Mengatur keuangan keluarga ala Gober Family

Seorang teman menyarankan saya untuk ikut lomba blog soal cara mengatur keuangan keluarga. Sebagian teman memang selalu menyangka saya jago mengatur keuangan . Nol besar! Hahaha.

Dari dulu, saya tak pernah pandai dan ogah mengurus gini-ginian. Trust me. Sejak menikah hingga kini, saya tak pernah mengendalikan keuangan keluarga 😛. Suami saya yang saya anggap lebih cocok mengatur keuangan keluarga. Kami memang bukan pasangan yang memilah-milah pekerjaan berdasarkan ‘gender’ dan kelaziman pada umumnya. Tapi tidak berarti kami selalu berbagi pekerjaan apa pun.

Suami tak suka memasak. Jadi, urusan dapur 100% tanggung jawab saya. Kalau urusan berbenah, dia masih kebagian 10% lah hehe. Mengurus anak? Sama-sama dong . Nafkah utama keluarga dipegang oleh suami. Sang istri ya cuma iseng-iseng cari duitnya. Penghasilan saya pribadi tak pernah diandalkan untuk kebutuhan keluarga, kecuali atas keinginan saya sendiri.

Adapun mengatur  keuangan keluarga , saya nyaris tidak ikut campur sama sekali . Cuma ho-oh, ho-oh saja kalau suami bercerita soal investasi, “Ape kate lu dah.”

***

Saya memang dari dulu tidak pernah ribet masalah uang. Alhamdulillah, memang tipe yang stabil urusan belanja hehe. Dari suami bergaji rupiah, dolar hingga euro, peralatan make up saya nyaris tidak ada perubahan. Merek yang saya gunakan tidak pernah berganti. Baju-baju apalagi.

Paling ogah kalau didikte sama merek. Kualitas bahan mirip tapi karena embel-embel huruf yang menempel di selembar baju atau sebuah tas kok bisa harganya melambung jauh? Betapa luar biasanya yang namanya gengsi itu 😀.

Urusan kuliner juga tidak pernah rewel. Lidah kampung, cuy. Sejak kecil tak pernah terlalu menyukai daging sapi. Jadi, bye-bye steak dan kawan-kawan . Makanan Jepang yang katanya sehat (namun harganya buat saya tidak sehat itu :P) juga enggak pernah masuk dalam daftar makanan favorit. Apalagi sejak mengadopsi pola makan Food Combining, konsentrasi urusan perut hanya berkisar pada sayuran dan buah-buahan saja .

Tas bagaimana? Apalagiiiiii. Paling tidak pernah peduli. Saya ingat kakak saya, si fashion stylist keluarga yang sekarang sudah menjadi fashion stylist beneran 😛, hobi betul mencela tas-tas saya. Waktu masih gadis dan bekerja dengan penghasilan lumayan, dia sering memborbardir saya, “Ih, punya gaji gede pakai tas 50 ribu!” Hahaha. Maklumlah, beliau koleksinya dahsyat, boooo.

Biarpun begitu, saya ini ratu kepo. Dari dulu, saya rajin menghapal brand-brand ternama yang bolak balik muncul di majalah-majalah fashion kakak saya. Ya biar gak goblok-goblok amat kalau diajak mengobrol soal fashion. Tapi jangan harap saya berpikir untuk mempersenjatai diri saya dengan barang-barang seperti itu. Untuk saya pribadi, kenyamanan adalah mutlak! Dimana defisini utama kenyamanan termasuk kenyamanan buat kantong tentu saja. Hahaha.

Sepatu-sepatu? Sejak jatuh cinta pada merek Crocs, mendadak dunia fashion sepatu berhenti berputar buat saya. Jadi, sejak 6 tahun terakhir ini, koleksi pembungkus kaki ini ya cuma 1 pasang Crocs dan 1 sepatu kets. Sudah. Pernah malindi candy saya raib saat umrah, ya saya beli crocs lagi sebagai gantinya. Enggak pakai survey, langsung ke gerai Crocs, pilih-bungkus-bayar!

Makanya, janganlah tanya-tanya urusan diskon kepada saya. Saya enggak demen pusingin diskon. Di Indonesia, Matahari dept Store selalu menjadi tujuan berbelanja, dari zaman gadis tinggal di Depok hingga beranak 2 dan melanglang buana hingga ke gurun dan Irlandia. Kebutuhan suami dan anak-anak juga begitu.

Waktu tinggal di Jeddah, saya mah jadi tim hore saja jika teman-teman berburu ke mal saat gerai-gerai brand ternama memasang tulisan ‘SALE’ di dinding-dinding kacanya. Kadang ikut beli 1-2 buah barang. Di Jeddah, gerai Red Tag idola saya. Enggak diskon saja harga pasti miring, kok. Di eropa bagaimana? Ih, ada Penny’s gitu lho. Beli sweater harga 3 euro, Cyin! Hahaha.

Belanja groceries agak berbeda. Untuk makanan, saya lebih suka yang segar-segar. Mau diskon mau enggak, saya selalu membeli sayur dan lauk bervariasi. Merek-merek lain seperti minyak goreng, asal tipenya cocok, tinggal cari yang paling murah . Simpel.

Soal liburan juga begitu. Aduh, saya mah bukan tukang jalan-jalan. Ada pun hobi menulis tulisan jalan-jalan, itu semata-mata untuk mencari sesuap honor saja. Saya hobinya menulis fiksi. Tapi saya tahu tulisan jalan-jalan itu potensi dimuatnya besar. Jadi deh, selain rajin menulis fiksi, saya senang mengirim tulisan jalan-jalan ke media. Sekalian memanfaatkan hobi suami yang suka fotografi.

Kadang-kadang senang sih liburan. Tapi enggak perlu ke tempat aneh-aneh. Duduk-duduk gelar di tikar di pantai dengan teman-teman semasa di Jeddah dulu itu malah liburan favorit saya. Tinggal di luar negeri tidak pernah diniatkan untuk liburan tapi ya untuk bermukim.

Jadi, saya juga bingung kalau ditanya cara mengatur keuangan keluarga. Asli, saya enggak pernah mikirin gini-ginian *tutupMuka*. Mencatat pengeluaran juga tidak pernah *blushing*. Ibu-ibu pemalas. Habisnya sebagian besar pengeluaran pasti urusan belanja dapur. Gih, catat sendiri tuh jenis sayur, buah-buahan yang dibeli per 3-4 hari sekali.

Anak-anak pun tidak pernah dibeliin macam-macam. Kami sepakat untuk disiplin soal gaya hidup kepada mereka. Cara terbaik untuk mengajari mereka ya melalui contoh nyata . Lucu kan, kami selektif dalam membeli mainan dan semacamnya, tapi kami sendiri lenggak lenggok depan mereka memakai barang-barang mahal hehe.

Gadget-gadget an, baik saya dan suami sama-sama enggak doyan.

Intinya mungkin dalam beberapa hal, pengendalian diri jauh lebih penting daripada pengendalian keuangan hehehe. Sekaligus menguatkan mitos, “Orang baik berjodoh dengan orang baik.” Paman gober? Ya jodohnya Bibi Gober hahaha.

Btw, saya menulis ini agar teman tidak menganggap saya malas ikut lomba menulis kalau hadiahnya enggak gede hihihi. Jangan gitu ah, lomba yang hadiahnya beberapa potong rendang saja saya ikuti kok asal memang ada yang bisa ditulis . Menulis status panjang-panjang di wall FB yang enggak ada duitnya saja selalu rajin kok ;). 

***

mengatur keuangan keluarga
Gambar : quotesloveandlife.com

Every Woman’s Best Man

Di agama Islam ada sebuah hadis yang menceritakan ketika seseorang datang kepada Rasulullah untuk menanyakan, kepada siapakah dirinya harus berbakti. Rasulullah menjawab, “Ibumu … kemudian ibumu. Kemudian ibumu, lalu ayahmu…”

Tiga kali berturut-turut nama kata ibu disebut-sebut barulah kata ayah dimunculkan. Apa ini berarti seorang ayah tidak lebih penting daripada ibu? Belum tentu.

***

Cerita pewayangan memperkenalkan kita pada tokoh Begawan Bagaspati. Nama aslinya, Bambang Anggana Putra. Seorang ksatria tampan yang dikutuk menjadi raksasa oleh seorang dewa di khayangan. Saking saktinya, Anggana Putra pernah berhasil menaklukkan seorang raksasa hebat (Candrabirawa).

Candrabirawa akhirnya bersemayam dalam diri Anggana Putra yang membuat Anggana tidak akan bisa mati kecuali atas keinginannya sendiri. Ajian sakti mandraguna, Candrabirawa sendiri, boleh diwariskan oleh sang pemiliknya nanti.

Anggana Putra sebenarnya pria yang tak cuma sakti namun juga santun. Konon, kesalahpahaman akibat hobi becandanya yang membuat sang dewa murka. Aih, kudu ati-ati ini kalau begini *langsungNgaca* .

Padahal, undangan ke khayangan bagi Anggana Putra adalah memintanya memilih salah satu bidadari di sana untuk diperistri. Anggana Putra langsung meminta maaf ketika berkelakar, mengatakan akan memilih istri dari sang dewa (becandanya nekat bener *ngelapKeringat*).

Walaupun pundung, Sanghyang Manikmaya tetap memenuhi janjinya untuk mengizinkan Anggana Putra mencomot salah satu satu bidadari di khayangan. Dipilihlah Dewi Dharmastuti. Masih menahan amarah, sang dewa memberi ultimatum, “Setelah sang hapsari melahirkan anakmu, dia akan meninggalkanmu kembali ke khayangan.”

Tak hanya harus menanggung kutukan menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang raksasa, Anggana Putra juga harus menduda ketika akhirnya Dharmastuti melahirkan seorang anak perempuan.

Anggana Putra mengikhlaskan takdirnya. Memilih hidup tenang sebagai raksasa bijaksana, seorang diri membesarkan Pujawati, buah hatinya bersama sang hapsari, dengan segenap cinta. Saking luar biasanya asuhan sang ayah, Pujawati tak pernah merasa merana karena ditinggal ibunya. Her life was just … perfect .

Nama Anggana Putra pun berganti … Resi Bagaspati. (Resi = Begawan)

Pujawati mewarisi kecantikan seorang bidadari, turunan dari ibunya. Singkat cerita, terjadi pertemuan antara Pujawati dengan seorang pria tampan. Naksir-naksiran terus jadian. Bahkan, akhirnya menikah. Pria yang menikahi Pujawati bukan pria sembarangan. Melainkan seorang calon prabu yang waktu itu masih bernama Narasoma.

Konon, Narasoma kaget dan tidak siap ketika mengetahui calon bapak mertua ternyata seorang raksasa. Sementara Narasoma adalah pewaris tahta sebuah kerajaan. Malu dong la yaowww punya bapak mertua seorang raksasa.

Bagai buah simalakama, cintanya pada Pujawati sudah kadung mendalam. Sekian lama menyimpan kegelisahan, Narasoma pun curhat ke Pujawati. Agar tak menyakiti pujaan hati, Narasoma mengatakan kegalauannya dalam bentuk teka teki.

Pujawati yang bingung, balik curhat ke sang ayah. Bagaspati, bukan resi biasa. Kebijaksanaannya yang tinggi membuatnya langsung mengerti maksud sang calon menantu.

Sembari curhat soal Narasoma, Pujawati pun mengungkapkan besarnya rasa cintanya pada Narasoma, “Aku takut ayah, dia akan pergi meninggalkanku. Bantu aku. He means everything to me.”

Permintaan Pujawati tidak main-main. Bagaspati awalnya berusaha menasihati putrinya perihal perangai Narasoma yang menurutnya tak menunjukkan seorang laki-laki yang patut. Pujawati malah bete.

Namun, peribahasa yang mengatakan, “Kasih anak sepanjang galah, kasih orang tua sepanjang jalan” menuai kebenarannya dalam kasus ini. Bagaspati menyadari, kebahagiaan putrinya adalah tujuan hidupnya.

Bagaspati tak perlu waktu lama untuk memutuskan apa yang harus dilakukannya. Dipanggilnya Narasoma. Narasoma sebenarnya keki juga karena Bagaspati mengetahui maksud hatinya dengan mudah.

Sebelum meninggal, Bagaspati sudah memanggil Candrabirawa keluar dari raganya. Tadinya, Candrabirawa enggan untuk berpindah tangan kepada anak muda yang dianggapnya sebagai sosok yang sombong dan mementingkan diri sendiri. Selama ini, Candrabirawa sudah nyaman bersemayam dalam tubuh sang resi nan bijaksana.

Bagaspati meyakinkan Candrabirawa, “Bagaimana pun, dia pria pilihan putriku.”

Candrabirawa akhirnya bersedia diwariskan kepada Narasoma. Sebelum merelakan nyawanya di tangan keris Narasoma, Bagaspati memintanya bersumpah, “Menantuku, walau putriku hanya anak gunung, tolong jangan kau sakiti dirinya nanti jika kelak kau menjadi raja. Berjanjilah untuk menjaga cintanya seumur hidupmu.”

Karena memang naksir berat, Narasoma langsung iya-iya saja. Apalagi dia pun bernafsu memiliki ajian Candrabirawa. Usailah hidup sang resi di tangan calon menantunya. Narasoma sukses mempersunting Pujawati dan mendapatkan ajian sakit mandraguna.

Kelak, Narasoma memang menjadi orang penting dalam kisah Mahabharata. Gelarnya adalah Prabu Salya. Prabu Salya sendiri akhirnya takluk di tangan Yudistira. Candrabirawa memang bisa dikalahkan oleh ksatria berdarah putih yang tidak memiliki nafsu duniawi.

***

Versi ‘modern’ dari kisah Bagaspati mungkin bisa kita lihat di film Armageddon. To be honest, walaupun pencinta drama, ane kagak demen ama ni film dan tidak pernah tuntas menonton. Tapi sinopsisnya kira-kira mirip kan, ya? CMIIW .

Seorang ibu tentu punya tempat istimewa di sudut hati terkhusus dalam benak masing-masing anaknya. Namun, tak berarti cinta Ayah terkesampingkan . Tiap anak adalah buah hati dari 2 orang sekaligus, ayah dan ibunya.

Salah satu keinginan terbesar seorang perempuan di hari pernikahannya, selain hadirnya calon mempelai laki-laki, adalah berada di samping ayahanda tercinta. Bersyukurlah bagi yang diberi kesempatan untuk menghadapi hari bahagia itu dengan kehadiran kedua pria terbaik tersebut.

Sementara, sebagian perempuan hanya sebatas memimpikannya saja.

Gambar : searchquotes.com
Gambar : searchquotes.com

Bakti kepada ibu tidak melupakan kita pada kasih ayah, kan? . As for most women, a father is always be their best man.

Menuju sepertiga ramadan terakhir, selain bersungguh-sungguh memanfaatkan momentum suci untuk meraup amal semaksimal mungkin, jangan lupa mendoakan selalu kedua orang tua, ya. Baik ibu maupun ayah. Whether they’re still here with us or not .

“Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran”

Artinya :”Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil”

***

Happiness is not Given … It is Made :)

***

Untuk saya, film “Life is Beautiful” besutan sutradara Roberto Benigni adalah contoh paling indah untuk menggambarkan peribahasa, “Happiness is not given, it is made.”

Gambar : kootation.com
Gambar : kootation.com

Film yang benar-benar menguras emosi ini ditayangkan pertama kali tahun 1997. Tapi saya menontonnya di acara kampus, 3 atau 4 tahun kemudian. Lupa acara apa, pokoknya acara nonton gratis di aula. Gratis? Ikuuuutttttt. Hahaha.

Saat itu, saya tak tahu sinopsisnya cuma dengar-dengar kalau filmnya bagus, semacam komedi gitu. Jadi, saya tak siap ketika menonton. Ketawa-ketawa iya, tapi nangis juga paling kenceng.

***

Tokoh utamanya adalah Guido, pria italia keturunan Yahudi yang di awal film sibuk memenangkan cinta Dora, ibu guru cantik yang tinggal di kota yang sama. Masalahnya, Dora telah bertunangan. Ngikik-ngikik, deh, nonton kreatifnya Guido merebut perhatian Dora. Finally he did win her love. Makanya, awal film saya tidak sadar kalau ini komedi tragis. Kirain beneran film lucu.

Setting waktu segera berganti, 5 tahun telah berlalu. Diantara mereka berdua, sudah ada Joshua, sang buah hati.

Saya sudah mulai curiga ketika ada tentara Nazi yang digambarkan mulai menerjang masuk ke Italia. Aih, film apa pula ini. Singkat cerita, para pria dan wanita keturunan Yahudi ditangkap dan digiring ke suatu tempat, kamp konsentrasi.

Guido dan Joshua tak luput dari penangkapan. Dora sebenarnya bukan keturunan Yahudi. Tapi, ibu mana yang tahan terpisah dari kedua belahan jiwanya. Dengan sukarela, Dora memaksa masuk ke dalam kereta yang kemungkinan akan membawa seluruh penumpangnya ke gerbang kematian. Guido tak sanggup membujuk Dora agar turun dan merelakan Guido dan Joshua saja yang pergi.

Yang terjadi di kamp konsentrasi inilah yang menjadi pesan kuat dalam cerita ini. Bagaimana Guido sekuat tenaga berusaha ‘mengelabui’ Joshua mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam kamp konsentrasi. “It’s just a game, Son. We just have to win it. Anything you see, it’s nothing but a game.” Begitu kira-kira ide yang ditanamkan Guido pada anak laki-lakinya.

Bayangkan, sedang berada di ujung maut, demi kebahagiaan anaknya, Guido mampu mengerahkan kreatifitasnya untuk membuat segala hal pahit dalam kamp tersebut menjadi hal-hal yang menyenangkan. “See? It’s just a game.” Begitu katanya berulangkali jika keraguan mulai merasuk pada pikiran si Joshua kecil. Berkali-kali Guido sukses membawa Joshua lolos dari perangkap maut.

Banyak kejadian lucu memang. Tapi di hampir setengah film, eike meweeeeekkk aja kerjaannya hehehe.

Saya pikir akan berakhir happy ending, ketika tentara sekutu datang untuk menyelamatkan para tawanan yang tersisa. Kenyataannya, di detik-detik terakhir, Guido tertembak mati juga. I’m still crying while I’m writing this imagining the moment he put this little Joshua inside a trash bin. Joshua nyengir-nyengir di dalam tong sampah melihat ayahnya digiring oleh seorang tentara Nazi. Guido mengedipkan matanya dari jauh seolah tak terjadi apa-apa. Joshua tak tahu itulah pandangan mata terakhirnya dengan sang ayah.

Ini adalah film flashback. Ternyata, narator yang bercerita itu adalah Joshua dewasa . Guido sukses mengelabuinya. Joshua tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kamp itu hingga ia dewasa. Dalam kebingungannya ketika pasukan Nazi kocar kacir digempur tentara sekutu, Joshua akhirnya dipertemukan kembali dengan ibunya. Di kamp, laki-laki dan perempuan dipisah tempat tinggalnya.

Adegan yang cukup mengharukan adalah ketika mobil tank para sekutu lewat di hadapan Joshua. Joshua melotot dan bersorak gembira, kira-kira kalau gak salah dia berpikir begini, “Wow, we win! This is the prize that Daddy always tells me. A real tank.” Setelah sekuat tenaga mengendalikan tangis tanpa suara di balik tisu, di adegan ini, eike histeris hahahaha. Duh, mudah-mudahan enggak ada yang ingat *tutupMuka*. Makanya, sang ratu drama jadi belajar juga. Kalau mau nonton film gini-ginian, be alone! .

***

Film ini sungguh luar biasa. Mengundang kritik dari beberapa pihak Yahudi yang memprotes adegan-adegan di kamp yang dianggap kurang sadis dan kurang menggambarkan teror yang dialami leluhur mereka. Ah, saya rasa memang bukan pesan itu yang ingin diajarkan Benigni pada pemirsanya.

Tak sedikit teman-teman saya ketika di Jeddah dulu yang selalu merasa betapa menderitanya hidup di Saudi. Tertutup lah, panas lah, kasihan anak-anak lah, orang arab menjengkelkan lah, nyetir di Jeddah bikin stres lah. Lucunya, tak sedikit teman-teman kami di tanah air yang berkomentar iri saban ada yang pamer-pamer foto depan Ka’bah, “Ah, kapan ya bisa ke sana.”

Ada kerabat yang malah sebal semasa tinggal di Eropa, katanya enggak enak, hidup bagai pembantu, segala kerjaan rumah harus dikerjakan sendiri. Yang tinggal di Jakarta sibuk menghujat macet, bete sama cuaca, kesal sama harga barang-barang mahal, kalau nyetir sebel sama angkot dan metro lah. Apalagi pas bensin naik. Sama, saya juga sering sih kayak gitu hihihihi.

Lain kali, saat kita merasa takdir begitu kejam memperlakukan kita, ingatlah Guido . Enakan mana tinggal di Jeddah atau dikirim ke kamp konsentrasi? hihihihihi. Ngeri amat padanannya hahaha.

Ketika wajah-wajah penghuni lain hanya pasrah menunggu ajal, Guido membuktikan satu hal penting bagi kita semua, “Happiness can be made … anywhere, anytime, anyway!”

Ah, tinggal di mana pun mana ada yang enak-enaknya doang. Tinggal di Jakarta? Satu paket dong sama macet dan segala macamnya. Tapi ingat kemudahan-kemudahan lain yang ada di sana yang kelak akan kalian rindukan saat jauh dari tanah air .

Tinggal di Saudi bikin stres? Ah, kamu bisa saja. Ingat harga bensin, ingat harga barang kebutuhan pokok yang serba nyaman . Ingat wajah-wajah iri teman dan kerabat saban situ pamer-pamer foto di Nabawi . Tinggal di eropa keren? Aih, kalau liburan doang iya kali hehehe. Tapi emang keren sih kalau dipikir-pikir ahahahahaha. Becandaaaaaa 😛.

Tak terasa sudah memasuki setengah bulan ramadan, banyak-banyak mengingat anugerah, yuk . Ingat, kalau si Joshua saja sudah girang bukan kepalang melihat tank di akhir petualangannya di kamp konsentrasi, apalagi janji Allah bagi umat yang banyak bersabar dan bersyukur dalam setiap tahapan kehidupannya. Enggak mudah, ya? Ya siapa bilang masuk surga itu gampang .

Note ini saya buat kemarin sore di wall FB. Selamat melanjutkan ibadah puasaaaaa . Yang di tanah air bentar lagi berbuka, nih. Selamat berbuka, ya. Untuk yang di Eropa, husss jangan lihat-lihat jam, buka puasa masih lamaaaaaaaa, hahahaha.

***

We are The World, We are The Children

by : Jihan Davincka

***

St Mary
Sumber : www.rte.ie (Green Flag Day at St Mary’s Primary School)

Saat mengantar dan menjemput Abil di sekolahnya yang sekarang, St. Mary Primary School (Athlone, Ireland), saya melihat jelas jika para orang tua yang menunggu di luar tidak ‘bercampur’ secara alami.

Konon, hadirnya kantor Er***** di kota Athlone membuat kota kecil ini dibanjiri para pendatang dari negara lain. Anak-anak dari para pendatang inilah yang mengisi sebagian bangku-bangku di St Mary Primary School tadi.

Yang rambut kuning sibuk berbicara dengan sesama rambut kuning :D, beberapa perempuan berjilbab yang dari logatnya terlihat jelas mereka berasal dari Saudi membentuk ‘lingkaran’ sendiri ;), tampang asia (India, Pakistan dll) juga terlihat berdiri merapat.

Di salah satu pojok saya sering melihat seorang perempuan yang sepertinya bertampang latin selalu berdiri menyendiri sambil memainkan ponselnya.

Yang paling merana emak-emak asal Indonesia yang enggak ada temennya ahahahahaha. Udahlah anak baru pula :P. Dasar tukang ngobrol, tetep aja maksa suka ikut-ikutan ngerumpi di grup-grup yang dirasa agak ‘open’.

Akhirnya saya punya temen ngobrol rutin yang berasal dari Suriname, seorang ibu keturunan India yang sudah menetap lama di Belanda. Sering juga mengobrol dengan ibu-ibu asal India yang anak-anaknya sekelas dengan Nabil, anak sulung saya.

Karena punya satu teman akrab dari Saudi, beberapa perempuan Saudi jadi sering menyapa atau minimal tersenyum kepada saya. Tapi kalau sudah asyik sesama mereka, mereka pasti berbahasa Arab, deh. Ampun maaaakkk, eike tahunya cuma sebatas, “swayya, swayya, asara, mafi mushkilah, aiwa” saja, ahahahahaha. Mending melipir :P.

Kontras dengan para orang tua di luar yang terlihat kikuk dan hanya menyapa seperlunya dengan ‘ras lain’ :P, anak-anak terlihat jauh berbeda. Kalau mereka berhamburan dari kelas, terlihat sangat akrab satu sama lain.

Anak saya sendiri belum apa-apa sudah punya ‘geng’ hihihihi. Dasar emang enggak bisa diem dari kecil :P. Nabil punya beberapa sahabat, Jerry yang selalu keren dengan jaket kulitnya (afrika), Tyrish yang rambutnya kuning menyala (I’m not sure whether he’s polish or irish), Hamzah (muslim India tepatnya dari kota Bangalore), Mustafa (yang orang tuanya asli Saudi) dan Alex ( kalau enggak salah ini anak baru pindahan dari Inggris). Saya hapal karena tiap hari kaleeee dikenalin sama Abil hihihihihihi.

Tapi kalau melihat teman saya, Clara, yang sudah menetap di Irlandia selama 5 tahun, sepertinya ada juga acara-acara ‘morning tea’ rutin yang diadakan para ibu-ibu yang tidak memilah-milah ras. Tapi kelihatan kok, kebanyakan terlihat nyaman ‘bergaul akrab’ dengan sesamanya :).

Keakraban dengan ‘bangsa lain’ hanya sebatas kesopanan saja. Kalau pun ada yang bisa saling akrab, itu termasuk langka. Bahkan di negara-negara yang katanya menjunjung HAM ini :P. Walaupun tidak mengganggu dan terasa wajar, rasa kikuk itu tidak benar-benar pudar di mana pun :).

Makanya, saya sangat senang berkenalan dengan Fatima, perempuan asal Dhammam (ibunya Mustafa). Beberapa kali saya diundang ke rumahnya, dimasakin pula nasi-nasi arab yang enak-enak.

Sungguh tak menyangka, nyaris 3 tahun di Jeddah saya tak punya sahabat penduduk asli sana. Baru beberapa minggu di Athlone, kami menjadi akrab begitu saja :). Sayang, dia dan keluarganya sudah kembali ke Dhammam for good :(. I and she were crying on her last day, when we were saying goodbye at each other while having a brunch at a certain coffee house. Miss you already, my dear Fatima :).

***

Video di bawah dan pengalaman saya tadi adalah bukti bahwa pada dasarnya, secara lahiriah kita tidak dilahirkan dengan rasa kikuk itu :). Lihat saja Nabil dan teman-temannya. Untuk anak-anak umur 5 tahun itu, warna kulit – perbedaan bahasa – agama – sama sekali tidak pernah menjadi acuan dalam berteman :).

Kita semua pun pernah kecil. Saat kecil pun, coba saja diingat-ingat, bagaimana cara kita memilih teman? Pertanyaan besarnya, mengapa setelah dewasa pemikiran-pemikiran idealis ini bisa memudar bahkan mungkin menghilang? Ulah siapakah?

Tidak percaya? Luangkan waktu menonton video yang saya share ini :).

Ah, ini mbak-nya liberal sekali pemikirannya. Abis ini jangan ada inbox aneh-aneh dengan tuduhan macam-macam ke saya, ya :P. Enak saja :D. Saya malah sangat bangga sebagai umat muslim. Saya, kok, malah curiga dengan penggalan lirik lagu Michael Jackson pada judul lagu yang saya jadikan judul tulisan ini.

Jangan-jangan dia terinspirasi dengan petikan dari ayat suci alquran di bawah ini 😀 …

“Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah
menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang
perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku, AGAR KAMU SALING MENGENAL.
Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi
Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat ayat 13)

Penggalan ayat suci alquran yang sudah turun ratusan tahun sebelum Jacko, salah satu legenda musik dunia, membuai semesta dengan salah satu gubahan terindahnya, “We are The World.”

We can’t go on pretending day by day
That someone, somehow will soon make a change
We are all a part of Gods great big family
And the truth, you know,
Love is all we need

***

Hari ini, hari ke-8 di bulan suci ramadan (hari ke-9 buat sebagian yang lain). Berarti sudah sekitar satu minggu kita menjalani ibadah puasa di tahun ini. Alhamdulillah.

Selain memanfaatkan 30 hari istimewa untuk ‘narsis’ dan ‘carper’ kepada Allah melalui amalan-amalan aqidah, sudah sejauh mana kita menalaah masalah muamalah kita terhadap orang lain? :).

Selamat melanjutkan ibadah puasa, saudara-saudara muslimku :). Tetap semangat ^_^.

***

Keterangan video ada di sini –> https://www.dailydot.com/lol/kids-react-cheerios-commercial-race/

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=VifdBFp5pnw&feature=player_embedded]

Take The Hits!

by : Jihan Davincka

***

Barusan melanglang buana ke salah satu blog favorit saya. Enggak berani share linknya di sini . Karena akhir-akhir ini nama sekaligus foto beliau, si empunya blog, muncul di beberapa situs islam tanah air dan diberi cap, “Hati-hati. Dia kafir” .

Tenang, beliau tidak sedang berdakwah di tulisan yang ini . Melainkan membahas tentang seorang penulis internasional yang juga saya kagumi, Karen Armstrong .

Salah satu buku yang disebut-sebut adalah buku “Muhammad Sang Nabi.” Saya juga sudah baca buku ini. Dipinjamkan oleh teman kantor (sekitar tahun 2005) yang juga fansnya si Armstrong yang ini .

Kalau membaca beberapa karya Armstrong, terlihat jelas keberpihakannya pada ajaran Islam. Meskipun buat saya pribadi, beliau masih memiliki penafsiran yang berbeda dengan saya.

Misalnya saja, di buku “Perang Suci”, Armstrong menafikan bukti bahwa Islam tidak memisahkan antara kehidupan beragama dan sendi kehidupan lain. Islam yang saya yakini justru menyatukan semua aspek kehidupan dalam naungan Islam . Kalau pada kenyataannya belum ada bukti praktikal bahwa semua sendi ini bisa berbalut rapi dalam Islam, itu adalah ‘kesalahan’ umatnya. Ajaran Islamnya mah pasti sempurna . In Shaa Allah.

***

Muhammad Sang NabiDi buku “Muhammad Sang Nabi”, ada bagian yang menceritakan mengenai perjanjian Hudaibiyah. Waktu SD dulu (karena saya sekolahnya di Yayasan Islam Athirah yang porsi pelajaran agama Islamnya cukup besar), saya tahunya kalau perjanjian ini terjadi terbatas karena Rasulullah tidak ingin ribut-ribut dengan penguasa Mekkah.

Armstrong dengan detail menjelaskan betapa Rasulullah punya pertimbangan luar biasa cerdas dan maksud tersembunyi yang sudah diperhitungkan matang-matang. Perjanjian yang dianggap sangat merugikan kaum muslim yang telah hijrah ke Madinah ini menuai rasa bingung/kecewa dari banyak sahabat.

Rasulullah membuktikan ‘kepiawaiannya’ dalam berstrategi. Perjanjian yang dianggap, malah sempat diprotes keras, akan merugikan kaum muslim malah berbalik.

Kembalinya sebagian mukimin Madinah ke Mekkah, yang telah dibekali dengan semangat muamalah Islam yang ‘indah’, membuka jalan dakwah yang nyaris sempurna : tanpa pertumpahan darah dan dengan mudah menarik perhatian/simpati banyak warga Mekkah.

Sebaliknya, mukimin Mekkah yang bebas bolak balik Madinah-Mekkah terbuka lebar-lebar matanya akan keindahan ajaran baru yang dibawa oleh seorang yang bergelar Al Amin . Sejarah membuka bahwa sekali pun ditentang keras oleh banyak petinggi Quraisy, akhlak Rasulullah tak pernah sanggup mereka buang sepenuhnya begitu saja .

Tak heran, belum lagi usai 10 tahun periode perjanjian ini, terjadilah peristiwa Futuh Mekkah. Mekkah diambil alih dengan cara yang ‘indah’, tanpa senjata, tanpa darah. Mahabesar Allah dengan segala petunjukNya. Mahaindah Islam dengan segala keutamaan akidah dan akhlaknya . Nah, makanya kata ‘indah’ saya sebutkan berkali-kali . Ajaran Islam yang saya yakini itu BENAR sekaligus INDAH. Literally.

Apakah semua penduduk Madinah kala itu MEMELUK AJARAN ISLAM SEPENUHNYA? Tak ada kaum Nasrani dan Yahudi? You tell me .

***

Armstrong menyebut-nyebut tentang Compassion (welas asih). Menurutnya, inilah salah satu kesuksesan Rasulullah dalam berdakwah. Compassion adalah sesuatu yang sifatnya stabil. Tidak seperti perasaan manusia yang kadang benci kadang sayang pada berbagai hal.

Berkaitan dengan sifat welas asih ini, saya ambil informasi blog yang saya sebut di awal tadi, Armstrong membagikan ‘golden rule’ yang disimpulkannya dari berbagai ajaran agama : “Jangan melakukan sesuatu yang kita pun tak ingin orang lain melakukannya pada diri kita.”

Sejalan dengan semangat ajaran ‘welas asih’ tadi, kata-kata kami dan mereka akan selalu melebur menjadi kata ‘kita’. Kita, bukan kami … bukan mereka.

Saya tahu setelah ini pasti banyak kritikan, “Sekuler lu!” Ahahahahahaha. Saya sih akan selalu meyakini bahwa Islam itu “rahmatan lil aalamiin”. Ajarannya tidak akan pernah menjadi sesuatu yang membuat alis kita berkerut, dada kita bergoncang gelisah.

“Apa pantas menyiram air teh ke wajah orang yang lebih tua karena dia itu liberal/pembenci Islam?” Walaupun kita tidak suka dengan figur yang seringkali ‘menantang’ Islam (bahkan siram seember juga rasanya pengin ya hehehehe), tapi apa iya batin kita tidak bergejolak dengan perlakuan seperti itu? Apa pantas berkata, “Allahu Akbar, Allah bersamamu.” Indahnya di mana? .

Baru-baru ini sebuah situs islam memberitakan 3 orang yang digadang-gadang telah berjihad karena membunuh seorang murtadin yang konon selalu mencela-cela ayat suci dan berdakwah sebagai seorang pendeta. Luar biasanya, tak sedikit komentar yang memuja-muja 3 orang tadi, yang kini telah ditangkap dan akan diadili. Katanya, “Biarkan hukum thagut yang melaknatmu. Tapi nama kalian sudah tertera di surga.”

Mengapa kita selalu menggeliat melihat ‘lawan-lawan’ yang mungkin hanya ada dalam pikiran yang selalu kita angap berkonspirasi ini itu? Mengapa tak pernah menggelisahkan umat sendiri?

Seperti pertanyaan besar saya selalu sejak saya pernah mencicipi ‘glamor’nya kota Jeddah, “Saudi sekaya dan sekuat ini, mengapa tak pernah mampu memperjuangkan Palestina secara TERBUKA?” Peristiwa Palestina telah dijelaskan panjang lebar oleh Armstrong di buku “Perang Suci.” Berhentilah melihatnya sebagai pusat perselisihan agama. Ini masalah kemanusiaan. Bahwa ada sekelompok kecil orang yang tahu-tahu mencaplok wilayah kelompok lain yang telah lebih dahulu tinggal di sana secara sah. Memangnya anda kira orang Palestina itu muslim semua? .

Di kota di mana Rumah Tuhan hanya berjarak kurang dari satu jam perjalanan, penghianatan terhadap hukum Tuhan berlangsung begitu banyak? . Baik dari penduduk asli maupun para pendatang. Memang, kalau urusan salat dan bacaan alquran, seratus jempol saya untuk penduduk asli. Tapi, urusan muamalah? .

Berbagai pertikaian di Timur Tengah sudah selayaknya membuka mata kita lebar-lebar. Seperti status dari salah satu teman saya yang mungkin bisa menjadi renungan bersama, “The middle easterns can actually kill each other all the times, but the problem is why the heck should most oils lie in there? Why? Why? :))”

A very good point. Penguasa sumber energi dunia secara logika harusnya bisa menjadi pengendali bumi (ih, jadi ingat avatar gak sih? ahahahahahaha). Pada kenyataannya … malah terbalik . Mungkin introspeksi diri untuk kaum di Middle East sana dan kita-kita yang juga berasal mayoritas yang sama. Mengapa kesenjangan ekonomi justru terjadi di banyak negara dengan mayoritas muslim??? WHY??????

Ini memang kita sudah terkena konspirasi musuh Islam atau kita yang tanpa sadar sudah menyembah tuhan mereka yang baru, “UANG” . Tuhan baru yang mampu melebur di ajaran agama mana pun tanpa memandang ideologi apa pun.

***
“That’s how winning is done! Now if you know what you’re worth then go out and get what you’re worth. But ya gotta be willing to take the hits, and not pointing fingers saying you ain’t where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain’t you! You’re better than that!” -Rocky Balboa-

We, moslems, are not THOSE COWARDS, aren’t we? ;).

Gambar : coveralia.com
Gambar : coveralia.com