Sekarang bahas yang liburan bareng Bapak-ibu mertua dan kakak ipar dulu, nih :D. Termasuk salah satu agenda liburan kita ke … Taman Kota Waduk Pluit Jakarta!! ^_^.
Taman kota satu ini sudah digadang-gadang sebagai salah satu prestasi kerja Jokowi-Ahok semasa berduet memimpin Jakarta sebelum Pakde hengkang ngurusin negara. Tentunya, sebagai fans mereka berdua, saya dan suami sudah sejak dulu ingin bertabayyun ke tempat ini *tsaaaah*.
Kayak apa, sih, tempatnya? Bener gak sekeren di foto-fotonya?
Kami ke Waduk Pluit Jakarta sehabis makan siang. Ya gimana gak panas hehe. Waktu itu hari sabtu apa, ya. Tiba di sana masih jam 3 an. Sepiiiiii. Ada, sih, beberapa anak yang lagi main di sana. Tapi anak-anak sudah keburu senang melihat tanah lapang begitu.
Jadi kita langsung nyari tempat parkir. Parkiran juga masih kosong.
Tempatnya bersih banget. Mungkin tambahin pohon-pohon kali ya biar agak rindang. Emak-emak ribet nih takut kulitnya gosong hahaha.
ANak-anak sih sudah langsung lari-larian dengan gegap gempita begitu melihat ada orang yang menyewakan semacam skuter yang belakangnya bisa diinjak gitu, lho. Skuter model begini waktu itu juga lagi hits dalam kompleks kita.
Skuter disewakan oleh sekelompok abang-abang yang mangkal di sana. Kayaknya sih bukan “wahana” resmi, ya. Hanya swadaya orang-orang yang memanfaatkan taman ini buat nyari rezeki. Entah orang asli sana apa bukan. Agak ragu sih mau nyewa. Tapi anak-anak dah kalap gitu hahaha.
Sewanya murah, sih. Per 30 menit sekitar 15 ribu rupiah. Ya sudah, jadi deh sewa 2 skuter.
Anak-anak langsung melesat sampai jauh. Suami saja yang ngejar-ngejar. Saya duduk-duduk di kursi taman bareng bapak-ibu mertua dan kakak ipar. Biar bapaknya ajalah yang jagain anak-anak hihihi. Sekalian motret-motret kan? ;).
Habis ngos-ngosan main skuter, saya yang kepengin main becak-becak-an hehehe. Seru juga lihat becak-becak kecil yang juga disewakan oleh abang-abang yang sama tadi. Kita yang narik becak, anak-anak duduk di depan.
Sewanya agak mahal. 15 ribu per 15 menit. Kita pikir ya, si abangnya enggak bakal ngitungin waktu. Eh, tahu-tahu sekitar 15-20 menit, kita dihampiri terus dibilangin, “Udah Bu, waktunya udah abis.” Hihihihihi, ketahuan deh mau nyolong waktu sewa *ngikikLicik*. 15 rebu doang lho Mbaaaaa, masih juga mau kucing-kucingan –> sungkem dulu sama abang-abangnya :p.
Capek skuter-an, capek teriak-teriak dan ketawa ketiwi, pas pula ada penjual es krim gerobak yang datang. Nah, sekitar sejam kemudian, sudah mulai agak ramai tempatnya.
Beli es krim lah kita. Nah, sembari jilatin es krim ini, anak sulung saya matanya ngelihat ke arah sekelompok orang yang lagi sibuk pamerin layang-layang. Katanya, “What’s that? Let’s go there!”
Oh, ternyata penjual layangan. Yang semangat malah bapak mertua, “Beliin aja, nanti main sama Opa.”
Layangannya murah meriah, sih. Macam-macam harganya. Saya beli yang paling murah pastinya hahaha. Sekitar 5 ribu rupiah per layangan. Beli 2 biar enggak berantem.
Yang sulung langsung asyik dengan Opa-nya. Yang no.2 masih sibuk sendiri megangin layangannya sambil ngelatin layangan orang lain yang sudah membubung di angkasa. Yoih, tahu-tahu sudah banyak aja yang lagi maenan layangan.
Beneran, lho. Opa piawai bener nerbangin layangan. Suami saya saja perlu lama baru bisa bantuin anak kami yang kecil buat nerbangin layangannya.
Beberapa kali layangan nyangkut dan anak-anak maksa beli lagi. Ya udahlah, mumpung goceng ini hehehe :p.
Lihat kan keringetan bener anak-anak? Panasnya enggak main-main huhuhu. Pohon dong Koh Ahok, tambah pu’unnyaaaaaaa *benerinKacamataItem*.
Akhirnyaaaa, capek juga main layangan. Tapi belum pada mau pulang. Sudah sekitar jam 5 kalau enggak salah. Eh, ternyata ada abang-abang lain yang datang bawa-bawa semacam jumping castle gitu. Anak-anak boleh masuk dengan membayar sekitar 10 ribu rupiah per orang.
Dikira sudah pada tepar, ya tetap saja pada semangat mau nyobain jumping castle -_-. Apalagi ramai banget anak-anak berkerumun di sana. Sudah chaos banget. Sampai kayaknya sudah susah mau foto-foto. Gak ada fotonya nih yang pas jumping-jumping di sini :D.
Sekitar setengah 6 sore baru berhasil menyeret mereka balik ke mobil. Ffiuuuhhh…
Pas balik ke parkiran, baru terasa mobil sudah banyak yang datang. Tapi taman kota Waduk Pluit Jakarta ini tidak hanya jadi alternatif buat kalangan bermobil, lho. Macam-macam kalangan tumpah ruah ke sini :). Soalnya gratis sih, ya hehe. Anak-anak lari-larian saja bawa sepeda sendiri atau main sama teman-temannya rasanya sudah senang ^_^.
Nah, yang begini-beginian yang harusnya diperbanyak, Koh Ahok :D. Tempat-tempat wisata keluarga yang menyenangkan dan murah meriah agar bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat ^_^.
Nah, kalian sendiri yang tinggal di Jakarta, sudah pernah datang langsung ke taman kota satu ini belum? ;).
Masyarakat menengah perkotaan kembali merintih. Yang tadinya meratap akibat penarikan penuh subsidi BBM dan dicabutnya sebagian subsidi tarif dasar listrik, sekarang teriak-teriak harga beras naik :p.
Kontras dengan jeritan mereka yang ngamuk-ngamuk mengapa sekarang semua serba mahal dan tentu saja tidak lupa mengutuk-ngutuk Pak Presiden, kabar gembira datang dari berbagai wilayah lumbung padi di tanah air ^_^.
Sementara yang di kota sibuk rusuh dengan pepesan kosong KPK vs Polri yang entah kapan berakhirnya (hahhahahaha), harapan para petani dan penggiat hasil sumber daya bumi tengah bersemi :).
Salah satunya dari Ponorogo, salah satu lumbung padi paling potensial di Nusantara. Sebanyak 527 ribu hektar sawah telah mempersembahkan hasilnya dalam PANEN RAYA PONOROGO beberapa hari lalu yang langsung dihadiri oleh Bapak Presiden dan Menteri Pertanian ^_^.
Sila ditonton videonya –> PANEN RAYA PONOROGO … NO IMPOR BERAS 2015! ^_^ https://www.youtube.com/watch?v=MKK43j4jlYY&feature=youtu.be
Yang masih sakit hati sama Pak Presiden, jangan nonton videonya! Pasti akan makin membara dah hahahahaha. Karena seperti biasa, beliau muncul dengan gaya CIMAL-nya. CIMAL = penCItraan maksiMAL! :v :v :v.
Si CIMAL ini, dengan pakaian kebangsaan hitam putihnya, terlihat melepas sepatu dan kaos kakinya sendiri, melipat celananya sampai ke lutut, turun ke sawah, menenggelamkan betisnya ke dalam lumpur, ikut membajak sawah bersama para petani … seolah menyemangati petani, “Teruslah semangat berkarya, SAYA mendampingi di samping kalian!”
Sekilas terlihat ribetnya beliau saat melepas sepatu dan kaos kaki, karena beberapa petani berhasil meloloskan diri dari paspampres dan ingin menyalami beliau langsung. Beliau tidak pernah menolak uluran tangan siapa pun ^_^. CIMAL oh CIMAL :v :v :v.
Bagi hater, pemandangan ini tentu akan sangat “menyakitkan” :p. Buat lover buta macam emak-emak macam yang nulis, mungkin pengaruh hormon juga, menangis lho lihatnya hahahahahahahaha *hapusAirMata* :’).
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, hampir selalu ikut hadir, ikut berkeringat di tengah-tengah ladang menyambut panen raya di mana-mana. Termasuk panen jagung yang dinilai cukup sukses di daerah Demak beberapa waktu lalu.
Dari video “Panen Raya Ponorogo” di atas, Amran Sulaiman memastikan ketersediaan beras dianggap MENCUKUPI kebutuhan nasional hingga akhir 2015 nanti. Dalam dialog langsung, masih dalam video yang sama, Pak Presiden menegaskan tekad pemerintah di hadapan petani bahwa “TIDAK ADA IMPOR BERAS 2015”
Lantas mengapa harga beras justru terguncang?
Pak Menteri sempat memberi jawabannya di awal video. Jawaban normatif banget sih, ya hehehehe :p. Maklum, Pak Mentan yang ini datang dari kalangan profesional, mungkin memang tidak begitu tersentuh isu-isu politik :D.
Dengan tenang beliau menjelaskan bahwa harga gabah kering sama sekali tidak menunjukkan kenaikan. Dengan harga gabah kering maksimum yang hanya 4500 rupiah per kilo (CMIIW, ya, kali salah dengar sayanya :D), seharusnya harga beras tidak akan melewati 8000-9000 rupiah per kilo. Namun, konon harga beras rata-rata sudah menembus 13000 rupiah per kilo.
Prasangka baik Pak Mentan mengatakan bahwa ini adalah masalah distribusi semata dan pihak Mentan sudah berkoordinasi dengan Bulog terkait masalah ini.
Masalah distribusi? Tidak juga nampaknya :D.
Dari hasil penelusuran (ala emak-emak dasteran lho yaaaa hihihihihihi), ternyata pemerintah memang punya sebuah program revolusioner. Swasembada pangan untuk 3 tahun ke depan!
Keseriusan pemerintah dimulai dengan pengalihan subsidi energi yang memang sudah tercermin dalam APBN 2015 yang sudah ketok palu per Januari kemarin. Aroma revolusi dalam penyususunan APBN tahun ini tenggelam dalam riuhnya kisruh kacangan dari ibukota, KPK vs Polri tadi :p.
Pemerintahan terkini akhirnya berani juga mencabut subsidi-subsidi energi habis pakai (full di BBM dan sebagian besar di listrik). Pengalihannya langsung tercermin dalam mega-mega proyek infrastruktur. Sebagian sudah tampak nyata dalam berbagai sumbangan traktor dan berbagai mesin-mesin modern pertanian yang sudah mulai didistribusikan kepada para petani di berbagai wilayah.
Di bagian akhir video “Panen Raya Ponorogo”, walau suaranya tenang, Amran Muhammad memperinci dengan tegas langkah-langkah pemerintah terkait masalah pangan. Termasuk pembangunan waduk, perbaikan irigasi dan pendampingan lebih terhadap usaha peningkatan produksi pangan. Semuanya sudah ketok palu di APBN 2015. Termasuk infrastruktur jalan berupa jalan-jalan tol untuk mendistribusikan hasil pangan dari satu daerah ke wilayah lainnya.
Menegaskan tekad pemerintah untuk menunjukkan keberpihakannya pada kaum agraris di tanah air, Presiden hadir langsung di Kalimantan Barat, bulan Januari kemarin.
Ini videonya ^_^ –> https://www.youtube.com/watch?v=sGlMiMc3vmo
CIMAL pun kembali beraksi. Kembali dengan betis telanjang, dengan kostum mewah kebangsaannya :p, Pak Presiden ikut terbungkuk-bungkuk di ladang berlumpur, meresmikan “Gerakan Tanam Padi”.
Bersamaan dengan gerakan swasembada pangan, pemerintah pun menghapuskan subsidi-subsidi lainnya seperti pupuk misalnya. Sudah lama tercium aroma busuk dari rupa-rupa subsidi salah sasaran seperti ini :(.
Siapakah yang terpukul atas keseriusan dan langkah-langkah nyata yang akan dan telah diambil pemerintah? Para MAFIA IMPOR pastinya :p.
Sudah menjadi rahasia umum, para MAFIA ini bergerak dengan bebas selama ini. Segala macam diimpor! -_-. Termasuk GARAM! Sungguh menakjubkan, Indonesia sebagai salah satu negeri dengan garis pantai terpanjang di dunia MENGIMPOR GARAM!
Ibu Susi yang nyentrik sudah menegaskan INDONESIA harus swasembada garam akhir tahun 2015! Diterjang segala berita miring dan rupa-rupa prasangka buruk, kini Ibu Susi sudah mulai sanggup membungkam kaum nyinyirun. Konon, pasokan ikan level internasional terguncang akibat kebijakan-kebijakan beliau ;). Go Bu Susi, Go Bu Susi ^_^. Percayalah, waktu akan berbicara!
Di masa pemerintahan lalu, Menteri Kelautan di masanya, Fadel Muhammad juga sudah pernah lho mengkritik tajam impor garam. Tidak hanya ngoceh saja, Pak Fadel nekat menyegel berton-ton garam impor di pelabuhan! Sayang sekali, langkah Pak Fadel tidak “mendapat restu” dari elit-elit lainnya :(. Singkat cerita, garam impor terus menjajah tanah air dan menikam produksi garam dalam negeri. Sila digoogling sendiri apa yang terjadi pada Pak Fadel setelah kenekatannya tersebut ;).
Bu Susi bebas melenggang, tentunya karena dukungan penuh dari BOS BESAR lah ^_^. Satu visi, satu misi ^_^.
Para MAFIA tentu tak tinggal diam. Perlawanan demi perlawanan terus dilakukan. Siapa tahu, pergolakan harga beras di banyak wilayah tak lepas dari campur tangan mereka yang tak rela lahannya dipangkas oleh pemerintah? ;). Wallahu alam :).
Tak mudah jalan pemerintahan baru untuk menebas “kalangan MAFIA” yang sudah beroperasi dengan “nyaman” selama bertahun-tahun. Termasuk mafia anggaran :D.
Pak Presiden tidak tanggung-tanggung. Mafia anggaran langsung disikut di jantung terkuat negeri, di IBUKOTA! :D.
Banyak lho yang menyanjung AHok setinggi langit karena sudah berani melawan “mafia anggaran” dan dengan sinis menghina Jokowi karena dianggap tidak seberani Ahok. Polos sekali sih orang-orang iniiiiiiii hehehehe. Gemas, gemas, gemas :p.
Coba lihat di video ini, pengakuan Ahok sendiri, https://www.youtube.com/watch?v=Phv3xgXxtRg … Saat ditanya oleh wartawan, “Kalau sudah ada indikasi dari tahun-tahun sebelumnya, mengapa baru ribut sekarang Pak?”
Dengan ceplas-ceplos, Ahok menceritakan mengapanya, cek dari menit 3 : 55 ^_^. Berbeda dengan Ahok, Jokowi memang lebih ‘tenang’. Sama-sama cerdik dan pemberani, kok mereka berdua ^_^. Bedanya, mungkin di level kesabaran saja hahahahahahaha.
Ahok berkisah, sebelum-sebelumnya, Jokowi memberi sudut pandang lain, jika dilaporkan di kurun waktu 2013 dan 2014 misalnya, “Presiden bukan orang kita, Jaksa Agung bukan orang kita, untuk apa…tidak akan ada hasilnya.”
Di situlah mungkin terpikir soal e-Budgeting. Bagaimana “mengunci” kesepakatan anggaran karena selama ini percuma diperkarakan. Pihak DPRD akan terus berkilah, “Lho? Yang nyusun anggaran kan Pemrov? Kami tidak tahu apa-apa!” :p.
Keberuntungan pun datang. Jokowi menyeberang ke Istana. Kini, Monas dikepung oleh Jokowi dan Ahok dari utara dan selatan :p. Inilah saat yang tepat untuk bergerak ;). Dengan restu Jokowi, Ahok akhirnya meledak! Hahahhahaha. Jadi, jangan lo kira Ahok itu panasan doang. Otaknya juga jalan kaleeeee. Tidak mungkin dia berani bertaruh sebesar itu melawan raksasa DPRD tanpa ‘beking’ penting yang menyokongnya. Segala tindak tanduk Ahok ya sudah diberi lampu hijau oleh Jokowi ;).
Kali ini, DPRD mau merengek ke mana? Hahahaha. Satu demi satu partai mulai ada ancang-ancang menarik diri dari hak angket. Negosiasi di tingkat elit pasti juga berjalan dong ;). DPP sudah mulai menyuruh perwakilannya di DPRD untuk mundur saja. Walau ada yang nekat, macam Pak Haji yang rambutnya belah tengah hihihihi, tinggal masalah waktu saja.
Kalau KPK lagi kena ‘drama’, ada Polri yang perlahan tapi pasti sudah mulai dikuasai oleh orang-orang dekat Pak Presiden. Mau lari ke mana lo? Hahahahahaha.
Tak sedikit yang mengira pertarungan antara KPK dan Polri adalah pertarungan murni antara yang kejahatan melawan kebaikan #eaaaaaaa. Yang terjadi sebenarnya adalah… pertarungan antar elit ;).
Cuma saja, “elit” yang berlindung dan memanfaatkan simpati yang besar dari masyarakat kepada KPK belum benar-benar berani menunjukkan belangnya saja :p. Petunjuknya mah sudah bertebaran di mana-mana dan sudah muncul satu persatu ;). Tinggal tunggu gong-nya saja ^_^.
Tekanan kepada Pak Presiden memang cukup berat. Masyarakat yang tadinya mendukung pun sekarang mulai goyah :). Tak bisa disalahkan juga. Para lover kan juga tekanannya berat. Sedikit-sedikit disuruh gigit jari, sedikit-sedikit disuruh gigit jari hahahahahahahha.
Apesnya, saya juga kena mention di mana-mana hahaha. Sudah banyak yang tahu, dimari fans Pakde versi garis keras. Garis super keras hahahaha. Bersamaan dengan masa-masa kritis tersebut, saya juga mengalami masalah pribadi yang menyebabkan harus menghilang sebentar dari dunia FB :p.
Tak sedikit yang panik dan kirim inbox juga lho hahahahaha. Ada apa dengan Jokowi? Mereka mengadu. Eike berasa pengamat politik *benerinDaster* :v :v. Saya hanya menyarankan kepada mereka yang mau bersusah payah inbox ke saya, “Kalau tak sanggup tabayyun dan bingung, leave it!” :). Simpel kan? Jangan termakan hasutan media :). Kecuali memang kalian punya fakta komplit ;).
Kalau hanya mengandalkan emosi, biasanya hitam akan menjadi putih, putih pun mendadak bisa jadi hitam. Jadi, hati-hati mengolah informasi 🙂 –> https://www.youtube.com/watch?v=KG0zvYPPtUE
Kalau pun dituduh tidak cerdas, tidak kritis, penggemar buta, ya apalah daya dan upaya saya :p.
Dalam banyak pengalaman yang telah lalu, kalau tak punya informasi akurat, berprasangka baik akan selalu menjadi pilihan yang terbaik ^_^.
Masih ingat ini? 🙂
Allah Merahasiakan Masa Depan
Untuk Menguji Kita
Agar Berprasangka Baik,
Merencana Dengan Terbaik
Berusaha Yang Terbaik,
Serta Bersyukur Dan Bersabar
Mengkhawatirkan masa depan sama SIA-SIAnya dengan menyesali masa lalu. Masa depan adalah tempat kita berharap, masa lalu adalah tempat kita belajar. Jangan sampai terbalik ^_^.
Untuk Pak Presiden yang kini katanya tengah mengalami penurunan pamor (menurut timeline di dunia maya sih hahahhahaha), ini adalah pertarungan yang harus dilewati ^_^. Bagian utama dari ujian kepemimpinan. Kan bapak-nya sendiri yang mau jadi presiden? Resiko tanggung sendiri :D.
Bukankah memang begitulah adanya bahwa “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan -Syahrir-”
Tekanan dari elit partai, tekanan dari publik dan media, bahkan menurunnya dukungan dari supporter setia pun, tidak membuat beliau patah arang. Tidak pernah rasanya saya mendapati berita, beliau mendadak curhat di publik hihihihihi :p.
Beliau tetap berkeliaran di segala penjuru negeri, tetap fokus di visi dan misi pembangunan terpadu untuk seluruh negeri ^_^. Coba saja lihat sepak terjangnya dari Januari sampai Maret ini. Jadwal blusukan jalan terusssssss. Situ mah bacaannya headline Detik sama Kompas melulu. Sekali-sekali ikuti perkembangan berita ekonomi secara luas lah ;).
Walau sesekali wajah kusut beliau pun tertangkap kamera. Tidak apa-apa ya, Pak. Tetap semangat mengobarkan semangat di setiap pelosok nusantara ^_^. Negari ini bukan hanya milik mereka, kaum menengah di perkotaan yang juga biasanya bagian dari penduduk dunia maya yang berisik hahahahahaha.
Simpan lelahmu dalam hati saja :).
Doa terbaik untuk pemimpin negeri semoga terus teguh memperjuangkan kepentingan masyarakat luas. Walau tentu tak mudah dan tidak mungkin untuk menyenangkan semua pihak :).
As they said,
The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy. -Marthen Luther King, Jr-
Daftar Presiden RI : Akhir-akhir ini, entah hanya untuk sekadar mengolok-olok kepemimpinan Jokowi yang dianggap hanya sekadar boneka dan ‘lemah’ … atau memang mendadak pada ngefans sama Bung Karno –> banyak beredar tulisan-tulisan atau video-video yang menggambarkan sepak terjang presiden pertama Indonesia yang memang bikin semangat selalu sontak membuncah-buncah itu ^_^.
Lucu juga, sih, orang-orang yang dulu menyerang Bung Karno yang ‘tidak islami’, istrinya banyak bla bla bla, sekarang juga ikut-ikutan memuja hihihi. Apa pun demi menjatuhkan Jokowi la yawww :v :v :v. Kalau dulu menyerang dari sisi ‘keislaman’ sekarang ganti konsep lagi ni yeeee :p.
Presiden RI ke-7 : Joko Widodo
For sure, i’m one of Bung Karno’s biggest fans. Ngefans sama Bung Karno, terpesona sama Pakde Jokowi dan tentu saja … Fendy Pradana adalah aktor idolaku sepanjang masa #eh hahahahhahahahaha :v :v :v. Inget Nyai Kembang nih gara-gara Mak Fardelyn posting-posting soal Sembara hihihihi :p.
Bung Karno memang bukan orang biasa. Entah sudah berapa buku biografinya yang pernah saya baca. Tapi makin dibaca kita jadi makin sadar, segitu besar keistimewaan beliau, toh Bung Karno itu juga manusia biasa ;).
Cara yang cukup tepat (menurut saya) untuk menunjukkan ‘kelemahan’ Bung Karno adalah dengan membaca lebih banyak soal Bung Hatta :). Mungkin terpikir dengan ‘mundur’nya Bung Hatta dari tampuk kekuasaan duet maut tokoh proklamator ini, otomatis menunjukkan Bung Karno lebih jawara daripada beliau :).
Untuk saya, lebih cocok jika dibilang … tiada satu yang melampaui yang lain. Bukan masalah siapa yang lebih keren siapa yang lebih bersifat ‘pemimpin’. Karena keduanya … BEDA! :). Baik Bung Karno dan Bung Hatta, sama-sama mencita-citakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi bangsa yang mereka kawal sejak remaja, tampil berdua di podium di 17 Agustus 1945 hingga akhirnya terus memimpin bersama sampai akhir 50 an. Sebelum pecah kongsi hehehe :p.
Presiden RI 1 : Soekarno
Justru kalau saya bilang, dengan tidak mengurangi kekaguman kepada Bung Karno, Bung Hatta juga mengajarkan hal yang tidak kalah pentingnya. Mengalah untuk kedamaian. Bung Hatta, yang belakangan sudah tidak merasa cocok dengan Bung Karno yang dari dulu memang rada-rada ‘narsis’ (perhatikan ada tanda kutipnya ya Kakaaaa :p), memilih untuk mundur dan berlalu begitu saja. Tidak berusaha menggalang kekuatan untuk melawan.
Di masa-masa pra kemerdekaan dan pergerakan era sebelum 1945, Bung Hatta tak pernah berusaha merecoki sepak terjang Bung Karno yang memang lebih suka “tampil sendiri”. Gaya orasinya yang bak singa mengaum di atas podium memang dirasa cocok untuk membakar semangat perjuangan kaum muda yang butuh disatukan untuk melawan penjajah.
Tapi apa yang terjadi setelah kemerdekaan sudah direbut? Bung Karno tidak berubah. Sementara Bung Hatta sudah mulai melihat ‘something was wrong’.
Bung Hatta lebih menginginkan agar kepemimpinan yang dibina bisa menularkan semangat yang sama hebatnya. Bisa menciptakan”Soekarno-soekarno” baru dan tidak terfokus pada satu orang. But again… Bung Karno tidak berubah :).
Melihat Bung Karno vs Bung Hatta seperti melihat dua sosok sanguinis-koleris vs melankolis-phlegmatis, gak, sih? Hehehe. Dimana secara psikologis, konon dunia tak akan mungkin berputar dengan sempurna tanpa kehadiran keempat tipe ini ;).
Pasca beberapa lama setelah merdeka, Bung Hatta sudah merasa ini saatnya mereka berpikir “Ayo kita lakukan ini bersama-sama” dan mengajak rakyat sebagai ‘rekan’. Kita, kita, kita. Bukan lagi mencocok hidung mereka dengan berdiri sendirian di garis terdepan. Sementara sepetinya Bung Karno tetap berpikir, “Saya sanggup melindungi kalian. Kalian aman bersama saya. Sayalah penyelamat kalian. Percayakan pada saya.” Saya, saya, saya.
Hmm…Sounds familiar, no? 😉
Untuk alasan yang sama dengan Bung Hatta (idih, siapa emang lo? nyama-nyamain diri sama bung Hatta, ngaca woi ngacaaaaaa hehehe), di Pilpres kemarin saya lebih condong kepada sosok Jokowi :).
Gambar : fototokoh.com
Bung Karno masih terpikir soal harga diri bangsa di mata negara lain dengan sibuk nyinyirin Malaysia dan ribut-ribut menantang si Negeri Jantung Dunia, Bung Hatta lebih ingin agar pemerintahan terfokus dengan ekonomi kerakyatan via konsep Koperasi-nya :).
Kira-kira mungkin Bung Hatta bilang gini, “Rakyat lapar, No. Orang lapar kok disuruh nyolot, No. Kenyangin dulu perutnya, No. Kasihan pada enggak sekolah. Sekolahin yuk, No. Biar pinter. Biar nanti mereka bisa bantu kita.”
Sementara Bung Karno menampik, “Cuy, harga ini, Cuy. Harga diri! Buat apa mereka kenyang kalau mereka terjajah.”
“Lah, sekarang penjajahnya ada di dalam, No.”
“Nope. Pokoknya kita harus lawan Amerika!”
Bung Karno mungkin masih terbuai dengan cara-cara di masa-masa pergerakan sebelum kemerdekaan melawan penjajah dan siapa saja di luar sana. Tapi Bung Hatta sudah ingin berpusat pada kondisi di dalam negeri.
Sebuah tulisan Bung Hatta di tahun 1962, hanya perlu dicetak ulang untuk menggambarkan situasi negeri ini sekarang :
“Dimana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita. Sementara nilai uang makin merosot.
Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik. Pelaksanaan ekonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tak banyak yang puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.”
Kita nyaris tak perlu mengubah satu kata pun :(.
—–
Benarlah bila salah satu buku biografi Bung Hatta itu berbunyi, “Hatta, Jejak Melampaui Zaman.” Daya analitisnya yang tajam dan mendalam sudah sanggup menembus problema masa depan :D. Jiaaaah, dah lama gak denger kata “Problema” hihihihi.
Sebenarnya ya, kalau membaca beberapa buku sejarah tentang akhir kepemimpinan Bung Karno, sang pemimpin pertama ini pun sudah ‘mencium’ gelagat tidak beres. Keputusan Bung Karno untuk menghapus Pileg justru untuk ‘membatasi’ ruang gerak PKI yang makin membesar.
Bung Karno sudah paham jika telah beliau terjebak diantara ‘cinta segitiga’ antara kepemimpinannya, rongrongan PKI, dan terjangan ‘Geng Motor’ eh ‘Geng Angkatan Darat’ maksudnya hihihi. Nasakom yang diusung Bung Karno saat itu tengah menggali kuburannya sendiri.
Inilah bedanya orang Sanguinis sama Melankolis, ya. Sanguinis itu cenderung optimis. Mereka seolah selalu melihat jalan cerah di depan sana. Impulsif dan sering kurang pertimbangan. Sementara Melankolis seakan selalu bisa menemukan masalah di setiap tikungan yang diambil. Penuh pertimbangan dan biasanya sangat hati-hati dalam bersikap.
Bung Karno itu yakin sekali kepemimpinannya sanggup menjembatani kaum nasionalis, agama dan komunis. Cita-cita yang mulia. Sayang sekali, hingga tulisan ini dipublish, ketiganya hampir tak mungkin untuk hidup rukun bareng-bareng :(.
Soal ilmu agama, keduanya sama patennya. Jangan karena cap ‘genit’ yang menempel padanya lantas kalian mengira Bung Karno tak paham agama ;). Saya pribadi sangat kagum dengan buah pikiran Bung Karno yang cocok dengan kesislaman yang saya tahu. Sebagian besar, tentu tak semuanya :D. Banyak yang sering mempertentangkan Buya Hamka dan Bung Karno. Padahal perselisihan mereka bukan di ranah akidah ;).
Walau hubungan politik Bung Karno tidak begitu harmonis dengan baik Bung Hatta maupun Buya Hamka, tapi personally … mereka selalu bersahabat karib :). Ibarat kata kalau dulu ada Facebook, mereka nyolot-nyolot-an di wall tapi enggak pernah sampai unfriend atau unfollow. Hahahahaha.
Sutan Syahrir pun, pasca dilumpuhkannya PRRI/Permesta, menolak untuk ikut bergosip soal Bung Karno dalam tahanan bersama petinggi-petinggi PSI yang lain saat dijebloskan ke penjara oleh Bung Karno. PSI ditengarai terlibat dalam pemberontakan. Sutan Syahrir tidak mau menjelek-jelekkan atau ikut mengkritisi Bung Karno. Mungkin sadar diri juga dan demi nostalgia masa lalu dimana mereka bersatu padu dalam perjuangan meraih kemerdekaan.
Perdana menteri RI 1 : Sutan Syahrir
Kalau Bung Hatta yang asli Bukittingi, sih, dari kecil sudah dibesarkan dengan didikan keislaman yang kental khas Ranah Minang di daerah asalnya. Anak pesantren beneran hehehe. Bung Karno sendiri belajar agama dari buku-buku dan pergaulan luas dengan hampir semua kalangan agamis di masa itu :).
Dari Bung Karno kita belajar menumbuhkan harga diri bangsa di kancah internasional. Bung Hatta menyempurnakannya dengan menegaskan bahwa harga diri adalah sesuatu yang intrinsik. Dari dalam ke luar. You never shine if you don’t glow ;).
Kedua bapak bangsa ini punya ‘wajah’ masing-masing untuk memperbaiki bangsa. And so do the other Indonesian leaders :).
Soeharto menyadari kesalahan kepemimpinan Bung Karno dan berusaha memperbaikinya. Sayangnya, nafsu duniawi tak terelakkan. Bertahun-tahun berkuasa, pembangunan bertopang pada utang luar negeri yang mungkin sebagian masuk kantong sendiri :p. Asyik menumpuk utang mungkin dikiranya dolar bakal dua ribu perak terus hhihihi.
Presiden RI 2 : Soeharto
Lalu duaaarrrr!!! Tahun 1998, pembangunan yang berdiri di atas pondasi yang rapuh lebur berkeping-keping tak kuasa melawan krisis ekonomi dunia. Ambruk begitu saja akibat beban utang yang membludak.
Dan kalian asyik saja menyalahkan pemerintahan Megawati yang jual sana sini :p. Apa tahu kondisi ekonomi Indonesia saat itu? :). Macam aset itu punya Megawati pribadi aje. Yuk ah, keputusan jual sana sini itu adalah keputusan bersama antara legislatif dan eksekutif demi mengatasi retaknya perekonomian di masa itu. Bisa saja memang itu bukan keputusan yang tepat. Tapi situ punya solusi apa emangnya? :p.
Presiden RI 5 : Megawati Soekarno Poetri
Begitu pun dengan almarhum Gus Dur yang begitu gigih mempertahankan kemajemukan bangsa dalam satu ikatan yang kuat. Tidak banyak negara di dunia yang punya keragaman budaya/agama seperti Indonesia dan tidak larut dalam perang saudara.
Myanmar saja yang keragaman sukunya cuma seuprit dengan 2 agama yang menonjol masih terus berkutat dalam urusan ginian. Berbangga hatilah jadi orang Indonesia 🙂.
Presiden RI 4 : Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Pak Habibie yang berjuang sama ribetnya walau cuma punya waktu kurang dari setahun untuk mengembalikan dolar sempat ke angka 6500 perak ya waktu itu :). Tapi di akhir masanya, orang-orang malah lebih ingat soal Timor Timur yang akhirnya lepas pasca referendum di era Pak Habibie.
Tapi habis muncul di Mata Najwa di awal tahun 2014 ini, orang-orang ngefans lagi sama beliau. Labil amat sih jadi orang hihihi :p.
Presiden RI 3 : BJ Habibie Gambar : tempo.co
And then here comes SBY dan JK. Salah satu duet terbaik mungkin pasca Soekarno-Hatta :). Walau di tahun 2009, SBY mentalak JK hehehe :p.
Di akhir kepemimpinan Pak SBY, jangan nyinyir aja kauuuu. 😀 Akuilah, perekonomian negara kita tidak lebih buruk dalam 10 tahun pemerintahan beliau ;). Mungkin, suatu hari pun kita bakal bikin kaos bergambar SBY lagi nyengir dengan tulisan “Piye kabare, sing penak jamanku toh?” Hahahahahahhaha.
Wakil Presiden RI (2x) : Jusuf Kalla
Macam meme gambar Soeharto yang beberapa tahun terakhir ini sedang hits dengan tulisan bernada sama :D. Padahal di tahun 1998, Pak Harto jadi musuh bersama gitu :p.
Siapa pun mereka, diantara sekian banyak pro dan kontra, pasti pernah terselip dalam hati masing-masing untuk memperjuangkan cita-cita yang sama, mimpi yang sama untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Mari berprasangka baik :D.
“Respect was invented to cover the empty place where love should be.”
― Leo Tolstoy
If it’s almost impossible to love them, at least … show some respect ;).
Jadi, terima kasih atas 10 tahun yang memang tidak indah-indah banget ini ya, Pak SBY. Semoga jasa-jasa Bapak bagi pembangunan bangsa ini bisa terus dikenang dan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT :). Lebih dan kurangnya semoga bisa menjadi pembelajaran untuk presiden Indonesia berikutnya.
Walau tidak mengapa kalau kita mengkritisi asal tujuannya memang untuk perbaikan.
Thanks for everything, ya, Pak SBY. Salah satu vote untuk Bapak di tahun 2009 itu datang dari saya yang bela-belain tetap nyoblos ke KBRI Tehran waktu itu :D.
Sebuah sudut di Museum Ullen Sentalu – Lereng Merapi Yogyakarta, “Ruang Putri Dambaan”, masih menyisakan jejak kecantikan sang putri. Namanya Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, dari keraton Mangkunegaran.
“Putri Dambaan” bukan julukan sembarangan. Tak serta merta disematkan karena wajah rupawan yang membawanya menjadi salah satu yang tercantik di masanya. Tak sebatas pula karena dia mahir berkuda, menari, menulis sajak, bahkan bermain tenis, suatu yang tak begitu lazim bagi seorang putri keraton di zamannya.
Lebih dari itu, putri dari Mangkunegaran ini pernah menampik lamaran dari tokoh sebesar Bung Karno dan membenamkan harapan seorang Sutan Syahrir. Daftar pria yang patah hati karenanya juga mencakup Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan panglima tentara kenamaan, Kolonel GPH Djatikusumo.
Gusti Nurul hanya satu diantara banyak putri-putri keraton nusantara yang pernah mencuri perhatian karena kecantikan dan kepribadian mereka. Konon, salah satu rahasia kecantikan, sekaligus konsep merawat diri khas ala putri keraton adalah … mengkonsumsi jamu :).
Jamu, Warisan Masa Lampau Nusantara
Obat tradisional sebenarnya sudah dikenal umum di banyak negara. Korea Selatan yang juga disebut sebagai Negeri Ginseng saking terkenalnya penggunaan ginseng sebagai alternatif pengobatan. Tidak hanya di wilayah Korea dan sekitarnya, khasiat ginseng sudah mendunia.
Khusus untuk obat-obatan tradisional asal Indonesia yang dibuat dari bahan-bahan alami ini disebut sebagai jamu. Biasanya dibuat dari bagian-bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang, kulit atau buah.
Jamu sudah dikenal sejak dahulu kala. Bahkan beberapa bukti sejarah yang kebanyakan berasal dari primbon menunjukkan bahwa jamu sudah dikenal sejak abad ke-5.
Tidak hanya primbon, kegiatan membuat jamu bisa ditelusuri dari relief-relief pada candi Borobudur, Prambanan, dll. Lebih lanjut mengenai bukti sejarah bahwa jamu adalah warisan asli dari masa lampau nusantara bisa dilihat di tautan berikut ini.
Jamu kerap dikait-kaitkan dengan budaya Jawa. Tapi sebenarnya tidak juga.
Saya sendiri, yang asli berdarah bugis, sudah tidak asing dengan jamu-jamuan sejak kecil. Ibu punya langganan embak jamu gendong semasa kami masih bermukim di kota Makassar.
Setelah menikah, apalagi sehabis melahirkan, ibu mertua juga yang paling getol menyarankan saya menggunakan ramuan tradisional untuk memulihkan kondisi. Jamu-jamuan yang saya gunakan mencakup obat minum dan obat usap (di kulit). Jangan salah, ibu mertua saya asli Minang, lho ;).
Jadi, budaya ber-Jamu bukan hanya dominasi golongan tertentu di tanah air.
Jamu : Merawat, Mencegah, Mengobati Sekaligus Memulihkan
There are things that money can’t buy. Diantara hal-hal yang tak tertukar dengan harta seberapa pun banyak itu adalah … kesehatan. Harapan kita, apa pun yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan harusnya bukan hal yang sulit untuk dipasarkan. Termasuk penggunaan jamu ini.
Terlebih lagi, kini dunia kesehatan modern cukup gencar memberikan edukasi penggunaan obat-obatan kimia secara rasional. Seharusnya produsen jamu bisa ikut memanfaatkan momen ini dan menawarkan jamu sebagai alternatif utama.
Saya ingat di salah satu kunjungan ke dokter gigi, dokter saya bilang begini, “Obat kimia itu sebenarnya racun bagi tubuh. Jadi, jangan sembarangan dipakai. Hanya untuk emergency saja. Selama sakitnya masih bisa ditahan, obatnya tidak perlu diminum, ya, Mbak.”
Jamu-jamuan bisa dibilang memiliki kemampuan yang hampir setara dengan efek obat-obatan kimiawi dengan satu kelebihan yang menonjol : jamu-jamuan memiliki efek samping yang jauh lebih ringan. Tentu saja hal ini bisa dicapai dengan memperhatikan betul-betul sisi higienis dan takaran.
Aneka ramuan tradisional yang memiliki efek pengobatan antaralain :
Ramuan mengkudu yang multifungsi. Mengkudu paling sering disebut-sebut dalam pengobatan kanker selain ramuan daun dewa dan ramuan daun ceremai.
Ramuan lengkuas/laos yang bisa mengobati rasa mual/mabuk saat berkendara
Timun dan kunyit yang juga berfungsi sebagai obat luar/obat oles. Keduanya bisa menghaluskan kulit dan mengobati kulit ketiak yang kehitaman.
Ramuan kapulaga, kayu manis, cengkeh dan campuran lainnya bisa meredakan keluhan asam urat.
Tidak hanya mumpuni dalam hal pengobatan dan pemulihan, jamu juga erat kaitannya dengan fungsi perawatan dan pencegahan.
Penyakit degeneratif seperti kanker makin menghantui banyak orang. Terutama penduduk di kota-kota besar. Konon, hal ini tak lepas dari gaya hidup modern yang makin menjauh dari hal-hal yang bersifat alami. Makin lama makin didominasi oleh yang serba instan. Pola makan salah satunya. Tak sedikit ahli yang mengungkapkan kanker sebenarnya bisa dicegah dengan memperhatikan asupan yang dikonsumsi tubuh sehari-hari.
Sekilas dari tante saya yang pernah divonis menderita kanker payudara saya mendengar tentang khasiat ramuan kunyit putih yang ditengarai bisa mencegah kanker. Setidaknya bisa mencegah peningkatan ke stadium lebih lanjut.
Upaya pencegahan itu selalu lebih ‘murah dan mudah’ daripada mengobati.
Upaya Melestarikan & Mempopulerkan Jamu
1. Buzzer Selebritis sebagai Duta Herbal Nusantara
Manfaatkan instagram, twitter dan media sosial yang kini sudah lebih bergema pengaruhnya daripada media klasik seperti televisi dan media cetak. Beberapa kalangan bisa memiliki followernya sejumlah ratusan ribu.
Salah satu tips pemasaran dari buku terkenal Tipping Point menyebutkan tentang pemanfaatan sekelompok orang yang bersifat “Maven”. Para Maven ini memiliki pengaruh istimewa di mata banyak orang. Entah mengapa, mereka bisa mempengaruhi pilihan orang banyak. Mungkin semacam trend setter.
Jangan salah, sosok trend setter/selebritis di dunia maya tidak melulu harus dari kalangan artis atau “orang-orang penting”. Terkadang, seorang ibu rumah tangga biasa, dengan caranya yang unik, bisa memikat perhatian publik di dunia maya. Dalam artian yang positif tentunya.
Tinggal mencari sosok yang kira-kira punya pengaruh besar terhadap calon konsumen. Ada kemungkinan memilih beberapa orang sesuai dengan target pasar. Misalnya, konsumen ibu-ibu, konsumen lelaki atau konsumen remaja. Agak tidak mungkin jika semuanya diwakilkan oleh satu orang. Konsepnya ringan saja. Upload foto-foto santai si buzzer dalam kegiatan sehari-hari lebih bagus. Terlihat lebih natural.
Cara ini sudah sering dipakai. Salah satu ajakan hidup sehat via “running activity” yang makin booming di tanah air tak lepas dari peran aktif para “Maven” yang terus menerus mempromosikan ajakan ini via akun-akun pribadi mereka.
Apalagi kalau ‘pemantik api’nya adalah orang nomor satu di tanah air, ya?
Bagaimana pendapat anda tentang foto di bawah ini? Saya ambil fotonya dari fanpage Bapak Joko Widodo di salah satu media sosial. Beliau mengakui kalau salah satu tips sehat andalannya adalah jamu :).
Bapak Jokowi dan Bapak Jusuf Kalla minum jamu temulawak
2. Jamu di Hotel-hotel.
Orang-orang asing suka sekali sentuhan natural. Mereka datang umumnya ingin melihat sesuatu yang berbeda dan khas.
Berbagai pengalaman menginap di beberapa penginapan/hotel, tak sedikit yang menyediakan semacam “welcome Drink”. Umumnya berupa minuman ringan seperti jus jeruk. Mengapa tidak menyediakan ramuan jamu yang setipe dengan minuman ringan yang standar. Jangan juga nekat, orang asing langsung disuguhi jamu nan pahit yang tentu sulit diadaptasi oleh lidah mereka.
Hotel-hotel dan penginapan-penginapan di berbagai kawasan wisata bisa diupayakan menjadikan jamu sebagai “welcome drink”. Kalau perlu dijadikan salah satu menu sarapan.
3. Memanfaatkan International Channel
Misalnya, bekerja sama dengan kosmetik internasional untuk membuat brand khusus yang memanfaatkan herbal nusantara untuk konsumsi pasar Indonesia dan sekitarnya.
Jika mungkin pemasaran mencakup Asia. Bekerja sama dengan produsen pasta gigi misalnya. Promosikan penggunaan buah kepel sebagai pasta gigi. Bekerja sama dengan brand yang sudah mapan bisa menghemat rantai pemasaran mengingat mereka sudah punya nama.
Kebiasaan konsumen tanah air yang lebih memilih menggunakan produk yang punya embel-embel internasional harus mendapat perhatian khusus. Tidak ada gunanya ‘melawan’ arus globalisasi macam ini. Yang lebih baik kita lakukan adalah mengoptimalkan potensi untuk ikut berkembang dalam arus perubahan.
Terobosan ini sangat mungkin. Mengingat potensi pasar Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak no.4 di dunia. Jangan hanya pasif sebagai konsumen. Kekuatan pasar / konsumsi dalam negeri harus kita jadikan posisi tawar yang penting. Pemerintah dan seluruh jajaran terkait harus pandai-pandai memanfaatkan kesempatan untuk mendesak ‘produsen asing’ untuk keuntungan negari sendiri ;).
Tentu ada kompensasi khusus bagi mereka yang menyetujui kerja sama ini. Semacam simbiosis mutualisme tepatnya. Menguntungkan kedua belah pihak.
4. Re-branding Jamu kepada generasi muda
Mengasah terus kreatifitas untuk pengenalan herbal sejak dini. Misalnya: buku-buku cerita dengan menggunakan tokoh-tokoh rempah-rempah seperti Jahe, Kemiri dll. Dibuat karakter-karakter seperti penokohan buah-buahan atau hewan-hewanan yang sudah sering dilakukan.
Contoh karakter buah-buahan dari www.fruitycuties.com
Contoh lainnya adalah tokoh Popeye, salah satu kartun asal Negeri Paman Sam yang cukup laris di masanya. Konon, Popeye dibuat agar mendapatkan kekuatan ekstra dari kegemarannya makan bayam, agar anak-anak tertarik untuk mengkonsumsi sayur-sayuran.
5. Penertiban tata kelola usaha yang berhubungan dengan pengobatan alternatif.
Mencerdaskan masyarakat memang sangat perlu. Karena tidak sedikit pihak yang mengatasnamakan pengobatan alternatif berbahan alami/herbal/jamu-jamuan yang ternyata hanya kedok untuk mengeruk keuntungan materi tanpa memperhatikan keselamatan konsumen.
Sebenarnya pengobatan alternatif berbasis bahan alami/herbal/jamu-jamuan ini bisa bersanding bersama-sama dengan pengobatan medis yang mengacu pada penggunaan bahan-bahan kimiawi. Khasiat jamu memang ada dan sudah banyak yang mengakui dan bisa dibuktikan secara ilmiah. Tapi ketidakdisiplinan pihak-pihak terkait dalam pengelolaan izin usaha yang berbasis obat tradisional/jamu bisa merusak upaya pelestarian jamu sebagai pengobatan alternatif yang baik dan benar.
Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga
Ribut-ribut atas rencana pemerintah menaikkan BBM baru-baru ini membuat banyak orang terlalu fokus kepada sumber migas nusantara yang (katanya) masih melimpah ruah itu. Yang orang-orang lupa bahwa sebanyak-banyaknya potensi migas suatu hari akan habis juga. Karena migas adalah sumber daya yang tidak bisa diperbaharui.
Berbeda dengan sumber daya alam non migas yang bisa terus kita rawat dan pelihara agar lestari. Alam sudah diciptakan Tuhan dengan segala kesempurnaannya. Tinggal manusianya saja yang harus pandai-pandai mengolah dan menjaganya.
Sumber daya alam non migas yang dikandung oleh tanah Indonesia sangat beragam. Termasuk kekayaan rempah-rempahnya. Agar tidak lupa, penjajahan ratusan tahun oleh bangsa Eropa terhadap bumi nusantara tak lepas dari pesona rupa-rupa rempah-rempah ini.
Dengan rangkaian produk alam yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, kekayaan rempah-rempah yang sedari dulu telah menggoda dunia luar untuk datang bertandang, tidak muluk-muluk bukan? Tanah Indonesia adalah tanah surga :).
Dari tanah surga inilah, rangkaian produk jamu bisa muncul dan berkembang. Adalah tugas kita untuk melestarikan jamu sekaligus merawat dan memelihara sumber daya alam non migas berupa rempah-rempah yang beraneka ragam di atas bumi nusantara.
Pertengahan tahun 2009 kala tengah bermukim di kota Tehran, Iran, saya terkesima melihat sebuah Iklan pariwisata yang wara wiri di layar kaca. Bukan di stasiun televisi sembarangan, tapi muncul berulang kali di channel sekelas BBC dan CNN.
Dengan pengambilan gambar yang cantik dan latar suara musik tradisional yang merdu, semua keterangan ditulis dalam bahasa Inggris. Iklan ini dibuat dengan sangat profesional.
Melihat sepenggal tayangan dimana seorang perempuan cantik tengah menikmati buah durian, langsung ingat jajanan tanah air.
Potongan-potongan gambar berbagai penari dengan pakaian adat mirip suku Dayak, sekelompok orang bermain gamelan, tiga orang yang tengah membakar sate, jajaran shopping centres, sekelebat bayangan candi-candi, anak-anak kecil mengendarai kerbau di pinggiran sungai, pesisir pantai cantik seperti yang mudah ditemukan di Bali maupun Lombok, ragam flora dan fauna khas nusantara, saya yang memang tengah kangen pada tanah air langsung terharu dan kegirangan, “Astaga, kerennya Indonesiaku.”
Rasa sesak di dada luntur seketika saat di akhir tayangan, muncul sebaris kalimat “Malaysia Truly Asia.”
***
Hingga kini, urusan pariwisata (sosial-budaya) masih sempat mewarnai perselisihan antara Indonesia dan negara-negara tetangga. Khususnya dengan Malaysia, yang memang di beberapa wilayah berbagi daratan yang sama dengan Indonesia.
Sebagian masyarakat Indonesia sibuk menyalahkan pihak asing sebagai ‘pencuri budaya’. Lupa menyadari kelemahan kita sendiri yang kurang telaten merawat rupa-rupa warisan budaya Nusantara.
‘Perselisihan’ yang mungkin dirasa kecil namun bisa berdampak besar, tentunya bukan sinyal yang baik bagi percepatan pembentukan Komunitas ASEAN 2015, yang awalnya digagas untuk tahun 2020. Komunitas ini dibangun berdasarkan keinginan negara-negara di belahan tenggara benua Asia untuk bersinergi secara optimal di bidang Keamanan, Ekonomi dan Sosial Budaya.
Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu
Namun, jangan lupa. Sinergi ini akan memungkinkan terbukanya berbagai akses untuk memudahkan lintas bisnis diantara sesama negara-negara ASEAN. Dampak ekonomi yang paling mendapat sorotan tajam. Disertai pertanyaan besar, siapkah Indonesia? Siapkah kita?
Rumitnya Posisi Indonesia dalam Segi Keamanan dan Ekonomi
Membahas masalah keamanan tentu bukan bidang saya, seorang blogger biasa yang hanya punya latar belakang IT :). Tapi jelas, dengan melihat geografis nusantara yang dibentuk oleh gugusan pulau besar dan kecil dan dipisahkan dengan perairan yang luas, tantangan besar diemban oleh pemerintah kita. Daripada sok tahu, mari kita bantu dengan doa saja :).
Segi ekonomi pun terbilang rumit. Diantara negara-negara ASEAN yang lain, Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar. Jauh lebih besar daripada negara yang berada di urutan ke-2, Filipina, yang diperkirakan berpenduduk sekitar 100 juta jiwa. Sementara Indonesia sudah menembus 250 juta jiwa.
Tentu saja, mengurusi penduduk dengan angka fantastis bukan perkara gampang buat pemerintahan mana pun. Walau ditopang dengan sumber daya alam yang juga melimpah, tetap saja segi pengelolaan adalah tantangan terbesar untuk pemerintah.
Seperti negara-negara berkembang di negeri tetangga yang berpenduduk sangat banyak, Filipina dan Thailand, Indonesia sudah selayaknya melirik lapangan kerja di luar negeri. Agak riskan jika lebih dari 250 juta jiwa ini hanya menggantungkan hidup dari dalam negeri saja. Jangan lupa, devisa adalah salah satu sumber keuangan yang penting bagi tiap negara. Devisa nomor 2 disumbangkan oleh para pekerja asing yang menyumbangkan penghasilannya ke tanah air.
Selain memberi kontribusi nyata berupa ‘kiriman uang’ secara berkala ke negeri tercinta, para perantau asal tanah air juga bisa ‘mempromosikan’ Indonesia di mana pun mereka berada. Setiap warga di negeri perantauan adalah duta bagi bangsanya. Sebagai salah seorang perantau, hal simpel yang sering dilakukan suami saya adalah mengenakan batik ke kantor atau memakai kopiah hitam saat melaksanakan ibadah di masjid.
Di Iran, Malaysia sangat terkenal sebagai salah satu tujuan wisata bagi penduduk setempat. Di Eropa secara umum, Thailand sering disebut-sebut karena keindahan alamnya. Sementara Filipina mengirimkan warga negaranya ke berbagai belahan dunia. Bayangkan, dari Saudi hingga Irlandia, saya menyaksikan sendiri tenaga kerja medis asingnya dikuasai oleh orang-orang Filipina.
Para negeri tetangga ini sungguh matang dalam berbaur dengan bangsa lain. Wah, bikin jiper juga. Akan seperti apa kita kala harus berbaur secara ekonomi dengan mereka di Komunitas ASEAN 2015 nanti?
Sosial Budaya, Waktunya Indonesia Unjuk Gigi!
Sekilas kita merasa jumlah penduduk yang melimpah menjadi kelemahan utama Indonesia untuk bersaing secara kompetitif dari segi ekonomi. Tapi, kita selalu bisa mencari celah, mengubah kelemahan menjadi kekuatan ;).
Era digital membawa media sosial menjadi salah satu sumber informasi dunia. Media sosial memperkenalkan kita kepada komunitas blogger. Orang-orang dari berbagai kalangan yang berbagi kata/rasa/makna/gambar sesuai dengan karakter masing-masing di berbagai fasilitas blog di dunia maya. Termasuk diantaranya, Komunitas Blogger ASEAN. Indonesia jelas punya potensi besar dalam menyongsong Komunitas ASEAN 2015dengan Integrasi Konstruktif Berbasis Kerakyatan (people centered).
Gambar : aseanblogger.com
Hanya dengan memainkan jemari di atas keyboard atau layar ponsel, begitu banyak hal yang bisa kita sebar ke seluruh penjuru dunia. Indonesia punya banyak stok jari-jari yang bisa disumbangkan oleh lebih dari 250 juta pemiliknya :D. Tak cuma menciptakan pasar ekonomi yang besar, keuntungan 250 juta jiwa sangat penting dalam penyebaran informasi.
Berbagai bentang alam dan macam-macam bentuk geografis yang terpisah-pisah memang menyulitkan sistem kontrol dan kelola oleh pemerintah. Tapi, kita mendapat anugerah berupa macam-macam potensi alam untuk tujuan wisata, ragam budaya/suku/bahasa, hingga jejak kuliner yang sambung menyambung dari Sabang hingga Merauke.
Gambar : pesonaIndonesia.com
Begitu banyak hal yang bisa Komunitas Blogger Asean ceritakan melalui rangkaian kata di media online. Sembari giat menyebarkan sosialisasi akan Komunitas ASEAN 2015, para blogger bisa terus mengulas sosial budaya negeri asal masing-masing.
Faktor wisata cenderung menarik karena siapa, sih, yang tidak senang disuguhi informasi yang indah-indah? ;). Kebanyakan orang juga gemar jalan-jalan. Dan siapa yang tidak tertarik akan dunia kuliner? Makan-makan gitu, lho. Kebutuhan utama setiap insan :D.
Sinergi Optimal dari Komunitas Positif dan Seimbang
Sangat penting mensejajarkan kualitas bangsa sendiri dalam merintis sinergi positif bersama negara-negara ASEAN lainnya. Keseimbangan dalam berbagai hal adalah kunci dari hubungan yang sehat dalam bidang apa pun.
Sebagai bangsa besar, ini bukan tantangan mudah. Bersama blogger dari negeri-negeri tetangga kita harus wujudkan hubungan yang memberi keuntungan timbal balik. Dengan tidak merasa yang satu lebih tinggi atau rendah daripada yang lain. Itulah sebaik-baiknya rekan/teman/partner :). Bukan di depan, bukan di belakang, tapi berjalan berdampingan.
“Don’t walk behind me, I may not lead. Don’t walk in front of me, I may not follow. Just walk beside me and be my PARTNER.” -Albert Calmus
Gambar : talkvietnam.com
Energi positif mustahil dimunculkan dari hujatan-hujatan, kan? Tak perlu sibuk mencela orang lain yang dianggap mencuri budaya kita? Sudah seharusnya itu menjadi pertanyaan besar untuk kita semua. KOK BISA budaya kita sampai dipatenkan secara resmi oleh pihak lain?
Seperti saya tatkala melihat iklan “Malaysia Truly Asia” tadi. Ha? Sejak kapan buah durian hanya dikenal milik Malaysia saja? Bahkan, bunga “Rafflesia Arnoldi” yang sudah disematkan sebagai salah satu bunga nasional Indonesia (informasi dari link berikut) juga muncul dalam tayangan iklan tersebut.
Bukan salah Malaysia! Kita yang harus melihat kepada diri masing-masing, APA YANG SALAH?
“That’s how winning is done! Now if you know what you’re worth then go out and get what you’re worth. But ya gotta be willing to TAKE THE HITS, and not pointing fingers saying you ain’t where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain’t you! You’re better than that!” -Rocky Balboa-
Tentu saja, kita, bangsa Indonesia, bukan bangsa pengecut. Yang mudah menyalahkan bangsa lain atas permasalahan yang ada. Jadi, jawab tantangan ini!
Bersama Kumpulan ASEAN Blogger, kita sosialisikan Komunitas ASEAN 2015! Bukan dengan menyudutkan yang lain, tidak dengan menghujat siapa-siapa. Tapi dengan menyebarkan sisi positif bangsa sendiri :).
Bergandengan tangan bersama warga ASEAN lainnya, kita bisa memajukan kawasan ASEAN di mata dunia. Menjadikan ASEAN jaya di tangan anda, di tangan saya, di tangan kita semua. Not only “ASEAN in your hand“. Even more… “ASEAN in OUR hands“ :).
Stop pointing our fingers and start taking the hits!