When It’s Time … It’s Time

Dari usia 8 tahun, saya suka gemas kalau melihat cerpen-cerpen di majalah Bobo. Selalu terpikir, “Idih, kalau nulis ginian, gue juga bisa.” Hahaha. Pede tingkat dewa :P.

gambar : ivyleagueinsecurities.com
gambar : ivyleagueinsecurities.com

Dengan tekun saya tulis tangan sebuah cerita pendek di atas beberapa lembar kertas. Ketika dengan semangat menunjukkan hasilnya pada ibu, ibu malah bingung, “Ngapain ngerjain aneh-aneh. Nilai-nilaimu kan bagus-bagus. Konsen saja di sekolah.”

Sempat saya cari sendiri alamat redaksi di majalah bobo. Dari kakak saya, saya diberi tahu, “Pergi aja ke kantor pos. Beli perangko. Tulis alamat di amplop. Gampang, kok.”

Saya turuti. Benar-benar saya kirim cerpen tulisan tangan itu ke redaksi majalah Bobo Rasa bahagia membubung tinggi. Tidak terlalu peduli apa tulisannya diterima atau tidak. Di usia sekecil itu, saya sudah tahu passion sejati saya.

Seperti yang ada dalam trailer novel “Cine Us”, “Kenapa enggak kejar impian dari sekarang?”

Benar juga. Kenapa tidak dikejar sejak dulu, sejak kecil, di usia yang sangat dini, 8 tahun. Saya percaya diri punya bakat, ambisi pun  menyala-nyala. Di SD ini, walau tak pernah meniatkan untuk publikasi, saya menulis dengan rajinnya minta ampun.

Hingga akhirnya kelas 6 SD, bapak saya meninggal. Ekonomi keluarga pasti terancam. Kami ini 7 bersaudara dengan ekonomi menengah. Bapak pencari nafkah utama. Saya jadi tersadar. Benar kata ibu, ngapain, ah, mengejar hobi yang tidak pasti begini. Mending saya konsentrasi belajar serius.

***

Dari kelas 1 SMP, menjadi dokter adalah cita-cita saya. Prestasi sekolah saya memang tokcer :P. Jika waktu SD, saya membagi konsentrasi antara menulis dan belajar, di SMP saya kurangi hobi menulis. SMA, saya tinggalkan 100%. Hanya menulis buku harian, tak ada lagi fiksi-fiksi ringan di atas berlembar-lembar kertas yang dulu bisa dikerjakan sambil senyum-senyum.

Di SMA, nilai rapor mencapai puncak. Dari cawu 1 kelas 1, sampai cawu 3 kelas 3, peringkat 1 di kelas tidak pernah lepas sekali pun. 

Gambar : cerita.web.id
Gambar : cerita.web.id

Namun, cita-cita menjadi dokter kandas di kelas 3 SMA saat seorang kakak kelas yang kuliah di kedokteran umum menceritakan kepada saya mengenai seluk beluk kuliah kedokteran. Harapan langsung menguncup. Biaya mahal, sekolahnya lama, kalau lulus masih berendeng hal yang harus dihadapi sebelum bisa praktik dengan honor ratusan ribu per pasien hihihihi :P.

Maunya kuliah agar cepat-cepat lulus dan tidak menjadi beban keluarga. Kalau bisa segera ikut menopang ekonomi keluarga. Jadi dokter, coret! Padahal, setelah menulis, menjadi dokter adalah ambisi terbesar ke-2.

Akhirnya, memilih kuliah di jurusan teknik informatika. Menurut pembimbing di tempat bimbel, masa depan lulusan informatika sangat cerah. Gajinya bisa gede walau baru lulus, gampang pula mendapat kerja karena lulusannya  masih sedikit.

Pilihan ini saya simpan rapat-rapat. Semua sahabat mengira saya memillih kedokteran umum, termasuk ibu dan kakak-kakak saya hehe.

Jadi, ketika pengumuman UMPTN tiba, gempar deh, duaaarrrr! Walau saya sempat ragu, karena benar-benar tidak mengerti seluk beluk jurusan ini, tapi tetap semangat melihat ibu yang  menghapus airmatanya saat membantu saya membereskan isi koper untuk berangkat merantau ke Jakarta. Kata ibu saat itu, “Hebatnya bisa tembus UI.”

***

Lulus kuliah dengan nilai gemilang, langsung meniti karir di IT cukup serius. Benar, begitu lulus langsung dapat kerja dengan gaji juta-juta. Hingga akhirnya bekerja di salah satu perusahaan consumer goods terbesar di Indonesia. Berharap terus meniti karier lebih tinggi dari balik meja dengan mengandalkan kemampuan di bidang IT.

Masa-masa berkarier di kantor
Masa-masa berkarier di kantor

Tahun 2008, anak pertama lahir. Setelah cuti 3 bulan, keraguan datang lagi. Di suatu pagi waktu mau berangkat kantor,tak sengaja melihat baby sitter saya bercengkrama dengan bayi saya. Bayi saya cekikikan mendengar si baby sitter menyanyikan lagu “Bintang Kecil.” Sakit hatinya jangan ditanya. Itu pertama kalinya melihat Nabil, anak sulung saya, tertawa. Dia tertawa pertama kali bukan dalam tangan saya. 

Waktu itu mulai deh berpikir serius. Menata kembali tujuan hidup.Toh, dulu saya bekerja tujuan utamanya untuk melanjutkan tongkat estafet keluarga. Dari kelas 1 SMA, usaha yang ditinggalkan almarhum bapak sudah lama bangkrut. Rumah, kios tempat mengais nafkah dan segala macam sudah habis terjual.

Jadi, begitu lulus dan bekerja, saya niatkan separuh gaji untuk membalas jerih payah kakak yang sudah membiayai saya, dengan cara membiayai kuliah adik. Tapi, adik saya pun sudah lulus. Kakak-kakak yang lain juga sudah mulai mantap kariernya. Mungkin, sudah saatnya saya mulai berkonsentrasi penuh pada suami dan anak-anak saya, cinta saya yang baru.

Para ananda tercinta
Para ananda tercinta

Walau berat karena ibu sempat tidak setuju, saya kuatkan saja untuk resign. Di hari terakhir saat mengambil barang-barang di kantor, saya tersedu-sedu di atas meja selama hampir satu jam. Sungguh tak mengira, setelah 7 tahun penuh saya habis-habisan mengejar karier, saya sanggup memutuskan untuk berhenti.

***

Habis resign, tujuannya akan segera mengambil S2. Saya ingin menjadi dosen. Kalau menjadi dosen paruh waktu, diharapkan waktu lebih fleksibel dan berharap bisa kembali menekuni dunia menulis.

Yang terjadi, pertengahan 2010, suami memboyong kami ke Jeddah. Juli 2010, saya terbang berdua Nabil menuju bandara King Abdul Aziz di Jeddah, menyusul suami yang sudah terlebih dahulu tinggal di Jeddah.

Panjang sekali jalan untuk akhirnya bisa kembali menekuni ambisi utama sedari  kecil setelah punya 2 anak, usia tak lagi muda. Saat aktif menulis ke media cetak  dan menerbitkan buku di usia 33 tahun, seperempat abad telah berlalu sejak saya berkata kepada diri sendiri di usia 8 tahun, “Saya mau jadi penulis.”

Writer Mom
A Writer Mom 🙂

Tidak menyesal juga harus menunggu 25 tahun :). Di setiap tahapannya, saya selalu menikmati. Walau tak selalu menjalani semuanya dengan ambisi penuh dalam diri sendiri. Saya rasa, kadang-kadang, impian dan cinta tidak selalu beriringan. Tapi, jangan khawatir. When it’s time … it’s time 🙂.

Di  bangku sekolah, prioritas adalah belajar. Jangan diniatkan untuk diri sendiri saja tapi untuk cinta mereka yang berjuang agar kita bisa meniti jalan di sana. Ayah dan ibu saya, keduanya tak lulus SMP tapi begitu gigih menginginkan kami melebihi mereka.

Walau tak berhasil menggenggam ijazah dokter, di hari wisuda, dada lumayan sesak melihat wajah ibu bersinar bangga, “Wah, lulusnya cepat juga. Sudah kerja lagi.” Sebelum resmi mengenakan toga, saya sudah diterima bekerja :).

When it’s time to change, then its time to change
Don’t fight the tide, come along for the ride, don’t you see
When it’s time to change, you’ve got to rearrange
who you are into what you’re gonna be. (Brady Branch – Time to Change)

Jadi, arti kebanggaan untuk saya adalah … menyeimbangkan impian dan cinta sesuai porsinya masing-masing :).

Mungkin saja, kebanggaan itu letaknya di dalam diri sendiri. Tapi selain impian, ada cinta yang menjadi bagian dari rasa bangga. Membahagiakan semua yang kita cintai memang mustahil, tapi di tiap jenjang, di tiap langkah, kita selalu bisa memilih. Sementara saya pribadi meyakini, bangga itu satu paket dengan bahagia, “Happiness is a hard thing because it is achieved only by making others happy.”

Jangan sampai hilang asa karena merasa berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Percayalah, waktunya akan datang, segalanya akan berbayar. Kapan? When it’s time … it’s time :).
Gambar : www.facebookstatusbase.com
Gambar : www.facebookstatusbase.com

***

Buku Memoar of Jeddah : Stands at Times of Challenge and Controversy

 

Buku Memoar of Jeddah : Kalau diberi pertanyaan mengenai film paling berkesan, kira-kira sama tidak, ya, jawabannya dengan film paling favorit? Karena buat saya, TIDAK .

Film paling berkesan itu justru … “Dreamcatcher”. Filmnya justru sama sekali tidak menarik. Manalagi saya bukan penggemar film thriller, apalagi thriller super garing yang melibatkan makhluk aneh-aneh macam cacing raksasa seperti di film ini .

Nonton film itu berempat, bareng teman-teman kampus yang malah akrab setelah kami lulus kuliah. Pas lulus itu, ceritanya nge-geng, hahaha, tua-tua kok baru punya geng . K

Sesekali, kami nonton film. Nah, waktu itu, sedang enggak ada film oke yang diincar. Langsung datang ke bioskop dan milih-milih judul yang ada saja. Tertarik dengan “Dreamcatcher” karena si Mr.G ngotot pengin nonton yang mistik-mistik katanya. Yang lain akhirnya setuju demi melihat potongan kalimat di bawah judul film, “based on novel by Stephen King.”

Itulah film terburuk yang pernah saya tonton di bioskop!

Peristiwa nonton film ini sudah diawali dengan insiden salah putar film. Setengah jam setelah duduk dalam teater, yang diputar malah film animasi.

“Eh, tadi bukan film animasi, kan?”
“Keluar yok ah, salah masuk bioskop kali.”
“Udah sih, liat aja dulu.”
“Kayaknya iklan doang ini.”
“Iklan? Ini udah ampir setengah jam gilak.”

Lagi seru-serunya berdebat, film benerannya pun diputar, “Dreamcacther.” Iya sih, 15 menit pertamanya bagus dan bikin penasaran. Kami menonton dengan serius. Tapi enggak ada angin, enggak ada hujan, begitu scene yang memunculkan seekor cacing raksasa dari balik jamban… hadeuuuhhh… penonton kecewa! Hahaha.

Sumpah ya, logika filmnya benar-benar aneh . Sudah ingin keluar bahkan sebelum satu jam film diputar, tapi ngapain di luar? Soalnya teman saya 2 orang berkeras mau menonton sampai habis. Sementara teman saya satu lagi sudah sibuk sms-an, tidak serius menonton lagi.

Keluar bioskop, Mr.G langsung jadi sasaran kemarahan. Hahaha. Sepanjang jalan menuju tempat makan malam, kami sibuk mencela film tersebut.

Nah, di janjian “Jalan-jalan berempat” seterusnya, momen ini terus terbawa-bawa. Padahal gondok pas hari H nya. Setelah itu, malah jadi bahan ketawa-ketawa… sampai terakhir kami bertemu kembali waktu mudik november kemarin. Film ini yang selalu kami bahas di hampir setiap kesempatan bertemu. Film yang paling berkesan dan tak terlupakan. Hehehe.

Memang begitu seringnya. Hal-hal yang berkesan justru tidak dibangun dari kejadian-kejadian indah dan selalu membahagiakan. Kadang, gampang saja melupakan pengalaman-pengalaman indah tapi sulit menghapus yang tidak indah .

***

Sebelum ke Saudi yang saya bayangkan wilayah ini pasti sangat religius. Walau berada di bawah kucuran sinar matahari nan menyengat, masa iya kehadiran dua kota suci, Mekkah dan Madinah, tidak bisa menyejukkan kehidupan sehari-hari pemukim di sana. Hidup bersahaja yang selalu ditunjukkan rasulullah pasti dong menjadi ciri utama masyarakat sana.

Kenyataan berbicara sebaliknya. Hampir seluruh wilayah elit perkotaan dikepung mal-mal besar dan megah. Sampai menganga, deh, kalau lewat di salah satu sudut Tahliya Street.

Kontras dengan membanjirnya mal-mal mewah, parkiran mal tidak sedikit yang dipenuhi pengemis-pengemis kecil yang menadahkan tangan atau menjual pernak pernik macam sapu tangan dll.

Lihat Ferrari mah sampai bosan. Itu deretan mobil mewah punya adiknya Atut yang bikin ngiler, bolak balik lewat di jalan-jalan besar Kota Jeddah . But again, di perempatan lampu merah yang jual asongan juga banyak.

Di Jakarta, di Jeddah…

“Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…” (Ahmad Syafii Maarif)

***

Sempat merasa gamang *tsaaahh*. Tapi ya, kalau cuma bisa bete apa pula gunanya. Rezeki suami toh ada di Jeddah. Suami selalu menghibur, “Kita kan tidak hidup dengan cara mereka. Kita di sini mencari rezeki.”

Pikiran mulai teralih. Manusia mah suka rusuh memikirkan hal-hal di luar jangkauan –> tunjuk diri sendiri! Seringnya luput berkaca ke dalam diri sendiri.

Benar kata suami. Merantau ke Timur Tengah relatif lebih mudah daripada melangkah langsung dari Indonesia ke negara-negara maju. Wajar. Saingan dikit hehe. Biaya hidup murah (beda lho dengan negara TimTeng lain), apalagi untuk penganut Goberisme . Selisih pendapatan dan pengeluaran yang jumlahnya lumayan bisa dipersembahkan sebagai devisa untuk tanah air . Syukur-syukur mengurangi kepadatan penduduk Jakarta juga, kan? Hehe.

Kelakuan orang-orang di Jeddah juga luar biasa. Sekolah hafidz di mana-mana, tapi entah dimana itu hapalan alquran yang dibangga-banggakan dalam berinteraksi dalam keseharian, apalagi kalau sudah menyetir di jalan raya. Semenjak di Jeddah, jadi rajin baca doa keluar rumah, nih, sebelum mobil distarter hahaha.

Banyak sekali alasan untuk jengkel. Apalagi kalau bermukim sebagai pendatang. Indonesia pula, perempuan pula. Otomatis itu stempel ‘TKW’ terukir di dahi masing-masing. Yassalam ya, mesti banyak-banyak istighfar hehe.

Suami pernah menyarankan saya yang awalnya ngomel-ngomel melulu untuk meng-upgrade penampilan, “Belilah satu dua barang mahal. Abaya yang elit dikit. Daripada ngomel melulu.”

Rasain lu dinyinyirin sama suami sendiri hehe.

Lalu, kita jadi belajar dengan sendirinya. Begitulah cara-cara unik Tuhan untuk membuat kita belajar. Memegang prinsip di tengah terjangan dunia yang sungguh jauh berbeda dari yang dicita-citakan. Mengomel tanpa jelas juntrungannya? Capek doang dapatnya.

Itulah ujiannya. Bagaimana menjalani keyakinan tanpa perlu sibuk ngomelin lingkungan.

Setelah sok-sok ikhlas menerima keadaan, mulai dong memutuskan untuk menciptakan kebahagiaan ala diri sendiri. Tanpa perlu meleburkan diri dalam hal-hal tidak disukai sekaligus tidak perlu memprotes mereka yang memilih untuk ‘berubah’.

Daripada menyibukkan diri dengan yang bete-bete, mari dicari-cari apa yang bisa dinikmati. Mumpung hidup di tengah situasi ‘keras’, saatnya berusaha menggembleng diri untuk menjadi lebih bijak. Katanya sih begitu hehe.

Malah di Jeddah, jadi rajin menulis. Padahal resign sudah dua tahun sebelumnya. Bikin blog komunitas macam-macam. Judulnya blog komunitas, tapi behind the screen nya mah, eike-eike juga yang menulis hahaha. Tapi, jam terbang sudah mulai menunjukkan hasilnya, kan? .

Betul juga ternyata. Kala sudah ada kepastian harus hengkang dari Jeddah, ide menuangkan pelajaran-pelajaran penting yang dituai selama tinggal di Jeddah mulai ada. Begitulah asal mulanya “Memoar of Jeddah” dituliskan .

Banyak yang ‘berat’ dan mengesalkan, tapi kesannya justru dalam banget. Ratu drama pun mulai beraksi. Hampir tiap hari, di sebulan terakhir tinggal di Jeddah, terangkai banyak cerita dalam draft. Sebagian saya posting di wall, sebagian tetap dalam draft pribadi.

Kesal suka disangka ’embak’? Beragam pengalaman yang bikin gondok? Kita pun jadi memahami sepenuhnya … “People with bad behaviour only exist to remind us not to do the same thing” .

Bete dilecehkan karena penampilan? Tekankan kepada diri sendiri untuk tidak seenaknya menilai orang dengan cara yang sama. Inspirasi yang ini bisa ditemukan di Chapter 3 buku “Memoar of Jeddah” –> “(Never) Judge a Book by Its Cover.”

Apa iya orang-orang Arab itu kasar-kasar semua? Nah, jangan sampai mendengar cerita segelintir orang membuat kita bermain-main terlampau jauh dengan stereotip. Walau stereotip bahwa “Orang Bugis pasti manis” itu benar adanya (lemparin cermin :P), tapi belum tentu penilaian negatif tentang orang lain juga benar, kan?

Inspirasi tentang pengalaman pribadi saya berupa interaksi langsung orang-orang Arab selama di Jeddah, ada di chapter 8, “People We Haven’t Met Yet.”

Anugerah di tengah keterbatasan kehidupan perempuan di Saudi jauh lebih besar, salah satunya ada di 2 chapter favorit sang penulis. Yang pertama di chapter 2, “Saat Ka’bah Hanya Berjarak Satu Jam Saja.” Dan di chapter paling panjang, terukir dalam 20 halaman penuh, kisah “Naik Haji via Jeddah” dari hari pertama hingga hari ke-6 prosesi haji.

Kehidupan khas ala Saudi yang mungkin tak ada di tempat lain ada di chapter 4, “Ngabuburit ala Orang Arab” dan chapter 7, “Bergaya dengan Abaya.”

Tempat liburan hanya ada di Mekkah dan Madinah? Waduh, berarti belum pernah tinggal di Jeddah ini hihihi. Dari chapter 11-16, silakan dinikmati pesona lain Saudi selain 2 kota suci tadi .

Cerita jalan-jalan, lengkap dengan foto-foto. Walau dicetak hitam putih, foto-fotonya itu mahakarya fotografer kelas dunia, Bapak Dani Rosyadi . Mahakarya dari fotografer yang sama yang juga yang menghiasi cover buku “Memoar of Jeddah.” Abis ini gue pasti dapat inbox, “Lu ngapain sih bawa-bawa nama gue.” Hahaha. Sungkem dulu sama suami .

Chapter sisanya, berinti sama, bahwa kita sering terjebak dalam paradigma, “katanya, katanya, katanya…” Ingatlah salah satu mutiara pembelajaran dari Sayyidina Ali, bahwa, “Manusia memusuhi apa yang tidak diketahuinya.”

Bukunya ditutup dengan kesimpulan panjang lebar yang bisa dipadatkan dalam satu kalimat andalan yang jangan bosan ya bila sudah sering ditulis … “Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu” .

Chapter penutup, chapter 18 : “When One Door Closes, Another Opens.”

Demikianlah curhat sang penulis selama tinggal di Jeddah dipersembahkan dalam 18 chapter tulisan di dalam sebuah buku bertajuk, “Memoar of Jeddah, How Can I Not Love Jeddah?”

Kasihan lho ini, menyusunnya sampai berbulan-bulan . Beli yaaaa –> pasang tampang imut ala Pussy Boots . Kalau pun kurang berkenan membeli, minimal suruh temannya yang beli. Kan bisa numpang baca, tuh, hahaha.

Terbit tanggal 16 september 2013, sudah bisa didapatkan di toko-toko buku gramedia di seluruh Indonesia. Harganya sekitar 29 ribu rupiah. Mendapat diskon 10-15% bila dibeli via toko-toko buku online : inibuku.com, grazera.com, gramediaonline.com, parcelbuku.net dsb.

Mumpung sabtu-minggu tuh besok. Patungan deh patungan ama temannya hehehe. Kan bisa tuker-tukeran bacanya. Umm…apalagi ya kalimat bujukannya? hahaha. Alamak, susahnya cari uang, yak .

Therefore, saya tutup tulisan ini dengan pepatah cantik dari Marthen Luther King, Jr :

The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy.

Selamat membaca 🙂.

Memoar of Jeddah

***

Cara Menerbitkan Buku Indie : To See The Stars in The Dark :)

Setelah sebelumnya berkutat di cara menerbitkan buku indie di buku Bunda of Arabia, saya sedang hepi-hepinya, nih. Alhamdulillah, buku solo pertama “Memoar of Jeddah” terbit juga via penerbit Quanta-Gramedia.

Cara Menerbitkan buku indie
Buku saya tentang Kota Jeddah, “Memoar of Jeddah”

Kemarin, kabar gembira berikutnya datang dari penerbit lain yang mengincar tulisan-tulisan dalam blog saya 😀. Kalau akhirnya kontrak datang, habis deh isi blog gue kudu diumpetin semua hahaha.

Juga sedang menunggu finalisasi naskah novel yang juga dipesan oleh sebuah penerbit baru yang meminta saya membuat naskah untuk mereka. Mudah-mudahan cocok hihihi. Soalnya agak grogi bikin novel untuk pertama kali. Akankah tercapai hattrick tahun ini? “Aamiin” yang kencang :D.

Tapi, kali ini mau cerita tentang “Bunda of Arabia”, buku pertama yang saya terbitkan secara indie tahun lalu. Yang katanya disebut-sebut sebagai buku indie yang popular karena laku *uhukUhuk*, ini juga baru tahu dari beberapa teman blogger .

Cara menerbitkan buku indie

Hm…buku indie laku berarti untung besar dong, ya. Sejujurnya … saya mengaku saja. Secara materi, kerugian yang saya tanggung tidak sedikit .

Kok bisa? Begini ceritanya …

***

“Bunda of Arabia” terbit tidak atas dasar motivasi menulis. Justru, saat itu saya sedang asyik-asyiknya blogging untuk Mamasejagat dan CeritaJeddah. Sama sekali tidak terpikir mau jadi penulis buku, artikel di majalah dan semacamnya.

Buku itu saya ciptakan untuk membenahi pemikiran umum masyarakat di Indonesia, terutama teman-teman yang suka ‘rewel’ bertanya tentang Jeddah.

Waktu itu pula, iseng menantang diri sendiri. “Ayoooo, terbitin dalam tempo 3 bulan, bisa gak lo?”

Mulai deh berjuang. Biar seru, lebih bagus bentuk antologi yang ditulis beramai-ramai agar kesannya bukan cuma saya doang yang punya cerita menarik di Jeddah. Mengumpulkan kontributor saja sudah menguras energi. Walau awalnya berbunga-bunga karena teman-teman merespons positif. Giliran menagih naskah, ngibrit satu-satu hehe.

Setelah mati-matian mengedit sendiri (hampir) semua tulisan teman-teman, naskah pun jadi. Penerbit indie pun ditemukan. Kami sepakat membuat cover sendiri.

Sejak awal proses, friksi-friksi mulai muncul. Yaiyalah, 8 perempuan (1 nya dah keburu balik ke Jakarta :P) bekerja dalam satu tim jangan harap bisa lepas dari drama! Bosnya saja = ratu drama hihihi.

Cara menerbitkan buku indie Penulis BoA

Yang terlambat saya deteksi adalah semangat kebanyakan teman-teman tim yang mulai meredup bahkan sebelum buku terbit. Padahal sudah saya janjikan pembagian royalti sama rata walau modal saya tanggung penuh 100%!

Tidak main-main saya modali buku ini. Langsung saya cetak 800 eksemplar untuk menekan biaya produksi. Kalau cuma cetak satu-satu, modalnya terlalu besar –> harga buku akan sangat mahal.

Sudah terlalu jauh saya ‘berlari’ hingga akhirnya saya menengok ke belakang, “La, yang lain pada ke mana?” Itu kesalahan pertama saya yang bisa menjadi pelajaran pertama, “Letting anyone feel ‘out of it’ should not be done.”

Sementara, beberapa orang sudah mulai melakukan penyerangan secara ‘pribadi’.

“Egois lu! Mau menang sendiri! Lu maksa orang untuk ikut cara lu!”
“Nanti kalau bukunya terbit, nama kita semua ada, kan? Bukan cuma nama lu doang, kan?”
“Lu Ratu Drama sih! Apa-apa dibesar-besarkan. Heboh sendiri, enggak jelas sendiri.”

Cara menerbitkan buku indieSaya sudah mau membatalkan saja. Ya Allah, pikir saya. Sungguh sia-sia saya menerbitkan buku ini kalau pertaruhannya adalah putusnya tali silaturahmi dengan teman-teman .

Panik, cing. Saya sudah aktif promosi di wall, gimana kalau sampai buku tidak jadi terbit. Taruh mana tampang rupawanku ini hahaha.

Suami saya ikut-ikutan, “Lu bego! Duit, duit lu! Ide, ide lu! You should take the control! Apa gunanya capek-capek diskusi kalau mereka selalu bilang ‘terserah lu’ tapi sibuk ngomongin lu di belakang!”

Aduh. Sebagian teman-teman mulai tak suka dan marah pada saya. Sebagian memilih diam, pura-pura tidak ada urusan. Suami pun sudah mulai bete.

Cara terbaik yang saya pilih, mengalah. Mulai saya bagikan tugas lagi. Kalau ada yang mengelak, sudahlah. Biarkan saja. Toh, kalau mau jujur, saya akui banyakan salah eike juga hehehe. Orang enggak doyan menulis, saya paksa-paksa ikut proyek ini .

Pelajaran kedua deh, “Avoid arguments but, if you do have them, bury the hatchet quickly and wholly.” -Ranulph Fiennes-

Walau suami menentang cara saya yang sibuk meminta maaf ke sana sini, saya pasrah saja. Waktu itu, saya lebih takut kehilangan teman, deh, daripada kehilangan duit .

Ada yang bersedia mendesain cover. Good. Saya pikir, bikin desain sekalian memikirkan cara menuangkan desainnya ke atas gambar. Lama saya tunggu. Saat dicek, mereka bilang, “Kita bisa desainnya tapi enggak tahu cara gambarnya.”

Cara menerbitkan buku indie

Saya pikir mereka tahu bahwa itu seharusnya tugas mereka juga, untuk mencari orang yang bisa mendesain. Ya sudah, saya malas ribut-ribut, saya turun tangan carikan desainer. Untung ingat dengan adik kelas yang memang buka jasa desain online. Alhamdulillah, dia mau membantu. Biaya tentu saja saya tanggung 100%.

Urusan editing, saya selesaikan sendiri. Ada teman yang mengaku punya banyak teman editor. Saya minta bantuannya, saya bilang saya sanggup membayar secara profesional. Ealah, ditunggu-tunggu, tak ada yang bersedia menjadi editor .

Kenapa mencari editor sendiri? Karena penerbit lama sekali merespons, sementara saya kan berkeras pada timeline saya sendiri. Saya akan tempuh apa pun agar bukunya terbit sebelum bulan april!

Akhirnya, eike-eike lagi yang mencari editor. Karena khawatir gagal dapat editor, sebagai back up plan, tiap malam saya begadang belajar EYD sendiri hihihihi. Maklum waktu itu menulis seenak jidat saja. Di blog masih ber gue-gue dengan tanda baca yang bikin sakit mata hahahaha.

Ketemu satu editor. Saya janjikan honor 2x lipat bila dia sanggup mengedit dalam tempo cepat. Dasar saya kurang pengalaman. Saking paniknya main tunjuk saja. Editannya ternyata mengubah gaya menulis kami. Malah, beberapa kalimat berubah arti. Tapi ya, saya harus adil, dong. Tetap saya bayar honornya, 2x lipat seperti janji saya di awal.

Untungnya, penerbit mulai merespons, editing pun diambil alih mereka. Ada ongkos tambahan tentu saja. Ongkos editan awal tadi tak pernah saya perhitungkan. Anggap saja itu harga yang harus dibayar atas keamatiran saya tempo itu.

Cara Menerbitkan buku indie

Buku pun terbit. Sebelum terbit, teman-teman yang tadinya sepakat akan menjual masing-masing minimal 50 eksemplar mulai goyah. Sudah mulai ada yang keberatan. Aduh, saya sudah kehabisan energi untuk berantem. Saya biarkan saja. Pokoknya, asalkan kedamaian tetap melingkupi tim, saya bebaskan jumlah penjualan. Mau jual berapa pun terserah!

Tapi, resikonya adalah, saya sebagai penanggung modal utama harus berjuang jauh lebih keras untuk setidaknya mengembalikan belasan juta rupiah modal yang sudah terlanjur dikeluarkan.

Siang malam, membujuk teman-teman untuk membeli buku ini. Saya melakukan strategi yang sangat berani sekaligus tolol menurut suami saya . Saya berani mengirim dulu, buku sampai, baru mereka bayar.

Akibatnya, saat proses penagihan saya kelabakan sendiri. Saya malu kalau harus menagih berkali-kali. Biasanya, dua kali saja saya berani menagih. Bila tidak dibayar juga, ya saya ikhlaskan. Soalnya rata-rata kenalan semua. Malu ah kalau mau ributin soal uang segitu doang, sudah syukur mereka berbaik hati mau membaca buku saya . Pikirnya begitu saja waktu itu. Jadi, jangan ada yang merasa apa-apa, ya. Demi Tuhan, sudah saya ikhlaskan .

Yang menyakitkan itu adalah tanggapan saudara dan teman-teman dekat. Saya polos sekali. Saya pikir, namanya saudara dan teman kenal baik, masa iya tidak mau membantu menjual barang 2-3 eksemplar. Salah satu kakak saya malah bilang dengan santai via BBM, “Buku apaan tuh? Enggak jadi ah gue jual. Jelek isinya. Tipis lagi. Mahal itu buku segitu 35 ribu!”

Kakak yang lain juga begitu. Semua buku yang saya kirim ke mereka tidak ada kabar. Mereka bayar juga tidak mau huhuhu. Tapi, untuk meningkatkan semangat teman-teman dalam tim, saya tutup rapat-rapat soal ini. Tetap saya gembar gemborkan, “Tenang, saudara gue banyak, buku kita dijualin sama mereka, kok.”

Pelajaran ketiga, “Jangan berharap terlalu banyak dari orang lain. Bahkan dari saudara kandung sekali pun . Many times, we need to stand on our own!”

Adik saya juga sama. Saya langsung sadar kesalahan ini. Teman-teman lain yang sudah terlanjur saya kirimkan lebih dari 1 eksemplar, buru-buru saya tarik. Rugi 2x. Ongkirnya tetap saya ganti. Buku pun tak laku. Adik saya di Depok, saya mintai tolong memunguti buku-buku yang ada di tangan teman-teman di sana.

Saking putus asanya, puluhan buku saya tarik ke Jeddah. Saya minta ibu yang membawakan, pas sekalian umrah waktu itu.

Cara menerbitkan buku indieAkhirnya habis juga 800 eksemplar. Saya menjual ratusan eksemplar, jauh di atas teman-teman lain dalam tim. Tapi, janji tetap janji . Royalti tetap dibagi rata .

Walau penjualan dari sisi saya belum lunas semua, untuk mencegah tuduhan macam-macam lagi, langsung saya bagikan royalti bersihnya. Saya sudah tidak berharap modal balik. Yang penting no more drama lah hihihihi.

Keangkuhan saya memaksa saya kembali maju dengan cetakan ke-2, lagi-lagi 800 eksemplar! Sebelumnya, saya sudah sibuk bergerilya mencari pembeli, dapat sekitar 150 eksemplar. Lumayan, kan? Harapannya nanti bisa lebih banyak lagi.

Karena kasihan dengan ongkos kirim yang mahal, kadang saya menjual buku dengan menanggung ongkos kirimnya. Tidak main-main tuh ongkir ke sulawesi dan sumatera *ngelapKeringat*. Habisnya, ongkir hampir sama dengan harga buku huhuhu. Instead of untung, malah rugi karena ongkos kirim lebih besar daripada royalti buku. Bego? emberrrrr .

Di cetakan ke-2, saya resmi bubarkan tim. Sistem royalti diubah. Saya berjanji akan memberi royalti tulisan kepada mereka, royalti sales tergantung kepada jumlah penjualan. Alhamdulillah, hubungan yang mulai dingin menghangat kembali .

Cara menerbitkan buku indieMalah, untuk menutupi ‘perang dingin’ antar kami di hadapan teman-teman lain, saya adakan syukuran kecil-kecilan. Rogoh kocek sendiri untuk membeli kue tar dan saya potong di acara pengajian.

Cetakan ke-2 apa kabar? Hahahhahaha. Sampai bosan saya menghabiskan waktu siang dan malam mengejar pembeli . Suami saya, walau menentang sejak awal, ternyata membantu dengan sepenuh hati . Terima kasih ya, Bang . You’re the best. Dia tuh yang gencar mengirim ke milis, ke kaskus, ke mana-mana lah pokoknya. Sementara saya sudah layu .

Kalau hanya menghabiskan waktu mengirim inbox dan message dan DM di twitter terus, saya kapan menulisnya? pikir saya. Ya sudah, walau berat, saya pasrahkan saja. Saya mulai kembali menulis. Setidaknya “Bunda of Arabia” membangkitkan semangat menulis saya ke level yang sangat tinggi.

Semua kenangan masa kecil kala saya memang rajin menulis terbayang kembali. Ya ampun, jangan-jangan saya memang punya bakat pikir saya. Itulah anehnya, orang mah belajar menulis dulu baru menerbitkan buku. Ini kok malah menerbtikan buku dulu baru belajar teknik menulis yang baik dan benar hahahahahaha.

Awalnya saya merasa kalah. Tapi hanya sebulanan setelah cetakan ke-2 keluar, saya iseng membuat cerpen dan mengirimkan ke media cetak, Femina bo . Langsung tembus. Disusul secara beruntun tulisan-tulisan lain yang tembus ke Republika, Kartini, Femina(lagi), koran-koran dsb. Sampai 2 x artikel saya diterima di Majalah Garuda dengan honor yang asoy hihihihi. Honor dari media cetak kalau dijumlahkan sudah mengalahkan angka kerugian dari penerbitan “Bunda of Arabia.” Alhamdulillah.

Lomba blog atau lomba menulis online lain mulai disasar pula. Walau terhitung masih cupu dibanding ratu lomba blog yang lain … sebuah mesin cuci elektrolux, uang 5 juta, uang 400 ribu, satu pak rendang padang hihihi, voucher gramedia 750 ribu, dan gadget samsung yang saya lupa jenisnya sudah pernah saya menangkan dengan hobi menulis ini.

Ternyata … saya tidak kalah, kok, ya 😉. Pertaruhan yang saya tempuh saat menerbitkan “Bunda of Arabia” adalah pelajaran penting ke-4 yang disarikan oleh Sutan Syahrir dalam kalimat, “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.”

Walau bukan penggemar Twilight, pelajaran ke-5 dari tulisan ini saya ambil dari penulis bukunya, bahwa … “Without the dark, we never see the stars (Stefenie Meyer)” Jangan-jangan, kalau tak saya terbitkan dan saya perjuangkan “Bunda of Arabia”, saya tak pernah tahu dan menyadari passion menulis yang sudah terpendam belasan tahun ini.

Tapi, jangan lantas takut menerbitkan indie ya . Kesalahan yang saya perbuat tadi bisa dipelajari oleh penulis lain yang ingin sukses secara indie. Jangan memaksa dan bersabarlah 🙂.

Ingat, sekali lagi, pelajaran ke-4 “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.”

Cara menerbitkan buku indie memang panjaaaaaang perjalanannya. Selalu ada harga yang harus dibayar, teman-teman 🙂.

Yang sudah lewat, jadikan pelajaran saja. Pelajaran terakhir, yang ke-6 : “There is never any point crying over spilt milk because in order to win at some of your big goals, you’re bound to lose at others along the way.” (Ranulph Fiennes)

Drama banget, ya? Ya mau bagaimana lagi. Begitulah kenyataan yang sebenarnya :D.

Cara menerbitkan buku indie

***

Btw, buku “Memoar of Jeddah” isinya beda kok dengan “Bunda of Arabia.” Lagipula, seluruh bab dalam MoJ adalah asli tulisan saya semua . Buku solo pun namanya yak hehehe.

“Memoar of Jeddah” adalah kumpulan kisah-kisah inspiratif, yang meski berlatar belakang pengalaman saya selama 30 bulan di Jeddah, ‘pelajaran’nya bisa dipetik untuk kehidupan sehari-hari kita semua, di mana pun kita berada. Ecieee…sok inspiratif lo hahahaha :p.

Isinya juga saya selipkan sekitar 6 bab tulisan jalan-jalan selama saya tinggal di Saudi. Lengkap dengan foto-fotonya, lho 😉.

Selamat membaca 🙂.

Buku Jihan Davincka

***

#DearSon, Fly Abandonedly into The Sun

Nabil & Narda (in their baby pose :D)
Nabil & Narda (in their baby pose :D)

***

Memiliki anak laki-laki memang berbeda dengan anak perempuan. Kata ibu mertua, anak perempuan itu sedari kecil sudah bisa dimintai tolong. Misalnya punya adik, kakak perempuan sudah punya inisiatif mengambilkan diaper pengganti saat acara ganti popok. Kalau dibiarkan bermain berdua dengan adik laki-lakinya, naluri si kakak perempuan akan otomatis menjaga adiknya.

As for me, tidak masalah :D. Laki-laki, perempuan, sama saja. Melahirkan anak pertama dan kedua, sejak dalam kandungan, saya tidak pernah berharap jenis kelamin tertentu. Di USG pada trimester ke-2, baik kehamilan pertama dan kedua, saat dokter memberitahu jenis kelamin si janin, rasa bahagianya tetap maksimal ^_^.

Ada pun bila kedua bocah laki-laki saya ini menguras energi mamanya lebih banyak, tidak masalah juga. Panjang lebar tentang ini sudah pernah saya bahas di postingan yang ini, “Because One Day Mommy, I Won’t be This Small.”

Suami saya mengaku. Dia mengharap anak perempuan agar katanya kalau kami sudah tua nanti, ada yang menjaga. Hehehe. Kok sudah diniatin dari sekarang, sih, Bang? :P.

Tapi, alasan suami masuk akal juga. Saya langsung berkaca tidak sebatas kepada ‘rumit’nya hubungan saya dan ibu mertua saya, tapi terhadap hubungan antara mertua perempuan dan menantu perempuannya. Menyadari saya punya 2 anak laki-laki, seketika langsung terpikir, “Sooner or later, my time will come .”

Mama dan anak-anak

***

#DearSon, hamil kalian berdua sama-sama tidak mudah buat mama. Kecele dengan istilah ‘morning sickness’. Because in fact, rasa mual menyerang tidak hanya di pagi hari, tapi di sepanjang hari! Kompak sekali kalian :D. Membuat mama kewalahan dari minggu ke-5 hingga minggu ke-17. Belasan minggu yang penuh ‘warna’lah pokoknya.

Belum lagi ‘persaingan terselubung’ penuh ‘drama’ dengan sesama mama-bunda-ibu lainnya yang tanpa sadar terus berlangsung. Mulai dari masa menyusui (ASI vs sufor), masa MPASI (buatan atau alami), memilih diaper (disposable atau clodi ramah lingkungan yang harganya tidak ramah itu huhuhu :P), jadi SAHM atau WM, etc, etc, etc. Siapa bilang menjadi mama itu murni urusan pribadi, Nak? :P. Therefore, help your wife to get thru this someday, ya ;).

Lalu, ketika kalian masuk sekolah, profesi mama otomatis bertambah. Dari yang tadinya sebagai perawat dan koki, mama harus memainkan peran baru sebagai seorang guru. Aduh, mata pelajaran kalian lumayan berbeda dengan masa kecil mama dulu. Susah, euy. Bahkan kurikulum negeri bule sekarang pun bikin mama lagi-lagi kecele. Kata siapa kurikulum bule enggak seribet di tanah air? :D.

Lalu, kalian akan abege dan remaja, makin sibuklah mama jadi satpam. Hingga akhirnya, kalian akan dewasa kemudian … jatuh cinta kepada perempuan lain.

three

Lalu, kalian akan menikahi pujaan hati kalian dan mengayuh biduk kecil kalian, perlahan menjauhi kami, mama dan papa. Disitulah mungkin mama akan mempertaruhkan rasa keikhlasan mama. Karena mama juga manusia biasa dong, ah.

Masa iya, setelah susah payah merangkai kalian hingga suatu hari menjadi sehebat yang kalian bisa, mama bisa santai-santai saja ketika tiba saatnya harus berbagi cinta dengan perempuan lain. Apalagi jika ternyata, perempuan itu berbeda dengan yang mama harapkan.

Di titik inilah, mama akhirnya sadar, “Apa yang kau tanam itu yang kau tuai.” Mama seharusnya harus pandai-pandai mempersiapkan diri. Dimulai dengan, menjalin hubungan baik dengan oma kalian, mamanya papa :D. Mungkin semua kekhawatiran mama masih dalam angan-angan, sementara oma sudah harus berhadapan langsung dengan kenyataan itu .. sekarang.

***

#DearSon, mama juga ingin mempersiapkan yang lain. Dari sekarang, mama mati-matian menjaga kesehatan. Sejak awal tahun ini mama serius menjalani pola hidup sehat ala food combining. Tidak semata-mata karena mama ingin sekeren Angeline Jolie (hihihihi), tapi lebih ke alasan kesehatan. Mama ingin tetap bugar di masa tua nanti agar kalian tak perlu mengkhawatirkan mama :).

Foto TUM3

Maafkan mama juga ya, kalau suka kebablasan di depan laptop :P. Walau mama melepaskan karier di kantor tapi tidak ingin mengabaikan kebahagiaan mama sepenuhnya. Mama serius menjalani hobi menulis mama agar di masa tua nanti mama punya kesibukan. Untuk mencegah mama menghabiskan  hampir sepanjang waktu melirik layar ponsel berharap kalian menelepon mama. Dan kalau kalian tidak menelepon, mama takut mama akan berprasangka buruk pada istri kalian.

#DearSon, mama percaya, tak ada kebahagiaan yang bisa mama bagikan untuk kalian bila mama sendiri kesulitan berdamai dengan kebahagiaan mama sendiri. Tapi tenang, sekarang ini, kalian adalah prioritas mama. Tanya sama papa, deh ;). Sebesar apa pun cinta mama untuk kalian, mama minta sedikit pengertian bahwa mama ini tidak sempurna-sempurna amat. Sekali-sekali stres kalau mau ikut lomba blog atau menulis naskah pesanan. Hahaha.

_MG_2571

Biar kelak kalian bisa membanggakan mama di hadapan istri kalian, di depan cucu-cucu mama, “Eh, Nenek itu penulis ternama, lho. Keren ya Nenek. Udahlah langsing dan sehat, jago menulis pula.” Aduh, mama narsis sekali, ya hihihi.

#DearSon, walau sedari sekarang mama berusaha keras memupuk rasa ikhlas dan mempersiapkan diri jika saatnya kalian berlayar di dunia kalian masing-masing, sadarilah. Mungkin di saat itu, sekali-sekali mama akan cemburu atau iri. Sekali lagi, mama manusia biasa :).

But I’ll do my best ;). Untuk membiarkan kalian menjadi yang kalian mau, memilih jodoh yang kalian inginkan, mengikhlaskan apa pun jalan yang kalian pilih, semata-mata karena cinta. Yang konon katanya, “Cinta itu berarti sanggup melihat orang yang kita cintai bahagia walau kita tidak termasuk dalam kebahagiaan itu.”

Tapi mama yakiiiiiin sekali. Cinta kita, antara mama dan kalian, selamanya akan memiliki tempat khusus di hati kita masing-masing. Tempat yang tidak akan terganggu walau kita tak akan bersama dalam satu atap lagi. Suatu hari nanti.

negeri paman syam

#DearSon, pada akhirnya mama mengambil kesimpulan bahwa membesarkan kalian seperti merawat seekor kupu-kupu. Pas banget dengan lirik lagu Tante Mariah Carey yang satu ini,  “Butterfly” :).

Butuh energi lebih untuk membesarkan kalian dari seekor ulat hingga bersayap sempurna. Untuk akhirnya … terbang dan pergi melanglang buana. Itulah yang memang seharusnya kalian lakukan. Pergilah sejauh yang kalian bisa :). Mama sendiri sangat bahagia bisa mendapat kesempatan tinggal di berbagai tempat. My son, pengalaman adalah harta tak ternilai yang harus kalian perjuangkan hingga sejauh mana sayap kalian mampu menerbangkan kalian :).

Fly my son(s), fly away my butterflies, fly abandonedly into the sun :). Adapun mama akan tetap menjadi mama. Selamanya mencintai kalian, sebesar yang mama bisa :).

Now I understand to hold you

I must open up my hands

and watch you …

Spread your wings and prepare to fly

For you have become a butterfly

Fly abandonedly into the sun

(Butterfly, Mariah Carey)

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=xO0DoCqjdYM]

Proyek #DearSon ini digagas oleh para MakMin dari Kumpulan Emak-emak blogger, tempat kami para emak-emak yang jari-jarinya bawel ini bernaung hehehehe. Sistemnya semacam tongkat estafet.

Saya sendiri ditunjuk sebagai pemegang tongkat pertama langsung dari MakMinnya, Mak Indah. Setelah saya, tongkatnya saya lempar ke Mak yang satu ini nih yang bercerita tentang Mas I’am nya di sini :). Monggo dicek langsung ke TKP :D.

***

Setinggi Langit, Diantara Bintang, Untuk Jakarta

Nama besar Presiden RI pertama, Soekarno, masih bergema di KTT GNB 2012. Dikutip oleh pemimpin Iran, Khameini :

“….tapi, seperti yang dikatakan Ahmad Sukarno, satu dari para pendiri gerakan ini di Konferensi Bandung 1955 yang legendaris, dasar dari pendirian Gerakan Non-Blok bukanlah kesamaan geografis, rasial, atau relijius, melainkan adanya kesamaan kebutuhan.”

Sebelum ikut memprakarsai ASEAN bersama Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand di Bangkok 1967, Indonesia telah lebih dahulu berperan aktif dalam pembentukan Gerakan Non Blok. Di Bandung, tahun 1955, bersama petinggi negara dari Mesir-Yugoslavia-India-Gana, Soekarno menggagas gerakan Non Blok dalam sebuah pertemuan yang berlabel Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika.

Aktifnya Indonesia sejak dahulu menunjukkan kematangannya yang cukup mumpuni dibanding negara-negara lain ASEAN dalam berinteraksi di forum internasional.

Jakarta, Diplomatic City of ASEAN

gambar : www.merdeka.com
gambar : www.merdeka.com

KTT ASEAN ke-21, yang bertempat di Kamboja tahun 2012 lalu, menelurkan suatu gagasan baru. Yakni peluncuran pembentukan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) oleh para pemimpin negara ASEAN dan negara mitra dialognya (India-Jepang-Cina-Selandia Baru-Australia-Korsel).

RCEP sendiri ditujukan untuk harmonisasi antara kerjasama ASEAN dengan masing-masing negara mitra tadi yang sudah berjalan selama ini. Misalnya perjanjian tentang perdagangan bebas antara ASEAN dan China.

Pembentukan kerja sama RCEP akan menjadi prestasi besar bagi ASEAN sebagai pengelola  perekonomian tidak hanya di kawasan Asia, tetapi juga dunia. Dalam pembentukan RCEP, Indonesia kebagian peran sebagai koordinator yang tugasnya memperjuangkan kepentingan ASEAN, memberi manfaat dan mempertahankan sentralitas ASEAN. 

Kepercayaan yang diemban Indonesia dalam keanggotaan ASEAN cukup dominan. Ditambah lagi dengan kehadiran gedung Sekretariat ASEAN yang sudah selesai dibangun sejak tahun 1981 di ibukota negara, Jakarta. Dilengkapi dengan bukti kematangan dalam pergaulan internasionaly secara organisasi, cukup wajar jika Jakarta dinobatkan sebagai Diplomatic City of ASEAN, ibukotanya negara-negara ASEAN.

Saat ini DKI Jakarta tengah dipimpin oleh duet maut, Jokowi-Ahok. Sejak memenangkan Pilkada DKI tahun lalu, pasangan ini terus meroket dengan terobosan-terobosan positifnya.

Jokowi (gambar : bisnis.liputan6.com)
Jokowi (gambar : bisnis.liputan6.com)

Jokowi sendiri cukup bergairah dalam menjawab tantangan ini. “Kami akan melakukan apa pun untuk membuktikan potensi kami sebagai tuan rumah ASEAN.”

Sejalan dengan gubernur, Ahok, selaku wakilnya juga turut mengamini. Rencananya gedung bekas kantor walikota Jakarta Selatan akan diubah menjadi gedung ASEAN. Ahok menyarankan agar gedung dibangun menjadi ikon kota Jakarta seperti gedung PBB di kota New York. 

“Kalau mau bangun, bangun gedung yang unik. Unik Asia. Supaya bisa jadi ikon Jakarta dan menjadi semacam destinasi turis-turis yang datang. Kita beruntung sekali kalau Jakarta jadi Ibu Kota negara-negara ASEAN,” harap Ahok.

Berbenah Diri, Pertahankan Ragam Budaya di Ibukota

Pernah jalan-jalan ke Suriah-KLCC di Kuala Lumpur? Sewaktu tengah menanti pesanan makanan datang, saya asyik melihat-lihat sekitar. Sambil memperhatikan orang-orang yang hilir mudik di area food court tempat saya dan keluarga tengah bersantai.

Uniknya, di mal semegah itu, tidak sedikit perempuan berwajah khas Melayu yang tidak malu-malu berseliweran dengan baju kurungnya. Padahal tak sedikit etnis tionghoa lalu lalang memakai pakaian agak minim. Makin semarak dengan orang India yang muncul dengan kain sarinya. Biasa saja buat mereka. Tidak lihat-lihatan, tidak ada yang merasa canggung.

Coba kalau memakai baju kurung di mal-mal besar Jakarta, diliatin enggak, ya? Hehehe.

Kalau nanti sukses menjadi ibukota ASEAN, Jakarta bisa kelimpahan turis asing. Inginnya sih, ibukota nusantara ini bisa tetap mempertahankan ragam multikultural tanah air seperti di Malaysia. Walau sebagian akan beralibi bahwa Negeri Jiran ini kan lebih sedikit penduduknya dan lebih minim ragam budaya dibanding Indonesia. Mudah-mudahan masih ada harapan, ya, bagi berbagai kebudayaan tanah air untuk melebur bersama di ibukota :).

Masalah kemacetan pun termasuk luar biasa untuk DKI tercinta. Jokowi dan Ahok terus menggenjot upaya perbaikan sistem transportasi. Berbagai sarana angkutan publik tengah diupayakan pembangunannya, misalnya : MRT dan monorail. Kita doakan semoga semua sukses dan lancar.

Kebersihan juga cukup memprihatinkan untuk ukuran sebuah kota besar yang sekaligus merupakan ibukota bangsa besar. Saya perhatikan, ya, di Eropa ini, kedisiplinan orang-orang dalam kebersihan secara umum tidak semata-mata diilhami oleh kesadaran pribadi. Tapi dibantu juga oleh penegakan hukum secara ketat.

Jadi, pemerintah sebaiknya langsung mengambil tindakan tegas soal aturan kebersihan di ibukota. Menunggu sampai semua warga mengubah kebiasaannya, sih, dalam tempo seabad juga  belum tentu pada sadar semua, ya :D. Buatkan aturannya. Tegakkan pelaksanaannya. Karena kalau cuma kata diatas kertas ya sama juga bohong :D. 

Sementara, pembangunan infrastruktur dan layanan publik sudah mulai menunjukkan kemajuan di era si duet maut ini, ya :). Waduk pluit sudah didandani, daerah Tenabang sudah mulai dibenahi. Lanjutkan!

Mengurai kemacetan di Tanah Abang (gambar : megapolitan.kompas.com)
Mengurai kemacetan di Tanah Abang (gambar : megapolitan.kompas.com)

No Vision, No Hope

Sama seperti berjalan tanpa arah, tanpa tujuan, kerja keras hanya akan terasa lelahnya saja. Ibukota harus memiliki visi yang mantap. Apalagi sudah diberi kesempatan untuk menjadi ibukota dari kumpulan negeri-negeri di Asia Tenggara ini. Manfaatkan seoptimal mungkin.

Kita ingin memiliki transportasi publik selengkap Kuala Lumpur. Kita mau menjadi ibukota yang bersih seperti kota Singapura. Kita berharap penuh menjadi ibukota yang memiliki warga dengan kemampuan bahasa internasional yang bagus walau bahasa Inggris bukan bahasa utama seperti di Manila. Kita camkan dalam hati kalau suatu hari kita bisa setenar Bangkok di mata para turis asing.

Taman-taman bunga dan tempat bermain yang dibangun di hampir sepanjang pesisir pantai di wilayah bagian Asia kota Istanbul akan menjadi milik Jakarta di masa datang. Danau Sunter mungkin bisa mewarisi setengah saja dari kecantikan Interlaken di Swiss. Monas akan berdiri megah dan namanya akan tersohor sementereng Menara Eiffel di Paris.

Terlalu muluk-muluk? Jangan tanggung-tanggung kalau menghayal :D.

Bersama Komunitas ASEAN 2015, bahu membahu menjaga 3 pilar kebersamaan Ekonomi-Keamanan- Sosial Budaya, kita ukir kebesaran ASEAN melalui ibukota perhimpunan negara-negara Asia Tenggara ini di Jakarta.

Untuk kesekian kalinya saya kutipkan kata mutiara dari salah satu tokoh nasional favorit saya :

“Bermimpilah setinggi langit. Jika terjatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.” -Bung Karno-

Setinggi langit, diantara bintang-bintang, kita titipkan mimpi-mimpi besar kita untuk Jakarta tercinta. Mimpi itu bisa dimulai dari … sekarang :).

Gambar : fanpop.com
Gambar : fanpop.com

***