab yang enak. Untuk menghibur bininya yang patah hati dengan impian masa kecil yang dirawat bertahun-tahun tapi kandas begitu saja (hahahaha), suami ngajak lunch di resto yang agak bagusan.

jalan jalan ke Paris

Setelah kenyang dan leyeh-leyeh bentar baru lanjut ke kawasan wisata lainnya di Paris. Jelang malam, balik ke stasiun, menuju Disneyland. Yang Disneyland udah saya share dulu versi vlognya :D.

https://www.youtube.com/watch?v=fCPGPHz9zhc

It doesn’t matter what I dreamed in the past, can’t change anything. Tetep seru kok dan nanti pasti jadi memori seru nih foto-foto kami ini kelak ^_^.

“It doesn’t matter what you did in the past, you can’t change it. The best you can do about your past is to be nostalgic with your family and loved ones about happy memories.” (Zoe McKey, The Unlimited Mind Happy)

-When in Paris, April 2019-

Boxing Day (2019) di Dusun Irlandia

Demi apahhh … nyetir gelap-gelap ninggalin anak dan suami di rumah?

Demi Boxing-Day! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ€πŸ™ˆ

Nih, yang mau langsung ceki-ceki vlognya, monggooooooooo πŸ˜€

Walo kota kecil mungil begini kalo ada SALE-DAY kek Boxing Day gini tetep aja parkiran penuh, ampe keringet dingin mau parkir karena mobil kiri kanan hahaha.

Toko NEXT yang selalu pasang waktu paling pagi. Jam 6 PAGI, eh kalau winter begini jam 6 waktu subuh aja belum, masih gelap gulita :D.

Bangunnya sih udah dari jam setengah 6 tapi terus diajak gosip sama suami. Ya udah ladenin dulu ngerumpi-ngerumpi di kasur daripada dese minta guling-gulingan ye kaaaaan πŸ™ˆ hahahahaha.

Terus tau-tau udah hampir jam 7! Langsung ganti baju, oles sunscreen + pakek lipstik –> nyamber jaket dan kunci mobil. Pasrah muka bantal daripada ketinggalan diskonan #sikap πŸ˜ŽπŸ˜πŸ€

But wait, akutu muka bantal tetep mempesona ya Gaeeessss. Mau muntah, boleeeeehhhh πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€’🀒🀒🀒

Setiap sale season begini, gak pernah belanja gila-gilaan. Pasti sudah ada plan nya sih. Kayak tahun ini, mau belanja sepatuuuuuuuu :D. Sepatu buat satu rumah pokoknya hihihi.

ANak-anak beli di NEXT aja, banting harganya sampai 9-12 euro. Buat Papa-Mamah ya beli di CLARKS dong hahaaha, curang amat :p.

Lumayan banget emang diskonnya.

Tapi lihat kan bedanya tinggal di area penduduk segabruk vs kota mungil yang rakyatnya minim, diskon udah sampai luluh lantak begini, toko-toko tetap sepiiiiiiiiiii :p.

Kebayang kalok di Jakarta neh, pegawai toko udah stres kek apaan tauk hahahaha.

Di sini mah, tadi masih leyeh-leyeh aja embak-embaknya :p. Padahal honor mereka jaga toko di hari libur dan di jam-jam unsual gini gede banget loh ;).

Jaga toko aja gaji gede. Lah itu toko setengah mati nyari karyawan yang mau kerja di hari libur dan pagi-pagi buta begini padahal honornya fantastis. Kalok di Indonesia mah, gak ada lowongan aja, yang nyari kerja bejibun-jibun πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ€.

Masih belom mengerti jugak soal hubungan sistem yang terlihat “kompetitif” DAN jumlah orang dalam suatu wilayah. Masih enggak? Yo weeessss :p.

Karena sudah terencana, belanjanya bentar banget. Paling setengah jam. Setengah jam sisanya ya curi-curi kesempatan buat bikin video di keramaian. Walau akhirnya diedit-edit takut kena semprit :D.

Jam 8 sudah di belakang setir lagi, siap pulang ke rumah. Masih gelap. Pulang-pulang anak-anak udah bangun. Suami yang bikin sarapan jadinya <3.

Yang kali ini cuma beli-beli yang memang penting aja. Nanti buat liat-liatnya bisa entar sore atau besok-besok. Stok pasti tersisah mah. Malah beberapa toko nanti kalau barang gak abis-abis bisa diskon 90%.

Beda sama kota-kota besar yang BOXING day nya tuh bisa kek BOXING beneran, rebutan hahahaha.

BOXING day awalnya dari tradisi Kerajaan Inggris yang juga dikenali di negara-negara commonwealth-nya (misalnya Australia) dan negara tetangga pastinya, Republik Irlandia :D.

BOXING DAY ini bukan TINJU-TINJUan loh maksudnya πŸ€πŸ˜‚.

BOXING ini maksudnya BOX, kotak hadiah. Ada banyak sumber mengenai asal usul istilah BOXING day yang jatuh di tanggal 26 Desember ini.

Salah satunya konon karena tanggal 26 Desember ini hari libur buat para embak-embak (servants) di istana dan rumah-rumah tuan tanah yang dulu banyak di era kerajaan. Jadi, mereka dibagi-bagikan kotak hadiah dari majikan masing-masing. Makanya diistilahkan dengan BOXING day.

Di Republik Irlandia sendiri juga dikenal dengan istilah St Stephen’s Day. Di Eropa Timur, St Stephen’s Day nya jatuh pada tanggal 27 Desember.

Nah ini, abis lunch, mau ke mal lagiiiiiiii hihihihi. Mau menyisir toko-toko yang tadi pagi belum buka. Kalau sudah terlalu ramai, segan mau bikin video. Bisa dipelototin hahaha. Beda sama di US ya, waktu di US tuh, ya ampun, orang-orang bulenya malah carper abis kalok liat kita pegang kamera :D.

Kalok di yurop, galak beud! πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ .

For some reasons, harus diakui tinggal di US tuh jauuuuhhhh lebih ‘menyenangkan’Β πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°.

Film Netflix Terbaru Edisi Natal 2019 : THE TWO POPES, “When Noone is to Blame, Everyone is to Blame”

Film Netflix terbaru untuk edisi Natal 2019 ini : The Two Popes.

Sempat disangka film dokumenter beneran saking miripnya aktor pemeran Pope Francis dengan Pope aslinya hehehe. Iyah, mirip bangetΒ πŸ˜….

So that you know, film netflix terbaru yang ini kategori FIKSI. Kalau pun memang terinspirasi dari kisah Pope Benedictus dan Pope Francis, ternyata banyak juga penambalan yang tidak sesuai atau berat sebelah.

film netflix terbaru Natal 2019

Kritikan bertaburan tapi sebagai tontonan, film ini sangat menarik. Mengingat adegan-adegannya didominasi oleh percakapan one on one antara Pope dan Cardinal-nya (sebelum digantikan), TAPI TIDAK MEMBOSANKAN sama sekali.

Yah, namanya film, kadang harus didramatisasi biar seru. Kalo ako mah anaknya emang googling-an kalo abis nonton film. Nonton filmnya 2 jam an, googlingnya bisa seharian hahaha.

Kurang tepat memang kalau menggambarkan Pope Benedictus vs Pope Francis sebagai konservatif vs liberal. Sementara masa lalu Pope Francis di “Dirty War – Argentina” cukup suram. Googling sendiri ya, Gaeeessss <3.

Kritikan tajam dari kaum sosialis tetap mengalir deras terhadap Pope Francis, walau beliau kini sudah menjadi salah satu icon pengentasan kemiskinan di dunia.

Tapi dalam kehidupan sehari-hari seringnya kita terjebak dalam area hitam putih ini, ya. Dalam banyak hal, perlu waktu panjaaaaaang untuk menyadari “wilayah abu-abu”.

Ironisnya, film The Two Popes menyadarkan saya soal ini sekaligus melakukan pelanggaran yang sama dalam skenarionya hehehehe.

Saya terkesan dengan percakapan saat Pope Benedictus menganggap Pope Francis “too compromising”. Di mana Pope Francis menjawab tegas, “I changed. Not compromised. Two different things.”

Versi film menyorot kasus-kasus korupsi dan pelecehan seksual terhadap anak-anak yang terjadi dalam lingkup Gereja Katolik dan terkesan ditutup-tutupi.

film netflix terbaru review The Two Popes 2019

Pope Francis : “Kita lebih rela melihat 9 anak-anak menderita daripada harus kehilangan 9 juta jemaah.”

Di film terlihat kalau Pope Francis mengkritisi petinggi-petinggi gereja yang terkesan menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran serius demi menjaga citra gereja dengan tujuan utama –> biar jemaah tidak “lari”???

Percakapan berkesan lainnya soal bagaimana agama tidak seharusnya menjadikan manusia bertujuan menjadi Tuhan. Tuhan hanya ada satu.

Tapi saya setuju dengan salah satu kritikus film yang mengatakan, sudah sangat usang jika kita mempertentangkan konservatif vs liberal dalam urusan kehidupan manusia. Gak ada gunanya jugak, gak nawarin solusi apa-apa juga.

Sebaiknya, yang diangkat adalah korupsi vs reformasi melawan korupsi, dunia yang makin kapitalis vs gimana cara kita menguranginya, kemiskinan vs penyebab dan bagaimana kita terus melawannya.

film netflix terbaru The New Popes

Samalah kayak debat-debat di dunia maya yang cenderung jatuh ke ranah ad hominem :(. Lebih baik bahas KONTEN daripada terjebak dalam eyel-eyelan tidak bermutu yang malah menjebak emosi, macam “dasar lu kadrun” atau “cebong goblok” atau “lu emang kampret sih”.

Sumpah, USELESS! πŸ˜°πŸ˜°πŸ˜°.

Gue bingung Jakarta banjir masih jaman nyalah-nyalahin gubernur. Gusti Allah, dari era gue masih gadis kinyis-kinyis cantik jelita (oh wait, sekarang juga masih cantik sih #sisirPoni), Jakarta sudah banjiiiiiiiiiiirrrrrrr, ke mane aje lu!

Awal tahun 2007 noh, banjir besar ampe kantor libur segala. Tiap tahun setelah itu kalau hujan ya banjir, sampai sekarang. Mbok ya jangan gila malah bahas Pilkada yang sudah lewat hampir 3 tahun! #pijetKening

Udah ngomelnya, balik ke review filmnya lagi :p.

Agama seharusnya menjadi jalan untuk membawa kebaikan bagi banyak orang, termasuk kekhawatiran mengenai dunia yang makin materialistis. Jenjang antara si kaya dan si miskin yang makin menganga, iklim global yang makin memprihatinkan, adalah hal-hal yang seharusnya diperjuangkan oleh GEREJA.

Sungguh kuingin standing ovation pas percakapan ini, literally! πŸ˜…πŸ˜πŸ₯°

Banyak persoalan dalam kehidupan sosial yang “jalan di tempat” karena banyak pihak fokus kepada PENCITRAAN, ego sendiri-sendiri, boro-boro bahas SOLUSI :(.

Kita terjebak untuk berpikir, “HARUS ADA YANG SALAH.” Walau hati kecil kita tahu terlalu rumit untuk menunjukkan satu jari kepada pihak tertentu. We knew, we had noone to blame.

Persis.

Makanya, kalau kalian melihat suatu ketidakadilan nun jauh di sana, tengoklah ke dalam kaca di depan kita, lihat bayangan kita sendiri. Kita mengutuk yang jauh, lupa bercermin kepada yang dekat-dekat.

Memaki pelaku, meratapi korban entah di mana, namun tanpa sadar mungkin menjadi pelaku atas korban-korban di sekitar kita sendiri. ((KITA)), tentu saja, yang menulis termasuk!

Makanya, “When no one is to blame, everyone is to blame” -Pope Francis-

Semoga kita semua berusaha melihat bayangan di cermin sendiri sebagai sosok yang membawa perbaikan atas berbagai persoalan sosial antar manusia di dunia, aamiin πŸ™πŸ™πŸ™.

And here comes one of the special days …. CHRISTMAS day <3.

β€œMy idea of Christmas, whether old-fashioned or modern, is very simple: LOVING OTHERS. Come to think of it, why do we have to wait for Christmas to do that?” -Bob Hope-

Cinta tidak pernah ke mana-mana. Selalu ada di sini <3.

SELAMAT HARI NATAL bagi teman-teman yang merayakan πŸ₯°πŸ˜˜πŸ€©πŸ™.