Topkapi Museum : The Truth Will Set You Free

“Kota di dalam kota” merupakan istilah yang cukup pas untuk menggambarkan fungsi Topkapi Museum di masa lalu. Salah satu situs bersejarah peninggalan Kesultanan Ottoman, bagian dari kekhalifahan Islam yang berakhir di awal abad ke-20.

Hampir 400 tahun, Topkapi Museum menjadi pusat kediaman Sultan di Kerajaan Ottoman. Sebelum akhirnya dipindahkan ke Istana Dolmabahce di pertengahan abad ke 19.

Sekitar 4 ribu orang diperkirakan bermukim di dalam kawasan Topkapi Museum. Termasuk 300 orang selir sultan yang tinggal dalam bangunan tertentu yang dikenal dengan istilah Harem.
Konon 1000 tukang masak istana harus menyiapkan makanan sebanyak 6 ribu porsi setiap harinya.

Malas baca panjang-panjang, rehat dulu nih  nonton vlognya :p

Masih ingat serial The Magnificient Century dari Turki, berkisah tentang Suleiman The Magnificient, yang dikritik oleh beberapa kalangan muslim di tanah air karena dianggap sebagai “distorsi” terhadap ajaran Islam.

Seolah penggambaran bahwa Sang Sultan memiliki selir (tepatnya, ratusan selir!) dan gaya hidupnya saat itu hanyalah “rekaan” semata. Disangkanya raja-raja di masa kekhalifahan penjelmaan nabi semua apa .

Mungkin inilah salah satu contoh glorifikasi terhadap masa lalu yang tidak terlalu berani diutak utik oleh para ulama di masa kini . Oh well, memangnya pengajian mana yang akan berani mengajarkan sejarah-sejarah seperti ini .

Yang sering ditekankan adalah “indahnya masa lalu”, sempurnanya ajaran Islam pada masa kekhalifahan bla bla bla. Padahal jejak kehidupan mereka di masa lalu tak begitu sulit diurai dan ditemukan buktinya.

Seperti ada jarak antara kehidupan rasulullah dan para sahabat vs kehidupan modern. Padahal diantara jarak waktu ratusan tahun itu, many things happened. Many-many-many things .

Oleh kalangan orientalis anti Islam, mereka menjadikan “catatan sejarah” ini untuk menyerang Islam. Beberapa kalangan muslim tentu membantah keras dan menganggap itu hanya rekayasa karena dari kecil kita sudah dibentuk dengan ajaran seperti itu. Betapa indahnya penerapan Islam di masa lalu bla bla bla.

Enggak heran pada teriak-teriak minta khilafah, yes? .

Itulah gunanya menelisik sejarah. Tidak ada yang salah dengan aturan seperti ini di masa lalu. Perbudakan dan perlakuan terhadap kaum perempuan, adalah hal yang sangat-sangat lazim di masa lalu .

Topkapi Museum
Topkapi Palace, Istanbul 2016

Saya ingat pas ke monumen konfederasi di depan Capitol Building, Little Rock – Arkansas, saya bergumam, “Heran, orang yang ngotot memperjuangkan perbudakan kok ya dianggap pahlawan.”

Suami saya ketawa, “Elo pun kalau hidup di masa itu mungkin akan menganggap itu hal biasa.”

Yup, perbudakan bahkan baru benar-benar hilang dari kehidupan modern ini di abad 20 kali, ya. Karena pasca Perang Sipil 1965 pun tidak serta merta seluruh budak dibebaskan di semua wilayah Amerika Serikat.

Mungkin itu salah satu kepingan yang hilang dalam pendidikan tentang Islam di masa sekarang. Kita sibuk ngeyel dan malah menjadi bahan tertawaan para ahli sejarah.

Karena pada dasarnya mayoritas keagamaan kita lebih karena warisan. Berapa banyak sih yang benar-benar mau “belajar” Islam dan keluar dari zona nyaman berupa doktrin-doktrin dari masa kecil dulu? Geser dikit diteriakin liberal, bertanya dikit diserang dengan tuduhan “punya penyakit hati” hahaha.

Topkapi Museum

Kita suka gagap menanggapi tuduhan kok bisa di alquran ada aturan-aturan memperlakukan budak. Faktanya, alquran turun di abad berapa dulu, Cuy? Abad segitu aturan begini-begini sangat visioner di masanya .

Jangan heran jika penerapannya tidak bak-buk-bak-buk. Instead of mengancam dan memaksa agar budak dibebaskan otomatis, Allah menawarkan solusi khasnya, sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang : membebaskan budak diganjar pahala yang sangat besar .

Secara halus, Islam sudah menegaskan, berabad-abad sebelum dunia modern berteriak-teriak terhadap HAM, salah satunya dalam surah Al Balad ayat 12-13, “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan…”

Nggg…terus kok masih selir-seliran di era kekhalifahan ratusan tahun setelah alquran turun. Bukan ajaran Islamnya yang bermasalah, tapi umat di kala itu ya memang sanggupnya segitu . Bertahap dan berproses.

Topkapi Museum

Makanya, yang beginian-beginian janganlah terus-terusan disembunyikan dan dianggap “tidak ada” atau pura-pura tidak tahu.

Kita tidak dibekali dengan “kisah nyata” dari masa lalu. Beberapa kalangan memberi alasan, “Ya nanti kalau dijelasin semua pada salah paham dan bingung. Jadi lebih baik memang dibahas yang bagus-bagusnya saja.”

Bukankah Islam adalah ajaran bagi mereka yang berpikir? Ya biarkan umat berpikir jangan dininabobokan dengan kisah-kisah absurd dan enggan menceritakan sejarah secara lebih komplit berdasarkan fakta. Ya gak, ya gak, ya gak? .

Maaf ya, sekali-sekali memang harus diajak ngomong serius soal gini-ginian hehehe. Pengetahuan sejarah jangan dipilih-pilih .

“The truth will set you free, but first it will piss you off.”
― Joe Klaas, Twelve Steps to Happiness

Anyway, biar enggak stres, nonton vlognya deh hahaha. Pemandangan cantik di sisa-sisa peninggalan Istana Topkapi Museum berusaha kami abadikan dalam vlog yang ini.

Ngerekamnya gantian, karena harus jagain anak-anak yang ketiduran depan museum hahaha. Suka duka traveling sama anak-anak kicik ya .

Topkapi Museum

 

Dari salah satu teras bangunan, kita bisa memandang bebas perairan di Selat Bosphorus dan wilayah Golden Horn.

Hingga kini, kawasan Topkapi Museum merupakan bangunan istana terbesar peninggalan masa lalu yang masih bisa dilihat dan dikunjungi.

Jumat barokah buat kita semua .

And have a nice weekend .

Istiklal Street Istanbul jalan-jalan

Galata Tower dan Istiklal Street di Istanbul Turki

Ini sebenarnya cerita jalan-jalan dari Istanbul pas ke Galata Tower dan Istiklal Street. Tapi mau ngobrol dikit soal cerita lucu pas jalan-jalan ke Swiss tempo hari.

Dari dalam tram dari arah Bahnhof-Bern saya ngikik melihat salah satu plang di sebuah gedung yang kami lewati. Saya langsung cerita ke suami, “Masa di sini ada yang namanya Bank Eek.”

Hahaha. Bener kan, pas mau pulang kami sengaja jalan kaki menuju Bahnhof biar bisa foto-foto depan Bank Eek :p. Googling it yourself kalau gak percaya . Bank Eek salah satu nama bank di Swiss.

Bahnhof itu artinya stasiun kereta dalam bahasa Jerman .

Beda Swiss beda Turki. Di Turki kami berdua kembali cekikikan melihat salah satu nama restoran yang terpampang gede-gede di sebuah bangunan, “Konak Kebab”.

See it yourself in this vlog/video hahaha .

https://www.youtube.com/watch?v=Yz-ZKDv8dO0

Konak Kebab itu letaknya di salah satu sisi jalan Istiklal, Istanbul.

Istiklal Street, juga dikenal dengan Istiklal Avenue, salah satu nama jalan yang paling terkenal di Kota Istanbul Turki. Sepanjang 1.5 km, jalanan ini ramai dikunjungi oleh jutaan orang setiap hari. Baik oleh penduduk lokal maupun turis asing.

Istiklal Street terletak di Distrik Pera, salah satu wilayah bersejarah di Istanbul. Distrik Pera kini dikenal dengan nama Distrik Beyoglu.

Bangunan-bangunan lama dengan arsitektur khas Ottoman masih terlihat di sisi kiri dan kanan jalan. Walaupun bangunan tua tapi modelnya tetap dipertahankan.

Galata Tower dan Istiklal Street Istanbul
Istiklal Street, pic by Dani Rosyadi

Kini, gedung-gedung di sepanjang Jalan Istiklal ini berfungsi sebagai butik-butik pakaian ternama level dunia. Banyak juga toko yang menjual suvenir khas Turki, rumah makan, dan penjual karpet.

Setelah menyusuri Istiklal Street kita akan menemukan lokasi Galata Tower, salah satu landmark terkenal di Kota Istanbul Turki. Galata Tower didirikan pertama kali oleh Pemerintahan Genoa di pertengahan abad ke-14.

Awalnya berfungsi sebagai Tower of Christ sebelum akhirnya Galata Tower menjadi menara pengawas kebakaran di masa pemerintahan Ottoman.

Ternyata memang kebudayaan di dunia ini luasnya enggak kira-kira ya. Termasuk persoalan bahasa tadi. Banyak kata-kata dalam bahasa tertentu bisa berarti positif, tapi ternyata kata yang persis sama bisa berbalik 180 derajat dalam bahasa lain :D.

Dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia juga banyak kasus yang sama. Saya dan suami saya sendiri datang dari 2 suku yang berbeda. Saya Bugis dari Pulau Sulawesi. Suami saya asli Minang dari daratan Sumatera. Ada beberapa kata yang berbalik maknanya dalam bahasa daerah kami masing-masing.

Tahukah kalian kalau istilah “Iyo” dalam bahasa Minang dan bahasa Bugis sama-sama berarti “Iya”. Tetapi dalam adat Minang, “Iyo” itu artinya netral atau cukup halus jadi bisa digunakan kepada orang yang lebih tua.

Sementara dalam adat Sulawesi Selatan, kata “Iyo” maknanya agak kasar dan hanya boleh dipergunakan kepada teman sepergaulan. Kalau sampai berani bilang “iyo” kepada orang tua walaaaahhh…cilaka berat hahaha :p.

Selain itu, bahasa Indonesia sebenarnya juga banyak menyerap kata-kata dari bahasa lain. Bahasa Arab, Sansekerta, Melayu apalagi. Tapi ada beberapa kata dalam bahasa Spanyol yang arti dan pelafalannya serta penulisannya hampir persis lho dengan bahasa Indonesia. Seperti kata Bandera, artinya sama dengan Bendera cuma beda satu huruf doang.

Hati-hati juga dengan nama dalam bahasa Arab. Karena misalnya Jaml, atau disebut Jamal, itu artinya Unta lho hehehe. Mungkin yang dimaksudkan oleh orang tua yang memberi nama adalah Jamaalun, yang artinya cantik/bagus dan semacamnya. Sebaiknya diberikan nama Jamiila atau Jamaluddin sekalian hehe. Jangan Jamal-jamal aja :p.

Apalagi tuh contoh paling pertama, kata “Eek” hahaha. Gila banget kan beda artinya :p. Di Swiss dijadikan nama bank pula. Ya siapa yang mau nabung “Eek” di bank hayoooooo hahahaha :p.

Gosipnya kejauhan. Balik ke Istiklal Street lagi. Sayang nih, foto-foto tentang Istiklal Street adanya di laptop saya. Laptop saya rusak. Makanya nih, agak ngadat ngeblog dan ngevlognya huhuhu. Harus numpang di laptop suami sementara :(.

Kami ke Istiklal Street ini di akhir Juni hingga awal Juli tahun 2016 kemarin. Mampir sebentar sebelum mudik ke Jakarta untuk lebaran. Agak sepi saat kami melintasi Istiklal Street. Soalnya musim panas lagi hot-hotnya di sana dan kebetulan pas Ramadan pula :).

Suami saya yang pernah mengunjungi Istanbul di musim semi tahun 2013 bilang, saat musim semi jumlah wisatawan membludak gila-gilaan di Istanbul. Pas ke Istiklal Street, padetnya gak ketulungan hehe. Mungkin juga rangkain peristiwa terorisme di berbagai wilayah Turki membuat turisme di sana agak macet ya :(. Semoga segera membaik lagi. Aamiin <3.

Istanbul, salah satu pusat budaya dunia yang sayang kalau dilewatkan.

Ini vlog yang lain tentang kota Istanbul ;).

https://www.youtube.com/watch?v=wgRA7WKLLeg

 

Masjid Sultan Ahmed (Masjid Biru) di Istanbul Turki

Konon, di malam hari, cahaya biru akan berpendar dari 5 kubah utama – 6 menara – dan 8 kubah tambahan dari dalam bangunan Masjid Sultan Ahmed ini.

Salah satu interior utama dinding di dalam masjid adalah keramik biru yang ukirannya dikerjakan dengan tangan manusia. Dari dinding-dinding inilah, cahaya biru tadi memancar. Karena itulah bangunan yang aslinya bernama Masjid Sultan Ahmed ini juga dikenal dengan nama Masjid Biru.

Masjid Sultan Ahmed Blue Mosque (pic by Dani Rosyadi)
Blue Mosque (pic by Dani Rosyadi)

Makanya, saya sempat bingung juga awalnya, kok bisa jadi Masjib Biru? Padahal bangunan luarnya berwarna abu-abu kecoklatan. Sama sekali tidak ada tanda kebiru-biruan hehehe. Kirain dulu dicat biru terus dicat ulang :p.

Ruangan dalam masjid Sultan Ahmed sendiri kini lebih didominasi warna merah dari hamparan karpet dan warna kuning dari bola-bola lampu yang menggantung di tengah-tengah ruangan. Karpet cantik ini diganti secara reguler untuk kenyamanan pengguna masjid.

Maklum ya, Masjid Biru ini salah satu tujuan utama turis di kawasan wisata Sultanahmet Istanbul Turki. Selain memasuki ruangan masjid untuk lihat-lihat dan foto-foto (hihihi), tak jarang pengunjung juga ikut salat bersama :). Berapa banyak tuh pengunjungnya tiap hari. Mengingat Istanbul juga terkenal sebagai salah satu pusat wisata dunia.

Masjid Sultan Ahmed depan masjid biru

Ada 6 minaret yang mengepung bangunan Masjid Sultan Ahmed. Minaret, menara masjid, yang dahulu digunakan sebagai tempat mengumandangkan azan oleh para muadzin.

Ada kisah tentang mengapa jumlah minaretnya ada 6. Katanya sih, sempat salah komunikasi antara arsitek sama keinginan Sultan. Masjid Sultan Ahmed ini dibangun di awal abad ke-17 di masa pemerintahan Sultan Ahmed I.

Sultan penginnya dibikinin Menara Emas, tapi arsitektur dengernya Enam Menara. Nah, dalam bahasa Turki memang mirip-mirip kata-katanya. Lebih lengkap bisa dibaca di sini wikipedia langsung nih :).

Ada banyak cerita mengenai asal mula minaret sebagai bagian khas dari arsitektur masjid di masa lalu. Salah satunya, untuk mengimbangi gereja yang memiliki menara-menara lonceng.

Vlog-nya juga udah ada lho hihihi :

Kami ke Istanbul saat puncak  musim panas. Puanaaaaassss huhuhu. Kayaknya saat terbaik mengunjungi Istanbul adalah musim semi, sekitar bulan April-Mei. Masuk Juni sudah mulai membara, euy.

Kalau bawa anak-anak jadi gampang cranky kalau kepanasan. Enggak konsen juga kalau mau foto #eaaaaa. Tapi enaknya musim panas, siangnya kan panjang. Sebagai negara 4 musim, pas musim panas di Turki, matahari baru menghilang jam 9-10 malam. Jalan-jalannya bisa lamaaaaaa :D.

Sebaliknya dekat-dekat musim dingin, siangnya lebih pendek. Jam 6 an sudah mulai gelap.

Masjid Sultan Ahmed

Tidak sedikit juga paket-paket umrah dari tanah air yang menjadikan Istanbul sebagai salah satu tempat transit. Transitnya ya 2-3 hari gitu sekalian jalan-jalan. Ada yang ke Istanbulnya setelah umrah ke Makkah-Madinah (Arab Saudi) ada yang sebelumnya malah. Seru juga ya, umrah sambil jalan-jalan.

Salah satu sahabat saya juga jadinya jalan-jalan ke Istanbul karena ikut umrah model begitu :D.

Biasanya, para turis numplek nih di kawasan Sultanahmet karena ada Hagia Sophia segala. Tapi pas kami ke sana relatif sepi. Mungkin ada pengaruh musim panas dan lagi bulan puasa juga. Selain itu, pas malam kedatangan kami, bandara Istanbul kena bom :'(.

Dua jam setelah kami meninggalkan bandara tepatnya. Terbayang kan lemesnya lutut. Besoknya saya sudah gemeteran enggak pengin ke mana-mana. Maunya langsung balik Jakarta saja huhuhu. Tapi suami meyakinkan saya bahwa insya Allah enggak apa-apa.

ALhamdulillah memang lancar-lancar saja jalan-jalan kami waktu itu. Banyak polisi di mana-mana. Enggak rame-rame amat jadi yang biasanya antri-antri gitu (kata suami yang pernah ke Istanbul musim semi 2013). Serba lancar :D.

Masjid Sultan Ahmed

Hingga kini Masjid Biru masih menjadi pesona utama bagi para turis di wilayah Istanbul. Letaknya berhadap-hadapan dengan Hagia Sophia yang saya sebut tadi, tempat yang tidak kalah serunya untuk daya tarik wisatawan.

Dari Masjid Biru ke Hagia Sophia sih tinggal jalan lurus saja. Kita melewati taman cantik yang berada diantara kedua tempat bersejarah ini. Lihat kan ya tadi di vlognya. Fotonya enggak gitu banyak. Sibuk sama adek bayi nih hihihi.

Tapi sempat juga kita bergaya depan Hagia Sophia :D.

depan hagia

Dalam satu hari bisalah kita menghabiskan waktu mengelilingi baik Masjid Biru (Masjid Sultan Ahmed) dan Hagia Sophia. Akan lebih banyak waktu sih yang kepakai di Hagia Sophia karena bentuknya memang museum, 2 lantai pula.

Cerita si Hagia Sophia nanti ditulis deh kapan-kapan, nanti tengok ke sini  lagi yaaaaa. Sekalian sama vlog tentunya ;).

Stay tune! 😀

Istanbul Asian Side. The port, Kadikoy, pic by Dani Rosyadi

Sejarah Turki yang Bangkit dari Puing-puing Ottoman

Sejarah Turki mungkin dimulai dari Kesultanan Ottoman yang berabad-abad menjadi salah satu kesultanan yang cukup disegani dunia. Wilayahnya membentang dari Afrika Utara hingga Asia Barat.

Ya sesuai motto standar aja ya, hidup seperti roda pedati, kadang perkasa kadang ciut hehe.

Konon, keterlambatan modernisasi di berbagai sektor termasuk angkatan perangnya membuat posisi mereka jadi oleng. Hingga sempat mendapat julukan Sick Man of Europe.

Sejarah Turki Istanbul Asian Side. The Moda, pic by Dani Rosyadi
Moda, Istanbul Asian Side

Pecahnya perang Dunia 1 memperburuk kondisi Ottoman. Nah ini ada teori konspirasinya juga sih.

Kelihaian Churchill melihat potensi melemahkan “Poros Sentral Eropa” (Jerman dkk) membuatnya menerapkan strategi adu-domba.

Salah satu tokoh yang terkenal sukses membuat orang-orang Arab melepaskan diri dari Ottoman adalah Lawrence of Arabia. Tapi ada yang bilang dia ini tokoh fiktif saja.

Pada dasarnya perpecahan dalam Kesultanan Ottoman sudah tidak terelakkan lagi pasca kekalahan geng mereka dalam Perang Dunia 1.

Yoih, Ottoman yang punya perjanjian khusus dengan Jerman akhirnya ikut digempur oleh pihak sekutu. Walau sebenarnya Ottoman sudah bilang emoh ikutan perang.

Hagia Sophia, Aula (pic by Dani Rosyadi)
Hagia Sophia, Aula (pic by Dani Rosyadi)

Ottoman sempat mampu membentengi diri dari pihak sekutu tapi pemberontakan golongan-golongan Arab yang ingin membebaskan diri membuat Ottoman akhirnya menyerah pada sekutu.

Rontoknya poros Jerman dalam PD 1 membuat pemerintahan Ottoman makin terpukul hingga terpaksa manut saat pihak Sekutu ingin menguasai wilayah-wilayahnya.

Jadi dibagi-bagilah wilayah Ottoman untuk negara-negara Sekutu yang menang perang.

Sejarah Turki Hagia Sophia (pic by Dani Rosyadi)
Hagia Sophia (pic by Dani Rosyadi)

Perjanjian Sevres-Swiss tahun 1922 Sebagian besar wilayah Afrika Utara jatuh ke tangan Inggris beserta wilayah Jordan dan jazirah Arab di pesisir selatan. Perancis kebagian wilayah Syam. Yunani juga kecipratan.

Nah, dari sini cukup penting kalian pelajari lanjutannya. Karena dari sinilah akhirnya negara-negara Arab memerdekakan diri dari “tuan baru”nya masing-masing.

Proses inilah yang punya peran penting dalam masalah Palestina – Israel serta terlunta-luntanya suku Kurdi hingga kini yang pada saat itu tidak kebagian negara khusus.

Perjanjian Swiss tadi juga mengizinkan sekutu untuk membawa pasukannya di wilayah Turki.

Sejarah Turki Istanbul Asian Side. LRT, pic by Dani Rosyadi
LRT di Istanbul

Di sinilah kaum nasionalis Turki jadi bete berat dan merasa harga diri mereka terhempas (kok kayak Incess ya hahaha). Tapi mereka terhempasnya enggak pakai manja-manja kayak Incess. Sebel beneran boooo.

Sudahlah sebagian besar wilayah Ottoman digadaikan. Bangsa Turki pun harus dikuasai oleh pihak asing.

Jadilah kaum nasionalis menggalang persatuan untuk membebaskan Turki dari kekuasaan Sekutu (Inggris dkk).

Cara damai dianggap enggak mempan karena Kesultanan Ottoman seperti tidak punya daya dan upaya lagi, maka kaum nasionalis memilih untuk angkat senjata.

Dipimpin oleh Mustafa Kemal, perlawanan kaum nasionalis terhadap tentara Sekutu berakhir dengan terjadinya perjanjian damai “Traktat Lausanne” di bulan Juli 1923.

Sekitar 3 bulan setelahnya, akhir Oktober 1923, Republik Turki resmi dideklarasikan. Bahasa nasional ditetapkan Bahasa Turki.

Setahun sebelumnya Kesultanan Ottoman dibubarkan dan membuat Sultan Mehmed VI meninggalkan tanah Turki dan tidak kembali lagi hingga akhir hayatnya.

Mustafa Kemal mendapat gelar “Ataturk” yang kira-kira artinya “Bapak Bangsa”.

Tidak semua kalangan dari bangsa Turki menyetujui sepak terjang Mustafa Kemal. Perlawanan terberat datang dari kaum konservatif.

Istanbul foto bagus
Foto : Dani Rosyadi

Entah mengapa Mustafa Kemal mengubah haluan Turki menjadi negara sekuler. Mungkin trauma dengan perpecahan dalam tubuh Ottoman kali ya.

Salah satu kebijakannya yang juga mengundang kontroversi karena dese kayak sebel bener sama yang berbau kearab-araban. Sampai azan pun diubah ke Bahasa Turki.

Kalau menilik sejarah ya mungkin karena sebel itu tadi. Rongrongan bangsa Arab yang ingin memerdekakann diri di masa Ottoman-Turki lagi ribet melawan sekutu membuat Ottoman makin kewalahan hingga akhirnya kalah.

Mungkin lho yaaaaa. Lah gimana orangnya udah enggak ada hehehe.

Jadi, membicarakan Mustafa Kemal memang seperti 2 sisi mata uang. Di mata kaum sekuler/nasionalis Turki, beliau tentu pahlawan besar karena memerdekakan Turki dari cengkraman Sekutu juga bukan perjuangan kecil.

Tapi di mata kaum konservatif muslim ya beliau dianggap pembangkang dan berendeng julukan ngeri-ngeri lainnya yang enggak elok mau ditulis di sini hehehe.

Sejarah Turki Istanbul baklava kue enak manis
Foto : Dani Rosyadi

Mirip seperti Arung Palakka dari tanah Bugis, Sulawesi Selatan. Buat orang-orang Bugis terutama Kerajaan Bone, beliau jelas adalah pahlawan yang memperjuangkan pembebasan bagi suku Bugis atas perbudakan oleh suku Makassar.

Tapi di buku-buku sejarah dulu-dulu dibilangnya pengkhianat bangsa hehehe.

Anw, antara Bugis-Makassar kini everything is over lah 🙂. Kami sudah hidup damai dan tidak sampai terbentuk kelompok lover-hater untuk tokoh Arung Palakka sih hahahaha.

Adapun Turki kini, setidaknya yang sempat saya lihat langsung di Istanbul tempo hari, makin memantapkan diri sebagai negara mapan baik di wilayah Eropa maupun Asia 🙂.

Perdana Menteri Erdogan bisa dianggap sukses meletakkan dasar-dasar perbaikan ekonomi yang signifikan bagi kemajuan negara Turki.

Kehidupan sehari-hari dan fasiitas publik di sana sudah cukup layak bersanding dengan negara-negara Eropa lho 😉.

Saya berharap Negara Turki bisa menjadi salah satu pelopor negara mayoritas muslim yang sukses mempersandingkan modernitas dan nilai agama yang katanya sudah mulai tidak cocok disandingkan dengan kehidupan di era terkini :). Mudah-mudahan ya. Aamiin.

Indonesia juga dong, dong, dong <3.

Sejarah Turki Foto Istanbul bagus
Foto : Dani Rosyadi

Doanya ya teman-teman.

Tuh, enggak disuruh mikir-mikir susah-suah kok ya cuma disuruh berdoa aja hehehe.

Lagian weekend kok mikir, mending piknik ke mana kek. Nah, kalau yang weekend ini kebagian piknik di dunia maya saja (hahaha), lihat-lihat foto-foto Istanbul aja yuk hihihihi :p.

All pics here taken by my husband, NOT ME! –> Dani Rosyadi.

Saya kebagian nambahin deskripsinya aja biar kelihatan pinter gituuuu hahahahaha :p.

Enjoy the pics and have a nice weekend ^_^.

Tempat Wisata di Istanbul : Bagdad Street, Icip-icip Kehidupan Lokal di Sisi Asia Kota Istanbul

Tempat wisata di Istanbul : Akhirnya tulisan perdana #istanbulSummer2016 sukses ditulis juga hihihi. Ini mau bahas Bagdad Street Istanbul dulu :D.

Istanbul, kota yang memang pada dasarnya keren dan diperteguh ke-ciamik-annya dengan fakta bahwa daratannya terbagi di 2 benua : Sisi Eropa dan Sisi Asia. Jarang-jarang ya ada tempat yang bisa seberuntung kota ini :).

tempat wisata di Istanbul Asian Side. The Moda, pic by Dani Rosyadi
Moda, Istanbul Asian Side

Like I’ve said, sebenarnya kalau jalan-jalan ke kota atau negara lain, lebih ingin merasakan dan berbaur dengan keseharian masyarakat di sana. Kalau cuma mengunjungi tempat wisatanya, foto-fotonya dah banyak euy di internet hahahaha :p.

Khusus Istanbul, lucky me ;). Lebih dari 3 tahun yang lalu, suami saya pernah assignment ke Istanbul sebulanan. Jadi dia sudah cukup ‘menguasai’ keseharian kota ini. Walau cuma transit 4 hari di penghujung Ramadan tahun ini, lumayan bisa intip-intip Istanbul versi “sehari-hari”.

Menurut suami, kalau di Sultanahmet dan sekitar ya pastinya ketemu turis doang dan tempat-tempat wisata standar.  Kalau mau icip-icip Istanbul ala non-turis, yuk, jalan-jalan ke sisi Asianya ;).

Terutama ke Bagdad Street ini, nih. Dulu, suami saya menginap di salah satu hotel yang terletak di jalan raya yang katanya macam Orchard Road di Singapura ini.

tempat wisata di Istanbul Asian Side. The shops at the Bagdad Street, pic by Dani Rosyadi
Pertokoan di Bagdad Street, Istanbul Asian Side

Kawasan Sultanahmet dan sekitarnya miriplah dengan area sarat turis pada umumnya. Hotel mungil-mungil, pemukiman padat dan disesaki oleh penjual oleh-oleh dan tempat-tempat makan. Yang lalu lalang pun kebanyakan turis, jelas bukan orang lokal.

Sebaliknya, sisi Asia nyaris tidak terlihat kerumunan turis. Jalan-jalan di sini pun kami menggunakan angkutan umum seperti tram-bus dsb, seperti orang lokal pada umumnya. Soalnya suami udah hafal sih area sini plus angkutannya hehehe. Jadi relatif mudah kalau mau mampir sana sini :D.

Sebelum ke Bagdad Street, suami membawa kami ke salah satu taman yang lumayan hits untuk pemukim lokal. Semacam playground juga. Jadi anak-anak bisa puas juga main-main.

Tamannya gedeeeeeeee. Fasilitasnya bagus-bagus. Bersih dan rapi. Jakarta bentar lagi deh punya yang kayak gini. Aamiin #colekKohAhok hehehe.

tempat wisata di istanbul Istanbul Asian Side. The park at the Bagdad Street, pic by Dani Rosyadi
Taman di sepanjang Bagdad Street, Istanbul Asian Side.

Foto di atas tuh foto taman di musim semi tahun 2013. Suami saya nemplok di sana pas Spring. Nah di 2016 ini kami ke sananya pas musim panas. Jadi kostum pengunjung taman lebih “syuuuuurrrr” hehehe.

Turki mengenal 4 musim. Di mana musim dinginnya juga bersalju. Tapi musim panasnya lumayan cetaaarrrr. Duh, gelagapan euy sama panasnya. Secara di Irlandia kalau musim panas kan mataharinya masih malu-malu. Begitu ketemu suhu 30 an di Istanbul, jedeeeerrrrrr, bawaannya pengin oles deodoran melulu hahaha.

Dari tampang-tampangnya, terlihat jelas pengunjung taman ini mayoritas orang lokal :). Rata-rata  bawa hewan peliharaan (anjing umumnya) atau bawa stroller isi adek-adek bayi hehehe. Seru nih, #baby3 banyak temennya.

Yang bawa batita dan balita juga banyak lah ya secara taman ini memang pas banget buat mereka buang-buang keringat :D.

Banyak disediakan kursi-kursi kayu buat duduk-duduk imut. Walau hari sudah sore, sekitar pukul 4-5 sore, taman relatif sepi. Kemungkinannya ada 2 : cuaca masih panas bingiiiiiitttt (puncak summer boooo) atau pas lagi bulan puasa jadi pada malas keluar secara buka puasanya masih lama. Di musim panas, biasanya magrib jatuh pada pukul 9 – 10 malam.

Sepi pun, 2 pengunjung cilik kita ini tetap heboh mainnya hihihi.

playground anak2 main

Lebih dari sejam kami nyangkut di taman. Padahal tujuan utamanya mau catwalk di Bagdad Street, apa daya nyeret bocah keluar tuh lumayan ribet -_-. Sudah keringatan enggak jelas tetap saja heboh nyobain permainan sana sini.

Rada-rada saltum nih. Masih kebawa suasana summer-tapi-menggigil ala Irlandia hihihihi, jadi yang keangkut di koper buat transit malah banyakan celana panjang. Gerah bener ngeliatnya pakai celana panjang + sepatu komplit di cuaca lebih dari 30 derajat gitu :p.

tempat wisata di Istanbul

Di salah satu sudut taman, ada air mancur gitu yang biasanya dinyalain sekitar pukul 6 sore. Kita sekalian nungguin soalnya sudah ramai di pojokan sana anak-anak lokal yang cuma pakai celana renang siap-siap mau main air.

Tapi kami tidak terlalu dekat. Lihat dari kejauhan saja. Soalnya malas ya booo kalau bocah-bocah juga pada pengin. Enggak bawa baju ganti :p.

Enggak lama, airnya pun muncrat deh dari bawah hehe. Gak enak mau fotoin dari dekat. Nah, ini foto yang diambil oleh suami saya tahun 2013 silam. Waktu itu kan musim semi jadi jam 6 sorenya sudah rada gelap. Orang juga hanya menonton dari pinggir karena masih dingiiiiiiin :D. Ya kali mau main air sambil menggigil.

air mancur taman

Nah, di salah satu ujung taman itulah letak si Bagdad Street-nya. Pintu keluarnya langsung menuju jalan raya.

Bagdad Street memang dirancang untuk jalan-jalan cantik sambil mampir-mampir kalau mau belanja. Terbukti dari trotoarnya yang lebar abeessss :D. Salah satu sisi trotoar lebarnya sekitar 10 meter. Ada juga tempat duduk disediakan beberapa  buat yang jalan cantiknya gak kuat lama-lama hehehe.

Ternyata … jalannya panjaaaaaaaaaaang. Mayan deh jadi olahraga sore-sore *pijetBetis*.

Yang bikin capek tuh ngejar-ngejarin 2 bocah yang bener-bener gak bisa tenang kalau lihat tempat luas dikit huhuhu.

bagdad street anak 2 funny

Sisi kiri kanan Bagdad Street didominasi toko dan butik dari gerai ternama. Tidak ketinggalan kafe-kafe atau restoran-restoran yang tetap ramai pengunjung walau azan Magrib masih 2-3 jam lagi. Mungkin di kota-kota besar suasana bulan puasanya tidak se’disiplin’ di kota-kota lainnya.

Di sini nih yang lalu lalang mayoritas orang lokal. Nyaris enggak ada turis.

Kalau emak-emak sih matanya pasti jelalatan lihat tulisan “Indirim” di etalase kaca toko. Hayooo, Indirim kira-kira artinya apa hahahaha :p. Maklumlah kalau summer begini banyak penawaran di mana-mana.

Fashion summer kalangan perempuan Istanbul mirip-mirip dengan perempuan Eropa pada umumnya. Apalagi di puncak musim panas, banyak yang berpakaian ‘seadanya’ hehehe. Yang pakai jilbab juga ada. Namun tidak banyak. Bisa dihitung jari perempuan berjilbab yang lalu lalang di Bagdad Street.

bagdad street cewe2 cepcih

Secara fisik juga orang Turki beda lagi ya dengan orang Arab atau orang Persia. Ada miripnya tapi ya itu…beda :D.

Kalau melihat ‘gaya hidup’ orang lokal yang lalu lalang di Bagdad Street sih, rasanya wajar jika Turki ngebet menjadi bagian dari Uni Eropa ;).

Jalanannya juga lumayan macet. Mungkin barengan dengan jam pulang kantor karena waktu itu bukan weekend.

Banyak bus dan angkutan umum dari aneka  jurusan yang lewat sana.

Oiya, ada ‘taksi mustaqim’ juga hihihi.  Jadi ingat di Teheran juga ada. Ada mobil yang ukurannya lebih kecil dari bus yang dimanfaatkan sebagai angkutan umum semacam taksi. Pakai rute khusus gitu. Tapi penumpangnya bebas naik turun di halte yang dilewati taksi ini. Kayak omprengan gitu apa ya.

bagdad street toko

Ya, intinya seneng lah bisa ikutan icip-icip kehidupan lokal ala Istanbul walau cuma numpang menyusuri jalanan sepanjang Bagdad Street doang hehe :p.

Pulangnya mampir sebentar di Migros (salah satu supermarket waralaba di sana yang juga banyak dijumpai di Eropa daratan) beli-beli makanan adek bayi. Terus pulang deh naik bus. Nyeberang pakai kapal ke sisi Eropa Istanbul. Kami menginapnya di sekitaran Sultanahmet soalnya.

Masih banyak banget yang bisa diceritain soal Istanbul. Tapi entah kapan mood dan waktunya cucok. Halah, malas aja kauuuuuuu hahahaha :p.