Taman Beruang di Bern Swiss : Ayuk Ketemuan dengan Bjork-Finn-Ursula

Bern Swiss : Negara Swiss terdiri dari beberapa canton. Canton ini bisa diartikan sebagai wilayah atau semacam propinsi kali, ya. Termasuk ada yang namanya Canton of Bern. Total canton yang ada di Swiss ada 26.

Tiap canton punya ibukota sendiri-sendiri kayak propinsi di  Indonesia saja. Misalnya Sulawesi Selatan ibukota di Makassar :D. Ihiiiyyy, mesti banget sebut-sebut tanah kelahiran *benerinSarung*.

Canton of Bern ibukotanya ya di Kota Bern. Kota Bern  juga sekaligus menjadi ibukota dari Negara Swiss ;).

Bern Swiss
Bern Swiss

Selain ibukota, masing-masing canton juga punya bendera sendiri-sendiri. Beda lagi sama bendera nasionalnya Negara Swiss. Tahu kan, benderanya Swiss yang kayak gimana? Canton of Luzern misalnya, benderanya berwarna putih dan biru. Canton of Zurich lain lagi, benderanya juga putih biru tapi pemisahan warnanya diagonal. Sementara kota Lausanne itu masuk Canton Vaud motif benderanya putih hijau.

Nah, ini nih bendera-nya Canton of Bern. Rame gini baik warna maupun gambar hehehe.

Flag of Canton of Bern Swiss
Flag of Bern (gambar : en.wikipedia.org)

Ada gambar beruangnya! ^_^

Saya enggak yakin, tapi ada yang bilang Bern itu diambil dari kata Baren yang artinya beruang. Sutralah ya, yang jelas memang di Bern Swiss ada taman beruang beneran :D. Sempat 2x kami ke sana.

Pertama kali ke sana, hanya suami dan anak-anak saja. Si maknyak masih  lagi hamil muda pan waktu itu. Paginya kita sempat jalan-jalan sekitar rumah sekalian mau ke supermarket buat  belanja-belanja dikit. Mampirlah di playground dekat rumah biar anak-anak main.

Taman beruang bern swiss

Eh pas, di supermarket, saya mendadak enggak enak badan. Langsung dingin deh rasanya badan terus gak kuat berdiri. Mana supermarketnya tuh sempit, jadi kalau duduk di antara rak bisa ganggu orang lain. Ya gimana lagi, terpaksa jongkok daripada pingsan huhuhu.

Untung akhirnya masih kuat jalan kaki balik ke apartemen. Nah, karena itu, pas siangnya hanya suami saja dan anak-anak yang ngider-ngider kota Bern Swiss. Itu emang weekend pertama kita di Bern. Enggak mau rugi, ya. Karena weekdays pasti suami kerja, weekend tidak boleh disia-siakan sedetik pun! Hahaha :p.

Waktu itu masih awal Maret. Judulnya sih sudah musim semi tapi memang umumnya Maret itu dinginnya masih cetaarrrrr. Beruang-beruangnya masih pada hibernasi. Jadi, suami sibuk foto-fotoin saja :D. Gitu yeeee, giliran bini enggak ada semangat foto-fotoin anak-anak. Padahal pemandangan bagus itu kan adanya di … *pupurBedakOlesLipstik*.

depan patung pink taman beruang bern swiss

Menuju Baren Park / Bear Park Bern ini, kita tinggal naik Bus no.12 dari Bern-Bahnhof (stasiun kereta/tram/bus di Bern). Jurusan Paul-Klee-Center. Enggak jauh kok dari Bahnhof. Paling 10 menit saja.

Tempatnya lumayan ramai walaupun beruangnya lagi tidak ada. Gitu kata suami saya. Lokasinya tidak berpagar. Tempat beruangnya sendiri ada di bawah. Jadi, di lembah antara dataran tinggi dan Sungai Aare, disitu dibangun kandang beruang yang ukurannya lumayan gede.

Kita bisa mengintip Finn, Bjork, dan Ursina either dari atas atau turun melalui tangga menuju tepi sungai Aare. Heh? Sapa tuh? Itu nama beruang-beruang yang ada di sana :D. Keren kali pun nama-namanya tuh :p.

Kalau  naik bus ya pasti turun di atas :D. Tempatnya juga disebut Barenplatz (Bear-Square). Di tengah-tengah ada semacam bundaran gitu. Terus bawahnya bolong :p. Kita bisa ngintip dari atas. Terus turun ke bawah melalui tangga yang disediakan kalau ngintipnya belum puas hihihihi.

pemandangan

Di bawah bundaran tadi, banyak patung-patung beruang dari batu. Semacam musem outdoor kecil-kecilan. Kita bisa membaca sejarah per-beruang-an di Kota Bern Swiss melalui beberapa pigura bertulis di sisi-sisi bangunannya. Kelihatan kan ya di gambar atas tuh ^_^.

Anak-anak senang banget panjat-panjatin si beruang-beruang batu di bawah ituh :p

anak-anak nunggangi beruang

muka gantengku bern swiss

Ada juga ruangan-ruangan tertutup berpintu kaca yang katanya isinya fosil beruang beneran gitu. Aih, ngintip bentar udah takut duluan deh eike hahaha.

Oiya, kedatangan kedua saya sudah ikut :D. Beruangnya sudah ada, lho. Sudah selesai hibernasinya. Memang, kedatangan kedua kami sudah bulan April. Cuaca sudah mulai cerah walau belum anget-anget banget. Ini hasil foto pas diintip dari atas :D.

Taman Beruang Bern Swiss

Suami dan anak-anak terus pengin  melihat dari bawah. Saya malas euy ikut turun hihihi. Jadi, pas mereka ke bawah, saya ngadem di ke dalam gedung pojokan yang supposed to be semacam Tourist-information gitu. Ada kantinnya segala di dalam. Bagian depan ada resepsionis.

Dekat resepsionis ada toko-toko suvenir gitu. Ya pura-pura sibuk saja lihat-lihat padahal enggak niat beli hahaha. Suvenir cimik-cimik saja minimal 5 frank per biji *ngeriGakTuh*. Dasar mamak-mamak kikir hahaha :p. Saya bertahan agak lama di dalam gedung soalnya dingin di luar hihihi *ngikikLicik*.

Suami sama anak-anak kayaknya enjoy juga di bawah. Sampai saya kebosanan pura-pura mau beli suvenir (hahaha), terus jalan ke luar lagi, muter-muter dekat area bundaran tadi, mereka belum juga balik -_-.

Di bawah memang lebih ramai sih. Mungkin lebih enak melihat pergerakan Finn, Bjork dan Ursula kalau dari tepian sungai Aare :). Tapi mereka sih belum aktif-aktif banget. Maklum ya, baru bangun dari bobok panjang berbulan-bulan menghabiskan musim dingin :D.

Ini penampakan kalau difoto dari bawah.

finn

Ukuran beruang gede lho itu. Saya yang penakut jiper juga melihatnya. Padahal kan dari luar kandang aja, jauh lagi jaraknya hihhi. Tidak ada akses masuk ke dalam kandang. Ada pagar kawat yang mengeliling kandang. Paling beberapa spot kosong buat ngarahin kamera biar pagarnya enggak keambil pas motret.

Saya juga enggak paham yang mana Finn, yang mana Bjork, atau pun Ursula. Mukanya kok sama semua ya hahahaha. Warna bulunya juga mirip-mirip :p.

bjork

Ya ampun lupa satu info super penting lainnya. Tempatnya tentu saja GRATIS! Hahaha :p. Lumayanlah bisa ngabisin waktu sekitar sejam-an. Lihat beruang plus-plus lah ya. Selalu senang  baca-baca keterangan tempat yang banyak bertebaran di plang-plang di sana. Sayang, bahasa Jerman semua, zzzz -_-

depan plang

Ya begitulah acara jalan-jalan ke Barenplatz/Baren Park/Bear Square tempo hari alias taman beruang di Bern Swiss. Yang entah kenapa kok baru ditulis sekarang? Hahahahha. Ini masih ngantri tempat-tempat seru di Swiss yang belum sempat ditulis-tulis huhuhu. Nafsu gede, kemampuan terbatas iniiiihhh *elusElusPerutBuncit* :p.

Sebagai penutup, jangan bosan melihat penampakan 2 bocah ganteng hasil perpaduan Minang-Bugis ini yak :D. Mamah-nya kece ya so pasti dong anak-anaknya juga ganteng, ihiiiyyy *maeninAlis*.

bern swiss

 

Gurten at Bern Switzerland picture by Dani Rosyadi

Memandang Alam dari Atas Bukit Gurten

“No more adventure …” Begitu keluhan anak kedua saya begitu kami menempuh jalan setapak yang memang agak menanjak dari stasiun tram “GurtenBahn”, menuju stasiun funicular benaran-nya si “GurtenBahn”. Hihihi, dese ngambek soalnya sekarang sudah enggak boleh stroller-an ke mana-mana. Biar latihan. Entar kalau insya Allah dedek sudah lahir, yang pake buggy cuma si bebi aja hehe.

Wisata ke Swiss Gurten Bern fotografer Dani Rosyadi
Gurten Bern, fotografer Dani Rosyadi

Nah, kami menghiburnya dengan iming-iming, “We’re going to have a great adventure!”

Tapi kalau ketemu jalan menanjak, ya gitu, si nomor dua ini langsung ribet sendiri hahaha.

Kali ini mau cerita soal satu tempat multi fungsi di kota Bern yang sempat kami datangi 2x. Soalnya dekat banget dari lokasi apartemen kami. Lagian Kota Bern juga enggak gede-gede amat, sih. Dari  mana saja juga itugannya enggak jauh ini. Itu alasan nomor dua. Alasan nomor satu ya tentu saja karena … GRATIS! Hahaha.

Dari apartemen kami yang waktu itu dekat-dekat wilayah Sulgenau, kami naik tram nomor 9 dari stasiun Wander. Hanya melewati 2-3 stasiun kalau enggak salah. Dekat, kurang dari 10 menit kali udah nyampe di GurtenBahn.

Nama tempatnya Gurten. Terletak di atas perbukitan. Bisa dibilang area bukit Gurten Swiss ini termasuk salah satu dataran paling tinggi di Kota Bern. Bern termasuk kota di Swiss yang konturnya turun naik alias berbukit-bukit parah. Walau kecuramannya tidak seheboh di Kota Lausanne :D.

pic by Dani Rosyadi at Gurten Swiss Bern
The boys ^_^

Karena posisinya menjulangnya ini, patut banget kita nyanyiin :

Memandang alam dari atas bukit,
Sejauh pandang kulepaskan
Sungai nampak berliku
Bagai permadani di kaki langit
Gunung menjulang,
berpayung awan,
Oh.. indah pemandangan

(Skip satu biar benar-benar pas, hayoooo yang mana :p).

View from Gurten Swiss pic by Dani Rosyadi
Cantiknya Bern dari atas Bukit Gurten Swiss

Yoi banget, dari Gurten, kita leluasa memandang ke hampir semua penjuru dari atas :). Sungai Aare terlihat seperti segaris berwarna coklat kehijauan. Awal kita datang, masih dingin banget walau sudah masuk musim semi. Pohon-pohon masih botak dan dominasi warna coklat dari dahan dan batang yang kelihatan. Tetap kelihatan cantik.

Saat datang kedua kali, cuaca sudah lebih terik dan pepohonan sudah mulai rimbun kehijauan. Kecenya beda lagi. Kalau awan jangan ditanya. Curah hujan cukup tinggi di Swiss walau tidak selabil di Irlandia. Di Irlandia, hujannya lebih sulit diprediksi karena akrab menyapa di semua musim. Awan menggumpal-gumpal mulai dari corak putih bersih sampai keabu-abuan di hamparan langit biru yang bersih.

Sering hujan membuat awan sering berarak di langit. Makanya waktu di Saudi dulu, sulit menangkap momen awan, soalnya langitnya bersih karena hujan sekali setahun saja belum tentu. Saudi ya keren juga. Tapi kelebihannya beda lagi ;).

On top of Gurten Swiss pic by Dani Rosyadi
Dari atas Bukit Gurten Swiss, fotografer Dani Rosyadi

Karena letaknya di atas, menuju lokasi harus naik funicular, kereta listrik yang biasanya dibangun di sisi perbukitan buat moda transportasi turun naik. Biayanya sekitar 10 frank bolak balik. Ongkos “ngangkot” di Swiss mah jangan ditanya deh mihilnya hihihi :p.

Kalau pakai libero, semacam tiket terusan untuk naik semua moda transportasi di Canton Bern, naik funicular via GurtenBahn SUDAH termasuk. Canton ini semacam provinsi gitu.

Menuju ke atas, paling sekitar 5 menit. Dekat, kok. Kami biasanya naik paling depan biar gampang kalau mau pecicilan sambil foto-foto lihat pemandangan dari dalam funicular.

Wisata ke Swiss funicular Gurten Swiss
Eksis dalam funicular hihihi, kedatangan pertama nih, masih pakai jaket bulu-bulu plus kaos tangan :p

Bisa ngapain saja di area bukit Gutern Swiss ini? Buanyaaaakkkkk :D.

Dari bawah saja sudah banyak orang-orang nenteng sepeda. Mereka mau sepedaan di atas. Kalau nanjak mungkin lumayan juga gowesnya. Jadi umumnya, pas naik, para biker ini numpang funicular, beli tiket one way saja. Nanti turunnya kan tinggal meluncur pakai sepeda hehe.

Area hiking  memang terbentang luas di Gurten. Kami saja 2x ke sana, enggak sanggup mengelilingi semua areanya. Selalu nempel di area playground saja hihihi. Kedatangan pertama memang saya tidak berkutik. Dingin, boooo, huhuhu. Anginnya itu lho soalnya di atas bukit. Pas kedua kali walau terik tetap jaketan, walau sudah ganti dengan yang lebih tipis, karena anginnya tetap rempong.

The GurtenBahn at Gurten Swiss pic by Dani Rosyadi
Stasiun GurtenBahn yang di atas bukit Gurten Swiss

Kedatangan ke-2 inilah yang dilewatkan dengan lebih banyak hiking di area-area semacam hutan dan tebing-tebingnya. Tebingnya sih landai banget. Terus banyak pepohonan juga.

Anak-anak biasanya pas datang langsung menyerbu ke playground. Playgroundnya gede. Sayang nih enggak punya foto-foto di playground. Sama-sama sibuk ngangon anak kalau di sini. Soalnya sempat lho, anak no.2 hilang dari pandangan. Duh, udah mau nangis. Tempatnya kan luas gitu.

Ini karena kita lagi makan siang di kursi taman sambil lihat pemandangan. Anak-anak udah kelar duluan dan langsung ke playground. Karena ada si abangnya, ya saya biarkan saja. Eh, abangnya tahu-tahu mau ke kamar kecil dan ninggalin adiknya. Saya sudah nangis lho hahahaha. Takut dimarahin suami juga. Eh, ujug-ujug anaknya datang sendiri sambil lari-lari. Cukup sekali itu, deh, ya. Pelajaran banget buat saya ini *tutupMuka*.

Hikingnya sendiri rutenya ya turun naik. Biar anak-anak enggak rewel, ya ajakin main. Mereka lagi demen Star Wars. Terus suka pura-pura mungut ranting pohon pura-puranya jadi lightsaber gitu hihi. Mereka ala-ala Star Wars, saya malah ngangkat-ngangkat rantingnya sambil berseru, “Wingardium Leviosa!” Beda zaman, beda selera :p. Yang bareng ya wisata ke swiss nya ini hihihi.

Wisata ke Swiss Hiking at Gurten Swiss pic by Dani Rosyadi
“Wingardium Leviosa!” 😀

Kalau mau santai-santai juga bisa. Padang rumput di mana-mana. Tinggal gelar tikar kalau mau. Ish, ‘serem’ juga kalau menjelang summer, ya. Tahu-tahu pas nyeberang padang rumput yang ditengah-tengahnya ada satu-dua orang-orang goler-goleran, ada pemandangan ‘syur’ hihihihi. Cipok-cipokan plus peluk-pelukan sudah setengah tindih-tindihan dengan kostum “seadanya”. Uhuuuyyyyy :p *tutupMataAnakAnak*.

Sori yeee, enggak ada pic-nya la yaooowww hahaha.

Di Swiss memang lebih ‘bebas’ nampaknya, ya. Di Irlandia jauh lebh ‘sopan’. Apa karena di Irlandia saya tinggalnya di kota kecil ya? :D.

Wisata ke Swiss saat ke Gurten ini nawarin banyak alternatif : yang mau sepedaan lahan segede gaban, yang tikeran banyak tempat nyaman, yang mau ke playground monggo saja, kalau mau pipis? Ke kafe saja! Hihihihi. Iya lho, saya sering numpang pipis di kafe-nya :D. Mungkin ada toilet umum tapi malas nyarinya :p.

Di sini orang doyan nge-teh atau ngopi sambil ngemil-ngemil gitu. Jadinya kafe lumayan rame. Tapi kalau di Indonesia mungkin sudah buka beberapa lapak sekaligus, ya. Nah, di bukit Gurten segede itu, kafenya cuma ada satu! Tapi tempatnya 2 lantai dan luar-dalam. Jadi enggak pernah sampai ngantri-ngantri banget.

Nih bangunan kafenya aja caem begini ^_^. Kamar mandinya jangan ditanyalah. Bersih dan wangi ;).

Cafetaria at Gurten Bern Swiss. Pic by Dani Rosyadi
Kafe di Gurten Swiss. Lumayan buat jajan plus… pipis! Hihihi

Sempat ngemil buah di sana pas sore-sore. Suami beli cappucino segelas tapi diminum rame-rame. Sadis nih ongkos jajan di Swiss soalnya hahahaha :p. Ingat, ngirit itu pilihan! #eaaaaaa. Dalam kafenya juga ada indoor playground. Pas lagi dingin-dinginnya, lumayan ngadem di kafe sampai sejam lebih. Ngobrol sama suami, anak-anak hepi-hepi di playground-nya :D.

Tapi pas lagi terik, counter es krim-nya dibuka. Lokasinya lebih dekat ke playground. Ikutan deh, ngantri beli es krim aneka rasa. 3.5 frank per biji, itu juga single scoop dan conenya paling kecil :p. Iya sih kalau lagi di yurop jangan terlalu sering convert ke rupiah :p.

Es krimnya beli 2 aja buat anak-anak. Emaknya nunggu hoki aja kali ada yang makannya nyisa hahaha.

Ice cream at Gurten Bern Swiss pic by Dani Rosyadi
Ngemil es krim pas lagi cuaca anget ^-^

Ya begitulah seputar hura-hura murah meriah yang bisa dilakukan saat piknik ke bukit Gutern Swiss. Mungkin yang tinggal di Bern sudah berapa kali nih bolak balik ke sini. Kayaknya enggak bakal bosan, ya ^_^. Apalagi tempatnya memang cocok buat semua anggota keluarga.

Papahnya bisa motret-motret. Secara pemandangan alamnya benar-benar unbelievable. Mau sepedaan dengan medan-medan yang panjang dan menantang juga bisa banget :D. Anak-anak bisa guling-gulingan sepuas hati. Emaknya ya tinggal ngikut aja kan? hihihi.

Gurten Swiss in Bern pic by Dani Rosyadi
Bareng anak pertama 😀

Arena yang ‘ramah’ keluarga macam gini yang kita idam-idamkan bersama, ya :D. Cuma mungkin agak challenging untuk di tanah air. Pengaruh cuaca misalnya. Di mayoritas daratan Eropa, rata-rata negara 4 musim dengan kelembaban udara yang rendah. Enggak gampang keringetan, Cyin, walau matahari seganas apa juga.

Lah, kalau di Indonesia, hujan saja kita tetap kegerahan, ya, hehehe. Jadi, jangan buru-buru menyalahkan ini itu lho yaaaa. Bentang alam juga beda. Miara rumput di tanah air lebih susah. Karena tumbuhnya bisa sampai panjang-panjang gitu. Di Eropa kan begitu musim dingin, mampet sendiri pertumbuhannya hehehe.

Biaya pemeliharaan dan pengawasan fasilitas umum juga penting. Di tanah air, sebagian masyarakat mau makan saja masih susah :(. Sementara kebutuhan seperti ini termasuk kebutuhan tersier alias nomor kesekian.

Wisata ke Swiss Gurten Swiss Bern pic by Dani Rosyadi
Bareng anak ke-2 ^_^

Saya tulis begini akhir-akhirnya, karena biasanya ada saja yang langsung  mengutuk negeri sendiri kenapa tidak bisa sebagus negara lain? Hehehe. Long way to go tapi kan harapan tidak pernah pupus. Makanya, doakan selalu dong untuk perbaikan ke arah yang lebih baik untuk negeri kita tercinta ;).

Kelebihan negara kita dibanding Swiss juga ada. Tapi mungkin tidak cucok dibahas di postingan ini :p.

Pokoknya banyak jalan-jalan ke tempat lain enggak boleh bikin songong yeeeee. Apalagi sampai mematahkan asa untuk tanah kelahiran ^_^. Mari belajar yang positif tapi cintanya tetap untuk ibu pertiwi.

“When we love, we always strive to become better than we are. When we strive to become better than we are, everything around us becomes better too.”  -Paulo Coelho-

Busyet, berasa salah arah gini postingannya hahahahaha. Baiklah, sebelum mamak Poni ceramah lebih enggak penting lagi, kita akhiri sampai di sini. Siapa mau ngikut ke Gurten? Yuk, yuk ^_^.

Wisata ke Swiss Hiking at Gurten Bern pic by Dani Rosyadi
Follow me! 😀

 

 

Tur via Kapal di Danau Lucerne di Swiss

Konon, seekor naga pernah terlihat wara wiri antara Pegunungan Rigi dan Pegunungan Pilatus yang masing-masing mengapit Danau Lucerne atau juga disebut Luzern di Swiss. Legenda tersebut termasuk dalam rekaman suara dari sebuah tape kecil yang sudah nangkring di dekat pintu kapal dan boleh kita ambil (gratis, kok, hahaha) sebelum bersiap menjelajahi salah satu danau terbesar di Swiss ini.

 

berlayar di Danau Lucerne

Luzern! Salah satu kota wajib buat turis ^_^.

Yang diincar saat ke Luzern umumnya pada pengin ke Mount Rigi atau Mount Platypus. Di musim dingin, di pegunungan tentu penuh sama tumpukan salju. Di musim panas, sebagian ada yang mencair tapi sebagiannya lagi merupakan wilayah “salju abadi”, enggak mandang musim, saljunya pasti ada terus.

Saya pribadi, sih, ogah bener nyari yang dingin-dingin hehe. Maklum ya, bermukimnya kan juga bukan di negara panas. Sudah cukuplah pemahaman bahwa salju itu hanya indah di layar kaca saja. Kalau ketemu benerannya, ampun saya hahaha :D. Jadi, memang menghindari sih area-area gunung dkk ini.

Kemarin ke sananya akhir Maret di mana cuaca belum begitu move on dari musim dingin huhuhu.

Saat ngintilin suami ke Bern tempo hari, kami memang sudah ada niat ke Luzern. Dipas-pasin dengan janjian ketemu dengan teman yang kebetulan lagi  berlibur bersama keluarganya ke Eropa. Mereka mampir ke Perancis dan Swiss. Jadi, deh, kita janjian ketemuan di Luzern.

Teman sekeluarga datang jauh-jauh dari Jeddah, nih. Lama tak bersua. Dese sudah punya anak ke-3, sementara saya sendiri sedang hamil anak ke-3.  Jadi ingat kita dulu pernah piknik bareng juga di Obhur semasa saya dan keluarga masih tinggal di Jeddah dulu.

How time flies ya Dear :).

Foto di lobi hotel tempat teman menginap. Motret pakai iPhone-nya dia :D
Foto di lobi hotel tempat teman menginap. Motret pakai iPhone-nya dia 😀

Ketemuan dia next time perlu di postingan khusus biar enggak kepanjangan tulisan yang ini hehe.

Mereka sendiri lagi ngejar bus ke Basel, hendak bertolak kembali ke Paris. Jadilah ketemuannya cuma sekitar sejam an. Hanya muter-muter dekat jembatan depan hotel mereka saja.

Sehabis nganter mereka ke stasiun, which is stasiun memang letaknya di seputaran situ juga, barulah saya dan suami (plus anak-anak) menjelajahi Luzern.

Sudah niat mau naik kapal menyusuri danau Lucerne. Walau enggak niat ke Rigi atau ke Pilatus, at least, bisa lihat dari jauh di tengah danau Lucerne :D.

foto tengah danau. jpg

 

Menuju dermaga hanya perlu jalan kaki sekitar 5-10 menit dari stasiun. Tapi karena sambil pecicilan, plus bawa anak-anak yang saban melihat ini itu, kepoooo aja bawaannya -_-. Mesti digeret dulu baru mau jalan lagi.

Jadwal kapalnya sendiri sekitar per 1 jam. Jarak dermaga dari tempat beli tiketnya lumayan tuh. Kami mesti lari-lari demi mengejar skedul terdekat ketimbang nunggu sejam lagi. Pas banget. Kami mendekat, kapal pun merapat. Bumil ngos-ngosan tapi huhuhu.

Naik kapal harusnya sudah include dalam Swiss-Pass (karcis terusan untuk transportasi di seluruh kota di Swiss yang bisa juga dibeli harian). Tapi waktu itu kami cuma beli single ticket, bukan terusan. Untuk menikmati tur di danau Lucerne dengan kapal tadi harus bayar lagi 25 frank per orang. Suami punya half-pass, jadi kena potongan harga. Anak-anak di bawah 6 tahun gratis.

tepi danau

Kapalnya 2 lantai. Lantai bawah yang ruang tertutup buat restoran. Tapi geladak depan bisa buat duduk-duduk bebas. Dingin boooo, jadi kami naro stroller saja di bawah terus naik tangga.

Nah, sebelumnya sudah ada tape recorder mini + headset yang disediakan dekat tangga dan pintu naik di kapal tadi. Silakan diambil. Enggak usah rebutan, banyak banget stoknya hihihi :p. Good idea. Rekaman suara tour guide yang ngomong pakai pengeras suara sepanjang perjalanan bisa mengganggu privasi. Lagian kalau ada yang ribut bagaimana?

Tape recordernya tersedia dalam berbagai bahasa, lho. Tapi bahasa Melayu/Indonesia enggak ada, hiks :'(. Ada bahasa Inggris, Jerman/Belanda, Perancis, Spanyol, Italia, China, Jepang, Urdu/Hindi, Arab dsb. Turis Melayu mungkin masih jarang.

Via headset tadi kita bisa menikmati kiri kanan danau Lucerne sambil mendengarkan keterangan dari tape recordernya. Kalau bosan ya copot saja dulu. Anak saya yang sulung serius bener dengerinnya sementara adiknya lebih suka ngintilin bapaknya yang pastinya…sibuk jeprat jepret.

Sebagian penumpang juga memilih berdiri atau duduk di geladak terbuka, ngemil atau minum-minum sambil mengobrol. Pokoknya terserah saja mau ngapain. Tak jauh dari saya, sepasang manula memandang ke arah danau lepas sambil sender-senderan bahu dengan masing-masing headset terpasang di kepala. Ihiiiyyy…romantis abis <3.

Saya mah boro-boro yaaaaa hahahaha –> lirik dua anak lanang tengil :p.

Danau Lucerne Swiss
Giliran Papa yang pengin eksis pakai headset hihihihi :p

Sepanjang danau Lucerne memang melewati macam-macam tempat. Bukan hanya sejarah si naga tadi beserta lokasi Mount Rigi dan Pilatus yang diceritakan. Beberapa tempat tertentu yang kami susuri juga ada keterangannya.

Semisal sebuah gereja kecil yang katanya sering digunakan untuk para pengantin baru untuk mengikat janji. Juga ada gereja lain, apa patung (udah lupa hihihi) dari St. Nicholas yang umum dikenal sebagai Santa Klaus.

Recordingnya cuma nyala setengah perjalanan aja, sih. Dari total satu jam di atas kapan, setengah jamnya bisa puas mengerjakan yang lain-lain. Soalnya sayang ya kalau enggak dengerin ceritanya sampai habis. Saya demen sama yang gini-ginian. Selintas jadi ingat, waktu kecil dulu tergila-gila sama cerita-cerita anak yang diputar via kaset itu, lho, hihihihi.

geladak kapal

Walau di lantai 2 kapal berada dalam ruang beratap rasanya ya dingin juga. Jadi malas mau ikutan pas suami dan anak-anak muter-muter di geladak. Mending duduk manis sendirian :D. Lagian pas hamil ini, dikit-dikit bawaannya pengin pipis. Padahal ada kamar mandi di bawah. Malas aja turun tangga lagi.

Air danaunya enggak bening-bening amat. Biru hijau kecoklatan. Yang jelas enggak ada sampah la yaowww :p. Bersih, sih, sih.

Paling menyolok ya pemandangan gunung-gunung es yang sebagian memang merupakan bagian dari Pegunungan Alpen yang tersohor di Eropa itu. Sebagiannya kan memang terletak di wilayah Swiss, Mount Rigi tadi misalnya.

Untuk kesekian kalinya pengin memuji pemandangan alam super cantik dari Swiss ini :D. Komplit juga yang bisa dilihat.

Tak hanya gunung es, yang hijau-hijau banyak. Walau belum optimal karena musim seminya masih malu-malu. Sebagian masih berupa dahan dan ranting kecoklatan dengan daun-daun yang minim.

Beberapa bangunan juga terlihat. Gereja rasanya tidak cuma satu dua. Kastil juga ada. Kumpulan-kumpulan rumah-rumah biasa juga dilewati. Entah jadi tempat tinggal sehari-hari atau mungkin rumah peristirahatan/vila gitu kali, ya. Enggak kebayang dinginnya kayak apa kalau bulan Desember-Februari, tuh. Brrrrr … *rapetinJaket*.

berlayar 2

Turun dari kapal, penjelajahan Luzern masih lanjut. Tapi udah kepanjangan ini nampaknya. Next time, City Center-nya juga dibahas. Banyak juga tempat-tempat bagus yang kami singgahi. Tunggu di postingan Swiss berikutnya, ya … mudah-mudahan enggak lupa dan enggak malas! Hahaha :p.

Wir sehen uns! ^_^

mama abil tepi danau

Fotografer Dani Rosyadi Swiss

A Little Wisdom, dari Ibukota Swiss (Bern)

Ibukota Swiss bukan Zurich, bukan Jenewa. Tapi sebuah kota yang relatif lebih “sunyi” dibanding 2 kota besar tadi, Bern. Kurang tenar, ya, dibanding 2 kota yang saya sebut di awal. Ibukota Bern Swiss. 
Bern Landmark, Zytglogge Bern Swiss
Bern Landmark, Zytglogge
 
Bern juga kerap dilafalkan sebagai Berne. Pengucapan Bern dalam bahasa sini itu “Beren” (be-ren, kayak dalam bahasa Indonesia). Pronounciation dalam bahasa Jerman cenderung mirip bahasa Indonesia. Misalnya Junge dibaca “Yu-nge”.
 
Swiss juga punya macam-macam penulisan. Internationally, it’s known as Switzerland. Orang lokal menyebutnya Suisse.
 
Mata uangnya : frank, inisial resminya CHF. Kalau merujuk kepada situs-situs ‘kenegaraan’, negara ini menggunakan singkatan dot ch. Misalnya kalau Indonesia kan pakai dot id.
 
CH itu apaan sih?
 
CH, Confoederation Helvetica (latin), Confederation of Helvetia.
 
Helvetia/Helvetica adalah figur personifikasi untuk melambangkan negara Swiss. A female figure. Fungsinya mirip dengan Britannia. Britannia mewakili Kerajaan Inggris Raya. UK sebenarnya singkatan untuk United Kingdom of Great Britain (and North Ireland).
 
Jangan bingung-bingung dong antara North Ireland / Irlandia Utara vs Republic of Ireland (Republik Irlandia) :D. Irlandia Utara itu bagian dari Kerajaan Inggris, ke sana ya harus pakai visa UK, ibukota di Belfast. Yang ini nih yang suka rusuh :D.
 
Sedangkan Republik Irlandia berdiri sendiri sebagai satu negara terpisah. Ibukotanya Dublin. Yang sering disebut Irlandia itu ya Republik Irlandia ini :D. Kalau yang satunya pasti selalu pakai embel-embel North atau Utara. Jangan ketelisut lagi yaaaaaa :D.
 
Swiss terdiri dari sekitar 20-an Canton/negara bagian. Bern salah satunya. Masing-masing Canton punya bendera sendiri-sendiri.
Ibukota Swiss : Bern Swiss
Bern Swiss, dillintasi Sungai Aare
 
Bendera Bern Swiss ada gambar beruangnya, sesuai dengan salah satu landmark kota di Baren Park, taman Beruang :D.
 
Mau melihat parade bendera seluruh Canton, datang saja ke Zytglogge. Zytglogge bagian dari kawasan Old Town di Bern Swiss yang resmi menjadi UNESCO World Heritage Site sejak tahun 1983.
 
Di Zytglogge, Bern Swiss, ada sebuah jam besar yang jadi tempat wajib foto-foto para turis. Salah satu bukti kejayaan Negeri Tiongkok yang makin berkibar adalah seringnya melihat bus-bus rombongan wisata yang isinya orang-orang Tiongkok.
 
Swiss, salah satu negeri tujuan utama wisata dunia yang terkenal MAHAL :D. Tapi wisatawan Asia yang paling sering terlihat wara wiri di seantero Swiss adalah warga Tiongkok.
Ibukota Swiss Zytglogge Bern Swiss
Menara Jam di Zytglogge
 
Kawasan Munster di mana berdiri sebuah katedral besar juga merupakan bagian dari The History Old Town, Bern. Deket-deket sini juga ada taman tempat duduk-duduk yang dilengkapi playground.
 
Lokasi The Munster agak tinggi, jadi kalau duduk-duduk di taman tadi bisa melihat pemandangan kota yang letaknya lebih ke bawah.
 
Cuaca yang bersahabat membuat orang ramai berkumpul buat makan siang. Saya dan anak-anak tidak ketinggalan hihihi. Suami kan ngantor. Jadi bertiga saja kami naik tram ke sini.
 
Senangnya ya tinggal di kota model begini. Anak-anak tidak terpaku dalam rumah. Banyak aktivitas outdoor dan orang tua juga bisa kekepin dompet kuat-kuat hahahahaha. Biaya hidup sudah sangat menguras kantong. Pantas saja pemerintah sangat doyan bikin-bikin taman/playground gratisan :p.
Bern The Munster Bern Swiss
The Munster, Bern
 
Yang jadi persoalan, kalau musim dingin hiburannya apa yaaaaaa… hihihihi. Cuaca musim dingin di Swiss lumayan ganas apalagi anginnya memang super semriwing. Dingiiiinnnnnnn huhuhu.
Dalam penelitian something tahun 2010, Bern termasuk dalam 10 kota dengan kualitas hidup terbaik. Indeed, indeed, indeed :D.
 
Mari kita lupakan sejenak biaya hidupnya yang ajegile di negeri cantik ini hihihihihi. Speaking about pendapatan per kapita vs biaya hidup, itu bisa makan satu artikel sendiri :D.
 
Kapan-kapan perlu dibahas memang biar enggak banyak yang gagal paham. Menyangka betapa tajir-tajirnya orang-orang Eropa itu hahahhaha. Disangka semua orang Eropa macam Michael Schumacher kali hahahaha :p.
 
Masih ingat propaganda wisata Swiss, “Where The Nature is Insanely Beautiful.” Sangat benar adanya <3.
Ibukota Swiss (bern) : Sungai Aare Bern Swiss
Sungai Aare, Bern
 
Konturnya yang berbukit-bukit, banyak dikelilingi danau-danau besar, pemandangan puncak gunung es, padang rumput dan hutan-hutan, semuanya ada di Swiss. Cobalah menyusuri Swiss via kereta yang ada tagline “Golden Pass Panoramic”. Luar biasanya alam Swiss akan menjadi suguhan di sepanjang perjalanan :).
 
Di Bern juga bisa melihat gini-ginian. Naik saja ke Gutern. Dari Gutern cocok benar menyanyikan lagu,
 
“Memandang alam dari atas bukit
Sejauh pandang kulepaskan
Sungai tampak berliku
Bagai permadani di kaki langit
Gunung menjulang,
berpayung awan,
Oh.. indah pemandangan”
 
Hanya perlu menghapus satu kalimat saja :p.
 
Sayang inih, Pak Fotografer lagi sibuk ngurusin cut-over dan testing hihihihi. Tertunda proyek edit-edit foto. Jadi, foto-foto Gutern nyusul yak :D.
 
Apartemen kami letaknya mepet-mepet Sungai Aare, sungai terpanjang di Swiss yang juga melintasi kota ini. Ya harus jalan kaki sih ke sananya :D.
 
Di tepian Sungai Aare ada macam-macam tempat wisata.
 
Tierpark salah satunya. Kebun binatang satu ini lumayan luas. Umumnya hewan-hewan peternakan sih. Ada playground cukup gede juga di sini.
Tierpark Bern Swiss
Playground di Tierpark Bern
 
Anak-anak paling senang dibawa ke sini. Emaknya juga seneng. Gratis soalnya hahahahaaha *tepukTangan*.
 
Hati-hati dengan kata Gratis, ya. Pertama kali ke sini, saking hepinya, pas masuk pintu gerbang, saya heboh ,”Gratis..gratis…”
 
Terus langsung diliatin sama orang-orang. Suami langsung negur, “Jangan teriak-teriak napa? Gratis itu kan bahasa sini. Norak lo ah…”
 
Hahahahahahaha. Yoih, beberapa kata dalam Bahasa Indonesia itu memang serapan dari Bahasa Belanda yang mirip banget sama Bahasa Jerman. Termasuk kata Gratis, penulisan-pelafalan-makna, semuanya sama :D.
 
Lumayan butuh tenaga ekstra mengitari arealnya. Apalagi sekarang cuaca sudah mulai anget ^_^. Bisa tiap hari deh ke TierPark secara lumayan deket dari apartemen hihihihi.
 
Ngomong-ngomong soal transportasi, Swiss memang termasuk yang terbaik. Dalam Bern sendiri, jenis transportasi umumnya ada beberapa. Tram-bus-kereta, semuanya ada :D.
 
KOtanya enggak terlalu macet. Jadwal tram-bus-kereta sangat ketat. Enggak kayak di Irlandia yang sering telat hihihihi.
 
Angkutan dalam kota biasanya per 6-8 menit untuk jurusan-jurusan padat. Untuk yang agak jarang peminat, per 10-15 menit. Jadi, jangan takut bakal desak-desakan ^_^. Saya dan anak-anak hampir selalu dapat tempat duduk.
 
Sekarang, karena badan sudah agak enakan, kalau suami di kantor, saya sering ngajak anak-anak keliling-keliling Bern :D.
 
Mobil-mobil di sini mewah-mewah dan bagus-bagus tapi jarang dipakai! Hahahhahaha. Tipikal orang Eropa gitu. Biar hemat enakan naik tranportasi umum atau … naik sepeda!
 
Wah, dengan kontur ‘sangar’ begini, banyak banget lho orang sepedaan di Bern. Termasuk emak-emak yang naik sepeda khusus yang ada semacam kereta kecil buat naroh anak atau hewan peliharaan. Kan berat itu gowesnya.
 
No wonder, kalau main ke Playground Monbijou (favorit anak-anak karena tempatnya luas bener), suka terintimidasi dengan mamak-mamak sini. Tinggi-tinggi, langsing-langsing, cantik-cantik! Yes, perempuan Swiss tuh kece-kece. Pantas suami doyan nyusul ke playground kalau pulang kantor hahahahha.
 
Gak apa-apalah, soalnya papah-papahnya juga lucu-lucu #eaaaaaaa. Mari ngeceng bersama hihihihi *ngikikGenit*.
Sungai Aare Bern Swiss Ibukota Swiss
Aare, salah satu sungai terpanjang di Swiss
 
Mereka langsing ya karena ke mana-mana geret anak pakai tram atau bus atau naik sepeda apa ya? Duh, harus belajar naik sepeda iniiiiiiiii hahahahhahaha. Sering juga ketemu emak-emak yang anaknya lebih dari 2 lho. Naik tram, bawa belanjaan banyak, dorong stroller isi bayi, plus 2 balita ngintilin di samping kiri kanan. Super!
 
Salah satu yang istimewa adalah dukungan transportasi umum kepada pemakai kursi roda. Tadinya saya bingung gimana cara penyandang disabilitas ini naik tram ya. Secara mereka banyak wara wiri di sini tanpa pendamping alias sendirian.
 
Ternyata, sabann ada yang mau naik, Pak Supir akan turun dan menyiapkan papan khusus di pintu masuk paling depan. Ya ampun kerennya ya <3. Ini sih bukan di Swiss saja, di negara-negara maju, hal-hal seperti ini sudah lazim.
 
Salah satu ciri utama negara maju memang penyediaan infrastruktur yang sangat-sangat-sangat mumpuni. Eropa diuntungkan karena dahulu kala, di masa penjajahan, mereka banyak memanfaatkan tenaga gratisan dan hasil ‘jarahan’ untuk membangun infrastruktur transportasi macam rel-rel kereta tadi hehehehe.
 
Pajak sangat tinggi di negara-negara maju. Subsidi umumnya hanya untuk sarana pendidikan dan kesehatan. Tak heran biaya hidup di luar sekolah anak dan kesehatan melambung sangat tinggi dibanding negara-negara berkembang.
Rosengarten bern swiss
Penampakan Bern dari Rosengarten (rose garden)
 
Setiap wilayah dibangun dengan kualitas yang hampir sama bagusnya :). Pemerataan pembangunan di semua wilayah tentu untuk mencegah penumpukan populasi di satu wilayah tertentu.
 
Pemerataan dan keadilan sosial, bagian penting dari muamalah dalam Islam ^_^.
 
Demikianlah kecenya Kota Bern, yang akan segera saya tinggalkan dalam hitungan hari  :D.
 
Jangan terlalu gimana-gimana yaaaa, ingatlah prinsip penting dalam merantau, “Tak boleh lupa kacang pada kulitnya” ^_^. Sekeren-kerennya luar negeri, sekagum-kagumnya pada negara lain, jangan sekali-sekali jelek-jelekin negeri sendiri ;).
 
Kalau kalian mengamati perkembangan ekonomi internasional, percayalah … masa depan dunia ada di tangan.. Asia! ^_^.
 
Swiss sendiri struggling dalam beberapa hal. Mata uang Swiss akhir-akhir ini menguat. Menguatnya mata uang tidak selalu menjadi hal positif bagi suatu negara, lho.
 
Bertetangga dengan Jerman yang terkenal dengan biaya hidup murah walau pajaknya konon lebih ‘kejam’, Swiss harus bekerja keras menghalau agar jangan sampai warganya terus-terusan ngibrit ke Jerman kalau mau belanja hihihihi. Berbatasan darat doang soalnya. Sama-sama Schengen pula.
 
Secara umum, Uni Eropa, beberapa tahun terakhir ini, berusaha keras keluar dari pusaran resesi yang belum juga usai :).
 
40% dari total GDP dunia kini dipersembahkan oleh negara-negara di Asia. China, walau kini terus mengerem pertumbuhan ekonominya sudah bertengger tepat di bawah US sebagai kekuatan ekonomi nomor 2 di dunia! ^_^.
 
India terus ngekor di belakang. Kalau tidak salah, terakhir, pertumbuhan ekonomi India sudah melebihi China.
Bern Swiss
Penghujung musim dingin di salah satu sudut Bern, Swiss
 
Indonesia will be there soon ^_^.
 
Jangan suka terpaku sama yang remeh-remeh. Semua harus seiring sejalan. Kalau kalian mengira China dan India sudah berhasil menghalau korupsi di negerinya masing-masing, berarti situ kurang update! :p.
 
Cek saja sendiri, indeks korupsi China dan India masih termasuk memprihatinkan. Tapi revolusi ekonomi mereka terus merangsek maju ^_^. Semuanya harus bareng-bareng, enggak bisa yang satu menghalangi yang lain ;).
 
Tapi kalau kalian dikit-dikit meributkan hal-hal yang kecil nan gak jelas dan luput dari mendoakan hal-hal besar yang kini coba diterapkan oleh pemerintahan baru :).
 
Berhentilah menganggap hidup kalian dikendalikan oleh pemerintah kayak enggak punya Tuhan aja deh :p. Didoakaaaaannn bukan diramal-ramal yang buruk-buruk ;). Dibanding-bandingkan untuk dicari solusi dan titik temu bukan untuk dimaki-maki.
 
Buat yang kebagian rezeki tinggal di negara maju, ya itulah … jangan kebablasan dong ya ;). Sudah kayak mau tinggal selamanya di luar negeri, kalau ngomongin kampung halaman udah kayak negeri asalnya yang paling jelek sedunia :p.
 
Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Tak semua orang diberi kesempatan melihat dunia seperti kalian ^_^. Digunakan untuk memperluas wawasan bukan malah mempersempit cakrawala dan mengkotak-kotakkan definisi kebahagiaan dan segala macam :).
 
Kalau kalian menganggap kebahagiaan itu tergantung di mana kalian tinggal, maka selamanya akan sulit menuai kedamaian.
 
The grass isn’t always greener on the other side. It’s greener where you water it ;). Happiness is not given, it is made ^_^.
grass greener
 
Be happy wherever you are. Siapa bilang rasa syukur itu harus pilih-pilih keadaan? Dan siapa bilang kadang-kadang kesabaran harus ditiadakan. Sampai mati, dua-duanya adalah kewajiban umat muslim di mana pun beradda.
 
Ibu ustazah mulai kumat hahahahaha.
 
Happiness is not given. It is made^_^.

Lausanne Swiss : “One Moment in Time”

OLeh-oleh  jalan-jalan dari Lausanne Swiss, nih. Inget Olimpiade, selalu ingat tembang “One Moment in Time”. Hayooo … itu lagu resmi Olimpiade tahun berapa dan di mana dan siapa yang nyanyi?

Penting gitu hafal gini-ginian? -_-.

Sebuah museum yang khusus mengabadikan momen-momen Olimpiade adalah tempat wisata utama di Kota Lausanne Swiss.

Lausanne Olympic Museum Logo - Lausanne Swiss

Kayaknya lagi ada tema khusus sehingga di sepanjang jalan di tepi danau menuju museum, dipajang foto-foto Olimpiade musim dingin tahun 1984 di Sarajevo.

Foto-fotonya epic banget. Sebagian menggambarkan betapa beratnya medan pertandingan karena buruknya musim dingin tahun itu.

Beberapa foto close up sang juara saat momen-momen terbaiknya. Suasana Kota Sarajevo yang agak-agak demam panggung karena posisi dari kota enggak penting menjadi tuan rumah acara internasional.

Berjarak sekitar 90 an km, butuh sekitar 1 jam naik kereta dari Bern menuju Lausanne Swiss. Dalam tempo satu jam itu, segala sesuatu di Bern yang berhubungan dengan bahasa Jerman mendadak berganti dengan bahasa Perancis.

Lausanne Swiss , City Center
Lausanne, City Center

Yoih, Swiss mengenal 2 bahasa, Jerman dan Perancis. Dan saya enggak mudeng dua-duanya huhuhu.

Mungkin karena negara turis, tak begitu sulit menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris di Swiss ini. Wow, jangan-jangan umumnya orang sini trilingual ya, Inggris-Jerman-Perancis. Walau segala petunjuk jalan dan segala macam jarang ada yang berbahasa Inggris, hiks :'(.

Sampai sekarang, saya cap cip cup kembang kuncup aja tuh pake mesin cuci di basement gedung apartemen. Kagak paham satu pun petunjuknya! Hahaha.

Kita sampai nunggu setengah jam sia-sia di halte Sauvabelin karena enggak ngerti baca pengumuman bahwa halte tersebut sementara enggak akan dilewati bus! Parah abis! -_-.

Menjelang kereta hampir mencapai stasiun di Lausanne, tengok sebelah kiri. Lake Geneva terbentang jernih dan dikepung oleh gunung-gunung es. Aih, aih, cantiknyaaaaaa…

Lausanne Lake Geneve Lausanne Swiss

Tantangan terberat di Lausanne adalah medannya yang tidak rata. Dari stasiun menuju halte bus di City Center, jalannya menanjak banget. Bumil sampai beberapa kali harus teriak-teriak, “Guys, wait for me!!!”

Suami jalannya kecepatan cahaya gitu. Anak-anak juga masih seger baru turun dari kereta. Ngintilin bapaknya dari belakang dengan semangat. Kontur geografis Lausanne yang memang penuh tanjakan adalah cobaan tersendiri *pijetPahaDanBetis*.

Ke mana saja kita? Tentu, keluarga Gober selalu mengutamakan sarana wisata gratisan hahahaha. Banyaaaak banget tempat yang layak dikunjungi tanpa perlu mengeluarkan frank sepeser pun :p.

Sauvabelin salah satunya. Sebelum ke Sauvabelin mampir di Hermitage dulu. Rutenya sama. Di Hermitage banyak spot foto bagus. Bapaknya hunting foto, bumil ngemil, anak-anak lari-larian di playground. Semua hepi. Gratis? Pastinya! 😀

Hermitage - Lausanne Swiss
Hermitage – Lausanne

Baru lanjut lagi ke Sauvabelin.

Landmark Sauvabelin adalah menara pandang setinggi 35 m di salah satu sudutnya. Suami saja yang naik sampai ke atas. Buat potrat potret tentunya. Melihat keindahan Kota Lausanne Swiss dari ketinggian. Saya dan anak-anak nungguin di bawah.

Dari lokasi menara, jalan cantik sekitar 5 menit, tibalah kita danau kecil di tengah-tengah lokasi. Anak-anak ya ribut godain bebek dan angsa yang kebanyakan lagi merapat di pinggir danau.

Selain unggas air, di sebelah danau ada peternakan mini. Bisa lihat kandang kambing, kelinci, ayam dan babi. Anak-anak mah paling senang lihat hewan-hewanan. Alhamdulillah ya, enggak perlu ngeluarin duit jor-joran buat bikin mereka senang :).

Menara Pandang di Sauvabelin Lausanne Swiss
Menara Pandang di Sauvabelin

Gini-ginian memang harus dilatih sejak kecil ;). Latih mereka tidak manja, contohkan dengan berjalan kaki dan banyak-banyak naik kendaraan umum misalnya :p. Tunjukkan pada mereka, banyak hal yang bisa dinikmati tanpa perlu buang-buang duit berlebihan.

Ajarkan kesederhanaan dan kerja keras, agar kelak seperti apa pun kehidupan mereka, mereka tidak melumrahkan kemewahan. Setajir apa pun ortunya, latih anak-anak hidup “seperlunya” ;).

And remember, harus diawali dengan contoh nyata dari ortu! :D. Ish, udah kayak yang paling bener aje deh eike hehehe. Saling mengingatkan dan berbagi yaaaa ^_^. Ini saya juga share tips-tips dari mertua yang sudah jelas-jelas sukses hasilnya –> lirik Paman Gober! hihihihi.

Lanjoooodddd …

Dari Sauvabelin, turun ke bawah menuju pusat kota. Katedral Notre Dame salah satu tempat yang dirubung turis. Kagak paham juga istimewanya apaan :p. Kita ngikut arus aja. Di mana orang-orang merubung dan sibuk mainin tustel, di situlah kami ikut merapat. Entar deh cek wikipedia :p.

 

Cathedral of Notre-Dame of Lausanne Swiss
Cathedral of Notre-Dame of Lausanne

Depan katedral ada tembok pembatas. Dari situ bisa melihat wajah kota bagian bawah. Cakeeepppp :D. Termasuk ajang latihan selfie juga tempo hari hahahaha.

Dari katedral, kembali menyusuri jalan menuju Metro. Salah satu moda angkutan di sini yang tidak menggunakan tenaga manusia sama sekali. Canggih abis. Tapi ingat, yang canggih-canggih begini ya ongkosnya bukan 5000 perak! Hahahhaha.

Via metro, kita terus turun ke bawah menuju Ochi. Keluar dari stasiun Metronya Ochi, melipir dikit ketemu taman gede. Dari sini bisa ngeliat danau. Pas hujan pula. Jadi merengek minta coklat anget sama Pak Bos. Beli 2 gelas minum berempat! Hahahahha.

Nah, dari sini baru jalan kaki menuju Olympic Museum. Normally, sekitar 10 menit. Cuma karena kita jalannya santai, sekitar 25 menit kali baru nyampe.

Olympic Museum Park, Lausanne Swiss
Olympic Museum Park, Lausanne

Suami sambil motret. Anak-anak kejar-kejaran sambil ketawa-ketawa. Emaknya khusyuk ngeliat foto-foto kenangan dari Winter Olympic 1984 di Sarajevo tadi. Sambil sesekali teriakin para bocah, “Stay close, Guys! Not too far, please!”

Harusnya masuk museum. Tapi kurang dari sejam lagi tutup. Ah, nanggung amat beli tiket masuk. Jadi, kami memutuskan muter-muter di lobi dan di bagian-bagian terluar saja. Padahal sih karena malas bayar, tuh! Hahahahha.

Museum Olimpiade Lausanne Swiss
Berpose di salah satu sudut gratisan dalam Museum 😀

And … it’s a wrap! :D.

Sekilas ingat komentar salah satu teman soal kerennya Swiss. Dibandingin pula sama Indonesia. Zzzzzz -_-. Dibandingkan juga coba sama negara-negara kayak India-Bangladesh-Pakistan yang sesama Asia dengan penduduk jor-joran juga? ;).

Lagian, jangan gitu, ah ;). Banyak tantangan berat hidup di Eropa yang mungkin luput dari pengamatan kalian.

Tak bermaksud sotoy, tapi dari segi cuaca saja, apa dikira nyaman ya terkurung dalam cuaca dingin berbulan-bulan. Bisa dibilang, mayoritas wilayah Eropa umumnya harus menghadapi cuaca dingin lebih panjang daripada guyuran cahaya matahari.

Untuk nyeritain lain-lainnya, bisa jadi satu artikel sendiri kali hehehe.

Tahukah kalian, konon sebelum menjadi tuan rumah perhelatan akbar sekelas Olimpiade, Sarajevo itu hanyalah sebuah kota kecil yang tidak terlalu dikenal.

Mereka mampu memanfaatkan momentum tuan rumah tadi untuk akhirnya mampu meraih perhatian dunia.

Tapi, apakah mesti menunggu momen-momen luar biasa seperti itu untuk bisa tampil epic? :D.

Usahanya yang penting, ya. Momen itu hanya buahnya saja.

Each day I live I want to be
A day to give the best of me
I’m only one but not alone
My finest day is yet unknown

I broke my heart fought every gain
To taste the sweet I face the pain
I rise and fall yet through it all
This much remains

-Song : One Moment in Time-

Jangan kebanyakan berandai-andai, salahin ini itu, berharap anu-ono, jangan menunggu keajaiban datang. Hanya pecundang yang cuma pandai mengutuk keadaan. Hayuklah menjadi bagian dari keajaiban itu sendiri.

Dikit lagi dari lirik lagu yang sama,

“You’re a winner for a lifetime
If you seize that one moment in time”

De Lausanne, je vous envoie la force et meilleurs voeux.

Let’s seize the day! ^_^. Enjoy the pics ;).

-Salam musim semi dari Lausanne Swiss-

One of the best View of Lausanne Swiss, taken from Hermitage
One of the best View of Lausanne Swiss, taken from Hermitage