Tax Amnesty atau Pembetulan SPT?

Topik tax amnesty atau pembetulan SPT ini nih yang bikin kekisruhan di dunia maya. Iyah, di dunia maya ajah. Karena di dunia nyata mah banyak kerjaan boooo hahahaha :p.

Obyek tax amnesty saja masih banyak yang bingung-bingung. Idealnya sih, targetnya adalah PENGHASILAN yang diperkirakan ada di wilayah abu-abu dan BELUM PERNAH DILAPORKAN.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Tapi faktanya banyak yang mempersoalkan soal rumah/aset yang sifatnya ‘final’ seperti rumah tinggal dsb yang selama ini rajin bayar PBB dll. Mereka resah karena belum pernah memasukkannya ke dalam SPT.

Ya kalau ini mah tinggal masukin SPT saja. Istilahnya, perbaikan SPT. Beres. Beres beneran? Ternyata tidak -_-.

Yang membuatnya tambah rumit ya karena ditakut-takuti sama “orang pajak” sendiri. Entah mengapa, beberapa “oknum pajak” malah menasihati orang untuk ikut tax amnesty. Toh katanya cuma denda 2% biar tenang.

Tidak semuanya ya. Ini berdasarkan hasil kepo-kepoin beberapa timeline teman-teman sendiri. Bukannya menenangkan dan menjelaskan, beberapa malah menyarankan ikut tax amnesty. Jadi makin bingung kan hehehe.

Katanya kalau ikut pembetulan SPT bisa dilacak bla bla bla (pokoknya misterius bener dah entah gimana caranya) dan akhirnya dimintai kekuranganpembayaran yang jumlahnya enggak bisa diperkirakan. Jangan-jangan malah lebih besar daripada 2%.

Ya tidak salah juga. Kemungkinan kalangan internal juga punya target khusus. Lumayan pan kalau pada ikut tax amnesty, 2% nya kalau dikumpulin kan gede tuh. Masing-masing punya kepentingan 🙂.

Sementara logika sederhananya, emang punya tenaga dari mana Departemen Pajak mau ngecekin satu persatu pembetulan SPT yang masuk segabruk-gabruk nanti. Coba deh, rasa takutnya disingkirkan dulu. Pakai dulu akal sehatnya 🙂.

Lagian pembetulan SPT mah sudah aturan dari kapan tauk. Kalian saja kali yang baru tahu? 😉

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Yang tinggal di luar negeri jangan ikutan drama. Penghasilan yang harus dipertanggungjawabkan hanya penghasilan yang didapatkan di dalam negeri. Yang di Eropa dll pan udah kenyang bayar pajak sana sini nan segabruk-gabruk itu yes? Hahahahaha :p.

Takut dibodoh-bodohi atau ditipu petugas pajak? DONT! Pelajari makanya sebaik mungkin. Kayak negara kita tidak punya hukum aja hehehe. Tidak mungkin ada penetapan pajak berganda. Itu saja dulu yang dijadikan patokan.

Selama ini rajin bayar PBB segala macam hanya sebatas lupa memasukkan ke SPT ya sangat berlebihan kalau ikut-ikutan merasa diteror.

Lain cerita dengan rumah kontrakan dan bisnis lain terkait aset yang kita punya yang selama ini santai saja kitanya, boro-boro bayar pajak, mention di SPT aja enggak hahahahaha :p.

Yang ini juga woles saja. Tinggal ikut tax amnesty saja. Bayar 2%. Jangan lupa lho ya, pajak normalnya itu kalau gak salah sekitar 10%. Tetap untung kaaaaan 😉.

Catat pula, ikutan tax amnesty ini tidak wajib!!!

Masalahnya, bayar pajak ini dianggap hobi sih hahahaha. Jadi, kalau suka ya dikerjakan kalau enggak ya masa bodoh.

Tapi enggak salah dong kalau masyarakat mikir begitu. Trauma berat lah sama Gayus dan sejenisnya. Ngapain bayar pajak kalau hanya untuk dikorupsi?

Kalau mikirnya begitu ya jadinya kayak “Dumb and dumber” aja gak sih 🙂. Koruptor enggak kelar-kelar, rakyat pun ogah bayar pajak. Tapi kalau pemerintahnya suka ngutang, bawelnya juga enggak ketulungan. Jadi gimana dong enaknya nih? ^_^. Negara kita mau dibangun pakai apa?

Pembangunan infrastruktur transportasi merata di  negara maju. Tram di Bern, Swiss (gambar : bahnbilder.de)
Pembangunan infrastruktur transportasi merata di negara maju. Tram di Bern, Swiss (gambar : bahnbilder.de)

Andai bulu kaki dan bulu ketek seluruh warga bisa dipakai buat bangun jalan dan membangun infrastruktur kita, mengoptimalkan BPJS, membuat sekolah-sekolah sampai ke pelosok terpencil, amanlah Indonesia tercinta *elusKetiak*.

Target pendapatan kita merosot jauh dari perkiraan. Pemerintah pasti bekerja super keras mendapatkan kekurangan dari berbagai sumber.

Ketaatan pajak memang masih sangat rendah di tanah air. Konon, hanya ada sekitar 10 juta orang yang memiliki NPWP. Dan diantara 10 juta itu maksimal hanya 10% yang rajin mengisi SPT.

Jumlah warga produktif di Indonesia seharusnya sih lebih besar daripada 100 juta jiwa.

Jadi potensi pendapatan dari pajak masih jauuuuuuuh dari yang sebenarnya bisa didapatkan.

Jangan lupa ya teman-teman, PAJAK itu tarikan legal. Bukan teror atuh lah hehe.

Tapi saya memaklumi pihak-pihak yang doyan pakai ungkapan-ungkapan begini saban ada “kekacauan” hehe. Yassalam, padahal lagi ngomongin pajak yang jelas-jelas kewajiban kita sebagai warga negara 🙂.

Hukum sedang coba ditegakkan di sini. Is that what we want?

Ya kita bisa apa. Hanya bisa bantu menjelaskan sepanjang yang dimampukan *elusDaster* hehehe.

Menebarkan ketakutan kan memang pola khas dari memancing di air keruh. Rumusnya sama kok dari waktu ke waktu. Pokoknya takut-takutin aja dulu, penjelasan bisa menyusul :p.

Hikmahnya juga ada. Jadi belajar soal pajak lah minimal hahahaha. Jadi rajin baca-baca sana sini dan tekun diceramahin sama suai. Selama ini enggak pernah ngurusin SPT, semua diurus suami *ngumpetDiBalikPanci*.

Tentu saja, kita bisa mengamuk dan mengatakan bahwa betapa tidak adilnya dunia ini. Para koruptor atau hartawan brengsek yang mendapatkan harta kekayaan BUKAN dengan kerja keras atau keberuntungan semata dan menyembunyikannya malah mendapat angin segar. Sementara kita yang rajin bayar pajak dapat apa hah???? *bantingSPT*.

Nah, konon (konon melulu :p), jika dunia ini sungguh terasa sesak dan tidak bisa dijelaskan dengan logika lagi, maka ingatlah … kalau ada yang namanya TUHAN 🙂.

Teman-teman, kata salah satu ayat dalam kitab suci yang saya yakini kira-kira ada penjelasan kurang lebih begini, “Kalau kalian berbuat kebaikan maka kalian berbuat kebaikan BUAT DIRI KALIAN SENDIRI. Kalau kalian berbuat kejahatan, sesungguhnya KEJAHATAN itu kelak akan berbalik kepada kalian sendiri.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Dunia dan manusia memang bukan tempat keadilan bisa ditegakkan dengan sempurna. Tugas kita ya hanya berusaha walau pasti akan keserimpet juga.

Sudah capek-capek berbuat baik kok ya hidup nelangsa melulu. Ya itu kalau mentok di dunia saja mikirnya. Sementara yang beriman pasti percaya, tidak didapat di dunia, insya Allah di akhirat TIDAK AKAN MELESET. Tidak akan 😉. Karena Yang Mahaadil itu adalah Dia Yang di Atas Sana.

Itu buat yang percaya aja hehehe. Yang mau tetap ngomel ya monggo.

Saya mah sebatas menjalankan tugas sebagai cebong ajalah di masa-masa timeline berada di kondisi seperti ini hahahahahaha –> ngibrit sambil pegang ekor :p.

 

Global Citizen?

“Anak saya lahir di kota anu, gedenya di kota onoh. Itu anak pertama. Yang kedua beda lagi tempat lahirnya. Sekarang lagi sekolah di negara ngunu. Ya kami ini sudah seperti global citizen gitu, deh…”

Saya mencibir dalam hati, “Idih, sok bener!” –> sirik tanda tak mampu sebenarnya hahaha. Padahal dalam hati pengin tuuuuuhhh :p.

Waktu masih bekerja, sekitar 8 tahun lalu, saya daftar training dari kantor. Kantor yang ini emang keren. Tiap karyawan di-encourage untuk meningkatkan personal skill. Jadi banyak tuh training model pengembangan karakter pribadi bla bla bla yang bisa kita pilih ^_^.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Tapi itu sih alasan nomor 3. Alasan pertama ya pengin magabut sih sekali-sekali hahahaha. Alasan nomor 2, ya pengin ngerasain makan-makan enak gratis di hotel bintang 5 :p. Kapan lagiiiiiiii :D. Mayan kan, dari sarapan sampai makan siang. Belum lagi dapat snack 2x :D.

Yang ngomong tadi tuh salah satu trainernya. Presentasinya enak banget. Bikin kita enggak ngantuk ^_^.

Enggak hanya pas presentasi, waktu ‘snack time’, trainernya bincang santai dengan kita-kita (peserta training), ngobrolnya juga lepas dan seru. Saya lebih banyak mendengarkan sambil sibuk ngabisin kue-kue cantik yang endes-endes plus penampakannya ‘mahal’ yang sudah pasti gak bakal kebeli di luaran *ngunyahFruitCakeLucuLucu*.

Di situ pertama kali kepikiran tentang “global citizen”. Walau setelah googling barusan, definisinya sih tidak seperti itu hehe.

Yang terbayang oleh saya yang memang dari kecil kepengin banget ngerasain yang namanya nemplok di sana sini, ‘global citizen’ itu memungkinkan kita jalan-jalan dan tinggal di mana pun kita mau. Karena sering berpindah tempat, otomatis kemampuan beradaptasi jadi makin tokcer.

Belum lagi pengalaman bertemu orang banyak dan melewati hari-hari dengan berbagai perbedaan. Seru kan, kan, kan. Makanya buat saya, yang enak tuh BERMUKIM di luar negeri. BUKAN BERLIBUR :D.

pixabay travel bag and passport

Kalau liburan bedaaaaa. Dengan waktu terbatas, kita akan lebih sibuk mikirin mau jalan-jalan ke mana dan makan-makan di mana gak sih? Hehehe. Plus mau belanja oleh-oleh di mana hahaha :p.

Dulu sih saya mikirnya sekolah atau kerja sekalian aja ke luar negeri. Kan ceritanya masih single. Mana tahu ketemu jodoh di sana. Sama-sama orang Indonesia atau orang bule juga gak apa deh. Nanti cari yang punya mimpi yang sama. Berdua deh kita merajut mimpi mengarungi dunia yang luas ini bersama anak-anak kelak *tsaaaaahhh*.

Tentu saja, mimpinya gagaaaaaallll hahahaha.

Tapi ya Tuhan kadang punya cara sendiri menjawab doa-doa kita. Mimpinya terjawab tapi caranya yang tidak terduga ;).

Kalau dulu inginnya jalan-jalan cantik bawa tas atau laptop pakai mantel modis aneka warna aneka model plus sepatu boot sambil nenteng buku mau selfie-selfie di perpus kampus. Pan ceritanya mahasiswi hahaha.

Sekarang mah, jalan-jalan rempong bawa bayi komplit sama strollernya pakai mantel murah meriah pakai sepatu keds biar nyaman ngejar bocah-bocah hahaha. Yang penting judulnya tinggal di luar negeri toh yaaaaa :p.

Mission (still) accomplished ^_^.

Tiga anak saya, lahirnya di Indonesia-Arab Saudi-Irlandia. Life seems perfect hingga akhirnya ….. berurusan dengan visa! Huhuu -_-.

Ternyata, tidak mudah dan sungguh berliku jalan yang harus ditempuh sebagai pemegang paspor hijau tua yang sekarang berubah warna jadi biru tosca :D. Lebay? Lah ya emang begonoh huhuhu.

Apalagi  buat suami ya yang pekerjaannya sekarang menuntut dia untuk sering-sering bepergian ke berbagai negara. Rangkaian drama-ngurus-visa ala suami sudah pernah saya rangkum di tulisan yang lain :D.

Baca : Balada Visa

Sekilas sih rasanya kan cuma urusan administratif bla bla bla. Tapi itu lumayan menguras waktu dan kesabaran, lho. Apalagi kalau ditanya-tanya enggak penting dan lama pula. Pernah juga ditanya penuh selidik yang bikin kita mau enggak  mau jadi baper. Kita? Gue dong kaleeeee hihihi.

Sering juga kondisi kedutaan negara lain itu minimalis banget. Enggak disediain kursi misalnya huhuhu. Tempatnya mungil jadi harus desak-desakan.

Atau yang ngantrinya kayak ular. Buang-buang waktu dan tenaga. Belum deg-degannya harus nungguin apakah visanya disetujui atau tidak. Karena ini berkaitan dengan tiket misalnya. Sialnya, kadang untuk apply visa harus booking tiket dulu.

Sering juga kita ngiler jalan-jalan ke negara lain karena iming-iming tiket murah yang harus dibooking di waktu-waktu tertentu. Duitnya sih ada tapi galau urusan visa sudah kadung menghantui. Apa gunanya tiket murah kalau visanya gagal? Ya toh ya toh ya toh *bantingDompet*.

Untuk mengurus visa juga biasanya butuh segabruk surat-surat dokumen ngana ngunu. Belum lagi saldo minimum tabungan seolah jalan-jalan hanya untuk orang tajir aja huhuhu. Maksudnya sih baik, untuk memastikan kita bukan mau mengemis ke negara orang lain misalnya ya hahahaha :p.

pixabay passport

Kasus lainnya kalau ketemunya pakai perjanjian dulu. Di mana dapat jadwal perjanjiannya masih lama sementara kita butuhnya buru-buru. Makanya suami pernah juga gagal assignment karena enggak keburu waktu ngurus visa huhuhu.

Wajar kalau selama merantau suka iri dengan pemegang paspor Negeri Jiran. Mau ke UK kek, ke Schengen kek, tinggal angkat koper. Sementara Irlandia sini masuk Schengen juga kagak! Ke UK pun harus mengemis visa yang harganya tidak murah, termasuk untuk anak bayi! *pingsan*.

Jadiiiiii, kalau ada orang Indonesia yang nekat melanggar aturan DUAL NATIONALITY alias tidak boleh berkewarganegaraan ganda tidak semata-mata karena tidak cinta Indonesia lagi atuh lah ;).

Serba salah jadinya, ya. Kalau mau  jujur, ya harus melepas kewarganegaraan Indonesia. Tapi nanti dituduh tidak nasionalis bla bla bla. Kalau mau ‘aman’ ya sembunyi-sembunyi punya 2 paspor. Tapi nanti gagal jadi menteri hihihihi :p. Sungkem dulu sama Pak Archandra :D.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ada juga negara yang lebih ketat. Misalnya Singapura. Kita hanya bisa apply paspor Singapura setelah menunjukkan secara sah kalau kita tidak lagi terikat dengan negara lain. Tapi lebih banyak negara yang tidak masalah dengan dual nationality. Sayang sekali, Indonesia masih belum boleh :(.

Resiko melepas kewarganegaraan Indonesia ya ada juga sih. Apalagi kalau kita punya banyak investasi di tanah air. Bisa ‘hangus’ deh hasil kerja keras minimal pasti ada problem sedikit banyaknya. Duh, kirain cinta tanah air ya ternyata alasannya kapitalis bener, enggak jauh-jauh dari duit hahaha.

Eniwei, jadi begitulah. Teorinya sih kita pasti diharapkan punya jiwa nasionalisme bla bla bla. Lah, memangnya kalau ganti paspor otomatis ‘berkhianat’ gitu? Kehidupan sehari-hari susah deh kalau mau dipilah jadi hitam atau putih doang :).

Buat yang lagi bermukim di luar negeri, makanya jangan seperti kacang yang lupa pada kulitnya lah. Giliran mudik, yaelah, menggerutu kiri kanan di medsos betapa macetnya Jakarta betapa kumuhnya betapa kotornya, beginilah begitulah. Betapa kerennya negara tinggal mereka sekarang, pokoknya mendadak Indonesia terlihat bagaikan neraka hehehe.

Culture shock itu wajar, kok. Saya juga merasakan. Tapi tidak harus ditumpahkan ke publik semua kan. Komentar seperti itu malah ‘melemahkan’. Apalagi kondisi sekarang yang makin ruwet pasca Pilpres. Efek negatif masih melayang di mana-mana :(. Dikit-dikit salah pemerintah, dikit-dikit salah pemerintah :p.

Macam negara ini dikendalikan sama segelintir orang saja. Padahal seluruh anak negeri adalah bagian dari proses perbaikan sebuah bangsa. Termasuk yang lagi melipir ke negara lain lho ya :p.

Sebagai orang yang tinggal jauh dari tanah air, kita seharusnya lebih cocok menjadi ‘wasit’ :). Melihat dari kacamata orang ketiga. Jangan malah jadi provokator. Kalau memang sulit memuji ya minimal diam saja, yes? ;).

Becoming ‘global citizen’ or whatever it might be called, tidak berarti harus patuh pada satu aturan hidup di daerah tertentu. Oh c’mon, mana ada sih tempat di dunia ini yang hanya menawarkan yang enak-enak semata.

Justru dengan menjadi ‘global citizen’ jadi belajar dengan pemahaman. Bahwa memahami itu beda dengan MENERIMA. Kita bisa memahami perbedaan dan tidak terganggu karenanya dengan tidak perlu menjadi bagian dari hal-hal yang berbeda itu. Nggg..bener gak tuh nulisnya. Belibet gini hahaha.

Sebaliknya, kita juga tidak bisa memaksa soal kesetiaan atau apalah-apalah ini. Hanya akan optimal jika semunya didasarkan kerelaan bukan tuntutan :).

Seperti kita enggak patut memaksa orang Indonesia kudu pegang paspor Indonesia doang. Macam pesan Sutan Syahrir yang ini nih :

“Kita hendak bekerja atas dasar kemerdekaan jiwa orang, atas dasar kerakyatan, atas dasar sukarela, mufakat dan kerjasama, dan tidak dengan paksaan seperti yang telah dilakukan di negeri-negeri totaliter dan diktatur itu.”
– Sutan Syahrir.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Mengutip doa dari Pak Menag di istana saat perayaan 17 Agustus tahun ini :

“Allah, Tuhan penebar kedamaian.

Jadikanlah peringatan proklamasi kemerdekaan sebagai momentum merekatkan persatuan.

Jauhkanlah kami dari perselisihan, permusuhan, dan perpecahan.
Kuatkanlah ikatan diantara bangsa kami agar saling menyemai kedamaian, saling menjaga kerukunan, saling menyokong kemajuan.

Eratkanlah tali silahturahim antar kami agar saling memelihara persaudaraan sekaligus saling mengingatkan dalam kebaikan.”

Aamiin ya rabbal aalamiin.

Selamat ulang tahun ke-71 untuk Republik Indonesia.

Dirgahayu tanah air tercinta <3.

Suatu Saat di Kuta Bali

Sepasang pengantin, berpakaian putih-putih asyik berbaur dengan rekan dan teman sambil menikmati santapan acara. Tamu yang datang biasanya sedikit. Acara lebih santai but the bride always looked beyond stunning <3. Tetap terlihat berbeda walau ikutan wara wiri dengan tamu lainnya.

Dari gambar yang lebih lebar kita jadi tahu menikahnya di sebuah bangunan yang tidak terlalu luas. Dindingnya hampir berupa kaca semua. Pemandangan outdoornya … speechless! Bangunan terletak di atas tebing yang di bawahnya membentang pantai indah berpasir putih.

At some moments, I didn’t really care about who was going to be the groom, pokoknya pengin jadi embak-embak pengantin itu aja hihihi #benerinKebayaPutih.

Ayo angkat tangan, siapa yang pernah ngarep-ngarep bakal mantenan di Bali? Hehehe :p.

Gambar : traveloka.com & free images from pixabay
A dream wedding – Uluwatu, Bali (gambar : traveloka.com & free images from pixabay)

Saya tidak paham dulu tempat itu tepatnya di mana. Ternyata, sebuah spot di Uluwatu menjadi tempat favorit beberapa kalangan untuk mengadakan ritual mengikat janji suci pertama kali sebagai pasangan suami istri :).

Ada pun saya, dulu, kalau mendengar Bali ya otomatis ingatnya Kuta Bali. Kuta, benar-benar pengetahuan paling pemula “pemula” soal Bali.

Identiknya Kuta dengan Bali “diperparah” dengan sebuah lagu dari Andre Hehanusa yang populer di masa-masa abege kita dengan judul yang sama, “Kuta Bali”. Bukan kita sih, saya maksudnya :p.

Sebagian liriknya masih terngiang jelas, “Bersemi dan entah kapan kembali, mewangi dan tetap akan mewangi…”

Pengalaman ke Kuta Bali pertama kali buat saya adalah tahun 1997. Liburan kenaikan kelas 3 SMA diajak jalan-jalan ke Bali bersama tante sekeluarga :). Benar saja, pantai yang pertama kali kami datangi ya pantai di Kuta.

Kita bisa melihat pemandangan matahari terbenam di Pantai Kuta. Untuk mendapatkan view sunrise, tempatnya adalah di Pantai Sanur.

Kami ke Kuta Bali siang menjelang sore. Panasnya pakai banget. Tapi turis-turis asing malah makin senang. Lagi norak-noraknya lihat turis bule sebanyak itu hahaha.

Sayangnya, sudah harus balik ke penginapan sebelum sunset :(.

Tapi memori ke Bali pas masih SMA ini meneguhkan angan-angan untuk suatu hari bisa mantenan di sana beneran bertahun-tahun setelahnya :p. Belum ada smartphone waktu itu jadi ya, foto-foto versi cetaknya entah sudah ke mana.

Ternyata, kesempatan ke Kuta Bali datang lagi 10 tahun kemudian. Saya sudah bekerja dan kantor mengadakan acara tahunan di Bali. Tepatnya, ya di Kuta Bali lagi. Menginap di salah satu landmark Kuta yang cukup terkenal, Hard Rock Hotel :).

 

Kuta Bali FIT Annual Conference Unilever, Hard Rock Hotel 2007
FIT Annual Conference Unilever, Hard Rock Hotel 2007

 

Acara kantor tahunan selalu diisi dengan acara-acara lumayan padat dan seru. Hari kedua ada semacam team building dan kami dibagi menjadi beberapa grup. Tiap grup diminta untuk memecahkan beberapa kode rahasia yang tersebar di berbagai tempat menarik di Kuta Bali dan sekitarnya.

Starting pointnya dari hotel tempat kita menginap, Hard Rock Hotel di Kuta tadi. Dari hotel ini akses ke beberapa tempat wisata di Kuta juga dekat banget. Jadilah, tiap grup berpetualang ramai-ramai ke berbagai tempat-tempat menarik yang bisa dijangkau dengan jalan kaki saja.

Salah satunya adalah Pasar Seni Kuta dan makan siangnya mampir bergiliran di Warung Made. Warung Made, yang didirikan sebelum tahun 1970 ini terus eksis menjadi salah satu ikon penting di Kuta Bali.

Selain bikin baper karena pemandangan alamnya yang cantik, Bali juga menjadi tujuan wisata kuliner khas Indonesia. Termasuk Warung Made yang sampai sekarang selalu ramai dijejali turis asing maupun lokal.

 

Kuta Bali Foto koleksi pribadi
Foto koleksi pribadi

 

Waktu berjalan-jalan di area Beachwalk di sepanjang pantai Kuta yang pas depan hotel tuh, sempat mengkhayal pasang tenda warna putih di tengah pantai. Terus sok-sok an berjanji setia berdua depan penghulu. Enggak kepanasan, tuh, Neng? Hihihi :p.

Enggak dooong, pan ceritanya sudah menjelang senja. Sekalian nungguin sunset gitchuu *benerinKacamataItem*.

Terus, gimana? Jadi beneran menikah di Bali, nih? Ya enggaklah hahaha.

Uniknya, saya menikah di tahun yang sama, tahun 2007 itu. Sekitar dua bulan setelah pulang dari acara kantor di Bali.

Pernikahan saya menggunakan acara adat Bugis saat akad nikah dan memakai pelaminan Minang lengkap dengan suntiang Padang di atas kepala saya saat acara resepsi sehari setelahnya :). And for sure, I was still as happy as I can be ;).

“You know you’re in love when you can’t fall asleep because reality is finally better than your dreams.”
– Dr. Seuss

collage_20160519103038499

Tidak berarti tidak perlu jalan-jalan ke Bali dong, ya. Jalan-jalan  mah teteeeeeeup :p. Walau kini saya sudah resign dan tidak bisa lagi ke Bali gratisan seperti pas masih kerja dulu (hahaha), saya masih tetap kepengin ke sana lagi. Kali ini, dengan formasi  berbeda … membawa suami dan anak-anak yang sekarang sudah ada 3! :D.

Dulu sih enak ya, tinggal berangkat, semua sudah diberesin oleh pihak kantor. Tinggal angkat koper, duduk manis di pesawat-bus, eh tahu-tahu sudah tiba di hotel *kipasKipas*.

Sekarang? Ya tetap enak juga. Welcome to the online world, Babe!

Tinggal cusss ke Traveloka 😉, salah satu situs booking online lokal di tanah air :). Tinggal pilih mau hotel mana dan tiket kapan pakai maskapai apa dengan harga gimana. Untuk Kuta Bali, Traveloka menyediakan banyak informasi layanan, tinggal klik di sini saja ;).

Iya lah, dulu mimpi-mimpi banget ya bisa menikah ala-ala yang saya tulis di paragraf atas tadi. Ealah, jauh panggang dari api hehe.

But trust me ;). Where you held your wedding ceremony had nothing to do with whether your marriage would last or not :p. Masih banyaaaaaak banget yang perlu kalian khawatirkan selain harus pakai baju apa atau harus menikah di mana ;).

Jalan-jalan bareng anak-anak juga seru kali ya ke Bali. Saya belum pernah, nih. Suami saya juga terakhir ke Bali pas masih umur 2 tahun cobak, hahaha.

Eh, sebentar, anak sulung saya pernah sih saya ajak ke Bali. Tapi waktu itu dia masih di dalam perut hihihi. Ini foto saya di Bali setahun setelahnya, juga acara kantor yang sama. Bukan di Kuta tapi di Jimbaran :). Sedang hamil 5 bulan waktu itu.

Kuta Bali

 

Gagal mantenan di Bali, mudah-mudahan suatu hari nanti bisa jalan-jalan berlima bareng suami dan anak-anak menyusuri kembali tempat-tempat yang dulu pernah didatangi. Bernostalgia juga kalau dulu pun pernah jadi perempuan kantoran *benerinCelemek*.

Seperti lirik di lagu yang saya sebut-sebut tadi, “Bersama rinduku, suatu saat di Kuta Bali …”

Yup, muter-muter berlima (atau mungkin akan berenam? hahaha) … suatu saat di Kuta Bali ;).

Kalau kamu, sudah pernah ke Bali juga? Kalau sudah, apa ingin kembali lagi? :).

 

The Ranch Lembang Bandung

De Ranch Bandung : Wisata Keluarga Murah-Meriah-Seru di Lembang Bandung :D

De Ranch Bandung : “Ikut ke De Ranch, gak?” Tanya adik saya.

“Tempat apaan?”

“Belum tahu, ini baru pertama mau ke sana besok. Katanya sih uang masuknya 5 rebu doang.”

Hapaaahhh? 5 ribu? Goceng???? Berangkaaaattttt! Hahahaha.

de ranch bandung
Foto rame-rame di De Ranch Bandung

Eh, tapi kurang tahu sekarang masih goceng apa enggak hahaha. Ini jalan-jalan ke The Ranch Bandung -nya tahun 2014. Cuma baru ditulis sekarang aja :p.

Komplit storynya begini, 2 tahun lalu lebaran pasca lebaran enggak ada rencana ke Bandung sih. Cuma tahu-tahu pas ngumpul lebaran di rumah Tante diajakin ke Bandung sama si Mama Buntel (adik perempuan saya). Eh, ternyata kakak no.2 juga mau ikut sama keluarganya.

Tumben iniiiii pada semangat mau ke Bandung. Ealah ternyata ada penginapan gratisan hihihi. Adik sepupu ada yang punya villa di Dago Pakar. Kamar tidurnya ada 5 apa 6 gitu. Jadi deh ikut semangat hahaha *hidupGratisan*. Kita pun heboh mau konvoi.

Konvoi yang gagal! Hahaha.

Mereka sih sukses berangkat jam 7 pagi kayaknya. Saya dan keluarga baru berangkat jam 9 pagi kayaknya. Padahal waktu itu masih 2 anak masih ribet mau berangkat sepagi itu :p.

Anw, terima kasih ya penginapan gratisnya, Om Anggu dan Tante Icha ;).

Singkat cerita, siang nyampe Bandung. Sore dan malam leyeh-leyeh saja kita di villa sambil ngobrol. Besoknya baru konvoi lagi ke The Ranch Bandung. Kali ini, konvoinya beneran hihihi :p.

Wisata murah meriah The Ranch Bandung
Nongkrong dulu depan vila sebelum capcus ke The Ranch 😀

Nyampe De Ranch Bandung sekitar jam 10 pagi. Halamak, ramainyaaaa :D. Ngantri di pintu masuk, untungnya masih dapat parkiran. Ngantri lagi pas mau masuk De Ranch-nya. Beneran, cuma bayar goceng per orang itu juga dapat gratis segelas susu segar, top dah pokoknya mah :D.

Begitu masuk, ternyata ramainya tidak sehoror yang dikhawatirkan. Kalau ramai ya pasti ramai soalnya liburan panjang abis lebaran gitu kan. Pada tumplek biasanya di Bandung orang-orang dari Jakarta. De Ranch Bandung ini pun pasti jadi salah satu tempat andalan liburan keluarga.

Mungkin karena tempatnya lapang dan mataharinya lagi super makanya di tengah-tengah lapangan rumput abis ngantri karcis masuk agak lowong. Langsung deh kita sigap foto-foto duyuuuuu hahaha. Tuh, fotonya yang paling atas.

Dari situ, sudah lalu lalang wahana-wahana yang ada di De Ranch Bandung. Pas melihat kereta yang ditarik kuda pastinya anak-anak langsung nunjuk-nunjuk pengin naik itu. Naik delman ramai-ramai.

Baca juga : Farm House Susu Lembang Bandung

de Ranch Bandung Lembang

Yang naik hanya anak-anak + kakak saya, si om-om yang duduk di belakang di foto atas itu tuh hihihi. Kalau tidak salah bayarnya 30 ribu rupiah per satu putaran untuk fasilitas yang ini. Enggak terlalu banyak antriannya. Begitu datang, kayaknya enggak nyampe 15 menit sudah kebagian delman.

Sementara anak-anak ngider pakai kereta ini, saya dan suami serta yang lain sibuk lihat-lihat suasana sekitar situ. Sempat foto-foto narsis sama kakak ipar hihihi.

Pas rombongan delman datang, anak-anak ternyata sudah ribut mau naik kuda. Kayaknya mereka papasan dengan anak-anak yang naik kuda pas ngiter pakai delman tadi.

Walah, ngantri karcisnya lumayan nih. Ternyata juga bisa langsung beli beberapa karcis sekaligus. Harganya mirip-mirip, sih, ya. Rata-rata 15 ribu per orang untuk satu “permainan”. Ada juga car-racing atau apalah itu namanya. Kalau masih kecil belum boleh.

Ada juga fasilitas “Loncat Anak” yang anaknya diikat terus loncat di atas trampolin gitu sampai mental ke atas. Waduh, anak saya sudah horor duluan lihatnya hahaha. Padahal ada lho itu anak 2-3 tahun yang berani nyobain :D.

Ya udah, pokoknya naik kuda dulu lah :D.

De Ranch Bandung Lembang

Kuda juga ada 2 macam. Ada yang kecil ada yang besar. Tapi tarifnya sama sih ya kalau gak salah. Maaf nih, serba “kalau gak salah”, maklum yaaaa, sudah 2 tahun lewat –> blogger pemalas hahaha :p.

Anak-anak mah, dari mulai milih kostum buat naik kuda aja sudah ribet :p. Mau ini mau itu. Padahal modelnya mirip-mirip paling. Ukuran saja yang beda-beda.

Naik kuda di The Ranch Lembang Bandung

Alhamdulillah, pada seneng abis muter-muter sama kuda :D. Anak senang, ortu hepi *tepokDompet* :p.

Dari sini, karena pada enggak mau main trampolin, loncat-loncatan dan racing, akhirnya naik balon air. Di sini kita jadinya mencar. Adik saya dan keluarganya kayaknya naik kuda lagi deh hahaha. Doyaaaaan :p.

Anak-anak saya milih naik  balon air. Sama, tarifnya juga 15 ribu. Hanya boleh 2 orang dalam satu balon. Agak ngeri juga ya lihatnya. Balon gede gitu terus anaknya dimasukin ke dalam terus muter-muter sendiri gelindingan di permukaan air.   Tapi anak-anak ngotot jadi ya sudahlah. Yang penting hepi dan tentunyaaaa, 15 ribu aja gitu hahahaha :p.

Enggak kefoto pas di balon airnya. Pas lagi ngantri sebelum kebagian balon sih ada nih fotonya :

Balon Air di De Ranch Bandung Lembang

 

Efek panas yang dahsyat (lebay hahaha), bikin cepet laper. Jadi abis main balon air itu udah enggak konsen. Mau makan di situ ternyata penuh huhuhu.

Jadilah kita memutuskan untuk udahan aja di The Ranch -nya. Mau nyari makan di luar saja.

Tentunya, menggeret bocah-bocah untuk udahan itu perlu perjuangan banget :p. Mereka masih pecicilan mau main di playground. Wis lah, ditemenin sebentar plus numpang foto-foto dulu hahaha.

De Ranch Bandung Playground di The Ranch Lembang Bandung

 

Mungkin karena lapar juga akhirnya  mereka sendiri yang sukarela mau ngikut kita keluar dari sana :D.

Overall, untuk harga segini mah, The Ranch Lembang ini sangat memuaskan banget ^_^. Mana tempatnya luas banget pula. Cuma memang teriknya mayan, yak. Mana lupa bawa cengdem pulak -__-.

Boleh banget lah tempat ini dijadikan sebagai salah satu tempat wisata keluarga di Bandung. Etapi saya juga tidak begitu hafal Bandung yak. Tempat wisata yang saya tahu terbatas banget di Bandung :p. CMIIW ya.

 

Indonesia, Bukan Bangsa 2.5 Sen!

“Asara, asara …” Seorang penjual parfum tahu-tahu menjajari kami, saya-suami dan anak-anak, yang baru saja keluar dari lift hendak menuju ke Masjidil Haram selepas memarkir mobil di basement mal. Asara = sepuluh (dalam bahasa Arab), maksudnya 10 riyal.

“Mafi, mafi … ” Saya menggeleng pelan sambil mengangkat tangan.( Mafi = tidak, bahasa Arab)

Dia masih sempat bertanya, “Indonezi?”

“Aiwa.” Jawab saya sambil terus berlalu. (Aiwa = ya, bahasa Arab setempat).

Dari jauh saya menengok dan mendapati si bapak penjual malah tersenyum sumringah. Tidak dibeli malah-malah senyum-senyum? :).

Setelah musim haji berlalu, visa umrah ditutup bagi seluruh  jemaah dari luar Arab Saudi. Di saat-saat seperti inilah, 2 kota suci Mekkah dan Madinah seperti sedang “tertidur”.

Yang cukup menonjol adalah sepinya aktivitas bisnis di saat-saat seperti itu. Termasuk hotel-hotel bintang lima yang memangkas harga sewa kamar habis-habisan di suasana sepi jemaah. Di Masjid Nabawi Madinah yang pagar-pagarnya biasa dikepung para penjual rupa-rupa buah tangan sejak selepas Salat Subuh sama sekali tidak kelihatan sampai malam tiba.

Salah satu penanda ramainya kembali jemaah membanjiri 2 kota adalah kedatangan para jemaah umrah asal Indonesia. Selain jumlahnya  menonjol secara kuantitas, tradisi belanja oleh-oleh menjadi pemikat khusus bagi para pebisnis di seputaran Masjidil Haram di Mekkah dan Madinah.

Saat jemaah umrah dari  Indonesia sudah berdatangan, suasana menjadi ramai seiring dengan geliat bisnis yang mulai bergairah kembali. Pantas saja si bapak penjual tadi senyum-senyum. Mungkin disangkanya kami ini jemaah umrah. Padahal, waktu itu saya tinggal di Jeddah mengikuti suami yang bekerja di sana.

Toko-toko berlabel "X-murah" di Pasar Balad, Jeddah, Arab Saudi
Toko-toko berlabel “X-murah” di Pasar Balad, Jeddah, Arab Saudi

Para pedagang oleh-oleh di wilayah Balad-Jeddah juga punya banyak trik khusus untuk menarik perhatian jemaah asal Indonesia. Coba saja perhatikan banyaknya toko-toko di Balad-Jeddah yang memasang plang nama toko dengan embel-embel bahasa Indonesia, “murah”, toko A murah atau toko B murah dsb.

Di Mekkah dan Madinah pun, tidak perlu sungkan kalau tak bisa berbahasa Arab. Banyak penjual/penjaga toko di sana yang cukup fasih berbahasa Indonesia untuk proses jual beli. Sampai-sampai berbelanja dalam pecahan rupiah pun bisa dilakukan di banyak tempat/toko.

Coba saja lewat di sana, pasti ada saja yang memanggil, “Sini Bunda Cantik. Murah, murah,  …” Hehehe.

Justru di toko-toko seperti itu, harga barangnya malah tidak murah lho ;). Toko-toko di Balad banyak menjual barang-barang yang sama yang dijual di pasar tradisional lokal di Jeddah yang justru jarang disambangi oleh para jemaah karena lokasinya tidak strategis dan kendala bahasa tentunya.

Tidak hanya jumlah penduduknya yang banyak tapi juga “tradisi belanja” masyarakat kita yang menjadi daya tarik sebagai pasar andalan para pebisnis di luar maupun di dalam negeri.

Di lingkungan regional ASEAN, Indonesia harus lebih waspada terkait budaya konsumsi masyarakatnya setelah MEA dicanangkan per tahun 2015 kemarin. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 bertujuan untuk meminimalkan hambatan dan aturan dalam kegiatan ekonomi lintas kawasan. Termasuk dalam perdagangan barang dan jasa serta investasi.

Sebagai negara ASEAN dengan jumlah penduduk terbanyak, wajar saja jika Indonesia dianggap sebagai pasar potensial untuk negara-negara lain. Barang dan jasa lebih mudah terdistribusi antar negara ASEAN terkait kebijakan MEA 2015 tadi. Kita semua harus merespons cepat. Salah satunya dengan meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai konsumen.

 

7 gerakan koncer

Gerakan Konsumen Cerdas Untuk Peningkatan Indeks Keberdayaan Konsumen 

Berdasarkan data dari Kemenkominfo, Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) Indonesia masih berada di level 34% di tahun 2015. Bandingkan dengan IKK Eropa yang sudah di atas 50% untuk data tahun 2011. Dengan jumlah penduduk sekarang, posisi kita ada di negara konsumen terbesar ke-4 di dunia.

Gambar : Kominfo.go.id
Gambar : Kominfo.go.id

Salah satu korelasi langsung terhadap  (IKK) adalah tingkat pengaduan konsumen kepada pihak penjual jika terjadi ketidaksesuaian dan ketidakpuasan terhadap barang dan jasa yang diinginkan. Makin tinggi IKK = makin tinggi kesadaran konsumen untuk melaporkan/mengadukan/membuat langkah hukum terkait haknya sebagai konsumen atas barang dan jasa yang didapatkan.

Pemerintah mengimbau agar masyarakat selaku konsumen tidak hanya memahami hak dan kewajiban tapi juga MENGGUNAKANNYA saat dibutuhkan.

IKK yang rendah menunjukkan bahwa perilaku konsumen di tanah air harus ditingkatkan keberaniannya untuk memperjuangkan haknya manakala dilanggar. Apa saja hak-hak konsumen yang dimaksud? Poin-poinnya ada dalam gambar berikut :

hak konsumen

 

Hak dan Kewajiban Sebagai Konsumen Online 

Era digital memperkenalkan masyarakat luas kepada transaksi elektronik. Toko-toko berbasis online mulai bermunculan dan sebagian mulai mendapat perhatian lebih dari para konsumen.

Transaksi online melibatkan rupa-rupa penawaran barang dan jasa. Tak heran bila konsumennya pun terus meningkat seiring perkembangan teknologi informasi yang seperti berlari. Maraknya penggunaan media sosial memungkinkan perluasan wadah transaksi online. Lihat saja ramainya penjual dan pembeli berinteraksi via Instagram-Facebook-Twitter dan media sosial lainnya.

Tantangan dalam melakukan transaksi online tentu berbeda. Kasus-kasus penipuan dari kedua belah pihak seringkali tak terhindari.

Salah satu kasus yang pernah mencuat adalah penipuan oleh pihak penjual dengan menggunakan nama tokoh terkenal di tanah air. Sebuah akun di media sosial menggunakan nama salah seorang artis papan atas di tanah air untuk berjualan tas dengan brand-brand ternama yang harganya tergolong mahal.

Akhirnya sang artis melakukan klarifikasi tapi entah apa yang terjadi dengan para korban penipuan yang sudah terlanjur kena harapan palsu.

Harus dipahami bahwa transaksi online TETAP mengikuti hukum dan aturan mengenai hak dan kewajiban konsumen seperti layaknya transaksi konvensional/tatap muka/offline. Yang berbeda hanya WADAHnya saja.

Terkait transaksi online, “UU no.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen” hendaknya dilengkapi dengan “UU no.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.”

Jadi, saat melakukan transaksi online dan mengalami perlakuan/tindakan yang tidak sesuai dengan hak kita sebagai konsumen, silakan merujuk kepada 8 pedoman mengenai hak konsumen yang sudah dijelaskan di atas.

Konsumen Cerdas Melakukan 6 Langkah Berikut Sebelum dan Sesudah Membeli!

1- Mencari informasi terlebih dahulu mengenai barang dan jasa yang dibutuhkan sebelum membeli.

Seringkali kita perlu melibatkan pihak yang lebih kompeten terkait barang dan jasa tertentu. Khususnya yang memiliki harga yang cukup mahal. Misalnya bagi konsumen yang awam terhadap  barang-barang elektronik, silakan bertanya langsung kepada teman/pihak yang lebih mengerti.

Koncer 2

2- Maksimalkan tempat menggali informasi pra pembelian.

Di era internet ini, hampir semua hal bisa kita cari via mesin pencari seperti Google. Manfaatkan juga pertemanan dengan berbagai pihak di media sosial. Jangan lupakan forum-forum online yang juga memiliki ragam tema khusus yang melibatkan pihak-pihak mumpuni terkait topik masing-masing. Kumpulkan informasi sebanyak mungkin dari banyak tempat khususnya jika kita tidak memiliki kenalan/teman langsung terkait kebutuhan kita.

3- Perhatikan hal-hal detail

Pastikan kita mendapatkan fasilitas lebih detail terkait barang dan jasa masing-masing. Misalnya : label, kartu garansi dan manual berbahasa Indonesia. Tanggal kadaluwarsa jangan sampai terlewatkan khususnya untuk produk makanan dan obat.

Perhatikan juga asal usul dan identitas lengkap pihak yang bertransaksi dengan kita.

koncer 5

4- Bertanya Sebelum Membeli Mengenai Kemungkinan Penukaran Barang dan Jasa Tertentu

Misalnya saat membeli barang sandang bukan untuk kita sendiri –> membeli baju dan sepatu untuk anak-anak. Pastikan kita sudah tahu apakah barang-barang tersebut  boleh ditukar bahkan boleh dikembalikan jika terjadi ketidakcocokan setelah barang terbeli.

5- Tetap Cermat dalam Perbandingan Harga

Jangan mudah terbujuk dan hanyut oleh potongan harga tertentu. Misalnya : sebuah barang seharga 1 juta rupiah kena diskon 30% dibanding sebuah barang yang sama yang dijual dengan harga 800 ribu rupiah dengan diskon 25%. Hati-hati menghitung harga akhirnya.

Bayangkan bila harga barang menjadi 10 juta rupiah vs 8 juta rupiah dengan potongan harga seperti ilustrasi di atas. Selisihnya lumayan, kan? ;).

6- Mengetahui Tempat Mengadu dan Meminta Perlindungan Bila Mengalami Ketidakpuasan terhadap Barang dan Jasa Tertentu

Pahami lagi mengenai undang-undang perlindungan konsumen yang sudah dibahas sebelumnya. Kenali lembaga-lembaga terkait perlindungan konsumen seperti : YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), Kolom Pengaduan Konsumen di berbagai media, serta BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen).

Beranikan diri untuk tetap mengadu dan menyampaikan keluhan walaupun nominal barang terbilang kecil/murah.

pengauan

 

Memajukan Ekonomi Bangsa Melalui Dukungan Langsung Terhadap Produk Dalam Negeri

Beberapa waktu lalu, sebuah brand ternama di Eropa terlibat skandal karena menjual produknya dengan harga sangat mahal dengan biaya produksi sangat memprihatinkan. Brand tersebut memanfaatkan tenaga-tenaga kerja murah di negara-negara dunia ketiga. Indonesia, termasuk negara dengan tenaga kerja berlimpah dengan harga murah, dibandingkan upah tenaga kerja di negara-negara maju.

Sebenarnya tidak sedikit brand level dunia yang menggunakan cara-cara produksi seperti ini. Dengan teknik marketing yang bagus, produk tertentu bisa dijual jauh melebihi harga produksinya.

Ketimpangan inilah yang akhirnya coba dijembatani dengan program “Fair Trade”. Fair Trade dicanangkan untuk perbaikan bagi perdagangan konvensional antar negara.

Fair Trade sendiri mengutamakan dialog, transparansi, untuk mencapai kesetaraan. Bentuk perdagangan ini berkontribusi atas pembangunan berkelanjutan dan menjamin hak-hak dari produsen dan pekerja yang terpinggirkan, khususnya produsen yang berada di negara-negara berkembang.

Banyak aktivis mengkritisi keserakahan para produsen yang memanfaatkan keringat orang lain dengan upah sangat minim padahal harga jual produk tergolong mahal.

Sedihnya, kadang konsumen dari barang tersebut berasal dari negara-negara tempat produksi barang-barang tadi. Saya sendiri, semasa bermukim di luar negeri, banyak melihat label “made in Indonesia” dari berbagai brand-brand internasional yang harganya tidak murah.

Ini membuktikan bahwa sebenarnya kualitas barang-barang yang diproduksi langsung di Indonesia sanggup bersaing secara kualitas. Masalahnya, produk dalam negeri masih sukar bersaing terkait teknik promosi dan “nama besar”.

Tidak sedikit  konsumen yang mengutamakan “gengsi” ketimbang kualitas barang. Misalnya, kalangan yang secara khusus menggemari merek-merek asing lebih karena “label” di balik produk bukan karena kualitas semata.

Dengan potensi konsumen yang terbilang besar, seharusnya produk-produk lokal bisa meraup pasar yang luas di negeri sendiri.

Mengacu ke “Gerakan Konsumen Cerdas” di atas poin ke-3, ke-4 sekaligus yang ke-7 semoga bisa menjadi pedoman bagi kita semua. Fokus kepada fungsi barang terkait kebutuhan, mengutamakan mutu bukan “gengsi”, serta mengutamakan produk dalam negeri. Terlebih lagi dukungan kepada produk dalam negeri berkontribusi langsung kepada kemajuan ekonomi bangsa.

3 pedoman

Indonesia, Bukan  Bangsa 2.5 Sen! 

Dengan kekuatan penduduk yang besar, wajar kiranya bila di masa lalu, Bapak Bangsa kita punya cita-cita besar terhadap negeri tercinta ini. Salah satunya Bung Karno yang sangat aktif berperan dalam politik luar negeri pasca kemerdekaan untuk menunjukkan bahwa Indonesia berhak untuk berdiri sejajar dengan negara-negara besar lainnya.

Pandanglah bangsa kita sekarang. Janganlah hanya terus-terusan menjadi sasaran konsumsi dari banyak negara. Hanya sekadar menjadi “pembeli” dari segenap propaganda produk asing yang sering dipandang lebih mumpuni. Bangsa “penonton” yang minim peran.

Kini, jumlah penduduk tanah air sudah mencapai lebih dari 250 juta jiwa. Tugas besar untuk seluruh rakyat, bukan hanya pemerintah dan segenap jajarannya, untuk terus mengobarkan semangat kemajuan dan kemandirian di berbagai bidang termasuk bidang ekonomi.

Mari  jalankan peran dan optimalkan potensi masing-masing melalui Gerakan Konsumen Cerdas ini. Untuk selanjutnya merapalkan cita-cita besar salah satu bapak proklamator kita :

“Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 setengah sen sehari! Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita” -Ir.Soekarno-

Indonesia, BUKAN bangsa 2.5 sen!!!

 

***

Sebagian isi tulisan mengacu kepada sumber-sumber berikut ini :

“Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Belanja Online” (https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt50bf69280b1ee/perlindungan-hukum-bagi-konsumen-belanja-online)

“Apa itu Fair Trade?” (https://forumfairtradeindonesia.org/fair-trade/what-is-fair-trade/)

“Hari Konsumen Nasional 2016,  Momentum Tingkatkan Martabat Konsumen” (https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/7337/hari-konsumen-nasional-2016-momentum-tingkatkan-martabat-konsumen/0/artikel_gpr)