Fotografer Dani Rosyadi

Kota Dermaga di  Pesisir Timur Irlandia

(tulisan jalan-jalan dimuat di Femina edisi Januari 2015)

Oleh : Jihan Davincka

***

Pemandangan hijau ternyata bukan satu-satunya pesona dari Sang Negeri Zamrud, julukan bagi negara Irlandia. Terletak di sebagian besar wilayah Pulau Irlandia, menjadikannya sarat dengan rupa-rupa pemandangan laut.

Republik Irlandia tidak terletak di daratan utama benua Eropa. Melainkan di Pulau Irlandia, di belahan barat daratan sang “Benua Putih.”

Wilayah Republik Irlandia tidak menguasai daratan pulau secara keseluruhan. Sebelah utara Pulau Irlandia termasuk dalam wilayah Kerajaan Inggris Raya. Jadi, Irlandia Utara itu tidak termasuk sebagai bagian dari Republik Irlandia.

Ibukota Republik Irlandia, Dublin, terletak di pesisir timur pulau. Berbatasan langsung dengan perairan yang dikenal sebagai Laut Irlandia. Saat berkesempatan jalan-jalan ke wilayah Irlandia, sungguh sayang bila melewatkan pesona pantainya.

Dun Leary, Kota Dermaga yang Indah  

            Kota kecil ini terletak sekitar 12 km dari jantung kota Dublin. Dekat sekali. Dari City Center – Dublin, bisa ditempuh dengan naik bis dalam kota saja. Kalau menyetir sendiri, hanya memakan waktu sekitar 15 menit.

Dun Leary adalah salah satu kota dermaga di pesisir timur Irlandia. Dua dermaga yang kerap dijadikan landmark kota adalah West Pier dan East Pier. Pelabuhan-pelabuhan yang ada di kedua dermaga masih aktif digunakan sampai sekarang.

Saya sendiri, saat ke sana, mampir ke wilayah West Pier terlebih dahulu. Saya, beserta suami dan anak-anak, bertandang ke Dun Leary di sebuah akhir pekan di musim panas tahun 2013 lalu. Sekitar bulan Agustus. Ternyata, saat musim panas, ada semacam taman bermain yang dilengkapi wahana bermain anak-anak yang dibuka setiap hari sabtu dan minggu.

Fotografer Dani Rosyadi
Pics by : Dani Rosyadi

Tempatnya terasa agak sesak saking  banyaknya pengunjung di hari itu. Arena permainan yang disediakan beragam mulai dari bouncy castle, aneka macam komedi putar mulai mobil-mobilan sampai kereta api, rumah-rumah hantu. Di salah satu sudut lokasi ada wahana Bianglala  yang berdiri tegak.

Anak-anak tentu langsung heboh minta main ke sana. Suami menemani anak-anak bermain di sana, saya jalan-jalan melihat-melihat wilayah West Pier.

Dermaganya terbentang membelah laut. Saya mencoba menyusuri dermaga dengan berjalan santai sekitar 15 menit. Sering berhenti untuk mengambil gambar. Wah, belum sampai ke ujung juga. Takut kelamaan, saya memutuskan berjalan balik. Lumayan panjang juga ternyata. Kalau dilihat di keterangan yang terdapat di tugu kecil di ujung dermaga yang merapat ke pantai, panjangnya sekitar 2-3 km.

Fotografer Dani Rosyadi
Dun Leary West Pier, pics by : Dani Rosyadi

Sekitar belasan perahu dan kapal kecil bersandar di bahu dermaga. Tidak sedikit orang yang lalu lalang di atas batu beton yang membentuk alas dermaga. Sepertinya, tidak cuma para pemilik kapal. Tempatnya juga dimanfaatkan orang-orang lain untuk jalan-jalan menikmati sambil menikmati laut lepas.

Warga setempat yang berkostum olahraga nampak berlari-lari kecil atau jogging ringan di sepanjang dermaga. Beberapa orang nampak menuntun anjing peliharaannya ikut menikmati hangatnya mentari. Maklum saja, sinar matahari tak terlalu sering menghampiri wilayah Irlandia.

Jarak East Pier dari West Pier cukup dekat. Terletak di sisi jalan yang sama. Tidak seperti wilayah West Pier yang ramai, East Pier tidak banyak dikunjungi orang. Dermaganya agak unik. Ada semacam danau kecil berbentuk kotak yang seakan-akan terpisah dari laut. Tempat ini digunakan menjadi tempat parkir untuk kapal-kapal.

Fotografer Dani Rosyadi
Dun Leary – East Pier, pics by : Dani Rosyadi

Hari sudah lebih sore. Angin bertiup  lebih kencang. Mungkin karena suasananya yang tidak sehiruk pikuk di West Pier, kami pun hanya keliling-keliling sebentar di East Pier.

Jangan hanya terpaku pada West Pier dan East Pier. Tak jauh dari kedua tempat ini, pesisir pantai yang berbatasan dengan jalan raya juga tak kalah cantiknya. Jalanan setapak dibangun cukup lebar. Warna jalan yang coklat sangat kontras dengan birunya laut di salah satu sisi pantai. Sisi jalan yang lain berhias warna hijau dari rerumputan yang dibiarkan tumbuh rapi serta bangunan-bangunan rumah penduduk yang didominasi warna putih. Awan yang berarak di langit biru menambah kesempurnaan lukisan alam kala kami menyusuri pantai Dun Leary di sore itu.

Fotografer Dani Rosyadi
Dun Leary – pantai, pics by : Dani Rosyadi

Bersantai Sejenak di Dalkey, Sang Kota Selebritis

            Sebelum ke Dun Leary, kami diberitahu teman soal kota kecil yang tetanggaan langsung dengan Dun Leary. Namanya Dalkey. Konon, Dalkey ini termasuk kawasan elit wilayah Dublin dan sekitarnya. Di sini banyak bermukim selebritis asal Irlandia. Misalnya saja penyanyi terkenal asal grup musik U2, Bono.

Kami memutuskan ke Dalkey bukan untuk bertemu artisnya, sih. Tapi penasaran seperti apa kira-kira wilayahnya.

Kami langsung menuju ke ruas jalan utama di wilayah Dalkey, Castle Street. Namanya mungkin disesuaikan dengan hadirnya sebuah kastil tua yang ukurannya tidak terlalu besar di salah satu ujung jalan tersebut. Rasanya tidak ada yang terlalu istimewa sehingga kami memutuskan melihat kastil  dari luar saja.

Baru lima menit berputar-putar di Dalkey, terasa betul betapa bersihnya kota ini. Jalan-jalan rayanya kecil saja. Hanya muat 2 mobil. Bangunan-bangunannya rapi dan dicat bersih. Tidak seperti kebanyakan bangunan di kota-kota kecil lain di Irlandia yang sudah tua, dibiarkan kusam dan catnya sudah banyak yang terkelupas.

Di Castle Street juga berjajar beberapa kafe yang menyediakan tempat duduk di luar ruangan. Tentu kami sekeluarga sempat mampir ke salah satu kafe yang terlihat paling ramai. Pada salah seorang pelayan saya iseng bertanya, “Are there any celebrities hanging around in this street?”

Entah becanda atau tidak, pelayannya menjawab setengah tertawa sambil mengedipkan matanya, “Yes, if you’re lucky, you can meet Bono here.”

Fotografer Dani Rosyadi
Dalkey – The Cafe, pics by Dani Rosyadi

Wah, tahu saja kalau kami sudah mendengar rumor tentang Bono yang katanya sering duduk-duduk santai di salah satu kafe di jalan ini.

Kafe ini menyediakan macam-macam penganan kecil berupa aneka muffin dan roti-roti beserta secangkir kopi / teh hangat. Tidak ada yang istimewa, sih. Kami memesan beberapa muffin saja ditemani beberapa cangkir teh hangat. Setiap potong muffin/roti bisa dibeli dengan kisaran harga 2-3 euro. Sedangkan secangkir teh harganya 1-3 euro.

Bray, Perpaduan Cantik Antara Pantai dan Perbukitan     

            Kota satu ini juga tak jauh dari pusat kota Dublin. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk mencapai Bray yang berjarak kira-kira 28 km dari wilayah City Center-Dublin.

Pesona utama dari Bray adalah kegiatan menyusuri pesisir pantai dari sebuah pelabuhan kecil di dekat sebuah tempat yang bernama Martello Terrace hingga mencapai wilayah Bray Head. Martello Terrace adalah kediaman masa kecil James Joyce, pengarang puisi dan novelis terkenal asal Irlandia. Bray Head sendiri adalah sebuah bukit setinggi kira-kira 241 meter yang memisahkan kota Bray dan tetangganya, Greystones.

Fotografer : Dani Rosyadi
Bray – Cliff Walk, pics by : Dani Rosyadi

Jalan-jalan di sepanjang pantai diantara 2 wilayah tadi diistilahkan dengan “The Promenade.” Dari arah Martello Terrace, kita sudah bisa melihat hijaunya perbukitan di ujung sana. Berpadu sempurna dengan bukit hijau, sebelah kiri tempat kita berjalan adalah laut lepas berwarna biru terang.

Uniknya, pinggiran pantai tidak berhias pasir namun penuh dengan batu-batu kerikil besar. Antara jalan setapak dan wilayah berbatu yang langsung menuju laut lepas dibuatkan sebuah pagar pembatas.

Sebelah kanan jalan setapak adalah rerumputan hijau yang juga menyediakan tempat-tempat duduk dan arena bermain untuk anak-anak. Setelah rerumputan ada jalan raya. Di seberang jalan berjajar hotel-hotel dan penginapan-penginapan B&B baru turis yang ingin menikmati pesona pantai lebih lama.

Fotografer Dani Rosyadi
Bray – The Promenade, pics by : Dani Rosyadi

Kami butuh satu jam untuk mencapai Bray Head. Ditempuh dengan berjalan santai sambil melihat-lihat pantai. Sesekali melintasi pagar pembatas membiarkan anak-anak seseruan sambil melempar-lempar batu ke arah air laut. Atau bergeser ke arena bermain di wilayah rerumputan yang berada sebelah kanan jalanan setapak.

Fasilitas saat ber-promenade cukup lengkap. Ada kafe atau kantin yang berukuran cukup besar dan terdiri dari 2 lantai. Menyediakan sajian-sajian utama seperti sandwich, kentang goreng dan nugget ayam/ikan/daging sapi, spaghetti dan pizza. Sajian ringan seperti muffin dan aneka roti juga mudah ditemukan. Minumannya bervariasi, jus atau air mineral ada, teh dan kopi juga disediakan.

            Kamar mandi umum tak ketinggalan. Walau agak ragu melihat bangunan toilet yang sudah kelihatan tua. Namun, begitu masuk ternyata wangi dan bersih.

Kami hanya mampir ke toilet tapi tidak ikut masuk ke dalam kantin.. Kami membawa bekal sendiri dari rumah karena merasa lebih nyaman menikmati nasi dan lauk pauk lengkap  khas tanah air.

Setelah mencapai Bray Head, kegiatan dilanjutkan dengan “The Cliff Walk”. Berjalan menyusuri area perbukitan yang menghubungkan kota Bray dan Greystones yang disebut di awal tadi.    Butuh 2 jam untuk  berjalan menyusuri perbukitan Bray Head hingga mencapai Greystones. Kami hanya setengah jam saja dan langsung berbalik arah kembali ke arah pantai Bray. Memang tidak berniat menuju Greystones.

Jalanannya tidak begitu menanjak, kok. Kita pun bisa melihat wilayah pantai lebih luas. Di sepanjang jalanan di perbukitan disediakan beberapa kursi dan meja  untuk mampir dan duduk-duduk menikmati pemandangan pantai dan sekitarnya dari atas bukit.

Fotografer Dani Rosyadi
Bray, Pantai Berbatu, pics by : Dani Rosyadi

Tips Jalan-jalan di Irlandia

  1. Cuaca di Irlandia terkenal sangat ‘moody’. Terik matahari dan hujan bisa bergantian dalam hitungan menit. Hujan pun tak memandang musim. Walau musim panas pun, hujan bisa mengguyur di sebagian besar wilayah tanpa pandang bulu. Sediakan jas hujan selalu.
  2. Angin sering bertiup cukup kencang sehingga penggunaan payung tidak disarankan. Lebih baik memakai mantel atau jas hujan yang bertopi.
  3. Di Dublin, tak perlu menginap di hotel-hotel besar. Banyak sekali penginapan-penginapan kecil yang cukup layak huni. Istilahnya, “Bed & Breakfast” (B&B) yang juga bisa dibooking dari jauh-jauh hari melalui situs-situs seperti booking.com.

Lihat juga tulisan jalan-jalan lain saya yang juga pernah dimuat di Femina ;).

Yanbu Badar, dari Pantai ke Padang Pasir

(tulisan jalan-jalan dimuat di Femina, Juli 2012)

***

(Jihan Davincka)

Bermukim dua tahun di kota Jeddah, memperkenalkan saya kepada  tempat-tempat menarik di Saudi. Ternyata ada pesona lain dari kota-kota di sekitar Jeddah. Selain magnet dari dua kota suci umat muslim, Mekkah dan Madinah.

Harga bensin yang sangat murah seolah ikut memberi dukungan untuk melancong ke luar kota setiap akhir pekan atau liburan menghampiri.

Suasana lebaran di kota Jeddah jauh berbeda dengan perayaan di tanah air. Sepi sekali suasana kota menjelang dan saat hari raya tiba. Jadilah, liburan hari raya idul fitri tahun lalu, kami sekeluarga liburan ke kota Yanbu dan Badar.

Yanbu : Kota Industri, Kota Pantai

Kota Yanbu terletak sekitar 300 km di sebelah utara kota Jeddah. Dengan infrastruktur jalanan antar kota di negara Saudi, yang umumnya didominasi oleh jalan raya lebar nan mulus, jarak ini bisa ditempuh dalam tempo kurang dari 3 jam saja.

Yanbu 1

Hati-hati jangan terbius untuk ngebut. Ada kamera pengintai kecepatan yang siap menangkap basah pengemudi yang nakal dan menjeratnya dengan denda ratusan riyal.

Di sepanjang perjalanan, gunung-gunung batu yang berdiri megah, peternakan unta di beberapa sudut gurun, beserta hamparan padang pasir maha luas, menghiasi kiri kanan jalan.

Memasuki kota Yanbu, dengan menyusuri jalanan utama King Abdul Azis road, suguhan pertama adalah banyaknya kilang-kilang minyak. Diselingi bangunan berbahan seng berbentuk kotak alias gudang, atau dikenal dengan istilah warehouse.

Jadi, di Yanbu inilah terdapat pengilangan minyak kepunyaan Saudi Aramco, perusahaan minyak asal negeri Paman Sam. Sejak tahun 1970 an, sebagian wilayah kota Yanbu ini disulap menjadi kota industri oleh pemerintah Saudi.

Pemandangan ala daerah industri dari berbagai perusahaan internasional ini bisa dinikmati sekitar 30-40 km. Setelah itu, berganti dengan taman-taman beserta playground yang tertata rapi dengan bunga warna warni.

Wah, suasananya berbeda dengan kontur umum di Saudi sebagai negara tandus. Sepertinya bagian kota yang ini memang ikut ‘disulap’ menjadi keren untuk kepentingan para warga Yanbu yang menghuni wilayah perumahan di sekitar pabrik-pabrik tadi. Mereka rata-rata pekerja asing. Mungkin agar mereka betah tinggal di kota kecil nan sunyi ini.

Kalau berbelok di kiri-kanan jalan utama yang bertaburan taman tadi, kita akan melihat jajaran compound. Baik yang masih dalam proses pembangunan, maupun yang berdiri kokoh lengkap dengan pos penjaga beserta satpam penjaganya.

Compound? Tempat ini semacam kompleks perumahan yang biasanya dikelilingi oleh tembok yang tinggi. Siapa pun yang berada dalam compound terbebas dari aturan-aturan khas Saudi, misalnya : kewajiban berabaya untuk wanita dewasa, perempuan tidak boleh menyetir, dsb.

Compound merupakan pemukiman yang umum ditemukan di banyak kota di berbagai wilayah Saudi. Modelnya macam-macam. Dari yang hanya berupa susunan rumah mungil yang tak menyediakan lahan untuk kendaraan. Hingga yang berukuran sangat luas, lengkap dengan berbagai fasilitas olahraga dan supermarket.

Selain barisan compound, ada juga rumah-rumah kecil atau gedung-gedung apartemen kecil yang tertata apik di sepanjang jalan. Ada minimarket yang tersebar di beberapa tempat. Komplit dengan pohon-pohon yang ditanam rapi di pinggiran jalan. Bersih dan teduh.

Balik lagi ke jalan utama, King Abdul Azis Road, dan teruslah mengikuti jalan ke arah utara. Maka perlahan-lahan kita akan memasuki bagian kota yang belum tersentuh efek modernisasi. Bagian kota yang ini jalan-jalannya mulai mengecil. Bangunan-bangunan apartemennya berukuran kecil dan banyak yang sudah kusam.

Pantai Yanbu Arab Saudi
Pesisir Pantai Yanbu

Dan lama-kelamaan, masih menyusuri King Abdul Azis ini, kita akan bertemu dengan pesisir pantainya, pesisir pantai Laut Merah. Di sekitar sinilah, banyak ditemui tempat-tempat penginapan berupa hotel dan resort.

Pesisir pantai kota Yanbu tergolong bersih. Dari kejauhan warna airnya berkilau kehijauan. Mendekatlah ke bibir pantai. Lalu jejakkan kaki ke dalam airnya hingga tenggelam, bayangan kaki kita tetap akan tetap terlihat jelas. Airnya bening sekali.

Pesisir pantai Yanbu cukup panjang. Kami mencoba menyusuri pesisirnya searah dari satu ujung ke ujung yang lain dengan menyetir santai. Tapi karena sudah sejam belum tampak ujungnya, kami pun memutar balik.

Pesisir Yanbu Arab Saudi
Pantai Yanbu (lagi) 😀

Kami berhenti di beberapa tempat untuk mengambil foto. Ada beberapa tempat di pesisirnya yang sekilas mirip dengan suasana di Pantai Anyer dan Pangadaran.

Sebagian wilayah pesisirnya ditutup untuk umum. Disekat dengan pagar tinggi atau tembok semen. Ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut tergolong ‘private beach‘. Untuk melongok ke dalam, perlu merogoh kantong. Tempat-tempat seperti ini juga dilengkapi dengan resort. Mulai dari yang biasa-biasa saja hingga yang menawarkan fasilitas bintang lima.

Yanbu Arab Saudi
Mirip dengan Pangandaran kan? Hehehe

Pada umumnya daerah pantai di Saudi ini hanya ramai bila malam telah menjelang. Saat itu, barulah orang-orang Arab berbondong-bondong duduk bersantai menggelar tikar di sepanjang pesisir pantai. Tak lupa memboyong termos minuman hangat dan cemilan. Tidak seperti di Indonesia, disini jarang ditemukan pedagang makanan kaki lima.

Puas mengelilingi sebagian wilayah kota, hari pun beranjak senja, kami menepi sebentar. Setelah puas menikmati langit kuning kemerahan, kami memutuskan untuk mencari penginapan di Yanbu.

Foto Yanbu Arab Saudi
Anak ke-2 masih bayi hehehehe 😀

Akomodasi di Yanbu

Untuk penginapan tak perlu khawatir. Ada beberapa hotel berbintang beserta resort yang berdiri megah di kota ini, sebagian besar dibangun di sekitar pesisir pantai Yanbu. Bisa dibooking secara online juga. Diantaranya :

– Movenpick Hotel & Resort

– Tulip Inn Hotel, yang hanya berjarak ratusan meter dari bibir pantai yang tempatnya rindang dan dilengkapi dengan playground untuk anak-anak.

– Radisson Blu Hotel

– Dolphin Beach Resort, ini salah satu resort yang terletak dalam wilayah private beach.

Kami sendiri menginap di sebuah full service apartment. Letaknya di tengah kota, sekitar 15 menit berkendara dari kawasan bibir pantai.

Penginapan macam ini juga ada. Tersebar di beberapa jalanan utama kota. Tempatnya bersih, dilengkapi dengan dapur mini, seharga 170SR per malam.

Untuk makanan juga tidak perlu risau. Meskipun tergolong kota kecil, di Yanbu ada gerai-gerai makanan internasional seperti Pizza Hut. Ada juga gerai Al Baik, ayam goreng tepung khas asal Saudi yang cukup terkenal, bahkan untuk para pendatang.

Kita juga bisa menikmati santapan makanan dari food court yang ada di Dana Mall. Mulai dari menu khas Arab, India-Pakistan hingga menu Asia, lengkap disini. Dana Mall ini mal yang cukup besar. Mal-mal di Saudi, walaupun jarang yang bertingkat, rata-rata berukuran sangat luas. Gerai-gerai pakaian ternama seperti : Zara, Mango, Guess, dll, juga ada disini. Bisa sekalian window shopping.

Tentang yanbu arab saudi
Playground di Pantai Yanbu

Berpetualang ke Padang Badar dan Mengunjungi Makam Syuhada Badar

Setelah menjelajahi kota Yanbu dan mencicipi senja di pesisir pantainya, besok paginya kami berpetualang ke Badar. Tujuan utamanya adalah menikmati bukit pasir halus di Padang Badar.

Badar, kota kecil yang berjarak sekitar 90 km dari Yanbu. Tak susah menemukan jalan menuju kota ini dari Yanbu. Ada banyak petunjuk bertebaran di sepanjang jalan. Tapi tidak ada salahnya meminta bantuan melalui GPS.

Tidak sampai sejam perjalanan, kami sudah memarkir mobil di salah satu sisi bukit pasir yang terhampar di sebagian besar wilayah kota ini. Pilihlah bukit pasir yang halus tanpa kerikil.

Bilbil bdr complete

Saat itu musim dingin sudah menjelang namun suhu belum terlalu rendah. Suhu gurun pagi itu mencapai 37 derajat celcius. Konon di puncak musim dingin, suhu sore hari di padang ini bisa berada di bawah 10 derajat celcius. Brrrr…

Kalau membawa anak bayi memang sebaiknya berkunjung di pagi hari. Biarpun sore haji lebih sejuk, namun anginnya cukup kencang. Pasirnya beterbangan kemana-mana.

Anak sulung kami bebas berlarian di padang pasir maha luas itu. Sambil sesekali mendaki. Pasirnya tidak terasa panas di kulit. Tanpa angin, pasirnya hanya berhamburan bila terinjak kaki. Hawanya pun tidak gerah. Anak kedua saya yang saat itu masih berusia 5 bulan tidak rewel sama sekali.

Setelah mendaki bukit pasir yang agak tinggi, akan terlihat hamparan gurun pasir yang sangat luas. Terlihat juga jalan-jalan raya berliku yang membelah gurun. Datarannya sangat empuk seolah akan menghisap kaki-kaki kita. Benar-benar tumpukan pasir membentuk bukit. Bukan bukit batu beralas pasir. Lepaskan alas kaki bila tidak ingin langkah memberat akibat butiran- butiran pasir yang menyusup masuk.

Kota Badar juga merupakan salah satu saksi penting dalam sejarah awal umat muslim di masa penyebaran Islam. Badar inilah tempat peperangan besar pertama umat muslim sejak hijrah ke Madinah. Pasukan muslim yang berjumlah jauh lebih sedikit berhasil memukul mundur musuh.

Beberapa sahabat Nabi gugur dalam pertempuran ini. Mereka dimakamkan di salah satu tempat di kota Badar ini. Liburan kala itu tidak menyempatkan kami mengunjungi makam para Syuhada Badar.

Tapi beberapa waktu lalu, saat Ibu Mertua mengunjungi kami sekaligus beribadah umrah, kami bertandang sekali lagi ke kota Badar ini. Dan sekali ini berniat sekalian ziarah ke makam tersebut.

Tempatnya mudah dijangkau. Dan jangan khawatir, semua orang mengerti jika kita bertanya. Bilang saja “Makam Badar?” orang-orang sudah paham. Makam ini terletak di tengah kota Badar. Sangat mudah menemukannya. Ada di sisi salah satu jalan utama di kota ini. Kotanya lebih kecil lagi daripada Yanbu.

Di jalan tersebut juga dibangun semacam tugu dan monumen Perang Badar. Monumen tersebut juga memuat nama keempat belas sahabat Nabi yang mati syahid dalam peperangan ini.

***

Demikianlah kisah jalan-jalan kami selama dua hari penuh. Menikmati kota Yanbu dengan suasana kota yang berbeda dengan hiruk pikuk di Jeddah, sekaligus menjajal pesisir pantainya yang jernih. Tak lupa mampir ke kota Badar, bermain-main di padang pasirnya dan berziarah ke salah satu tempat bersejarah di sana.

***

Tulisan jalan-jalan ke Femina dikirim ke kontak at femina dot co dot id, ya ^_^. Panjang sekitar 1500 kata dilengkapi foto-foto high-resolution yang bagus, minimal 2 MB per foto.

Oiya, Femina juga menerima cerpen dari penulis luar, lho :). Cek syarat-syarat pengiriman cerpen ke Femina – Kartini beserta contoh-contoh cerpennya di sini.

Selain ke Femina, mengirim tulisan jalan-jalan juga bisa ke Leisure – Republika. Syarat pengiriman ke Leisure Republika bisa dilihat di sini.

Badar Arab Saudi

 

Menyusuri Jantung Kota Dublin Irlandia

Kisah tentang negara beribukota dublin … Republik Irlandia!

(dimuat di Leisure Jalan-jalan Republika, Desember 2013)

Oleh : Jihan Davincka

***

Kota Dublin terletak di Republik Irlandia yang bersebelahan dengan salah satu negara di Eropa yang cukup popular, Kerajaan Inggris Raya. Republik Irlandia juga berbagi daratan yang sama dengan salah satu wilayah Kerajaan Inggris, Irlandia Utara.

Republik Irlandia tidak setenar Inggris. Menguasai sekitar 80% daratan di pulau Irlandia bagian selatan, Irlandia memang tidak sebesar dan sepadat Inggris. Wilayahnya didominasi oleh padang rumput yang digunakan sebagai wilayah pertanian dan daerah peternakan.

Tapi jangan salah, kota Dublin Irlandia, memiliki wajah yang jauh lebih gemerlap daripada wilayah lain di seantero Irlandia. Dublin, tidak hanya berfungsi sebagai ibukota. Dublin juga merupakan kota terpadat dan terbesar di Republik Irlandia.

Bank of Ireland di Jantung Kota Dublin
Bank of Ireland di Jantung Kota Dublin

City Center, Jantung Kota Dublin

Tempat pertama yang harus disambangi kala melancong ke kota asal Westlife, grup vokal yang pernah merajai dunia musik di akhir tahun 90 an, adalah City Center. Sesuai namanya, lokasi City Center berada di tengah-tengah kota, di sisi kiri dan kanan Sungai Liffey yang melintasi dan membelah wilayah kota Dublin Irlandia menjadi 2.

Lokasinya sangat strategis. Makanya, City Center bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari stasiun kereta “Heuston” maupun dari terminal bis “Busaras”.

Sungai Liffey
Sungai Liffey

Untuk mengitari wilayah-wilayah di seputaran City Center sendiri tidak perlu menggunakan kendaraan bermotor. Jalan kaki adalah pilihan yang paling tepat. Jalanan di wilayah ini dibuat senyaman mungkin untuk para pejalan kaki. Dari pagi hingga petang, tempatnya selalu ramai baik oleh penduduk kota maupun oleh turis asing.

Tapi jika tak kuat berjalan kaki, sewa saja sebuah sepeda yang bisa digunakan untuk berkeliling di City Center. Biayanya sekitar 10 euro untuk dipakai seharian. Ada tempat penyewaan sepeda di beberapa tempat. Serba otomatis dan praktis. Tinggal bayar, ambil dan pakai.

Tempat Penyewaan Sepeda
Tempat Penyewaan Sepeda

O’Connell Street, City Center

Ruas jalan utama di City Centar adalah O’Connell Street. Trotoar untuk pejalan kaki lebih lebar daripada jalanan untuk kendaraan bermotor. Tak akan lelah, deh, menyusuri O’Connell saking ramainya dikunjungi orang-orang dari pagi hingga malam.

Sebuah bangunan yang terasnya memiliki pilar-pilar tinggi seperti bangunan Yunani zaman kuno langsung menarik perhatian. Saya pikir museum atau semacamnya. Ternyata, bangunan tersebut sekarang digunakan sebagai kantor pos pusat (General Post Office). Walau di masa lalu, bangunan tersebut memang menyimpan sejarah kemerdekaan Irlandia dari penjajahan Inggris.

O'Connell Street negara beribukota dublin
O’Connell Street

Sepanjang jalan O’Connell, di tengah-tengahnya, bertabur patung-patung dan monumen bersejarah dari tokoh-tokoh penting Irlandia. O’Connell sendiri diambil dari nama salah seorang tokoh nasional Irlandia, Daniel O’Connell. Monumen O’Connell berdiri paling megah dan besar sebelum memasuki O’Connell Street di dekat tepian Sungai Liffey.

Tak cuma patung /monumen dari tokoh-tokoh nasional dari republik yang pernah dijajah Kerajaan Inggris selama 8 abad ini, ada juga sebuah monumen seni yang cukup terkenal. Namanya The Spire of Dublin. Sebuah tiang besi tunggal yang menjulang ke atas setinggi 120 m. Kalau memandang ke atas, seolah tiang tersebut menembus hingga ke awan.

Henry Street - dengan latar belakang The Spike negara beribukota dublin
Henry Street – dengan latar belakang The Spire

Nah, di sisi kiri dan kanan bangunan The Spire ini, kita bisa berbelok ke jalanan kecil yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki. Berbelok ke arah Henry Street tepat di sebelah kiri The Spire (dari arah Sungai Liffey), jalanannya akan menyajikan deretan toko-toko yang menjual brand-brand kenamaan seperti Zara, Mango, Coach dsb.

Sedangkan jalanan berbelok di sisi kiri The Spire, kita akan masuk ke Earl Street North. Jalanan ini didominasi oleh restoran dan kafe-kafe kecil. Juga ada waralaba khas eropa seperti Tesco dan Dunnes Store yang menjual rupa-rupa barang, dari baju hingga makanan dan minuman. Buat yang muslim, jangan khawatir. Kedai-kedai makan Timur Tengah yang halal mudah ditemukan di ruas jalan yang sama.

Rumah Makan Halal (Turkish Food) negara beribukota dublin
Rumah Makan Halal (Turkish Food)

Setahu saya, ada 2 gerai halal di Earl Street North. Keduanya ala-ala Turki. Bisa ditebak, makanannya mirip dengan masakan khas Timur Tengah. Aneka kebabnya secara umum cocok dengan lidah Asia kita. Nasi-nasi berbumbu juga sudah umum dikenal di tanah air, misalnya Nasi Kebuli. Ada macam-macam pizza juga. Harganya berkisar dari 4-12 euro per porsi.

Temple Bar

Tempat lain yang terkenal di City Center adalah Temple Bar. Awalnya, Temple Bar ini adalah nama sebuah bar yang sangat popular di Dublin. Irlandia memang tersohor sebagai negeri asal Guinness, salah satu merek bir paling terkenal di dunia. Jangan heran, yang namanya bangunan bar, mudah ditemukan di berbagai wilayah Irlandia. Di kota kecil sekali pun.

Kini, nama Temple Bar tidak hanya untuk bangunan bar berwarna merah menyala itu, tapi digunakan untuk keseluruhan daerah di sekitar bar tersebut. Sambil menyusuri wilayah Temple Bar, sesekali mampir menonton pertunjukan-pertunjukan seni jalanan. Misalnya pengamen dalam formasi band komplit, ada vokalis-gitaris-drummer segala, lho.

Temple Bar negara beribukota dublin
Temple Bar

Temple Bar lokasinya berseberangan dengan O’Connell. Kedua areal ini dipisahkan oleh Sungai Liffey.

Market Arcade di George Street

Tempat seru lain untuk berbelanja adalah Market Arcade di George Street. Masih masuk dalam areal City Centre. Lokasinya sejajar dengan Temple Bar, berarti berseberangan dengan O’Connell Street.

Di Market Arcade ini, menjual banyak barang-barang vintage. Semacam barang-barang bekas pakai yang masih bagus. Harganya tentu tidak mahal. Selain itu, ada toko-toko kecil yang menjual suvenir-suvenir. Toko-toko buku yang menjajakan buku-buku bekas, walau toko yang sama juga menyediakan koleksi buku baru.

Tempatnya tidak terlalu lebar tapi panjang. Ada salon dan rumah makan segala di dalamnya. Beberapa kios juga menjual baju-baju khas karnaval. Ada kostum-kostum tema binatang, badut dan baju-baju klasik ala-ala raja dan ratu Inggris zaman dulu.

Market Arcade
Market Arcade

Tempat ini tidak hanya ramai didatangi oleh turis asing. Tapi, warga lokal juga sering terlihat wara wiri di sana. Segerombolan mahasiswa juga hilir mudik di tempat ini.

Bangunan dan Hal Unik Lainnya

Tadinya, saya mengira bahwa sebuah bangunan besar di wilayah City Center dengan desain khas arsitektur eropa ini adalah sebuah gereja. Ternyata bukan. Bangunan tersebut ternyata milik Bank of Ireland, salah satu bank komersial paling besar di Irlandia.

Bangunannya tinggi, mirip dengan The General Post Office di O’Connell Street tadi. Yang unik, banyak kotak-kotak semacam jendela di sekujur dinding bangunan. Tapi semua jendela tersebut tertutup oleh batu alias tidak ada kacanya. Buat apa, ya, kira-kira?

Kita juga akan beberapa kali menemui kuda-kuda yang menarik gerobak yang penuh berisi barang. Penjual asongan? Bukan. Inilah salah satu cara bar-bar yang berada di City Center, Dublin, mempromosikan tempat mereka. Kuda tersebut akan dibawa berkeliling oleh seorang kusir untuk menarik perhatian orang-orang.

Kuda untuk Promosi
Kuda untuk Promosi

Di beberapa tempat di pinggir sungai Liffey juga ada bar terapung. Kapal-kapal kecil yang disulap menjadi bangunan bar.

Berburu Oleh-oleh Khas Irlandia

Salah satu pernak pernik khas Irlandia adalah kostum Leprechaun. Leprechaun adalah peri laki-laki tua yang suka mengenakan topi besar dan panjang berwarna hijau. Aksesoris lengkap dari sang Leprechaun banyak terdapat di toko-toko cendera mata yang tersebar di berbagai pelosok City Center, Dublin.

Carrolls - Irish Gift Shop
Carrolls – Irish Gift Shop

Ada toko khusus yang menjual aneka suvenir dalam bentuk waralaba yang membuka banyak gerai di berbagai tempat di City Center. Namanya Carrolls. Bangunannya khas didominasi warna hijau. Tak sulit ditemukan, mungkin di sepanjang O’Connell Street, gerainya ada 2-3 toko.

Setelah puas menikmati City Center, Dublin, silakan memilih-milih suvenir di gerai-gerai Carrolls.

Naik Apa dan Menginap di mana?

Di Athlone, banyak terdapat hotel-hotel berbintang seperti Sheraton dan Radisson. Radisson ini direkomendasikan karena letaknya yang tepat di salah satu pesisir Sungai Shannon. Pemandangan dari teras kamar yang menghadap ke Sungai Shannon dijamin cantik.

Selain hotel, ada juga penginapan yang modelnya Bed & Breakfast (B&B). Keduanya, hotel maupun B&B bisa dibooking melalui berbagai situs-situs online.

Penerbangan dari tanah air ke Irlandia juga ada beberapa alternatif. Bisa melalui maskapai-maskapai eropa atau melalui maskapai timur tengah seperti Emirates dan Etihad. Harga tiket tergantung musim. Biasanya, di musim semi hingga musim panas (kira-kira di bulan maret – september), harga tiket bisa melambung tinggi.

Untuk memasuki wilayah Irlandia, diperlukan visa khusus. Walau termasuk anggota Uni Eropa, Irlandia tidak termasuk wilayah Schengen. Untuk pemegang paspor Indonesia, biaya pembuatan visa gratis. Cuma bila diproses melalui tanah air, ada biaya tambahan.

Di Indonesia, tidak ada kedutaan besar Irlandia. Adanya Honorary Consulate yang berada di Jakarta Stock Exchange Building Tower 1, lantai 12, Jl. Jenderal Sudirman kav 52-53. Biaya tambahan tadi diperlukan karena proses pembuatan visa harus melalui Kedutaan Irlandia terdekat yang berada di Singapura.

Wilayah Temple Bar Streets

***

Penjelajahan Alam di Killarney National Park Irlandia

(dimuat di Leisure-Republika, edisi Juli 2014)

Oleh : Jihan Davincka

***

Pohon-pohon yang dibiarkan tumbuh liar di kiri kanan jalan setapak, air danau yang biru jernih, padang rumput yang luas di sela-sela rimbunnya batang pohon serta sebuah bangunan kuno yang masih berdiri tegak adalah pemandangan utama saat kita mengunjungi Killarney National Park di bagian selatan Pulau Irlandia.

Tidak hanya itu, national park satu ini juga dikepung oleh perbukitan hijau yang juga bisa turut dinikmati kala kita berkeliling-keliling di dalamnya. Tiga buah danau, Lough Leane, Muckross Lake dan Upper Lake, bermata air biru segar memperkaya warna warni alam yang belum banyak terjamah di salah satu taman nasional terbesar di Republik Irlandia ini.

Killarney National Park terletak di Kota Killarney. Tempat ini boleh dinikmati oleh siapa saja tanpa dipungut biaya apa pun. Pintu gerbangnya ada beberapa. Kita bebas masuk dari pintu mana saja di sepanjang jalan yang mengitari lokasi taman alam ini.

Tuk Tik Tak Tik Suara Sepatu Kuda

Tadinya begitu tiba di pintu gerbang pertama yang kami temui untuk menuju ke dalam areal taman, saya sempat ragu ingin masuk. Begitu turun dari mobil, langsung melongok ke dalam pagar yang memang dibuat rendah agar suasana taman bisa terlihat secara leluasa dari luar. Yang terlihat hanya susunan pohon-pohon dan jalan setapak yang tidak kelihatan di mana ujungnya.

Bagaimana cara menjelajahi tempat seluas ini dengan membawa 2 anak kecil? Apalagi hanya membawa 1 stroller / kereta bayi saja. Mana kuat kalau diajak berjalan kaki?

Tiba-tiba kami sudah dihampiri oleh seorang laki-laki setengah baya, “Do you need a ride?”

Dia menerangkan sambil memberi isyarat agar kami mengikutinya dan memasuki pintu gerbang. Kami ikut saja sembari saya menebak-nebak dia mau menawarkan apa, ya, kira-kira? Barulah saya paham tumpangan yang dimaksud ternyata sebuah…kereta kuda!

Anak-anak langsung ribut mau naik. Ternyata, untuk memudahkan rombongan yang memiliki anak-anak menjelajahi kawasan taman nasional yang luas itu, ada fasilitas kendaraan tradisional berupa kereta kuda tadi. Jangan khawatir kehabisan, keretanya ada banyak.

Killarney horse

Pilihan lain adalah dengan bersepeda. Tempat ini juga menyediakan fasilitas penyewaan sepeda. Sepeda juga bisa disewa dari tempat lain di Kota Killarney dan dibawa masuk ke dalam lokasi taman.

Saat menikmati hentakan sepatu kuda di sepanjang jalan setapak, beberapa kali kami berpapasan rombongan lain yang sedang bersepeda. Tak jarang pula saling menyapa dengan pengunjung lain yang memilih untuk berjalan kaki.

Tarif kereta kuda yang bisa memuat penumpang sekitar 4-8 orang ini 25-35 euro per kereta. Bentuk dan ukuran kereta tidak hanya sejenis. Para penumpang akan dibawa berjalan-jalan selama sekitar 1-2 jam. Pak kusir yang mengendalikan kereta juga otomatis menjadi pemandu selama perjalanan.

Killarney tempat kereta kuda

Perpaduan Sempurna Danau Biru dan Rumput Hijau

Sais kami cukup ramah dan tak segan menjawab pertanyaan apa pun. Sayang sekali kami lupa menanyakan siapa namanya. Walau si sais biasanya sudah punya rute-rute khusus dan kita tinggal ikut saja, kita juga boleh meminta berhenti di tempat-tempat lain.

Saat melintasi salah satu wilayah dii tepi danau, kami langsung minta berhenti. Airnya jernih dan pinggiran danaunya penuh dengan rerumputan hijau. Beberapa orang tampak duduk-duduk dan bersantai menikmati pemandangan birunya air danau.

Di salah satu sudut danau terparkir sebuah perahu kecil. Ternyata, kita boleh memanfaatkan perahu-perahu di sana untuk berkelana ke tengah-tengah danau. Biayanya sekitar 15 euro untuk berpetualang kira-kira selama setengah jam menyusuri danau.

Kami urung mencoba karena anak sulung agak takut melihat ukuran perahu yang menurutnya sempit.  Padahal penasaran juga ingin merasakan langsung suasana di tengah danau.

Jangan takut bakal tersesat di danau yang ukurannya memang tidak kecil ini. Setiap perahu dilengkapi dengan satu orang pemandu khusus. Lumayan juga, sih, mengintip sedikit situasi danau dari tepiannya saja. Ujung danau di seberang tidak kelihatan. Berarti ukurannya cukup lebar juga jika dilihat dari dekat.

Killarney danau

Bangunan Antik dan Taman yang Cantik

            Sebuah bangunan besar berdiri di tengah-tengah areal taman nasional Killarney ini. Ramai sekali orang-orang beraktifitas di sebuah padang rumput yang kira-kira seukuran lapangan bola yang membentang di depan bangunan tersebut.

Setelah mendekat dan membaca keterangan yang tertera di dinding bangunannya, ternyata tempat ini dulunya rumah tinggal dari sebuah keluarga bangsawan Irlandia.

Namanya Muckross House. Rumah ini cukup spesial karena pernah dikunjungi langsung oleh Ratu Victoria Inggris di tahun 1860 an. Rumah bertembok batu dengan perpaduan warna abu-abu dan coklat  ini sudah berusia hampir 200 tahun sejak awal dibangun di awal abad ke 19 silam.

Sejak beberapa puluh tahun lalu, rumahnya dihibahkan oleh pemiliknya kepada pemerintah Irlandia. Rumahnya sendiri tidak selalu dibuka untuk umum. Hanya di waktu-waktu tertentu saja. Sayangnya, saat kami  ke sana, pintu masuk tertutup rapat untuk pengunjung.

            Kawasan di sekitar rumah ini sudah banyak mengalami pemugaran walau bisa dibilang lokasinya sama sekali tak beranjak. Salah satu hasil pemugaran adalah disediakannya kamar kecil untuk pengunjung di lantai 2 bangunan.

Kami hanya boleh berkeliling di luar tembok. Anak-anak malah tertarik untuk ikut bersama hiruk pikuknya para pengunjung di lapangan rumput depan rumah besar tersebut.

Beberapa pengunjung memanfaatkan lapangan untuk berolahraga. Ada sekumpulan remaja yang bermain bola sepak. Dua anak sedang dilatih bermain kasti oleh ayahnya. Ada juga yang menggelar tikar di pinggiran lapangan. Sisanya ada yang bersepeda atau anak-anak balita yang berlarian ke sana ke mari. Nah, ini mungkin yang membuat anak-anak saya ikut heboh dan berlarian bersama teman-teman sebayanya.

killarney muckross house

Agak sulit membujuk anak-anak pergi dari lapangan ini. Kami menghabiskan waktu paling lama di tempat ini.

Air Terjun di Tengah Hutan

            Dari Muckross House, perjalanan berlanjut kembali. Sekitar 10 menit mengendarai kereta kuda tadi, tibalah kami di sebuah tepian sungai  kecil.

Kami pun turun dan diberitahu oleh pemandu/sais kereta untuk masuk melalui terowongan untuk menuju lokasi sebuah air terjun. Terowongannya sih kecil saja. Hanya sepanjang beberapa meter. Setelah terowongan, jalanan agak sedikit mendaki. Mampir sebentar ke kamar kecil sebelum menuju lokasi air terjun yang bila dilihat di papan petunjuk berjarak sekitar 150 m dari tempat tersebut.

Walau agak mendaki, jalannya tidak terasa melelahkan. Selain jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, kiri kanan jalan juga banyak batang-batang pohon. Pepohonan belum begitu rimbun karena saat kami ke sana musim semi belum berada pada puncaknya. Sisa-sisa musim dingin masih  agak terasa walau cuaca sangat cerah. Sebelah kanan jalan dipasangi pembatas kayu karena ada sungai kecil yang alirannya berasal dari air terjun yang akan kami datangi.

Arus sungai tidak deras dan tidak begitu lebar. Ada banyak batu-batu besar di sepanjang sungai. Gemericik air mengalir cukup membuat suasana jalan menanjak menjadi lebih ringan lagi.

Begitu tiba, air terjunnya ternyata tidak sebesar yang saya bayangkan. Maklum saja, di daerah asal saya di Sulawesi Selatan, kami mengenal wisata air terjun Bantingmurung yang jauh lebih tinggi dan lebar.

Orang-orang sudah memenuhi lokasi air terjun. Kalau sekilas dari percakapan yang bisa saya tangkap, sebagian besar yang bergerombol dalam kelompok-kelompok kecil berbincang dalam bahasa Spanyol. Mungkin turis dari negara lain. Ada yang sibuk berfoto-foto sambil tertawa-tawa. Sebagiannya lagi memilih duduk-duduk saja di sekitar sana sambil melihat-lihat.

Karena kerepotan menjaga anak-anak yang ribut ingin mendekat ke tempat jatuhnya air dari tebing, kami memutuskan untuk tidak berlama-lama di sini. Bagian sungai berbatu yang mengarah dan mendekati posisi air terjun cukup licin soalnya. Kami khawatir anak-anak yang keseimbangannya belum sempurna bisa terpeleset.

Killarney air terjun

Jejak Alam Sejak Ratusan Tahun Silam

            Di hampir  berbagai sudut taman atau hutan Killarney, hewan-hewan dibiarkan hidup di alam liar. Umumnya hewan-hewan yang hidup di padang rumput dan bukan binatang buas. Adanya hanya rusa dan domba-domba. Sesekali terlihat tupai dan musang berlarian di batang-batang pohon.

Pemandangan yang dominan tak hanya rimbunnya pohon-pohon khas hutan. Salah satu yang paling berkesan adalah saat berada di sebuah jalan setapak,  di sebelah kiri jalan menawarkan panorama padang rumput, sebelah kanan ada danau dan di hadapan kita tersaji perbukitan tinggi yang didominasi warna merah tua, coklat dan hijau. Pemandangan yang biasanya saya bisa lihat di foto-foto kalendar saja, kini terpampang langsung di hadapan mata.

Jejak alam yang ada di sebagian besar wilayah taman nasional masih asli. Usia hutan konon sudah ratusan tahun. Termasuk sebuah pohon besar yang sempat kami lintasi di salah satu tepian danau. Sais kereta bercerita pohon tersebut konon sudah berusia 500 tahun.

Pohonnya tinggi menjulang dengan batang bagian bawah yang berdiameter lebih dari 1 meter. Cabang-cabangnya menjulur  ke mana-mana di dahan-dahan paling atas.

Para pengunjung banyak yang mencoba untuk memanjati pohon. Termasuk orang-orang dewasa. Saya cukup menjadi penonton saja. Lagipula jika ingin ikut-ikutan, anak-anak juga pasti berebutan ingin naik ke atas pohon.

Dari  lokasi pohon ini, oleh sais kereta yang ditumpangi, kami diantar kembali ke pintu gerbang tempat kami memarkir mobil. Tak terasa sudah hampir 2 jam berkeliling. Padahal masih  beberapa tempat yang belum sempat disambangi.

killarney pohon

Taman Nasional Killarney luasnya lebih dari 10 ribu hektar. Tidak mungkin dijelajahi dalam beberapa jam saja. Tapi sudah cukup puas melihat-lihat.

Selain fasilitas umum seperti kamar kecil dan kantin yang menjual makanan kecil, ada banyak taman bermain yang menyediakan arena bermain seperti ayunan dan tempat seluncuran untuk anak-anak.  Kami hanya melintas saja. Kalau sampai mampir ke taman bermain, anak-anak mungkin  bisa betah sampai larut malam dan tak mau diajak pergi. Hahaha.

Tips Jalan-jalan di Irlandia

  1. Penerbangan ke kota Dublin dari Jakarta bisa ditempuh melalui maskapai-maskapai penerbangan Eropa (KLM atau Lufthansa). Juga melalui maskapai asal Timur Tengah (Etihad atau Emirates). Harga tiket berkisar dari 5 juta hingga 8 juta rupiah per orang.
  2. Harga visa pemegang paspor Indonesia ke Irlandia adalah gratis. Tapi ada biaya pengiriman pos ke Singapura karena kedutaan Irlandia terdekat adanya di Singapura.
  3. Ada beberapa jenis fasilitas penginapan yang bisa dipilih. Ada penginapan model B&B (Bed & Breakfast) yang biasanya mematok harga sekitar 25-100 euro per malam. Hotel-hotel bintang menengah ada di level 60-150 euro per malam. Sedangkan hotel bintang lima umumnya memasang harga di atas 100 euro per malam. Semua jenis penginapan bisa dibooking duluan di berbagai situs online via internet. Tentu saja, harga bisa berubah-ubah.
  4. Republik Irlandia mengenal 4 musim (panas, gugur, dingin dan musim semi). Tapi hujan bisa menyapa kapan saja. Di musim panas sekali pun, hujan bisa turun. Biasanya tidak deras tapi tetap persiapkan jas hujan ke mana-mana. Payung kurang dianjurkan karena kadang hujannya disertai angin.
  5. Suhu udara di wilayah Republik Irlandia tidak pernah terlalu dingin. Musim dinginnya rata-rata berkisar di 0 – 5 derajat. Suhu jarang minus dan salju juga hanya turun sekenanya. Tidak pernah sampai menumpuk di jalan.

***

Tertarik ikut mengirim ke rubrik Leisure Jalan-jalan Republika? “Syarat mengirim tulisan jalan-jalan ke Leisure Republika”

Naskah asli dari tulisan lain yang pernah di muat di Leisure – Republika –> “Rupa-rupa Wajah Kota Jeddah”

Naskah asli dari tulisan jalan-jalan yang pernah dimuat di tabloid lain –> “Saint Patrick’s Day, Karnaval Khas Bangsa Irlandia”

 

Killarney tepi danau

Rupa-rupa Wajah Kota Jeddah Arab Saudi

Kisah tentang Kota Jeddah Arab Saudi.

Oleh : Jihan Davincka

(dimuat di Leisure-Republika, Agustus 2012)

***

Corniche Road

Salah satu julukan yang disematkan untuk kota Jeddah Arab Saudi adalah “Pengantin Laut Merah.” Tidak salah. Karena kota ini memang bersinggungan langsung dengan pesisir Laut Merah. Jalan raya di tepian pantai tersebut dikenal dengan nama Corniche Road.

Corniche Road ini tidak hanya berupa satu jalan panjang yang sambung menyambung. Tapi terbagi atas dua bagian, terletak di distrik Al Hamra dan distrik Ar Rawdah.

Yang wajib dikunjungi kala melintasi Corniche Road di sepanjang Ar Rawdah adalah Masjid Apung. Nama aslinya adalah Masjid Ar Rahman. Diberi julukan “Masjid Apung” karena sebagian pondasinya terletak di dasar laut. Sembari menunggu waktu salat tiba, biasanya para jemaah asal Indonesia berfoto di tepian pantai di sisi kanan masjid.

Saya kurang tahu apa yang menyebabkan masjid ini bisa menjadi tempat wajib buat para jemaah asal Indonesia. Ada yang bilang kalau dulunya salah satu khatib di masjid ini adalah seorang imam asal Indonesia. Entah betul atau sekedar rumor saja.

Foto oleh Dani Rosyadi
Masjid Apung. Foto oleh Dani Rosyadi

Sedangkan “King Fahd’s Mountain” adalah salah satu tempat menarik untuk disinggahi di Corniche Road di sepanjang distrik Al Hamra. Air mancur ini merupakan air mancur tertinggi di dunia. Sanggup memancarkan air hingga ketinggian 312 m di atas permukaan laut Merah.

Air mancur ini hanya beroperasi saat senja menjelang hingga waktu subuh. Jadi pastikan melewatinya di malam hari.

King Fahd Fountain. Foto oleh : Raiz Fouqil
King Fahd Fountain. Foto oleh : Raiz Fouqil

Di sepanjang Corniche Road mudah ditemui hotel berbintang lima. Selain hotel kelas atas,  terdapat pula banyak apartemen-apartemen mewah. Berbagai macam theme park (tempat hiburan buat keluarga)  juga hadir.

Saat akhir pekan, hari kamis dan jumat, sepanjang tepian pantai akan ramai didatangi banyak orang. Pada umumnya mereka ke pantai untuk piknik. Orang-orang Arab akan datang beramai-ramai, menggelar tikar, membawa termos dan penganan, duduk bersantai hingga larut malam tiba.

Corniche Road juga menjadi tempat rutin untuk berburu obyek foto-foto yang menarik. Yang mempunyai hobi fotografi sering menjelajahi berbagai area di sepanjang jalan ini untuk merekam jejak alam yang indah di sekitar pantai.

Corniche Road. Foto : Dani Rosyadi
Corniche Road. Foto : Dani Rosyadi

Balad, Kenangan Jeddah di Masa Lampau

Mungkin distrik Balad ini yang paling terkenal untuk jemaah asal tanah air. Disinilah terdapat Corniche Commercial Center yang dikenal sebagai pasar Balad. Tempat ini hampir selalu menjadi tujuan para jemaah Indonesia saat berburu oleh-oleh.

Tapi sebenarnya Balad menyimpan banyak kisah tentang Jeddah di masa lalu. Distrik Balad ini dulunya merupakan pusat kota Jeddah. Konon, kota Jeddah ini tadinya hanya sebuah kota nelayan kecil. Lalu perlahan-lahan membangun diri menjadi salah satu kota metropolitan dunia.

Sisa-sisa bangunan tempo dulu yang usianya ada yang di atas 100 tahun masih banyak tersebar di Balad. Arsitektur bangunannya cukup khas. Bentuknya seperti kotak yang dilapisi jendela-jendela kayu berwarna coklat. Ada sebuah wilayah khusus yang dipugar dan dilindungi oleh pemerintah. Wilayah ini bernama “Historic District.”

 

Historic District. Foto : Dani Rosyadi
Historic District. Foto : Dani Rosyadi

“Historic District” merupakan sebuah kawasan yang terdiri dari beberapa bangunan lama yang sudah tidak ditinggali lagi. Namun bila kita menyusuri jalan-jalan kecil ke dalam kompleks ini, kita bisa menemukan beberapa tunawisma yang memanfaatkan bangunan kosong ini sebagai tempat tinggal mereka.

Beberapa bangunan seperti hotel dan kantor pemerintahan juga masih mengusung arsitektur khas Arab tempo dulu. Seperti misalnya hotel Radisson di Madinah Road. Diberi aksen jendela-jendela coklat kayu yang mengelilingi keseluruhan bangunan.

Pasar-pasar khas Arab juga banyak di daerah Balad. Jangan terpaku di Corniche Commercial Center saja. Ada Bab Shareef, dimana Anda bisa menemukan macam-macam kaftan dan pashmina yang bisa dibeli grosiran. Harganya tentu lebih murah. Jangan lupa ke Bab Mekkah melihat-lihat karpet dan berburu oleh-oleh khas negeri gurun ini.

Untuk membeli abaya tidak perlu jauh-jauh. Abaya di Madinah memang terkenal dengan harganya yang murah tapi bahannya kurang bagus. Mampir saja ke Queen’s Building yang terletak di belakang gedung Corniche Commercial Center. Rupa-rupa abaya dengan harga variatif bisa Anda dapatkan di sana.

Kota Super Mal

Karena seringnya berbelanja di seputaran Balad saja, tak banyak yang tahu betapa banyaknya mal besar di kota Jeddah Arab Saudi ini. Bukan main pembangunan mal di kota besar yang berjarak sekitar sejam dari kota suci Mekkah ini. Ada belasan bangunan yang tersebar di berbagai penjuru kota.

Salah satu yang terbesar adalah Red Sea Mall. Letaknya agak jauh, di sebelah utara pinggiran kota Jeddah. Bangunannya berlapis kaca dimana-mana. Wah, saya sendiri kepayahan saat mencoba menjajal habis seluruh sudut mal ini. Ada juga Mall of Arabia yang tak kalah megahnya. Mal ini terletak di Madinah Road, dan pasti akan terlewati dalam perjalanan pulang-pergi antara Jeddah Arab Saudi – Bandara Internasional King Abdul Aziz.

 

Deretan mal besar di Tahlia Street Jeddah Arab Saudi
Deretan mal besar di Tahlia Street

 

Para pencinta barang-barang bermerk kelas atas jangan sampai melewatkan Tahlia Street yang borju. Disinilah banyak bertebaran gerai-gerai internasional ternama, baik yang berdiri sendiri maupun yang terdapat di dalam mal.

Ada bangunan Versace berwarna emas yang khas yang berdiri megah di salah satu sudut jalan. Al Khaiyat mal yang memamerkan brand kelas atas seperti : Gucci, Saint Laurent, Louis Vuitton, Armani, juga Dolce & Gabbana.

Beberapa mal ‘mewah’ yang berjajar di sepanjang Tahlia Street antaralain : Nojoud Center, Le Mall, Jeddah Mall, Tahlia Roshana Center, Tahlia Shopping Center, dll.

Harga barang-barang merek ternama ini akan lebih murah daripada harga barang yang sama di tanah air. Mungkin karena negara Saudi tidak menerapkan aturan pajak apa pun. Bolehlah membeli beberapa untuk selanjutnya ditawarkan kepada kerabat di tanah air.

Kuliner internasional papan atas juga ikut meramaikan hiruk pikuk di salah satu jalanan utama kota ini. Istimewanya lagi, kuliner di Saudi ini dijamin kehalalannya oleh pemerintah. Jadi, silakan sepuasnya bersantai di restoran kelas dunia yang ada di Tahlia Street.

Mal-mal lainnya yang cukup terkenal dan terletak di jantung kota adalah : Andalus Mall, Aziz Mall, Serafi Mega Mall, Roshan Mall, Star Avenue, dsb. Bermunculan pula mal-mal baru dengan ukuran tak kalah besarnya seperti : Haifa Mall dan Central Park.

Jeddah yang Bertabur Monumen

Sekedar menyusuri jalanan kota Jeddah Arab Saudi saja mata kita akan dimanjakan oleh banyaknya monumen yang bertaburan. Sepeda raksasa di Sitten Street yang terkenal dengan istilah ‘Sepeda Nabi Adam’ itu cuma satu diantara seribu.

"Sepeda Nabi Adam". Gambar : Dani Rosyadi
“Sepeda Nabi Adam”. Gambar : Dani Rosyadi

Monumen-monumen ini tertata rapi, dibangun cantik, memenuhi segala sudut kota. Mulai dari ruas jalan, persimpangan, sambungan jalan, sampai ke tepian pantai. Ada yang berupa bangunan yang bentuknya kompleks, tapi banyak juga yang hanya berupa bangunan kecil nan unik. Misalnya : jangka raksasa, alat-alat pertukangan (linggis, palu, dll), benturan mobil warna warni pada sebuah dinding, bola dunia, sampai berupa tangan raksasa yang terkepal dengan gagahnya.

Corniche Road juga merupakan pusatnya monumen-monumen unik. Sembari menikmati suasana pesisir, jangan lupa mengedarkan pandangan melihat-lihat bangunan-bangunan seru yang berjejer di jalanan pantai ini.

Monumen @Corniche Jeddah Arab Saudi . Foto : Dani Rosyadi
Monumen @Corniche Jeddah. Foto : Dani Rosyadi

 

Favorit saya pribadi adalah “The Giant Lantern”, 4 lentera raksasa berdiri perkasa di salah satu jalan protokol, King Abdullah Road. Jika terlihat di siang hari, monumen ini hanya berupa lampu-lampu besar penuh debu tanpa warna. Tapi cobalah melewatinya di malam hari. Lentera raksasa ini akan berselimutkan cahaya warna warni laksana lentera dari negeri dongeng.

"The Giant Lantern". Foto : Raiz Fouqil
“The Giant Lantern”. Foto : Raiz Fouqil

Jalan-jalan di Kota Jeddah?

Sebenarnya tidak perlu waktu lama untuk menyusuri berbagai tempat tadi. Karena infrastruktur jalanannya yang cukup bagus. Jalanan di Jeddah Arab Saudi lebar dan mulus. Kemacetan juga jarang terjadi.

Kalau Anda adalah jemaah umrah dan haji, mungkin bisa menghubungi pengawas rombongan. Pengawas biasanya ada yang memang bermukim di negara Saudi. Para pengawas ini punya kenalan supir-supir yang juga berasal dari Indonesia. Mungkin Anda bisa memanfaatkan jasa mereka.

 

Foto : Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

Nah, ini adalah salah satu contoh tulisan jalan-jalan yang pernah dimuat di Republika. Ini naskah aslinya :D.