One Moment in Time :)

Sejak hamil di awal kedatangan ke Jeddah tahun 2011, telah terpikir ide untuk mamasejagat. Idenya sempat terkubur sebentar karena aprilnya eike melahirkan.

Hanya 2 minggu setelah melahirkan, langsung saya wujudkan ide mamasejagat dengan mengajak beberapa nama yang sudah saya niatkan sejak awal. Teman-teman dari Sydney (Australia), Bergen (Norway), Bangalore (India), Maastricht (Belanda) dan Doha (Qatar), Saitama(Jepang) beserta saya sendiri di Jeddah (Arab Saudi) adalah mamapelopor di blog MamaSejagat.

pilcrow 1
Minggu ketiga Mei 2011, MamaSejagat pun resmi mengudara dengan mama Jeddah sebagai komandan regunya. Orang suka bilang, blog komunitas gampang karena kontributornya banyak. Itu teorinya. Mau tahu rahasia dapurnya? .

Teman-teman saya tadi tidak semuanya gemar menulis. Akhirnya dibujuk kiri-kanan, atas bawah, pakai wawancara segala. Di tahun itu, saya juga modalnya cuma senang nge-blog doang. Jangan harap mengerti EYD. Nulisnya saja masih ber-gue-gue dengan tanda baca yang bikin sakit mata 😀.

pi

AKhirnya teman dari India yang paling pertama mengirimkan tulisannya. 2 paragraf saja dan tanpa foto sama sekali. Saya tidak patah arang. Saya kilik-kilik via google, dapat deh info tambahan dan saya rangkai 2 paragraf itu menjadi … 3 postingan berbeda! Ahahahhahha. Jihan gitu lhooo, status saja bisa 10 paragraf . Foto-fotonya saya ambil dari searching sana sini tentu dengan mencantumkan website asal foto masing-masing .

Uniknya Mama Bangalore akhirnya jadi jago menulis, lho . Hanya 3-4 postingan pertama yang butuh banyak sentuhan dari saya.

pilcrow 3 new

Yang dari Bergen sibuk, saya maklumlah. Ibu dengan satu anak di luar negeri dan bekerja pula. Salut ya, Dear. Untuk mengakalinya, saya yang menentukan tema, saya kirimkan daftar pertanyaan sesuai tema tersebut. Nanti dia tinggal jawab saja via inbox. Jawaban-jawabannya yang saya olah menjadi postingan. Enaknya yang dari Bergen ini, orangnya kece dan foto-fotonya banyak hihihihihi.

Yang dari Sydney, tulisannya bagus-bagus. Tapi ya ini kan cuma blog sukarela. Beliau pun sibuk dengan S3nya, di luar negeri repotnya minta ampun tanpa asisten dengan tetap sekolah beserta mengurus anak dan suami. Alhamdulillah, beliau tetap mengirimkan tulisan-tulisannya .

Yang dari Maastricht akhirnya cuma mengirim satu postingan. Thanks ya Dear . It still means a lot for me . Yang ini saya kenalnya via online sih, enggak enak mau dikejar-kejar terus. Malu lah meneror orang terus via inbox hihihihi. Dibayar kagak .

hdr 1 rere

Yang dari Doha paling lama ngebujukinnya *ngelapKeringat*. Akhirnya pakai metode yang sama dengan mama Bergen . Yang ini juga sayang dilepas karena si doi kece abis dengan foto-foto yang keren-keren hehehe.

Mama Saitama yang paling berkesan. Padahal saya betul-betul baru kenal via FB. Dia sudah punya blog. Saya minta izin copas beberapa tulisannya yang saya anggap cocok dengan tema MamaSejagat. Ni anak orangnya friendly abis. Begitu kenal rasanya sudah sangat akrab padahal sampai sekarang kita belum pernah kopdar .

hdr 6 fifi

Alhamdulillah, MamaSejagat bisa mempersembahkan kisah-kisah ibu perantau di luar negeri . Kesannya yang nulis banyak, padahal di balik layar yang di Jeddah itu saban hari puter otak gimana caranya bisa ada postingan baru selain daripada cerita tentang Jeddah hehehe.

Akhirnya saya mulai hunting kontributor-kontributor baru. Ajak kenalan via FB, sampai kenalan via situs The Urban Mama, blogwalking ke mana-mana, dijabanin semua.

Yang menolak atau tidak merespons sama sekali? Banyaaaaakkkk 😛.

Ada yang langsung mengirim tulisan bejibun begitu diminta, thanks yah Mama London . Ada pula yang senang hati mengizinkan saya mengambil postingan-postingannya yang dirasa cocok dan saya kreasikan sendiri foto-fotonya di MamaSejagat. Terima kasih Mama Bremen 🙂.

pilcrow 6

Ada juga Mama Hongkong yang tulisannya termasuk yang paling hits di MamaSejagat. Saya agak jiper waktu mengajaknya berkenalan. Alhamdulillah dia baik banget. Daftar pertanyaan segera saya kirim dia pun menjawab dengan senang hati. Sip deh. Tinggal diolah dan diedit, jadi deh satu postingan tentang “Street Market di Hongkong” .

Mama Perth, teman kantor dulu, juga baik. Begitu saya email langsung mengirimkan tulisan. Tapiiiiii…hanya beberapa kalimat. Eit, sang editor tidak hilang akal, dong. Dengan bantuan wikipedia, beberapa kalimat tersebut bisa disulap menjadi postingan utuh 🙂.

Berturut-turut juga muncullah Mama Texas, Mama California, Mama Tehran, Mama Delft, Mama Melbourne, sampai Mama Kurdistan-Irak yang saya minta menjadi admin tambahan hingga sekarang .

Walau kini MamaSejagat sudah jarang saya update, pengunjungnya lumayan banyak dan stabil . Linknya di mamasejagat.wordpress.com, ya.

Dampak lain gara-gara sangat gencar ngeblog (ada satu lagi lho, blog “Cerita Jeddah” :P) muncul pula drama di luar dugaan. Ada desas desus eike tidak mengurus anak dan suami gara-gara sibuk ngeblog. Untunglah punya suami baik hati dan tahan banting mendengar keluh kesah 😛.

Blog Jeddah, ceritajeddah.wordpress.com
Blog Jeddah, ceritajeddah.wordpress.com

“Apa perlu nih kita foto-foto hasil masakanmu terus diupload di Facebook biar pada enggak nyinyir?” Goda suami saya waktu itu.

“Idih, apaan sih…”

“Atau pas lagi beres-beres rumah kufoto, ya. Terus pas lagi gosok kamar mandi kufoto juga.” Suami terus dong booooo .

“Apa sih, Bang? Serius iniiiii…”

“Kasih judul, Inem sang Penulis.” Ahahahahhahahaha.

Saran sahabat saya juga tokcer, “Yaela segitunya, mereka ngomong gitu gara-gara lu kagak doyan pamer-pamer masakan pas ngumpul-ngumpul? Ngapain sih dipikirin? Istri itu wajib masaknya buat suami dan anak-anaknya, bukan buat teman-temannya! Jangan ngerebut lahan katering!” Hahahahahaha.

***

Nah, tahun ini saya memang ingin mencoba menjajal dunia kepenulisan profesional *tsaaahhh*. Sebenarnya sejak Juni 2012 sudah sering banget mengirim tulisan ke media cetak nasional. Kan, ada jutaan orang yang bertanya tuh (padahal kenyataannya cuma 2-3 orang aja hihihihi), “Bagaimana caranya agar lancar menulis?”

Menulis apaan? Menulis status di FB? *benerinPoni* .

Jangan pusing sama teori. Dalam hal apa pun, praktiknya selalu sama, “selalu ada harga yang harus dibayar” . Waktu mati-matian memperjuangkan agar blog MamaSejagat terupdate terus dengan postingan dari berbagai macam negara, lumayan kan ‘pengorbanan’nya. Korban waktu, belajar menyusun foto biar blognya ciamik hehehe, menulis tulisan dengan mencantumkan nama orang lain sebagai kontributornya, korban perasaan digosipin macam-macam . They never stop me, *benerinPoni* lagi.

Saya beri kutip kata ‘pengorbanan’ karena itu menurut orang lain. Saya mah demeeennn hehehehe. It’s fun for me .

hdr 4 jhn

Nah, itu pelajaran keduanya. Kerjakan sesuatu yang sesuai kecintaan masing-masing . Saya memang banci menulis, kok. Lomba menulis yang disuruhnya 2-3 paragraf bikinnya sampai 4-5 halaman coba hahahaha *dijitakJuri*.

Mau jago memasak. Ya percuma kalau buku resep dikumpulin begitu saja sampai menggunung tapi kompor sama oven enggak pernah dinyalain. Takut enggak enak? Bikin kue coklat ajaaaaa. Pasti enyaaakkk hihihihihi *anjuranNgaco*.

Mau jago menggambar, masa bolak balik beli crayon doang, sementara buku gambarnya masih bersih. Mau tenar sebagai penyanyi, jangan cuma menghabiskan waktu nonton youtube, dong. Bikin video dan sebarin. Enggak ada yang mau menonton? Ya, upload terus! Ganti gaya kek, ganti genre kek atau ganti metode promosinya?

Mana ada usaha yang sia-sia? Untuk yang muslim, kewajibannya nambah dikit : ikhtiar (usaha) + DOA 🙂.

Apalagi kalau sudah urusan passion. Uang mah urusan kesekian. Perhatian dari orang lain apalagiiiii. Masa ngambek ngeblog gara-gara enggak ada yang komentar. Do that to express not to impress . Kalau mengharapkan pujian dari orang lain semata, percaya deh, kita akan terpenjara oleh rasa kecewa. Dapat capeknya doang 😀.

Kalau memang apa yang selama ini sudah mati-matian kita usahakan belum juga membuahkan hasil, mungkin karena memang momennya belum muncul. Jangan dipikirin. Waktu banting tulang bikin postingan buat MamaSejagat, sama sekali tidak pernah terpikir bahwa suatu hari saya akan banyak menuliskan cerita jalan-jalan ke berbagai media cetak nasional 🙂.

challenge blog

Sama kooook, saya juga masih dalam tahap berjuang. Masih banyak hal-hal yang diimpi-impikan yang masih jauh dari kenyataan terkini. Sama-sama ya teman-teman, let’s just hang on there … it’s simply because the best is yet to come .

I want one moment in time
When I’m more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me 
(One Moment in Time – Whitney Houston)

Kita kejar sama-sama … our one moment in time , suatu hari di ujung sana. Dan mustahil untuk sampai ke sana, kalau kita tidak melangkah maju, kan? Lebih mustahil lagi kalau kita berhenti melangkah sama sekali 🙂.

COver FB***

Cinta Segitiga Pangeran Charles – Mendiang Putri Diana- Camilla

10 Februari 2005, pewaris tahta nomor satu di salah satu kerajaan di dunia yang masih bersisa itu mengumumkan pertunangannnya. Usia sang pangeran telah hampir mencapai 60 tahun, namun konon, dia berlutut ketika melamar kekasihnya. Kekasihnya sendiri bukan seorang gadis, usianya pun tak lagi muda. Usia mereka hanya selisih satu tahun.

Benar, sang pangeran akan menikah untuk kedua kalinya. Pernikahan kedua tapi bersama dengan perempuan yang sesungguhnya adalah cinta pertamanya. Yup, gosipin siapa kita kali ini? Siapa lagi kalau bukan Pangeran Charles dan Camilla.

Putri Diana Pangeran Charles Camilla
Charles and Camilla (Polo Match 1971), photos by Rex Feature

***

Perceraian Diana dengan Charles menghadirkan satu nama baru, Camilla. Saya tak bisa membayangkan seperti apa kehidupan Camilla di masa awal kematian Diana. Pasti keselek mulu gara-gara disumpahin sama banyak wanita di dunia 😛.

Kurang apa, sih, Diana? Cantik iya, langsing iya, tinggi iya, baik hati iya, sayang anak iya, rasa pedulinya tinggi pula kepada sesama. Why Charles? Why? Why? *alaRatuDrama*.

Apalagi waktu melihat penampakan Camilla di depan televisi. My oh my. Kagak ada cakep-cakepnya dibanding Diana. Selera berbusana Camilla pun sangat sembrono. Sementara Diana terkenal sebagai salah satu icon fashion dunia. Keanggunannya apalagi. Kalah jauh, deh.

Konon (konon melulu hihihihi, referensinya sudah lupa semua booo :P), ada dua versi mengenai pertemuan pertama Camilla dan Charles. Intinya mereka bertemu di sekitar tahun 70-71. Satu dekade sebelum Charles menikahi Diana.

***

Camilla ini gadis yang tomboy, pandai berkuda, suka berbicara (bawel :P), aktif dan kagak ada jaim-jaimnya, hehehe. Sangat berbeda dengan kelakuan cewek-cewek yang dibesarkan dalam lingkungan aristokrat. Tapi sebenarnya Camilla berasal dari keluarga yang sangat berada, lho. Dibesarkan dalam lingkungan kerajaan yang kaku dan dingin, entah mengapa Charles langsung tertarik pada Camilla remaja.

Putri Diana Pangeran Charles Camilla
Charles and Camilla as a couple, 1971 (washingtonpost.com)

Tidak cuma saling tertarik, tapi pacaran *dijewerSamaUstFelixSiauw* . Hubungan berhenti begitu saja ketika di tahun 1973, sang pangeran mengikuti wajib militer. Mengapa mereka putus? Ini banyak lagi rumornya. Tapi rumor paling kuat ya karena keluarga besar Charles emoh dan merasa bahwa karakter Camilla kurang cocok jadi istri raja.

Camilla tak menunggu lama dan akhirnya menikah dengan orang lain. Charles sempat terluka dan mengirimkan surat kecaman kepada paman Camilla, Lord something gitu lah, “”I suppose the feeling of emptiness will pass eventually.”

Kekasih sudah menjadi milik orang lain, Charles pun move on. Pacaranlah beliau dengan beberapa orang sebelum akhirnya dijodohkan dengan Diana. Dunia pun bersorak ketika di tahun 1981, pernikahan Charles dan Diana dirayakan besar-besaran dan disaksikan jutaan mata melalui layar televisi.

Putri Diana
Washingtonpost.com

***

Dalam salah satu wawancara kontroversialnya di salah satu stasiun TV, Diana mengeluh terang-terangan, “There were three people in this marriage from the start. And it’s just too crowded.”

Diana pun mengakui, sebelum melangkah di depan altar, dia sudah tahu bahwa hati sang pangeran bukan miliknya. Bahkan konon, Camilla yang menyarankan Charles untuk menuruti keinginan ibunda ratu untuk meminang Diana. Di tahun 1979, Charles memang kembali berhubungan dengan Camilla. Dibiarkan oleh suami Camilla karena sang suami ini pun ternyata punya selingkuhan juga *ondeMande*.

Akhirnya, setelah sang putri tewas dalam kecelakaan maut di penghujung Agustus 1997, pelan-pelan Charles kembali menjalin hubungan dengan Camilla.

Entah pakai susuk apa ini Camilla sampai-sampai puluhan tahun berlalu, hati sang pangeran tetap tertambat. Charles pernah mengakui bahwa Camilla adalah sahabatnya. Tempatnya mencurahkan isi hati dan dia merasa cocok karena Camilla enak diajak berdiskusi soal apa saja termasuk politik, kerajaan, masalah sosial dan curhat-curhat lainnya .

Sementara menurut Charles, Diana adalah perempuan yang pendiam dan sering enggak nyambung kalau diajak ngobrol. Wallahu’alam ya. Ini fansnya Lady Di jangan unfriend eike, ya. Ini kata Charles sendiri, lho. Eike gak ngarang-ngarang hehehe.

Charles - Diana, mengumumkan perpisahan mereka (washingtonpost.com)
Charles – Diana, mengumumkan perpisahan mereka (washingtonpost.com)

Masuk akal, sih. Kalau membaca biografi Camilla yang penuh warna. Teman-teman dan guru-guru sekolahnya menggambarkan Camilla sebagai perempuan gaul, cerdas dan penuh energi. Pernah sekolah sampai ke Swiss dan Perancis segala. Kalau tidak salah pernah pula berkecimpung dalam dunia jurnalis. Ya beda ‘karakter’ lah dengan Putri Diana yang dibesarkan ala bangsawan nan anggun yang berprofesi sebagai guru TK sebelum dipinang oleh sang pangeran. Diana kecil memang dikenal sangat pemalu.

Sewaktu mengetahui ternyata sang pangeran hanya berpura-pura, Diana tidak langsung menyerah. Dikuatkannya hati dan tetap melangkah di atas altar. Dengan harapan, kelak kesetiaannya akan terbayar dengan cinta sang pangeran. Sadly, it never happened 🙁.

Inilah hal yang sangat menyakitkan buat Diana, terungkap dalam salah satu ucapannya, “He never gave our marriage a chance.”

Sikap ogah-ogahan Charles sebenarnya sudah ‘tertangkap’ saat wawancara pertunangannya dengan Diana.

Anthony Carthew (ITN): And, I suppose, in love?
Lady Diana Spencer: Of course!
Charles, Prince of Wales: Whatever ‘in love’ means.

Kurang ajar banget, kan? Diana langsung mengiyakan. Sementara Charles malah mengungkapkan kalimat menggantung, “Whatever ‘in love’ means.”

Putri Diana Pangeran Charles Camilla
After decades … Finally-legally together :). Gambar : washingtonpost.com liveindia.com

***

Kita kan cuma bisa menerka-nerka dan sibuk baca-baca google ya boooo hihihihi. Yang namanya cinta kepada sesama manusia memang susah didefinisikan, susah ditebak, apalagi dikira-kira.

Bukan tugas kita menghakimi siapa pun di sini. Kisah-kisah semacam ini cukup dibaca dan dijadikan pelajaran, enggak perlu sampai jadi pikiran segala ih hehehe.

Bahwa, menghalangi dua insan yang lagi dimabuk asmara hanya karena alasan-alasan ‘duniawi’ macam enggak selevel lah, kurang ningrat lah, kurang anggun lah, tidak akan begitu saja menyelesaikan persoalan. Malah, bikin masalah baru –> rasa sakit hati lah, dendam lah, dan korban perasaan lainnya.

Wong naksirnya sama si A, dipaksa kawinnya ama si B.

Bahwa, mahligai pernikahan bukan ajang coba-coba. Kalau sang pangeran bersikap ksatria, pertahankan dong cinta anda kepada Camilla. Bukannya ‘menyerah’ dan ikut dalam sandiwara yang disutradarai oleh kerajaan.

Ingatlah akan kisah salah satu kakek anda, Edward VIII. Yang rela meletakkan tahta agar bisa mempersunting Wallis Simpson, seorang janda non ningrat asal Amerika Serikat.

Tapi, cinta Charles untuk Camilla menunjukkan satu hal, “There is something beyond physical attraction” . Konon, rasa kasih yang tidak hanya berdasar fisik semata biasanya memang lebih langgeng 🙂.

Yah, namanya juga konon. Boleh setuju boleh tidak hehe.

***

What If : Mengenang Mantan Terindah ???

Mantan terindah : Kebetulan, saya menikah dengan suami yang juga teman kuliah saat masih di bangku universitas. Kampus sama, fakultas sama. We both had a little story with someone else back then *uhukUhuk*.

Itulah mungkin salah satu enaknya menikah dengan sahabat sendiri. Karena di masa lalu punya lingkup pergaulan yang sama, kita suka bergosip tentang yang dulu-dulu.

“Eh, dulu si anu kan naksir si itu?”
“Masa, sih?”
“Iya, serius.”
“Oh, kalau soal X dulu putus asa Y tahu enggak karena apa?”
“Karena apa emang?”
“Jadi gini…”

Dan seterusnya, dan seterusnya … Tak cuma suka mengobrol soal politik, sejarah, soal anak-anak, soal duit , pasangan Gober juga hobi bener bergosip hahahahhaha.

The Gober(s) :D -2007 mantan terindah :D
The Gober(s) 😀 -2007

Gosip paling sensitif ya pasti tentang si ‘dia’ di masa lalu. Faktanya, sang mantan-mantan dengan pasangan masing-masing sekarang juga berada di daratan Eropa semua. What a coincidence 😛.

Sering, deh, ledek-ledekan dengan suami.

“Pengin jalan-jalan ke kota ABC, deh.”
“Cieeehhh, pengin ketemu itu kaleee…”
“Enak aje! Situ kali yang pengin ke negara XYZ.”

Tentang siapa mereka bukan inti tulisan ini, kok. Hahaha.

Saya barusan blogwalking ke tempat-tempat ‘langganan’ . Ketemu satu postingan lama seorang teman dengan tajuk “The One That Got Away.” Memang, judulnya diambil dari salah satu lagu popular milik Katy Perry. Isi tulisannya sangat menarik.

***

Baiklah. Saya mengakui, selama ini saya selalu menganggap pasangan saya sekarang adalah sosok yang mendekati sempurna. Enggak cuma ganteng luar biasa *eaaahhh*. Selain juga seru diajak mengobrol soal apa saja, sudah gitu kalau mengobrol bisa bikin ngakak-ngakak, dese juga tajir booooo hahahahahaha *ngikikMatre*.

Akankah uang belanja mendapat kenaikan dengan adanya paragraf sarat pujian ini? Hahahhaha *colek orang ganteng* .

Tapiii…enggak bohong juga, kadang-kadang kalau lagi iseng pernah terbersit pikiran soal si dia dari masa lalu. Semacam rasa penasaran, “What if I have never let him go…”

Ternyata saya tidak sendiri. Teman itu juga sama. Seperti saya, dia sering juga penasaran, akan seperti apa ya kehidupan seandainya kita berjodoh dengan orang lain, si dia yang sebenarnya ‘hadir’ lebih dahulu.

Kisah kami lagi-lagi sama. Kalau teman saya tidak direstui oleh keluarga mantannya, saya diputusin sama si doi huhuhu. Setelah itu ada, sih, proses rekonsiliasi, tapi intinya tetap bubar. Aduh, sedihnya waktu itu.

Bertahun-tahun memendam rasa sakit hati. Saya kepoin habis-habisan. Waktu baru kenal google, entah berapa kali namanya saya ketikkan di kolom pencarian hahahaha. Sampai jomblo pula eike dalam tempo yang tidak sebentar.

Bukan apa-apa, si doi yang itu adalah pacar pertama yang sangat diharapkan menjadi yang terakhir. Macam pepatah terkenal dari roman-roman tempo dulu, “Engkau yang pertama sekaligus yang terakhir” *tsaaaahhh*.

Hingga akhirnya, saya menghadiri pesta resepsi pernikahannya. Dan sangat kaget ketika dia memperkenalkan saya kepada istrinya, “Ini lho yang namanya Jihan.” Buset, deh. Langsung tengsin. Kira-kira dia bilang apa ya tentang saya hihihihi.

Walau sekarang kehidupan kami masing-masing terbilang bahagia dengan pasangan masing-masing, suka tidak suka, what if-what if tadi sesekali datang menghampiri. Tak jarang, ketawa-ketawa sendiri membayangkan seperti apa kehidupan seandainya waktu bisa diputar mundur dan takdir berlaku sebaliknya.

Akankah lebih bahagia? Apakah lebih seru?

Tapi kenyataannya, siapa pun dari masa lalu, mau dia lebih baik atau tidak, pasti akan selalu menjadi “The One That Got Away” dan menyisakan rasa penasaran. Tak bisa dimungkiri bila sekali waktu sebagian dari kita berharap waktu bisa berputar kembali dan menengok seperti apa kehidupan kita seandainya saja, “He/She’s Not Going Away.”

Makanya, yang masih muda-muda, dengerin deh nasihat Ustaz Felix. Mending enggak usah pacaran. Agar selamanya, what if-what if ini tidak perlu datang menghampiri hehe.

***

Tapi jangan dikira dengan adanya ‘what if’ ini bahwa kita masih menyimpan rasa lho, ya . For me, it’s totally different. Kalau ada yang bilang “First love never ends”, maka untuk hubungan antara perempuan dan laki-laki, saya menentang keras kalimat ini.

Orang sering salah mengartikan, nostalgia dengan istilah CLBK (cinta lama bersemi kembali). Walau beberapa waktu lalu, saya pernah ‘terjebak’ dalam kesalahpahaman seperti ini . Harga yang harus dibayar tidak sedikit, tapi pelajaran yang bisa dipetik juga banyak . Kapok deh ane.

Bahwa, siapa pun dari masa lalu akan selamanya menjadi bagian dari hidup kita memang tak terbantahkan. Kita tidak bisa meminta kepada Tuhan agar bagian kehidupan yang itu dihapuskan begitu saja. Tapi, tidak berarti posisi mereka akan selalu sama. Karena trust me ladies, “First love did end!”

Bahwa apa yang terjadi di masa sekarang bukanlah pengingkaran dari masa lalu. Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. People do change, don’t they?

Bolehlah dulu si doi berjaya dan menghadirkan rasa kehilangan yang sangat besar ketika akhirnya dia memutuskan ‘pergi’. Tapi sekarang, walau kadang masih hadir dalam bentuk ‘what if’ tadi, “We’re so over them. Aren’t we?” 😉.

Dari dulu saya hobi banget ber-diari ria sampai terus merembet ke blog yang tak pernah disangka akan menjadi konsumsi publik. Untunglah, sebelum blog se’ramai’ sekarang, saya sudah membenamkan semua catatan-catatan hati tempo dulu.

Tidak pakai ganti status postingan ke ‘private’, langsung saya hapus begitu saja. Karena, kalau sampai terbaca oleh orang yang tidak tepat, maknanya bisa diselewengkan hehehe.

I truly believe what I have now is beyond my imagination 🙂. Dalam arti positif tentu saja. Walau ‘what if’ katanya tak terhindari, tapi masa lalu cukuplah menjadi masa lalu saja. Disimpan rapat-rapat dalam hati. Jangan terpancing dengan kasih tak sampai di masa lalu. La terus kenapa situ tulis di wall/blog segala? Hahahaha.

Agar menjadi pelajaran buat kita semua dong, ya. ‘What if’ tetap akan menjadi ‘what if’, tapi yakinlah, “Old love(s) do end!” 🙂. Maybe we can not completely forget them, but we remember them in a very different way now. 

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=_vId_4r925o]

***

Menuju Komunitas ASEAN 2015, Let’s Take The Hits!

Pertengahan tahun 2009 kala tengah bermukim di kota Tehran, Iran, saya terkesima melihat sebuah Iklan pariwisata yang wara wiri di layar kaca. Bukan di stasiun televisi sembarangan, tapi muncul berulang kali di channel sekelas BBC dan CNN.

Dengan pengambilan gambar yang cantik dan latar suara musik tradisional yang merdu, semua keterangan ditulis dalam bahasa Inggris. Iklan ini dibuat dengan sangat profesional.

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=QZ4KRuwJ3QU]

(“Malaysia Truly Asia” Commercial – 2009)

Melihat sepenggal tayangan dimana seorang perempuan cantik tengah menikmati buah durian, langsung ingat jajanan tanah air.

Potongan-potongan gambar berbagai penari dengan pakaian adat mirip suku Dayak, sekelompok orang bermain gamelan, tiga orang yang tengah membakar sate, jajaran shopping centres, sekelebat bayangan candi-candi, anak-anak kecil mengendarai kerbau di pinggiran sungai, pesisir pantai cantik seperti yang mudah ditemukan di Bali maupun Lombok, ragam flora dan fauna khas nusantara, saya yang memang tengah kangen pada tanah air langsung terharu dan kegirangan, “Astaga, kerennya Indonesiaku.”

Rasa sesak di dada luntur seketika saat di akhir tayangan, muncul sebaris kalimat “Malaysia Truly Asia.”

***

Hingga kini, urusan pariwisata (sosial-budaya) masih sempat mewarnai perselisihan antara Indonesia dan negara-negara tetangga. Khususnya dengan Malaysia, yang memang di beberapa wilayah berbagi daratan yang sama dengan Indonesia.

Sebagian masyarakat Indonesia sibuk menyalahkan pihak asing sebagai ‘pencuri budaya’. Lupa menyadari kelemahan kita sendiri yang kurang telaten merawat rupa-rupa warisan budaya Nusantara.

‘Perselisihan’ yang mungkin dirasa kecil namun bisa berdampak besar, tentunya bukan sinyal yang baik bagi percepatan pembentukan Komunitas ASEAN 2015, yang awalnya digagas untuk tahun 2020. Komunitas ini dibangun berdasarkan keinginan negara-negara di belahan tenggara benua Asia untuk bersinergi secara optimal di bidang Keamanan, Ekonomi dan Sosial Budaya.

Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu
Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu

Namun, jangan lupa. Sinergi ini akan memungkinkan terbukanya berbagai akses untuk memudahkan lintas bisnis diantara sesama negara-negara ASEAN. Dampak ekonomi yang paling mendapat sorotan tajam. Disertai pertanyaan besar, siapkah Indonesia? Siapkah kita?

Rumitnya Posisi Indonesia dalam Segi Keamanan dan Ekonomi 

Membahas masalah keamanan tentu bukan bidang saya, seorang blogger biasa yang hanya punya latar belakang IT :). Tapi jelas, dengan melihat geografis nusantara yang dibentuk oleh gugusan pulau besar dan kecil dan dipisahkan dengan perairan yang luas, tantangan besar  diemban oleh pemerintah kita. Daripada sok tahu, mari kita bantu dengan doa saja :).

Segi ekonomi pun terbilang rumit. Diantara negara-negara ASEAN yang lain, Indonesia memiliki  jumlah penduduk terbesar. Jauh lebih besar daripada negara yang berada di urutan ke-2, Filipina, yang diperkirakan berpenduduk sekitar 100 juta jiwa. Sementara Indonesia sudah menembus 250 juta jiwa.

Tentu saja, mengurusi penduduk dengan angka fantastis bukan perkara gampang buat pemerintahan mana pun. Walau ditopang dengan sumber daya alam yang juga melimpah, tetap saja segi pengelolaan adalah tantangan terbesar untuk pemerintah.

Seperti negara-negara berkembang di negeri tetangga yang berpenduduk sangat banyak, Filipina dan Thailand, Indonesia sudah selayaknya melirik lapangan kerja di luar negeri. Agak riskan jika lebih dari 250 juta jiwa ini hanya menggantungkan hidup dari dalam negeri saja. Jangan lupa, devisa adalah salah satu sumber keuangan yang penting bagi tiap negara. Devisa nomor 2 disumbangkan oleh para pekerja asing yang menyumbangkan penghasilannya ke tanah air.

Selain memberi kontribusi nyata berupa ‘kiriman uang’ secara berkala ke negeri tercinta, para perantau asal tanah air juga bisa ‘mempromosikan’ Indonesia di mana pun mereka berada. Setiap warga di negeri perantauan adalah duta bagi bangsanya. Sebagai salah seorang perantau, hal simpel yang sering dilakukan suami saya adalah mengenakan batik ke  kantor atau memakai kopiah hitam saat melaksanakan ibadah di masjid.

Di Iran, Malaysia sangat terkenal sebagai salah satu tujuan wisata bagi penduduk setempat. Di Eropa secara umum, Thailand sering disebut-sebut karena keindahan alamnya. Sementara Filipina mengirimkan warga negaranya ke berbagai belahan dunia. Bayangkan, dari Saudi hingga Irlandia, saya menyaksikan sendiri tenaga kerja medis asingnya dikuasai oleh orang-orang Filipina.

Para negeri tetangga ini sungguh matang dalam berbaur dengan bangsa lain. Wah, bikin jiper juga. Akan seperti apa kita kala harus berbaur secara ekonomi dengan mereka di Komunitas ASEAN 2015 nanti?

Sosial Budaya, Waktunya Indonesia Unjuk Gigi!

Sekilas kita merasa jumlah penduduk yang melimpah menjadi kelemahan utama Indonesia untuk bersaing secara kompetitif dari segi ekonomi. Tapi, kita selalu bisa mencari celah, mengubah kelemahan menjadi kekuatan ;).

Era digital membawa media sosial menjadi salah satu sumber informasi dunia. Media sosial memperkenalkan kita kepada komunitas blogger. Orang-orang dari berbagai kalangan yang berbagi kata/rasa/makna/gambar sesuai dengan karakter masing-masing di berbagai fasilitas blog di dunia maya. Termasuk diantaranya, Komunitas Blogger ASEAN.  Indonesia jelas punya potensi besar dalam menyongsong Komunitas ASEAN 2015 dengan Integrasi Konstruktif Berbasis Kerakyatan (people centered).

Gambar : aseanblogger.com
Gambar : aseanblogger.com

Hanya dengan memainkan jemari di atas keyboard atau layar ponsel, begitu banyak hal yang bisa kita sebar ke seluruh penjuru dunia. Indonesia punya banyak stok jari-jari yang bisa disumbangkan oleh lebih dari 250 juta pemiliknya :D. Tak cuma menciptakan pasar ekonomi yang besar, keuntungan 250 juta jiwa sangat penting dalam penyebaran informasi.

Berbagai bentang alam dan macam-macam bentuk geografis yang terpisah-pisah memang menyulitkan sistem kontrol dan kelola oleh pemerintah. Tapi, kita mendapat anugerah berupa macam-macam potensi alam untuk tujuan wisata, ragam budaya/suku/bahasa, hingga jejak kuliner yang sambung menyambung dari Sabang hingga Merauke.

Gambar : pesonaIndonesia.com
Gambar : pesonaIndonesia.com

Begitu banyak hal yang bisa Komunitas Blogger Asean ceritakan melalui rangkaian kata di media online. Sembari giat menyebarkan sosialisasi akan Komunitas ASEAN 2015, para blogger bisa terus mengulas sosial budaya negeri asal masing-masing.

Faktor wisata cenderung menarik karena siapa, sih, yang tidak senang disuguhi informasi yang indah-indah? ;). Kebanyakan orang juga gemar jalan-jalan. Dan siapa yang tidak tertarik akan dunia kuliner? Makan-makan gitu, lho. Kebutuhan utama setiap insan :D.

Sinergi Optimal dari Komunitas Positif dan Seimbang

Sangat penting mensejajarkan kualitas bangsa sendiri dalam merintis sinergi positif bersama negara-negara ASEAN lainnya. Keseimbangan dalam berbagai hal adalah kunci dari hubungan yang sehat dalam bidang apa pun.

Sebagai bangsa besar, ini bukan tantangan mudah. Bersama blogger dari negeri-negeri tetangga kita harus wujudkan hubungan yang memberi keuntungan timbal balik. Dengan tidak merasa yang satu lebih tinggi atau rendah daripada yang lain. Itulah sebaik-baiknya rekan/teman/partner :). Bukan di depan, bukan di belakang, tapi berjalan berdampingan.

“Don’t walk behind me, I may not lead. Don’t walk in front of me, I may not follow. Just walk beside me and be my PARTNER.” -Albert Calmus

Gambar : talkvietnam.com
Gambar : talkvietnam.com

Energi positif mustahil dimunculkan dari hujatan-hujatan, kan? Tak perlu sibuk mencela orang lain yang dianggap mencuri budaya kita? Sudah seharusnya itu menjadi pertanyaan besar untuk kita semua. KOK BISA budaya kita sampai dipatenkan secara resmi oleh pihak lain? 

Seperti saya tatkala melihat iklan “Malaysia Truly Asia” tadi. Ha? Sejak kapan buah durian hanya dikenal milik Malaysia saja? Bahkan, bunga “Rafflesia Arnoldi” yang sudah disematkan sebagai salah satu bunga nasional Indonesia (informasi dari link berikut) juga muncul dalam tayangan iklan tersebut.

Bukan salah Malaysia! Kita yang harus melihat kepada diri masing-masing, APA YANG SALAH?

“That’s how winning is done! Now if you know what you’re worth then go out and get what you’re worth. But ya gotta be willing to TAKE THE HITS, and not pointing fingers saying you ain’t where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain’t you! You’re better than that!” -Rocky Balboa-

Tentu saja, kita, bangsa Indonesia, bukan bangsa pengecut. Yang mudah menyalahkan bangsa lain atas permasalahan yang ada. Jadi, jawab tantangan ini!

Bersama Kumpulan ASEAN Blogger, kita sosialisikan  Komunitas ASEAN 2015! Bukan dengan menyudutkan yang lain, tidak dengan menghujat siapa-siapa. Tapi dengan menyebarkan sisi positif bangsa sendiri :).

Bergandengan tangan bersama warga ASEAN lainnya, kita bisa memajukan kawasan ASEAN di mata dunia. Menjadikan ASEAN jaya di tangan anda, di tangan saya, di tangan kita semua. Not only “ASEAN in your hand“. Even more… “ASEAN in OUR hands“ :).

Stop pointing our fingers and start taking the hits! 

Gambar : shutterstock.com
Gambar : shutterstock.com

***

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck : Novel Klasik Karya HAMKA

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sebuah roman karangan HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang dipublikasikan pertama kali di tahun 1938. Saya membaca novelnya di usia SD, entah persisnya umur berapa. Iseng bongkar-bongkar sebuah kardus yang sengaja diturunkan oleh ibu saya dari atas lemari karena sedang mencari-cari sesuatu.

Tenggelamnya kapal van der wijck
Gambar : openbooks.com

“Buku cerita bagus itu. Bacami.” Kata ibu saya waktu saya membolak-balik buku tua yang lembarannya masih utuh, hanya sampulnya yang sudah koyak.

Sebagai penggemar fiksi (fiksi apa saja, termasuk komik-komik Donald yang bisa eike baca berulang-ulang tapi tetep ngikik-ngikik hehehe), langsung leyeh-leyeh di atas kasur mulai membuka halaman pertamanya. Awalnya pening, ya, bahasanya ribet begitu hehehehe. Tapi karena ibu bolak balik mempromosikan kalau ceritanya sedih tapi bagus jadinya bikin kepo berat .

Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini berisi kisah cinta ala-ala Romeo dan Juliet yang lebih kompleks dengan latar belakang budaya Minang yang membuat saya waktu itu sudah terpikir, “Ajegile ini orang Minang. Repot amat adatnya. Jangan sampai deh berjodoh ama model begini.”

Ahahahahhaha. Who knows bertahun-tahun habis itu, takdir membawa saya menjadi menantu keluarga Minang-Bukittinggi . Diawali dengan sahabat dekat yang masih langgeng hingga kini dari masa awal kuliah yang juga berdarah 100% Minang.

Benarlah kata pepatah yang dibawakan oleh pembawa acara sebagai pembuka di acara resepsi pernikahan saya 6 tahun silam, “Asam di gunung, garam di laut, bertemu di dalam periuk.” Gadis Bugis dari sulawesi, bujang Minang dari sumatera, bertemu di UI – Depok, hihihihihi .

***

Balik ke novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Kakaaaaa 😀.

Zainuddin, pemuda setengah Minang yang mengawali hidupnya hingga remaja di tanah Sulawesi. Ayah Zainuddin, Pendekar Sutan, adalah pemuda asli Minang. Yang terusir dari kampung setelah terlibat perselisihan yang mengakibatkan kematian Mamaknya. Mamak = Paman. Bukan sembarang paman, tapi paman yang paling ‘dituakan’ dari pihak Ibu. Beda lho dengan pengertian Pakde-nya orang Jawa.

Dari pengasingan di Cilacap, Pendekar Sutan memilih menetap di Sulawesi. Menikah dengan Daeng Habibah (asli sulawesi) dan berbuah seorang bujang, Zainuddin.

Kedua orang tua Zainuddin telah berpulang semasa dirinya masih kecil. Saat remaja, Zainuddin meminta izin pada pengasuhnya untuk kembali ke Tanah Minang. Bertolaklah Zainuddin ke negeri asal ayahanda tercinta.

Ternyata, sambutan tak sehangat yang dibayangkan. Jika di Sulawesi, Zainuddin tak begitu diterima oleh keluarga sulawesinya karena adat Sulawesi yang secara umum mengaitkan asal usul seseorang berdasarkan darah Ayah, maka di Minang ia pun tertolak. Adat Minang kala itu masih memegang teguh prinsip Matrilineal. Yang menggariskan keturunan seorang anak berdasarkan darah ibunya.

Sibuk mengais perhatian dari keluarga minangnya, masalah bertambah dengan tertambatnya hati Zainuddin pada Hayati. Hayati bukanlah upik sembarangan. Melainkan seorang anak perempuan dari keluarga terpandang, semacam bangsawan Minang gitu, deh .

Di zaman itu, perempuan Minang dari keluarga terkemuka tentu saja diharapkan untuk berjodoh dengan sesama urang awak (sebutan khas untuk orang Minang). Lah, Zainuddin kan Minang juga. Eit, karena ibunya orang sulawesi, Zainuddin tidak dianggap orang Minang tulen. Istilahnya anak pisang apa, ya? Tolong yang dari Minang diceki-ceki, suami eike bete nih gue tanya-tanyain dari tadi hahahahahaha.

Sebenarnya, Hayati pun menyimpan bara cinta yang sama untuk Zainuddin. Ihiiiiy. Tapi ya, kehendak Ninik Mamak mana sanggup dibantahnya. Hayati memasrahkan dirinya yang telah dijodohkan oleh pemuda Aziz, yang juga berasal dari keluarga ‘Minang tulen’.

Padahal, waktu itu, Zainuddin sempat diberkahi harta warisan berlimpah selepas meninggalnya sang pengasuh di Sulawesi. Zainuddin tetap maju mempertahankan cintanya. Namun, garis keturunan tetap memenangkan cinta Aziz.

Membawa sakit hati tak terperi, pergilah Zainuddin ke Surabaya. Berbekal harta yang banyak, berusahalah ia melupakan kasih tak sampainya dengan menjadi penulis. Beuh, kenapa sih sastra tempo dulu, asal patah hati pasti ujung-ujungnya jadi penulis? . Untung di era internet, enggak perlu patah hati untuk menjadi seorang penulis, yak. Hehehehe .

Singkat cerita, Zainuddin tentu jadi tenar. Akhirnya Hayati pun ikut merantau bersama Aziz ke Surabaya. Kontras dengan kepopuleran sang bujang pujaan, Hayati malah kurang beruntung. Saking susahnya kehidupan rumah tangganya, Aziz dan Hayati sampai nekat menumpang tinggal di rumah Zainuddin.

Hingga akhirnya, Aziz malah meninggalkan Hayati begitu saja. Ditalak lewat surat dan menitipkan Hayati pada Zainuddin.

Tapi, cinta dan benci sudah terlanjur menyatu, apinya tak kunjung padam di hati Zainuddin. Masih terbakar oleh rasa sakit hati, Zainuddin malah menyuruh Hayati ke kampung halamannya. Padahal Hayati sebenarnya sangat berharap menyatukan kembali cinta yang sesungguhnya tak pernah redup untuk Zainuddin.

Apa daya kemampuan seorang perempuan. Hayati pun pasrah menuruti permintaan Zainuddin. Dengan menumpang Kapal Van Der Wijck, Hayati bertolak pergi. Sebelum pergi, dititipkan ungkapan hatinya kepada sang kekasih melalui sepucuk surat.

Tak lama setelah Hayati pergi, hati Zainuddin bergejolak. Apalagi setelah membaca untaian kasih dari Hayati di atas berlembar-lembar kertas. Tanpa pikir panjang, Zainuddin berusaha menyusul Hayati.

Di tengah perjalanan, tersiar kabar bahwa kapal yang ditumpangi Hayati mengalami kecelakaan. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Hayati menghembuskan nafas terakhirnya dalam dekapan Zainuddin. Setelah kedunya sempat saling mengungkapkan perasaan dan penyesalan masing-masing.

Mudah ditebak, sebentar saja setelah ditinggal belahan jiwa, Zainuddin pun jatuh sakit dan ikut menyusul Hayati.

***

Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini sebenarnya menyuarakan kritikan sang penulis kepada adat Minang yang ‘keras’ di masa itu. Apa pula itu menghalang-halangi dua hati yang sudah tersangkut habis-habisan hanya karena perbedaan suku. “It’s so last year” la yaow, kalau isitlah zaman sekarang hehehe. Berapa banyak hati yang luka, dendam dan pengorbanan yang tidak perlu hanya karena ‘perbedaan’ macam ini.

Walau nyatanya, dari hasil kepo-kepo dengan beberapa teman perempuan yang asli Minang, harapan seperti itu dari para orang tua tetap ada. Ada yang masih ketat, ada pula yang sekedar imbauan semata.

Ada juga lho, di abad Facebook, teman perempuan saya yang berdarah Minang yang akhirnya dijodohkan oleh orang tuanya dengan urang awak. Padahal teman ini sudah memiliki tambatan hati lain (kebeneran bukan urang awak :P). Alhamdulillah, mereka mah baik-baik saja sampai sekarang .

Tentu saja, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, novel lama yang terhitung salah satu karya sastra terbaik di tanah air ini masih patut kita jadikan pelajaran. Bahwa yang namanya suku, warna kulit, marga, sesuatu yang tak bisa kita ubah. Sudah dari sananya, kan? . Memangnya kita bisa meminta, “Ya Allah, lahirkan aku sebagai orang bule. Kulit putih mulus, rambut tebal bergelombang, mata biru, rambut blonde, badan langsing selamanya.” Hahahahahha.

Kalau keyakinan seperti agama itu lain lagi. Bisa dipelajari dan bisa kita sebarkan.

La kalau suku piye? Mau bolak balik merantau ke Depok, Jakarta, Tehran, Jeddah hingga ke Athlone, orang bugis ya tetap orang bugis hehehe. Lahir sebagai bugis, sampai mati pun akan tetap berdarah bugis . Begitu pula dengan minang, jawa, batak, tionghoa, sampai ras arab.

Tapi, apa penting ya yang begini-beginian menjadi pemecah persatuan? Apalagi untuk bangsa sebesar Indonesia yang ragamnya macam-macam. Bayangkan, di satu propinsi saja, sukunya bisa belasan jumlahnya. Bahasanya juga macam-macam. Kalau pun kata-kata bermakna sama, sering dialeknya yang berbeda-beda .

Itulah cyin kerennya orang Indonesia . Diantara banyak budaya yang membentang dari Sabang sampai Merauke, kita punya “bahasa Indonesia” untuk saling berkomunikasi. Punya lagu “Indonesia Raya” yang bisa dinyanyikan sama-sama di tanggal 17 Agustus ini .

Karena saya seorang muslim, tak mengapa, ya, bila saya kutipkan sebuah ungkapan indah dari kitab suci kepercayaan saya :

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13].

Jadi, tetap lho ya, bagi kepercayaan kaum muslim, mau situ Jawa-bugis-Minang-Batak-Maluku-Papua-Flores-Bali dll, ukuran kemuliaan di mata Allah akan kekal sepanjang masa : KETAKWAAN 🙂. Nah, ada pun ketakwaan ini bisa lain panjang lagi ya ceritanya.

Tapi kita cukupkan sampai di sini saja, pan temanya hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia bukan ngajak berdebat siapa yang masuk neraka siapa yang masuk surga? Hehehehhe.

17 Agustus tahun ini, kembali semangat kebangsaan agak dikorek-korek dikit. Untuk memperingati 68 tahun lepasnya Nusantara dari tangan penjajah. Satu-satunya kata yang patut menutup tulisan ini  adalah … Merdeka! ^_^. Moga-moga belum basi hihihihi. 

***