Islam di Inggris dan Irlandia : Here, There and Everywhere

Islam di Inggris dan Irlandia : Kalau ramadan tiba, pendatang asal Saudi di berbagai penjuru Irlandia biasanya ‘menghilang’. Hampir semuanya kembali ke kampung halaman jelang ramadan hingga hari raya.

Pendatang asal Saudi di kota Athlone terbilang lumayan, lho. Sebagian besar tinggal di apartemen di City Center, yang bersebelahan langsung dengan Athlone Town Center, mal paling besar di Athlone.

Sebagai alumni Saudi, saya langsung memaklumi hehehe. Madam Saudi gitu lho, mana bisa jauh-jauh dari mal, ahahahahaha . Demikian pula soal ramadan, saya enggak heran jika seorang teman asal Saudi di sini pernah berkata, “It’s insane to spend ramadan in here. I always go back to Saudi for ramadan.”

Alasan mereka bukan cuma karena bulan puasa di musim panas mengharuskan umat muslim berpuasa rata-rata 17-21 jam di Eropa. Tapi suasana ramadan di Saudi memang cukup mencengangkan. Saya sungguh tak mengira kalau ramadan di Saudi berarti … waktunya dugem! Hihihihi.

Tahun pertama melewati di Saudi, tahun 2010 silam, di suatu akhir pekan saya mengajak suami jalan-jalan. Suami keheranan, “Ngapain jalan-jalan siang-siang?”

“Ya, biar enggak bosen aja. Ke mal, yuk. Lihat-lihat.”

Suami langsung terbahak, “Kalau bulan puasa, pagi sampai sore mana ada toko yang buka?”

Gantian saya yang heran, “Lha? Masa, sih? Mereka libur juga sebulan kayak anak sekolah?”

“Bukanya entar malam. Kalau mau jalan-jalan abis Isya aja, sampai subuh juga ramai.”

Saya jelas kaget. Selama di Saudi, saya sih tidak pernah ikut-ikutan pola hidup mereka yang memiliki jam malam lebih panjang. Saya dan anak-anak tetap tidur rata-rata pukul 10 malam. Weekend pun tak ada ampun buat saya . Tidur tetap jam segitu, bangunnya tetap subuh *sokDisiplin* hehehe. Saya tipe orang yang gampang bad mood kalau bangunnya siang .

Saat ramadan, kami pernah berbelanja ke supermarket selepas Isya. Jika suasana di pagi hingga sore bagaikan kota mati, sebagian besar madam bobok-bobok cantik dalam rumah  (menurut bibik yang membantu beres-beres di rumah teman yang juga part timer di rumah-rumah madam arab), malamnya sungguh luar biasa. Jalanan macet gilaaaaaa!

Mal penuh, supermarket ramai, kasir pun ngantrinya ampun-ampunan. Jam 1 malam baru kelar kami berbelanja. Saya sudah mulai cranky. Ngantuk, Cyin! Hehehehe. Begitu keluar dan beranjak pulang, suasana di jalan tidak berkurang kepadatannya.

Suami saya cengar-cengir, “Pesta baru berakhir entar, pas jelang subuh.”

Kalau di tanah air, ngabuburitnya dari ashar hingga magrib, di Saudi beda lagi. Ngabuburitnya selepas Isya hingga subuh .

To be honest, saya mah ogah banget dengan suasana ramadan seperti itu. Tapi demi menemani suami, ditahan-tahanin, deh.

Islam di Inggris
Bukber 2012

Tapi serunya juga ada . Urusan makanan, tinggal di Jeddah hampir tak ada keluhan hehehe. Di bulan puasa pun, penjual snack untuk berbuka banyak banget. Tiap sore, main saja ke Singaparna. Mau apa? Cendol, onde-onde, aneka gorengan, putu-putuan, lontong-lontongan, sagala aya! . Harganya juga sangat masuk akal. Kalau enggak doyan masak seperti saya, enggak akan berpikir 2x untuk memasukkan segala macam ke dalam kantong plastik hehehe.

Teman juga banyak. Tak semua teman ‘menyerah’ dan mudik ke Indonesia saat bulan puasa. Banyak juga yang bertahan hingga hari raya di Jeddah. Acara buka puasa bersama tetap ramai alhamdulillah. Biasanya kami membagi tugas siapa bawa apa. Saya tak pernah risau. Pesan saja. Kebagian tugas membawa nasi putih, saking malasnya repot, saya pasti pesan hahahaha.

Waktu berpuasa di Jeddah, saat musim panas pun, rata-rata cuma berkisar sekitar 14-15 jam saja. Enggak jauh beda dengan di Jakarta. See? Kalau dicari, yang enak-enaknya tetap lebih banyak :D.

Islam di Inggris dan Irlandia
Buka puasa tahun 2011

***

Islam di Inggris dan Irlandia : Tahun ini, giliran Eropa yang kudu ditaklukkan di bulan ramadan. Awal-awalnya, waktu berpuasa mencapai 19 jam. Onde mande *keringatDingin*. Saya dan suami sampai memutuskan untuk ‘gladi bersih’ sebelum ramadan benar-benar datang. Hihihihi. Voila, ternyata enggak sehoror yang dibayangkan.

Hm, tentu saja. Suhu di Eropa pada umumnya tidak seganas daerah gurun dan tidak selembab di Jakarta (yang bawaannya keringetan melulu jadi gampang haus). Alhamdulillah, sekali mencoba, kami langsung percaya diri. Percayalah, Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umat .

Lagian jangan mengasihani orang Islam di Inggris dan Irlandia atau Eropa lainnya saat harus berpuasa di musim panas. Karena begitu musim dingin tiba, subuh bisa berlangsung di jam 7 pagi, dan pukul setengah 5 sore magrib akan menjelang. Puasanya bisa 9.5 jam saja di musim dingin. Asyik, kan? .

Segala sesuatu sudah diciptakan berpasangan. Sementara di Indonesia, mau musim hujan kek, musim kemarau kek, musim mangga kek, musim duren ataupun musim kawin, puasanya tetap stabil dengan durasi rata-rata 13-14 jam .

Sekitar belasan hari pertama puasa tahun ini, musim panas mencapai puncak. Suhu siang hari bisa di atas 35 derajat. Aduh, cobaan banget kalau harus jalan kaki berbelanja ke supermarket yang jaraknya sekitar 1 kilo sambil nenteng 2 bocah huhuhu. Suami yang baik hati pun mengambil alih tugas ini hehehe *kecupSuamiTerhebatDiDunia* .

Belakangan, hujan deras mendominasi, suhu drop ke angka 20 an derajat. Memang, suhu labil adalah ciri khas negara Irlandia .

Waktu tidur adalah tantangan terberat. Karena saya tak bisa berleha-leha di pagi dan siang hari. Masih ada 2 bocah yang kudu diurusin makannya. Saya tak mengganti jadwal makan anak-anak saya di bulan puasa. Mereka sarapan tetap di jam 8 pagi dan seterusnya. Waktu tidur mereka pun sama.

Resikonya, waktu tidur mama pun terpaksa dipangkas . It’s ok. Manfaatkan banyak waktu untuk nulis-nulis hehehe.

Sebagai satu-satunya keluarga muslim asal Indonesia di Athlone, kesepian, gak? Enggak . Karena banyak keluarga muslim asal negara lain . Malah, di sini kami rutin bukber tiap jumat malam. Bedanya? Kalau di Jeddah tinggal pencet ponsel pesen ini itu buat dibawa ke acara.

Di sini kudu nyiapin sendiri. Dasar bukan pencinta dapur, kebagian bawa salad buah saja mesti browsing internet hampir seharian, ahahahahaha. Alhamdulillah, salad buah eike laku keras 😀 <– amatiran abis, bikin salad buah saja udah berasa masterchef hahaha.

Pernah juga kebagian bawa snack asin. Wah, mereka cukup doyan martabak telur . Enggak sia-sia jumpalitan di dapur.

Di Athlone, dapur mama ngebul terus. Hampir sebulan penuh ini, kami tak pernah jajan di luar. Mau jajan apa lagian? Rasa kurang enak, harga apalagi hahahaha. Berkahnya, sekarang sudah terbiasa masak ini itu . Walau saya cenderung ber-FC ria pas ramadan tahun ini, kan masih ada suami dan anak-anak yang nampaknya belum bisa 100% mengikuti pola makan saya.

Cuma ya gitu, saya sering merasa ‘alone in a crowd’ di acara buka puasa bersama mingguan itu. Biasalah, orang arab kalau ketemu orang arab otomatis akan berbahasa arab. Orang pakistan sibuk cekikikan pakai bahasa mereka. Orang Turki juga sama. Mereka semua sangat fasih berbahasa inggris, tapi ya begitu ketemu sesamanya, refleks kembali ke bahasa ibu masing-masing . Kalau sudah begini, kangennya luar biasa sama madam-madamku di Jeddah.

Untung ada teman dari Malaysia yang baik banget sesekali mengajak saya mengobrol. Ini bukan cobaan ringan bagi orang yang enggak bisa diam seperti saya hahahaha. Kepooooo aja bawaannya. Apa daya enggak ngerti mereka ngomong apaan .

***

Lebaran di Jakarta, Jeddah maupun di Athlone, ada enak ada enggak enaknya. Tapi kalau disuruh memilih, saya sih, home sweet home, dong . Paling nyaman melewatkan ramadan di tanah air .

Namun konon, pengalaman adalah salah satu hal yang tak akan terbeli oleh uang, seberapa pun banyaknya . Tinggal di Saudi dan menyaksikan cara mereka melewatkan ramadan tidak berarti kita boleh seenaknya menilai nilai ibadah mereka. Ingat, urusan aqidah sudah ada dewan jurinya tersendiri . Istimewanya orang Saudi itu, sangat royal dalam urusan membagi makanan berbuka pada siapa pun .

Tinggal di Athlone pun, yang dalam kehidupan sehari-hari nyaris tak terasa suasana ramadannya, tidak boleh membuat kita ciut.

Semasa di tanah air, puasa cukup identik dengan kumpul-kumpul, makan-makan enak, hiruk pikuk mengejar waktu berbuka kala terjebak macet di jalan. Setelah menjalani ramadan di tempat lain jadi menyadari makna puasa itu intinya ibadah. Seharusnya kita bisa merasakan kehadiranNya di mana saja, apa pun suasananya.

Nikmat berpuasa ada dalam diri sendiri. Bukan karena suasana atau lingkungan dan orang-orang sekitar 🙂.

Demikian seputar kehidupan Islam di Inggris dan Irlandia ;).

***

Dua Sisi Mata Uang, Arung Palakka

by : Jihan Davincka

***

Berbeda dengan puja puji yang dilimpahkan kepada ‘musuh’nya Sultan Hasanuddin, nama Arung Palakka tercatat sebagai salah satu ‘penghianat bangsa’ dalam buku-buku sejarah yang pernah saya pelajari waktu masih SD.

Kontras dengan buku-buku sejarah yang pernah saya pelajari waktu masih di bangku sekolah, sebuah patung besar berdiri gagah di sebuah Taman Bunga yang dibangun untuk mengenangnya di tengah kota Watampone. Watampone terletak di kabupaten Bone, daerah asal Arung Palakka.

Sumber : koraadnan06.blogspot.com
Sumber : koraadnan06.blogspot.com

***

Sebagai pengantar, mari sedikit mempelajari kultur sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Ehm…propinsi asal eike, nih *benerinPoni*.

Seperti kebanyakan propinsi di berbagai belahan Nusantara, Sulsel juga kaya akan ragam suku dan bahasa. 4 suku terbesarnya adalah : Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Beberapa waktu lalu, sebagian besar wilayah yang dikuasai suku Mandar sudah memisahkan diri menjadi sebuah propinsi baru, Sulawesi Barat. Makassar sendiri sudah resmi menjadi nama ibukota Sulawesi Selatan sejak tahun 1999 lalu setelah sebelumnya bernama Kota Ujung Pandang. Bukan berarti semua penghuni kota ini berasal dari suku Makassar semua la yaow. Orang Bugis dll juga ada .

Suku lain misalnya Enrekang. Kakek saya sendiri (dari Ibu) juga memiliki darah Enrekang. Aduh, ingat Enrekang ingat Dangke, makanan khas asal sana hehehe .

***

Membahas sejarah Arung Palakka akan membuka luka lama yang pernah ditorehkan oleh dinasti kerajaan Makassar kepada Kerajaan Bone, salah kerajaan terbesar Bugis di masa itu. Jadi, bukan cuma Sunda vs Jawa saja yang pernah bersimbah drama di masa lalu. Orang Bugis pun menyimpan kisah kelam di masa lampau.

Arung Palakka lahir sebagai pewaris tahta Kerajaan Bone. Belum lagi menginjak abege, Kerajaan Bone ditaklukkan oleh Kerajaan Makassar. Di usia belasan, Arung Palakka dan keluarganya disandera. Untung saja, Arung Palakka dan keluarga dijadikan pelayan Karaeng Pattinggaloang, salah satu petinggi di Kerajaan Makassar. Dalam asuhannya, Arung Palakka diberi kesempatan mendapat pendidikan layak hingga menjadi anak yang menonjol dalam olah fisik dan akademis.

Walau besar dan diizinkan bergaul biasa dengan pemuda-pemuda Makassar, Arung Palakka tak pernah bisa melepaskan dirinya dari Siri’-Pacce-Sare yang mengalir kuat dalam darah bugisnya. Sungguh sulit baginya menyaksikan ribuan bangsanya digiring dari Kerajaan Bone untuk bekerja paksa bagi Kerajaan Makassar atas perintah Sultan Hasanuddin.

Siri’-Pacce-Sare apaan? Ketiga prinsip ini adalah kepercayaan dasar bagi orang Bugis kala itu.

Siri’’ (harga diri atau kehormatan dan rasa malu).
Pacce (perasaan sakit dan pedih atas penderitaan saudara sebangsa).
Sare (kepercayaan bahwa seseorang dapat memperbaiki atau memperjelek peruntungannya dalam hidup ini melalui tindakan orang itu sendiri).

Tak cuma itu, setelah banyak para pekerja paksa yang sakit dan melarikan diri, para bangsawan Bone dan Soppeng yang tadinya hanya dijadikan pelayan dipaksa untuk ikut menggali kanal di sepanjang garis pertahanan Kerajaan Makassar. Bayangkan, seberapa besar rasa malu yang harus ditanggung oleh para bangsawan Bugis ini.

Banyak yang tidak terima dan melawan. Salah satu kompornya ya si Arung Palakka. Perlawanan dipatahkan. Larilah Arung Palakka membawa beberapa orang-orang kepercayaannya.

Singkat cerita, rombongan bugis yang melarikan diri dari penjajahan sekaligus kabur dari rasa malu, mendarat di Batavia. Dimulailah kehidupan keras mereka untuk mempertahankan diri. Para ‘Tau Ogi’ (sebutan untuk orang Bugis) segera mendapat perhatian dari Cornelis J Speelman, yang tengah berjuang membersihkan namanya dari tuduhan perdagangan gelap. Bertiga bersama Kapiten Jonker, mereka bertiga menjelma menjadi ‘Preman Batavia’. Semacam “Three Muskeeter” gitu kali, ya, di masa itu hehehe.

Uniknya, membawa dendam akibat pelecehan terhadap bangsanya malah membuat Arung Palakka membabi buta. Tak segan-segan ia membantu VOC meluluhlantakkan perlawanan orang-orang Minang di wilayah Sumatera. Jadi pernah lhooooo orang Bugis ‘mengalahkan’ orang Minang (melirik tajam ke arah suami! Apa iniiiii? Malah jadi chauvinisme begini :P).

Setelah bertahun-tahun menunggu, kesempatan emas itu datang juga. Pihak VOC meminta Arung Palakka membantu menaklukkan Kerajaan Makassar yang kala itu punya potensi besar menyaingi rencana monopoli VOC. Terbakar Siri’, Pacca, sibawa Sare, Arung Palakka langsung menyambut tawaran ini.

Begitulah sejarah terukir. Arung Palakka membawa bangsanya meraih kemerdekaan setelah bersama VOC berhasil melumpuhkan Kerajaan Makassar yang makin terdesak dengan Perjanjian Bongaya. Ah, dari dulu isunya selalu sama. Padahal mungkin jika Makassar dan Bone bersatu, VOC tak akan pernah sanggup mencicipi kekuasaan di perairan Sulawesi.

***

Seorang sejarawan memang mencoba mengangkat latar belakang darah bugisnya dan penjajahan Kerajaan Makassar terhadap kerajaan-kerajaan bugis untuk mengupas kisah Arung Palakka secara keseluruhan. Kalau dalam buku-buku sejarah dulu (sekarang masih enggak sih?), kisah yang ditonjolkan adalah bentuk kerja sama Arung Palakka bersama laskar bugisnya bahu membahu bersama VOC memojokkan Kerajaan Makassar di masa itu.

Bahwa, bila tak dibesarkan dalam situasi terjajah, mungkin tak akan ada cerita pengkhianatan orang Bugis terhadap sejarah kemerdekaan bangsa. Remember, we don’t judge others, for often we don’t know the whole story .

Sebenarnya Arung Palakka juga menunjukkan kekeliruan besar ketika membantu VOC mematahkan perlawanan Minang dan membuat beberapa wilayah Minang malah jatuh ke dalam penjajahan kompeni. La ya katanya sakit hati suku sendiri terjajah kok malah ikut-ikutan menjajah suku lain? Enggak bener dong, ya *jewerArungPalakka*.

Kerajaan Makassar pun membuktikan pepatah, “Apa yang kau tanam itu yang kau tuai.” Bukannya baik-baik sama suku tetangga malah memperbudak mereka? Zzzzz .

Ketika Kerajaan Makassar telah berhasil dilumpuhkan, Arung Palakka mau tak mau terjebak dalam urusan ‘balas jasa’ kepada VOC. Dia bahkan pernah meninggalkan bangsanya, berlayar hingga ke Jawa, membantu VOC menyelesaikan masalahnya di sana. Sikap ini mengundang kontroversi dalam kalangan orang Bugis sendiri. Tak sedikit orang-orang Bugis yang akhirnya hengkang dari Sulawesi sebagai bentuk protes terhadap sikap Arung Palakka yang dianggap menghalalkan segala cara.

Demikianlah tiap cerita kepahlawanan memiliki porsinya sendiri-sendiri. Dengan melihat dari berbagai sisi, kita akan memiliki pemahaman lebih mengenai siapa si jahat siapa si baik. Apa ada yang benar-benar jahat atau ada yang secara keseluruhan baik? .

Kisah-kisah seperti ini sekaligus mengajarkan betapa MAHAL yang namanya KEBERANIAN, KEKUATAN dan KEBAHAGIAAN.

Sultan Hasanuddin dalam kisah ini adalah orang yang paling berani melawan VOC? Belum cencuuuuu . ORANG yang paling CEPAT dalam MINTA MAAF adalah ‘ORANG YANG PALING BERANI’.

Jadi, yang paling kuat itu Arung Palakka? Ya enggak juga. ORANG yang paling CEPAT meMAAFkan adalah’ORANG YANG PALING KUAT’..

Pada akhirnya siapa yang mereka bahagiakan? ORANG yang paling CEPAT meLUPAkan KESALAHAN orang lain adalah ‘ORANG YANG PALING BAHAGIA’. Mudahkah kita meLUPAkan?

Ternyata untuk menjadi orang yang BERANI, KUAT dan BAHAGIA enggak mesti pula terbang jauh ke masa lampau mengangkat senjata melawan penjajah. Rumusnya sudah dikasih tuh di atas hehehe.

Dan sebenarnya ada satu hal penting yang perlu kita camkan bersama sebagai satu bangsa dan tanah air adalah… JANGAN MACAM-MACAM SAMA ORANG BUGIS!!! ahahahahahahahahahahhaha *pasangKacaMataItem*.

***

(Disarikan dari : id.wikipedia.org)

What’s Your Dream Job?

Ini sebenarnya mau curhat soal profesi suami yang ternyata sangat tidak tenar itu hehehe.

Waktu masih bekerja dan belum punya anak, saya pernah janjian makan malam bersama teman lama saya yang kebetulan lagi melanjutkan sekolah di Jakarta. Dia, bersama suaminya, sama-sama lulusan kedokteran umum dari perguruan tinggi negeri tempat kami berasal. Dokter, cyin.

Sepasang suami istri yang sama-sama lagi ambil spesialis.

Mereka berdua jelas bukan tipe ‘Keluarga Gober’ . Karena saya sebagai pihak pengundang jadi kudu memuliakan tamu dong, ya. Setahu saya, teman ini suka sekali masakan Jepang. Tadinya mau saya ajak ke Hoka-hoka Bento ahahahahaha. Kalau hokben mah ane favorit banget.

Tapi kata adik saya, “Sinting lu. Masakan Jepang tuh maksudnya sushi-sushian, bukan Hokben.”

Setelah googling waktu itu, ketemu nama resto Sushi Tei. Pokoknya katanya enak, tempatnya di mal ternama dan … mahal! Hahaha. Bungkusssss.

Bertemulah kami berempat di sana. Dia bersama suaminya, saya bersama suami saya.

Obrolan pembuka yang standar antar suami, suami teman yang bertanya duluan, “Kerja di mana, Mas?”

“Oh, saya kerja di telco.”

“Perusahaan apa, ya?”

“Eri*****.”

Suami teman langsung mengangguk-angguk, “Wah, asyik, dong. Jago benerin hp berarti, ya.”

Hahahaha. Waktu itu saya setengah mati menahan ketawa sementara saya tahu pasti, suami pasti gondok bukan kepalang. Kalau mau benerin hp, ke glodok aje kali, Pak Dokter!

Di mobil pas pulang, suami makin kesal, “Sialan. Udah bayar makannya mahal. Enggak enak. Disangka tukang benerin hp lagi.”

Yoi, kita berdua paling males deh makan sushi dan teman-temannya. Waktu itu sama-sama pesan udon yang gambarnya paling menggoda. Harapannya bisa makan mie rasa kari ala mie aceh gitu. Kenyataannya, kami berdua sepakat, “Oh God, indomie rasa kari ayam rasanya jauhhhh lebih enak.” Harap maklum –> lidah kampung! .

Saya masih ngakak-ngakak. Soal dia yang suka disangka tukang benerin hp, ini terjadi untuk kesekian kalinya.

Setelah puas tertawa, sebagai istri yang salehah, saya tentu menghibur suami , “Jangan gitu lah. Sekolah kedokteran itu sibuknya gak tanggung-tanggung, Bang. Manalah mereka bisa se-update kita yang kerjanya banyakan browsing internetnya hahahahaha.”

***

Jangankan para telco engineer, masa-masa awal kerja di dunia IT pun, saya kerap dibikin gondok oleh para user.

Namanya anak baru, disuruh apa pun masih manut. Di suatu sore, telepon di meja berdering, “Mbak Jihan, turun, dong. Ada problem.”

“Telepon IT technical aja, Mbak. Printernya gak nyala lagi?”

“Bukan, bukan. Ini bukan printer.”

Ya sudah, saya tak bertanya lebih lanjut, saya langsung berasumsi ini pasti ada error dalam aplikasi. Waktu itu, aplikasi user di divisi saya dikembangkan secara internal. Jadi, semua proses development dan maintenance dihandle oleh divisi IT perusahaan sendiri, yakni eike dan segambreng developer lainnya.

Sampai di meja user, saya langsung berinisiatif mengutak atik aplikasinya.

User saya langsung protes, “Bukan, Mbak. Bukan. Itu lho, mesin fax nya gak mau jalan.”

“Apa?”

“Mesin fax, Mbak. Fax-nya enggak tahu kenapa itu dari tadi diem aja.”

Saking keselnya, saya yang memang darah tinggi, apalagi usia masih muda belia ya Ceu , langsung murka, “SEKALIAN SAJA BESOK GENTENG BOCOR TELEPON SAYA SURUH KE BAWAH, YA!”

Hahaha.

Waktu itu, bos user ikutan ketawa-ketawa pas tim IT curhat di meeting. Ya iya kaleeee, lumayan sering bolak balik ke tempat user, mulai dari telepon rusak, printer ngadat sampai kabel PC ilang, semuanya telepon IT! … Zzzzz -_-.

***

Nah, balik lagi ke pekerjaan suami. Waktu kerja ke Jeddah, situasi lebih rumit. Tahu sendiri kan, kalau mendengar kata Arab Saudi, yang terbayang di benak orang kebanyakan pasti pekerjaan-pekerjaan informal.

Waktu mudik pertama kali ke Jakarta, kami mengadakan acara akikah buat anak ke-2 yang kebetulan lahir di Jeddah. Diadakannya di masjid tempat ibu mertua rutin mengikuti pengajian.

Namanya peserta pengajian rata-rata sudah berumur, ibu mertua kesulitan menerangkan pekerjaan suami. Mulai disangka petugas yang ngurusin kebutuhan para jemaah haji sampai disangka kerja di travel haji (staf lhoooo bukan pemilik travel hihihihi). Makanya, begitu ada kesempatan pindah ke Eropa, Mami termasuk yang cukup semangat. Sudah capek kali, anak ganteng-ganteng, jauh-jauh merantau ke Saudi, kok disangka petugas haji di bandara ya, Mi. Hahahahaha.

Waktu lagi mengobrol dengan teman-teman sesama ibu-ibu telco di Jeddah lebih banyak lagi cerita lucu. Paling juara cerita teman satu ini. Kita anggap saja namanya Ibu Telco yang sedang berbincang-bincang dengan temannya, Ibu Kepo .

Ibu Kepo : “Suami kerjanya apa sih, Bu?”
Ibu Telco : “Telco engineer.”
Ibu Kepo : “Apa itu?”
Ibu Telco : “Telekomunikasi, Bu. Kerja di perusahaan telekomunikasi gitu.”
Ibu Kepo langsung merasa paham, “Oiyaaaaa, capek juga itu, ya kerjanya. Saya sering lihat lho, kalau di jalan-jalan ada orang manjat-manjat di tiang-tiang sambungan telepon. Aduh, bahaya juga itu kerjanya, ya.”

Ahahahhahahahahaha. Kita semua sampai ngakak-ngakak lama banget di taman pagi itu. Untungnya, kalau pagi-pagi taman-taman biasanya sepi, hanya keluarga-keluarga asal Indonesia yang ngerumpi di atas tiker sambil ngemil gorengan .

***

Ayo ngaku, siapa, sih, yang familiar dengan pekerjaan sebagai telco engineer? Hehehehe. Masih samar-samar? Sama! Saya juga awalnya saban diterangin sama suami suka bingung sendiri hehehe.

Manalagi vendor-vendor telco internasional KEBETULAN memang produsen ponsel rata-rata. Apalagi dulu-dulu kan belum ada iphone, samsung dkk. Masih didominasi oleh Nokia, Siemens dan Ericsson. Sekarang, Siemens divisi networking sudah di’beli’ oleh Nokia. CMIIW, ane juga enggak paham ini istilah-istilahnya apa hehehe. Makanya sekarang Nokia menjelma menjadi NSN (Nokia Siemens Networks).

Jangan salah, Nokia dan Ericsson tidak cuma punya pabrik ponsel . Mereka juga menyediakan layanan berupa perangkat-perangkat telekomunikasi (server-server dll) beserta para engineernya –> suami eike dan teman-teman telco engineer lainnya.

Klien mereka siapa? Kliennya ya para OPERATOR telekomunikasi. Operator yang dimaksud contohnya di Indonesia : Telkom – Telkomsel, Indosat, XL dll.

Vendor telco sekarang sudah banyak, sih. Sudah ada petarung baru dari Negeri Tirai Bambu, Huawei. Ada juga Alcatel-Luzen. Udah, gue taunya itu doang kalau di seputaran Indonesia hehehehe.

Tentu saja, booming profesi ini terjadi setelah era kemajuan telekomunikasi yang memperkenalkan ponsel dkk. Nah, engineer yang bekerja untuk para vendor ini juga macam-macam pekerjaannya. Tapi bukan berarti kalau sinyal hilang, situ bisa nelepon para engineer, lho ya hahahaha. Ini juga salah kaprah banget .

Memang, sebagian engineer ini bertanggungjawab dalam sistem yang mengatur masalah aduh apa ya itu namanya… semacam optimasi gitu. Jadi, ada parameter-parameter yang bisa diutak atik oleh para engineer agar sinyal dkk bisa optimum di wilayah-wilayah tertentu. Kerjanya enggak mesti sampai manjat-manjat tiang telepon atuh *ngakakAmpeMules*. Cukup duduk manis di belakang laptop masing-masing, membuka koneksi ke server yang dimaksud, utak atik deh secara remote .

Pekerjaannya kadang enggak gampang. Tak jarang, waktu masih bekerja di divisi support, tengah malam saya lagi pulas, suami malah sibuk telepon-teleponan sambil mangku laptop .

Asyiknya, pekerjaan ini levelnya internasional. Pekerjaan ini perlu skill yang tidak sembarangan. Walaupun kebutuhannya relatif sedikit dibanding konsultan SAP misalnya, tapi jangan lupa, para telco engineer di seluruh dunia ini juga jumlahnya masih minim. Jadi, saban ada lowongan, kata suami, saingannya ya itu-itu juga hehehe.

Enaknya lagi, bisa berpetualang dari satu negara ke negara yang lain selama perangkatnya sama. Misalnya OSS engineer – Er**** seperti suami saya, tidak masalah bila harus bekerja untuk Er**** di berbagai negara. Karena, perangkatnya pasti sama .

Penghasilannya? *uhukUhuk*. Bisa digantung sama suami kalau berani-berani buka slip gaji dimari hahahahahhaha. Tapi percaya deh, telekomunikasi di era terkini sudah termasuk kebutuhan primer yang menjangkau gaya hidup sebagian besar masyarakat . Dibayangkan sendiri deh korelasinya.

Baiklah, enggak boleh ngomongin gaji suami. Mari kita gosipin gaji orang lain hahahahaha. Beberapa Senior Engineer di Riyadh bisa berpenghasilan hingga BELASAN RIBU DOLAR per bulan! Tapi tidak semuanya. Pokoknya rata-rata ribu-ribu USD lah. Psssttt… pajak di Saudi = NOL riyal. Gross = nett.

Makanya, jangan heran, kalau gaya hidup telco engineer di Saudi itu termasuk ‘high-class’. Iyalah cing, kebutuhan pokok di Saudi itu rata-rata lebih murah daripada di Indo. Beras lebih murah, daging lebih murah, susu anak lebih murah *colekIbuIbuYgStresBeliSusuKaloMudik* hihihihi. Mobil mewah di Saudi harganya bisa cuma seperlima harga di Jakarta. Belum lagi bensin cuma seceng per liter. Aihhhh, sungguh godaan berat untuk tidak membeli mobil-mobil SUV yang bodinya yahud .

Gaji gede + biaya hidup murah = mari kita foya-foya! . Kalaupun ada telco engineer yang tahan untuk berkumal-kumal ria, itu pasti karena darah ‘Gober’nya sudah mengalir terlalu kuat hahaha.

Akhir-akhir ini para telco engineer asal Indonesia mulai dibikin keki oleh hadirnya penantang baru asal trio Pakistan-Bangladesh-India. Ketiga engineer asal negara ini dikenal jago cuap-cuap dan berani dibayar lebih murah! Kalau istilah suami dan teman-teman, “Para Perusak Rate” .

Ya, tak bisa dimungkiri, resesi sudah hampir merambah semua wilayah dunia. Tidak cuma Eropa yang masih meradang, wilayah Timur Tengah pun konon sudah mulai pelit angka di surat kontrak hehehe. Walaupun, diakui oleh para bos-bos telco bahwa tidak sedikit engineer asal P-B-I ini yang gede omong doang, apa daya, budget juga ketat. Mereka pun terpaksa rela memakai tenaga para P-B-I. Tapi jangan digeneralisir, engineer asal P-B-I juga ad yang jagoan beneran, kok .

Ada pun engineer asal Indonesia di Er*** Jeddah itu cukup dicari, lho . Suami saya sebelum hengkang sudah diwanti-wanti oleh bos agar mencari pengganti asal Indonesia juga . Beliau konon menampik CV dari negara lain demi memberi kesempatan para engineer Indonesia terlebih dahulu. Makanya, jangan jiper jadi orang Indo. Kalau interview? Pede aja hehehe. Asal jangan bokis kayak sebagian orang-orang dari P-B-I. Apa pun pertanyaannya pasti dijawab, “Yes, I can!” Ahahahahahahha.

***

Intinya, dunia pun ikut berubah sesuai perubahan gaya hidup para penghuninya. Zaman dulu mana ada sih, profesi-profesi kayak programmer, IT-IT an, web designer, telco engineer dkk? Bahkan, hobi nge-tweet dan punya ribuan follower menawarkan profesi baru di twittler land dengan penghasilan yang mumpuni … para BUZZER! .

Konon, para buzzer tenar bisa dibayar hingga jutaan rupiah per SATU TWEET. Bayangin, mengetik sekitar 140 karakter dibayar jutaan rupiah. Follow me, follow me hahhahahahhaha –> biar bisa jadi buzzer .

Jangan batasi mimpi anak-anak kita hanya di ranah-ranah konservatif seperti dokter, pengacara dll. Biarkan mereka bereksplorasi lebih jauh. Dunia online memang tidak sepenuhnya positif. Tapi ingat, setiap koin pasti punya 2 sisi mata uang, kan? Pintar-pintarnya kita memanfaatkan kemajuan teknologi .

Biarkan anak-anak dan generasi muda menjelajah potensi seluas mungkin. Mengukir tinggi-tinggi mimpi-mimpi di atas sana. Seperti kata Bung Karno, “Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.”

So, what’s your dream job, Fellas? . Are going to be a writer who can write a thousand books before you die? Fly with me! Kita ukir sama-sama di atas langit sana . All you have to do is … start writing! Bukannya bolak balik inbox ke saya bertanya bagaimana caranya menulis. Itu kesalahan yng cukup fatal, karena :

1. Saya bukan penulis profesional woooiiii! Hahahahha. Kalau cuma nulis di status mah, everyone do it everyday! 
2. Menulis enggak pakai teknik. Just do it on and on and on and on and on… teknik itu akan datang belakangan .

Ahahahahahahha. Ini kok malah ke mana-mana 😀.

bintang

***

Lihatlah Warna pada Cahaya

Waktu kuliah, saya meniatkan untuk menyelesaikan kuliah di semester ke-7. Seorang teman bilang begini, “Model bossy kayak lo mah skripsi aje. Jangan ambil Student Project. Entar stres sendiri.”

Antara mau sok-sok mau membuktikan kalau saya ini bisa, lhooooo, diajak bekerja sama dan termakan ucapan pembimbing akademik, “Kalau mau berkarier di bidang profesional, kerja kantoran, mending ambil student project saja. Lumayan, lho, dapat ilmunya,” saya memutuskan mengambil jalur non skripsi.

Mata kuliah seminar lancar satu semester. Diantara ke-3 anggota, perempuannya cuma 1, drama bisa diminimalisir hahaha. Kami bertiga punya kelebihan berbeda-beda, sinerginya sangat bagus dan kami bertiga terbilang sukses membawakan presentasinya.

Saya gagal wisuda di bulan februari karena student project molor. Bisa diduga saya stres sendiri. Tetap memaksa memasukkan jadwal presentasi akhir untuk slot pertengahan maret.

Working with 4 others in Student Projects :D (Source : scotland.gov.uk)
Working with 4 others in Student Projects 😀 (Source : scotland.gov.uk)

Di tim kami, 2 laki-laki, 3 perempuan. Kedua teman perempuan lain, tanpa sepengetahuan saya, mengubah jadwal presentasi dengan alasan belum siap. Mudah ditebak, eike mengamuk bak singa. Tidak tanggung-tanggung, walaupun kedua teman ini terhitung kawan dekat, saya telponin satu-satu. Ini masih modal telepon umum di warnet sebelah kosan, Bo’. Waktu mau membayar di kasir, mas-mas penjaganya sampai grogi gitu, lho. Secara ya, eike berteriak-teriak kayak orang gila sekitar setengah jam. Hahaha.

Akhirnya kami tetap presentasi juga. Hanya mundur 2 minggu. Begitu lulus, saya sudah niatkan untuk mentraktir teman satu tim, hitung-hitung sebagai sedikit permintaan maaf atas tingkah laku yang sangat menjengkelkan nan gengges selama proyek itu berlangsung hihihihi. Padahal dana super tiris. Dua bulan terakhir itu saya memutuskan untuk cuti mengajar sebagai tutor matematika untuk anak-anak ekspat. Mau konsentrasi biar beneran bisa lulus februari.

Apa hendak dikata, walau akhir maret dinyatakan lulus secara akademik, saya tetap harus membayar uang kuliah di semester 8 walau tak ikut kuliah lagi. Tapi happy ending juga, langsung dapat kerja. Alhamdulillah.

Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)
Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)

***

Mungkin karena itu saya tak pernah punya banyak teman dekat. Enggak pernah punya geng perempuan. Abisnya, dikit-dikit pundung, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngamuk. Siapa pula yang mau berteman dengan orang gila? 😀.

And then… I came to Jeddah. Hidup sehari-hari berteman tembok dan waktu itu belum maksimal hobi menulisnya, memaksa saya untuk mau tak mau kudu bergaul lebih intensif. Kaget juga dengan lingkungan baru ini.

Waktu mencoba berbasa-basi dengan seorang teman, sambil tersenyum seimut mungkin, “Wah, tasmu bagus, lho, Mbak.”

Dia menjawab cepat, “Iya. Di Indo ini harganya 24 juta! Kalau di Jeddah cuma 4000 riyal.”

Langsung syok, gak lo? Hahahaha. Apa-apaan ini?

Belum lagi waktu saya bertanya soal sofa.

“Beli di IKEA saja,” kata salah seorang teman. “Eh, tapi mahal, sih. Kan kamu baru datang. Sudah, menabung dulu saja. Kita-kita aja dulu nunggu 2 kok baru beli sofa. Mending uangnya ditabung buat beli rumah di Jakarta. Pasti belum punya rumah kan di Jakarta?”

Aduh, kalau tidak ingat lagi di Negeri Orang, rasanya pengin cakar-cakar muka waktu itu! hahahahaha. Sombong amat, pikir saya.

Berhari-hari saya mengeluh pada suami. Minta pulang ke Jakarta lah, menganggap mereka semua enggak asyik diajak berteman, dan bla-bla-bla lainnya.

Suami saya hanya menjawab dengan satu kalimat, “Berhari-hari kok cuma bisa melihat jelek-jeleknya orang saja. Ayolah, baru juga kenal. Lagian, apa kamu sendiri tidak punya sifat jelek?”

Plak! Berasa ditampar keras. Saya jadi berpikir-pikir. Astagfirullah. Kalau diingat-ingat, selama masa-masa perkenalan pun, saya terhitung sudah berani membully orang. Kebiasaan lama, suka ngeledekin orang depan umum. Suka berbicara dengan nada pedas nan tajam.

Misalnya, nih, ada teman menyodorkan masakannya dan bertanya, “Gimana, enak, gak?”

Teman-teman lain tanpa pikir-pikir langsung merespons, “Enak, kok. Enak banget. Rasanya pas.”

Saya dong, tembak langsung, “Kurang garam gini kaleeee…” <— minta ditampol gak, tuh? 😛.

Pelan-pelan saya mengubah cara berpikir saya. Agak berat, karena sudah ngelotok terlalu lama. Tapi keterpaksaan membuat semuanya kudu dilewati. Kalau enggak punya teman, bunuh diri aja kali tinggal di Jeddah hihihihi.

Bulan demi bulan, perubahannya mulai terasa. Bergaul lebih dekat dengan mereka. Mulai mengesampingkan hobi sebagian besar mereka yang sangat bertentangan dengan falsafah hidup saya *tsaaahhh*. Pelan-pelan mulai kelihatan, mereka punya keunikan masing-masing dan sarat dengan kebaikan yang selama ini tertutup karena eike sibuuuuukkkk aja nyari yang jelek-jeleknya 🙁.

Lucunya, malah berteman akrab dengan salah satu madam yang dikenal sebagai ratu belanja . Saya juga bingung, kok bisa senang sekali mengobrol dengannya. Seru aja gitu. Paling suka main-main ke rumahnya. Ngobrol lama gak kerasa, malah santai saja ngabisin kue-kue bikinannya <— tidak tahu diri 😛.

Walau tak suka belanja, sesekali saya ikut tur bersama mereka. Ampun dah para madam. Begitu keluar dari toko, saya pasti sibuk nyari bangku, dengkul pegal-pegal pengin istirahat sebentar. Mereka, seolah enggak ada capeknya, begitu keluar pintu, langsung sibuk jelalatan cari toko mana lagi yang bisa dimasukin. Hahahaha *ketawaStres*.

Shopping Ladies :D (Source : www.clipofart.com)
Shopping Ladies 😀 (Source : www.clipofart.com)

Mereka juga jago-jago masak. Tidak segan-segan mengadakan cooking class di rumah mereka, menyediakan waktu-tenaga-biaya pribadi dimana biasanya yang benar-benar memasak cuma 2-3 orang, sisanya (sekitar 6-8 orang) ngerumpi la yauuwww hehehe.

Seorang yang usianya jauh lebih muda juga menunjukkan bahwa usia bukan ukuran kedewasaan. Suatu kali kami terjebak dalam perselisihan sengit. Teman ini yang paling tenang dan tidak ikut-ikutan, tetap berkawan baik dengan kedua kubu yang sudah benar-benar saling meledak. Good for her 🙂.

Seorang yang lain mengajarkan keikhlasan, setia menolong dalam hal apa pun, kapan pun, kepada siapa pun . Ah, ya ampun, saya sering berpikir jangan-jangan berteman dengan saya adalah cobaan buat mereka hehehe.

Makanya, bukan hanya kesadaran bahwa kepindahan kami di awal tahun ini akan menciptakan jarak sedemikian jauh dengan kedua kota suci Mekkah dan Madinah yang membuat kami sempat ragu apakah akan pindah atau tidak. Minggu-minggu pertama yang terasa sulit beradaptasi dengan mereka malah menjlema menjadi minggu-minggu perpisahan yang penuh drama. Mewek melulu. Sedih banget rasanya, seumur-umur enggak punya geng, ternyata takdir membawa kami pergi menjauh dari mereka.

Source : www.bigstockphoto.com
Source : www.bigstockphoto.com

Kami? Iya, karena suami saya juga begitu. Menurut suami, “Di Jeddah enak, ya. Karena kita temenannya benar-benar antar keluarga. Suami saling cocok dengan suami. Istri-istri juga begitu. Anak-anak apalagi.”

Walau saat perpisahan di taman dan saat di bandara, eike steril dari airmata, tidak berarti kesedihannya sudah padam. Cuma ya, malu saja rasanya kalau saya membiarkan perasaan mengambil kendali. Ih, gengsi dong, menangis bombay depan umum. Jaga wibawa *benerinPoni*.

Tidak berarti setelah mengenal mereka saya akan mengubah prinsip. Eit, keluarga gober is keluarga gober . Justru berada di tengah-tengah geng elit ini mengajarkan kami, hey, berteman tidak mesti seragam, lho . It’s ok to be different . Lagian mana seru, satu bawa Nissan, semuanya ikut-ikutan. Satu pakai LV, semuanya membebek. Sesekali perlu ada yang pakai Yaris dan pakai tas Jarir biar bisa jadi bahan lucu-lucuan .

Kalau satu kelompok semuanya orang narsis ya mana seru. Kalau semuanya diam, ya siapa dong yang ngajak ngakak-ngakak. Kalau semuanya bawel, siapa dong yang bertugas mendinginkan suasana . Bahkan untaian pelangi terlihat indah karena ada 7 warna berbeda yang merekat menjadi satu yang digambarkan dalam sebuah lirik, “Pelangi, pelangi alangkah indahmu … merah, kuning, hijau, di langit yang biru.”

Kalau cuma satu warna namanya bukan pelangi . As “Strength lies in differences… not in similarities” .

my angels jeddah

***

Bodoh kalau mengira kita hanya akan bisa berteman dengan baik dan benar dengan orang-orang yang serupa dengan kita 🙂.

Saya pun terlalu sering mengeluhkan banyak hal. Waktu student projects kuliah, saya lupa. Diantara semua anggota, hanya saya yang ngebet pengin lulus. Sisanya masih harus berjuang di Kerja Praktik. Saya paksakan mereka berpacu mengikuti cara saya. Saya anggap mereka yang tak cakap. Tak konsisten lah, egois lah, padahal coba yaaaa … *sodorin kaca ke diri sendiri*.

Di Jeddah, saya gampang betul memberikan penilaian buruk kepada teman-teman baru saya waktu itu. Padahal lupa, memangnya situ sudah sempurna?

Ingat dong, sama-sama manusia … seperti tercantum dalam salah satu ayat suci, “Manusia, tempatnya salah dan lupa.” Berlaku untuk semua orang yang merasa dirinya manusia . Situ bukan malaikat, kan? 😛.

Allah sudah menciptakan tiap insan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pandai-pandai mengenali kekurangan diri sendiri sebelum menuntut kesempurnaan dari orang lain. Lagipula, manusia yang sempurna bukanlah seseorang yang tak pernah berbuat salah. Tapi mereka yang berbuat salah kemudian menyadarinya dan meminta maaf dengan tulus . Walau sulit, lebih sempurna lagi bila berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama .

Maka dari itu, menjelang ramadan yang akan segera berakhir ini, saya meminta maaf ya kalau ada salah-salah kata atau pun status yang menyinggung, baik yang disengaja maupun yang sangat disengaja hehehe .

Untuk madam-madamku di Jeddah, “If there ever comes a day when we can’t be together keep me in your heart, I’ll stay there forever (Winnie The Pooh)” As for me, you all are forever in my heart  (macam menggombal ke pacar saja, ya, hehehe).

Akhir kata, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Tidak berarti kalimat ini menandakan akhir ramadan karena masih ada waktu lho untuk memanfaatkan jam-jam terakhir untuk terus mengais amal di bulan penuh rahmat ini . Dengan harapan yang seragam … “semoga Allah menerima amalan kita semua.”

Amin, amin ya rabbal aalamiin :).

***

Arti Penting Keluarga : God’s Gift to You

Fungsi Lembaga Keluarga : Ini adalah sebuah foto lama antara saya, ibu, kakak dan adik saya. Fotonya biasa-biasa saja. Tapi ketiga orang yang mengelilingi saya di foto ini bukan orang biasa. They’re my … heroes.

Fungsi Lembaga Keluarga : Kiri - kanan : Buntel (adek), Dada (kakak), Eike (yg nulis :P), Mama
Kiri – kanan : Buntel (adek), Dada (kakak), Eike (yg nulis :P), Mama

Ibu saya menikah di usia 15, dijodohkan dengan bapak oleh salah seorang paman. Setelah menikah, bapak dan ibu langsung hengkang ke kota Makassar dan memulai hidup mereka dari 0. Ibu melahirkan anak pertama di usia 16.

Saat memasuki gerbang pernikahan, saya dirundung banyak kecemasan. Apalagi ketika harus merantau ke luar negeri bersama suami. Apa kuat saat melahirkan nanti, apa bisa memasak / mengurus rumah tanpa bantuan asisten, apa bisa mengurus anak sendiri (sementara saya dari dulu tak suka anak kecil). Padahal saya menikah di usia terbilang cukup dewasa, 27 tahun.

Hamil anak ke-2 di luar negeri, harus mengasuh anak sulung yang belum mandiri di usia 2 tahun, didera rasa mual sepanjang hari selama nyaris 20 minggu sempat membuat saya sangat putus asa. Nekat ingin pulang dan melahirkan di Jakarta saja, meninggalkan suami sendiri di Negeri Orang.

Nasihat ibu yang selalu menguatkan saya, “Dari anak pertama sampai adikmu dulu, ibu selalu melahirkan di samping Bapak. Tidak pernah pulang ke kampung. Jangan dipikir-pikir tapi dihadapi saja. Kalau tiba waktunya, kau nanti kaget sendiri, betapa mudahnya semua bisa dilewati.”

Saya kadang tak percaya, ibu benar. When it’s time, it’s time. Voila! Semua terlewati begitu saja. Melahirkan tanpa sanak saudara di negeri rantau, bahkan cuma sehari di rumah sakit sudah harus pulang dan harus segera mengurus si kecil dan kakaknya dan urusan rumah tangga lainnya.

Pengalaman ibu mengajarkan, “Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had and dealing with fears you didn’t know existed (Linda Wooten).”

Tak ada manual khusus untuk menjalani karier sebagai seorang ibu. Pengalaman dan keberanian untuk menjalani semua ketakutan yang akan lebih banyak berbicara .

Kalau ibu mengajarkan saya banyak hal seputar kehidupan perempuan sebagai ibu, kakak saya yang ke-4, mengajarkan tentang passion. Sejak kecil, minatnya pada dunia mode sudah terlihat jelas. Setelah lulus kuliah di Makassar, kakak saya langsung pindah ke Jakarta. Kariernya dibangun dari bawah. Gaji sangat kecil untuk hidup di ibukota sebagai seorang asisten desainer.

Saat banyak kerabat yang meremehkan hobinya yang dianggap sebagai hal yang membuang-buang uang saja. Namun, dia tetap tekun menjalani mimpinya. Hingga akhirnya kini, kakak saya menduduki posisi penting di salah satu televisi swasta nasional di divisi wardrobe sekaligus menjadi seorang freelance fashion stylist. Bahkan baru-baru ini meluncurkan brand outfitnya sendiri.

Dia memicu saya kembali menekuni hobi menulis yang sudah belasan tahun saya lupakan. Suami saya suka menggoda, “Menulis di blog dan wall FB melulu. Mana ada uangnya.” Kakak saya mencontohkan, “Passion first, money will come along” .

Adik perempuan saya mengajarkan hal penting lainnya. Dari kecil, prestasi akademisnya yang tak secemerlang saya dan pembawaannya sebagai ‘anak gaul’, hobi jalan-jalan dengan mejeng dengan teman-teman sebaya, sering pula mendapat cemooh. Apalagi ketika adik saya gagal menembus UMPTN 2x berturut-turut. Faktor ekonomis tak memungkinkan dia leluasa memilih kuliah di universitas swasta.

Adik saya memilih tidak peduli, bersabar dan berdamai dengan semua tekanan, “Ah, ngapain disuruh kuliah. Dikawinkan sajalah. Memang bakatnya bukan di bidang akademis.”

Dia bersungguh-sungguh menghadapi kesempatan terakhirnya di UMPTN untuk ke-3 kalinya dan tembus di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Kembang.Tak cuma itu, adik saya lulus tepat waktu dan menggenggam ijazah dengan predikat Cum Laude.

Pelajaran penting dari kisah adik saya. “Forgive others not because they deserve forgiveness but because you deserve peace.” Apa gunanya memikirkan omongan miring dari orang lain yang hanya membuat diri terpuruk dalam energi negatif. Kebesaran hatinya untuk memaafkan dan melanjutkan hidup berbuah manis, as “Success is a best form of revenge” 😉.

Fungsi Lembaga Keluarga
Trio Gosip hahahaha (2007)

Terlahir sebagai anak ke-5 dari 7 bersaudara, hidup bersama berjejalan selama belasan tahun dalam sebuah rumah kecil, sempat membuat saya bete, “Punya saudara banyak bikin pusing saja dan nyaris tak ada privasi.”

Tapi senyatanya, tak perlu jauh-jauh saya mencari inspirasi dari tokoh-tokoh dunia atau semacamnya. Adalah ibu dan saudara-saudara kandung sendiri yang sering menguatkan saya melewati serial-serial kehidupan yang seringnya tak luput dari hal-hal yang tak mudah 🙂.

Betapa keluarga adalah salah satu anugerah terindah yang diberikan oleh Allah. Walau mereka adalah bagian dari takdir dan tak bisa kita pilih-pilih sesukanya, tapi selalu bisa kita pilah hal-hal indah yang bisa kita petik dari hubungan bersama mereka 🙂.

You don’t choose your family, They’re god’s gift to you, as you are to them -Desmond Tutu-

Fungsi Lembaga Keluarga
Kita sering banget foto ber-4 hehehe (ujung kanan itu Tini, sepupu)