Saint Patrick’s Day, Karnaval  Khas Bangsa Irlandia

Oleh : Jihan Davincka

(dimuat di Tabloid Prioritas, April 2013)

***

Tanggal 17 Maret diperingati sebagai Saint Patrick’s day oleh orang-orang Irlandia. Dirayakan dengan gegap gempita di seluruh wilayah negeri tetangga kerajaan Inggris ini. Bahkan menjadi hari libur resmi.

Tahun ini, Hari Saint Patrick jatuh hari minggu. Liburnya berlanjut hingga ke hari senin. Kami berkesempatan ikut menyaksikan kemeriahan karnaval di tengah kota Athlone. Sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 120 km dari ibukota Irlandia, Dublin.

Hari nasional ini juga dirayakan dengan meriah oleh bangsa Irlandia di belahan dunia yang lain. Tidak sedikit imigran asal Irlandia di beberapa wilayah di belahan utara benua Amerika. Di beberapa tempat, misalnya kota Boston, Hari Saint Patrick pun ramai dirayakan.

Keriaan St Patrick's Day @Athlone
Keriaan St Patrick’s Day @Athlone

Legenda Saint Patrick

Saint Patrick sendiri sebenarnya bukan pria asal Irlandia. Melainkan seseorang yang berkebangsaan Inggris yang di usia ke-16 diculik dan dibawa ke Irlandia untuk dijadikan budak.

Saat itu, dia belum memiliki ketertarikan apa pun terhadap agama Katolik. Setelah 6 tahun mengalami perbudakan, Saint Patrick berhasiil melarikan diri kembali ke tanah kelahirannya. Saat inilah Saint Patrick mengalami perubahan besar secara relijius. Beliau menjelma menjadi penganut Katolik yang taat.

Sebagai bentuk pengabdian terhadap keyakinan barunya, Saint Patrick kembali ke Irlandia dan menyebarkan Katolik di sana. Konon, dia berhasil mengubah masyarakat Irlandia yang tadinya menganut paganisme menuju era gereja katolik.

Saint Patrick meninggal di tahun 461 M, tepat di tanggal 17 Maret. Hari kematiannya inilah yang dikenang oleh masyarakat Irlandia sebagai penghormatan baginya. Sebagai Santo Pelindung sekaligus Penyelamat bagi umat katolik di Irlandia.

Menunggu parade dimulai @Athlone
Menunggu parade dimulai @Athlone

Hijau Dimana-mana!

Suhu udara yang menaungi kota masih tak beranjak dari angka 1 – 3 derajat celcius. Dinginnya udara membuat sudut-sudut kota kecil Athlone tetap lengang dan sepi. Padahal musim semi seharusnya sudah menyapa negeri ini di pertengahan maret. Suasana berubah drastis saat jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Setengah jam lagi, parade akan segera dimulai.

Orang-orang mulai tumpah ruah di jalan. Sebagian besar warga menyerbu jalanan protokol dengan berjalan kaki. Datang dari berbagai penjuru kota.

Anak-anak kecil mengenakan kostum hijau-hijau. Tidak sedikit mengenakan topi hijau besar ala Leprechaun, peri jantan yang dalam mitologi Irlandia diyakini pernah mendiami daratan Irlandia.

Warna hijau tidak hanya identik dengan Saint Patrick. Saat menyebarkan asas “tri-tunggal” dalam kepercayaan katolik, sang santo menggunakan daun Shamrock, mirip dengan daun Semanggi. Terutama dengan perumpamaan sehelai daunnya yang persis memiliki 3 cabang. Shamrock hijau ini pula yang dijadikan lambang negara Irlandia.

Beberapa hari sebelum perayaan, beberapa bangunan di tengah-tengah kota juga dihias dengan warna hijau. Tak sedikit toko, hotel maupun restoran ikut memasang tirai atau pernak-pernik lain berwarna hijau sebagai pemanis di dalam etalase toko.

Tak ketinggalan pula suvenir khas ala Irlandia membanjiri rak-rak toko. Misalnya : patung karakter Leprechaun yang berbalut busana serba hijau, berbagai cindera mata berwarna hijau, dsb. Beberapa warga pun tak segan memasang miniatur bendera-bendera Irlandia sebagai penghias kendaraan pribadinya.

Kostum khas St Patrick
Kostum khas St Patrick

Parade Seni dan Komunitas Kota

Awalnya saya sedikit segan untuk ikut serta berdiri di jalan menyaksikan iring-iringan karnaval. Soalnya kami bukan penganut Katolik.

Saya pikir perayaannya akan bersifat relijius. Ternyata tidak juga. Sebagian besar peserta karnaval adalah berbagai komunitas masyarakat kota. Malah diantara iring-iringan tersebut, ada juga toko atau penjual makanan dan furniture yang memanfaatkan  momen karnaval untuk berpromosi.

Parade dibuka dengan peragaan Marching Band. Sekumpulan laki-laki berseragam hitam berbaris rapi, berjalan sambil meniup terompet dan menabuh drum. Diikuti dengan dengan dua mobil panser besar yang dihias dengan bendera-bendera kecil yang menunjukkan warna kebangsaan Irlandia, hijau-putih-oranye.

Kelompok berikutnya menampilkan berbagai klub lokal anak-anak yang ada di kota Athlone. Sekitar 30 orang anak laki-laki berseragam merah hitam muncul sambil meneriakkan yel-yel khas ala pertandingan sepak bola. Beberapa orang di barisan terdepan memamerkan kemampuan mereka mengolah bola dengan kaki. Perkumpulan pramuka juga tidak ketinggalan ikut berpawai.

Barisan Marching Band anak-anak
Barisan Marching Band anak-anak

Ada pula barisan marching band yang menampilkan sekitar belasan anak kecil yang memainkan lagu-lagu mars. Diikuti oleh beberapa anak-anak lain yang berjalan sambil berakrobat layaknya anggota sebuah klub gymnastic. Tim hoki cilik dengan seragam oranye mengikuti dari belakang.

Anak-anak saya sudah mulai kegirangan. Orang-orang mulai bertepuk tangan dan berteriak. Apalagi beberapa peserta karnaval melemparkan permen dan kue-kue ke arah penonton anak-anak.

Klub Hoki anak-anak :D
Klub Hoki anak-anak 😀

Setelah rombongan anak-anak berlalu, iring-iringan didominasi oleh klub-klub setempat yang diikuti oleh orang dewasa. “Athlone Sub Aqua Club” muncul dengan sebuah kapal karet yang ditumpangi oleh beberapa orang dewasa yang berkostum ala penyelam. Organisasi Palang Merah kota pun meramaikan suasana dengan raungan sirine ambulans. Sebuah mobil truk di belakangnya diisi oleh orang-orang yang berpura-pura menjadi pasien dan perawat.

Parade terus berjalan. Kali ini ada rombongan pemusik yang memainkan alat musik khas yang setahu saya menjadi ciri khas daerah Skotlandia, bagpipe. Ini yang paling menarik perhatian saya. Pertama  kalinya melihat pertunjukan musik tradisional ini secara langsung. Biasanya hanya melihat di majalah, surat kabar atau televisi saja. Pesertanya juga mengenakan kostum khas yaitu rok motif tartan (kotak-kota merah hitam) dan dilapisi dengan jubah hitam memanjang hingga menyentuh lutut.

Bagpipe sekilas berbentuk mirip seruling. Terbuat dari kayu dan juga termasuk alat musik tiup. Tapi suara yang dihasilkan sangat berbeda. Suara dari alat musik satu ini lebih nyaring dan tidak sehalus seruling. Lebih tajam dan sedikit cempreng menurut saya. Namun tetap terdengar indah di telinga.

Pemusik Tradisional : Bagpipe
Pemusik Tradisional : Bagpipe

Ternyata, bagpipe tidak hanya digunakan oleh bangsa Skotlandia saja. Tapi sebagian besar bangsa Kelt, serumpun dengan bangsa Celtic, juga menggunakan alat musik tradisional ini. Bangsa Kelt dan Celtic ini mendiami sebagian besar wilayah kepulauan Britania dan sekitarnya.

***

Karnaval berlangsung meriah di tengah cuaca yang mewajibkan kami semua mengenakan mantel tebal untuk menghalau udara dingin. Usai parade, sebagian besar orang mulai berpencar. Kami sendiri memilih langsung beranjak pulang.

Dinginnya suhu sedikit menghangat dengan melihat begitu ramainya penduduk kota yang berdiri bergerombol di sudut-sudut jalan. Saling menyapa dan mengobrol agak  lama. Mereka tidak langsung pulang.

Konon, bila malam hari tiba, perayaan akan dilanjutkan dengan acara minum bersama. Irlandia memang terkenal dengan tradisi minum bir. Katanya, di kota-kota besar seperti ibukota Dublin, acara minum-minumnya sudah dimulai sejak siang hari. Tapi kami melewatkan tradisi ini. Sepanjang malam dihabiskan dengan dalam rumah dengan menonton televisi bersama anak-anak. Cara yang kami anggap lebih tepat untuk  menghangatkan diri di tengah dinginnya suhu yang masih menerpa sebagian besar wilayah Eropa hingga penghujung maret ini.

Athlone Boy League
Athlone Boy League

Cerita Islami Inspiratif : Resensi Buku Kembali Menjadi Manusia

Buku ini berisi kumpulan cerita cerita islami inspiratif (y).

Judul Buku : Kembali Menjadi Manusia

Pengarang : Doni Febriando
Penerbit : Elex Media – Gramedia

“Islam, Membungkus Kebenaran dengan Kebaikan”

***

3 bintang pertama (out of 5) pasti akan langsung saya berikan pada pemilihan kata dan cara mengisahkan penulis yang sangat mengalir dan bikin betah. At least, buat saya, lho, ya.

Mengikat pembaca sejak halaman pertama adalah salah satu hal yang cukup sulit buat seorang penulis. Bravo, Mas Doni :). Poin ini ditaklukkan dengan cukup baik. Buku ini sudah sukses memaksa saya membacanya secara beruntun sampai halaman terakhir sampai telat keluar dari kamar padahal sudah bangun sejak dini hari hehehe. Dipelototin suami, deh hahahhaha.

Buku ini terdiri dari 26 esai yang direkatkan dalam 5 bab. Dilengkapi dengan 8 buah puisi.

Cerita islami inspiratif buku kembali menjadi manusia

Tapi sedikit masukan, ya. Kalau berbicara walisongo kayaknya kurang tepat kalau menyebut-nyebut Nusantara. Mungkin lebih cocok di Pulau Jawa saja :D. Saat walisongo aktif menyebarkan Islam di Pulau Jawa, secara bersamaan ada ulama-ulama lain yang juga mendakwahkan Islam di Sumatera dan Sulawesi. Sumber : buku “Ulama & Kekuasaan” (Penulis : Jajat Burhanuddin).

Jangan khawatir, buku ini tidak melulu membahas walisongo doang, kok :D. Isinya lebih luas.

Walau memang bernapaskan Islam, penulisnya menolak buku ini disebut buku agama. Iya sih, sesuai judulnya, buku ini cocoknya disebut “buku kemanusiaan” :D. Genre apa pula itu? :v :v :v.

Bagi yang ingin membuka wawasan terhadap ajaran Islam, bolehlah dijajal buku ini untuk mendapatkan sudut pandang yang lain tentang ajaran yang punya pakem “rahmat bagi seluruh umat manusia.”

Ah yang benar, rahmat bagi umat manusia atau umat muslim doang, nih? :p.

Penulis mempunyai satu penjelasan yang mumpuni untuk keraguan di atas. Bahwa yang namanya kebaikan itu posisinya justru lebih tinggi daripada kebenaran. Lagipula, jika manusia berbicara kebenaran, bisa ribet urusan :p. Karena, yang Mahabenar itu hanya Tuhan semata dong ya, dalam keyakinan kita sebagai umat beragama.

Kecuali ada yang menganggap, “Lah, saya mengerti semua kok Tuhan maunya apa. Saya ini bicara berdasarkan kata Tuhan.” Nah lho! Ngeri, kan? Tuhan punya kembaran gitu? Hahaha :p.

Apakah terbayangkan jika “kami paling benar” ini tidak cuma satu tapi ada beberapa bahkan banyak. Berapa banyak kesusahan hidup yang harus ditanggung oleh umat manusia? :(.

Di sinilah penulis mulai menjabarkan makna pentingnya manusia untuk selalu sadar diri.

Tulisan “Termasuk yang 72 atau yang 1?” adalah tulisan pembuka. Rasulullah sendiri yang berpetuah, umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Makin mencekam dengan lanjutan, hanya ada 1 golongan yang selamat, sedangkan 72 golongan lainnya tersesat.

Pasti langsung pening nyari pengajian mana ini yang cucok hihihihi. Harus ikut NU apa Muhammadiyah? Harus ikut PPP, PKB, atau PKS?

Penulis menguraikan pentingnya kita untuk selalu merasa bagian dari yang 72 itu ketimbang ngotot bahwa kita adalah yang 1 golongan. Selalu merasa tersesat akan membentengi kita dari perasaan tinggi hati dan mendekatkan kita pada rasa rendah hati ;). Mengakui diri masih kurang akan terus menggenjot kita untuk melakukan perbaikan diri demi mengharap rahmat dariNya.

Tak sadar, fokusnya akan selalu di diri kita sendiri. Tak banyak waktu lagi mengorek-ngorek aib orang lain. Senantiasa mencari kebaikan dalam diri orang lain. Bukankah rahmat dan ampunan Allah jauh lebih luas dari jagad raya dan seisinya? Siapalah kita hendak menelaah pikiran dan kebijaksanaan Tuhan? Siapalah kita mau cap cip cup kembang kuncup, ribet sendiri mikirin siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka? :D.

cerita islami inspiratif

Kategori golongan yang dimaksud bukan kriteria organisasi apalagi kartu tanda anggota :D. Tapi kepada karakter manusia-nya. Karakter kita ngikut siapa? Ya mengikuti sunnah-sunnah dan cara hidup rasulullah :). Walau tak akan sesempurna beliau, minimal kita terus mengupayakan seoptimal yang kita bisa ;).

Sunnah rasulullah? Horeeeee … poligami, poligami, poligami! :v :v :v.

Yang perempuan jangan cemberut dulu. Penulis punya satu artikel yang mengupas tentang “Monogami Juga Sunnah Rasul”. Ah, masa, masa, masa? Katanya kalau istri cuma satu mah artinya cemen. Poligami sering dianggap titik lemah Islam karena bertolakbelakang dengan jargonnya, “Memuliakan derajat perempuan.”

Baca sendiri di bukunya yaaaaa, penjabarannya sangat runut dan tidak ada yang aneh-aneh dari yang selama ini sudah pernah kita dengar :).

Penjabaran macam apa sih? Buku ini juga banyak menyebut-nyebut soal menjabarkan ibadah via ilmu tasawuf. Ibarat manusia, ilmu syariat adalah tubuh, ilmu hakikat adalah ruh. Jadi, ilmu fikih harus didampingi dengan ilmu tasawuf. Tasawuf ini juga yang akan terus menjaga agar kebenaran-kebenaran yang kita sampaikan terus menerus terbungkus dalam kebaikan. Mencerahkan bukan menyakiti. Membujuk bukan mengancam.

Kemampuan mencerahkan dan membujuk (bukannya menghina apalagi menakut-nakuti) yang menjadi kunci keberhasilan penyebaran Islam secara damai dalam tempo waktu cukup singkat di Jawa oleh para Walisongo.

Ilmu niat diperkenalkan sejak awal. Semua kegiatan kita sehari-hari jatuhnya ibadah kalau disertai niat yang benar. Tidur lebih awal itu pemalas? Enggak juga. Kalau niatnya untuk menjaga kesehatan jatuhnya ya ibadah juga. Kalau niatnya mau begadang nonton bola ya bisa lain lagi urusannya :p –> ini contoh dari bukunya langsung, ya :D.

Bukannya mengatakan sedikit-sedikit masuk neraka, walisongo menerapkan ajaran sedikit-sedikit masuk surga. Jadi, masyarakat awam mudah tertarik dan ajarannya diterima dengan suka cita ^_^.

Kutipan dari buku, “Akhirnya, para petani semakin mencintai sawahnya, para pencari kayu bakar semakin mencintai kelestarian hutan, para nelayan semakin mencintai perahu layarnya, dan sebagainya. Semakin cinta, karena Walisongo giat menyadarkan nenek moyang kita, bahwa semua keseharian umat manusia ternyata adalah jalan menujuNya, asal diniati untuk Allah.”

Soal kepercayaan penduduk saat itu yang memuliakan sapi, disikapi oleh Walisongo dengan menunjukkan surah Al Baqarah, bahwa Islam pun memuliakan hewan sapi :). Saat hari raya qurban, sapi tidak boleh disembelih, diganti dengan kerbau.

Kutipan dari buku, “Di atas ilmu fikih, masih ada ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tasawuf. Maksudnya, menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram. Kebaikan lebih utama daripada kebenaran.”

Dan banyak suri tauladan ala walisongo yang disampaikan dalam tulisan-tulisan lainnya. Seperti dalam “Jejak-jejak Walisongo” dan “Bertemu Walisongo di Candi Prambanan.”

Tulisan “Beberapa Jalan Mudah Menuju Surga” juga jangan sampai dilewatkan. Penekanan bahwa ayat-ayat alquran sebenarnya lebih banyak membahas aturan bermuamalah dalam kehidupan sosial. Untuk melengkapi argumen saya tempo hari untuk membantah tuduhan kaum atheis ya, kalau agama hanya peduli pada ritual individu semata. Dalam Islam sendiri, jelas tidak begitu ;).

Allah Maha Pengasih
Allah Maha Pengasih

Berbakti kepada kedua orang tua dalam kondisi apa pun, menyayangi makhluk lain ciptaan Tuhan seperti binatang dan lingkungan hidup, bisa menjadi modal penting asalkan dilakukan dengan istiqamah dan terus menerus.

Belajar memahami kondisi orang lain bisa dijadikan senjata ampun untuk menjaga dari sifat tinggi hati yang sering berujung penghakiman kepada orang lain. Jangan berpikir kehidupan ini seperti buku teks. Apalagi mencoba memasangkan ukuran-ukuran dari pengalaman kita kepada orang lain.

Kehidupan ini sangat kompleks. Seperti contoh dalam buku, memandang pelacuran. Jangan terlampau mudah mengklaim melacur = masuk neraka. Masih ada wacara lain, “menolong”.

Kutipan dari buku, “Kalau tidak bisa memperbaiki, jangan merusak. Kalau tidak bisa membuat seseorang keluar dari kubangan lumpur dosa, jangan melemparinya dengan batu. Kalau kita tidak bisa menolong seseorang keluar dari pekerjaan melacurkan diri, kita jangan sampai menambah kesedihannya.”

Rasa belas kasihan itu adalah sifat dasar manusia yang seharusnya makin tergali seiring keyakinan kita kepada Tuhan. Bukannya malah terkikis atas nama agama :(.

Makna-makna ibadah ritual dari ilmu tasawufnya juga dijabarkan di sini. Hikmah-hikmah di balik gerakan salat misalnya. Agar kita tidak “Meninggalkan Allah di Atas Sajadah”, salah satu judul tulisan lain dalam buku ini.

Demikian garis besar isi buku “Kembali Menjadi Manusia”. Semoga kehangatan dan ketenangan bisa kita peroleh dari isinya. Kedua hal yang mudah-mudahan bisa menguatkan kita bahwa siapa bilang menjadi orang saleh itu mengharuskan kita memusuhi ajaran lain? Apakah akidah yang teguh terkadang mewajibkan kita harus memilih hal yang dirasa tidak nyaman dan menyakiti orang lain?

Kebaikan itu posisinya selalu paling atas ;). Kebaikanlah yang seharusnya membungkus semua kebenaran yang kita yakini.

Secara keseluruhan 4.5 bintang (out of 5) untuk buku ini :D. Segera akan saya list di akun Goodreads saya :D.

Akhir kata saya kutipkan ini kalimat yang pernah saya baca di salah satu tulisannya Mas Iqbal Aji Daryono (entah yang mana hihihihi). Kurang lebihnya begini, “Kita tidak boleh lupa, selain mengakui hak kita sebagai umat beragama kita tidak boleh lupa kewajiban kita sebagai … umat manusia :).”

Dia manusia, mereka manusia, kita pun manusia. Manusia, tempat salah dan lupa (Al insaanu mahallul khatha wan nisyaan). Mari … kembali menjadi manusia.

Selamat membaca ^_^.

Kembali Menjadi Manusia

Athlone, Januari 2015
-Jihan Davincka-

***

fotografer Dani Rosyadi

Hate The Sin, Love The Sinner

Setiap tanggal 5 November, ada perayaan khusus untuk masyarakat Inggris. Mereka merayakan saat lolosnya sang Raja dari percobaan pembunuhan oleh sekelompok pemberontak.

Tahun 1605, rencana besar untuk meledakkan gedung tempat raja sedang berada gagal total. Salah satu tokoh pemberontak yang terkenal karena peristiwa tersebut adalah Guy Fawkes.

Namanya kembali samar-samar teringat saat mengunjungi Tower of London dalam rangka jalan-jalan London tempo hari.

Jalan-Jalan London

“The Bloody Tower” adalah salah satu spot yang paling menarik perhatian saat mengunjungi Tower of London. Tempatnya kecil saja tapi isinya horor abis hihihihi *ngikikTegang*. Di ruangan ini dipamerkan berbagai alat-alat penyiksaan zaman dulu kepada para tawanan dalam penjara.

Tower of London memang pernah berfungsi sebagai penjara bagi para penjahat di masa lampau. Makanya langsung ingat pada sosok Guy Fawkes.

Jalan-Jalan London

Dengar-dengar si Guy Fawkes ini termasuk salah satu tawanan yang pernah mencicipi ruang penyiksaan tadi. CMIIW sih hihihi. Secara menara yang paling menarik perhatian turis ini memang punya sejarah yang super panjang dan multi fungsi dari abad ke abad.

Guy Fawkes lahir sebagai seorang Katolik. Tumbuh besar di Kerajaan Inggris saat kerajaan di bawah kekuasaan Ratu Elizabeth I yang berpaham Protestan. Zaman itu, perseteruan antara Katolik dan Protestan lagi sengit-sengitnya.

Jika yang berkuasa adalah rezim Protestan maka kaum Katolik akan dilarang beribadah. Kalau melawan akan dibunuh. Begitu pula sebaliknya. Walau Kerajaan Inggris lebih kental Protestan-nya, namun pernah juga berada di bawah kekuasaan Katolik.

Guy Fawkes adalah penganut Katolik yang taat. Kesedihannya akan tertindasnya kaum Katolik di bawah kepemimpinan Sang Ratu membawanya terlibat dalam beberapa aksi kekerasan. Hingga akhirnya saat diburu, Guy Fawkes lari ke Spanyol.

Saat itu, Spanyol justru sebaliknya. Spanyol tengah berada dalam kekuasaan Katolik dan tengah menghadapi pemberontakan-pemberontakan dari daerah Holland dan Belgia yang hendak melepaskan diri.

Untuk mengobarkan semangat perjuangan, isu agama mulai dimainkan. Kebetulan pula, para pemberontak mayoritas Protestan. Pihak Kerajaan Spanyol mulai menyewa tentara bayaran untuk menumpas para pemberontak. Guy Fawkes tentu langsung setuju.

Bagi pihak Kerajaan Spanyol, pertempuran murni untuk mempertahankan wilayah mereka. Sementara di mata Guy Fawkes, ini adalah semacam jihad untuk membela ajaran Katolik yang dijunjungnya.

Pertempuran yang sebenarnya hanya masalah perebutan kekuasaan dan keinginan untuk merdeka dari penjajahan disulap menjadi perang agama. How ironic . Ironis tapi manjur untuk mengobarkan semangat juang masing-masing pihak. Hm, sounds familiar, no? 😉.

Jalan-Jalan London

Setelah cukup matang menimba pengalaman di Spanyol, Fawkes kembali ke Kerajaan Inggris. Di sinilah Fawkes mencoba mencari-cari kesempatan untuk membebaskan belenggu “penjajahan” dari rezim Protestan kepada para penganut Katolik. Bayangkan, mereka dilarang beribadah dan dipaksa menyembunyikan status “Katolik”nya di muka umum. Kalau ketahuan ya nyawa taruhannya.

Akhirnya Guy Fawkes dan kawan-kawannya terpikir untuk menyelundupkan bubuk mesiu ke ruang bawah tanah di Gedung Parlemen tempat raja dan tim penasihatnya berkumpul. Sayang sekali, rencana tersebut gagal total. Guy Fawkes ditangkap, dipenjara dan disiksa sampai mati.

Tapi…itu sejarah dulu . Pertumpahan darah luar biasa memang pernah mewarnai hampir seluruh penjuru Eropa kala ajaran Protestan yang dibawa oleh Marthin Luther di Jerman, mulai bersemi Sekarang sih, di Eropa sudah nyaris tak terdengar lagi indikasi pertikaian antar agama hehehe.

Buktinya adalah Kerajaan Inggris yang mayoritas Protestan dan Republik Irlandia yang mayoritas Katolik adem-adem saja. Malah hubungannya sudah seperti kakak adik . Saya sempat terpikir, maraknya Atheisme di Eropa jangan-jangan adalah buah trauma mereka dari sejarah di masa lampau. Di mana perbedaan agama bisa mengorbankan sebegitu banyak nyawa. Well, bisa jadi sotoy aja saya-nya, sih. Hahahaha.

Jalan-Jalan London

Bukan hanya itu, lho, agama dulu selalu dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern. Gereja berhak menghukum mati orang-orang yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan gereja. Kalau tidak salah, Copernicus si pencetus bahwa bumi itu bulat adalah salah satu korbannya. Karena dulu Gereja ngotot kalau bumi itu bentuknya kotak .

Penemuan-penemuan modern di Eropa kala itu malah menjadi momok bagi sang ilmuwan. Kalau ketahuan sama Gereja, tamatlah riwayat mereka. Tidak heran kalau sebagian masyarakat masih terbawa trauma kali ya dengan suasana ini maka memilih jadi atheis saja hihihihi.

Karena sudah sering melihat gereja-gereja di Irlandia, begitu ke London langsung terlihat jelas bedanya hehehe. Maaf kalau lagi-lagi sotoy nih. Sungkem dulu sama teman-teman Nasrani .

Gereja Katolik itu lebih ‘wah’, ya, sepertinya. Lebih banyak pernak pernik. Tapi kalau soal megah atau tidak kayaknya bangunan gereja zaman dulu memang keren-keren . Salah satu pembeda utama, di Gereja Katolik biasanya ada patung Bunda Maria yang menyolok. Sementara di gereja Protestan, patung Bunda Maria tidak begitu istimewa. Seringnya malah tidak ada hehehe.

Saat jalan-jalan London di akhir Mei kemarin, cuaca sangat tidak bersahabat huhuhu. Kami basah kuyup saat berjalan dari Buckingham ke Westminster Abbey via tepian St. James Park. Sampai berteduh dalam Gereja St.Margareth. Ragu mau masuk soalnya pakai kerudung gini hehehe. Tapi begitu melihat orang-orang India juga ramai berkerumun di dalam jadi ikutan masuk, deh, sambil lihat-lihat.

Jalan-Jalan London

Di Tower of London juga diguyur hujan. Apes banget. Anak saya lagi tidur dalam stroller saat hujan turun deras. Ini nih yang bikin kesal dari tempat-tempat wisata di London. Tangga melulu! Enggak bebas berkeliaran nenteng stroller . Tidak semua tempat kami kunjungi. Itu pun jadinya bagi tugas. Anak sulung saya semangat kan melihat baju-baju besi dan miniatur pasukan berkuda. Jadilah saya berteduh di bawah pohon menemani yang kecil tidur, suami yang berkelana bareng yang sulung. Huhuhuhu.

Jalan-Jalan London

Gagal total syahwat banci eksis-nya hahahahaha :D. Apa harus diulang lagi kah jalan-jalan London ini? :p :p :p

***

Kata orang, kita memang tak bisa mengubah masa lalu. Disesali pun tak ada gunanya. Sudah kejadian. Tapi, kita selalu bisa belajar dari masa lalu dong, ya .

Melihat kondisi umat muslim secara menyeluruh di situasi terkini memang kadang membuat bingung. Saya ingat pernah komen-komenan sama teman dan dia bilang begini, “Sori Je, lo ngomongin agama melulu. Padahal ini gue lagi ngomong masalah kemanusiaan.”

Lah? Kemanusiaan itu adalah bagian terpenting dari ajaran Islam keleussss hehehehe. Nama rasulullah bergema tidak hanya di kalangan muslim tapi diakui sebagai orang berpengaruh nomor 1 karena kehebatannya mengubah wajah kaum Arab di masa itu. Dalam tempo sekitar 23 tahun bisa menegakkan ajaran Islam di muka bumi dan terus ada hingga kini.

Salah satu keutamaan dari beliau adalah…akhlaknya. Akidah yang baik terpancar dari akhlak yang keren 😉.

Jalan-Jalan London

Saat abad kegelapan menguasai Eropa yang mempertentangkan ilmu modern vs ajaran agama, Islam sudah memunculkan banyak cendekiawan-cendekiawan modern sebelum abad ke-10.

Makanya suka heran sama yang nyinyir-nyinyir dengan kedokteran modern. Katanya enggak sesuai sunnah nabi. Gubrak dot com, deh. Coba cari tahu tentang salah satu Bapak Kedokteran Modern yang namanya masih disebut-sebut dalam literatur terkini, Avicenna. Avicenna itu ya Ibnu Sina . Muslim lho, Kakaaaaa ^_^.

Alquran malah jelas-jelas memberi poin plus bagi orang yang berilmu. Yang entah kenapa juga, ilmu tersebut disempitkan oleh sebagian orang menjadi ilmu ‘agama’ saja. Padahal jauh sebelum Eropa memasuki masa keemasannya dalam dunia sains, selain Ibnu Sina, dunia Islam sudah punya Al Farabi, Ibnu Khaldun, Ibnu Musa Al Khuwarizmi, dll.

Umat muslim kudu pinter-pinter . Mempelajari alquran itu kewajiban utama yang memang tidak bisa diganggu gugat. Namun tidak berarti menafikan ilmu-ilmu lainnya. Justru alquran mendorong kita untuk berilmu agar bermanfaat bagi orang banyak bukan hanya untuk bilang, “Kafir lo! Masuk neraka lo!” Hehehehe.

Akhlak, moral dan sebangsanya juga mengapa selalu dinomorduakan kan, ya? Hiks. Padahal biografi-biografi tentang Rasulullah yang ditulis oleh kalangan non muslim selalu memuji-muji moralitas Rasulullah. Kini, yang mencuri perhatian dunia soal akhlak malah Negeri Sakura! Memangnya ada berapa orang sono yang membaca alquran? *pijetPijetKening*.

Penindasan dan kesewenang-wenangan bukan ajaran Islam . Cukuplah perjalanan panjang masyarakat Eropa di masa lalu menjadi pelajaran berharga untuk kita semua .

“Hate the sin, love the Sinner” -Gandhi-

Dengan catatan di kalangan muslim syarat dan ketentuan berlaku, ya. Berani berbuat berani bertanggungjawab. Hukumnya ada aturan sendiri .

Pening abis ngomong copras capres, baca ginian juga enggak kalah peningnya hahahahahha. Biar enggak pening, nih dikasih foto-foto deh 😀.

Semoga menjadi bahan renungan kita bersama (termasuk saya) untuk penyemangat diri sendiri menjadi agen-agen perubahan positif dalam dunia Islam . Rahmatan lil aalamiin lho harusnya 🙂.

London memang keren tapi mahalnya itu gak nahan euy. Me, no likey! Hahahahahaha.

Jalan-Jalan London

 

Resensi Novel Arok Dedes

Dang Hyang Lohgawe untuk kedua kalinya mendehem, “Katakan apa yang kau ketahui, bukan pendapatmu tentangnya. Ayoh.”

“Ya Bapa, apalah artinya pengetahuan tanpa pendapat.”

“Baik, aku harus percaya kau telah mengetahui semua itu, dan kemudian berpendapat. Aku harus percaya bukan sebaliknya yang terjadi. Berpendapat tanpa berpengetahuan hukuman mati bagi seorang calon brahmana. Dia takkan mungkin jadi brahmana yang bisa dipercaya.”

Demikian salah satu kutipan di dalam novel “Arok Dedes” yang paling menohok buat saya. Sejalan dengan keyakinan dalam agama saya, betapa orang yang memiliki ilmu/pengetahuan memang dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi 😉.

Jadi, setop asbun (asal bunyi) dan asma (asal mangap) ya … untuk kita semua walau tak hendak menjadi sebijaksana seorang brahmana 🙂.

Jangan suka latah share-share info enggak penting apalagi pakai dibumbui kebencian enggak jelas . Pastikan kita tahu latar belakang sedalam-dalamnya sebelum menceburkan diri ikut campur dalam masalah tertentu . Ingat, berpendapat tanpa berpengetahuan itu efeknya tidak sepele.

Novel 500 an halaman ini bukan karya penulis sembarangan. Pramoedya Ananta Toer, gitu lho 😀.

Ketertarikan pertama tentu saja karena sinopsis buku yang sudah menyebut-nyebut tentang sejarah kerajaan Jawa. Jadi makin pengin bikin resensi novel Arok Dedes. Ini kisah tentang sebuah kudeta penting yang menjadi awal berdirinya banyak kerajaan besar di abad-abad ke-13 hingga 15 di tanah Jawa.

Kisah Ken Arok yang menggulingkan Tunggul Ametung yang pernah saya tahu kayaknya diceritakan dengan ala-ala mistis. Sering dihubung-hubungkan dengan kutukan keris Mpu Gandring. Nah, novel ini menguraikan kejadian tersebut secara lebih menyeluruh dengan mengambil sudut pandang sekaligus dari 3 pelaku sejarahnya : Ken Arok, Ken Dedes dan Tunggul Ametung.

Arca Prajnaparamitha yang juga dikenal sebagai Ken Dedes (gambar : id.wikipedia.org)
Arca Prajnaparamitha yang juga dikenal sebagai Ken Dedes (gambar : id.wikipedia.org)

 

Tak hanya mengurai masa lalu Arok secara tuntas, menuliskan siapa sebenarnya Tunggul Ametung dan menceritakan latar belakang seorang Dedes saja, novel ini juga tidak mengabaikan asal muasal peristiwa jauh ke belakang. Pasca berdirinya Kerajaan Hindu yang dipimpin oleh Erlangga.

Erlangga diceritakan sebagai raja Hindu pertama yang berasal dari kasta Sudra. Raja yang sama yang menghapuskan kasta Waisya dan Paria. Erlangga hanya mengakui 3 kasta di bawah kepemimpinannya : Brahmana, Ksatria, dan Sudra.

Lenyapnya kasta Paria membuat kerajaan seharusnya terbebas dari perbudakan. Banyak juga diceritakan soal apa yang terjadi pada Kerajaan pasca Airlangga lengser. Peristiwa terpecahnya kerajaan menjadi Panjalu (Kediri) dan Jenggala hingga disatukan kembali menjadi Kerajaan Kediri.

Bukan hal yang mudah untuk menyatukan Jenggala dan Kediri. Nyawa seorang perempuan harus dikorbankan. Kedua belah pihak hendak menjodohkan putri mahkota Panjalu dan putra mahkota Jenggala. Apa daya, sang putra mahkota telah terlebih dahulu terpikat pada anak seorang patih Jenggala. Cerita selengkapnya lihat di novelnya saja.

Dramanya mantap, euy. Dasar ratu drama!! Hahahahaha 😀.

Kisah Arok dan Tunggul Ametung terjadi di masa pemerintahan Sri Kretajaya. Kretajaya kembali ‘melegalkan’ perbudakan. Secara umum, kepemimpinannya semakin menjauhkan diri dari kesejahteraan masyarakat yang dulu pernah dirintis dan disukseskan oleh Erlangga.

Tunggul Ametung yang menjadi akuwu di Tumapel berusaha diusik kepemimpinannya oleh kalangan brahmana yang akhirnya sepakat mengutus Arok. Arok sendiri adalah keturunan Sudra yang memiliki kemampuan Ksatria dan jiwa seorang brahmana.

Kalau lihat Arok udah semacam Catatan si Boy gitu lah. Tapi ganteng sih enggak hahahahaha. Ini terlihat dari deskripsi Dedes yang menggambarkan Arok sebagai “orang Sudra pada umumnya”. Yang kece-kece itu biasanya keturunan Brahmana soalnya :p.

Harap dicatat, saat mencocok-cocokkan dengan wikipedia, ternyata tokoh Arok dan Dedes ini nyaris dicap sebagai tokoh fiktif. Saya jadi berpikir, mungkin saja penggambaran Arok dalam novel ini adalah keinginan pribadi Pramoedya Ananta Toer akan image seorang pemimpin yang diidam-idamkan.

Akur deh sama Om Pramoedya. Ganteng memang tidak pernah menjadi indikator saya dalam memilih pemimpin . Dulu milih SBY lebih karena orangnya kelihatan tenang dan tidak grabak grubuk. Ini apa sih, mau nulis resensi apa copras capres lagi???? Hahahahahahahha .

Membaca buku ini membuat saya jadi bertanya-tanya, “selain enggak ganteng, kekurangannya Arok ini apa coba?”

Arok sangat-sangat cerdas sampai membuat 2 gurunya, Tantripala dan Lohgawe terpesona habis-habisan pada anak sudra ini . Latar belakangnya yang tidak jelas membuat Arok sampai diasuh oleh 2 keluarga. HIngga di kemudian hari, Arok tak pernah lupa pada jasa orang tua asuhnya. Good boy banget lah.

Arok pun terkenal pemberani dan sangat pandai merancang taktik penyerbuan. Hatinya lembut dan nyaris tanpa hawa nafsu. Walau memang akhirnya jatuh hati pada Dedes yang unyu, Arok sudah terlebih dahulu menikahi Umang, saudara angkatnya yang selalu sempat disesalinya mengapa tak berwajah rupawan. Tapi Arok tak pernah lupa ada kebaikan adik angkatnya ini 🙂.

Arok sangat gemar melakukan pendekatan langsung kepada rakyat jelata hingga ke lapisan terbawah. Dia suka mencuri untuk membela orang-orang tak mampu ala-ala Robin Hood gitu. Iiiiihhh, Arok masa suka blusukan juga coba. Jangan-jangan Jokowi ini titisan Arok neh hahahahahahaha.

Apa novel ini juga novel pencitraan? Kan sekarang apa-apa pencitraan, dikit-dikit pencitraan . For info, novel ini selesai ditulis di penghujung tahun 1976 😉.

Saya sempat dibuat bingung dengan istilah-istilah Hindu Syiwa dan Hindu Wisynu. JUga ternyata ada dewa khusus bagi kaum Sudra yang namanya Hyang Pancagina.

Wah, ternyata kepercayaan Hindu pun tak lepas dari pertikaian internal . Macam Protestan vs Katolik atau di umat muslim juga ada perbedaan yang tidak kalah runcingnya antara Sunni vs Syiah. Tapi saya kurang tahu apakah Hindu Syiwa dan Hindu Wisynu ini masih ada sampai sekarang. CMIIW buat teman-teman yang beragama Hindu, ya. Maaf kalau saya nangkapnya salah.

Pertentangan antara penganut Syiwa dan Wisynu ini juga yang mewarnai perselisihan antara kaum Brahmana dan kepemimpinan Erlangga dan setelahnya.

Saya menangkapnya gini, mayoritas Brahmana itu adalah Syiwa. Sementara Sri Erlangga adalah seorang Wisynu. Kalau dibaca-baca lagi, Erlangga di mata kaum Brahmana-Syiwa ini pasti dicap liberal dah hahahahaha.

Erlangga memang dikenal sebagai raja dengan toleransi sangat tinggi. Erlangga melindungi Hindu Syiwa, HIndu Wisynu, dan juga Buddha :).

Sri Erlangga
Sri Erlangga


Arok sendiri mendapat kesempatan untuk belajar yoga dan beberapa kitab Buddha dari salah seorang gurunya, Tantripala. Sempat Arok terpikir Tantripala ini sebenarnya seorang brahmana yang sudah menganut Buddha. Maklum, buat kalangan brahmana Hindu, haram hukumnya mempelajari apa pun yang berbau Buddha.

Nah, kaum Brahmana Syiwa merasa Erlangga sudah melecehkan mereka saat Erlangga melarang penghancuran candi-candi Buddha dan mengizinkan kepercayaan lain hidup berdampingan dengan damai. Ya iya kaleeee, Erlangga pan katanya Hindu Wisynu toh ya? *garukGarukKepala*.

Tapi, kaum Brahmana tetap memuji-muji Erlangga yang menghapuskan perbudakan dan banyak membangun infrastruktrur layanan publik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum. Banyak sistem irigasi positif dan masif yang dipelopori oleh pemerintahan Sri Erlangga . Mungkin tepatnya, terstruktur masif dan sistematis? Nyepet mulu kauuuuu hahahahahahaha .

Ah, sejarah selalu berulang. Maunya sejahtera tapi enggak mau kalau sejahteranya harus barengan sama orang kafir? . Puas dengan kepemimpinan tapi meributkan soal kepercayaan pribadi? Ahok mana Ahok? 😀.

Mpu Gandring juga memiliki porsi tersendiri dalam kisah ini. Jauh banget deh dari yang selama ini saya tahu hehehe. Tentu saja tokoh Kebo Ijo yang memang sering disebut-sebut dalam kisah Tunggul Ametung vs Arok juga tidak luput dari novel yang ini.

Penulis juga sangat rapi dan konsisten dalam menyampaikan pesan tersirat, betapa laki-laki tak pernah mudah mengalahkan 3 penakluk utamanya : harta, tahta, dan wanita. Yang merasa wanita, boleh *benerinPoni* ramai-ramai hihihihi .

Jangan terkecoh dengan embel-embel “roman” di sampul buku. Kisah cinta antara Arok dan Dedesnya ternyata sambil lalu saja, kok . Filsafat Hindu yang kental justru merupakan nafas utama dari isi novel.

Awalnya agak kagok dengan gaya bahasa dan istilah-istilah HIndu yang digunakan. Tapi jadi senang soalnya jadi belajar dan mendapat harta baru. Hey, ilmu itu adalah harta yang paling menyenangkan, bukan? . Mudah didapatkan (kalau mau) dan mudah dibawa ke mana-mana serta tak pernah memberatkan pemiliknya ^_^.

Saya beri bintang 4.5 (out of 5) untuk novel ini. Semata karena saya kurang puas mengapa tokoh Arok kurang tajam pemaparan karakternya. Sotoy deh awwww, biasa nonton gosip artis, sok-sok pula mengkritisi karya pujangga besar. Hahahahahha.

Saya menikmati sekali falsafah-falsafah HIndu yang bertebaran di sepanjang cerita. Penokohan yang mendalam. Penceritaan yang lengkap yang membuat kita akhirnya merenung bahwa memang tak ada manusia yang sempurna. Yang paling jahat itu hawa nafsu. Manusia pada intinya narsis dan ingin diperhatikan. Merasa benar sendiri itu sudah penyakit kronis sejak dahulu kala.

Bahwa kejahatan kadang tak datang karena niat tapi karena ada kesempatan. Eh, jadi ingat Bang Napi! Hihihihi.

Tapi benar sih, sesuai lho dengan buku Tipping Point yang memaparkan bahwa tak adil jika kita menilai karakter seseorang dari tindak tanduknya semata. Kondisi lingkungan dan situasi saat itu dan latar belakang justru selalu menjadi hal penting untuk disajikan. Dan penulis berusaha keras untuk tidak menjatuhkan penghakiman pada tokoh mana pun tapi lebih memilih menyajikan data-data sebanyak mungkin. Yang ditarik jauh dari belakang hingga kini. Kesimpulan tentu terserah yang baca .

Soal teori menarik dari buku Tipping Point ini tak cukup satu paragraf. Kapan-kapan dibikinin tuilsan khusus mumpung bukunya udah ketemu.

Salut luar biasa untuk penulis novel ini . Wah, kayak apa itu yah observasinya bisa membuat novel yang begitu “hidup” mengingat setahu saya Pramoedya Ananta Toer bukan penganut Hindu kan, ya? Jadi penasaran mau baca buku-buku Pak Pram yang lain . Ke mana aja gue? Kebanyakan nonton infotainment sih hihihi *ngikikTukangGosip*,

Komentar pamungkas saya untuk novel ini, “Jagad Dewa! Jagad Pramudita! This novel is one the best!”

500 an halaman, Kakaaaaa 😀.  Selamat membaca ^_^.

Sampul buku "Arok Dedes"
Sampul buku “Arok Dedes”

Ya bisa dimulai dengan membaca resensi novel Arok Dedes nya dulu kali di sini hihihi.

Pemahaman vs Pengalaman?

Dari artikel di link paling bawah, saya kutip sedikit :

“Seorang yang pernah mengalamii hidup sebagai minoritas, akan memiliki sense toleransi yang jauh lebih tinggi dari pada orang yang selalu hidup sebagai mayoritas.

Seorang siswa yang punya teman dari berbagai suku, bangsa dan agama, akan lebih faham tentang makna menghargai. Pengalaman mengantarkan pada pemahaman yang lebih dalam.”

Benar juga. Jadi malu karena dulu dari TK sampai SD sekolah di sekolah Islam, begitu masuk SMP Negeri, kaget melihat teman-teman ada yang beragama non muslim. Ya abes, dulu tahunya di dunia ini hanya ada 2 : orang muslim dan orang kafir, surga vs neraka. Kalau melihat teman-teman kristiani berlatih menyanyi, saya sering kepikiran, “Ya ampyun, pada ngapain, sih? Enggak tahu apa kalau mereka nantinya bakal masuk neraka semua!” Astagfirullah .

Pindah ke Jawa setelah 18 tahun besar di Kota Makassar, bete banget mendapati lingkungan yang sarat basa basi hehehe. Kita orang bugis ini simpel. Iya artinya iya. Tidak artinya tidak. Mulut dan hati, biasanya kompak terus . Makanya, sering dijuluki ‘mulut silet’ hahaha. Entah berapa banyak itu korbannya dulu -_-. Astagfirullah.

Ternyata, diberi rezeki untuk mencicipi belahan bumi yang lain. Dulu, suka bingung, mengapa diantara sekian banyak negara-negara Tim Teng, kenapa nancepnya mesti di Teheran sama Jeddah, siiiiihhhhhhh . Luar biasa cara Allah mengajarkan umatnya, ya . Fabi ayyi a alaa irabbikumaa tukadzdziban.

Dulu suka merasa kagum berlebihan sama yang lebih fasih membaca alquran dan pandai berbahasa Arab. Semacam emejing begitulah. Tapi untungnya, sebelum ke Jeddah, saya tidak terlalu mendewa-dewakan lagi. Syukurlah. Karena kalau berpikir begitu, baru sebulan di Jeddah mungkin sudah kepikiran murtad, kali, melihat ‘kelakuan sehari-hari’ orang-orang yang mungkin jauh lebih lancar membaca alquran dan mungkin hafal lebih banyak ayat-ayat suci. Astagfirullah.

Tapi ingat jangan buru-buru main stereotip. Walau yang menjengkelkan jumlahnya tidak sedikit, yang baik juga masih ada :). Sudah baca buku saya yang “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah” kan? Bab “People We Haven’t  Met” khusus membahas mereka yang baik-baik itu :).

Benarlah kiranya, satu-satunya cara bagi kita sesama manusia untuk mendeteksi iman dan takwa adalah melalui amal dan perbuatan . Sisanya, Allah Sang Mahatahu. Betapa muamalah jangan-jangan adalah setengah dari iman itu sendiri.

Dan kini, dilengkapi dengan merasakan sebagai minoritas muslim di belahan barat Eropa. Tak bisa membayangkan saya seandainya umat mayoritas non muslim di sini menyimpan pikiran yang sama seperti saya kepada rekan-rekan non muslim saya di masa abege dulu.

Pemahaman vs Pengalaman. Pilih yang mana? ;).

Semoga kita bisa memiliki pemahaman yang murni diimbangi dengan pengalaman yang mumpuni. Amin, amin ya rabbal aalamiin. Mampukan umatMu ya, Allah 🙂.

https://islamindonesia.co.id/index.php/opini/1864-menjadi-radikal-karena-pemahaman-menjadi-toleran-karena-pengalaman

Gambar : eportfolio.lagcc.cuny.edu
Gambar : eportfolio.lagcc.cuny.edu