Makanan Halal di Eropa, Between Truth and Repose

“Liburan ke sono? Makanan halal denger-denger repot di sono. Makan apaan ntar?”

“Ya makan apa ajalah. Yang penting bukan babi. Baca bismillah saja.”

Sebagian muslim yang saat liburan bahkan bermukim di negara-negara mayoritas non muslim memilih jalan ini. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah … darurat. Darurat sih seharusnya berarti tak ada yang lagi ALTERNATIF LAIN yang tidak bisa kita makan.

Negara Irlandia sendiri, walau tinggal di kota imut-imut seperti Athlone, masih menyediakan toko daging halal. Tempatnya memang tidak di ktengah-tengah kota. Jaraknya sekitar 2-3 km dari gedung apartemen saya. Soalnya saya malas ke sana naik bis sambil nenteng stroller 😛. Jadi seharusnya, no issue soal makanan halal di Eropa untuk wilayah Irlandia secara umum.

Kalau suami ada biasanya tugas beli daging adalah jatah beliau. Pulang pergi kantor, bisnya pasti lewat depan sana. Kalau suami lagi dinas ke luar negeri, misalnya tempo hari ke Istanbul selama sebulan penuh, mau enggak mau, si mama yang bolak balik beli daging ke sana hehe. Pijat-pijat paha 😀.

Dengan keadaan seperti ini pun, suami punya cerita unik. Suatu hari di masjid mendatangkan seorang Syekh dari Dublin. Lumayan punya nama dan termasuk jajaran ulama yang mengurusi sertifikasi halal untuk masyarakat muslim di Irlandia.

Beberapa jamaah mengaku lebih memilih membeli daging sapi/ayam/domba di supermarket daripada ke toko halal. Setelah ditanya, alasannya fantastis, “Harga di toko daging halal lebih mahal.” Hahaha.

Keluarga Gober saja sampai tepok jidat . Saya tahu, kok, harga daging di supermarket umum memang jauh lebih murah. Psstt…lebih murah daripada di tanah air .

Sebagian juga menganggap ini kondisi darurat. Which is sangat tidak tepat. Karena masih ada daging halal yang tergolong mudah ditemukan. Emak-emak mungil macam eike saja sanggup bolak balik ke toko sana, masa bapak-bapak kalah? Pada punya mobil semua pula *gubrak*. Stok daging halal juga selalu terjaga. Tergolong sangat cukup.

Kondisi darurat juga dipatahkan dengan fakta bahwa banyak alternatif makanan lain seperti ikan-ikanan dan aneka seafood lainnya. Alternatif lain adalah “any meal that’s suitable for vegetarian” is HALAL. Secara undang-undang, yang setahu saya berlaku umum di negara-negara maju, rumah makan/produsen makanan yang menyediakan makanan berlabel ‘vegetarian’ HARUS memisahkan proses penyajiannya. Kalau ada yang melanggar, mereka bisa dituntut secara HUKUM dan LEGAL.

Menurut si Syekh, “If you enter a restaurant that served some vegetarian meals. Close your eyes and eat them.”

See? Daruratnya sebelah mana hayooooo? 😛.

Gambar : 21food.com
Gambar : 21food.com

Di Athlone rumah makan yang menyediakan makanan halal (yang non veg) memang sangat minim. Lagian, harga makanan jadi di sini sangat menjulang. Padahal, harga barang-barang pokoknya enggak mahal-mahal banget, lho. Penggemar supermarket Aldi mana suaranya? *angkatTanganPalingTinggi* hahaha.

Asal jeli, bisa mendapatkan sayur mayur dan buah-buahan segar dengan harga sen-senan. Tiap 2 minggu, jenisnya berganti-ganti. Ada rak-rak khusus yang memajang jenis makanan yang lagi kena diskon. Diskonnya enggak becanda, Cyin. Dari harga 1.79 euro per bungkus bisa drop sampai 59 sen saja *nyengirSeratusCenti*. Ukuran kemasan dan tingkat kesegaran tidak berbeda .

Walau banyak swalayan lain yang jaraknya jauh lebih dekat, Bibi Gober tetap istiqomah bolak balik Aldi yang jaraknya sekitar 1.5 km dari apartemen. Hahaha. Apa pun demi devisa untuk negara tercinta  *tsaaaahhh*.

Si Syekh juga punya pesan bagus. Bahwa…hidup itu pilihan 🙂. Meninggalkan tanah air untuk datang merantau ke negeri lain adalah pilihan. Setiap pilihan yang diambil ya harus dipertimbangkan konsekuensinya. Kita bebas memilih tapi kita tidak leluasa mengatur konsekuensi yang setia mengikuti setiap pilihan yang kita ambil. Jika sebuah ujung tongkat kita angkat, ujung lainnya juga pasti ikut terangkat kan 😉. Termasuk pertimbangan soal makanan halal di Eropa ini.

Walau hati kecil rasanya berat, saya enggak bisa bohong. Tinggal di Athlone jauh lebih nyaman secara batin untuk saya pribadi. Dibandingkan Jeddah atau pun Jakarta, yang didominasi oleh orang-orang yang beriman kepada ajaran yang sama.

Jangan buru-buru menuduh saya ingin mendiskreditkan kaum muslim secara luas. Demi Allah, tidak ada sedikit pun rasa seperti itu.

Justru…pertanyaan besar untuk kita KAUM MUSLIM? Sederhana saja. Satu kalimat islami yang ini, “Kebersihan adalah sebagian daripada iman.” Tidak di Jeddah, tidak di Jakarta, saya selalu menderita kalau liburan ke tempat-tempat terpencil . Harus menahan pipis karena benar-benar tidak tahan kalau harus menggunakan toilet umum yang kondisinya … *pasang icon manyun seratus biji*.

Kebersihan dan kedisiplinan yang seharusnya menjadi AURA kehidupan muamalah kaum muslim terus tergerus dan justru menjadi ciri hidup kaum sekuler yang mungkin seumur hidupnya kenal alquran saja tidak . Selalu sedih kalau harus menulis tentang ini 🙁. Tidak semua umat muslim, sih.

Sudah pernah ke Teheran? Masya Allah bersihnya kota ini. Mereka juga punya selokan-selokan lho. Yang saking jernihnya itu selokan, pandangan mata bisa menembus ke dasar got eh…selokan 😛. Urusan kebersihan, saya angkat jempol satu juta untuk pemerintah kota Tehran . Oh ya, saya juga sering melihat orang-orang antri dengan tertib menunggu bis dan taksi atau dalam mal. Which is akan pemandangan langka kalau tinggal di Saudi hehehe.

Eh tapi, eh tapi … kalau balik lagi ke urusan makanan. Saudi adalah surga untuk kaum muslim . Jaminan halal datang dari pemerintah langsung untuk semua jenis makanan yang dijual di arena publik. Walau ada juga beberapa teman yang meragukan jaminan halal ini. Sekali lagi, hidup itu pilihan 😀.

Kalau di Jeddah, restoran papan atas berlabel internasional yang asalnya dari negara-negara mana pun terhitung HALAL. Cap cip cup kembang kuncup deh, mana saja boleh dimasuki. Gaya lu! HIhihihi.

Maksudnya kalau mau. Ya kebetulan saya dan suami semasa di Jeddah, walau berlimpah godaan kuliner, tetap setia dengan Warteg Mang Oedin dan Warteg Rindu Alam. Hahaha. Sesekali ‘hidup mewah’ dengan menyambangi Pattaya atau Mr.Sate *ngakakPalingPoooolll*.

Dengar-dengar, di masa amnesti, banyak warteg-warteg yang konon memang dijalankan oleh pekerja-pekerja ilegal asal tanah air yang terpaksa tutup .

Sebagai muslim di kota kecil yang berada di negeri yang memang bukan favorit pendatang muslim ini memang tidak selalu gampang. Susahnya jadi manusia. Suhu terbaik ada di tanah air. Sepanjang tahun bermandikan cahaya matahari. Namun…Jakarta macet, belum lagi pening saban baca berita isinya tentang korupsi semua. Masih ada pula pihak yang mati-matian membela para geng koruptor ini *pingsan*.

Mau hidup di kota kecil, suami apa bisa menjadi petani, ya? Hihihihi. Umur sudah ketuaan mau apply PNS. Dan yang lebih penting, belum sanggup meninggalkan pundi-pundi emas di negeri rantau siih hahahahahahaha.

Tinggal di Eropa ya sami mawon. Kangen keluarga, situasi pertemanan yang memang ‘berbeda’, belum kalau musim dingin melanda. Tetap ingat, bersama pilihan, selalu ada konsekuensi.

Bagaimana dengan Jeddah? Aduh sudah kepanjangan. Kalau mau, beli buku “Memoar of Jeddah, How Can I not Love Jeddah?” yang sudah beredar sejak september kemarin. Penulisnya sama dengan yang menulis note geje ini . Ujung-ujungnya ya boooooo hahahaha.

Baiklah, kita sudahi sampai di sini. Mengutip dan memodifikasi sedikit ucapan Cu Pat Kay (penggemar Kera Sakti mana suaranyaaaaa :D) … “Beginilah hidup, deritanya tiada akhir.” (Ada yang ingat kalimat aslinya bagaimana? Ada satu kata yang saya ubah :D).

Dimanakah semua kehidupan dunia ini akan bermuara? Kapan derita akan terhapus selamanya? Dimana tempat yang hanya menjanjikan kesenangan abadi …

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa…” (Ali Imraan : 133)

Dan terkait dengan pilihan-pilihan dalam hidup :

Every mind must make its choice between truth and repose. It cannot have both. -Ralph W Emerson-

It cannot have BOTH 🙂. Demikian tausiyah soal seluk beluk makanan halal di Eropa :p.  Jangan lupa pesan sponsornya, yak. Hahahaha.

Selamat berakhir pekan ^_^.

Tumbuhan Cinta Yang di Ladang Kita

Sejak kecil, sudah kepengin go internesyenel macam Kakak AgnesMo gitu deh, hihihi :p. 

Waktu kecil, saya suka membaca buku-buku dongeng terjemahan. Ceritanya, sih, biasa-biasa saja. Tapi saya menikmati gambar-gambar yang menjadi latar dalam buku cerita tersebut. Rumah-rumah kecil bercerobong asap bercat warna-warni pastel. Halamannya luas berumput hijau dengan bunga-bunga aneka warga. Ikut membayangkan rasanya hidup di sana. 

Tak salah bila buku disebut-sebut sebagai “jendela dunia.” Dari serial anak-anak yang kebanyakan ditulis oleh Enid Blyton, saya ikut-ikutan menghafalkan mata-mata uang yang disebut-sebut dalam bukunya … penny, pounds, shilling, pence dsb. 

Salah satu serial favorit di bangku SD itu adalah masa-masa kecil dari Darrell Rivers saat mulai bersekolah. Keenam seri bukunya selalu membuat khayalan saya terbang nun jauh ke Malory Towers, tempat Darrell menghabiskan 6 tahun sekolah dasarnya.

Internet, Jendela Dunia Modern

Walau sekarang saya tetap menggenjot semangat anak-anak untuk membaca buku, tapi era digital memperkenalkan jendela dunia terkini … internet :).

Di rumah, kegiatan bersama anak-anak tidak hanya diisi dengan bermain lego atau membaca macam-macam literatur tentang Dinosaurus (kedua jagoan kecil saya ngefans banget sama binatang purba ini hehehe). Saya suka menemani anak-anak berselancar di dunia maya.

Bertiga, kami duduk, selonjoran atau nongkrong di depan notebook. Kadang, sambil menonton harus sibuk menjelaskan ini itu pada mereka. Saya senang menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan suku Minang dan Bugis. Anak-anak besar di Jakarta, mana mengerti daerah asal ayah dan ibunya kalau bukan kami yang getol mengajarkan kepada mereka ;).

Tak cuma ‘menjelajahi’ nusantara, sesekali mengintip dunia anak-anak dari negara-negara lain via video-video yang bisa diakses di beberapa situs.

Terima kasih kepada internet. Media pembelajaran lebih bervariasi, tidak hanya mengandalkan buku. Anak-anak pun tidak cepat bosan.

Kami menikmati internet via notebook dan bisa di mana saja. Kalau di atas meja agak saya hindari, suka keenakan dan jadinya susah mengalihkan perhatian mereka dari internet.

Punya 2 anak laki-laki, siap-siap saja dengan drama berantem hampir tiap hari. Kalau tak  mempan dilerai dengan bujukan biasa, internet kembali beraksi hehe. Dialihkan perhatiannya.

Biasanya kalau situasi begini, anak-anak mengambil kesempatan karena tahu mamanya lagi berusaha membujuk. Mereka kompak minta acara notebook-an di atas sofa. Hadeuh…anak-anak -_-.  Baru saja meributkan sebuah boneka dinasaurus, mendadak kompak ngerjain mamanya. Hahaha.

Kalau di atas sofa, seperti saya ceritakan di tulisan yang lalu, kaki pegal menahan notebook di atas paha. Belum lagi kalau mereka merengek minta pindah ke kamar. Di atas tempat tidur, jika notebook digeletakkan begitu saja, alamat bakal berantem lagi. Masing-masing berusaha menguasai keyboard.

Pertaruhan Setiap Ibu 

Saya beruntung bisa terus bersama anak-anak di hampir sepanjang hari. Bagaimana kalau seorang ibu yang harus jauh dari keluarga, ya?

Seperti beberapa teman saya yang melanjutkan sekolah ke luar negeri yang tidak bisa memboyong suami dan anak-anak. Juga teman-teman lain yang harus ke luar kota atau ke luar negeri untuk urusan kantor dan pekerjaan.

Seperti yang selalu saya yakini dan saya tuliskan di banyak kesempatan...every Mom has her own battle :). Hidup ini tidak hitam putih. Begitu banyak mimpi dan harapan serta cara tiap ibu untuk bahagia.

Bukan egois. Simpel saja. Bagaimana mau menumbuhkan cinta di ladang kita untuk suami dan anak-anak kalau tanah tempatnya tumbuh malah gersang?

Mustahil membahagiakan orang lain jika kebahagiaan diri sendiri tak dijaga. Warna-warni cara yang dipilih untuk terus merawat tanah tempat dimana cinta akan bertumbuh. Tanah yang subur akan membuat benih-benih tumbuh sempurna.

Makanya, kurang tepat jika ada istilah untuk sebagian ibu yang dinamakan “Full Time Mother.” Memangnya ada part time mother? Hehehe. Jika kita masih terusik dengan pilihan sendiri dan berusaha untuk memperoleh pengakuan dari orang lain, itu sama saja dengan mempertontonkan ketidakpercayaan diri kita atas pilihan yang telah diambil. Don’t! Berhenti saling merasa yang paling benar :).

Ketika seorang anak telah lahir ke dunia, seorang ibu pun resmi dilahirkan. Siap tidak siap, separuh hati ibu telah tersisih untuk mereka. Mau ibu bekerja di kantor, mau ibu yang memilih berbakti di rumah, mau ibu pelajar, semua keputusan yang lahir akan bermuara dengan pertimbangan si separuh hati tadi. Semuanya, tanpa kecuali.

When you are a mother, you are never really alone in your thoughts. A mother always has to think twice, once for herself and once for her child.
-Sophia Loren –

***

To The Grand Finale!

Jadi, begini toh yang namanya musim gugur. Hehehe. Angin kencang di hampir sepanjang hari selama dua minggu terakhir ini. Dalam satu hari, cuaca bisa sangat moody.

Sejam diguyur hujan lebat, sejam kemudian sangat terik (cerah doang, hawanya mah tetap di bawah 15 derajat), lalu sejam lagi kembali angin kencang plus hujan rintik, lalu berubah menjadi hujan yang jauh lebih ganas. Eh, enggak lama, mendadak terik dan hujan berhenti sama sekali. Serasa langit di atas kota Athlone terkena sindrom PMS. Hahaha.

Kalau angin kencang datang, daun-daun berhamburan jatuh dari atas pohon-pohon yang berjajar di seberang sungai. Nyaris sudah tidak yang warnanya hijau terang. Kalau enggak hijau butek, kekuningan, orange, bahkan ada yang berubah menjadi warna merah.

Sumpah, keren banget. Saban hari merengek ke suami minta difoto di bawah pohon-pohon yang daunnya sudah berserakan di atas tanah. Suami selalu menjawab, “Gila lu, dingin-dingin begini, sering hujan pula, minta foto di luar. Masak sana!” Hahaha.

Musim gugur memang sangat dinanti-nanti…oleh saya maksudnya hihihi. Puluhan tahun hidup di daerah tropis yang hanya kenal kalau enggak kemarau ya musim hujan , pasti kepo dong sama yang namanya musim gugur. Kalau sama salju sudah musuhan hahaha. Badan pantaiku ini sungguh tak sanggup berdamai dengan musim dingin .

Thanks to Food Combining yang membuat stamina tubuh meningkat pesat . Sedingin apa pun, yang namanya masuk angin belum pernah sukses merontokkan daya tahan tubuh . Padahal dulu, suhu panas saja bisa mendadak mual dan kembung coba. Hadeuuhhh .

Melihat situasi di musim gugur dan musim dingin, wajar sekali kalau orang-orang di sini noraknya minta ampun kalau musim panas hehe. Jalan-jalanan penuh saat matahari bersinar sangat terik. Kapal-kapal yang parkir di belakang apartemen, bisa menjadi godaan tersendiri buat suami saya hihihi. Cewe-cewe abegeh berbikini biasanya kumpul-kumpul di atas kapal sambil berjemur saat musim panas menjelang. Pas bulan puasa pula puncak musim panas tahun ini hahaha.

Musim semi juga begitu. Aduh, waktu baru datang, saban lihat pekarangan orang yang banyak bunga-bunganya, saya selalu ribut minta difoto sama suami. Suami suka marah-marah, “Lu ini bukan turis! Lu bakal tinggal di sini. Jangan norak nape?”

Tapi saya, sih, sampai sekarang, kalau menyusuri tepian Sungai Shannon, melihat bebek dan angsa berbaris, burung-burung camar sesekali berkelebat ramai-ramai di udara, rasa noraknya tidak berkurang sedikit pun. Hehehe. Terima kasih Tuhan, diberi kesempatan melihat yang begini-begini yang sedari kecil didamba-damba kala masih tinggal nun jauh di tepian Pantai Losari .

Musim gugur memang identik dengan kemurungan. Muram sekali rasanya, ya. Makin drama dengan suhu yang mulai dingin, daun-daun jatuh berguguran, warna-warna alam berganti menjadi coklat-orens-kuning.

Seperti musim yang terus berputar, begitu juga kehidupan kita selama menginjak bumi *tsaaahhh*. Dikit lagi jadi puisi ini hahaha.

Saya ingat, pertama kali datang ke Jeddah dan ingin membunuh rasa kecewa yang sudah bercampur dengan sepi dan bete dengan membuat kegiatan yang menyenangkan. Waktu itu, daripada stres melihat kaca jendela yang dibuat buram, lagian apa juga yang mau dilihat di luar , saya manfaatkan koneksi internet yang super ciamik dibanding koneksi di tanah air. Yang kalau lama-lama bisa bikin orang yang kesabarannya tipis kayak saya tidak tahan untuk menghajar laptop berkali-kali hahaha. Daripada rusak, ya enggak usah online sekalian .

Begitulah awal mulanya terpikir soal blog Mama Sejagat. Hanya Tuhan yang tahu susahnya mencari kontributor waktu itu hehehe. Saya kaget waktu ada orang yang menuduh saya hendak mencuri tulisan-tulisan di blognya. Santai, Mama. Saya selalu menuliskan nama kontributornya, kok. Walaupun tulisannya biasanya saya edit mati-matian. Begitu pun dengan foto-fotonya (kadang-kadang).

Blog komunitas tapi single fighter. Saya enggak berani menuntut lebih kepada kontributor yang lain. Lagian tak ada honor yang berani saya berikan. Cuma iseng-iseng saja hehehe. Suami suka ngeledek, “Subuh-subuh sudah bangun. Sibuk sendiri depan laptop. Mending kalau ada duitnya.” Hehehe.

Tapi ya gimana, saya senang, euy. Hehehe. Padahal saya sudah lama punya blog sendiri. Tapi memang di blog pribadi dulu enggak niat untuk publikasi. Murni curhat lokal hahaha. Melalui Mama Sejagat, saya belajar banyak tentang cara agar blog kita hitsnya bertambah, cara mendaftarkan blog di search engine. Macam-macamlah. Serius sekali mbak kita ini, padahal sorangan wae, duit pun tak ada. Hahaha.

Kadang suka kesal, sudah berhari-hari, kontributor enggak ada yang mengirim tulisan. Memaksa saya untuk bergerilya lagi, SKSD sana sini cari-cari orang yang kira-kira mau berkontribusi untuk Mama Sejagat. Anak bungsu masih kecil sekali waktu itu, jadi ya, waktu ngeblog hanya tengah malam atau subuh-subuh, saat semuanya masih pada teler di tempat tidur hehehe.

Eike sudah berlatih hidup tanpa embak dan tak pernah terpikir lempar-lempar cucian ke binatu. Padahal kondisi di Jeddah dan pundi-pundi suami sangat-sangat memungkinkan hal ini terjadi. Dalam hati, sudah siap-siap mana tahu suatu hari harus mangkal di negara-negara maju yang tidak kenal bibik dan laundry mahal. Hahahahha. Untung beneran tinggal di Eropa, kalau tidak, sia-sia itu ‘latihan’ di Jeddah hahahha.

Setahun pertama menyumbangkan kemampuan menulis untuk blog gratisan semacam Mama Sejagat bagai ‘musim gugur’ saking itu blog kok kayaknya enggak tenar-tenar juga, ya. Hahahaha. Untungnya selalu hepi dalam menjalani, jadi ya, tenar enggak tenar, yang penting batin puas .

Belakangan, ada Isti dari Kurdistan yang sangat tertarik menulis di sana. Dan semoga sanggup melanjutkan tongkat estafetnya, ya. Hehehe. Terus terang, saya sudah punya banyak keinginan lain dimana Mama Sejagat tidak masuk dalam prioritas utama lagi. Jadi Mak Isti, kupercayakan padamu, ya . Saya sih tetap ingin menjadi kontributor tapi ingin melepaskan diri dari embel-embel ‘pimpinan’ .

Siapa tahu anak-anak sudah besar-besar dan mandiri, Mama Sejagat masih ada, pasti akan saya perjuangkan kembali seperti dulu saat pertama memulai pondasinya, 2 tahun yang lalu.

Tak saya sangka, setahun terakhir updatenya pas-pasan, blog ini diliput oleh sebuah koran lokal. Mendadak dapat banyak DM di twitter hehehe. Terharu juga, ya. Jerih payah yang dulu disumbangkan untuk membesarkan Mama Sejagat mulai ada sedikit penghargaan. Walau di luar cuaca musim gugur masih kental, dalam hati berasa musim semi melihat timeline hari minggu kemarin hehehe. Norak, norak, norak 😛.

Pikiran Rakyat, Minggu 3 November 2013
Pikiran Rakyat, Minggu 3 November 2013

Jadi, jerih payah memang pasti akan berbayar. Mau setahun, dua tahun, eventually…pasti akan ada hasilnya . Sekarang, aduh, sampai meluber komentar di blog yang bersedia jadi kontributor. Hajar, Mak Isti hehehehe.

Musim semi tengah menghampiri Mama Sejagat. Mungkin nanti bakal ada-ada lagi episode musim gugurnya. Tapi abis itu masa senang-senangnya juga akan datang silih berganti.

“Fall has always been my favorite season. The time when everything bursts with its last beauty, as if nature had been saving up all year for the grand finale.” -Lauren DeStefano, Wither-

Seperti musim, tahun pun terus berganti. Hari ini, seluruh umat muslim akan kembali memasuki pergantian tahun . Selamat Tahun Baru Hijriyah. Apa resolusi tahun baru teman-teman? .

Kalau tahun yang akan segera kita sudahi ini lebih banyak empet-empetnya daripada senang-senangnya, jangan gentar! Siapa tahu, episode musim gugur yang dituliskan untuk perjalanan tahun yang akan berlalu akan dibayar dengan cantiknya pencapaian di tahun baru nanti. Iya, kan? Jangan-jangan musim semi tengah menanti di 1435 H nanti.

Pokoknya tetap semangatlah. Jangan terlalu letop menghadapi lingkungan. Jangan berani-berani menyalahkan perputaran dunia.

“Life asks no question, it goes on without you. Leaving you behind if you can’t stand the pace.” (Desree – You Gotta Be)

Ikhtiar jalan terus, doa tak akan terputus. Begitulah konon kombinasi dari usaha terbaik seorang muslim dalam menaklukkan dunia .

Selamat tahun Baru 1435 H ^_^. Stand the pace, Buddies ;).

***

Pay It Forward!

Melewati bangku SMA dengan nilai asoy, begitu kuliah saya syok masuk Fasilkom-UI.

Alamak, mau mati waktu di lab saya ketahuan tidak tahu cara menyalakan komputer di lab saat masa orientasi. Senior yang jadi tutor juga enggak tanggung-tanggung, langsung berteriak kencang-kencang, “Wooiii, ada yang enggak tahu cara nyalain PC. Dari daerah kamu, yaaaaa…”

Saya pernah, kok, pakai PC sebelum kuliah. Diajarin adik saya yang tinggal di rumah Om di Jakarta . Tapi, dasar katro. Saya pikir semua tombol power ya pasti bulat dan pokoknya kelihatanlah. Di lab, tombolnya berbeda. Enggak timbul. Hanya diberi garis membentuk kotak. Mana gue tahuuuuuuu huhuhu *pukPukDiriSendiri*. Masih saya ingat sampai sekarang senior yang membuat eike ingin ditelan bumi siang itu. Hahaha. Awas lu, yak 😛.

Waktu disuruh mengisi semacam kuisioner ada pertanyaan, “Bahasa pemrograman apa yang pernah dipelajari?” Saya tulis, “Word.” Hahaha. Lebih malu pas tahu sebelah saya, teman dari Cilacap yang sangat fasih bercerita mengenai bahasa pemrograman yang dia pelajari saat SMA. Basic sama Pascal kalau tidak salah yang dia sebut-sebut. Oh God, apaan, tuh? Hahaha.

Saya berani mencontreng Fasilkom hanya demi iming-iming, “Jurusan komputer itu masih jarang. Kalau lulus cepet dapat kerja.”

Nekat kuadrat. Enggak tahu sama sekali bakal belajar apa di sana. Wong, teman-teman SMA saya juga bingung, “Kenapa masuk komputer? Kursus saja kan bisa?”

Disangka bakal belajar mengetik kali di Fasilkom. Hahaha. Tahun 90an, di universitas negeri kota saya mana ada jurusan Informatika. Di sekolah-sekolah negeri, padahal sekolah saya lumayan hits di salah satu kota paling besar di Indonesia Timur itu, sama sekali tidak ada pelajaran menggunakan komputer. Adik saya, yang SMPnya hengkang ke Jakarta, malah lebih jagoan menggunakan PC daripada saya waktu itu.

Selalu juara kelas waktu SMA, menghadapi perkuliahan yang asing, benar-benar sempat membuat putus asa. Untung, ada teman dari Medan yang semangat belajarnya tinggi banget. Miriplah kita. Pengetahuan tentang programmingnya juga nyaris belum ada. Tapi belajarnya super gigih hihihi. Dia, nih, pahlawan saya dan beberapa teman lain melewati semester 1. Saya tentu kecewa dengan IP semester 1 yang di bawah 3. Langsung bersumpah dalam hati, “Hanya satu semester ini. Semester berikut akan di atas 3 terus!”

And…it really happened . Sempat gigit jari saat melihat teman-teman dekat di kampus yang di semester 1 semuanya memiliki IP di atas 3. Tapi garis finishnya kan belom 😀. Saya lulus lebih cepat dari (kebanyakan) teman-teman dekat dengan nilai rata-rata akhir yang tidak kalah caemnya 😉.

pay it forward
Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)

Di semester 3, saya sempat keder mau mengambil full 24 sks. Tapi kalau dihitung-hitung saya harus mengambil sebanyak itu untuk mencapai ambisi lulus 7 semester.

Nah, disitulah berkenalan dengan buku-buku semacam “Berpikir dan Berjiwa Besar” (David J Schwartz), “7 Habits of Highly Effective Teenagers” (Sean Covey) dan “Personality Plus.” Sangat cetar membahana efeknya. Ngebut dari semester 3 sampai 7. Walau akhirnya 3 sks harus terpental ke semester 8 (dammit!), sebagian rasa terima kasih saya, saya persembahkan kepada para penulis buku-buku tersebut.

Nah, mungkin karena itu yang membuat sekarang-sekarang menjadi senang menulis dengan gaya-gaya sok inspiratif. Gayanya doang sih. Hahaha. Terbawa sampai ke lomba-lomba blog hihi. Temanya apa, nulisnya pasti selalu dibumbui kata mutiara . Termasuk saat mengikuti ajang #10daysForASEAN kemarin.

Misalnya saat bercerita tentang Vietnam, mengingatkan pada Jepang. Sebelum krismon 1998, Vietnam itu siapa, sih? Hanya dipandang sebelah mata. Sekarang? Beuh!

Mirip seperti Jepang. Siapa mengira, Jepang sebagai salah satu pihak yang mengibarkan bendera putih setelah dua kotanya dihantam bom atom saat Perang Dunia II, menjelma menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia. What doesn’t kill it makes it stronger . What doesn’t turn you off, makes you brighter.

Kita juga begitu, ya, seharusnya. Harus selalu mampu bangkit dari macam-macam kondisi terpuruk. Selain untuk membuktikan bahwa tantangan akan membuat kita makin kuat juga agar nanti bisa mengisahkan kembali kepada orang-orang lain. Menurut saya, begitu salah satu cara kita berterima kasih kepada orang-orang/kejadian-kejadian yang dikirimkan Tuhan untuk membuat kita bersemangat kembali. Kembali berlari di lintasan yang tadinya sudah ingin ditinggalkan saja.

Untuk setiap kebaikan yang diterima, sekuntum keberuntungan yang kita petik, kalau tak bisa dikembalikan kepada yang memberi… teruskan benihnya kepada orang lain. Pay it forward , pay it forward .

Menulis, salah satu cara untuk menebarkan semangat kepada banyak orang tanpa perlu kita datangi satu persatu. Thanks to internet, thanks to social media . Hey, FB dan twitter tidak hanya untuk pasang-pasang foto narsis saja, lho  –> sapa tuh yang semalam ganti profile pic? hahaha.

Satu menjadi seratus. Seratus menjadi sejuta. Sejuta menjadi trilyunan. Pay it forward , pay it forward , pay it forward  🙂.

pay it forward
Gambar : successinhr.com

***

Tentang Jodoh : Until Both Your Head and Your Heart Say “Yes”

***

“Ganteng ya, Je?”
“Iyeeee…”
“Orangnya juga baik…”
“Sip.”
“Tapi… gak sreg. Anak D3.”

Salah satu sahabat saya, penuh warna kisah cintanya.

 

Mantan kekasih rasanya sudah oke (hampir) secara keseluruhan. Pendidikan, materi bahkan konon, orangnya juga penyayang dan lucu banget. Sayang…posesif tingkat tinggi. Teman saya benar-benar tidak nyaman. Hubungan bubar.

Yang kedua, kurang asyik diajak mengobrol. Cuma sebentar, putus lagi.

Nah, ada satu yang sebenarnya sudah cocok. Secara fisik dan karakter juara lah. Kalau istilah dia, sudah ‘click’. The problem is … yang ini hanya lulusan D3, sudah bekerja, sih. Tapi penghasilannya di bawah penghasilan teman saya. Teman saya ini perempuan.

Karena dia bertanya kepada saya, ya saya jawab jujur, “Kalau gue, enggak akan gue lanjutin.”

“Siapa tau nanti dia pindah kerja dan menjadi konsultan kayak gue.”
“Apa kira-kira ada tanda-tanda ke arah itu?”
“Mmm…”

Saya dan teman saya sama-sama orang IT. Tahulah seluk beluk bekerja dan penghasilan kalangan profesional IT. Kami tahu pasti, tanpa keajaiban, pasangannya yang bikin gundah itu, kariernya tidak akan ke mana-mana. Secara orangnya juga enggak tertarik mengembangkan karier lebih jauh. Tidak ada plan untuk berganti pekerjaan. Tipe santai kayak di pantai.

Padahal teman saya, walau tak terlalu ambisius, punya karier yang bagus dengan penghasilan mumpuni.

Teman saya sering menuduh saya matre. Saya sih selalu tertawa kalau dia bilang begitu dan menjawab sok bijak, “Gue realistis.”

Untuk saya, kesetaraan dalam memilih calon pendamping sangat penting. Laki-laki egonya lebih tinggi. Sudahlah, jangan dilawan apa yang sudah menjadi ketetapan Sang Pencipta .

Pernikahan itu bukan pertemuan sekali seminggu. Bukan janjian makan di resto mahal dengan masing-masing selalu berpenampilan ciamik. Hal-hal yang kita abaikan di masa kini suatu hari bisa menjadi hal besar.

Mungkin, orang lain punya prinsip yang berbeda. Monggo saja. Ini rule-nya masing-masing la yah . Sederhana. Untuk saya, cinta tak pernah buta 🙂. Yoih, ini tulisan tentang jodoh gitu-gitulah.

***

Posisi kami berdua, saya dan teman saya tadi, agak mirip. Selepas kuliah, rasanya sudah cepat-cepat mau kawin saja. Kalau dia, tak tahan dengan desakan keluarga. Kalau saya, bercita-cita punya anak umur 17 tahun di usia 40. Hahaha.

Kalau urusan taksir-taksiran, tak ada kriteria tertentu. Yang mana yang nyaman dilihat, pasti masuk list hehehe. Tapi, untuk berinteraksi lebih jauh, biasanya patuh pada rule “suit for both logic and feeling.”

Ukuran logika kan luas, ya. Pendidikan hanya salah satu. Karakter juga penting. Walau sedih saat harus memutuskan hubungan dengan pacar pertama dulu di bangku kuliah (padahal sudah diplot, pertama dan terakhir, lulus langsung merit), belakangan saya sadar sendiri. Sifatnya yang terlalu introvert tapi bossy terlalu jauh bertentangan dengan saya yang ekstra extrovert dan sayangnya … juga pantang mengalah .

Saya sih malas membuang waktu. Secara fisik cetarrrr, dan hati pun rasanya ‘click’ kalau logika saya melawan, tak akan saya lanjutkan. Begitu pula sebaliknya. Bertemu yang mantap tapi tak ada getaran dalam hati *tsaaahhh*, biasanya enggak lanjut.

Tak menjamin juga bila rasanya sudah cocok lahir batin, atas bawah, kiri kanan, masa-masa pernikahan bisa lancar jaya. Mitos banget itu mah 😛.

Untuk pernikahan saya sendiri, walau terbangun dari rasa saling meyakini yang nyaris 100%, tak lepas dari macam-macam prahara *astagaBahasanya* . Berantem dari model “Males ah ngomong sama elo” sampai taraf “Pulangkan saja aku pada ibuku” … semua sudah pernah. Hahaha.

***

Katanya, jodoh di tangan Tuhan. Benar. Tapi, tak sedikit yang teman-teman yang jomblo (apalagi kalau perempuan) yang gelisah justru karena lingkungan.

Saya sempat kaget, ketika salah satu teman akhirnya menikah. Feelingnya sudah gimana gitu. Benar kan, tak lama, dia bercerai. Sudah punya anak pula . Belakangan saya mendapat kabar (ocip-ocip dikit :P), dia menikah karena tidak tahan atas desakan orang tua.

“Don’t let marriage be your social alibi. Do it out of love.”

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=GMJjQpqIHbE]

Aku menikah denganmu karena cinta pada Allah itu juga tidak salah. Tapi ya, kita ini manusia yang diciptakan dengan perangkat hati yang lengkap. Cinta pada Allah juga berarti menghargai diri sendiri dan masa depan kita sebagai salah satu satu ciptaan Allah dong, ya .

Untuk saya, agama yang saya anut itu menyenangkan, kok . Rasanya tidak ada aturan yang bilang, “Kalau kau perempuan dan usiamu sudah di atas 30 tahun, siapa pun yang melamarmu, sikat saja” .

Pernikahan tidak hanya akan menyangkut anda dan pasangan anda. Suatu hari akan lahir buah-buah cinta. Kalau akarnya dari awal sudah goyah, bagaimana mau melahirkan dan merawat tunas-tunas yang terbaik .

Pertimbangkan matang-matang. Secara agama dengan tidak membuang jauh-jauh pertimbangan pribadi .

***

Konon, sehabis lebaran haji disebut-sebut sebagai musim kawin. Hihihihi. Kalau masih sendiri dan akan mengakhiri kesendirian di musim kawin ini saya ucapkan selamat menempuh hidup baru .

Namun, bila musim kawin tahun ini belum berhasil menjadi milik kalian, santaii saja. Bila diberi umur panjang, masih ada musim-musim kawin di tahun mendatang ;).

Hang on there, Dears . Enggak usah serabutan, dengan syarat tunggal, “Yang penting laki-laki.” Hehehe. Kalau ada yang nyinyir, niatkan sebagai sarana ibadah. Kesabaran memang berat tapi pahalanya tidak main-main.

Kalau pun seseorang telah hadir. Setidaknya … tunggulah. Wait until both your head and your heart say “Yes” 🙂.

tentang jodoh

***