Dari usia 8 tahun, saya suka gemas kalau melihat cerpen-cerpen di majalah Bobo. Selalu terpikir, “Idih, kalau nulis ginian, gue juga bisa.” Hahaha. Pede tingkat dewa :P.

Dengan tekun saya tulis tangan sebuah cerita pendek di atas beberapa lembar kertas. Ketika dengan semangat menunjukkan hasilnya pada ibu, ibu malah bingung, “Ngapain ngerjain aneh-aneh. Nilai-nilaimu kan bagus-bagus. Konsen saja di sekolah.”
Sempat saya cari sendiri alamat redaksi di majalah bobo. Dari kakak saya, saya diberi tahu, “Pergi aja ke kantor pos. Beli perangko. Tulis alamat di amplop. Gampang, kok.”
Saya turuti. Benar-benar saya kirim cerpen tulisan tangan itu ke redaksi majalah Bobo Rasa bahagia membubung tinggi. Tidak terlalu peduli apa tulisannya diterima atau tidak. Di usia sekecil itu, saya sudah tahu passion sejati saya.
Seperti yang ada dalam trailer novel “Cine Us”, “Kenapa enggak kejar impian dari sekarang?”
Benar juga. Kenapa tidak dikejar sejak dulu, sejak kecil, di usia yang sangat dini, 8 tahun. Saya percaya diri punya bakat, ambisi pun menyala-nyala. Di SD ini, walau tak pernah meniatkan untuk publikasi, saya menulis dengan rajinnya minta ampun.
Hingga akhirnya kelas 6 SD, bapak saya meninggal. Ekonomi keluarga pasti terancam. Kami ini 7 bersaudara dengan ekonomi menengah. Bapak pencari nafkah utama. Saya jadi tersadar. Benar kata ibu, ngapain, ah, mengejar hobi yang tidak pasti begini. Mending saya konsentrasi belajar serius.
***
Dari kelas 1 SMP, menjadi dokter adalah cita-cita saya. Prestasi sekolah saya memang tokcer :P. Jika waktu SD, saya membagi konsentrasi antara menulis dan belajar, di SMP saya kurangi hobi menulis. SMA, saya tinggalkan 100%. Hanya menulis buku harian, tak ada lagi fiksi-fiksi ringan di atas berlembar-lembar kertas yang dulu bisa dikerjakan sambil senyum-senyum.
Di SMA, nilai rapor mencapai puncak. Dari cawu 1 kelas 1, sampai cawu 3 kelas 3, peringkat 1 di kelas tidak pernah lepas sekali pun.

Namun, cita-cita menjadi dokter kandas di kelas 3 SMA saat seorang kakak kelas yang kuliah di kedokteran umum menceritakan kepada saya mengenai seluk beluk kuliah kedokteran. Harapan langsung menguncup. Biaya mahal, sekolahnya lama, kalau lulus masih berendeng hal yang harus dihadapi sebelum bisa praktik dengan honor ratusan ribu per pasien hihihihi :P.
Maunya kuliah agar cepat-cepat lulus dan tidak menjadi beban keluarga. Kalau bisa segera ikut menopang ekonomi keluarga. Jadi dokter, coret! Padahal, setelah menulis, menjadi dokter adalah ambisi terbesar ke-2.
Akhirnya, memilih kuliah di jurusan teknik informatika. Menurut pembimbing di tempat bimbel, masa depan lulusan informatika sangat cerah. Gajinya bisa gede walau baru lulus, gampang pula mendapat kerja karena lulusannya masih sedikit.
Pilihan ini saya simpan rapat-rapat. Semua sahabat mengira saya memillih kedokteran umum, termasuk ibu dan kakak-kakak saya hehe.
Jadi, ketika pengumuman UMPTN tiba, gempar deh, duaaarrrr! Walau saya sempat ragu, karena benar-benar tidak mengerti seluk beluk jurusan ini, tapi tetap semangat melihat ibu yang menghapus airmatanya saat membantu saya membereskan isi koper untuk berangkat merantau ke Jakarta. Kata ibu saat itu, “Hebatnya bisa tembus UI.”
***
Lulus kuliah dengan nilai gemilang, langsung meniti karir di IT cukup serius. Benar, begitu lulus langsung dapat kerja dengan gaji juta-juta. Hingga akhirnya bekerja di salah satu perusahaan consumer goods terbesar di Indonesia. Berharap terus meniti karier lebih tinggi dari balik meja dengan mengandalkan kemampuan di bidang IT.

Tahun 2008, anak pertama lahir. Setelah cuti 3 bulan, keraguan datang lagi. Di suatu pagi waktu mau berangkat kantor,tak sengaja melihat baby sitter saya bercengkrama dengan bayi saya. Bayi saya cekikikan mendengar si baby sitter menyanyikan lagu “Bintang Kecil.” Sakit hatinya jangan ditanya. Itu pertama kalinya melihat Nabil, anak sulung saya, tertawa. Dia tertawa pertama kali bukan dalam tangan saya.
Waktu itu mulai deh berpikir serius. Menata kembali tujuan hidup.Toh, dulu saya bekerja tujuan utamanya untuk melanjutkan tongkat estafet keluarga. Dari kelas 1 SMA, usaha yang ditinggalkan almarhum bapak sudah lama bangkrut. Rumah, kios tempat mengais nafkah dan segala macam sudah habis terjual.
Jadi, begitu lulus dan bekerja, saya niatkan separuh gaji untuk membalas jerih payah kakak yang sudah membiayai saya, dengan cara membiayai kuliah adik. Tapi, adik saya pun sudah lulus. Kakak-kakak yang lain juga sudah mulai mantap kariernya. Mungkin, sudah saatnya saya mulai berkonsentrasi penuh pada suami dan anak-anak saya, cinta saya yang baru.

Walau berat karena ibu sempat tidak setuju, saya kuatkan saja untuk resign. Di hari terakhir saat mengambil barang-barang di kantor, saya tersedu-sedu di atas meja selama hampir satu jam. Sungguh tak mengira, setelah 7 tahun penuh saya habis-habisan mengejar karier, saya sanggup memutuskan untuk berhenti.
***
Habis resign, tujuannya akan segera mengambil S2. Saya ingin menjadi dosen. Kalau menjadi dosen paruh waktu, diharapkan waktu lebih fleksibel dan berharap bisa kembali menekuni dunia menulis.
Yang terjadi, pertengahan 2010, suami memboyong kami ke Jeddah. Juli 2010, saya terbang berdua Nabil menuju bandara King Abdul Aziz di Jeddah, menyusul suami yang sudah terlebih dahulu tinggal di Jeddah.
Panjang sekali jalan untuk akhirnya bisa kembali menekuni ambisi utama sedari kecil setelah punya 2 anak, usia tak lagi muda. Saat aktif menulis ke media cetak dan menerbitkan buku di usia 33 tahun, seperempat abad telah berlalu sejak saya berkata kepada diri sendiri di usia 8 tahun, “Saya mau jadi penulis.”

Tidak menyesal juga harus menunggu 25 tahun :). Di setiap tahapannya, saya selalu menikmati. Walau tak selalu menjalani semuanya dengan ambisi penuh dalam diri sendiri. Saya rasa, kadang-kadang, impian dan cinta tidak selalu beriringan. Tapi, jangan khawatir. When it’s time … it’s time 🙂.
Di bangku sekolah, prioritas adalah belajar. Jangan diniatkan untuk diri sendiri saja tapi untuk cinta mereka yang berjuang agar kita bisa meniti jalan di sana. Ayah dan ibu saya, keduanya tak lulus SMP tapi begitu gigih menginginkan kami melebihi mereka.
Walau tak berhasil menggenggam ijazah dokter, di hari wisuda, dada lumayan sesak melihat wajah ibu bersinar bangga, “Wah, lulusnya cepat juga. Sudah kerja lagi.” Sebelum resmi mengenakan toga, saya sudah diterima bekerja :).
When it’s time to change, then its time to change
Don’t fight the tide, come along for the ride, don’t you see
When it’s time to change, you’ve got to rearrange
who you are into what you’re gonna be. (Brady Branch – Time to Change)
Jadi, arti kebanggaan untuk saya adalah … menyeimbangkan impian dan cinta sesuai porsinya masing-masing :).
Mungkin saja, kebanggaan itu letaknya di dalam diri sendiri. Tapi selain impian, ada cinta yang menjadi bagian dari rasa bangga. Membahagiakan semua yang kita cintai memang mustahil, tapi di tiap jenjang, di tiap langkah, kita selalu bisa memilih. Sementara saya pribadi meyakini, bangga itu satu paket dengan bahagia, “Happiness is a hard thing because it is achieved only by making others happy.”
























