Jee, gue juga pengin brenti kerja, ah, kayak elo” … entah sudah berapa kali adik perempuan saya ngomong begitu ke saya.
Respons saya selalu sama, “Ngapain lu berenti kerja??? Mau ngapain di rumaaaaaaa…”
Bahkan jika kita dibesarkan dalam asuhan orang tua yang itu-itu juga, lingkungan yang tidak berbeda, gender yang sama, tidak menjamin akan memiliki karakter atau sifat yang SERAGAM.
Makanya, jangan suka bikin standar-standar enggak guna macam “Ibu yang baik tuh harus gini-gini-gini” … “Istri berbakti harus nganiu-nganu-nganu…”
Saya kenal adik saya yda dari lahir lah. Walau kami ini sama-sama terlihat suka mengobrol, bawel tiada tara, kalau ngobrol bisa ngakak kek orang gila (hahaha), tapi banyaaaaaaakkk bedanya.
Foto lama : 2006 –> Bertiga bersama adik dan kakak nomor 4 😀
Kalau pulang sekolah jam 1 siang, saya itu maksimal jam 1.15 sudah ada di rumah. Adik saya bisa jelang magrib baru nyampe rumah yang bikin Mama bete setengah mati dan ngomel panjang lebar, “Aja je’ mappasiterru-terru…” Hayooo apa artinya hahaha.
Adik itu sering punya geng perempuan yang jalan-jalan ke mana bareng, ngeceng bareng dst dst. Kalau saya hampir tidak pernah punya pertemanan model begini.
Mana ada yang tahan dengan saya si mulut silet . Saya juga terlalu frontal. Kalau ada masalah, main labrak langsung ke yang bersangkutan. Rentan berantem, waktu kuliah berapa kali tuh perang mulut sampai rame hahaha.
Waktu saya masih kuliah, adik tinggal di rumah Tante di Jakarta. Kalau libur panjang, kami kebetulan lagi jagain rumah tante yang lagi berlibur sekeluarga ke luar negeri.
Adik saya tuuuuhhh, gateeeeel banget pengin keluar rumah tiap hari. Sementara saya lebih suka duduk-duduk depan TV atau baca-baca apa pun yang bisa saya temukan … entah majalah entah buku-buku atau lihat-lihat album foto kenangan hehehe.
Karena anaknya supel banget dan suka kasihan kalau ada yang nembak gak tega mau nolak, adik saya selalu punya pacar sejak SMP. Putus-ada lagi-putus-ada lagi.
Sementara saya, pas wisuda kuliahan, ibu saya nampak panik karena tidak ada tanda-tanda ada laki-laki yang ngasih bunga hahaha. Aduh monmaap ya Mama, sebenarnya pernah punya pacar, tapi dese keburu minta putus jauuuuh sebelum wisuda .
Mau ketawa ingat dulu pas masih SMA, mama bilang gini, “Eh, gak papa, sekali-sekali tidak rengking satu. Belajar terus. Pergi nonton sama laki-laki juga gak papa.” –> Mama macam apaaaaahhh hahaha .
Disangkanya gak punya pacar karena sibuk belajar, ya kaleeeeee .
Waktu masih bekerja dan jomblo, sabtu-minggu ya duduk-duduk cantik saja di kamar kos. Ya paling ke mal kalau mau belanja-belanja sabun dll. Janjian sama teman belum tentu sebulan sekali hihihi.
Manalah pernah saya nongkrong di kafe pulang kantor. Pasti langsung pulang ke rumah. Makan malam mampir di mana gitu, makan sendirian gak masalah, masuk kamar, mandi, cuci kaki, nulis diari kalau lagi pengin, lalu bermanja-manja di kasur sampai bobok.
Foto berdua (2018)
Kecuali memang ada acara kantor atau sudah berkali-kali diajakin dan teman-teman udah pakai ngancem, “Lo kalau gak mao ikut, dimusuhin satu divisi lu!” Hahahaha..
Kalau adik saya sampai setelah bekerja pun masih suka nge-geng dan karaoke-an bareng teman-teman atau dinner bareng di luar.
Setelah menikah, kami sama-sama beranak 3 dan adik saya terus berkarier di kantor. It seems fine. Kalau jalan bareng sekeluarga, adik saya tetap lincah mengurus ketiga anak-anaknya walau enggak bawa embak .
Saya merasa adik saya tuh tipe yang bisa gila kalau dikurung di rumah seharian hahahaha. Ya daripada nongkrong enggak jelas ngerumpi-ngerumpi di kafe ya mending bekerja di kantor dah. Dapat duit minimal .
Beda sekali dengan saya yang tahan di rumah dari dulu sejak internet belum menjajah hidup kita semua . Apalagi sekarang ada internet. Hobi menulis saya tersalurkan banget walau nangkring di seputaran dapur doang tiap hari .
Tapi jangan mengira saya pendiam atau salehah gimana-gimana, ya.
Aduuuuh, akutu “nakal” hehehe .
Foto berdua lagi (2018)
Yah, semoga Allah berkenan menjaga aib-aib kita selalu, ya. Makanya hati-hati ih kalau mau nyinyirin aib orang hanya karena kebetulan “giliran” kita belum datang . Jangan kebablasan ya teman-teman kalau membully orang lain terkait aib yang tersingkap .
Anw, adik saya tuh, di FB nongolnya sekali setahun (hahahaha), Instagram update-nya sekali sebulan belum tentu, diajak wasap-an juga replynya lelet hehehe. Anaknya offline abesssss .
Kalau seandainya di dalam kitab suci agama yang saya anut tidak ada kewajiban untuk menjalin tali silaturahmi, kayaknya saya lebih memilih mendem di rumah sepanjang tahun hahahaha.
Apalagi pas tinggal di luar negeri, ya kita punya siapa kalau bukan teman-teman sesama perantau dari Indonesia, kan? . Jadi, tetap harus ada pertemuan regular ngopi-ngopi cantik bareng geng SIMPEDES (SI Mamak-mamak PEDESaan) kesayangan.
Weekdays, saya suka jalan kaki keliling kota (sendirian aja ) semata buat olahraga biar tetep seksi ampe tua #benerinKorset. Rutin, minimal setengah jam sehari.
Kalau weekend, suami harus menyeret saya biar mau ke luar rumah hihihhi. Buat anak-anak juga biar ada aktivitas outdoor. Padahal tiap akhir pekan saya tuh penginnya mengurung diri di kamar membabat habis draft tulisan yang enggak kelar-kelar ditinggal masak-ngurus anak-beresin rumah dari senin sampai jumat.
Adik saya, kecuali sakit, kalau akhir pekan ya kudu ke mana gitu dah pokoknya keluar rumah hihihihihi.
Santai saja, Dek. Tidak ada yang harus diubah if along the way you feel that it fits you perfectly <3.
I surely believe both Working-Moms vs Stay-at-Home-Moms share the same exhaustion. We are different but equally take the same level of scramble. And for sure … we are equally fabulous 😉.
Jangan berhenti bekerjaaaaa, nanti aku minta traktir sama siapaaaaaaa ???.
Btw, ini foto kami berdua pas masih sekolah dulu. Lagi era photobox hihihihi. Gayanya gak nahaaaaannn ???. Ketebak gak, saya yang mana? 😀
Baju bodo, baju adat Bugis Makassar yang mulai dikembangkan versi Baju Bodo modern -nya.
Namun, negeri asal Baju Bodo -Sulawesi Selatan-, akhir-akhir ini di-identik-kan dengan segala macam kisah-kisah asmara yang tidak kesampaian.
Entah cerita mantan yang datang bernyanyi yang membuat salah satu mempelai pingsan seketika. Atau mempelai yang berpelukan sambil sesenggukan dengan mantan di pelaminan yang menjadi tontonan orang-orang.
Uang Panaik, sering dikaitkan dengan kandasnya percintaan dua sejoli. Konon, gadis-gadis Bugis-Makassar kalau mau dinikahin “mahar”nya mahal. “Mahar” inilah yang dikenal dengan Uang Panaik tadi. Ada-ada saja.
Mungkin memang iya, tidak sedikit kisah kasih yang terpaksa disudahi karena sejumlah uang yang tak sanggup dibayarkan. Tapi ya tidak segitunya juga kali ah.
Toh di Sumatera Utara juga ada istilah Sinamot. Kira-kira istilah Sinamot ini mirip sekali dengan Uang Panaik. Budaya Minangkabau juga mengenal “Uang Japuik”, semacam uang jemputan. Ya maknanya serupa jugalah dengan Uang Panaik dan Sinamot.
Kesannya urusan materialistis begini sangat lekat dengan budaya Bugis Makassar, Sulawesi Selatan.
Sebenarnya banyak hal lain yang bisa dibahas tentang 2 suku terbesar di provinsi Sulawesi Selatan ini. Misalnya soal kulinernya.
Kalau Coto Makassar, Ikan(g) Bakar ,Sop Saudara, Sop Konro mungkin sudah familiar, yes?
Tapi tahu Nasu Likku/Likkua Manuk/Ayam Lengkuas tidak? Rasanya mungkin seperti rendang ayam versi kering ya kalau Likkua Manuk. Jadi bumbunya juga kering dan menghitam.
Baju adat Bugis-Makassar adalah Baju Bodo, tidak pakai H di belakangnya yaaaaaaaa .
Baju Bodo ini pada dasarnya dibuat dari bahan kain yang tipis walau sedikit kaku, pilinan kapas ditenun dengan katun (kain muslin). Hanya berbentuk segi empat tanpa jahitan, kancing dsb. Bagian bawah terbuka, dan bagian atas ada lubang sebagai kerah.
Ujung kiri dan kanan juga berlubang, sebagai lengan. Bahannya transparan dan zaman dulu dikenakan oleh perempuan Bugis-Makassar tanpa dalaman sama sekali.
Sesuai perkembangan masa juga dengan masuknya pengaruh Islam, muncullah istilah Baju Labbu (labbu : panjang). Baju Labbu ini modelnya panjang selutut, tidak transparan, dan bahannya lebih kaku tidak setipis kain muslin. Kain muslin ini mirip kain kasa.
Kini, Baju Bodo sudah mulai dibuat rupa-rupa macamnya. Bahannya juga tidak saklek dan bisa dibuat dari berbagai jenis kain.
Ini sudah ada versi vlognya lho, keseruan pas pemotretan waktu itu. Foto keluarga sekaligus jadi model ala-ala hihihihi :
Sebagai perancang busana berdarah asli Rappang, Sidrap, Sulawesi Selatan yang 100% bugis sebugis-bugisnya (hahaha), kakak saya juga sering merancang busana adat asal kami. Sudah dimodifikasi sana sini tentunya.
Nah, di foto-foto yang sudah muncul berkali-kali dari atas ke bawah ini (hahaha), kami berdelapan mengenakan baju adat Bugis-Makassar yang semuanya hasil rancangan :
Alamat lengkap Workshop DADAGAYA :
Jalan Pancoran Barat IV no.3
RT 011/RW 001,pancoran
Jakarta selatan
12780
HP:08118874999 
Tuh yaaaaa, ngomongin putus cinta ala Uang Panaik mulu. Padahal orang bugis itu hidupnya banyak yang hepi-hepi dan sukses meminang pasangan hidupnya masing-masing #eaaaaaa.
Lagian jodoh tidak selalu harus satu suku lah yaaaa. Ini mantu-mantunya Mama membentang dari Madura, Batak, Minang, Solo. Walau masih ada 1 yang nyangkut di sesama Bugis hihihi. Untung sukses ya resepsi tanpa drama uang panaik ??✌️✌️.
Kami bertujuh ini salah satu yang sukses dalam urusan pasangan tanpa harus nangis-nangis mengenang mantan gegara duit enggak cukup hahahaha. Eh, si desainer belum ketemu jodohnya, Deng. Dan si bungsu lagi sibuk bekerja demi Uang Panaik, cemungud eaaaaaaa Dek :p.
Detail per baju bisa dilihat di foto-foto di bawah ini ya 🙂
Sebelas tahun yang lalu, saya ingat dia panik menelepon saya, “Jiiii, editkan dulu CV ku Dek.”
“Yaela, gue di kantor nih. Sini mako.”
Dia beneran dateng ke kantor saya di Gatsu dan menyerahkan selembar kertas ditulis tangan. Kakak gue ini gaptek abis dah emang hahaha.
Saya pun merangkai CV nya. Saya bener-benerin kalimat yang salah sambil dirapi-rapiin dikit. Voila! CV selesai. Dia pun lolos masuk menjadi salah satu staf divisi wardrobe di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta.
Kami bertujuh plus Mama memang akhirnya memutuskan merantau semua ke ibukota. Kayaknya sejak habis semua harta dijual untuk menutupi kebangkrutan usaha yang ditinggalkan oleh almarhum Bapak, memang tidak banyak pilihan ya buat kami.
Foto keluarga tahun 2005. Sayangnya, minus si sulung :(.
Di SUlawesi Selatan lowongan pekerjaan sedikit sekali. Saya juga tidak paham kami kok ya tidak ada yang mewarisi bakat berdagangnya Bapak. Tapi Mama memang sudah sering bilang, “Berdagang itu berat, Nak.”
Mungkin trauma dengan pengalamannya bersama Bapak, ya.
Ini kakak saya yang ke-4, persis di atas saya. Waktu kecil dia memang sudah tergila-gila dengan fashion. Di teras lantai atas rumah yang penuh cucian dan jemuran, saya dan adik saya yang perempuan menjadi korban fashion shownya hahahaha.
Selembar sajadah menjadi selendang kami. Sarung dilipat-lipat menjadi bawahan. Rok menjadi wig di kepala. Jepitan cucian yang warna warni menjadi anting-anting hahahaha.
Saya dan adik berlenggak lenggok seperti peragawati. Kakak mengarahkan, “Sekke’nya muka’mu, Jihan. Calleda’-calleda’ tongko sedikit. Aci, jangan terlalu lebar ketawamu. Biasa-biasa mo. Jangan keliatan semua gigimu. Sepertiko nene’ sihir.”
–dadagaya– by Anwar Sadat ;)–
KIta pun kecapekan dan ngambek. Tapi besoknya ya mau lagi disuruh-suruh begitu hahaha.
Kakak saya ini paling lemah di pelajaran matematika. Beberapa kali angka merah menghiasi rapornya. Tapi Mama saya selalu menanggapi dengan santai, “Yang penting naik kelas.”
Untung belum era medsos ya Ma, bisa dibantai dah emak gue sama kelian-kelian hahaha .
Kakak saya mudah bergaul punya banyak teman. Waktu SMP sempat pergi disko sembunyi-sembunyi hahaha. Uang jajannya dihemat-hemat buat langganan Majalah Mode . Tapi prestasi akademisnya caur banget dari SD sampai SMA .
Mama cuek saja.
Dua hari setelah saya Ebtanas SD, Bapak meninggal tiba-tiba kena serangann jantung. Sementara Kakak saya ini baru tiga hari kemudian ikut Ebtanas kelulusan SMP.
Kakak lulus SMP. Saya lulus SD dengan NEM terbaik di sekolah.
SMA dia masuk swasta karena NEMnya terlalu kecil untuk masuk SMA negeri. Saya berhasil masuk salah satu SMP negeri terbaik di kota kami .
Jelang UMPTN, belajarnya ogah-ogahan. Paling diomelin sama Mama, “Kalo tida’ lulusko Nak, iko mato tu masessa.” (Kalau kamu tidak lulus Nak, kamu sendiri yang susah).
Jangan haraplah bisa masuk swasta. Saat itu rumah bentar lagi mau dijual hahahaha. Mama sudah bilang tak banyak biaya lagi untuk biaya sekolah kami.
Bareng no.4 dan no.6 😀 (Idul Fitri) 2014
Dua hari menjelang UMPTN, Kakak mendadak minta dibelikan buku UMPTN. Kurang telat Bro belajarnya hahahaha.
Dia kelas 3 SMA. Saya kelas 3 SMP. Saya lulus SMP dengan NEM terbaik ke-3 di sekolah . Secara mengejutkan, kakak saya lulus UMPTN di FISIP Unhas, jurusan Komunikasi. Jurusan favorit lho hahahaha. Hokinya ajib banget .
Kita serumah sampai bengong. Dengan teganya, kakak saya yang lain sempat bilang, “Lihatko benar-benar. Siapa tau bukan nomormu.”
Kodong hahahaha .
Saat rumah dijual, saya dan kakak dititipkan di rumah Tante di Makassar. Mama pindah membawa adik-adik saya ke Jakarta. Ya kali kita berdelapan mau menyerbu satu rumah kerabat bareng-bareng hahaha. Harus dibagi-bagi.
Sedih sekali waktu itu. Tapi sudahlah, life goes on .
Untunglah ada kerabat bersedia menampung. Beberapa om dan tante yang membantu kami sudah ada yang meninggal. Al Fatihah ya buat mereka yang sudah mengamalkan perintah Allah untuk menyantuni anak yatim .
Kelas 2 SMA, saya mendaftar les Bahasa Inggris. Buat siap-siap UMPTN juga. Kakak saya mau ikutan. Saya lulus di Intermediate I, kakak saya cuma Basic 2 hihi. Dia juga lemah banget di Bahasa Inggris.
Kiri – kanan : Buntel (adek), Dada (kakak), Eike (yg nulis :P), Mama
Malah, term pertamanya dia tidak lulus. Apes dah, gue yang ngambilin kartu tesnya. Kalau fail kan kartunya warna merah. Saya sampai diliatin sama orang-orang di sana. Siyaaaaallll hahahaha.
Dia ngambek berhenti kursus. Saya juga berhenti jadinya padahal saya lulus ke Intermediate 2 😀. Males ah naik angkot sendiri. Tempatnya jauh. Kalau sama kakak enak, dia asyik banget diajak ngerumpi.
Lulus SMA, saya hengkang ke Jakarta, diterima di UI. Kita pisah.
Dia lulus kuliah, dia juga pindah ke Jakarta. Numpang di rumah salah satu kerabat.
Sempat kakak menyerah dan pengin pulang saja ke Makassar. Tidak juga dapat pekerjaan. Dia ingin pinjam uang kepada salah satu kakak saya yang lain. Dia juga tidak tahu mau ngapain di Makassar. Kakak no.3 menghibur biar sabar karena cari kerja memang sulit.
AKhirnya diterima bekerja menjadi salah satu asisten desainer terkenal.
Berat banget waktu itu karena kerjanya menjadi salah satu asisten desainer harus lembur sampai subuh tapi gaji sangat kecil.
Tapi gimana, Kakak saya bilang dia sangat senang dengan pekerjaannya. Dunia fashion memang passionnya. Jakarta memang keras, Bung!
Karena satu dan lain hal kakak pindah ke rumah kos. Diantara semua saudara waktu itu, gaji saya memang yang paling lumayan. Kakak minta kos bareng biar bisa berbagi biaya sewa. Saya menyanggupi.
AKhirnya saya pindah dari Depok ke Pancoran biar kami berdua dekat dengan lokasi kerja masing-masing. Sudah capek juga banting tulang naik KRL ekonomi pulang pergi selama 4 tahun hahahaha. Ampun dijeeeee .
Waktu tinggal bareng itulah, saya semangati dia untuk cari kerja lain yang gajinya lebih bagus dengan waktu kerja lebih masuk akal. Saya bilang, yang penting CV kece. Saya bantuin bikin CV. Gue gitu loh #benerinPoni.
Saya pun menikah dan meninggalkan rumah kontrakan kami.
Hari pertama saya tidur di rumah mertua, kakak telepon, “APa ko bikin gang? Rinduku’….” Hehehe. Waktu itu adik perempuan saya sudah tinggal di sana juga. Kami sempat ngontrak bertiga. Trio gosip paling hits sejagad raya hahaha.
Trio Gosip hahahaha (2007)
Kami padahal sering berantem juga lho hahaha. Diantara 7 bersaudara, kami berdua yang memang tegangannya paling tinggi. Paling ngotot. APalagi saya kan paling cuek sama penampilan sementara kakak saya, ya ampun dari jarak 100 meter aja dia sudah bisa mengomentari penampilan orang kali hahahaha .
Mudik terakhir itu kita berantem hebat lagi lho. Makanya di foto keluarga terakhir, saya enggak ada! Hahahahaha . Padahal saya masih di Jakarta waktu mereka foto-foto. Kaddoro’ memang tong .
Suami saya sampai enggak enak hati gitu. Maksa-maksa saya minta maaf ke Kakak karena saya yang lebih muda. Enak ajah! .
Yaela santai ajaaaaa, kita mah emang biasa berantem . Suami saya kan dari keluarga “normal” ya . Keluarga cemara gitu-gitulah yang saling menghormati saling menyayangi gitu-gitulah beda dengan keluarga saya yang preman abis hahaha.
Sering berantem tapi sering curhat dan gosip-gosip jugak hahaha.
Kakak saya sumber segala gosip di tanah air selama saya merantau 7-8 tahun terakhir ini .
And today, waking up this morning, kakak saya yang lain nge-tag saya di foto-foto ini . Fashion show si Kakak no.4 di Indonesia Fashion Week. Entahlah itu acara apaan hahaha. Ini sudah kedua kalinya Kakak berpartisipasi di acara tersebut.
Kariernya di televisi swasta terus menanjak sampai menjadi Manajer Divisi. PUnya banyak bawahan dan juga sibuk ngojek jadi Stylist dan merintis lini busananya sendiri.
Finally, he can walk thru that catwalk he’s been dreaming of .
-dadagaya, Indonesia Fashion Week 2017-
Bukan lagi di teras rumah yang panasnya minta ampun di bawah tumpukan jemuran bersama dua adik kecilnya yang didandani bak ondel-ondel hahaha. Tapi bareng peragawan dan peragawati beneran dooooooong .
I’m a proud sister! .
Nanti kita foto keluarga lagi yuk hahahahaha. Baju gue mesti yang paling mahal, paling hits dan paling bagus! Tapi kalau bisa yang paling murah hahahahaha .
Kalau jadi ke NY, mampir Texas lah bawain baju buat ponakan #tetepMengemis. Ada 3 ya, laki-laki, ukurannya nanti gue WA ajah hahaha #pepetTeruuuussss.
Well I guess, both our dreams came true at last. Dia mau jadi desainer, saya mau keliling dunia . Tuhan Maha Mendengar segala doa-doa dan kerja keras kita .
Saya kutip penggalan terakhir dari salah satu tulisan saya di blog :
Kita sih inginnya selalu happy-happy joy-joy. Siapalah yang pernah meminta kondisi-kondisi sulit. Tinggal di lingkungan “preman” lah, orang tua cuma pedagang kecil di pasar lah, bapak meninggal tiba-tiba lah, usaha yang ditinggalkan bangkrut lah, segala macam rumah-kios-barang-barang harus dijual lah, tapi … jangan sedih, yaaaa .
Walau dulu juga rasanya berat hendak membangkitkan angan-angan yang dirasa ketinggian. Jangan gentar dengan kondisi begitu.
Your story may not have such a happy beginning, but that doesn’t make you who you are. it is the rest of your story, who you choose to be… So, who are you, Panda? -Sootsayer, Kung Fu Panda 2-
Fungsi Lembaga Keluarga : Ini adalah sebuah foto lama antara saya, ibu, kakak dan adik saya. Fotonya biasa-biasa saja. Tapi ketiga orang yang mengelilingi saya di foto ini bukan orang biasa. They’re my … heroes.
Kiri – kanan : Buntel (adek), Dada (kakak), Eike (yg nulis :P), Mama
Ibu saya menikah di usia 15, dijodohkan dengan bapak oleh salah seorang paman. Setelah menikah, bapak dan ibu langsung hengkang ke kota Makassar dan memulai hidup mereka dari 0. Ibu melahirkan anak pertama di usia 16.
Saat memasuki gerbang pernikahan, saya dirundung banyak kecemasan. Apalagi ketika harus merantau ke luar negeri bersama suami. Apa kuat saat melahirkan nanti, apa bisa memasak / mengurus rumah tanpa bantuan asisten, apa bisa mengurus anak sendiri (sementara saya dari dulu tak suka anak kecil). Padahal saya menikah di usia terbilang cukup dewasa, 27 tahun.
Hamil anak ke-2 di luar negeri, harus mengasuh anak sulung yang belum mandiri di usia 2 tahun, didera rasa mual sepanjang hari selama nyaris 20 minggu sempat membuat saya sangat putus asa. Nekat ingin pulang dan melahirkan di Jakarta saja, meninggalkan suami sendiri di Negeri Orang.
Nasihat ibu yang selalu menguatkan saya, “Dari anak pertama sampai adikmu dulu, ibu selalu melahirkan di samping Bapak. Tidak pernah pulang ke kampung. Jangan dipikir-pikir tapi dihadapi saja. Kalau tiba waktunya, kau nanti kaget sendiri, betapa mudahnya semua bisa dilewati.”
Saya kadang tak percaya, ibu benar. When it’s time, it’s time. Voila! Semua terlewati begitu saja. Melahirkan tanpa sanak saudara di negeri rantau, bahkan cuma sehari di rumah sakit sudah harus pulang dan harus segera mengurus si kecil dan kakaknya dan urusan rumah tangga lainnya.
Tak ada manual khusus untuk menjalani karier sebagai seorang ibu. Pengalaman dan keberanian untuk menjalani semua ketakutan yang akan lebih banyak berbicara .
Kalau ibu mengajarkan saya banyak hal seputar kehidupan perempuan sebagai ibu, kakak saya yang ke-4, mengajarkan tentang passion. Sejak kecil, minatnya pada dunia mode sudah terlihat jelas. Setelah lulus kuliah di Makassar, kakak saya langsung pindah ke Jakarta. Kariernya dibangun dari bawah. Gaji sangat kecil untuk hidup di ibukota sebagai seorang asisten desainer.
Saat banyak kerabat yang meremehkan hobinya yang dianggap sebagai hal yang membuang-buang uang saja. Namun, dia tetap tekun menjalani mimpinya. Hingga akhirnya kini, kakak saya menduduki posisi penting di salah satu televisi swasta nasional di divisi wardrobe sekaligus menjadi seorang freelance fashion stylist. Bahkan baru-baru ini meluncurkan brand outfitnya sendiri.
Dia memicu saya kembali menekuni hobi menulis yang sudah belasan tahun saya lupakan. Suami saya suka menggoda, “Menulis di blog dan wall FB melulu. Mana ada uangnya.” Kakak saya mencontohkan, “Passion first, money will come along” .
Adik perempuan saya mengajarkan hal penting lainnya. Dari kecil, prestasi akademisnya yang tak secemerlang saya dan pembawaannya sebagai ‘anak gaul’, hobi jalan-jalan dengan mejeng dengan teman-teman sebaya, sering pula mendapat cemooh. Apalagi ketika adik saya gagal menembus UMPTN 2x berturut-turut. Faktor ekonomis tak memungkinkan dia leluasa memilih kuliah di universitas swasta.
Adik saya memilih tidak peduli, bersabar dan berdamai dengan semua tekanan, “Ah, ngapain disuruh kuliah. Dikawinkan sajalah. Memang bakatnya bukan di bidang akademis.”
Dia bersungguh-sungguh menghadapi kesempatan terakhirnya di UMPTN untuk ke-3 kalinya dan tembus di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Kembang.Tak cuma itu, adik saya lulus tepat waktu dan menggenggam ijazah dengan predikat Cum Laude.
Pelajaran penting dari kisah adik saya. “Forgive others not because they deserve forgiveness but because you deserve peace.” Apa gunanya memikirkan omongan miring dari orang lain yang hanya membuat diri terpuruk dalam energi negatif. Kebesaran hatinya untuk memaafkan dan melanjutkan hidup berbuah manis, as “Success is a best form of revenge” 😉.
Trio Gosip hahahaha (2007)
Terlahir sebagai anak ke-5 dari 7 bersaudara, hidup bersama berjejalan selama belasan tahun dalam sebuah rumah kecil, sempat membuat saya bete, “Punya saudara banyak bikin pusing saja dan nyaris tak ada privasi.”
Tapi senyatanya, tak perlu jauh-jauh saya mencari inspirasi dari tokoh-tokoh dunia atau semacamnya. Adalah ibu dan saudara-saudara kandung sendiri yang sering menguatkan saya melewati serial-serial kehidupan yang seringnya tak luput dari hal-hal yang tak mudah 🙂.
Betapa keluarga adalah salah satu anugerah terindah yang diberikan oleh Allah. Walau mereka adalah bagian dari takdir dan tak bisa kita pilih-pilih sesukanya, tapi selalu bisa kita pilah hal-hal indah yang bisa kita petik dari hubungan bersama mereka 🙂.
You don’t choose your family, They’re god’s gift to you, as you are to them -Desmond Tutu-
Kita sering banget foto ber-4 hehehe (ujung kanan itu Tini, sepupu)
Usai melahirkan adik perempuan saya, anaknya yang ke-7, Ibu saya datang ke dokter kandungannya, “Saya mau pasang KB, Dok.”
Sang dokter, yang sedari kehamilan ke-3 sudah mendesak Ibu agar memasang KB, agak syok. Tapi konon sang dokter akhirnya hanya senyum-senyum menggoda Ibu saya, “Yah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali ya, Bu.”
Usia beliau saat itu baru 30 tahun. Sebenarnya di masa-masa Ibu lahir dan besar, pernikahan usia dini sudah bukan hal yang lumrah. Walaupun belasan tahun masa kecilnya dihabiskan di Rappang, kampung kelahirannya nun jauh di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.
Ibu punya saudara kembar. Saudara kembarnya ini menikah di usia yang tidak terlalu muda. Saat tante hamil anak pertama, Ibu pun sedang hamil saya, anaknya yang ke-6. Semua teman sepermainan kecilnya menikah di usia nyaris 30 tahun. My mom rocks! Ahahahahahaha.
Di usia 15, setelah menikah dengan almarhum Bapak, mereka berdua langsung hengkang ke ibukota propinsi, yang dahulu masih bernama kota Ujung Pandang. Memulai segalanya dari 0. Hidup menumpang pada kerabat lain sambil membantu usaha kerabat tersebut.
***
Ibu sering sekali bercerita kalau sebenarnya dia ingin melanjutkan pendidikan hingga lulus SMU. Berharap kami semua bisa meneruskan cita-citanya itu. Tapi istimewanya, Ibu tak menyimpan ‘ambisi’ masa lalu ini terlampau dalam.
Santai saja beliau dalam mendidik kami. Tak pernah mewajibkan kami ini itu. Tidak ngotot kami harus les ini les itu.Yang terjadi malah kebalikannya. Salah satu anak Ibu sangat ambisius dalam urusan sekolah, apalagi urusan nilai rapor.
Anak perempuan sulungnya menangis dan berdiam diri berhari-hari setelah di semester ke-4 di bangku SMP harus puas dengan peringkat ke-2 di kelas, setelah 3 semester berturut-turut menjadi juara kelas. Malah semester 1 juga menjadi peringkat 1 umum sekolah! Ahahahahahaha. Can’t believe that it was…ME! .
Maafkan anakmu yang norak ini ya, Mama hehehehe. Tidak pernah lho Ibu memaksa kami untuk berprestasi secara akademis setinggi mungkin. Catat, ya. Tidak pernah. Itu karena anaknya yang itu saja yang terlalu bernafsu ndak jelas ahahahahaha.
Sejak kelas 5 SD, saya aktif menjadi anggota drum band di sekolah. Kami sampai ke Jakarta segala lho ikut lomba . Waktu itu ada iuran sebesar 150 ribu. Saya kaget sekali waktu Bapak menolak keras dan menyarankan saya supaya tidak usah ikut. Ya ampun, padahal sudah capek-capek ikut latihan berbulan-bulan.
Waktu itu Ibu diam saja dan menenangkan saya yang sudah sesenggukan di meja makan, “Sudahmi. Nantipi Mama yang bicara sama Bapak. Diam mako dulu.” (Sudahlah. Nanti Mama yang bicara ke Bapak. Diam dulu, ya).
Akhirnya beberapa hari kemudian, Ibu kembali berkata, “Ooohh, salah dengarki Bapak. Dia kira 750 ribu. Kalau 150 ji, ada kok uangnya.”
Ah, waktu itu saya lega dan percaya saja pada kata-katanya. Tapi kini, saya paham. Pasti Ibu yang membujuk Bapak untuk membayar biaya kepesertaan tersebut.
Di kelas 6 SD, banyak teman drum band yang diresahkan oleh orang tua mereka yang menuntut agar mereka berhenti mengikuti kegiatan bermain musik tersebut. Kegiatannya dianggap akan mengganggu kegiatan belajar di sekolah.
Ibu tenang-tenang saja, “Ah, masa sih begitu? Belajar ya belajar. Main terompet itu kan bagus juga. Kau pasti bisa lah. Masa gara-gara drum band pelajaran jadi terganggu. Tidak ada itu.”
Beneran lho, ucapan Ibu sangat membakar saya. Cawu 1 kelas 6, saya dihujani puji-pujian oleh pembina drum band dan para pelatih . Setelah sekian lama selalu puas di peringkat 2,3 atau 4, pertama kalinya saya menjadi juara kelas .
Kala aktif-aktifnya saya dengan kegiatan drum band saya yang banyak dihujat oleh kalangan orang tua. Bahkan, wali kelas saya yang tadinya ‘sinis’ pada kami, si penggila drum band ini hihihihi, ikut memuja-muja saya di hadapan orang tua murid lain .
Sehabis menerima rapor kala itu, saya kegirangan dan percaya diri luar biasa kalau saya akan mendapat perlakuan istimewa darinya. Sewaktu di becak berdua Ibu, dalam perjalanan pulang, saya yakin sekali akan mendapat jawaban ‘ya’ ketika saya memberanikan diri untuk berujar padanya, “Ma, makan coto, yuk.”
Ibu menjawab tenang, “Aiii, tidak ada uangku, Nak. Nantipilah kapan-kapan, ya.”
Kasian deh loooo, ahahahahahaha. Mentang-mentang rengking 1 . Inilah salah satu keistimewaan beliau. Ibu tidak pernah mengistimewakan anak-anak berdasarkan prestasi akademis. Sama rata pokoknya. Kalau ada kerabat yang menyinggung-nyinggung adik perempuan saya, “Ini yang kecil tidak pintar seperti kakaknya di’ …”
Ibu selalu menjawab taktis, “Ooo, ini yang kecil banyak sekali temannya tauwa di sekolah. Pintarnya bergaul. Tidak seperti kakaknya. Pacceicereng ladde’, napoji mapakereng-kereng.” Hayooo, apa itu artinya, ahahahahaha.
2 hari setelah ebtanas SD, bapak meninggal dunia secara mendadak. Salah satu masa-masa terberat bagi kami semua. Tapi, menjelang pendaftaran masuk SMP, beliau tetap menyerahkan keputusan pada saya, “Jadi bagaimana ini, Nak? Tetap di Athirah atau mau ko masuk SMP 6?”
Saya sungguh tidak mengira Ibu akan bertanya. Sebesar apa pun keinginan saya untuk melanjutkan SMP ke Athirah, sekolah swasta selevel Al Azhar di kota saya dimana semua kecengan pun masuk sana boooo , saya tentu tahu diri untuk memilih sekolah negeri.
Kami semua sudah tahu, kepergian Bapak waktu itu lambat laun akan menghantam ekonomi keluarga. Tinggal masalah waktu saja.
“SMP 6 mi saja. Cukup kan NEM nya.” Saya menjawab tanpa ragu. Alhamdulillah, NEM saya sangat gemilang. Lebih dari cukup untuk bersaing merebut kursi di SMP negeri terbaik di kota kami saat itu. Eh, masih enggak, ya sekarang? ;).
***
Di bangku SMA, sebuah kejadian penting pun mewarnai hubungan kami. Sebuah perdebatan kecil pada saat penataran membuat saya menjadi berpikir masalah kerudung. Padahal semasa Bapak masih hidup, beliau sudah menegaskan kalau SMP, saya harus mulai berkerudung.
Idih, malas amat. Saya tentu menentang keras. Ibu membela saya, “Tidah usah dipaksa-paksa. Anak masih kecil disuruh pakai kudung.” (kudung -= kerudung).
Saat penataran, saya mengemukakan pendapat dengan ‘nyinyir‘nya dalam kelas, kira-kira isinya begini, “Sebagai negara dengan penganut agama bermacam-macam, anjuran memakai jilbab itu hanya akan mengurangi rasa nasionalisme. Cuma mau pamer-pamer agama saja.” Sekuler bener ini Mbak-nya ahahahaha, masih tahun 1995, bahkan Ulil bersama JIL-nya pun belum menetas kala itu :p.
Ketika saya dipindah kelas, saya bertemu dengan seorang teman berkerudung yang sangat bersahaja. Penampilannya rapi dan (maaf) badannya tidak bau hehehehe . Darinya, saya mendapat sebuah buku bersampul kuning, yang hanya butuh sekitar 2 jam untuk menuntaskan isinya. Sungguh, hidayah rahasia Allah semata .
Hanya perlu satu buku itu saja untuk memberanikan saya berkata secara tiba-tiba pada Ibu, “Ma, mo ka’ pakai jilbab.”
Ibu tentu terkejut. Memandangi putri sulungnya, yang rasanya belum lama berlalu ngomel-ngomel disuruh pakai jilbab, di usia 15 mendadak ingin mengenakan jilbab. Ibu keheranan, “Kenapa?”
Saya menyerahkan buku bersampul kuning tadi. Dan saya tinggalkan beliau yang segera sibuk membolak balik buku tersebut.
Besoknya, dari balik tangga, saya duduk sendiri mendengarkan Ibu berbicara di telepon. Entah dengan kerabat yang mana. Ibu lebih banyak diamnya, hanya sesekali menjawab. Tapi belakangan saya tahu, ternyata banyak kerabat yang menentang.
Saat itu di keluarga besar kami tak banyak remaja putri di usia SMA yang berkerudung, kecuali sepupu-sepupu yang memang lulusan pesantren. Tuduhannya macam-macam. Masa ada yang menuduh saya ikut-ikutan aliran sesat *adaAdaAjaDeeehhh:P*. Dihujat karena terlalu banyak baca buku.
Ah, saya pasrahkan saja. Tahun segitu, memakai jilbab di usia 15 memang masih gimana gitu. Saya pikir, toh saya sudah mencoba. Kalau pun memang belum boleh, saya tak akan sedikit pun menentang beliau.
Tapi, sungguh tak disangka, beberapa hari kemudian, di suatu malam Ibu memanggil saya. Sambil menyerahkan sebuah kantong plastik hitam, “Ini dua pasang baju sekolah, lengan panjang sama rok panjang. Jilbabnya juga 2. Kapan mau pakai jilbab?”
Rasanya ingin terbang. Teman-teman lain di sekolah menghadapi begitu banyak drama hanya untuk menggunakan kerudung, jalan saya begitu mudah . Malam itu, agak sulit saya memejamkan mata. Bantal pun dihujani air mata. Terima kasih ya Mama, diantara sekian banyak hujatan, Mama memutuskan untuk percaya pada pilihan putrinya.
Sebagai informasi, baru beberapa tahun terakhir ini Ibu memutuskan untuk memakai tutup kepala. Saat saya meminta izin untuk berjilbab, beliau pun belum berjilbab saat itu.
***
Kontras dengan peristiwa awal mula berkerudung di kelas 1 SMA itu, menjelang pernikahan saya, hubungan kami tak terlalu baik. Resepsi pernikahan menjadi polemik tersendiri. Dengan dana pas-pasan, akhirnya jalan terbaik yang ditempuh adalah menumpang acara pernikahan di rumah kerabat.
Kondisi ekonomi keluarga sudah lama ambruk. Masing-masing kami membiayai sendiri acara pernikahan. Jadi, harap maklum kalau jadinya malah menumpang hehehhe.
Mau resepsi di mana pula eike, rumah pun tak ada ya, Ceu ehehehehe. Masa di rumah kontrakan? ahahahaha. Saya pun ingin menghormati keluarga suami dengan tidak mengadakan ‘acara murahan’ yang bertempat hanya di mesjid, sementara mereka sukarela mengadakan perhelatan di sebuah gedung tanpa meminta biaya dari pihak saya.
Kala itu, saya masih berstatus trainee di sebuah perusahaan besar yang memang sejak dulu menjadi incaran saya. Namanya juga trainee, masih masa-masa cari muka dan tidak berani bolos-bolos la yaoowww ahahahaha. Jadi, saya mempercayakan semuanya pada Ibu. Belum apa-apa, masalah baju pengantin sudah membuat darah mendidih.
Sudah sejak lama saya mewanti-wanti Ibu, “Pokoknya saya mau tetap pakai jilbab. Pakai baju la’bu’, jangan baju bodo.” (Baju la’bu’ = baju panjang, baju bodo = baju pendek).
Seolah ingin menambah drama pernikahan saya, beberapa hari sebelum resepsi akad nikah digelar, sebuah peristiwa menggegerkan divisi saya di kantor. Sebuah tabel utama dalam database perusahaan lenyap isinya. Ter-delete semua. Ini apa yaaa, bahasanya IT banget ahahahahaha.
Peristiwanya hari rabu. Sementara hari sabtu sudah harus duduk manis di pelaminan. Hampir mati rasanya waktu itu. Saya satu-satunya trainee dalam tim saya.
Alhamdulillah tak perlu tercekam terlalu lama, pucuk masalah ketahuan juga. Tim development dodol di Bangolore sudah melakukan kesalahan tolol dengan menghapus data di database production. Ahahahahahha. Itu peristiwa memalukan sebelum akhirnya setahun kemudian, perusahaan resmi beralih ke SAP .
Rabu itu, tak ada ampun meskipun berstatus sebagai satu-satunya perempuan dalam tim untuk ikut ‘menjaga’ proses recovery data hingga dini hari. Hari kamis pukul 4 pagi, barulah kami semua beranjak pulang meninggalkan kantor. Hari kamis pukul 9 pagi sudah pasang tampang siap siaga lagi depan Bos. Trainee oh trainee ahahahaha.
Hari jumatnya, karena peristiwa tersebut, saya tidak diberi cuti penuh. Bos tetap menghendaki saya untuk masuk setengah hari. Siangnya, pulang ke rumah kontrakan, maksudnya ingin langsung rebahan mengingat beberapa hari terakhir tidur tak pernah pulas. Ibu malah datang membawa berita, “Sudah disiapkan baju bodo baru. Warnanya biru. Bagus sekali bajunya.”
Tante saya ikut melaporkan biaya penyewaan tenda yang harganya melambung tinggi di luar perkiraan!
Sudahlah kurang tidur beberapa hari, stres mikirin urusan kantor, masih pening mikirin ongkos nikah yang menguras hampir seluruh isi tabungan, saya meledak-ledak . Berbicara dengan nada kasar pada beliau. Mengatakan banyak hal-hal yang amat tidak pantas .
Can you imagine, hanya beberapa jam menjelang hari pernikahan, saya malah bertengkar dengan Ibu. Dramanya pun mencapai puncak ketika malam itu juga, saya dihujat oleh keluarga besar karena dianggap tidak mensosialisasikan acara pernikahan. Selama itu, saya memang tidak berani minta cuti, saya menyerahkan semuanya pada Ibu .
Saya ini bodoh sekali. Sudah tahu dana cekak, masih saja berani berbagi keangkuhan pada Ibu bahwa semua biaya sanggup saya tanggung.
Tidak menyadari bahwa judulnya saja hanya ‘menumpang’, sudah seharusnya kami yang ikut keinginan keluarga besar. Jadi, selama ini Ibu tidak pernah berani berbicara terus terang kepada saya. Saya juga terlalu sibuk di kantor, tak terlalu merasa perlu ikut campur terlalu jauh.
Kakak-kakak saya yang lain pun tak berdaya ikut membantu. Mereka juga ya sibuk lah bekerja di kantor masing-masing. Tinggalnya terpencar-pencar. You know lah Jakarta beserta macetnya .
Lupa memaklumii bahwa siapalah Ibu saya. Mana mungkin Ibu mau sok tahu ikut-ikutan mengatur jalannya acara meskipun yang menikah adalah anak gadisnya .
Intinya, sesibuk apa pun, sempatkanlah untuk bersilaturahmi. Tidak ada istilah macet, capek dan segala macam.
***
Setelah menikah dan memiliki anak pun, rasanya kasih sayang Ibu tidak akan pernah terputus, ya. Saat bertikai masalah kepindahan ke Jeddah dengan suami, Ibu ikut menasihati saya, “Apa tahan terus-terusan hidup pisah-pisah? Di mana suamimu mau bekerja, menurut sajalah. Setengah mati diurus supaya kau bisa ikut, kenapa sekarang tidak mau?”
Kala itu saya berbagi kekesalan saya pada Ibu masalah Montreal vs Jeddah hehehe. Ibu pun menyemangati saya, “Jeddah itu bagus, kok. Jangan dengar kata orang-orang. Bayangkan Nak kau nanti di sana, bisa umrah, bisa naik haji. Dekatnya itu Mekkah na dari Jeddah. Kau itu beruntung, Nak. Ikut saja apa kata suamimu.”
Jadi, saya selalu iri pada teman-teman yang bisa pulang ke haribaan ibunda tercinta untuk berlibur panjang bersama anak-anak sementara suami tak bisa lama-lama mengambil cuti hehehehe. Ibu saya bisa murka, “Musalai lakkemmu? Madosa ladde’ tu, Nak.” (Kau tinggalkan suamimu? Berdosa sekali itu, Nak).
Suami saya mungkin memberi izin, tapi malas enggak sih kalau dikutuk oleh ibunda sendiri? Hehehehe.
Kala hamil, tak pernah berani menyisipkan pikiran untuk pulang ke tanah air biarpun waktu hamil muda saya seperti orang gila (literally!) ahahahahaha. Ask my husband! . Ibu pasti akan menceramahi saya panjang lebar, “Baru hamil begitu sudah tidak tahan?
Mama itu melahirkan 8 kali, de nengka ulisu okko bolana indo’ku.” (Tidak pernah saya pulang ke rumah ibu saya).
Terima kasih ya Mama. Itu pelajaran sangat berharga . Tanpa kita sadari, kekuatan itu ada kok dalam diri kita. Setakut-takutnya saya saat hamil anak ke-2 jauh di negeri rantau, segaring-garingnya saya di Jeddah kala ramadan datang, terngiang selalu pesan Ibu, “Susah senang sama-sama, Nak. Begitu memang kalo sudah kawin.”
***
Ah, mau seribu paragraf pun rasanya tak akan pernah cukup untuk mengisahkan perempuan hebat ini . Tentu saja, Ibu saya pun hanya manusia biasa. Tak sedikit kekurangan bahkan hal-hal tak ‘layak’ yang pernah mengundang gunjingan orang. Meskipun saya pun tak pernah membahas hal ini secara terbuka dengan saudara-saudara saya, saya yakin hal itu tidak akan mengurangi rasa hormat kami pada beliau .
“But there’s a story behind everything. How a picture got on a wall. How a scar got on your face. Sometimes the stories are simple, and sometimes they are hard and heartbreaking. But behind all your stories is always your mother’s story, because hers is where yours begin.”
― Mitch Albom , For One More Day
61 tahun lalu, tepatnya tanggal 26 Mei, beliau terlahirkan ke dunia ini . Kelahirannya yang akan menghadirkan rangkaian perjalanan cerita pada kami bertujuh. 8 kali melahirkan, anak ke-2 (kakak kembar saya) menghembuskan nafas terakhir hanya beberapa detik setelah terlahir. Selamat ulang tahun, Ibunda tercinta .
Mama and her grown-up babies 😀 (January, 2013)
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ
سورة نوح﴿٢٨﴾
ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA
Ya Alloh ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku
(QS.Nuh 28)
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِـيْراً
سورة الإسراء﴿٢٤﴾
ROBBIR_HAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO
serta kasihilah mereka berdua seperti mereka mengasihiku sewaktu kecil
(QS. Al-Isro’ 24)