Pasca serangan bom dan aksi terorisme di Kota Surabaya minggu lalu, pemeriksaan mendadak ketat seharusnya dianggap wajar saja. Sayang kok bisa jadi ramai ya? :(.
Yang disesali juga banyak diantara teman yang sama-sama diaspora dan sudah pernah ke mana-mana kok juga ikut mengkritisi dengan ucapan misalnya, “Ih, gimana cobak perasaan kita kalau digituin?”
Laaaaah, kelian-kelian sudah pasti ke sana sini naik pesawat mampir bandara dulu toh yaaaaa. Masa iya di bandara mau naik pesawat enggak pernah mengalami pemeriksaan ketat begini? Apalagi di level bandara, tempat lalu lalang segala manusia dari mana-mana mau ke mana-mana .read more
Yang follow di Instagram saya mungkin sudah lihat banyak titik-titik di Insta Story pas sabtu kemarin hahaha. Puas-puasin deh bikin Insta Story mumpung ada kesempatan jalan-jalan di saat udara lagi cerah dan membahagiakan.
Updated 2021 : akhirnya yak, segala insta story dikumpulin + video2 dari hape dan voila! Jadilah vlog jalan-jalan ke Kylemore Abbey inih hehehe, cuuusss) :
Konon, dalam salah satu kisah penduduk asli Amerika, suku Indian, wilayah Texas di suatu masa pernah dilanda kekeringan panjang. Menyebabkan kelaparan dan kematian.
Penduduk setempat pun memohon petunjuk kepada sang dewa, The Great Spirit. The Great Spirit akhirnya memberi jawaban.
Selama ini penduduk dianggap abai terhadap alam dan lingkungan. Mereka terus menerus mengeksploitasi alam untuk kepentingan mereka sendiri. Tidak pernah memikirkan kepentingan selain untuk diri manusia sendiri.
Penduduk pun diminta untuk melepaskan harta terpenting mereka sebagai bentuk pengorbanan. Karena selama ini alam lah yang terus menerus berkorban. Manusia sangat serakah. Hanya mengambil tiada memberi.
Foto bareng ibu-ibu piknik musim semi ke Ennis, Texas (April 2017)
Para penduduk sibuk memikirkan dan berdiskusi siapa yang harus mengorbankan apa. Tak ada titik temu. Masing-masing merasa enggan untuk memberikan kepunyaannya secara sukarela.
Seorang gadis kecil yatim piatu yang sebatang kara termenung sendiri memikirkan petuah tersebut. Orang tuanya sudah meninggal karena kelaparan. Dia tidak punya saudara lain, tidak ada siapa-siapa lagi. Sebuah boneka berbulu biru di kepalanya, satu-satunya harta terpenting buat si gadis kecil.
Di suatu malam, si gadis membakar boneka tersebut dan menebarkan abunya ke 4 penjuru mata angin, Timur-Barat-Selatan dan Utara. Sebagai tanda permohonan agar alam mau mengampuni kesalahan para penduduk dan berkenan mengakhiri penderitaan mereka.
Keesokannya, lembah-lembah dipenuhi bunga bunga indah berwarna biru sebagai tanda diterimanya persembahan boneka berbulu biru sang gadis kecil. Hujan pun turun menyudahi kemarau panjang.
Itulah legenda Bluebonnet, bunga-bunga liar berwarna biru keunguan, akan bermunculan di padang-padang rumput saat musim semi menghampiri wilayah Texas.
Sejak tahun 1901, Bluebonnet resmi dijadikan The State Flower of Texas .
Tentu saja, saat musim semi datang kembali di tahun ini, Bluebonnet bermekaran di mana-mana di seantero wilayah Texas. Pastinya, wajib banget dong ya foto-foto keluarga di tengah-tengah bunga-bunga biru ini sebagai tanda eksis pernah mampir di Texas hahahaha .
Ini kisah jalan-jalan tahun lalu saat kami setahun numpang lewat di negara bagian Texas, USA. Numpang lewatnya lama juga dan sangat-sangat berkesan <3. How are you Texas? 😀
The boys, piknik Bluebonnet ke Ennis-Texas (April 2017)
Jadi deh, bulan April tahun lalu, kami pun rame-rame piknik ke Ennis, salah satu kota yang spot bunga indah Bluebonnetnya paling heboh di wilayah utara Texas .
And here’s the video to memorize the moment . Walau matahari bersinar cerah, anginnya masih lumayan kencang. Itu segala jilbab dan baju berkibar-kibar terus di video hihihi. Anak-anak sih enggak peduli ya. Tetap saja pecicilan sana sini. Adek-adek bayi juga pastinyaaaaa .
Kemarin 4 keluarga ini, sama-sama anak 3, dan bungsu kami semua usianya deketan gitu keempat-empatnya. Bisa kebetulan gitu ya hehehe.
Btw, jangan menunggu alam ngambek ya sebelum benar-benar memahami bahwa manusia sesungguhnya diutus ke bumi ini sebagai khalifah/pemimpin terhadap seluruh makhluk hidup yang ada di bumi.
Ingat, situ tidak tinggal sendiri di bumi ini. Sayangi hewan dan tumbuhan. Gak usah ribet-ribet, cukup jangan buang sampah sembarangan dulu, yes? .
Kota Galway ini termasuk salah satu kota turis utama di Republik Irlandia. Salah satu spot menarik untuk wisatawan adalah wilayah pantainya yang berbatasan langsung dengan Laut Atlantik.
Galway ini terletak di bagian barat Pulau Irlandia. Dari ibukota Republik Irlandia, Dublin, Galway berjarak kira-kira 200 km dan bisa ditempuh dengan menyetir mobil selama 2,5 jam.
Minggu lalu kami sekeluarga jalan-jalan ke Galway untuk mencoba buffet makanan halal yang katanya murah dan enak di kawasan Eyre Square di City Center – Galway. Rekomendasi dari Neng Maya dan Bang Ijal, nih. Jadi deh kita jalan-jalan bareng mereka sekeluarga.
Kalau follow akun Instagram saya, pasti sudah kenyang yes lihat insta storynya tempo hari hahaha. Iya nih, jadi banci Insta Story. Mayan, buat riya’-riya’ temporer hahahaha.
Kemarin itu cuacanya kurang enak buat nongkrong ke pantai. Dingin dan berangin. Tidak ada sama sekali agenda ke pantai. Muter-muter City Center aja. Nih vlognya segala sudah ada :p.
Makan siangnya di buffet makanan halal, “Pomegranate Turkish” di sekitaran Eyre Square. Tepatnya di 2 17 Eglinton Street, Galway. Sempat muter-muter nyari parkiran. Akhirnya jalan agak jauh karena kita tidak terlalu paham tempatnya di mana. Nyempil di tengah gitu. Jalanan di sekitaran City Center sempit-sempit, takutnya enggak ada parkiran.
Maya sudah duluan bersama keluarga. Judulnya makan siang, tapi kami nongolnya sekitar setengah 3 siang. Itu jalan ke sana sudah sambil nahan-nahan lapar hihihi.
Berangkat agak telat karena ngotot pengin ngepel rumah dulu. Janji jam 12, molor jadi jam 1 berangkatnya. Itu juga mampir-mampir beli-beli di ALDI dulu. Terus si Papa mampir kantornya mau nge-print sesuatu, makin lama aja dah zzzzz -_-.
Btw, makanan di halal buffet ala-ala makanan Turki tadi … enak bangeeeeettt (y). Cucok deh dengan selera kami. Enggak sia-sia nyetir sejam-an ke Galway hehehe.
Tetap saja baper kalau ingat resto-resto sejenis langganan kami sekeluarga tiap akhir pekan waktu masih di Texas huhuhu. Mana di Texas harganya kan lebih murah. Inget dulu nasi biryani seporsi cuma 2.99 dolar ^_^.
Tapi Pomegranate tadi juga endeus abis, kok (y). Harganya pas lah untuk ukuran resto Irlandia.
Setelah makan siang, mampir ke Toko Asia nyari-nyari bumbu-bumbu dan berburu tempe. Sayang, tempenya tidak ada, stoknya lagi kosong. Di kota tinggal kami enggak ada tempe jadi kalau ke kota-kota besar seperti Dublin atau Galway, so pasti nyari tempe menjadi agenda utama jalan-jalan.
Tadinya pengin langsung pulang tapi akhirnya ikutan jalan-jalan muter-muter di Latin Quarter. Dulu sih sudah pernah juga sekeluarga ke sana. Tapi lebih rame biasanya lebih seruuuuu ;).
Bareng Neng Maya, the only 2 indonesia-girls in Athlone. Literally! Hahaha.
Sempetin juga ngeliatin lokasi apartemen barunya si Nurul. Nurul nih, anak-Athlone bayangan yang tinggal di Galway hahaha. Kapan neeeehhh ketemu lagi, Mbak’e? Sibuk bener ciiiiiihhh. Disamperin malah ke Dublin huhuhu. Akhirnya cuma ketemu sama pintu gerbang rumahnya doang :p.
Terus kita pun ngadem di dalam mal, Eyre Square Shopping Center. Lihat-lihat enggak jelas sampai akhirnya anak-anak bosan minta ke playground.
Yo weeesss, main-main ke playground di Eyre Square Park. Puas-puasin deh 5 bujang ini gedebrukan di sana. Bisa gitu ya, anak-anak kami laki-laki semua jadi emang cocok maen bareng :D.
Kayaknya bakal jadi agenda bulanan nih makan siang di buffet halal ini ;). Yang di Dublin kurang enak rasanya.
Gak banyak foto-foto, soalnya sibuk bikin video ajah. Dilihat di vlognya ajalah di link di atas tuh, yes? :p.
Hidup merantau di luar negara kelahiran inilah yang membuat saya berkesempatan untuk kenalan langsung dengan beberapa perempuan Indonesia yang menikah dengan orang asing . Sekaligus juga mengamati respons dari sesama diaspora perempuan Indonesia yang statusnya beda terhadap mereka.
Ya bisa ditebaklah sebagian stereotip orang-orang terhadap mereka, yak.
Gambar : familyshare.com
Tapi beberapa sih agak misleading. Seperti misalnya tuduhan OKB. Duh, percaya deh sama saya, yang OKB itu kayaknya bukan yang cuma suaminya bule saja. Saya lebih sensitif soalnya saya kan memang tampilannya “kumuh” jadi sering jadi “sasaran” huhuhu .
Tahu sendiri kan kalau kita di Indonesia ini, kumuh = miskin . Aish, dinikmati sajalah. Kalau ada yang lagi ngomong tinggi-tinggi ya kasih senyum manis saja. Lagian waktu di Jeddah sudah sering disangka asisten rumah tangga, bahkan sesama orang Indonesia yang baru kenal! Sudah kebal hahaha *ngakakPasrah*.
Soal barang bermerek sebenarnya begini, ya. Mungkin karena kita datang dari negara berkembang yang tingkat kesenjangan sosial tinggi. Jadi kalau pakai barang bermerek ya singkatnya = orang kaya gitu-gitulah.
Sementara di luar negeri, apalagi yang model sosialis seperti sebagian besar negara-negara di Eropa Barat, pakai barang bermerek sih sudah bukan hal yang luar biasa . Nah, mungkin karena terbawa dengan gaya hidup suami dan keluarganya, jadi para “istri bule” ini ya terlihat sombong dan norak hehehe.
Padahal mungkin tidak ada niat untuk belagu. Kalau soal pamer-pamer, ah, di mana-mana juga perempuan kan sudah biasa lah saling pamer ini itu . Sama sekali tidak ada hubungan dengan status “istri bule” nya.
Misalnya juga suka ke pub, bar, kafe untuk ngumpul dan minum. Gaya hidup beginian mungkin masih dianggap “high class” buat kita di Indonesia. Tapi yah orang bule ajang ngumpulnya emang gituuuuuu .
Teman saya di sini ke bar minum-minum ya bareng suami dan ipar-iparnya malah. Bukan karena sok-sok gaul. Itu memang aktivitas biasa buat keluarga baru mereka. Bagian dari proses adaptasi standar.
Apalagi yang menikah dengan suami yang masih muda-an. Kalau suami yang sudah berumur biasanya sudah jarang main ke pub.
Tapi emang di Jakarta dulu gitu ya, kayaknya yang suka ke pub yang gaul-gaul doang.
Kayak saya gini, dulu pulang kerja ya umpel-umpelan di angkot atau di KRL Ekonomi pengin cepat-cepat pulang, mandi, cuci kaki terus bobok hahahaha #anakKampung.
Jadi, jangan salah paham, yes?
Gambar : wolipop.detik.com
Ada pun memang diantara “istri bule” ini ada yang korslet juga. Misalnya menganggap diri lebih keren karena hal-hal seperti itu. But again, ya kita bisa apa sih? Hempaskan sajah yang model begini. Toh tidak semuanya .
Nah, soal wajah juga banyak yang sering menyindir mereka dengan istilah “muka pembantu”. Waduh, urusan kecantikan memang BUKAN kesepakatan universal, ya. Terlebih di kalangan perempuan.
Misalnya kita yang di Asia ini tergila-gila pengin punya kulit cerah, yang di Eropa malah mati-matian ngejar sinar matahari biar kulit mereka kecoklatan. Malah ada salon khusus bagi eneng-eneng bule yang kepengin punya kulit lebih gelap secara instan.
Nah di Indonesia juga ada salon-salon yang menyediakan fasiltas mandi susu gitu, kan? Katanya buat mutihin kulit. Begitulah hidup, ketidakpuasannya tiada akhir .
Makanya konon selain KESABARAN, karakter pandai bersyukur itu juga termasuk super sulit dalam praktiknya –> memandang nanar ke arah tumpukan skin care di atas meja rias sendiri zzzzzz .
Jadi saya rasa tidak ada alasan untuk merendahkan mereka secara fisik hanya gara-gara para pria bule kecantol dengan eksotisnya wajah dan kulit mereka . Lagian itu itungannya sudah menghina. Enggak boleh dong ya, teman-teman .
Kulit sawo matang, salah satu ciri khas kecantikan perempuan Indonesia 😉 (Gambar : kapanlagi.com)
Banyak juga yang menganggap perempuan Indonesia yang menikah dengan bule PASTI ngincer harta, pengin hidup enak, bla bla bla. Yaelaaaaa, banyak juga kaliiiiii mereka yang sehari-harinya setelah menikah dan punya anak ya kayak kita-kita jugaaaaaa .
Dari pagi sampai malam ya ngurus anak, ngurus suami, memasak di dapur, apalagi di luar negeri susah punya “tangan ketiga”. Kadang mereka saling curhat juga capeknya ngurus anak dan terlibat drama-drama pergaulan ya macam-macam kita inilah.
Yang tetap bekerja setelah menikah juga tidak sedikit. Tetap bekerja keras mencari penghasilan sendiri dan mandiri dalam hal keuangan .
Kalau dibilang para istri bule suka nyinyir-nyinyiran, lagi-lagi percayalah padaku, saya sudah kenyaaaaaangggg melihat perselisihan khas emak-emak (apa pun kewarganegaraan suaminya!) di Jeddah, di Irlandia sampai di Texas hahahaha.
Orang bule juga tidak semuanya tajir melintir, kok. On the other hand, buat teman-temanku tersayang yang nikah dengan bule jangan menganggap enteng suami-suami kami yang bukan bule ini, lhoooo . Saling menghargai itu kan enak ya #maapCurcolSikit.
Adek bayi hasil kawin silang Ambon – Irlandia hihihihi
Saya “kumal” begini bukan karena suami tiada punya uang kok #pukPukSuami. Emang daku orangnya kikir parah . Mau berapa banyak uang, sifat saya dari dulu ya gitu, phobia sama barang-barang mahal hahahaha. Tapi kalau dikasih mah doyan, zzzzzzz hihihihi *ngikikLicik*.
O ya, tidak semua istri bule ini punya tingkat pendidikan rendah.Ini juga stereotip yang sangat disayangkan . Sampai ada yang suka nuduh, bahasa Inggris aja enggak bisa tapi gatel pengin punya suami bule.
Yang saya temui banyak banget lho yang bahasa Inggrisnya sangat-sangat jauh di atas rata-rata. Mereka ini juga tidak jarang ketemu suaminya karena sebelumnya menjadi ekspat di luar negeri.
Sebaliknya juga suka dituduh sok-sok lupa bahasa Indonesia dan suka kecampur ngomongnya. Ya ini manusiawi banget lah. Ingat lho, mereka sehari-hari di rumah hidup bersama suaminya yang bule, beda sama kita-kita yang walau di luar negeri ya tetap berbahasa Indonesia di rumah .
Juga salah banget kalau menuduh istri bule ini suka sok kebarat-baratan makanannya. Saya sudah sering banget mendengar cerita teman yang suaminya non Indonesia malah tergila-gila sama kuliner nusantara termasuk terasi hihihihi.
Sudah kenal sama Mbak Lia kan? Mantan pejudo nasional asli Wong Kito Galo (bener gak nih Mbak nulisnya hahaha) yang menikah dengan suami Arab asli Palestina yang sekarang bermukim di Israel?
Walah, suka stres kalau Mbak Lia pamer empek-empek dan aneka sajian nusantara di wallnya huhuhuhu –> jadi pengin terbang ke Israel saat itu juga . Beliau sukses membungkam perut suami dan anak-anak dengan rupa-rupa santapan khas Indonesia .
Itu si Mira, sesama perantau asal Makassar yang sama-sama lagi terdampar di Ireland, kalau masak juga enggak jauh-jauh dari coto, bakso sama burasa’ Manami ini cotonya gang? Ndak pernah sampe sini .
Banyak yang sinis mengira mereka ini rata-rata cuma pelayan hotel rendahan yang hokinya bagus bisa menggaet tamu hotel. Atau bahkan disangka (maaf) perempuan penghibur yang sukses mencuri hati pelanggannya. Saya sedih kalau ada yang bilang begini .
Memang saya ada teman yang dulunya pegawai hotel yang ternyata berjodoh dengan salah satu tamu hotel di tempat dia bekerja. Tapi ingat ya, si embak ini pekerjaanya resepsionis di salah satu hotel berbintang yang berlokasi di luar Indonesia. Sama sekali bukan profesi murahan .
Saya pribadi salut dengan keberanian mereka. Tidak mudah meninggalkan keluarga besar di tanah air untuk hidup bersama orang asing di negeri asalnya. Pasti beda rasanya dengan kita-kita yang merantau bareng suami yang se-negara. Lah ya kita aja berat suka banyak dramanya. Apalagi mereka.
Kalian boleh baper kalau lihat foto-foto mereka lagi jalan-jalan. Padahal jalan menuju ke sana tidak selalu seindah gambar-gambar pemandangan di luar negeri.
Kan sudah pernah saya tulis, tiap jalan hidup punya rahasianya masing-masing .