Artikel Tentang Ibu : The Strengths You Did Not Know That You Had

Salah satu artikel tentang ibu saya : Mundur sejenak ke 14 tahun lalu. Tahun 1998. Bulan Juli yang cerah, saya sedang berada di atas kapal laut bersama Mama. Hendak memulai takdir baru menjadi anak sekolahan di rantau :D.

Suatu siang di kamar kami :

“Wah, mau ke Jakarta juga? Ini anak sulungnya ya, Bu?” seorang Ibu yang juga menghuni kamar yang sama menyapa Mama saya.

“Oh, bukan, bukan. Ini anak gadis pertama. Tapi kakaknya ada 4. Laki-laki semua.”

Ibu yang bertanya nampak bengong sebentar. “Ke-5? Ya ampun, beda usianya setahun-setahun ya, Bu? Rapet jaraknya?”

Mama nyengir santai. “Tidaklah. Selisihnya rata-rata 3 tahun. Ada yang hampir 4 tahun. 2 tahunan juga ada. Ini masih ada adiknya lho 2 orang.”

Saya rasa setelah itu si Ibu yang bertanya sibuk menerka-nerka, Ibu di hadapannya, yang sedang sibuk mengukir alis sepanjang percakapan (hihihihihi), menikah umur berapa, ya? =)).

Indeed :). Ibu saya menikah di usia 15 tahun. Tak sempat menggenggam ijazah SMP, Nenek sudah keburu menerima lamaran seorang pemuda untuknya.

Sejak menikah, langsung dibawa ke kota Makassar (dulu Ujung Pandang) oleh Bapak yang tengah merintis usaha di sana. Jauh dari orang tua, Mama melahirkan anak pertamanya di usia 16.

Dan bertahun-tahun setelahnya lahirlah kakak saya yang ke-2, yang ternyata kembar namun tak bertahan hidup. Kakak ke-3, 4, dan 5. Jadi, sebelum saya Mama sudah melahirkan 5 kali. Dan setelah saya, melahirkan 2 kali lagi. Terakhir di usia 39 tahun. Semuanya normal spontan. Semuanya lahir di kota, tidak pernah pulang ke kampung ke tempat Nenek. Mari ngelap keringat bersama-sama hehehehe.

Istimewanya, kerabat perempuan yang seusia Mama tidak banyak yang menikah muda. Mama saya punya saudara kembar. Mereka pernah hamil hampir berbarengan. Tante hamil anak pertama, Mama hamil anak ke-6! Jadi, Mama sudah mulai mantu, tante-tante lain masih sibuk dengan ABG-ABGnya. Yyyiiiuuukkkk.

artikel tentang ibu
Foto keluarga tahun 2005. Sayangnya, minus si sulung :(.

Itu belum ada apa-apanya. Semasa masih gadis, lupa kapan, saya pernah membaca berita tentang seorang penjual pecel di stasiun. Anaknya 13. Yang membuat saya melongo adalah isi beritanya. Disebutkan sehabis melahirkan anaknya yang ke-13 di malam hari sekitar pukul 10 malam, subuh harinya, 7 jam kemudian, si Ibu sudah absen kemabli di stasiun. Siap dengan pecel buatannya :'(.

Isu kedua cerita di atas merembet dari isu menikah muda, hingga memberi jarak kelahiran, isu-isu sosial, sampai isu how does she raise her children? Tapi pertanyaan besarnya : HOW DO THEY GET THE STRENGTH TO GO THROUGH IT?

***

Saya tidak suka anak-anak. Misalnya saja ketika adik bungsu saya lahir. Usianya berjarak 11 tahun dengan saya. Adik saya yang perempuan (disingkat jadi Buntel aja, ya) yang sayang banget. Saat Mama melahirkan, Buntel ikut jagain dan menginap di rumah sakit hingga Mama pulang ke rumah.

Kakak yang lain pun senang menggodanya. Saya? Huh, tak usah, ya. Dengerin dia nangis malam-malam, saya ikut gelisah. Menggerutu karena jam tidur malam terganggu. Suatu kali Mama harus keluar, tak ada orang lain di rumah, si bungsu nampak shock ditinggal berdua dengan saya. Nah lo, nah lo, ahahahahahaha.

Makanya sampai sekarang, saya tak pernah menjadi ‘magnet’ buat anak kecil mana pun. Yang paling friendly sekalipun. Tapi untuk anak sendiri? Ho ho ho.

Saya menyimpan kegelisahan ini sebelum hamil anak pertama. But everything is as easy as it says. Jangankan pas lahir, dari awal tahu ada dua garis di atas test pack, rasa cinta itu tumbuh subur tak terbendung.

Proses kelahiran anak ke-2 yang sempat menggalau. Belum genap dua bulan di Jeddah, saya positif hamil. Memang niat, kok ;). Maboknya jangan ditanya. Sejak hamil muda rasanya sudah ingin pulang ke tanah air, bermanja-manja pada Mama :P.

Apalagi ketika usia kandungan 6 bulan, dapat kabar positif baik Mama dan Mami, tak ada yang bisa didatangkan untuk menemani saya. Tidaaaakkkkk.

Sebagai istri, bukan cuma anak dan diri sendiri yang harus dipikirkan. Sebagai muslim, ketika berani menerima pinangan seorang pria, prdikat istri mengikat janji untuk setia pada suami. Saya pun dulu sulit menerima nasihat, “Kesetiaan istri nomor satu pada suami.” Seiring berjalannya waktu, saya mulai paham betapa indahnya Islam :).

Saya teringat perjuangan suami memboyong saya dan si sulung ke Jeddah. 11 bulan kami ‘dipermainkan’ oleh agen, diberi janji-janji surga akan diberikan iqama (resident permit).

Saya hepi-hepi di Jakarta, banyak saudara, bisa ngider kemana-mana, duit kurang? tinggal ngadu lewat sms (hihihihi). Sementara suami menanggung rindu pada kami :'(.

Masa iya, baru dua bulan bersama, saya hamil, saya harus memutuskan hengkang ke tanah air lagi? Harus berani, pikir saya. Ucapan suami membakar semangat, “Aku siap bantu apa pun.”

Begitu tekad sudah dipupuk, voilaaaa… kekuatan itu datang sendiri :). Tentu mentalnya naik turun, ya. Seperti hormon yang gak stabil. Tapi kenyataannya, sukses melahirkan anak ke-2 tanpa sanak keluarga sama sekali. Hanya meminta tambahan tenaga dari asisten rumah tangga 3x seminggu, 4 jam sehari.

Betapa malunya segitu saja sudah merasa hebat. Bagaimana dengan penjual pecel beranak 13 dan Ibunda sendiri yang melahirkan hingga 8 kali? *plakkk*. Masih harus banyak belajar :'(.

 

***

Tanpa kita sadari, banyak diantara kita yang bertransformasi setelah menjadi Ibu. Yoi dong, “We are the real TRANSFORMERS” :p.

Ibu saya di masa gadisnya, boro-boro deh bisa masak. Konon beliau yang dikawinkan karena malas membantu Nenek menumbuk padi di lumbung. Suka licik. Maunya main sepeda terus. Disuruh memasak, malah kabur berenang ke sungai. Ahahhahaha. Keberanian yang tidak diwariskan pada saya yang sampai sekarang tak bisa berenang dan belum fasih bersepeda roda 2 :P.

Siapa sangka ABG tomboy itu dianugerahi 7 orang anak and she’s just fine ;). Love you, Mama.

Lulus SMP saja tidak, ngotot kalau anak-anaknya harus sarjana juga tidak pernah, tuh. Kepergian Bapak secara mendadak lebih dari 20 tahun yang lalu menciptakan badai ekonomi yang hebat. Tapi rezeki datangnya dari Allah, orang tua cuma perantara :).

5 dari kami menggenggam ijazah dari perguruan tinggi negeri. 1 orang memutuskan sendiri untuk berhenti di bangku SMA. Dan si bungsu sudah di tahun terakhirnya di bangku kuliah.

Selamat hari Ibu untuk Mamaku yang keren ;). Untuk Ibu Mertua, biarpun hubungan tak semulus jalan tol, rasa iri tak pernah luntur. Terima kasih ya Mami, sudah membesarkan anak-anak yang hebat untuk para menantumu ini hehehe. Semoga waktu kelak menghapus segala kesalahpahaman yang pernah, sedang, dan akan datang.

Untuk para sahabat yang masih berjuang meretas jalan merebut status Ibu. Allah Mahabesar. Iringi selalu perjuangan dengan munajat padaNya, ya :).

Untuk teman-teman yang jauh dari tanah air, yang kerap bermimpi membawa segala kerempongan kita balik ke pangkuan Ibunda tercinta, we know we can do it, rite? Tossss. Sharing lah di Mamasejagat *eaaaahhhh*.

As long as we believe, we can make it through…everything! Insya Allah.

“Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had, and dealing with fears you didn’t know existed.” ~Linda Wooten

Yes, it surely is :). Selamat hari Ibu.

***

[Cerpen] “TITIPAN”

Oleh : Jihan Davincka

***

Nuril berusaha bangkit dari tempat tidur. Berjalan pelan ke arah jendela.

“Hm…enak juga dapat kamar yang viewnya bagus.” Nuril menggumam sendiri.

Hari masih pagi. Pukul setengah enam. Belum lama azan subuh berkumandang. Sisa hujan semalam masih menyisakan titik-titik embun di kaca jendela.

Wajar jam segini belum terdengar hiruk pikuk berarti di rumah sakit. Hanya sesekali suara langkah mendekat dan menjauh, beberapa obrolan dengan suara rendah dari luar pintu, dan selebihnya hanya kicau burung yang mengundang langkah Nuril mendekat ke arah jendela sekarang ini.

“Halo…,” Nuril tersenyum dan menyapa seekor burung kecil yang bertengger di depan kaca jendela yang masih tertutup rapat.

Nuril mengetuk lembut kaca jendela dengan telunjuknya, menggoda si burung kecil. Burung kecil itu mendadak terbang menjauh. Nuril tertawa lebar, “kamu sudah bisa terbang, ya.”

Masih memandangi pemandangan taman rumah sakit yang hijau dengan berbagai rupa bunga warna warninya, pikiran Nuril melayang ke masa lalu. Hinggap tepat di saat itu, kala itu, kala semuanya masih terasa berbeda.

***

Nuril tidak bisa tidur. Entah jam berapa sekarang. Terakhir dia menengok ke arah jam saat jarumnya menunjukkan pukul 1 pagi. Tapi itu mungkin sekitar sejam yang lalu. Jam 2 malam sekarang ini dan Nuril tak juga bisa memejamkan mata.

Kekhawatiran yang berlebihan sudah menjelma menjadi ketakutan. Nuril memandang ke arah suaminya yang sudah terlelap sejak tadi. Apakah ini bisa dianggap pengkhianatan? Dada Nuril berdegup makin kencang. Situasi sekarang ini sedang tidak menentu, haruskah masalah ini muncul?

“Tapi kan belum tentu, lho. Tunggu saja dulu beberapa hari lagi.” Suara hati kecil yang ini mampu meredakan kegelisahan yang sudah memuncak. Nuril mencoba mengatur nafas. Mencoba berpikir jernih. Belum tentu semua terbukti benar. Belum perlu menceritakan apa-apa kepada Abang.

Selang beberapa hari, Nuril malah makin gelisah. Ah, kelamaan menduga-duga. Di suatu sore Nuril memutuskan keluar rumah sebentar. Sudah saatnya menerima kenyataan, apapun itu.

“Mbak Is, aku keluar sebentar. Titip anak-anak, ya. Doni masih tidur kayaknya. Bella di kamarnya, tuh. Temenin main dulu, ya.”

“Kemana, Bu? Lama ndak? Nanti kalau Bapak tanya…”

“Nggak lama. Sebentar aja, kok. Sebelum Bapak pulang, Ibu dah di rumah.”

Malam itu Nuril akhirnya mendapat kepastian, tidak lagi menduga-duga. Hatinya ciut. Bagaimana ini? Terlintas keinginan untuk… astagfirullah, Nurul memejamkan matanya. Tidak boleh begini, tegasnya dalam hati. Biarpun keinginan terkutuk itu menghantui sepanjang malam, batin Nurul berusaha menghalau sekuat tenaga.

***

Suaminya sudah di rumah sejak siang tadi. Biarpun meragu luar biasa, Nuril mantapkan hati untuk berterus terang kepadanya. Hari ini juga. Memang bukan saat yang tepat. Dan entah akan seperti apa tanggapan suaminya. Tapi Abang harus tahu. Dia berhak tahu.

“Belum ada perkembangan, Bang?”

“Belum. Visanya tetap gak bisa. Gak tahu kenapa.”

“Orang sananya gimana? Mau nungguin?”

“Sepertinya enggak, Dek. Mereka butuhnya buru-buru.”

“Aduh, kok bisa jadi kayak gini, ya? Abang sih dulu buru-buru resign. Jadinya kan sekarang kayak gini.”

“Lho, kenapa jadi malah nyalahin aku, sih? Lagian divisiku kan emang mau bubar. Kalo gak resign juga bakal dikeluarin, Dek.”

“Tapi Bang…harusnya Abang bisa dapat paket pensiun dini itu. Andai saja mau bersabar, andai…” Suara Nurul mulai meledak-ledak.

“Kenapa malah marah, Dek?” Suaminya memotong ucapan Nuril. “Ini sudah kita bahas. Divisiku mau bubar, Dek. Temanku banyak yang mencari lowongan. Aku pikir urusan visa bakal lancar. Tentu dong aku harus sigap membaca kesempatan. Aku harus resign untuk mencoba lowongan itu, Dek. Aku kan sudah bilang, tak banyak yang bernasib sial seperti kita. Teman lain lancar-lancar saja urusan visa ini. Tapi ya…”

Nuril mendadak menangis. Suaminya terlihat bingung. Nuril sebenarnya juga tak tahu, tangisan apa ini. Mendadak saja segala emosi yang tertahan beberapa hari terakhir ini tumpah di saat itu.

“Maaf, Dek.”

Nuril mengangkat wajahnya.”Aku juga mau minta maaf.”

Nuril menyerahkan benda kecil yang sedari tadi dipegangnya. Dia meletakkan benda itu di telapak tangan kanan suaminya. Nuril menunduk lagi, tak berani mengangkat kepalanya..

Suaminya mendesah panjang. “Kok bisa?”. Nuril mendongak cepat, matanya menyala.

“Bukan, bukan itu maksudku.” Suaminya menggeleng cepat. Dia meraih kepala Nuril ke bahunya. Memeluk perlahan, mengangkat muka Nuril sehingga wajah mereka berhadapan.

“Maaf apa? Aku senang.”

“Tapi Bang…”

“Akan ada jalan keluarnya. Jangan takut, kok malah kayak gini, Dek. Selamat, ya.”

Tangis Nuril langsung pecah. Lebih menjadi-jadi dari yang tadi. Suaminya tertawa. “Kamu ini selalu kayak gitu, deh. Kalau hamil muda pasti cengeng.”

***

Nuril senyum-senyum sendiri. Begitu cepatnya waktu berlalu. Duh, capai juga berdiri terus. Nuril balik ke tempat tidur. Duduk bersandar dan meraih dompet yang tergeletak di meja di sebelah tempat tidur. Mengeluarkan sepucuk foto, menatapnya lekat-lekat. Dalam hitungan detik matanya sudah basah.

Doni, anak sulungnya sedang tertawa lebar membawa Anggun. Anggun di foto ini baru berusia 1 tahun. Bella, 4 tahun, berusaha menggapai Anggun yang diangkat tinggi-tinggi oleh Doni. Anggun tertawa jenaka seolah mengerti kedua kakaknya sedang berusaha memperebutkannya.

Proses hamil Anggun yang tadi hinggap di pikirannya. Memori saat suaminya baru saja kehilangan pekerjaan tanpa mendapat pesangon. Sementara, iming-iming tawaran kerja di luar negeri belum menjadi rezeki keluarga mereka kala itu. Visa suaminya gagal. Entah kenapa.

Tapi memang semua orang sudah punya jodohnya masing-masing. Nuril yang mudah panik, gampang dilanda kecemasan, dihibur dengan telaten oleh suaminya, “Adek, rezeki anak ada di tangan Tuhan. Bukan di tangan kita. Tapi kita pasti selalu berusaha yang terbaik buat mereka.”

Dan saat Nuril masih saja menyimpan keengganan, suaminya pun berkata, “Di atas kertas mungkin rasanya mustahil bagi kita untuk menambah anak saat ini. Biaya Doni dan Bella saja tidak sedikit. Aku menganggur. Asuransi kesehatan kita sudah tak punya. Tak ada kantor yang menanggung kita lagi. Tapi Dek, itu kan hitung-hitungan manusia. Matematika Tuhan itu bukan urusan kita untuk memahaminya. Tuhan punya kalkulator sendiri.” Betul, Tuhan punya kalkulator sendiri.

Dan memang, manusia itu keterbatasannya sangat terlihat dan Tuhan punya perhitungan yang maha luas. Belum genap 6 bulan kandungan, tiba-tiba tawaran kerja datang menghampiri.

Suami yang sudah berusaha melamar kemana-mana segera merespons. Biarpun sempat pesimis karena ini datang dari luar negeri lagi. Negara yang sama dimana beberapa bulan yang lalu pengurusan visanya terhenti di tengah jalan. Alhamdulillah, kali ini, pintu rezekinya membukakan diri lebar-lebar bagi mereka untuk masuk.

Hamil 7.5 bulan, Nuril memberanikan diri terbang jauh bersama suami dan kedua anak mereka. Merantau pertama kali ke luar negeri dan melahirkan Anggun, anak ketiga mereka, di sana.

Tiba-tiba terdengar bunyi langkah-langkah kaki mendekat. Nuril cepat-cepat menyusut airmatanya.

“Mama, mamaaaa…” Ketiga anaknya menghambur ke arahnya. Suaminya mengiringi di belakang mereka.

“Wah, sudah bangun.” Suaminya tersenyum. “Eh, mana bayinya?”

“Belum, tuh. Sebentar lagi mungkin.”

Dan benar saja. Pintu yang baru saja tertutup, dibuka lagi dari luar secara perlahan. Seorang suster melangkah masuk, tersenyum simpul sambil mendorong tempat tidur bayi berwarna putih.

“Itu adeknya Anggun. Itu adeknya Anggun.” Anggun langsung bersorak.

“Iya, Mama nanti sama adek terus. Anggun gak dipeluk-peluk Mama lagi,” seloroh Doni.

“Iya bener. Anggun tidur sendiri nanti. Gak boleh ya di kamar aku,” Bella ikut menggoda.

“Mamaaaa…,” tangis Anggun sudah hampir pecah.

“Anggun kan sudah besar, sudah punya adek. Nanti malah Anggun yang peluk-peluk Adek.” Suami Nuril angkat suara.

“Tapi Anggun mau sama mama…Anggun maunya te…”

“Ya gak bisa,” sergah Doni.

Suara Anggun sudah bercampur tangis. “Anggun gak mau besar. Anggun kecil aja terus.”

Seisi ruangan tergelak bersama.

***

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. KAMILAH yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” (QS 17:31)

***

Kalau ‘ketakutan’ akan rezeki yang menghalangi untuk mencukupkan anak hingga angka tertentu, apa boleh menurut Alquran?

Eh yang disebutkan di ayatnya kan ‘membunuh’, ya. Kalau mencegah?

Bagaimana? 😉

Semua Anak … Cerdas!

“Kunci kesuksesan anak Anda? Matematika dan bahasa Inggris!” Begitu isi tulisan sebuah spanduk yang terpampang lebar-lebar yang dipasang di sebuah jembatan penyeberangan.

Saya tidak sengaja melihatnya ketika melewati salah satu jalan protokol ibu kota. Lagi macet parah. Daripada putus asa karena taksi saya tak kunjung bergerak maju, saya alihkan saja pandangan menyisir apa saja selain keruwetan yang terjadi di depan jalan sana.

Kelihatan spanduk yang cukup besar itu. Slogan di atas tertulis mencolok dengan warna ngejreng. Oh, ternyata iklan sebuah tempat kursus buat anak-anak. Di bawah kalimat tadi, ada keterangan mengenai nama tempat kursus, lengkap dengan alamat dan nomor teleponnya.

Wah, trik pemasaran yang cukup jitu ;) .

***

Kenapa, sih? Jangan-jangan saya menulis ini karena saya tak pandai di kedua mata pelajaran di atas. Jangan salah. Saya ini sering sekali menjadi juara kelas dari SD hingga SMA, sombong sedikit hihi :p.

Bahkan kuliah di fakultas yang sangat mengandalkan kemampuan logika matematika. Bahasa Inggris? Wah, sedari kecil saya suka sekali dan tak pernah punya kesulitan berarti dengan bahasa Inggris.

Saya berasal dari keluarga besar. Tujuh bersaudara. Jadi sudah biasa dengan macam-macam karakter dan pola pikir. Saya yang sangat cerewet ini bisa hidup damai tentram satu atap belasan tahun dengan kakak-kakak dan adik-adik saya yang “warna warni”.

Adik saya yang perempuan sangat supel, banyak teman, biarpun prestasi akademisnya sedang-sedang saja. Iri deh dengan kemampuannya bergaul di semua kalangan. Kontras dengan dia, kakak saya yang nomor 3 sangat pemalu. Hanya bisa mengobrol santai dengan orang-orang terdekat saja, padahal orangnya super kocak. Jika di depan umum, membisu seribu bahasa.

Salah satu kakak saya, yang nomor 4, pas di atas saya, saat ini sedang berada di puncak kariernya. Dia salah satu definisi sukses buat saya. Memangnya apa sih kerjanya? Ahli matematika? Jago sekalikah bahasa Inggrisnya?

Bukan sama sekali! Kakak saya bekerja di bidang mode. Bukan seorang desainer, tapi seorang fashion stylist! Saya tak menyangka juga hobinya mengutak-atik cara berpakaian seseorang, berburu busana dari mal mewah hingga pasar loak, bisa menghasilkan uang banyak.

Dari kecil kakak saya ini sangat alergi sama yang namanya matematika. Dia sungguh kerepotan menghadapi mata pelajaran yang satu ini. Dia juga tidak suka bahasa Inggris. Tapi sekarang sudah mulai mau belajar karena sering bepergian ke luar negeri.

***

Semua orang menginginkan anaknya tumbuh cerdas dan menuai kesuksesan di masa depan. Tapi apa sebenarnya definisi CERDAS ini?

Contohnya saya. Prestasi akademis saya terbilang gemilang di masa sekolah. Tapi tahu tidak, ada satu mata pelajaran yang sangat saya takuti. Olahraga. Iya, saya paling tidak bisa olahraga. Saya bolak-balik mendapat angka 6 untuk pelajaran satu ini.

Pada suatu ujian praktik, saat duduk di bangku SMA, malunya minta ampun. Saya satu-satunya siswi yang tidak berhasil mencetak satu angka pun di bawah ring bola basket. Masing-masing diberi kesempatan sebanyak 10 kali. Dan saya gagal total. Teman-teman banyak yang meledek. Termasuk kecengan saat itu yang memang salah satu punggawa tim basket di sekolah kami. Rasanya ingin menghilang ditelan bumi.

Di kantor dulu pernah mewabah hobi main pingpong. Berebutan ingin belajar. Ternyata gampang karena tiba-tiba jadi banyak yang bisa. Termasuk para karyawati. Saya ikutan belajar, dong. Biarpun sudah tiap hari sepulang kantor minta diajari, selama sebulan penuh, servis saja tidak pernah bisa!

Yah, urusan olahraga, bukan kurang lagi, tapi saya termasuk idiot. Sama dengan urusan menghafal jalan. Entah sudah berapa kali kami sekeluarga berangkat ke Mekkah dari kota Jeddah. Saya masih kebingungan dengan rutenya. Saya sering merasa jalan yang kami lewati itu berubah-ubah.

Suami saya sampai jengkel karena saya sering bertanya, “Kok lewat sini? Tidak lewat jalan kemarin saja?” Dia menggerutu, “Aduh, ini kan jalannya dari dulu selalu lewat sini. Masa tidak hafal juga, sih?”

Lagi-lagi, urusan menghafal jalan, saya cuma bisa pasrah. Saya sangat lemah untuk urusan satu ini. Makanya selama tinggal di Jeddah, suami melarang keras saya naik taksi sendiri. Padahal di sini boleh-boleh saja, lho, perempuan naik taksi sendiri ke mana-mana. Padahal struktur jalan di kota Jeddah teratur banget, lurus, dan berbentuk kotak.

Nah, karena pada dasarnya kecerdasan itu memang macam-macam. Pasti sudah familiar dong dengan istilah multiple intelligence. Apakah itu?

Ada 8 kecerdasan yang tercantum dalam pengertian ini :

  1. Verbal/Linguistik
  2. Logis/Matematis
  3. Visual/Pandang-ruang (spasial)
  4. Tubuh/Kinestetik
  5. Musikal
  6. Intrapersonal
  7. Interpersonal
  8. Naturalis

Jadi sebenarnya naive sekali, ya, kalau kita hanya menempelkan definisi cerdas secara sempit. Cerdas itu ya mesti jagoan matematika. Jago berhitung. Jago fisika. Padahal semua yang disebutkan barusan cuma satu di antara 8 kecerdasan yang ada.

Siapa bilang anti matematika punya pengaruh besar dalam kesuksesan kita? Nanti saya kenalkan ke kakak saya ya.

Jadi, tipe-tipe kecerdasan ini cukup penting untuk digali agar kita lebih mudah mengarahkan bakat anak kita untuk masa depannya nanti. Kalau sudah bisa menemukan passion yang tepat, didalami dengan sungguh-sungguh, tinggal urusan waktu saja untuk menuai keberhasilan.

Ini bisa iseng-iseng kita tes, lho. Konon katanya, menurut penelitian, tiap orang itu biasanya “kuat” di 3 hal, sedang-sedang saja di 2 hal, dan cukup “lemah” di 3 hal lainnya.

Contohnya… lagi-lagi, saya! Saya cukup fasih secara verbal-logis-interpersonal, tapi biasa-biasa saja di musikal dan intrapersonal, dan lemah di visual-natural-kinestetik.

Makanya tidak heran, saya lemah di kemampuan visual, jadinya gampang kesasar di jalan. Hal yang sama berlaku untuk kemampuan kinestetik/olah tubuh. Makanya tidak pernah bermimpi jadi atlet, cukup jadi fansnya atlet yang ganteng-ganteng saja. Hahaha.

***

Jadi, jangan buru-buru panik bila si kecil mengerutkan kening ketika dihadapkan dengan sederetan angka-angka. Coba serahkan raket tenis atau kenakan sepatu balet di kakinya?

Atau mungkin si kecil yang cantik tak kunjung gemulai jika suara musik menghentak-hentak mengajak menari. Coba kenalkan dia lebih dekat pada alam. Mungkin jiwanya mengarah ke naturalis.

Kesimpulan tulisan ini, saya kutip dari tulisan salah satu orang cerdas yang dikenang sepanjang masa :

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”  ― Albert Einstein

Yakini, semua orang itu… cerdas!

***

Nah, ilustrasi fotonya adalah foto para bocah-bocah gue hehehehe. Terlihat jelas biarpun sama-sama anak laki, mereka  tipe yang berbeda :). Si sulung Abil sudah menunjukkan potensi verbal dan logika yang cukup tinggi. Terlihat aktif dan lincah nan ‘garang’ namun persis kayak Mamanya, kinestetisnya kurang hihihihi.

Adapun si kecil Narda. Lebih pemberani mengarah ke naturalis kali, ya. Kinestetik jauh lebih terasah dari abangnya.

Love you both…no matter what ;). *kecupBasahSatuSatu*

kata kata bijak tentang belajar

Every Mom Has Her Own Battle

by : Jihan Davincka

***

Salah satu pertikaian yang tak kunjung usai antara sesama ibu-ibu adalah masalah SAHM vs WM. Stay at Home Mom vs Working Mom. Please, don’t say ‘Fulltime Mom’, karena tidak ada yang namanya ‘Part-time MOm’.

Every Mom has her own battle
Gambar : www.sadlyno.com

“Alhamdulillah ya, sesuatu banget. Gajian lagi hari ini. Bisa beli ini-itu tanpa nyodorin tangan ke suami. Nikmatnya menjadi wanita mandiri.”

Kubu sebelah siap membalas, “Alhamdulillah ya, badan encok karena sibuk BBM an. Kerja gratisnya tidak sia-sia, lho. Insya Allah surga balasannya. Super sesuatu.” BBM = beberes, benah-benah, memasak. Hihihihi.

Dan akhir-akhir ini, kancah pertarungan diramaikan oleh pendatang baru : Working at Home Mom. Biasanya di jumat sore, saat macet menaklukkkan ibukota apalagi jika dibombardir dengan hujan, kubu yang ini siap berkicau :

“Aduh, hujan nih. Berkah namanya. Alhamdulillah ya, di rumah-rumah saja dari tadi. Bebas dari lebatnya hujan. Tapi kantong tetap basah, gak ikut-ikutan kering. Main sama anak sekaligus dapat penghasilan sendiri. Sesuatu banget.”

Yang satu mengatasnamakan kemandirian. Ada yang merasa berhak atas surga. Dan ada yang merasa sebagai pemenang sejati, “hey I’ve got both, mandiri plus kebersamaan bersama keluarga.”

***

Parenting style itu unik tiap orang. Saya tidak pernah meragukan itu. Saya tidak percaya jika lebih banyak SAHM yang berhasil mengantar anak-anaknya ke gerbang kesuksesan. Jika para WM harus mengorbankan keluarganya demi karir. Contoh nyatanya banyak di sekitar saya. Yang saya lihat langsung.

Every Mom has her own battle
Working at Home – Mommy (Gambar : www.alexisgrant.com)

Ibu saya bukan SAHM. Mama panggilannya. Saya ingat betul saat pulang sekolah dulu, bukan Mama yang menyiapkan makanan di meja. Bukan wajahnya yang pertama kali muncul saat saya membuka mata setelah waktu tidur siang usai. Yang meladeni saya berganti-ganti.

Tapi saya tidak pernah lupa yang mana Mama saya ;). Apalagi berniat memanggil yang berganti-ganti itu dengan sebutan ‘Mama’. Tidak pernah. Kalau waktu bisa berjalan mundur pun, saya tidak akan meminta agar Mama stay at home for us. Cukup seperti dulu. She’s always be the best Mom for us ;).

Salah satu kerabat yang saya kenal juga berprofesi sebagai WM. Dari awal perkawinan hingga detik ini. Ketiga anak-anaknya tumbuh diatas rata-rata. Yang bungsu kini tengah menempuh pendidikan kedokteran di universitas negeri ternama di tanah air. Kakak-kakaknya tidak kalah hebatnya secara akademis maupun non akademis.

Dan ada beberapa kerabat yang memilih jalur SAHM. Tapi entahlah, anak-anaknya malah belum mampu berdiri secara tegak bahkan ketika mereka telah memasuki gerbang pernikahan.

Every Mom has her own battle
Gambar : www.nazshemah.com

Tapi ketika saya memutuskan mengakhiri status sebagai Working-Mom 3 tahun yang lalu bukan karena figur mana pun. It’s my own choice. Buat saya pribadi, itu adalah pilihan terbaik yang paling cocok untuk saya. Belum tentu buat orang lain ;).

Tentu ada adjustment yang harus dilakukan. Tidak 100% kerelaan langsung berlabuh dalam hati.

***

“Ah, dia gak ngurus anak. Seharian saja di kantor. Anak dikasih ke pembantu.” Cibiran buat Ibu pekerja kantoran.

Hey, sepanjang hari di kantor, statusnya sebagai Ibu tidak dicopot begitu saja. Subuh-subuh sudah harus bangun mempersiapkan makanan si kecil. Pagi – siang – sore menelepon ke rumah mengecek si kecil di sela-sela kesibukan kantor.

Jangan mencibirnya. Belajar saja akan ketangguhannya membagi waktu. Kekuatan hati yang tanpa batas untuk senantiasa membagi pikiran antara pekerjaan di kantor vs pekerjaan di rumah.

Every Mom has her own battle
Working Mom (Gambar : www.eyesonheaven.net)

“Ih, kok mau yaaaa, sekolah tinggi-tinggi kok lha ya BBM-an doang di rumah.” Definisi BBM nya diatas, masih ingat kan? :P.

Sepanjang hari di rumah bersama anak tidak hanya menggunakan kekuatan fisik saja, batin juga mesti kuat ya, Bok :P. Jangan bertanya-tanya, ambil saja hikmah kesabaran seluas samudera mereka yang memilih jalan ini.

“Ih, paling keren gue dong. Bisa sepanjang hari di rumah. Uang mengalir terus. Deket ama anak sekaligus mandiri secara keuangan.” Mau, mau, mauuuuuuu! Hehehe.

Pada umumnya yang model seperti ini ikut bisnis MLM. Wah, berkarir di dunia MLM ini beda lagi lho tantangannya ;). Atau buat yang berbisnis lain di rumah, pasti repot membagi pikiran sekaligus tenaga jadi dua di saat yang sama. Kita bisa melihat dan mencontoh persistensi mereka yang tak ada habis-habisnya.

Jadi, intinya bukan di seberapa banyak waktu yang diluangkan untuk keluarga. Apa artinya bila pilihan itu tak bermakna dan malah menjadi bumerang?

Relakah meletakkan karir demi anak tapi sepanjang hari meratapi pilihan itu?

Apa sanggup setiap hari menghabiskan waktu di belakang meja tapi tak kunjung rela bila membayangkan anak harus berada di tangan orang lain?

“Sebesar apa pun keinginan untuk membahagiakan anak dan keluarga, jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.”

Every Mom has her own battle
Happy Mom (Gambar : www.mohersnotebook.com)

Apa yang coba ditawarkan kepada mereka jika kita sendiri telah merasa kebahagiaan kita telah tercabut dari akarnya? Ingat petunjuk keselamatan dalam pesawat untuk pertolongan pertama saat sirine tanda bahaya berbunyi, “selamatkan diri Anda terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain.”

***

“Surga dibawah telapak kaki Ibu.” Bukan di bawah telapak kaki Ibu Rumah Tangga, Ibu Pekerja Kantoran, atau Ibu Pengusaha :P. Tapi di telapak kaki (semua) Ibu :).

Semua pasti ada pengorbanannya. As every Mom has her own battle. Win yours without being ‘nyinyir’ to others.

Sepakat? ;).

Menghadapi Anak Susah Makan

Tulisan di salah satu ‘milis ibu2 gaul’ ini menyadarkan gw betapa seringnya yah (sadar gag sadar) kita merasa kalo anak sebagai cerminan / pencapaian diri kita pribadi sebagai ibunya huhuhu.

Ummm…kalo gw pribadi soal printilan-rintilan seperti baju, mainan, pokoknya benda-benda bersifat materi gitu, sih, emang enggak pernah ambil pusing. Mungkin karena anaknya juga laki sih, ya :D. Lebih enggak heboh masalah gini-ginian.

Tengokin deh tuh mainannya si sulung. Sampai umur 2 tahun 7 bulan ini, mainannya masih miniiiiiim hehehehe. Apalagi pas di Jeddah ini, ogah bener gw beliin mainan. Di sini mainannya cupu-cupu dan mahal-mahal, ndak ada ITC sih =)).

Baju-baju? Sampai umur 2 tahunan, masih doyan saja si doi gw pakein baju lusinan yang murmer itu. Itu pun brenti beliin baju lusinan karena stok di toko-toko ITC nampaknya cuma mentok ampe umur segitu doang hahaha.

Peralatan makan? Ahhh, yang plastik-plastik merek-merek enggak penting juga ndak masalah :D. Stroller? Enggak beli! Lungsuran dari kakak ipar hihihi. Clodi-clodi super mahal yang konon katanya ramah lingkungan itu? Alamaaaaak, ramah lingkungan? Popok kain saja kaleeee, ramah di kantong pulak. Dasar emak pelitttt hahaha.

Yang paling ‘menyiksa’ gw selama ini ya soal berat badan! Huhuhu.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Sampai 6 bulan bolehlah si sulung termasuk rata-rata, dengan berat 7 kg di usia 6 bulan yah, ndak mungil-mungil amat. Itu pun udah sering banget gw dapet komentar pedes bak keripik singkong balado dari ibu mertua huhuhu.

Waktu dulu resign Abil umur 8 bulan, penuh harapan gw kasi segala jenis makanan + jungkir balik di dapur *ceile* biar pun bakat+hasrat memasak pas-pasan demi biar si doi montok dikit lah. Sia-sia saja !! *bantingCelemek*.

Si doi sih makannya banyak, ini pake acara bentak-bentak loh, karena tanpa sadar gw suka bilang, “Aduh, makan dong sayang… nanti mama dibilang gag peduli ama Abil!”

Sempet stres berat loh gw *nangis*. Manalagi kan udah jadi SAHM, anak tetangga yang emaknya kerja pulang malam mulu dan rajin dinas ke luar negeri malah montok-montok sajah tuhhhh :((.

Lama kelamaan masalah berat badan ini emang jadi momok berat banget deh buat gw. Saban ada acara keluarga, dari semalam udah gw utak utik tuh baju mana yg bisa dipake biar si doi keliatan montok dikit hihihi. Terutama acara berkunjung ke rumah ibu mertua. Kalo perlu, beli baju baru! =)).

Di usianya yang 20 bulan barulah setelah berbulan-bulan gw berburu informasi di Google, ‘berkenalan’ deh gw sama yang namanya Dr.Widodo, si dokter Sp A yang memang khusus nanganin persoalan gizi anak. Sampai punya klinik picky eater segala. Baru deh gw tau apa yang sebenernya terjadi sama Abil *ceile*.

Ternyata si doi memang punya masalah pencernaan, makanya gw suka bingung, kog dia suka muntah-muntah ya, beraknya banyak, makannya sih banyak tapi jadinya gag ngaruh :(. Kadang gw pikir porsinya yang kebanyakan apa ya? Manalagi saking pengennya si doi gemuk, gw hantam aja segala jenis makanan sejak dia MPASI, gag pake aturan cek 3 hari alergi itu loh huhuhu. Bodoh sekali mamanya ya :(.

Akhirnya setelah disiplin menerapkan “dietary intervention” ala dokter Widodo ini, pelan-pelan ilang deh sifat muntah-muntah dan berak-beraknya. Buang airnya sih gag mencret loh, cuma sering gitu, sehari bisa ampe 3-4x  -_-. Enggak cair tapi rada benyek. Yah, karena memang sifat super aktifnya adalah salah satu ciri dari anak penderita food-hypersensitive ini jadinya emang beratnya susah naik :(.

Tapi at least sekarang si ganteng kecilku dah gag muntah-muntah lagi ^_^ dan bisa makan lahap asalkan disiplin gag ngasih makanan aneh2 ^_^. Biarin deh beratnya segitu-gitu aja ;).

Emang deh, rempong benerrrr jadi ibu-ibu yahhhhh =)).

Gambar : feminspire.com
Gambar : feminspire.com

Coba dulu enggak sibuk mikirin image diri sendiri di hadapan orang lain, mungkin lebih cepet ketauannya masalah pencernaan si anak :(. Mudah-mudahan lebih dewasa deh dan lebih ‘pengalaman’ nanti buat anak ke-2.

Dulu suka berdoa semoga anak kedua lebih ‘montok’ hehehehe, tapi sudah insaf, dan berharap semoga si dedek dalam perut nanti sehat jasmani rohani lebih penting :). Toh menurut dokter nya ini bukan major problem kog. Malah beliau mencurigai si Abil dapetnya karena keturunan.

Yah, intinya dulu gw gag fokus ke Abil nya tapi fokus ke gimana nih biar bisa ‘nyelametin muka’ di depan ibu-ibu lain, keluarga, dan bla bla bla. Tanpa sadar suka ngelampiasin ke anak sendiri malah, marah-marahin dia karena gag mau makan, karena muntah, karena beol-beol mulu hihihi. Ampuni Mama ya Dear, ampuni gw juga, Ya Tuhan :'(.

Lagian kog fokus ke badan saja sihhh, coba liat si doi kan boleh deh badannya mungil, tapi kecenya kan tak terbantahkan! Ihiiiiyyyy <3.