Syarat Pengiriman dan Contoh Cerpen ke Femina dan Kartini

Pengiriman dan Contoh Cerpen ke Femina

Perasaan sudah pernah posting tentang ini, ya? Tapi lupa di postingan yang mana. Banyak yang bertanya jadi daripada bolak balik, ditulis saja selengkap mungkin di satu tulisan khusus :). Mohon maaf tidak bermaksud berlambat-lambat menjawab. Tapi kadang ketelisut aja mau nulis tema yang mana. Udah dipikirin eh pas depan laptop yang lain yang ditulis hahaha.

Kok Kartini sama Femina doang? Ya pernah dimuatnya di situ doang. Itu pun cuma 3 kali hihihi. Entah kenapa sekarang jarang sekali menulis cerpen-cerpen lagi :(. Banyakan malasnya nih *getokKepalaSendiri*.

Kalau berminat mengirim cerpen ke Femina dan Kartini. Syarat-syaratnya sbb :

1. Kartini, jumlah karakter (with space) sekitar 13.500 karakter (lebih kurang dikit boleh lah ya). Femina sekitar 12.000 karakter (with space).

2. Fontnya bisa TNR bisa Arial, spasi 1.5 atau double juga boleh.

3. Alamat redaksi Kartini –> redaksi_kartini@yahoo.com. Alamat redaksi Femina –> kontak@femina.co.id

4. Honor di Kartini 350 ribu rupiah (transfer setelah sebulan dimuat), di Femina 850 ribu rupiah (transfer semingguan setelah dimuat).

5. Tema sih mirip-mirip, ya. Tapi ingat, Femina tidak suka cerita tentang ‘perempuan cengeng’ . Kartini juga sepertinya sih begitu hehehe. Coba tempatkan tokoh perempuan sebagai subyek yang lebih “kokoh” bukan ‘korban’ dan gitu-gituan lah.

6. Keduanya selalu memberitahu apa tulisan akan dimuat atau tidak. Tapi Kartini tidak spesifik menyebutkan kapannya sedangkan Femina selalu memberitahu nomor edisi pemuatan sebelumnya. Pengalaman teman lain sih ada juga yang tahu-tahu dimuat di Kartini. Kalau Femina konsisten mengabari.

7. Contoh-contoh cerpen di sana… boleh cek di website Femina untuk Femina. Tapi kalau mau ke blog saya juga boleh hihihihihi.  

Ini cerpen saya yang pernah dimuat di Kartini –> https://jihandavincka.com/2013/05/26/cerpen-yang-kumau/

Ini cerpen di Femina yg Juni 2012 –> https://jihandavincka.com/2012/06/27/namanya-aryana-femina-no-242012/

Yang “Namanya Aryana” ini sudah ada versi vlognya loh, buat yang mau baca cerpennya dengan  background gambar dan musik, monggo cusssss 😉

Ini cerpen ke-2 di Femina yg Desember 2012 –> https://jihandavincka.com/2013/01/02/cerpen-tiga-rahasia/

Pokoknya kalau dirasa ada tulisan yang sudah jadi dan layak muat, kirim saja! Pede aja! :D. Kan enggak akan tahu kalau enggak dikirim? ;). Selera editor juga kita enggak bisa nebak.

Demikian deh ya, pengiriman dan contoh cerpen ke Femina dan Kartini. Hope that helps ^_^.  

Pengiriman dan contoh cerpen ke Femina

Tulisan Jalan-jalan di “Suara Merdeka”

Akhirnya, tayang juga di Suara Merdeka . Menurut teman-teman, kalau di SM dimuatnya cepat. Begitu sudah lebih dari sebulan, sudah malas ngecek ke e-paper-nya. Terima kasih Mbak Irawati yang sudah mengabari pas hari pemuatannya ;). Ini dimuatnya agak lama. Hampir 2 bulan menunggu.

Derryglad Folk Museum menempati peringkat pertama dalam daftar “a must visit place’ di daerah Midland-Irlandia. Museum antik khas masa lampau Negeri Leprechaun ini padahal enggak gede-gede amat, sih.

Waktu ke sana, anak-anak sudah kelelahan habis berheboh-heboh ria di Glendeer Pet Farm. Mereka ketiduran di mobil. Jadi, saya masuk sendiri nenteng kamera suami. Suami jagain para bocah di mobil. Dia juga malas, sih, masuk-masuk museum 😛.

Pantes foto-fotonya cupu-cupu hihihi. Maklumlah ya, siapa yang ngambil. Benar-benar bingung make kamera suami hihi. Saya sudah minta ke suami supaya diedit biar caem-an dikit. Katanya, “Ya ini sih memang komposisinya yang kurang bagus. Warna bisa diatur-atur, tapi kalau komposisi obyek ya enggak bisa diapa-apain lagi.”

Saya mikir sebentar. Terus bilang, “Komposisi itu maksudnya apa sih, Bang?”

Ahahahahhahahaha. Ya sudahlah ya, menulis ya menulis saja, enggak usah sok-sok an megang kamera hihihihi. Memang dari dulu senangnya dipotret bukan memotret. Situ model? *benerinPoni*   .

Edisi minggu 23 November 2013 di Harian Suara Merdeka, rubrik jalan-jalan…jangan lupa dibaca tentang si “Folk Museum Khas Irlandia” ini ya . Cek di epaper-nya Suara Merdeka juga bisa, tuh 😉.

Tertarik meramaikan rubrik “Jalan-jalan” di harian lokal Jawa Tengah ini? Gampil :D. Kirim saja tulisan jalan-jalan kalian (dalam negeri dan luar negeri, mana saja boleh :D). Maksimal 6000 karakter (dengan spasi). Foto-fotonya jangan lupa ;). Kirim ke satasuaramerdeka@yahoo.co.id

Honor menulis tulisan jalan-jalan di Suara Merdeka lumayan juga, lho. Kalau tidak salah 500 ribu per artikel. Lumayan kaaaan buat jajan-jajan bakso hehehe.

Menurut pengalaman saya yang pertama kali ini dimuat di sana, mereka tidak memberi tahu sama sekali. Tapi tulisan kita bisa dipantau melalui versi e-papernya Suara Merdeka.

Selamat mencoba anyway ^_^.

Suara Merdeka - Derryglad Museum

To The Grand Finale!

Jadi, begini toh yang namanya musim gugur. Hehehe. Angin kencang di hampir sepanjang hari selama dua minggu terakhir ini. Dalam satu hari, cuaca bisa sangat moody.

Sejam diguyur hujan lebat, sejam kemudian sangat terik (cerah doang, hawanya mah tetap di bawah 15 derajat), lalu sejam lagi kembali angin kencang plus hujan rintik, lalu berubah menjadi hujan yang jauh lebih ganas. Eh, enggak lama, mendadak terik dan hujan berhenti sama sekali. Serasa langit di atas kota Athlone terkena sindrom PMS. Hahaha.

Kalau angin kencang datang, daun-daun berhamburan jatuh dari atas pohon-pohon yang berjajar di seberang sungai. Nyaris sudah tidak yang warnanya hijau terang. Kalau enggak hijau butek, kekuningan, orange, bahkan ada yang berubah menjadi warna merah.

Sumpah, keren banget. Saban hari merengek ke suami minta difoto di bawah pohon-pohon yang daunnya sudah berserakan di atas tanah. Suami selalu menjawab, “Gila lu, dingin-dingin begini, sering hujan pula, minta foto di luar. Masak sana!” Hahaha.

Musim gugur memang sangat dinanti-nanti…oleh saya maksudnya hihihi. Puluhan tahun hidup di daerah tropis yang hanya kenal kalau enggak kemarau ya musim hujan , pasti kepo dong sama yang namanya musim gugur. Kalau sama salju sudah musuhan hahaha. Badan pantaiku ini sungguh tak sanggup berdamai dengan musim dingin .

Thanks to Food Combining yang membuat stamina tubuh meningkat pesat . Sedingin apa pun, yang namanya masuk angin belum pernah sukses merontokkan daya tahan tubuh . Padahal dulu, suhu panas saja bisa mendadak mual dan kembung coba. Hadeuuhhh .

Melihat situasi di musim gugur dan musim dingin, wajar sekali kalau orang-orang di sini noraknya minta ampun kalau musim panas hehe. Jalan-jalanan penuh saat matahari bersinar sangat terik. Kapal-kapal yang parkir di belakang apartemen, bisa menjadi godaan tersendiri buat suami saya hihihi. Cewe-cewe abegeh berbikini biasanya kumpul-kumpul di atas kapal sambil berjemur saat musim panas menjelang. Pas bulan puasa pula puncak musim panas tahun ini hahaha.

Musim semi juga begitu. Aduh, waktu baru datang, saban lihat pekarangan orang yang banyak bunga-bunganya, saya selalu ribut minta difoto sama suami. Suami suka marah-marah, “Lu ini bukan turis! Lu bakal tinggal di sini. Jangan norak nape?”

Tapi saya, sih, sampai sekarang, kalau menyusuri tepian Sungai Shannon, melihat bebek dan angsa berbaris, burung-burung camar sesekali berkelebat ramai-ramai di udara, rasa noraknya tidak berkurang sedikit pun. Hehehe. Terima kasih Tuhan, diberi kesempatan melihat yang begini-begini yang sedari kecil didamba-damba kala masih tinggal nun jauh di tepian Pantai Losari .

Musim gugur memang identik dengan kemurungan. Muram sekali rasanya, ya. Makin drama dengan suhu yang mulai dingin, daun-daun jatuh berguguran, warna-warna alam berganti menjadi coklat-orens-kuning.

Seperti musim yang terus berputar, begitu juga kehidupan kita selama menginjak bumi *tsaaahhh*. Dikit lagi jadi puisi ini hahaha.

Saya ingat, pertama kali datang ke Jeddah dan ingin membunuh rasa kecewa yang sudah bercampur dengan sepi dan bete dengan membuat kegiatan yang menyenangkan. Waktu itu, daripada stres melihat kaca jendela yang dibuat buram, lagian apa juga yang mau dilihat di luar , saya manfaatkan koneksi internet yang super ciamik dibanding koneksi di tanah air. Yang kalau lama-lama bisa bikin orang yang kesabarannya tipis kayak saya tidak tahan untuk menghajar laptop berkali-kali hahaha. Daripada rusak, ya enggak usah online sekalian .

Begitulah awal mulanya terpikir soal blog Mama Sejagat. Hanya Tuhan yang tahu susahnya mencari kontributor waktu itu hehehe. Saya kaget waktu ada orang yang menuduh saya hendak mencuri tulisan-tulisan di blognya. Santai, Mama. Saya selalu menuliskan nama kontributornya, kok. Walaupun tulisannya biasanya saya edit mati-matian. Begitu pun dengan foto-fotonya (kadang-kadang).

Blog komunitas tapi single fighter. Saya enggak berani menuntut lebih kepada kontributor yang lain. Lagian tak ada honor yang berani saya berikan. Cuma iseng-iseng saja hehehe. Suami suka ngeledek, “Subuh-subuh sudah bangun. Sibuk sendiri depan laptop. Mending kalau ada duitnya.” Hehehe.

Tapi ya gimana, saya senang, euy. Hehehe. Padahal saya sudah lama punya blog sendiri. Tapi memang di blog pribadi dulu enggak niat untuk publikasi. Murni curhat lokal hahaha. Melalui Mama Sejagat, saya belajar banyak tentang cara agar blog kita hitsnya bertambah, cara mendaftarkan blog di search engine. Macam-macamlah. Serius sekali mbak kita ini, padahal sorangan wae, duit pun tak ada. Hahaha.

Kadang suka kesal, sudah berhari-hari, kontributor enggak ada yang mengirim tulisan. Memaksa saya untuk bergerilya lagi, SKSD sana sini cari-cari orang yang kira-kira mau berkontribusi untuk Mama Sejagat. Anak bungsu masih kecil sekali waktu itu, jadi ya, waktu ngeblog hanya tengah malam atau subuh-subuh, saat semuanya masih pada teler di tempat tidur hehehe.

Eike sudah berlatih hidup tanpa embak dan tak pernah terpikir lempar-lempar cucian ke binatu. Padahal kondisi di Jeddah dan pundi-pundi suami sangat-sangat memungkinkan hal ini terjadi. Dalam hati, sudah siap-siap mana tahu suatu hari harus mangkal di negara-negara maju yang tidak kenal bibik dan laundry mahal. Hahahahha. Untung beneran tinggal di Eropa, kalau tidak, sia-sia itu ‘latihan’ di Jeddah hahahha.

Setahun pertama menyumbangkan kemampuan menulis untuk blog gratisan semacam Mama Sejagat bagai ‘musim gugur’ saking itu blog kok kayaknya enggak tenar-tenar juga, ya. Hahahaha. Untungnya selalu hepi dalam menjalani, jadi ya, tenar enggak tenar, yang penting batin puas .

Belakangan, ada Isti dari Kurdistan yang sangat tertarik menulis di sana. Dan semoga sanggup melanjutkan tongkat estafetnya, ya. Hehehe. Terus terang, saya sudah punya banyak keinginan lain dimana Mama Sejagat tidak masuk dalam prioritas utama lagi. Jadi Mak Isti, kupercayakan padamu, ya . Saya sih tetap ingin menjadi kontributor tapi ingin melepaskan diri dari embel-embel ‘pimpinan’ .

Siapa tahu anak-anak sudah besar-besar dan mandiri, Mama Sejagat masih ada, pasti akan saya perjuangkan kembali seperti dulu saat pertama memulai pondasinya, 2 tahun yang lalu.

Tak saya sangka, setahun terakhir updatenya pas-pasan, blog ini diliput oleh sebuah koran lokal. Mendadak dapat banyak DM di twitter hehehe. Terharu juga, ya. Jerih payah yang dulu disumbangkan untuk membesarkan Mama Sejagat mulai ada sedikit penghargaan. Walau di luar cuaca musim gugur masih kental, dalam hati berasa musim semi melihat timeline hari minggu kemarin hehehe. Norak, norak, norak 😛.

Pikiran Rakyat, Minggu 3 November 2013
Pikiran Rakyat, Minggu 3 November 2013

Jadi, jerih payah memang pasti akan berbayar. Mau setahun, dua tahun, eventually…pasti akan ada hasilnya . Sekarang, aduh, sampai meluber komentar di blog yang bersedia jadi kontributor. Hajar, Mak Isti hehehehe.

Musim semi tengah menghampiri Mama Sejagat. Mungkin nanti bakal ada-ada lagi episode musim gugurnya. Tapi abis itu masa senang-senangnya juga akan datang silih berganti.

“Fall has always been my favorite season. The time when everything bursts with its last beauty, as if nature had been saving up all year for the grand finale.” -Lauren DeStefano, Wither-

Seperti musim, tahun pun terus berganti. Hari ini, seluruh umat muslim akan kembali memasuki pergantian tahun . Selamat Tahun Baru Hijriyah. Apa resolusi tahun baru teman-teman? .

Kalau tahun yang akan segera kita sudahi ini lebih banyak empet-empetnya daripada senang-senangnya, jangan gentar! Siapa tahu, episode musim gugur yang dituliskan untuk perjalanan tahun yang akan berlalu akan dibayar dengan cantiknya pencapaian di tahun baru nanti. Iya, kan? Jangan-jangan musim semi tengah menanti di 1435 H nanti.

Pokoknya tetap semangatlah. Jangan terlalu letop menghadapi lingkungan. Jangan berani-berani menyalahkan perputaran dunia.

“Life asks no question, it goes on without you. Leaving you behind if you can’t stand the pace.” (Desree – You Gotta Be)

Ikhtiar jalan terus, doa tak akan terputus. Begitulah konon kombinasi dari usaha terbaik seorang muslim dalam menaklukkan dunia .

Selamat tahun Baru 1435 H ^_^. Stand the pace, Buddies ;).

***

Pantai Thuwal di Harian Pikiran Rakyat

Pantai Thuwal, salah satu tempat liburan andalan pas di Saudi nih hehe. Ternyata, muncul di Pikiran Rakyat edisi minggu kemarin. Edisi tanggal 22 september.

Akhir-akhir ini, energi menulis tersedot sama lomba-lomba blog dan geragasan bikin naskah buku hahaha, jadi yang media cetak sempat terlupakan.

Padahal fotografer Dani Rosyadi lagi hot-hotnya motret-motret hehehe. Apa kabar ini Dublin-Galway-Athlone, sudah punya foto segambreng, tulisannya belum dibuat sama sekali? :D.

Btw, jika ingin mengirim rubrik jalan-jalan ke harian Pikiran Rakyat, silakan dikirim via email ke yudiawan@gmail.com. Sekitar 5500 karakter/huruf, foto-foto pelengkap sekitar 4-5 buah foto berukuran minimal 500 KB. Dikirimkan terpisah. Jadi, foto jangan dimasukkan ke dalam naskah/tulisannya :D. Luar negeri – dalam negeri, dua-duanya boleh.

Good luck ;).

thuwal pikrak

Perdana di Harian Pikiran Rakyat :D

Banyak teman yang juga gemar menulis tulisan jalan-jalan yang tulisannya dimuat di rubrik “Backpacker” harian “Pikiran Rakyat.” Tentunya langsung latah ikut-ikutan ngirim ke sana hehehe.

Saya sempat mengira jangan-jangan tulisan saya tentang situs Clonmacnoise kurang cocok dimuat di koran yang bersangkutan. Soalnya mengirimnya sudah sebulanan yang lalu. Dasar kurang sabar , saya email lagi ke redakturnya. Maksud saya, kalau kurang cocok dengan ‘misi’ Pikiran Rakyat, saya punya banyak stok tulisan/foto-foto Saudi yang sudah dipermak sama Pak Fotografer saya yang sedang mendalami teknik editing hehehehe.

Eh, ternyata kata redakturnya mau dimuat minggu ini . Sip, barusan dapat fotonya dari teman via Twitter;).

Clonmacnoise, salah satu situs monastik yang berbau Katolik yang memang banyak ditemukan di Irlandia. Terletak di salah satu pesisir Sungai Shannon, tempatnya cukup dekat dari kediaman saya dan keluarga. Pemandangan alamnya baguuusss banget . Hijau di mana-mana. Sisa-sisa reruntuhan kastil dan biara di masa keemasan kompleks Clonmacnoise beberapa ratus tahun yang lalu masih ada.

Lebih lengkapnya, simak di koran Pikiran-Rakyat, edisi hari minggu 18 agustus kemarin. Cek di epaper-nya belum diupdate yang bulan agustus 🙁. Masih pada libur lebaran kali. Tapi dapat email dari redakturnya beserta file pdf semacam bukti terbit kali, ya.

Apa situs online Tabloid Prioritas juga masih libur, ya? Pengin melacak tulisan tentang Pantai Thuwal di sana. Repotnya tabloid Prioritas ini, hanya bisa didapatkan bila berlangganan. Tidak dijual bebas, booo huhuhu :(.

Ah ya, berminat mengirim tulisan jalan-jalan ke rubrik “BackPacker” yang tayang tiap hari minggu di Harian Pikiran Rakyat? Kirim saja email ke yudiawan@gmail.com. Jumlah karakternya enggak banyak, kok. Sekitar 5500 karakter saja (karakter bukan kata, karakter = huruf, ya). Sertakan sejumlah foto sekitar 5 buah, resolusi medium/high. Ukurannya ya minimal 500 KB. Ingat, kalau mengirim tulisan jalan-jalan, foto dipisah ya dari file naskah :).

Honor katanya sekitar 400-500 ribu. Not too bad lah ;). Tulisannya pan pendek ini hehehe. Ayooo, pada latah, pada latah :D.

Rubrik "Backpacker" Harian Pikiran Rakyat, Minggu 18 Agustus 2013
Rubrik “Backpacker” Harian Pikiran Rakyat, Minggu 18 Agustus 2013