Seorang teman menyarankan saya untuk ikut lomba blog soal cara mengatur keuangan keluarga. Sebagian teman memang selalu menyangka saya jago mengatur keuangan . Nol besar! Hahaha.
Dari dulu, saya tak pernah pandai dan ogah mengurus gini-ginian. Trust me. Sejak menikah hingga kini, saya tak pernah mengendalikan keuangan keluarga 😛. Suami saya yang saya anggap lebih cocok mengatur keuangan keluarga. Kami memang bukan pasangan yang memilah-milah pekerjaan berdasarkan ‘gender’ dan kelaziman pada umumnya. Tapi tidak berarti kami selalu berbagi pekerjaan apa pun.
Suami tak suka memasak. Jadi, urusan dapur 100% tanggung jawab saya. Kalau urusan berbenah, dia masih kebagian 10% lah hehe. Mengurus anak? Sama-sama dong . Nafkah utama keluarga dipegang oleh suami. Sang istri ya cuma iseng-iseng cari duitnya. Penghasilan saya pribadi tak pernah diandalkan untuk kebutuhan keluarga, kecuali atas keinginan saya sendiri.
Adapun mengatur keuangan keluarga , saya nyaris tidak ikut campur sama sekali . Cuma ho-oh, ho-oh saja kalau suami bercerita soal investasi, “Ape kate lu dah.”
***
Saya memang dari dulu tidak pernah ribet masalah uang. Alhamdulillah, memang tipe yang stabil urusan belanja hehe. Dari suami bergaji rupiah, dolar hingga euro, peralatan make up saya nyaris tidak ada perubahan. Merek yang saya gunakan tidak pernah berganti. Baju-baju apalagi.
Paling ogah kalau didikte sama merek. Kualitas bahan mirip tapi karena embel-embel huruf yang menempel di selembar baju atau sebuah tas kok bisa harganya melambung jauh? Betapa luar biasanya yang namanya gengsi itu 😀.
Urusan kuliner juga tidak pernah rewel. Lidah kampung, cuy. Sejak kecil tak pernah terlalu menyukai daging sapi. Jadi, bye-bye steak dan kawan-kawan . Makanan Jepang yang katanya sehat (namun harganya buat saya tidak sehat itu :P) juga enggak pernah masuk dalam daftar makanan favorit. Apalagi sejak mengadopsi pola makan Food Combining, konsentrasi urusan perut hanya berkisar pada sayuran dan buah-buahan saja .
Tas bagaimana? Apalagiiiiii. Paling tidak pernah peduli. Saya ingat kakak saya, si fashion stylist keluarga yang sekarang sudah menjadi fashion stylist beneran 😛, hobi betul mencela tas-tas saya. Waktu masih gadis dan bekerja dengan penghasilan lumayan, dia sering memborbardir saya, “Ih, punya gaji gede pakai tas 50 ribu!” Hahaha. Maklumlah, beliau koleksinya dahsyat, boooo.
Biarpun begitu, saya ini ratu kepo. Dari dulu, saya rajin menghapal brand-brand ternama yang bolak balik muncul di majalah-majalah fashion kakak saya. Ya biar gak goblok-goblok amat kalau diajak mengobrol soal fashion. Tapi jangan harap saya berpikir untuk mempersenjatai diri saya dengan barang-barang seperti itu. Untuk saya pribadi, kenyamanan adalah mutlak! Dimana defisini utama kenyamanan termasuk kenyamanan buat kantong tentu saja. Hahaha.
Sepatu-sepatu? Sejak jatuh cinta pada merek Crocs, mendadak dunia fashion sepatu berhenti berputar buat saya. Jadi, sejak 6 tahun terakhir ini, koleksi pembungkus kaki ini ya cuma 1 pasang Crocs dan 1 sepatu kets. Sudah. Pernah malindi candy saya raib saat umrah, ya saya beli crocs lagi sebagai gantinya. Enggak pakai survey, langsung ke gerai Crocs, pilih-bungkus-bayar!
Makanya, janganlah tanya-tanya urusan diskon kepada saya. Saya enggak demen pusingin diskon. Di Indonesia, Matahari dept Store selalu menjadi tujuan berbelanja, dari zaman gadis tinggal di Depok hingga beranak 2 dan melanglang buana hingga ke gurun dan Irlandia. Kebutuhan suami dan anak-anak juga begitu.
Waktu tinggal di Jeddah, saya mah jadi tim hore saja jika teman-teman berburu ke mal saat gerai-gerai brand ternama memasang tulisan ‘SALE’ di dinding-dinding kacanya. Kadang ikut beli 1-2 buah barang. Di Jeddah, gerai Red Tag idola saya. Enggak diskon saja harga pasti miring, kok. Di eropa bagaimana? Ih, ada Penny’s gitu lho. Beli sweater harga 3 euro, Cyin! Hahaha.
Belanja groceries agak berbeda. Untuk makanan, saya lebih suka yang segar-segar. Mau diskon mau enggak, saya selalu membeli sayur dan lauk bervariasi. Merek-merek lain seperti minyak goreng, asal tipenya cocok, tinggal cari yang paling murah . Simpel.
Soal liburan juga begitu. Aduh, saya mah bukan tukang jalan-jalan. Ada pun hobi menulis tulisan jalan-jalan, itu semata-mata untuk mencari sesuap honor saja. Saya hobinya menulis fiksi. Tapi saya tahu tulisan jalan-jalan itu potensi dimuatnya besar. Jadi deh, selain rajin menulis fiksi, saya senang mengirim tulisan jalan-jalan ke media. Sekalian memanfaatkan hobi suami yang suka fotografi.
Kadang-kadang senang sih liburan. Tapi enggak perlu ke tempat aneh-aneh. Duduk-duduk gelar di tikar di pantai dengan teman-teman semasa di Jeddah dulu itu malah liburan favorit saya. Tinggal di luar negeri tidak pernah diniatkan untuk liburan tapi ya untuk bermukim.
Jadi, saya juga bingung kalau ditanya cara mengatur keuangan keluarga. Asli, saya enggak pernah mikirin gini-ginian *tutupMuka*. Mencatat pengeluaran juga tidak pernah *blushing*. Ibu-ibu pemalas. Habisnya sebagian besar pengeluaran pasti urusan belanja dapur. Gih, catat sendiri tuh jenis sayur, buah-buahan yang dibeli per 3-4 hari sekali.
Anak-anak pun tidak pernah dibeliin macam-macam. Kami sepakat untuk disiplin soal gaya hidup kepada mereka. Cara terbaik untuk mengajari mereka ya melalui contoh nyata . Lucu kan, kami selektif dalam membeli mainan dan semacamnya, tapi kami sendiri lenggak lenggok depan mereka memakai barang-barang mahal hehe.
Gadget-gadget an, baik saya dan suami sama-sama enggak doyan.
Intinya mungkin dalam beberapa hal, pengendalian diri jauh lebih penting daripada pengendalian keuangan hehehe. Sekaligus menguatkan mitos, “Orang baik berjodoh dengan orang baik.” Paman gober? Ya jodohnya Bibi Gober hahaha.
Btw, saya menulis ini agar teman tidak menganggap saya malas ikut lomba menulis kalau hadiahnya enggak gede hihihi. Jangan gitu ah, lomba yang hadiahnya beberapa potong rendang saja saya ikuti kok asal memang ada yang bisa ditulis . Menulis status panjang-panjang di wall FB yang enggak ada duitnya saja selalu rajin kok ;).
***







