Saint Patrick’s Day, Karnaval  Khas Bangsa Irlandia

Oleh : Jihan Davincka

(dimuat di Tabloid Prioritas, April 2013)

***

Tanggal 17 Maret diperingati sebagai Saint Patrick’s day oleh orang-orang Irlandia. Dirayakan dengan gegap gempita di seluruh wilayah negeri tetangga kerajaan Inggris ini. Bahkan menjadi hari libur resmi.

Tahun ini, Hari Saint Patrick jatuh hari minggu. Liburnya berlanjut hingga ke hari senin. Kami berkesempatan ikut menyaksikan kemeriahan karnaval di tengah kota Athlone. Sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 120 km dari ibukota Irlandia, Dublin.

Hari nasional ini juga dirayakan dengan meriah oleh bangsa Irlandia di belahan dunia yang lain. Tidak sedikit imigran asal Irlandia di beberapa wilayah di belahan utara benua Amerika. Di beberapa tempat, misalnya kota Boston, Hari Saint Patrick pun ramai dirayakan.

Keriaan St Patrick's Day @Athlone
Keriaan St Patrick’s Day @Athlone

Legenda Saint Patrick

Saint Patrick sendiri sebenarnya bukan pria asal Irlandia. Melainkan seseorang yang berkebangsaan Inggris yang di usia ke-16 diculik dan dibawa ke Irlandia untuk dijadikan budak.

Saat itu, dia belum memiliki ketertarikan apa pun terhadap agama Katolik. Setelah 6 tahun mengalami perbudakan, Saint Patrick berhasiil melarikan diri kembali ke tanah kelahirannya. Saat inilah Saint Patrick mengalami perubahan besar secara relijius. Beliau menjelma menjadi penganut Katolik yang taat.

Sebagai bentuk pengabdian terhadap keyakinan barunya, Saint Patrick kembali ke Irlandia dan menyebarkan Katolik di sana. Konon, dia berhasil mengubah masyarakat Irlandia yang tadinya menganut paganisme menuju era gereja katolik.

Saint Patrick meninggal di tahun 461 M, tepat di tanggal 17 Maret. Hari kematiannya inilah yang dikenang oleh masyarakat Irlandia sebagai penghormatan baginya. Sebagai Santo Pelindung sekaligus Penyelamat bagi umat katolik di Irlandia.

Menunggu parade dimulai @Athlone
Menunggu parade dimulai @Athlone

Hijau Dimana-mana!

Suhu udara yang menaungi kota masih tak beranjak dari angka 1 – 3 derajat celcius. Dinginnya udara membuat sudut-sudut kota kecil Athlone tetap lengang dan sepi. Padahal musim semi seharusnya sudah menyapa negeri ini di pertengahan maret. Suasana berubah drastis saat jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Setengah jam lagi, parade akan segera dimulai.

Orang-orang mulai tumpah ruah di jalan. Sebagian besar warga menyerbu jalanan protokol dengan berjalan kaki. Datang dari berbagai penjuru kota.

Anak-anak kecil mengenakan kostum hijau-hijau. Tidak sedikit mengenakan topi hijau besar ala Leprechaun, peri jantan yang dalam mitologi Irlandia diyakini pernah mendiami daratan Irlandia.

Warna hijau tidak hanya identik dengan Saint Patrick. Saat menyebarkan asas “tri-tunggal” dalam kepercayaan katolik, sang santo menggunakan daun Shamrock, mirip dengan daun Semanggi. Terutama dengan perumpamaan sehelai daunnya yang persis memiliki 3 cabang. Shamrock hijau ini pula yang dijadikan lambang negara Irlandia.

Beberapa hari sebelum perayaan, beberapa bangunan di tengah-tengah kota juga dihias dengan warna hijau. Tak sedikit toko, hotel maupun restoran ikut memasang tirai atau pernak-pernik lain berwarna hijau sebagai pemanis di dalam etalase toko.

Tak ketinggalan pula suvenir khas ala Irlandia membanjiri rak-rak toko. Misalnya : patung karakter Leprechaun yang berbalut busana serba hijau, berbagai cindera mata berwarna hijau, dsb. Beberapa warga pun tak segan memasang miniatur bendera-bendera Irlandia sebagai penghias kendaraan pribadinya.

Kostum khas St Patrick
Kostum khas St Patrick

Parade Seni dan Komunitas Kota

Awalnya saya sedikit segan untuk ikut serta berdiri di jalan menyaksikan iring-iringan karnaval. Soalnya kami bukan penganut Katolik.

Saya pikir perayaannya akan bersifat relijius. Ternyata tidak juga. Sebagian besar peserta karnaval adalah berbagai komunitas masyarakat kota. Malah diantara iring-iringan tersebut, ada juga toko atau penjual makanan dan furniture yang memanfaatkan  momen karnaval untuk berpromosi.

Parade dibuka dengan peragaan Marching Band. Sekumpulan laki-laki berseragam hitam berbaris rapi, berjalan sambil meniup terompet dan menabuh drum. Diikuti dengan dengan dua mobil panser besar yang dihias dengan bendera-bendera kecil yang menunjukkan warna kebangsaan Irlandia, hijau-putih-oranye.

Kelompok berikutnya menampilkan berbagai klub lokal anak-anak yang ada di kota Athlone. Sekitar 30 orang anak laki-laki berseragam merah hitam muncul sambil meneriakkan yel-yel khas ala pertandingan sepak bola. Beberapa orang di barisan terdepan memamerkan kemampuan mereka mengolah bola dengan kaki. Perkumpulan pramuka juga tidak ketinggalan ikut berpawai.

Barisan Marching Band anak-anak
Barisan Marching Band anak-anak

Ada pula barisan marching band yang menampilkan sekitar belasan anak kecil yang memainkan lagu-lagu mars. Diikuti oleh beberapa anak-anak lain yang berjalan sambil berakrobat layaknya anggota sebuah klub gymnastic. Tim hoki cilik dengan seragam oranye mengikuti dari belakang.

Anak-anak saya sudah mulai kegirangan. Orang-orang mulai bertepuk tangan dan berteriak. Apalagi beberapa peserta karnaval melemparkan permen dan kue-kue ke arah penonton anak-anak.

Klub Hoki anak-anak :D
Klub Hoki anak-anak 😀

Setelah rombongan anak-anak berlalu, iring-iringan didominasi oleh klub-klub setempat yang diikuti oleh orang dewasa. “Athlone Sub Aqua Club” muncul dengan sebuah kapal karet yang ditumpangi oleh beberapa orang dewasa yang berkostum ala penyelam. Organisasi Palang Merah kota pun meramaikan suasana dengan raungan sirine ambulans. Sebuah mobil truk di belakangnya diisi oleh orang-orang yang berpura-pura menjadi pasien dan perawat.

Parade terus berjalan. Kali ini ada rombongan pemusik yang memainkan alat musik khas yang setahu saya menjadi ciri khas daerah Skotlandia, bagpipe. Ini yang paling menarik perhatian saya. Pertama  kalinya melihat pertunjukan musik tradisional ini secara langsung. Biasanya hanya melihat di majalah, surat kabar atau televisi saja. Pesertanya juga mengenakan kostum khas yaitu rok motif tartan (kotak-kota merah hitam) dan dilapisi dengan jubah hitam memanjang hingga menyentuh lutut.

Bagpipe sekilas berbentuk mirip seruling. Terbuat dari kayu dan juga termasuk alat musik tiup. Tapi suara yang dihasilkan sangat berbeda. Suara dari alat musik satu ini lebih nyaring dan tidak sehalus seruling. Lebih tajam dan sedikit cempreng menurut saya. Namun tetap terdengar indah di telinga.

Pemusik Tradisional : Bagpipe
Pemusik Tradisional : Bagpipe

Ternyata, bagpipe tidak hanya digunakan oleh bangsa Skotlandia saja. Tapi sebagian besar bangsa Kelt, serumpun dengan bangsa Celtic, juga menggunakan alat musik tradisional ini. Bangsa Kelt dan Celtic ini mendiami sebagian besar wilayah kepulauan Britania dan sekitarnya.

***

Karnaval berlangsung meriah di tengah cuaca yang mewajibkan kami semua mengenakan mantel tebal untuk menghalau udara dingin. Usai parade, sebagian besar orang mulai berpencar. Kami sendiri memilih langsung beranjak pulang.

Dinginnya suhu sedikit menghangat dengan melihat begitu ramainya penduduk kota yang berdiri bergerombol di sudut-sudut jalan. Saling menyapa dan mengobrol agak  lama. Mereka tidak langsung pulang.

Konon, bila malam hari tiba, perayaan akan dilanjutkan dengan acara minum bersama. Irlandia memang terkenal dengan tradisi minum bir. Katanya, di kota-kota besar seperti ibukota Dublin, acara minum-minumnya sudah dimulai sejak siang hari. Tapi kami melewatkan tradisi ini. Sepanjang malam dihabiskan dengan dalam rumah dengan menonton televisi bersama anak-anak. Cara yang kami anggap lebih tepat untuk  menghangatkan diri di tengah dinginnya suhu yang masih menerpa sebagian besar wilayah Eropa hingga penghujung maret ini.

Athlone Boy League
Athlone Boy League

Kota Thaif Arab Saudi, Musim Bersemi di Gurun Pasir

Letak Kota  Thaif Arab Saudi ini di arah tenggara Kota Mekkah. Tapi, biar cepet, untuk ke kota Thaif sudah ada jalan tol-nya langsung tidak perlu mengitar kota Mekkah lebih dulu.

 

Yang membuat Kota Thaif istimewa itu karena cuacanya yang agak berbeda dengan kondisi alam khas sebagian besar wilayah Saudi. Thaif dingin dan hijau di hampir sepanjang tahun ^_^. Berasa musim semi terus, deh, kalau jalan-jalan ke kota Thaif.

Tulisan ini saya modifikasi sedikit dari artikel yang pernah saya kirimkan ke salah satu media cetak. Dimuat di Kartini kalau gak salah di salah satu edisi November 2013 :D.

Perjalanan Mendaki Bukit Batu  menuju Kota Thaif

Dari Jeddah, kota ini bisa dicapai dalam 90 menit menyetir dengan mobil. Padahal jaraknya sekitar 150 km apa ya dari Jeddah. Helooo, Saudi gitu, lho ;). Infrastruktur jalan antar kota memang sangat bagus.

Sebelum mencapai  Kota Thaif , kita sudah akan terpukau dengan jalanan yang melewati lereng-lereng pegunungan batu yang terjal. Jalanan ini merupakan akses utama menuju Kota Thaif. Jalanan yang panjang, curam, dan meliuk-liuk tersebut dibangun dengan megah di atas gunung-gunung batu.

Jalanan bukit batu ke Kota Thaif

Saya tak bisa membayangkan berapa lama pemerintah Saudi membangun jalanan tersebut. Mengingat bangunannya yang terdiri dari tiang-tiang penyangga jalan yang kokoh dan panjang. Biarpun medannya terlihat menakutkan tapi sangat aman dan nyaman untuk dilalui.

Keselamatan sangat diperhatikan. Di tiap tikungan yang sangat curam dan belokan tajam dipasang banyak speed breaker. Dua jalur yang tidak searah disekat dengan beton panjang. Kita tak akan berpapasan langsung dengan mobil dari arah yang berlawanan. Di pinggiran jalan yang mengarah ke lembah juga dibangun beton-beton tinggi dan kokoh. Tiap jalur berukuran cukup lebar.

Selain jalanannya yang lebar dan mulus, juga disediakan tempat-tempat khusus bagi yang ingin menepi. Biasanya orang-orang menepi untuk bersantai sejenak sambil menikmati hamparan perbukitan batu dari atas. Banyak juga yang merekam indahnya jejak alam ini melalui kamera.

Yang cukup berkesan dan unik adalah monyet-monyet yang terlihat di sisi jalanan sepanjang lereng. Di salah satu tempat menepi, mereka bebas berkeliaran dan nampak mendekat jika ada mobil yang berhenti. Mungkin menanti makanan. Dan benar saja, orang-orang sibuk melemparkan makanan ke arah mereka.

Monyet di Bukit Batu Highway - Kota Thaif

Kami tak sempat mendekat karena anak-anak saya terlihat takut dan risih. Padahal monyet ini termasuk hewan favorit mereka dalam berbagai acara televisi dan buku-buku cerita bergambar. Mungkin berbeda rasanya melihat mereka di dunia nyata. Hihihihihi :p.

Naik Kereta Gantung di Al Hada

Kota pertama yang akan kita lewati selepas menyusuri jalanan mendaki tadi adalah Al Hada. Begitu memasuki Al Hada, warna hijau sudah mulai mendominasi kiri kanan jalan. Hawanya mulai sejuk.

Belum puas menikmati pemandangan dari atas bukit batu? Mampirlah ke Hotel Ramada. Lokasi hotel berada di puncak salah satu lereng di perbukitan batu yang terlewati tadi. Persis di samping Hotel Ramada ini, kita bisa menikmati hiburan berupa naik kereta gantung (cable car) yang akan melintasi sepanjang areal perbukitan batu dari atas ke bawah dan sebaliknya.

Kota Thaif
Kereta gantung di Al Hada

Kereta gantung akan menempuh rute menurun, menuju sebuah waterpark di salah satu lembah di dasar perbukitan batu. Butuh sekitar setengah jam untuk tiba di kawasan waterpark.

Duh, deg-degan juga ketika berada di tengah-tengah. Karena pemandangan di luar didominasi oleh batu-batu terjal yang berukuran raksasa. Berjajar rapi membentuk perbukitan batu yang luas dan terjal. Gak bakal berani memandang ke bawah lama-lama. Hahaha.

Kota Thaif Kereta Gantung Hada

Tarifnya sekitar 90 SR (saudi riyal) per orang. Ini sudah termasuk berpiknik dan berenang di kawasan waterpark dan perjalanan bolak balik dari atas (Hotel Ramada) ke waterpark dan sebaliknya. Itu dulu, ya, info dari teman sekitar tahun 2012. Entah berapa kira-kira sekarang.

Di kawasan waterparknya ada playground yang wahananya seru-seru. Sempat lihat foto-foto madam-madam Jeddah liburan ke sana tahun lalu.

Kota Thaif Waterpark Al Hada
Waterpark Al Hada (Male only! :D) gambar : Raiz Fouqil

Konon katanya lebih seru jika memilih malam hari. Kita bisa melihat lampu-lampu yang menghiasi kota-kota besar di sekitar Thaif dari atas.

Bersantai di Playground KotaThaif

Kota Thaif adalah kota kecil, jauh lebih sepi daripada kota Jeddah. Kami hampir tak bisa menemukan petunjuk jalan atau toko dalam tulisan latin. Hampir semuanya dalam tulisan Arab. Dari jauh saya dan suami sempat main tebak-tebakan. Apakah tempat yang akan kami lewati di depan adalah toko baju atau rumah makan. Kami memang belum fasih membaca tulisan arab.

Taman-taman kota yang hijau dan cukup rimbun banyak terlihat dimana-mana. Bangunan-bangunan apartemen dan toko di jalan-jalan berukuran kecil dan tampak kusam. Nyaris tak ada bangunan baru.

Kota Thaif

Ternyata tak perlu waktu lama untuk menyusuri sudut-sudut kota. Mungkin setengah jam saja sudah cukup. Lalu, kami bergabung dengan teman-teman lain. Ikut gelar tikar dan duduk bersantai di salah satu taman kota yang hijau. Tamannya cukup hijau, dilengkapi dengan playground yang cukup lengkap agar anak-anak bisa bebas bermain-main.

Para orang tua duduk bersantai di bawah pohon. Anak-anak kami biarkan berlari-lari di areal taman bermain. Selain berlarian dan berkejaran, mereka juga memanfaatkan fasilitas bermain lain seperti : ayunan, jungkat jungkit, perosotan, dll. Semuanya bebas dinikmati tanpa keluar biaya.

Playground Kota Thaif

Mampir ke Ash-Shafa

Nah, sempat pula di suatu sesi jalan-jalan ke kota Thaif Arab Saudi, rombongan mampir ke  Shafa. Shafa letaknya tidak jauh dari Thaif. Hanya sekitar 40 menit menyetir santai.

Jalanan menuju Shafa juga tergolong mulus. Pemandangan sepanjang kiri kanan jalan adalah perbukitan hijau dengan lembah-lembahnya yang landai. Sangat kontras dengan suasana Negeri Gurun yang umumnya didominasi padang pasir bersemu warna coklat.

Kalau menurut saya, pemandangannya mirip sekali dengan suasana sebuah padang rumput maha luas di trilogi film “Lord of The Ring.” Makanya saya memberi julukan sendiri buat Shafa, middle earth-nya Saudi. Duh, kangen, euy. Hiks :'(.

Kami berhenti di salah satu taman di pinggir jalan. Tamannya tidak terlalu terawat. Tanaman tumbuh tidak rapi dan tempatnya agak dekat dengan lembah. Biarpun tidak curam, para Ibu nampak sibuk menjaga balitanya agar tidak berlarian menuju bibir lembar.

Sayang sekali, kami tiba di Shafa saat senja sudah mulai menghampiri. Sudah hampir gelap. Perbukitan hijau yang berbaris memanjang tak sempat tertangkap kamera dalam perjalanan tadi.

Kota Thaif ke arah Ash Shafa
Ash-Shafa

Berburu Oleh-oleh Buah-buahan Segar

Langit sudah mulai gelap saat kami beranjak meninggalkan Shafa. Lampu-lampu mulai dinyalakan di sepanjang jalan. Perjalanan pulang yang tadinya dikhawatirkan akan gelap gulita, malah menjadi terang benderang.

Dari Shafa, kita bisa langsung menuju Al Hada. Sebelum meninggalkan kawasan Thaif dan Al Hada ini, jangan lupa berbelanja buah-buahan segar. Mampirlah ke sebuah lapak penjual buah-buahan yang cukup besar dan ramai. Tempatnya pasti terlewati dalam rute perjalanan pulang.

Iklim yang sejuk memungkinkan perkebunan buah-buahan tumbuh subur di kawasan ini. Thaif merupakan pusatnya anggur dan apel.

Harganya memang relatif murah daripada harga buah yang sama di kota Jeddah. Terutama buah anggur. Dengan hanya membayar 10 SR, kita bisa mendapatkan sekitar 1-2 kilo buah anggur hijau yang dikemas dalam sebuah kotak kardus. Rasanya pun lebih manis. Buah-buahan lain yang tersedia antaralain : jeruk, apel, kiwi, peach, pisang, mangga, dsb.

Penjual Buah Kota Thaif

Menginap dan Makan Dimana?

Sepertinya tidak ada rumah makan khas Indonesia di sepanjang Al Hada – Thaif – Shafa. Maklumlah kota kecil. Nyaris tak ada pendatang asal Indonesia yang bermukim di daerah ini. Mungkin ada tapi pasti jumlahnya tak sebanyak di kota-kota besar seperti : Riyadh, Jeddah, Mekkah, dan Madinah.

Tapi jangan khawatir. Makanan khas Timur Tengah seperti kebab dan nasinya yang beraroma khas lumayan cocok, kok, untuk lidah Asia kita. Kebab daging sapi dan ayam rasanya mirip-mirip dengan sate. Di sepanjang jalan, rumah makan yang menyajikan kebab dan nasi khas Arab tak sulit ditemukan.

Harga makanan di wilayah ini sedikit lebih mahal dibandingkan harga makanan yang sama di kota-kota besar Saudi. Untuk satu porsi mungkin perlu sekitar 20 – 25 riyal per orang. Tapi satu porsi nasinya memang sangat banyak. Porsi standar orang Arab memang lebih banyak daripada porsi makanan untuk satu orang di tanah air.

Nasi Kabsah Kota Thaif

Bagaimana dengan penginapan? Banyak hotel-hotel berbintang yang tersebar  di kawasan Al Hada – Thaif. Seperti Hotel Ramada dan Hotel Intercontinental Thaif. Tapi kalau masih kuat menyetir sekitar 40 menit, lebih baik menginap di kota Mekkah saja.

Kota Mekkah menawarkan lebih banyak jenis penginapan dengan harga bervariasi. Lokasinya pun mudah ditemukan saking banyaknya hotel dan penginapan lainnya di kota Mekkah.

Infrastruktur jalan di Saudi ini memang sangat memanjakan para pengemudinya. Menurut suami saya, menyetir di Saudi tidak terasa melelahkan seberapa pun jauhnya.

Kota Thaif Jalan tol di bukit berbatu
HIghway-Thaif

Jalan tol penghubung Mekkah dan Jeddah misalnya, lurus-lurus saja. Manalagi kondisi jalan yang mulus dan lebar,  dua jalur berlawanan arah selalu disekat rapi, sehingga makin nyaman urusan menyetir ini. Manalagi macet hampir tak pernah ditemui.

Pompa bensin pun tak sudah ditemukan di sepanjang jalan tol. Tiap pompa bensin dilengkapi dengan toko-toko kelontong. Ada juga kedai-kedai kecil yang menjual kebab mini dan semacamnya. Jadi bisa mampir kapan saja dan melepaskan sedikit penat  jika lelah mulai menghampiri.

***

Tadinya mau menulis tentang Fore Abbey atau Rock of Cashel yang kemarin foto-fotonya baru saja disubmit sama fotografernya hahahaha.

Pas blusukan di segambreng folder foto eh nyangkut di foto-foto lama. Dibukain satu-satu jadi gatel mau posting ujung-ujungnya. Jadilah barusan yang dibuat adalah postingan tentang Thaif, salah satu kota yang cukup sering jadi sasaran berlibur kami saat masih tinggal di Jeddah dulu.

Begini ini ribetnya suka koleksi foto jalan-jalan. Kalau dilihat-lihat lagi malah jadi kangen :(.

“People say that bad memories cause most pain. But actually, it’s the good ones that drive you insane.” -unknown-

Couldn’t agree more :).

***

Sekolah Anak di Irlandia

(Ini tulisan saya yang pernah dimuat di Tabloid Mom & Kiddie, edisi lama. Awal mei kemarin. Enggak ada kata terlambat untuk pamer ya, Kakaaaa hahhahhaha 😛.Ada sekitar 4 emak-emak Indonesia perantau lain yang juga diminta menceritakan pengalamannya tentang kurikulum sekolah di negara tinggal masing-masing. Sebagian dari mereka adalah kontributor di blog Mama Sejagat .

Di foto ini, yang atas tuh, ada Mama Bangalore-New Delhi, Mama Relda 😀. Saya kebagian sekolah anak di Irlandia.Dammit, ketauan deh umurnya hahaha.Ini naskah aslinya sih tentang sekolah anak di Irlandia. Enggak tahu hasil editannya kayak apa hihihi… Makanya rada ‘resmi’ dan enggak ada *benerinPoni* dkk pastinya :D)

Hari itu saya menghadiri salah satu seminar parenting yang cukup rutin dilaksanakan di sekolah anak saya. Seminar kecil sih biasanya. Peserta mungkin hanya 4-10 orang. Mungkin karena kesibukan di rumah, tak banyak ibu-ibu yang menghadiri seminar semacam ini di sekolah. Padahal gratis, lho. Maklum, di sini tak umum menggunakan jasa asisten rumah tangga 🙂.

Seminar berakhir sekitar pukul 11.30 siang. Pas dengan saat istirahat anak sekolah. Begitu keluar menuju pekarangan sekolah, ramainya anak-anak bermain di luar. Tak hanya ada anak-anak, ada sekitar 3-5 orang guru perempuan yang berjaga di sana. Semuanya bersiaga memperhatikan anak-anak yang berlarian di seluruh penjuru pekarangan sekolah yang memang luas banget itu.

Ada yang berdiri agak dekat ke pagar, untuk mencegah kalau ada yang keluar masuk mungkin, ya. Ada yang berdiri di tengah-tengah lapangan sambil sesekali memperingatkan kalau ada yang terlibat perselisihan. Lalu, terlihat seorang guru berambut panjang yang sepertinya sedang menemani beberapa murid yang masih nampak malu-malu ikut berbaur dengan yang lain. Mungkin anak baru.

 

Terkesan banget dengan pemandangan ini. Pengawasan penuh ternyata tidak hanya dalam kelas saja, saat di luar kelas pun, selama berada dalam jam sekolah, guru-guru tetap aktif memperhatikan murid-murid.

Anak saya bersekolah di St. Mary Primary School. Sebuah sekolah publik yang dibiayai oleh pemerintah di sebuah kota kecil, Athlone. Kota ini terletak sekitar 2 jam dari ibukota Republik Irlandia, Dublin. Sekolah tidak memungut bayaran sama sekali. Orang tua hanya diminta membeli beberapa buku dan iuran sekitar 20 euro per tahun. Seragam diwajibkan tapi tidak harus membeli model yang sama. Asal warnanya mirip tidak masalah mau membeli di mana.

Sekarang ini, putra sulung baru saja menyelesaikan selesai dari Senior Infant, selevel TK nol besar atau TK B kalau di Indonesia.

Kurikulum anak-anak setingkat TK di Irlandia enggak santai-santai banget ternyata. Ada pelajaran menulis, berhitung dan membaca juga sejak level junior infant (TK Nol kecil).

Tapi, metode pengajarannya sangat menyenangkan dan sama sekali tidak ada paksaan . Jadi, kemampuan membaca, berhitung dan menulis si kecil tidak pernah dijadikan patokan untuk naik kelas atau tidak. Murni untuk melatih keterampian saja.

Gurunya ada beberapa. Ada satu wali kelas yang menjaga penuh siswa selama di dalam kelas yang biasanya berlangsung dari pukul 09.20 pagi hingga 14.00 siang. Dinding kelas dipenuhi rak-rak berisi macam-macam mainan. Semuanya sudah disediakan oleh sekolah.

Ada guru khusus yang mengajar membaca, lho. Jadi, tiap hari sesuai jadwal anak-anak akan dipanggil satu persatu untuk mengecek perkembangan kemampuan membacanya. Ada semacam peer membaca tiap malam. Ringan, kok. Hanya satu halaman per hari. Isinya biasanya cuma 2-3 kalimat saja. Saat sang anak belajar membaca, anak-anak lain tetap bermain dalam kelas.

Saya senang karena anak saya jadi cepat bisa membaca-menulis-berhitung tanpa saya mesti repot-repot ini itu dan dia kelihatan riang dan tidak dipaksa-paksa .

Soal bullying selalu menjadi perhatian khusus di sekolah. Mungkin karena itulah, kamar kecil untuk anak-anak level junior dan senior infant hingga grade 1 diperhatikan betul. Kamar kecilnya terletak dalam kelas. Disediakan sebuah ruangan khusus di pojok ruangan.

Jorok tidak, ya? Saya beberapa kali pernah masuk dan memeriksa langsung. Bersih, lho. Saya tanyakan ke gurunya. Ternyata tiap hari memang ada petugas khusus yang membersihkan kelas beserta kamar kecil tadi.

St Mary Primary School terdiri atas 2 gedung dengan lokasi berseberangan. Pembagian kelasnya cukup unik. Anak-anak level junior infant, senior infant, grade 1 (kelas 1 SD) dan grade 6 (kelas 6 SD) ditaruh dalam lokasi yang sama. Sementara sisanya berada di gedung di seberang jalan. Menurut kepala sekolah, ini untuk mencegah senioritas berlebihan dari anak-anak kelas paling tinggi.

Justru anak-anak kelas 6 dilatih untuk menjaga adik-adiknya. Saya sering banget melihat sendiri, anak-anak kelas 6 ini diberi tugas mendampingi anak-anak level junior/senior infant dalam beberapa kegiatan. Seperti misalnya menemani mereka saat orang tua terlambat menjemput. Tentu saja, selalu ada guru yang mengawasi .

Anak saya juga cerita, kalau pelajaran olah raga, kadang ditemani oleh anak-anak kelas 6 ini. Katanya, “Big boys and big girls stay with us and teach me something while teachers are pretty busy with others.”

Kegiatan belajarnya tidak hanya dalam kelas atau olah raga. Ada kegiatan rutin tiap minggu yang namanya nature-walk activities. Kata anak saya, biasanya mereka dibawa berkeliling pekarangan sambil diajarin nama-nama pohon dan tumbuhan yang tumbuh subur di salah satu sudut pekarangan sekolah . Atau kadang dibawa naik bis ke taman dekat sekolah.

Hasil rapor anak saya sangat memuaskan. Keterampilan kognitif seperti membaca dan menulis bisa sejalan dengan keterampilan non-kognitifnya seperti communication skill dan kemampuan bersosialisasi.

Anak saya cerita, tiap minggu, posisi duduk diubah-ubah. Di kelas ada beberapa meja dengan berbagai warna : Red table, blue table, yellow table dan green table. Dia kadang berceloteh, “This week I’m in blue table with Tyrish, Kelly, Joseph and Tanvi.” Terus minggu depannya dia bilang lagi, “Mommy, I’m in red table now. You know, red is my favorite color. But I sit next to Hamzah. Last week, Hamzah was on green table.”

Tiap minggu juga ada pemilihan line-leader, student of the week, cushion-owner, yang biasanya digilir ke semua murid. Semua pasti mendapat giliran.

Oh ya, bagi anak-anak yang berkelahi, hukumannya berat. “They will stay at the big office for hours,” begitu kata anak saya. “Even if you forget to say thank you or sorry, teacher will be sad.”

Menurut pendapat saya, sekolah benar-benar berusaha memaksimalkan potensi si kecil dengan menyediakan berbagai macam ruang dan kegiatan untuk berekspresi. Sekaligus melatih sungguh-sungguh agar anak-anak memiliki tingkah laku yang baik. Dan semuanya tetap dalam pengawasan penuh untuk menjamin keamanan dan kenyamanan anak selama di sekolah. Semoga anak saya pun bisa mendapat manfaat optimal dari metode pendidikan yang tidak berat sebelah ini .

***

Btw, anak saya akan segera memasuki jenjang SD (grade 1) per tahun ajaran ini . Terima kasih buat Mrs. Gallagher yang sudah setahun penuh membimbing si Abil di kelas Senior Infant 🙂.

A teacher affects eternity: she can never know where her influence stops.
-Henry Brooks Adams

Thank you, Ibu Guru ^_^ …so very much 😉.

***

Note : intinya sih, pendidikan sekolah anak di Irlandia ini sangat menjunjung tinggi keutamaan tingkah laku :). Tapi tetap balance dengan ranah kognitif seperti membaca-menulis-berhitung, walau tidak dijadikan patokan utama penilaian ;). Yang paling penting sih … gratis ya Kakaaaa. Hahahahahahhaha 😛

True Story_Edisi 19_Tahun_VIII_Tabloid Mom&Kiddie_Sekolah Luar Negeri_Deppy (2)

“Bersenang-senang di Irlandia”, Tayang di Majalah Parenting Indonesia, Februari 2014

Nulis seneng-seneng dulu, deh. Barusan tayang tulisan di Majalah Anak nih, Parenting Indonesia.

Sekarang waktunya … pamer-pamer! Hahaha. Asli ini, makin malas menulis untuk media gara-gara kebanyakan waktu pecicilan di wall FB . Padahal yang di FB kagak ada duitnya hahaha. Pemirsa blog jangan khawatir. Dari wall FB pasti ditulis di blog jugak :D. Biarinlah, kan biar kesannya keren. Statusnya panjang-panjang *ngikikGakPenting*.

Di majalah anak, Parenting Indonesia edisi Februari 2014, tulisan tentang Irlandia : Clonmacnoise, Glendeer Pet Farm dan Derryglad Folk Museum . My cute little guys are there too . Nabil dan Narda. Pasti Oma-Opa sama Nenek di Jakarta heboh dah ini hehehe.

Ketiga tempat tersebut sudah dibahas semua dalam blog. Sudah saya pasang link di masing-masing tempatnya ;). Monggo kalau ingin membaca versi blog tentang ketiga tempat bersangkutan, tinggal klik ;). Jangan lupa ceki-ceki juga ya tempat-tempat wisata lainnya dari Irlandia.

Majalah Anak Parenting Indonesia

Oia, majalah anak yang ini, Parenting Indonesia menerima tulisan jalan-jalan keluarga di tiap edisinya. Panjang tulisan sekitar 1500 kata. Dengan foto-foto minimal 12 buah dengan resolusi tinggi.

Kalau majalah biasanya minta kualitas foto optimal, agak beda dengan koran . Honor belum tahu. Tapi, PI ini satu manajemen dengan Femina di FeminaGroup. Biasanya sih, Femina Group ini royal soal duit hihihi. Updated, honornya di atas sejutaan. Lupa tepatnya :D.

Email redaksinya belum berani saya publish. Eike tanya dulu ya ke Mbak editornya yang super duper ramah dan menyenangkan ini . Dulu, saya dapat email redaksinya karena saya colekin akun Parenting Indonesia di Twitter  –> @parentingINA .

Lalu, mereka akhirnya mengirimkan infonya melalui DM, enggak direply di timeline. Jadi, takutnya memang tidak untuk dipublikasikan secara luas :(.  Biasanya, lebih enak mengirim tulisan jalan-jalan langsung ke editor rubriknya, bukan ke redaksi umum. Respons lebih cepat ;).

Ada satu lagi tuh ya Majalah Anak yang namanya mirip. Parenting juga tapi lupa tepatnya. Pernah saya nawarin ngirim tulisan ke sana, tapi honornya kecil bener, sekitar 100 ribu rupiah per halaman. Waduh :(. Padahal cerpen saja di Femina dihargai 850 ribu rupiah.

Ya sudahlah :D. Semoga ada rezeki di majalah anak lainnya lagi. Lagi banyak foto-foto dan cerita seru jalan-jalan sama anak-anak nih hehehe.

Enjoy Midland-Ireland . Ini baru midland lho, masih buanyaaaaak tempat-tempat kece lainnya di seantero Negeri Leprechaun ini 😀. Kalau mau lihat naskah aslinya, boleh dicek ke sini ;).

Majalah Anak Parenting Indonesia

Mengirim Tulisan Jalan-jalan ke Leisure Republika

Akhir desember yang lalu, sebuah tulisan tentang Kota Dublin muncul di rubrik tulisan Jalan-jalan ke Leisure Republika :D. Ini adalah tulisan ke-4 yang dimuat di Leisure.

Tulisan jalan-jalan tentang Dublin di Leisure Republika

Tadinya, Leisure ini punya 2 rubrik jalan-jalan. Satunya lagi ‘Jalan-jalan Religi’. Tapi sejak awal tahun 2013, ‘Jalan-jalan Religi’ ini sudah tidak ditayangkan lagi. Jadi, sekarang tinggal satu rubrik saja. Biasanya dimuat 2 halaman. Tulisan saya 2x dimuat di Jalan-jalan Religi, Kota Jeddah dan Padang Badar.

Contoh-contoh tulisan jalan-jalan ke Leisure Republika bisa dicek langsung ke epaper-nya Republika, lho. Tinggal sign up saja. Gratis, kok ;). Silakan dikunjungi langsung ke www.epaper.republika.co.id  ^_^. Leisure ini ada di edisi Selasa tiap minggunya. Rubrik jalan-jalan ada di halaman 2 halaman sebelum halaman terakhir.

Syaratnya?

1. Panjang tulisan sekitar 8000-11.000 karakter (dengan spasi). Diketik di MS Word. Spasi 1.5 atau 2. Fontnya Arial atau TNR, font size 12. Yang rapi lah ya :D. EYD jangan lupa hehehe.

2. Foto-foto minimal 10 buah, soalnya 2 halaman boooo :D. Resolusi sedang juga boleh. Ukuran minimal 500 KB. Sertakan satu foto profil penulisnya, yah. Bukan bermaksud narsis. Tapi KUDU. Wajib. Kalau enggak ada, biasanya begitu akan dimuat akan diminta oleh editor. Jangan nyusahin editor lah. Sudah tahu harus, ya kirim saja. Hehe.

3. Dikirim ke leisure@rol.republika.co.id

4. Kasih pengantar dikit lah, standar saja isinya, jangan gengges apalagi alay hahaha. Subyek email beri tag [Tulisan Jalan-Jalan].

5. Sebaiknya, beri biodata singkat plus tulisan-tulisan yang pernah dimuat (kalau ada). Nomor rekening lengkap dan no.NPWP langsung sertakan saja. Kalau dimuat kan enggak pusing-pusing lagi ngirim nomor rekening ;). Enggak usah malu-malu atau sungkan. Pakemnya memang begitu kok :). Dimuat tidak dimuat pede saja mencantumkan nomor rekening lengkap.

6. Honornya sekitar 700-800 ribu rupiah per artikel. Ditransfer biasanya 5-6 minggu setelah pemuatan. Lama, ya? Hihihi. Sabaaaarrrr :D. Kalau 6 minggu belum ada, langsung email saja ke alamat yang sama dengan no.3, responsnya biasanya cepat, kok ;).

7. Topiknya boleh tempat wisata dalam negeri juga, lho. Tidak melulu obyek jalan-jalan dari luar negeri. Kalau saya karena kebetulan tinggalnya lagi di luar jadi banyakan ngirim tentang luar negeri hehehehe. Ini contoh tulisan yang pernah dimuat di Republika. Naskah asli salah satu tulisan saya tentang Irlandia, saya tuliskan di sini.  Contoh lainnya, kali ini tentang kota Jeddah, juga pernah saya tuliskan di sini naskah aslinya :D. 

Tunggu apalagi? Selamat mencoba mengirim tulisan jalan-jalan ke Leisure Republika ^_^. You never know if you don’t try ;).

Nah, mulailah dengan mengingat-ingat kembali tempat-tempat cantik yang pernah kalian datangi. Tidak mesti yang ‘wah’ atau yang gimana-gimana. Danau dekat rumah pun, kalau pandai-pandai mengangkat sudut pandang yang seru, selalu bisa menjadi tulisan yang menarik ;).

“The journey of a thousand miles begins with a single step” ― Laozi.

Setiap artikel selalu dimulai dengan sebuah kata ;). Let’s write and share our journey! ^_^.

“Travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.” – Miriam Beard