What You Wish to See in The World

Lelah yaaaa, dengan tuduh-tuduhan keberpihakan dan teori konspirasi kala ada tragedi duka di mana saja. Tuduhan “selective empathy” misalnya.

Anehnya, sebagian mereka yang ngotot menuduh selective empathy remained silent di kasus Brussel dan tidak bersuara soal Pakistan. Tentunya bukan karena mereka tidak peduli. Mungkin saat beritanya ramai mereka tidak lagi online di FB :). Atau mereka terlalu sedih untuk ikut posting status.

See? Kita tidak harus membalas tuduhan yang sama kan? ^_^. Saya tidak suka jika dituduh bersikap “selective empathy” makanya, saya tidak akan menuduh orang lain dengan tuduhan yang sama ;).

Ini sempat saya “catat” beberapa tuduhan saat bom Istanbul yang kejadiannya sebelum Brussel. Padahal itu sudah bom ke-4 di Turki. Waktu bom Ankara malah agak sepi. Mungkin mereka juga tidak ngeh hehehehe. And for me … it’s oke ^_^.

Walau tak ada status di media sosial, mungkin saja ada doa-doa terucap dalam sembahyang yang mereka pilih untuk dituangkan dalam “ruang pribadi” saja. Tidak untuk dipertontonkan di status-status.

Coverage beritanya secara internasional sih baik-baik saja. Di situs-situs mainstream liputannya lengkap. Tidak ada usaha menutup-nutupi. Tapi respons masyarakat yang berbeda.

Waktu Brussel, makin marah. Sempat ada tuduhan Facebook bakal pasang bendera Belgia lagi. Tapi enggak tuh ;).

Yang luput diperbincangkan justru kejadian-kejadian di Afrika. Waktu kasus Boko Haram saya malah tahunya dari wall suami saya. Saya merasa bersalah, tragedinya sudah ngeri begitu kok bisa tumben enggak ribut.

Suami saya malah ngetawain saya, “Emang lo siape? Anggota PBB? Kok merasa harus ikut campur dalam semua konflik berdarah?”

Nah !!!

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

And so that you know, sebelum Brussel pun ada tragedi berdarah di Afrika, Ivory Cost. Dan saya pun baru tahu juga! *nangis*.

Pada dasarnya, saya tidak suka kita malah bertengkar soal aturan peristiwa mana yang harus kita pedulikan, membanding-bandingkan tragedi yang satu dengan yang lain, bahkan lebih jauh, menuduh konspirasi media mainstream yang menutup-nutupi beberapa kasus.

Tidak sih menurut saya. Di hampir semua kasus, media mainstream (setidaknya BBC yang secara “jarak” paling dekat dengan lokasi saya kini) rajin meliput peristiwa mana pun. Like I said before, respons penonton yang beda-beda.

Namanya media cari duit pun, berita yang kurang diminati ya umumnya lebih cepat hilang dari penyiaran. Mereka cari uang, bukan yayasan sosial kan ya. Walau tentu jurnalis yang idealis pasti akan bersuara terkait hal ini. But hey … we are not living on the heaven! Terima kenyataan itu :).

Kita tidak bisa menyempurnakan situasi seperti yang kita mau. Toh, kita juga bagian dari ketidaksempurnaan itu kan? Tentu saja, saya, kalian atau mereka punya kecenderungan masing-masing.

Kalau di-break down secara detail kenapa orang merespons luas terhadap kejadian tertentu dan sebagian tidak, itu bisa lebih panjang lagi. Saya tidak akan terasa capek kalau menuliskannya tapi saya khawatir kalian yang capek bacanya hahaha.

Setiap kita tentu harus berusaha bersikap adil. Tapi kita harus paham, kita tidak akan pernah bisa benar-benar netral. Tidak akan :).

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Lah saya ini kalau menulis peristiwa-peristiwa itu ya lihatnya di media-media mainstream. Kalau Eropa ya saya lihat ke BBC. Pembandingnya AlJazeera. Demikian pula sebaliknya di banyak wilayah lain. Capek memang. Makanya enggak bisa reaktif, bom meledak langsung tergopoh-gopoh pasang belasungkawa sambil menuduh orang lain tidak peduli pula :p.

Enggak bisa gitu juga kan. Saya biasanya langsung googling. Lihat di beberapa media mainstream di beberapa wilayah. Ya, ya, ya, tuduhlah saya korban konspirasi. Tapi maaf yaaaaa, media mainstream saja tidak saya percayai 100% apalagi media-media kacrut bikinan “kalian”! :p. Yang sering pula pakai ancaman, “Sebarkan jika kalian peduli!”

Sudahlah sumber tidak jelas, judulnya rata-rata aduhai, nama wartawan kadang pakai nama “random”, isinya tebar kebencian pula. Tetap lebih baik media mainstream :p. At least, sesama media mainstream itu bisa saling berdebat dan mereka sering merangkum dari beberapa sisi. Walau tidak selalu :).

Ini seperti misalnya saya datang ke pemakaman salah satu teman saya. Di tengah kesedihan keluarga, ada orang mengamuk, “Kalilan semua munafik! Kok kalian tidak sedih waktu si anu yang meninggal.”

Perhaps, that man got his reason and perhaps…he is right. But remember, knowledge knows what to say, but wisdom will define WHEN to say it <3. Bukan kata saya. Itu kata-kata bijak yang mudah kalian temukan kalau kalian googling sendiri ;).

Dan ke mana golden rule yang konon adalah salah satu pesan penting dari metode dakwah rasulullah? Yang ternyata juga menjadi inti dari banyak keyakinan lain di dunia ini. Compassion. Jangan melakukan hal yang kita tidak ingin orang lain lakukan terhadap kita.

Kita marah jika “komunitas” kita ditimpa tragedi orang kok tidak peduli. But look what we’ve did (we means including me, myself). Kalau ada kesempatan yang sama, kita cenderung akan membalas dendam.

Contohnya? Ingat peristiwa jatuhnya Air France saat ternyata tersangkanya ternyata orang bule non muslim. Ingat respons kalian? –> “KOK DIA TIDAK DiTUDUH TERORIS?”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Kita cenderung membalas dendam. Kita ingin mereka merasakan sakit yan sama. Biar nyaho’, biar tahu rasa. Dan itu…manusiawi. Iya dong, manusiawi. Kita cenderung akan seperti itu. Tapi kita tahu kan kalau itu tidak benar. Sebisa mungkin, minimalkanlah :).

TIdak ikut mengutuk toh tidak berarti kita membela. Kita “mengutuk” dengan cara yang benar. Tuntutlah pengadilan yang adil. Hindari menyebut ras dan agama. Fokus pada peristiwa. Walau itu sulit, tapi mengusahakan adil adalah kewajiban kita. Tidak harus berhasil kok setiap saat, but once you remember, keep it on the right track as much as you can 🙂

Saya pun sering gagal kok ya . Apalagi bahas soal itu tuh‪#‎siAnakCebongGarisKeras‬ hahhaha :p.

Tapi soal prinsip anak cebong ini saya punya pembelaan diri yang tidak mungkin saya tulis di sini karena bakal lebih panjang lagi hahahaha. I’ll wait the right time to defend my self regarding this ^_^. Meanwhile kalian boleh kok menuduh saya fanatik dan lain-lain hahaha. Kuterimakan keadaanku lah :p.

Omong-omong sepanjang ini, untuk kembali mengingatkan para penggemar teori konspirasi bahwa dunia ini tidaklah sejahat yang kalian pikirkan kok smile emoticon. Tidak secuek yang kalian tuduhkan.

Baca lagi : “Katanya, Dunia Tidak Peduli?”

Kita tidak suka digeneralisasi sebagai muslim yang sama jika ada tragedi berdarah yang mengatasnamakan Islam. Then, don’t do the same.

Saat menggunakan kalimat, “Dunia Tidak Peduli” ya hati-hatilah. Dunia yang mana yang kalian maksud? Dunia ini luas sekali. Sadarilah … saya, kalian, dan mereka juga adalah bagian dari dunia ini :).

Dunia yang tidak hitam putih ini. Bahkan dari film yang menurut saya salah satu yang paling ngeri yang pernah saya tonton (saya memang banyakan nonton drama ala Disney sih btw hahaha) tetap pula saya bisa ketemu quote yang mencerahkan.

Tahu film S7VEN? Nah quote penutup ini saya ambil dari ending film tersebut,

William Somerset: Hemingway once wrote, “The world’s a fine place and worth fighting for.” I agree with the second part.

Same with me. I agree with the second part. Don’t you? 🙂

That’s why kita harus menyempurnakannya dengan quote lain dari Gandhi, “Be the change you wish to see in this world”.

Quote melulu. Lah saya mah apalah, bisanya cuma ngutap ngutip doang hahahaha :p.

Have a nice thursday, World <3

Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org
Konflik Turki dan Suku Kurdi

When We Build Too Many “Walls”

Suku Kurdi, mungkin merupakan etnis terbesar di dunia yang tidak memiliki “negara sendiri”. Mereka tersebar di berbagai wilayah Timur Tengah/Asia Barat dan Eropa Timur. Mayoritas berada di Turki, Iran, Irak dan Suriah.

berita timur tengah terkini Konflik Turki dan suku Kurdi
Kurdistan-women (gambar : cabinet.gov.krd)

 

Etnis Kurdi beda lagi dengan Arab, Persia dan Turki. Di Teheran dulu saya norak, saya sangka banyak orang bule tinggal di Iran hahaha. Ternyata penampakan orang Persia beda dengan orang Arab. Bahasanya pun beda walau sama-sama menggunakan huruf Hijaiyah.

For info, Iran menggunakan bahasa Farsi sebagai bahasa nasional mereka.

Orang Turki juga beda dengan orang Arab. Dan beda lagi dengan orang Persia. Ternyata, etnis Kurdi pun ya dianggap beda.

Belum lagi etnis-etnis campuran Arab-Eropa Timur. Di Afghanistan dan sekitar banyak etnis-etnis minoritas non Arab yang sedihnya, walau agama sama, tapi ya diskriminasi fisiknya tetap ada :(.

Di masa kekuasaan Turki-Ottaman, para etnis ini tergabung dalam kekhalifahan yang sama. Hingga akhirnya di awal abad ke-20, pasca Perang Dunia 1, banyak wilayah memerdekakan diri.

Berita timur tengah terkini Konflik Turki dan Suku Kurdi
Gambar : worldology.com

 

Etnis-etnis besar seperti Arab-Persia-Turki kebagian negara masing-masing. Bangsa Arab malah terpecah jadi beberapa negara. Persia bersatu di Iran. Nah, suku Kurdi ini yang tidak kebagian otoritas wilayah sendiri berupa negara khusus.

Di berbagai negara tinggal mereka, kaum nasionalis Kurdi terus berusaha memerdekakan diri. Termasuk di Turki :(. Dua bom yang meledak berturut-turut di tahun 2016 di ibukota Ankara adalah 2 bukti memuncaknya ketegangan antara otoritas Turki dan pemberontak Kurdi di sana.

Di Irak sendiri mereka sudah lebih “lunak”. Di masa pemerintahan Presiden Saddam Husein, orang-orang Kurdi mengalami tekanan terberat dan diisolasi habis-habisan.

Kini, orang-orang Kurdi di Irak hidup “damai” di sebuah wilayah otonomi khusus, Kurdistan. Kurdistan sendiri masih bagian dari negara Irak.

Salah satu teman, Istiadzah Rohyati, tinggalnya di Kurdistan-Irak ini. Jadi tahu bahwa orang Kurdi di sana punya bahasa sendiri, bendera sendiri dan sebagainya.

Dari Iran rasanya juga belum banyak berita soal ketegangan Kurdi dan pemerintah resmi. Tapi pergerakan separatis Kurdi di sana juga mungkin ada. Di Suriah pun mungkin begitu. CMIIW.

Saya terus terang bingung, mengapa orang Kurdi ini ngotot banget memisahkan diri? Apa karena rasa nasionalisme apa karena tekanan diskriminasi yang mereka terima? Mereka sadar jumlahnya banyak? Pasti signifikan kalau melawan?

Karena etnis minoritas di tempat lain rata-rata memilih hengkang mencari kehidupan yang lebih baik. Misalnya etnis Hazara di Afghanistan yang merantau pergi ke negara-negara lain, meninggalkan tanah kelahiran mencari masa depan lebih baik. Walau mayoritas harus melakoni “pekerjaan kasar” di negara lain. Jumlahnya sangat sedikit soalnya.

Sedih, ya :(.

Kalau kita berpikir Rohingya terusir dari Burma karena perbedaan agama, lantas apa yang terjadi dengan Kurdi dan Hazara? Mereka juga mayoritas muslim, kok :'(. Mengapa mereka berpikir mereka berbeda dan mengapa dibeda-bedakan?

Konflik Turki dan Suku Kurdi berita timur tengah terkini
Gambar : juancole.com

 

Dari sisi otoritas resmi, misalnya pemerintahan Turki, tak bisa kita salahkan begitu saja. Toh, sebenarnya isu gerakan separatisme ini bisa ada di mana-mana. Termasuk di Indonesia. Ramai-ramai menyoal soal Densus 88 kan ya sama-sama mencegah upaya terorisme dalam rangka usaha memisahkan diri atau mengacau keamanan dalam negeri.

Sama! Di Turki pun begitu.

Konflik bersenjata antara Pemerintah Turki dan beberapa kelompok separatis Suku Kurdi di Turki sudah berlangsung sejak tahun 70-an hingga kini.

Tuntutannya beragam. Ada yang garis keras minta berdiri sebagai negara sendiri, ada yang ingin otonomi khusus atau sekadar mendapat porsi yang “layak” di pemerintahan. Pening, ya. Kelompok-kelompok perwakilan Kurdi-nya saja enggak kompak.

Jadi ingat kelompok Taliban di Afghanistan dan sudah menyebar ke Pakistan. Grup-grupnya juga banyak dan kadang berantem sesama mereka sendiri. Cita-citanya sama, mau mendirikan negara Islam. Tapi “Islam” versi mereka masing-masing? :(.

Kelompok pemberontak terbesar di Turki adalah Partai Pekerja Kurdistan. Mereka sudah dilabeli “kelompok teroris” oleh Turki dan negara-negara “satu gengnya”. Siapa saja? Ya termasuk US, Nato, dan Uni Eropa. Turki memang anggota NATO.

Saya juga kalau jadi pemimpin suatu negeri ya pasti seperti buah simalakama, ya. Dibiarin ya mereka mengacau. Diladenin ya mereka bisa ambil kesempatan. Dikerasin? Mereka ngebom membabi buta! *pijetKening*.

 

Masalahnya, banyak pihak lain mengambil kesempatan untuk kepentingan mereka sendiri. Pemasok senjata misalnya. Atau mereka yang punya “niat tertentu”. Tidak segan menjual senjata bahkan mendanai kelompok separatis ini.

Paling sulit memang berada di posisi pemerintahan Turki atau pemerintahan resmi negara mana pun yang berkonfrontasi langsung dengan kelompok pemberontak.

Bom Istanbul belum jelas siapa yang bertanggung jawab. Ini juga merupakan bom ke-2 di Istanbul. Kalau tidak salah, bom pertama yang mengaku itu “afiliasi ISIS”. CMIIW, ya. Kalau yang Ankara, dua-duanya sudah diklaim oleh “geng Kurdi” di sana.

Ada enlightment dari suami soal gerakan separatisme ini.

Istanbul Asian Side. The Moda, pic by Dani Rosyadi
Moda, Istanbul Asian Side, foto : Dani Rosyadi

 

Sebenarnya, beberapa negara maju yang modelnya multi state seperti UK pun tak luput dari tuntutan pemisahan diri.

Masih ingat referendum Skotlandia tahun 2014?

Cuma di negara-negara maju, “peradaban” sosial budaya mereka jauh lebih maju daripada kita di negara-negara berkembang. Enggak harus selalu lempar bom kalau lagi ngambek. Irlandia Utara tapi beda lagi kasusnya.

Hasil referendum Skotlandia? Mayoritas warga masih memilih berada di bawah naungan UK. For info, Scottish ini punya bahasa sendiri juga dulu. Scottish English juga punya aksen khas.

Lalu, mengapa mereka akhirnya banyak yang masih manut ke UK? Ya karena perutnya kenyaaaaaaang ^_^. Secara sosial-ekonomi ya mereka sebenarnya baik-baik saja. Rewel-rewel dikitlah paling. Diskriminasi nyaris tidak ada.

Intinya ya itu-itu juga … betapa keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi dan pemerataan pembangunan memang efeknya tidak kecil (y).

Teringat kembali penggalan dari Buya Syafii Ma’arif, “Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa …”

Suami saya benar. Ini sih ujung-ujungnya urusan perut, kok :(.

Mayoritas beragama sama pun tidak membuat berbagai etnis ini bisa hidup damai berdampingan.

Perbedaan itu sunnatullah. Jangankan beda keyakinan walau sama-sama mengaku mengacu ke kitab suci yang sama, tafsir ya bisa beda-beda. Perbedaan fisik lebih susah lagi kita “lawan”. Itu datangnya dari siapa coba? Siapa sih yang pernah meminta kita ini ingin dilahirkan dari etnis mana?

Sudah tahu memang akan berbeda, mengapa sulit bekerja sama di bidang lain yang kita pasti sepakat? :(. Kurang banyak orang miskin di dunia yang perlu dikasih makan? :(. Kurang banyak anak yatim nan terlantar yang bisa kita diskusikan penanganannya? :(.

Perbedaan sesungguhnya memperkaya. Senang kan kalau punya banyak teman dari banyak budaya. Apa enggak kepo pengin tahu makna dibalik kepercayaan-kepercayaan lokal mereka?

Misalnya saya selalu tertarik dengan gerakan-gerakan Yoga yang katanya berasal dari penganut Budha. Ada banyak filosofi hidup yang tercermin dalam ritual Yoga ini. Try to learn and you’ll be surprised :).

Tapi sepertinya kita lebih sering suka membatasi diri kita sendiri. Membangun tembok-tembok pembatas untuk mempertegas betapa berbedanya kita dengan “mereka di luar sana”.

“We build too many walls and not enough bridges.” -Isaac Newton-

Robohkan dindingnya. Bangunlah penghubung dan seberangi ketakutan-ketakutan dan ego kita sendiri. Again… you’ll be surprised ;).

Di Indonesia, jangan ikut-ikutan “korslet” seperti “mereka” di luar sana :(. Konflik bersenjata untuk urusan apa pun tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Syukuri kesanggupan kita hidup bersama dalam perbedaan selama puluhan tahun. More years, even centuries, to come. Aamiin.

Faktanya, tidak banyak tempat di dunia ini yang bisa “senyaman” Sang Zamrud Khatulistiwa ini <3.

‪#‎janganLupakanPapuaDanAceh‬

 

Understood Backwards, Live Forwards

“Aneh ya kalau dipikir orang dulu bikin bentengnya kok di bukit yang tinggi?”

“Ha? Kenapa emang?” Saya enggak ngeh maksudnya suami.

“Ya soalnya sekarang kan ada pesawat. Kalau bikin benteng di tempat tinggi ya sekali dibom, habis sudah!”

“Oooooo…ya dulu pan kagak ada pesawat!”

Hahahaha :p.

Ini oleh-oleh jalan-jalan ke Rock of Dunamase 2 minggu kemarin. Yah, tinggal di Irlandia mah, hiburan gratisnya ya enggak jauh-jauh dari reruntuhan kastil ini itu hahahaha :p

Dunamase Irlandia

Dua minggu terakhir ini cuaca di Irlandia berangsur-angsur membaik. Setelah diterpa hujan hampir berhari-hari selama 6 bulan lebih.

Musim panas hujan, musim gugur hujan, musim dingin apalagi. Sungai di belakang gedung apartemen saya, Sungai Shannon, sampai sempat meluap. Di beberapa tepiannya, banjir tak terbendung. Gubernurnya siapa siiiiiiihhhhh ‪#‎eaaaaa‬.

Nah, sekarang hujannya sudah mulai berkurang *tepukTangan* :D.

Kalau weekend, cuaca bagusan dikit, pasti suami langsung merengek minta jalan-jalan. Yoih, saya mah anak rumahan banget. Kalau weekend, bawaannya pengin fesbukan melulu hahahaha ‪#‎eh‬ :p.

Rock of Dunamase, reruntuhan bangunan batu yang konon sudah ada sejak abad ke-10 di era Joko eh…eranya bangsa Viking.

Orang-orang Viking ini asalnya dari wilayah Jerman. Mereka menyebar ke daerah-daerah Skandinavia. Lalu menaklukkan Britania dan Irlandia.

Oleh Bangsa Viking, dibangunlah sebuah benteng pertahanan di atas bukit Dunamase ini. Tapi tak ada sisa peninggalan yang berjejak untuk kisah Dunamase di abad 10 tadi.

Benteng Dunamase kembali dibangun, untuk tujuan yang sama dengan pembangunan sebelumnya, di abad ke-12 oleh orang-orang Norman/Normandia.

Foto : Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

Normandia ini adalah nama sebuah wilayah di Perancis Utara. Orang Norman juga keturunan bangsa Viking. Cuma mereka umumnya adalah penganut Kristiani. Kalau Viking kayaknya masih era animisme dinamisme apa ya hehehe, CMIIW ya.

Setelah pendudukan Viking, giliran Normandia yang menguasai Britania dan Irlandia.

Pemilik Benteng di Dunamase berganti-ganti hingga akhirnya jatuh ke tangan bangsawan Inggris. For info, wilayah Irlandia (termasuk Republik Irlandia di belahan selatan) dijajah oleh Kerajaan Inggris Raya selama 8 abad lamanya *ngelapKeringat*.

Dalam salah satu perang lokal, pertengahan abad ke-17, benteng di bukit Dunamase ini diledakkan agar tidak direbut oleh musuh. Hingga akhirnya dibangun ulang menjadi semacam tempat perjamuan oleh Sir John Parnell di di penghujung abad ke-18. Arsitektur Aula Pertemuan ini menggunakan gaya abad pertengahan.

Sisa-sisa reruntuhannya itulah yang hingga kini masih bisa dilihat di kawasan wisata Dunamase ini.

Kalau pakai logika sekarang ya cupu banget bikin benteng pertahanan kok di atas perbukitan yang tinggi. Dengan kecanggihan teknologi perang era sekarang, ya benar kan kata suami saya tadi. Sekali dibom, langsung gubrak hehehe.

Belum lagi lokasinya yang eye-catching di atas bukit yang gampang banget deteksinya karena tinggi sendiri di tengah-tengah lembah di sekitarnya 😀

Enggak perlu capek-capek sewa detektif atau mengaktifkan radar untuk mendeteksi tempat persembunyian musuh hihihi.

Ya tapi kan pakai pola pikir zaman dulu dong ;). Dulu sih, boro-boro ada pesawat tempur bermesin jet, mobil paling sederhana saja belum ada hahaha :p.

Mengapa benteng dibangun tinggi sendiri di atas perbukitan? Ya biar gampang memantau musuh. Dulu ngecek musuh ya ngandelin keterbatasan jangkauan mata manusia saja.

Foto : Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

Begitu juga dengan hal-hal lain di masa lalu di luar konteks benteng tadi ;).

Maaf nih, agak SARA dikit. Soal tudingan bahwa Islam mendukung perbudakan dengan banyaknya ayat-ayat yang mengatur soal budak dalam ayat suci. Ya iyalah, di abad ke-14 saat alquran diwahyukan, perbudakan memang hal yang lumrah di berbagai belahan dunia :(.

Justru Islam datang untuk menyerukan persamaan derajat diantara seluruh umat manusia. Makanya, di awal-awal yang banyak tertarik dengan ajaran ini ya para budak dan golongan miskin / fakir. Dan yang stres ya para penguasa yang sudah dimaklumi sering hidup mewah dari hasil menindas rakyatnya dan kebanyakan kaum berpunya yang sudah terbiasa menikmati kemudahan hidup dengan bantuan para budak.

Makanya, jangan juga yang muslim berkeras kalau ayat-ayat perbudakan itu masih relevan sampai kapan pun. Haduuuuh, di era modern ini dimana kita semua sudah memiliki kesadaran penuh soal hak asasi manusia kok ya masih mau bahas tetek bengek hamba sahaya -_-.

Demikian juga misalnya tuduhan kepada kaum feminis yang dituduh sok-sok kuat dan mengajak perempuan ke arah yang enggak bener :p. Lah, situ kira perjuangan awal kaum feminis memang apaan? Di awal abad ke-20 saja penggunaan alat kontrasepsi itu TABU banget lho.

Jangan pakai latar belakang kehidupan modern perempuan zaman sekarang untuk menertawakan ide feminisme di masa lalu ;). Instead, berterima kasihlah kepada mereka yang sudah memperjuangkan biar situ-situ enggak tek dung melulu saban tahun sehabis menikah hahaha :p.

Jadi, pahamilah masa lalu untuk pelajaran buat kita. Jangan dicari-cari alasan untuk menegakkan kebenaran ala-ala keyakinan kalian sendiri ;). Malah belakangan, banyak yang mau balik ke masa lalu. Duh! Ciyus? :p.

Masa lalu jangan dikais-kais. Hiduplah untuk ke depan. Persembahkan kebermanfaatan yang kita punyai/miliki untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Untuk kemanusiaan, lingkungan dan sekitarnya (y).

Let’s work together for a better world. Shall we? <3

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”
― Søren Kierkegaard

Ah ya … enjoy the pics ;).

Foto : Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

Generasi Milenial : Now and Then

Generasi milenial : Joey Alexander, bocah belasan tahun yang konon banyak belajar tentang musik jazz dengan menonton video di youtube. Joey, menjadi fenomena karena berhasil menjadi salah satu nominator di ajang bergengsi kelas dunia, Grammy Award.

generasi milenial berprestasi Joey Alexandar, gambar : elshinta.com
Joey Alexandar, gambar : elshinta.com

Laksita Paramita, memulai usaha dengan modal awal kurang dari 50 ribu rupiah. Dalam tempo 16 bulan, sukses meraup omzet ratusan juta per bulan. Usaha apa? Menjual kaos kaki! Dia tidak berjalan kaki sampai keringatan menawarkan dagangannya. Tidak juga menghabiskan uang untuk menyewa kios dan semacamnya. Laksita hanya mengandalkan penjualan secara online, via akun instagramnya di @VorioSocks. Usianya baru menginjak 20 tahun.

Joey dan Laksita mewakili generasi millenia yang konon sebagian besar kehidupannya diwarnai sentuhan teknologi era digital terkini. Generasi yang sama yang kepadanya banyak diarahkan macam-macam tuduhan. “Astaga, anak-anak zaman sekarang ancur banget, ya.”

Sebagian teman saya yang bisa dikatakan angkatan 80/90-an masih sibuk bernostalgia dengan masa kecil kami dulu. Betapa indahnya masa lalu dan tentu saja sambil berkomentar betapa tidak asyiknya kondisi di masa kini. Betapa bagusnya lagu-lagu yang ngetop di tahun 80/90 an. Betapa enaknya jajanan kecil masa dulu. Betapa serunya permainan masa kecil ala generasi kami dan seterusnya.

Mengingatkan saya kepada salah satu kakak saya yang mengomeli saya karena saya menggemari aneka rupa boyband yang memang berjaya di era 90an. Katanya, “Musik cengeng. Yang bagus tuh yang tahun 70 an. Lagunya keren-keren.”

Ibu saya yang mengeluhkan dandanan perempuan ala 80an yang menurutnya terlalu seronok. Di era 60/70 an katanya lebih anggun dan berkelas.

Seperti nenek saya yang memprotes ibu saya yang memperkenalkan blender untuk membuat penganan khas kampung saya, Barongko. Menurut Nenek, Barongko itu ya enaknya kalau pisangnya ditumbuk bukan diblender. Nenek mengeluh betapa pemalasnya ibu-ibu sampai-sampai bikin Barongko pun harus pakai blender. Betapa hebatnya ibu-ibu di tahun 60/70an yang belum bersentuhan dengan banyak colokan listrik hehehe.

Tenang Nek, cucumu ini masih melestarikan beberapa perkakas masa lalu *sodorinCobekanBatu* ?

The same old story … on and on again. Boyband era 90-an yang dulu dimaki karena terlalu menye-menye kini dirindukan kembali oleh penggemarnya. Tentunya sambil mencela selera musik generasi millenia era sekarang.

Era digital perubahannya seperti berlari. Salah satu yang paling terasa, maraknya pergaulan via media sosial. Media sosial tidak hanya jadi ajang nyinyir-nyinyiran tapi juga jadi penyebar berita utama. Mayoritas trending topic seringnya dimulai dari media sosial kan? Meluapnya informasi membuat dunia terasa penuh dengan kejahatan dan hal-hal buruk lainnya.

Sesama anak SD berantem di kelas di kabupaten anu provinsi entuh, dalam hitungan menit bisa tersebar luas di seantero Nusantara. Tuduhan demi tuduhan berhamburan. “Betapa memprihatinkan generasi sekarang!” atau “Astaga, anak-anak zaman sekarang kasar-kasar banget.” Yang lainnya, “Ih, sekarang kejahatan makin banyak!”

Belum lagi berita-berita kejahatan, mulai dari yang remeh sampai yang berbau konspirasi, beuh! Bisa dikupas tuntas beramai-ramai. Kadang, kenal orangnya saja tidak, tapi saking dahsyatnya berita tersebar, kita mendadak ikut-ikutan benci dan menghakimi dengan keras.

Seolah semuanya baru terjadi di masa sekarang. Padahal semuanya hanya perulangan dari masa ke masa. Memangnya dulu persentase orang jahat lebih sedikit daripada orang baik? Kata siapa? Mana datanya? Kalau hanya berdasar penyebaran berita di media jadi rancu dong, ya.

Dulu penyebaran informasi sangat terbatas. Sekarang? Kejadian di benua terjauh pun yang tidak terbayang oleh kita seperti apa tempatnya bisa kita dapatkan informasinya dalam hitungan detik.

Parahnya lagi, jargon bad news is a good news di kalangan media benar-benar dimanfaatkan seoptimal mungkin. Jadilah yang buruk-buruk bisa menyebar lebih cepat. Anak-anak yang saling membully viralnya bisa mengalahkan anak-anak generasi millenia yang sebenarnya punya banyak prestasi yang dulu mungkin tak terjangkau di masa lalu.

Anak-anak sekarang banyak yang menjadi penulis cilik. Diperkenalkan di dunia blog sejak dini. Jauh lebih mudah memasarkan karya-karya tulis di era digital. Siapa pun bisa berkarya asalkan mau bekerja keras. Prasarana bukan lagi halangan berarti.

Uniknya, orang tua malah banyak yang menarik diri dari kecanggihan teknologi. Sebagian orang tua memandang sarana internet penuh “ketakutan”. Malah cenderung ingin menarik diri ke masa lalu. Ya seperti lebaynya beberapa pihak yang memuja-muja masa kecil yang dianggap sebagai masa keemasan.

Saya pribadi malah iri dengan anak-anak zaman sekarang. Dulu, mencari informasi beasiswa saja serba terbatas. Kini, informasi bertaburan via internet. Era sekarang juga mempermudah banyak hal lainnya.

Daripada mengutuk banyaknya video-video negatif, manfaatkan saja situs seperti youtube untuk mengajarkan anak-anak membaca. Anak saya yang pertama dan kedua sangat terbantu mengenali huruf dengan maraknya video-video cara belajar membaca dan mengeja di youtube yang bisa dinikmati secara gratis.

Industri kreatif di bidang ekonomi juga dipicu oleh penggunaan media sosial. Masih ingat Laksita yang diceritakan di awal? Menjual kaos kaki dengan memanfaatkan akun instagram. Label pengusaha bisa dirintis sejak usia dini karena banyaknya kemudahan teknologi.

generasi milenial Gambar : voria socks
Gambar : voria socks

Kecanggihan teknologi mungkin seperti sebilah pisau. Tentu marabahaya yang diundangnya jika mata pisau ini berada di tangan seorang yang berniat menghabisi nyawa orang lain. Namun, di tangan seorang ibu yang meracik menu di dapur, sebilah pisau mampu mendatangkan manfaat yang tidak sedikit.

Saya percaya, mana ada sih hal-hal di dunia ini yang mengandung manfaat saja? Air putih yang sudah sangat nyata khasiatnya buat kesehatan kita, bila dikonsumsi sekaligus dalam jumlah banyak, apa tidak membuat perut kembung?

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari jangan kita yang ditelan zaman. Kitalah yang harus menaklukkan zaman. Media perantara tidak seharusnya menjadi masalah. Termasuk dalam urusan mendidik bagi para orang tua. Manfaatkan kemajuan zaman untuk mengoptimalkan potensi si kecil. Sembari mengontrol penggunaannya agar tetap di jalur yang tepat.

“The only way to make sense out of change is to plunge into it, move with it, and join the dance.” -Alan Watts

Terasa, seperti ombak yang datang menghadang menghadapi cepatnya zaman berlari. Jangan dilawan. Siapkan papan selancar. Tantanglah ombak di puncak tertingginya. Lalu … meluncurlah bersamanya :).

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Spot The “Light” on Spotlight ;)

Oscar best picture this year : SPOTLIGHT. Congratulation ^_^.

Gambar : crosscut.com
Gambar : crosscut.com

Wah, ini film yang relevan banget dengan salah satu isu di medsos tanah air yang lagi hot-hotnya. Coba nonton trailernya di youtube deh ;).

Saya sungguh berharap orang-orang bisa secara JELAS dan TERANG membedakan isu pedofilia vs isu LGBT. Untuk urusan pedofilia atau perihal kekerasan apa pun kepada anak-anak (enggak peduli siapa pelakunya), saya percaya KITA SEMUA SATU SUARA.

Nih, film Spotlight tentang isu kekerasan terhadap anak di Amerika Serikat, negara yang kalian benci banget itu terkait urusan LGBT :p.

Justru di negara-negara berkembanglah perlindungan terhadap anak-anak ini sangat memprihatinkan :(. Pemaksaan pernikahan di usia dini bagi anak-anak perempuan misalnya :(.

Ini seperti pedang bermata dua. Karena ibu saya adalah salah satu korbannya hehehe. Tapi gimana ya, walau beliau menceritakan dengan santai dan legowo saya tahu pasti… dulu menikahnya dipaksa! :'(. And there was no way she could say NO.

Gambar : malaysiaedition.net
Gambar : malaysiaedition.net

Walau kini terdengar lucu mendengar cerita Ibu bagaimana dulu beliau “melawan” sebisanya, tetap saja saya sedih :'(.

Belum lagi segabruk-gabruk anak-anak (bahkan bayi-bayi) yang beredar di jalanan di depan mata kita sehari-hari.

Anw, film ini tentang child molestation yang terjadi di ruang lingkup sebuah gereja Katolik lokal. Salah satu ujaran di trailernya yang cukup menggelitik, “How do you say NO to God?”

Dari wallnya Narpati nih tentang review film SPOTLIGHT. Dapat 2 tulisan bagus ini :

Review Spotlight : A Great Paean to Powerful Journalism That Breaking Omerta (tenang ini judulnya aja yang “ngeri”, isinya bahasa Indonesia kok hahahaha :p).

Mencari Rumah Ibadah yang Aman

Penasaran jadi emang dari pagi googling film ini terus hehehe. Penasaran dengan topiknya yang sensitif tapi kok rasanya minim kontroversi (untuk versi film ya)

Ternyata memang filmnya disajikan dengan halus dan ala-ala jurnalis banget. Lah ya memang filmnya tentang jurnalis, ya. Cara penyampaiannnya sangat “tenang” hingga orang bisa fokus ke masalah intinya.

Saya baru nyadar kalau isunya memang serius. Kasus di Bostonnya pun (di tahun 2001) ternyata memicu pengungkapan isu yang sama di berbagai Gereja Katolik di berbagai belahan dunia.

Tapi saya jadi mikir lagi, apa ini karena yang terkait adalah agama Katolik yang umumnya mayoritas di negara-negara “maju”? Entah hukum alam apa gimana, makin “sejahtera” sebuah negara makin meningkat ke”atheis”annya. Makanya isunya jadi, mengutip komentar dari

Kalau kejadian di agama Islam kira-kira gimana ya?

Gambar : atheistrepublic.com
Gambar : atheistrepublic.com

Tapi pernah diskusi serius dengan suami. Kalau menurut suami, hard to tell. Karena belum ada negara mayoritas Islam yang bisa mencapai “kesejahteraan” ala-ala negara-negara “barat”. Walau memang ada pihak-pihak yang memuja-muja beberapa bagian di Timur Tengah sebagai perwakilan negara sejahtera ala Islam. Iya, negara sejahtera buat gajinya gede hahahahaha :p. It’s simply a fact, jangan sensi ;).

Kalau umat kristiani tampaknya sudah mulai “meninggalkan” sentimen seperti ini. Umat Islam masih “gini-gini” saja :p. Di tanah air kita sendiri, seperti misalnya maraknya teori konspirasi yang mengiringi para “tokoh saleh/salehah” yang sedang terjerat urusan hukum.

Selalu trauma deh sama teori-teori konspirasi hahaha. It’s tiring yet unuseful.

Belum lagi konspirasi akan melibatkan “racun” penting yang namanya prasangka. Sementara alquran sudah mengingatkan, “Sesungguhnya prasangka tak sedikit pun memberimu kebenaran.”

Bagian “bermain-main dengan prasangka” itulah mungkin yang dihindari dalam penanganan kasus Gereja-Boston ini, baik di dunia nyata maupun di filmnya sendiri. Justru itu bukan fungsi utama jurnalistik? Menyampaikan data dan informasi bukan “menghasut” atau “mengarahkan” audiens/pembaca/penonton.

Bagian hasut-hasutan sama buzzer-buzzeran itu kasih ajalah ke kami-kami para blogger ini hahahaha. Para blogger menulis atas nama pribadi jadi kami tidak punya keterikatan secara profesional dengan institusi mana pun.

Walau kadang perih juga kalau menunjukkan sikap politik yang buat orang terlihat membabi buta pasti langsung kena tuduhan, “Dibayar berapa sih?” Hahahaha. Etapi memang ada job-job yang berbayar sih, gimana dong ya hahahaha lagi aja dah :p.

Sebagai pembaca ya kita memang bukan orang jurnalis. Saya pun sering berat sebelah menilai berita. Misalnya tempo hari, saya marah banget dengan penembakan Paris jadi saya “memaafkan” sebuah headline berita di media mainstream, yang menurut teman-teman lain yang juga mantan jurnalis, sedang melakukan framing. Sempat eyel-eyelan di wallnya Mas Iqbal nih :D. Baru nyadar belakangan jadi saya buru-buru kabur hahahaha.

Ini memang eranya instan sih, ya. Bukan cuma mi atau makanan instan lain yang diburu-buru. Berita pun kudu instan-instan hihihihi. Seperti media juga yang akhirnya ketularan kepengin mendapatkan perhatian dengan cara instan.

Dibikin dah tuh judul-judul provokatif macam, yang saya bilang di kasus penembakan Paris tadi, “Teroris menembaki penonton konser seperti menembaki burung.” –> ini media mainstream lho!

Kalau media-media nganu-nganu kan bisa kita pahami. Kalau ada yang terperangkan sama media-media nganu ya saya enggak nyalahin medianya sih :p.

Tapi media mainstream pun sekarang hobi bener berlebay-lebay ria demi memborong jumlah klik/like/share di dunia maya.

Sudahlah judulnya simeleketehe, isi beritanya pun cuma seucrit. Itu juga orang pun masih banyak yang hanya mentok di judul tidak baca isi hihihihi.

Makanya enggak heran, dikit-dikit histeris, dikit-dikit histeris. Seringkali jadi tidak fokus dengan permasalahan. Fokusnya ke orang per orang. Entah fokus ke si pelaku entah si korban. Jadinya bisa berefek ke kebencian personal. Ish, saya juga sering terjebak kayak gini hahaha *tutupMuka*.

Saya kutip dari tulisan pertama yang saya share linknya di atas itu :

“Itu sebabnya, karakter Marty Baron menolak untuk mengangkat cerita yang hanya mengupas para pastur pedofil. Baginya, mereka juga bagian dari korban, meski tim Spotlight mengajukan fakta tentang puluhan pastur yang melakukan tindak pelecehan seksual.

“ We’re going after the system,” jelas Marty yang menegaskan bahwa mereka tidak berniat menyudutkan perorangan.”

Ya belajar banyak memang dari fenomena film Spotlight ini. Untung menang Oscar ya, jadi saya ikutan kepo deh hihihi.

Saya tipe yang percaya apa pun bentuk konspirasi di dunia itu pada dasarnya urusan manusia per manusia. Bagaimana masing-masing dari kita berusaha keras menaklukkan sifat-sifat dasar manusia yang diantaranya memang cenderung ingin menang sendiri- rakus-angkuh yang sudah saya rangkum juga di tulisan 7even Sins tempo hari 😉

Kita sendiri, orang per orang, yang harus melawan konspirasi itu. Bukannya terus menerus merasa menjadi korban, malas mencari akar masalah dan menyudahi semua kekhawatiran dengan slogan, “Ini pasti konspirasi!”

Have a nice monday, readers ;). Sudah tahu mau nyari download-an mana dari film-film yang merajai Oscar tahun ini? Hihihihi :p.

***