Vietnam, What Doesn’t Kill It Makes It Stronger!

Di bulan Agustus tahun 1945, dua buah bom atom mengukir sejarah besar dengan meluluhlantakkan Nagasaki dan Hiroshima. Hantaman bagi kedua kota di Jepang ini menjadi musibah sekaligus anugerah.

Musibahnya jangan ditanya. Lebih dari 200 ribu nyawa melayang, dan sangat banyak korban hidup yang menderita luka dan cacat akibat pengaruh radiasi. Seumur hidupnya, Truman, presiden Amerika Serikat selalu pelaku pengeboman tersebut kala itu, mungkin tak akan pernah hidup tenang.

Tapi, dunia pun mencatat peristiwa mengenaskan tersebut sekaligus mengakhiri Perang Dunia ke-2. Segera setelah peristiwa tersebut, Jepang menyerah. Salah satu negara yang terkena imbas positif adalah Indonesia. Yang meraih kemerdekaannya di bulan dan tahun yang sama setelah kedua ledakan bom tersebut mengguncang dunia. Kedua hal ini akan terus menjadi perdebatan moral yang tak akan ada habisnya.

Siapa menyangka, derita perang tersebut nyaris tak berbekas lagi di Negeri Sakura ini. Jepang malah bangkit dan merebut tahta sebagai salah satu raksasa perekonomian dunia. Siapa menduga, dalam waktu singkat mereka sukses menanggalkan pakaian penderitaan dan menggantinya dengan jubah kemenangan. Luar biasa.

Kalau Dunia memuja Jepang, ASEAN punya Vietnam ;).

vietnam

Vietnam … Terus Berlari, Makin Bersinar

Berdasarkan sontekan dari ‘Paman Wikipedia’ :P, selama 8 tahun Vietnam menjadi korban perseteruan kubu komunis vs liberal. Vietnam Selatan yang didukung penuh oleh Amerika Serikat dan konco-konconya bertarung melawan saudara mereka sendiri di belahan Vietnam Utara yang digawangi oleh Uni Sovyet dan anggota gengnya.

Bertahun-tahun tersandera dalam perang, perekonomian menghadapi tantangan luar biasa ketika akhirnya gencatan senjata di tahun 1973 menyudahi perang berdarah tersebut. Mulailah Vietnam menata kembali masa depannya, mengumpulkan serpihan-serpihan harapan yang pecah berserakan kala perang melanda.

Istimewanya, lagi-lagi dapat bocoran dari Wikipedia :D, Vietnam mengadopsi pembangunan terencana ala Orde Baru, Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Waduh, malah lebih sukses yang meniru daripada yang ditiru. Hehehe.

Pendapatan Vietnam secara nasional terus melejit. Bahkan menjadikannya sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat ke-2 di dunia! Tingkat kemiskinan di negara yang dijuluki “Vietnam Rose” ini menurun secara drastis dan kini lebih sedikit daripada Cina, India dan Filipina. Lebih lanjut silakan dicek di link bocoran dari wikipedia tadi, ya ;).

Tidak hanya sukses menjadi eksportir beras nomor 2 setelah Thailand, Vietnam pun menduduki nomor 2 dalam urusan jual menjual kopi. Apa kabar Indonesia? :(.

Padahal beras dan kopi ini merupakan salah satu produk andalan Indonesia. Karena tema #day5 dari #10daysForASEAN adalah komoditi kopi, maka kita tinggalkan beras sejenak :D.

Vietnamese Coffee (gambar : hungryhuy.com)
Vietnamese Coffee (gambar : hungryhuy.com)

Kopi, Si Hitam Manis dari Alam Tropis

Saya enggak usah berceramah soal jenis-jenis kopi di sini, ya. Tapi jenis-jenis kopi tersebut bisa diintip di tautan berikut ini :). Kopi termasuk tanaman khas yang tumbuh subur di negeri-negeri tropis. Tidak heran jika ketiga negara penghasil kopi terbesar di dunia adalah : Brazil, Vietnam dan Indonesia. Semuanya dikenal sebagai negara dengan curah matahari yang tinggi di hampir sepanjang tahun.

Agak unik juga fakta bahwa Vietnam sanggup menghasilkan kopi yang lebih banyak daripada Indonesia. Luas wilayah Vietnam sendiri hanya sekitar 331 ribu km persegi. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki luas daratan sekitar 1.9 juta km persegi.

Kopi Indonesia
Kopi Indonesia

Kuantitas memang tidak berpengaruh banyak jika tak ditunjang oleh kualitas dan perhatian secara berkesinambungan. Sebelum buru-buru ‘nyinyir’in pemerintah , kita harus memahami dulu betapa kompleksnya negeri kita dibanding Vietnam ini.

Vietnam sendiri memang sangat fokus kepada sumber daya alam kopinya. Sementara Indonesia, selain kopi, juga punya banyak sumber daya alam lain yang sangat potensial. Rempah-rempah misalnya. Walau jenis kopi di Indonesia itu sangat beragam dan tumbuh subur di hampir seluruh wilayah nusantara, perhatian pemerintah masih terpecah-pecah.

Coba lihat kasus dalam tautan berikut ini.

“SEBANYAK 130 kontainer ekspor kopi Lampung baru-baru ini ditolak dengan alasan kandungan residu pestisidanya melampaui ambang yang ditoleransi negara tujuan!” ujar Umar. “Terkait pengalaman itu, Wakil Gubernur Lampung Joko Umar Said menyatakan Pemprov akan berusaha meningkatkan mutu kopi Lampung melalui sertifikasi kopi untuk ekspor. Dengan sertifikasi yang diatur Pergub itu, pelaku usaha memiliki posisi tawar lebih baik dalam negosiasi!”


Kejadiannya bukan beberapa tahun lalu. Tapi kalau melihat tanggal di beritanya, ini peristiwa di bulan Mei tahun ini. Pantas saja dianggap sebagai sesuatu yang ‘memalukan’. Masa iya, komoditas sebesar dan setenar kopi untuk Indonesia belum dibuatkan “Pergub Sertifikasi Kopi”-nya? :(. Mudah-mudahan sekarang sudah ada, ya.

Kontras dengan Vietnam yang sangat fokus dalam hal pertaniannya. Selain reformasi kepemilikan tanah, kerjasama optimal dengan pihak swasta, infrastruktur transportasi juga digenjot habis-habisan. 

Selain luasnya wilayah dan geografis yang terdiri dari wilayah kepulauan, masalah infrastruktur transportasi juga ikut menyumbang rumitnya masalah peningkatan kualitas dan kuantitas hasil pangan nusantara secara umum.

Saya punya pengalaman soal dampak infrastruktur transportasi ini. Dulu, saya bekerja sebagai IT-Business Analyst di salah satu consumer goods di tanah air. Pekerjaan saya berada di area Supply Chain – Distribusi.

Dalam beberapa rapat, saya melihat betapa rumitnya perdebatan antara manajer sales dan manajer distribusi-supply chain dalam usaha menekan biaya pengiriman barang dari Jawa ke luar Jawa. Apalagi ke wilayah Indonesia Timur. Selain masalah biaya, masalah keamanan dan durasi waktu juga cukup merepotkan. Terlebih lagi untuk produk-produk makanan yang memiliki waktu habis masa konsumsi (expired date) yang singkat.

Jadi jelas, ini pekerjaan besar buat pemerintah kita, ya. Kopi dan komoditas unggulan lainnya juga  bergantung pada faktor-faktor lain seperti misalnya transportasi. Pemerataan pembangunan di semua wilayah Republik Indonesia menjadi salah satu harga mati demi meraih kesuksesan untuk ikut berperan utuh dalam  Komunitas ASEAN 2015. 

Bersatu Kita Oke, Bercerai Kita Keo(k)

Vietnam vs Indonesia? Aduh, jangan sampai, ya!

Mempertentangkan potensi kopi masing-masing akan berbanding terbalik dengan tujuan utama dibentuknya Komunitas ASEAN 2015. Justru, kita ingin seluruh negara-negara yang bernaung di bawah bendera ASEAN melejit bersama dalam kerja sama di bidang Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya.

Dengan resesi yang tengah melanda negara-negara maju / negara barat, nilai jual kopi terus mengalami gonjang-ganjing. Daripada saling rebutan pasar ekspor yang tengah meredup, bagaimana kalau Vietnam dan Indonesia duduk bersama mencari celah untuk memasarkan kopi masing-masing? Bikin terobosan baru kek, misalnya mengolah kopi menjadi makanan ringan lain selain hanya diseduh menjadi minuman ;).

Vietnam dan Indonesia bisa menyatukan para ahli perkopian di negara masing-masing untuk membuat laboratorium bersama. Saling menyatukan ide untuk menciptakan varian-varian baru dari pemanfaatan kopi ini. Biaya lebih  murah juga kan kalau ditanggung bersama? Katanya lagi, beberapa kepala lebih baik daripada satu kepala ;).

Brainstorming (123rf.com)
Brainstorming (123rf.com)

Justru Vietnam dan Indonesia harus bersatu mengalahkan Brasil. Sudah cukuplah negara latin satu ini berjaya di sepak bola dunia :P. Urusan kopi, yuk kita robohkan hegemoni Brasil bersama-sama ^_^. 

Dengan menyatukan misi, yaitu menjadikan ASEAN sebagai negara-negara penghasil kopi terbesar di dunia, kita juga bisa menggandeng dukungan dari negara ASEAN selain Indonesia dan Vietnam. Misalnya dengan ‘memaksa’ sesama anggota ASEAN agar tidak mengimpor kopi dari negara mana pun kecuali sesama ASEAN sendiri. 

What Doesn’t Kill Us Makes Us Stronger 🙂

Selain berusaha mencuri urusan produksi kopi, kita pun bisa belajar dari kebangkitan Vietnam dalam urusan perekonomian. Akhir-akhir ini, masalah demi masalah terus melanda negeri kita tercinta.

Didera masalah korupsi, rupa-rupa kegalauan di urusan politik, jangan sampai menyurutkan semangat untuk maju. Berhenti dong menyebarkan hal-hal negatif tentang negara sendiri :(.

Ingat, siapa yang bisa menebak nasib Vietnam di awal tahun 70 an silam? Vietnam, yang terkenal di berbagai film perang buatan Hollywood ini, kini terus melupakan masa lalunya dan bangkit secara mengejutkan.

Sesuai kata pepatah, “Everybody wants happiness. Noone wants pain. But you can’t have a rainbow without a little rain.” Untuk menikmati cantiknya pelangi, kita harus berpayah-payah dulu bertahan dalam hempasan air hujan.

Semoga masalah-masalah yang sepertinya telah siap menelan bulat-bulat negara kita yang pernah digelari “Macan Asia” ini adalah sebuah cobaan kecil saja untuk meraih kesejahteraan yang jauh lebih baik.

What doesn’t kill us can only make us stronger. We’re not dying, we’re just fighting to be the best. Aren’t we? ;). 

Tagline

***

Dampak Konflik di Myanmar Terhadap Visa ASEAN

123rf.com
123rf.com

Saya pernah punya tamu yang perangainya kurang menyenangkan. Bikin bete lah pokoknya. Saat dia berkunjung, bau semerbak dari pewangi kain pel yang baru saja selesai saya gunakan untuk mengepel seluruh lantai rumah masih tercium. Dia juga ikut  berbasa-basi, “Wah, baru dipel, ya?”

Saya senyum-senyum simpul. Tapi langsung bengong ketika dia tetap masuk ke dalam rumah. Bukannya saya mengharapkan dia untuk mengobrol di depan pintu saja, tapiiiiii…dia masuk tanpa melepaskan alas kakinya! Yang  jelas-jelas telah dipakainya berjalan di atas tanah. Dia itu tetangga saya dan letak rumahnya hanya beberapa puluh meter. Saya pastikan dia berjalan kaki dari rumahnya ke tempat saya.

Ah, ah, ah :(. Kesalnya minta ampun. Manalagi hari itu embak saya enggak masuk. Jadi, saya sendiri yang membenahi seluruh isi rumah. Meski berusaha tetap sopan saya sudah berjanji dalam hati, “Lain kali situ datang lagi, saya cari-cari alasan ah biar tidak usah membuka pintu!”

Anda Sopan, Kami Segan

123rf.com
123rf.com

Nah, itu baru ritual mengunjungi rumah tetangga. Akan lebih kompleks lagi kalau yang kita kunjungi adalah…negeri orang lain. Meskipun masih termasuk negara tetangga.

Salah satu persyaratan untuk memasuki negara lain bagi warga pendatang adalah ketersediaan visa. Yang harus diurus secara resmi di lembaga berwenang misalnya di kantor kedutaan negara yang dimaksud atau di konsulatnya.

Lho, kita kan mau liburan ke tempat mereka. Berarti kedatangan kita harusnya disambut dengan meriah. Manalagi kita datang pastinya akan membelanjakan uang kita di sana, bayar hotel lah, beli oleh-oleh lah, makan-makan lah dsb. Devisa buat negara tersebut otomatis bertambah. Sudah selayaknya kita minta dihormati habis-habisan.

Tentu saja kalau tamu harus dihormati itu benar banget. Tapi, tamu macam mana dulu, nih? Saya sih tidak keberatan didatangi siapa saja. Asalkan memenuhi semua persyaratan layaknya seorang tamu. Kalau tamu pribadi, urusan attitude yang menjadi perhatian utama. Sementara kunjungan ke negara lain, kelengkapan dokumen jangan dianggap remeh.

Visa bisa dikatakan semacam izin. Misalnya, kita lebih senang bila kedatangan tamu yang menelepon terlebih dahulu. Kan bisa siap-siap, masakin yang enak, suguhin kue-kue yang sedap dll. Fungsi visa ya seperti itu. Agar negara yang bersangkutan tahu dan memiliki data lengkap sang pengunjung.

Visa, jangan hanya dipandang sebagai ‘tetek bengek yang merepotkan’ (padahal emang repot sih hihihihi :P), tapi dokumen ini adalah pelindung keberadaan kita di negeri asing :). Coba bayangkan kalau ada apa-apa. Anda kecelakaan misalnya. Atau anda punya masalah saat bekerja atau anda kena tipu dalam jumlah besar dan sangat merugikan. Mau lapor ke mana?

Nah, kalau tidak punya visa, bukannya ditolong malah anda akan tertimpa tangga pula setelah tadi terjatuh.

Visa juga bentuk perlindungan tersendiri bagi negara yang kita kunjungi. Urusan dokumen seperti ini yang bisa menimbulkan kekisruhan yang tidak sedikit seperti pengalaman saya semasa tinggal di Jeddah, Saudi. Banyaknya pendatang yang masuk dengan menggunakan visa turis malah kebablasan dan keterusan menjadi pekerja ilegal di Saudi.

123rf.com
123rf.com

Pastilah pemerintah Saudi menjadi pening. Kalau datang sebagai turis ya senang karena banyak pemasukan dari pendatang. Tapi kalau sampai tinggal dan menetap tentu akan menjadi beban pemerintah. Apalagi di negara-negara Timur Tengah yang tidak membebankan pajak penghasilan. Ibaratnya, kita menumpang hidup di sana. Bayar pajak enggak tapi ikut berjejalan menikmati fasilitas di negara tersebut. Apalagi di Saudi, biaya hidup sangat murah karena tingginya subsidi dari pemerintah untuk seluruh pemukim.

Makanya, visa itu terdiri dari beberapa jenis. Visa turis, visa bisnis, visa kerja dll. Tiap jenis memiliki durasi masing-masing. Visa turis tentu paling singkat. Bisa diperpanjang kok kalau mau dan negara yang dikunjungi memberi restu ;). Kita juga malas kan kalau tamu tinggal terlalu lama. Lama-lama yang tadinya senang jadi curiga, “Ngapain ya dia berlama-lama di sini? Ada niat apa, ya?”

Pokoknya, kalau diminta bikin visa, enggak usah ragu. Bikin saja walau  kadang urusan seperti ini bikin mumet. “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Have a nice holiday, Kakaaaaaa ^_^.

Ada Apa dengan Myanmar?

Komunitas ASEAN 2015 sudah di depan mata. Selayaknya beberapa sahabat yang sudah berjanji untuk saling bekerja sama dalam beberapa hal, kekompakan adalah hal mutlak untuk kesuksesan hubungan. Dalam hal ini, negara-negara ASEAN ingin bersinergi satu sama lain dalam bidang keamanan-ekonomi-sosial budaya.

Niatnya tentu ingin saling mendorong kemajuan di negeri masing-masing. Termasuk urusan pariwisata. Warga Indonesia yang ingin berkunjung ke sebagian besar negara-negara ASEAN dibebaskan dari urusan visa. Yayyyy, senang, doooonggg ;). Paling malas, deh, kalau mengurusi visa-visaan hehehe.

Tapi tidak dengan Myanmar. Negeri yang pemerintahannya baru saja lepas dari Junta Militer ini masih mewajibkan pengunjung di negaranya untuk memiliki visa dalam paspor masing-masing. Penonton kecewa :(. Mengapa oh Myanmar, mengapa? *drama*.

Cantiknya Myanmar (gambar : 123rf.com)
Cantiknya Myanmar (gambar : 123rf.com)

Jangan langsung berpikiran buruk dulu. Ingatlah, we don’t judge other for often we don’t know the whole story ;). Kita lihat dulu latar belakang negara tersebut sebelum berkomentar lebih jauh.

Berdasarkan referensi dari sini, Myanmar memang didera oleh perselisihan internal selama berpuluh-puluh tahun belakangan ini. Padahal mereka meraih kemerdekaannya sejak tahun 1948. Multi etnis dan agama menjadi sumber permusuhan di sana. Hingga akhirnya Junta Militer tampil dan memimpin negeri.

Kekerasan dan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat luas akan kepemimpinan militer membuat orang-orang demo beramai-ramai. Stabilitas dalam negeri terus menerus bergoncang walaupun demo katanya berlangsung damai. Militer pun tidak tanggung-tanggung dalam membubarkan demo.

Awal 2011, barulah pemerintahan sipil mengambil alih kekuasaan negara. Baru dua tahun lebih ‘Negeri Ladang Seri Ranjau’ mencicipi aroma demokrasi. Julukannya saja ngeri begitu mengingat kisruhnya ‘perang saudara’ yang terus-terusan menghantam keamanan dalam negeri.

Setelah diterjang badai stabilitas puluhan tahun, tentu bukan hal mudah untuk langsung membuka diri pada dunia luar. Biarkan mereka memulihkan trauma mereka dulu. Sementara, untuk menyatukan seluruh aspirasi rakyat saja mereka belum sepenuhnya berhasil.

Toh, Myanmar tidak melarang sama sekali untuk dikunjungi, kan? Mengurus visa pun katanya sangat gampang. Ini referensi tentang pengurusan visa ke sana.

Sementara kita beri waktu dan dukungan bagi negara yang termasuk paling bontot dalam usia keanggotaan di ASEAN ini :). Itukan gunanya punya ‘teman’. Berbagi dalam suka dan duka. Saling  mendoakan saat mengalami kesulitan. Hidup ASEAN ^_^.

Saktinya “Bhinneka Tunggal Ika”

Melihat asal muasal kejadian yang menyebabkan Myanmar terpenjara dalam konflik internal puluhan tahun lamanya, sebagai bangsa Indonesia kita wajib bersyukur. Myanmar konon memiliki 8 etnis utama yang berbeda budaya dan agama. Hal inilah yang cukup sering memicu konflik dan kekerasan :(. Yang paling hangat adalah kisruh antara segolongan umat Budha dan etnis yang didominasi umat muslim, Rohingya.

Padahal Indonesia lebih luar biasa lagi keragamannya. Etnis? Saya saja tidak hapal. Di propinsi asal saya saja, Sulsel, ada 4 suku besar (Makassar-Bugis-Mandar-Toraja). Belum lagi suku-suku kecilnya, misalnya Enrekang. Ini bahasanya beda-beda semua, lho. Mayoritas suku Toraja juga beragama Protestan, kontras dengan Bugis yang sebagian besarnya adalah muslim.

Itu baru satu propinsi. Bagaimana dengan puluhan propinsi lainnya? *ngelapKeringat*. Tapi alhamdulillah, “Bhinneka Tunggal Ika” berhasil merekatkan segala perbedaan dan meredam segala kebencian. Semoga kedamaian selalu menaungi seluruh bumi Nusantara tercinta :).

Tagline

Walau begitu, jangan gentar melangkahkan kaki menuju Myanmar. Dengar-dengar, obyek wisata di sana tak kalah menariknya, lho ;).

Traveling ke mana pun pasti akan mengajarkan hal baru yang membawa pencerahan bagi kita. Memang sih tidak ada uangnya. Tapi ingat, pengalaman adalah permata berharga yang tak akan terbeli oleh harta, seberapa pun banyaknya ;).

Jadi…kapan kita ke Myanmar? ^_^.

***

Motivasi Indonesia : “Indonesia, In The Name of Asia.”

Motivasi Indonesia : Pernah melihat penampakan orang-orang Aborigin, suku asli yang mendiami daratan Australia sebelum diramaikan dan dikuasai oleh para pendatang? Berkulit gelap, berambut keriting, dengan cara berpakaian adatnya yang khas yang langsung mengingatkan kita pada … suku-suku asli yang mendiami Papua, wilayah paling timur nusantara.

Motivasi Indonesia
viuzza.net

Tak cuma itu, familiar tidak dengan kata “walabi“? Walabi itu mirip sekali dengan hewan khas Australia, kangguru. Nah, walabi ini bisa ditemukan di beberapa wilayah Papua, lho. Bergerak dengan cara melompat-lompat, walabi juga memiliki kantung di bagian perutnya. Hanya saja, walabi berukuran lebih kecil daripada kangguru.

Perpaduan Asia dan Australia, ‘Hati’ Indonesia Milik Asia Sepenuhnya 

Secara geografis dan sisa-sisa budaya yang masih menghiasi beberapa wilayah Indonesia, wilayah nusantara memang tidak sepenuhnya melekat pada Asia. Sebagian wilayah timur lebih condong kepada Australia.

Tapi jangan lupa satu fakta penting. Kini, suku aborigin dan berbagai macam budaya yang pernah mereka emban sudah nyaris menjadi masa lalu. Mayoritas warga “Negeri Kangguru” tersebut adalah warga kulit putih dengan perawakan yang sangat mirip dengan orang-orang Eropa.

Dari segi ekonomi pun, Australia telah jauh melambung tinggi meninggalkan sebagian besar negara Asia yang masih berkategori “negara berkembang.” Dengan pendapatan perkapita yang konon hampir mencapai 50 ribu USD di tahun 2009, Australia sangat layak bergelar “negara maju.” Aduh, pendapatan perkapita Indonesia sendiri sepersepuluhnya saja belum ada.

Benua Asia sendiri merupakan benua terpadat. Menurut link wikipedia di sini, Asia sudah menampung 60% dari keseluruhan penduduk dunia. Wow! Ditambah dengan bukti bahwa diantara 10 negara berpenduduk terbanyak di dunia, 6 diantaranya adalah negara-negara Asia (berturut-turut, Cina-India-Indonesia-Pakistan-Bangladesh-Jepang). Rengking 1 dan 2 nya diserobot oleh Cina dan India sekaligus :D. 

motivasi Indonesia
Rupa-rupa wajah Asia (gambar : 123rf.com)

Asia pun dikenal dengan keragaman budayanya. Wilayah Asia Timur Jauh yang didominasi Jepang, Korea, Cina dll, menawarkan serba serbi budaya oriental. Di Timur Tengah, budaya Arab mendominasi. Sementara di selatan ada India yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban tertua di dunia. Di tenggara sendiri ya ada…ASEAN :).

Sejalan dengan ragam budaya, wisata kuliner dan bentang alam di Asia pun tidak kalah rupa-rupanya. Yang pedas-pedas, yang asin-asin, yang asem-asem, yang manis-manis, semuanya ada. Salah satu makanan andalah yang khas adalah NASI. Mulai dari Jepang, Arab, India sampai Malaysia, siapa yang tidak menjadikan nasi sebagai menu utama? Indonesia banget ini mah :P. Hihihi.

Motivasi Indonesia : Rupa-rupa makanan Asia (gambar : rf123.com)
Rupa-rupa makanan Asia (gambar : rf123.com)

Makanya, Indonesia lebih ‘nyaman’ berada dalam kehangatan Asia :). Inilah keunikan Indonesia yang harusnya kita garisbawahi. Bahwa sekalipun, tidak menyangkal rumpun kita yang sama-sama dari ras Asia, perpaduan antara kentalnya Asia di wilayah barat dan wajah Australia di Timur membuat kekayaan khasanah budaya Indonesia jauh melampaui negeri-negeri tetangga yang lain. Sudah saya jelaskan panjang lebar mengenai hal ini di tulisan #day2 kemarin, ya ;).

“In The Name of Asia”

Kalau mencari arti kata Asia sendiri, macam-macam jawabannya. Istimewanya, arti yang melekat pada kata Asia, selalu bisa dipadankan dengan kondisi Indonesia :).

Dari bahasa Yunani, katanya Asia bisa berarti “sunrise“. Lho? “Negeri Matahari Terbit” itu kan jatahnya Jepang, kan?

Hm…sebenarnya dalam urusan sinar matahari, Indonesia termasuk negara yang kaya limpahan sinar matahari. Di hampir sepanjang tahun, sinar matahari selalu setia menaungi Indonesia pada durasi yang nyaris tak berubah. Mau musim hujan,  musim kemarau, musim durian, musim diskon,  musim kawin :P, matahari selalu bersinar rata-rata dari pukul 6 pagi hingga 6 sore. Enaknya, tidak pusing mengganti-ganti kostum di setiap perubahan musim yang harus dialami oleh sebagian negara lain.

Terletak di jantung khatulistiwa, Indonesia termasuk negara yang beruntung dari segi cuaca. Kalau ingin merasakan pentingnya kehangatan matahari, tinggallah di kawasan Eropa, apalagi bagian utara. Dimana sinar matahari adalah hal yang cukup langka di hampir sepanjang tahun. Makanya, kurangilah keluhan, “Ah, Indonesia panas.”

Cuaca tropis memungkinkan banyak flora maupun fauna yang menghiasi berbagai wilayah di nusantara. Mau hewan khas Asia atau pun Australia, hidup rukun dan damai di atas tanah nusantara :).

Asia, masih berkaitan dengan Yunani, konon dalam mitologi Negeri Dewa Dewi disebutkan bahwa Asia adalah salah satu nama dari para Nereids. Nereids sendiri artinya roh perempuan yang ada di perairan laut. Laut? Iya, dong, perairan laut sangat identik dengan Indonesia.

MOtivasi Indonesia

Ketiga negara kepulauan yang cukup besar di dunia ada di Asia. Selain Indonesia, ada Jepang dan Filipina yang memilki kondisi geografis kepulauan yang mirip. Tapi, Indonesia yang paling besar dengan gugusan pulau yang jauh lebih banyak sekaligus memiliki garis pantai terpanjang. Luas perairan Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Tak salah bila Indonesia sering menyebut-nyebut dirinya sebagai Negara Maritim.

Dari sub judul pertama mengenai “hati” Indonesia yang lebih dominan pada Asia terlihat jelas bukan bahwa Indonesia adalah cerminan Asia dalam ruang lingkup lebih kecil. Semboyan “Bhinneka Tunggal  Ika” berbeda-beda tapi satu sejalan dengan keragaman dari benua Asia itu sendiri. “Hati” nusantara yang condong ke Asia karena  ragam budaya Asia yang saya sebutkan di sub judul pertama terpampang jelas di Indonesia.

MOtivasi Indonesia
Rupa-rupa wajah Indonesia (gambar : 123rf.com)

Malaysia menyebutkan dirinya sebagai “Truly Asia” karena di sana memang ada perpaduan 3 budaya utama khas Asia, Oriental (cina) – Hindi (India) – Melayu (ASEAN). Tapi, Indonesia lebih luas lagi. We are more than Asia itself 😉. Kita punya khasanah khas bagian Timur yang sekilas terpisah dari akar Asianya. Namun, sekaligus membuktikan akar yang ini mampu melebur menjadi satu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keragaman ala benua Asia, perairan luas berdasar definisi Asia dalam mitologi Yunani, iklim yang berlimpah cahaya matahari berdasar definisi bahasa Yunani, membuat Indonesia lebih dari layak menyandang slogan, “In The Name of Asia.”

Brand atau slogan yang baik juga seharusnya mudah diingat dan memiliki kemiripan dengan nama produknya. Seperti kata-kata dalam pantun, ada rima-nya. Seperti Malay-sia yang sukses dengan “Truly-Asia” nya, Indonesia cukup tepat disandingkan dengan, “In the Name of Asia.”

“In-do-ne-sia … In-the-name-of Asia” ;).

Dengan Rupa-rupa Kekayaan Nusantara, Tak Ada Kata Terlambat

Sekitar dua tahun lagi, Komunitas ASEAN 2015 akan resmi terbentuk. Malaysia dengan “Malaysia Truly Asia”nya sudah menancapkan pesona wisatanya dengan sangat serius di berbagai belahan dunia.

“Malaysia is a very great country.” Sapa seorang warga asli Iran dengan sangat ramah saat kami menaiki lift yang sama, kala itu kala saya dan keluarga bermukim di kota Tehran.

“No, I’m not malaysian. I’m Indonesian,” jawab saya dengan senyuman.

Dia mengerutkan keningnya sebentar lalu segera berujar, “Aha, Indonezi. Tsunami?”

Ya ampun, yang dia ingat tentang Indonesia adalah peristiwa Tsunami yang memang sempat membuat nusantara memenuhi layar-layar kaca di seluruh dunia di penghujung tahun 2004. Sedih sekali, bukan?

Di Timur Tengah, nama Malaysia memang bergema lebih nyaring. Walau semasa tinggal di Saudi, banyak juga orang Arab yang memuji-muji cantiknya Indonesia. Ingat, tak pernah ada kata terlambat bagi siapa pun yang ingin berubah ke arah lebih baik :).

Bayangkan, bila diolah dengan optimal, seberapa kayanya negeri kita tercinta ini? Di darat kaya rempah-rempah dan padi-padian, di hutan ada karet dan aneka raga flora dan fauna, perairan nan luas pun mempersembahkan aneka rupa hasil laut. Tak cuma itu, terumbu-terumbu karang nan cantik bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata utama.

terumbu karang motivasi indonesia

Sudahlah, daripada ngambek, mari kita ikuti langkah-langkah nyata pemerintah di negeri-negeri tetangga kita (termasuk Malaysia dan Thailand) yang sukses melejitkan wisata negaranya di mata dunia. Itu kan salah satu sisi positif bergabungnya negara-negara ASEAN dalam Komunitas ASEAN 2015? :). Agar kita bisa saling berbagi hal yang indah-indah. Tidak malah saling membully, adu keren-kerenan dsb. Masih ingat dengan semangat “Take The Hits” dong ;).

Mau Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan lain-lainnya, intinya … ASEAN itu keren. Dengan membawa nama Indonesia terbang tinggi di khalayak internasional, dengan sendirinya kita membawa panji ASEAN di bahu masing-masing.

Memposisikan diri sebagai bagian dari komunitas ASEAN, dengan tidak melupakan identitas sebagai bagian dari wilayah Asia, mari sama-sama kita persembahkan … “Indonesia, In The Name of Asia.” Indonesia, untuk ASEAN, sebuah kebanggaan atas nama Asia.

Motivasi Indonesia

***

#10daysForASEAN  #day3

Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga?

Rendang, Sate, Ketan, Durian, Baju Kurung, Candi-candi … Punya Siapa?

Bergaul dengan orang-orang Malaysia dan beberapa orang Filipina semasa bermukim di Jeddah dan Athlone (Irlandia) membuat saya tak sedikit pun meragukan bahwa dalam beberapa hal, BENAR bahwa kita adalah bangsa yang serumpun. Apalagi kalau menilik soal makanan *elusElusPerut*.

Saat memenuhi ‘jemputan’ (dalam bahasa Malaysia, jemputan =  undangan) dari rekan Malaysia, saya dan suami selalu bersemangat. Karena kami tahu, makanan Malaysia mirip sekali dengan makanan Indonesia. Berbeda saat menerima undangan makan dari rekan Pakistan, Mesir atau India. Selalu terbersit keraguan, “Duh, enak gak nih, makanannya?” Hehehe.

Kenalan Malaysia kami semasa di Jeddah bukan kenalan biasa. Saya memanggilnya Kak Del. Kak Del ini punya usaha katering di Jeddah. Jangan ditanyalah bagaimana bengkaknya ini perut saban memenuhi ‘jemputan’ dari beliau :P.

Uniknya, jenis makanan yang disuguhkan tidak satu pun yang pernah membuat kami surprais. Mulai dari rendang, sate, macam-macam balado, hingga ketan dkk. Malah, ketika Kak Del sibuk menerangkan tentang Mie Laksa kepada tamu-tamu Indonesianya, dari baunya saja saya sudah bisa menebak, “Ah, ini sih pasti rasanya mirip dengan Mie Laksa Aceh.”

Beberapa waktu lalu, di Athlone ini, saat ada acara morning coffee di rumah seorang kawan yang sama-sama berasal dari Indonesia, teman kami yang dari Cina dan Saudi meributkan soal durian.

“I have no idea, how can you put that smelly thing inside your mouth. They call itu King of Fruits maybe because it smells so bad. It’s from Thailand,  isn’t  it?”

“Hahahahaha…” Saya dan teman Malaysia saya langsung terbahak-bahak.

Lalu, sibuklah kami berdua menerangkan istimewanya buah durian tidak hanya ada di Thailand. Tapi bangsa Malaysia dan Indonesia pun mendewa-dewakan buah istimewa satu ini ;).

Jadi, kalau dikatakan Candi Angkot War di Kamboja memiliki kemiripan dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah (Indonesia), saya tidak akan mengingkari  sedikit pun:). Memangnya kenapa? Anda cek saja dari unsur sejarah mana pun, wilayah Sumatera-Jawa-Kalimantan-Bali dan sekitarnya memang pernah menjadi satu dengan daratan benua Asia :).

Untuk apa meributkan sejarah yang tidak mungkin kita ubah? Ribut-ribut tidak penting begini harus kita hindari dalam menyongsong kesuksesan Komunitas Asean 2015. Cita-cita kita kan sama-sama ingin memajukan kawasan ASEAN di mata internasional. Agar wilayah padat penduduk ini jangan hanya dipandang sebagai pasar potensial. Namun, berharap naik tingkat menjadi rekan bisnis di mata negara-negara maju di belahan dunia lain :).

Mari kita fokus pada kesamaan tujuan. Ingat, ASEAN adalah tanggung jawab semua negara anggota-anggotanya.

Sementara itu, apa benar kita benar-benar sepenuhnya satu rumpun dengan Malaysia, Thailand, Kamboja dan negara ASEAN lain yang terletak di atau dekat ke daratan benua Asia ini? Ah, sebagai perempuan asli bugis, yang datang dari belahan Indonesia Timur, saya akan sangat kecewa jika anda menjawab, “Iya.”

Tidak! Indonesia bukan hanya tentang rendang, baju kurung, dayak, reog, wayang, candi-candi, sate, yogyakarta, pantai-pantai di Bali saja. Jangan lupa, wilayah nusantara tidak berhenti di seputaran Kalimantan dan Bali saja. Kita masih punya Sulawesi, Maluku, Papua dan kepulauan lain di wilayah timur tanah air.

Kekayaan  Budaya Nusantara, Kekuatan Maritim dan Agraris, Semuanya Harta Berharga Kita!

Kalau mendengar kata-kata dibawah ini, tanpa meminta bantuan “Mbah Google” apa yang anda ketahui?

Londa, Burasa’, Nasu Likku, Tedong Bonga, Natsepa, Kasuari, Anoa, Dani, Danau Ayamaru?

Pening? Ya sudah, sekarang boleh nyontek ke “Mbah Google” :P.

Londa adalah bukit batu di wilayah Tana Toraja. Bukit batu yang unik karena digunakan untuk menyimpan jenazah-jenazah orang-orang dari suku Toraja yang telah mangkat. Londa adalah satu obyek wisata utama dari kabupaten Tana Toraja, wilayah paling utara di propinsi Sulawesi Selatan ini. Tedong Bonga adalah Kerbau Belang. Kerbau yang dianggap ‘ningrat’ oleh suku Toraja.

Gambar : mytropicaltourism.com

Pasti sebagian besar orang tahunya cuma Candi Borobodur dan Karapan Sapi :(.

Burasa’ dan Nasu Likku adalah kedua masakan khas dari suku Makassar-Bugis, dua suku terbesar di Sulawesi Selatan. Burasa‘, sekilas mirip kue nagasari  karena dikukus dalam waktu yang lama dalam dekapan daun pisang. Tapi sejatinya, burasa‘ ini lebih mirip lontong dengan rasa yang gurih, jadi bisa disantap dengan nikmat tanpa lauk apa pun.

Kedua masakan yang disebut oleh kami, warga asli Sulawesi Selatan, “Nyamanna Karaeng” (enak banget) belum sepopular rendang atau sate. Tapi rasanya, boleh diadu ;). Tuh, kuliner sulsel tidak cuma coto dan konro saja, lhooooooo :D.

Natsepa adalah pantai cantik di salah satu pesisir kota Ambon yang berbatasan langsung dengan Laut Banda. Sudah pada ke sana, belum? Kalau Pantai Kuta pasti sudah khatam, ya :P. Kalau dari pulau Sumatera ada Danau Toba, Sorong punya Danau Ayamaru yang tidak kalah ciamiknya.

Kasuari memang terdengar familiar. Tapi tahu tidak asalnya dari mana? Kasuari adalah burung khas dari Papua dan sekitarnya. Sementara anoa adalah hewan khas Pulau Sulawesi yang konon tak ada di Asia maupun Australia. Aslinya punya Indonesia ;). Entah kalau Anoa dikembangbiakkan di kebun binatang di tempat lain.

Kalau Dani siapa? Ini, sih, nama suami saya. Hahaha. Selain itu, Dani adalah nama salah satu suku yang cukup hits dari pulau besar di ujung timur nusantara, Papua. Hayooo, ramai-ramai mengupgrade pengetahuan nusantara karena pastinya yang tenar hanya Batak, Jawa, Madura dll.

See? Betapa luas dan kayanya nusantara. Enggak usah rebutan batik sama orang Malaysia, ya ^_^. Apalagi sampai memusingkan relif Candi Borobudur vs Candi Angkor Wat di Kamboja. Di belahan timur Indonesia, ada Lipa’ Donggala yang asli buatan tangan, dengan warna warni cerah dibuat dari bahan berkualitas prima. Kita jauh lebih kaya dari yang kita duga.

Belum lagi hasil bumi kita. Rempah-rempah adalah kekuatan utama Indonesia bagian timur. Sementara di wilayah barat, padi-padian masih mendominasi.

Memiliki garis pantai terpanjang di dunia (kita adalah wilayah kepulauan terbesar di dunia, lho, dah pada tahu belum? :P), menggerakkan kekuatan Maritim di bidang ekonomi dan sosial budaya bukan hal yang mustahil. Walau ngos-ngosan di bidang keamanan karena begitu panjangnya wilayah pantai yang harus pemerintah lindungi. Ingat, ingat fokus pada kekuatan! Tak ada gading yang tak retak, kan?

Bukan Lautan Hanya Kolam Susu

Kekayaan alam yang melimpah, potensi wisata yang membentang tanpa henti dari bagian barat hingga timur, dari Pulau We hingga Merauke, ditambah lagi sokongan sumber daya manusia sebanyak 250 juta, Indonesia seharusnya bisa mencuat sama hebatnya dengan negeri-negeri tetangga :). Enggak pakai sirik-sirikan, ah. Wong kita tajir begini ;).

Dengan modal sebegini besar, seharusnya kita tidak perlu grogi menyongsong terbentuknya Komunitas ASEAN 2015. Kita hanya perlu menggali dan memikirkan taktik jitu untuk mengoptimalkan segala limpahan anugerah yang berserakan di seantero nusantara. Tugas siapa? Ya kita semualah. Jangan bisanya cuma nyinyirin pemerintah. Hehehe.

Ngomong-ngomong soal kekayaan nusantara, terngiang-ngiang bait lagu dari mendiang Koes Ploes,

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman

Jadi, sebelum mengajak anak-anak anda menyambangi Disneyland atau Legoland atau apalah di luar sana, pastikan mereka tahu tentang Raja Ampat ;). Bawa mereka menjelajahi wilayah nusantara yang lain. Yang di Barat, ajak anak-anak ke Pantai Losari di Makassar, jangan cuma mentok sampai Bali saja. Yang di Timur, ajak si kecil mengunjungi Danau Toba dll.

Kalau ada pernyataan, “Orang bilang tanah kita tanah surga?” Masih ragu menjawabnya? 😉

Gambar : pesonaIndonesia.com

#10daysForASEAN  #day2

Bisnis Salon, Little Things for Big Differences

gambar : gograph.com
gambar : gograph.com

“Rumahnya dekat rumah makan padang yang baru buka itu, Bu?”

“Bukan, bukan.”

“Wah, enak lho itu. Murah lagi.”

“Oh ya?”

“Iya. Saya juga tahunya dari pelanggan sini. Tapi kalau sukanya makan  bakso, rumah makan yang di pojokan itu rasanya beda, lho, Bu. Enak banget.”

Tujuan utamanya ingin merapikan rambut, malah mendapat informasi mengenai rumah makan padang yang baru buka yang katanya enak dan murah. Sekaligus jadi tahu kalau rumah makan di pojok jalan ternyata menjual bakso yang enak banget. Ternyata, menurut info dari kapster yang sama, tempatnya sepi karena orang-orang lebih suka membungkus untuk dibawa pulang. Wah, padahal sudah sejak dulu ingin mencoba menu di sana. Tapi ragu karena tempatnya tergolong kurang pengunjung.

Semasa bermukim di tanah air, walau jarang, sesekali saya menyambangi salon untuk memotong rambut dan perawatan lainnya. Kini, setelah tinggal di luar negeri pun, tiap mudik saya pasti mengunjungi salon lokal yang letaknya dekat dari kediaman saya. Bisa ditempuh dengan membayar ojek 3000 ribu rupiah atau bila panas tak begitu terik, jalan kaki saja.

***

Gaya hidup masa kini memperkenalkan banyak kalangan kepada fasilitas salon. Peminat salon utamanya datang dari kaum perempuan, yang secara alami memang menaruh perhatian lebih akan penampilan.

Gambar : 123rf.com
Gambar : 123rf.com

Akhir-akhir ini, kebutuhan untuk sesekali bersantai ke salon tidak lagi dianggap sebagai foya-foya. Bahkan, ada yang rutin melakukannya untuk sekadar melepaskan penat setelah berhari-hari melakoni berbagai macam kegiatan yang menguras otak dan tenaga.

Bisnis Salon, Salah Satu Potensi Wisata di Thailand

Maraknya peminat membuka peluang bisnis salon di banyak kalangan. Termasuk salon-salon lokal yang biasanya bertempat di tengah-tengah padatnya pemukiman warga.

Ternyata, peluang bisnis persalonan lebih meroket di Negeri Gajah Putih. Diawali dengan menjamurnya tempat-tempat pijat yang sukses menjadi salah satu daya tarik wisata di sana, bisnis salon mulai dilirik.

Gambar : phuketdir.com
Gambar : phuketdir.com

Saya terkesan dengan ZenRed Hair Salon, yang situs-situsnya segera menempati tempat teratas ketika kita mengetikkan “Salon in Thailand.” Wow, promosinya begitu rupa dan gencar. Kalangan pebisnis di Thailand tidak main-main urusan pariwisata. Imej salon ini ditekankan sebagai “Salon utama pilihan para turis.”

Menjelang terbentuknya Komunitas ASEAN 2015 yang intinya ingin memperkuat kerja sama di bidang Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya antar sesama anggota ASEAN, urusan bisnis tidak bisa disepelekan. Kerja sama ini akan membuka peluang antar negara untuk menjajal pasar ekonomi di negara-negara tetangga.

Bagaimana bila di sekitar pemukiman di wilayah Indonesia berdiri salon-salon asal Thailand yang profesional dan mempunyai sertifikat tingkat internasional? Apa yang terjadi dengan salon-salon lokal kita? 

Keunggulan teknis saya rasa tidak usah kita khawatirkan. Indonesia tidak kekurangan kapster-kapster andal, kok ;). Menimba ilmu dan terus meningkatkan skill para karyawan bukan urusan yang sulit bagi pebisnis salon di tanah air. Apalagi masalah kemewahan bangunan salon. Di Indonesia, tidak sedikit salon-salon yang menawarkan fasilitas yang tak kalah menterengnya.

salon 2 lokasi

Tapi, bermodal  kematangan bisnis dan manajemen yang solid, tak sulit bagi mereka untuk merangsek masuk merebut simpati para pelanggan. Apa pula susahnya mereka mendidik sumber daya asal nusantara untuk dijadikan karyawan. Tak perlu repot-repot mereka menghabiskan waktu banyak mempelajari bahasa dan budaya masyarakat setempat.

Pebisnis salon di tanah air harus kreatif dan tidak tinggal diam. Jangan tunggu sampai mereka datang untuk mulai berbenah diri! Sebenarnya tidak sedikit, lho, langkah-langkah sederhana yang bisa dimulai dari sekarang juga.

Networking Sederhana, Berdayakan Masyarakat Sekitar

Salah satu teman saya pernah bercerita, “Enak banget ke salon ABC. Bisa makan empek-empek yang enak. Sate padang juga ada.”

“Oh, kantin salonnya bagus, ya,” ujar saya.

“Enggak. Kantin salonnya sih cuma jualan teh botol doang. Makanannya ambil dari rumah makan sebelahnya.”

Ide bagus. Bisnis salon sekaligus menghidupkan usaha-usaha di lingkungan sekitar. Pelanggan salon sekaligus bisa menjadi pelanggan rumah makan di sebelahnya, yang mungkin pemiliknya sama sekali tidak ada hubungannya dengan bisnis salon. Tidak usah serakah sampai membuka kantin besar segala dengan niat “one stop business.” Lebih bagus bila konsentrasi saja dalam jasa pelayanan yang umum disediakan oleh salon.

Bukan cuma itu. Ada juga, lho, salon yang tidak menyediakan lahan parkir. Sebuah lahan kosong di dekat bangunan salon dimanfaatkan sebagai tempat parkir. Pemilik lahan diajak bekerja sama. Tentu saja disediakan penjaga yang diambil dari lingkungan  masyarakat sekitar.

Kisah saya dan kapster di awal cerita juga boleh dijadikan contoh bagus. Hubungan saling menguntungkan antara salon, yang memang sering menjadi ajang mencari gosip hihihi, dengan usah-usaha lain di wilayah tinggal yang sama. Gosipnya kan positif, lho ;).

Satu pengalaman berkesan saya makanya senang menyambangi salon lokal yang satu ini. Bukan hanya karena tempatnya yang dekat, karyawan salon juga punya hubungan baik dengan para tukang ojek di sana. Setelah selesai urusan perawatan dan ingin pulang, daripada pelanggan capek-capek berjalan kaki mencari tukang ojek di ujung jalan, kami mendapat jasa pemanggilan ojek. Lumayan, kan?

Dengan kode khusus dari karyawan yang hanya berdiri di depan pintu, datang deh tukang ojek yang dinanti-nanti. Masa kita yang harus teriak-teriak di depan pintu, mending kalau tukang ojeknya paham. Hehehe.

Hal-hal seperti ini akan menumbuhkan rasa memiliki dari masyarakat sekitar. Jadi, tak mudah bagi pesaing baru untuk begitu saja merebut tahta usaha. Apalagi pesaing yang datang dari Negeri Asing yang masih meraba-raba lingkungan barunya.

Sesuai kata pepatah, “Banyak memberi, banyak menerima” ;).

salon activities
Gambar : 123rf.com

Tak Kenal Maka Tak Sayang, Promosi via Pelanggan dan Media Sosial

Bagaimana pun, promosi paling efektif adalah promosi dari mulut ke mulut. Jangan hanya puas dengan tip dan pujian dari pelanggan yang langsung menggunakan jasa di salon yang bersangkutan. Beri mereka sugesti agar berkenan mempromosikan layanan di salon tersebut.

Di era sekarang, siapa sih, yang tidak punya akun di media sosial seperti Facebook dan Twitter. Apalagi dengan makin meningkatnya jumlah blogger. Mari dimanfaatkan jasa kami untuk membantu promosi usaha anda :D. Tentu saja, “There’s no such thing called free lunch.” Tawarkan insentif kecil-kecilan. Seperti cuci rambut gratis bagi yang ingin memotong rambut. Jangan malu-malu juga menerapkan taktik member get member :).

Karena beberapa kali menulis di media cetak nasional, saya jadi tahu kalau hampir semua majalah sekarang punya akun twitter dan fanpage di Facebook. Walau tergolong usaha kecil, salon lokal di perumahan-perumahan jangan tanggung-tanggung memanfaatkan wadah promosi. Hajar! Bikin akun twitter, bikin fanpage. Kalau website mungkin agak sedikit sulit pemeliharaannya. Lagipula, media sosial yang lebih banyak dibanjiri massa.

Manfaatkan resepsionis salon sebagai admin media sosial. Sembari dia menunggu pelanggan, dia bisa terus mengupdate status. Isinya yang ringan-ringan saja. Tips-tips kecantikan yang sederhana juga pasti mampu menarik perhatian calon pelanggan. Untuk eksis di media sosial, harus kontinyu wara wiri di dunia maya. Jangan angin-anginan.

Kelihatannya kecil, tapi kekuatan promosi via media sosial inilah yang menerbitkan sebuah profesi baru bagi beberapa pemegang akun tertentu, buzzer. Konon, pemilik usaha rela merogoh kocek jutaan untuk membayar para buzzer untuk mempromosikan jasa mereka.

Simple but tricky. Tunggu apalagi? Sudah pada punya akun belum?

Life is a Challenge, Meet It!

Kapan saat terbaik langkah-langkah  kecil ini mulai diperhatikan? Sekarang juga! Ingat, pelanggan mungkin tertarik mencoba hal-hal baru, tapi bila kita sudah terlanjur menancapkan kesan begitu mendalam, percayalah, mereka akan selalu kembali :).

Happy customers! ^_^ (123rf.com)
Happy customers! ^_^ (123rf.com)

Tentu saja membenahi kemampuan diri sangat penting, namun, networking dan promosi adalah pendukung utamanya. Kalau tak pandai ‘menjual’, siapa yang akan tertarik pada bisnis kita? Kalau tak punya networking yang kuat, siapa yang akan menolong kita mempertaruhkan bisnis di saat-saat yang sulit? Jaringan terbaik dan terkuat selalu dimulai dari pihak terdekat atau lingkungan sekitar kita :).

Tak berarti bila kemampuan nan mumpuni beserta networking yang andal dan taktik promosi jitu sudah di tangan, maka tantangan takkan pernah menghampiri. Bisnis mana, sih, yang tak pernah diterjang badai persaingan?

Ingat, jangan lupa untuk selalu menyandingkan komitmen dan kemampuan internal bisnis dengan networking yang kuat dan promosi tanpa henti. Camkan, “Badai pasti berlalu.” Tugas kita adalah bertahan di tengah badai persaingan. Saat badai usai, bukannya kita ikut tersapu tapi bisnis tetap berdiri tegak ketika badai telah benar-benar berlalu :).

#10daysForAsean  #day1

***