Brighter Than Tomorrow

Martin Luther menggugat Gereja Katolik Roma di awal abad ke-16. Rasa tidak sukanya kepada kekuasaan Gereja Katolik tidak muncul serta merta. Tapi dari yang sedikit demi sedikit itu makin membuncah ketika Martin melawat langsung ke Roma dan menyaksikan sendiri kemewahan duniawi para pendeta Gereja Katolik kala itu.

Di bulan Oktober 1517, Martin menempelkan selebaran berisi 95 dalil yang berisi penegasan sikapnya. Utamanya terhadap kemewahan para penguasa Gereja Katolik dan kritik tajamnya terhadap mekanisme pengampunan dosa.

Kala itu, Gereja Katolik memperjualbelikan ‘surat penghapusan dosa’ kepada umat Katolik yang hendak memohon pengampunan. Martin menganggap, sejatinya dosa hanya akan terhapus dengan kesadaran pribadi dari sang pelaku.

Sementara transaksi jual beli ‘pengakuan dosa’ oleh para pastur dianggap akan menyesatkan umat yang akan lupa pada pentingnya pertobatan sejati oleh pribadi yang bersangkutan.

Martin tidak hanya mengandalkan secarik kertas yang ditautkannya pada pintu gerbang Gereja Wittenberg, tapi beliau mencetak dan menyebarkan selebaran yang sama kepada orang banyak. Cara inilah yang membuatnya ajarannya merembet luas dengan cepat.

Sekali pun sejarah menunjukkan, pembawa ajaran ‘Protestan’ di masa lampau sebenarnya sudah ada namun gemanya terlalu kecil.

Kecerdasannya dalam memilih metode penyebaran membuatnya lolos dari jeratan hukuman gantung bagi dirinya yang akhirnya ditetapkan sebagai penganut aliran sesat oleh petinggi Gereja Katolik di Jerman.

Selebarannya ternyata sudah menyebar jauh dan mendapat dukungan yang tidak sedikit. Pihak Gereja Katolik menjadi enggan dan hanya memerintahkan pembuangan kepada Martin Luther.

One thing we can learn from him. Sebaik apa pun maksud/tujuan yang kita ingin sebarluaskan kepada orang banyak, kalau caranya kurang tepat, efeknya akan kurang mumpuni.

Zaman belum ada media sosial dan internet saja, seorang Martin Luther sudah kepikiran menyebarluaskan isi pikirannya dalam bentuk tulisan terstruktur. Bukan dengan ngamuk-ngamuk di jalan atau ngancam-ngancam demo ya, Kakaaa 😉.

ucapan selamat natal
Clonmacnoise, Irlandia

***

Martin Luther lahir di Eisleben Jerman di tahun 1483. Sebenarnya, Martin tengah berusaha menuntaskan sekolah hukumnya ketika sebuah kejadian dramatis menimpanya. Martin lolos dari kematian ketika sebuah petir menyambar di sampingnya saat perjalanan pulang dari sekolah. Martin berseru dalam ketakutan dan berjanji akan menjadi biarawan.

Ditinggalkannya bangku sekolah hukum untuk memperdalam ilmu teologi. Saat inilah Martin memperdalam ilmu alkitabnya. Tak hanya sekadar mempelajari isi alkitab, Martin menerjemahkan isi alkitab ke dalam bahasa Jerman sesempurna mungkin sehingga memudahkan warga Jerman yang ingin mempelajari alkitab.

Tak berarti Martin Luther tak terlepas dari beberapa kesalahan penting. Diantaranya adalah sikapnya yang sangat ekstrim. Konon, karena sikap ekstrimnya inilah yang membuahkan terjebaknya Jerman dalam Perang 30 tahun (1618 – 1648) yang diwarnai perseteruan kental antara Protestan vs Katolik.

Perlawanan Martin Luther juga membawa angin segar bagi bangsawan Jerman yang ingin melepaskan diri dari Roma. Dan sikap anti semitnya yang berlebihan, kebenciannya yang amat sangat kepada kaum Yahudi, dianggap membuka jalan bagi Hitler untuk ‘memberantas Yahudi’ dengan NAZI-nya di masa Perang Dunia II.

Walaupun pemeluk kepercayaan Kristen Protestan bukanlah terbanyak di dunia, tapi sejarah tetap menempatkan Martin Luther sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia. Meskipun ironisnya, di daratan Eropa, wilayah kelahiran Martin Luther, kepercayaan terhadap agama makin menciut.

Makin ke sini, hadirnya bibit-bibit atheisme makin tak terbendung. Sekalipun Protestan dan Katolik bisa dikatakan telah saling berdamai secara universal .

Saya sudah bertemu satu diantaranya. Bertemu muka dan berdiskusi langsung secara tak sengaja di acara Morning Tea di rumah seorang teman beberapa bulan yang lalu. Teman saya, Clara, ini juga dari Indonesia, lho. Hanya ada 2 keluarga asal Indonesia di Athlone ini hihihi.

Di rumah Clara pagi itu, hadir 2 teman yang lain. Fatima yang berasal dari Arab Saudi dan Jean yang aslinya berasal dari daratan Cina tapi sudah berganti kewarganegaraan. Jean resmi memegang paspor Irlandia sejak tahun lalu. Maaf ya Mommie Clara, namanya disebut-sebut ini biar enggak disangka hoax hehe. Masih ingatkah dengan perbincangan kita di pagi itu?

Sebenarnya waktu itu saya lebih banyak diamnya. Clara juga. Sementara Fatima dan Jean berdebat soal agama, eike sibuk makan risoles dan bolu coklat buatan Mommie Clara hahaha. Mulut sibuk ngunyah tapi telinga saya siaga penuh mendengarkan mereka berdua asyik berdiskusi.

Uniknya, si Fatima dan Jean ini bersahabat karib, lho hihihi. Keren yah pertemanan mereka berdua. Saya sampai takjub, pas pulang, Jean yang mengantar Fatima pulang dan mereka cekikikan berdua lagi . Padahal di meja makan tadi, keadaan sempat memanas.

“I don’t believe in any religion. As long as you’re being nice to other. We don’t hurt each other, that would be perfect. Well, for me at least. Because I don’t mind if others think different.”

Secara tersirat, Jean mengeluhkan kalau biasanya, menurut dia pribadi sih, orang yang punya agama akan selalu rusuh melihat orang yang beragama lain. Jadi menurutnya, apa pentingnya punya agama kalau penganutnya selalu kesulitan berdamai dengan kepercayaan orang lain.

Sebenarnya, itu sinyal yang salah. Karena sejatinya, tiap agama itu mengajarkan kasih sayang mutlak. Jangan salahkan orang-orang seperti Jean, yang jumlahnya mungkin sudah banyak di mana-mana.

Mari kita berkaca kepada diri sendiri, apa yang membuat mereka berpikir bahwa instead of membawa kedamaian, beragama hanya membuat penganutnya menjadi arogan dan sulit melihat kebaikan pada diri penganut agama lain.

Kata agama itu sendiri, secara harfiah artinya .. a = tidak, gama = kacau. Agama = tidak kacau. Justru pening kepala, hampir semua kekacauan besar yang melelahkan dan memakan korban jiwa tidak sedikit di berbagai belahan dunia justru karena perbedaan AGAMA .

Jean, dan mungkin teman-teman atheisnya yang lain luput berkaca pada sosok Mahatma Gandhi. Saya sengaja tidak membawa Rasulullah, manusia favorit saya nomor satu. Dikarenakan saya muslim dan nanti disangka narsis hahaha. Tapi, saya pun kagum pada sosok sang Mahatma .

Gandhi konon merupakan salah satu pihak yang berkeras jika India tidak harus terpecah. Dia yang meyakinkan umat Hindu bahwa Hindu dan Islam bisa hidup dalam satu pemerintahan. Tidak hanya gagal, Gandhi meregang nyawa di tangan umatnya sendiri. Umat fanatik yang menganggap Gandhi terlalu pilih kasih kepada umat muslim.

Gandhi yang Hindu, dengan gagah berani, datang ke Bengal, ikut menyelesaikan kerusuhan antar agama yang meledak di sana pasca kemerdekaan India dan Pakistan dari tangan Inggris.

Begitulah seharusnya cermin orang yang beragama dengan benar. Tak pernah merasa terusik terhadap kehadiran orang lain. Iman yang tinggi selalu akan disertai rasa kepercayaan diri yang tinggi. Tak pernah merasa susah dengan kepercayaan orang lain . Berdakwahnya tidak dengan cara,”Lo kafir, lo kafir, lo kafir” . Hehe.

Maka … sudah selayaknya kita kaum beragama mengembalikan kepercayaan Jean dan teman-temannya , bahwa agama tidak akan membuat penganutnya rusuh dan eyel-eyelan enggak jelas. Ibadah ritual kan memang urusan sendiri-sendiri.

Asal urusan korupsi pastinya kompak dong, yaaaaa. Ihiiyyy…bagi-bagiin pentungan buat nabokin koruptor . Lah, malah ngajak rusuh! Hahaha.

Mengutip ucapan Gus Nuril dalam pidato kebangsaannya dalam perayaan Natal di Gereja Bithany Tayu beberapa waktu lalu, “Banyak orang mengira sedang mengabdi kepada Tuhan dan agama. Padahal sebenarnya, mereka hanya sedang melayani nafsunya sendiri.”

Saya pribadi tidak percaya semua agama sama. Karena kalau sama, ngapain pakai jilbab – salat 5 waktu – puasa belasan jam waktu ramadan kemarin? Kan mending milih ke gereja, cuma seminggu sekali, pakaian bebas, bisa pamer-pamer rambut Sunsilk-ku yang hitam lebat ini *pinjemSisirDong* hihihi.

Yang saya tidak percaya, keimanan saya terhadap Islam harus ditingkatkan dengan penolakan saya terhadap kepercayaan ritual orang lain. Kalau soal muamalah sih harusnya banyak sekali yang mirip-mirip.

Prinsip-prinsip kebenaran universal macam kejujuran-kerja keras-kesederhanaan-keikhlasan-empati dsb – terukir jelas di kitab agama masing-masing. Tak terbantahkan. Absolut.

Damai terus bumi Indonesia tercinta. Tempat bersatunya berbagai macam agama dan kepercayaan, suku dan bangsa, bahasa dan ragam budaya.

Persatuan dalam keberagaman adalah kekuatan kita sebagai bangsa Indonesia. Kalau kita bersatu, pihak mana pun hanya akan menemui kesia-siaan jika ingin mencoba mengail di air keruh . Biarkan saja belahan dunia lain rusuh. Tugas kita mendoakan dan mendamaikan. Bukan ikut ribut ya, Cyiiiinnn. Bagi-bagiin handuk basah buat mendinginkan kepala .

“When there is no enemy within, the enemies outside cannot hurt you.”― Winston Churchill

Satu lagi dari Gus Nuril …

“Kalau sampeyan sudah mengakui Tuhan sebagai Yang Maha Kasih, menjadi anak-anak Tuhan, maka kewajiban anda semua mengaplikasikan makna Sang Pengasih itu dalam kehidupan sehari-hari.” -Gus Nuril-

Mari kita hadirkan Sang Maha Kasih, Ar Rahman Ar Rahiim, dalam kehidupan kita sehari-hari.

Selamat merayakan Natal 2013 kepada saudara-saudariku yang merayakan .

“There’s A Place InYour Heart
And I Know That It Is Love
And This Place Could
Be Much
Brighter Than Tomorrow…”

Heal The World – Michael Jackson

 

Let It Go, Let It Go

“Let it go, let it go … couldn’t keep it in, Heaven knows I tried …
Don’t let them know, don’t let them see …”

Film “Frozen” pas sekali menjadi hits kala musim dingin tengah melanda belahan utara dunia.

Saat berjalan hampir mencapai pintu gerbang gedung apartemen di kamis pagi kemarin, pemandangan mendadak berubah. Kapas-kapas putih berjatuhan dari langit.

Bukan pertama kali saya bertemu hujan salju. Sudah pernah beberapa kali. Pas sedang tidak ingin keluar rumah pula waktu itu. Mengintip lewat kaca jendela saja. Biasanya … hujan saljunya sedikit dan tidak lama.

Tapi pagi itu, lebat, booooo … Irlandia memang tidak akrab dengan hujan salju. It’s not something common here. Sudah terlanjur mau berangkat ke sekolah. Sempat ingin balik badan untuk berteduh. Dipikir, hujan enggak lama, 5 menit beres.

Untung saya tetap berangkat, salju terus mengguyur lebat sampai 30 menit.

Di jalan, awalnya Nabil heboh, “Mommie, look at your coat, it’s all white. Look at the road! Look at Narda’s stroller.” Norak-norak bergembira lah pokoknya, pertama kali jalan-jalan di bawah guyuran salju. Tapi sumpah, dingin, gilak.

Karena tidak mengira bakal turun salju, saya dan Nabil tidak membawa sarung tangan. Setengah perjalanan, Nabil mulai menggigil, “Mommie, I can’t hold the umbrella. My hands are freezing.”

“Deket lagi kok. Payungnya jangan dilepas.”

Maksudnya dia, dia pengin masukin tangannya ke dalam saku sementara saya tak bisa membantu memegang payung. Eike kan kudu dorong stroller.

Untungnya, sampai sekolah Nabil langsung hepi lagi.

Pulang ke rumah, saking khusyuknya menikmati hujan salju (hahaha), tak sadar tangan sudah memerah. Begitu masuk, rasanya sakit banget. Tapi tetap ya boo, buru-buru nyalain laptop, online di skype, nelepon suami nun jauh di Amerika Latin sana, “Papaaaaaaa, barusan hujan salju. Lebat banget. Ih, seruuuu…”

Suami yang masih muka bantal hanya bisa bengong mendengar bininya koar-koar enggak jelas. Hahaha.

Beberapa menit setiba di rumah telapak tangan sakit banget dan merahnya agak lama baru memudar, tetap saja senyum-senyum sendiri. Dalam hati terus bergumam, “It’s really beautiful. No regret.” 

***

Mungkin, memimpikan berjalan di bawah salju seperti memimpikan gelar seorang ibu. Sebelum hamil, pikir kita, ah, pasti senang banget kalau hamil-melahirkan-merawat anak dan seterusnya. Intinya, diharap yang indah-indahnya saja.

Giliran hamil, mabok berbulan-bulan sepanjang hari. Melahirkan jangan dikira enteng. Mau normal, mau via SC, perjuangannya tetap bikin ngelap keringat. Apalagi giliran merawatnya, du-du-du-du … antara mau bersenandung atau mau jambak-jambak rambut ini hihihi. It’s not easy but still… it’s beautiful 🙂.

Musim dingin berlalu, kala musim semi bergantian musim panas, rasanya pengin melihat salju lagi. Sama dengan punya anak. Begitu sudah lewat masa-masa ‘sulit’, kembali gelendotan ke suami, “Pa, bikin lagi, yuk!” Hahaha.

Menjadi perempuan, dramanya tidak sedikit. Sudah pakemnya hehehe. Dari usia sekolah sirik-sirikan model rambut, pas abege rebutan laki-laik #eh , begitu dewasa – menikah – punya anak, ajang kompetisi berlanjut ke masalah anak.

Waktu masih bekerja sehabis melahirkan dan pas ngantor rutin mengunjungi nursery untuk memompa ASI, ada kejadian unik.

Suatu sore, saya masuk ke dalam ruangan nursery seperti biasa. Tumben, sepi. Saya pikir tidak ada orang, karena ruangannya berbentuk huruf L. Eh, tiba-tiba terdengar suara teman yang lagi menelepon. Kira-kira dia memberikan instruksi seperti ini,

“Iya, kasih saja susu yang itu. Kalau habis, kaleng barunya ada di lemari dapur. Tempat biasa.”

Saya tahu itu suara siapa. Saya sudah keburu masuk. Saat dia berbalik badan melihat saya, dia mendadak gagap.

Akhirnya saya yang duluan bersuara, “Dicampur? Enggak apa-apa. Gue dulu sebelum lancar mompa, sempat ngasih sufor, lho.”

Dia tersenyum kikuk, “I..iya, nih. Anaknya rakus. ASI pas-pasan.”

Dia menuju pintu, sebelum keluar, dia menengok sebentar dan berbisik malu-malu, “Mbak, jangan cerita ke yang lain, ya.”

“Sip, sip.”

Sebagai sesama ibu-ibu, saya paham maksudnya.

Selama ini, dia sudah masuk ‘geng ASI’. Selalu ikut gencar bercerita soal ASI dan semacamnya. Tak sulit menerka mengapa dia merasa perlu ‘menyembunyikan’ soal si sufor tadi. Maklum, beberapa memang tergolong ‘garis keras’ hehe.

Ada semacam ‘konsekuensi’ yang harus ditanggung kalau sampai ketahuan memberi sufor . Termasuk rasa tengsin karena selama ini sudah ‘berdusta’ kali.

cara memikat hati wanita

Saya sebenarnya tidak setuju dengan beberapa penggiat ASI (terutama yang ‘garis keras’ :P) yang ngotot bahwa kampanye harus gencar dan beruntun karena masih banyak ibu-ibu yang sebenarnya enggak ngasih ASI karena tidak paham. Hm, tidak juga.

Saya tahu tidak sedikit teman-teman yang memutuskan untuk tidak memberi ASI atau sudah berniat memberi ASI hanya sampai usia tertentu yang tidak optimal menurut pakar ASI. Bukan karena mereka tidak paham soal manfaat ASI dll. Heloooo, era internet begini . Mereka pun bukan kalangan tidak berpendidikan. They don’t do that simply because they don’t want to 🙂.

Sebagian tidak malu-malu mengaku, “Repot. Apalagi gue suka bepergian ke luar negeri. Lagian kalau sufor kan bisa ganti-gantian sama suami. Kadang lembur juga gue di kantor. Capek.”

Tentu, tak berarti dia tidak sayang anaknya dong, ah. Mang situ siapa sampai hendak menjudge, “IBU MACAM APAHH KAMUUU?”

Saya pernah memutuskan unsubsribe dari sebuah forum ibu-ibu karena ‘berantem’ dengan seorang aktivis ASI yang berani melabeli sufor sebagai ‘racun’. Padahal kami tahu, isi forum tak cuma ibu-ibu yang tengah berjuang ASI ekslusif. Ini mau kampanye atau nakut-nakutin orang, sih?

Judgement seperti ini yang membuat sebagian lagi merasa gentar untuk jujur. Contohnya ya kasus teman tadi yang akhirnya berakting rajin ikut memompa ASI padahal sebenarnya anaknya sudah mengkonsumi 70% sufor.

Di masa-masa ‘dunia’ memprotes ‘pola didik ala Budaya Timur’ yang dianggap menafikan kebebasan anak, Amy Chua menyeruak dengan bukunya yang menjadi best seller kala itu, “The Battle Hymn of TheTiger Mom.” Amy Chua blak-blakan menuliskan caranya mendidik para gadisnya yang diungkapkannya sebagai, “Cara Ibu Cina.”

Tentu saja, pro kontra bermunculan.

Sempat hits pula masalah homeschooling. Pro kontra calistung di usia balita yang sempat ramai di forum tertentu yang bikin saya geleng-geleng kepala. Ada yang menuduh calistung di usia balita sudah tidak zaman. Tidak ada negara maju yang menerapkan calistung pada anak sekolah usia balita. Kata siapa? Sini, sini, sekolahin anak di Irlandia. Di sini, di sekolah anak saya, dari usia 4 tahun, calistung sudah diajarkan secara ketat.

Belum lagi pertentangan yang hingga kini  masih menduduki posisi jawara dalam urusan nyinyir-nyinyiran ala emak-emak, SAHM vs WM. Repot ini urusannya karena sudah sering bawa-bawa surga dan neraka.

“To believe in your choice you don’t need to prove that other people’s choices are wrong.”– Paulo Coelho

Hal-hal seperti ini yang membuat sebagian ibu jadi gamang. Sibuk mencari pembenaran. Ingat, “Every Mom Has Her Own Battle” . Jangan risau. Tak guna berbohong yang tidak penting.

Gelar ibu kan tidak otomatis membuat kita sempurna. Namanya manusia. Sudah punya anak pun tidak menuntut kita menjadi dewa.

Melahirkan normal atau SC, hendak terus berkarier di luar rumah atau melepaskan kesempatan untuk berdedikasi dari rumah, mau menjadi “Tiger Mom” atau “Rabbit Mom” , ingin memberi ASI sampai profesor hihihi atau memutuskan untuk memberi sufor, berangan-angan homeschooling atau tetap stay di ‘sekolah formal’ … it’s all yours.

Namun, hendaknya disadari. Bersama setiap keputusan, ada konsekuensi yang mengikuti. Be prepared .

Bukan ini yang seharusnya kita perjuangkan, “I would do anything to make YOU happy.”

Mungkin lebih tepat bila kita, ibu-ibu, punya ikrar begini, “I would do anything to make US happy” 

Apa pun pilihannya, bertahan saja dengan keputusan yang dirasa terbaik yang sudah diambil. There were moments when you believed you were the smartest Mom in the world and then incidentally you were hit by the fact that someone else was doing much better somewhere out there. Suddenly, you felt lost. Lesson learned : Being grateful all the time is challenging 🙂.

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

” … And the fears that once controlled me
Can’t get to me at all.” -Let It Go-

Apa yang kita takutkan? Lupakan pencitraan. Anak-anak jangan dijadikan ajang kompetisi masing-masing ibunya. Ingat, mereka bukan beban. Mereka separuh hati kita . Seorang ibu tetap menjadi pribadi yang utuh terlepas dari akan menjadi apa anak-anaknya kelak.

Just be yourself, Mommies. Let it go, let it go 🙂.

Seperti apa pun ‘citra Ibu’ yang kita pilih, let’s celebrate our own choices. Selamat hari Ibu 🙂.

***

Diciptakan Alam … Pria dan Wanita

Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
Ada pun wanita lemah lembut manja

Begitu kira-kira penggalan lagu lawas, “Sabda Alam”. Enggak familiar? Tapi pasti langsung ngeh dengan lirik yang ini “Wanita dijajah pria sejak dulu…” Itu dari lagu yang sama.

Pria berkuasa, wanita lemah lembut, itu pakem umumnya :D. Diciptakan alam, pria dan wanita :).

Bagi yang mengenal saya secara personal, pernah ketemu langsung dan berinteraksi di dunia nyata, semua juga tahu … lemah-lembut-manja is definitely NOT ME! Hahaha.

Tapi kan itulah gunanya diciptakan macam-macam manusia. Perempuan pun tidak diciptakan seragam ;).

Waktu saya SMA, saya punya sahabat. Dengan perangainya yang anggun, bodinya yang oke, tampangnya yang imut, tak heran yang naksir sampai antre :D. You know who you are. Kapan kita biskal-biskal lagi, Ces :P. Kalau secara umum di tanah air bilangnya curhat (curahan hati), abege Makassar di tahun 90 an bilangnya, biskal (bisikan kalbu) :D.

Pernah suatu hari, untuk kesekian kalinya dia curhat, “Bagaimanami ini. Menelepon terus ki. Malasku’ deh…” (Gimana nih? Dia menelepon terus. Malas, deh).

Saya merespons dengan gemas, “Ka jammoko angkatki telponnya. Kasi tau orang di rumahmu. Kalo meneleponki lagi, bilang saja kau tida’ ada.” (Jangan diangkat teleponnya. Beritahu orang di rumahmu. Kalau dia menelepon, bilang saja kau tidak ada).

“Tauwa. Nda’ tegaku. Kasiannya kodong kalau begitu.” (Aduh, enggak tega. Kasihan dia nanti).

Ya kan saya jadi gatal-gatal sendiri. Apa susahnya sih menolak telepon dari orang yang tidak kita sukai? –> raja tega dari dulu :P. Simpel ya, Bo. Tidak suka, jangan diladenin. Saya pribadi selalu kurang nyaman dengan situasi tidak seimbang macam ini dan selalu ingin buru-buru mengakhiri.

Saya punya satu cara fantastis yang saya lakukan untuk mencegah kode ‘salah alamat’ seperti ini :P. Kalau saya naksir pada seorang teman, seluruh dunia pasti tahu! Hahaha. Cek saja, tidak di SMP, SMA, kuliah sampai ngantor juga begitu. Harapannya, dengan begitu, yang mau ‘maju’ sudah rontok duluan. Jadi, tak perlu ada drama dan semacamnya.

I love drama for sure. I just don’t feel like I wanna be a part of it :P.

Geer banget, macam banyak yang naksir saja. Mending geer daripada minder hihihi :P.

Blak-blakan saja :D. Suka bilang suka. Walau tak umum, perempuan yang ‘maju’ duluan. Konsekuensinya juga berat, sih. Karena seringnya gagal hahahaha.

Repotnya, begitu gagal, dalam hati sudah berdamai, tapi susah memberitahu pada lingkungan bahwa, “All is well. I’m moving on.” Orang-orang tetap saja merasa kasihan. Puk-puk Jihan, cintanya ditolak! Oh heloooo, kalau naksir orang ya jangan satu, dong. Hahahaha.

Dulu pas ngantor, ingat banget. Ceritanya, kecengan eike merit aja gitu hahaha. Setelah itu,  semingguan, sepanjang hari diputerin lagu “Pupus”nya Dewa. Ngeledek banget dah :D. Etapi, lagunya emang bagus, kok. Masih ada yang ingat? 😉

Tentu, tidak semua perempuan seperti saya. Yang tidak malu terbahak-bahak di kantin tanpa menutup mulut sama sekali :D. Yang tidak segan memasang tanda dengan jelas tanpa basa basi “Stop sampai disitu.” jika mendapat ‘serangan salah alamat’ :P. Serta tak ragu menunjukkan rasa suka walaupun pihak seberang belum pasang ancang-ancang hahaha. Masa lalu ya booo … masa lalu :P. Jangan diingkari, mari diambil hikmahnya ^_^.

Jangan salah. Di balik kelembutan dan kemanjaan perempuan, kekuatannya juga tidak main-main :).

Namun adakala prla tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita

Harta-tahta-wanita konon adalah cobaan terbesar untuk para laki-laki.

Perempuan dan laki-laki itu harusnya saling melengkapi. Bukan adu keren-kerenan hehehe.

Namun lantas, janganlah kelembutan perempuan (pada umumnya) disalahartikan sebagai persetujuan. Menilik kasus yang menimpa seorang sastrawan besar inisial SS, terus terang istilah ‘suka sama suka’ ini mengganggu sekali :(.

Beberapa orang sampai mempertanyakan, “Kok baru berani mengadu setelah hamil berbulan-bulan?”

Perempuan tak sama dengan laki-laki :). Pahami itu dulu. Sepadan tapi tak sama. Manalagi masalah dan hukum yang masih kurang ‘berpihak’ pada kasus-kasus seperti ini.

Gambar : interestingtopics.net
Gambar : interestingtopics.net

Saya pernah membaca sebuah kasus di Amerika Serikat, tentang seorang PSK yang berani melaporkan sebuah pelecehan seksual yang dilakukan pada dirinya. PSK, lho. Kalau di Indonesia pasti sudah dicibir duluan. Betapa hukum negara di sana sudah sedemikian ‘canggih’nya melindungi sebagian besar bentuk kejahatan yang menimpa siapa pun :D. Well, more or less ya. Mana ada hukum yang sempurna kecuali datangnya dari Sang Pencipta ;).

Tak usah saya berpendapat panjang-panjang soal SS. Mari langsung disimak tulisan dari Ayu Utami di link ini. Btw, I’m not her fan, sih :). Tak sedikit pemikirannya yang berseberangan dengan saya.

Tapi, banyak orang menuduh para sastrawan ‘liberal’ (whatever this means, karena penggunaannya sudah mulai seenaknya sih ya *sedih*) berusaha ‘melindungi’ si SS. Ayu Utami punya pendapat berbeda :).

Ayu menuliskannya dengan runut, indah, tidak menuduh dan tidak menghujat :). Monggo dibaca :). Duh, kalau yang nulis sastrawan memang ‘beda’, ya ^_^.

https://ayuutami.com/mengapa-kita-tak-pantas-lagi-bilang-suka-sama-suka/

Willing to be Little :)

***

Teman saya ini berasal dari keluarga cukup berada. Dari lahir, ke mana-mana sudah naik mobil :D. Tak cuma mobil, lengkap dengan supirnya :).

Keluarganya berasal dari Tanah Minang. Sang Ayah sukses meniti karier hingga akhirnya menjadi kepala cabang sebuah Bank Negara yang dulunya cukup popular. Ayah dan ibunya menghabiskan tahun-tahun penempatan pertama di Pulau Sulawesi. Dari Gorontalo, Manado hingga Bitung.

Teman saya sendiri lahir di Yogyakarta. 4 tahun masa awal kehidupannya dihabiskan di Muntilan. Lalu berpindah ke Pamekasan dan akhirnya ke Nganjuk sebelum pindah ke Jakarta di tahun 1994.

Selain fasih berbahasa Minang, dia juga cukup piawai berbahasa Jawa. Malah waktu kecil sampai bisa berbahasa Madura segala hehehe.

Di Pamekasan, dia cerita kalau dari arah jalan raya, rumahnya tidak kelihatan. Iya, tidak kelihatan, saking luasnya pekarangannya hehehe. Rumah dinas kepala cabang tempo dulu memang lumayan ‘wah’. Saking gedenya itu rumah, garasi mobil terletak di bangunan yang berbeda dari bangunan utama.

Di Nganjuk juga tinggal di rumah dinas yang serupa. Rata-rata bangunan lama yang memiliki atap tinggi dengan ukuran yang luas dan dibangun di atas tanah yang tak kalah gedenya (untuk ukuran rata-rata rumah sekarang).

Sebagai petinggi bank, pergaulan orang tuanya kala itu selevel dengan orang-orang Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah). Mulai dari bupati, kepala PLN dan pemimpin-pemimpin berbagai instansi di wilayah terkait. Semacam anak pejabat kecil-kecilan gitu kali, ya hihihihi.

Rumah selalu dijaga satpam bak orang kaya di sinetron-sinetron :P. Bantuan tak pernah kurang lah. Mulai dari supir pribadi sampai asisten rumah tangga.

Anak itu anak yang sama yang sekarang menjadi teman saya yang paling akrab. Yang suka ngeyel kalau saya bilang, “O ya ampun, warna baju udah pudar begitu. Beli baru napa? Terus ya, itu jam tangan yang talinya udah rusak apa enggak diganti yang baru aja? Duh, sepatumu itu, lho. Udah mau copot lem sampingnya, beli baru wooooiiiii…”

Dia selalu nyengir, “Ngapain pakai baju bagus-bagus? Sudah ganteng begini. Kalau pakai baju bagus nanti ada yang naksir gimana? Apa siap punya saingan? Siap dimadu?” Hahaha. Cubitin dulu sampai merah :P.

Terus, “Jam tangan ngapain? Lihat aja jam di hp. Sepatu tanggunglah, tunggu rusak sekalian.”

Seorang teman yang akhirnya menjadi sahabat dan terus melaju menjadi suami hihihi. Sang suami memang berbeda dengan eike. Kalau saya lahir dan besar dari keluarga biasa-biasa (gengsi bilang menengah ke bawah hahaha), beliau sudah tajir dari kecil :P.

Tapi, waktu kenal pertama di bangku kuliah, enggak kelihatan. Pernah, sih, dia sesekali ke kampus bawa mobil. Lebih sering enggaknya. Jadi maaf ya, waktu kuliah dikau tidak masuk dalam list! Hahahaha.

The Gober(s) :D -2007
The Gober(s) 😀 -2007

Saat masih bermukim di Jeddah, kita pernah ikut konvoi ke Al Hijr, mau jalan-jalan ke Madain Saleh. Waktu mengisi bensin, saya sudah peringatkan suami, “Sudahlah Bang, ngisi bensin 95 aja, yuk. Gue yakin semua pasti ngantri di sana. Jangan di 91. Diketawain lu ntar. Suwer.”

Bensin di Saudi itu level Pertamax semua, kalau enggak 91 ya 95. Harganya jelas 95 yang lebih mahal. Menurut suami, la di Jakarta saja kuat pakai oktan 88 (Premium), pakai oktan 91 enggak masalah pastinya. Lebih murah pula hihihihi.

Beneran, deh. Waktu itu hampir semua bapak-bapak ngakak kencang-kencang melihat suami yang tetap nekat mengantre di jalur 91 hahaha. Sementara semua mobil berbaris manis di jalur 95 :). Penjaga pompa bensinnya sampai ikut nyengir-nyengir. Kami pun tak protes kalau dilayani paling terakhir.

Suami saya sama sekali tidak merasa tengsin, Ikut ketawa-ketawa malah di belakang kemudi. Kalau orang biasanya kan irit ke orang lain tapi ke diri sendiri jor-joran. Nah, beliau ini ya memang dasarnya sederhana. Ke diri sendiri pun selalu berhemat sampai hal-hal kecil sekali pun.

Waktu tahu dia beli Toyota Yaris semasa di Jeddah juga saya sempat protes. “Kok malah beli Yaris? Semua pakai Civic. Beli Civic juga napa, sih?”

Suami menjawab tenang, “Ngapain beli yang mahal-mahal? Yaris juga harga jualnya bagus dan cepat laku. Kalau kita mau pindah nanti, enggak bakal ribet jual mobil.”

Benar banget, lho. Yaris biru muda yang sudah pernah menemani kami berpetualang sejauh 33 ribu km selama dua tahun terjual hanya dalam tempo 2 hari! Itu pun banyak banget yang menelepon ^_^. Malah, ada teman yang sempat mencibir suami yang disangka menjual dengan harga terlalu mahal. Voila, pembeli pertama membeli di harga penawaran pertama, kagak pakai nawar-nawar. Hidup Yaris! Hahahaha.

Hidup apa adanya memang lebih banyak manfaatnya. Ajaran agama mana pernah salah, sih? :D.

Saya tak suka makan di tempat-tempat mahal lebih karena bawaan lidah saya yang sepertinya sudah dipatok jadi lidah kampung. Sudah sampai Eropa, masih stres kalau enggak makan tahu-tempe hahaha.

Suami saya suka banget makan steak dan semacamnya. Tapi ya itu, dia tidak pernah menjadikannya gaya hidup :). Secukupnya saja. Dia pernah bilang, “Hidup ya masa dikendalikan sama perut?” ;).

Saya juga pernah tinggal bersama mertua. Wah, jadi tahu saya dari mana suami saya mendapatkan pendidikan seperti ini. Contoh langsung dari bapak dan ibu mertua :).

Bapak dan ibu mertua, bahkan hingga kini di masa pensiunnya, malah tinggal di rumah yang terbilang mewah. Lingkungannya juga cukup mentereng. Tetangga kiri kanan komplit. Mulai dari anggota DPR, petinggi Polri, petinggi BPK hingga promotor acara yang pernah sukses membawa Disney On Ice ke Jakarta ;). Rumahnya elit tapi sehari-harinya wah…jauh banget dari kata elit.

Perkakas rumah tangga seadanya. Lauk-lauk seadanya. Mertua juga tidak suka jajan. Makan di luar pun sangat pilih-pilih :). Penampilan juga tidak macam-macam.

Bapak mertua kadang suka memanfaatkan angkutan busway untuk kontrol ke rumah sakit. Kalau dipikir-pikir, apa susahnya beliau naik taksi? ;).

Papi (bapak mertua) pernah bilang, cita-citanya dari muda, tidak ingin menyusahkan anak-anak di masa tua nanti. Alhamdulillah, doa dan kerja keras beliau dijawab Allah :). Secara materi, mereka sangat berkecukupan. Ditambah pula dengan anak-anak yang mandiri dan juga diberkahi materi yang tidak sedikit. Alhamdulillah. Semoga menular ke kami nanti. Aamiin :D.

Rahasianya? Dari kecil suami saya selalu bilang tidak pernah dimanjakan. Dia cerita waktu kuliah boleh pinjam mobil (mobil tidak cuma satu lho di rumah :P) tapi bensinnya beli sendiri. Jangan harap dapat uang bensin khusus.

Dari kecil sudah diajarkan menabung. Sejak pertama kerja, fokusnya sudah menabung. Stabil banget pengeluarannya. Biasanya kan makin gede gaji makin gatal mau beli-beli untuk punya-punya.

Suami saya tidak pernah keranjingan gadget. Tapi kalau lihat properti, baru jelalatan matanya hahahaha. Senang fotografi, tapi tak pernah tergiur lensa-lensa mahal. Ada juga saya yang gemas maksa-maksa dia beli-beli lensa demi foto-foto ciamik. Toh, fotonya dipakai bininya untuk jualan gitu, lho :D.

Ya begitu deh si Paman Gober kita ini. Hahaha. Enggak di Tehran, di Jeddah, di Athlone, kesederhanaan selalu menjadi pilihan utamanya :). Sesuatu yang telah diajarkan dengan sungguh-sungguh oleh kedua orang tuanya sejak kecil. Ketika roda kehidupan memungkinkan mereka bergaya hidup kelas atas secara materi.

Tentu saja, tiap manusia punya kekurangannya masing-masing. Suami, bapak mertua dan ibu mertua juga manusia biasa yang punya sisi positif dan negatif masing-masing :).

Saya jadi malu kalau mau ikut-ikutan sok-sok beli ini itu. Malu sama suami terutama. Dia saja yang dari kecilnya secara materi berlimpah sanggup kok hidup sederhana kenapa gue yang ribut mau beli ini itu coba? hahaha *getokKepalaSendiri*.

Walau tentu saja hubungan dengan ibu mertua tak selalu mulus, saya selalu mempersembahkan rasa kagum terbesar saya atas ‘kesuksesan’ beliau mendidik para ananda tercinta dari segi yang ini. Ah, kita ini para menantu hanya memetik enaknya saja, ya, kalau dipikir-pikir hehehe. Seribu jempol untuk Mami tercinta, deh, untuk urusan ini. Doakan menantu-menantumu bisa mengikuti jejak yang sama ya, Mi. Amin :).

Bukan berarti tidak boleh kaya. Umat muslim justru harus tajir. Selain untuk melindungi diri sendiri dan keluarga agar bisa membantu sesama juga kan? ;). Tapi, ya diinvestasikan saja ke hal-hal yang tidak perlu orang tahu kalau tidak kita beritahu.

Kalau mobil mewah dan baju-baju mahal pasti akan terus mengikuti ke mana kita pergi, kan? Makin mewah makin pening. Keserempet di jalan mau mati gak tuh rasanya? Hahahahha. Baju-baju dan aksesoris mana ada habisnya? Makin banyak baju bukannya hidup tambah senang. Makin puyeng pilih-pilih kalau mau bepergian.

Dari segi materi sebenarnya pas-pasan, tapi ya mau bagaimana lagi bertahan di lingkungan, dicicillah itu sebuah mobil dan sebuah rumah sekaligus. Mobil caem, rumah keren, masa sekolah anak jelek? Lanjuuuuut.

Belum kalau akhir pekan pengin nge-mall. Masa iya tas mahal, baju bermerek, maennya ke mal ecek-ecek. Ke mal mentereng dong awwww hihihihi. Begitulah, tak akan ada habisnya :). Tak pernah datang usainya.

Saat itulah, setan mulai beraksi. Memangnya orang korupsi untuk apa? Untuk ditabung doang? Mana mungkiiiinnnnn. Untuk dipakai sedekah? :P. Ya untuk dipakai berfoya-foya :(. Beli rumah sana sini. Koleksi mobil-mobil mewah. Jalan-jalan ke luar negeri sekeluarga (eh, ini bisa gratis sih pakai uang negara hahahahaha). Kalau perlu…ya kawin lagi. Bini galak, gunakan plan B : nikah siri diam-diam atau selingkuh sekalian hehehe.

Sebagai muslim, punya banyak uang? Kudu. Gaya hidup mewah? Bukan tuntunan agama :). Lagian penting banget ya dibilang tajir? Enggak enak tauuuu. Disuruh nraktir melulu entar hahahahaha. “Baju lu mahal begitu. Masa bayarin makan di sono aja enggak ada duit, sih?” Nah lo nah lo, gimana tuh nolaknya? Hahahhahaha.

Memang, sih, tidak seharusnya ya rasa senang atau bangga disandarkan kepada materi. Karena balik lagi, enggak bakal ada habisnya. Puas habis beli tas LV  model terbaru, begitu di tangan rasa puas akan terbang dengan sendirinya. Karena … Hermes juga ngeluarin produk terbaru. Lemas lagi. Pengin lagi. Hehehe.

The best feeling in the world is realizing that you’re perfectly happy without the thing you thought you needed

– marxie

***

Tak Hilang Arah Kita Berjalan

Sarah Whitehead menghabiskan 25 tahun hidupnya untuk mempertanyakan perihal saudara laki-lakinya. Saudara Sarah bekerja di Bank of England dan dituduh mencuri hingga dieksekusi. Sarah syok. Tak mampu menerima kenyataan, Sarah terus mendatangi bank tersebut, menanyakan tentang saudaranya.

Karena kasihan, saat Sarah meninggal, pihak bank membayar pemakamannya yang bertempat di salah satu lokasi taman di halaman gedung. Konon, hingga kini, arwah Sarah masih sering gentayangan di gedung yang hingga kini masih berdiri dengan nama yang sama, “Bank of England.”

Kadang … enggak gampang, ya, berdamai dengan kenyataan :).

Tapi, apa pun kenyataan yang terjadi saat kenyataan yang ditunggu tak menjadi kenyataan, semoga kita enggak bakal ‘menghantui’ siapa pun untuk menuntut balas hahaha.

***

Juni 2008, saya cuti untuk melahirkan. Pertama kalinya saya memutuskan untuk membeli  notebook sendiri. Ogah menggotong notebook dari kantor ke rumah selama cuti, entar direcokin kerjaan terus hahaha.

Harus cuti 3 bulan dari dunia kerja, bakal garing banget kalau harus cuti dari dunia maya pula. Mulai cari-cari.

Dalam membeli apa pun, saya menganut prinsip ekonomi yang standar. Mendapatkan keuntungan sebesar mungkin dengan pengorbanan sekecil mungkin. Standar ibu-ibu la yaaaa hihihihi 😛

Tak heran jika pilihan langsung jatuh kepada yang murah dengan fasilitas optimal.

Kalau soal spesifikasi yang lebih detail, pengguna ‘konservatif’ seperti saya memang hanya membutuhkan fasilitas standar seperti office basic, browsing dan multimedia. Tidak suka main game :D. Anak-anak juga tidak saya biasakan. Nanti saja mereka main game sepuasnya kalau sudah punya sendiri hihihi. 

***

Tujuh bulan setelah anak pertama lahir, saya memutuskan untuk meletakkan karier yang sudah dibangun tanpa jeda selama tujuh tahun penuh. Untuk saya pribadi, saat itu prioritas telah berganti.

Berhenti bekerja kantoran, saya kembali menekuni hobi menulis. Frekuensi saya menggunakan notebook dalam sehari tergolong tinggi.

Kalau di rumah … saya sudah terlatih untuk membagi konsentrasi dunia nyata vs dunia maya sembari menunggu masakan matang, menemani anak makan (dengan catatan mereka tidak minta perhatian) dsb.

Kalau bosan, saat anak sulung di sekolah, saya melipir ke perpustakaan. Perpustakaan di sini nyaman banget. Juga ada satu kebiasaan orang di sini yang juga kerap saya ikuti dalam menghabiskan separuh pagi, semacam ritual morning tea.

Ada teman atau sendiri, saya tak masalah.  Anak saya yang bungsu biasanya ketiduran kalau pagi-pagi didorong dalam stroller saat mengantar abangnya ke sekolah. Kesempatan, kan, untuk ‘me time‘ bersama hobi.

Saya, walau tak bisa dibilang fashionable, termasuk picky dalam penampilan. Paling malas menenteng-nenteng ransel kalau tidak untuk belanja ke supermarket.

Sebagai pendatang, saya rasa kita perlu menjaga penampilan seoptimal mungkin. Ingat, jika berada di luar negeri, kita otomatis menjadi duta dari bangsa sendiri. Kalau tampil kece bisa membuat orang lain tidak memandang sebelah mata pada bangsa kita, kan? Definisi ‘kece’ ala saya tidak selalu berarti mahal ;).

Kalau memantau  orang-orang lalu lalang di luar kafe dalam mal, sering terbersit ide-ide untuk membuat tulisan.

Saya menulis nyaris apa saja. Dalam seminggu bisa menulis 3-4 artikel yang tergolong ‘serius’ dalam blog pribadi.

Setelah mulai menjajal media cetak setahun terakhir ini, hampir 20 tulisan sudah mejeng di berbagai media cetak nasional. Mulai dari cerpen, resensi buku, cerita-cerita khas ala ibu-ibu, hingga tulisan jalan-jalan…hajar, bleh! :D.

“Pesona Bumi Arab Saudi” -Majalah Colours, Garuda-

Naskah buku tidak saya hindari.  Saya juga tidak mengharamkan lomba-lomba blog dari aktivitas menulis. Toh, sama-sama menulis.

Dalam sejam, tanpa gangguan, saya bisa menulis sampai 10 halaman A4. Kebanyakan memang masih non fiksi. Kalau enggak diganggu facebook, berapa halaman yang bisa saya taklukkan dalam jam-jam ‘me time‘ pagi hari itu, ya? Hahaha :p.

Kecewa Tak Masalah, Teruslah Melangkah

Bila suatu urusan telah selesai dikerjakan, apa pun hasilnya, tetaplah berjalan terus. Amit-amit kalau sampai harus menjadi Sarah Whitehead yang juga dijuluki “The Black Nun” itu *ketokKetokMeja*.

Seperti kompetisi. Pada akhirnya, kalau ternyata tidak menang, kekecewaan pasti akan berlalu. Even echoes fade away :).

Kalau perihnya sudah lewat …  pen in hand … jari-jari para emak blogger kembali bersiaga di atas notebook masing-masing. Mari kembali berkarya di blog, di naskah buku, di artikel-artikel media cetak dan tentu saja … enggak kapok ikut lomba blog lagi hihihi.

Kalau pun tak di dunia jerih payah jemari kita menuai hasil, masih ada akhirat, kan? Therefore, menulislah selalu untuk kebaikan :).

Arising honestly.

The miles behind are littered with the weight of nostalgia, but too many miles lay ahead us to carry the weight. In the end, even echoes fade away.

Pen in hand…

Arising to write the next chapter.

-Shannon L. Aider-

Penting untuk tetap menyematkan idealisme dalam mimpi. Agar selamanya, angan-angan tidak kehilangan makna. Menang atau kalah, dalam hal apapun, tak hilang arah kita berjalan … menghadapinya :).

***