Avatar, The God on Earth

Menjelang sebuah peristiwa penting, Avatar Aang galau bukan kepalang.

Komet diperkirakan akan datang ke dunia. Fire Lord akan memanfaatkan habis-habisan kesempatan ini untuk terus memperkuat posisinya dan membumihangsukan Ba Shing Se, pertahanan terakhir Negara Bumi.

Aang
Gambar : avatar.wikia.com

Avatar Aang adalah harapan terakhir penduduk dunia untuk perdamaian keempat negara : Bumi, Air, Api dan Angin. Aang yang menjadi tempat bertumpu untuk mengalahkan Fire Lord yang makin membabi buta.

“You should kill him. No other way!” Begitu kira-kira desakan orang-orang terhadap Aang.

Problem is .. Aang juga adalah seorang biksu. Dalam keyakinannya, Aang merasa kurang sreg kalau harus melenyapkan nyawa Fire Lord. Sekali pun tujuannya adalah perdamaian dunia.

Tapi Aang juga ribet. Naon etah mencegah keganasan Fire Lord tanpa harus ditebus ajal? Jalur perundingan ibarat kata sudah tidak mungkin lagi. Apalagi Prince Zucko (anak kandung Fire Lord yang akhirnya balik arah melawan ayahnya sendiri) terus merongrong Aang, “If you don’t kill him, he will kill you!”

Macam jalan buntu gitulah. Seolah membunuh Fire Lord adalah satu-satunya jalan mencegah kemungkaran yang makin merajalela.

Aang pun sempat menghilang untuk “menenangkan diri” sekaligus mencari jalan keluar.

avatar 2
Gambar : avatar.wikia.com

Sekilas sih ya, kita juga sering berada dalam posisi Aang. Ya enggak perlu selebay itu juga. Kudu bunuh siapa buat perdamaian dunia bla bla bla hahaha. Ngeri amat -_-.

Kadang, sesimpel apakah kita harus merayakan Breastfeeding week atau tidak? #eaaaaaa. Gatal kan loooo pengin bahas gini-ginian hahahahaha :p.

No, no, saya enggak ingin ceramah soal pentingnya ASI anu-anu. Sebaliknya, saya ingin membagi pengalaman saya mengapa peer pressure ASI vs sufor ini menjadi sedemikian rempong.

Si Mamah (ibu kandung saya), ASI full untuk kami bertujuh. Waktu saya tanya, jawabnya santai saja, “Kalian semua ogah dikasih botol. Majjallo’ maneng ko muitai botolo’e. Mana botol susu dulu mahal-mahal. Susu kaleng juga mahal.” Sesimpel itu hahahaha :p. Mana paham ibu saya soal generASI anu-anu, soal pentingnya ASI anu-anu. Pokoknya dulu sufor mahal.

(Majjallo’ maneng ko muitai botolo’e = mengamuk semua kalian kalau lihat botol susu!)

Tahu tidak sih, ibu saya tetap ke kios membantu bapak di pasar. Gak ada cuti-cutian pasca melahirkan. Tetap juga jahit menjahit dan segala macam. Jadi dulu, kalau ibu ke pasar, bayinya ditojang-tojang saja biar tidur dan tenang :p. Tojang = ayunan :p.

Mana kepikir ASI perasan. Kulkas aja enggak punya hahahaha. Nyusuinnya entar kalau sudah pulang dari pasar. Tidur malam nempel deh kita semua dinenenin sampai pagi. Katanya gitu strateginya biar bayi-bayi tetap ASI tapi si Mamah enggak perlu mompa apalagi cuti. Singkat kata, faktor ekonomi. Orang susah memang pilihannya enggak banyak ya hahahaha :p.

On the other hand, Mami (ibu mertua) saya, enggak ngASI :p. Alasannya ya karena tidak tahu. Malah karena harga susu formula dulunya agak mahal dan stok juga jarang, ngasih sufor menjadi prestise tersendiri. Don’t judge her, ya. Sebagai menantu, saya adalah saksi langsung, selain soal ASI, kita semua mungkin tidak ada apa-apanya dibanding beliau ;).

Mami itu merantau sejak menikah. Dari Sumatera ke Sulawesi. Tidak ada kerabat segala macam. Tahun segitu mah nazi-nazi ASI bisa dibilang belum ada hihihihi :p. Sedangkan kata si Mamah, kakek saya (bapak kandung si Mamah) selalu siap ceramah panjang lebar penuh ancaman kalau si Mamah ogah netekin anak kalau anaknya lagi nangis. Literally! Hahahaha.

Both si Mamah and Mami, dua-duanya role model saya dalam berbagai hal ^_^.

Gambar : bolsademulher.com
Gambar : bolsademulher.com

Kita jadi mamak-mamak di era yang berbeda. Era digital. Jangankan perkembangan anak sebelah rumah, ibu-ibu nun jauh di kutu sana bisa kita tahu anak-anaknya ngapain saja. Tinggal baca blog emaknya saja hahahaha :p.

Belum lagi media sosial. Segala Facebook-Path-Instagram, tersaji lengkap untuk memuaskan hasrat narsis kita. Manusia biasa pun kita semua. Penginnya diperhatikan kan? Enggak usah nyari-nyarii pembenaran. Mari kita iyakan bersama sambil salam-samalan :D.

Salahkah? Like I’ve said, dunia berputar, era ikut berubah. It’s something that you cannot deny. Terserah saja ngomong sampai berbusa, “Ih, sumpah lho, saya mah cuma mau sharing, enggak mau pamer.” Ah maca ciiiiihhhh? :p.

Dan lebih absurd lagi kalau kalian meributkan orang yang kalian anggap pamer. Oh C’mon. Ini internet, Cuy! Bukan diari! Hahaha :p.

Inilah yang mungkin terjadi kepada saya saat masa-masa ASI anak saya pertama dulu. I can’t stand my ego :'(. Dulu, karena terbawa emosi, saya pikir salah satu cara sukses berASI adalah being stubborn no matter what!!!

“Being stubborn” nya mungkin sudah cucok. Tapi … “no matter what”-nya itu yang harus belajar lagi kepada Avatar Aang :p.

Sangat percaya diri dengan semua persiapan yang sudah saya lakukan sejak hamil, benar-benar tidak siap kalau ternyata ngASInya … totally drama! Saya sampai ke klinik laktasi nun jauh di Cikini sana. Asking for help di milis ini itu. It broke me more, ASI tak kunjung lancar.

Bodohnya, saya kurang bisa menjaga perasaan ibu mertua dan suami saya. Padahal suami saya itu sangat-sangat mendukung keinginan saya untuk full ASI sekalipun faktanya si doi kan produk sufor :p.

Tentu saja, sebagai orang tua yang hidup di zaman berbeda, baik ibu mertua mau ibu kandung tidak bisa memahami kegalauan kita-kita ini, mamak-mamak muda era internet yang dikit-dikit google dikit-dikit ngintip wall orang lain hahahahaha :p.

SI Mamah maupun Mami sama-sama menasihati, “Pakai sufor aja napa sih?”

Disitulah dodolnya. Saya melampiaskan rasa kecewa kepada suami dan ibu mertua. Waktu itu masih tinggal di rumah mertua hihihi. Tanpa sadar, keras kepala saya dianggap perlawanan kepada sufor. Helooooo…suami produk sufor tuh! 😀 :p.

Padahal suami saya dan ibu mertua awalnya cukup mendukung. Cuma memang setelah dicoba banyak cara, ya disuruh kasih sufor saja. Saya juga tidak paham salahnya di mana waktu itu. Kalau gagal berarti ada masalah sama ibunya! Makin down, saya apa kena kutuk ya? Huhuhu.

Setelah masuk kantor dan lebih pasrah dan santai, voila! Saya sukses relaktasi ^_^. Dari meras cuma 50 cc saja sudah kayak orang gila senangnya, lama-lama penghasilan nambah :p. Sekali meras bisa hajar 300-400 cc. I did nothing! Gak tahu kenapa hahahaha.

Nah dari situ jadi belajar, sometimes, it’s just a matter of time dan memang kadang tidak harus semulus orang lain. Saya dulu kayaknya gagal berdamai dengan diri sendiri dan sok jagoan bakal berhasil. Stubborn-nya salah arah hahaha. Abis itu ASI lancar-lancar aja tuh ;). Prediksi saya sih harusnya anak kedua lebih gampang.

Memang benar, anak kedua lancaaarrrrrrrrrrrr, no drama at all! Ya ada sih puting lecet dan rasa sakit saat awal-awal. Tapi saya sudah tahu. Enggak usah drama, nanti juga sembuh sendiri hahaha.

Di anak ke-2 pun saya punya back up plan. Sebesar apa pun keinginan mau ngASI ekslusif, saya tetap beli botol-botol susu dan membeli sekaleng susu formula buat jaga-jaga ^_^. Ya jadinya buang-buang duit, karena expired tanpa tersentuh satu sendok pun! :D.

Nah, belajar dari kondisi si Mamah di masa lalu, saya sepakat satu hal. Sekarang itu gampang bener jualan sufor bayi. Gila, mereknya macam-macam dan menguasai sampai beberapa lorong sekaligus di supermarket. Bukan “barang mewah” lagi kayak dulu. Belum lagi iklan-iklannya yang bagus-bagus banget dan sangat inspiratif :).

Iklan sufor biasanya penuh pesan bersahabat dan non judgemental.  Iklan ASI? Slogannya saja kadang sudah  ngajak berantem duluan, “Anak ibu minum susu ibu, anak sapi minum susu sapi.” Inspiratif belah mana coba? Hahaha :p.

Sadar tidak sih kalian, iklan keren ini digagas oleh produsen susu formula? 😉

https://www.youtube.com/watch?v=jePmMqqQNas

Ini yang harusnya kita ‘lawan’ sama-sama ;). Gimana caranya biar produsen sufor bayi tidak seleluasa itu “jualan” di “tempat umum”.

Di Jeddah agak susah lho nemu sufor bayi. Kalaupun ada, terbatas banget. Pilihannya sedikit. Susu tertentu hanya dijual di apotik bukan di supermarket terbuka. Lumayan kan membatasi effort untuk mendapatkannya.

Di Irlandia sini, mereka sangat mendukung breastfeeding. Tapi tidak disertai dengan judgemental berlebihan. Misalnya nih, setiap cek ke rumah sakit, kita selalu ditanya apakah mau ASI atau tidak? Ada pilihan itu di kartu kita. Jadi, pihak medis berusaha keras kampanye ASI tapi pada akhirnya … pilihan tetap diserahkan kepada para ibu :).

Yang kurang kita sadari, memang ada ibu-ibu yang SECARA SADAR memang tidak mau ngotot ngasih ASI.

Memang ada yang enggak ngASI karena kudet. Tapi percayalah, orang-orang kudet ini bukan mereka yang aktif berantem di media sosal atau di blog hahahaha. Mereka ada di dusun-dusun terpencil sana yang boro-boro fesbukan atau menikmati foto ASi kalian satu freezer di blog masing-masing :p, punya TV aja mungkin enggak.

Itu yang harusnya jadi sasaran kampanye lebih intensif :).

Saya sih pesimis kalangan menengah ke atas yang melek internet enggak ngasih ASI karena “ketidaktahuan” :p. Kalau pun mereka terlihat bersembunyi di balik alasan “ketidakberdayaan”, ya itu jangan-jangan karena kalian, yang pro ASI, terlalu keras judgement-nya ;). Jadi, yang nyalinya agak lemah mana berani terang-terangan hahaha.

Pilihan mereka bukan urusan kita. Toh mereka memilih bukan karena tidak tahu ;). Leave them alone. Bukan mereka sasaran kampanye model begini.

***

Kitara, perwakilan dari Negara Air, sahabat dekat Avatar Aang, ikut bersuara soal Fire Lord, “Jangan khawatir Aang. Orang-orang tahu niatmu tidak jahat. Kau harus membunuh Lord Fire untuk kebaikan yang lebih besar.”

Yes, Aang juga sadar soal itu. Dia tahu, yang dilawannya adalah dirinya sendiri. Menurut dia, itu justru yang lebih penting ketimbang mikirin ucapan orang lain :). Walau seluruh dunia akan mampu memahami niatnya, tapi Aang tahu tindakan membunuh itu bukan jalan keluar terbaik.

avatar fire lord
Gambar : avatar. wikia.com

Spoiler dikit, ya. Aang berhasil menaklukkan Fire Lord sekaligus memaksanya hengkang dari tahta kekuasaan. Tapi TIDAK dengan membunuh. Aang, somehow, menemukan cara untuk menghapuskan kekuatan Fire Lord yang punya kemampuan mengendalikan api dan petir. Kekuatan itulah yang dihilangkan oleh Aang ;). Karena sudah tidak berdaya dengan jurus-jurus api dan petirnya, ya tentu sulit bagi Fire Lord mau petantang petenteng lagi ;).

Nah, itulah yang harusnya kita temukan solusinya bersama. Apa sih kira-kira yang menyebabkan pemberian ASI kepada bayi masih kurang maksimal selain “penyerangan terhadap kaum ibu itu sendiri”? Malah berantem sendiri coba yaaaaaaa :p.

Sekeras apa pun niat yang kalian klaim baik itu, cobalah untuk mundur sejenak dan sedikit menekan ego. Kalau cara yang kalian anggap baik itu nyata-nyatanya akan menyakiti (sebagian) orang lain, bisakah kita sedikit menjelma jadi seorang Avatar? :p.

Mungkin … kita bisa lebih fokus mendesak perusahaan untuk menyediakan lebih banyak nursery dan kenyamanan buat para perempuan bekerja yang lagi ngASI. Sufor buat bayi kita usulkan untuk dinaikin harganya. Persulit akses membeli sufor bayi. Kalau untuk nambah cuti ya gimana ya. Belum cocok dengan sikon ekonomi tanah air kita :).

Tapi jangan merasa terhakimi ya. Mohon maaf :). Ya, ya, ya, kita pun semua pernah ada di masa-masa di mana rasanya anak nyengir dikit aja pengin upload foto-fotonya dia dari semua posisi! Hahahaha. Anak pertama dokumentasinya paling tokcer dah :p.

As time went by, nanti semuanya juga settle sendiri kok ;). Monggo diterusn berantemnya. SEperti biasa, saya numpang eksis ajah kok intinya hahahaha *benerinKutang* :p.

***

8 Kontroversi Penyebab ‘Perang’ Para Ibu

Foto koleksi pribadi (by Dani Rosyadi)
Foto koleksi pribadi (by Dani Rosyadi)

Dunia ibu penuh warna dan cerita dalam membesarkan para buah hati. Termasuk  merebaknya peer pressure antara sesama ibu-ibu sendiri. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya, hal-hal berikut ini sering ramai diperbincangkan, bahkan tak jarang dipertentangkan.

Apa saja?

Berikut 8 diantara kontroversi pilihan para ibu di tanah air :

1. Ibu bekerja di kantor atau ibu bekerja di rumah?

Apakah ibu seharusnya mengasuh sendiri anak-anak di rumah sepanjang hari atau apakah ibu boleh saja mendelegasikan masalah pengasuhan anak kepada orang lain? Perdebatan masalah ini yang paling sering memicu ketegangan di kalangan ibu-ibu hingga kini.

Apa pun topik yang menyangkut mengenai pilihan ini selalu ramai diperbincangkan oleh kedua belah pihak. Benarkah anggapan bahwa ibu-ibu yang bekerja di luar rumah cenderung menelantarkan anak? Betulkah stereotip ibu-ibu yang tinggal di rumah adalah simbol ketidakmandirian?

Anda sendiri, lebih pilih mana?

Ibu bekerja vs ibu di rumah
Bekerja di luar rumah atau stand by di rumah, Mama harus tetap dekat dengan anak-anaknya dong ya ^_^, foto : koleksi pribadi

2. Melahirkan normal atau melahirkan via operasi/SC?

Metode yang dipilih untuk melahirkan pun tak jarang menjadi pembicaraan hangat. Ada anggapan bahwa ibu-ibu yang memilih cara operasi takut menghadapi rasa sakit alami akibat kontraksi melahirkan normal. Sepertinya akan jauh lebih bijak jika melibatkan para ahli medis terkait masalah ini. Setuju?

3. Memberi ASI ekslusif atau memberi susu formula?

Gencarnya kampanye ASI ekslusif mulai menuai efek samping. Terjadilah kontroversi yang kadang-kadang cukup tajam antara pemberian ASI ekslusif kepada anak ataukah boleh memberikan susu formula.

Alangkah baiknya jika kita masing-masing menyadari bahwa tiap ibu pastilah ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Hanya mungkin ada situasi dan kondisi tertentu yang membatasi pilihan ideal yang dimaksud.

4. Memakaikan si buah hati popok sekali pakai atau popok kain yang bisa dicuci?

Akhir-akhir ini makin marak anjuran penggunaan popok kain yang bisa dipakai ulang setelah dicuci. Mungkin awalnya ditujukan sebagai pilhan alternatif selain penggunaan popok sekali pakai. Namun belakangan malah menuai perdebatan tersendiri.

Isu ramah lingkungan sering diangkat dalam isu penggunaan popok untuk para balita. Ada benarnya juga, sih. Tapi tujuan yang baik jika seharusnya disampaikan dengan lebih bijak sehingga tidak perlu sampai menuai pertentangan, kan?

Popok bayi reusable (gambar : aliexpress.com)
Popok bayi reusable (gambar : aliexpress.com)

5. Mengolah MPASI rumahan atau menggunakan MPASI instan/buatan?

Pemberian dan pengawasan atas nutrisi pada si kecil merupakan salah satu tanggung jawab penting para Ibu. Termasuk soal MPASI, makanan pendamping ASI yang umumnya diberikan sejak usia 6 bulan. MPASI buatan banyak disediakan di toko-toko dan supermarket. Tapi tak sedikit yang memilih untuk mengolah sendiri MPASI buat si kecil.

Kedua pilihan ini mungkin bisa saja dikombinasikan sesuai kebutuhan dan kondisi. Namun yang kadang terjadi malah timbulnya pertentangan antara keduanya. Ada pihak yang menentang penggunaan MPASI buatan dalam kondisi apa pun. Sementara ada juga yang merasa MPASI rumahan cukup merepotkan dan menyita waktu.

Mari bijak menyikapi. Sesuaikan saja dengan situasi masing-masing. Mungkin sesekali, mau tak mau, kita tidak harus mengikuti pola ideal.

6. Memberikan vaksinasi atau tidak?

Pemberian vaksinasi juga cukup gencar diperdebatkan. Ada kalangan yang menentang kewajiban untuk memberika vaksinasi pada anak karena berbagai alasan. Alasan agama dan kenyamanan serta keamanan anak misalnya. Sementara tak sedikit pula kalangan yang menganggap pemberian vaksinasi kepada anak harus terus digalakkan demi mencegah menularnya banyak penyakit berbahaya.

Wah, kalau sudah urusan agama, seringnya diskusi akan jadi panjang dan ‘panas’. Pemerintah dan ahli medis sepertinya harus turun tangan serius untuk menangani soal ini. Menurut anda apa pilihan yang lebih tepat?

7. Mengenalkan bahasa asing dan calistung sejak usia dini atau tidak perlu?

Gambar : funny.wallpaperss.net
Gambar : funny.wallpaperss.net

Soal pendidikan anak juga menghadirkan beberapa pilihan sejak anak berusia dini. Diantaranya keperluan mengenalkan bahasa asing dan kemampuan membaca-menulis-berhitung. Dengan  mempertimbangkan kemampuan dan minat anak masing-masing, seharusnya tidak perlu ada perdebatan lebih lanjut.

8. Memilih metode homeschooling atau sekolah formal?

Metode belajar sehari-hari anak juga terus mengalami perkembangan. Kini, metode homeschooling banyak dilirik dan banyak diterapkan. Hingga tak sadar menjadi bahan perbandingan dengan metode konvensional yang sudah ada. Banding membandingkan inilah yang lama kelamaan sering berujung pertentangan.

Soal metode sekolah anak rasanya banyak faktor yang harus dipertimbangkan, ya. Kenyamanan anak dan kesiapan orang tua merupakan hal-hal utama yang menjadi perhatian terkait masalah ini.

Kildare Shopping Villate Ireland, pic by Dani Rosyadi

Kildare Shopping Village, Premium Outlet di Irlandia

Di tanah air lagi lumayan demam brand Cath Kidston kan ya? :D. Nah, gerai inilah yang paling lama saya ubek-ubek bareng Mama Maya pas ke Kildara Shopping Vilage sekitar sebulan lalu. Pokoknya sebelum bulan puasa kita jalan-jalan 2 keluarga rame-rame. Kok cuma 2 keluarga? Ya di dusun damai nan mungil ini keluarga asal Indonesia ya memang cuma kita berdua ajah hahaha :p.

Tujuan utamanya ke Glendalough (ini ceritanya terpisah ya), tapi sebelumnya mampir duyuuuu ke Kildare Shopping Village ini :D.

Kildare Shopping Villate Ireland, pic by Dani Rosyadi
Kildare Shopping Village

Tempat apa sih? Ya pastinya buat shopping-shopping lah yaoowwww hahaha. Mamak-mamak, mari merapaaaatttt ^_^.

Kildare Shopping Village

Tepatnya, shopping village ini ala-ala premium outlet gitu. Di banyak negara Eropa dan US, ada saja kan ya tempat-tempat kayak gini. Salah satu premium outlet di  Irlandia ya Kildare Shopping Village ini.

Aslinya saya memang bukan tukang belanja. Tapi kalau urusan lihat-lihat mah selalu seneng, yang penting enggak ikutan belanja! Hahaha *tepokDompet* :p.

Kildare Shopping Village at Kildare, pic by Dani Rosyadi
Kildare Shopping Villate, tempatnya nyaman dan rapi ^_^. Pas dateng enggak begitu ramai

Belum gede-gede banget. Tapi memang masih dalam masa pembangunan. Di sisi kiri bentar lagi buka  lapak baru. Lapak baru dengan banyak brand-brand baru pastinya ;).

Yang sudah available saat ini, selain si Cath Kidston tadi, antaralain : All Saints, Calvin Klein, Clarks, Coach, DKNY, Furla, HOBBS, Gucci, Hugo Boss, Karen Millen, Kate Spade, L’occitane, Levis, Nike, Samsonite, Pink, Tommy Hilfiger, ya pokoknya masih banyak lah. Itu saya sebutin yang familiar ala saya aja hihihi.

Namanya juga outlet, harganya memang cukup miring. Terus terang saya cuma mampir sekelewatnya saja di gerai lain. Enggak minat belanja emang, cuma cuci mata doang. Lagian saya kan memang suka ketakutan lihat harga-harga mahal yaaaaa hahahaha.

Biar dikata sudah miring, ya memang saya penggemar Penney’s a.k.a Primark yang jangan ditanya dah miringnya itu sudah nyaris horisontal saking miringnya :D. Kapan-kapan cerita-cerita soal Primark deh. Yang jelas, tanpa diskon pun, dapat barang (apa pun) di bawah 10 euro itu gampang banget di Penney’s/Primark ini ;).

Tertarik lama-lama di Cath Kidston karena memang diskonnya lagi lumayan banget. Lebih murah lagi daripada harga di gerai resminya ;). Saya belanja beberapa barang cimik-cimik sebagai suvenir buat ibu-ibu guru di sekolah anak-anak. Sudah jelang akhir tahun ajaran waktu itu.

Ya beli printilan ini doang :D. Harganya, per item, di bawah 10 euro semua! ^_^. Guru di preschool ada 2, guru di primary school ada 1. Jadi cucok deh, beli 3 item ini hehe.

Gambar : www.cathkidston.com
Gambar : www.cathkidston.com

Tas-tasnya juga turun harga semua. Sempat ikutan bongkar-bongkar sana sini padahal beli kagak hahaha. Motif brand satu ini kan kembang-kembang abis yak. Agak kurang cocok dengan kepribadian mamak-mamak preman macam eike :p. Tapi sukaaaaaa lihatnya ^_^.

Walau belinya printilan, ada kali sejam-an di gerai Cath Kidston. Pas insaf karena ingat anak-anak dan suami yang nungguin di luar, barulah kita cabut dari sana. Dari sana, baru sok-sok intip-intip Furla, Kate Spade, dll. Cuma masuk pintu, ngider satu putaran, langsung keluar lagi :D.

Btw, anak-anak dan suami pada ngapain di luar?

Mereka ngumpul di bagian belakang area tempat belanja. Pengelola tempat ini pasti sudah sadar kalau mamak-mamak ini dilepas di tempat shopping model begini, berasa anak gadis semua. Lupa anak, lupa suami! Hahaha.

Makanya, disediakan playground yang lumayan gede di bagian belakang shopping village. Terus juga ada semacam jembatan kecil buat jalan-jalan melihat reruntuhan kastil apa gitu. Cakep deh. Kita cuma bisa lihat dari tengah saja.

Kildare Shopping Village backyard, pic by Dani Rosyadi
Reruntuhan kastil di belakang Kildare Shopping Village

Suami-suami sambil ngangon anak di playground ya mereka sekalian foto-foto juga :D.

Sebenarnya pengin lihat-lihat ke belakang juga sampai ke jembatan itu, tapi suami eike udah manyun. Ternyata, dese miskol berapa kali tapi enggak kedengeran hihihi :p.

Nah, ini foto playgroundnya difoto dari ujung jembatan menuju pemandangan kastil tadi.

Playground at Kildare Shopping Village, pic by Dani Rosyadi
View dari belakang : Kildare Shopping Village

Mohon maaf nih, enggak bisa review-review harga segala macam. Saya kurang paham hehehe. Bisa dicek di situsnya langsung ya, ini nih di Kildare Shopping Village official website ;).

Di hari biasa, harganya sudah pasti lebih miring daripada harga di gerai ‘umum’. Tapi di musim-musim diskon, mereka juga memasang diskon yang lebih menggiurkan. Bikin dompet kudu digembok :p.

Menuju sana-nya, tricky juga ya. Karena di  Irlandia sini nih, transportasi umum memang belum canggih-canggih amat. Biasanya pada naik mobil pribadi atau dianterin sama travel tour :D. Yoih, Kildare Shopping Village jadi tempat wisata turis jugak. Turis tukang belanja apalagi hahahaha :p.

Tempatnya buka dari jam 9 pagi hingga jam 8 malam. Kecuali hari minggu, bukanya dari jam 10 pagi.

Ada kantin segala macam. Termasuk gerai Starbucks buat ngopi-ngopi.

How to get there? Ini saya copas-kan dari situsnya tadi, ya : The Village is located at exit 13 off the M7 less than an hour’s drive from Dublin Airport and Dublin city centre on the motorway linking Dublin and Limerick. Sat Nav: N 53° 9’ 16” W 6° 55’ 2” 

Sekarang giliran kalian yang ke sana. Mau? Yyyiiiuuukkkk ;).

maccaroon

 

Wonders are (Still) Waiting to Start

Gambar : kickofjoy.com
Gambar : kickofjoy.com

Pansel KPK versi terbaru baru saja terpilih. 9 orang. Perempuan semua. Kurang kontroversi apa, sih, Pakde-ku yang satu ini? Hahahaha.

Yang menarik sebuah komentar iseng-iseng, “Wah, perempuan kan makhluk yang lemah katanya. Berarti benar, KPK sedang dilemahkan.” Hahaha. Ngakak kuadrat :p.

Tapi memang benar, kontroversi sudah ada namun sayup-sayup. Semacam komentar, “Mau jadi apa negeri ini? Menyalahi aturan Tuhan. Benar-benar sudah mau kiamat.” Hanya karena pansel KPK 9 orang cewek semua, dunia sudah mau kiamat? –> *sodorinKarpetBuatPiknik* :p.

Kalau tebakan iseng saya mengapa beberapa pihak yang biasanya panas dingin kalau urusan beginian tapi soal teranyar ini urung bersuara itu karena…sosok Ibu Risma hehehe :p.

Tempo hari ramai mempertentangkan kepemimpinan beliau hanya untuk melemahkan sosok Ahok misalnya :p. Kan ribet ya, Cyin, kemarin-kemarin memuja Ibu Risma bak Dewi Kuan Im, sekarang kalau protes soal Pansel nanti bisa jadi senjata makan tuan, deh. Hihihihi :p.

Ngomongin perempuan, beuh, bisa panjang urusannya.

Konon ada juga yang menuduh, “Itulah kelemahan perempuan. Terlalu main perasaan!” Wah, wah, wah, mentang-mentang sebuah jargon lama, “9 perasaan dan 1 pikiran pada perempuan” kok tahu-tahu bisa dianggap lemah?

Sudahlah ini sudah dibahas panjang lebar di sini, baca lagi, dong-dong-dong #eaaaaa –> “In Her Shoes” 

Nanti kalian baca di situ justru ‘dominasi perasaan’ itulah yang menjadi kekuatan utama perempuan yang jungkir balik sekali pun tidak akan mungkin bisa dikuasai para laki-laki. Maksudnya? Ya klik dong linknya :p.

Salah satu pencapaian penting sebagai perempuan itu adalah Gelar “Ibu”. Salah satu lho, yaaaaa :D. Tidak berarti kalau belum jadi Ibu berarti anda perempuan yang tidak penting. Bukan itu maksudnya ;). Percaya deh, motherhood itu sudah satu paket sama keperempuanan kita, whether you’re a Mom or not ;).

Motherhood. Such a long way to go :). Di setiap prosesnya, seolah perasaan kita ikut terbanting-banting kiri kanan atas bawah serong sana serong sini hihihihi :p.

Mungkin waktu baru hamil, apalagi hamil pertama, bisa melewati masa hamil muda saja sudah kayak menang perang gitu ya, Booooo, hahaha.

Padahal masih ada fase melahirkan. Habis melahirkan, apalagi kalau prosesnya ribet dan normal pula, beuh, sudah merasa juara lah pokoknya :p. Tambah lagi ngasih ASI sampai segala puting berdarah dan bernanah tapi pantang menyerah hingga akhirnya bisa pamer foto “Anakku sarjana ASI” makin-makin deh … I’m the best mom ever! :p.

Sudahlah. Banyak dari kita memang HARUS melalui fase-fase narsis seperti itu. Ada yang setelah anak ke-2 dan seterusnya langsung tersadar dan menertawakan diri sendiri. Ada yang enggak move on, sampai anak ke-berapa juga, terus aja berkompetisi tanpa kenal lelah hahahaha. Judge sana sini, merepet sana sini dan sebagainya.

Tapi, jangan lantas kita sesama ibu-ibu ikut-ikutan merendahkan fakta bahwa peer pressure itu benar adanya. Merasa paling keren karena katanya tidak suka ikut-ikutan gini-ginian, sudah merasa ini basi, tapi komen juga paling kenceng ya, Ceu! Hahaha.

Gambar : ctworkingmoms.com
Gambar : ctworkingmoms.com

Santai sajaaaaaa ^_^. Faktanya memang begitu. Dunia ibu-ibu gitu, lho. Mari merayakan perbedaan dengan cara apa pun. Lagian perang-perang dunia maya mah, nanti kalau ada lomba blog paling temenan lagi dan tuker-tukeran info lagi. Ya gak, ya gak, ya gak? Kedipin dulu satu-satu ;).

Tapi yah akhir-akhir ini saya sendiri kembali digalaukan dengan motherhood-adventure ini.

Anak pertama saya tahu-tahu sudah besar.

Sekarang bapaknya lagi assignment ke luar pun, dia sudah tidak ‘sudi’ lagi tidur bareng saya :(. Padahal anaknya agak penakut lho hihihi –> like mother like son hahahaha. Dia maunya tidur berdua adiknya saja. Adiknya mah dari dulu tidur sendiri juga enggak pernah takut. Anak bugisku ini memang cetarrrrrrr <3 :p.

Karena bapaknya tidak ada, saya yang antar tiap pagi ke sekolah. Tidak mau lagi tangannya digandeng, “I’m a big boy.”

Apalagi dicium hahahahaha. Pokoknya kalau sudah dekat-dekat sekolahan, dia benar-benar menjaga supaya dia terlihat “mandiri”. Pagi-pagi kan waktunya memang mepet.

Di lampu merah terakhir, kalau lampu menyeberang jalan sudah hijau, saya biarkan dia lari menerobos jalan sendiri dan menghilang di balik gerbang sekolah. Biar hemat waktu juga buat saya. Dan dia senang banget dengan ide ini. Mungkin kesannya kayak anak gede gitu, ya. Sudah boleh menyeberang jalan sendiri.

Saya panggil-panggil juga biar dia nengok gitu, dadah-dadah basa basi gitu. Dia enggak nengok dan cuma mengibaskan tangan seolah pengin bilang, “It’s ok, I’m fine. Just go.”

Huhuhuhu. He’s getting bigger and I’m not ready. Not yet! Secepat itu, ya, ternyata.

Drama hamil-menyusui-melahirkan-nyuapin dia yang susah bener makannya dan badannya mungil pula yang bikin saya harus bolak balik ngelus dada menerima judgement macam-macam dari orang-orang… seolah tak ada artinya lagi dibanding mendapati kenyataan di depan mata bahwa tidak selamanya saya bisa menimang dia di samping saya.

Itu juga belum kejadian. Baru kelas 1 SD pun! Hahahahahha. Masih panjang perjalanan yang harus dilewati sebelum dia benar-benar melambaikan tangan untuk bilang, “Okey Mom, I need to catch my flight. See you next year!”

Oh, no. Tentu pengin ya anak-anak terbang sejauh yang mereka bisa tapi ya, faktanya pedih juga, Euy. Ini baru menepis tangannya tak hendak digandeng saya sudah terpukul begini hahahaha. Gimana kalau nanti dia udah ke rumah bawa-bawa bini dan cucu-cucu. Belum lagi kalau-kalau-kalau… like I’ve said, masih panjang betul perjalanan yang harus dilewati.

Itu baru anak pertama. Lanjut terus sampai ke adik-adiknya.

Tapi, anak pertama memang spesial. Saya ingat waktu kakak pertama saya meninggalkan rumah untuk kuliah di kota lain. Keterima Sipenmaru di PTN Surabaya. Bertepatan perginya dengan Ibu saya berangkat haji. Pulang-pulang naik haji, kakak sudah berangkat ke Surabaya.

Ibu saya terisak-isak melihat sepasang sepatu si Kakak yang mungkin sengaja memang tidak terbawa. Masih nangkring di kotak sepatu. Padahal adik-adiknya masih ada 5 biji (yang bungsu belum lahir waktu itu), tetap saja, pengalaman pertama ditinggal satu anak tuh, rasanya drama banget kali, ya, huhuhu.

Jadi intinya, yang sekarang-sekarang ini kita alami saat mereka masih dalam kandungan misalnya atau masih balita, aduh…masih ecek-ecek lah hihihihi. Ecek-ecek tapi lumayan menguras emosi kan, kan, kan? Hahaha *jabatTangan*.

Still, long way to go ini mah yaaa … rangkul satu-satu dari jauh <3.

Don’t lose your way with each passing day
You’ve come so far don’t throw it away
Live believing dreams are for weaving
Wonders are waiting to start
Live your story Faith, hope and glory
Hold to the truth in your heart
-Diana Ross, “If We Hold On Together”-

Jalan masih panjang begini, save our energy. Wonders are still waiting to start, aren’t they? ;).

Let’s hang on … <3.

Gambar : ctworkingmoms.com
Gambar : ctworkingmoms.com

Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati

Ini salah satu tulisan di Buku “Memoar of Jeddah” :D. Ini versi aslinya yang banyak haha-hihinya :p. Versi teks buku tentu tanpa emoticon dan “hahahahaha” :D.

cover-final-memoar-of-jeddah.jpg

***

Suatu hari saya ke UGD salah satu rumah sakit swasta di Jeddah dan harus dilakukan tindakan operasi kecil. Hanya bius lokal. Dokter laki-laki asal Mesir yang menangani saya.

Saya gemetaran karena takut setengah mati. Hahaha. Pak Dokter nampaknya tahu. Dia menenangkan dengan mengajak ngobrol.

Bahasa Arab saya nol besar dan saya pastikan Pak Dokter tak bisa berbahasa Indonesia, jadi kami asyik mengobrol dengan bahasa Inggris.

“Wah, saya kira kamu tadi orang Indonesia, lho,” ujar Pak Dokter setelah ngobrol agak panjang.

Lah, piye? “Saya memang asli Indonesia.”

Matanya terbelalak. “Indonezi? You can speak English? Masya Allah!”

“Sure, why not?”

“Kalau bisa bahasa inggris seperti ini, cari saja pekerjaan lain. Kenapa memilih jadi pembantu?”

Saya merespons dengan terbahak. Ya ampyuuunn, kece-kece begini disangka gitu. Oh tidaaaaaakkkk *tutupMukaSelebayLebaynya* hahaha.

Gambar : weheartit.com
Gambar : weheartit.com

Jangan kaget. Begitulah pada umumnya tanggapan orang-orang jika bertemu dengan perempuan asal Indonesia di Saudi.

Setelah itu dia sibuk bertanya mengapa saya tinggal di Saudi. Dengan siapa. Apa iya di Indonesia banyak perempuan mendapat kesempatan untuk duduk di perguruan tinggi? Kok bisa orang Indonesia bahasa Inggris?

Antusias benerlah pokoknya si Pak Dokter.  Mungkin juga karena orang Arab kan memang dikenal berapi-api kalau diajak berbincang :D. Ingat ya, kalau ngomongin Arab itu artinya ngomongin ras/suku bangsa. Mereka ada di Saudi, Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, Palestina, Yaman, Sudan, dll. Kalau di Indonesia sebut “Arab” umumnya langsung mengacu ke Arab Saudi saja :D.

Dengan waktu yang tersisa, ya gak mungkin mau lama-lama juga kan dia punya pasien lain, saya coba meluruskan persepsi dia tentang Indonesia. Dokter itu cukup puas dengan penjelasan singkat saya dan memberikan sedikit pembelaan atas komentarnya di awal tadi.

“Kamu jangan salahkan saya kalau saya tidak paham banyak orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris. Bahwa kota Jakarta sama kerennya dengan Jeddah. Pendidikan bukan hal yang tabu buat perempuan Indonesia. Masalahnya, hampir semua perempuan Indonesia yang saya temui di Saudi ini rata-rata berprofesi sebagai pekerja rumah tangga.”

Lalu, saya jadi berpikir. Sebenarnya TIDAK 100% orang-orang non Indonesia yang ada disini berpikiran sempit. Mereka berpendapat menurut apa yang mereka temui sehari-hari. Di situ kan umumnya muncul skema stereotip. Generalisasi. Apalagi kalau contoh mayoritasnya memang menunjukkan begitu. Apa hendak dikata hehehe.

***

Orang Filipina juga banyak TKWnya. Tapi mereka juga banyak yang berprofesi sebagai perawat, sales, penjaga toko, manajer bank, engineer, konsultan IT/SAP, dsb. Profesi mereka variatif. Demikian pula dengan pendatang lain dari negara-negara seperti : Pakistan, India, dll.

Orang Indonesia? Kalau Anda laki-laki, biasanya akan disangka supir. Kalau perempuan, otomatis dianggap pekerja rumah tangga. Saking banyaknya TKI informal asal negara kita di negara ini. Begitulah kenyataannya. Jadi, tidak perlu sensi, ya 😉

Kalau menyusuri pelataran parkir di mal-mal besar di kota Jeddah ini, akan terlihat kerumunan lelaki yang sedang duduk-duduk mengobrol dekat pintu masuk. Sebagian besar berasal dari Indonesia. Kelihatan dari suara mereka yang berbincang dengan bahasa Indonesia. Mereka adalah para supir pribadi yang sedang menunggu majikan yang berbelanja dalam mal.

Kemana perginya para pekerja profesional kita? Mungkin salah satu alasan utama keengganan TKI formal asal negeri kita untuk mengadu nasib ke Saudi adalah ‘keamanan keluarga’. Terutama untuk para perempuan. Bukan rahasia umum, banyak ‘dinding pembatas’ untuk para wanita yang hidup di Saudi ini. Belum lagi sering di’remeh’kan karena kerap disangka TKW.

Medical stuff in Jeddah Hospital, multi cultural (gambar : thepinoy.com)
Medical stuff in Jeddah Hospital, multi cultural (gambar : thepinoy.com)

Perempuan tidak boleh menyetir di Saudi. Tapi aman, kok, naik taksi sendiri di sini. Belum lagi kemudahan untuk melakukan ibadah umrah. Tak perlu antri dan mengeluarkan biaya besar untuk naik haji.

Kalau mau ke mal, tidak mesti menunggu suami senggang. Ajak saja beberapa teman atau saling menjemput dan beramai-ramai menjajal mal di siang hari.

Belum lagi ada banyak rumah makan Indonesia. Mulai dari level kaki lima hingga bintang lima. Tinggal pilih. Sate Madura, pempek, bakso, tahu, tempe, tidak ada istilah ‘langka’. Semua bumbu khas Indonesia pun tak sulit ditemukan.

Perempuan wajib berabaya hitam kemana-mana. Tapi abaya hitam itu banyak yang modis. Pokoknya tidak ada kata mati gaya. Bahannya ternyata nyaman dan tidak panas.

Ternyata tiap tempat menawarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bila ditanya, “Gimana sih hidup di Jeddah itu?” Mungkin jawaban yang cukup tepat saya ambil dari lirik salah satu lagu di tanah air, “Bahagia, meski mungkin tak sebebas merpati.”

“Bahagia, meski  mungkin tak sebebas merpati” juga sub judul dari buku saya yang pertama, “Bunda of Arabia” :D. Bunda of Arabia ini terbitnya secara indie. Covernya agak-agak keramean gitu. Desain covernya kami rancang sendiri soalnya ^_^. Biar hemat hahaha. Maklum kalau indie modalnya ya kocek kantong dewe :p.

buku-boa.jpg