Generasi Milenial : Now and Then

Generasi milenial : Joey Alexander, bocah belasan tahun yang konon banyak belajar tentang musik jazz dengan menonton video di youtube. Joey, menjadi fenomena karena berhasil menjadi salah satu nominator di ajang bergengsi kelas dunia, Grammy Award.

generasi milenial berprestasi Joey Alexandar, gambar : elshinta.com
Joey Alexandar, gambar : elshinta.com

Laksita Paramita, memulai usaha dengan modal awal kurang dari 50 ribu rupiah. Dalam tempo 16 bulan, sukses meraup omzet ratusan juta per bulan. Usaha apa? Menjual kaos kaki! Dia tidak berjalan kaki sampai keringatan menawarkan dagangannya. Tidak juga menghabiskan uang untuk menyewa kios dan semacamnya. Laksita hanya mengandalkan penjualan secara online, via akun instagramnya di @VorioSocks. Usianya baru menginjak 20 tahun.

Joey dan Laksita mewakili generasi millenia yang konon sebagian besar kehidupannya diwarnai sentuhan teknologi era digital terkini. Generasi yang sama yang kepadanya banyak diarahkan macam-macam tuduhan. “Astaga, anak-anak zaman sekarang ancur banget, ya.”

Sebagian teman saya yang bisa dikatakan angkatan 80/90-an masih sibuk bernostalgia dengan masa kecil kami dulu. Betapa indahnya masa lalu dan tentu saja sambil berkomentar betapa tidak asyiknya kondisi di masa kini. Betapa bagusnya lagu-lagu yang ngetop di tahun 80/90 an. Betapa enaknya jajanan kecil masa dulu. Betapa serunya permainan masa kecil ala generasi kami dan seterusnya.

Mengingatkan saya kepada salah satu kakak saya yang mengomeli saya karena saya menggemari aneka rupa boyband yang memang berjaya di era 90an. Katanya, “Musik cengeng. Yang bagus tuh yang tahun 70 an. Lagunya keren-keren.”

Ibu saya yang mengeluhkan dandanan perempuan ala 80an yang menurutnya terlalu seronok. Di era 60/70 an katanya lebih anggun dan berkelas.

Seperti nenek saya yang memprotes ibu saya yang memperkenalkan blender untuk membuat penganan khas kampung saya, Barongko. Menurut Nenek, Barongko itu ya enaknya kalau pisangnya ditumbuk bukan diblender. Nenek mengeluh betapa pemalasnya ibu-ibu sampai-sampai bikin Barongko pun harus pakai blender. Betapa hebatnya ibu-ibu di tahun 60/70an yang belum bersentuhan dengan banyak colokan listrik hehehe.

Tenang Nek, cucumu ini masih melestarikan beberapa perkakas masa lalu *sodorinCobekanBatu* ?

The same old story … on and on again. Boyband era 90-an yang dulu dimaki karena terlalu menye-menye kini dirindukan kembali oleh penggemarnya. Tentunya sambil mencela selera musik generasi millenia era sekarang.

Era digital perubahannya seperti berlari. Salah satu yang paling terasa, maraknya pergaulan via media sosial. Media sosial tidak hanya jadi ajang nyinyir-nyinyiran tapi juga jadi penyebar berita utama. Mayoritas trending topic seringnya dimulai dari media sosial kan? Meluapnya informasi membuat dunia terasa penuh dengan kejahatan dan hal-hal buruk lainnya.

Sesama anak SD berantem di kelas di kabupaten anu provinsi entuh, dalam hitungan menit bisa tersebar luas di seantero Nusantara. Tuduhan demi tuduhan berhamburan. “Betapa memprihatinkan generasi sekarang!” atau “Astaga, anak-anak zaman sekarang kasar-kasar banget.” Yang lainnya, “Ih, sekarang kejahatan makin banyak!”

Belum lagi berita-berita kejahatan, mulai dari yang remeh sampai yang berbau konspirasi, beuh! Bisa dikupas tuntas beramai-ramai. Kadang, kenal orangnya saja tidak, tapi saking dahsyatnya berita tersebar, kita mendadak ikut-ikutan benci dan menghakimi dengan keras.

Seolah semuanya baru terjadi di masa sekarang. Padahal semuanya hanya perulangan dari masa ke masa. Memangnya dulu persentase orang jahat lebih sedikit daripada orang baik? Kata siapa? Mana datanya? Kalau hanya berdasar penyebaran berita di media jadi rancu dong, ya.

Dulu penyebaran informasi sangat terbatas. Sekarang? Kejadian di benua terjauh pun yang tidak terbayang oleh kita seperti apa tempatnya bisa kita dapatkan informasinya dalam hitungan detik.

Parahnya lagi, jargon bad news is a good news di kalangan media benar-benar dimanfaatkan seoptimal mungkin. Jadilah yang buruk-buruk bisa menyebar lebih cepat. Anak-anak yang saling membully viralnya bisa mengalahkan anak-anak generasi millenia yang sebenarnya punya banyak prestasi yang dulu mungkin tak terjangkau di masa lalu.

Anak-anak sekarang banyak yang menjadi penulis cilik. Diperkenalkan di dunia blog sejak dini. Jauh lebih mudah memasarkan karya-karya tulis di era digital. Siapa pun bisa berkarya asalkan mau bekerja keras. Prasarana bukan lagi halangan berarti.

Uniknya, orang tua malah banyak yang menarik diri dari kecanggihan teknologi. Sebagian orang tua memandang sarana internet penuh “ketakutan”. Malah cenderung ingin menarik diri ke masa lalu. Ya seperti lebaynya beberapa pihak yang memuja-muja masa kecil yang dianggap sebagai masa keemasan.

Saya pribadi malah iri dengan anak-anak zaman sekarang. Dulu, mencari informasi beasiswa saja serba terbatas. Kini, informasi bertaburan via internet. Era sekarang juga mempermudah banyak hal lainnya.

Daripada mengutuk banyaknya video-video negatif, manfaatkan saja situs seperti youtube untuk mengajarkan anak-anak membaca. Anak saya yang pertama dan kedua sangat terbantu mengenali huruf dengan maraknya video-video cara belajar membaca dan mengeja di youtube yang bisa dinikmati secara gratis.

Industri kreatif di bidang ekonomi juga dipicu oleh penggunaan media sosial. Masih ingat Laksita yang diceritakan di awal? Menjual kaos kaki dengan memanfaatkan akun instagram. Label pengusaha bisa dirintis sejak usia dini karena banyaknya kemudahan teknologi.

generasi milenial Gambar : voria socks
Gambar : voria socks

Kecanggihan teknologi mungkin seperti sebilah pisau. Tentu marabahaya yang diundangnya jika mata pisau ini berada di tangan seorang yang berniat menghabisi nyawa orang lain. Namun, di tangan seorang ibu yang meracik menu di dapur, sebilah pisau mampu mendatangkan manfaat yang tidak sedikit.

Saya percaya, mana ada sih hal-hal di dunia ini yang mengandung manfaat saja? Air putih yang sudah sangat nyata khasiatnya buat kesehatan kita, bila dikonsumsi sekaligus dalam jumlah banyak, apa tidak membuat perut kembung?

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari jangan kita yang ditelan zaman. Kitalah yang harus menaklukkan zaman. Media perantara tidak seharusnya menjadi masalah. Termasuk dalam urusan mendidik bagi para orang tua. Manfaatkan kemajuan zaman untuk mengoptimalkan potensi si kecil. Sembari mengontrol penggunaannya agar tetap di jalur yang tepat.

“The only way to make sense out of change is to plunge into it, move with it, and join the dance.” -Alan Watts

Terasa, seperti ombak yang datang menghadang menghadapi cepatnya zaman berlari. Jangan dilawan. Siapkan papan selancar. Tantanglah ombak di puncak tertingginya. Lalu … meluncurlah bersamanya :).

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

That The World Shoud Go On

“Robin itu yang mana sih?”

“My best friend.”

“Iya, Mama tahu. Tapi orangnya yang mana?”

“The one who’s usually sitting next to me. We ‘re on the same table this week. You know, the green table.”

“Iyaaaaa, tapi orangnya tuh yang kayak apa? Yang gimana?”

“He likes drawing, he likes playing. But he didn’t like dinos. I like dino. You know…”

Bla bla bla mulai dia meracau soal aneka rupa dinosaurus. Persis kayak abangnya dulu hahahaha.

Robin itu diklaim oleh anak ke-2 saya sebagai “best friend”nya di sekolah. Tapi 2 minggu terakhir ini dia musuhan sama Robin. Karena Robin katanya kalau diajak main apa dia maunya main yang lain.

“I have a new best friend.”

“Oh ya? Namanya?”

“Russel. He’s very nice.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

“Orangnya yang mana tuh?”

“The one who said that my bag is cool.”

Here we go again *pijetPijetKening*.

Akhirnya saya bisa mengenali mereka satu persatu, physically! Hahahaha.

Setelah foto “resmi” mereka sekelas plus Miss-nya selesai dicetak dan dibagi-bagikan. Barulah saya bertanya sambil nunjuk satu-satu, “Ini siapa? Kalau yang ini namanya siapa?”

Wow, ternyata si Robin itu sering saya perhatikan di sekolahan pas jam pulang. Soalnya ganteng booo *ihiyyy*. Mirip Christiano Ronaldo versi anak-anak –> mamak-mamak genit! hahaha :p.

Kemudian, yang namanya Lucy itu ternyata etnis Tionghoa. Dan seterusnya.

Sebenarnya beberapa sih sudah pernah dikenalkan kalau kebetulan papasan pas pulang sekolah. Seringnya saya buru-buru kalau pulang. Karena jemputnya kan bareng adek bayi. Adek bayi nih, strollernya diem dia pasti nangis, seolah menuntut, “Keep rolling, Mommy, keep rolling!” Hahaha, zzzz -_-

Gak sempat deh kepo-kepoin teman anak-anak.

Anak pertama dulu juga mirip sih. Cuma dulu kalau pulang sekolah ya saya tanya-tanyain langsung, “Ini siapa? Itu siapa?” Sambil literally nunjuk anak-anaknya langsung hihihihi.

Karena kalau dengar deskripsinya ya begitulah.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Misalnya di kelas si sulung ada 2 anak yang namanya sama, Rowena A dan Rowena B. Saya tanya bedanya apa. Anak saya jawab, “Rowena A who always plays a role as a narrator in every christmas play. Don’t you remember? Rowena B who likes running around like silly girl. Ck ck ck…”

Ternyata ya booooo … Rowena A itu aslinya anak Afrika. Rowena B berambut kuning panjang dengan kulit kemerah-merahan.

Padahal teman-temannya di kelas lumayan multikultural. Kadang bisa nebak dari nama. Misalnya Rotsni atau Haidar itu biasanya kalau enggak Pakistan ya mungkin India. Tapi Russel itu ternyata India juga, nah loooo :p

Perhatikan cara anak-anak mendeskripsikan temannya. He likes drawing, her voice is very loud, he likes giggling all the time, the one who always walk with me when we’re out of the class ….

How sweet <3

Tidak pernah rasanya anak-anak saya bilang, “Itu lho Maaaa, yang orangnya item, rambutnya keriting. Yang anu itu lho, yang mukanya bule, hidungnya mancung pokoknya cakep deh.”

Mereka mungkin awalnya malah tidak nyadar tentang perbedaan fisik. Asyik saja mereka berbaur, mengobrol bareng pas lagi baris, lari-larian, kejar-kejaran dan sebagainya.

Kebalikannya, para orang tua menunggu dengan canggung di luar gedung menjelang jam pulang sekolah hehehe. Paling kasihan yang super minoritas lah *tunjukDiriSendiri* :p.

Terakhir saya mengajak ngobrol ibu-ibu yang berdiri di belakang saya, “The weather is very nice today. Last week was disaster.” –> rule mengobrol pertama kali dengan orang yang tidak dikenal versi Eropa : silakan ngomongin cuaca! Hahahaha.

Dia cuma ngangguk sambil cepat-cepat mengeluarkan handphone. Prasangka baik saya : orangnya pendiam. Eh, besoknya dia ketawa sampai ngakak-ngakak saat lagi mengobrol dengan 2 temannya. Oh, pendatang juga. Saya tidak paham bahasa mereka. Kemungkinan besar orang Polandia, pendatang sesama Eropa yang paling banyak di Irlandia.

Jadi begitulah. Sementara anak-anak tidak menyadari “sekat-sekat” ini, di luar gedung, orang India mengobrol dengan orang India, yang etnis Arab (umumnya Saudi/Mesir) ngerumpi bareng sesama mereka, orang Polandia dengan sesamanya, orang Irlandia juga begitu. Orang Indonesia? Yuk yaaa, main sama adek bayi ajaaaa hahaha.

Sulit menembus sekat. Bahkan di negara yang kita kira “terbuka” dan sarat pendatang. Pergaulannya pun berkelompok-kelompok. Karena yang sesama berkerudung pun, kalau beda “ras” ya cuma sebatas “assalamu alaikum” doang :p

Kalau mengobrol one on one memang seru. Tapi kalau sudah ada temannya ya mereka biasanya terbawa dan lupa kalau ada saya. Ini bukan pengalaman pertama kok. Waktu naik haji di tenda juga kan gitu. Kalau ngomong berdua pada pakai bahasa Inggris dengan saya. Begitu ramai-ramai, ya mendadak gelap hahaha. Di tenda, semuanya memang orang Mesir kecuali saya :D.

Mungkin waktu kita masih kecil pun, kita seperti anak-anak kita, ya. Celamitan dengan siapa saja yang mau bermain dengan kita. Asal mereka baik dan tidak nakal, pasti kita main bareng ^_^.

Saya pikir dulu karena saya tinggal di lingkungan homogen. Tapi anak-anak saya kan tidak.

2 girls hiding pixabay
Gambar : pixabay.com

Jika mereka dewasa nanti, ya kemungkinan akan tumbuh seperti kita-kita juga. Jadi, waktu kecil bisa begitu mengapa saat dewasa bisa berubah? Siapa, apa yang mengubah mereka? Mengapa dan bagaimana?

Dalam imajinasi saya yang biasanya modal daster doang dan minim ilmu psikologi ini (hahahaha), jadilah saya ingat kira-kira dulu apa yang saya lakukan dari kecil sampai dewasa. Yang sebisanya diingat.

Jadilah saya menyimpulkan begini …

Waktu kecil, kita bergantung pada sekitar. Orang tua dan lingkungan. Bisa dibilang, tidak bebas tapi tidak ada tanggung jawab juga kan? Apa-apa dipilihkan, apa-apa ditunjukkan.

Jadi ingat petunjuk bahwa bayi itu lahir tanpa dosa. Berarti memang naturalnya kita dilahirkan dengan segala potensi kebaikan.

“No one is born hating another person because of the color of his skin, or his background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than its opposite.”
― Nelson Mandela, Long Walk to Freedom

Then we were growing up. Makin besar mungkin ya makin bebas tapi tentu perlahan tanggung jawab mengikuti. Tanggung jawab melahirkan keberanian dan kekuatan, tapi bersamanya potensi ketakutan juga ada.

Waktu kecil, ngapain takut? Ada orang tua atau orang dewasa yang bisa dianggap melindungi. Gedean dikit, mereka makin menjauh. We need to take the control. Di masa remaja banyak masukan banyak bimbang banyak bertemu yang aneh-aneh yang ternyata tidak sesuai tuh dengan dongeng-dongeng orang tua di masa kecil kita dulu :p.

Cinderella, sang tokoh panutan, enggak bisa hanya nyuci ngepel di kosan biar bisa dilamar pria tampan hahaha. Cinderella juga kudu sikut-sikutan di KRL Ekonomi kerja kantoran dari pagi sampai malam hingga akhirnya bisa ngupil di “istana” hahahaha *lemparSepatuKaca*.

Gambar : psfk.com
Gambar : psfk.com

Itu juga Cinderella enggak pernah cerita gimana ribetnya hamil dan melahirkan -_-. Gimana dramanya menghadapi peer pressure. Furthermore… Cinderella belum kenal media sosial dengan segala potensinya. Potensi positif plus negatif.

“Happily ever after” was always be the end of the story, once we were a child.

Now, I’m a mother. A mom of 3. Tentu saja tanggung jawab terhadap 3 bocah ini, seperti saya bilang di awal, melahirkan rasa berani + rasa kuat sekaligus rasa takut.

Pengetahuan saya tentang “dunia” terupgrade sudah. Awas kau, Cinderella dan kawan-kawan! Hahaha :p.

Tapi jadi terpikir lagi. Memangnya dunia dan lingkungan ini dibentuk oleh siapa? Oleh orang-orang yang hidup dan berinteraksi di dalamnya kan?

Betapa kita sebenarnya punya pilihan untuk mengubahnya. Instead, kita ini lebih banyak terbawa oleh ketakutan. Padahal ngakunya ngefans sama Star War, memuja-muja Yoda tapi lupa kalau Yoda sudah wanti-wanti…apa, apa, apa?:p.

Bahwa … ketakutan itu adalah sisi hitam dari kemanusiaan kita. Dari rasa takut itulah sebenarnya marah bisa datang. Dari marah jadi benci. Benci itu yang membuahkan penderitaan.

Takut anak-anak kenapa, langsung mengamuk membabi buta. Setidaknya itu yang terbaca oleh saya melihat timeline akhir-akhir ini. Unfortunately…saya juga takut, Euy! Huhuhu :p.

Tapi saya tahu kalau saya tularkan ketakutan itu, saya dapat apa? Ya nanti orang-orang juga akan berkomentar yang sama. Legaan gak saya? Ya pasti malah tambah takut, tambah marah, tambah benci. Seringnya untuk hal-hal yang malah belum saya konfirmasi sendiri :(. Don’t we all?

Ya namanya takut terus saja cari pembenaran biar kesannya ketakutan kita beralasan :p. Alih-alih cari solusi atau menenangkan, kebencian yang terus menerus bertebaran di mana-mana.

Anak-anak itu jauh lebih polos dan jujur. Lihatlah anak saya. Dia kenal anak dari kelas lain, tahu nama dan tahu orang. Tapi setiap saya tanya, “Eh dia itu siapa? Gimana orangnya?”

Ya jawabannya gitu, “His name is Gray. I don’t know him. Tony said he’s a bad boy. Arlene said he’s nice. But I don’t know. Never really play with him.”

Kalau kita, emak-emaknya nih, ada gosip apa, lihat foto orangnya saja, sudah berhamburan caci maki ke mana-mana. Gak percaya? Tengokin instagramnya artis yang dijuluki Nyonya Cireng. My oh my, saya betul-betul tidak percaya orang-orang dengan kata-kata sekasar dan sedengki itu dulunya juga pernah jadi anak-anak :'(.

Kita berkoar-koar, “Kita tuh begini karena kita sayang anak-anak tauk!”

By doing that…what kind of world are we trying to present to our youngs? We cursed, we said bad words, we sow too much hatred and we expect them to reap something good? Oh really :'(.

It’s us. We did change them. We did not love them enough. When we thought we did, perhaps we did it the wrong way :(.

Saya jadi ingat salah satu penggalan tulisan Pak Hasanuddin Abdurakhman,

“Janganlah engkau mencoba membuktikan bahwa Quran itu pembawa damai dengan membunuhi orang-orang yang tidak pecaya padanya. Karena engkau sedang membuktikan sebaliknya.

Engkau tak perlu mencari bukti-bukti, tapi kau harus membuatnya. Engkaulah bukti itu. Engkaulah yang membuktikan. Seperti sains tadi, kau tak perlu menemukan kebenaran mutlak dalam setiap huruf ayat Quran. Kau hanya perlu menghidupkan pesan-pesan intinya. “Wa man tabi’a hudaya falaa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun.” Siapa yang mengikuti petunjuk, maka tak ada ketakutan padanya, tidak pula ada kesedihan.”

Seperti melihat anak-anak bermain dan becanda sesamanya tanpa intervensi kita yang tua-tua ini. Lihatlah, sepulang sekolah mereka jalan sama-sama, melambaikan tangan satu sama lain dan berjanji akan bermain bersama esok hari tanpa memperhatikan betapa canggungnya emak-emaknya untuk sekadar saling menyapa tongue emoticon.

Lawan, teman-teman. Lawan ketakutan itu. Jangan takluk padanya dan pada hal-hal yang mengikutinya : marah dan benci.

Jangan jadikan anak-anak tameng. But look at them. Look at your babies. Lihat semua kebaikan dan kemurnian yang mereka tunjukkan.

“A baby is God’s opinion that the world should go on.”
― Carl Sandburg

Sekali lagi, kita hanya perlu menghidupkan pesan-pesan intinya. “Wa man tabi’a hudaya falaa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun.” Siapa yang mengikuti petunjuk, maka tak ada ketakutan padanya, tidak pula ada kesedihan.”

Have a nice weekend <3.

Avatar, The God on Earth

Menjelang sebuah peristiwa penting, Avatar Aang galau bukan kepalang.

Komet diperkirakan akan datang ke dunia. Fire Lord akan memanfaatkan habis-habisan kesempatan ini untuk terus memperkuat posisinya dan membumihangsukan Ba Shing Se, pertahanan terakhir Negara Bumi.

Aang
Gambar : avatar.wikia.com

Avatar Aang adalah harapan terakhir penduduk dunia untuk perdamaian keempat negara : Bumi, Air, Api dan Angin. Aang yang menjadi tempat bertumpu untuk mengalahkan Fire Lord yang makin membabi buta.

“You should kill him. No other way!” Begitu kira-kira desakan orang-orang terhadap Aang.

Problem is .. Aang juga adalah seorang biksu. Dalam keyakinannya, Aang merasa kurang sreg kalau harus melenyapkan nyawa Fire Lord. Sekali pun tujuannya adalah perdamaian dunia.

Tapi Aang juga ribet. Naon etah mencegah keganasan Fire Lord tanpa harus ditebus ajal? Jalur perundingan ibarat kata sudah tidak mungkin lagi. Apalagi Prince Zucko (anak kandung Fire Lord yang akhirnya balik arah melawan ayahnya sendiri) terus merongrong Aang, “If you don’t kill him, he will kill you!”

Macam jalan buntu gitulah. Seolah membunuh Fire Lord adalah satu-satunya jalan mencegah kemungkaran yang makin merajalela.

Aang pun sempat menghilang untuk “menenangkan diri” sekaligus mencari jalan keluar.

avatar 2
Gambar : avatar.wikia.com

Sekilas sih ya, kita juga sering berada dalam posisi Aang. Ya enggak perlu selebay itu juga. Kudu bunuh siapa buat perdamaian dunia bla bla bla hahaha. Ngeri amat -_-.

Kadang, sesimpel apakah kita harus merayakan Breastfeeding week atau tidak? #eaaaaaa. Gatal kan loooo pengin bahas gini-ginian hahahahaha :p.

No, no, saya enggak ingin ceramah soal pentingnya ASI anu-anu. Sebaliknya, saya ingin membagi pengalaman saya mengapa peer pressure ASI vs sufor ini menjadi sedemikian rempong.

Si Mamah (ibu kandung saya), ASI full untuk kami bertujuh. Waktu saya tanya, jawabnya santai saja, “Kalian semua ogah dikasih botol. Majjallo’ maneng ko muitai botolo’e. Mana botol susu dulu mahal-mahal. Susu kaleng juga mahal.” Sesimpel itu hahahaha :p. Mana paham ibu saya soal generASI anu-anu, soal pentingnya ASI anu-anu. Pokoknya dulu sufor mahal.

(Majjallo’ maneng ko muitai botolo’e = mengamuk semua kalian kalau lihat botol susu!)

Tahu tidak sih, ibu saya tetap ke kios membantu bapak di pasar. Gak ada cuti-cutian pasca melahirkan. Tetap juga jahit menjahit dan segala macam. Jadi dulu, kalau ibu ke pasar, bayinya ditojang-tojang saja biar tidur dan tenang :p. Tojang = ayunan :p.

Mana kepikir ASI perasan. Kulkas aja enggak punya hahahaha. Nyusuinnya entar kalau sudah pulang dari pasar. Tidur malam nempel deh kita semua dinenenin sampai pagi. Katanya gitu strateginya biar bayi-bayi tetap ASI tapi si Mamah enggak perlu mompa apalagi cuti. Singkat kata, faktor ekonomi. Orang susah memang pilihannya enggak banyak ya hahahaha :p.

On the other hand, Mami (ibu mertua) saya, enggak ngASI :p. Alasannya ya karena tidak tahu. Malah karena harga susu formula dulunya agak mahal dan stok juga jarang, ngasih sufor menjadi prestise tersendiri. Don’t judge her, ya. Sebagai menantu, saya adalah saksi langsung, selain soal ASI, kita semua mungkin tidak ada apa-apanya dibanding beliau ;).

Mami itu merantau sejak menikah. Dari Sumatera ke Sulawesi. Tidak ada kerabat segala macam. Tahun segitu mah nazi-nazi ASI bisa dibilang belum ada hihihihi :p. Sedangkan kata si Mamah, kakek saya (bapak kandung si Mamah) selalu siap ceramah panjang lebar penuh ancaman kalau si Mamah ogah netekin anak kalau anaknya lagi nangis. Literally! Hahahaha.

Both si Mamah and Mami, dua-duanya role model saya dalam berbagai hal ^_^.

Gambar : bolsademulher.com
Gambar : bolsademulher.com

Kita jadi mamak-mamak di era yang berbeda. Era digital. Jangankan perkembangan anak sebelah rumah, ibu-ibu nun jauh di kutu sana bisa kita tahu anak-anaknya ngapain saja. Tinggal baca blog emaknya saja hahahaha :p.

Belum lagi media sosial. Segala Facebook-Path-Instagram, tersaji lengkap untuk memuaskan hasrat narsis kita. Manusia biasa pun kita semua. Penginnya diperhatikan kan? Enggak usah nyari-nyarii pembenaran. Mari kita iyakan bersama sambil salam-samalan :D.

Salahkah? Like I’ve said, dunia berputar, era ikut berubah. It’s something that you cannot deny. Terserah saja ngomong sampai berbusa, “Ih, sumpah lho, saya mah cuma mau sharing, enggak mau pamer.” Ah maca ciiiiihhhh? :p.

Dan lebih absurd lagi kalau kalian meributkan orang yang kalian anggap pamer. Oh C’mon. Ini internet, Cuy! Bukan diari! Hahaha :p.

Inilah yang mungkin terjadi kepada saya saat masa-masa ASI anak saya pertama dulu. I can’t stand my ego :'(. Dulu, karena terbawa emosi, saya pikir salah satu cara sukses berASI adalah being stubborn no matter what!!!

“Being stubborn” nya mungkin sudah cucok. Tapi … “no matter what”-nya itu yang harus belajar lagi kepada Avatar Aang :p.

Sangat percaya diri dengan semua persiapan yang sudah saya lakukan sejak hamil, benar-benar tidak siap kalau ternyata ngASInya … totally drama! Saya sampai ke klinik laktasi nun jauh di Cikini sana. Asking for help di milis ini itu. It broke me more, ASI tak kunjung lancar.

Bodohnya, saya kurang bisa menjaga perasaan ibu mertua dan suami saya. Padahal suami saya itu sangat-sangat mendukung keinginan saya untuk full ASI sekalipun faktanya si doi kan produk sufor :p.

Tentu saja, sebagai orang tua yang hidup di zaman berbeda, baik ibu mertua mau ibu kandung tidak bisa memahami kegalauan kita-kita ini, mamak-mamak muda era internet yang dikit-dikit google dikit-dikit ngintip wall orang lain hahahahaha :p.

SI Mamah maupun Mami sama-sama menasihati, “Pakai sufor aja napa sih?”

Disitulah dodolnya. Saya melampiaskan rasa kecewa kepada suami dan ibu mertua. Waktu itu masih tinggal di rumah mertua hihihi. Tanpa sadar, keras kepala saya dianggap perlawanan kepada sufor. Helooooo…suami produk sufor tuh! 😀 :p.

Padahal suami saya dan ibu mertua awalnya cukup mendukung. Cuma memang setelah dicoba banyak cara, ya disuruh kasih sufor saja. Saya juga tidak paham salahnya di mana waktu itu. Kalau gagal berarti ada masalah sama ibunya! Makin down, saya apa kena kutuk ya? Huhuhu.

Setelah masuk kantor dan lebih pasrah dan santai, voila! Saya sukses relaktasi ^_^. Dari meras cuma 50 cc saja sudah kayak orang gila senangnya, lama-lama penghasilan nambah :p. Sekali meras bisa hajar 300-400 cc. I did nothing! Gak tahu kenapa hahahaha.

Nah dari situ jadi belajar, sometimes, it’s just a matter of time dan memang kadang tidak harus semulus orang lain. Saya dulu kayaknya gagal berdamai dengan diri sendiri dan sok jagoan bakal berhasil. Stubborn-nya salah arah hahaha. Abis itu ASI lancar-lancar aja tuh ;). Prediksi saya sih harusnya anak kedua lebih gampang.

Memang benar, anak kedua lancaaarrrrrrrrrrrr, no drama at all! Ya ada sih puting lecet dan rasa sakit saat awal-awal. Tapi saya sudah tahu. Enggak usah drama, nanti juga sembuh sendiri hahaha.

Di anak ke-2 pun saya punya back up plan. Sebesar apa pun keinginan mau ngASI ekslusif, saya tetap beli botol-botol susu dan membeli sekaleng susu formula buat jaga-jaga ^_^. Ya jadinya buang-buang duit, karena expired tanpa tersentuh satu sendok pun! :D.

Nah, belajar dari kondisi si Mamah di masa lalu, saya sepakat satu hal. Sekarang itu gampang bener jualan sufor bayi. Gila, mereknya macam-macam dan menguasai sampai beberapa lorong sekaligus di supermarket. Bukan “barang mewah” lagi kayak dulu. Belum lagi iklan-iklannya yang bagus-bagus banget dan sangat inspiratif :).

Iklan sufor biasanya penuh pesan bersahabat dan non judgemental.  Iklan ASI? Slogannya saja kadang sudah  ngajak berantem duluan, “Anak ibu minum susu ibu, anak sapi minum susu sapi.” Inspiratif belah mana coba? Hahaha :p.

Sadar tidak sih kalian, iklan keren ini digagas oleh produsen susu formula? 😉

https://www.youtube.com/watch?v=jePmMqqQNas

Ini yang harusnya kita ‘lawan’ sama-sama ;). Gimana caranya biar produsen sufor bayi tidak seleluasa itu “jualan” di “tempat umum”.

Di Jeddah agak susah lho nemu sufor bayi. Kalaupun ada, terbatas banget. Pilihannya sedikit. Susu tertentu hanya dijual di apotik bukan di supermarket terbuka. Lumayan kan membatasi effort untuk mendapatkannya.

Di Irlandia sini, mereka sangat mendukung breastfeeding. Tapi tidak disertai dengan judgemental berlebihan. Misalnya nih, setiap cek ke rumah sakit, kita selalu ditanya apakah mau ASI atau tidak? Ada pilihan itu di kartu kita. Jadi, pihak medis berusaha keras kampanye ASI tapi pada akhirnya … pilihan tetap diserahkan kepada para ibu :).

Yang kurang kita sadari, memang ada ibu-ibu yang SECARA SADAR memang tidak mau ngotot ngasih ASI.

Memang ada yang enggak ngASI karena kudet. Tapi percayalah, orang-orang kudet ini bukan mereka yang aktif berantem di media sosal atau di blog hahahaha. Mereka ada di dusun-dusun terpencil sana yang boro-boro fesbukan atau menikmati foto ASi kalian satu freezer di blog masing-masing :p, punya TV aja mungkin enggak.

Itu yang harusnya jadi sasaran kampanye lebih intensif :).

Saya sih pesimis kalangan menengah ke atas yang melek internet enggak ngasih ASI karena “ketidaktahuan” :p. Kalau pun mereka terlihat bersembunyi di balik alasan “ketidakberdayaan”, ya itu jangan-jangan karena kalian, yang pro ASI, terlalu keras judgement-nya ;). Jadi, yang nyalinya agak lemah mana berani terang-terangan hahaha.

Pilihan mereka bukan urusan kita. Toh mereka memilih bukan karena tidak tahu ;). Leave them alone. Bukan mereka sasaran kampanye model begini.

***

Kitara, perwakilan dari Negara Air, sahabat dekat Avatar Aang, ikut bersuara soal Fire Lord, “Jangan khawatir Aang. Orang-orang tahu niatmu tidak jahat. Kau harus membunuh Lord Fire untuk kebaikan yang lebih besar.”

Yes, Aang juga sadar soal itu. Dia tahu, yang dilawannya adalah dirinya sendiri. Menurut dia, itu justru yang lebih penting ketimbang mikirin ucapan orang lain :). Walau seluruh dunia akan mampu memahami niatnya, tapi Aang tahu tindakan membunuh itu bukan jalan keluar terbaik.

avatar fire lord
Gambar : avatar. wikia.com

Spoiler dikit, ya. Aang berhasil menaklukkan Fire Lord sekaligus memaksanya hengkang dari tahta kekuasaan. Tapi TIDAK dengan membunuh. Aang, somehow, menemukan cara untuk menghapuskan kekuatan Fire Lord yang punya kemampuan mengendalikan api dan petir. Kekuatan itulah yang dihilangkan oleh Aang ;). Karena sudah tidak berdaya dengan jurus-jurus api dan petirnya, ya tentu sulit bagi Fire Lord mau petantang petenteng lagi ;).

Nah, itulah yang harusnya kita temukan solusinya bersama. Apa sih kira-kira yang menyebabkan pemberian ASI kepada bayi masih kurang maksimal selain “penyerangan terhadap kaum ibu itu sendiri”? Malah berantem sendiri coba yaaaaaaa :p.

Sekeras apa pun niat yang kalian klaim baik itu, cobalah untuk mundur sejenak dan sedikit menekan ego. Kalau cara yang kalian anggap baik itu nyata-nyatanya akan menyakiti (sebagian) orang lain, bisakah kita sedikit menjelma jadi seorang Avatar? :p.

Mungkin … kita bisa lebih fokus mendesak perusahaan untuk menyediakan lebih banyak nursery dan kenyamanan buat para perempuan bekerja yang lagi ngASI. Sufor buat bayi kita usulkan untuk dinaikin harganya. Persulit akses membeli sufor bayi. Kalau untuk nambah cuti ya gimana ya. Belum cocok dengan sikon ekonomi tanah air kita :).

Tapi jangan merasa terhakimi ya. Mohon maaf :). Ya, ya, ya, kita pun semua pernah ada di masa-masa di mana rasanya anak nyengir dikit aja pengin upload foto-fotonya dia dari semua posisi! Hahahaha. Anak pertama dokumentasinya paling tokcer dah :p.

As time went by, nanti semuanya juga settle sendiri kok ;). Monggo diterusn berantemnya. SEperti biasa, saya numpang eksis ajah kok intinya hahahaha *benerinKutang* :p.

***

8 Kontroversi Penyebab ‘Perang’ Para Ibu

Foto koleksi pribadi (by Dani Rosyadi)
Foto koleksi pribadi (by Dani Rosyadi)

Dunia ibu penuh warna dan cerita dalam membesarkan para buah hati. Termasuk  merebaknya peer pressure antara sesama ibu-ibu sendiri. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya, hal-hal berikut ini sering ramai diperbincangkan, bahkan tak jarang dipertentangkan.

Apa saja?

Berikut 8 diantara kontroversi pilihan para ibu di tanah air :

1. Ibu bekerja di kantor atau ibu bekerja di rumah?

Apakah ibu seharusnya mengasuh sendiri anak-anak di rumah sepanjang hari atau apakah ibu boleh saja mendelegasikan masalah pengasuhan anak kepada orang lain? Perdebatan masalah ini yang paling sering memicu ketegangan di kalangan ibu-ibu hingga kini.

Apa pun topik yang menyangkut mengenai pilihan ini selalu ramai diperbincangkan oleh kedua belah pihak. Benarkah anggapan bahwa ibu-ibu yang bekerja di luar rumah cenderung menelantarkan anak? Betulkah stereotip ibu-ibu yang tinggal di rumah adalah simbol ketidakmandirian?

Anda sendiri, lebih pilih mana?

Ibu bekerja vs ibu di rumah
Bekerja di luar rumah atau stand by di rumah, Mama harus tetap dekat dengan anak-anaknya dong ya ^_^, foto : koleksi pribadi

2. Melahirkan normal atau melahirkan via operasi/SC?

Metode yang dipilih untuk melahirkan pun tak jarang menjadi pembicaraan hangat. Ada anggapan bahwa ibu-ibu yang memilih cara operasi takut menghadapi rasa sakit alami akibat kontraksi melahirkan normal. Sepertinya akan jauh lebih bijak jika melibatkan para ahli medis terkait masalah ini. Setuju?

3. Memberi ASI ekslusif atau memberi susu formula?

Gencarnya kampanye ASI ekslusif mulai menuai efek samping. Terjadilah kontroversi yang kadang-kadang cukup tajam antara pemberian ASI ekslusif kepada anak ataukah boleh memberikan susu formula.

Alangkah baiknya jika kita masing-masing menyadari bahwa tiap ibu pastilah ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Hanya mungkin ada situasi dan kondisi tertentu yang membatasi pilihan ideal yang dimaksud.

4. Memakaikan si buah hati popok sekali pakai atau popok kain yang bisa dicuci?

Akhir-akhir ini makin marak anjuran penggunaan popok kain yang bisa dipakai ulang setelah dicuci. Mungkin awalnya ditujukan sebagai pilhan alternatif selain penggunaan popok sekali pakai. Namun belakangan malah menuai perdebatan tersendiri.

Isu ramah lingkungan sering diangkat dalam isu penggunaan popok untuk para balita. Ada benarnya juga, sih. Tapi tujuan yang baik jika seharusnya disampaikan dengan lebih bijak sehingga tidak perlu sampai menuai pertentangan, kan?

Popok bayi reusable (gambar : aliexpress.com)
Popok bayi reusable (gambar : aliexpress.com)

5. Mengolah MPASI rumahan atau menggunakan MPASI instan/buatan?

Pemberian dan pengawasan atas nutrisi pada si kecil merupakan salah satu tanggung jawab penting para Ibu. Termasuk soal MPASI, makanan pendamping ASI yang umumnya diberikan sejak usia 6 bulan. MPASI buatan banyak disediakan di toko-toko dan supermarket. Tapi tak sedikit yang memilih untuk mengolah sendiri MPASI buat si kecil.

Kedua pilihan ini mungkin bisa saja dikombinasikan sesuai kebutuhan dan kondisi. Namun yang kadang terjadi malah timbulnya pertentangan antara keduanya. Ada pihak yang menentang penggunaan MPASI buatan dalam kondisi apa pun. Sementara ada juga yang merasa MPASI rumahan cukup merepotkan dan menyita waktu.

Mari bijak menyikapi. Sesuaikan saja dengan situasi masing-masing. Mungkin sesekali, mau tak mau, kita tidak harus mengikuti pola ideal.

6. Memberikan vaksinasi atau tidak?

Pemberian vaksinasi juga cukup gencar diperdebatkan. Ada kalangan yang menentang kewajiban untuk memberika vaksinasi pada anak karena berbagai alasan. Alasan agama dan kenyamanan serta keamanan anak misalnya. Sementara tak sedikit pula kalangan yang menganggap pemberian vaksinasi kepada anak harus terus digalakkan demi mencegah menularnya banyak penyakit berbahaya.

Wah, kalau sudah urusan agama, seringnya diskusi akan jadi panjang dan ‘panas’. Pemerintah dan ahli medis sepertinya harus turun tangan serius untuk menangani soal ini. Menurut anda apa pilihan yang lebih tepat?

7. Mengenalkan bahasa asing dan calistung sejak usia dini atau tidak perlu?

Gambar : funny.wallpaperss.net
Gambar : funny.wallpaperss.net

Soal pendidikan anak juga menghadirkan beberapa pilihan sejak anak berusia dini. Diantaranya keperluan mengenalkan bahasa asing dan kemampuan membaca-menulis-berhitung. Dengan  mempertimbangkan kemampuan dan minat anak masing-masing, seharusnya tidak perlu ada perdebatan lebih lanjut.

8. Memilih metode homeschooling atau sekolah formal?

Metode belajar sehari-hari anak juga terus mengalami perkembangan. Kini, metode homeschooling banyak dilirik dan banyak diterapkan. Hingga tak sadar menjadi bahan perbandingan dengan metode konvensional yang sudah ada. Banding membandingkan inilah yang lama kelamaan sering berujung pertentangan.

Soal metode sekolah anak rasanya banyak faktor yang harus dipertimbangkan, ya. Kenyamanan anak dan kesiapan orang tua merupakan hal-hal utama yang menjadi perhatian terkait masalah ini.

Kurikulum Sekolah Anak di Irlandia

Masa sekolah untuk tahun ajaran ini akhirnya selesai sudah. Kemarin hari terakhir anak sulung saya masuk sekolah :D. Liburan musim panas ketok palu juga. Kalau yang kecil, jumat minggu lalu hari terakhir masuk pre-school.

Sekolahnya masih lama sudah merengek minta dibeliin seragam yang sama kayak abangnya :D. Finally, “big boy” juga ya Nak hihihihi :p. Pengin teriak “Yes, freedoooommmmm!” Tapi pan ini perut buncit isinya juga bentar lagi keluar. “Freedom”nya ditunda dulu hahaha.

Anak sulung saya bersekolah di sekolah Katolik. Umumnya sekolah negeri di Irlandia memang sekolah Katolik. Di sini, umur 4 tahun sudah boleh masuk TK. Aturannya mirip UK. Agak beda dengan mayoritas negara-negara di Eropa daratan. Misalnya di Swiss kemarin katanya 5 tahun baru boleh masuk TK. SD-nya 7 tahun.

Gambar : athlonetidytowns.ie
Gambar : athlonetidytowns.ie

Beda lainnya, di Eropa daratan, anak TK belum diajarkan membaca dan menulis. Di Irlandia, sejak 4 tahun itu sudah diajarkan membaca menulis dan berhitung ^_^. Tapi ingat, ketiga kemampuan ini dianggap sebagai keterampilan dasar biasa bukan ajang pamer-pamer nilai rapor hahahaha. Dimari enggak ada award-award an atau rengking-rengking an :D.

Umumnya, begitu masuk SD, ya sudah lancar membaca, menulis dan berhitung sederhana ^_^. Seneng deh. Bisa semua-muanya enggak pakai stres dan dipaksa-paksa :p. Saya pribadi lebih suka dengan kurikulum model begini. Tak terlalu suka kalau anak-anak dibesarkan “terlalu santai” ;).

Dunia dan masa depan yang akan mereka hadapi kan tidak seindah di buku-buku cerita atau di buku-buku parenting hahahaha. Kalian boleh beda ^_^. Monggo saja. Cerita selengkapnya di sini ya.

Bagaimana dengan pelajaran agama? Terus terang dari awal saya tidak risau. Saya sudah kenyang bertemu teman-teman sekolah dulu yang alumni sekolah Katolik ^_^. Saya sudah tahu, umumnya sekolah Katolik itu pelajaran agamanya lebih universal :). Pendidikan moral diutamakan.

Mereka punya ritual misa. Tak ada paksaan sama sekali ^_^. Setiap ada misa, sekolah akan mengirimkan surat ke orang tua mengabarkan bahwa anak-anak non Katolik tidak perlu ke sekolah lebih awal. Mereka misa biasanya pagi-pagi. Jadi yang non Katolik ke sekolahnya ya pasca acara Misa ke katedral usai.

Saya enggak beliin buku agamanya sih :p. Itu pun kalau pelajaran agama anak-anak non Katolik tidak wajib mengikuti. Mereka diberi kegiatan lain. Tapi biasanya karena tetap dalam kelas, anak saya jadi ikutan mendengar kadang-kadang. Jangan khawatir sama nilai rapor. Sudah saya bilang, di sini enggak ada rengking-rengkingan! :D.

Di sini juga ada masjid, sih. Di rumah saya ajarkan mengaji. Saya enggak pakai guru mengaji, saya ajarkan sendiri *benerinKerudung* :p. Sekalian emaknya juga belajar mengulang-ulang pelajaran tajwid dan lain-lain hehe. Kalau lagi enggak sekolah, dia ikut bapaknya Salat Jumat di masjid ^_^.

athlone bridge

Kalau kisah-kisah Nabi juga no issue. Di sekolah juga diajarkan. Tempo hari liburan ke London saya masuk ke National Gallery di Travalgar Square. Di sana mayoritas lukisan menggambarkan kisah nabi dalam alkitab. Makin tahu juga, mayoritas kisah nabi-nabi antara Nasrani dan Muslim itu mirip. Hanya beda di nabi pertaman dan 2 Nabi terakhir saja :p.

Suami saya mengantuk dalam museum itu hahaha. Dia memang lebih sering baca buku-buku tentang Prophet dalam bahasa Inggris ketimbang saya :p. Saya lebih senang melihat dalam bentuk lukisan dan sedikit deskripsi. Saya kadang masih bingung soal penamaan Nabi dalam bahasa Inggris. Suami saya hafal semua :D. Hayooo…Nabi Idris itu apa “nama bule”nya? :p.

National Gallery - London (foto : scotsman.com)
National Gallery – London (foto : scotsman.com)

Soal Nabi Isa atau Yesus sudah kami terangkan kepada si sulung ini :). Soal perbedaan status antara Yesus dalam agama Nasrani vs Islam. Tapi saya selalu tekankan untuk tidak membesar-besarkan masalah ini di depan teman-teman Nasraninya ;). Menyakiti orang lain dan menyerang kepercayaan mereka juga dosa, begitu kata saya kepadanya.

Soal Nabi Muhammad sering diajarkan di rumah. Enaknya sekarang sudah ada youtube. Pakai media video kan lebih enak ya ngajarin gini-ginian. Jadi, untuk apa sih internet cepat itu? #eaaaaaa :p.

Soal salat ya enggak perlu pusing. Saban hari dia melihat saya dan bapaknya salat depan dia :D.

Saya lebih sering menerangkan arti surah dan menghubungkan dengan sifat-sifat yang harusnya dimiliki oleh seorang manusia. Yang mudah dipahami anak kecil lah ya. Misalnya kenapa sih kita perlu hidup sederhana di setiap kesempatan. Penting nih kalau dia rewel minta mainan atau ini itu hahahaha :p. Kenapa harus rajin makan sayur juga hihihi, gak boleh terlalu banyak makan permen, ya karena harus menjaga kesehatan, tanda bersyukur kepada Tuhan. Gitu-gitu aja lah dulu.

Guru di sekolah mengajarkan, “Only persons who believe in God and do the good things in most of his-lifetime is going to paradise.”

Surga adalah tempat bagi mereka yang beriman dan beramal saleh. Cucok bukan? ;).

Anak saya cerita kata gurunya, kita tidak boleh mengolok-ngolok teman atau perbuatan buruk lainnya karena kita juga enggak suka digituin. Makanya, jangan lakukan hal yang sama kepada orang lain. Bukan main! Itu prinsip dasar COMPASSION, yang konon merupakan napas dakwah utama dari Rasulullah SAW. Iki piye, malah diajarkan sejak kecil di sekolah Katolik hehehe.

Sekolah Katolik umumnya memang tidak mengajarkan soal “yang masuk surga cuma orang Katolik doang, sisanya masuk neraka” hahahaha. Macam masa kecil kita dulu di sekolah hihihi. Hal-hal gituan tidak diajarkan secara formal di sekolah ;).

Pelajaran agama di sekolah mereka sifatnya lebih universal dan selalu menempatkan berbuat baik kepada SESAMA MANUSIA di posisi teratas. Syaratnya ya manusia saja, tidak pakai embel-embel, agama-warna kulit-ras dan semacamnya.

Melengkapi pelajaran moral di sekolah, tinggal kami sebagai orang tua muslim menambahkannya dengan mengajarkan masalah ritual Islam (yang sifatnya lebih individu) di rumah ^_^. Termasuk makanan halal.

halal sign

Sempat saya bingung karena sekolah anak saya memang salah satu sekolah terbesar di sini. Muridnya banyak jadi subsidi pemerintahnya gede hehe. Jadi, sekolah menyalurkan sebagian dana untuk memberikan makanan kepada anak-anak hampir setiap hari. Entah sarapan entah makan siang. Pening, dah. Sekolah lainnya soalnya enggak gini.

Seringnya mereka ngasih roti isi macam-macam atau buah-buahan. Alhamdulillah, kepala sekolah sangat membuka diri terhadap hal-hal sensitif seperti ini. Meski agak sulit juga karena ada juga keluarga muslim yang memberi syarat, “Yang penting bukan daging babi.”

Ini yang tadinya bikin kepsek bingung hehehe. Umumnya kan mereka tahunya juga gitu, asal bukan babi. Mau menerangkan juga ribet, ya, kalau definisi makanan halal sebenarnya bukan “yang penting bukan daging babi” saja huhuhu.

Solusinya, tiap awal tahun ajaran, tiap orang tua diperkenankan membuat surat pernyataan kepada guru masing-masing makanan apa saja yang boleh diberikan kepada si anak. Lega, deh, hehehe.

Saya ngambil ngampangnya saja, pilih opsi Vegetarian. Jangan salah, orang India pun banyak yang tidak makan daging dan vegetarian sejati lho hehehehe. Untunglah sekolah tidak egois dan memperhatikan betul hal-hal prinsipil seperti ini. Kami kan minoritas banget di sini. Apalagi muslim. Tapi kepseknya tuh ya, serius banget lho menanggapi keluhan kami ^_^.

Sekolah anak saya juga memanfaatkan sebagian dana untuk kegiatan para orang tua murid ^_^. Merangkai bunga, kursus bahasa Inggris, kursus bahasa Irlandia, pengetahuan makanan bergizi, acara masak-masak (ini semua gratis, tis, tis), bahkan pelajaran berenang buat para ibu-ibu yang mematok tarif sangat murah ^_^. Enggak sekalian kursus menyetir nih, Bu Kepsek? hahaha.

Seminar-seminar parenting juga sering. Mengundang para pakar segala, lho, untuk berbicara atau sharing depan para emak-emak ^_^. Pemerintah sini memang punya dana lumayan untuk urusan perkembangan anak ;). Tapi tidak semua sekolah di sini punya kegiatan model begini. Seperti saya bilang tadi, sekolah anak saya karena tergolong besar jadi dapat limpahan subsidinya juga besar :D.

Serba dimudahkan alhamdulillah ^_^. OIya, boleh lho pakai jilbab ke sekolah. Ada anak perempuan kelas 6 di sini yang pakai jilbab. Orang Afrika. Saya pernah minta izin ingin mengambil fotonya tapi dese keberatan hehehe. Dia bingung kali, ni kenapa ada mamak-mamak enggak dikenal mau motret-motret gue hahaha.

Athlone Ireland
Where we live!

Soal GRATISnya ya standar lah ya. Di banyak negara di belahan Eropa juga gitu. Sekolah ya gratis ;). Buat siapa saja. Tidak ada istilah “sekolah anak orang kaya” atau “sekolah orang miskin” hahaha. Lah ya di sini juga enggak jelas mana orang kaya mana orang miskin toh ya ;).

Anyway, congrats ya Abang, September nanti insya Allah masuk grade 2. Si nomor 2 juga bakal masuk Junior Infant (TK A atau TK nol kecil). Sementara Mama, insya Allah harus kembali berkutat dengan stroller hahaha :p. Semoga lancar semuanya. Aamiin.

Terima kasih para guru yang sudah membimbing para bujang kecil saya di sekolah ^_^.

Buat guru-guru di preschool, as they said “It takes a big heart to help shape little minds”, thanks for everything ^_^.

Buat ibu-ibu guru di 1st grade si sulung, “A teacher affects eternity: she can never know where her influence stops.” -Henry Brooks Adams-

Thank you, Ibu-ibu Guru ^_^ …so very much ;).

Welcome, Summer Holiday! See U again in September, School!

Gambar : coolimages4free.com
Gambar : coolimages4free.com

***