tara salvia bintaro review

Tara Salvia : Sekolah Idola di Bintaro

Tara Salvia ini memang sudah lama kedengeran sebagai salah satu sekolah idaman para orang tua di area Bintaro dan sekitar. Kalau anak-anaknya belom tau deh ya. Ada surveynya gak? Hehehehe. Soalnya kan yang nyari dan nentuin sekolah kan para ortu biasanya.

Kebetulan tetangga depan kompleks anaknya juga masuk Tara Salvia. Sebenernya mereka inginnya masukin anak ke Sekolah Cikal di BSD. Cuma jauuuuuhhhh huhuhu. Uang tol kalo dikaliin kan lumayan juga tuh.

Insert <!–Ads1–>

tara salvia bintaro review

Ambil Formulir pun Cukup Ketat

Poin pertama ini salah satu bukti nyata kalau sekolah ini termasuk incaran utama para orang tua di area sekitar.

Untuk ambil formulir pun persaingannya lumayan juga. Konon kudu dari subuh. Walau sistemnya online tetep rebutan. Saya tidak mencoba sih. Soalnya memang sejak awal saya mencari sekolah yang pengantarnya Bahasa Inggris. Terkait anak-anak baru pertama kali ini sekolah di Indonesia.

Waktu lari di BinLoop juga papasan dengan teman kuliah yang tinggal deket sini, dese pun cerita sempat mau masukin anak ke Tara Salvia tapi ya ngeri sama persaingannya hehehehe.

LOKASI

Alamat :  Jl. Menjangan Raya No.9, Sawah Lama, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15413

Ini dia salah satu faktor pendukung mengapa kami sama sekali enggak survey ke sana (selain masalah bahasa). Lokasinya relatif jauh dari kediaman kami. Tapi katanya sih jalan alternatif ke sana enggak macet kok.

Sudah terbiasa juga di Ireland cap cuuusss nyetir ke sekolah cuma 5 menit jadi bayangin ke sekolahan bisa makan waktu 30 menit aja udah gentar. Padahal kata teman teman di sini 30 menit lah oke oke aja, masih relatif wajar untuk ukuran Jabodetabek.

Akun Instagram Sekolah ada di sini, ya.

Biaya Sekolah

Langsung saja masuk ke salah satu poin penting ini hehehehe :p

Untuk tahun ajaran 2021 biaya sekolah sebagai berikut (catatan : mungkin di tahun-tahun ke depannya biasanya ada kenaikan) :

  1. Formulir  dikenakan biaya 750 ribu rupiah. Ada pilihan untuk pendidikan inklusi juga (sama seperti Sekolah Tunas Indonesia yang menyediakan kelas inklusi). Formulir inklusi 300 ribu rupiah.
  2. Deposit : 5 juta rupiah
  3. Development Fee : Rp.43,800,000 untuk yang mulai dari kelas 1 SD (sampai kelas 6 ini). Kalau masuk di tengah biasanya tidak sebesar ini, nanti ditanya aja langsung ke sekolah. Biasanya juga dipotong gak banyak-banyak sih. O ya, yang 5 juta sudah include dalam biaya ini.
  4. SPP bulanan : 2,25 juga rupiah/bulan
  5. Uang kegiatan : 3,5 juta rupiah (ini tahunan ya).
  6. Ada biaya seragam. Kalau gak salah di bawah satu juta kok ini uang seragamnya.

 

Kurikulum dan Bahasa Pengantar

Kurikulum yang digunakan Tara Salvia adalah kurikulum nasional. Bahasa pengantar full bahasa Indonesia. Kecuali mata pelajaran Bahasa Inggris yang tentunya menggunakan bahasa Inggris.

Penentuan nilainya sih katanya berimbang jadi tidak melulu nilai akademis saja. Nanti sistem penilaian ada yang berbentuk narasi. Mirip sama rapor anak-anak di Irlandia kayaknya ini. Tapi kalau di Ireland, rapornya pakai rate 1 sampai 5, gak ada angka A, B, C atau nilai 0-100 sih hehehehe.

Fokus ke pendidikan karakter katanya juga lebih terasa di pendidikan ala sekolah Tara Salvia ini. Banyak itu testimoni para orang tua yang menyekolahkan anak di sini. Coba digali-gali di forum-forum situs The Urban Mama atau Mommies Daily. Cuuussss digoogling :D.

Sistem Belajar yang Lebih Menyenangkan

Kalau dari testimoni para orang tua, Tara Salvia ini sistem belajarnya cukup rileks buat anak-anak. Tugas- tugas kebanyakan dikerjakan bareng bareng di sekolah. Jadi PR individu itu kadang kadang saja. Tidak ada semacam PR reguler.

Juga yang sering disebut-sebut adalah soal keberagaman keyakinan. Tara Salvia punya komitmen lebih untuk meningkatkan toleransi dalam perbedaan keyakinan. Poin ini sangat cocok di saya ;). Saya memang menghindari memasukkan anak-anak ke sekolah yang cenderung “homogen”, terlebih dalam masalah keyakinan beragama.

Tapi tentunya masing-masing orang tua terkait hal ini punya pertimbangan sendiri-sendiri ya ^_^. Dan itu tidak masalah sama sekali :).

Daya Tampung Sekolah

Di tahun ajaran terbaru saat itu (2021/2022), Tara Salvia akan membuka 3 kelas untuk angkatan barunya. Soalnya beberapa tahun lalu cuma ada 2 kelas. Sekarang ditingkatkan jadi 3 kelas.

Jumlah siswa maksimal 24 orang per kelas dengan jumlah guru berimbang. Karena sekolah ini cukup mengutamakan kemampuan anak dalam berkelakuan baik secara sosial dan individu (gak hanya fokus pada nilai nilai akademis), tentunya guru harus lebih ekstra dalam urusan pengawasan.

Makanya SIKAP dan TINGKAH LAKU termasuk salah satu penilaian utama di sekolah.

Jam Sekolah

Soal jam sekolah kayaknya standar saja ya. Untuk yang offline class dimulai pukul 07.30 pagi sampai 13.00 siang (untuk kelas 1 dan 2). Untuk tingkat di atasnya sepertinya sampai jam 14.00 siang.

Untuk online class selama pandemi, kelas 1 dan 2 hanya belajar selama 2 jam. Screentimenya 30 menit. Entah gimana ini penerapannya maksudnya. Kalau gak screentime, bagaimana cara guru memantau anak-anak ini saya masih kurang paham. Atau mungkin standar saja ya, mengerahkan ortu masing-masing di rumah? Hihihihihi.

Segitu dulu informasi soal sekolah Tara Salvia. Semoga membantu buat para ortu yang lagi hunting sekolah anak. Memang harus detail dan sabar ya, Dads and Moms ^_^.

Daftarin Anak SMP di Irlandia, Langsung diterima Tanpa Tes? Kok?

Bulan kemarin anak saya mendaftar SMP di sini, I live in a little town in Republic of Ireland. Terus denger cerita temen yang mau balik Indonesia yang daftarin anaknya sekolah di sekolah internasional Jakarta.

It’s pretty hard to let them belajar di kurikulum nasional. Jadi mereka memilih sekolah internasional.

Surprisingly, saya pikir asal mau bayar, langsung cuuussss. Lah masih kena waiting list. Katanya mesti tes dulu dan itu harus dilakukan sebelum Juni. Karena peminat banyak. Whaaattt?? Ribetnyaaaaa. Padahal bayarnya mahal ye kaaaan :D.

Sementara itu, minggu lalu dah dapat kabar kalau anak kami udah diterima di SMP lokal sini hihihihihi.

Prosesnya mudah sekali. Tinggal datang ke sekolah, lihat-lihat, nonton pidato-pidato bla bla bla, pihak sekolah mamerin sekolahnya, sekolah buaguuuussss <3. Terus udah. Pulang dan tunggu kabar. Gak ada tes gak ada apa pun. Sesimpel masukin nama doang sama nama SD (primary school) nya.

Terus tau-tau diterima hahahahaha.

Salah satunya lebih karena SISTEM PERSAINGAN HAMPIR TIDAK ADA. Penduduknya sedikiiiiiiitttt. Beberapa kali saya dengar kabar ada sekolah yang di-SHUT DOWN karena kekurangan murid dan pemerintah tidak bersedia mendanai lagi 😅🙈.

Ngomongin kualitas juga gak usah terlalu khawatir antara kota kecil vs kota besar. Gitu-gitu juga kok. Hampir sama. Gak sulit menjaga kualitas sekolah di negara penduduk cuma 5 juta ini.

Anak saya pas saya bilangin di Jakarta itu ada 10 juta penduduk, dia bengong hahahaha. Masa iya katanya satu kota jumlah penduduknya bisa lebih besar daripada di satu negara? Abis itu ya kita ngobrolin Cina dan India serta USA, which is easier karena dulu pernah tinggal di Texas.

Anak saya terasa kok perubahan nyata dari Ireland ke Texas dulu. Di Texas teman jauuuuhh lebih banyak, banyak award-award (semacam rengking tipis-tipis hihihihi). Di Ireland mana adaaaaaaa. Santuuuuuyyyyy hahaha.

Lah ngapain jugak, wong nanti tinggal daftar ke SMP lokal kemungkinan diterima 90% tanpa tes, kok. When in Ireland, kasarnya … we can see THE FUTURE.

When I’m taking about the FUTURE, itu satu paket sama bayangan kita terhadap anak-anak setelah lulus sekolah. Harus kuliah? Gak osah mah. Lulus SMA sudah boleh apply-apply kerjaan di supermarket dengan gaji yang cukup layak.

Terus nanti kalau mereka menikah dan punya anak, ya udah kebayang juga, wong sekolah gratis kok sampai gede, ada child benefit, ada tunjangan ana-unu kalau misalnya nganggur kelamaan, ada tunjangan sewa rumah segala (for emergency only ya).

Karena ibaratnya, asal mau dan tidak pilih-pilih, cari kerja di Irlandia tidak bisa dibilang susah. Lowongan pekerjaan gak pernah kurang-kurang rasanya. Slot buat 2-3 orang paling yang apply maksimal 10.

Di Jakarta, waktu masih kerja di MLI, pernah ngobrol sama HR soal lowongan pekerjaan admin yang sebenarnya cuma butuh lulusan SMA. Tapi yang apply bujubuneng, butuh cuma 5 orang, aplikasi yang masuk lebih dari 100!

Lulusan S2 pun ada. Mau tidak mau, HR harus melalukan “sistem kompetisi”. Akhirnya dicek IPK segala. Ya abis kadang bingung mau gimana menurut HR. Diambil lulusan SMA beneran ya perusahana juga gak mau rugi, kalo ada lulusan S1 ngapain ambil anak SMA?

Kalau lulusan S1 ada yang dari negeri, mereka prefer yang negeri. Kalau sama-sama dari negeri, ya terpaksa dicari lagi yang IPK palingn tinggi. Kalau mau wawancara satu-satu ribeeeeettt, apalagi cuma level admin bukan MANAGEMENT TRAINEE.

Tetangga atas saya tuh di Ireland sini, istri cleaning service di perkantoran, suaminya delivery pizza, sepatu-sepatu anaknya gonta ganti.

Anaknya suka main ke apartemen saya, sahabatan dengan anak-anak kami. Kusuka bingung sepatunya gak pernah sama hahahahaha. Merek gak usah sebut, stres kau nanti 😂😂😂.

Mereka ini anaknya satu tapi mobilnya 2! Karena dua-duanya kerja. Kerjanya ya itu tadi. Suaminya dulu-dulu pernah jadi tukang listrik terus kerja di restoran, sekarang jadi supir buat delivery.

Tempo hari saya ngobrol dengan sang isitri soal jaket dese yang terbaru. “Wow, cool coat” kata saya sambil mengedipkan mata. Dia cekikikan, “From Zara, very good price.”

Clening service di Indonesia coba di-data berapa yang bisa beli mantel di Zara? Jangan yang seken ye kaaan hahahaha.

Kerjaan-kerjaan kayak gitu tetap menawarkan gaji yang tidak jomplang. Bisa halan-halan ke negara-negara Eropa daratan. Bisa pakai baju-baju bermerek, pokoknya gak akan keliatan status sosialnya kalau cuma papasan di jalan.

That’s the life they had (mostly) in western europe. Kayaknya mirip sama Aussie dan Canada ya. Di US yo jelas bedaaaaaaa hahahaha. Gak seindah itu :p.

Saya tidak punya jawaban SISTEM PENDIDIKAN TERBAIK apakah yang cocok buat Indonesia. Cuma kumerasa agak nganu aja kalau kita terlalu sering berkaca mentah-mentah dari negara-negara yang menerapkan sistem “welfare state” dengan berbagai kondisi yang jauh berbeda dengan Indonesia :(.

Waktu tinggal di Bern(Swiss), sering ketemu mas-mas yang nenteng gitar naik tram. Mau kerja, katanya. Kerjanya ya gitu jadi pengamen di stasiun. Bajunya rapi, area tinggalnya juga lumayan. Ternyata semacam pengamen “resmi” khusus di stasiun itu. Bisa hidup layak euy 🥰🥰🥰 .

Bagai surga memang di Swiss, tapi surga mendadak mati lampu begitu kuterpaku dengan harga barang-barang di supermarket dan tentu saja … pajaknya yang aduhai walau tidak sesadis Jerman-Belanda.

Beda banget dengan Arab Saudi, yang gajinya turah-turah tanpa pajak, tapi tetep aja suka disangka pembokat hahahaha. Soal living in Saudi, saya udah sering cerita yes? Onak duri banyak tapi soal gaji, luar biasaaaaaaaaa mana kerjanya santai pula kata suami 🤑🤑🤑🤑.

Gusti Allah, adakah hidup di dunia yang senyaman di Indonesia urusan keramahan dan kuliner murah-murah, gaji Timur Tengah (waktu era tanpa pajak hahaha), teknologi secanggih US, sistem pendidikan santuy yang macam Finlandia (katanya), jumlah penduduk kek Ireland, pemandangan alam ala Swiss (minus winter hahahaha).

Uniknya, yang terkenal “ngeri” urusan otak malah etnis Cina dan India. Mereka sering dikritik karena terlalu kejam soal pendidikan ke anak. Tapi diaspora mereka terus menyebar “mengancam” dunia di mana-mana.

Sampai-sampai konon beberapa uni di US harus “membatasi” dan sedikit diskriminatif soal etnis saking banyaknya 2 etnis ini di sana. Sik, sik, nanti kucari sumbernya kutaro di kolom komentar, ya (y)

Jadi gimana? Ya gak gimana-gimana. Ya emang rumit kok. Sekadar mengamati aja kuudah merasa tet-tot, gak kebayang jika harus menjadi pemangku kebijakan.

Begitulah. C’est la vie.

New-Daily Vlog : Jemput Anak dari Sekolah di Irlandia

Sudah lama enggak ngobrol-ngobrol soal keseharian di Irlandia, nih. Sibuk nulis-nulis macem-macem hehehe.

Ini sebenarnya video bulan lalu. Baru sempet tulisannya di blog. Waktu itu bikin vlog pas jemput bocah (si bungsu) dari sekolah. Gak pakek gimbal makanya goyang-goyang gambarnya :(.

Ini dia videonya :

Gimbal ponsel tuh bulky banget. Di sini kotanya sangat sepi dan tidak begitu banyak orang. Takutnya kalau bawa gitu-gituan mudah menarik perhatian depan umum, bisa disangka macem-macem :p.

Di sekolah anak saya di Athlone, anak TK dan kelas 1 wajib dijemput oleh orang tua/guardian nya. Jadi nanti pas pulang, gurunya hand over satu per satu anak-anak ke ortu/guardian masing-masing.

Kalau sudah kelas 2 ke atas baru boleh pulang sendiri. Jadi begitu ke luar dari kelas, guru sudah tidak perlu mengawasi.

Soal sekolah anak di Irlandia sudah pernah saya bikin vlognya juga kok :

Jam masuk sekolah enak banget, jam 9.20 hihihihi. Siang banget yaaaaa :p. Anak TK A dan B (junior infant dan senior infant) pulangnya jam 2 siang. Kelas 1 sampai kelas 6 pulang jam 3 siang.

“Kok masuk sekolah siang amat, gak jam 7 pagi?”

Suasana jam 7 pagi di Ireland pas musim gugur dan musim semi tuh masih gelap gulita. Baru masuk subuh jam segitu 😁😁😁.

Piye mau nganter anak sekolah jam 6 gitu ya 😆😅🙏. Dingin banget pulak 🙄😥. Apalagi ini kota kecil, ke mana-mana masih banyak yang jalan kaki, tanpa bus, tanpa kendaraan pribadi.

#Boy1 dan #Boy2 kalau pulang sekolah sudah bisa jalan sendiri ke rumah. Rame-rame dengan temen-temennya yang juga tinggal di gedung apartemen yang sama dengan kami.

#Boy3 ya jelas masih harus dijemput di depan pintu gedung :D.

Guru di kelasnya #Boy3 lakik boooo. Mulai tahun ajaran ini mulai banyak guru-guru laki-laki. Wali kelasnya #boy3 cakep euy hihihi. Jadi cepet ni lipstik abis secara lipstikan mulu kalau mau jemput, padahal biasanya enggak hahahahaha #ngakakGenit.

Pas pergi sih bisa cepet, jarak 1 km dari apartemen ke sekolah bisa ditempuh dalam 10 menit atau kurang.

Pas pulang jangan harap dah hahahaha. Soalnya #Boy3 ini maunya nemplok sana sini. Segala pager, rumput, rumah orang, mau dimampirin semua 😅😅😅. Cek aja tuh di videonya hehehe.

DI vlog keliatan kan, liat toko dikit mau masuk, segala mau dibeli hahahahaha. Jadi bisa makan waktu minimal 20 menit jalan kaki dari sekolah ke apartemen abis jemput dese :D.

Vlog ini sekadar kenang-kenangan saja. Siapa tahu takdirnya harus pindah dari Irlandia kan, jadi suatu hari bisa lihat-lihat video ini sambil senyum-senyum mengenang kota Athlone ^_^.

Video lain tentang kehidupan sehari-hari di Athlone :

gaji di Indonesia

Life Goes On … :)

Ngomongin gaji di Indonesia termasuk hal yang cukup “sensitif”. Makanya banyak yang enggan terbuka soal ini.

Kisaran gaji secara umum, bukan cuma gaji di Indonesia loh ya, memang tergantung field masing-masing dan PERKEMBANGAN ZAMAN.

Jurusan kuliah saya dan suami kan memang di tahun segitu-segitu masih dianggap BARU. Jaman saya SMA mah, kayaknya semuaaaaaaaa kerabat yang kenal sibuk membujuk sama masuk Kedokteran Umum.

Kakak-kakak saya yang anak Teknik Elektro sibuk membanggakan jurusannya dan menyarankan saya pilih Elektro jugak. Makanya pas daftar mau pilih ILMU KOMPUTER diem-diem aja, takut dinyinyirin duluan jadi gak konsen entar ujiannya :p.

Waktu masih bekerja dan belum punya anak, saya pernah janjian makan malam bersama teman lama saya yang kebetulan lagi melanjutkan sekolah di Jakarta. Dia, bersama suaminya, sama-sama lulusan kedokteran umum dari perguruan tinggi negeri tempat kami berasal. Dokter, cyin.

Sepasang suami istri yang sama-sama lagi ambil spesialis.

Karena saya sebagai pihak pengundang jadi kudu memuliakan tamu dong, ya. Setahu saya, teman ini suka sekali masakan Jepang. Jadi kami ajak ke Sushi Tei.

Bertemulah kami berempat di sana. Dia bersama suaminya, saya bersama suami saya.

Obrolan pembuka yang standar antar suami, suami teman yang bertanya duluan, “Kerja di mana, Mas?”

“Oh, saya kerja di telco.”

“Perusahaan apa, ya?”

“Eri*****.”

Suami teman langsung mengangguk-angguk, “Wah, asyik, dong. Jago benerin hp berarti, ya.”

Hahahaha. Waktu itu saya setengah mati menahan ketawa sementara saya tahu pasti, suami pasti gondok bukan kepalang.

Setelah puas tertawa, sebagai istri yang salehah, saya tentu menghibur suami , “Jangan gitu lah. Sekolah kedokteran itu sibuknya gak tanggung-tanggung, Bang. Manalah mereka bisa se-update kita yang kerjanya banyakan browsing internetnya hahahahaha.”

Waktu lagi mengobrol dengan teman-teman sesama ibu-ibu telco di Jeddah lebih banyak lagi cerita lucu. Paling juara cerita teman satu ini. Kita anggap saja namanya Ibu Telco yang sedang berbincang-bincang dengan temannya, Ibu Kepo .

Ibu Kepo : “Suami kerjanya apa sih, Bu?”
Ibu Telco : “Telco engineer.”
Ibu Kepo : “Apa itu?”

Ibu Telco : “Telekomunikasi, Bu. Kerja di perusahaan telekomunikasi gitu.”

Ibu Kepo langsung merasa paham, “Oiyaaaaa, capek juga itu, ya kerjanya. Saya sering lihat lho, kalau di jalan-jalan ada orang manjat-manjat di tiang-tiang sambungan telepon. Aduh, bahaya juga itu kerjanya, ya.”

((MANJAT-MANJAT TIANG))

????

Tapi dunia terus berputar ya. Jika dulunya anak-anak MIGAS atau tambang dan anak-anak Telco jumawa gampang dapat kerja dengan gaji maksimal, sekarang dunia IT yang kembali berjaya ;).

Sektor Telco sudah banyak yang kena optimasi saking canggihnya teknologi KECERDASAN BUATAN sekarang.

Vendor telco sudah mulai surut. Banyak layoff di mana-mana. Sedih :'(. Mau pulang ke tanah air, kantor cabang sana malah sibuk pecat-pecatin karyawan ??.

Temen-temen di MIGAS juga banyak yang dirumahkan. Anjloknya harga tambang juga menghajar sektor kerjanya.

Makanya adaik-adik yang enggak lulus di PTN impian jangan sedih atau berputus asa ;).

SEKARANG, era START-UP dan YOUTUBER (dan ENDORSER) ???.

Dunia terus berputar. Banyak yang sedih kehilangan kesempatan kerja yang dulu berlimpah tapi banyak yang juga hepi dengan kesempatan-kesempatan baru yang menanti.

Makanya anak-anak harus bener-bener kudu diajarin biar KUAT dan ULET, terus belajar, gak boleh KUDET ^_^. ATTITUDE adalah segalanya no matter what ;).

Sekarang serem, banyak yang INSTAN. Kalau mental enggak kuat, nanti bisa layu sebelum berkembang.

Sudah banyak kisah seleb-seleb instan yang akhirnya tumbang satu per satu karena belum sempat mengasah keuletan sudah keburu tenar dan akhirnya bingung sendiri, stres sendiri dihajar gaya hidup yang ketinggian yang belum seharusnya mereka jalani :(.

Akhirnya banyak sekuter (selebritis kurang terkenal) yang terjerumus ke dunia prostitusi, rame-rame pakai narkoba (kadang juga dipakai buat dopping).

Saya berempati pada para korban narkoba dalam beberapa hal :(. Apalagi kalangan selebriti. Mumpung lagi banyak job, banyak yang kerja mati-matian sampai harus bergantung pada obat-obatan terlarang :'(. Selagi banjir tawaran, HAJAAARRRRR. Karena mereka sadar, bintang-bintang baru akan segera muncul membenamkan mereka :(.

Kalo abis sembahyang, selalu sempatkan berdoa buat anak-anak, seperti lirik lagunya Chrisye “Hanya padaMu Tuhan, tempat kami berlindung dari semua kepalsuan dunia. Gusti Allah, titip anak-anak.”

Era digital, banyak kesempatan tapi makin banyak pula cobaannya *ngelapKeringat*.

Jadi pengin nyanyi,

“Life asks no question, it goes on without you.
Leaving you behind if you can’t stand the pace.”

gaji di Indonesia

Dampak Gadget pada Anak Generasi Milenial, Yay or Nay?

Dampak gadget pada anak ini sebenarnya kegelisahan yang sudah agak lama. Sekarang-sekarang jadi rame lagi.

Persoalan pertama mungkin gini. Kita harus paham tiap generasi memang punya masanya masing-masing. Soalnya ada yang ngotot kalau kok jaman dulu terasa lebih indah, lebih syahdu, lebih tidak banyak masalah bla bla bla.

Ya semua juga ngerasa gitu hahahahaa. Ini pernah saya tulis di tulisan yang ini nih ;).

Misalnya kakak sulung saya (lahir era 60 an) hobiiiii banget mencela selera musik saya yang tahun 90 an itu. Dia selalu meracau betapa kerennya musik-musik tahun 70 dan 80 an.

Ya sama kayak kita sekarang, hobinya mencela selera musik generasi milenial dan sibuk merapal betapa kerennya boyband 90 an yang lebih macho daripada geng Korea dkk itu hahahaha.

Masa banding-bandingin Westlife vs BTS. Heloooooo ???

Nenek juga begitu. Pas era blender, nyinyirin Mama melulu apa-apa tuh mesti blender. Nenek maunya tuh apa-apa DICOBEK, apa-apa DITUMBUK. Jajanan anak kudu masak sendiri, gak boleh sering-sering jajan.

Aduh almarhumah Nenek bisa lebih stres lagi karena sekarang era Food Processor dan even ada GoFood loh Nek hahahahaha.

PERUBAHAN itu memang tidak pernah mudah ^_^.

dampak gadget pada anak

Tapi akan lebih wakwaw lagi kalau kita malah menghalangi anak-anak untuk “melihat dunia” ;).

Soal game online, memang dulu kalian gak pernah ngerasain keranjingan TETRIS? Saya dulu b isa lupa makan lupa mandi gara-gara TETRIS hahahaha.

Saya mau cerita sedikit tentang pengalaman menyekolahkan anak di Texas (Amerika Serikat / US) selama setahun.

Sekolah publik tempat anak saya memang di atas rata-rata, ratenya 9 (out of 10). So that you know, sekolah publik di US itu pakai sistem zonasi yang ketat. Kasarnya, situ tinggal di pemukiman elit, otomatis sekolah juga lebih bagus.

dampak gadget pada anak

Kami beruntung soalnya dapat assignment dari kantor. Tau sendiri kan perusahaan Eropa kalau memperlakukan karyawan emang bak raja hehehehe. Dapat apartemen di kawasan mewah ya otomatis dapat akses ke sekolah publik yang ratenya hampir sempurna.

Hubungan antara guru dan orang tua murid BANYAK DIFASILITASI OLEH APLIKASI via ponsel yang kekinian (Seesaw, ClasDojo, Parents Gateway dst). Sumpah saya juga baru tahu ada aplikasi-aplikasi beginian di Play Store Google. Gratisan kok.

Anak-anak juga punya login di sana. Jadi sementara mungkin kebanyakan ortu dibuat kewalahan sama dominasi gadget pada anak-anak, SEKOLAH malah memperkenalkan gadget pada murid-murid. In a positive way lah ya.

Jadi semua memantau ngapain aja anak di sekolah. Komen-komenan di situ. Jadi lucu, anak posting prakaryanya, dipuji ama gurunya, terus ortunya bisa sok-sok an, “Eeeehhh ini anak saya looohhh” :p.

Tiap guru punya akun Instagram dan tentu memposting foto anak di sana perlu persetujuan langsung dan tertulis dari para ortu.

Tentu ada komunikasi visual dan langsung juga. Tapi ya ampun sumpah terbantu banget euy.

Ada ekstrakurikuler programming sejak KINDERGARTEN (TK, usia 5 tahun). Cakeeeeeeppppp. Gak dipaksa ya, tapi diperkenalkan. Kalau ada yang tertarik, bungkusssss, difasilitasi oleh sekolah.

Saya terbengong-bengony oleh cerita anak sulung yang jadi semangat belajar programming karena sahabat-sahabatnya di sekolah (kelas 3 SD waktu itu) banyak yang jago coding. W O W, wow!

Biasa aja, anak-anak SD nenteng gadget ke sekolahan ^_^. Sama sekolah BOLEH ^_^.

Anak-anak diperkenalkan pada aplikasi GAME ONLINE, tapi temanya BELAJAR MATEMATIKA atau KECAKAPAN BERBAHASA. Ternyata banyak sekali situs-situs begituan ya Allah saya bener-bener baru tahu ?????.

Mereka berkompetisi di game online begituan. Seru gilak. Semacam game adventure tapi penuh pertanyaan Matematika.

And did you know, di apartemen-apartemen di Texas itu, dilengkapi dengan ruang komputer yang punya PC sampai 5 bijik. Nah saya dan anak-anak kalau iseng dan kebetulan ruangannya kosong, kami duduk di situ bertarung lewat game Online Matematika ???.

Sungguh kutiada terbayang Amerika Serikat sudah sejauh itu. Karena di Irlandia pun yang sudah tergolong negara mau ini, yaelaaaaaa, masih cupu bangeeeeettttt hihihi. Palagi saya di kampung/dusun kecil.

Pernah ngobrol dengan temen-temen emak2 Indonesia di sini, kami terpana anak-anak kelas 6 SD di Athlone masih nonton Peppa Pig cobak ??????

SEmentara anak-anak kelas 3 SD di Texas obrolannya sudah selevel, “Eh kamu sudah pernah nyobain programming ini belum? Asyik loh. Mau gak bikin game bareng?”

((BIKIN GAME BARENG)) ???.

So, zaman memang sudah berubah :). BERUBAH itu tidak selalu berarti lebih baik, lebih buruk, lebih gimana-gimana. Well, simply, it’s CHANGED :). Di luar kuasa kita ^_^.

Tidak bisa lagi mungkin kita memaksa bocah-bocah SD kita, “Sonoooo main kelereng sama teman-teman di halaman belakang” ???.

Kita temani mereka, kita bimbing mereka, to make the best out of them di ERA DIGITAL ini. Jangan dilarang-larang main TIK-TOK. Ajarin bikin konten lucu-lucu emesh tapi jangan yang annoying. Ajarin aja bikin-bikin vlog sehari-hari. Gak usah diedit profesional, semampunya mereka aja.

Of course, tetap semangatin baca buku. Tapi beri sentuhan milenial. Ajak mereka bikin review yang mereka baca via vlog / blog. Jangan malasssssssss, blog sekarang gratisan dengan template lucu-lucu. Gak susah kok, sumpah.

Ajarin mereka tutorial aplikasi instead of menghabiskan waktu nonton yutub channel gak jelas macam instant-instant karma gak penting ituh ???.

Tahu tidak sekarang banyak anak-anak milienial belajar main musik / olah vokal via Youtube atau aplikasi Android/iOS lainnya ;).

Saya juga masih proses belajar. I know dalam apraktiknya berat banget. Kuterasa selama libur panjang dengan cuaca mendung manja khas Ireland di mana susah mau nyuruh mereka main di luar sering-sering.

Ya sudah, berdamai saja. Kalau lagi capek dibiarin aja main game ampe begok hahaha. Tapi tetap ada target ;). Tetap harus membaca, diingetin kalau emaknya lagi inget hahahaha. Tetap harus nge-blog, tetap harus coding.

Buat yang mau ngajarin programming ada SCRATCH loh. Ish, aplikasinya lucu, balita aja harusnya bisa ngikutin ^_^.

dampak gadget pada anak

Berkaca dari sekolah di Texas, mungkin PERKUMPULAN ORANG TUA MURID bisa bekerja sama dengan sekolah terkait penggunaan GADGET yang sehat di era milenial ini ^_^.

Jangan malah gadget-nya yang dikafir-kafirin ????. Malah ngajarin anak untuk benci sama gadget. Et dah :p.

Jangan menyerah ya, Dear Fellas-Parents ???.

WE CAN DO THIS ??????.