Tadinya sempat bingung saat mendengar tentang Boxing Day. Boxing Day? Mau main tinju? Hihihi.
Ternyata, boxing yang dimaksud, asal katanya dari box :D. Box = kotak hadiah. Kalau dikilik-kilik dari wikipedia, asal mula Boxing Day ini memang berkaitan dengan kotak hadiah.
Gambar : www.stylegerms.com
Konon, sehari setelah perayaan Natal, para pelayan-pelayan atau pekerja mendapatkan kotak kado khusus dari majikan/perusahaan tempat bekerja masing-masing. Sebagai tanda terima kasih. Hm, semacam THR gitu kali, ya hehe. Cuma, kalau di tanah air, THR-nya diberikan sebelum hari raya :D.
Boxing day ini jatuh di tanggal 26 desember. Tidak seluruh belahan dunia mengenali hari khusus ini. Hanya umum di Kerajaan Inggris Raya, Kanada dan hampir semua negara persemakmuran Kerajaan Inggris. Makanya tidak heran kalau Hongkong, Australia, Selandia Baru dkk juga familiar dengan si Boxing Day ini.
Di Irlandia sendiri, lebih umum disebut sebagai St. Stephen’s Day.
Uniknya, Boxing Day kini dikenali sebagai “Hari Diskon” alias sale besar-besaran. Nah, tadi pagi itu, kan, cuaca cerah. Setelah berhari-hari hujan dan angin kencang melanda sebagian besar daratan Irlandia, saya memanfaatkan hari ini untuk berbelanja, sekalian mau mengajak anak-anak keluar rumah.
Nabil kan lagi winter holiday, nih. Bosan kali booo, mendem di rumah melulu :P.
Maksud hati mau ke swalayan tapi ternyata enggak ada yang buka. Jadinya pas pulang mampir ke mal, mana tahu dalam mal ada toko yang buka. Alamak, tidak menyangka ramainya minta ampun!
Ternyata, Irlandia juga menganut paham boxing day sebagai hari berbelanja akbar hahaha. Saya kan jadi penasaran. Jadi tadi masuk ke gerai-gerai standar macam Zara, Top Shop dan Monsoon.
Gambar : www.worldsoccertalk.com
Terus…jadi bingung sendiri. Murahnya di mana, ya? Harganya tetap saja berkisar di 20-50 euro per helai. Iya, sih, harga aslinya memang bisa di atas 50 euro bahkan di atas 100. Baju-baju yang di bawah 10 euro, tipis-tipis gitu. Atau kebanyakan model tank-top. Aduh, nothing can beat Tenabang dan ITC lah yaaaa hahahaha.
Jadi, tadi kebanyakan observasi saja dan nyengir melihat emak-emak dan para perawan yang heboh dalam toko hehehe. Jarang-jarang melihat gerai-gerai semacam Zara-Next-Promod dihajar pengunjung begitu. Biasanya sepi-sepi saja :P.
Ya, eike kebiasaan lihat-lihat bajunya di Penny’s sih hahaha. Di Penny’s sih, enggak usah menunggu boxing day. Saya pernah beli sweater seharga 3 euro hihihi *ciumCiumDompet* :P.
Kalau dipikir-pikir, urusan belanja memang paling asoy di tanah air, ya. Untuk barang bermerek, sih, sepertinya di Eropa lebih murah. Apalagi di Arab Saudi :D. Saya juga kurang tahu pasti. Dengar-dengar sih begitu. Maklum, semasa di tanah air, saya belanjanya enggak jauh-jauh dari ITC atau Matahari Dept Store :P.
Kalau saya punya rumus khusus soal penampilan. Waktu kuliah saya sering iri pada teman-teman yang berbadan langsing. Mau pakai baju apa juga kok kayaknya asyik-asyik saja, ya. Melihatnya tetap keren. Mau yang harganya murah sekali pun. Yang badannya langsing ini, mau pakai yang longgar oke, pakai yang ketat juga tak masalah.
Kalau berat badan berlebih, pakai baju gombrang akan membuat kita terlihat makin lebar (hihihi), pakai baju sempit apalagiiiiii … makin enggak jelas bentuknya :P.
Karena itu juga mungkin seorang Kate Middleton tidak terlepas dari aura ‘anggun’nya walau baru-baru ini membuat heboh karena muncul mengenakan aksesoris murah. Errr…enggak murah, sih. Tapi untuk ukuran seorang putri kerajaan, 39 euro itu murah sekali ya, Kakaaaaa :D.
Istri Pangeran William ini juga terkenal dengan selera ‘rakyat’nya. Tidak segan-segan mengenakan gaun-gaun keluaran sekelas Zara. Padahal kata kakak saya, sang fashionista ibukota hihihihihi, Zara itu merek ‘menengah’. Waduh, ngalah-ngalahin selera Tuan Puteri hahaha.
Kate Middleton selalu terlihat chic salah satunya ya karena bodinya yang ramping. Casingnya sudah kece dari sononya. Jadi, walau sekelas puteri sekali pun, kalau casingnya kurang bagus, rasanya baju yang paling mahal sekali pun akan sulit mendongkrak penampilan hihihi.
Kate Middleton dan kalung Zara-nya 😀 (gambar : www.entertainmentwise.com)
Sebenarnya gampang saja ternyata. Perbaiki pola makan maka dengan sendirinya banyak masalah terpecahkan. Inilah yang saya sukai dari prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh pakar-pakar FC. Dalam FC tidak ada istilah, “Biar gemuk asal sehat, biar kurus asal sehat.”
Dalam FC, mau gemuk mau kurus, kedua-duanya akan dicap kurang gizi. Tidak ada orang yang kelebihan gizi seperti yang selama ini kita kira bila kita melihat orang berukuran lebih.
Saya juga suka heran dengan yang menuduh pola makan FC ini ‘mahal’. Hm, hidup sehat memang tidak murah. Tapi percayalah, sakit itu lebih mahal hehe. Kalau buat saya sih, dengan menerapkan FC, kantong malah lebih terjaga ;).
Iya, kan? Pola makan benar, in shaa Allah badan terus fit, kesehatan terjaga, dan … tidak ada itu perut buncit dkk hehehe. Therefore, mau pakai baju apa juga, pasti jatuhnya oke ;). Mau yang 3 euro, mau yang 30 euro. Lah, kalau dua-duanya tetap membuat kita kelihatan keren, ngapain beli yang mahal-mahal ya, Kaka? *benerinPoniKancinginDompet* hahaha.
Pengeluaran dapur terjaga, pengeluaran lain-lain ikut terjaga. Simpel, ya, ternyata.
Tante-tante yang berpose sok abege hahaha 😀
***
Saya dulu selalu merasa cetek karena takut gemuk. Kalau berat badan berlebih itu, olala, repotnya mau cari baju. Sementara saya juga walaupun jauh dari kata modis, tetap picky orangnya hihihi. Begitu membaca banyak literatur kesehatan, ternyata enggak cetek, kok hehehe.
Asal caranya mesti benar :). Saya memang dari dulu anti banget sama yang namanya obat pelangsing, makanan khusus pelangsing dan bla-bla-bla lainnya. Takut efek sampingnya euy :(. Apalagi rata-rata buatan. Bukan alami *elusElusSayurDanBuah*.
Jargonnya kan rata-rata, “Badan langsing tapi tetap makan enak.” There’s no such thing called free lunch, rite? Selalu ada harga yang harus dibayar :D.
Tentu saja, menjaga pola makan itu hanya salah satu ikhtiar kita. Sebagai muslim, formula kita dalam menghadapi hidup sehari-hari kan tidak jauh-jauh dari doa + ikhtiar. Kombinasi paling serasi itu :). Tak berarti kalau sudah mati-matian menjaga makanan, penyakit tak mungkin datang menyerang.
Selain menjaga makan, ibadah juga jalan terus plus berdoanya jangan lupa :).
Nah, apa resolusi tahun 2014 teman-teman semua? Adakah memulai pola hidup sehat termasuk diantaranya? ;).
Eh, kok dijadiin resep Food Combining? Isi jagung pula? Bukannya martabak pasti ada telurnya, ya? Kan enggak boleh menggabungkan protein hewani dan karbohidrat?
Hehehe. Kritikannya benar sekali. Tapi, setelah beberapa kali bikin dan mencermati komposisi si telur ayam dalam adonan isinya, resep ini masih bisa ‘dimaafkan’, kok. Pembenaran bagi penggemar martabak! Hahaha.
Etapi serius ini. Di resep martabak yang biasanya saya bikin ini, telurnya cuma sekitar 3 butir dan menghasilkan sekitar 16 potong martabak mini. Jadi kira-kira, satu potongnya mengandung 3/16 butir telur, kurang dari 1/5 kan? Masih aman lah ;). Komposisinya dianggap sedikit.
Sebenarnya, resep ini nyontek dari resep Martabak Tahu-nya Mbak Astri Nugraha. Tinggal ganti tahu dengan jagung manis saja ;). Lebih enak pakai tahu sih, cuma karena di sini jagung kalengan murah bener, sesekali saya suka mencoba resep ini :D. Enggak jauh-jauh dari urusan duit *elusElusDompet* :P.
Bahan :
(Kulitnya pakai  kulit lumpia, ya. Anti repot deh pokoknya, hihihi *ngikikPemalas).
Butuhnya sekitar 15-18 lembar.
Untuk isinya :
1 jagung kalengan, 3 butir telur, 3 bawang putih + 1 bawang bombay besar rajang halus,
daun bawang iris-iris, daun seledri iris-iris, garam, merica, gula, ketumbar bubuk,
minyak goreng untuk menggoreng tentunya 😉
 Caranya :
1. Â Campur jagung dan semua bumbu. Aduk sampai rata. Kalau saya, telurnya dikocok terpisah.
2. Bentangkan kulit lumpia, isikan adonan jagung + telur secukupnya.
3. Lipat dan masukkan ke dalam minyak panas.
4. Goreng sampai matang. Begitu terus sampai adonan dan telurnya habis.
Gampil, kaaaannnn? ;). Lumayan untuk alternatif kalau bosan dengan martabak tahu. Oh ya, diganti dengan kentang juga enak, lho :D. Tapi, memang yang paling asoy itu martabak isi daging cincang la yaowww hahaha.
Tenang, boleh saja sesekali makan martabak abang-abang yang cihuy itu ;). Ingat, ya. Sekali-sekali! Bukan sekali sehari! 😛
Nah, tinggal disantap dengan nasi putih + saos (kalau saya sih tetap pakai sambal tomat-terasi, untuk fotonya saja sok-sok pakai saos hahaha) + segambreng sayur-sayuran segar ;).
Updated : saya sudah membuat video mengenai proses pembuatan Resep Martabak Mini Isi Jagung Manis ini lho hehehe. Silakan dilihat. Semoga bermanfaat ya ^^:
Salah satu variasi dari aneka resep kentang nih. Sebenarnya sih, resep kentang panggang ini enggak spesifik untuk yang ingin mengikuti pola makan food combining :D. Tapi, kalau dicocok-cocokin bisa juga.
Saya sendiri sampai sekarang masih mengkonsumsi nasi putih siang dan malam. Kalau pagi kan ekslusif buah, dong, ya ;). Walau sering melanggar juga hahaha.
Anak-anak dan suami masih belum kuat ber-buah-buah doang di pagi hari sampai jam 12 siang. Tapi tiap pagi mereka pasti minum jus. Bukan jus kotak-an. Buah-buahan segar yang diblender gitu. Pada enggak doyan makan buah potong. Biasanya sih Narda doang yang mau makan apel yang dipotong kecil-kecil gitu.
Sebagai variasi, si kentang panggang ini lumayan sering menjadi hidangan sarapan buat suami dan anak-anak. Bikinnya gampang banget. Belum lagi, kentang juga sering di-diskon di supermarket, hahaha *ngakakNgirit*.
Apartemen di Athlone ini memang ciamik-ciamik. Fully furnished segala. Sampai segala printilan dapur lengkap, kap, kap. Si landlord saya malah seleranya fancy juga. Seumur-umur baru sekali ini punya perlengkapan dapur yang keren-keren hihihi. Setelah di Jakarta dan di Jeddah, isi dapur didominasi oleh peralatan plastik :P.
Kompor listrik 4 tungku juga menjadi standar di apartemen-apartemen Irlandia. Plus oven-nya yang keren punya. Sempat gaptek saking banyaknya tombolnya hahaha.
Aneka Resep kentang yang dipanggang sendiri ? Super gampil ;).
Bahan :
Kentang (biasanya saya 1-2 kg), lada (white pepper) + garam, 1 sendok teh minyak sayur, daun bawang (biasanya pakai daun bawang perai), optional : mentega
Cara :
1. Saya paling suka menggunakan jenis ‘salad kentang’. Ukurannya mungil-mungil. Rasanya lebih gurih dan agak manis. Tinggal dicuci bersih lalu dibelah-belah. Tebal tipisnya terserah kokinya aja :D. Ingat, kulitnya jangan dikupas. Gizinya disitu, tuh ;).
2. Talenan besi (apa sih namanya? bener kan ya talenan? hihihi) untuk memanggang sudah dipasangi dengan aluminium foil di seluruh permukaannya. Taburi minyak sayur sedikit. Susun kentang yang sudah dipotong-potong tadi di atas talenan.
3. Taburi di atas kentang, lada + garam secukupnya. Aduk-aduk biar merata. Paling bagus diaduk pakai tangan saja, daripada pakai sendok dan semacamnya. Optional, pakai lada merah (red pepper) juga kalau mau pedas. Tapi si Narda belum ‘kuat’ makan pedas. Jadi, biasanya dibuat 2 versi sekali masak. Dibedain talenannya saja.
4. Panaskan oven, 220 derajat. Setelah panas, masukkan talenan yang sudah berisi kentang tadi. Panggang sekitar 20 menit sudah cukup. Di sela-sela pemanggangan, sekitar 10 menit kemudian, taburi si daun bawang perai yang sudah dicincang kasar ke atas potongan-potongan kentang. Kalau dimasukin dari awal, gosong euy :P.
Hasilnya, tuh di gambar pertama di atas tadi :D. Jangan lupa tambahkan sayuran segar. Anak-anak dan suami saya doyannya pakai timun segar yang dipotong-potong kecil. Sawi juga bisa. Atau paprika segar yang juga dicincang kecil-kecil.
5. Setelah matang, bisa langsung disantap saja. Enak, lho. Gurih dan harusnya lebih sehat, ya, karena judulnya dipanggang bukan digoreng :P.
6. Bisa juga sembari dipanggang, siapkan sebuah mangkok agak besar. Serut-serut mentega plus daun bawang, campur dalam mangkok itu. Anak-anak kadang lebih suka kalau pakai mentega.
7. Selagi masih panas, cemplungin potongan-potongan kentang ke dalam mangkok. Aduk-aduk biar menteganya meleleh dengan rata.
8. Tinggal dihidangkan, deh :D.
Walau tanpa daging atau telur, rasanya tetap cetarrrrr:D. Cobain sendiri. Gampangnya enggak main-main, kan? Ya kalau susah-susah biasanya enggak bakal saya jabanin. Hahaha.
Food Combining? Apaan, tuh? Teori dasar tentang Food Combining cek di sini dulu :). Pengantarnya mungkin sedikit gengges di sana tapi ya sudahlah yaaaa hihihihi :D. Nama pun Ratu Drama disindang :P. Sekarang kita bahas cara membuat semur tahu kacang merahnya, deh.
Nah, kalau sudah dari link di atas pasti familiar dengan istilah “Kombinasi Makanan Serasi.” Inilah salah satu ciri khas pola makan ala “Food Combining” . Dengan memperhatikan sistem pencernaan dan enzim-enzim yang membantu prosesnya, FC meyakini bahwa sebaiknya karbohidrat dan protein hewani tidak disantap di waktu yang bersamaan.
Kalau pun belum sanggup seideal itu, minimal jumlahnya JANGAN sama atau hampir sama banyaknya. Misalnya, mulailah dengan sepiring nasi dan sayuran melimpah plus SETENGAH POTONG ayam goreng. Ingat, setengah saja, jangan malah ditambah menjadi 3 potong! hihihihi *ngikikRakus*. Sambelnya saja yang ditambah :P.
Kondisi ideal Food Ccombining, menu karbo ya menu karbo dan menu protein hewani dipisah dari karbohidrat. Dan kedua jenis menu tentu tetap harus berpasangan dengan sayur-sayuran yang sebisa mungkin segar. Kalau pun masih makan yang tumis-tumis dan rebus-rebus ya masih terbilang dimaafkan ;). Kayak judul lagu, “Pelan-pelan sajaaaa…”
Protein nabati bagaimana? Kalau yang ini boleh dijodohkan dengan karbo maupun protein hewani. Jadi, kalau orang Indonesia mah enggak usah heboh, ya. Tinggal ganti ayam goreng dkk dengan menu-menu dari tahu atau pun tempe ;). Alternatif protein nabati lainnya adalah…jamur :). Tetap sedap dong, ya ;). Resep food combining kali ini akan membahas tahu-tempe :D.
Tahu-tempe enggak ada matinya. Mau digoreng enak, dikukus nyam-nyam, ditumis boleh, dibalado hayuk, apalagi disemur ^_^. Ini dia cara membuat semur tahu yang ternyata enggak susah sama sekali ;). Resepnya saya lihat dari sini, dari situs Kecap Bango :D.
Karena bahan-bahan di Athlone ini cukup terbatas, jadi cara membuat semur tahu ini saya sesuaikan saja. Rasanya tetap enak walau tanpa daun salam dan bunga kecombrang (ini apaan sih ngomong-ngomong? Hihihi).
Nah, ini si Semur Tahu Kacang Merah versi Mama Jihan yang kemampuan memasaknya memang sangat tergantung pada Google hahahaha … *Google Masterchef :P* :
Semur Tahu Kacang Merah
Terus ya, biar si kecil mau makan, cabe hijaunya saya pisahkan. Tidak saya tumis bareng. Soalnya anak saya yang nomor 2 ini enggak tahan dengan yang pedas-pedas. Kalau abangnya mah sudah jagoan dia hahaha :D.
Kalau menu dengan rasa cukup ‘tajam’ seperti ini usahakan untuk disantap dengan sayuran segar :). Saya biasanya dengan potongan tomat dan timun segar :D.
Ingat, ayam – telur – bebek – daging sapi / kambing – dan aneka protein hewani lainnya sebisa mungkin diumpetin dulu hihihi. Enak koook si semur ini tanpa kehadiran mereka.
Cukup disantap bersama sepiring nasi plus sambal dan potongan sayur segar tadi. Tempo hari karena ada seledri, saya tambahin deh potongan seledri segar. Nyam-nyam-nyam :D.
Eh tapi, si semur yang ini juga cocok dijadikan menu protein hewani. Nasinya digeser diganti dengan telur rebus juga boleh. Kan enak juga, tuh :D.
Untuk menghindari mulut yang enggak bisa setop saat ngunyah yang anget-anget pedas manis plus sambel ini hihihi *tunjukDiriSendiri*, mengunyahnya harus pelan-pelan dan lama ;). Yap, dengan mengunyah seperti ini selain akan cepat terasa kenyang, juga akan memudahkan tugas si sistem cerna kita :). Mari dicoba ya resep food combining yang ini :D.
Food Combining sering disingkat sebagai FC. Bukan football club :P.
Biarpun tidak suka memusingkan penampilan, saya termasuk sangat peduli dengan berat badan. Sewaktu usia 20-an alasannya cetek saja, sih. Iri dengan teman-teman berbadan mungil yang bisa sepuasnya membeli baju-celana model paling in di Melawai (waktu itu Melawai blok M masih hits :P). Baju-bajunya murah meriah, tapi sayang…rata-rata ‘all size’! Ujung-ujungnya duit, hahahahahaha.
Dari dulu, saya anti sekali dengan yang namanya obat-obatan, teh-teh an, dan produk pelangsing buatan lainnya. Saya ingin berbodi langsing (langsing bukan kurus!) tanpa efek samping. Biarpun banyak produk buatan ini yang menjanjikan jaminan alami dan bla bla bla. I never trust any of them.
Saya percaya 2 hal untuk pengaturan berat badan : olahraga + pengaturan pola makan! Tidak kurang, tidak lebih :).
Metabolisme Lebih Optimal di Usia Muda
Mendisiplinkan olahraga secara rutin tidak perlu mahal, lho. Masih ingat acara Primaraga di ANTeve yang tayang tiap hari pukul 6 pagi! I only need a pair of shoes dan bangun lebih pagi, kebiasaan yang tidak pernah saya tinggalkan dari gadis hingga kini.
Prima Raga ANTV (sumber : www.veengle.com)
Pola makan tidak macam-macam. Simpel saja. Tinggal mengurangi porsinya, tanpa mengurangi frekuensi makan. Saya memang pantang menghindari makanan apa pun, kecuali ada efek alerginya buat saya. Tiap makanan alami memiliki kandungan gizi masing-masing. Jadi, dari dulu tidak pernah menganut diet rendah kalori, diet tinggi protein, dan diet-diet lainnya. Saya juga takut mengurangi waktu makan.
Mungkin karena faktor usia dan sangat disiplin berolahraga, waktu kuliah tak begitu sulit menurunkan berat badan. Begitu pun saat mulai bekerja. Awal bekerja, puas-puasin makan enak. Terbiasa dengan uang saku pas-pasan, dapat gaji jutaan rasanya bagai dapat durian runtuh hehehehe. Tapi langsung menyadari berat badan yang mulai tak terkendali. Untunglah dekat kantor ada gym ( yang murah :P). Mulailah mengenal gym sejak saat itu.
Terus kapok deh. Sejak itu terus menjalani pola makan yang tidak berlebihan. Sekali-sekali mangkir. Tapi begitu berat mulai melenceng, langsung balik ke jalur ‘aman’. Gampanglah saat itu menurunkan berat badan. Hamil pun, sesuai saran dokter (baik yang di Jakarta dan di Jeddah), kenaikan berat badan cuma 9 kg saja. Untuk perempuan dengan berat badan normal sebelum hamil, maksimum kenaikan seharusnya 12 kg saja. Di atas itu, hati-hati dengan ancaman tekanan darah tinggi yang menjurus ke diabetes. Ini kata dokter, lho, ya ;).
Setelah hamil ke-2 inilah, semuanya buyar pelan-pelan. Melahirkan Narda memang di usia 31 tahun. Metabolisme tidak seoptimal usia 20-an. Diperparah dengan saya yang memang dari dulu tak suka sayur dan buah.
Sudah berusia diatas 30, anak sudah 2, saya tidak terlalu pusing lagi dengan berat badan. Ditambah lagi hidup di Saudi dalam dekapan abaya sehari-hari, benar-benar melenakan :D. Tiap berkaca rasanya langsing-langsing saja.
Lalu, mulai deh diserang migrain secara rutin. Dulu memang saya termasuk gampang masuk angin. Lalu, setelah usia 30 an makin parah. Langganan antangin plus minyak angin. Maklum, hidup jauh dari keluarga tanpa tangan kedua. Mau tak mau tiap bangun pagi, pusing enggak pusing, harus tetap ‘ngantor’ :P. Minyak angin teman setia dari pagi hingga malam.
Puncaknya ketika melihat hasil tes darah di lab. Kolesterol saya mencapai 202. Masih normal memang. Tapi sudah menyentuh batas atas dan kena warning. Padahal berat badan belum berlebih.
Saya mulai sadar lagi dan kembali ke prinsip dulu. Mengurangi porsi makan. Mulai lagi memaksa diri makan sayur dan buah. Sehabis makan, makan buah. Malah begah dan kadang-kadang sudah tidak kuat. Sebelum makan hajar buah, malah rasanya perut jadi aneh. Boro-boro berat badan turun, malah adanya lapar melulu. Dan berat badan terus naik, perlahan tapi pasti.
Mulai giat berlari lagi, aktifitas yang rutin saya lakukan dulu. Sehabis lari, beberapa jam kemudian pasti masuk angin parah dan migrain menjadi-jadi. Biarpun tidak separah pas lari, saat pilates pun saya sering pusing-pusing setelahnya.
Tentu saya tak mengubah prinsip. Saya tetap pantang menjalani diet rendah kalori, diet tinggi protein, dan teman-temannya. Saya takut malah jadi sakit.
Saya mulai pasrah, “I’m getting older. Terima saja.”
Berkenalan dengan Hidup Sehat ala Food Combining
Mulai tahun 2013, saya punya resolusi baru. Ingin hidup lebih sehat. Berusaha mencari formula yang tepat via google. Bagaimana caranya mengkonsumsi segala jenis makanan dengan tepat tanpa perlu menghindari kandungan gizi tertentu. Rasanya sudah cukup banyak browsing yang dilakukan, belum juga ketemu konsep yang cocok.
Betul kata Ustaz Salim A. Fillah, kadang jawaban atas usaha kita datangnya dari arah yang tidak disangka-sangka. Google tak juga memberikan jawaban yang memuaskan, ternyata informasinya datang dari seorang teman, Linda hehehe. Di waktu yang tidak terduga via obrolan iseng. Lesson learned : keep trying, never give up, you’ll find a way somehow :D.
Tiap kamis pagi biasanya ada kegiatan “Thursday Morning Run”. Tanggal 10 januari, obrolan santai sehabis berolahraga adalah tentang pola makan.
Ucapan Linda yang berbekas waktu itu, “Ini dietnya enak, lho. Boleh makan sampai kenyang. Terus boleh makan nasi pakai tempe pakai sambal pakai terong.” Yayyy, it’s my favorite meal!
Pulang ke rumah, langsung browsing. Memainkan jemari di situs Mbah Google dengan kata kunci : “Food Combining.” Banyak sekali ternyata informasinya. Saya melahap teori-teorinya, tanpa sadar ikut mengangguk-angguk sembari membaca. Saya langsung merasa cocok.
Biarpun tidak suka buah dan sayur. Saya langsung yakin kalau niat pasti bisa menjalaninya.
Memulai sama dengan 50% menyelesaikan. Hari kamis saya pelajari konsepnya, via googling saja, sih. Besoknya, hari jumat, langsung praktik. Tidak pakai pemanasan :D. Tanggal 11 Januari, hari pertama FC saya.
Saya percaya konsepnya. Sesuai pula dengan keyakinan saya selama ini. Bahwa, pola makan memang harus alami, yang ternyata merupakan salah satu konsep dasar FC.
Apa salahnya mencoba? Kalau ternyata kurang cocok ya tinggal berhenti saja, kan?
Prinsip Dasar Food Combining 1 : Pola Makan Mengikuti Pola Pencernaan
Tak ada pantangan apa pun dalam FC. Menurut para ahli, baik karbohidrat, lemak, maupun protein, semuanya dibutuhkan oleh tubuh.
Tapi sistem pencernaan kita perlu kondisi-kondisi khusus untuk bekerja lebih optimal. Nah, pengaturan pola makan ala FC didasarkan pada cara kerja sistem pencernaan kita. Jadi, tak ada ukur-mengukur kalori dalam FC.
Sistem pencernaan bekerja tanpa henti di tiap siklusnya selama 24 jam.
Pukul 12.00 – 20.00 : Kegiatan utamanya adalah pencernaan / pengolahan makanan.
Pukul 20.00 – 04.00 : Kegiatan uatamanya adalah penyerapan makanan.
Pukul 04.00 – 12.00 : Kegiatan utamanya adalah proses pembuangan.
Untuk efisiensi, kita perlu menyesuaikan makanan yang masuk ke dalam sistem pencernaan sesuai dengan pola kerja sistem tersebut. Catat pula bahwa sistem pencernaan merupakan salah satu sistem tubuh yang memerlukan energi yang paling besar.
Pukul 4 pagi hingga jam 12 siang terjadi fase pembuangan. Energi yang diperlukan untuk fase pembuangan sudah cukup besar. Jangan mengganggu kinerja pencernaan kita dengan mengkonsumsi makanan berat. Maka, di jam-jam seperti ini, sarapan dengan konsumsi buah-buahan adalah yang paling efisien.
Wah, sakit perut dong nanti. Bisa lemas, tuh. Itu pun sempat menjadi keraguan saya. But, you never know if you don’t try ;). Buah-buahan termasuk jenis makanan yang sangat cepat dicerna dimana sistem pencernaan kita tidak membutuhkan energi yang besar untuk melakukannya. Karena cepat dicerna, rasa kenyang cepat datang. Kalau lapar lagi, makan buah-buahan lagi. Pastikan buahnya segar, matang tapi tidak busuk, dan telah dicuci bersih.
Yummy 😀 (sumber : www.fruitsinfo.com)
Saya sudah membuktikannya 16 hari ini, buah-buahan terbukti ampuh untuk menjamin pasokan energi hingga jam 12 siang. Sebagai Ibu Rumah Tangga, jam-jam segini ‘kerjaan kantor’ lagi padat-padatnya, lho hehehehe. Jangan takut lemas dan jangan menahan lapar! Kalau lapar, hajar buah lagi. Dan beri jeda 15 menit untuk mengkonsumsi jenis buah lainnya.
Untuk hari pertama hingga ketiga, kalau belum terbiasa, silakan makan siang di jam 10 pagi. Insya Allah setelah hari ketiga, bisa mengikuti pola yang benarnya :).
Jam 12 siang, saatnya mengisi perut dengan makanan lebih berat. Ini adalah fase pencernaan dan pengolahan. Mengenai menunya kita bahas di topik selanjutnya, ya.
Beri jarak antara 2 makanan berat minimal 4 jam. Setelah 4 jam, enzim-enzim pencernaan akan kembali bekerja secara optimal. Tapi usahakan makan malam setelah pukul 18.00, agar malamnya tidak terlalu lapar hehehe. Di sela-sela makan siang dan malam, silakan konsumsi cemilan sehat seperti rujak sayur, rujak buah, kacang-kacangan (sanggrai jangan digoreng), dsb.
Setelah pukul 8 malam, jika masih lapar, hajar buah lagi. Ingat, fase penyerapan pun butuh energi yang tidak sedikit. Jangan membebani sistem pencernaan dengan malahap beberapa potong ayam atau makan mie goreng!
Pola pencernaan pun akan efektif bila kondisi Ph (derajat keasaman) berada di titik 7.5 – 7.8. Ingat kan ya, angka Ph berkisar dari 1 hingga 14. Makin mendekati 1 berarti makin asam. Makin mendekati 14 berarti basa. Berarti, tubuh memerlukan kondisi cenderung basa agar sistem pencernaan bekerja lebih optimal.
Hanya ada 2 jenis makanan yang bersifat basa, sayur-sayuran segar dan buah-buahan segar. Maka dari itu, sekitar 60-70% santapan harian kita harus terdiri dari kedua jenis makanan pembentuk basa ini. Sinkron kan dengan teori makanan sehat yang sering kita dengar? :).
Prinsip Dasar Food Combining 2 : Kombinasi Makanan Serasi
Tulisan ini berdasarkan beberapa literatur di internet dan buku yang ditulis oleh Ibu Andang, salah satu pelopor Food Combining di Indonesia. Saya tentu tak bisa terlalu detail. Dijitak Ibu Andang nanti hehehehe.
Karbohidrat – protein – lemak disebut zat gizi makro karena diperlukan tubuh dalam jumlah besar untuk pemenuhan gizi kita. Hampir semua makanan mengandung ketiga unsur ini tapi dalam proporsi tiap unsur yang berbeda.
Secara alami, dalam tiap jenis makanan hanya terdapat satu unsur gizi makro yang dominan. Selaras dengan sistem pencernaan yang tidak memiliki kemampuan untuk mencerna optimal lebih dari satu zat gizi makro yang dominan.
Langsung paham, dong, maksudnya. Nasi, yang didominasi oleh karbohidrat tidak seharusnya dikonsumsi bersamaan dengan ayam goreng dan protein hewani lainnya, yang memiliki kadar protein tinggi.
Apa? Tidak boleh makan daging? Apa jangan makan nasi? Boleh, Kakaaaakkk :).
Yang tidak boleh adalah melahapnya dalam satu waktu makan yang sama. Jadi, jika siang kita mengkonsumsi nasi, jangan pakai protein hewani. Malamnya barulah kita bebas icip-icip ayam atau sapi atau telur, dll. Bisa juga ditukar. Siangnya makan protein hewani, malamnya menyantap karbohidrat.
Makan malam pun boleh mengkombinasikan protein hewani dan protein nabati. Boleh lho, bikin capcay ayam pakai tahu.
Jangan lupa pula jika tiap-tiap protein hewani memiliki kadar proporsi lemak dan protein yang berbeda-beda. Usahakan dalam satu waktu makan hanya mengkonsumsi satu jenis protein hewani. Kalau makan ayam, enggak perlulah pakai daging sapi lagi. Atau sebutir telur rebus tidak usah dicampur dengan daging ayam. Hemat uang belanja, bukan? Hihihihihi. UUD lagi, deh :P.
Bagaimana dengan sayur? Sudah disebutkan di sub judul sebelumnya bahwa sayur dan buah ini haruslah merupakan aktor utama dalam konsumsi makanan kita sehari-hari. Baik makan siang dan makan malam, sayur tak boleh absen. Dan ingatlah, porsinya harus lebih banyak daripada karbohidrat dan protein utama. Minimal sama.
Sayangnya sayur dan buah bukan kombinasi serasi. Makanya pagi hari, silakan makan buah-buahan sepuasnya (kecuali pisang, durian, alpukat, dan nangka), tanpa mencampurnya dengan sayur-sayuran.
Kenapa? Temukan jawabannya lebih lanjut di bukunya Ibu Andang, ya ;). Banyak pula kombinasi serasi dan tidak serasi lainnya yang bisa ditemukan dalam buku ini. Lengkap dengan alasannya masing-masing. Saya kasih deh sedikit contekan : spaghetti dan saos tomat ternyata a big no-no!
Okelah, sedikit contekan lagi. Pati dan pati ternyata pasangan yang serasi. Jadi, boleh mengkonsumsi perkedel kentang dan nasi. Tapi ingat, perkedel kentangnya jangan diberi daging dan telurnya sedikiiitttt saja ;).
Prinsip Dasar Food Combining 3 : Makan Perlahan dan Mengunyah Lama
Katanya boleh makan sebanyak mungkin dalam FC? Memang boleh. Tapi aplikasikan pula prinsip ke-3 ini : makanlah dengan perlahan, jangan terburu-buru. Kunyah makanan hingga benar-benar lumat dan terasa bercampur penuh dengan air liur.
Mulut merupakan salah satu bagian dari sistem pencernaan. Air liur kita menghasilkan enzim-enzim tertentu dalam membantu proses pencernaan. Melumat makanan dari kasar menjadi halus pun memang fungsi utama gigi dan lidah.
Efek lain yang saya rasakan adalah, kita jadi mudah kenyang. Prinsip ke-3 ini akan mencegah kita makan secara berlebihan. Tuh kan, tidak perlu sibuk menakar ini itu. Semua prosesnya berlangsung alami :).
Hindari Makanan Rendah Energi
Rendah energi belum tentu rendah kalori. Yang dimaksud rendah energi adalah kandungan gizinya kurang bagus dan kombinasinya tidak serasi. Makanan fastfood adalah salah satunya. Enggak boleh sama sekali, nih? Boleh, dong. Tubuh memiliki toleransi untuk pencernaan makanan rendah energi, kok. Asal jangan sering-sering. Lebih bagus lagi kalau diminimalkan sebisa mungkin.
Fast Food (sumber : www.fitchicktricks.com)
Cemilan-cemilan asin dan gurih juga termasuk makanan rendah energi. Begitu pula tepung terigu dan semua turunannya. Oh noooo… Jangan stres dulu, dong. Boleh dikonsumsi. Tapiiiiiiii… sekali-sekali saja ;). Atau kalau mau manfaatkan tepung yang lain seperti : tepung beras, sagu, jagung, dsb.
Tepung terigu mengandung gluten. Dimana tubuh memerlukan 3×24 jam untuk mengolah si gluten ini. Kasihan kan sistem pencernaan kita jika tiap hari dijejali si gluten ini.
Beras putih pun kalau bisa diganti dengan beras merah. Ini sih saya juga belum bisa hehehehe. Setahap demi setahap :).
Kurangilah mengkonsumsi susu sapi. Takut kekurangan kalsium? Kalsium juga bisa didapatkan dalam jumlah cukup dari : brokoli, ikan salmon, kacang-kacangan, tofu, dll.
FC juga menganjurkan kita untuk mengkonsumsi berbagai jenis makanan. Makin bervariasi makin bagus karena kandungan gizi tiap jenis makanan berbeda-beda proporsinya. Tapi tetap dengan menganut prinsip-prinsip dasar FC lainnya, ya :).
Beberapa pihak mengklaim FC ini bertentangan dengan prinsip “4 Sehat 5 Sempurna.” Masa iya?
Kalau diteliti lebih cermat, FC sangat mendukung prinsip 4 sehat ini. Kecuali susu sapi yang diyakini kurang cocok untuk sistem pencernaan manusia. Tapi kan banyak pengganti kalsium lainnya. FC pun mematuhi prinsip-prinsip pemenuhan gizi dalam tubuh karena sama sekali tidak menghindari baik karbohidrat, protein, maupun lemak.
FC meyakini bahwa semua jenis zat gizi akan bsaling bekerja sama dalam tubuh. Tapi, sinergi hanya akan terjadi JIKA MAKANAN INI TERSERAP DENGAN OPTIMAL dalam tubuh. Setelah diserap dan dicernalah baru terasa manfaatnya oleh tubuh. Jadi, apa gunananya makan banyak makanan bergizi tapi tak terserap sempurna oleh sistem pencernaan kita?
Belum lagi, penyerapan yang tidak sempurna akan menghasilkan residu atau sisa-sisa makanan. Kelak, sisa-sisa ini jika terus menerus menumpuk akan menjelma menjadi penyakit serius.
Ingat, dalam FC, dalam satu hari kita tetap harus mengkonsumsi semua jenis makanan dari berbagai jenis. Waktu makan dan kombinasinya yang diatur. Jadi, kurang tepat jika dikatakan bertentangan dengan prinsip 4 sehat 5 sempurna.
Para pakar FC juga menanggapi rasa skeptis pihak lain dengan tantangan sederhana, “Sebaiknya dicoba dulu dan rasakan manfaatnya.”
Hasil FCnya? Pelaksanaannya?
Waktu membaca testimoni para ahli pendukung FC (mereka kesemuanya mempraktikkan terlebih dahulu) dan orang-orang biasa yang juga menerapkan FC, saya pesimis. Masa iya turun langsung berkilo-kilo dalam tempo sebulan? Terus katanya tetap segar dan malah makin sehat. Lebay amat.
Bukan sulap bukan sihir. Benar lho, hanya dalam tempo 3 hari menjalani FC, migrain saya berkurang secara drastis. Setelah 4 hari sudah hilang sama sekali.
Karena pola makan yang (katanya) mengefisienkan sistem kerja pencernaan ini, maka ‘serangan pertama’ pastilah ke daerah perut. Tidak berlebihan teori ini. Perut buncit saya yang sudah saya pasrahkan (padahal saya pilates tiap hari) mengecil perlahan-lahan awalnya. Dalam tempo 3 hari pun ikut berkurang drastis.
Hidup lebih sehat adalah tujuan utama saya dan memang hasilnya memuaskan hanya dalam hitungan hari. Perut ikut kendur adalah bonus pertamanya. Bonus kedua, penurunan berat badan hingga 4 kg dalam tempo 16 hari. Seminggu pertama malah drastis, langsung terpangkas 2,5 kg.
Sekali lagi, bukan sulap bukan sihir. Masuk angin? Seperti migrain, masuk angin pun lenyap. Setelah seminggu berFC, saya cukup ragu ingin lari pagi di kamis pagi seperti biasa.
Saya takut hanya mengandalkan buah-buahan sebelum berlari. Dari rumah saya membekali perut dengan sebutir telur rebus dan 2 potong tempe goreng. Alhamdulillah, sanggup berlari sejauh hampir 4 km pagi itu. Setelahnya pun tetap bugar. Bahkan, sore hari ikut piknik ‘membedah gurun’ bersama teman-teman hingga malam hari.
Katanya biar tidak bosan, dalam menjalani FC, ambillah hari libur. Dalam seminggu, 5 hari full FC, 2 hari libur, makan seperti biasa (tidak perlu memperhatikan kombinasi makanan serasi).
Saya tidak mengambil libur sama sekali. Tapiiiii, dalam seharian saya tidak selalu 100% FC. Sering juga cemilan sore saya makan donat. Atau ngemil halawa, cemilan khas Arab favorit saya. Tapi porsinya tidak seperti dulu.
Dulu saya sanggup menghabiskan 4 potong donat jumbo dalam 5 menit saja. Makan halawa coklat bisa sekaligus 10 sendok makan tanpa henti. Saya penggila makanan manis dan penggemar berat coklat :D.
Sejak rutin menjalankan hidup sehat ala food Combining, sekali ngemil, cukup setengah atau 1 potong donat. Halawanya cukup 1-2 sendok makan. Tetap nikmat juga ;).
Masih Perlukah Berolahraga?
Pastinyaaaaa :D.
Berolahraga sebenarnya lebih ke arah peningkatan stamina dan kebugaran. Dan kalau Anda seambisius saya, yang sedari dulu nyaris tidak pernah meninggalkan kebiasaan ini, olahraga berfungsi untuk menjaga postur dan mengencangkan tubuh.
Sejak 5 bulan terakhir ini, pilates adalah rutinitas harian saya. Ringan saja, kok. Sekitar 20-30 menit sehari. TIdak pakai alat. Hanya modal matras dan gerakan-gerakannya nyontek dari situs Youtube saja. Saya mah pantang yang mahal-mahal hihihihihi
Rasanya sudah tidak kuat beraerobik high-impact seperti Zumba yang rutin saya lakukan beberapa waktu lalu. Usia sudah memasuki 33 tahun tepat 2 januari tahun ini. Tahu dirilah. Saya bukan atlet hehehehe.
Sejak dahulu, biarpun terlihat kecil. berat badan saya normalnya di kisaran 49-50 kg dengan tinggi badan 158 cm. Sewaktu masih bekerja, saya punya teman yang tingginya sama dengan saya, tapi ukuran celana kami berbeda satu nomor. Dia menggunakan nomor yang lebih besar. Badannya pun sekilas terlihat lebih besar daripada saya. Tapi berat badannya cuma 48 kg, saya 50 kg saat itu. Dia protes menuduh saya sengaja menaikkan angka berat badan. Idih, buat apaaaaa??? hehehehe.
Baru-baru ini seorang teman juga protes. Mengapa berat badannya cuma 1 kg lebih berat daripada saya, padahal saya terlihat jauh lebih kecil. Tinggi badan kami tak jauh beda. Malah mungkin dia lebih tinggi daripada saya.
Ternyata olahraga juga akan mengubah massa lemak menjadi massa otot. Dimana massa otot lebih berat daripada lemak. Melakukannya ya harus teratur. Kontinuitas memegang peranan penting, jauh lebih penting daripada durasi waktunya. Tidak terlalu berpengaruh Anda berlari di atas treadmill selama satu jam penuh jika melakukannya cuma kadang-kadang atau tidak teratur.
Intinya olahraga akan membuat badan lebih padat.
Pakai abaya tidak menghalangi niat olahraga 😉
Menghadapi Lingkungan
Nah, dalam pergaulan sehari-hari, pasti ada saja acara kumpul yang biasanya bertaburan makanan hehehe. Makan saja seperti biasa. Toh, tidak tiap hari, kan? Begitu pula jika ada kawinan atau harus bertamu di jam makan. Ingat konsep FC, tidak ada pantangan ;). Asalkan jangan jadi kebiasaan. Besoknya atau setelahnya, segera mengembalikan pola makan sesuai prinsip FC.
Lalu, pasti ada juga komentar-komentar nyinyir seperti, “Duhhhhh, gue sih males ya menyiksa diri kayak gitu. Mending nikmatin hidup makan enak-enak sepuasanya.” Atau seperti ini, “Gue mah mana sanggup gak makan pakai nasi. Mbok ya hidup jangan dibikin susah.”
Jangan sensi. Santai saja :D. Kalau kurang nyaman, segera tinggalkan percakapan. Dengan cara yang sopan tentunya. Kalau ada teman yang mulai menyindir dengan tajam, saya biasanya undur diri dengan alasan pengin pipis hehehehe. Selama tidak merugikan siapa-siapa, keep on moving ;).
Makanan enak memang salah satu ‘surga dunia’. Tapi siapa yang berani menampik bahwa kesehatan adalah anugerah terindah dari Tuhan yang tidak akan terbeli oleh uang? :). Jangankan cuma makanan enak, dengan tubuh sehat masih banyak hal yang enak-enak lainnya yang bisa kita nikmati dengan leluasa.
***
Ternyata bukan cuma pakar-pakar kesehatan dunia barat yang menganut metode ini. Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadis yang mengatakan bahwa sebagian besar penyakit berawal dari perut. Saya kurang tahu apakah ini hadis yang sahih atau bukan. CMIIW.
Konsep FC sangat mendukung hal ini. Dimana pusat perhatian dari pola hidup sehat ala Food Combining adalah urusan PERUT :D.
Sebagai muslim pun kita harus tetap mengingat bahwa pola hidup sehat mana pun hanyalah sebuah bentuk ikhtiar. Hasil akhirnya tetap dengan campur tangan kuasa Allah. Jika dalam pola hidup sehat ala Food Combining, kombinasi pati + sayur atau protein hewani + sayur adalah kombinasi serasi, maka untuk umat muslim, kombinasi IKHTIAR + DOA adalah kombinasi serasi dalam menjalani hidup dalam keadaan apa pun :).
Saya menuliskan ini berdasarkan ikhtiar saya untuk hidup lebih sehat dengan menjalani pola hidup sehat ala food combining selama 16 hari ini. Hari ini yang ke-17 :). Saya sudah membuktikan hidup sehat cara alami dengan hasil yang (mungkin) sedikit lebay. Lebay buat yang belum mempraktikkan tentu saja ;).
Tidak ada cara lain untuk membuktikannya selain ikut menjalaninya, bukan? Kalau begitu, selamat mencoba! ^_^