Every Mom Has Her Own Battle

by : Jihan Davincka

***

Salah satu pertikaian yang tak kunjung usai antara sesama ibu-ibu adalah masalah SAHM vs WM. Stay at Home Mom vs Working Mom. Please, don’t say ‘Fulltime Mom’, karena tidak ada yang namanya ‘Part-time MOm’.

Every Mom has her own battle
Gambar : www.sadlyno.com

“Alhamdulillah ya, sesuatu banget. Gajian lagi hari ini. Bisa beli ini-itu tanpa nyodorin tangan ke suami. Nikmatnya menjadi wanita mandiri.”

Kubu sebelah siap membalas, “Alhamdulillah ya, badan encok karena sibuk BBM an. Kerja gratisnya tidak sia-sia, lho. Insya Allah surga balasannya. Super sesuatu.” BBM = beberes, benah-benah, memasak. Hihihihi.

Dan akhir-akhir ini, kancah pertarungan diramaikan oleh pendatang baru : Working at Home Mom. Biasanya di jumat sore, saat macet menaklukkkan ibukota apalagi jika dibombardir dengan hujan, kubu yang ini siap berkicau :

“Aduh, hujan nih. Berkah namanya. Alhamdulillah ya, di rumah-rumah saja dari tadi. Bebas dari lebatnya hujan. Tapi kantong tetap basah, gak ikut-ikutan kering. Main sama anak sekaligus dapat penghasilan sendiri. Sesuatu banget.”

Yang satu mengatasnamakan kemandirian. Ada yang merasa berhak atas surga. Dan ada yang merasa sebagai pemenang sejati, “hey I’ve got both, mandiri plus kebersamaan bersama keluarga.”

***

Parenting style itu unik tiap orang. Saya tidak pernah meragukan itu. Saya tidak percaya jika lebih banyak SAHM yang berhasil mengantar anak-anaknya ke gerbang kesuksesan. Jika para WM harus mengorbankan keluarganya demi karir. Contoh nyatanya banyak di sekitar saya. Yang saya lihat langsung.

Every Mom has her own battle
Working at Home – Mommy (Gambar : www.alexisgrant.com)

Ibu saya bukan SAHM. Mama panggilannya. Saya ingat betul saat pulang sekolah dulu, bukan Mama yang menyiapkan makanan di meja. Bukan wajahnya yang pertama kali muncul saat saya membuka mata setelah waktu tidur siang usai. Yang meladeni saya berganti-ganti.

Tapi saya tidak pernah lupa yang mana Mama saya ;). Apalagi berniat memanggil yang berganti-ganti itu dengan sebutan ‘Mama’. Tidak pernah. Kalau waktu bisa berjalan mundur pun, saya tidak akan meminta agar Mama stay at home for us. Cukup seperti dulu. She’s always be the best Mom for us ;).

Salah satu kerabat yang saya kenal juga berprofesi sebagai WM. Dari awal perkawinan hingga detik ini. Ketiga anak-anaknya tumbuh diatas rata-rata. Yang bungsu kini tengah menempuh pendidikan kedokteran di universitas negeri ternama di tanah air. Kakak-kakaknya tidak kalah hebatnya secara akademis maupun non akademis.

Dan ada beberapa kerabat yang memilih jalur SAHM. Tapi entahlah, anak-anaknya malah belum mampu berdiri secara tegak bahkan ketika mereka telah memasuki gerbang pernikahan.

Every Mom has her own battle
Gambar : www.nazshemah.com

Tapi ketika saya memutuskan mengakhiri status sebagai Working-Mom 3 tahun yang lalu bukan karena figur mana pun. It’s my own choice. Buat saya pribadi, itu adalah pilihan terbaik yang paling cocok untuk saya. Belum tentu buat orang lain ;).

Tentu ada adjustment yang harus dilakukan. Tidak 100% kerelaan langsung berlabuh dalam hati.

***

“Ah, dia gak ngurus anak. Seharian saja di kantor. Anak dikasih ke pembantu.” Cibiran buat Ibu pekerja kantoran.

Hey, sepanjang hari di kantor, statusnya sebagai Ibu tidak dicopot begitu saja. Subuh-subuh sudah harus bangun mempersiapkan makanan si kecil. Pagi – siang – sore menelepon ke rumah mengecek si kecil di sela-sela kesibukan kantor.

Jangan mencibirnya. Belajar saja akan ketangguhannya membagi waktu. Kekuatan hati yang tanpa batas untuk senantiasa membagi pikiran antara pekerjaan di kantor vs pekerjaan di rumah.

Every Mom has her own battle
Working Mom (Gambar : www.eyesonheaven.net)

“Ih, kok mau yaaaa, sekolah tinggi-tinggi kok lha ya BBM-an doang di rumah.” Definisi BBM nya diatas, masih ingat kan? :P.

Sepanjang hari di rumah bersama anak tidak hanya menggunakan kekuatan fisik saja, batin juga mesti kuat ya, Bok :P. Jangan bertanya-tanya, ambil saja hikmah kesabaran seluas samudera mereka yang memilih jalan ini.

“Ih, paling keren gue dong. Bisa sepanjang hari di rumah. Uang mengalir terus. Deket ama anak sekaligus mandiri secara keuangan.” Mau, mau, mauuuuuuu! Hehehe.

Pada umumnya yang model seperti ini ikut bisnis MLM. Wah, berkarir di dunia MLM ini beda lagi lho tantangannya ;). Atau buat yang berbisnis lain di rumah, pasti repot membagi pikiran sekaligus tenaga jadi dua di saat yang sama. Kita bisa melihat dan mencontoh persistensi mereka yang tak ada habis-habisnya.

Jadi, intinya bukan di seberapa banyak waktu yang diluangkan untuk keluarga. Apa artinya bila pilihan itu tak bermakna dan malah menjadi bumerang?

Relakah meletakkan karir demi anak tapi sepanjang hari meratapi pilihan itu?

Apa sanggup setiap hari menghabiskan waktu di belakang meja tapi tak kunjung rela bila membayangkan anak harus berada di tangan orang lain?

“Sebesar apa pun keinginan untuk membahagiakan anak dan keluarga, jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.”

Every Mom has her own battle
Happy Mom (Gambar : www.mohersnotebook.com)

Apa yang coba ditawarkan kepada mereka jika kita sendiri telah merasa kebahagiaan kita telah tercabut dari akarnya? Ingat petunjuk keselamatan dalam pesawat untuk pertolongan pertama saat sirine tanda bahaya berbunyi, “selamatkan diri Anda terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain.”

***

“Surga dibawah telapak kaki Ibu.” Bukan di bawah telapak kaki Ibu Rumah Tangga, Ibu Pekerja Kantoran, atau Ibu Pengusaha :P. Tapi di telapak kaki (semua) Ibu :).

Semua pasti ada pengorbanannya. As every Mom has her own battle. Win yours without being ‘nyinyir’ to others.

Sepakat? ;).

Bunda of Arabia (Behind The Scene)

Pengalaman pertama memang biasanya yang paling berkesan ;).

hdr-4-jhn.jpg

***

Bunda of Arabia (Behind The Scene)

By : Jihan Davincka

***

“Bunda of Arabia” tadinya adalah judul novel yang ingin saya buat. Tapi kala itu saya berpikir saya tak pandai menulis fiksi. Jadi, judul itu menganggur saja.

Di penghujung 2011, setelah (sangat) aktif menulis di blog mamaSejagat dan ceritaJeddah, saya menyadari satu hal, “Saya suka sekali menulis!”

Saat itu saya menghitung ada puluhan postingan dari saya di mamaSejagat, dan puluhan postingan lain yang saya edit. Dan belasan postingan yang saya tulis tentang negara lain, yang diceritakan teman saya via message. Tapi saya menuliskan nama teman saya sebagai penulisnya. Hehehe.

Begitu tergila-gilanya saya menulis. Gak apa deh, yang penting blognya ramai dan saya ada alasan menulis. Toh, foto-fotonya dari teman saya itu.

Saya menuliskan kalimat ini di catatan resolusi 2012 saya :

“Mamasejagat was some kind of sign to remind me of how much I loved writing when I was just a kid. It led me to create another blog : ceritaJeddah. Then I truly realized how I still love writing until now, and tadaaaaa … suddenly we get one resolution for 2012 : writing something more serious than a casual post on my blogs (a book perhaps? :P)”
Resolusi iseng saja. Tapi yang iseng-iseng ini justru mengganggu jadwal tidur selama berhari-hari di awal bulan Januari itu. Akhirnya daripada gak bisa tidur, why not? Let’s write a book!

***

Tapi dasar sok keren, saya pikir sekedar menerbitkan sebuah buku saja kayaknya terlalu biasa-biasa. Bagaimana kalau pakai deadline? Ya, jangan 1 tahun. Yang menantang, dong! Saya pun menantang diri sendiri, “Do it in 3 months! From the scratch!”

Jadilah tanggal 1 April 2012 saya jadikan tanggal keramat. Di tanggal itu nanti buku pertama saya akan terbit, whatever it takes!

Nama pun bukan penulis, ketika googling dan menemukan berbagai artikel mengenai berapa lama biasanya sebuah buku terbit, saya langsung layu. Rata-rata minimal 3-6 bulan. Itu pun levelnya udah penulis tenar, bukan orang macam saya yang out of nowhere tiba-tiba merasa pengin nerbitin buku. Hehehe. Siapa lu?

Tapi anehnya, sifat keras kepala saya malah meluap-luap, “Masa sih tidak ada cara lain?” Jadilah saya colek-colek Mbah Google dan menemukan banyak sekali informasi tentang Indie publishing. Serasa bertemu jodoh, dalam hati saya bersorak, “Eureka! Eureka!”

***

Nah, sekarang mulai menulis. Karena memang buku pertama ini mengandung misi ‘terselubung’ (misinya saya ceritakan di minggu depan, ya), saya memilih bentuk antologi. Sejujurnya, ini tantangan baru lagi. Saya tahu pasti mengedit tulisan orang jauuuhhhhh lebih susah daripada menulis sendiri.

Teman-teman saya disini tak banyak yang suka menulis. Dimulailah bergerilya mencari kontributor. Saya ceritakan misi saya. Belum ada yang tertarik. Saya arahkan tema apa saja yang saya mau. Sudah ada yang tertarik tapi mengaku tak bisa menulis.

Tapi layar sudah terkembang, pantang surut ke daratan. Saya bujuk tanpa henti (via BBM, inbox di facebook, ada yang saya samperin ke apartemennya) satu per satu, orang yang saya incar kisahnya. Saya bujuk, saya wawancara, akhirnya mereka mulai menulis.

Namanya saja mereka banyak yang menulis pertama kali, saya sudah memprediksi akan banyak sekali mengedit tulisan mereka. Nekad, ya. Sementara saya juga cuma penulis boong-boongan, hehehe.

Hasil berburu kontributor dengan intensif membuahkan sebuah naskah dalam tempo 3 minggu. Jangan ditanya sepetnya mata ngedit tulisan tiap malam, hehehe. Hey, there’s no such thing called free lunch! Mana ada sih yang enak-enak untuk mendaki puncak pengharapan ;).

Tapi, begitu naskah selesai, jalannya masih panjaaaaannnggg…

522016_206055992838871_1253662978_n.jpg

***

Sesungguhnya, rasa gentar itu sudah selalu menghantui dari awal. Sejak mencanangkan proyek menerbitkan buku 3 bulan saja, kadang-kadang lutut sudah bergetar.

Saat hampir putus asa mencari kontributor, saya sudah lemas. “Ah, sudahlah. Lanjutin kapan-kapan aja, deh. Lagian kok sinting mau nerbitin buku 3 bulan.”

Saat naskah sudah jadi. Berburu indie publishing tidak kalah melelahkannya. Siapalah saya, cuma blogger doang gitu, lho. Info hanya mengandalkan Google. Sempat takut dengan beberapa peristiwa penipuan via penerbit indie ini. Duh, apa mundur saja, ya?

Setelah menghubungi 5 penerbit, akhirnya menemukan satu yang cocok. Ini pun deg-degan sangat. Untung salah satu teman dekat saya disini kenal baik dengan pemiliknya.

Ya sudah, korek isi tabungan hasil berkarir 7 tahun kemarin.

***

Selesai sampai disitu? Belum ternyata, saudara-saudara! Inilah puncaknya. Penerbit indie memang asoy, naskah kita tak akan tertolak. Tapiiii… penerbit tidak mengurusi marketing dan sales nya. Itu tanggung jawab penulis. Mereka hanya bantu proses distribusi. Onde mandeee, siapa yang mau beli buku ini?

Tapi ya sederhana saja ternyata. Jual saja door to door. Ada internet, pikir saya. Kirim message saja banyak-banyak. Oiya, saya malas mentag orang lain di wall mereka. Saya pikir itu kurang sopan. Karena saya juga tidak suka bila nama saya dipajang di barang dagangan orang lain. Hehehe. Kecuali mereka minta izin lebih dulu.

Saya message satu persatu via inbox FB. Message nya kan sama tinggal copy-paste saja dan mengganti beberapa bagian yang dirasa perlu, hehehe. As simple as that ;). Melelahkan sangat tapi.

Awalnya respons sangat minim. Ya, lagi-lagi ciut. “Bego sih, nekad langsung cetak 800.” Tapi ya gimana lagi, terus saja saya menyebar message secara personal. Chatting satu persatu. Pokoknya tutup mata dulu dengan hasil. Lakukan saja yang terbaik semampunya.

Saya terbakar dengan kalimat dari Ust. Salim A Fillah, “Keajaiban kadang memancar dari sumber yang lain. Bukan dari jalan yang kita susuri atau jejak-jejak yang kita torehkan dalam setiap langkah menjalani usaha.
Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.”

Jadi…just do your best! Let Allah takes care the rest!

Menjelang buku terbit, entah kenapa, mendadak banyak yang tertarik. Satu persatu
mulai membalas message. Tiba-tiba banyak teman yang menawarkan jadi reseller. Anehnya, saya tidak pernah menghubungi mereka. Ternyata mereka tahu dari teman saya yang lain. See? Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita ;).

***

So far, cetakan pertamanya habis dalam tempo 10 hari sejak terbit. Tapi kalau terbit secara indie, sebelum buku benar-benar terbit, kita sudah harus hunting pembeli, lho.

Sekarang saya sedang melanjutkan ikhtiar untuk cetakan ke-2 nya hehehe.

Benar-benar belajar banyak hal dari pengalaman yang satu ini. Satu yang utama, saya pikir, setelah menjalani banyak tahapan yang ‘melelahkan’, saya kapok. Enggak lho, saya makin cinta menulis. Berusaha agar makin mahir. Kalau membaca lagi naskah “Bunda of Arabia”, ah, saya sungguh tidak puas.

Dan satu kesimpulan saya yang mungkin tercantum dalam kalimat ini (saya ambil dari Running Quotes from George Sheehan), bahwa :

“It’s very hard in the beginning to understand that the whole idea is not to beat the other runners. Eventually you learn that the competition is against the little voice inside you that wants you to quit.”
Benar juga. Sebenarnya dalam setiap mimpi yang berusaha kita gapai, dalam setiap langkah kita untuk mendekat padanya, ada satu musuh dalam diri yang sukar terlihat makanya terlihat susah ditaklukkan : “a little voice inside you that wants you to quit.”

Melawan diri sendiri itu intinya. Melawan bisikan-bisikan yang dihembuskan oleh batin sendiri, “Udahlah, ngapain capek-capek. Berhenti aja. Emang gak mungkin kali. Jangan sotoy, deh.”

Kemenangannya bukan terletak saat bukunya akhirnya terbit. Terbit lebih cepat dari target, 25 maret udah terbit. Yayyyy. Tapi pada kemenangan-kemenangan kecil dalam tiap pertarungan untuk menaklukkan bisikan-bisikan tadi. Mengusir jauh-jauh keinginan untuk berhenti saat garis finishnya malah sudah di depan mata.

Anggaplah kita sedang berlari. Boleh menurunkan kecepatan. Tak salah bila langkah melambat. Tentu tak masalah sekali-sekali berhenti mengelap keringat dan mengumpulkan nafas. Yang tidak boleh itu…melepaskan sepatu anda, menepi di lintasan lari dan menunduk putus asa sambil berbisik : “I’m never gonna make it.” Siapa yang tahu, ketika anda menyerah dan berbalik, justru garis finishnya tinggal beberapa meter lagi.

Jadi, cari garis start nya. Pasang sepatu. Mulailah…mulailah berlari. Jangan mengizinkan ayunan langkah terhenti sebelum anda yakin bahwa garis finish telah terlewati ;).

buku-boa.jpg

 

Rupa-rupa cerita berjilbab

Wahhh, kalo inget jaman dulu pertama kali pake jilbab, jadi ngiri euy ama anak muda jaman sekarang… kalo gw kan anak muda jaman dulu (tetep anak muda dong yaoww :D)… Jaman sekarang segala macam gaya dan rupa jilbab tersedia dimana-mana. Pake jilbab juga udah yang biasa aja. Fashionnya juga udah bombastis abis. Udah perna liat www.hijab-scarf.com? wuihhhh, walo pun kadang ada yang agak ‘lebay’ tapi lumayan lah ada juga beberapa yang bisa dijadiin acuan… atau apa tuh satu lagi… hijabberscommunity yah kalo gag salah.

Pertama kali pake jilbab 20 september 1995, inget tanggalnya… miss diary banget deh gw :D. Tapi yah, tingkah laku nampak gag sedikit pun menunjukkan gerak gerik wanita yang udah belasan tahun pake tutup kepala hehehehe… Iya nih *garukGarukKepala*.

Jaman gw dulu pake jilbab, banyak loh temen-temen gw yang mendapat tentangan keras dari ortu masing-masing. Pokonya penuh drama lah. Gw sendiri pake jilbabnya bisa dibilang impulsif, tapi ini murni keinginan diri sendiri, dan alhamdulillah tanpa paksaan dari pihak mana pun dan niatnya juga gag macem-macem. Pokonya at that time, tiba-tiba aja gara-gara iseng nanyain salah satu temen gw yg pake jilbab, dia kali males nerangin panjang lebar, dikasih lah gw satu buku (sampul kuning lupa judulnya :P), gw baca semalaman… dan tadaaaaa… besoknya, nyamperin emak gw : “Ma, mau pake jilbab dong” … nyokap antara bingung dan kaget cuma bilang : “kapan?” … gw : “ya, kalau bisa besok” … nyokap emang tampangnya lempeng gitu sih, si doi diem aja waktu itu, jadi ya udah gw tinggal, pokonya waktu itu target gw ngomong ke nyokap dulu aja.

Terus besoknya, nyokap cerita-cerita ke sodara-sodara. Yah, hampir semua tanggapannya negatif. Nyokap curhatnya via telepon, secara rumah mungil, kedengeran aja gitu dari tangga. Waktu itu gw nangkring di tangga karena denger nama gw disebut2 hehehehe… Konon ada yang menuduh gw ikut aliran-aliran sesat (tahun segitu, anak kelas 1 SMA mau pake jilbab kenapa dikait2 in ama aliran sesat siiihhhh -_- ). Terus ada yang bilang gw terlalu banyak baca buku. Hahhahahahaha… tanteku sayang, tanya ama mak gw, gw tmasuk orang yg paling malas membaca. Baca buku pelajaran doang sebatas kewajiban ama komik tentunya hehehehe… Pokonya semua melarang lah.

Yah , waktu itu gw udah pasrah deh. Kakak-kakak cowo gw juga, even yang judulnya paling alim sekali pun, nampak tidak merespon positif :(. Huaaaaa….mungkin memang belum saatnya pikir gw waktu itu.

Tau2 beberapa hari kemudian, di suatu malam yang cerah (lebay :D), nyokap nyamperin bawa bungkusan, tanpa ba bi bu… : “Nih, lengan panjang ama rok. Beli 2 pasang dulu ya. Dicicil2. Jilbabnya ada 2. Putih semua.” … ya ampun emak gw. Asli loh, malam itu tidur dengan bermandikan air mata hahahahahaha…. gw juga gag mau nanya macem2 ke nyokap kog tau2 boleh ya, padahal gag ada diskusi sama sekali dan tanggapan orang-orang yah 90% melarang lah, paling yang agak suportif : “Nanti aja kalau udah gedean make jilbabnya”. U know, memang Ibu yang paling ngerti ama anak-anaknya 😉

Besoknya pun, lagi gw kebingungan depan kaca (ini pake jilbab gimana caranya yah), nyokap gw udah ada aja di belakang gw, make in jilbabnya. Ngajarin cara make penitinya. Terus pas udah selesai : “wah, cantik kog” …. ihiiiyyyy, apa-apaan yaaa, dipuji nyokap sendiri geer luar biasa hihihihihi….

Tahun berganti tahun, biarpun gw tau beberapa kerabat mencibir ke nyokap, seolah menyindir : “idih, kemauan anak diturutin” … yeeee, kan kemauan yang baik yah mamaku sayang :). Alhamdulillah, lumayan konsisten lah gw hehehehe… ber tutup kepala terus :). Biarpun yah namanya anak muda (ehmm…) sempet pengen ikut-ikutan pake baju-baju yang gag tertutup, ikut-ikutan naksir-naksiran ala anak-anak SMU, biarpun jomblo terus sampe umur 20 tahun hahahahahaha….

Adek gw ngikut bertutup kepala ria pas lulus SMU. Sepupu gw yg perempuan pas udah kuliah agak lama juga ikutan pake. Tapi oh tapi, ternyata adek gw pas kuliah di Bandung, tanpa sepengetahuan gw, dilepaslah itu tutup kepala. Bukan karena dia lepas jilbab yang bikin gw keki, tapi dia gag bilang2 sama sekali dan selalu berakting pake baju ala orang berjilbab kalo lagi maen ke Jakarta ke kosan gw. Jadilah sodara-sodara, 4 tahun penuh gw gag perna tau dia udah gag bertutup kepala sejak mulai masuk kuliah di Bandung! pas lulus, pas wisuda dia pake lagi sih. Makanya gw agak bingung kenapa temen2 nya agak kaget liat dia pake jilbab dan pada nyelametin. Ealahhhh… sadis banget sih, emang gw bakal ngapain kalo dia crita ke gw? huhuhuhu…sakit hati karena she didn’t trust me :(.

Fenomena pake terus lepas emang banyak sih di sekitaran gw. Tapi ya suka-suka dong ah. Males bgt gw nanggepin apalagi kalo bukan orang-orangnya bukan dari lingkaran dalem. Salah satu sohib waktu kuliah, semester awal doi pake jilbab dan terus-terusan mengeluh tentang dia yang merasa terpaksa berjilbab dan bete banget karena merasa gag bebas. Ya gw saranin aja buat lepas tutup kepala ya daripada terus2 an mengutuk jilbabnya kan? Tapi tentu ada rasa bersalah ketika semester berikutnya dia muncul tanpa tutup kepala dan cukup gempar lah kami kira di kampus kala itu. Oh noooo, langsung lemes lutut gw :(.

Dan banyak lagi di lingkungan keluarga, dan lingkungan teman yang memilih langkah yang sama. Dari yang tadinya bertutup kepala memutuskan untuk ‘ganti haluan’ hehehehe… Tapi alhamdulillah, akhir-akhir ini lebih banyak yang sebaliknya… dari yang kepalanya memperlihatkan rambut, sekarang bertutup kain :). Rupa-rupa juga model jilbab jaman sekarang.

 Banyak pula yang menyindir : “ngapain sih pake-pake jilbab kalo baju masih ketat, cara make jilbab sok modis, gag syar’i” … sori-sori aja, kalo buat gw kalo yg ngomong gag pake tutup kepala langsung gw sikat : “daripada elo?” hehehehehehe…. kan kita gag perna tau, kali aja yang pake jilbab (yang katanya) gag syar’i itu tadinya kemana-mana pake tanktop, kan pelan-pelan ya boooo :D, menunjukkan usaha lah untuk ke arah yang lebih baik :)… amiiinnn… berdoa untuk diri sendiri juga nih hihihihihi….

Sembah sujud buat mama tercinta yang udah mendukung gw seribu persen disaat tak ada satu pun respon positif yang menghampiri :). Miss U so much, mom. Nyokap juga 2 tahun terakhir ini udah mulai rutin kemana-mana bertutup kepala. Gag tau sih udah terus-terusan ato engga… way to go Mom *peluk Mama*… bayangkan saat itu pun nyokap belum berjilbab tapi ngebolehin gw berjilbab, aihhhh…makin terharuuuuu huhuhu…

Kerja Luar negeri TKW arab

Huru hara kisah TKW di padang pasir

Multiply jadi terbengkalai gini hehehehehe, curang dikit ah, nyomot 1 note dari fesbuk buat disini :D. Biar gag kosong2 amat :P…

———————————————————————————————————————————-

Yaaahhh, setelah menahan diri sekian lama untuk gag ikut2 an gede omong soal ini hihihihi, akhirnya gag tahan juga buat cuap2 hehehehe…

Gambar : berita.plasa.msn.com
Gambar : berita.plasa.msn.com

First of all, gw sebel sama keputusan moratorium pemerintah yang memutuskan per 1 agustus besok, no more pengirimiman TKW ke negara lain (ato cuma saudi sajakah? cmiiw plis..). Ya,ya gw tau dari kejadian ini banyak yg malah ngeluarin pernyataan2 emosional kaya : “idih, gag ada ya negara lain yg ngirimin TKW ke saudi, dasar Indonesianya aja yg gag tau malu!” …. para ibu rumah tangga yang berkali2 bermasalah sama pembantu rumah tangganya di Indonesia seolah ‘bersorak’ di timeline twitter maupun facebook : “makan tuh para pembokat gag tau diri, gw doain lu ke arab disiksa disana abis kerja disini juga pada ngeselin, minta pulang kampung mulu” …

The truth is…. apa kalian semua kira hukuman pancung yg dialami Ruyati bisa meruntuhkan semangat luar biasa para wanita2 super ini untuk meninggalkan kampung tercinta untuk mengejar riyal di saudi? Heloooo…mereka mungkin lebih takut kalau suatu hari nanti mereka masih diberi umur panjang dan mereka harus menyaksikan anak cucu mereka jadi pembantu lagi!! tidak pada tempatnya kita berkoar2 soal harga diri di depan orang2 yang jangankan mikirin sekolah, buat mikirin ini anak gw besok makan apa aja bikin mereka stres :(. And speaking about sekolah…. yah, anda para ibu rumah tangga yg lebih beruntung ada di posisi ‘majikan’ juga tau dong betapa uang sekolah sekarang ini udah kaya lintah darat. Sekolah biasa yang dengan pedenya sok2 pake bahasa inggris sebagai bahasa pengantar berani mematok harga belasan even puluhan juta rupiah untuk 1 murid! Dan dengan gaji 500 rb yang kalian berikan kepada pembantu kalian tiap bulan (okelah tepat waktu okelah gag pake disiksa) masa depan apa sih yang coba kalian tawarkan kepada mereka????? Sebagian dari mereka juga seorang ibu seperti kita para majikannya. Seorang ibu yang mungkin dalam doa2 nya di malam hari mengangkat tangan dan berbisik2 kepada Tuhan “Ya Allah semoga anak gw kelak jadi presiden! Amin…”

Gw sih gag bilang “ayoooo kita naikin aja gaji pembantu kita 2 juta tiap bulan biar mereka gag perlu ke luar negeri!” … itu sama konyolnya. Jangankan naikin gaji, sekedar ngasi libur sehari seminggu kepada para pembantu rumah tangga apa ada yang mau?????

Ayolah, apa gag cukup tuh ‘derita’ mereka menyandang status sebagai ‘pembantu’? Mari mulai dengan hal2 kecil dulu :

1. mulailah dengan membiasakan menyebut mereka dengan istilah asisten RT

2. Berikan libur, encourage mereka untuk sekedar jalan2 dengan temen2 nya pas abis gajian. Gw bukannya sok baik, gw dulu menerapkan ini ke mbak gw (hai,hai mbak Sum :D), dan beneran loh, kalo abis libur gitu begitu mereka balik ke rumah kita jadi tambah semangat kerjanya :). Wajar toh, hati senang abis rileks sebentar begitu balik kerja jadi fresh lagi ^_^ ….

3. Mungkin bisa kita tawarin ke mereka untuk ikutan kejar paket A dan kejar paket B atau bahkan C. Dan semangatin mereka untuk jangan terus2 an menjadi pembantu. Idih, rugi dong ah, apalagi kalo udah dapet yg cocok, tapi percaya deh insya allah majikan yang baik akan dapet pembantu yang lebih baik lagi, kecuali Yang Di Atas punya kehendak lain kan untuk menguji kita ;)….

4. Dulu udah ribut gw nyari2 tempat kursus bikin kue dan kursus masak buat si embak, karena si doi top banget deh di dapur. Awalnya pengen kursus jahit tapi si doi nampak ogah2an dan lagian eyke juga gag punya mesin jahit :(. Sayang, invitation letter dari majikan gw udah keburu dateng dari Arab dan mental gw tidak cukup kuat menghadapi para kerabat yang tidak henti2nya ngeledekin gw dengan ucapan : “Ih, dia takut tuh ditinggalin ama pembantunya makanya pembantunya diperlakukan kaya ratu” … aih,aih cuma ngasi libur aja, ngebebasin si doi makan apa aja yg ada di rumah, ngebiarin si doi nonton tipi di ruang tamu, duduk di sofa keluarga, masa iya kaya ratu? :(….

5. Wajar lah kalo pembantu yg muda2 jaman sekarang pengen bergaya pake HP lah, pake ini itulah, dengerin aja curhatnya, senyum2 aja, berikan barang2 kita yg udah gag kepake biar bisa dipake sama mereka, jauh amat nyumbang2 ke panti asuhan ama korban gempa, tuh di rumah juga ada yg layak menerima kan ;).

6. Dan jangan patah arang kalo kita udah baik2 ke mereka eeehhh mereka tetap minta berhenti juga hehehehehe…. Maaf lupa ayat berapa dan dimana yang kira2 bunyinya begini : “Bila kalian melakukan suatu kebaikan kepada orang lain sesungguhnya kalian sudah berlaku baik kepada diri kalian sendiri” … gag main2 loh, yg ngomong si empunya semesta jagad raya ^_^ ….

Yah, kalo urusan koar2 ke pemerintah kan bisa sambil jalan dengan ide2 sederhana ini. Resikonya mungkin suatu hari kalau kita terus2 an ‘memoles’ setiap pembantu yg kerja di kita untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pembantu eh asisten RT :P….suatu hari bukan tidak mungkin mereka semua udah males jadi pembantu ^_^ …. yaaaa, jadinya kita semua gag bakal punya pembantu dong! tapi heyyyy, coba tengok di negara maju, memangnya mereka kenal kata pembantu eh asisten RT 😉 ….

Membenahi pendidikan? memperluas lapangan kerja? itu kan bukan kerjaan 1-2 tahun…ketambahan lagi masalah koruptor bla bla bla, yg model kaya2 Melinda ama nyonya Nunun aja gag beres2 (btw, si ibu Nunun kemana sih, gw ada perlu dikit euy, pengen minjem satu aja dari sekian koleksi tas hermesnya hehehehehe)…. dan apakah logis secara emosional kita mengeluarkan moratorium penghentian TKW? gimana kalo Saudi nya bebal. Mereka kan tinggal buka pintu gerbang buat negara lain. Malah takutnya nanti negara lain yg ambil kesempatan, memoles TKW nya baik2 dan kirim ke saudi dengan perjanjian gaji yg lebih okeh. Tinggallah kita gigit jari. Yg cari makan di ladang minyak disini bukan cuma orang Indonesia cing!

Dan tolong dong jangan disangkut2 in urusan ini ama agama, di twitter rame timeline soal katanya di Hongkong dan negara2 non muslim lain, TKI diperlakukan lebih manusiawi daripada di Arab, negeri tempat turunnya Rasul terakhir dan agama Islam. Well, Islam itu rahmat yang ditujukan buat seluruh umat manusia, bukan buat bangsa arab doang! gag berani nulis dalam bahasa arab takut salah ato keserimpet hehehehe….

Makanya jangan nilai orang dari panjang pendeknya jilbab yang dikenakan, jangan dinilai dari berapa banyak ayat yang keluar dari mulutnya, seberapa bagus tajwidnya dalam membaca al quran. Hati manusia itu kuasa Allah semata 😉 dan Allah yang berhak membolak balik hati manusia. Konon salah satu sohib gw disini bilang Allah lebih mencintai orang yg kurang ilmu tapi dermawan timbang orang yg banyak ilmu tapi kikir. Itu hadis ato apa sih bunda Rani? tolong diklarifikasi hehehehehe….

Demikianlah tausiyah dari ustadzah Jihan hihihihihi…. yuk, seiring dengan duka yang mendalam untuk Ibu Ruyati (semoga Allah membukakan pintu maaf untuk beliau dan menyediakan tempat terbaik untuknya di sisi Nya)… mari kita lihat ke dalam diri masing2 (mudah2 an tanpa emosional dan impulsif) apa ada yg bisa kita lakukan untuk para TKW atau orang2 yang mencari rejeki dengan menjadi asisten rumah tangga ini. Minimal dengan tidak membeda2 kan piring dan sendok makan mereka mungkin? kecuali kalo mereka emang punya indikasi penyakit tertentu hehehehe…. Pelecehan itu bukan hanya secara fisik, ucapan2 sekedar “dasar pembantu” juga bisa dianggap melecehkan mereka secara batiniah. Sedaaaappp…ini gw ngomong apa ya dari tadi hahahahaha…

Sok tau ya gw? ah, engga juga, coba aja tanya tetangga2 gw dulu di Laguna… hayooo siapa tuh ibu2 di kompleks yang rasanya lebih banyak berinteraksi dengan para pembokat ketimbang sesama ibu2 yang lain hahahahaha… makanya kalo disangkain pembantu disini kog lah ya ndak berasa apa2 ya di gw hahahahahaha….

Buka lapak baru gaaaannnn :D

Lama gag nulis2 disini neh, sibuk ama anak2…errr… gag juga sih…. sibuk ama si bujang2 kecil itu sih udah pasti ya, dijamin susah nyari waktu liburnya :D, tapi sebenernya tepatnya sibuk di lapak sebelah :D.

Hahahahaha, ngisi di multiply masi kembang kempis ini pake buka toko baru segala :P. Well, ini obsesi lama sebenernya. Tapi tak kunjung terealisasi karena hamil lah, melahirkan lah, dan tentunya faktor M yg tak terelakkan hehehehehe…

Tadinya gw pengen sendirian aja di rumah baru ini, karena berharap tiap tahun bakal tinggal di negara2 yg berbeda hahahahahaha… padahal sepertinya makin susah aje nih suami gw diseret keluar dari sini :D. Jadilah gw mengajak beberapa temen2 yg lain yg diperkirakan cukup sejiwa dengan gw dan memenuhi syarat2 tambahan lainnya. Duile, kaya masuk sekolahan aje :P.

Tapi iseng juga gw ajak beberapa kenalan plus beberapa orang yg gw paksa untuk kenal sama gw 😛 untuk menjadi freelance contributor. So far, yg mau sih banyak, tapi memang mesti terus2 an digenjot hihihihihihi…. Hasilnya lumayan deh. Mudah2 an ke depannya makin banyak lagi yg mau jadi supplier di lapak baru ini ^_^ …..

Yuk mareeee….disundul gaaaannnn….*efekKebanyakanBacaKaskus* =)) ….