(Bukan) Bangsa Tempe!

After 6 months of emptiness, akhirnya bisa juga … makan tempe lagi. *Lebay* hahaha. Dari info teman di sini, ternyata tempe bisa didapatkan di Asia Market di kota-kota besar. Termasuk di ibukota Dublin.

Pas ke Dublin, saat akan menghadiri acara 17 agustus yang mempertemukan orang-orang Indonesia dari seluruh kota di Pulau Irlandia, langsung berburu tempe. Yayyy, stoknya lagi ada. Tapi sedikit banget. Borong 3 bungkus.

Besoknya, langsung digoreng. Biar kelihatan banyak, digoreng pakai tepung bumbu yang diracik sendiri . Berasa makan mewah, suami dan anak-anak sampai rebutan hahahaha.

Beberapa hari kemudian pas akan mengurus visa Schengen, kami mampir lagi ke Drury Street tempat supermarket Asia tadi berada. Malangnya, kali ini stoknya habis.

Gambar : superindo.co.id
Gambar : superindo.co.id

***

Tempe terhitung mewah di Irlandia. Sebungkus dengan berat sekitar 400 gr dijual seharga kira-kira 2.7 euro. Satu kilonya bisa 6-7 euro. Convert sendiri ke rupiah dimana nilai euro sedang menguat kan ya, 1 euro = kira-kira 15 ribu rupiah. Harga 1kg tempe di sini = harga 1 kg daging kambing/domba.

Bagaimana dengan tahu? Di sini yang umum itu semacam tofu, tahu yang teksturnya sangat lembut. Agak syok pertama kali makan tahu model begini. Hahaha. Sudah biasa sama tahu Indonesia yang maknyus itu *ngelapIler*. Akhirnya, sekarang pasrah dan rasanya mendadak enak-enak saja hihihihi.

Tahu sendiri tidak bisa dibilang murah. Harga 1 kg tahu = harga 1 kg daging ayam utuh yang dipotong-potong itu. Pukulan berat bagi Food Combiner macam ane hehehe.

Eropa memang tidak tergolong mahal. I was a little bit surprised 😉. Untuk harga bahan baku utama seperti daging-dagingan dan beras malah enggak jauh beda dengan harga di tanah air. Tapi, kalau sudah makan di resto atau jajan makanan jadi, harganya langsung meroket. Therefore, memasak sendiri adalah pilihan bijaksana jika bermukim di sindang hihihi.

Kata suami saya, “Waktu di Indo, banyak yang mengeluh makannya cuma tahu tempe. Kita sekarang mengeluh karena susah makan tahu tempe.” Hehehe. Tahu tempe sering dianggap simbol kemelaratan .

Tapi saya pribadi, dari dulu selalu stabil kecintaannya pada tahu tempe. Nemu warung pecel yang enak pun, saat posisi keuangan sudah mumpuni, enggak malu-malu saat memesan, “Bang, tahu tempe aja. Enggak pakai lele, enggak pakai ayam.” Untuk alasan inilah, pola hidup sehat ala Food Combining langsung menancap di hati .

***

Konon, harga kedelai kembali berguncang di negeri penghasil tempe di tengah khatulistiwa sana . Mudah-mudahan tidak kisruh tempe lagi ya kayak setahun kemarin (lupa-lupa ingat kapannya). Saat masih di Jeddah, harga tempe sempat bergejolak di Indonesia dan mendadak langka di beberapa tempat.

Lucunya, emak-emak di Jeddah sempat panik. Eeehhh, pas ke Singaparna, tumpukan tempe tetap berjajar rapi di rak belakang. Harganya tidak berubah sama sekali, 3-4 riyal saja per potong. Aih, apa kabar, Singaparna? .

Penghargaan yang model-model begini memang berat ya dilakukan saat kita masih berada di tanah air. “Ah, malang nian hidupku, tiap hari cuma makan tahu – tempe.” Hehehe.

Sementara, di beberapa belahan dunia, ada ibu-ibu yang sibuk mencari-cari alasan biar bisa jalan-jalan ke ibukota hanya untuk sekadar mendapatkan satu bungkus tempe. Untuk beli tempe harus berkorban waktu, uang, tenaga yang tidak sedikit.

Biasanya, untuk mengakali menu yang karbo+protein yang dulunya tidak pernah pusing dengan kehadiran rutin si tahu-tempe, saya coba ganti dengan terong balado. Olala, terong termasuk sayuran mewah di sindang. Sudah sering banget saya melanggar pola makan FC karena beradaptasi dengan situasi baru ini hiks. Padahal sudah 6 bulan ya, Kakaaaaaa .

***

Tempe, makanan sederhana yang bahan utamanya adalah kedelai putih dan ragi saja. Bentuknya lunak harganya tidak mahal.

Dulu sih mana kepikiran mau bikin tempe sendiri. Di tukang sayur tiap hari pasti ada. Harganya murah pula. Kalau beli tahu tempe di ‘Mas Gondrong’ (tukang sayur langganan di kompleks), kadang-kadang mbak-mbak asisten rumah tangga para tetangga iseng menggoda, “Ibu Jihan lagi ngirit, nih.” Hihihi.

Salah satu resolusi mudik kami nanti adalah… “mendapatkan ragi tempe dan membawanya terbang dalam koper.” Hahahaha.

Sungguh tidak percaya, di negeri asalnya, tempe bisa juga bisa bergoncang. Negara agraris dan maritim sekaligus harus menggantungkan kehidupan pertaniannya pada bangsa asing. Mimpi buruk macam apa ini.

Tapi, urusan tempe cukup sampai perut saja. Jangan dipakai untuk meratapi hal lain-lain.

Urusan mental tidak boleh ditawar-tawar. Tidak bisa makan tempe? Jangan cengeng. Belajar masak jamur! Hihihihihihi.

Seperti pesan Bung Karno, “Kita penghasil tempe tapi bukan bangsa bermental tempe!!!!”

Bung Karno

***

ASEAN, “Strength lies in differences”

Siapa yang mengenal nama Onassis? Aristotle Onassis, raja kapal berlimpah harta asal Yunani. Onassis juga terkenal karena berhasil mempersunting janda Kennedy sebagai istri ke-2nya, Jacqueline Kennedy Onassis.

Di awal 70-an, Onassis meninggal dunia dan mewariskan harta kepada salah seorang anak perempuannya, Christina Onassis. Christina sendiri meninggal dunia di usia muda, belum genap 40 tahun. Kepergian Christina membuat satu-satunya anak perempuannya, Athina, yang kala itu belum genap 4 tahun mewarisi harta peninggalan kakek dan ibunya. Athina Onassis digelari bocah terkaya kala itu. Kecil-kecil cabe rawit :D.

onassis

“Kecil-kecil cabe rawit” juga bisa kita sematkan pada salah satu anggota negara ASEAN satu ini, Brunei Darussalam. Walau wilayahnya masih lebih luas daripada Singapura, penduduknya hanya sekitar 400-500 ribu jiwa. Pendapatan perkapitanya no.2 di ASEAN dan di berbagai parameter perekonomian, pendapatan perkapitanya sering masuk jajaran 10 besar dunia.

Bulan april 2013, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN kembali digelar. Kali ini, ajang tahunan yang mempertemukan pemimpin-pemimpin negara ASEAN tersebut digelar di Brunei Darussalam, negeri mungil nan sepi namun tajir :D.

brunei

KTT ASEAN ke-22 di Brunei : Maksimalkan Persatuan, Minimalkan Permasalahan

Pembahasan utamanya mencakup beberapa hal. Topiknya tidak jauh-jauh dari 3 pilar, Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya, yang ingin dikolaborasikan bersama antar sesama anggota ASEAN dalam rangka terbentuknya Komunitas ASEAN 2015.

Dari tautan mengenai jalannya konferensi tersebut, kerjasama dalam bidang ekonomi dianggap yang memiliki tingkat kesulitan terkecil. Kinerja pengerjaan cetak biru dari berbagai kebijakan ekonomi telah mencapai hampir 80%. Termasuk diantaranya kebijakan pengurangan hampir 100% pajak impor di Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja. Juga penghapusan pajak impor hampir 100% di negara-negara sisanya.

Walau dari kesejahteraan ekonomi secara umum, ada jurang menganga cukup lebar diantara negara-negara anggotanya, urusan ekonomi bisa dibilang … masih dalam batas aman terkendali :D.

Soal keamanan yang bikin deg-degan. Terutama perselisihan tentang Laut Cina Selatan yang melibatkan Malaysia, Brunei, Vietnam dan Filipina vs non ASEAN (Cina dan Taiwan). Masalah ini dianggap besar dan terus digenjot upaya perundingannya dalam ruang lingkup ASEAN sendiri. Minimal mengupayakan agar sesama anggota ASEAN tidak saling ‘memakan’.

Tiga Pilar Untuk ‘Rumah yang Kokoh’

Bangunan yang bagus dan kokoh tercipta dari bahan-bahan pilihan. Batu batanya mesti yang kuat. Semennya enggak boleh yang murahan. Pondasinya apalagi. Atapnya juga harus tahan hujan dan enggak gampang diterbangin angin. Pintu-pintu dan jendela-jendela dibuat dengan seksama agar ventilasi udara nyaman bagi seluruh penghuni rumah.

Tujuan dibangunnya sebuah gedung kan beda-beda. Ada yang akan berfungsi sebagai mal, sebagai kantor, sebagai rumah sakit dsb. Maka, semua ruangan dalam bangunan harus sinkron dengan tujuan pembangunan.

Gambar : vimeo.com
Gambar : vimeo.com

Tak beda dengan proses penciptaan sebuah komunitas yang baik. Keberhasilan Komunitas ASEAN 2015 meraih tujuannya sangat bergantung kepada keberhasilan masing-masing anggota. Baik Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Brunei,  Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar adalah bahan-bahan baku utama dalam pembangunan Komunitas ASEAN 2015. Kesepuluh negara-negara ini adalah batu bata, semen, atap dll, bagi “Rumah ASEAN.”

“Rumah” ini sudah ditujukan untuk melindungi ketiga pilar Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya untuk seluruh negara-negara ASEAN. Dimana kita bersatu untuk tujuan yang sama, saling berkerja sama secara optimal untuk membentuk satu ‘kekuatan baru’ dengan memajukan kawasan ASEAN di mata dunia.

Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat diuntungkan oleh letaknya yang strategis. Posisinya di persimpangan antara konsentrasi industri, teknologi dan kekuatan militer di Asia Timur laut ke utara, sub-kontinental dan sumber-sumber minyak di Timur Tengah ke Timur, dan Australia ke selatan.

Secara ekonomi Asia Tenggara merupakan bagian perdagangan dengan volume yang tinggi dari negara Jepang, Korea, Taiwan, dan Australia. Belum lagi jumlah penduduknya yang luar biasa, kerap dijadikan ‘pasar potensial’ bagi perdagangan internasional.

Sudah saatnya ASEAN jadi pemain utama. Bukan hanya obyek, bukan sebatas konsumen potensial. Sesama ASEAN, saling berbagilah. Singapura-Brunei-Malaysia yang memiliki kekuatan ekonomi yang kuat bisa menularkan keberhasilan yang sama bagi anggota lainnya.

Semangat dan kesadaran sebagai wilayah satu rumpun bisa memupuskan rasa ego dari kepemilikan ragam budaya di seputar ASEAN. Ide “Taman Mini Indonesia Indah” itu mungkin bisa diterapkan dalam Sosial-Budaya ASEAN. Daripada saling klaim, mending kita buat sebuah “Taman Budaya ASEAN.”

Masing-masing negara silakan bernarsis-narsis ria di sana, pamerkan semua kebudayaan yang kita punya. Gali keunikan masing-masing. Lantas kita buka untuk khalayak internasional. Pukau Uni Eropa, Amerika, Australia, bahkan sesama Asia dengan kekayaan kultural ASEAN :).

Daripada rebutan wilayah perbatasan, energinya dipakai untuk mengoptimalkan jalur perdagangan saja. Asalkan kita ingat, KESATUAN TUJUAN, harusnya tak masalah daerah mana punya siapa, asal sesama ASEAN :).

Untuk pertikaian dengan pihak di luar ASEAN, kita tetap harus tegas tapi jangan cari musuh. Dengan Cina misalnya. Ngapain, sih, berantem? Mending kerja sama.

Penduduk Cina itu di atas 1 milyar jumlahnya. Bayangkan bila barang-barang dari ASEAN bisa berjaya di sana ^_^. Tukar-tukaran barang ceritanya sama Cina hehehe.

Kata orang bijak, “Satu musuh terlalu banyak, satu juta teman takkan pernah cukup” ^_^.

Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu
Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu
 

Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan yang Sama

Anggaplah semua negara-negara ASEAN tengah berlari. Pastikan kita berada di lintasan yang sama, menuju garis finish yang sama. Kalau larinya sendiri-sendiri, lintasannya beda pula, manalagi garis finishnya tidak sama, mempersatukannya bagaimana?

Itulah gunanya berbagi kekuatan. Larinya sambil berpegangan, agar tidak ada ngacir duluan, tidak ada pula yang ketinggalan sampai terlalu jauh. Sambil berlari, saling menyemangati …

“Indonesia, ayooooooo.. Singapura, terus semangat…Myanmar, mana suaranya?”

“Yuhuuu Thailand, are you still there? Hold on, Laos! Kami bersamamu, Filipina.”

“Malaysia, go, go, go! Faster, Brunei, faster! Maju terus Vietnam. Kamboja, yes, yes, yes!”

Perhatikan pertandingan sepak bola. Kalau pertandingan di kandang sendiri, pemain biasanya punya semangat lebih. Salah satunya ya karena dukungan pendukung yang lebih heboh ketimbang di kandang lawan.

Lintasan sudah sama, larinya bareng menuju garis finish dimana masa depan cerah menanti kita semua :). Karena berpegangan, menyentuh garis finishnya pun sama-sama. Amin.

gambar : dreamstime.com
gambar : dreamstime.com

Komunitas ASEAN Blogger, Salah Satu Ujung Tombak Informasi

Nah, bagaimana caranya agar semua masyarakat di masing-masing negara memiliki persepsi yang sama ini? Larinya harus di lintasan yang mana? Garis finishnya di mana? Pegangan tangannya sama siapa saja?

Penyebaran informasi adalah hal mutlak. Di era digital, masa mau mengandalkan media cetak resmi saja? Diberdayakan, dong, jurnalis warganya. Salah satu tujuan dibentuknya Komunitas ASEAN Blogger ya bukan cuma untuk berburu hadiah di lomba-lomba blog, kan? *ups* hahaha.

Sebarkan cita-cita Komunitas ASEAN 2015. Blogger itu kan terjadi dari banyak kalangan. Ada kalangan profesional, kalangan emak-emak hehehe, sampai alay juga ada. Kita coba untuk mengabarkan dengan cara kita masing-masing. Kita satukan masyarakat ASEAN, beritakan tujuan dan langkah-langkah positif yang bisa kita tempuh untuk pencapaian masa depan yang lebih baik untuk kita semua.

***

Walau tujuan sama, tidak berarti kita harus melebur menjadi karakteristik yang sama. Singapura harus jadi negara agraris. Thailand harus memiliki komunitas muslim yang besar. Pokoknya Filipina harus punya sumber daya minyak sebanyak Brunei. 

Kekuatan justru datang dari perbedaan yang dimanfaatkan untuk tujuan yang sama dan seimbang. Karena sejatinya,

“Strength lies in differences, not in similarities”  ― Stephen R. Covey

 

Jangan lupa… ASEAN is not only in my hand, nor in your hand, but… “ASEAN in OUR hands.”

Dear Bloggers, manfaatkan jari-jarinya sepositif mungkin ya, Kakaaaaa :P.

123rf.com
123rf.com

***

Kebebasan Pers, Hitam atau Putih?

Gambar : fallout.wikia.com
Gambar : fallout.wikia.com

Peganglah sebilah pisau. Raba ujungnya yang tajam. Bayangkan bila darah mengucur dari jari bila teriris oleh permukaan tajamnya. Berarti, pisau itu benda yang berbahaya?

Tapi … bayangkan bila tidak ada pisau. Bagaimana caranya ibu-ibu rumah tangga seperti saya ini menyelesaikan urusan masak memasak? Memotong-motong sayur dan buah pakai apa, dong? Masa daging segar sekilo yang bentuknya masih utuh harus saya gigitin menjadi potongan keci-kecil? Hehehe.

Gambar : knives.cooking.com
Gambar : knives.cooking.com

Pisau, bisa berbahaya, bisa berguna. Demikian pula dengan kebebasan pers dalam setiap negara. Meroketnya internet sebagai buah dari kemajuan era digital memicu kemunculan media-media sosial online, misalnya blog. Lengkap dengan penulisnya yang berhak menyandang predikat blogger.

Kehadiran para blogger, berita dalam bentuk status di  facebook, kultwit-kultwit via twitter, menghadirkan istilah “jurnalis warga.” Kadang ya, sebelum muncul di media nasional (yang online sekali pun), beritanya sudah lebih dahulu bergemuruh di berbagai akun pribadi dari rupa-rupa media sosial tadi. Ditambah lagi dukungan penuh dari kecanggihan smartphone yang dilengkapi fasilitas kamera/perekam video yang makin cihuy, berita makin seru dengan adanya foto-foto/video penunjang.

Penyebaran informasi atau berita sudah bukan dominasi media cetak saja. Malah, soal kecepatan dalam penyebaran gosip eh … berita, kayaknya sekarang ini twitter, ya, juaranya ;).

Filipina, Negeri  no,3 Paling ‘Mengerikan’ Buat Para Wartawan?

Menjelang terbentuknya Komunitas ASEAN 2015, masalah penyebaran informasi tentu berperan penting. Sudah selayaknya porsi kebebasan untuk para jurnalis baik yang formal maupun yang menghuni ranah pribadi seperti para blogger dsb, mulai terus ditingkatkan. Ingat, salah satu kekuatan para pengendali dunia adalah penguasaan sekaligus penyebaran informasi.

Namun, hasil dari daftar peringkat “Indeks Kebebasan Pers Dunia” 2013 yang dikeluarkan oleh badan internasional RSF (Reporters Without Borders) menunjukkan gejala yang kurang menggembirakan. Walau Indonesia sendiri memperbaiki peringkatnya, naik ke 139 dari 146, sebagian negara ASEAN merosot ke peringkat bawah.

press

Misalnya saja Filipina, bertengger di posisi 140 di tahun sebelumnya, kini berperingkat 147. Tidak cuma itu, Filipina kembali berada dalam peringkat 3 besar dalam indeks impunitas yang diterbitkan oleh organisasi Amerika Serikat Commitee to Protect Journalists. Gelar yang sudah disandang selama 4 tahun berturut-turut.

Yang berarti, Filipina termasuk dalam 3 negara paling ‘menyeramkan’ bagi para wartawan. Serikat wartawan nasional Filipina menyiratkan fakta ini sebagai cerminan kegagalan pemerintah dalam menghadapi kekerasan terhadap pekerja media dan menghukum sang pelaku.

Sebagai informasi pembanding, berikut ada pendapat dari salah satu pakar media di Indonesia, Agus Sudibyo. Menurutnya, peringkat yang dikeluarkan RSF dianggap tidak merefleksikan kenyataan sesungguhnya. Kebebasan Pers Indonesia dianggap jauh lebih baik dari yang digambarkan RSF. 

Agus mengkritik RSF yang hanya mendasarkan tingkat kebebasan pers menurut jumlah kekerasan yang dihadapi para jurnalis di negara masing-masing tanpa mempertimbangkan kondisi geografis dan demografis. Saya cenderung setuju dengan pendapat Bapak Agus. Salam kenal, Pak Agus 😀 *sungkemDulu*.

Secara geografis dan demografis (kependudukan), Filipina relatif mirip dengan Indonesia. Sama-sama berbentuk kepulauan dan memiliki penduduk yang tidak sedikit dengan sebaran kependudukan yang tidak merata di seluruh wilayah.

Makanya, agak sulit juga menilai relativitas dari indeks peringkat tersebut dengan kenyataan di negara bersangkutan. Apakah mungkin stabilitas dalam negeri yang mengalami beberapa guncangan adalah salah satu sebab tingginya kriminalitas terhadap para jurnalis di Filipina?

Tautan berikut menerangkan mengenai masalah besar berupa ancaman oleh gerakan separatis Bangsamoro di sebelah selatan Filipina, Mindanao. Ditambah lagi  pemberontak-pemberontak dari Tentara Rakyat Baru (New People’s Army) yang berpaham komunis di pedesaan. Belum lagi maraknya kerusakan lingkungan seperti penebangan hutan dan polusi laut.

Saya sih bukan ahli politik atau hukum. Tapi logikanya, dalam situasi seperti tadi, apakah bijaksana membiarkan lalu lintas pemberitaan lalu lalang sesukanya? Buah simalakama untuk pemerintahan mana pun yang tengah menghadapi gejolak stabilitas dalam  negeri. Di satu sisi ingin melindungi pihak-pihak yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Di sisi lain harus melukai kebebasan berpendapat warganya sendiri.

Gambar : digitaljournal.com
Gambar : digitaljournal.com

Fakta-fakta Positif Filipina

Walau tingkat kebebasan persnya tengah mendapat sorotan tajam, hampir 100% warga Filipina dinyatakan bebas dari buta aksara. Termasuk salah satu yang tertinggi di Asia. Wow! Sumber yang sama juga mengungkapkan fakta bahwa sebagian besar rakyat Filipina mampu bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dan gaya hidup negara satu ini paling kebarat-baratan di Asia.

Juga dari sumber ini disebutkan mengenai pertumbuhan ekonomi moderat Filipina yang mendapat banyak suntikan devisa dari pekerja-pekernya yang melanglang buana ke hampir seluruh penjuru dunia. Belum lagi kemajuan teknologi informasinya.

Gambar : filipinobiography.com
Gambar : filipinobiography.com

Soal bahasa Inggris dan banyaknya pekerja Filipina di berbagai belahan bumi, saya sanggup bersaksi secara langsung :D. Di Jeddah, pekerja pendatang yang lumayan banyak ya pekerja Filipina. Apalagi di rumah-rumah sakit. Mulai dari perawat, petugas administrasi, petugas farmasi, petugas lab, didominasi oleh para Pinoy.

Satu lagi nih, “bahwa wikipedia berbahasa Waray-Waray atau Winaray yang merupakan salah satu bahasa daerah di Filipina saat ini memiliki 429 lebih artikel.”

Kalau memang ada pengekangan terhadap kebebasan pers, termasuk para “jurnalis warga”, kok kayaknya tidak berdampak seperti negara-negara yang terbelakang soal urusan informasi, ya? Rakyatnya malah kebarat-baratan, dapat informasinya dari mana coba? Akses ke wikipedia pun bebas-bebas saja. Malah menunjukkan keaktifan cukup hebat dengan adanya ratusan artikel berbahasa daerah selain bahasa nasional mereka, Tagalog.

Apa kebebasan pers dalam urusan politik saja kah yang dimaksud? Wallahualam. Jangan-jangan blogger di Filipina asyik-asyik saja :D.

Hitam atau Putih?

Walau peringkat Indonesia dan Filipina masing-masing terlempar jauh dari peringkat 100 besar, pertimbangan dari Pak Agus yang saya uraikan di atas bolehlah kita simak lebih jeli. Bahwa kebebasan pers di Indonesia sendiri dianggap mengalami surplus kebebasan.

Untuk saya pribadi, rasanya sulit untuk mengelak dari ucapan Pak Agus tersebut. Saya termasuk yang mengkhawatirkan betapa mudahnya opini publik dibentuk atas dasar penyebaran berita yang sensasional tanpa didasari sumber yang akurat. Sering pula menyentuh wilayah sensitif semisal menyerang kepercayaan beragama orang lain :(.

Jangan-jangan ini pula yang terjadi di Filipina? Secara peringkat mengejutkan tapi pada kenyataannya ya bebas-bebas wae. Hehehe. Mungkinkah?

Tautan yang ini, mungkin bisa memberi pencerahan, yang bersumber dari Kompas Edisi Cetak 8 Juni 2013. Membahas mengenai etika jurnalistik. Bahwa kebebasan pers bukannya tak berbatas. Pers pun harus terbuka pada kritik yang ditujukan kepadanya. Berani berbuat,  berani bertanggung jawab ;).

Kecanggihan teknologi masa kini yang memungkinkan banyak pihak beropini dalam berbagai media sosial pribadi seperti layaknya sebilah mata pisau. Marabahaya yang diundangnya jika kita membiarkan tajamnya belati berada di tangan seorang balita. Tapi di tangan seorang juru masak yang sibuk meracik menu di dapur, benda tajam ini mendatangkan manfaat yang tidak sedikit.

Mana ada ,sih, hal-hal di dunia ini yang mengandung manfaat saja? Air putih yang sudah sangat nyata khasiatnya buat kesehatan, bila dikonsumsi sekaligus dalam jumlah banyak, apa tidak membuat perut kembung?

Kebebasan apa pun memiliki banyak warna. Dalam banyak hal, warna hitam digambarkan sebagai hal negatif dan warna putih dianggap kebalikannya. Adalah tugas kita untuk menyematkan warna yang mana yang kita inginkan untuk setiap hal yang kita temui dalam hidup ini. Hitam atau putih?

Demi suksesnya Komunitas ASEAN 2015,  tentu saja kita semua yang berada dalam naungan Komunitas ASEAN Blogger, tergabung dalam “Blogger Sayap Putih.” Sepakat? 😉

Gambar : jadiberita.com
Gambar : jadiberita.com

***

Mengaitkan ‘Jari Kelingking’ Malaysia dan Singapura

Salah satu laga di putaran Piala Dunia 1986 akan selalu menjadi kenangan terindah bagi Maradona. Saat melawan tim Inggris di perempat final perhelatan akbar yang mempertemukan tim-tim besar sepakbola dunia, salah satu gol Maradona tercipta secara kontroversial.

Gambar : commons.wikipedia.org
Gambar : commons.wikipedia.org

Konon, semua orang bisa melihat bahwa gol tersebut tercipta berkat sentuhan tangan Maradona, hal yang terlarang dalam olah raga sepak ini. Semua orang kecuali…sang wasit asal Tunisia, Ali bin Nasser. Bahkan, Maradona pun tak percaya ketika wasit tidak menganulir gol tersebut.

Gol legendaris yang katanya sih paling hits di abad ke-20, yang dijuluki “Gol Tangan Tuhan” tersebut, tidak hanya membawa Argentina lolos ke laga semifinal. Tapi juga melambungkan nama Maradona bersama timnya yang sukses merebut gelar Juara Piala Dunia 1986. Sementara sang wasit ikut-ikutan terkenal karena ‘keputusan’nya yang dianggap konyol tadi. Mang enak jadi wasit? :P.

Wasit adalah pihak penengah. Kehadirannya seharusnya menjadi solusi bukan malah mempertajam kekisruhan. Begitu pula selayaknya negara-negara ASEAN lain harus memposisikan dirinya dalam menghadapi perebutan 3 pulau antara Singapura dan Malaysia : Pulau Batu Puteh (Pedra Branca), Batuan Tengah (Middle Rocks) dan Karang Selatan (South Ledge).

VS

Posisi Menentukan Prestasi

Pemerintah Malaysia menegaskan bahwa, “Pulau Batu Puteh milik Malaysia.” Sementara pihak Singapura tetap berkeras, “Pedra Branca belongs to Singapore.”

Ya sudah, Pulau Batu Puteh milik Malaysia dan Pedra Branca milik Singapura. Beres, kan? Hehehe.

Pulau Batu Puteh ya Pedra Branca juga. Penamaannya saja yang berbeda. Masing-masing merujuk kepada fisik pulau yang sama, Walau terletak di perairan perbatasan antara kedua negara yang tengah berseteru tersebut, namun kedaulatan awal pulau ini adalah milik Malaysia.

Kalau menilik dari sumber yang ini, tadinya pulau ini dikuasai oleh Kesultanan Johor di abad ke-16. Dan terus menjadi bagian dari Kesultanan Johor sampai abad ke-19. HIngga sekitar tahun 1850 an, pemerintahan Inggris membangun sebuah mercusuar (Horsburgh) di pulau tersebut sebagai penanda perbatasan untuk  memasuki wilayah Singapura dari arah timur (Selat Singapura).

Pedra Branca / Pulau Batu Puteh (mrbrownshow.com)
Pedra Branca / Pulau Batu Puteh (mrbrownshow.com)

Entah lupa atau disengaja, yang jelas ketegangan baru dimulai di sekitar tahun 1979. Ketika Malaysia mengeluarkan peta yang berisi daerah kekuasaannya yang menegaskan bahwa pulau Batu Puteh/Pedra Branca adalah bagian dari wilayah Kerajaan Malaysia. Singapura, yang telah menguasai sekaligus mengurusi pulau yang dimaksud selama lebih dari satu abad tentu langsung kebakaran jenggot.

Perselisihan menjadi makin runyam karena posisi pulau ini memang terletak di perbatasan perairan Singapura dan Malaysia. Drama pun tak dapat dihindari. Bersama pulau ini, kedua wilayah di sekitarnya yaitu : Batuan Tengah dan Karang Selatan, ikut disengketakan.

Wasit Internasional Datang, Persilangan Sejarah Tak Menyurutkan Pertikaian

Peradilan internasional akhirnya ikut dilibatkan. Setelah 29 tahun saling bersitegang, di tahun 2008, ICJ (International Court of Justice) atau Mahkamah Peradilan Internasional menetapkan bahwa Singapura sepenuhnya berdaulat atas Pedra Branca/Pulau Batu Puteh. Sementara Batuan Tengah (Middle Rocks) diserahkan pada Malaysia. Ada pun Karang Selatan (South Ledge) diserahkan kepada negara pemilik perairan di mana karang tersebut berada.Lebih lengkapnya dicek di tautan yang saya ambil langsung dari website ICJ ini

Lebih lanjut di sumber dari ICJ itu dijelaskan panjang lebar mengenai riwayat si pulau dari abad ke abad. ICJ tidak menampik bahwa Kesultanan Johor adalah pemilik sah dari Pulau Batu Puteh dan tidak pernah melepaskan kepemilikannya secara sah. Tapi demi menghormati Singapura yang telah ‘mengurusi’ pulau ini selama seabad lebih, kedaulatan pulau yang bersangkutan ada di tangan Singapura.

123rf.com
Petronas Twin Tower – Malaysia (123rf.com)

Kalau mempelajari sejarah Negeri Singa dan Negeri JIran ini bisa lebih ribet lagi. Karena keduanya pernah berada di bawah penjajahan Koloni Inggris. Bahkan, setelah merdeka, Singapura pernah menjadi bagian dari Malaysia. Barulah tahun 1965, Singapura benar-benar berdiri sendiri dengan pemerintahan yang sepenuhnya terpisah dari Inggris maupun Malaysia.

Walaupun begitu, ketetapan dari ICJ sendiri tidak menyurutkan keinginan Malaysia untuk kembali  berdaulat atas Pulau Batu Puteh. Sementara, bila kita simak lagi keputusan ICJ tadi, keputusannya juga masih menggantung dengan adanya perbedaan pendapat dari pengambil keputusan di sana.

Singapura pun ngotot menginginkan hak atas Batuan Tengah dan Karang Selatan yang mereka anggap sebagai bagian dari Pedra Branca tadi. Sama-sama kepala batu :D.

Esplanade - Singapura (123rf.com)
Esplanade – Singapura (123rf.com)

Siapa yang Salah, Siapa yang Berhak?

Dari segi sejarah dan kekuasaan di masa lalu, di mana Kesultanan Johor adalah bagian mutlak dari Kerajaan Malaysia kini, alibi Malaysia sangat kuat. Tapi, dari segi administratif dan efektifitas, peran Singapura atas Pulau Batu Puteh/Pedra Branca juga sangat patut diperhitungkan.

Lagipula, saya kurang paham, nih, masalah pengambilan keputusan oleh mahkamah internasional :D. Jadi, serahkan urusan itu pada ahlinya saja ;).

Yang jelas, perdebatan ini tidak akan membawa dampak positif bagi cita-cita Komunitas ASEAN 2015. Menuju terbentuknya komunitas yang diharapkan bisa memadu padankan semua negara ASEAN dari segi Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya, pertentangan antar negara anggota hanya akan menjadi “duri dalam daging.”

Bila dua pihak tengah bertikai, hal terbaik yang bisa dilakukan oleh pihak ke-3 adalah … mendamaikan :). Terlebih lagi, posisi Malaysia dan Singapura bisa dibilang sama kuatnya. Kita tak ingin memperuncing suasana dengan menunjukkan keberpihakan, kan? Nanti kayak pertandingan sepak bola. Jangan sampai malah lebih ribut ‘penonton’nya daripada ‘pemain’nya :(.

1. Pastikan dahulu kepada Malaysia dan Singapura untuk menerima apa pun keputusan pihak berwenang. Setelah itu, desak terus pihak yang berwenang untuk mengambil keputusan yang TEGAS secepatnya.

2. Jangan  menunjukkan keberpihakan pada siapa pun. Terus genjot semangat perdamaian dan perundingan. Jangan pula sok tahu :D. Kalau ingin berpendapat, sebaiknya netral saja. Karena keduanya punya alasan yang sah dan logis.

3. Jangan pula membiarkan ketegangan terus berlarut-larut. Diam tidak selalu berarti emas. Kalau didiamkan salah-salah malah menjelma menjadi “api dalam sekam.”

4. Mengalihkan perhatian  mereka. Sayang sekali kan, energi kedua negeri ‘berpengaruh’  ini sama-sama dihabiskan untuk tarik urat di urusan ini saja. Mengingat keduanya punya potensi ekonomi yang tinggi. Pendapatan perkapita Singapura nomor 1 di ASEAN, sementara Malaysia ada di no.3.

Pendapatan per kepala tiap negara-negara ASEAN
Pendapatan per kepala tiap negara-negara ASEAN (sumber : (en.wikipedia.org/wiki/List_of_ASEAN_countries_by_GDP_(nominal))

Jangan sampai yang tetek bengek begini malah menghabiskan energi dan melupakan kesamaan tujuan yang lebih besar. Makanya, yang sekitar sebaiknya jangan ikut-ikutan terlalu jauh. Saya ulangi lagi, sebatas mendamaikan, mendesak institusi internasional terkait dan mendorong perundingan saja.

Tantangan masih sangat besar. Komunitas ASEAN 2015 sudah di depan mata. Sejarah telah bercerita, sudah terlalu banyak perselisihan kecil yang memuai menjadi pertempuran raksasa.

Jangan sampai ada yang pihak ketiga yang memanfaatkan kekisruhan yang tidak seharusnya membesar ini.  Apa yang terjadi di Timur Tengah di beberapa puluh tahun belakangan ini cukup hadir di layar televisi dan media cetak nasional saja. Jangan sampai terhidang di hadapan mata secara langsung :(.

Seperti pesan negarawan ternama dunia yang satu ini :

“When there is no enemy within, the enemies outside cannot hurt you.”
― Winston Churchill

Seperti  kebiasaan kecil saya dulu jika pertengkaran dengan seorang teman mulai usai, sambil senyum malu-malu, kami akan saling mengaitkan jari kelingking Pertanda … perdamaian :).

Kalau orang sulsel bilang, “Janganmi baku bombe’-bombe’!” Hehehe.

Singapura dan Malaysia, saling mengaitkan jari kelingking, yuk ;).

gambar :  unikbaca.com
gambar : unikbaca.com

***

You Never Shine If You Don’t Glow, Laos!

Namanya juga ibu-ibu. Begitu mendengar Laos, selain sudah tahu bahwa Laos adalah salah satu negara ASEAN, pikiran langsung bercampur dengan urusan dapur :P. Laos adalah nama lain dari lengkuas, salah satu bumbu khas di tanah air.

Untuk sebagian besar masakan utama nusantara, laos hanya dikenal sebagai bumbu tambahan. Tapi ketidakhadirannya memiliki pengaruh yang tidak kecil. Walau tak terlihat, cita rasa lengkuas mempengaruhi rasa keseluruhan masakan.

Hal yang sama bisa kita analogikan untuk kehadiran negara Laos di tengah-tengah negara ASEAN lainnya. Bersama Vietnam, Kamboja dan Myanmar, Laos termasuk pendatang baru dalam Komunitas ASEAN. Kehadiran keempat anggota tambahan ini membuat ASEAN makin semarak sekaligus menimbulkan ketimpangan. Terutama dalam urusan pendapatan negara alias … urusan duit. Hehehe. 

gambar : travel.nationalgeographic.com
LAOS (gambar : travel.nationalgeographic.com)

Bukannya mata duitan :D. Soalnya kerjasama dalam bidang Ekonomi adalah salah satu dari 3 pilar utama yang ingin dikejar dalam kesuksesan kerjasama Komunitas ASEAN 2015 nanti, selain bidang Keamanan dan Sosial Budaya.

Seperti yang pernah saya tekankan dalam penutup tulisan saya yang lalu,

Menuju terbentuknya Komunitas ASEAN 2015, Sangat penting mensejajarkan kualitas antar bangsa dalam merintis sinergi positif bersama negara-negara ASEAN lainnya. Keseimbangan dalam berbagai hal adalah kunci dari hubungan yang sehat dalam bidang apa pun.

Misalnya saja kisruh ekonomi yang pernah dan masih menimpa negara Yunani yang tergabung dalam Komunitas Uni Eropa. Yunani yang meradang, seluruh Uni Eropa ikut pusing tujuh keliling.

Laos, Pacar Ketinggalan Kereta

Posisi perekonomian Laos memang jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya. Sebenarnya sih malas, ya, bawa-bawa grafik. Tapi saya bikin grafiknya sesederhana mungkin untuk melihat posisi perekonomian “Negeri Seribu Gajah” ini dibanding sembilan anggota lainnya.

Datanya saya ambil dari situs wikipedia di sini. Enggak usah kita bahas angka-angka. Saya terjemahkan langsung ke dalam bentuk pie chart warna warni biar kelihatan unyu dan mudah-mudahan tidak bikin pening :P.

Jumlah Penduduk Negara-Negara ASEAN
Jumlah Penduduk Negara-Negara ASEAN

Kita mulai dari jumlah penduduk terlebih dahulu. Memang, jumlah penduduk Laos tergolong 3 yang terkecil. Penduduk Laos hanya lebih banyak daripada Singapura dan Brunei saja. Potongan kue paling gede siapa lagi kalau bukan…Indonesia! :D. Brunei tidak muncul karena jumlah penduduknya sangat sedikit berdasarkan tautan yang saya jadikan sumber data tadi.

Tapi jangan kaget kalau melihat pendapatan per kapita (per kepala) / tahun negara-negara di ASEAN. Kebalikan dengan jumlah penduduk, justru Singapura dan Brunei yang miskin jumlah warga mencuat dalam segi kesejahteraan tiap penduduknya. Jauh melampaui negara-negara ASEAN lain. Laos masuk 3 terbawah.

Total Pendapatan Negara diantara negara-negara ASEAN
Total Pendapatan Negara diantara negara-negara ASEAN

Kategori kekuatan ekonomi suatu negara juga dinilai dari Pendapatan Nasional secara keseluruhan. Didukung oleh jumlah penduduk yang dahsyat serta sumber daya alam yang cukup mumpuni, Indonesia tetap bertengger di urutan paling atas ^_^. Laos, lagi-lagi menempati peringkat paling bawah.

Sudah terbayang tidak kedudukan Laos? Laos bukan negara dengan penduduk paling sedikit. Bukan negara dengan luas wilayah paling kecil. Laos masih jauh lebih luas dibandingkan Singapura, Brunei dan Kamboja. Tapi pendapatan nasionalnya sangat kecil.

Kesempatan dalam Kesempitan, Posisikan Laos Sebagai ‘Jembatan Penghubung’

Kalau Indonesia terlihat rumit dengan wilayahnya yang terpencar-pencar dalam bentuk kepulauan dan selat-selat, letak negara Laos yang terjepit di tengah-tengah juga kurang menguntungkan. Laos sama sekali tidak berbatasan dengan laut. Laos berbatasan darat secara langsung dengan RRC, Myanmar, Thailand, Vietnam dan Kamboja.

Posisi ‘terkunci’ ini juga menyebabkan Laos sering kena getah bila negeri tetangga bergejolak. Terutama dari Vietnam dan Myanmar yang pernah berkubang dalam konflik internal berkepanjangan. Logikanya, bila negara sedang bermasalah, sebagian warga pasti mencari perlindungan ke negara-negara tetangga yang mudah dijangkau. Hingga stabilitas dalam negeri negara tujuan ikut-ikutan terganggu.

Jembatan Penghubung (123rf.com)
Jembatan Penghubung (123rf.com)

Tapi, Laos bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Laos punya potensi sebagai negara penghubung. Apalagi Laos punya hubungan baik dengan Cina (karena sama-sama menganut paham komunis), sementara kita tahu Cina tengah habis-habisan menggenjot produksinya. Barang-barang Cina dipakai di mana-mana.

Laos bisa jeli melihat peluang ini. Segera maksimalkan potensi sebagai ‘jembatan penghubung’ antara Cina dan negara-negara ASEAN lainnya via darat. Tak cuma dengan Cina, Laos juga bisa menyediakan infrastruktur transportasi yang memadai untuk membantu perdagangan via darat antara wilayah utara Bangkok dan wilayah Hanoi misalnya. Jalan terpendek untuk arus pengiriman kedua kota besar ini adalah melalui daratan Laos.

Cuma, infrastruktur Laos memang masih kurang digali. Berdasarkan tautan berikut, infrastruktur Laos masih sangat minim di berbagai wilayah. Fokus pada pembangunan infrastruktur juga membawa dampak internal yang baik bagi warga Laos. Transportasi sungai mungkin bisa dikembangkan dengan membangun jembatan secara fisik. Irlandia yang wilayahnya bertabur sungai juga rajin membangun jembatan :).

Dari tautan yang sama juga, Laos ternyata kekurangan sumber daya manusia berpotensi karena sebagian besar mereka ‘kabur’ ke luar negeri mencari kesempatan yang lebih baik. Kalau dalam negeri sudah dibenahi, dijamin pada betah, kan, enggak kabur-kabur lagi ;).

Sulit juga. Mau membangun, sumber daya terbatas. Nah, soal sumber daya manusia di era-era pembangunan awal, yang negaranya sarat penduduk ahli bisa menawarkan bantuan. Para insyinyur di Indonesia, mana suaranya? Hehehe. Daripada ilmu tak terpakai karena semua sibuk melamar kerja di bank, hayoooo :P, mending sebagian hijrah ke Laos :D. Tentu saja peran dan perlindungan dari segi diplomatik dan sebagainya, baik pemerintah Laos maupun Indonesia sangat dinanti ;).

Bila infrastruktur transportasi Laos membaik, selain Cina, yang kena manisnya adalah negara-negara ASEAN di sekitarnya juga, kan? Ada Thailand-Myanmar-Kamboja-Vietnam. Mengingat potensi keuntungan yang cukup tinggi secara ekonomis, keempat negara ASEAN tadi bisa aktif berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur dalam negeri Laos. Didukung dengan investasi sumber daya manusia dari Indonesia, tambah tokcer, deh.

Laos, Potensi Kekayaan Alam yang Tak Ada Matinya

Kalau berbicara sumber daya alam, sebagian besar negara-negara ASEAN ternyata kaya. Termasuk Laos. Sebut saja, potensi wisata? Banyak.

Enggak usah banyak ditulis. Disimak langsung saja foto-fotonya ^_^.

Laos

Belum lagi dari info di sini, bahwa pada 1993 lalu, pemerintah mencanangkan 21% dari wilayah negara sebagai Area Konservasi Keanekaragaman Hayati Nasional (National Biodiversity Conservation Area/NBCA), yang akan dikembangkan menjadi taman nasional. Bila jadi, diperkirakan akan menjadi taman nasional terbaik dan terluas di Asia Tenggara. Yes!

Soal wisata, Laos bisa aktif bekerjasama dengan Thailand. “Negeri Gajah Putih” ini termasuk salah satu wilayah wisata yang popular di ASEAN. Letaknya bersebelahan langsung dengan Laos. Bisa saling berinvestasi di bidang penawaran paket wisata. Misalnya bikin program “Bulan Madu Seminggu di Thailand dan Laos” (“One Week of Happiness in Thailand and Laos”).

Letaknya yang berdekatan, biayanya bisa ditekan, kan? Jadi, pengunjung bisa menikmati Thailand dan Laos dengan harga yang terjangkau.

Potensi lainnya bagaimana? Saya ambil dari sumber yang ini,  Laos juga punya  koleksi hasil hutan. Ada kayu  jati dan cendana yang bisa diolah dengan harga jual yang tidak main-main. Tanaman pertanian bervariasi dari padi, jagung, ubi-ubian, kopi, tembakau, kacang tanah dan kapas.

pertanian
123rf.com

Ini masalahnya mirip-mirip semua antar beberapa negara ASEAN. Potensi segambreng, pengolahan dan promosinya yang masih ngos-ngosan 🙁.

You Never Shine if You Dont’ Glow, Laos!

Soal wisata di Laos, adanya pembebasan visa dari tiap kunjungan antar sesama anggota ASEAN (kecuali Myanmar) minimal sudah bisa mengangkat jumlah turis secara signifikan. Jangan meremehkan potensi jumlah penduduk ASEAN. Seluruh penduduk ASEAN ini kalau digabung jumlahnya lebih  besar daripada seluruh penduduk Uni Eropa, lho ;).

Kuncinya? Promosi, promosi, promosi. Selain promosi, transportasi dan akomodasi lagi-lagi kunci kelemahan sebagian besar wilayah ASEAN.

Contohnya saja, banyak teman-teman saya di Jakarta mengeluh, biaya ke Raja Ampat-Papua masih lebih mahal daripada  biaya liburan ke Legoland Malaysia?  Padahal yang satu dalam negeri yang satunya ke luar negeri. Tanya kenapa?

Pada akhirnya, kita cuma bisa memberi ide ini itu. Pelaksanaan ada di tangan pemerintahan Laos. Sebagai sedikit dari negara berpaham komunis yang tersisa, Laos sudah menunjukkan kemajuan dengan memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat sejak tahun 2004. 

Komunitas ASEAN 2015 bisa menjadi cambuk bagi masing-masing anggotanya yang tertinggal untuk mengejar yang lain. Sekaligus menjadi kesempatan untuk berbagi bagi negara-negara yang sudah lebih dahulu melesat. Banyak memberi banyak menerima. Win-win solution.

Sedangkan untuk Laos sendiri, “For us to regard others as worthy, we have to begin by regarding ourselves as worthy.” (Stephen Richards)

Agar orang lain bisa menghargai keberadaan kita, penghargaan terhadap eksistensi diri dimulai dari diri sendiri :). Remember … you never shine if you don’t glow. Bersinarlah, Laos. Bersama-sama kita pendarkan cahaya ASEAN jauh menembus pelosok dunia :).

123rf.com
123rf.com

***