The Most Fiercest Creature on The Face of The Earth

Kenai memandang penuh ke arah dinding gue di hadapannya. Alisnya mengerut, matanya bersinar menyala. Kenai marah.

Sebuah gambar terukir di sana, Gambar close up di layar menunjukkan Kenai fokus ke gambar si beruang yang mengangkat kedua tangan dengan wajah menyeringai tajam seperti hendak menerjang seorang manusia di hadapannya yang juga berdiri bersiaga dengan sebilah tombak di tangan.

Koda datang dan menyusup bersembunyi di balik punggung Kenai. Dia mengintip sambil berujar, “Those monsters are really scary … especially with their sticks.”

Kenai tertegun. Raut wajahnya sontak berubah. Pandangan matanya langsung beralih.

Kenai dan Koda. Penggemar Brother Bear mana suaranyaaaaaaaa? :D.

I love, love, love Disney :D. Plus Pixar jugalah beberapa. Apalagi cerita-cerita klasik seperti Brother Bear ini. Brother Bear sendiri saya nonton sampai 3x. Pertama kali nonton sendiri di DVD. Kedua dan ketiga nonton bareng anak-anak dan suami di rumah :).

Buat yang belum nonton dan kepengin nonton, saya peringatkan saja kalau saya bakal spoiler banget ini hahaha. Lagian film jadul ah, masa iya belum nonton sih? ;).

Adegan tadi yang paling nyessssss buat saya. Adegan sederhana tapi bikin terbawa suasana banget.

Kenai, anak suku Indian yang hidup bersama 2 kakak laki-lakinya. Sesuai adat Indian, tiap anak di usia tertentu akan ditentukan totemnya.

Konon, totem yang berwujud salah satu hewan ini dipercaya sebagai identitas/spirit lain dari seorang manusia selama hidup di dunia. Totem ini juga berfungsi sebagai penunjuk/guide bagi seorang individu/keluarga/suku tertentu.

Kenai sangat berharap mendapat totem binatang yang keren. Oh ya, Kenai juga tidak suka kepada beruang yang dianggapnya pengganggu yang suka mencuri ikan hasil tangkapan mereka.

Sebaliknya, saat upacara penentuan totem, Kenai mendapat Totem Beruang.

Masih diliputi rasa kecewa, Kenai juga dipersalahkan oleh kakaknya karena ikan tangkapan mereka menghilang dibawa oleh seekor beruang. Kenai lalai mengencangkan ikatan keranjang di sebatang pohon.

Karena marahnya, Kenai berlari mengejar si pencuri ikan. Saat terdesak oleh beruang, kedua kakaknya datang menolong. Singkat cerita, untuk menolong kedua adiknya, kakak sulung (Sitka) menusuk kuat-kuat potongan es tempatnya berdiri. Lapisan es di sekitar ikut roboh. Sitka jatuh ke jurang bersama si beruang.

Kenai makin marah. Bercampur dengan penyesalan karena rasa bersalahnya yang membuat kakak sulungnya kehilangan nyawa.

Suatu hari, ada kesempatan kembali memburu si beruang. Kali ini, Kenai berhasil membunuhnya dengan tombak. Tapi sebuah keajaiban terjadi, Kenai berubah wujud menjadi seekor beruang.

Dalam perjalanannya untuk mencari cara untuk kembali menjadi manusia, Kenai bertemu Koda, si beruang kecil.

Gambar : disney. wikia.com
Gambar : disney. wikia.com

Walau awalnya enggan, Kenai akhirnya berjanji menemani Koda kembali ke komunitasnya di Salmon Run. Dalam perjalanan inilah kisah demi kisah terajut. Hingga akhirnya Koda bercerita tentang bagaimana dia terpisah dari ibunya. Dari sinilah Kenai akhirnya sadar siapa si ibu beruang yang dimaksud. Guess who?

Ya kira-kira aja nih seingat saya, Koda bilang, “Ibu menyuruhku sembunyi karena dia mencium bahaya. Tiba-tiba dari balik semak muncul manusia bertombak yang langsung menyerang Ibu. Ibu melawan karena mengkhawatirkanku. Teman-temannya datang membantu. Hingga akhirnya ibu dan salah satu dari mereka jatuh ke sungai bersama-sama. Ibu selamat tapi di situlah kami terpisah.”

Brother Bear seperti menunjukkan kepada kita bagaimana egoisnya manusia memperlakukan alam. Kita selalu mengira binatang-binatang di sekitar kita selalu punya niat jahat kepada manusia. Bahwa binatang ini mencari-cari cara untuk mengganggu manusia.

They’re monsters, keluh Kenai. Sebaliknya, Koda kecil juga menggunakan istilah monster buat manusia bertombak yang tahu-tahu datang berusaha menyergap ibunya.

Lebih jauh lagi, manusia selalu menganggap makhluk hidup lain di dunia ini diciptakan untuk memenuhi hidup manusia semata. Jadi wajar dong kalau kita manfaatin mereka semua untuk kelancaran hidup kita. Memang mereka diciptakan buat kita kok.

Sadar tidak sih, di alam bebas, naturally makhluk hidup lain mungkin tidak butuh bantuan manusia dalam hal apa pun. Manusia yang sebaliknya.

Mentang-mentang katanya khilafah di muka bumi. Alih-alih berusaha menjaga ekosistem alam, lihatlah kita! Lihat kelakuan kita!

Gambar : linkedIn.com
Gambar : linkedIn.com

Biar manusia bisa makan daging ayam sebanyak yang mereka mau, orang pun berlomba-lomba mencari “cepat” beternak ayam potong. Biar cepat besar dan dagingnya banyak, ayam-ayam ini dikumpulkan di sebuah ruangan sempit, gelap, tanpa cahaya dan diberi makan sebanyak-banyaknya.

Pernah lihat peternakan ayam potong dan bagaimana mereka mengelolanya? Biar bisa memenuhi kerakusan perut manusia yang kayaknya sehari enggak makan protein hewani bisa sakaw.

Sapi juga begitu. Dagingnya diincar plus… susunya!

Makin ke sini, dari lahir sampai kakek-nenek pun dihasut biar minum susu hewan tiap hari. Dulu sih biasa saja orang tidak minum susu sapi. Paling sesekali. Lah sekarang? Mau tulang kuat, minum susu hewan. Mau kalsium, banyak-banyak minum susu, mau sehat, minum susu. Hamil pun harus banget minum susu hewan. Malah saya pernah syok lihat ada susu pencegah penyakit kanker hahaha :p.

Pernah terbayang, bagaimana mendapatkan susu sebanyak itu buat bermilyar-milyar manusia di dunia ini yang konon katanya kudu minum susu hewan minimal 2 gelas sehari?

Pepohonan kita tebang buat bermacam kebutuhan. Alih-alih menanam banyak tanaman buat penyeimbang pasokan oksigen bagi manusia yang sudah bertambah banyak, kita malah menjauh dari mereka. Hayo ngaku, siapa yang sanggup melewatkan hari tanpa makan sayur dan buah sama sekali? Banyaaaaaaaak :p.

Enggak makan sayur mah biasa ya. Tapi crankynya minta ampun kalau sehari enggak makan hewan :p. Minimal telurnya lah ;). Plus susunya -_-.

“Gue jarang minum susu!” –> tapi minum yoghurt, makan keju bisa tiap hari ya :p.

Seenaknya buang sampah sembarangan. Kalau banjir tinggal salahin gubernur atau presidennya ya? ‪#‎eh‬ :p.

Tahu tidak sih, sebuah LSM pencinta lingkungan di tanah air sudah bertahun-tahun berjuang tentang pengurangan limbah plastik di Indonesia. Limbah plastik ini sangat sukar diurai oleh alam. Memang ada beberapa hal di mana kita masih sukar melepaskan ketergantungan kepada plastik.

Tapi terus diupayakan cara pengurangannya diantaranya berusaha mengurangi limbah plastik via kantong belanja. Karena memang memungkinkan banget kan menaruh belanjaan di wadah lain YANG BUKAN PLASTIK.

Karena itulah sekarang lagi diujicoba dengan menerapkan pembayaran sekitar 200 perak per kantong plastik. Ini memang hanya upaya kecil. Baru langkah awal. Enggak ada apa-apanyalah ketimbang pengrusakan yang sudah KITA lakukan selama ini kepada alam :(.

Segini pun masih ada aja yang nyinyir dan gagal paham. Manusia oh manusia :(.

Makna diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini ya karena kita yang didesain untuk mampu menjaga keseimbangan alam. Ukuran otak manusia itu paling besar lho secara persentase dibandingkan dengan ukuran tubuh. Jauh lebih kompleks pula daripada hewan mana pun.

But look at us :'(.

Koda, “This year, I watched my Mom in a life and death struggle against all odds, battling possibly the most fiercest creature on the face of the earth.”

Have a nice weekend, “brainy” creature!

***

That The World Shoud Go On

“Robin itu yang mana sih?”

“My best friend.”

“Iya, Mama tahu. Tapi orangnya yang mana?”

“The one who’s usually sitting next to me. We ‘re on the same table this week. You know, the green table.”

“Iyaaaaa, tapi orangnya tuh yang kayak apa? Yang gimana?”

“He likes drawing, he likes playing. But he didn’t like dinos. I like dino. You know…”

Bla bla bla mulai dia meracau soal aneka rupa dinosaurus. Persis kayak abangnya dulu hahahaha.

Robin itu diklaim oleh anak ke-2 saya sebagai “best friend”nya di sekolah. Tapi 2 minggu terakhir ini dia musuhan sama Robin. Karena Robin katanya kalau diajak main apa dia maunya main yang lain.

“I have a new best friend.”

“Oh ya? Namanya?”

“Russel. He’s very nice.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

“Orangnya yang mana tuh?”

“The one who said that my bag is cool.”

Here we go again *pijetPijetKening*.

Akhirnya saya bisa mengenali mereka satu persatu, physically! Hahahaha.

Setelah foto “resmi” mereka sekelas plus Miss-nya selesai dicetak dan dibagi-bagikan. Barulah saya bertanya sambil nunjuk satu-satu, “Ini siapa? Kalau yang ini namanya siapa?”

Wow, ternyata si Robin itu sering saya perhatikan di sekolahan pas jam pulang. Soalnya ganteng booo *ihiyyy*. Mirip Christiano Ronaldo versi anak-anak –> mamak-mamak genit! hahaha :p.

Kemudian, yang namanya Lucy itu ternyata etnis Tionghoa. Dan seterusnya.

Sebenarnya beberapa sih sudah pernah dikenalkan kalau kebetulan papasan pas pulang sekolah. Seringnya saya buru-buru kalau pulang. Karena jemputnya kan bareng adek bayi. Adek bayi nih, strollernya diem dia pasti nangis, seolah menuntut, “Keep rolling, Mommy, keep rolling!” Hahaha, zzzz -_-

Gak sempat deh kepo-kepoin teman anak-anak.

Anak pertama dulu juga mirip sih. Cuma dulu kalau pulang sekolah ya saya tanya-tanyain langsung, “Ini siapa? Itu siapa?” Sambil literally nunjuk anak-anaknya langsung hihihihi.

Karena kalau dengar deskripsinya ya begitulah.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Misalnya di kelas si sulung ada 2 anak yang namanya sama, Rowena A dan Rowena B. Saya tanya bedanya apa. Anak saya jawab, “Rowena A who always plays a role as a narrator in every christmas play. Don’t you remember? Rowena B who likes running around like silly girl. Ck ck ck…”

Ternyata ya booooo … Rowena A itu aslinya anak Afrika. Rowena B berambut kuning panjang dengan kulit kemerah-merahan.

Padahal teman-temannya di kelas lumayan multikultural. Kadang bisa nebak dari nama. Misalnya Rotsni atau Haidar itu biasanya kalau enggak Pakistan ya mungkin India. Tapi Russel itu ternyata India juga, nah loooo :p

Perhatikan cara anak-anak mendeskripsikan temannya. He likes drawing, her voice is very loud, he likes giggling all the time, the one who always walk with me when we’re out of the class ….

How sweet <3

Tidak pernah rasanya anak-anak saya bilang, “Itu lho Maaaa, yang orangnya item, rambutnya keriting. Yang anu itu lho, yang mukanya bule, hidungnya mancung pokoknya cakep deh.”

Mereka mungkin awalnya malah tidak nyadar tentang perbedaan fisik. Asyik saja mereka berbaur, mengobrol bareng pas lagi baris, lari-larian, kejar-kejaran dan sebagainya.

Kebalikannya, para orang tua menunggu dengan canggung di luar gedung menjelang jam pulang sekolah hehehe. Paling kasihan yang super minoritas lah *tunjukDiriSendiri* :p.

Terakhir saya mengajak ngobrol ibu-ibu yang berdiri di belakang saya, “The weather is very nice today. Last week was disaster.” –> rule mengobrol pertama kali dengan orang yang tidak dikenal versi Eropa : silakan ngomongin cuaca! Hahahaha.

Dia cuma ngangguk sambil cepat-cepat mengeluarkan handphone. Prasangka baik saya : orangnya pendiam. Eh, besoknya dia ketawa sampai ngakak-ngakak saat lagi mengobrol dengan 2 temannya. Oh, pendatang juga. Saya tidak paham bahasa mereka. Kemungkinan besar orang Polandia, pendatang sesama Eropa yang paling banyak di Irlandia.

Jadi begitulah. Sementara anak-anak tidak menyadari “sekat-sekat” ini, di luar gedung, orang India mengobrol dengan orang India, yang etnis Arab (umumnya Saudi/Mesir) ngerumpi bareng sesama mereka, orang Polandia dengan sesamanya, orang Irlandia juga begitu. Orang Indonesia? Yuk yaaa, main sama adek bayi ajaaaa hahaha.

Sulit menembus sekat. Bahkan di negara yang kita kira “terbuka” dan sarat pendatang. Pergaulannya pun berkelompok-kelompok. Karena yang sesama berkerudung pun, kalau beda “ras” ya cuma sebatas “assalamu alaikum” doang :p

Kalau mengobrol one on one memang seru. Tapi kalau sudah ada temannya ya mereka biasanya terbawa dan lupa kalau ada saya. Ini bukan pengalaman pertama kok. Waktu naik haji di tenda juga kan gitu. Kalau ngomong berdua pada pakai bahasa Inggris dengan saya. Begitu ramai-ramai, ya mendadak gelap hahaha. Di tenda, semuanya memang orang Mesir kecuali saya :D.

Mungkin waktu kita masih kecil pun, kita seperti anak-anak kita, ya. Celamitan dengan siapa saja yang mau bermain dengan kita. Asal mereka baik dan tidak nakal, pasti kita main bareng ^_^.

Saya pikir dulu karena saya tinggal di lingkungan homogen. Tapi anak-anak saya kan tidak.

2 girls hiding pixabay
Gambar : pixabay.com

Jika mereka dewasa nanti, ya kemungkinan akan tumbuh seperti kita-kita juga. Jadi, waktu kecil bisa begitu mengapa saat dewasa bisa berubah? Siapa, apa yang mengubah mereka? Mengapa dan bagaimana?

Dalam imajinasi saya yang biasanya modal daster doang dan minim ilmu psikologi ini (hahahaha), jadilah saya ingat kira-kira dulu apa yang saya lakukan dari kecil sampai dewasa. Yang sebisanya diingat.

Jadilah saya menyimpulkan begini …

Waktu kecil, kita bergantung pada sekitar. Orang tua dan lingkungan. Bisa dibilang, tidak bebas tapi tidak ada tanggung jawab juga kan? Apa-apa dipilihkan, apa-apa ditunjukkan.

Jadi ingat petunjuk bahwa bayi itu lahir tanpa dosa. Berarti memang naturalnya kita dilahirkan dengan segala potensi kebaikan.

“No one is born hating another person because of the color of his skin, or his background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than its opposite.”
― Nelson Mandela, Long Walk to Freedom

Then we were growing up. Makin besar mungkin ya makin bebas tapi tentu perlahan tanggung jawab mengikuti. Tanggung jawab melahirkan keberanian dan kekuatan, tapi bersamanya potensi ketakutan juga ada.

Waktu kecil, ngapain takut? Ada orang tua atau orang dewasa yang bisa dianggap melindungi. Gedean dikit, mereka makin menjauh. We need to take the control. Di masa remaja banyak masukan banyak bimbang banyak bertemu yang aneh-aneh yang ternyata tidak sesuai tuh dengan dongeng-dongeng orang tua di masa kecil kita dulu :p.

Cinderella, sang tokoh panutan, enggak bisa hanya nyuci ngepel di kosan biar bisa dilamar pria tampan hahaha. Cinderella juga kudu sikut-sikutan di KRL Ekonomi kerja kantoran dari pagi sampai malam hingga akhirnya bisa ngupil di “istana” hahahaha *lemparSepatuKaca*.

Gambar : psfk.com
Gambar : psfk.com

Itu juga Cinderella enggak pernah cerita gimana ribetnya hamil dan melahirkan -_-. Gimana dramanya menghadapi peer pressure. Furthermore… Cinderella belum kenal media sosial dengan segala potensinya. Potensi positif plus negatif.

“Happily ever after” was always be the end of the story, once we were a child.

Now, I’m a mother. A mom of 3. Tentu saja tanggung jawab terhadap 3 bocah ini, seperti saya bilang di awal, melahirkan rasa berani + rasa kuat sekaligus rasa takut.

Pengetahuan saya tentang “dunia” terupgrade sudah. Awas kau, Cinderella dan kawan-kawan! Hahaha :p.

Tapi jadi terpikir lagi. Memangnya dunia dan lingkungan ini dibentuk oleh siapa? Oleh orang-orang yang hidup dan berinteraksi di dalamnya kan?

Betapa kita sebenarnya punya pilihan untuk mengubahnya. Instead, kita ini lebih banyak terbawa oleh ketakutan. Padahal ngakunya ngefans sama Star War, memuja-muja Yoda tapi lupa kalau Yoda sudah wanti-wanti…apa, apa, apa?:p.

Bahwa … ketakutan itu adalah sisi hitam dari kemanusiaan kita. Dari rasa takut itulah sebenarnya marah bisa datang. Dari marah jadi benci. Benci itu yang membuahkan penderitaan.

Takut anak-anak kenapa, langsung mengamuk membabi buta. Setidaknya itu yang terbaca oleh saya melihat timeline akhir-akhir ini. Unfortunately…saya juga takut, Euy! Huhuhu :p.

Tapi saya tahu kalau saya tularkan ketakutan itu, saya dapat apa? Ya nanti orang-orang juga akan berkomentar yang sama. Legaan gak saya? Ya pasti malah tambah takut, tambah marah, tambah benci. Seringnya untuk hal-hal yang malah belum saya konfirmasi sendiri :(. Don’t we all?

Ya namanya takut terus saja cari pembenaran biar kesannya ketakutan kita beralasan :p. Alih-alih cari solusi atau menenangkan, kebencian yang terus menerus bertebaran di mana-mana.

Anak-anak itu jauh lebih polos dan jujur. Lihatlah anak saya. Dia kenal anak dari kelas lain, tahu nama dan tahu orang. Tapi setiap saya tanya, “Eh dia itu siapa? Gimana orangnya?”

Ya jawabannya gitu, “His name is Gray. I don’t know him. Tony said he’s a bad boy. Arlene said he’s nice. But I don’t know. Never really play with him.”

Kalau kita, emak-emaknya nih, ada gosip apa, lihat foto orangnya saja, sudah berhamburan caci maki ke mana-mana. Gak percaya? Tengokin instagramnya artis yang dijuluki Nyonya Cireng. My oh my, saya betul-betul tidak percaya orang-orang dengan kata-kata sekasar dan sedengki itu dulunya juga pernah jadi anak-anak :'(.

Kita berkoar-koar, “Kita tuh begini karena kita sayang anak-anak tauk!”

By doing that…what kind of world are we trying to present to our youngs? We cursed, we said bad words, we sow too much hatred and we expect them to reap something good? Oh really :'(.

It’s us. We did change them. We did not love them enough. When we thought we did, perhaps we did it the wrong way :(.

Saya jadi ingat salah satu penggalan tulisan Pak Hasanuddin Abdurakhman,

“Janganlah engkau mencoba membuktikan bahwa Quran itu pembawa damai dengan membunuhi orang-orang yang tidak pecaya padanya. Karena engkau sedang membuktikan sebaliknya.

Engkau tak perlu mencari bukti-bukti, tapi kau harus membuatnya. Engkaulah bukti itu. Engkaulah yang membuktikan. Seperti sains tadi, kau tak perlu menemukan kebenaran mutlak dalam setiap huruf ayat Quran. Kau hanya perlu menghidupkan pesan-pesan intinya. “Wa man tabi’a hudaya falaa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun.” Siapa yang mengikuti petunjuk, maka tak ada ketakutan padanya, tidak pula ada kesedihan.”

Seperti melihat anak-anak bermain dan becanda sesamanya tanpa intervensi kita yang tua-tua ini. Lihatlah, sepulang sekolah mereka jalan sama-sama, melambaikan tangan satu sama lain dan berjanji akan bermain bersama esok hari tanpa memperhatikan betapa canggungnya emak-emaknya untuk sekadar saling menyapa tongue emoticon.

Lawan, teman-teman. Lawan ketakutan itu. Jangan takluk padanya dan pada hal-hal yang mengikutinya : marah dan benci.

Jangan jadikan anak-anak tameng. But look at them. Look at your babies. Lihat semua kebaikan dan kemurnian yang mereka tunjukkan.

“A baby is God’s opinion that the world should go on.”
― Carl Sandburg

Sekali lagi, kita hanya perlu menghidupkan pesan-pesan intinya. “Wa man tabi’a hudaya falaa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun.” Siapa yang mengikuti petunjuk, maka tak ada ketakutan padanya, tidak pula ada kesedihan.”

Have a nice weekend <3.

KRL Ekonomi jabotabek jihan davincka

Satu Demi Satu

Mengenai antri stasiun kereta Jakarta. Tadi dapat video ini di wall Facebook. Orang-orang mengantre di salah satu stasiun kereta di Jakarta Pusat.

Wooowwwww *bigJempol*. SUDAH BISA NGANTRI?? *salute*

Kalau punya akun di Facebook, bisa diintip di sini ya videonya. Dari fanpage Koalisi Pejalan Kaki.

Ini di Gondangdia nih nampaknya hahaha. Mantan anker KRL Ekonomi gak bakal lupa lah sama warna-warna stasiun (after Manggarai dst :p). Sekilas tadi ingatnya Cikini, tapi saya hafal dong pelataran bawah Cikini :D. Pernah menempa nasib di stasiun kuning muda itu selama bertahun-tahun *YakDramaDimulai*.

Soal warna stasiun … Cikini kuning, Gondangdia oranye rada kuning, Gambir hijau, Juanda biru, Sawah Besar pink, mangga besar oranye tua, Jayakarta merah. Masih ingat! ^_^. Tapi bener gak?

Buat yang mengeluh soal jeleknya fasilitas Commuter Line, coba ya adik-adik googling KRL Ekonomi itu macam mana penampakannya hahaha. Sanggup naik KRL Ekonomi?

 

KRL Ekonomi jabotabek jihan davincka
KRL Ekonomi Jabotabek, gambar : kaskus.co.id

 

Tuh, pernah bayangin naik kereta kondisi begitu tiap pagi dan sore dari senin sampai jumat selama bertahun-tahun? Saya sanggup lho! 4 tahun lebih! Selalu naik di jam-jam sibuk. Jam 7-8 pagi dari Pocin/Stasiun UI menuju Cikini/Sudirman dan arah sebaliknya di jam 5-8 malam *benerinIkatKepala*.

Alhamdulillah, enggak pernah dapat kejadian yang gimana-gimana. Saat kereta lagi padat-padatnya, banyaknya penumpang jangan ditanya. Enggak usah pegangan gak bakal jatuh. Kaki setengah menapak di lantai kereta. Ealah, bisa ketiduran pula eike di kereta lagi sesak-sesaknya hahaha.

Cara naik kereta saat orang sudah meluap sampai ke pintu dan sudah telat ke kantor juga seru lho hahaha. Jadi tinggal nempel di kerumunan, badan dibuat rileks, lalu biarkan kita ikut terdorong. Jangan melawan, biarkan badan ngikut arus. Pegel-pegel dikit lah paling. Yang penting badan jangan dikerasin.

Jakarta memang keras, Bung! :p.

Gambar : en.wikipedia.org
Gambar : en.wikipedia.org

Namun, KRL Ekonomi kayaknya tinggal kenangan ya. Alhamdulillah sekarang Commuter LIne katanya sudah ada pintunya dan selalu ditutup sebelum jalan hahahaha. KRL Ekonomi mah orang-orang sampai naik ke atas, numplek di jendela plus gelantungan di pintu. Saya pernah stuck di pintu sampai kereta sudah jalan. Santaiiiiii … nanti sambil jalan, pasti kedorong terus sampai ke dalam hihihihi.

Pokoknya rumusnya badan harus rileks. Itu aja.

Btw, hidup memang seperti roda pedati. Tidak selalu di bawah, pun tak melulu di atas. Tak begitu sulit berganti posisi. Siapa sangkalah 4 tahun lebih gelantungan di KRL ekonomi (hahaha) hingga akhirnya bisa juga menikmati naik tube di subway London dan bolak balik naik SBB-train di berbagai kota di Swiss ;). Ihiiiiyyyy :p.

Begitu pun harapan kita untuk ibukota tercintah ^_^. Siapa sangka dari yang bikin nyut-nyutan suatu hari bisa jadi salah satu kota tercihuy di dunia. Aamiin, aamiin ya Allah.

Di ibukota, sedikit demi sedikit sudah banyak perubahan yang bisa dinikmati. Mengutip kata-kata Bang Tomi Lebang, “Satu demi satu” (y).

“Don’t look back in regret, but move on with hope.” -a saying-

Banyak sekali harapan kita di masa mendatang untuk ibukota tercinta. Semoga pembangunan dan perbaikan transportasi darat lancar dan terus membaik. MRT kan juga sudah lagi jalan, tuh. Ada juga pembangunan kereta dari Gambir ke bandara. Jempol lagi deh (y). Trans Jakarta juga terus menerus diupayakan ke arah yang lebih baik.

Semoga suatu hari kelar semuanya. Termasuk si kereta cepat Jakarta-Bandung ;). SATU DEMI SATU.

Terus berbenah Jakarta-Ku <3. Makin keren Indonesia-ku <3. Tidak bisa sekejab ya teman-teman. Sabar menunggu, iringi doa selalu. Aamiin, aamiin, ya rabbal aalamiin *khusyuk*

Mantan anak KRL Ekonomi mana suaranyaaaaaaaa *sodorinAbonemen* :p.

Sekarang ini, minimal kita sudah bangga sudah ada budaya antri stasiun kereta Jakarta. Again, satu demi satu ;).

7even Sin(s)

Lagi ramai membahas kartu kredit. Dikait-kaitkan dengan riba dan utang. Saya dulu malah rajin banget pakai kartu kredit :D. Fungsi utama kartu kredit buat saya pribadi … untuk mempermudah pembayaran.

Lumayan tuh enggak perlu bawa uang banyak ke mana-mana. Saya dulu dodol banget lho, saya malah enggak tahu kalau kita bisa pakai kartu kredit buat ngutang hahahaha. Saya kira kartu kredit itu hanya perwakilan kartu ATM. Karena dulu pun masih jarang merchant yang menerima pembayaran debit.

Jadi, saya pakai untuk belanja sehari-hari. Tidak pernah melebihi uang yang ada di tabungan. Saya juga tidak menghitung gaji yang belum masuk. Pokoknya uang di tabungan ya itu yang dianggap uang yang ada.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Enggak sebatas itu. Waktu bekerja saya juga selalu menahan batas minimum dalam tabungan. Pokoknya harus cukup untuk bayar kos 3 bulan + biaya sehari-hari dalam 3 bulan itu, in case kena pecat atau kenapa-kenapa dan belum dapat pekerjaan. Orang lain mungkin punya opsi, sementara bisa pulang ke rumah orang tua. Lah eike pulang ke mana? Hahahaha :p.

Enaknya pakai kartu kredit juga, saban ditagih kan dapat surat berisi kegiatan belanja kita selama sebulanan itu. Jadi gak repot nulis-nulis pengeluaran :D.

Tiba saatnya membayar tagihan, selalu saya bayar full. Insya Allah enggak bakal berhutang karena saya tidak pernah belanja melebihi budget ;).

Belakangan saya tahu kalau kartu kredit bisa dinaikkan limitnya. Dulu saya pakai limit kecil banget. Cuma 2 juta apa, ya :D. Jauh lebih kecil daripada gaji bulanan saya ;).

Ternyata, ada juga pengguna kartu kredit yang “korslet”. Memanfaatkan kartu kredit untuk membiayai gaya hidup yang ternyata tidak sesuai kemampuan. Baru deh paham kenapa kartu kredit dikatakan berbahaya. Kalau buat saya mah malah nolong banget. Belum lagi suka ada diskon segala macam hihihi.

Suami saya juga sama modelnya kayak saya. Sama-sama kikir emang dah hahaha.

Beberapa waktu lalu, saya mengobrol dengan suami soal kontroversi riba. Misalnya kaitannya dengan bunga bank. Suami pun berceramah panjang lebar semacam Crash-Course Economy buat bininya yang kemal, kepo maksimal hahaha.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Dia menjelaskan soal inflasi dan bunga bank dan mengapa pinjaman uang perlu dikenakan bunga. Karena nilainya yang memang tidak akan pernah sama. Ibaratnya, nilai uang 1 juta tahun ini tentu berbeda dengan nilai uang 1 juta 10 tahun lagi.

Ya intinya panjang sih. Di akhir, dia menerangkan konsep “greedy” yang membuat saya akhirnya terpikir menuliskannya dalam tulisan ini.

Balik lagi ke urusan bank, btw, yang namanya rentenir itu banyak lho di pedesaan atau di perkotaan. Karena itulah mengapa bank-bank BUMN disebar ke daerah-daerah untuk “melawan” para rentenir serakah ini.

Sistemnya sebenarnya kalau ditinjau lebih dalam ya fair-fair saja. Karena saat meminjam seharusnya memang ada jaminan atau hitung-hitungan sehingga kita tidak boleh meminjam melebihi kemampuan membayar.

Nah, di sinilah masalahnya.

Sifat dasar manusia diuji. Pelaksana di lapangan dari pihak bank misalnya. Karena dikejar target, ada pelaksana pemberi kredit yang “berusaha memudahkan” calon peminjam. Ini nyata. Bisa kongkalikong malah.
Ada juga istilah Kredit Tanpa Agunan yang lebih “berbahaya” lagi.

Si peminjam apalagi. Melihat celah untuk memiliki sesuatu/barang/harta tertentu yang sebenarnya BELUM LAYAK mereka miliki.

Lihatlah itu kredit kepemilikan motor misalnya. Diobral gila-gilaan. Orang-orang “kecil” dihasut buat beli motor dengan uang muka yang “kelihatan”nya kecil dengan cicilan bulanan yang sekilas enggak gede-gede amat.

Si sales dikejar target –> si peminjam kebelet pengin tampil. Cucok kan :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Pemegang kendali sebenarnya ya tiap-tiap individu. Musuh setiap kita ya nafsu yang ada dalam diri masing-masing. Sifat buruk itulah yang harus kita lawan. Bukan orang-orang tertentu bukan golongan ini itu bukan pula konspirasi ngana ngunu :p.

Sifat-sifat itulah yang mengendalikan proses kehidupan manusia di dunia. Bukan tentang orang/kumpulan/golongan tertentu. Karena potensi kelemahan ini ada dalam tiap individu.

Kita rakus, ingin punya sebanyak-banyaknya. Kita serakah, ingin memiliki hal-hal yang di luar kemampuan kita. Kita ingin dipandang orang lain makanya kita berusaha memiliki materi melebihi kesanggupan sendiri. Kita emosi kalau kita tidak mampu memiliki hal-hal yang kita kira adalah bagian dari harga diri kita. Kita iri dengan kepunyaan orang lain. Kita tidak sabar menunggu hingga benar-benar mampu memiliki hal-hal yang kita inginkan.

Semua berhubungan satu sama lain. Mengharapkan penghormatan dari orang lain berdasarkan kepunyaan. Semacam pikiran bahwa kita hanya akan dihargai berdasarkan penampilan luar (saja). Berlaku timbal balik. Orang dengan pikiran seperti itu akan memandang hal yang sama terhadap orang lain, “Ish, tasnya murahan. Pasti orang miskin!” –> Jangan curcol, Mbak! Hahaha :p.

Lust, Gluttony, Greed, Sloth, Wrath, Envy, Pride. Komplit 7even Sin(s) :D.

Sebagus apa pun sistemnya, selalu ada celah bagi si 7even Sin(s) ini untuk mengacau. Pelakunya ya bisa beda-beda wink emoticon. Sifatnya yang akan tetap SAMA pengaruh buruknya.

Gandhi pernah menuliskan 7even sin(s) ini dalam bentuk lain, diistilahkan dengan 7even social sins :

Wealth without work.
Pleasure without conscience.
Knowledge without character.
Commerce without morality.
Science without humanity.
Worship without sacrifice.
Politics without principle.

Btw, soal sistem bank konvensional apakah halal atau haram di luar pembahasan ini ya :D. Sila ditanyakan pada ahlinya. Setahu saya, ini wilayah khilafiyah. Ada perbedaan pendapat. Monggo diikuti yang sesuai dengan kata hati masing-masing ;).

Ya intinya, ya itu-itu juga. Jangan menyandarkan hidup pada dinding yang salah ;).

Saya akhiri dengan kutipan bagus nih dari salah satu tulisan Rusdi Mathari (saya sampai catat khusus ini saking bagusnya kalimat ini menurut saya) –>

“Ketahuilah olehmu bahwa hatimu merupakan bejana. Kenalilah dunia dan buanglah ia di belakangmu karena dunia bukan tempat tinggalmu [yang abadi], dan apa yang ditetapkan bagimu tidak ada di sana.”

Have a great tuesday <3.

***

China … The Rising Dragon (2)

Dua merek asal Jepang dan sebuah merek mobil asal Amerika Serikat dikabarkan “terbenam” di tanah air. Tentu saja … ini efek Jokowi! Hahahaha :p. Becanda, deng :D.
 
Sekarang-sekarang ini memang situasi ekonomi sulit di berbagai wilayah. Di kota tinggal saya nan mungil ini, sekitar 2 minggu lalu saya kaget karena sebuah toko yang menjual peralatan olah raga dan printilannya mengadakan closing sale.
 
Gilaaa, barangnya masih banyak banget. Hampir gila rasanya melihat sepatu-sepatu bermerek terkenal banting harga dari 110 euro ke 25 euro! Sayang, nomor sepatu eike enggak ada! Hahahaha. Anak-anak juga habis beli sepatu. Jadi, saya rapalkan dalam hati berkali-kali, “Jangan beli, jangan beli, jangan beli”.
 
Beberapa hari kemudian, barangnya belum habis juga. Akhirnya terbeli juga baju olahraga yang tadinya seharga 20-30 euro merosot ke harga 4 euro saja hihihi. Beli yang murah-murah aja kalau mamak kikir kita nih hahaha. Harapannya nanti bakal kepake di Jakarta kalau ada kesempatan ikutan tren lari 5 K sama 10 K itu lho. Di sini mah mana bisa lari-lari gitu, lari sambil dorong stroller? Hahaha.
 
Selalu sedih kalau ada yang closing down. Lebih sedih lagi, harga sudah terbanting-banting, yang beli juga sepiiiii :(. Iyalah, pembeli juga lagi ribet keuangannya hehehe. Sampai hari terakhir, baju-baju olahraga sudah meluncur ke harga 2-3 euro saja (dari harga asli di atas 30 euro), barang tidak juga habis.
 
Saya bete berat. Enggak nyangka huhuhu. Sudah keburu beli-beli pas year end sale. Segala oleh-oleh buat ponakan, ipar, kakak-kakak sudah beli semua hihihihi. Jadi pas toko olahraganya mau closing, saya sudah tidak ada yang harus dibeli :(.
 
Sempat saya elus-elus sepatu Nike seharga 15 euro sambil meminta wangsit apa harus dibeli apa tidak hihihi. Tahu-tahu … seorang ibu-ibu gipsi menghampiri saya dengan mata berbinar, “I want that.”
 
Aish, enggak tega. Soalnya emak-emak gipsi ini kayak yang senang banget gitu sama sepatu itu. Murah banget soalnya. Harga asli 80 euro boooo. Jadi, saya kasih saja ke dia. Anggap saja, itu jawaban dari wangsit tadi hihihi.
 
Khusus untuk Jepang, sepertinya sudah lebih dari setahun lalu sudah dibahas soal hegemoni merek-merek Korea dan China yang makin mendesak dominasi Jepang. Konon sih, persaingan di bidang “ongkos produksi” enggak bisa nutup di Jepang. Ironi baru soal pendapatan perkapita yang tinggi :).
 
Fokus ke China ya, bukan ke Korea. Karena yang lagi ramai dan memang melesat jauh dalam tempo 30-40 terakhir tahun itu memang China.
 
Di Indonesia sendiri, mungkin efek propaganda Orde Baru dan lanjut soal “isu anti China” pas Pilpres kemarin, tidak sedikit orang yang memandang rendah pada Negeri Seribu Rakit ini. Jadinya lucu, sih. Seperti seekor hamster mungil yang berteriak-teriak betapa kecil dan kerdilnya Sang Kelinci :p. Pakai analogi hewan imut-imut biar enggak pada kesetrum hahaha.
 
China sendiri mengalami banyak masa “pedih” yang cukup panjang. Mulai dari perubahan Dinasti Kerajaan menuju Republik Kerakyatan yang memakan waktu puluhan tahun. Hingga akhirnya China disatukan oleh partai komunis di bawah pimpinan Mao Zedong.
 
Era Mao Zedong macam-macam kejadian menerpa negeri ini. Mimpi besar komunisme dengan slogan “The Giant Leap” ala Mao Zedong malah menyengsarakan masyarakat kecil. Pertikaian politik di penghujung pemerintahan Mao akhirnya memenangkan Deng Xiaoping.
 
Era Deng Xiaoping inilah, Sang Naga melesat kencang ke udara, menebarkan ketakutan baru kepada raksasa-raksasa ekonomi dunia. Jepang, tetangga Asia-nya, sudah terlampaui (parameter GDP). Kini, China pemegang medali perak, hanya satu peringkat di bawah Amerika Serikat. Dan di Indonesia masih saja lho orang-orang melecehkan, “China kan negara miskin.” Hahaha :p.
 
Belum lagi masalah etos kerja mereka. Di China, kaum buruh sempat disubsidi habis-habisan untuk mengatrol upaya pemerintah menjadikan China pusat industri dunia. Jangan lupa juga, di sana orang enggak bebas berdemo. Enggak bisa dikit-dikit demo, dikit-dikit ngambek :p. Tipikal negara komunis kah? Hehehe.
 
Sudah biasa bekerja di bawah tekanan dengan tetap memegang disiplin yang tinggi. Mereka mungkin “murah” tapi jelas tidak murahan :p.
 
Ironi lagi ya kalau dipikir-pikir :(. Tapi “tekanan” ini mengantarkan China berlari cukup kencang di arena perekonomian dunia. Tahun 1993, pendapatan perkapitanya cuma 490 USD per tahun. Di mana saat itu US sudah nyaris 25 ribu USD dan Jepang hampir 32 ribu USD. Indonesia, 1993, sekitar 740 USD. Masih gedean Indonesia dong yaaaaa. Mepet 2x lipat dari China.
 
Pendapatan perkapita ini kira-kira (sederhananya) bisa diartikan sebagai gaji/penghasilan rata-rata tiap penduduk di suatu negara dalam satu tahun.
 
Tahun 2005, China melesat ke 1760 USD. Sementara Indonesia hanya naik ke 1170 USD. Dalam tempo 4 tahun, di 2009, China melesat ke 3650 USD, sementara Indonesia berada di 2050 USD.
 
Melompat ke tahun 2014, China sudah hampir mencapai 7 ribu USD sementara Indonesia 4 ribu saja belum nyampe :D.
 
Jangan lupa jumlah penduduknya sekitar 1.3 milyar. Indonesia hanya sekitar 260 juta orang. Bisa bayangin tajirnya China :p. Walau pendapatan perkapita Jepang sudah di kisaran 40 ribu-an, penduduknya cuma 120 juta. Kurang dari sepersepuluh jumlah penduduk China, makanya kesalip sudah ;).
 
Informasi tambahan, India juga penduduknya sudah lebih dari 1 milyar tapi pendapatan perkapita belum nyampe 2 ribu USD. Tapi tidak membuat India lebih payah daripada Indonesia. Utamanya urusan diaspora. Enggak usah nyinyirin India lah, malu tauk mereka sudah ada di mana-mana sementara dunia internasional masih meraba-raba itu Indonesia negara apaan sih? Hahahaha :p.
 
Percaya diri boleh. Tapi perluas pergaulan sedikit lah ya :p. Kalau ada lebih-lebih uang, jangan melulu dipakai jajan atau beli-beli barang, menabung sedikit buat backpacker-an ke negara-negara lain. To witness the world with your own eyes ^_^. Biar enggak gampang kena berita hoax juga kan? Hehehe.
 
Anw, masalah yang dihadapi China mirip dengan Indonesia juga. Tipikal negara berkembang dengan penduduk segabruk-gabruk, kesenjangan ekonomi sosial antara si kaya dan si miskin masih menganga. China sendiri sejak 20 tahun terakhir berusaha keras menjembatani hal-hal ini dengan mati-matian membangun infrastruktur untuk pemerataan pembangunan di wilayah kota dan pedesaan.
 
Plus minus hal-hal yang bisa kita pelajari dari 3 negara besar sesama Asia ini ya,Jepang dan China :D. Jepang dengan inovasi dan kedisiplinannya. China dengan kerja kerasnya. Serta India dengan percaya dirinya.
 
Bagaimana mau belajar dari China kalau masih di hati masih menyimpan rasa jumawa cobak hehehe.
 
Lagi ramai soal kereta cepat ini saya kira sedikit banyak juga karena efek China-nya ;). Jangan seperti katak dalam tempurung. Menilai-nilai hal yang kita tahu saja tidak. Contoh komentar yang menuduh China apa sanggup bikin kereta cepat? Yaela Kakaaaaa, di sana mah jalur kereta cepat banyak beneeeer hehehe.
 
Nanti coba piknik ke Shanghai, biar bisa menganga betapa tidak ada apa-apanya kota-kota besar di Indonesia dibandingkan kota-kota besar di China ;).
 
Satu lagi, stigma bahwa China pusatnya barang-barang murah. Wrong! Di China, dari barang KW 100 sampai super original ada semua lho, Sis ;).
 
Saya ingat seorang teman yang jualan tas bermerek sempat panik ketika salah satu customernya mengadu mengapa tas pesanannya ada tulisan “Made in China”. Teman saya juga tidak siap dan tidak menyangka. Setelah bertanya ke toko langsung baru dijelaskan, beberapa model memang sudah lama dibuat di Negeri Lampion tersebut. Jadi, bukan barang palsu! ;).
Info teman di salah satu komentar di wall saya, lebih dari 70% smartphone di dunia dibuat di China ^_^.
 
Konon, sekarang ini, China sudah mulai menekan pertumbuhan industri dan mengejar peluang menjadi negara investor :D. Untuk industri pembangunan kereta cepat, China berusaha mengumpulkan portofolio awal. Agar kelak mereka juga bisa mendapatkan proyek-proyek di tempat-tempat lain.
 
Analoginya sama kayak penjual kue yang baru memulai jualan. Biasanya nawarinnya pakai harga diskon dulu biar punya pelanggan dan bisa dapat testimoni. Kelak, kalau sukses, kan bisa menjadi rekam jejak buat pelanggan-pelanggan berikutnya. Sesimpel itu kok.
 
Cuma mungkin karena sudah kebanyakan konspirasi dan kebiasaan dicekoki sama info nganu-nganu, jadi bisa tajam begini dan ke mana-mana gosipnya hihihi.
 
Memang, harus tetap kritis terhadap rencana besar ini. Tapi ingat, jangan sampai ketelan berita hoax. Pelajari sebaik mungkin detail dan macam-macamnya. Jangan prejudice ke China apalagi hanya bermodal “China di masa lalu”. Update dikit lah teman-teman, China sekarang ekonomi dunia nomor 2! NOMOR 2! :D.
 
Nanti saya bantu jelaskan ya, soal permodalan kereta cepat China ini. Sudah diajarin nih sama suami seminggu penuh hahahaha. Kita tunggu dululah perkembangannya, dengar-dengar Pak Jokowi mau konferensi pers terkait urusan kereta cepat ini. Kalau sudah pasti lanjut, kita bahas agak detail soal permodalan dan isu-isu yang menyertainya ;).
 
Insya Allah ya, kalau saya paham dijelasin suami, ini masih ada yang belum benar-benar saya pahami. Ribet ini menyeimbangkan kemampuan otak di sela-sela aktivitas di seputar kompor dan popok hahahaha.
 
Percayalah, kalau Sang Naga itu bisa terbang tinggi … suatu hari nanti, optimisme akan membuat Sang Zamrud Khatulistiwa ini juga sanggup memendarkan cahayanya jauh tinggi ke atas sana. Insya Allah. Makanya ikut berkontribusi yuk untuk Indonesia yang lebih baik. Minimal kedepankan prasangka baik kalau tidak benar-benar paham persoalan ;).
 
Keep calm and love our country <3.
 
***