If A Picture Paints A Thousand Words

If a picture paints a thousand words
Then why can’t I paint you?
The words will never show
The you I’ve come to know

Sebait lirik pembuka dari lagu berjudul “IF”.

Lagu “If’ sebenarnya gombalan-gombalan klasik gitu-gitulah . Coba saja cari lirik lengkapnya via Google.

Tapi bagian “A picture paints a thousand words” adalah bagian penting untuk memahami mengapa setiap berita kudu banget atuhlah pakai foto-foto endebre-endebre walau HOAX sekali pun!

Gambar : forum.kompas.com
Gambar : forum.kompas.com

Yoih teman-teman, mau bahas hoaks lagi nih. Jangan capek yaaaaa. Harus rajin karena produsen hoax ini, makin ke sini makin giat aja kerjanya -___-.

Foto memang berefek cetaaaar. Seringnya, sebuah foto yang punya “pesan kuat” tanpa caption satu huruf pun sudah bisa menyulut respons bertubi-tubi. Respons yang kini bisa menjelma menjadi jumlah komentar + like + share.

Sialnya, yang begini-begini, di era digital yang makin berlari, bisa berkembang menjadi duit. Sementara ada yang memang dengan khusyuk mengetik amin plus share dengan niat “membela agama” apalah-apalah, si pembuat hoax cengar-cengir menikmati komentar + like + share yang mengalir deras.

Yang selalu ramai, misalnya kasus Rohingya. Ini bukan pertama kalinya Rohingya ramai. Sudah kesekian kalinya. Dan seberapa gencar pun kita melawan hoax, saya takjub foto-fotonya masih yang itu-itu juga yang dipakai.

Lebih takjub lagi, masih banyak (bahkan mungkin lebih banyak lagi) yang tersulut. Jangan disalahartikan bahwa saya dan teman-teman yang kayaknya reweeeeel banget urusan beginian hendak menafikan masalah Rohingya.

Tapi gencar dan viralnya foto-foto tipu muslihat nan “busuk” itu yang justru memancing amarah yang salah arah!

Coba yaaaaa, sekumpulan biksu yang lagi bantuin korban bencana alam di mana, masa ujug-ujug dibilang “membantai” kaum muslim. Waduh, terbayang enggak tuh beratnya fitnah yang kalian share, teman-teman .

Versi lokal tidak kalah serunya. Beberapa bulan lalu ada foto nenek-nenek yang sudah sangat berumur dan badannya kurus banget lagi duduk di samping jualan sayurnya. Penampakan nenek sangat memprihatinkan.

Diunggahlah foto itu, mungkin oleh orang yang kebetulan lewat dan melihat si Nenek kok ya nelangsa banget duduknya sambil jualan pula. Foto pun viral dengan caption yang tidak kalah ngeheknya, “Ke mana pemerintah kita?”

Ada kenalan si keluarga Nenek yang mengenali foto itu dan melaporkan ke keluarganya. Ternyata si Nenek sama sekali bukan orang yang tidak mampu. Beliau punya anak dan menantu tapi memilih tinggal di rumah sendiri. Rumahnya juga bukan rumah biasa-biasa. Lumayan banget kondisinya secara ekonomi.

Itu anak dan menantunya sampai sebal banget dan meminta foto tersebut tidak disebarkan lagi. Para kerabat dekat yang mengenal baik keluarga ini juga ikut memberikan klarifikasi.

Keluarga baik-baik kalian ganggu ketenangannya walau pakai alasan, “Kan tidak tahu. Kirain anu.” Ya makanya jangan asal shareeeeeee *gemes*.

Hoax urusan politik lokal ya apalagi zzzzz -_-.  Dah kehabisan kata-kata, deh.

Balik lagi ke hoax isu internesyenel tapi citarasa lokal.

Familiar tidak dengan foto demo di Big Ben-London. Sebuah foto yang memotret Big Ben dari ketinggian di mana jalanan yang berada di sisi kanan Big Ben penuh oleh lautan manusia.

Foto tersebut adalah foto protes massa di tahun 2003 atas serangan terhadap Irak. Jumlah orang yang berdemo di sekitaran Big Ben saat itu diperkirakan lebih dari 10 juta orang!

london-protests-iraqi-war

Foto demo Big Ben yang epik ini sekaligus mementahkan hoax si Abang Horas yang menuduh dunia tidak pernah peduli dengan kejadian/perang/penderitaan yang terjadi di negara mayoritas muslim. Sudah pernah saya tulis ya di sini –> “Katanya, Dunia Tidak Peduli?” 

Foto tersebut lagi-lagi dipakai sebagai hoax juga dengan tuduhan yang berkebalikan. Katanya, “Terjadi demo besar-besaran protes penyerangan Perancis terhadap Suriah tapi media bungkam!”

Yoih, menuduhnya suka-suka mereka saja. Kadang media-media mainstream yang dituduh bungkam. Kadang masyarakatnya yang dituduh tidak punya empati. Suka enggak sinkron emang *ngelapKeringat*.

Yang bikin saya takjub. Foto hoax demo Big Ben ini malah muncul di timeline teman-teman saya dari golongan “anak sekolahan”. Yang tingkat pendidikannya satu atau dua level di atas saya. Terkenal cerdas pula secara akademis.

Itulah yang bikin saya makin keliyengan. Betapa memang hoax ini tidak kenal SARAP (suku agama ras dan IPK hahahaha). Emosi kita yang dipermainkannya .

Kita kan suka bertanya-tanya ya, “Ya udah sih, kalau tidak ketemu foto beneran atau sudah tahu fotonya hoax, mbok ya share info atau berita apa adanya saja. Gak usah pakai foto-fotoan.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ilustrasinya mungkin begini.

Kita pasang berita, “Ada penganiayaan terhadap etnis minoritas Rohingya di Myanmar.” Rohingnya siapa sih? Minimal dari sini orang akan googling dulu lah. Yang tidak punya banyak waktu dan tidak terpancing ya lewat saja.

Kurang efeknya. Diubah dikit, “Ada penganiayaan terhadap umat muslim oleh umat Budha di Myanmar.” Ini sudah mulai bergejolak. “Wah, umat muslim ditindas!!!!” Mulai dah kalap .

Tapi tentunya sekadar barisan kata-kata masih memancing tanya untuk beberapa yang kadar emosinya masih lebih “stabil”, “Dianiaya macam apa sih? Korbannya berapa dan bagaimana kondisinya?”

Kalau mereka memang kepo ya mulailah mereka mencari-cari beritanya. Yang “pemalas” mah ya langsung lewat saja ogah mencari tahu .

Makanyaaaaaa, beritanya harus mampu membakar amarah dalam hitungan detik. Tanpa perlu googling, tanpa perlu banyak tanya-tanya. Apalagi ini era serba instan. Orang mah maunya serba cepat saji. Termasuk berita.

Gimana caranya memengaruhi orang dengan caption seadanya tapi yang melihat bisa langsung murka sambil memaki di kolom komentar plus pencet tombol share sambil memengaruhi orang lain di timelinenya untuk juga marah-marah?

YA PAKAI FOTOOOOOOOOOO!

Foto mah, digoogling sebentar juga dapat. Resize kalau perlu biar gampang diupload. Kasih kata-kata seadanya. Satu kalimat juga cukup. Malah ada yang cuma ditambahi satu kata, “Lawan!”

Paham kan sekarang makna, “A picture paints a thousand words” .

Homeless-charity topnews dot ae

Kabar baiknya, foto gampang didapatkan maka sebaliknya gampang pula ditelusuri jejaknya. Salah satu cara tercepat adalah dengan melakukan “drag and drop” terhadap foto tersebut ke dalam kolom pencarian di situs “Google Images”.

Mesin pencari Google makin ke sini sudah makin canggih. Kalau pun tidak ketemu foto yang persis, akan keluar foto-foto sejenis yang bisa dikenali dari latar dan kesamaan “suasana” dll.

Hasil pencarian juga akan memberikan kita informasi di mana foto aslinya dimuat dan terkait peristiwa apa. Hati-hati kadang situs hoaxnya keluar duluan hahahaha. Pokoknya susuri dengan teliti.

Efek dari sharing hoax ini tidak kecil. Iya sih, kalian bisa saja berpikir kalau salah kan tinggal hapus. Masalahnya, kita tidak pernah tahu ke mana berita tersebut akan bermuara. Sekali dishare di media sosial yang berbasis internet, viralnya akan susah dikontrol .

Ada fakta nyata bahwa bad news akan menyebar jauuuuuh lebih cepat daripada good news. Tidak heran, klarifikasi biasaya kalah tenar dibanding hoaxnya .

Sanggup kalian lacak satu-satu orang yang sudah terpengaruh oleh kebencian yang kalian share? Memang bisa berlindung di balik alasan macam-macam. Alasan agama lah yang paling klasik .

Tapi apa mungkin kita memimpikan kebaikan atas dasar kebencian? Bisakah kita mendirikan bangunan yang kuat dari batu bata murahan, semen yang sudah dimanipulasi bahannya dengan air, bahkan cor-corannya sudah diganti dengan gelas aqua plastik?

Kalian pasti tahulah jawabannya .

***

That Change Can be Beautiful

“Untuk pelamar beasiswa program magister/dokter spesialis, usia maksimum pada 31 Desember di tahun pendaftaran adalah 35 (tiga puluh lima) tahun.”

Game over, begitu pikir saya saat melihat sebaris kalimat tersebut 2 tahun lalu saat saya mencari-cari peluang beasiswa untuk melanjutkan studi magister saya.

Maksimal 35 tahun. Langsung lemas. Beranak melulu sih, hahaha. Jadi ‘lupa’ mikirin sekolah lagi :p.

Padahal dari kecil saya ini gila sekolah banget. Selalu menganggap saya memang cocoknya menjadi akademisi. Dulu malah punya cita-cita tunggal : menjadi dokter! Saya percaya diri banget deh dengan nilai-nilai akademis saya.

Suami saya selalu bete saking seringnya saya memamerkan buku raport SMA saya di mana tidak satu cawu pun, angka 1 tidak tertera di kolom peringkat kelas. Sapu bersih, Cyin! #benerinPoni.

Selain menjadi akademisi, karena kondisi, akhirnya berbelok menjadi wanita karier. Belum juga ijazah diterima, saya sudah diterima bekerja sekitar 2 minggu setelah melewati ujian terakhir di kampus.

Waktu gadis pula, kepengin banget merasakan sekolah di luar negeri. Pakai sepatu boot, mantel lucu-lucu, nenteng buku dan tas, bergaya dan berfoto di depan kampus bersama teman-teman bule. Ini mau sekolah apa mau ngapain yaaaaaa hahaha.

Sebenarnya, sering juga merasa gagal kalau melihat teman-teman sebaya yang tetap berjuang melanjutkan sekolah sampai ke mana-mana.  Tidak sedikit teman sekolah dulu yang kini menjadi dokter spesialis dan menjadi dosen di kampus mereka.

Setiap melihat foto teman memakai toga merayakan kelulusan S3  mereka, selalu membatin dalam hati, “Duh, S2 saja belum keburu, euy” huhuhu :(.

Challenge What Your Future Hold!

Kini, usia saya 37 tahun, punya 3 anak 😀

berempat-istanbul

Saya masih ingat, hampir 8 tahun yang lalu, di suatu akhir pekan, saya ke kantor untuk mengambil barang-barang yang masih tersisa di meja. Kemarinnya adalah hari terakhir saya setelah duduk di depan bos menyerahkan surat resign sebulan sebelumnya.

Padahal hari terakhir di kantor ketemu teman-teman saya masih biasa-biasa saja. Justru saat memunguti satu persatu barang dari laci meja, memasukkan sepatu olahraga yang sering saya pakai nge-gym di kantor ke dalam plastik, mencabuti notes-notes kecil di dinding meja kerja, membuat saya menangis sesenggukan.

Tidak percaya bahwa saya akhirnya memutuskan berhenti bekerja setelah meniti karier 7 tahun tanpa henti.

Siapa sih yang mengira setelah memutuskan berhenti berkarier, banyak pengalaman baru menanti :). Walau usia tak lagi muda.

Setelah resign, rezeki ke luar negeri ternyata mengalir lewat perjalanan karier suami. Sudah sempat jalan-jalan ke banyak tempat. Walau meleset sedikit. Dulu diimpi-impikan selfie-selfie sendiri karena ceritanya kan lagi kuliah di luar negeri hihihi. Sekarang, di foto mana pun pastinya anak-anak kudu nyempil hahaha.

jalan2-anak2

Seiring dengan petualangan di berbagai negara, saya hidupkan kembali hobi masa kecil saya … menulis :). Kalau dulu hanya terbiasa menulis catatan ringan dalam buku diari untuk koleksi pribadi, sekarang bisa menulis di blog dan berbagi kisah kepada banyak orang via media sosial.

Dari blog, kegiatan menulis saya terus merambah ke media-media cetak. Beberapa kali tulisan-tulisan saya, baik berupa opini-traveling-fiksi, menghiasi media-media cetak nasional. Dengan makin meredupnya era media cetak, kini saya sering juga menjadi content contributor buat beberapa media online.

Dari media cetak, saya pun menerbitkan buku-buku. Sudah 3 buku yang pernah terbit : Bunda of Arabia, Memoar of Jeddah, dan The Davincka Code.

artikel-loreal

Kira-kira setahun yang lalu, saya menjadi getol masak-masak dan bikin kue di dapur. Sesuatu yang sebelumnya saya kerjakan sebatas kewajiban saja. Duh, enggak pernah kebayang bakal bisa masak macam-macam.

Hal ini membuat saya membuat blog khusus untuk kegiatan di dapur. Ada banyak hal yang memang tidak pernah terlambat untuk dimulai ;).

dapur-loreal

 

Dulu, saya ingin sekali menjadi orang yang berpengaruh. Saya pikir saat saya tidak banyak lagi berinteraksi di luar rumah, lagi-lagi game over. Ternyata zaman terus berubah. Bahkan dari rumah pun, kita tetap bisa menyebarluaskan ide/gagasan/semangat.

Apakah ibu di rumah tidak bisa membekali diri dengan pengetahuan politik misalnya? Salah banget ;).

Hingga kini, saya tetap rajin menulis. Walau seringnya di akun media sosial saya, Facebook. Minat utama saya selain traveling dan fiksi adalah isu-isu seputar perempuan, sejarah, dan politik.

Saya sampai punya belasan ribu follower di Facebook :D. Beberapa tulisan saya dishare sampai ribuan kali dengan banyak sekali komentar apalagi jika menyangkut politik, pokoknya seru deh hahaha. Sesuatu yang tidak pernah terbayang sebelumnya.

Dinding-dinding rumah tidak akan menghalangi siapa pun untuk menjadi “influencer” di era digital ini :).

Melangkahkan kaki pulang di hari sabtu itu bersama beberapa kardus berisi barang-barang di kantor yang siap dibawa kembali ke rumah, saya mengira hidup saya akan biasa-biasa saja setelah itu. I thought, “The door has been closed.” 

Untuk kemudian saya sadari beberapa tahun setelahnya, “When one door closes, another opens” ;).

Tetap Optimal Merawat Diri

Saya tetap ngotot menjadi penampilan walau tiap hari disibukkan dengan urusan anak, dapur, menemani suami, intinya lebih banyak berkutat dalam rumah. Mungkin karena alasan lebih banyak di rumah, tidak sedikit ibu-ibu rumah tangga yang tidak menjadikan hal ini sebagai prioritas. Apalagi dengan umur yang makin bertambah.

Menjaga kondisi tubuh, termasuk penampilan, didasari oleh keinginan pribadi. Bukan karena intimidasi dari siapa pun :).

Saya melahirkan anak ke-3 saya, saat usia sudah menjelang 36 tahun. Setelah si bayi berusia 6 bulan, saya rutin berolahraga dan lebih ketat terhadap pola makan untuk mengembalikan berat badan ke angka ideal.

Waktu masih bekerja saya memang rajin menyambangi tempat kebugaran. Tapi kecanggihan era digital sekarang sangat memungkinkan kita tetap bisa melakukan olah tubuh dari rumah sekali pun.

Tidak perlu aktivitas yang berat-berat. Intinya adalah konsistensi (y). Sepuluh menit pun asalkan rutin dilakukan setiap hari mungkin jauh lebih berpengaruh ketimbang berolah raga sejam tapi hanya sekali sebulan hehehe.

pixlr

Yang berat adalah menyemangati diri sendiri sepertinya.

Kita cenderung berlindung di balik alasan, “Ah, sudah tua ini. Wajarlah kalau begini-begini-begini.” Atau menggunakan anak sebagai alasan, “Repot ah di rumah. Digangguin anak melulu.”

Padahal semua tergantung niat dan kesungguhan pribadi saja sih ya. Rutinitas harian bahkan anak-anak harusnya bukan penghalang ;).

mountain-climber-aimar

 

Skin Care vs Make Up?

Saya tidak begitu suka berdandan. Ini nih yang suka ketelisut. Banyak yang menganggap tidak doyan dandan berarti tidak perlu merawat wajah.

Skin care vs Make up adalah 2 hal yang berbeda, lho ;).

Memakai pelembab wajah dan bedak. Hal ini rutin saya lakukan setiap akan ke luar rumah. Sinar matahari dan polusi punya efek tidak sedikit terhadap kesehatan kulit.

Membersihkan wajah tiap hari sebelum tidur juga jangan disepelekan walau rasanya kita jarang beraktivitas di luar rumah. Saya termasuk rewel dalam urusan perawatan wajah walau jarang bersentuhan dengan lipstik, riasan mata, pensil alis, pemerah pipi, dsb hehehe.

mama-banyak

Saya tidak hanya mengandalkan skincare berupa produk-produk kecantikan yang banyak dijual bebas. Sekali atau dua kali seminggu saya mengoleskan bahan-bahan alami seperti madu + jeruk nipis + tomat ke permukaan wajah. Agak repot memang. Tapi hasilnya lumayan banget lho ;).

Asupan makanan juga punya pengaruh besar. Misalnya rajin mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan. Tidak sukar buat saya karena beberapa tahun belakangan ini saya mempraktikkan pola makan Food Combining yang mayoritasnya memang buah-buahan dan sayuran segar.

Sama seperti perawatan tubuh, lakukan perawatan wajah untuk diri sendiri. Bukan karena pengin dibilang cantik bla bla bla :p.

Keduanya adalah bagian dari kesehatan. Menjaganya termasuk ibadah asalkan tidak berlebihan dan diniatkan sebagai salah satu cara mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta <3.

Change Can be Beautiful 😉

Saat ini, di hampir seluruh belahan utara dunia, musim gugur sudah mencapai puncaknya. Beberapa bahkan sudah memasuki musim dingin.

Di musim gugur, daun-daun yang tadinya hijau segar beserta bunga-bunga aneka warna yang mungkin terselip diantaranya mulai berganti rupa. Dedaunan mulai mengering, bunga-bunganya rontok dan layu.

Sepertinya, masa kejayaan sudah akan berlalu :(.

Kita pun, saat memasuki #usiaCantik, 35 tahun ke atas, berpikir seperti itu. Kondisi tidak lagi semuda dan sesegar dahulu.

Saat musim gugur, dedaunan berubah warna menjadi oranye, coklat muda, kuning, ada yang keunguan dan merah marun. Daunnya tidak lagi hijau segar. Tapi lihatlah … perubahan tidak selalu berarti lebih buruk.

musim-guugr

So we’re getting older. Usia mungkin sudah melampaui 35. Banyak hal yang kita harap-harapkan ternyata tidak kejadian. Tapi seperti yang saya bilang tadi, sebenarnya ada jauh lebih banyak pengalaman-keterampilan-pencapaian atau lain-lainnya yang tidak pernah terlambat untuk kita pelajari atau kita raih :).

Musim gugur mengajarkan pada kita, bahwa perubahan bisa menunjukkan hal-hal yang lebih indah. Autumn, the season that teaches us that change can be beautiful :).

Perubahan di #usiaCantik mungkin malah mengantarkan kita kepada hal-hal lain yang tidak terbayang sebelumnya, kepada hal-hal yang ternyata … jauh lebih “cantik” <3.

At least for me, it did happen :).

quote-pic

The American Dream dan Mimpi Kaum Pendatang

Saat Irlandia dilanda bencana kelaparan yang mengerikan di pertengahan abad ke-19, tidak sedikit orang tergopoh-gopoh menuju tepian laut. Berhimpitan dalam kapal membawa barang seadanya dan segenap keluarga yang masih hidup.

Hendak melabuhkan harapan baru saat situasi tidak lagi mungkin bisa dihadapi di negeri asal. Beramai-ramai menuju Amerika Serikat.

Makanya tuh, di belahan Utara Amerika Serikat banyak pendatang asal Irlandia . Film Far and Away yang jadi tempat cinloknya Tom Cruise dan Nicole Kidman, salah satu yang menggambarkan perjuangan para pendatang asal Irlandia di US.

Dublin, Irlandia
Dublin, Irlandia

Di Boston, perayaan St Patrick’s Day yang merupakan perayaan utama Bangsa Irlandia juga dirayakan besar-besaran .

Mundur ke belakang pun, saat isu anti Yahudi terus menggeliat, banyak kaum Yahudi yang terusir ke sana. Mereka dibujuk agar mau meninggalkan Eropa dan memulai hidup di benua baru.

Saat perpecahan Protestan dan Katolik pun, sebagian terusir dan meninggalkan daratan Eropa menuju Amerika.

Terus berlanjut hingga abad ke-20. Dari biografi Pamela Mountbatten, sepupu dari Ratu Elizabeth II, saat perang Dunia ke-2 memanas dan kembali sentimen anti Yahudi dihembuskan, dia bersama kakak perempuannya diungsikan ke Amerika Serikat.

Pamela ditengarai masih punya darah Yahudi dan ditakutkan akan menjadi sasaran isu SARA imbas Perang Dunia II.

Jadi Amerika Serikat memang sering menjadi “tempat buangan” hahaha . Orang-orang terbuang inilah yang bekerja keras menaklukkan tanah baru dan terbilang sukses. Suksesnya menular ke mana-mana dan menginspirasi “The American Dream”.

usa-1197608_960_720

Eropa, terutama wilayah barat, memang berbeda dengan Amerika Serikat. Eropa dalam beberapa hal lebih ‘kaku’. Sementara di Amerika Serikat, apa pun bisa saja terjadi. Konon, siapa pun yang bekerja keras, akan punya kesempatan yang sama menaklukkan kerasnya hidup.

Sementara di Eropa, keinginan begini mustahil terwujud. Eropa sangat ketat urusan beginian. Amerika Serikat lebih “cair.”

Tidak heran, pendatang asal Asia Selatan banyak yang menjadikan Irlandia sebagai batu loncatan saja. Begitu mereka sukses memilliki paspor Irlandia, mereka akan segera berlayar kembali, menuju sasaran utama mereka, Amerika Serikat.

Kata salah satu teman saya, “Hidup di India sangat berat. Tapi itu tanah asal kita. Saya bahagia di India meskipun repot. Tapi terus ingat anak dan masa depannya. Jadi, kami pindah ke sini. Selesai dapat paspor kami ingin pindah ke US. Di sana nanti, kami akan membawa orang tua kami untuk tinggal bersama kami.”

Mendapatkan paspor Irlandia memang tergolong mudah untuk ukuran Eropa. Enggak pakai tes segala macam. Mungkin karena bahasanya bahasa Inggris ya jadi cincay lah semua pasti bisa hehehe.

Merantau itu seperti 2 sisi mata uang. Kita bahagia bertemu orang baru punya teman-teman yang berbeda bertukar pikiran dan sekadar ocip-ocip ringan hehehe. Tapi hati pun galau meninggalkan keluarga di tanah kelahiran. Makanya banyak yang terpikir memboyong orang tua dan segenap handai taulan. Di US, hal itu sangat mungkin .

Rata-rata ya, pendatang ini hadir dengan semangat full tank. Tentu meninggalkan tanah kelahiran bukan hal yang mudah, lho. Walau sudah dicita-citakan tetap saja berat pas menjalani.

Apalagi memang merantaunya karena sebab yang lebih krusial. Misalnya mereka yang berasal dari negara-negara yang kurang beruntung secara ekonomi, politik dan sosial. Mereka mati-matian akan bertahan. APalagi yang lagi perang. Terbayang kan traumanya.

Di situlah konflik mulai muncul. Para pendatang yang mungkin sebagian sudah bertekad, “Sukses atau mati di negeri orang!” akan melakukan apa saja untuk berjuang di negeri impian.

Perang dan bencana penderitaan besar (gambar : pixabay.com)
Perang dan bencana penderitaan besar (gambar : pixabay.com)

Bekerja jauh lebih keras dengan gaji minimal misalnya. Kok mau, ya? Mereka mengejar harapan dan kesetaraan hal yang mungkin tergolong mustahil di negeri asal. Di negara-negara “maju”, fasilitas umum dan publik sangat bagus dan cukup merata. Apalagi di Eropa Barat, Kanada, Australia yang memang menganut sistem “welfare state/kesejahteraan bersama”.

Mereka yang “terhina” di negara asal ya pasti betah di negara maju. Eropa Barat misalnya, kalian pasti susah menilai mana yang miskin mana yang kaya hehehe. Pemerataan di banyak hal hampir sempurna . Tukang ngepel di mal saja bisa punya mobil sendiri, booooooo .

Warga lokal yang sudah terbiasa santai dan dari kecil mungkin kurang diperkenalkan dengan “situasi yang kompetitif” lambat laun akan kaget dan merasa terdesak.

Sementara perusahaan dan pemilik modal ya sesuai prinsip ekonomi sederhana, “Pengorbanan sekecil mungkin untuk hasil semaksimal mungkin.”

Ngapain bayar pegawai lokal mahal-mahal kalau bisa mendapatkan pegawai pendatang yang etos kerja lebih mumpuni malah kadang … kemampuannya juga lebih bagus.

Kata siapa orang Asia lebih bodoh? . Kurang disiplin mungkin iya hihihi.

Dari kecil, kita orang Asia sudah ditempa dengan pendidikan keras nan kompetitif. Kita terbiasa memberikan effort maksmal dalam berbagai hal. Kita merasa wajar bekerja lebih keras untuk hasil yang lebih baik.

Hidup di Asia ... penuh dengan kerja keras :) (gambar : pixabay.com)
Hidup di Asia … penuh dengan kerja keras 🙂 (gambar : pixabay.com)

Di sinilah masalah makin membesar. Orang lokal (Eropa dan mungkin US) dari kecil sekolahnya santai, kelak mereka bekerja apa pun juga ya tidak merasa terpengaruh.

SEmentara pendatang, dari kecil hidup mungkin sudah keras. Rata-rata mereka punya mimpi di atas rata-rata. Kalau pun orang tuanya hanya sanggup bekerja “informal” misalnya, nah nanti anak-anaknya digembleng biar lebih sukses.

Kombinasi dari sistem pendidikan mumpuni ala “western countries” dan didikan khas “Tiger Moms” dari emak-emak di rumah masing-masing hahaha.

Mereka mengadopsi perilaku santun orang lokal tapi tetap memiliki kemampuan akademis yang tinggi . Ini yang sebenarnya menakutkan buat orang lokal. Pendatang yang mungkin awalnya dicibir tidak punya manner ternyata bisa beradaptasi dengan budaya disiplin masyarakat lokal.

Ini beneran, lho. Di sekolah sini biasanya terbagi 3 kelompok di tiap jenjang kelas : Advanced, intermediate, basic. Hampir semua anak Asia berada di kelas Advanced hahahaha. Sementara orang lokal tidak terbiasa dan tidak terlalu peduli .

Pendatang generasi “home grown” tidak hanya berjaya di bidang informal. Mereka akan terus merangsek ke wilayah profesional.

Dari sini pembatasan terhadap kaum pendatang mulai dilakukan. Dianggap sebagai ketidakadilan. Karena memang sih, misalnya status refugee, itu hanya dianggap solusi sementara. Diharapkan kalau negara asal membaik mereka akan pulang.

Tapi manaaaaaaaa… Pakistan sudah puluhan tahun didera pertikaian internal. Not mention kasus korupsi yang merajalela di banyak negara berkembang . Alih-alih melawan, korupsi termasuk kejahatan yang makin ke sini tidak lagi dianggap tabu.

Sudah mati rasa, Cuy. Kita saja di Indonesia saban ada kasus korupsi, ya udah. Udah ditangkap. Sudahlah. Sabar saja, bla bla bla. Besok juga sudah pada lupa . Nanti terpilih lagi malah. Kalau enggak, anaknya, suaminya, istrinya, iparnya, atau keponakannya atau adiknya atau siapanya yang menggantikan.

Lobbying - Corruption, gambar : pixabay.com
Lobbying – Corruption, gambar : pixabay.com

Masyarakat di negara berkembang, dengan tingkat pendidikan kurang merata bahkan sangat minim, sangat labil secara emosional. Jangankan negara berkembang, negara maju pun yang kini menjadi bagian dari masalah ekonomi global juga sudah mulai panik, kan? .

Apalagi kalau kebutuhan dasarnya belum terpenuhi. Kemiskinan dan kesengsaraan sebagai akibat panjang dari ulah koruptor menjadi penguat ketidakstabilan di banyak negara berkembang. Lingkaran setan tak berujung.

Dodolnya, banyak negara maju malah mengail di air keruh. Untuk mencari uang banyak dalam waktu singkat, mereka itu ya, alih-alih mendamaikan malah jualan senjata cobak! .

Pemerintah resmi berdalih perdagangan senjata terjadi “di bawah tangan” alias ilegal. Omong kosong! .

Akibatnya ya lingkaran setan tadi. Perbuatan jahat ya akan berbalik ke diri sendiri. Lihatlah kini, limpahan imigran yang rata-rata datang dengan maksud permanen mulai mendatangkan sentimen sosial dalam masyarakat setempat .

Pemboman di Brussel tempo hari membahas masalah ini. Brexit adalah salah satu puncaknya. Dan makin disempurnakan dengan fenomena … Trump!

trump-1350370_960_720

Saya percaya, pada dasarnya mayoritas manusia di muka bumi ini, mau suku, agama, warna kulit, asal, dan ras mana pun, menginginkan kedamaian dan kesejahteraan sosial.

Masalahnya, kita ini manusia yang secara default memang pakemnya sudah begitu. Tidak sempurna. Tiap saat kita harus bertempur dengan diri sendiri melawan hal-hal yang sering diistilahkan dengan 7 sins :

1. Kebanggaan
2. Ketamakan
3. Iri hati
4. Kemarahan
5. Hawa nafsu
6. Kerakusan
7. Kemalasan

Makanya, musuh paling berat untuk SEMUA manusia itu justru diri kita sendiri.

Tapi sekali kita percaya bahwa ada sesuatu di luar sana yang tidak terkalahkan yang akan menghancurkan kita semua tanpa mampu kita cegah, entahlah semacam monster atau apalah hehehe, kita tidak akan pernah ke mana-mana .

Penggemar teori konspirasi mana suaranyaaaaaaa hahaha. Propaganda model begini yang akhirnya menghalangi kita berpikir ke arah kemajuan karena udah lemes duluan, “Udahlah. Gak mungkin. Kita pasti kalah. Pasti! Pasti! Ada kekuatan besar tak terlihat nganu-nganu…”

Pada kenyataannya, banyak negara maju sudah hopeless karena seberapa besar pun uang yang digelontorkan untuk bantuan kepada negara bermasalah, ternyata terbukti 80% nya masuk ke kantong para koruptor. Ini kasus di Afghanistan .

Di Pakistan, para pejabat korup ini kabur membawa lari uang negara dan hidup nyaman di negara lain . Di Afrika lebih ngeri lagi. Karena isu perbedaan suku pun masih bisa diramu untuk kepentingan para penguasa nan tamak. Sudah nonton Hotel Rwanda? Itu kisah nyata ya btw.

Selama negara-negara maju menutup mata dan malah ambil kesempatan dalam kesempitan dan gejolak dalam negeri di wilayah negara lain, ya selama itu pula lingkaran setannya enggak akan kelar-kelar.

Coba saja. Kalian halangi negara lain untuk maju karena ketamakan dan kebanggaan ingin menjadi “penguasa dunia”, kelak akan berbalik ke diri sendiri. Betul begitu, wahai US dan Eropa? .

Penduduk di negara yang kalian “kerjain” suatu hari akan berbondong-bondong pergi meninggalkan negara mereka dan malah nyasar ke negara kalian hehehe.

Sebaliknya buat negara-negara berkembang dengan segabruk konflik internal, selama tidak pernah mampu mengurai persoalan utama dan terus menerus meributkan hal-hal kecil yang terus dipercikkan untuk membelokkan perhatian kita dari fokus masalah, ya kita akan begini-begini saja.

Terus terjebak dalam ketidakmampuan, kegagalan membangun, perasaan dizalimi sebagai korban, dan seterusnya.

Entahlah yang mana memengaruhi yang mana. Mumet, Cuy hehehe.

Ini belum masuk isu agama yang lebih sulit lagi. Karena dalam urusan agama, kadang rasionalitas sulit sekali dikedepankan. Asas “pokoknya” jauh lebih mudah akibat doktrin turun temurun dan propaganda “perasaan kalah” tadi.

Untuk agama Islam, Mas Khairun Fajri Arief punya tulisan bagus tentang bahayanya perasaan kalah ini. 

Makanya, dalam kasus Trump, wait and see dulu sajalah. Kok belum apa-apa sudah ngeri duluan hehehe. Amerika Serikat bukan negara abal-abal. Mereka sudah berkali-kali membuktikan diri sanggup keluar dari kemelut besar di sama lalu .

Bukan cuma US kok ya. Jangan sedih. Semua negara punya kesempatan sama untuk maju dan berkembang. Asalkan…fokus .

Tetap tenang ya, teman-teman hehehe. Jangan biarkan ketakutan menguasai kita. Karena rasa takut itulah yang menjadi sumber dari berbagai malapetaka di dunia.

Does fear always work? Nope. It depends on you .

Back to the basic rule, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Termasuk KEMALASAN mencerna berita dan situasi apa pun. Sifat tergesa-gesa karena dikuasai HAWA NAFSU dan KEMARAHAN. Chill out, Bro and Sis . Tetap waspada dengan segala bentuk provokasi .

“An Idea is nothing but Information, It won’t do us any harm until we accept it as perception of truth in our mind, which in time will potentially evolve and construct major events in history.”
― Djayawarman Alamprabu, Feared Intellectualism

Wait and see .

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

People We Haven’t Met Yet (9)

Happy (belated) Deepavali Day for our Indian friends ^_^.

Perayaan Deepavali adalah perayaan khas umat Hindu-India yang umumnya berlangsung pada akhir Oktober atau awal November. Deepavali juga dirayakan oleh orang-orang Syikh di India.

Deepavali, Festival Cahaya, dipercaya sebagai momentum di mana kebaikan mengalahkan kejahatan. Saat di mana cahaya membenamkan kegelapan :).

Di hari raya ini, perempuan-perempuan India, selain membuat aneka penganan khas tradisional untuk jamuan di rumah, juga akan mengenakan pakaian-pakaian khas. Di belahan Utara, Barat, dan Timur, pakaian tradisional yang terkenal adalah Lehengga.

Lehengga, gambar : www.quora.com
Lehengga as a wedding dress, gambar : www.quora.com

Saya pikir baju khas sana itu Saree/Sari. Ternyata banyak booo hehehe. Baru dengar malah yang Lehengga ini. Lebih surprais lagi waktu diberitahu asal muasal budaya berpakaian Lehengga yang ternyata pengaruh dari Kekaisaran Mughal, dinasti Islam yang pernah lama menguasai hampir semua wilayah India, kecuali bagian selatan.

Lehengga memang sekilas terlihat lebih “syar’i” #eaaaa :p.

Lehengga adalah bawahan berupa rok yang biasanya dipasang sampai ke bagian atas perut. Ditambah atasan dan satu scarf panjang. Jadi umumnya terdiri dari 3 potong : rok + atasan + scarf.

Menarik juga lho terminologi pembagian wilayah di India. Menurut hasil kepo-kepol bareng mamak-mamak India di sindang, wilayah Selatan memang “spesial” karena 2 hal.

Soalnya, tidak sedikit orang India kalau memperkenalkan diri tuh mesti banget menekankan, “I’m from South India.”

  1. Karena wilayah selatan di era sekarang cenderung lebih “maju” daripada wilayah lain (Utara-Timur-Barat). Bangalore yang tersohor sebagai Kota IT Internasional itu letaknya di belahan selatan. Konon, wilayah selatan lebih rapi dan masyarakatnya lebih modern gitu-gitulah. Dibandingkan dengan mayoritas wilayah India yang lain. CMIIW ya.
  2. Wilayah Selatan di masa lalu tidak pernah dikuasai oleh Kekaisaran Mughal tapi oleh dinasti Hindu. Nah, pakaian tradisional Saree itulah yang sebenarnya mewakili budaya Hindu ala dinasti yang dulu-dulu.

Tapi kini, sudah tidak penting lagi :). Saree maupun Lehengga sudah dianggap budaya India tanpa perlu meributkan yang mana pribum yang mana non pribumi #eh :p.

Orang India termasuk diaspora terbesar di banyak negara setelah Cina. Ya sesuai dengan jumlah penduduk masing-masing yang sudah melampaui 1 milyar orang. Dua negara ini kalau digabung berdua jumlah penduduknya hampir 3 milyar diantara 7.5 milyar total penduduk di dunia.

Dan orang-orang masih heran saja mengapa orang Cina dan India ada di mana-mana? Hahahaha :p.

India yang Glamour ^_^ (gambar : hindustantimes.com)
India yang Glamour ^_^ (gambar : hindustantimes.com)

Di dunia IT misalnya, tidak sedikit lho teman-teman IT di Indonesia yang meremehkan tenaga IT asal India. Suka lupa kalau orang India itu jumlahnya banyaaaaaaaaaaaak banget. Sayangnya, yang ada di Indonesia tidak bisa dianggap punya kemampuan yang mewakili kemampuan IT orang India pada umumnya.

In fact, jangan sakit hati, mayoritas orang India bahkan tidak begitu ngeh soal Indonesia :p. Jadi situ sibuk nyinyirin mereka, mereka bahkan tidak tahu letak Indonesia di mana hahaha.

Dulu saya pikir mereka kurang gaul. Saya diketawain suami hehehe. Ya memang begitulah adanya. Sebagai negara berpenduduk paling banyak ke-4 di dunia, popularitas kita  benar-benar nyungsep euy dibanding Cina dan India :p.

Seperti Indonesia, India juga mengenal banyak sekali  bahasa daerah. Mirip  banget. Tergantung wilayah, kalau di kita kan tergantung provinsi dan suku. Bedanya, India tidak punya bahasa persatuan. Beda dengan kita yang punya Bahasa Indonesia.

Makanya, tidak heran ada beberapa teman India kalau mengobrol ya pakai bahasa Inggris. Karena misalnya di belahan Utara mungkin mayoritas berbahasa Hindi. Di selatan ada bahasa Kannada, Telgu, Tamil dan sebagainya. Ini bukan hanya dari segi pelafalan lho, sampai huruf-hurufnya pun bedaaaaaa. Bukan huruf latin.

Sistem pendidikan di India mengenal istilah “English Medium” biasanya untuk sekolah-sekolah privat. Jadi sekolahnya pakai  bahasa Inggris biar seragam. Nanti ada bahasa kedua yang disesuaikan dengan bahasa lokal setempat.

Kalau sekolah umum ya katanya kualitas sangat kurang dan belum tentu menggunakan bahasa Inggris. Jadi repot kalau mau pindah-pindah. Bahasa sehari-hari kan tergantung domisili.

hindi-letters

Form-form registrasi pemerintahan dan semacamnya pasti selalu menggunakan 2 bahasa : Inggris dan Hindi.

Film-film India kalau produksi Bollywood-Mumbai, itu otomatis pakai bahasa Hindi. Film-film lain yang non Bollywood ya bahasanya tergantung bahasa setempat :D. Ribet ya Cuuuu hehehe.

Jenjang sekolah di India simpel. Begitu masuk SD ya udah di situ aja terus sampai kelas 12 atau kelas 10 hehehe. Kalau hanya sampai kelas 10, mereka harus mengambil pendidikan tambahan selama 2 tahun di college sebelum  masuk universitas. Bila lulus sampai kelas 12, bisa langsung masuk universitas.

Jadi, enggak kenal istilah SD-SMP-SMA. Enak juga ya. Sekali masuk bablas terus sampai lulus. Hemat uang pendaftaran dan bla bla hihihi :p.

Mungkin terkait hal inilah, orang India prefer merantau ke negara-negara berbahasa Inggris seperti : UK, Irlandia, Kanada, US, dan Australia.

Hal unik lainnya adalah “kesetiaan” mereka kepada masakan tradisional. Mayoritas mereka tuh ya baik yang sudah benar-benar lahir dan  besar di rantau, makannya ya tetap Nasi Biryani dkk ^_^.

Diuntungkan dengan komunitas yang besar ya tentu lebih mudah bagi mereka nyari bumbu-bumbu di mana-mana sehingga bisa tetap melestarikan kuliner asli. Karena itu juga, kuliner India sanggup menembus level internasional :).

Mereka ini benar-benar menjunjung tinggi budaya asli mereka, jadi terkesan agak “songong”. Sebel deh, kalau saya nanya-nanya resep mereka semangat banget jelasinnya tapi enggak pernah nanya balik soal makanan Indonesia hahaha. Baper kan kiteeee :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ya  balik lagi, mereka enggak familiar dengan Indonesia. Tapi tahu Thailand, Malaysia, Filipina, dan Australia. Ya  nasib, ya nasib. Malah ada yang nanya, “Indonesia mungkin negara kecil jadi kurang populer. Penduduknya nyampe gak sih 5 juta?”

Yaela Jeng, Indonesia itu kurang gede apa dengan penduduk nyaris 260 juta hahahaha :p.

Ibu-ibu India, seperti umumnya mamak-mamak Asia seperti Cina, Jepang dll, so pasti disiplin dalam masalah pendidikan :). Merantau tidak membuat mereka lupa kondisi asal. Anak-anak tetap dijaga agar bisa menggapai tingkat pendidikan semumpuni mungkin.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Samalah kayak mamak Indonesia yang ini *tunjukDiriSendiri* hahaha. Beda ya antara memaksa vs mengoptimalkan potensi mereka ;). Namanya anak-anak, ya pasti penginnya main-main terus. Sesekali perlu kita “kenalkan mereka” ke dunia nyata :).

Persoalan “perempuan sebagai warga kelas dua” yang kayaknya memang umum di belahan Asia Selatan, juga masih menjadi peer besar di India. Pemaksaan menikah di usia muda bagi kalangan perempuan masih banyak kejadian di sana :(.

Kebetulan saja, perempuan India yang saya kenal di sini mayoritas berpendidikan tinggi. Tak jarang dari pasangan India di sini yang keduanya bekerja sebagai tenaga IT di vendor telekomunikasi internasional yang punya kantor besar di kota tinggal saya sekarang.

Umumnya mereka hanya punya satu anak. Walau sebenarnya di India tidak ada pembatasan jumlah anak. Malah banyak pasangan yang menunda untuk punya anak dan lebih senang mengejar karier baik suami maupun istri.

Enggak pernah  berani bertanya spesifik soal ini hehehe. Paling secara umum saja mereka mungkin ingin memberikan yang terbaik buat buah hati mengingat kehidupan asal di India yang memang “tidak mudah”.

Tapi kalau keluarga India yang muslim, anaknya bisa sampai 3 atau 4 hehehe.

Muslim India yang perempuan hampir bisa dipastikan pasti mengenakan jilbab dan gamis. Justru perempuan Pakistan yang 50 : 50. Antara yang pakai jilbab dengan yang tidak hampir seimbang.

Sempat kaget waktu lagi belanja di Tesco tahu-tahu disapa dengan “Assalamu alaikum” oleh perempuan Pakistan yang tidak berkerudung hehehe. Saya enggak enak kalau disangka sombong soalnya enggak nyapa duluan.

Di Pakistan gaya berpakaian perempuan muslim lebih variatif mirip dengan Indonesia, bedanya Pakistan bisa dibilang 99% muslim.

Tapi secara umum, orang-orang India ogah banget disama-samakan dengan Pakistan. Secara politik, sosial, budaya, India vs Pakistan kan memang “bermasalah”, ya. Mulai dari perebutan wilayah Kashmir yang belum benar-benar ketok palu sampai sekarang, hingga isu terorisme yang marak di Pakistan.

Orang-orang India tidak bebas berkeliaran ke wilayah-wilayah Pakistan dan demikian pula sebaliknya.

India sih terbilang aman secara sosial dari isu-isu terorisme :). Perbedaan agama Hindu vs Islam vs Syikh memang pernah diwarnai pertikaian berdarah dari sejak awal kemerdekaan sampai beberapa waktu lalu. Tapi jauuuuuh lebih  kondusif dibanding kondisi dalam negeri Pakistan.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ternyata, keyakinan tunggal tidak menjadi alasan hidup bisa otomatis harmonis :). Semoga menjadi pelajaran buat Indonesia yang jauh lebih majemuk ketimbang India dan Pakistan, ya <3.

Dalam 2 tahun masa pemerintahan Narendra Modi yang menang secara tak terduga di Pilpres 2014 India (iya lho, pilpresnya barengan dan sama ramenya ternyata hahaha), India mengalami peningkatan ekonomi yang lumayan. Bahkan hasil kerja Modi dianggap sebagai salah satu yang terbaik dalam 20 tahun perkembangan ekonomi India.

Salah satu kontroversi Modi adalah “masa lalu”nya saat menjadi Chief Minister di wilayah Gujarat di tahun 2002. Saat itu terjadi  kerusuhan antar agama (Hindu mayoritas vs Muslim minoritas) yang mengakibatkan korban meninggal lebih dari 1000 orang. Korban terbesar berasal dari umat muslim. Peristiwa ini terkenal dengan nama “Gujarat Riot.”

Modi dianggap bertanggung jawab dalam kerusuhan ini karena “terlihat” mensupport pembantaian terhadap muslim.

Tapi di masa pemerintahannya sebagai perdana menteri kini, nyaris tidak ada tindakan Modi yang membahayakan kehidupan minoritas muslim di India :). So far, belum ada :D. Mudah-mudahan tidak akan pernah ada lagi.

Well, bersama China, India pun kini makin melesat mengejar ketertinggalan. Secara internasional, orang-orang India sudah wara wiri ke sana kemari dan mencatatkan nama baik mereka atas banyak sekali pencapaian dalam bidang akademis, profesional, dan sebagainya. Dalam olahraga saja kayaknya India kurang  kedengeran ya hehehe.

Indonesia, tentunya akan segera bergabung dengan kedua negara besar tadi ;). Aamiin. Pak Jokowi, apa kabar? Sehat, Pak? :p.

Dahulu, Bung Karno pernah meramalkan tentang poros India-Cina-Indonesia. Semoga ketiga negara besar ini terus mengejar ketertinggalan dan benar-benar menjadi penyeimbang dunia yang kayaknya bosan aja gitu dengan dominasi US dan Eropa dkk hehehe :D.

Tapi selama kita masih muter-muter di isu SARA dan sebagainya, ya pasti akan sulit berkonsentrasi membangun negeri :(.

“This country, the Republic of Indonesia, does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and traditions, but the property of all of us from Sabang to Merauke!”
― Bung Karno

Jangan mau kalah sama India. NKRI harga mati <3.

 

Tingkat Korupsi di Indonesia : Perspektif

Asma, lahir di Rumah Bordil Kandapara di Tangail. Asma berhenti sekolah saat teman-temannya mengejek dan melecehkannya karena ibunya bekerja sebagai PSK di Kandapara.

Asma mengikuti jejak ibunya saat menginjak usia 14 tahun. Sebelumnya, Asma disuruh menari di depan para pelanggan dan tamu.

Kajol, melahirkan bayi Mehedi yang kini berusia 6 bulan. Hasil berhubungan dengan para pelanggan di Kandapara. Kajol menikah di usia 9 tahun. Tantenya lalu menjualnya ke Kandapara.

Dua minggu setelah melahirkan, Kajol sudah harus melayani tamu-tamu. Tapi “bisnis”nya menjadi terganggu karena Kajol juga harus mengasuh Mehedi.

Kandapara Brothel, gambar : ilovesiliguri.com
Kandapara Brothel, gambar : ilovesiliguri.com

Pakhi, 15 tahun. Sudah tinggal di lokalisasi Kandapara sejak usia 14. Dia menikah di usia 12 tahun dan kabur tak lama setelahnya. Seorang laki-laki memungutnya di jalan da menjualnya ke rumah bordil.

Meghia bekerja di pabrik tekstil saat berusia 12 tahun. Dia bertemu lelaki yang menjanjikan pekerjaan lebih baik yang kemudian menjualnya ke rumah bordil.

Bonna diperkosa oleh ayah tirinya di usia 7 tahun. Dia melarikan diri dari rumah di usia 10 tahun. Seorang laki-laki mengajaknya berkenalan di jalan untuk kemudian lagi-lagi…menjual anak perempuan ini ke rumah bordil.

Bonna kini berusia 27 tahun. Sebagai “senior”, dia mengaku bisa mendapatkan maksimal 19 dolar (USD) per hari.

19 dolar. Maksimal. Per hari!

What kind of world are we living in? .

Bahkan di Irlandia sini, pegawai supermarket digaji 8-12 euro per jam. Per jam!

Kandapara, salah satu bagian tergelap dari dunia prostitusi dan potret buruk perlindungan terhadap kaum perempuan di Bangladesh.

Bangladesh Symbol, gambar : pixabay.com
Bangladesh Symbol, gambar : pixabay.com

Tahun 2015, penelitian mengenai indeks korupsi negara-negara dunia menempatkan Bangladesh sebagai satu diantara 114 negara yang memiliki Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di bawah 50. 0 – 100, makin tinggi berarti korupsi makin kecil.

Kisah di atas hanya satu diantara sekian banyak efek korupsi kepada lumpuhnya kehidupan sosial-ekonomi suatu negara . Rendahnya tingkat pendidikan, terorisme, lingkungan tidak layak, adalah sebagian diantaranya.

10 Besar Negara Paling TIDAK Korup didominasi oleh Eropa Barat
Skandinavia menguasai 5 besar. Sapu bersih .

Perspektif Dukung Ahok
Skandinavia Map, gambar : pixabay.com

Apakah ada hubungannya dengan wilayah? Tidak juga. Karena Asia punya Singapura menempati urutan ke 8! Ada Hongkong dan Jepang yang menemani Irlandia sama-sama di urutan 18.

Di Afrika ada Botswana dengan IPK 63.

Apakah agama?

Tet toooottt!

Negara mayoritas muslim menempatkan Qatar sebagai IPK tertinggi (71) dan menempati nomor 22 dalam daftar negara yang pemerintahannya bersih dari korupsi.

Juga ada Arab Saudi dengan IPK 52 dan Uni Emirat Arab IPK 70.

Ah, itu kan karena mereka minyaknya banyak. O ya? Yuk, tengok Venezuela. Negara ini mungkin salah satu negara dengan cadangan minyak cukup dahsyat. IPKnya? 17 sajah .

Jumlah penduduk pengaruh?

China dan India, yang penduduknya kejar-kejaran di angka 1.3 dan 1.5 milyar, IPKnya enggak rendah-rendah amat, 37!

Haiti yang penduduknya cuma 10 juta, enggak nyampe seperseratus China atau India, IPKnya 17.

Sudahlah korupsi merajalela di sini, kalian tahu tidak, beberapa hari yang lalu bencana alam angin topan menghajar sebagian wilayah Haiti yang sudah menewaskan lebih dari 1000 orang .

5 negara paling korup berturut-turut : Somalia, Korea Utara, Afghanistan, Sudan, South Sudan.

Compared to Indonesia, pendapatan perkapita Bangladesh sangat kecil. Kurang dari sepertiganya. Manalagi jumlah penduduknya lebih kecil, sehingga GDP Indonesia jauh di atas Bangladesh.

Selama di Irlandia sini, memang bertemu beberapa orang-orang Bangladesh. Ya sudah pahamlah mengapa mereka pasti akan mati-matian bertahan walau kadang pekerjaan yang didapat bukan pekerjaan tetap dengan gaji pas-pasan. Ya minimal sekolah gratis dan sistem kesehatan mumpuni (y).

Satu yang saya kenal, profesinya koki di sini. Koki pekerja lepas bukan permanen. Tiap hari ketemu antar jemput anak di sekolah. Beliau sekeluarga sudah memegang paspor Irlandia.

Korupsi memang cetaaarrrr 🙁. Efeknya berpengaruh ke banyak hal. Indeks korupsi juga berhubungan erat dengan kondisi negara secara umum. Kalau korup biasanya otomatis berpengaruh kepada kondisi sebuah negara secara keseluruhan.

Angola, IPK 15, sekaligus menjadi salah satu negara yang paling menyedihkan buat anak-anak. 1 diantara 6 anak meninggal di usia balita .

Di Afghanistan, 80% dana rekonstruksi dan pembangunan ditilep! . Sedihnya, saya kutip ya dari artikel di Aljazeera,

“Regrettably, corruption is no longer considered taboo in Afghan society; it has been ingrained in the culture as an accepted norm.”

Accepted norm. Dianggap biasa-biasa saja. Sebenarnya iya juga, kan?

Di Indonesia sendiri, korupsi juga bukan yang gimana-gimana banget . Malah kita sebagai masyarakat lama-lama sudah mati rasa. Dianggap bagian dari kehidupan sehari-hari.

tingkat korupsi di Indonesia
Lobbying – Corruption, gambar : pixabay.com

Ini memang perkara sistem, sih. Sudah terlalu mengakar dan turun temurun.

Saya kok percaya ya, misalnya nih, seorang PNS muda belia yang baru masuk kerja pasti ada ghirah (ceile, ghirah hihihi) untuk mengabdi bagi nusa dan bangsa.

Dengan gagah berani dia memikirkan solusi buat masyarakat. Datanglah dia kepada bos-nya, “Pak saya ada ide buat mobil kebakaran biar bisa cepat pelayanannya kepada masyarakat. Beli saja mobil kecil-kecil biar bebas keluar masuk kampung yang jalanannya kecil-kecil.”

Bosnya bilang apa? “Gile lo! Kalo mobilnya kecil, sabetannya kecil, dong! Sudahlah. Di proposal tetap tulis kayak biasa saja. Harga dan jenis jangan diutak atik! Paham?”

Ya pasti si PNS bau kencur ini takut dan langsung lunglai. Terbawalah dia ke dalam sistem. Tadinya mungkin dia tidak terpikir tapi ya gimana, lingkungan begitu.

Jangan diejek suruh resign. Situ mau ngasih makan keluarganya seandainya dia adalah satu-satunya tulang punggung keluarga? Lagian kalian pikir jumlah yang model begini sedikit? Belum tentuuuuuu. Bagaimana kalau banyak? Situ sanggup ngasih kerjaan lain?

Sistem tidak akan berjalan tanpa dukungan orang yang berada di dalamnya. Kasus di atas itu terinspirasi kisah nyata lho .

Makanya teman-teman, berapa sih pemimpin-pemimpin daerah yang bisa fenomenal melawan praktik-praktik seperti ini? .

Ahok is definitely one of them.

Tingkat korupsi di Indonesia
Basuki Tjahya Purnama (Ahok), gambar : id.wikipedia.org

Awal dulu Pemrov DKI melakukan transparansi termasuk kepada rapat-rapat kerja Ahok, sempat sering heboh kan? “Scanning file” saja butuh anggaran 350 juta! Printer 40 juta. Pengadaan tempat sampah ratusan juta, dsb, dsb.

Belum lagi waktu berantem APBD yang skandal UPS dan berbagai temuan lainnya karena akhirnya datanya dibuka dan kita bisa geleng-geleng kepala melihat berbagai angka-angka ajaib di dalamnya. Berapa lama tuh Ahok berantem sama DPRD hahaha.

Sampai peristiwa, “Pemahaman Nenek lo!” Masih inget gak? Hihihi.

Tapi kalian lebih fokus kepada marah-marahnya Ahok. Mbok ya kalau nonton video tuh yang komplit jangan dipotong-potong . Itu video rapat Ahok di Pemrov DKI masih rutin di-upload lho sampai sekarang .

There are lots and lots of thing we can do kalau dananya benar-benar dipakai untuk rakyat. Yah, enggak usahlah 100%. Tapi mbok ya jangan 80% banget kaleeeee yang dikorupsi huhuhu.

Birokrasi DKI Jakarta sungguh memberikan perubahan nyata. Kelurahan sampai ada satpam yang bukain pintu sampai senyum manis, “Silakan duduk Ibu. Ambil nomor antrian dulu, ya.”

Tahun 2012 saya ke Kelurahan yang sama celingak celinguk kagak ada orang sama sekali! Hahaha. Sampai “assalamu alaikum” berkali-kali setengah berteriak soalnya bingung harus ngomong sama siapa.

Ya dulu sih enggak dirasa gimana-gimana. Pasrah saja. Kalau ketemu petugas ya syukur kalau enggak ya enggak kenapa-kenapa.

Membentuk Pasukan Oranye dan warna-warna lainnya juga bukan tanpa perjuangan lho. Karena sesuai kebiasaan birokrasi “tradisional”, tilep menilep honor petugas kebersihan teruuuuus saja kejadian.

Makanya, Ahok mungkin sudah muak banget. But … don’t we all? .

Belum lagi insiden kuburan dan cobalah ubek-ubek video di Pemrov DKI itu. Banyak hal-hal lain yang belum sempat diviralkan . But again, jangan dipotong-potong mau nontonnya pas beliau ngamuk saja .

Kebersihan di ibukota juga mendapat sorotan yang cukup besar .

Gambar : Facebook Fanpage "Dinas Kebersihan DKI Jakarta"
Gambar : Facebook Fanpage “Dinas Kebersihan DKI Jakarta”

KJP sekarang jangkauannya sudah luas dan terus ditingkatkan. Uang masuk sekolah level SMA/SMU/SLTA di Jakarta sudah gratis.

Ahok juga menyeluruh sampai ke pengawasan. Makanya, tidak heran, ‘kenyamanan’ beberapa pihak pastilah bergeser. Resistensinya pun tidak sedikit.

Ibukota DKI kini tengah disorot. Bukan hanya oleh para pemilih di Jakarta dan di luar Jakarta yang kadang lebih ribet sendiri hahaha. Pemimpin dan calon pemimpin daerah lain juga mengikuti perkembangan di DKI .

Ahok sudah terlanjur memberikan “wajah baru” bagi standar kepemimpinan daerah. Standarnya tinggi boooo . Dari sini, daerah-daerah lain pasti sedang menunggu-nunggu apakah masyarakat sudah siap dengan “perubahan” seperti ini.

Kemenangan Ahok tentu menjadi sinyal baru bahwa tidak ada cara lain memenangkan “pertempuran” selain kinerja-hasil nyata-rekam jejak (y). Prioritas itulah yang mungkin digunakan masyarakat untuk menilai.

Ya mungkin tidak sedrastis itu perubahannya. Soalnya di Sulsel sendiri, daerah asal saya, kabupaten-kabupaten “inti”masih dikuasai KKN . Mirip Banten lah. Si Bapak jadi gubernur, ponakan jadi bupati di sini, adek jadi bupati di sono, dst, dsb. Iyamato, iyamato .

Still…long way to go. Tapi kan sudah ada perubahan signifikan di ibukota. Kalau menang di Pilkada 2017, Ahok akan menjadi standar baru. Ada harapan nyata untuk perlawanan terhadap korupsi.

Percaya deh, percuma saja Pak Jokowi wara wiri ke sana kemari bangun ini itu kalau tidak ditopang oleh pemimpin-pemimpin daerah di wilayah masing-masing. Harus saling bantu membantu .

Kalau gaya komunikasi yang dipermasalahkan, ya gimana ya. Pemimpin model begitu sudah sering lihat, euy, di Indonesia . Banyak kok yang ngomongnya enak, tidak sedikit juga yang pinter masang kancing jasnya (hahaha), yang wajahnya ganteng juga sudah ada (dadah-dadah ke Bang Zumi Zola :p).

Karena itulah, saya memberikan dukungan penuh saya kepada Ahok untuk terpilih kembali di Pilkada 2017 nanti .

Perspektif Dukung Ahok
Gambar : pixabay.com

Kalian tahu efek yang paling menyedihkan dari korupsi ini. Balik ke Angola tadi, 150 ribu anak-anak meninggal dunia setiap tahunnya. Masyarakat sangat menderita. Tapi TIDAK SEMUANYA. Ada segelintir kecil yang tetap hidup nyaman .

Ya jangan lebay juga. Jangan harapkan perubahan radikal yang gimana gitu. Slowly but sure juga oke dong ya .

We really hope that something better is about to happen for Indonesia . Let’s do our best to be a part of it. I’m doing mine now, sesuai kemampuan masing-masing ya hehe #setrikaDaster.

Ngomong-ngomong, IPK Indonesia terus membaik lho . Tahun 2012 dan 2013 kita berada di angka 32. Tahun 2014 naik ke 34. Dan tahun 2015 menjadi 36.

Tentu saja, terkait hal ini, kalian boleh punya pendapat yang berbeda. Ini kan saya tawarkan sudut pandang lain di luar yang diributkan belakangan ini.

Makanya, tulisan ini saya beri judul “Perspektif” bukan “Pemaksaan” .

“Corruption can be beaten if we work together. To stamp out the abuse of power, bribery and shed light on secret deals, citizens must together tell their governments they have had enough.”
-José Ugaz, Chair, Transparency International-

I have had enough. You?