Food Combining Sarapan Buah Tidak Kenyang?

Selain minum jeniper tiap bangun pagi, sarapan buah ini termasuk ritual FC yang cukup khas. Khas dan mengundang segudang pertanyaan. Apa bisa kenyang tuh makan buah doang sampai jam 11-12 siang?

Gambar : yucp.net
Gambar : yucp.net

Ada yang belum familiar dengan FC alias Food Combining? Sila baca dasar-dasar Food Combining di sini dulu, ya.

Refresh sedikit dulu. Begitu bangun pagi-pagi, segera mengkonsumsi air perasan jeruk nipis (seringnya diistilahkan jeniper/jeruk nipis perasan). Cara buatnya gampang. Tuangkan air hangat ke dalam gelas minum biasa lalu peras jeruk nipis ke dalamnya. Aduk sedikit.

Minum pelan-pelan ya, jangan langsung glek-glek-glek hehe. Diusahakan dalam beberapa teguk dulu. Rasakan dalam mulut biar bercampur dengan air liur sebelum terjun ke dalam kerongkongan :D. Ini sama dengan fungsi mengunyah makanan perlahan sampai halus –> mengoptimalkan peran enzim pencernaan yang seharusnya sudah dimulai sejak makanan masuk mulut.

Gambar : beritasatu.com
Gambar : beritasatu.com

Kira-kira setengah jam setelah minum perasan jeruk nipis ini, barulah ritual makan buah dimulai. Pola makan FC diatur berdasar yang namanya sistem sirkadian tubuh. Diyakini, pukul 4 pagi hingga 12 siang, yang berlangsung adalah fase pembuangan.

Sisa-sisa makanan yang sudah diserap (waktu serap adalah pukul 8 malam hingga 4 pagi) harus dikeluarkan dari tubuh. Proses ini butuh energi yang cukup besar. Jadi, mari membantu sistem cerna dengan tidak membebaninya dengan makanan ‘berat’.

Karena itulah, sarapan buah ekslusif dilakukan hingga jam 11/12 siang ;). Buah-buahan segar, matangnya cukup (bukan yang mengkal), jumlah fruktosa yang relatif tinggi, punya karakteristik unik. Untuk mengolah buah-buahan, sistem cerna hanya perlu energi sedikit dan prosesnya berlangsung cepat ^_^.

Jadi, sistem cerna tetap bisa optimal menjalankan proses pembuangan sekaligus tetap menyuplai energi buat kegiatan kita sehari-hari. Tapi apa benar makan buah saja cukup? Seharusnya cukup jika dilakukan dengan BENAR :D.

Pelajari dulu sifat-sifat buah. Buah-buahan ini sebenarnya membuat kita kenyang lebih cepat. Karena dicernanya kan memang ekspres :D. Tapiiiiii … cepat kenyang sekaligus bikin cepat lapar lagi.

Tempo hari teman saya mengeluh kok suaminya sarapan buah tapi malah mual dan maagnya kambuh. Waduh, saya jadi tidak enak. Saya tanya, “Makan buah apa?”

“Jeruk.”

“Jeruk aja? Seberapa banyak?”

“Iya jeruk saja. Satu biji aja.”

Ya iyalaaaaah hahaha. Yang benar saja! Masa cuma 1 butir jeruk sih? -_-.

Berikut panduan singkat yang selama ini saya terapkan, CMIIW ya buat teman-teman yang juga berFC.  Kali nih saya ada yang kurang tepat juga hehehe :

1. Makan buahnya jangan pelit-pelit lah yaaaa hehe. Porsinya memang harus cukup. Tidak diatur harus seberapa. Sebutuhnya tubuh masing-masing. Kan sesuai kegiatan tiap individu butuhnya seberapa banyak energi.

Makannya memang tidak sekaligus. Makan dulu sampai dirasa cukup. Lapar? Ya makan lagi sampai dirasa cukup. Lapar? Ya makan lagi. Begitu saja terus sampai jam 11/12 siang ;).

2. Makan buah bervariasi. Saya pribadi tiap pagi sudah menyiapkan sepiring besar yang umumnya berisi minimal 3 jenis buah. Apel saja enggak bisa kalau cuma sebiji kecuali ukurannya jumbo. Apel sini umumnya  mungil-mungil, kadang saya bisa habis 3 biji.

Kombinasi buah-buahan saya umumnya apel + anggur + jeruk ATAU pear + strawberry + anggur ATAU melon + plum + apel dan seterusnya. Kadang juga ada kiwi atau semangka. Pokoknya yang mana-mana yang lagi diskon lah hahahaha :p.

Gambar : colourbox.com
Gambar : colourbox.com

Jangan pilih-pilih makan buahnya. Paksa diri untuk makan macam-macam buah. Aslinya saya enggak suka banget sama apel huhuhu. Tiap buah itu punya kelebihan masing-masing. Mengkonsumsi satu jenis terus-terusan secara BERLEBIHAN malah membuat suatu zat tertentu menumpuk dalam tubuh dan itu jelas tidak bagus buat sistem cerna.

3. Wah, apel … anggur … pear … strawberry … buah-buahan mahal semua? Ya tergantung lokasi dong, Kakaaaaa. Eike kan lagi nyangkut di negeri dimana justru buah-buahan tersebut harganya murah. Jadi, selalu manfaatkan buah lokal :).

Saya pribadi hobinya tuh makan pepaya, jambu, rambutan sama mangga. Buah-buahan khas tropis semua maklum nih lidah kampung hahaha. Apa daya, justru  buah-buahan tersebut di sindang harganya bikin nangis jadilah saya berusaha menyesuaikan dengan buah lokal yang umum di sini.

4. Mengunyah dengan pelan dan tidak buru-buru menelan. Buah-buahan umumnya memiliki kandungan fruktosa/gula yang tinggi. Makan cepat-cepat malah membuat lonjakan fruktosa tiba-tiba dalam jumlah besar bikin perut terasa kembung. Makanya banyak tuh yang mengeluh makan buah kok malah terasa mual.

Ingat, ingat, biarkan makanan lumer dalam mulut dan berlama-lama berbaur dengan air liur biar fungsi enzim di mulut bisa optimal.

Btw, anjuran makan perlahan, jangan pelit mengunyah, pertama kali malah saya tahu dari mata pelajaran Biologi waktu kita sekolah dulu ;). Jadi, sejalan kan sebenarnya dengan anjuran cara makan yang selama ini sudah kita pelajari ^_^.

5. Hal khusus tentang melon-melonan. Dulu juga saya pernah dapat literatur soal uniknya jenis buah satu ini. Melon-melonan itu termasuk melon dan semangka. Melon sendiri ternyata ada macam-macam, ya. Melon kuning, melon hijau, melon oranye :D. Norak nih, baru tahu setelah tinggal di yurop hahaha :p.

Melon-melonan sebaiknya tidak dicampur makannya dengan buah-buahan lain. Duh, maaf saya lupa alasannya huhuhu. Cuma ingat, kalau pencernaan sensitif, biasanya perut jadi enggak enak kalau makan melon sekaligus dengan buah lain. Beri jarak, ya.

Maksudnya gini, saya nih suka mix, sekali ngunyah bisa masuk apel + anggur sekaligus misalnya. Nah, si melon-melonan enggak boleh diginiin. Makannya harus terpisah. Tapi tidak berarti sepanjang pagi itu makan melon saja sampai jam 11/12 siang :D. Diatur saja komposisinya.

6. Karakteristik pisang itu sebenarnya sudah mendekati jenis makanan karbo. Sebaiknya untuk kudapan sore saja. Tapi kalau kepepet, ya boleh juga mengkonsumsi pisang di waktu sarapan. Baiknya didahului dengan mengkonsumsi buah lain dahulu.

Gambar : blokand.com
Gambar : blokand.com

7. Alpukat, tomat, wortel tidak termasuk buah ya dalam “pola makan FC” :D. Ketiganya dimasukkan ke dalam kategori sayur.

8. Malas mengunyah? Boleh dibikin jus. Airnya jangan banyak-banyak dan jangan dicampur dengan apa pun termasuk gula. Buah kan sudah manis. Kalau terlalu manis nanti banyak yang naksir gimana? #eaaaaaaaa :p. Minum jus juga tetap patokan dengan no.4 di atas ya. Kulum dulu dalam mulut. Jangan glek-glek-glek aja hehehe.

Nah, gitu deh kira-kira saya menerapkannya. Ya berdasar teori-teori FC yang saya baca juga :D.

Awalnya sih masalah sugesti, ya. Maklumlah, kita sudah terlanjur under-estimate nih sama buah-buahan. Padahal kalau dikonsumsi dalam jumlah cukup dan BENAR (cek lagi no 1-8 di atas), seharusnya pagi-pagi itu oke-oke saja makan buah-buahan doang ;).

Tapi jujur saja, pas lagi hamil  muda dan mual-mual saya agak kesulitan makan buah pagi-pagi. Mungkin karena malamnya juga makannya enggak bener huhuhu. Waktu hamil muda pagi-pagi saya makan nasi + dendeng baru rasanya plong hahahaha.

Begitu hamil muda lewat, ya balik lagi pola makannya ke Food  Combining ;).

Demikian edisi food combining sarapan buah kali ini :D. Yuk yaaaa, jangan lemes duluan dengar kata buah-buahan. Coba dulu dan praktikkan tata caranya dengan baik dan benar. Mudah-mudahan cocok buat kalian juga.

Saya bukan tipe FC-er garis keras kok :p. Kalau dirasa kurang cocok ya enggak apa-apa juga. Silakan dicoba pola makan lain yang dirasa lebih cocok ^_^.  Sumpah, saya enggak bakal nyumpah-nyumpahin kok! Hahahahaha :p.

Jangan lupa, hidup sehat itu satu paket. Mulai dari pola makan, olah tubuh, kebersihan hati sampai kesehatan pikiran, semuanya harus dijaga ;). Berantem soal pola makan mana yang paling benar hanya akan membuat hati dan pikiran stres gak sih? hehehe.

Salam damai buat semua :D. Mari jalankan ikhtiar masing-masing dan semoga kita semua tetap sehat dalam lindunganNya <3.

***

Pro Kontra Food Combining?

Iya sih, dari pertama saya kepincut pola makan FC, langsung pula saya dapatkan semua link bantahannya hahahahaha. Tidak tanggung-tanggung, seorang dokter yang sangat saya kagumi karena kampanye RUM-nya juga ikut ‘mengutuk’ pola makan yang dianggap ‘sesat’ ini. Pro kontra food combining sangat rameeee :D.

Tapi ya, saya kan prinsipnya enggak pernah pegang satu mazhab tertentu dalam hal apa pun :D. Pelajari saja semuanya, ambil yang positif, yang gak cocok ditinggalkan, kalau diejek? ya telen aja lah kalau enggak bisa dilawan hihihihi.

Saya tetap dong menjadi penggemar ibu dokter yang ‘mengejek’ pola makan FC tadi ;). Soalnya saya tetap butuh ilmu RUM nya hehehe.

Saya pernah join di satu grup penggiat FC yang ternyata sebagian besar adalah komunitas anti vaksin. Ya saya pelajari FC dari mereka tapi ya tetap pro vaksin juga. GItu aja kok repot :p.

Gambar : acidalkalinediet.net
Gambar : acidalkalinediet.net

Tak lantas pula saya memuja-muja para aktifis FC setinggi langit. Banyak kok anjuran-anjuran FC ‘garis keras’ yang tidak saya jalankan hahahaha. Sungkem dulu sama Bang Erikar Lebang. Saya belum tertarik mengkonsumsi kangen water ya Bang :p.

Sempat juga dulu ada saran kalau kanker sebaiknya ikut pola makan FC biar sembuh. Waduh, saya enggak berani kasih saran kayak gitu. Kalau sudah terdeteksi kanker atau penyakit apa pun, segera ke rumah sakit atau dokter spesialis!!! Kalau pun mau mencoba alternatif, setidaknya dengar dululah penjelasan sang ahli.

Tapi saya enggak menentang pengobatan alternatif karena saya juga suka khasiat jamu-jamuan alami ^_^. Saya percaya dan memang banyak buktinya, tidak sedikit orang yang bisa sembuh via pengobatan alternatif.

The choice is yours. Asalkan apa pun yang kalian pilih, bekali dengan ilmu ;). Ilmu kan luas tuh, ya. Saya enggak pernah membatasi diri kalau untuk kesehatan pokoknya harus manut sama dokter (saja).

Sebenarnya, para pengkritisi FC ini banyak salah pahamnya sih. Ya abis udah nyinyir duluan. Saran saya, mbok ya dipelajari dulu lah benar-benar sebelum rusuh, “Penggiat FC itu hanya dipenuhi ilusi saja. Testimoni tidak boleh dijadikan acuan. Harus ada penelitian ilmiah.”

Oh well, saya sih tidak pernah menentang kedokteran modern atau apa pun yang katanya ilmiah-ilmiah itu ;). Tapi ya, untuk diri sendiri ya saya berpegang pada pengalaman sendiri saja dong, ya. Masa mau lihat orang lain? :D.

Mungkin juga keberhasilan FC pada saya itu karena faktor sugesti semata. Tapi logikanya, situ kalau mau ngikutin paham tertentu ya harus dimulai dengan rasa percaya dulu dong ya. Masa tahu-tahu menganut sesuatu tanpa ada keyakinan yang kuat. Jadi, ya kalau mau FC, ya harus optiimis pasti berhasil dulu, ya, Kakaaaaa ^_^.

Gambar : dailymail.co.uk
Gambar : dailymail.co.uk

Sugestinya berarti bagus, ya. FC membuat saya yang dari kecil gampang mabok dan masuk angin mendadak ‘tangguh’ begini hahahaha. Mabok? Kebanyakan minum bir kali mbak-nya :v :v.

Saya ini orang yang selalu percaya … tubuh-pikiran-akal-hati itu adalah satu kesatuan. Yang satu mengimbangi yang lain. Jadi, kalau kita melakukan aktifitas fisik dimana akal kita menentang ya mana bisa hasilnya optimal toh yaaaaaa :p.

Soal susu juga banyak yang salah kaprah. Katanya rasulullah aja ngajarin minum susu. Susu yang ‘dikritisi’ oleh pola makan FC adalah susu olahan (mana pun). Kalau susu murni, monggo banget lho ^_^. Susu murni = susu segar langsung dari asalnya. ASI contohnya :p. Lagipula hewan ternak sekarang kan pakannya sudah ‘aneh-aneh’ tuh ;). Serius enggak takut? :p

Yang dianjurkan adalah jangan dijadikan asupan rutin. Sekarang kan lagi ngetren, anak-anak dikasih susu pagi-siang-sore-malam. Kadang, biar aja enggak makan yang penting mau minum susu :p. Saya juga dulu gini soalnya *tutupMuka*.

Sekali lagi, gak bisa euy saya nunjukin bukti ilmiahnya. Cuma mau bilang, saya 7 bersaudara kagak ada yang digedein pakai susu sapi. Selesai ASI, ya minum air putih hahahaha.

Kalau dibilang kurang kalsium, ya banyak banget bukti ilmiahnya kalau kalsium ternyata bukan hanya monopoli si susu hewan ini ^_^. Lagipula, kaum vegan level paling atas (yang benar-benar tidak mengkonsumsi apa pun yang bersifat hewani) itu sudah banyak dari dulu dan mereka hidupnya biasa-biasa saja.

Enggak pernah kan ketemu berita, “Ada orang seumur hidupnya hanya makan nasi dan sayur dan buah-buahan eh ternyata tahu-tahu tulangnya keropos semua karena kurang kalsium dan protein. Ayooo makan daginglah yang banyak.”

Pernah gak dapat berita kayak gitu? :v :v :v. Fyi, sampai sekarang, orang-orang India masih banyak yang menganut pola makan vegan (dari level paling saklek sampai yang semi vegan).

Justru kebanyakan mengkonsumsi protein hewani yang membuat penyakit-penyakit degeneratif dan segala stroke, jantung, penyakit kolesterol, menjamur di mana-mana ;).

And for your info, kata siapa gituh kalau ikut FC gak boleh makan protein hewani? Hehehehe.

FC itu prinsip-prinsipnya memang banyak. Mungkin kalau yang jadi patokan Bang Erikar Lebang ya bisa pingsan ya saking sakleknya dan saking galaknya hehehe. Tapi put your shoes on his lah. Sudah sering banget beliau dihajar oleh kalangan medis dan dituduh sebagai “tukang kibul” hahahaha.

Jadi ya, kalau saya jadi dia mungkin akan memilih sikap yang sama. Capek kalau mau ngikutin semua nyinyiran yang datang. Mending bersikap tegas dari awal. Secara beliau juga memang meyakini benar-benar teori-teorinya. Psssttt…ibu dan neneknya Bang Erikar Lebang ini dokter lho ^_^. Dokter beneran, lulusan Fakultas Kedokteran.

Tapi, pokok-pokok pola makan ini semuanya standar saja dan tidak mesti gugur satu gugur semuanya. Diikutin satu, sebagian kecil atau setengahnya juga tidak membuat FC-nya sia-sia ^_^.

Di blog pernah mendapat komentar, “Testimoni tidak bisa dijadikan patokan. Jangan ngajarin yang enggak bener, Mbak.” Dan dia memberikan daftar dokter-dokter andalannya yang katanya sudah mengklaim kalau FC Ini “ajaran sesat”. Ya biarin ajalah. Saya cuma tidak ingin memperpanjang karena takut ujung-ujungnya dibilang enggak percaya sama dokter :D.

Buat mereka, dokter naturopati itu bukan dokter. Karena itu dia…enggak ilmiah! Saya enggak paham sih, ya. Karena buat saya, FC ini bukan masalah sugesti doang :D. Ya daripada ribet nyari jurnal ilmiahnya mending dipraktik-in aja langsung, terus tulis hasilnya :D. Toh, praktik-in FC selama beberapa bulan juga enggak menyebabkan kematian sih harusnya :p.

Banyak juga yang mempertentangkan FC dan raw food. Padahal ya raw food itu melengkapi pemahaman ideal tentang FC.

Saya sendiri, enggak saklek-saklek banget ikut FC-nya hehehe. Sering banget malah ‘bandel’nya akhir-akhir ini :D.

Gambar : rawandnaturalhealth.com
Gambar : rawandnaturalhealth.com

Untuk saya kesehatan itu harus dijaga secara total. Ya itu tadi … tubuh-pikiran-akal-hati harus positif terus ^_^. Menjaga pola makan, istirahat cukup, olah raga rutin, mensuplai pikiran dengan hal-hal yang bermanfaat (walau sesekali ada junk food masuk otak macam follow instagramnya Princess maju-mundur-cantik itu tuhhhh hahhahahaha).

Kalau yang menganut agama tertentu, membaca kitab masing-masing mungkin bisa jadi jurus yang jitu sebagai suplai harian untuk hati biar tetap kinclong dan berseri-seri ;).

Berkaitan dengan pola makan FC sendiri saya sih so far tidak ketemu ada teori yang bertentangan dengan anjuran rasulullah. Malah makin lama rasanya makin klop ^_^. Ya mungkin balik lagi, ini karena saya punya keyakinan yang besar terhadap gaya hidup satu ini :D. Keyakinan membuat kita percaya diri dan akhirnya menghasilkan sugesti positif ke diri sendiri.

Soal yang kontra, ya rasanya masih dalam batas wajar. Kalau sampai sudah mengeluarkan fatwa haram ber-FC nah itu baru bikin mumet kali hihihi. Tapi kalau cuma sebatas mempertanyakan ya kan tinggal dijelaskan saja dan jadi cambuk bagi kita-kita, para FC-er, untuk terus menggali ilmu dan mengupgrade pengetahuan –> mencoba bijak walau bawaannya pengin jitak! :v :v :v.

Biar adem, ini ada pesan bagus :

“Pendapat saya benar, namun mungkin memuat kesalahan. Pendapat orang lain salah namun mungkin juga ada benarnya” ~ Imam Syafi’i

Saya doakan kita semua sehat-sehat selalu terhindar dari yang aneh-aneh segala macam. Baik yang ikut FC maupun yang enggak, insya Allah … sehat semua! Aamiin ^_^. Terlepas dari apa pun pro kontra food combining ini.

Jadi … salam damai, yaaaaa ^_^. Mau FC? Yuk mari belajar sama-sama. Merasa FC enggak masuk akal? Ya enggak apa-apa juga sih –> penggiat FC yang cemen! :v :v :v.

***

[Food Combining] Detoksifikasi Tahunan via Ramadan

Seharusnya momen berpuasa untuk umat muslim yang diwajibkan tiap tahun itu sangat tepat dimanfaaatkan untuk “detoksifikasi” tubuh. Terutama saluran pencernaan.

Tapi kita malah kebalik, yak. Begitu bulan puasa, segala makanan “enak tapi kurang sehat” malah dihajar. Porsi makan pun kita tambah dengan alasan habis puasa hihihihi. Begitu buka puasa, jadinya malah balas dendam. Kelar puasa, godaan hari raya menanti. Hari raya berlalu sudah malas mau mulai lagi hehehe.

Logikanya, bulan puasa membuat pengeluaran dapur berkurang. Ini malah melonjak! Itulah salah satu keuntungannya bulan puasa di “negeri minoritas” menurut saya :).

Nafsu makan terjaga karena enggak ada penjual gorengan atau snack buka puasa atau lauk-lauk lainnya bertebaran di jalan hahahaha. Saya sih terasa banget kalau bulan puasa, belanjaan di supermarket tidak sebanyak biasanya.

Gambar : agengasa.org
Gambar : agengasa.org

 

Jadi lebih tenang menjalani puasa karena enggak mikirin acara buka puasa bersama yang biasanya seabrek-abrek hihihi. Godaan makan enak berkurang pesat. Bermukim di mana pun, selalu ada yang bisa dikeluhkan dan selalu ada yang bisa disyukuri 😉.

Pokoknya sepaket lah itu semua hal yang baik-baik. Misalnya pola makan sehat yang ternyata seiring sejalan dengan pola hidup tidak boros . Tanpa bantuan suplemen apa pun, makanan buatan mana pun dan murni memanfaatkan keanekaragaman hayati nan alami ciptaan Tuhan.

Saluran pencernaan kita sebenarnya sangat luar biasa dengan daya tahan dan toleransi yang sangat mumpuni. Jika macam-macam penyakit tetap menghampiri, masalahnya ada pada orangnya bukan pada sistem pencernaannya. Pola makan adalah hal yang paling mempengaruhi.

Berpuasa 19 jam di Eropa awalnya membuat saya ragu-ragu untuk mengikuti juklak Food Combining, hanya makan buah-buahan saat sahur! Ya mana kuat, pikir saya.

Secara tak sengaja, 2 hari lalu, perut saya begah banget pas mau sahur. Memang agak repot di sini. Buka puasa jam 10 malam. Sementara perut penuh kita enggak boleh menunda-nunda tidur karena jam 2 dini hari nanti sudah harus bangun untuk sahur.

Nah, subuh itu saya enggak kuat makan nasi dkk. Jadi, saya benar-benar hanya makan apel dan pear saja. Apel dan pear buah-buahan yang tergolong paling murah di sindang jadi bukan sok elit yeeeee hihihihi.

Amazingly, kok badan malah lebih seger daripada biasanya. 19 jam lho! Itu pun kemarin saya masih berkeliaran di City Center karena harus ke kantor pos ngirim surat suara dan ngabuburit bentar nyari-nyari diskonan di Mal hahahaha. Food Combining memang wokeeehhh :D.

Biasanya, kalau sahur saya makan buah + makan menu karbo (nasi+sayur+lauk protein nabati). Sekarang, buah-buahan saja deh ^_^.

Kalau itu dirasa terlalu berat, mungkin bisa dimulai dengan “membiasakan” tubuh tanpa minuman-minuman non air putih. Mumpung puasa, hindarilah susu, teh, kopi, 100% . O

Sebagian sering menyangka kalsium hanya ada di susu. Dan merasa kalau tidak minum susu kalsium pasti kurang. Susu sapi tergolong minuman ‘rekreasional’, untuk sekali-sekali saja, jangan dijadikan konsumsi rutin . Kalalu mau, mending mengkonsumsi kacang-kacangan macam kedelai dll.

Kalsium bertebaran di banyak jenis-jenis sayuran, jenis makanan yang seharusnya mendominasi di tiap waktu “makan berat” kita. Sebaiknya dikonsumsi segar tanpa diolah untuk memastikan tubuh memperoleh zat-zat gizi yang dikandungnya secara optimal 🙂.

Mumpung puasa, nih. Dimulai yuk program hidup sehatnya. Minimal saat buka puasa, jangan menyiksa tubuh dengan buka yang manis-manis. Karena katanya … yang manis belum tentu sayang #eaaaaaaaa.

Gambar : thebellyfatblog.com
Gambar : thebellyfatblog.com

 

Buka puasa sebaiknya dengan buah-buahan. Tubuh seharian enggak dikasih makan, buah-buahan sangat cepat diserap tubuh, jadi klop kan? Sirup, kolak, es campur hanya akan membuat gula darah melonjak. Fruktosa buah itu insya Allah super aman untuk tubuh . Makan kurma + air putih juga bagus banget tuh . Sesuai sunnah rasulullah dan membuat saluran cerna ikut bahagia.

Minum jus juga salah satu alternatif. Jus dari buah-buahan segar pastinya . Bukan jus kotakan atau botolan atau kemasan pabrikan lainnya. Semoga enggak digampar sama teman-teman di ULI yang ngurusin produk “B*av*ta” hahahahahahha.

Setelah minum jus tunggu sekitar 15 menit baru deh “makan besar”. Cemilan/gorengan macam pastel dkk dihindari sajalah dulu 😀.

No Junk! (gambar: corebloggers.com)
No Junk! (gambar: corebloggers.com)

 

Sahurnya juga begitu. Enggak usah minum teh, kopi atau susu, apalagi soda! . Air putih saja kita kencengin terus . Dimulaii dengan buah-buahan lalu berhenti sebentar sekitar setengah jam. Bisa diisi dengan salat tahajjud dulu kan ;). Setelah itu baru makan besar, kalau belum yakin dengan “buah-buahan doang”.

Sahur lebih baik mengkonsumsi menu karbo, nasi dkk tanpa protein hewani sama sekali . Cobain deh, jangan takut lemas. Instead, segar bugar sampai buka puasa . Kalau pun belum bisa kombinasi ini, ya enggak apa-apa deh tapi sayurnya tetap banyak dan kalau bisa dalam keadaan segar. Cocolin sambel saja kalau belum biasa. Tapi jangan banyakan sambelnya daripada sayurnya yeeee :p.

Sedikit demi sedikit beralih ke Food Combining 🙂.

Katanya sih, salah satu cara kita bersyukur kepada anugerah kesehatan dari Tuhan adalah dengan menjaganya sebaik mungkin . Mumpung belum terlambat. Tahu sendiri kan, kesehatan itu tidak akan bisa ditukar dengan materi sebanyak apa pun.

Momentum puasa harusnya diisi dengan lebih banyak ibadah bukannya malah lebih fokus kepada menu-menu sahur dan berbuka . Tujuan berpuasa untuk melatih empati kita kepada mereka yang kurang beruntung secara ekonomi. Jangan malah digunakan sebagai ajang makan-makan enak nan segambreng saban sahur dan berbuka .

Selalu ada hikmah luar biasa dari kewajiban-kewajiban yang digariskan oleh Tuhan, ya. Selama kita mau belajar terus . Termasuk kewajiban berpuasa.

Menurut salah satu hadis sahih, “Semua penyakit berawal dari perut.” Sayangi sistem pencernaan kita, yuk. Investasinya mungkin belum kelihatan sekarang tapi mungkin jika diberi umur panjang, kita bisa melewati masa tua dengan lebih bugar. Insya Allah 😉. Makan sehat, hidup pun jadi hemat ^_^.

Gambar : strikefighterconsultinginc.com
Gambar : strikefighterconsultinginc.com

 

Selamat melanjutkan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankan 🙂. Jangan lupa Food Combining nya dong ya ;).

***

Food Combining : Kontroversi Susu Sapi, Yay or Nay?

[Food Combining] Kontroversi Susu Sapi, Yay or Nay?

***

Jujur, saat baru mempelajari teori Food Combining, susu sapi ini yang sempat membuat saya urung. Eike kan penggemar susu coklat sejati. Hehehe. Seumur-umur, baru kali ini tahu ada teori kesehatan yang mendiskreditkan si ‘5 sempurna’ ini.

Gambar : lankatruth.com
Gambar : lankatruth.com

Menurut teori Food Combining, susu sapi ternyata kurang baik bagi pencernaan manusia. Karena kandungan susu sapi memborong 3 komponen makro dalam makanan lemak-karbohidrat-protein dengan sama tingginya. Sementara, FC meyakini, pencernaan manusia hanya bisa melakukan penyerapan OPTIMAL jika makanan yang kita makan hanya mengandung mayoritas 1 komponen makro saja.

Yang aneh-aneh diserap juga. Cuma tidak optimal dan akan menghasilkan ‘residu’. Kalau ‘residu’nya cuma sekali-sekali, tubuh punya kemampuan mentoleransi. Tapi, kalau saban hari, ‘residu’ ini menumpuk dan akhirnya keluar dari gudang penyimpanan lalu berkelana ke mana-mana. Bahkan ke bagian-bagian yang seharusnya tidak dia datangi. Ngeri, kan?

Bedakan dengan ASI. Komponen tertinggi dalam ASI didominasi oleh karbohidrat. Tidak menyalahi aturan main sistem cerna manusia.

Kalau ada yang intoleran laktosa itu saya percaya. Anak saya yang pertama contohnya. Tapi, kalau susu secara umum ternyata seharusnya tidak dikonsumsi regular (bukan dihindari 100%, ya, tapi dijadikan menu ‘rekreasi’ saja alias sekali-sekali), benar-benar berat sekali mau percaya hehehe.

‘Ledekan’ pertama justru datang dari aktivis Gesamun hehe. Tak jarang pula di Twitter, @erikarlebang berantem sama para dokter :P. Sampai pusing deh bacanya :P. Akun ini adalah salah satu penggiat FC yang cukup tenar di tanah air. Salah satunya ya karena sifatnya yang anti basa basi dengan tweet setajam silet! Hahaha.

Saya mah langsung mainin logika sederhana saja :). Langsung merujuk ke bukti nyata. Secara masa kecil saya memang enggak nyusu hihihi. Bukan karena orang tua menganut paham FC. Tapi lebih karena masalah ekonomi hahaha. Walau waktu itu ibu sering berdalih kami semua enggak ada yang doyan minum susu :P. Kenalin, tujuh-tujuhnya ‘profesor ASI’, tanpa bantuan SUFOR/UHT/susu sapi jenis apa pun sama sekali! :D.

Lagian, dulu susu enggak seheboh sekarang. Sekarang banyak juga ibu-ibu yang menggantungkan zat gizi anak pada susu, “Biarin dah enggak makan yang penting mau nyusu.” Salaman dulu. Saya juga gitu dulu. Hahaha.

Saya kenal susu di usia sekolah. Itu pun minumnya dipaksa-paksa. Enggak rutin juga. Susu habis, kadang berhari-hari enggak beli yang baru. Sarapannya ya minum teh :P.

Dan kalau dilihat-lihat lagi, saya tujuh bersaudara ya biasa-biasa saja. Enggak yang gimana-gimana :D. Berarti, enggak minum susu bukan sesuatu yang luar biasa seharusnya. Begitu logika simpel saya ;).

Setelah berdamai dengan diri sendiri, meyakinkan suami juga kerja keras. Tapi, pelan-pelan lah. Anak-anak kan di bawah penanganan saya. Susunya saya kurangi dulu. Setelah tinggal di Eropa, benar-benar mandiri tanpa campur tangan ortu dan teman-teman, baru deh saya berani meng-cut si susu sapi ini hehehe.

Gambar : goddirectcontact.org
Gambar :  Soymilk –> goddirectcontact.org

Diganti dengan susu kacang atau susu kedelai. Iya, sih, banyak yang menganggap ekstrim karena katanya susu sapi itu spesial, kandungannya tak mungkin tergantikan oleh susa kacang atau susu kedelai. Tapi, hasil praktiknya berkata lain ^_^.

Karena itulah, suami akhirnya menurut hehehe. Siapa yang bisa membantah bukti nyata di depan mata? ;).

Lalu, datang pula si Hiromi Shinya si raja enzim yang saya baru tahu kalau hasil penelitiannya juga menjadi bahan ledekan di grup ibu-ibu hehehe. Katanya penelitiannya palsu. Kurang tahu juga, ya. Soalnya Hiromi ini bukan aktivis FC setahu saya. Dia murni ‘konsen’ di susu sapi :D. Saya juga enggak pernah membaca benar-benar hasil penelitiannya. ‘Pegangan’ saya ya kandungan si susu sapi itu saja yang dikemukakan oleh pakar FC :D.

Kok cuek saja? Ya karena saya pegangannya adalah hasil praktik :P. Apa mau dikata? Anak-anak justru menunjukkan daya tahan tubuh yang signifikan setelah saya hilangkan si susu sapi dan saya percayakan kalsiumnya pada sayur-sayuran hijau ;).

Enggak mau takabur, ah. Sebagai muslim, kita harus percaya selalu ada campur tangan Allah dalam setiap kebaikan dan keburukan yang kita alami :). Terima kasihnya paling pertama sama Tuhan dulu.

Tapi tetap makin cinta sama sayur-sayuran dan buah-buahan dan makin keukeuh bahwa tidak seharusnya kita menggantungkan gizi pada susu sapi. Termasuk gizi anak-anak ;).

Daya tahan tubuh anak-anak yang meningkat drastis inilah yang menjadi senjata andalan saya dalam membungkam keraguan suami. Belakangan, dia sendiri mengangkat bendera putih setelah membuktikan kolesterolnya yang merosot tajam dari angka 260 ke 190 ;). Tanpa obat-obatan sama sekali!

Sekarang, dia lebih penurut sama saya urusan makanan :D. Dulunya, bawel beneeerrrr -_-, “Gila lu, anak-anak enggak dikasih susu? Sakit-sakitan nanti!”

Rasulullah kan minum susu. Nah, itu dia, setahu saya, susu yang sering dibahas itu hanya susu sapi. Cuy, zaman rasulullah apa iya sudah ada yang beternak sapi? Hehehe. Adanya kambing. Itu pun beliau mengkonsumsinya adalah susu segar. Katanya, lho, ya. Aduh, paling grogi kalau bahas-bahas agama, pasti bentar lagi ada yang minta dalil hahahaha.

Saran saya, sih, jangan terlalu ekstrim lah. Kalau memang masih mau mengkonsumsi susu sapi dan teman-temannya, monggo saja ^_^. Tapi, bagusnya, susu memang jangan dijadikan sumber gizi utama. Satu gelas sehari cukup lah, ya ;). Jangan sampai sayur dan buah kita kesampingkan karena sudah merasa anak-anak ‘tercukupi’ dengan bergelas-gelas susu :).

Tapi saya juga tak mau menutup-nutupi bahwa sejak susu sapi dan turunannya tak lagi menjadi ‘sajian harian’, anak-anak justru lebih bugar :). Eh, tapi saya masih makan keju, kok. Cuma ya gitu, paling sebulan sekali hihihi. Minum yoghurt Narda doyan banget. Bapaknya apalagi hahaha. Tapi, sebulan sekali belum tentu minum :P.

Gambar: Almond Milk --> ihomeremedy.net
Gambar: Almond Milk –> ihomeremedy.net

Kalau dulu masakan bersantan malah saya ganti dengan susu sapi biar lebih sehat, sekarang kebalik. Bikin makaroni yang biasanya pakai susu sapi, saya ganti sama santan hehe. Atau kadang pakai susu kedelai atau susu kacang.

Hidup ini pilihan, ya. Kalau dari piramida makanan WHO, prinsip FC memang bagaikan negeri dongeng atau isapan jempol orang iseng hahahaha. Padahal penemunya dokter juga. Bukan ahli gizi memang. Pencetus pertama teori ini adalah seorang dokter ahli bedah.

Saya enggak akan berkeras. Silakan dipraktikkan bagi yang berkenan, kalau tak berkenan juga apa urusannya ama gue la yaow, hehe. Tahun ini memutuskan gencar ‘berdakwah’ soal FC, because I’ve seen the result for one year :).

Tujuannya ya ingin menebarkan kebaikan :). ‘Kebaikan’ versi saya :D. Kalau beda sama WHO, ya bukan karena ada yang salah. Mungkin perbedaan mazhab itu tak cuma dalam agama, urusan makanan pun ada ‘agama’nya sendiri-sendiri hahaha. Buat saya, FC ini mengajarkan kesederhanaan dan kedisiplinan dalam urusan makan.

Jangan salah, aktivis FC itu banyak dari kalangan muslim yang anti vaksin sekali pun. Memang suka merasa aneh, sih. Di grup ini pro vaksin tapi ‘ngeledek’ pola makan FC. Di grup sana, anti vaksin tapi memuja FC.

Ya, join di dua-duanya sih tetap. Kita ambil yang disepakati, kita maklumi yang punya pemahaman yang berbeda. Gitu aja kok repot ;).

Manfaat positifinya, kita jadi lebih kritis, kan? Enggak mesti karena di sono isinya banyak yang pakai ‘jas putih’ dengan segambreng penelitian medis lantas kita menjadi gentar. Dan enggak mesti karena anggotanya bolak balik bawa ayat kita jadi keder :P.

Kita semua punya kepala yang seharusnya ada otaknya, kan? Nah, difungsikan kepunyaan masing-masing seoptimal mungkin :P.

Saya suka cara Ibu Andang dan Pak Wied (dua nama yang cukup popular di dunia FC) menanggapi kalangan akademisi yang menantang mereka berdebat secara terbuka, “Ini bukan hal untuk didebatkan tapi untuk dipraktikkan. Mau lihat buktinya? Praktikkanlah sendiri.” Hehehe.

Setuju sama mereka. Untuk tahu apakah FC ini sahih atau tidak, dalilnya cuma satu, cobain sendiri dan rasakan manfaatnya! Hehe.

Ingat, FC tidak pernah melarang kita makan ini itu. Kata siapa? Pizza berlumur keju yang lezat itu, minggu lalu saya makan sampai satu loyang. Hahaha. Intinya, sekali-sekali saja. Justru makan terasa enaknya kalau dinikmati secara terbatas, lho ;).

Percayalah, aktor utama dalam perut seharusnya memang dipegang oleh sayur-sayuran dan buah-buahan. Dua hal yang bisa tumbuh di mana saja dalam kondisi apa pun (kalau manusianya beres dan sayang lingkungan tentu saja :D).

Tidak percaya? Buktinya dalam dunia ini kalangan vegetarian jumlahnya tidak sedikit dan mereka terbukti baik-baik saja. Btw, vegetarian juga ada yang mengkonsumsi susu hewan tapi ada juga yang tidak. Sebaliknya, ada gak sih orang yang makan daging doang dan baik-baik saja seumur hidupnya? ;).

Sungkem dulu sama bapak ibu dokter, sungkem sama pengusaha susu jugak hihihi. Sungkem sama pengurus WHO juga, deng :P.

Jadi, susu sapi? Yay or Nay? Tidak untuk diperdebatkan. Tapi untuk dipraktikkan ;). Salam damai ^_^.

Hazelnut Milk
Hazelnut Milk

***

Bagaimana Saya Memulai Diet Food Combining

Di bulan November 2012, mendapati hasil tes darah suami yang mengklaim bahwa angka kolesterolnya sudah berada di angka 260, saya yang paling merasa bersalah. Suami saya tak suka jajan di luar. Walau semasa di Saudi, kehidupan kuliner pemukimnya dikepung oleh resto-resto ternama yang menawarkan menu-menu lezat dengan harga yang sangat terjangkau oleh kami.

Bisa dikatakan, karena ulah saya-lah, kolesterolnya bisa menjulang sampai setinggi itu . Ditambah saya pun rasanya makin jompo. Sudah mulai tak sanggup melewati hari tanpa bantuan antangin atau minyak angin hihihihi. Semakin saya memacu diri berolahraga, anehnya, kepala makin sering pusing dan sering mual. Huhuhu. Serba salah.

Itulah kelemahan utama saya. Saya paling tidak suka sayur. Merembet ke anak-anak dan suami karena semasa di Jeddah dulu, 90% menu sehari-hari berasal dari racikan tangan saya di dapur. Dulu, sering sekali mendapati sayur-sayuran yang membusuk dalam kulkas saking lamanya enggak dimasak .

 

Kalau buah, anak-anak masih saya rutinkan minum jus dari buah-buahan segar yang diblender. Saya sendiri jarang sekali menyentuh buah . Sementara suami memang tidak suka, diperparah dengan saya yang tak pernah memberi sugesti positif huhuhu.

Saya paling ogah kepada alternatif mengkonsumsi obat permanen dan menentang ide mertua yang meminta suami saya rajin minum obat penurun kolesterol. Apalagi setelah tahu kalau obat itu tergolong ‘keras’ dengan efek samping yang tidak kalah berbahayanya.

Saya juga selalu mengharamkan diri terhadap makanan/minuman buatan pelangsing. Yang namanya buatan mana bisa dibilang alami, sih? Hehehe. Walau banyak yang mengklaim aman 100%. Tapi ingat, buatan ya buatan . Pasti ada efek sampingnya, belum kelihatan/ketahuan saja 😉.

***

 

Memulai Diet Food Combining tahun 2013

Setelah sekian lama mengeluarkan segala ilmu kepo-kepo terbaik via Google, saya langsung ‘jatuh cinta’ pada Diet Food Combining. Yang diawali dari ‘provokasi’ seorang teman. Terima kasih, Linda 😀.

Teorinya sangat masuk akal. Tanpa obat-obatan, tanpa suplemen buatan, jadi jangan nuduh eike mau jualan sesuatu, ya, hahahaha. Asli lho, satu-satunya hal yang ingin saya tawarkan adalah menerapkan pola makan sehat alami. Kita enggak bakal ngomongin merek atau brand, karena namanya alami, semuanya made in Tuhan Yang Maha Esa, ya, Kakaaaa 😀.

Diet Food Combining
Gambar : pixabay.com

Saya sendiri, dari awal, tidak pakai pikir panjang. Hari itu melahap info-infonya dari Google, besoknya langsung praktik! Kombinasi makanan serasi dalam diet Food Combining  menetapkan protein nabati sebagai teman sejati untuk baik menu karbo maupun protein. Penggemar tahu-tempe langsung bersorak kegirangan hahaha.

Terbuai oleh manfaat-manfaat sayur dan buah, saya langsung berubah drastis. Niat saya memang kuat banget. Tujuan utamanya ya itu, mencoba pola makan ini untuk selanjutnya diterapkan pada suami dan anak-anak . Sudah berkubang dalam lumpur dosa, nih, bertahun-tahun membiarkan mereka ikut pola makan saya yang sangat cupet ini *tertundukMalu*.

Mungkin karena benar-benar disiplin, ‘mukjizat’  Diet Food Combining menghampiri saya dalam waktu singkat . Dalam tempo tiga hari saja, migrain harian langsung kabur, badan mendadak bugar . Pakai dikasih bonus segala, dalam tempo seminggu, perut kendur dengan berat badan merosot 2.5 kg. Padahal, enggak pakai lapar . Bukan sulap, bukan sihir hihihi.

Nah, setelah beberapa hari itu, saya langsung membulatkan tekad mempraktikkan hal yang sama pada suami dan anak-anak. Saya sih mencoba logis saja. Mereka kan belum tentu sanggup 100% seperti saya kala itu.

Prinsip dasar diet Food Combining y ang paling masuk akal menurut saya pribadi yang bisa langsung diterapkan adalah … menghapus konsumsi dairy products (susu sapi, keju, yoghurt dsb). Padahal dulu suka mengganti santan dengan susu sapi dengan harapan lebih sehat hihihi.

Susu tinggal diganti ke susu kedelai/susu kacang. Itu pun, dari teori diet Food Combining , saya menyadari kita telah sekian lama diperdaya oleh pemikiran pentingnya susu sapi dalam pertumbuhan anak-anak. Bahkan orang dewasa pun dibujuk-bujuk minum susu . Minum susu enggak mesti tiap hari, kok .

Coba pelajari berapa jumlah kalsium yang kita butuhkan secara harian. Dan betapa semuanya bisa dipenuhi dari ragam macam sayuran . Vitamin-vitamin yang selama ini kita percayakan pada botol-botol sakti hehehe, ternyata melimpah ruah dalam buah-buahan dan sayuran .

Baca : “Susu Hewan dalam Pola Makan Food Combining” 

Ada pun kalori memang masih jatahnya karbo. Tapi apa iya dengan rutinitas kita sehari-hari, kita butuh tiga piring nasi setiap harinya? . Protein yang selalu kita yakini hanya milik para hewani, ternyata juga dimiliki oleh beberapa jenis sayuran dan tergolong cukup tinggi pada jenis nabati semacam tahu, tempe dan jamur .

Untuk ‘makan besar’, suami masih ogah kalau paginya hanya diberi buah hehehe. Baiklah. Pelan-pelan, ya.

Pagi hari selalu dimulai dengan segelas jus bagi suami dan anak-anak. Bukan jus kotak atau jus kaleng atau jus botol. Ingat kandungan gula dan zat-zat tambahan yang PASTI mereka tambahkan kepada suplemen yang diberi nama jus buah paling sehat sekali pun . Sifat dasar buah = gampang busuk. Jadi, pikirkan sendiri gimana cara produsen membuat sari buah tersebut bisa bertahan lama dalam bentuk kaleng/botol/kotak .

Jus buah yang saya maksud … buah-buahan segar yang matangnya cukup yang diolah dalam blender. Kalau bisa jangan terlalu lama, agar masih kasar dan memancing mereka untuk mengunyah. Potongan buah segar lebih sehat, tapi mereka masih ogah-ogah, euy hehehe. Jadilah diakali dengan memberi jus.

Sejam setelah minum jus baru saya perkenankan mereka ‘makan berat’. Untuk pagi hari, sebisa mungkin saya selalu memberi menu karbo. Misalnya :

Menu Diet Food Combining

1. Mie/nasi goreng isi sayur-sayuran plus tahu atau jamur (kalau ada :D). Eh, saya tak pernah mengharamkan mi instan macam Indo***. Tapi ingat, kalau dulu makannya pakai bakso dan telur hihihihi, sekarang, cukup dengan sayur-sayuran saja. Kalau bisa irisan sayur segar seperti : sawi, kol, timun, tomat dsb.

2. Bisa juga kentang panggang + irisan seledri/timun/paprika segar tanpa diolah 😀.

3. Atau juga makaroni skutel yang dipanggang tanpa ditumis dan tentu saja tanpa daging sama sekali, tapi tetap mencampur sebutir telur dibantu susu kedelai atau santan 😀.

Entar, kalau fotografer sudah balik, kita posting foto + resepnya 😉.

Soal ngemil pun, anak-anak tak saya batasi. Saya biarkan saja makan biskuit, roti, kue-kue coklat. Tapi, sesekali saya tawarkan cemilan macam kue lumpur kentang, misro kentang (isi gula merah atau coklat biar mereka doyan hehe), atau pisang panggang yang ditaburi coklat. Ya, tergantung eike lagi mood apa kagak hahaha.

Makan siang dan makan malam mereka hampir selalu menu mix, ada protein hewani ada nasi hehehe. Aduh ya, lidahnya masih indonesia banget hihihi. Makan mesti pakai karbo. Walau kini karbonya tidak cuma nasi saja. Bihun atau kentang juga sering saya gunakan sebagai pengganti.

Tapiiiiii…sayur-sayurnya segambreng. Dan sebisa mungkin, walau sayur tumis atau sayur sop, selalu saya tambahkan sayuran segar. Maksudnya gini. Sayur sop atau tumis tetap diberikan tapi sambil dibubuhi irisan timun/tomat/seledri segar misalnya. Jangan semuanya dicemplungin ke wajan .

Intinya, sarapan-makan siang-makan malam, harus selalu bertabur sayur, sayur dan sayur .

Hasilnya untuk anak-anak? Saya, sih, takut kalau dibilang takabur. Tapi alhamdulillah, terasa banget anak-anak enggak pernah sakit-sakitan. Ya Allah, jangan sakit deh apalagi pas bapaknya lagi jauh begini hehehe.

Beberapa kali Nabil terpaksa ke sekolah sambil menerobos hujan, pilek pun enggak . Paling hidung berair, tiba di rumah, normal lagi tidak berubah menjadi ingusan hehehe.

Hasilnya untuk suami? Dalam tempo sepuluh bulan, kolesterolnya turun drastis dari 260 ke 190. Padahal enggak pakai diet khusus, kan? . Hanya benar-benar menghapus dairy products, rutin minum jus buah segar tiap pagi dan banyak-banyak makan sayur (kalau suami lebih sering saya beri sayuran segar).

Makan daging tetap walau tidak sesering dulu. Apalagi, di sini, kami lebih doyan makan daging kambing/domba daripada daging sapi . Kolesterolnya malah turun hehe. Daging tak melulu mesti kaki empat. Daging ikan jauh lebih sehat.

Btw, anak-anak kok bisa doyan sayur? Itulah ironisnya. Nafsu makan justru dipicu oleh zat besi. Dimana zat besi ini mudah ditemukan pada berbagai sayur-sayuran utamanya yang hijau dan segar (sebisa mungkin tanpa diolah/dipanaskan).

Memang sulit awalnya, mesti disuapi dan saya paksa! Karena saya yakin betul manfaatnya jadi saya nekat pakai sedikit kekerasan hehe . Lama-lama, mereka doyan sendiri. Anak sulung saya sekarang sudah bisa makan sendiri tanpa banyak membantah dan selalu menghabiskan sayur-sayuran sebanyak apa pun yang saya taruh ke piringnya .

Oh ya, satu lagi. Sejak belajar diet Food Combining , saya mulai memasak 3x sehari. Dulu kan, biar praktis sekali masak langsung segambreng dan macam-macam. Nanti tinggal dimasukkan ke dalam kulkas dan dipanasin di microwave. It’s a big NO-NO, ya, ibu-ibu . Panjang ini penjelasannya hehe. Pokoknya itu bukan pola makan yang sehat.

Goreng-gorengan juga begitu. Saya hanya menggoreng lauk yang akan dimakan pada saat itu juga. Suami dan anak-anak juga makin lahap karena selalu menikmati menu-menu yang langsung dari atas kompor hehe. Bukan dari microwave .

Microwave nganggur? Pakai untuk masak nasi juga bisa lho atau untuk menggoreng kerupuk atau untuk defrost daging beku dari dalam kulkas . Kulkas menganggur? Ah, enggak juga. Kan tetap menjadi tempat penyimpanan makanan. Tapi sekarang isinya sayur-sayur segar dan buah-buah segar .

Gila, kagak repot masak 3x sehari? Ingat, pelan-pelan biasakan mengkonsumsi sayur segar biar enggak repot tumis/rebus/kukus/panggang untuk menu sayur . Kan tinggal dicuci bersih + dipotong-potong.

Dan dietFood Combining  juga menyarankan kita untuk tidak rakus! Hahahha. Kalau sudah makan ayam, enggak usah pakai telur. Kalau sudah ada telur, enggak usah pakai daging sapi/kambing. Simpel banget lho jadinya .

Contoh-contoh menu harian menyusul, ya. Sudah kepanjangan hehehe.

Oiya, ingat ya, sayurnya bukan cuma sekadar pelengkap. Tapi porsinya sebisa mungkin lebih banyak atau menyamai jumlah lauk lainnya .

Intinya … saya sih merasa memasak jadi lebih gampang dan praktis meskipun harus stand by 3x sehari . Suami juga makan siangnya bawa terus dari rumah. Entah mau hemat apa sehat iniiiii hahahahaha.

Jadi, menyambut tahun 2014 ini, saya berharap semoga pola hidup sehat ini terus berlanjut. Suami dan anak-anak tercinta sehat terus . Saya juga dong, ya hihihi. Dan saya juga ingin lebih serius membagi manfaat diet Food Combining  buat teman-teman dan siapa pun.

Saya memang sengaja menunggu setahun dulu untuk mulai berkoar-koar. Kan harus dibuktikan dulu sendiri hasilnya baru mulai jadi provokator hehehe. Dari diet Food Combining  saya belajar bahwa perut buncit berkepanjangan adalah tanda bahwa sistem pencernaan mulai bermasalah . Bila sistem pencernaan mulai error, efeknya bisa ke mana-mana. Karena seluruh energi tubuh dikendalikan oleh hasil penyerapan zat makanan yang dilakukan oleh sistem cerna kita.

Pernah mendengar cerita Rasulullah berbadan tambun? . Beliau kan sudah menegaskan dan mencontohkan, “Semua penyakit berawal dari perut.”

Jadi, jangan ada yang nyinyir-in eike yak, “Dalilnya apa umat harus langsing?” Hahahaha.

Intinya, sehatnya yang lebih utama, kan? Bayangkan berapa banyak hal positif yang bisa kita lakukan sebagai niat ibadah (baik ritual maupun muamalah) bila kita punya fisik yang prima :). Perlu saya panggilkan dokter untuk mengatakan bahwa kelebihan maupun kekurangan berat badan, keduanya bukan pertanda yang baik? ;).

Hidup yang benar itu kita pasrahkan dengan selalu berdoa kepada Sang Pencipta diiringi dengan ikhtiar yang benar :D.

Masa iya hidup kita pasrahkan pada kendali lidah/mulut? Hehehe.

Sementara kesehatan itu adalah salah satu harta yang tak ternilai. Mau menggadaikannya setiap hari dengan sepiring beef steak yang paling enak di dunia? Dengan indomie telur bakso dan irisan cabe rawit? *iniMahCurhatPenulisnyaHihihihi* :D.

Bolehlah kita gadai, tapi kan tidak setiap hari. Sesekali saja ;).

***